Anda di halaman 1dari 21

[105] Azab yang Pedih

bagi Pembuat Hukum


Tanpa Hujjah

Dan janganlah kamu mengatakan


terhadap apa yang disebut-sebut
oleh lidahmu secara dusta "Ini halal
dan ini haram", untuk mengadaadakan kebohongan terhadap Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah tiadalah beruntung;
(Itu adalah) kesenangan yang sedikit;
dan bagi mereka adzab yang pedih

Menetapkan halal dan haram


merupakan otoritas Allah SWT. Tidak
ada seorang pun yang boleh
mengambil alih otoritas dan
kewenagnan tersebut. Terlebih itu
dilakukan dengan berbohong atas
nama Allah SWT. Tidak ada hukuman
yang pantas dijatuhkan kepada
orang yang melakukan itu kecuali
azab yang pedih. Inilah yang di

Membuat Hukum Sendiri


Allah SWT berfirman: Wal taql lim tashifu
alsinatukum al-kadziba (dan janganlah kamu
mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut
oleh lidahmu secara dusta). Ayat ini merupakan
kelanjutan dari ayat sebelumnya yang
menjelaskan ketentuan hukum tentang makanan.
Dalam ayat 114 Allah SWT berfirman: Maka
makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang
telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah
nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah (TQS al-Nahl [16]: 114).

Kemudian dalam ayat berikutnya diterangkan


mengenai makanan yang diharamkan. Allah
SWT berfirman: Sesungguhnya Allah hanya
mengharamkan atasmu (memakan) bangkai,
darah, daging babi dan apa yang disembelih
dengan menyebut nama selain Allah; tetapi
barang siapa yang terpaksa memakannya
dengan tidak menganiaya dan tidak pula
melampaui batas, maka sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS
al-Nahl [16]: 115).

Dari kedua ayat tersebut dapat dipahami bahwa


yang memiliki otoritas dan wewenang untuk
menetapkan suatu benda terkategori halal atau
haram adalah Allah SWT. Ketentuan hukum itu tidak
boleh dilanggar oleh manusia. Kemudian ayat ini
memberikan penjelasan ketentuan penting dalam
penetapan halal dan haram. Dalam ayat ini
disebutkan: Wal taql lim tashifu alsinatukum alkadziba. Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, ayat tersebut
bermakna: Wal taql liwashfi alsinatikum alkadziba (janganlah kamu mengatakan terhadap apa
yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta).

Ucapan dusta mereka itu adalah dengan


mengatakan: Hadz hall wa hadz harm ("Ini halal
dan ini haram"). Menurut al-Syaukani, ayat ini berarti:
Janganlah kalian mengharamkan atau menghalalkan
sesuatu melalui ucapan lisan-lisan kalian tanpa
hujjah. Tak jauh berbeda, al-Zamakhsyari juga
menafsirkannya dengan pernyataan: Janganlah kamu
mengharamkan dan menghalalkan hanya dengan
perkataan yang ucapkan lisan-lisan dan mulut-mulut
kalianbukan karena ada hujjah dan alasan yang
jelasakan tetapi hanya sekadar ucapan dan klaim
yang kosong.

Orang kafir memang menambah dan


mengurangi sesuatu yang diharamkan.
Tindakan mereka menambah perkara yang
diharamkan diberitakan dalam firman Allah
SWT: Allah sekali-kali tidak pernah
mensyariatkan adanya bahrah, sibah,
washlah dan hm. Akan tetapi orang-orang
kafirmembuat-buat kedustaan terhadap Allah,
dan kebanyakan mereka tidak mengerti (TQS
al-Maidah [5]: 103).

Istilah bahrah mereka gunakan


untuk menyebut unta betina yang
telah beranak lima kali dan anak
kelima itu jantan. Unta betina
tersebut menurut mereka harus
dibelah telinganya, dilepaskan, tidak
boleh ditunggangi lagi, dan tidak
boleh diambil air susunya.

Sedangkan sibah adalah unta betina yang


dibiarkan pergi ke mana saja lantaran sesuatu
nazar. Seperti, jika mereka akan melakukan
sesuatu atau perjalanan yang berat, maka mereka
biasa bernazar akan menjadikan untanya sebagai
sibah apabila maksud atau perjalanannya
berhasil dengan selamat.
Washlah adalah seekor domba betina melahirkan
anak kembar yang terdiri atas jantan dan betina.
Anak domba yang jantan ini mereka sebut
washlah. Domba tersebut tidak disembelih dan
harus diserahkan kepada berhala.

Istilah Hm disematkan kepada unta jantan


yang telah dapat membuntingkan unta betina
sepuluh kali. yang tidak boleh diganggu gugat
lagi. Itu semua merupakan kepercayaan Arab
jahiliyah.
Sedangkan tindakan mereka mengurangi
yang diharamkan yakni menghalalkan yang
diharamkanadalah menghalalkan bangkai,
darah, dagiung babi, dan binatang yang
disembelih dengan menyebut nama selain
Allah.

Kemudian disebutkan: litaftatar all-Lh alkadziba (untuk mengada-adakan kebohongan


terhadap Allah). Menurut al-Razi, makna ayat ini
adalah mereka menisbahkan perngharaman dan
penghalalan kepada Allah SWT dengan
mengatakan: Sesungguhnya Allah SWT
memerintah kita demikian. Huruf al-lm dalam
kata litaftatar, menurut para mufassir merupakan
lm al-qibah. Artinya, tindakan menghalalkan
dan mengharamkan itu dilakukan untuk
mengadakan kedustaan atas nama Allah SWT.

Ancaman
Allah SWT berfirman: Inna al-ladzna
yaftarnaall-Lh al-kadziba (sesungguhnya
orang-orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah). Menurut alThabari, ayat ini memberikan pengertian
bahwa orang-orang yang membuat
kebohongan dan kedustaan atas nama
Allah, sesungguhnya mereka tidak kekal dan
abadi di dunia. Yang mereka nikmati
sesungguhnya amat sedikit.

Dengan demikian, ayat ini


memberikan penegasan apa yang
telah disebutkan sebelumnya. Bahwa
siapa saja yang melakukan
perbuatan demikian, akan menuai
akibat yang sama, yakni: L yuflihn
(tiadalah beruntung).

Pengertian al-falh adalah al-fawz al-mathlb


(kemenangan atau kesuksesan yang diminta).
Sehingga, kata lyuflihn (mereka tidak
beruntung) dalam semua hal. Demikian
penjelasan al-Syaukani. Ini berarti, jika mereka
melakukan tindakan membuat hukum sendiri
tanpa hujjah itu didasarkan pada keinginan
untuk mendapatkan keuntungan, maka
keinginan mereka tidak akan tercapai. Bahkan,
sebagaimana diinyatakan Ibnu Katsir, mereka
tidak beruntung di dunia maupun di akhirat.

Ancaman terhadap mereka kemudian ditegaskan


dalam ayat berikutnya: Mat[un] qall[un] (itu adalah
kesenangan yang sedikit). Bisa jadi di dunia mereka
mendapatkan kesenangan dan keuntungan dari
perbuatan mengada-adakan hukum sendiri itu. Akan
tetapi, kesenangan dan keuntungan yang mereka
dapatkan amat sedikit: Mat[un] qall[un]. Dikatakan
sedikit, karena kenikmatan yang mereka dapat itu
pasti terputus dan sesaat.
Sedangkan di akhirat, mereka harus menerima
hukuman yang berat. Dalam ayat ini disebut: Walahum
adzb[un] alm[un] (dan bagi mereka azab yang
pedih). Ini merupakan ancaman yang keras. Azab yang
yang pedih akan ditimpakan kepada mereka.

Menurut Ibnu Katsir, ancaman tersebut seperti


halnya dalam firman Alllah SWT: Kami biarkan
mereka bersenang-senang sebentar, kemudian
Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang
keras (TQS Luqman [31]: 24). Juga firman-Nya:
Katakanlah, "Sesungguhnya orang-orang yang
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak
beruntung". (Bagi mereka) kesenangan
(sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah
mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada
mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran
mereka (TQS Yunus [10]: 69-70).

Berlaku bagi Semua


Imam al-Qurthubi berkesimpulan tentang makna ayat ini,
penghalalan dan pengharaman sesungguhnya merupakan
otoritas Allah SWT. Tidak ada seorang yang boleh
mengatakan atau menjelaskan tentang sesuatu kecuali Alah
SWT telah memberitakannya tentang hal itu.
Kesimpulan senada juga dikemukakan Ibnu Katsir.
Menurutnya, ayat ini melarang perilaku orang-orang musyrik
yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu yang
mereka sifati dan namanya mereka buat berdasarkan
pendapat mereka sendiri. Itu seperti ketentuan tentang albahrah, al-sibah, al-wahlah, al-hm, dan lain-lain yang
mereka jadikan sebagai ketentuan syariah bagi mereka yang
mereka ada-adakan sendiri dalam jahiliyah.

Masih menurut Ibnu Katsir, termasuk


dalam tindakan yang dilarang ayat
ini adalah semua bidaah yang diadaadakan yang tidak memiliki sandaran
syari, menghalalkan sesuatu yang
diharamkan Allah, atau
mengharamkan sesuatu yang
dihalalkan hanya berdasarkan
pendapat dan selera mereka semata.

Ikhtisar:
Otoritas menetapkan halal dan haram hanya
pada Allah SWT
Dilarang menetapkan halal dan haram yang
tidak memiliki sandaran hujjah
Orang yang menghalalkan yang haram dan
mengharamkan halal diancam dengan azab
yang pedih

Demikianlah ketentuan Islam tentang pemilik otoritas


pembuat hukum. Berdasarkan ayat inisebagaimana
diterangkan Ibnu Katsir di atas--, maka demokrasi yang
doktrin utamanya adalah kedaulatan rakyat harus ditolak.
Sebab dalam demokrasi, rakyat dianggap memiliki
kewenangan untuk membuat hukum sesuai dengan selera
dan hawa nafsu mereka. Apa pun kehendak rakyat atau
mayoritasnya harus dituruti sekalipun jelas-jelas
menabrak ketentuan hukum Allah SWT. Kesalahan
menjadi makin berlipat ketika doktrin itu membawa-bawa
nama Tuhan. Bahwa suara mereka sama dengan suara
Tuhan seperti jargon mereka: Fox Populi fox Dei (suara
rakyat adalah suara Tuhan). Ini jelas merupakan
kebohongan yang nyata. Sebagaimana ditegaskan ayat
ini, tidak balasan yang setimpal bagi mereka kecuali azab
yang pedih. Masihkah kita mau menerima demokrasi?
Wal-Lh alam bi al-sahwb.