Anda di halaman 1dari 16

[127] Alquran Bukan

Dongengan Orang Dahulu


Oleh: Rokhmat S. Labib,
M.E.I.

Dan mereka berkata: "Dongengandongengan orang-orang dahulu,


dimintanya supaya dituliskan, maka
dibacakanlah dongengan itu
kepadanya setiap pagi dan
petang."Katakanlah: "Alquran itu
diturunkan oleh (Allah) yang
mengetahui rahasia di langit dan di
bumi. Sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun lagi Maha

Kaum kafir selalu membuat berbagai tuduhan


palsu terhadap Alquran. Di antaranya adalah
dengan mengatakan Alquran hanyalah
dongeng orang-orang terhadulu. Rasulullah
SAW dituduh hanya mengulang kembali apa
yang diceritakan oleh orang-ornag terdahulu.
Tujuannya utuk mengecilkan dan meremehkan
Alquran. Tuduhan tersebut jelas ngawur dan
menyesatkan. Alquran pun memberitakan
tuduhan palsu itu beserta bantahan
terhadapnya. Di antaranya adalah ayat ini.

Dongeng Orang Dahulu


Allah SWT berfirman:Wa ql asthr al-awwaln
[i]ktatabah(dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan
orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan). Ayat ini
melanjutkan ayat sebelumnya yang memberitakan tentang
tuduhan palsu kaum kafir tehadap Alquran. Mereka
mengatakan bahwa Alquran adalah kebohongan yang diadaadakan Rasulullah SAW. Untuk itu, beliau dibantu oleh orang
lain. Ditegaskan ayat tersebut, tuduhan itu justru
menunjukkan kezaliman dan kebohongan mereka.
Ayat ini kembali memberitakan tuduhan palsu mereka.
Menurut banyak mufasir, orang yang melakukannya adalah alNadhar bin al-Harits. Meskipun tidak menutup kemungkinan
ada orang lain yang melemparkan tuduhan serupa. Mereka
mengatakan bahwa Alquran adalahastr al-awwaln.

Dikatakan al-Zajjaj, sebagaimana dikutip al-Qurthubi,


kataasthrmerupakan bentuk jamak dari
katausthrah(dongeng, kisah). Menurut Dr Ahmad Mukhtar
dalamMujam al-Lughah al-Arabiyyah alMushirah,katausthrahberarti dongeng yang didominasi
oleh khayalan, melebihi kekuatan normal berupa dewa-dewa
atau makhluk-makhluk halus yang biasa digunakan dalam
cerita rakyat dari berbagai bangsa.
Dengan demikian, mereka menuduh Alquran hanyalah
dongeng yang dipenuhi khayalan dan khurafat dari orangorang yang dahulu. Tuduhan itu jelas palsu sekaligus
pelecehan terhadap Alquran. Betapa tidak, Alquran dituduh
sebagai dongengan yang dipenuhi dengan khayalan dan
khurafat.

Selain dalam ayat ini, tuduhan tersebut juga diberitakan dalam


banyak ayat lainnya. Di antaranya adalah firman Allah
SWT:Orang-orang kafir itu berkata, "Alquran ini tidak lain
hanyalah dongengan orang-orang dahulu"(TQS al-Anam [6]: 26).
Ayat lainnya adalah QS al-Anfal [8]: 31, aal-Mukminun [23]: 83,
al-Naml [27]: 68, dan al-Ahqaf [46]: 17, al-Qalam [68]: 15, dan alMuthaffifin [83]: 13
Kemudian disebutkan:[i]ktatabah.Menurut al-Alusi, kata
tersebut berartiamara bi al-kitbah(perintah untuk
menuliskannya). Tak jauh berbeda, al-Khazin juga
menafsirkan[i]ktatabahsebagaiintansakhah(disalin, dinukil)
oleh Rasulullah SAW. Beliau meminta agar ayat Alquran ditulis
orang lain karena beliau tidak menulis. Itu artinya, kaum kafir itu
menuduh Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya untuk
menuliskan kembali berbagai dongeng orang dahulu.

Juga dinyatakan:Fahiya tuml alayhi bukrat[an] wa


ashl[an](maka dibacakanlah dongengan itu
kepadanya setiap pagi dan petang"). Selain
diperintahkan kepada sahabatnya, Alquran juga diiml`-kan oleh Rasulullah SAW.
Kataal-iml`di sini, menurut al-Alusi, berartial-ilq`
li al-hizhf(disampaikan untuk dihafal). Penjelasan
senada juga dikemukakan oleh para mufasir lain,
seperti al-Khazin, al-Baghawi, dan lain-lain. Mereka
menafsirkantuml alayhiadalahtuqra`u
alayhi(dibacakan kepadanya). Tujuannya adalah
untuk dihafal, bukan ditulis.

Perbuatan itu dikatakan dilakukan padabukrah wa


ashl.Katabukrahberarti awal siang hari,
sedangkanashlberarti awal malam hari. Menurut alAlusi,dalam konteks ayat ini kedua kata tersebut
memberikan maknadim[an](selalu, terus menerus).
Inilah tuduhan kafir terhadap Alquran. Beliau dituduh
memerintahkan sahabat menuliskan dan menghafal
dongengan yang dipenuh khayalan. Tidak ada yang
bermanfaat dari dongeng yang dipenuhi dengan
khayalan itu kecuali sebagai pelipur lara. Tuduhan
tersebut bukan hanya bertentangan dengan fakta,
namun juga sangat keji.

Diturunkan oleh Allah


Terhadap tuduhan kaum kaum kafir itu, Allah SWT
berfirman:Qul anzalahu al-ladz yalamu al-sirra f alsamwti wa al-ardhi(katakanlah: "Alquran itu
diturunkan oleh [Allah] yang mengetahui rahasia di
langit dan di bumi). Perintahqul(katakanlah) ditujukan
kepada Rasulullah SAW. Beliau diperintahkan untuk
menyampaikan bantahan terhadap tuduhan palsu kaum
kafir itu.
Kepada mereka dikatakan bahwa Alquran merupakan
kitab yang diturunkan oleh Allah SWT. Dalam ayat ini
disebutkan bahwa Dia adalah Dzat yang mengetahuialsirr f al-samwti wa al-ardhi.Menurut al-Khazin,alsirrdi sini bermaknaal-ghayb(yang tidak terlihat).

Jawaban ini jelas membungkam tuduhan mereka.


Dalam Alquran memang terdapat banyak berita
tentang fakta dan kejadian ghaib yang tidak
terindera. Namun bukan seperti dongengan yang
dipenuhi dengan khayalan dan khurafat. Sebab,
dongengan yang diterima dari mulut ke mulut itu
tidak jelas asal-usulnya dan siapa pembuatnya.
Alquran bukan dongengan. Sebab, semua
beritaya adalah haq lantaran berasal dari Allah
SWT, Dzat yang mengetahui seluruh perkara
yang tersembunyi di langit dan bumi.

Di samping itu, seandainya Alquran adalah dongeng


yang diambil dari orang dahulu, semestinya kaum
musyrik itu juga akan mendapatkan cerita yang
sama dari nenek moyang mereka. Namun, mereka
tidak mendapatkannya dari nenek moyang mereka.
Dalam ayat memang hanya disebutkan Dzat
mengetahuial-sirr(yang tersembunyi). Meskipun
demikian, kalimat tersebut memberikan pengertian
bahwa Dia juga mengetauial-jahr(yang terang).
Dikatakan al-Qurthubi, jika Dia mengetahui yang
tersembunyi,maka terhadap perkara yang terang
tentu lebih mengetahui.

Kandungan lain dari ayat ini, sebagimana


dikemukakan al-Samarqandi, adalah
Seandainya perkataan itu dari Nabi
Muhammad SAW sendiri, sungguh Allah SWT
mengetahuinya. Dan jika Dia
mengetahuinya, maka akan menghukumnya,
sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam
firman-Nya:Seandainya dia (Muhammad)
mengada-adakan sebagian perkataan atas
(nama) Kami(TQS al-Haqqah [69]: 44).

Selain itu, ayat ini juga memberikan


dorongan kepada mereka untuk melakukan
tadabbur terhadap Alquran. Sesungguhnya
mereka, seandainya melakukan tadabbur
terhadap Alquran, maka akan melihat ilmu
dan hukum-hukum di dalamnya menunjukkan
secara pasti bahwa Kitab itu tidak mungkin
kecuali berasal dari Dzat yang Maha
Mengetahui yang ghaib maupun yang
tampak. Demikian dipaparkan Abdurrahman
al-Sadi dalam tafsirnya.

Kemudian ayat ini diakhiri dengan


firman-Nya:Innahu kna Ghafr[an]
Rahm[an](Sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."). Menurut alSamarqandi, firman Allah SWT ini
mengandung pengertian:Kembali
dan bertaubatlah, karena
sesungguhnya Dia Maha Pengampun
bagi orang yang bertaubat; dan

Di samping itu, penyebutan dua sifat itu


merupakanal-tanbh(peringatan halus). Bahwa
mereka sesungguhnya telah layak mendapatkan
azab atas kejahatan yang mereka lakukan. Namun
Allah SWT menundanya lantaran Dia memiliki
sifatal-maghfirahdanal-rahmah.Seolah
dikatakan, Dia memiliki ampunan dan kasih
sayang sehingga Dia tidak menyegerakan azab
bagi kamu padahal sesungguhnya sudah amat
pantas mendapatkannya. Seandainya tidak
demikian, sungguh Dia telah menimpakan azabNya kepada kalian.

Demikianlah. Alquran merupakan kitab dari Allah


SWT yang berisi petunjuk hidup bagi manusia. Di
dalamnya terdapat berbagai berita ghaib yang
tidak diketahui oleh manusia. Semuanya adalah
haq. Siapa pun yang mengingkarinya, apalagi
melemparkan tuduhan palsu terhadapnya, pasti
akan menerima akibatnya. Yakni azab yang amat
dahsyat dari pemilik kerajaan langit dan bumi,
Allah SWT. Mungkin tidak di dunia, namun di
akhirat pasti akan merasakan azab pedih tersebut.
Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.Wal-Lh
alam bi al-shawb.