Anda di halaman 1dari 18

Tidak Besedekah dan Tidak Berjihad, Lalu

dengan Apa Anda Akan Masuk Surga?

Dari Basyir bin Khashashiyahradhiyallahu


anhuberkata: Aku mendatangi Rasululah
Saw untuk membaiatnya atas Islam.
Kemudian Rasulullah mengajukan syarat
kepadaku: Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan
yang berhak disembah selain Allah, dan
bersaksi bahwa Muhammad hamba sekaligus
Rasul-Nya, mendirikan shalat lima waktu,
berpuasa di bulan Ramadhan, membayar
zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di
jalan Allah.

Aku berkata, wahai Rasulullah: Ada dua syarat


dimana aku tidak mampu.Pertama, zakat.
Sebab saya tidak memiliki kecuali sepuluh
unta. Unta-unta itu penopang hidup
keluargaku dan kendaraan mereka.
Kedua, jihad. Dalam hal jihad ini mereka
mengatakan bahwa siapa saja yang lari dari
medan jihad, maka ia akan mendapat murka
Allah. Aku khawatir bahwa ketika aku ikut
dalam sebuah peperangan, aku takut mati,
sehingga jiwaku menjadi lemas.

Rasulullah memegang tangannya, lalu


menggerakkannya. Selanjutnya beliau
bersabda: Tidak bersadaqah dan tidak pula
berjihad, maka dengan apa Anda akan masuk
surga?
Aku berkata, wahai Rasulullah: Aku
membaiatmu. Kemudian beliau membaiatku
dengan semua syarat tersebut. (Hadis ini
diriwayatkan oleh Baihaqi dan Hakim.
Sedang Hakim men-shahih-kannya, dan
disepakati oleh ad-Dzahabi).

Ingin Masuk Surga? Harus


Berjihad dan Sabar
Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk surga, padahal belum
nyata bagi Allah orang-orang yang
berjihad di antaramu, dan belum
nyata orang-orang yang sabar.
Sesungguhnya kamu mengharapkan
mati (syahid) sebelum kamu
menghadapinya; (sekarang) sungguh
kamu telah melihatnya dan kamu
menyaksikannya(TQS Ali Imran [3]:

Masuk surga merupakan harapan


setiap orang Mukmin. Namun
harapan saja tentu tidak cukup. Agar
bisa terwujud, diperlukan upaya yang
bisa mengantarkan seseorang bisa
masuk surga. Inilah yang diingatkan
ayat ini. Janganlah seseorang
mengira masuk surga sebelum
terbukti berjihad di jalan-Nya dan
menjadi orang yang sabar.

Berjihad dan Bersabar


Allah SWT berfirman:Amhasibtum an tad-hul aljannah(apakah kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga). Kandungan ayat ini masih melanjutkan
ayat sebelumnya (ayat 140-141) yang memberikan
penjelasan terhadap kaum Muslimin seputar
kekalahan mereka dalam Perang Uhud. Jika mereka
kalah, kekalahan serupa juga pernah diderita kaum
kafir kafir. Kekalahan dan kemenangan itu
dipergilirkan Allah SWT di antara manusia. Kekalahan
yang menimpa kaum Muslim itu dijadikan sebagai
ujian bagi keimanan mereka. Juga untuk menjadikan
sebagian di antara mereka gugur menjadi syahid.

Ditegaskan pula bahwa Allah SWT tidak mencintai


orang-orang zalim. Itu artinya, ketika kemenangan
dipergilirkan kepada kaum zalim, bukan lantaran Allah
SWT mencintai mereka. Kemudian juga dinyatakan (ayat
141) bahwa pergiliran kemenangan dan kekalahan itu
adalah untuk membersihkan dosa kaum Mukmin dan
membinasakan kaum kafir.
Bertolak dari konteks ayat tersebut, al-Alusi
menyimpulkan bahwa seruan ayat ini ditujukan kepada
orang-orang yang kalah dalam perang Uhud tersebut.
Meski cocok untuk mereka, tentu bukan hanya ditujukan
kepada mereka. Sebab, lafadz ayat ini bersifat umum,
sehingga cakupannya pun berlaku umum.

Katahasibtumdalam ayat ini


bermaknazhanantum(kamu mengira). Sedangkan
kataamdi awalnya berartibal.Menurut sebagian
ulama, hurufal-mmitu merupakanzidah(tambahan),
sehingga artinyaahasibtum(apakah kamu mengira?).
Demikian al-Qurthubi dalam tafsirnya. Dinyatakan juga
al-Syaukani dan al-Alusi,hamzah al-sitifhmtersebutli
al-inkr(kalimat tanya retoris yang bermakna
pengingkaran). Sehingga frasa tersebut
bermakna:Bahkan tidak semestinya bagi kalian
mengira akan masuk surga dan memperoleh
kenikmatan di dalamnya beserta semua yang
disediakan Allah SWT untuk hamba-Nya.

Kemudian ditegaskan:wa lamm yalamil-Lh alladzna jhad minkum(padahal belum nyata


bagi Allah orang-orang yang berjihad di
antaramu). Hurufal-wwudi awal kalimat
merupakanwwu al-hl;sehingga kalimat
sesudahnya merupakanjumlahhliyah(kalimat
yang menunjukkan keadaan). Ini memberikan
batasan kalimat sebelumnya. Bahwa tidak
semestinya mereka mengira akan masuk surga
sebelum Allah SWT mengetahui mereka berjihad
di jalan-Nya.

Patut digarisbawahi, ilmu Allah SWT itu meliputi segala


sesuatu, baik sebelum, sedang, dan yang akan terjadi.
Allah SWT telah mengetahui sebelumnya apakah
seseorang akan melakukan jihad atau tidak. Oleh karena
itu, menurut al-Samarqandi,yalamu(mengetahui) di
sini bermaknayar(melihat). Melihat tentu
mengharuskan adanya perkara yang dilihat.
Bisa juga yang dimaksudkan
denganal-ilm(pengetahuan) itu adalahalmalm(perkara yang diketahui). Sehingga, pengertian
ayat ini adalah:Apakah kamu mengira masuk surga
sedangkan belum terbukti kalian melakukan
jihad.Demikian penjelasan Fakhdruddin al-Razi.

Di samping berjihad, menjadi orang yang sabar. Allah


SWT berfirman:Wayalama al-shbirn(dan belum
nyata orang-orang yang sabar). Secara bahasa,
kataal-shabrberartial-imsk f dhayyiq(menahan
diri dalam kesempitan, himpitan). Pengertian sabar
dalam Alquran adalah tetap kukuh dan teguh
beriman, menjalankan semua perintah, dan menjauhi
semua larangan-Nya, dalam keadaan apa pun.
Termasuk ketika kalah dalam peperangan, tertimpa
musibah, dan segala perkara yang menghimpitnya.
Keteguhan sikap itu menjadi bukti keimanan kepada
Allah SWT dan semua janji-Nya.

Patut dicermati, dalam ayat ini digunakan kataalshbirn,yakniism al-fil(kata benda yang memiliki
sifat sabar). Kata tersebut lebih kuat dibandingkan
denganal-ladzna shabar(kata kerja: orang yang
sabar).Penggunaanism al-filitu menunjukkan bahwa
sifat sabar itu yang diharapkan itu bersifat permanen
dan terus menerus. Bukan hanya sesekali saja.
Secara keseluruhan, Ibnu Katsir memaknai ayat ini
dengan ungkapan:Kalian tidak dapat masuk surga
hingga kalian diuji; dan Allah melihat di antara kalian
yang berjihad di jalan-Nya dan sabar menghadapi
musuh.

Penjelasan ini menunjukkan kepada kita bahwa harapan


dan keinginan masuk surga harus disertai upaya yang
dapat mengantarkannya. Menurut ayat ini, ada dua amal
yang menjadi bukti kebenaran ucapan tersebut, yakni
kesediaan untuk berjihad di jalan Allah SWT dan menjadi
orang-orang yang sabar. Mengenai jihad, banyak dalil
yang memerintahkannya. Juga dijelaskan berbagai
fadhilah dan pahalanya. Orang yang gugur dalam jihad
dikategorikan sebagai syahid dan dimudahkan masuk
surga. Demikian juga perintah bersabar. Ketika dua amal
bisa belum dilakukan, terutama ketika pada saat
membutuhkan tindakan amal tersebut, maka seseorang
jangan merasa tenang bisa masuk surga.

Harapan Syahid
Dalam ayat berikutnya Allah SWT berfirman:Walaqad
kuntum tamannawna al-mawt min qabli an
talqawhu(sesungguhnya kamu mengharapkan mati
sebelum kamu menghadapinya). Menurut al-Thabari
dan al-Syaukani, kataal-mawt(kematian) di sini
bermaknaasbb al-mawt(penyebab kematian), yakni
perang. Imam al-Qurthubi dan al-Alusi menafsirkannya
sebagai mati syahid. Menurut al-Alusi, tidak masalah
memiliki harapan tersebut. Harapan itu bukan berarti
mengharapkan terjadinya kemenangan kaum kafir.
Namun harapan yang dimaksud adalah harapan untuk
mendapatkan sesuatu yang mengantarkan pelakunya
mendapatkan kemuliaan syahid, bukan yang lain.

Kemudian dilanjutkan:Faqad ra`aytumhu wa antum


tanzhurn([sekarang] sungguh kamu telah melihatnya dan
kamu menyaksikannya). Karenaal-mawtbermakna sebab
kematian, yakni perang, maka perkara yang mereka lihat
itu adalah perang. Kalimatwa antum tanzhurn(sedangkan
kalian menyaksikannya) berkedudukan
sebagaijumlahhliyyah(kalimat yang menunjukkan
keadaan dari kalimat sebelumnya). Jika diperhatikan,
katatannzhurnmemiliki pengertian yang kurang lebih
sama denganra`aytumhu.Karena memiliki kesamaan
makna, penyebutanjumlah hliyyahitu menurut alSyaukani memberikan maknamublagah(melebihkan).Tak
jauh berbeda, al-Akhfasy memaknai pengulangan tersebut
sebagaita`kd(pengokohan).

Menurut al-Thabari dan al-Syaukani,khithb(seruan)


ayat ini ditujukan kepada tidak ikut dalam Perang
Badar. Mereka mengharapkan mengharapkan suatu
hari terjadi peperangan sehingga mendapatkan
kemuliaan syahid dan pahala besar. Akan tetapi
ketika terjadi Perang Uhud, mereka justru berlarian
dan mundur ke belakang. Mereka tidak bersabar
kecuali hanya sedikit seperti Anas bin al-Nadhar ra,
paman Anas bin Malik ra. Oleh karena itu, menurut alThabari ayat ini merupakan celaan terhadap mereka
sekaligus memuji orang-orang yang sabar dan
memenuhi janji mereka.

Demikianlah. Keinginan dan harapan masuk surga harus disertai


dengan upaya yang dapat mengantarkanya. Jika tidak,
keinginan itu hampa belaka. Laksana orang menginginkan
panen namun tidak menanam; menginginkan pandai namun
tidak belajar. Semoga kita tidak termasuk di antara
mereka.Wal-Lh alam bi al-shawb.

Ikhtisar:
Mengharapkan masuk surga harus disertai upaya yang
mengantarkannya
Berjihad di jalan Allah dan menjadi orang yang sabar adalah di
antara amal yang dapat mengantarkan pelakunya masuk surga
Harapan mati syahid harus dibuktikan dalam medan jihad