Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN


ONTOLOGI

Disusun Oleh:
Irham Bani Mardiyosa

21100112130052

Ilham Hani Pratama

21100112130055

Wilda Dzuriati Uswatun

21100112130058

Yoan Pranata Tarigan

21100113120020

Mahira Anaqah Huwaina

21100113130086

Dennis

21100113140100

Aldo Alkautsar

21100113140104

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
OKTOBER 2015

ONTOLOGI
A. Pendahuluan
Filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan (sains), filsafat ilmu
adalah segenap pemikiran relatif terhadap persoalan mengenai segala hal yang
menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari
kehidupan manusia ( The Liang Le dalam Fuad Hasan: 2010, 13).
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang komprehensif yang berusaha
memahami persoalan-persoalan yang timbul di dalam keseluruhan ruang
lingkup pengalaman manusia. Dengan demikian filsafat dibutuhkan manusia
dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai
lapangan kehidupan manusia, termasuk masalah kehidupan dalam bidang
pendidikan. Jawaban hasil pemikiran filsafat bersifat sistematis, integral,
menyeluruh dan mendasar. Filsafat dalam mencari jawaban dilakukan dengan
cara ilmiah, objektif, memberikan pertanggungjawaban dengan berdasarkan
pada akal budi manusia, demikian halnya untuk menjawab persoalanpersoalan manusia dalam bidang pendidikan, (Jalaludin, 2007: 125).
Dalam filsafat yang dibahas ada beberapa topik yaitu: Pengetahuan
(epistemologi, metode ilmiah dan kebenaran), realitas (kehidupan, pemikiran
dan ontologi) dan nilai (aksiologi, etika dan pendidikan). Ontologi ini
merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang
ada. Ontologi merupakan bagian dari realitas yang mempersoalkan hal-hal
yang berkenaan dengan segala sesuatu yang ada. Menurut Aristoteles, ontologi
merupakan ilmu mengenai esensi benda, dimana ontologi ini menyelidiki sifat
dasar dari apa yang nyata secara fundamental.

B. Definisi Ontologi
Istilah ontologi berasal dari kata Yunani onta yang berarti sesuatu
yang sungguh-sungguh ada, kenyataan yang sesungguhnya dan logos
yang berarti studi tentang, studi yang membahas sesuatu. Jadi, ontologi

bisa diartikan The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan), atau ilmu tentang yang ada. (Bakhtiar, 2004).
Ontologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu
yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan logika. Dengan menggunakan
landasan ontologi, dapat membicarakan tentang objek atau hakikat yang
ditelaah oleh suatu ilmu (Noerhadi, 1998).
Pertanyaan-pertanyaan ontologis berfokus pada sifat dari realita dan hal
apa yang harus kita kaji. Kesepakatan para ilmuwan mengenai ontologi
membentuk latar belakang bagi cara mereka berteori. Ontologi adalah studi
mengenai sesuatu yang ada dan tidak ada atau dengan kata lain mempelajari
mengenai sesuatu yang ada atau prinsip umum mengenai sesuatu yang ada.
Ontologis memberikan kita suatu cara pandang terhadap dunia dan pada apa
yang membentuknya karakteristik-karakteristik pentingnya. (West and Turner,
2008).
Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goelenius
pada tahun 1636 M. Teori tentang hakikat yang ada bersifat metafisika.
Christian Wolff (1679-1757) membagi metafisika menjadi dua yaitu
metafisika umum dan metafisika khusus.
Objek material ontologi adalah yang ada, artinya segala-galanya,
meliputi yang ada sebagai wujud konkrit dan abstrak, indrawi maupun tidak
indrawi. Objek formal ontologi adalah memberikan dasar yang paling umum
tiap masalah yang menyangkut manusia, dunia dan Tuhan. Titik tolak dan
dasar ontologi adalah refleksi terhadap kenyataan yang paling dekat yaitu
manusia sendiri dan dunianya. Ontologi berusaha untuk mengetahui esensi
terdalam dari yang ada. Misalnya, aspek ontologis dari materialisme adalah
bahwa ia merupakan ajaran yang mengatakan bahwa ada yang terdalam adalah
yang bersifat material. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan Apakah saya
ini tidak berbeda dengan batu karang? atau Apakah ruh saya hanya
merupakan gejala materi?. Dengan demikian ontologi berarti suatu usaha
intelektual untuk mendeskripsikan sifat-sifat umum dari kenyataan; suatu
usaha untuk memperoleh penjelasan yang benar tentang kenyataan; studi

tentang sifat pokok kenyataan dalam aspeknya yang paling umum sejauh hal
itu dapat dicapai; teori tentang sifat pokok dan struktur dari kenyataan.
C. Objek Formal Ontologi dan Metode Dalam Ontologi
Objek ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada umum, ada
terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk metafisika
dan ada sesudah kematian maupun segala sumber yang ada yaitu tuhan yang
maha esa. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi
pendekatan realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, akan menjadi
kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme,
naturalisme.
Menurut Lorens Bagus, metode dalam ontologi dibagi menjadi tiga
tingkatan abstraksi yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi
metafisik. Abstraksi fisik mendeskripsikan keseluruhan sifat khas suatu objek,
sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri
semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metafisik mendeskripsikan tentang
prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realita. Untuk ontologi ini
metode yang sering digunakan adalah abstraksi metafisik karena dalam
ontologi menerangkan teori-teori tentang realitas.
D. Ontologi ditinjau dari Segi Ilmu Pengetahuan
Ontologi merupakan kawasan ilmu yang tidak bersifat otonom,
ontologi merupakan sarana ilmiah yang menemukan jalan untuk menangani
masalah secara ilmiah. Ontologi sebagai ilmu pengetahuan berfungsi
membantu manusia dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari. Ilmu
berkembang

dengan

sangat

pesat

dan

jumlah

cabangnya

sehingga

memungkinkan analisis yang menspesialisasikan diri pada satu bidang telaah


ilmu dan menyebabkan objek ontologi dari disiplin keilmuan menjadi kian
terbatas. Oleh karena itu diperlukan pemahaman ontologi tentang objek materi
dari

ilmu

pengetahuan. Adapun dalam

pemahaman

ontologi

dikemukakan dengan pandangan pokok pikiran sebagai berikut :

dapat

1. Aliran Monoisme
Aliran ini menganggap bahwa segala sesuatu adalah bentuk dari satu
subtansi. Contohnya adalah air merupakan materi penyebab adanya segala
sesuatu.
Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe.
Paham ini kemudian terbagi kedalam dua aliran, yaitu :
a. Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi,
bukan rohani. Aliran ini sering disebut juga dengan naturalisme.
Menurutnya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.
b. Idealisme
Sebagai lawan materialisme adalah aliran idealisme yang dinamakan
dengan

spritualisme.

Idealisme

berarti

serba

cita

sedangkan

spritualisme berarti ruh.


2. Aliran Dualisme
Aliran ini menganggap bahwa segala sesuatu berasal dari dua
substansi,yaitu : substansi materi dan substansi rohani. Contohnya adalah
dunia terdiri dari materi dan ide.
3. Aliran Pluralisme
Dalam pandangan pluralisme, segala sesuatu adalah bentukan dari
sejumlah substansi, maksudnya adalah bahwa segenap macam bentuk
merupakan kenyataan. Tokoh aliran ini pada masa Yunani kuno adalah
Anaxa goros dan Empedocles yang menyatakan bahwa subtansi yang ada
itu berbentuk dan terdiri dari 4 unsur yaitu tanah, air, api dan udara.
Teori pluralisme secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Atomisme kuantitatif (teori kinetik dasar)

Democritus, realitas adalah atom-atom dan ruang.

Epicurus,

realitas

adalah

atom-atom

dan

ruang

yang

dikualifikasikan oleh sebuah spontanitas atom-atom, gerak itu


inheren didalam atom-atom tersebut.
b. Atomisme kualitatif (teletologi dasar)

Empedocles, terdapat empat unsur yang membentuk realitas yaitu


tanah, air, udara dan api yang digerakkan oleh cinta dan kebencian.

Anaxa goras, terdapat unsur yang tak terhitung jumlahnya yang


bertemu dengan kualitas-kualitas pengalaman yang juga tak
terhitung jumlahnya yang dikendalikan oleh unsur yang aktif atau
pikiran.

4. Aliran Nikhilisme
Nikhilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada.
Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
Doktrin tentang nikhilisme sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani
kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (483-360 SM) yang memberikan tiga
proposisi tentang realitas:
a. Tidak ada sesuatu pun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.
b. Bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh
penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi.
c. Sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita
beritahukan kepada orang lain.
5. Aliran Agnosticisme
Aliran ini mengungkapkan bahwa kemampuan manusia sangat terbatas
dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh inderanya
maupun oleh pikirannya.
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat
benda. Baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Kata Agnosticisme
berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown. A artinya
not. Gnoartinya know.
Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan
mampu meneranagkan secara konkrit akan adanya kenyataan yang berdiri
sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal
adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent.
E. Ontologi Ditinjau Dari Persfektif Agama

Argumen ontologi dimajukan pertama kali oleh Plato (428-348 SM) dengan
teori idea. Yang dimaksud dengan idea adalah definisi dan konsep universal
dari setiap sesuatu yang mutlak. Idea atau konsep universal yang berlaku
untuk tiap-tiap yang nyata dalam alam nyata, baik kecil atau besar. Teori Plato
mencoba membuktikan bahwa alam bersumber pada sesuatu kekuatan gaib
yang bernama The Absolute atau yang mutlak baik. Kebenaran yang tetap itu
yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dan usaha mengetahui yang benar.
Dan kebenaran yang mutlak itu disebut Tuhan.

F. Manfaat dan Sebab-Sebab Penting Tentang Ontologi


Manfaat mempelajari ontologi:
1. Sebagai refleksi kritis atau objek atau bidang garapan, konsep-konsep,
asumsi-asumsi dan postulat-postulat ilmu. Di antara asusmsi dasar
keilmuan antara lain yaitu dunia ini ada, dan kita dapat mengetahui bahwa
dunia ini benar ada.
2. Dunia empiris dapat diketahui manusia dengan panca indera
3. Fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu dengan yang
lainnya secara kausal. Ilmu tidak mampu merefleksikan postulat-postulat,
asumsi-asumsi, prinsip, dalil dan hukum sebagai pikiran dasar keilmuan
dalam paradigmanya. Dalam hal ini ontologi dapat membantu kita untuk
merefleksikan eksistensi suatu disiplin keilmuan tertentu.
Ontologi menjadi penting sebab:
1. Kesalahan suatu asumsi, akan melahirkan teori, metodologi keilmuan yang
salah pula. Sebagai contoh, ilmu ekonomi dikembangkan atas dasar
postulat bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, dan
asumsi bahwa hakikat manusia adalah homo ekonomikus, makhluk yang
serakah, maka asumsi ini akan mempengaruhi teori dan metode yang
didasarkan atas keserakahan manusia tersebut. Padahal kebenaran asumsi
tersebut secara ontologis masih diragukan, namun sebagai ilmu, asumsi
tersebut berterima tanpa pengujian.

2. Ontologi membantu ilmu untuk menyusun suatu pandangan dunia yang


integral, komprehensif, dan koheren. Ilmu dengan ciri khasnya mengkaji
hal-hal yang khusus untuk dikaji secara tuntas yang pada akhirnya
diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang objek telaahannya,
namun pada kenyataannnya kadang hasil temuan ilmiah bernhenti pada
simpulan-simpulan parsial dan terpisah-pisah. Ilmuwan dalam hal ini tidak
mampu mengintegrasikan pengetahuan tersebut dengan pengetahuan lain.
3. Ontologi membantu memberikan masukan informasi untuk mengatasi
permasalahan yang tidak mampu dipecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.
Dalam hal ini ontologi berfungsi membantu memetakan batas-batas kajian
ilmu. Dengan demikian berkembanglah ilmu-ilmu yang dapat diketahui
dari tiap masa.
G. KESIMPULAN
1. Ontologi merupakan ilmu yang menerangkan teori-teori tentang realitas
2. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas.
3. Pendekatan realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, akan menjadi
kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme,
idealisme, naturalisme.
4. Metode yang digunakan dalam ontologi adalah abstraksi fisik, abstraksi
bentuk dan abstraksi metafisik.
5. Aliran pandangan pokok pikiran ontologi yaitu: aliran monoisme, aliran
dualisme, aliran pluralisme, aliran nikhilisme dan aliran agnosticisme.
6. Ditinjau dari persfektif agama, adanya kebenaran mutlak akan adanya
tuhan oleh Plato.
7. Manfaat mempelajari ontologi :

a. Sebagai refleksi kritis atau objek atau bidang garapan, konsep-konsep,


asumsi-asumsi dan postulat-postulat ilmu.
b. Dunia empiris dapat diketahui manusia dengan panca indera
c. Membantu untuk merefleksikan eksistensi suatu disiplin keilmuan

tertentu.

8. Ontologi menjadi penting sebab:


a. Ontologi membantu mencari kebenaran tentang suatu asumsi.
b. Ontologi membantu ilmu untuk menyusun suatu pandangan dunia
yang integral, komprehensif, dan koheren.
c. Ontologi membantu memberikan masukan informasi untuk mengatasi
permasalahan yang tidak mampu dipecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.

Daftar Pustaka
Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta.
Hunnex, Milton D. 2004. Peta Filsafat. Bandung : Mizan Media Utama.
Soyomukti, Nurani. 2011. Pengantar Filsafat Umum. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Suminar, Tri. ____. Tinjauan Filsafati (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Manajemen Pembelajaran Berbasis Teori Sibernetik. Semarang :
Universitas Negeri Semarang.
Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu: sebuah pengantar populer. Cetakan
ke dua puluh. Jakarta: Sinar Harapan
Susanto,A. 2010. Filsafat Ilmu:suatu kajian dalam dimensi ontologism,
epistemologis, dan aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.