Anda di halaman 1dari 16

APLIKASI TEORI KEPERAWATAN OREM SELF-CARE

DEFICIT PADA PASIEN DENGAN KASUS SISTEM


PENCERNAAN DAN PERKEMIHAN

OLEH : KELOMPOK 3

Nurdiana Djamaluddin

: P4200214038

Halida Handayani

: P4200214039

Rochfika

: P4200214032

Ade Rendra Kurniawan : P4200214001


Musfirah Ahmad

: P4200214044

Adriani Natalia M

: P4200214403

Andi Fajriansi

: P4200214404

Muh. Zukri Malik

: P4200214017

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN AJARAN 2014-2015
MAKASSAR

BAB I
LATAR BELAKANG

Tindakan kolostomi paling sering dilakukan karena adanya karsinoma kolon dan
rectum. Kanker kolorektal menempati urutan ketiga jenis kanker yang paling sering
terjadi dan penyebab atas 9% dari kematian akibat kanker. Diperkirakan setiap tahun
sekitar 103.170 orang Amerika yang didiagnosis dengan kanker kolorektal (Lewis et al,
2014). Sedangkan di Indonesia sendiri, kasus kanker kolorektal cenderung mengalami
peningkatan. Berdasarkan catatan, di RS Kanker Dharmais, pada 2001 lalu 6,5% dari
pasien yang diperiksa saluran pencernaan bagian bawahnya, ditemukan indikasi
terkena kanker kolorektal (Winarto et al, 2005)
Pembentukan stoma atau kolostomi dapat berdampak pada deficit perawatan
diri, perubahan peran, harga diri, body image, seksual dan hubungan sosial. Bila
individu mampu memenuhi tuntutan self care, kebutuhan untuk merawat dirinya sendiri
akan terpenuhi, tetapi bila tuntutan lebih besar dari kemampuannya, akan terjadi
ketidakseimbangan yang disebut self care deficit atau deficit perawatan diri.
Penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan kedua penyakit tersering,
setelah penyakit batu saluran kemih yang sering dijumpai di klinik urologi Indonesia.
Secara umum, 5 persen atau sekitar 5 juta dari jumlah pria di Indonesia sudah masuk
ke dalam kelompok usia 60 tahun ke atas, dan dinyatakan bahwa sekitar 2,5 juta pria
Indonesia menderita penyakit BPH (Furqan, 2003).
Penyakit BPH merupakan kasus urologi yang paling sering dirawat di rumah
sakit unhas. pasien BPH biasanya mengalami beberapa keluhan berkemih, penderita
melaporkan frekuensi berkemih meningkat, khususnya pada malam hari, bahkan ada
kalanya tidak dapat ditahan (urgency) yang dapat mengakibatkan terjadinya
incontinencia. Selain itu pasien juga sering melaporkan perasaan tidak puas setelah
berkemih. Bila hambatan pada uretra terus meningkat, berkemih akan makin sulit dan
pancaran berkemih juga

melemah, bahkan berkemih dapat mendadak berhenti.

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan

timbulnya rasa nyeri

sehingga lansia cenderung untuk menahan kencingnya, dan

pada saat berkemih,


selanjutnya dapat

menimbulkan infeksi pada kandung kemih karena terjadi penumpukan bakteri dalam
kandung kemih akibat terlalu lama menahan untuk berkemih Kondisi tersebut dapat
membuat pasien defisit self care dan membutuhkan proses keperawatan.
Salah satu ahli teori yang cukup terkenal dan teorinya banyak digunakan dalam
tatanan pelayanan keperawatan adalah Dorothea Orem. Dalam teori self-care deficitnya, orem menganggap bahwa teori defisit perawatan diri adalah kebutuhan seseorang
untuk berhubungan dengan perawatan karena ketidakmampuan melakukan perawatan
diri secara kontinyu dan independen dikarenakan hal-hal yang terkait dengan
kesehatan

atau

keterbatasan.

Defisit

perawatan

diri

adalah

istilah

yang

mengungkapkan hubungan antara kemampuan individu dan tuntutan mereka untuk


perawatan. peran perawat yaitu memberikan panduan untuk pemilihan metode dalam
membantu dan memahami peran pasien dalam perawatan diri (Tomey & Alligood,
2006).
Teori Dorothea Orem merupakan teori yang cukup menarik untuk dikaji dan
dibahas karena termasuk teori yang cukup banyak digunakan dalam aplikasi praktik
keperawatan dan kami tertarik untuk menelaah teori ini, dimana ia hanya berfokus pada
lingkup praktik keperawatan

BAB II
TINJAUAN KASUS
A. Tinjauan Kasus Pasien Dengan Kolostomi
Pasien adalah seorang wanita berusia 61 tahun, tidak tamat SD, berasal dari
suku bugis dan beragama Islam. Pasien berperan sebagai seorang ibu rumah tangga
memiliki 5 orang anak, 3 diataranya telah menikah dan saat ini ia tinggal bersama
suami dan kedua orang anaknya yang belum menikah. Kebutuhan ekonominya
ditunjang oleh dana pensiun yang diterima oleh suami. Pasien masuk RS sejak 6 hari
yang lalu. Dengan keluhan

adanya nyeri pada abdomen bagian kanan bawah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostik ditemukan adanya tumor adnexa yang telah
meyebar ke daerah kolon desendens dan beberapa nodul ditemukan di daerah sigmoid.
Pasien memiliki riwayat kesehatan pernah di rawat di RS dengan stroke ringan,
dan

memiliki riwayat hiprtensi. Pasien menjalani pengobatan teratur dengan

mengkonsumsi obat amlodipin, tetapi pasien mengakuti tidak teratur mengikuti pola diet
yang dianjurkan dokter untuk menangani tekanan darahnya. Pasien tidak berolahraga.
Pasien jarang melakukan aktivitas di rumah karena adanya karyawan yang membantu
memenuhi kebutuhan rumah tangga pasien . pasien merasa tidak mampu lagi aktif
seperti yang dulu karena penyakit yang dialaminya. Pasien tidak memilki riwayat
kesehatan keluarga misalnya adanya anggota keluarga yang menderita stroke atau
kanker.
Saat ini pasien menjalani perawatan post operasi hari ke tiga pasca operasi dan
pemasangan colostomi. Akibat adanya tumor adnexa yang telah menyebar ke daerah
kolon. Pasien merasa ragu dan takut untuk bergerak. Pasien sangat berhati-hati dalam
melakukan aktivitas di tempat tidur pasien merasa sangat lemah dan tidak berdaya
dengan kondisinya sekarang dan sangat membutuhkan perawatan dan bantuan dari
keluarga dan tenaga kesehatan.

B. Tinjauan Kasus Pasien dengan BPH Grade III Post TUR-P


Nama
: Tn. AL
Umur
: 46 tahun
Tgl MRS : 05 Maret 2015
Pengkajian
: 05 Maret 2015
Operasi TUR-P : 09 Maret 2015
Keluhan utama: tidak bisa buang air kecil
Riwayat penyakit: dialami sejak + 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Awalnya
pasien mengeluh susah buang air kecil sejak 1 tahun lalu. Tiap kali buang air kecil
harus mengedan dan menunggu beberapa saat sampai kencingnya keluar.
Pancaran kencing melemah dan terputus-putus. Pasien juga merasakan tidak
tuntas tiap kali kencing. Sehingga merasa tidak puas. Setelah kencing, urine
menetes keluar. Penderita juga mengeluh sering kencing-kencing dan tiap malam
terbangun sampai lebih dari 5 kali untuk buang air kecil. Nyeri saat kencing tidak
ada. Pasien terpasang kateter urine selama 3 bulan. Riwayat kencing keluar
batu/berpasir tidak ada. Riwayat kencing bercampur darah tidak ada. Riwayat
kencing nanah tidak ada.
Diagnosa medis: Hipertropi prostat Grade III

BAB III
PEMERIKSAAN FISIK
A. Integrasi Teori Orem dalam Pengkajian Pasien dengan Kolostomi
Pemeriksaan Fisik
Integrasi Pengkajian Dalam teori orem

1. Profil Pasien
A. Karakteristik individu
Seorang wanita Ny. N berusia 61 tahun, seorang ibu rumah tangga. Masuk rumah
sakit pada tanggal 8 Maret 2014. Tinggal di rumah bersama 2 orang anaknya
bersama suami. Pasien tidak pernah mengikuti kegiatan di lingkungan sosial yang
ada di dekat rumahnya. Pasien berasal dari suku bugis dan beragama muslim.
B. Orientasi kesehatan saat ini
Pasien masuk RS dengan keluhan nyeri pada bagian perut bawah sebelah kanan
yang dialami sejak 1 minggu yang lalu, tanpa disertai adanya demam. Pasien
memiliki riwayat hiper tensi dan pernah di rawat di RS dengan penyakit stroke
yang dideritanya 2 tahun yang lalu. Saat ini TTV pasien yang terdiri dari TD :
180/80mmHg, nadi : 90x/menit, pernapasan: 20 x/ menit, suhu : 37 0 C.
C. Karakteristik keluarga
Pasien memiliki 5 orang anak, saat ini ia tinggal bersama suami dan 2 anaknya
yang belum menikah, dan biaya hidupnya diperoleh dari gaji pensiun sang suami
dan usaha dagang yang dimilikinya di rumah. Pasien mengatakan tidak memiliki
riwayat penyakit keturunan di dalam keluarganya.
D. Karakterisik lingkungan
Pasien tinggal di daerah yang mayoritas memiliki latar belakang budaya yang
sama. Area rumah pasien berada disekitar, pasar dan puskesmas.
2. Syarat Universal self-care
A. Oksigen : pasien tidak merokok namun dirumahnya terdapat salah satu anggota
keluarganya yaitu anak laki-laki bungsunya yang merokok. Pasien tinggal di
daerah pusat kota yang memilki tingkat polusi udara yang cukup tinggi.
B. Kebiasaan-kebiasaan pada umumnya
a. Kebiasan kesehatan
Pasien mengtakan jarang ke RS untuk mengontrol kesehatanya, ia hanya
akan mengunjungi Rs sakit jika ia mendapat keluhan yang berhubungan
dengan fisiknya. Pasien juga tidak mengikuti diet tertentu, pasien juga tidak
pernah berolahraga.
b. Tinjauan pada sistem
1) Kulit : tidak ditemukan adanya lesi, ruam dan tumor, edema, warna ikterus.
Kulit tampak lembab, turgor kulit baik dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi
2) Rambut : pasien memilki rambut lurus dan panjang, terlihat adanya
beberapa helai rambut yang beruban rambut tampak kusam
3) Kuku :

4) Payudara : tampak simetris kiri dan kanan, tidak ada nyeri pada palpasi,
pasien tidak memiliki riwayat keluarga yang memilki kanker payudara
5) Pernapasan : pasien tidak memilki riwayat penyakit asma, sesak dan batuk
kronik, pada auskultasi tidak terdengar suara nafas tambahan.
6) Jantung : pasien memilki TD : 180/80mmHg, pada perkusi terdapat bunyi
pekak pada ICS 5 linea mid axilaris sinistra
7) Sistem pembuluh darah perifer : tidak teraba adanya perubahan suhu dan
warna kulit, kekuatan nadi sama diantara kedua ekstermitas.
C. Nutrisi
a. Kebiasaan kesehatan : pasien mengatakan sejak ia terserang stroke ia
mendapat pengobatan teratur Anlodipin, sejak sakit pasien dianjurkan oleh
dokter untuk mengurangi makanan yang terlalu asin dan berlemak, tapi pasien
mengatakan tidak terlalu memperhatikannya. Pasien makan 3 kali sehari.
Pasien mengatakan tidak ada perubahan BB yang berarti.
b. Tinjauan pada sistem :
1) Mulut : pasien memiliki gigi yang tidak utuh lagi karena terdapat bebrapa
gigi geraham yang telah tanggal. Tidak terdapat lesi pada mukosa bibir.
2) Tenggorokan : tidak ada gangguan mengunyah (disfagia)
3) Gastrointestinal : pasien tidak memiliki keluhan mual dan muntah, dan
perubahan nafsu makan. Pada inspeksi tidak terlihat adanya striae atau
ikterus tidak ada lesi, tidak terdapat adanya penonjolon umbilkus. Pada
abdomen terlihat adanya pelebaan ukuran abdomen ke samping akibat
asites, terdapt adanya colostomy pada daerah abdomen kanan bawah,
pada auskultasi tidak terdengar adanya bising usus, peristaltik usus
6x/menit. Perkusi adanya asites.
D. Eliminasi
a. Kebiasaan terkait kesehatan :
Pasien BAB 1 x sehari, tidak mengunakan laksatif. Tidak ada masalah pada
pengeluaran urine. saat ini pasien menggunakan colostomy akibat adanya
operasi pengangkatan tumor pada colon.
b. Tinjauan pada sistem :
1) Kandung kemih : pasien terpasang kateter
2) Usus & kolon : pasien terpasang colostomi
3) Reproduksi : tidak ada pengeluaran cairan atau darah melalui vagina, tidak
ada haemoroid.
E. Akitifitas dan istirahat

a. Kebiasaan terkait kesehatan : pasien tirah baring di tempat tidur sejak 3 hari
post operasi dan pemasangan colostomy. Pasien menghabiskan waktunya di
tempat tidur, dan tidak ada pengantar tidur
b. Tinjauan pada sistem :
1) Sistem musculoskeletal : pasien memiliki kekuatan otot penuh dan tidak
ada hambatan rentang gerak pasien. Pasien dapat miki dan mika di tempat
tidur.
2) Sistem neurological : pasien tidak ada tremor pada daerah ekstermitas,
pasien tidak mengeluh adanya sakit kepala, kehilangan memory.
F. Kesendirian dan interaksi sosial
a. Kebiasaan terkait kesehatan : pasien mengatakan jika memiliki waktu luang
pasien mengunjungi tetangga untuk sekedar bercengkerama. Pasien biasa
sendiri di rumah saat suami dan anaknya bekerja
b. Tinjauan pada sistem :
1) Telinga : tidak ada masalah pada pendengaran, tinitus
2) Mata : pasien tidak menggunakan alat bantu penglihatan
G. Bahaya kesehatan, fungsi manusia dan kesejahteraan manusia.
Pasien tidak menggunakan alkohol dan merokok.
3. Developmental self care
Pasien merasa malu dengan perubahan fisiknya. Karena adanya pemasangan
colostomy.
4. Health deviation self care
Pasien beresiko terhadap penyakit jantung, stroke berulang akibat pola hidup yang
tidak sehat dan tidak menggunakan fasilitas kesehatan dengan baik.

B. Integrasi Teori Orem dalam Pengkajian Pasien dengan BPH Grade III
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada kasus ini difokuskan pada sistem perkemihan dengan
metode inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi, seperti yang berikut ini:
Vital signs :
TD = 130/80 mmHg
HR = 80x/menit
RR = 18x/menit
Suhu = 36,5oC
Pengkajian fokus sistem perkemihan:
Regio costovertebralis dextra
I
: warna kulit sama dengan sekitarnya, hematom tidak ada, massa
tumor tidak ada.
P

: ballotement ginjal tidak teraba, massa tumor tidak teraba, nyeri


tekan tidak ada

P
: nyeri ketok tidak ada
Regio costovertebralis sinistra
I : warna kulit sama dengan sekitarnya, hematom tidak ada, massa
tumor tidak ada.
P : ballotement ginjal tidak teraba, massa tumor tidak teraba, nyeri
tekan tidak ada
P : nyeri ketok tidak ada
Regio suprapubik
I
: warna kulit sama dengan sekitarnya, hematom tidak ada, massa
tumor tidak ada.
P
: massa tumor tidak teraba, nyeri tekan tidak ada
Regio genitalia eksterna
Penis
I : tampak telah disirkumsisi, ostium urethrae eksterna terletak diujung glans penis,
hematom tidak ada, terpasang kateter urine dengan folley 18F dengan warna
urine kuning jernih
P: massa tumor tidak teraba
Scrotum
I : tampak warna kulit lebih gelap dari sekitarnya, hematom tidak ada, massa tumor
tidak ada.
P: teraba 2 buah testis dalam kantong scrotum, ukuran dan konsentrasi
normal, massa tidak teraba
Perineum
I : tampak warna kulit lebih gelap dari sekitarnya, hematom tidak ada,
massa tumor tidak ada
P: massa tumor tidak teraba, nyeri tekan tidak ada
Rectal touche:
Spinchter ani mencekik, mukosa licin, ampulla tidak terisi feses
Teraba penonjolan prostat ke arah rectum dengan ukuran + 2-3
cm, pole atas teraba tidak dalam, konsistensi padat kenyal simetris,
permukaan tidak berbenjol-benjol, nyeri tekan tidak ada
Buli-buli tidak teraba batu atau massa tumor
Handscoen: feses tidak ada, lendir tidak ada, darah tidak ada
Integrasi Dalam Pengkajian dalam Teori Orem
I. Profil Klien
A. Karakteristik Pribadi
Tn. AL merupakan seorang laki-laki yang berumur 46 tahun.
B. Riwayat Kesehatan saat ini

kesan

Klien masuk rumah sakit dengan keluhan utama adalah tidak dapat buang air
kecil.
C. Karakteristik Keluarga
D. Karakteristik lingkungan
II. Universal Self-Care
A. Udara
B. Riwayat Kesehatan Umum
1) Kulit: Tidak ada ruam, lesi, atau tumor.
2) Rambut: Rambut ikal pendek.
3) Kuku: Kuku tampak bersih
4) Dada: Tidak kelainan.
5) Pernapasan: Sesak napas, dyspnea, dan batuk kronis. Tidak ada riwayat
asma. Paru-paru bersih pada auskultasi dan perkusi.
6) Sistem kardiovaskular: Palpitasi.
7) Sistem vaskular perifer: Tidak ada perubahan suhu, edema, atau varises.
8) Integumen: Tidak ada tanda dehidrasi, turgor kulit baik. Tidak ada bukti
edema atau kekeringan yang berlebihan.
C. Makanan
1) Mulut: Gigi dalam kondisi baik.
2) Tenggorokan: Tidak ada disfagia.
3) Gastrointestinal: Tidak ada masalah dengan mual, muntah atau gangguan
pencernaan.
D. Eliminasi
1) Kandung

kemih:

Poliuria,

nokturia,

atau

oliguria.

Mengeluh

kemih

inkontinensia diasosiasikan diciptakan dengan kegiatan seperti lompat tali,


batuk, dan dengan meningkatnya gejala sebelum menstruasi.
2) Usus: Diare, atau sembelit, inkontinensia tinja atau flatus.
3) Alat kelamin: Tidak ada keluhan iritasi atau gatal.
E. Aktivitas dan Istirahat
Tn AL, berpartisipasi dalam olahraga. Dia membutuhkan 6 sampai 8 jam tidur.
berpartisipasi dalam olahraga, meskipun Ul. Bantah menggunakan alkohol atau
obat-obatan untuk menginduksi tidur.
1) Musculosketal: kekuatan otot yang baik dan berbagai gerak dari semua
ekstremitas. Penilaian dasar panggul mengungkapkan dasar panggul
melemah.

Mampu

merekrut

otot

dasar

panggul,

tetapi

tidak

dapat

mempertahankan kontraksi untuk lebih dari 2 sampai 3 detik. Nada sfingter


2)

anal sangat baik.


Neurologis: Tidak ada keluhan mati rasa atau kesemutan di setiap
ekstremitas. Tidak ada keluhan panas atau intoleransi dingin; ekstremitas
hangat saat disentuh dan tidak ada getaran yang tidak biasa.

BAB IV
PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Penunjang pada pasien dengan kasus kolostomi
1. Pada radiologi photo thorax menunjukkan hasil paru-paru normal, terdapat
cardiomegaly disertai arterosklerosis pada aorta.
2. Pada pemeriksaan USG tampak massa komplex adnexa dan asites
3. Pada pemeriksaan CEA terjadi peningkatan 0.77 ng/ml (nilai normal : 0-47) dan CA
125 > 600 U/ml (nilai normal : <35).
4. Pemeriksaan ureum 58 mg/dl (nilai normal 0.53mg/dl) dan kreatinin 1,5 mg/dl (0.61,3mg/dl)
B. Pemeriksaan Penunjang pada pasien dengan kasus BPH Grade III
1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium (Tanggal 09 Maret 2015)
DARAH RUTIN
WBC
RBC
HGB

HASIL
14.07
5.50
13.6

SATUAN
(10^3/uL)
(10^6/uL)
(g/dL)

NILAI NORMAL
4.00 11.0
4.50 5.50
13.0 10.0

HCT
MCV
MCH
MCHC
PLT
RDW-SD
RDW-CV
PDW
MPV
P-LCR
PCT
NEUT
LYMPH
MONO
EO
BASO
Comment : Leukositosis
ELEKTROLIT
Natrium
Kalium
Klorida
HEMOSTATIS
Waktu Bekuan
Waktu Perdarahan
IMUNOSEROLOGI
HbsAg (Rapid)
Anti HCV (Rapid)
KIMIA DARAH
Glukosa Sewaktu
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
Asam Urat
PSA
URINE RUTIN
Color
Blood
Bilirubin
Urobilinogen
Keton
Protein
Nitrit

40.4
73.5
24.7
33.7
222
39.7
15.0
11.3
9.7
23.0
0.22
88.1
7.2
4.4
0.1
0.2

(%)
(fL)
(pg)
(g/dL)
(10^3/uL)
(fL)
(%)
(fL)
(fL)
(%)
(%)
(%)
(%)
(%)
(%)
(%)

40.0 50.0
80.0 100.0
27.0 34.0
31.0 36.0
150 450
37.0 54.0
10.0 15.0
10.0 18.0
9.00 13.0
13.0 43.0
0.17 0.35
50.0 70.0
20.0 40.0
2.00 8.00
1.00 3.00
0.00 1.00

HASIL
146
4.0
105

NILAI RUJUKAN
136 145
3.5 5.1
97 - 111

SATUAN
mmol/L
mmol/L
mmol/L

HASIL
7
5

NILAI RUJUKAN
4 - 10
3-7

SATUAN
menit
Menit

HASIL
Non Reaktif
Non Reaktif

NILAI RUJUKAN
Negatif
Negatif

HASIL
128
37
49
20
1.0
6.8
13.16
HASIL
kuning
negatif
negatif
normal
negatif
negatif
(+) positif

NILAI RUJUKAN
80 - 180
< 35
< 45
0 53
0.6 1.3
3.5 7.0
0 4.00
NILAI RUJUKAN
yellow
negatif
negatif
normal
negatif
negatif
negatif

SATUAN
mg/dL
U/L
U/L
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
SATUAN

E.U/dL
mg/dL

Glukosa
pH
SG (Berat Jenis)
Leukosit
Vit. C
Kesan: Pyuria

negatif
6.5
1.015
(+++) 500
WBC/uL
negatif

negatif
4.5 8.0
1.005 1.035
negatif
negatif

2. Hasil Pemerikasaan Radiologi (Tanggal 05 Maret 2015)


PEMERIKSAAN
Foto Thorax PA

KESAN
Cor dan pulmo normal; dilatatio et elongatio aortae

USG Abdomen

Cystitis, hipertropy prostat

3. Hasil Kultur Darah (Tanggal 09 Maret 2015)


Pewarnaan gram:
Pada pewarnaan gram ditemukan adanya gambaran bakteri yang berbentuk Basil
yang bersifat gram negatif. Hasil identifikasi kultur bakteri dan tes biokimia
ditemukan bakteri: Enterobacter sp dengan jumlah kuman 1-9 x105 CFU/ml.
Kesimpulan:
Ditemukan koloni bakteri berbentuk Basil Gram Negatif yang teridentifikasi
sebagai bakteri Enterobacter sp yang sensitive terhadap beberapa jenis
antibiotik yang diujikan.

BAB V
PEMBAHASAN

Kelebihan :
Teori orem sangat mudah diaplikasikan pada pasien dengan kolostomi
Teori Orem lebih banyak digunakan dalam mengatasi masalah pasien dengan
sakitakut dan kronik seperti penderita kanker, diabetes, pasien pre dan post

operasi, dsb.
Digunakan sebagai pedoman dalam pembuatan kurikulum pendidikan diploma

dansarjana keperawatan.
Walaupun lingkupnya terbatas dalam riset, pendidikan dan administrasi
tetapimemiliki cakupan yang cukup luas semua teori dalam praktik.

Kekurangan :
Teori dan model keperawatannya lebih condong kepada hal yang terkait
dengankriteria perawatan. Sehingga, lebih banyak digunakan sebagai panduan

praktik daripada riset.


Teori dan model berorientasi pada kondisi sakit ( illness oriented ) seperti pada
kondisi akut dan kronik, dimana tidak ada indikasi penggunaan teori pada klien

dengan kondisi yang sehat.


Teori dan model Orem lebih condong kepada perawatan bagi orang dewasa
dibanding pada kelompok yang lain

BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Praktek mandiri keperawatan profesional yang membedakan keperawatan
dengan disiplin ilmu

kesehatan lainnya dalam hal berupaya untuk merawat klien

secara holistik. Dalam merawat klien, perawat berkolaborasi dengan tenaga


profesional kesehatan lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan baik
merawat klien dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Namun, dalam praktik
masih ada metode yang belum dipahami dengan baik oleh perawat. Teori orem
membantu perawat memahami aplikasi yang professional dan mengaplikasikannya
dalam praktik keperawatan.
Dimasukkannya teori
keperawatan,

orem

Self-Care

Deficit

Theory

dalam

praktik

berfungsi sebagai panduan praktis untuk penerapan pengkajian

pasien dengan kolostomi dan menyediakan kerangka kerja yang konsisten yang
mendorong kuat klien untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan. Hal ini
berguna dalam menetapkan pengkajian yang sistematis dari klien dengan kolostomi
dan BPG grade III dan berfungsi sebagai aplikasi keperawatan pragmatis dari teori
ke praktek.
B. Rekomendasi
Merujuk pada kekurangan dan keterbatasan teori orem, kami menyarankan agar
semua penelitian yang menggunakan aplikasi teori ini dikumpulkan dan dijadikan
systematic review untuk evidence based sehingga kedepannya teori ini dapat
menjadi dasar bagi peneliti lain untuk mengidentifikasi dan mengembangkan
elemen-elemen lain dari teori orem.

REFERENSI
Bernier & Francie. (2002). Applying Orems Self Care Deficit theory Of Nursing To
Continence Care: Part 2. Urologic Nursing, Vol. 22 (6), 384. Diakses melalui
http://search.proquest.com/docview/220151734/82B79D31A8E94B17PQ/1?
accountid=38628
Lewis, L. S., Dirksen, R. F., Heitkemper, M. M., Bucher, L. (2014). Medical Surgical
Nursing : Assessment And Management Of Clinical Problems. ISBN: 978-0-32308678-3
Tomey, A.M & Alligood, M.R. (2006). Nursing Theorists and Their. Work Sixth Edition.
Mosby :Elsevier
Winarto, E. P., Ivone, J., Saanin, S. N. (n.d). Prevalensi Kanker Kolorektal di Rumah
Sakit Imanuel Bandung Periode Januari 2005-Desember 2007, Jurnal
Kedokteran
diakses
melalui
majour.maranatha.edu/index.php/jurnalkedokteran/article/view/.../pdf