Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

Anemia e.c Suspect Sepsis

CITRA TRI WAHYUMI FAISEL


NIM I11106035

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DOKTER SOEDARSO


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
PONTIANAK
2011
1

PENYAJIAN KASUS
I. Anamnesis (dilakukan tanggal 01 Juli 2011)
Identitas
1. Nama

: By Ny. R

2. Usia

: 28 hari

3. Jenis Kelamin

: Perempuan

4. Agama

: Islam

5. Alamat

: Jl Tanjung Raya II Pontianak

6. No. RM

: 736587

7. Tanggal masuk rumah sakit: 21 Juni 2011 Pukul 17.56


8. Golongan Darah

:B

9. Golongan Darah Ibu

:O

Keluhan utama
-

Demam

Riwayat penyakit sekarang :


-

Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) (usia pasien 12 hari)
pasien demam. Demam tidak disertai kejang dan muntah. BAB lunak
berwarna kekuningan. Sehari BAB 2 kali. Ibu pasien tidak tahu persis warna
BAK. Sejak pagi hari pasien tidak mau minum susu, gerakan lemah dan tidak
menangis. Sejak 4 hari SMRS seluruh tubuh pasien tampak kuning. Untuk
keluhan tersebut pasien langsung dibawa ke RSDS.

Pada hari ke 10 perawatan di RSDS, pasien sudah tidak demam. Pasien


sudah mendapatkan tranfusi darah sebanyak dua kali.

Riwayat penyakit dahulu


2

Tidak ada riwayat trauma pada bayi.

Riwayat keluarga :
-

Di keluarga tidak ada riwayat menderita anemia.

Riwayat Kehamilan:
-

Selama hamil ibu pasien tidak pernah mengalami demam atau mengkonsumsi

obat-obatan.
Pada 5 bulan pertama kehamilan ibu pasien tidak pernah memeriksakan
kandungannya.

Riwayat imunisasi :
-

Menurut ibu pasien, pasien belum mendapatkan imunisasi.

Riwayat kelahiran :
-

Pasien lahir dengan persalinan spontan ditolong bidan. Usia kehamilan 32


minggu, ketuban pecah dini + 1 hari sebelum persalinan. Bayi langsung
menangis setelah lahir. Berat badan bayi saat lahir 1900 gram.

Riwayat Sosioekonomi
-

Pasien merupakan anak pertama

Dirumah, pasien tinggal bersama ayah, ibu, nenek dan kakek

Pekerjaan : ayah bekerja (swasta), ibu rumah tangga

II. Pemeriksaan Fisik (Tanggal 1 Juli 2011)


-

Keadaan umum

: pasien tampak pucat, gerakan kurang aktif, menangis

lemah.
BB

: 2 kg

Tanda vital
-

Frekuensi Jantung

: 150 kali / menit, teratur

Pernapasan
Suhu

: 40 kali / menit, teratur


: 35,40C

Status generalis :
- Kulit

: tampak pucat, ikterik (-)

- Kepala

: UUB datar

- Mata

: sekret (-/-) sklera ikterik (-) konjungtiva anemis (+)

- Telinga

: sekret (-/-)

- Hidung

: pernapasan cuping hidung (-), sekret (-)

- Mulut

: refleks isap (+) baik, mau minum, bibir tidak kering,


sianosis (-) kandidiasis oral (-), OGT dialirkan residu
warna bening kekuningan

- Tenggorokan

: faring hiperemis (-)

- Leher

: retraksi suprasternal (-)

- Dada

: bentuk simetris, pergerakan simetris, retraksi intercstal (-)

- Jantung

: S1, S2 murni reguler

- Paru

: suara dasar paru vesikuler

- Abdomen

: dinding abdomen lebih tinggi daripada dada, supel, hepar


teraba 1 jari dibawah arcus costae, lien tidak teraba,
perkusi timpani, bising usus (+)

- Genitalia

: tidak ada kelainan

- Anus

: tidak ada kelainan

- Ekstremitas

: akral sianosis (-), CRT 2 detik, telapak tangan dan kaki tampak
pucat

Resume
-

Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit, tidak disertai kejang maupun muntah. Pasien tidak mau
minum susu, gerakan lemah dan tidak menangis. Sejak 4 hari tubuh pasien
tampak kuning. Pasien lahir kurang bulan yaitu pada usia kehamilan 32
minggu dengan berat lahir 1900 gram.

Sejak dirawat pasien sudah mendapatkan tranfusi PRC sebanyak dua kali
20 cc.

Dari pemeriksaan fisik pada hari ke-10 perawatan di rumah sakit


didapatkan pasien tidak demam, tampak pucat, gerakan kurang aktif dan
menangis lemah. Pasien sudah mau minum.

III. Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Tanggal 21 Juni 2011
Hemoglobin

: 5,7 g/dl

Leukosit

: 3.200 /uL

Trombosit

: 120.000 /uL

Hematokrit

: 15,8 %

Tanggal 25 Juni 2011 (Post Tranfusi PRC 20 cc)


Hemoglobin

: 8,1 g/dl

Leukosit

: 8.900 /uL

Trombosit

: 114.000 /uL

Hematokrit

: 23,5 %

Tanggal 28 juni 2011 (Post Tranfusi 20 cc)


Hemoglobin

: 10,6 g/dl

Leukosit

: 19.500/uL

Trombosit

: 113.000/uL

Hematokrit

: 28,4%

IV. Diagnosis
-

BKB / SMK / BBLR

Anemia e.c Suspect Sepsis DD:


o Anemia e.c Inkompatibilitas ABO
o Defisiensi Vitamin K

IV. Rencana pemeriksaan penunjang


-

Periksa jumlah leukosit dan hitung jenis secara serial

Periksa CRP

Pemeriksaan kultur darah dan resistensi

Hitung retikulosit

Periksa gambaran darah tepi

Identifikasi antibodi

V. Terapi
-

IVFD D5 1/4 S 8 tpm mikro


Sefotaksim 4 x 100 mg
Gentamisin 2 x 15 mg
Tranfusi PRC 20 cc
Pertahankan suhu 36,5 37,5 C (perawatan di dalam inkubator)
ASI/PASI 30 cc perhari

VI. Prognosis
Ad vitam

: bonam

Ad functionam

: bonam

Ad sanactionam

: bonam

VII. Follow Up
Tanggal 2 Juli 2011
S : Gerakan kurang aktif, menangis keras, minum baik, demam (-)
O : HR 145 x/menit, RR 46 x/menit, T 36C, pucat (+)
6

A : Anemia e.c Suspect Sepsis


P:
-

IVFD D5 1/4 S 8 tpm mikro


Sefotaksim 4 x 100 mg
Gentamisin 2 x 15 mg
Pertahankan suhu 36,5 37,5 C (perawatan di dalam inkubator)
ASI/PASI 30 cc perhari

Hasil Pemeriksaan Laboratorium


-

Hemoglobin : 11,3 g/dl


Leukosit : 17.000 /uL
Hematokrit : 31,1 %
Trombosit : 435.000 /uL

Tanggal 4 Juli 2011


S : Gerakan aktif, menangis keras, minum baik, demam (-)
O : HR 140 x/menit, RR 48 x/menit, T 36C, pucat (-)
A : Anemia perbaikan
P:
-

IVFD D5 1/4 S 8 tpm mikro


Sefotaksim 4 x 100 mg
Gentamisin 2 x 15 mg
Pertahankan suhu 36,5 37,5 C (perawatan di dalam inkubator)
ASI/PASI 30 cc perhari

TINJAUAN PUSTAKA
I.

Klasifikasi Berat Badan dan Usia Kehamilan


Berat lahir merupakan berat bayi yang ditimbang dalam waktu 1 jam
pertama setelah lahir. Klasifikasi menurut berat lahir yaitu:
a. Bayi berat lahir rendah (BBLR) yaitu bayi yang dilahirkan dengan berat
lahir < 2500 gram tanpa memandang usia gestasi.
b. Bayi berat lahir cukup (BBLC) yaitu bayi yang dilahirkan dengan berat
lahir >2500 4000 gram.

c. Bayi berat lahir lebih (BBLL) yaitu bayi yang dilahirkan dengan berat
lahir > 4000 gram.
Usia kehamilan atau masa gestasi yaitu masa sejak terjadinya konsepsi
sampai dengan kelahiran yaing dihitung dari hari pertama haid terakhir.
Klasifikasi menurut masa gestasi:
a. Bayi kurang bulan (BKB) yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi
< 37 minggu.
b. Bayi cukup bulan (BCB) yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi
antara 37 42 minggu.
c. Bayi lebih bulan (BLB) yaitu bayi yang dilahirkan dengan masa gestasi >
42 minggu.
Bayi kurang bulan (BKB) sering mempunyai masalah sebagai berikut:
1. Ketidakstabilan suhu
BKB sering memiliki kesulitan untuk mempertahankan suhu tubuh akibat:
a) Peningkatan hilangnya panas
b) Kurangnya lemak subkutan
c) Rasio luas permukaan terhadap berat badan yang besar
d) Produksi panas berkurang akibat lemak coklat yang tidak memadai dan
ketidakmampuan untuk mengigil
2. Kesulitan pernapasan
a) Defisiensi surfaktan paru yang mengarah ke PMH (Penyakit Membran
Hialin)
b) Resiko aspirasi akibat belum terkoordinasinya refleks batuk, refleks
menghisap dan refleks menelan
c) Thoraks yang dapat menekuk dan otot pembantu respirasi yang lemah
d) Pernapasan yang periodik dan apnea
3. Kelainan gastrointestinal dan nutrisi
a) Refleks isap dan telan yang buruk terutama sebelum 34 minggu
b) Motilitas usus yang menurun
c) Pengosongan lambung tertunda
d) Pencernaan dan absorbsi vitamin yang larut dalam lemak kurang
e) Defisiensi enzim laktase pada brush border usus
f) Menurunnya cadangan kalsium, fosfor, protein dan zat besi dalam
tubuh
g) Meningkatnya resiko EKN (Enterokolitis nekrotikans)
4. Imaturitas hati
a) Konjugasi dan ekskresi bilirubin terganggu
b) Defisiensi faktor pembekuan yang bergantung pada vitamin K
5. Imaturitas ginjal
a) Ketidakmampuan untuk mengekskresi sulute load besar

b) Akumulasi asam anorganik dengan asidosis metabolik


c) Ketidakseimbangan
elektrolit,
misalnya
hiponatremia

atau

hipernatremia, hiperglikemia atau glikosuria ginjal


6. Imaturitas imunologis
Resiko infeksi tinggi akibat:
a) Tidak banyak transfer IgG materbal melalui plasenta selama kehamilan
trimester ketiga
b) Fagositosis terganggu
c) Penurunan faktor komplemen
7. Kelainan neurologis
a) Refleks isap dan telan yang imatur
b) Pemurunan motilitas usus
c) Apnea dan bradikardi berulang
d) Perdarahan intravemtrikel dan leukomalasia periventrikel
e) Pengaturan perfusi serebral yang buruk
f) Hypoxic ischemic enchelopathy (HIE)
g) Retinopati prematuritas
h) Kejang
i) Hipotonia
8. Kelainan kardiovaskular
a) Patent ductus arteriosus (PDA) merupakan hal yang umum ditemui
pada BKB
b) Hipotensi atau hipertensi
9. Kelainan hematologis
a) Anemia (onset dini atau lanjut)
b) Hiperbilirubinemia
c) Diseminated intravascular ciagulation (DIC)
d) Hemorhagic disease of newborn (HDN)
10. Metabolisme
a) Hipokalsemia
b) Hipoglikemia atau hiperglikemia
II.

Anemia Pada Neonatus


Anemia adalah keadaan konsentrasi hemoglobin di bawah normalyang
sesuai dengan umur dan jenis kelamin. Nilai normal Hb pada BCB yaitu 14,9
23,7 g/dl saat lahir, 13,4 19,8 g/dl pada usia 2 minggu dan 9,4 13 g/dl
pada usia 2 bulan. Sedangkan nilai normal Hb pada BKB berbeda sesuai
masa gestasi yaitu 19,4 + 1,5 g/dl pada kehamilan 24 25 minggu, 19,0 + 2,5
g/dl pada kehamilan 26 27 minggu, 19,3 + 1,8 g/dl pada kehamilan 28 29
minggu dan 19,1 + 2,1 g/dl pada kehamilan 30-31 minggu.

Anemia pada BCB merupakan masalah yang wajar dan tidak


memberikan dampak yang buruk. Pada BKB anemia yang terjadi lebih berat
dan timbul lebih dini. Anemia yang tidak ditatalaksana dengan tepat dan
adekuat akan memberikan komplikasi terhadap BBL.
Mekanisme anemia pada neonatus secara umum dapat digolongkan
menjadi:
A. Anemia karena perdarahan
Perdarahan dapat terjadi akut maupun kronik. Anemia yang terjadi
karena perdarahan kronik umumnya lebih dapat ditoleransi hal ini karena
bayi

akan

melakukan

kompensasi

bertahap

terhadap

terjadinya

perdarahan secara kronis. Perdarahan kronik dapat didiagnosis dengan


menemukan tanda-tanda kompensasi dan pucat, dapat juga menunjukkan
gejala gagal

jantung. Anemia yang terjadi umumnya disertai

retikulositosis, hipokrom dan normositosis.


Bayi dengan perdarahan akut mungkin tidak nampak anemis bila
contoh darah diambil segera setelah perdarahan dan hemodilusi belum
terjadi. Anemia yang timbul pada umumnya normokrom dan terjadi
dalam waktu 3 4 jam, sehingga pemeriksaan darah perlu diulang 6 12
jam setelah perdarahan dan hasilnya dapat menggambarkan jumlah darah
yang hilang. Gejala klinis yang ditimbulkan pada perdarahan akut
merupakan tanda dari hipovolemik, hipoksemia (seperti takikardi,
takipneu, hipotensi).
Beberapa tipe perdarahan pada neonatus yaitu sebagai berikut:
1. Perdarahan okulta sebelum persalinan
a) Perdarahan fetomaternal
Sel darah fetal dapat ditemukan di dalam sirkulasi
maternal sekitar 50% dari kehamilan. Perdarahan ini dapat
terjadi

secara

spontan

atau

karena

trauma

sekunder.

Perdarahan fetomaternal secara spontan paling banyak terjadi


pada trimester ketiga kehamilan atau selama persalinan.
Perdarahan fetomaternal mungkin meningkat karena
adanya tindakan invasif seperti pengambilan sampel darah
fetus atau seksio sesaria. Manifestasi klinis yang timbul
tergantung volum dan kecepatan perdarahan yang terjadi.

10

Epsiode yang paling sering hanya melibatkan darah dalam


jumlah sedikit (<5 ml) tetapi pada perdarahan akut >20%
volum darah dapat mengakibatkan kematian intrauterin atau
syok sirkulasi.
Petunjuk diagnosisinya adalah anemia saat lahir dan
pada

BCB

dapat

disertai

ikterk

minimal.

Diagnosis

fetomaternal dapat dipastikan dengan penemuan darah fetal


dalam sirkulasi maternal dengan pemeriksaan aglutinasi
diferensial, teknik antibodi fluoresens serta pewarnaan sel
fetal. Cara Kleihauer & Betke merupakan cara yang mudah
untuk mendeteksi dara fetal.
b) Transfusi feto-fetal
Hal ini hanya ditemukan pada kembar monokorion
dengan plasenta monokorion. Perdarahan dapat terjadi secara
akut(persalinan fase ke-2) atau kronik. Bayi donor lebih kecil
dan mungkin pucat, letargi dan mengalami gagal jantung. Bayi
resipien

mungkin pletorik

dengan hiperviskositas

dan

hiperbilirubinemia dan kadar hemoglobin jarang mencapai 30


g/dl.
2. Perdarahan saat atau sesudah persalinan
Perdarahan pada saat persalinan biasanya karena komplikasi
persalinan obstetrik, meliputi plasenta previa, abstruksi plasenta atau
inisisi plasenta pada seksio sesarea. Bayi megalami sakit berat dengan
syok sirkulasi, anemia dengan cepat bertambah berat setelah
kelahiran, ditemukan eritrosit berinti dalam sirkulasi. Perubahan
hematokogi serupa terjadi setelahd perdarahan masif pada bayi seperti
subaponerotik atau perdarahan retroperitoneal dan mungkin menjadi
berat apabila terjadi kerusakan hati.
B. Anemia karena penurunan atau kegagalan produksi eritrosit
Hal ini jarang terjadi pada BBL. Petunjuk diagnosis utama adalah
kombinasi retikulosit rendah (<20 x 109/L) dengan Coombs test negatif.
Penyebab paling utama adalah infeksi kongenital dan kelainan
genetik. Kegagalan produksi sel darah yang hanya melibatkan eritrosit

11

seperti anemia Diamond-Blackfan dan infeksi parvovirus sering disebut


anemia hipoplastik.
Infeksi yang dapat menyebabkan anemia adalah infeksi pparvovirus
19, CMV, toxoplasmosis, sifilif kongenital, rubela dan herpes simleks.
Identifikasi organisme penyebab biasnaya berdasarkan temuan klniis
seperti koriorenitis, ikterik, pneumonitis, lesi kulit, IUGR dan
hepatosplenomegali, selanjutnya dilakukan pemeriksaan mikrobiologi.
Pada infeksi karena CMV, toxiplasma atau herpes simpleks anemia
dan retikulosiptopenia biasanya ringan. Pada apusan darah tepi ditemukan
limfosit viral abnormal, trombositopenia dan atau netripenia. Kelainan
kongenital yang jarang disertai anemia BBL karena penurunan produksi
eritrosit meliputi anemia Diamond-Blackfan, anemia diseritopoetik
kongenital dan Sindrom Pearson.
C. Anemia karena hemolisis
Proses hemolitik didefinisikan sebagai proses patologik yang
menyebabkan pemendekan umur eritrosit (<120 hari). Petunjuk penting
adanya anaemia hemolitik yaitu hiperbilirubinemia indirek, Coombs test
positif dan didapatkan peruabahan morfologi pada apusan darah tepi
(misal pada hemolisis sferosis herediter). Hemolitik yang terjadi pada
masa neonatal umumnya mempunyai manifestasi salah satu di bawah ini:
1. Peningkatan hitung retikulosit secara persisten tanpa uata dengan
adanya penurunan kadar Hb dan tanpa riwayat perdarahan.
2. Penurunan kadar Hb yang cepat tanpa peningkatan hitung
retikulosit dan tanpa adanya perdarahan.
Anemia karena proses hemolitik dapat dibagi menjasi:
1. Anemia hemolitik autoimun
Penyakit hemolitik pada BBl merupakan konsekuensi dari
aloimuniasasi ibu yang disebabkan oleh aliran eritrosit fetal ke
dalam sirkulasi maternal yang menimbulkan stimulasi produksi
antibodi. Antibodi IgG embali ke sirkulasi fetal, menempel pada
permukaan antigenik eritrosit dan meyebabkan perpindahan cepat
oleh retikuloendotelial fetal.
a) Inkompatibilitas Rh
Ibu dengan Rh (-) dapat terpapar dengan antigen Rh
melalui 2 cara yaitu transfusi fetomaternal dan transfusi darah.
12

Resiko terjadinya transfusi fetomaternal menigkat pada


abrupsi plasenta, abortus, toksemia, seksio sesaria, kehamilan
ektopik serta beberapa prosedur seperti amniosentesis dan
kordosentesis.
Paparan melalui transfusi darah jarang terjadi karena
umumnya telah dilakukan rossmatch pada darah donor dan
darah resipien.
Pada paparan pertama sebanya 0,1 ml darah rh + sudah
dapat memicu terbentuknya anti Rh yang sebagian besar
berupa

IgG.

Terjadinya

sensirtisasi

ulang

memicu

terbentuknya lebih banyak IgG. Hal ini mengakibatkan


hemolisis yang terjadi pada inkompatibilitas Rh lebih berat
terjadi pada kehamilan berikutnya setelah sensitisasi. Anemia
yang terjadi bervariasi antara ringan sampai berat.
b) Inkompatibilitas ABO
Sensitisasi maternal terjadi pada ibu dengan golongan
darah O oleh antigen A atau B janin yang akan memproduksi
anti-A atau anti-B berupa IgG yang dapat menebus plasenta,
masuk ke sirkulasi janin dan menimbulkan hemolisis. Ibu
dengan golongan darah A atau B memiliki anti-A atau anti-B
yang berupa IgM yang tidak menembus plasenta.
Kondisi
ini
sering
merupakan

penyebab

hiperbilirubinemia. Test antiglobulin direk hanya positif


lemah. Diagnosis dapat ditegakkan dengan apusan darah tepi,
didaptkan mikrosferosit.
2. Anemia hemolitik non-imun
a) Kelainan membran eritrosit herediter
Yang termasuk dalam kelainan ini adalah sferosis
herediter, sliptositosis herediter dan xerosis herediter. Semua
kelainan inidapat bermanifestasi pada periode neonatal. Pada
kelaianan membran eritrosit ini selain didaptkan adanya
anemia hiperbilirubinemia juga didaptkan adanya gambaran
anemia hemolitik.

13

Sferosis herediter ditandai dengan adanya sferosit pada


sediaan hapus darah tepi disertai anemia hemolitik. Defek
yang terjadi pada kelainan ini mennimbulkan perubahan
stabilitas ikatan antara sitoskeleton dengan lapisan ganda lipid
yang akan menghasilkan sel yang fragil dan kaku. Luas
permukaan sel sferosit yang lebih kecil menyebabkan
penurunan distensibilitas sehingga sel mudah lisis bila terkena
cairan hiperosmolar. Diagnopsis lebih mudah ditegakkan bila
didaptkan adanya gambaran morfologi yang abnormal.
Eliptositosis herediter adalah kelainan yang ditandai
dengan adanya ereitrosit yang berbentuk elips. Kelainana ini
disebabkan oleh defek protein yang menyebabkan struktur sel
menjadi lemah sehingga stabilitas sle dan kemampuan
deformalibilitas terganggu.
b) Defek enzim eritrosit
Defisiensi Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase (G6PD)
termasuk dalam kelianan ini. Enzim ini penting dalam proses
metabolisme eritrosit, yaitu mengatur langkah pertama dalam
serangkaian jalur pentosa yang berfingsi menghasilkan sumber
ebergi

bagi

eritrosit

untuk

melaksanakan

fungsi

metabolismenya.
Enzim ini mengubah glukosa 6 fosfat menjadi 6fosfogukonat dan pada saat yang sama juga mereduksi NADP
menjadi NADPH.
Sumber energi NADPH ini merupakan kofaktor dalalm
mereduksi glutation. Adanya glutation tereduksi sangat
penting untuk menjaga eritrosit darik kerusakan aibat
pengaruih oksidasi dari luar. Sehingga defisisensi enzim ini
secara tidak langsung akan menyebabkan eritrosit rentan
terkena oksidasi dari luar yang akhirnya menyebabkna
terjadinya hemolisis. Diagnosis pasti ditegakkan dengan
melakukan pemeriksaan kadar enzim.
D. Anemia Prematuritas

14

Anemia pada BKB merupakan respon patologis terhadap periode


transisi. Anemia pada BKB ini merupakan anemia yang paling sering
ditemukan pada BBl terutama pada bayi dengan usia kehamilan kurang
dari 32 minggu.
Patogenesis secara keseluruhan belum diketahui dengan pasti tetapi
faktior yang mendukung meliputi pemendekan umur eritrosit fetal,
konsentrasi eritropoeitin yang relatif rendah, dan pertumbuhan yang
cepat. Defisiensi asam folat dan besi jarang terlibat.
Penurunan hemoglobin pada BKB dapat mencapai 6,5 9 g/dl.
Diagnosis biasanya dapat langsung ditegakkan bila BKB sehat
mengalami penurunan hemoglobin dengan apusan darh tepi menunjukkan
normokromik normositik, retikulosit rendah (20x109/L) dan tidak ada
eritrosit berinti.
Manajemen pada BBL dengan anemia meliputi menjaga kehangatan,
monitor tanda vital. Pemasangan jalur infus penting untuk penggantian cairan
dan kepentingan pengambilan sampel darah. Setelah dilakukan stabilisasi
awal selanjutnya tatalaksana untuk emncegah terjadinya perdarahan lanjut.
Tranfusi sel darah merah bertujuan untuk menjamin oksigenansi
jaringan yang adekuat khususnya selama perawatan intensif dan sebagai
tatalaksana anemia simtomatif yang bermakna. Pada BBL yang kehilangan
darah akibat perdarahan dapat dipertimbangkan untuk memberikan transfusi
darah.
Aspek penting dalam tatalaksana anemia hemolitik autoimun adalah
penilaian saat antenatal termasuk skrining maternal dan pada kehamilan yang
tersensitisasi perlu pengamatan berkala untuk menetukan intervensi
persalinan prematur atau tranfusi inttrauterin. Hiperbilirubinemia merupakan
masalah pada setiap kasus. Hiperbilirubin umumnya ringan dan cukup
diterapi dengan fototerapi.
Tatalaksana anemia pada BKB meliputi aspek pencrgahan berupa
pengurangan pengambilan darah untuk sampel pemeriksaan laboratorium,
transfusi darah.

15

Jenis sel darah yang diberikan pada BBL adalah sel darah merah pekat
(PRC) dengan volum 10-20 ml/kg. PRC merupakan pilihan untuk pengobatan
anemia simtomatik.
III.

Sepsis Neonatal
Sepsis neonatal merupakan sindrom klinis penyakit sistemik akibat
infeksi yang terjadi dalam satu bulan pertama kehidupan. Insisden berkisar 1
8 diantara 1000 kelahiran hidup dan menignkat menjadi 13-27 per 1000
klehiaran hidup pada bayi dengan berat lahir <1500 gram.
Kecurigaan besar sepsis jika:
a. Bayi umur sampai usia 3 hari
1) Riwayat ibu dengan infeksi rahim, demam dengan kecurigaan
infeksi berat, atau ketuban pecah dini.
2) Bayi memiliki dua atau lebih gejala yang tergolong dalam
kategori A atau tiga atau lebih gejala pada kategori B
b. Bayi usia lebih dari 3 hari
1) Bayi mempunyai dua atau lebih gejala yang terdapat pada
kategori A atau tiga atau lebih kategpori B
Kategori A
Kategori B
Kesulitan bernapas (misalnya: apnea, Tremor
napas lebih dari 60 kali permenit,
retraksi dinding dada, grunting pada
waktu ekspirasi, sianosis sentral)
Kejang
Letargi atau lunglai
Tidak sadar
Mengantuk atau aktivitas berkurang
Suhu tubuh tidak normal (sejak lahir Iritabel atau rewel, muntah, perut
dan tidak memeberi respon terhadap kembung
terapi) atau suhu tubuh tidak stabil
sesudah pengukuran suhu normal
selama tiga kali atrau lebih
Persalinan di lingkungan

yang Tanda-tanda mulai muncul sesudah

kurang higienis
hari keempat
Kondisi memburuk secara cepat dan Air ketuban bercampur mekonium
dramatis
Malas minum setelah sebelumnya
minum dengan baik

16

Dari anamnesis perlu dicari adanya:


a. riwayat ibu mengalami infeksi intrauterin, demam dengan
kecurigaan infeksi berat, atau ketuban pecah dini.
b. Riwayat persalinan tindakan di lingkungan persalinan yang
kurang higienis
c. Riwayat bayi lahir dengan asfiksia berat, bayi kurang bulan,
bayi berat lahir rendah
d. Riwayat air ketuban keruh, purulen atau bercampur mekonium
e. Riwayat bayi malas minum dan penyakitnya cepat memberat
f. Riwayat keadaan bayi yang lunglai, mengantuk atau aktifitas
berkurang atau iratbel/rewel, muntah, perut kembung, tidak
sadar dan kejang.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
a. Keadaan umum: suhu tubuh tidak normal, letargi atau lunglai,
mengantuk atau aktifitas berkurang, malas minum setelah sebelumnya
minum dengan baik, iritabel atau rewel.
b. Muntah, diare, perut kembung, hepatomegali.
c. Perfusi kulit bverkurang, sianosis, peteki, ruam, sklerema, ikterik.
d. Takipnu, distres respirasi, takikardi dan hipotensi.
e. Penurunan kesadaran, kejang, ubun-ubun membonjol, kaku kuduk.
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah
a. Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung kenis secara serial
b. Peningkatan CRP (C reactive protein)
c. Ditemukan kuman pada kultur dan pnegencatan gram pada sampel
darah, urin dan cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan
kuman
d. Analisis gas darah
e. Gangguan metabolik

hipoglikemi

atau

hiperglikemi,

asidosis

metabolik.
f. Peningjkatan kadar bilirubin
Tatalaksana untuk sepsis neonatal:
a. Antibiotik
Antibiotik awal diberikan ampisilin dan gentamisin. Bila organisme
tidak dapat ditemukan dan bayi tetap menunjukkan tanda infeksi
sesudah 48 jam, ganti ampisilin dengan sefotaksim dan gentamisin
tetap diberikan. Pada sepsis nosokomial pemeberian antibiotik
disesuaikan dengan pola kuman setempat. Lanjutan terapi dilakukan

17

berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas, gejala klinis dan


pemeriksaan laboratorium.
b. Respirasi
Menjaga patensi jalan napas dan pemberian oksigen untuk mencegah
hipoksia.
c. Kardiovaskular
Pasang jalur IV dan beri cairan dengan dosis rumatan serta lakukan
pemantauan tekanan darah dan perfusi jaringan untuk memantau
adanya syok.
d. Hematologi
Tranfusi komponen jika diperlukan.
e. Tunjangan nutrisi yang adekuat.
f. Manajemen khusus
Pengobatan terhadap tanda khusus lain seperi kejang, gangguan
metabolik, hematologi, respirasi atau hiperbilirubin.

PEMBAHASAN
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam sejak 1 hari sebelum
masuk rumah sakit, tidak disertai kejang maupun muntah. Pasien tidak mau

18

minum susu, gerakan lemah dan tidak menangis. Sejak 4 hari tubuh pasien
tampak kuning.
Pasien lahir kurang bulan yaitu pada usia kehamilan 32 minggu dengan
berat lahir 1900 gram. Berdasarkan usia kehamilan dan berat lahir pasien
dapat digolongan menjadi bayi kurang bulan dengan berat lahir rendah.
Dari pemeriksaan fisik pada hari ke-10 perawatan di rumah sakit
didapatkan pasien tidak demam, tampak pucat, gerakan kurang aktif dan
menangis lemah. Pasien sudah mau minum.
Dari anamnesi, pemeriksaan fisik dan hasil labboratorium didapatkan
bahwa bayi mengalami anemia. Penyebab anemia ini perlu dicari. Pasien pada
kasus ini kecurigaan besar mengarah pada sepsis karena didaoatkan 3 tanda
yang sesuai dengan kategori B. untuk mengakkan diagnosis epsis perlu
dilakukan

beberapa

pemeriksaan

yaitu

pemeriksan

jumlah

leukosit,

pemeriksann CRP, dan dilakukan kultur darah serta uji resistensi. Infeksi dapat
menyebabkan terjadinya anemia melalui proses hemolitik sehinggan diagnosis
kasus ini mengarah pada anemia yang disebabkan oleh infeksi.
Anemia karena hemolisis dapat terjadi pada inkompatibilitas ABO
dimana terjadi pada ibu dengan golongan darah O dan bayi dengan golongan
darah A atau B. Pada anemia karena inkompatibilitas ABO terjadi
hiperbilirubinemia yang disebabkan oleh terjadinya proses hemolisis, selain
itu ditemukan pula trombositopeni. Pada kasus ini, pasien bayi dengan
golongan darah B dan ibu pasien dengan golongan darah O. Dari pemeriksaan
laboratorium diketahui adanya trombositopenia. Kemungkinan anemia yang
terjadi pada bayi tersebut merupakan anemia e.c inkompatibilitas ABO. Untuk
menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan jumlah retikulosit, ambaran
darah tepi dan pemeriksaan antibodi (Coomb Test).
Pada anemia karena inkompatibilitas ABO akan ditemukan jumlah
retikulositosis dengan gambaran darah tepi ditemukannya mikrosferosit.
Coomb test akan memperihatkan hasil yang positif.

19

Pasien pada kasus ini tidak diketahui apakah pada saat dilahirkan
mendapoatkan suntikan vitamin K atau tidak sehinggan dapat pula dipikirkan
kemungkinan pasien mengalami defisiensi vitamin K.
Penatalaksanaan kasus ini karena kecurigaan besar mengarah pada sepsis
maka diberikan antibiotik. Antibiotik yang dipilih adalah gentamisin dan
sefotaksim. Pemberian sefotaksim mengingat pasien sudah dirawat 10 hari
sehingga tidak diberikan ampisilin lagi. Dosis disesuaikan dengan pemberian
dosis setelah hari k 8. Cairan yang diberikan merupakan dosis rumatan.
Pada kasus ini pasien sudah dapat minum sehingga dapat diberikan ASI
atau PASI peroral. Pemberian minum pada BBLR yang sakit yang sudah dapat
mentoleransi yaitu 10 cc/kgbb/hari ditambah 3-5 cc dengan interval 3 jam.
Pada pasien ini dengan BB 2 kg maka diberikan ASI/PASI sebanyak 15 cc
perhari.

DAFTAR PUSTAKA
Price, S.A., Wilson, L.M. Patofisiologi Konsep klinis dan Dasar-Dasar Penyakit.
Ed-6. Jakarta. EGC. 2006.

20

Damanik, S.M. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa Gestasi. Dalam.
Buku Ajar Neonatologi. Ed-1. Jakarta. Badan Penerbit: IDAI. 2008.
Hafidh, Y., Hidayah, D. Anemia pada bayi Baru Lahir. Dalam. Buku Ajar
Neonatologi. Ed-1. Jakarta. Badan Penerbit: IDAI. 2008.
Widdness, J.A. Patophysiology, Diagnosis and Prevention of Neonatal Anemia.
American Academy of Pediatrics. Vol 1. No 4. 2000.

21