Anda di halaman 1dari 109

SEKOLAH UNGGULAN DAN SEKOLAH MODEL

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehadiran sekolah unggulan dan model di Indonesia merupakan harapan
yang sejak lama diimpikan oleh banyak kalangan, sebab sekolah unnggulan dan
model sudah menjadi sebuah kebutuhan yang mendasari kehidupan guna
mendapatkan kehidupan yang layak di masa yang akan datang.
Lembaga pendidikan sebagai sekolah unggulan dan model harus diakui
oleh pemerintah dan masyarakat, bukan oleh lembaga atau sekolah itu sendiri.
Dinamakan sekolah unggulan dan Model berarti memiliki nilai yang lebih
dibanding dengan sekolah biasa yang dapat dilihat dari aspek fisik dan aspek
lain yang sangat menentukan, misalnya proses pembelajarannya atau output
yang dihasilkan. sekolah model juga harus mampu menunjukkan dirinya sebagai
sekolah yang pantas untuk dijadikan contoh oleh sekolah lainnya.
Kategori sekolah unggulan dan sekolah model menjadi sebuah pilihan bagi
orang tua untuk menyekolahkan anaknya, karena sekolah dengan label unggulan
dan model sudah dianggap mampu mencetak anak didik yang berkualitas. Selain
itu, sekolah unggulan dan model juga sebagai pusat pengembangan pendidikan
Islam dalam rangka melakukan perbaikan mutu pendidikan Islam di sekolah.
Maka dari itu dalam makalah ini akan dibahas tentang sekolah unggulan dan
sekolah model.
B.

Rumusan masalah

1.

Apa yang dimaksud sekolah unggulan?

2.

Apa yang dimaksud sekolah model?

3.

Bagaimana perbedaan sekolah unggulan dan sekolah model.

4.

Best practice sekolah unggulan dan sekolah model di lingkungan kementrian


agama?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sekolah Unggulan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud
dengan unggul adalah lebih tinggi, pandai, kuat, dan sebagainya daripada yang
lain, terbaik dan terutama. Sedangkan keunggulan artinya keadaan unggulan;
kecakapan, kebaikan dan sebagainya yang lebih dari pada yang lain.[1]
Secara ontologis sekolah
unggulan
dalam
perspektif
Departemen
Pendidikan Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai
keunggulan
dalam
keluaran (output) pendidikannya.
Untuk
mencapai
keunggulan tersebut, maka masukan (input), proses pendidikan, guru, tenaga
kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya
harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.[2]
Dengan demikian, sekolah unggulan dapat didefinisikan sekolah yang
dikembangkan dan dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua
komponennya untuk mencapai hasil lulusan yang lebih baik dan cakap daripada
lulusan sekolah lainnya.
Adapun latar belakang munculnya sekolah unggulan adalah Sejak
diberlakukannya Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
Nasional yang menempatkan Sekolah sebagai bagian dari subsistem pendidikan
nasional. Sekolah pun dituntut untuk melakukan inovasi dan pembaharuan diri
baik secara kelembagaan maupun dari sisi mutu output-nya. Mutu output yang
diharapkan telah terkonsep dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3 yang menyebutkan
bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq
mulia.[3] Hal ini dipertegas Dalam UUSPN No 20 tahun 2003 pasal 3 bahwasanya
: Pendidikan nasional Indonesia berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
YME, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab[4]
Pada kenyataannya, sekolah unggulan ternyata mendapat dukungan dari
masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang unggulan
dengan tanpa menghiraukan berapapun biaya yang dikeluarkan. Sehingga
menjadiakan Sekolah unggulan menjadi lahan bisnis yang menggiurkan
disamping misi sosial tertentu yang diemban oleh yayasan yang mendirikan
Sekolah-Sekolah unggulan.
Dalam konteks lembaga pendidikan atau istilah unggulan dapat dilekatkan
pada Sekolah yang pada akhirnya terdapat adanya keinginan dan gairah baru

dilingkungan organisasi pendidikan seperti sekolah untuk inovasi menjadi lebih


baik kualitasnya dan unggul dari sekolah lainnya. Usaha ini menuntut sekolah
bukan hanya harus memiliki cita-cita dan keinginan saja, tapi sekolah agar selalu
memiliki kebutuhan berprestasi sehingga tercapai keunggulan dalam segala
aspeknya.[5]
Sebuah sekolahan dapat dikatakan dengan sekolah unggulan apabila
memiliki 3 aspek utama yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah sekolah
unggulan yaitu :

1.

Input
Menurut Daniel Goleman seperti dikutip oleh Petrus menyatakan bahwa
kemampuan mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat
secara objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat,
yang membutuhkan kecerdasan otak (Intelligence Quotien) dan kecerdasan
emosional (Emotional Quotien). Di samping itu, kecerdasan spiritual (Spiritual
Quotien) calon peserta didik hendaknya dapat terukur saat seleksi peserta didik
baru. Dengan demikian, tes seleksi peserta didik baru hendaknya dapat
mengukur ketiga aspek kecerdasan atau bahkan dapat mengukur berbagai
kecerdasan (multy intellegence). Sehingga, tes seleksi peserta didik baru
tujuannya tidak semata-mata untuk menerima atau menolak peserta didik
tersebut tetapi jauh ke depan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta
didik. Dengan data tingkat kecerdasan peserta didik tersebut dapat digunakan
sebagai dasar untuk menentukan proses pembinaannya dan bahkan dapat untuk
menentukan target atau arah pendidikan di masa depan.[6]

2.

Proses.
Dalam proses belajar-mengajar, sekolah unggulan ini setidaknya berkaitan
dengan kemampuan guru, fasilitas belajar, kurikulum, metode pembelajaran,
program ekstrakurikuler, dan jaringan kerjasama, diantaranya:

a.

Kemampuan guru yang profesional, sekolah unggulan harus memiliki guru yang
unggulan juga. Artinya, guru harus memiliki Pengetahuan dan keterampilan,
Komunitas belajar profesional, di mana guru bekerja sama untuk menetapkan
tujuan yang jelas untuk peserta didik belajar, menilai seberapa baik peserta
didik, melakukannya, mengembangkan rencana aksi untuk meningkatkan
prestasi peserta didik, melalui keterlibatan dalam penyelidikan dan pemecahan
masalah, Koherensi program - sejauh mana program-program sekolah untuk
belajar peserta didik dan guru yang dikoordinasikan, terfokus pada tujuan
pembelajaran yang jelas dan berkelanjutan selama periode waktu.[7]

b.

Adapun kompetensi guru yang memungkinkan untuk mengembangkan suatu


lembaga pendidikan yang unggul yaitu :Petama, kompetensi penguasaan mata
pelajaran. Kedua, kompetensi dalam pembelajaran.Ketiga, kompetensi dalam
pembimbingan. Keempat, kompetensi komunikasi dengan peserta didik. Kelima,
kompetensi dalam mengevaluasi.[8] Dengan demikian Guru yang profesional,
dalam pembelajaran harus menempuh empat tahap, yaitu: Pertama, persiapan,
dalam arti yang luas adalah segala usaha misalnya membaca, kursus, pelatihan,
seminar, diskusi, lokakarya yang dilakukan oleh guru dalam rangka
mengembangkan profesionalitasnya. Persiapan dalam perngertian yang sempit
adalah kegiatan pembuatan program kerja guru yang meliput penyusunan
kegiatan pembelajaran selama satu tahun, program semester, penyusunan
silabus dan pembuatan rencara pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan
kurikulum.Kedua, pelaksanaan, bahwa guru harus fleksibel, artinya pelaksanaan
program disesuaikan dengan kondisi dan situasi peserta didik. Fokus
pelaksanaan pembelajaran adalah pengalaman peserta didik, baik pengalaman
kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Ketiga, Penilaian, perlu dilakukan
terhadap kedua belah pihak, baik guru maupun peserta didik. Penilaian harus
dilakukan secara objektif dan transparan.Keempat, refleksi. Tindakan yang
dilakukan dengan memikirkan aktivitas pembelajarannya dan melaksanakan
pembelajarannya berdasarkan tujuan yang jelas atas dasar pertimbangan moral
dan etika.[9]

c.

Fasilitas belajar, Sekolah unggulan harus dilengkapi dengan fasilitas yang


mewadahi. memiliki sarana dan prasarana yang mewadahi bagi peserta didik
untuk menguasai ilmu pengetahuan danteknologi.

d.

Kurikulum, Sekolah unggulan tidak harus menggunakan kurikulum yang


berrstandar internasional. Kurikulum nasional dengan berbagai penyempurnaan
sesuai kebutuhan perkembangan peserta didik pun cukup baik. Terutama dari
segi bahan, misalnya bidang IPA dan PAI, masih terlalu menekankan bahanbahan klasik yang memang penting, tetapi kurang memasukkan bahan dan
penemuan modern yang lebih dekat dengan situasi teknologi saat ini. Misalnya
mengkaitkan materi-materi dari kedua mata pelajaran tersebut. Di samping itu,
penguasaan bahasa Arab, bahasa inggris dan bahasa Indonesia mutlak
diperlukan. Sehingga peserta didik dapat mengkomunikasikan gagasan dan
pengetahuannya kepada orang lain secara sistematis dengan menggunakan
kedua bahasa tersebut. Perpaduan kedua kurikulum itu akan sangat membantu
dalam menghasilkan generasi-generasi masa depan yang lebih unggul.

e.

Metode pembelajaran, Sekolah unggulan harus menggunakan metode


pembelajaran yang membuat peserta didik menjadi aktif dan kreatif yang
disertai dengan kebebasan dalam mengungkapkan pikirannya.

f.

Program ekstrakurikuler, Sekolah unggulan harus memiliki seperangkat


kegiatan ekstrakurikuler yang mampu menampung semua kemampuan, minat,
dan bakat peserta didik. Keragaman ekstrakurikuler akan membuat peserta didik

dapat mengembangkan berbagai kemampuannya di berbagai bidang secara


optimal
g.

3.

Jaringan kerjasama,Sekolah unggulan memiliki jaringan kerjasama yang baik


dengan berbagai instansi, terutama instansi yang berhubungan dengan
pendidikan dan pengembangan kompetensi peserta didik. Dengan adanya
kerjasama dengan berbagai instansi akan mempermudah peserta didik untuk
menerapkan sekaligus memahami berbagai sektor kehidupan (life skill).
Output
Sekolah uggulan harus menghasilkan lulusan yang unggulan. Keunggulan
lulusan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian yang tinggi. Indikasi lulusan yang
unggulan ini baru dapat diketahui setelah yang bersangkutan memasuki dunia
kerja dan terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat.[10] Kemampuan lulusan
yang dihasilkan dirasa unggulan, bila mereka telah mampu mengembangkan
potensi intelektual, potensi emosional, dan potensi spiritualnya dimana mereka
berada.

B.

Sekolah Model
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia kata model diartikan pola, contoh,
acuan atau macam dari sesuatu yang akan dibuat.[11]
Kata model ini dikaitkan dengan sekolah sebagai salah satu program
lembaga pendidikan. Program sekolah model adalah sebuah program yang
ditujukan untuk menjadikan satu sekolah sebagai sekolah yang baik dalam
semua unsurnya, agar dapat digunakan sebagai percontohan bagi sekolah lain di
sekitarnya.[12]
Dengan adanya program sekolah model pada satu sekolah yang ditunjuk
oleh pemerintah sebagai sekolah percontohan bagi sekolah di sekitarnya ini
diharapkan dapat meningkatkan kualitas mutu lembaga pendidikan dan mampu
menjadi model yang yang patut dicontoh oleh sekolah lainnya sehingga
keberadaannya dapat memberi dampak positif kepada sekolah-sekolah di
sekitarnya.
Untuk mengetahui tentang sekolah model yang ideal kita harus mengetahui
beberapa hal yang penting mengenai sekolah model antara lain adalah :

1. Latar Belakang Munculnya Sekolah Model


Program sekolah model tingkat MA dimulai pada 1993 melalui proyek JSEP
(Junior Secondary Education Project), kemudian pada tahun 1998 diteruskan
dengan program BEP (Basic Education Project) untuk tingkat MI dan MTs. [13]
Program ini diadakan dengan dasar pemikiran bahwa pada saat itu citra
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal masih dianggap sebagai lembaga
pendidikan kelas dua setelah sekolah umum. Kerena dalam realitasnya memang

banyak Sekolah memiliki kelemahan dalam praktik penyelenggaraan pendidikan


Sekolah, yaitu dalam hal manajemennya, profesionalitas gurunya, masalah
kualitas lulusannya dan sarana dan prasarana. Dengan keaadaan tersebut,
Kementrian Agama sebagai Pembina Sekolah melakukan beberapa program yang
diharapkan dapat mengangkat citra Sekolah, agar sejajar dengan sekolah yang
berada dibawah pembinaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.[14]
2. Tujuan Sekolah Model
Pengembangan sekolah model pada tahap awal memilih Sekolah negeri
yang memiliki persyaratan tertentu, misalnya kelengkapan guru, sarana, lahan
dan peserta didik dalam rangka memberdayakan Sekolah dalam menghadapi era
globalisasi yang ditandai dengan persaingan bebas dalam segala bidang
kehidupan, termasuk bidang pendidikan.
Secara garis besar tujuan sekolah model dapat dirumuskan sebagai
berikut:[15]
a. Menjadi acuan dalam penyelenggaraan sekolah lainnya baik negeri maupun
swasta.
b. Sebagai sekolah pembina terhadap sekolah setingkat di sekitar wilayahnya
dalam bidang kurikulum, pengajaran, administrasi dan sebagainya.
c. Sebagai tempat penyelenggaraan pelatihan tenaga guru dan tenaga
kependidikan lainnya melalui fasilitas Pusat Sumber Belajar (PSB) yang
disediakan. Ini hanya berlaku bagi sekolah model yang diperlengkapi dengan
fasilitas pelatihan atau fasilitas PSB.
d. Sebagai fasilitator (pelayan fasilitas belajar) bagi sekolah sekitarnya yang ingin
memanfaatkan fasilitas belajar yang ada, seperti perpustakaan, laboratorium,
work shop keterampilan dan lain sebagainya secara bergilir (time sharing).
Sekolah Model dimaksudkan sebagai center for excellence yang
dikembangkan lebih dari satu buah dalam setiap provinsi. Sekolah Model
diproyeksikan sebagai wadah penampung peserta didik-peserta didik terbaik
masing-masing daerah untuk dibimbing secara maksimal tanpa harus pergi ke
daerah lain.
Keberadaan
sekolah
model
juga
dapat
mencegah
terjadinya eksodus (pengungsian) SDM terbaik suatu daerah ke daerah lain
disamping itu juga mendorong tumbuhnya persaingan sehat antar daerah
5.

Kriteria Sekolah Model


Menurut Kementrian Agama, sekolah model dipilih dari sekolah negeri
yang memiliki potensi untuk menjadi sekolah model. Atas dasar kriteria sebagai
berikut: [16]

a. Memiliki potensi untuk menjadi sekolah model.

b. Memiliki kepala sekolah yang dinamis, kreatif, inisiatif atau prokatif, idealis,
konseptual, komunikatif serta memiliki dedikasi dan motivasi yang tinggi
terhadap tugas.
c. Memiliki kemampuan yang baik dalam melaksanakan program pendidikan dan
pembelajaran.
d. Memiliki guru yang memadai dan memenuhi kualifikasi tenaga guru.
e. Memiliki ruang belajar yang cukup dan ruang lainnya yang memadai.
f.

Memiliki fasilitas perpustakaan dan laboratorium yang cukup.

g. Memiliki prestasi yang baik dalam kegiatan program ekstrakurikuler dalam


bidang keagamaan, kesenian dan olah raga.
h. Tersedianya area tanah yang cukup untuk pengembangan fisik sebagai sekolah
model.
i.

Dukungan yang baik dari masyarakat sekitar dan orang tua peserta didik (BP3).
Selain itu, ada beberapa kriteria penting yang harus diperhatikan untuk
mewujudkan sekolah model: [17]

a. Kepala Sekolah
Kepala Sekolah dituntut dapat berperan sebagai professional leader dalam
tindakan dan perilaku yang mendorong dirinya, guru dan staf yang ada menuju
visi keunggulan.
b. Guru
Guru juga harus siap untuk mengembangkan bahan-bahan pembelajaran,
pendekatan, alat-alat teknologi yang diperlukan untuk mendukung potensi
peserta didik untuk berkembang.
c.

Kurikulum
Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam menyelenggarakan
pembelajaran. Kurikulum memberikan konsep-konsep standar dari mata
pelajaran yang perlu diajarkan kepada peserta didik berdasarkan pertimbangan
akademik dan perkembangan psikologi peserta didik. Apa yang akan diajarkan
kepada peserta didik adalah apa yang sebenarnya diperlukan oleh peserta didik
dan menstimulasi peserta didik untuk mempelajari sendiri (rasa ingin tahu).

d. Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran lebih mendorong peserta didik merasa
tertantang belajar untuk mengembangkan rasa keingintahuan individu peserta
didik untuk mendalami sesuatu. Peserta didik merekontruksi pengetahuan dan
kegunaan apa yang dipelajari dalam satu kesatuan. Oleh karena itu, interaksi
peserta didik dengan pihak lain termasuk sumber belajar yang ada di lingkungan

sekolah merupakan bagian dari peran guru dalam membantu terciptanya kondisi
yang mendukung minat dan semangat peserta didik untuk mempelajari sesuatu.
e. Penilaian
Penilaian pembelajaran bukan hanya untuk melihat daya serap yang
dipelajari. Tetapi juga mengetahui faktor yang menjadikan peserta didik
mengalami kesulitan dalam belajar, mengembangkan kemampuan peserta didik
mengenai apa yang ingin dicapai sejalan dengan potensi dan kebutuhan masingmasing. Peserta didik memahami apa yang dinilai, untuk apa dan bagaimana
penilaian dilaksanakan.[18]
f.

Layanan kepada Peserta didik


Dalam setiap kelas, prestasi belajar peserta didik dapat dikelompokkan
menjadi 3 (tiga), yaitu kelompok peserta didik berkemampuan cepat, kelompok
anak didik berkemampuan normal dan kelompok peserta didik berkemampuan
lambat (di bawah rata-rata). Kecenderungan pembelajaran selama ini adalah
guru lebih banyak berkonsentrasi pada kelompok cepat saja, sehingga peserta
didik dari kelompok lambat agak terabaikan, atau apabila guru memperhatikan
peserta didik dari kelompok lambat, maka peserta didik kelompok cepat akan
terhambat kecepatan belajarnya. Berdasarkan kenyataan ini, maka sekolah
diupayakan memberi pelayanan pendidikan yang berorientasi pada kemampuan
peserta didik secara individu.

g. Pengembangan Bakat dan Minat


Pengembangan bakat dan minat diarahkan untuk merancang masa depan
bagi peserta didik sepenuhnya. Peserta didik dipandang sebagai pribadi yang
memiliki potensi yang berbeda-beda yang perlu diaktualisasikan secara optimal.
Untuk itu, membutuhkan kondisi yang kondusif bagi tumbuh dan
berkembangnya bakat dan minat tersebut.[19]
h. Pengembangan Lingkungan Belajar
Salah satu unsur penting dalam menumbuhkembangkan potensi peserta
didik adalah bagaimana menata lingkungan agar belajar benar-benar merupakan
aktivitas yang menggairahkan. Lingkungan belajar bagaimanapun caranya
dimaksudkan agar peserta didik senang belajar. Salah satu karakteristik dari
penataan lingkungan seperti ini adalah keterlibatan peserta didik sebagai subyek
yang belajar. Pemikiran ini dijadikan titik tolak untuk mencari jawaban atas
pertanyaan apa yang harus disediakan dalam lingkungan agar anak terdorong
untuk terlibat dalam peristiwa belajar. Jawaban atas pertanyaan ini akan
membawa implikasi yang luas, karena terkandung suatu pemikiran
pembaharuan tentang bagaimana memperlakukan peserta didik sebagai subyek
belajar, bukan sekadar obyek belajar, dan apa yang harus disediakan untuk
peserta didik agar terjadi peristiwa belajar dalam dirinya.

i.

Pengembangan Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana maksudnya adalah semua perangkat, baik perangkat
keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) yang digunakan dan dapat
mendukung proses pendidikan dan pembelajaran. Sarana misalnya: media
pendidikan (buku, kamus, alat-alat praktik, media audio, media visual, dan media
audio visual). Sedang prasarana meliputi: bangunan Sekolah yang berupa
gedung, perpustakaan, laboratorium, bengkel dan perabot Sekolah serta
berbagai hal yang erat hubungannya dengan mutu Sekolah.[20]
Untuk itu, sarana dan prasarana minimal yang harus dimiliki oleh Sekolah
ke depan, khususnya Sekolah Negeri adalah: (1) gedung Sekolah yang
representatif, (2) laboratorium komputer, bahasa (Arab/Inggris), IPA dan IPS, (3)
perpustakaan beserta koleksinya yang lengkap (4) bengkel untuk latihan
keterampilan, (5) kantin sekolah, (6) koperasi anak didik, (7) ruang UKS, sarana
layanan kesehatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), (8)
musholla atau masjid, (9) sanggar seni, (10) ruangan kantor untuk kepala,
pendidik, dan administratif, (11) kantor BP3.
Kondisi Sekolah model pada saat ini belum menunjukan tingkat yang
sama, baik dalam segi fasilitas maupun dalam segi kualitas. Hal ini karena
adanya perbedaan kondisi dan dukungan fasilitas awal disamping dukungan
fasilitas berikutnya setelah menjadi sekolah model. Diharapkan sekolah model
tersebut pada waktunya nanti benar-benar menjadi sekolah percontohan
walaupun kondisi satu sama lain berbeda.
Secara umum persyaratan sebagai sekolah model adalah sebagai berikut:
[21]

a. Memiliki manajemen Sekolah yang baik.


b. SDM yang berkualitas
c. Kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan
d. Bantuan pendidikan yang memadai
e. Keunggulan kualitas lulusan.

C.

Perbedaan sekolah model dan sekolah unggulan.


Sekolah yang mengenalkan dirinya sebagai sekolah unggul, harus beda dari
pada sekolah lainnya. Sekolah harus memiliki keuggulan yang layak dibanggakan
oleh sekolah dan masyarakat. Dalam hal ini dikenal dua jenis keunggulan, yaitu;

1.

Keunggulan Komparatif
Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang sudah disediakan, dimiliki
tanpa perlu adanya suatu upaya. Kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu wilayah
adalah contoh nyata keunggulan komparatif.
Dalam konteks lembaga pendidikan, keunggulan komparatif menekankan
pada keunggulan kaitannya dengan sumber daya yang disediakan, dimilki tanpa
perlu adanya suatu upaya. Misalkan suatu Sekolah dibandingkan dengan Sekolah
lainnya memiliki fasilitas belajar yang diperoleh dari bantuan dari pemerintah,
sedangkan sekolah disekitarnya belum menerima bantuan fasilitas belajar. Nah
sekolah ini memiliki keunggulan komparatif.

2.

Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang timbul karena ada suatu
upaya yang dilakukan untuk mencapainya. Keunggulan kompetitif terkait dengan
daya saing suatu produk yang relatif mapan sehingga mampu memasuki pasar
tertentu dengan tingkat harga dan kualitas sesuai kebutuhan penggunanya.
Produk yang memiliki keunggulan kompetitif biasanya didukung oleh pelayanan
memadai sehingga memiliki daya saing dibandingkan dengan produk yang
berasal dari sumber lain.
Dalam pembelajaran, sekolah unggulan menekankan pada optimalisasi
tiga kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik yaitu IQ, EQ, dan SQ. hal ini
ditujukan untuk membentuk peserta didik agar memiliki intelektualitas,
spiritualitas, moralitas, sosialitas, rasa, dan rasionalitas dalam kehidupannya.
Sehingga output yang dihasilkan akan mampu hidup serasi dan seimbang
dengan lingkungan keluarga, anggota masyarakat, alam, dan juga dengan
Tuhan.
Sedangkan sekolah model, adalah sekolah yang mengedepankan semua
komponen pendidikan di Sekolah yang inovatif dan kreatif dalam mengemas dan
memproses penddikan Islam. Sehingga semua komponen tersebut harus
mendukung untuk menghasilkan kualitas dan hasil output pendidikan Sekolah
yang berkualitas dan mampu menjadi Sekolah percontohan.. Sehingga SekolahSekolah lain yang ada di daerah tersebut dapat belajar dan mencontoh pada
Sekolah model yang ditunjuk Departemen Agama.
Menurut Fuad Fachruddin, pandangan tentang Sekolah Model akan
mewarnai wujud nyata tentang penyelenggaraan kegiatan pendidikan di Sekolah.
Dalam mewujudkan Sekolah Model pertama-tama perlu dilakukan perubahan

cara pandang (paradigma) semua pihak yang terlibat secara langsung seperti
pimpinan Sekolah dan guru-guru, maupun tidak langsung seperti para pembina
Sekolah yang berada di bawah naungan Depag: pengawas, kandep, kanwil dan
pusat.
Jadi sekolah model merupakan sekolah yang dibuat untuk menjadi
sekolah percontohan bagi sekolah lain guna memperbaiki mutu pendidikan
khusunya pendidikan islam, karena sekolah model merupakan proyek dari depag
untuk memperbaiki mutu dan kualitas sekola/madrasah yang ada di Indonesia.
D. Best practice sekolah unggulan dan sekolah model di lingkungan kementrian
agama.
Adapun best practice sekolah unggulan dan sekolah model dilingkungan
kementrian gama salah satunya antara lain adalah MA Model Zainul Hasan
Genggong adapun sejarah berdirinya berawal dari royek JSEP (Junior Secondary
Education Project) pada tahun 1993 dan proyek DMAP (Development of
Madrasah Aliyah Project) pada tahun 1998, dirasakan sebagai suatu hal yang
sangat penting. Madrasah model diharapkan dapat menjadi pemicu dan serta
pemercepat terjadinya perubahan perubahan yang signifikan terhadap
eksistensi, kualitas dan kinerja madrasah pada umumnya. Departemen Agama
melalui proyek EMIS (Education Management Information System), menyadari
bahwa meskipun dalam sistem pendidikan Nasional, madrasah disebut sebagai
sekolah umum yang berciri khas islam, hingga kini ia masih mencari bentuk
idealnya. Hal ini menurut hemat Departemen Agama disebabkan oleh problem
identifikasi madrasah yang dominan bermuara problem tarik-ulur kebijakan
madrasah dalam integrasi Sistem Pendidikan Nasional dan rendahnya tingkat
partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan madrasah. Maka pada
tahun 1993 melalui proyek JSEP (Junior Secondary Education Project),
Departemen Agama pertama kali mengembangkan madrasah menjadi madrasah
model yang terbatas pada madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah, yaitu 30 MIN
Model dan 66 MTsN Model. Dalam perjalanannya kemudian, pengembangan
Madrasah Aliyah Model melalui kesinambungan kerja proyek DMAP
(Development of Madrasah Aliyah Project) pada tahun 1998 dengan SK Direktur
Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Nomor E.IV/PP.0.66/KEP/17-A/98
tentang Madrasah Aliyah Model. Madrasah Aliyah Negri yang di Model-kan
hingga saat ini, sebanyak 35 madrasah Aliyah Negeri yang ditransformasikan
menjadi Madrasah Aliyah Negeri Model, yang tersebar hampir di seluruh propinsi
di Indonesia.
Adapun keunggulan yang dimiliki MA Model Zainul Hasan Genggong
adalah sebagai berikut :
1.

Tim pengembang MA Model Zainul Hasan Genggong adalah praktisi


pendidikan dari berbagai perguruan tinggi ternama dalam negeri diantaranya;
UIN Maliki Malang (pengembangan bahasa), ITS Surabaya (pengembangan IT),

2.

3.

4.
5.

6.

7.

UM, UNAIR, UB (Pengembangan sains dan sosial) dan Luar negeri Universitas AlAzhar Kairo Mesir (pengembangan dirosah islamiyah/muadalah)
Semua santri wajib berdomisili di pesantren untuk penguatan aqidah,
ASWAJA (ahlus sunnah wal jamaah) Bahasa Arab dan Bahasa Inggris serta
pengembangan kitab salaf dan bekal sosial kemasyarakatan.
Salah satu madrasah yang terakreditasi A oleh Badan Akreditasi Nasional
Madrasah sehingga mendapat peluang yang sangat besar bagi santri-santri
lulusannya diterima di Perguruan Tinggi Negri (PTAIN)/ Umum (PTUN) dan
mendapatkan beasiswa baik dalam negeri maupun luar negeri. sebagai diantara
upaya menuju visi tersebut, sehingga saat ini Madrasah Aliyah Model (MAM)
Zainul Hasan Genggong selalu mengantarkan santri berprestasi akademik dan
non akademik dalam tingkat regional, nasional maupun internasional.
Mengacu pada kurikulum nasional, muadalah (mendapat pengakuan) dari
Universitas Al-Azhar Mesir dan Cambridge University (London-Inggris).
Mendapat kepercayaan dari Kementerian Agama untuk menyelenggarakan
program Akselerasi (percepatan belajar) bagi santri yang memiliki cerdas
istimewa (CI) bakat istimewa (BI) dimana santri belajar di Madrasah Aliah hanya
2 tahun.
Memberi Pelajaran Khusus pada santri-santrinya dengan menjalin
kerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi baik dalam atau luar negeri serta
institusi internasional.
Tim tenaga pendidik yang profesional yang diambil dari lulusan terbaik
perguruan tinggi negeri dalam dan luar negeri.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
Jadi dari semua paparan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut
:
1.

Sekolah Unggulan (Sekolah Bertaraf Internasional) pada dasarnya merupakan


amanat Undang-Undang pada pasal 31 dan UUSPN No 20 tahun 2003 pasal 3
bahwasanya pendidikan harus mampu mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Semua hal itu dapat terwujud apabila aspekaspek yang menjadi syarat untuk mendirikan sekolah unggulan terpenuhi yaitu
yang meliputi tiga kelompok besar : input yang berkualitas, proses yang
terstandar sesuai peraturan pemerintah tentang sekolah unggulan, dan output
yang berkualitas yang mampu bersaing di kehidupan bermasyarakat.

2.

Sekolah model adalah sekolah yang menjadi pusat pengembangan yang dipilih
sebagai percontohan dan acuan bagi sekolah lainnya yang diharapkan dapat
menjadi sekolah standar yang adaptif dengan pengembangan kebutuhan sosial.
Untuk menjadi sekolah model harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
memiliki potensi untuk menjadi sekolah model, kepala sekolah yang dinamis,
kreatif, inisiatif, idealis, konseptual, komunikatif, kemampuan yang baik dalam
melaksanakan program pendidikan dan pembelajaran, guru yang profesional,
ruang belajar, fasilitas perpustakaan dan laboratorium yang cukup memadai.
Dalam rangka pengembangan pendidikan Islam, maka komponen pendidikan di
sekolah harus inovatif dan kreatif h. Semua komponen dan peralatan teknologi
harus mendukung untuk menghasilkan kualitas dan output pendidikan di sekolah
yang berkualitas dan mampu menjadi sekolah percontohan, hal ini dapat
terwujud apabila teknologi pendidikan dan kelengkapan sarana prasarana di
sekolah model digunakan dengan sebaik-baiknya.

3.

Adapun perbedaan antara sekolah unggulan dan sekolah model adalah sebagai
berikut :

a.

Sekolah unggulan harus memiliki keunggulan yang layak dibanggakan oleh


sekolah dan masyarakat. Dalam hal ini dikenal dua jenis keunggulan, yaitu
keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Jadi sekolah unggulan
mempunyai keunggulan yang dibanggakan dari sekolah lain dalam berbagai
aspek.

b.

Sedangkan sekolah model adalah sekolah yang memiliki karakteristik khusus


yaitu islami, populis, dan dinamis yang mana sekolah tersebut dibentuk untuk
menjadi sekolah percontohan bagi sekolah lain guna memperbaiki mutu dan
kualitas sekolah yang ada disekitarnya.

4.

Best practice sekolah model dan sekolah unggulan di lingkungan kementrian


agama antara lain adalah MA Model Zainul Hasan Genggong yang memiliki
berbagai keunggulan diantara sekolah-sekolah lain di lingkungannya dan layak
sebagai sekolah percontohan di daerahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahid,Nur Problematika Sekolah Aliyah di Indonesia, Kediri: STAIN Kediri Press, 2009.
Beare, Headlye, Creating An Exellence School. London: Routtledge, 1991.
Depag RI, Sistem Penyelenggaraan Sekolah Aliyah Model, Jakarta: 1996.
Fachruddin, Fuad, Sekolah Model: Indikator Obyektif dan Operasionalnya Sekolah,
Jakarta: PPIM IAIN, 2000.
Hopkins & Jackson, Effective Leadership for School Improvement, New York : Routledge
Falmer, 2003.
Maimun,
Agus, SekolahUnggulan
Lembaga
Kompetitif, Malang: UIN Maliki Press, 2010.

Pendidikan

Alternatif

di

Era

Maimun, Agus, Sekolah Unggulan, Malang, UIN Maliki Press, 2010.


Petrus Trimantara, Sekolah Unggulan: Antara Kenyataan dan Impian, Jurnal Pendidikan
Penabur, Vol. 6, No.08 Juni 2007.
Puslitbang, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta, Balitbang Agama dan Diklat
Keagamaan RI, 2001.
Qomar, Mujamil, Manajemen Pendidikan Islam, Surabaya: Erlangga, 2007.
Salim,Peter, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer Jakarta: Modern English Press,
1991.
Siregar,Imran, Efektifitas Penyelanggaraan Sekolah Model: Studi tentang MAN 2 Model
Padang
sidempuan, Jakarta:
Puslitbang
Pendidikan
Agama
dan
Keagamaan, 2000.
UUSPN. No 20/2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Citra Umbara,
2003.

[1]Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta:
Modern English Press, 1991), 1685.
[2] Muhammad, Konsep Pengembangan SekolahUnggulan, Kreatif, Vol. 4,
No. 1 (Januari 2009), 39.
[3] Ibid, 35.
[4] UUSPN. No 20/2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra

Umbara, 2003) 7.

[5] Agus Maimun dan Agus Zaenul Fitri, SekolahUnggulan Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif (Malang: UIN Maliki Press, 2010), 26.
[6] Petrus Trimantara, Sekolah Unggulan: Antara Kenyataan dan Impian, (Jurnal
Pendidikan Penabur, Vol. 6, No.08 Juni 2007),7.
[7] Hopkins & Jackson, Effective Leadership for School Improvement, (New York :
Routledge Falmer, 2003) 88.
[8] Ibid,. 8.
[9] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya: Erlangga, 2007), 129.
[10] Petrus Trimantara, Sekolah Unggulan,. 9.
[11] Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta:
Modern English Press, 2004), 989.
[12] Nur Ahid, Problematika Sekolah Aliyah di Indonesia, (Kediri: STAIN Kediri
Press, 2009), 80.
[13] Nur Ahid, Problematika Sekolah ,. 80.
[14] Imran Siregar, Efektifitas Penyelanggaraan Sekolah Model: Studi tentang
MAN 2 Model Padang sidempuan, (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan
Keagamaan, 2000), 12.
[15] Depag RI, Sistem Penyelenggaraan Sekolah Aliyah Model, (Jakarta: 1996), 10.
[16] Depag RI, Sistem Penyelenggaraan Sekolah Aliyah Model, 12.
[17] Headlye Beare, Creating An Exellence School. (London: Routtledge, 1991), 154-157.

[18] Fuad
Fachruddin, Sekolah
Model:
Operasionalnya Sekolah, (Jakarta: PPIM IAIN, 2000), 20.

Indikator

Obyektif

dan

[19] Agus Maimun dan Agus Zainul Fitri, Sekolah Unggulan, (Malang, UIN Maliki
Press, 2010) , 64.
[20] Puslitbang, Pendidikan Agama dan Keagamaan, (Jakarta, Balitbang Agama
dan Diklat Keagamaan RI, 2001), 23.
[21] Nur Ahid, Problematika, 80.

(Sumber:
http://mochamadzaenalmuttaqin.blogspot.co.id/2015/06/sekolahunggulan-dan-sekolah-model.html)

SEKOLAH UNGGULAN
Oleh Moh Ismail

PENDAHULUAN

Dewasa ini banyak sekolah yang menamakan dirinya sebagai


lembaga pendidikan Islam unggulan. Namun tidak jelas kriteria dan standar yang
diberlakukan pada masing-masing sekolah. Kualitas layak tidaknya predikat
unggulan bagi suatu sekolah akan mempengaruhi mutu dan kualitas pendidikan
Islam dibanding dengan pendidikan atau institusi pendidikan pada umumnya.
Mutu sekolah hendaknya dapat sejajar dan lebih unggulan dari pendidikan umum
unggulan lainnya. Tujuan umum dari program tersebut untuk mendorong
tercapainya tujuan pendidikan nasional, adapun secara kusus tujuanya untuk
menghasilkan output pendidikan yang unggulan dalam memiliki nasionalisme,
dan patriotisme yang tinggi, memiliki motivasi dan ketrampilan untuk mencapai
prestasi dan keunggulan serta kepribadian kokoh, peka sosial, berjiwa
kepemimpinan dan disiplin.
Sekolah yang mengatasnamakan dirinya sebagai sekolah unggulan harus
diakui oleh pemerintah dan masyarakat, bukan oleh sekolah itu sendiri. Karena
keunggulan berarti memiliki nilai yang lebih dibanding dengan sekolah yang lain
dan tentunya nilai itu tidak hanya dapat dilihat dari aspek fisik, melainkan juga
aspek-aspek lain yang sangat menentukan. Misalnya proses pembelajarannya
ataupun output yang dihasilkan. Apabila dicermati, dari kebijakan ini, bahwa
harus ada implementasi sekolah unggulan untuk melibatkan teknologi
pendidikan, salah satunya teknologi pembelajaran. Sekolah dan guru sebagai
pelaku utama dalam penerapan sekolah unggulan dituntut inovatif dan kreatif
untuk menggunakan perangkat teknologi, sehingga mendukung kualitas
pembelajaran Dalam kesempataini penulis akan memaparkan pengertian, latar
belakang, dan kreteria sekolah unggulan.

PEMBAHASAN

A. Pengertian SekolahUnggulan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud
dengan unggul adalah lebih tinggi, pandai, kuat, dan sebagainya daripada yang
lain, terbaik dan terutama. Sedangkan keunggulan artinya keadaan unggulan;
kecakapan, kebaikan dan sebagainya yang lebih dari pada yang lain.[1]

Secara ontologis sekolah


unggulan
dalam
perspektif
Departemen
Pendidikan Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai
keunggulan
dalam
keluaran (output) pendidikannya.
Untuk
mencapai
keunggulan tersebut, maka masukan (input), proses pendidikan, guru, tenaga
kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya
harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.[2]
Dengan demikian, sekolah unggulan dapat didefinisikan sekolah yang
dikembangkan dan dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua
komponennya untuk mencapai hasil lulusan yang lebih baik dan cakap daripada
lulusan sekolah lainnya.

B.

Munculnya Sekolah Unggulan


Sejak diberlakukannya Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan Nasional yang menempatkan Sekolah sebagai bagian dari subsistem
pendidikan nasional. Sekolah pun dituntut untuk melakukan inovasi dan
pembaharuan diri baik secara kelembagaan maupun dari sisi mutu output-nya.
[3] Mutu output yang diharapkan telah terkonsep dalam UUD 1945 pasal 31 ayat
3 yang menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
serta akhlaq mulia. Konsep ini memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dimana menaruh harapan dan cita-cita bahwa suatu lembaga pendidikan
harus mampu membawa dan mengarahkan siswanya untuk memiliki iman,
taqwa dan akhlaq mulia. Sehingga mereka cerdas baik secara intelektual, moral
maupun spiritual. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tugas
menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia berkualitas dibidang
IMTAQ dan IPTEK yang perlu dibarengi dengan terobosan dan inovasi yangup to
date guna memfasilitasi lahirnya output yang unggul.
Pada kenyataannya, sekolah unggulan ternyata mendapat dukungan dari
masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang unggulan
dengan tanpa menghiraukan berapapun biaya yang dikeluarkan. Sehingga
menjadiakan Sekolah unggulan menjadi lahan bisnis yang menggiurkan
disamping misi sosial tertentu yang diemban oleh yayasan yang mendirikan
Sekolah-Sekolah unggulan.[4]
Dalam konteks lembaga pendidikan atau istilah unggulan dapat dilekatkan
pada Sekolah yang pada akhirnya terdapat adanya keinginan dan gairah baru
dilingkungan organisasi pendidikan seperti sekolah untuk inovasi menjadi lebih
baik kualitasnya dan unggul dari sekolah lainnya. Usaha ini menuntut sekolah
bukan hanya harus memiliki cita-cita dan keinginan saja, tapi sekolah agar selalu
memiliki kebutuhan berprestasi sehingga tercapai keunggulan dalam segala
aspeknya.

C. Karakteristik Sekolah Unggulan

Secara umum sekolah yang dikategorikan unggulan harus meliputi tiga


aspek diantaranya: Petama, Input. Menurut Daniel Goleman kemampuan
mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat secara
objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat, yang
membutuhkan kecerdasan otak (Intelligence Quotien) dan kecerdasan emosional
(Emotional Quotien). Di samping itu, kecerdasan spiritual (Spiritual Quotien)
calon siswa hendaknya dapat terukur saat seleksi siswa baru. Dengan demikian,
tes seleksi siswa baru hendaknya dapat mengukur ketiga aspek kecerdasan atau
bahkan dapat mengukur berbagai kecerdasan (multy intellegence). Sehingga, tes
seleksi siswa baru tujuannya tidak semata-mata untuk menerima atau menolak
siswa tersebut tetapi jauh ke depan untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa.
Dengan data tingkat kecerdasan siswa tersebut dapat digunakan sebagai dasar
untuk menentukan proses pembinaannya dan bahkan dapat untuk menentukan
target atau arah pendidikan di masa depan.[5]
Untuk sekolah, dapat menyeleksi siswa dengan sistem seleksi yang sangat
ketat. Selain seleksi bidang akademis, juga diberikan persyaratan lain sesuai
tujuan yang ingin dicapai sekolah. Sungguh suatu keunggulan luar biasa bila
suatu sekolah sudah mampu selektif dalam proses penerimaan siswa baru. Calon
siswa nantinya dapat dibina, dibimbing dan belajar sesuai dengan tingkatan
kecerdasan mereka, yang nantinya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang
unggul.
Kedua, proses. Dalam proses belajar-mengajar, sekolah unggulan ini
setidaknya berkaitan dengan kemampuan guru, fasilitas belajar, kurikulum,
metode pembelajaran, program ekstrakurikuler, dan jaringan kerjasama,
diantaranya:
1.

Kemampuan guru, sekolah unggulan harus memiliki guru yang unggulan juga.
Artinya, guru tersebut harus profesional dalam melaksanakan proses belajarmengajar.
Adapun
kompetensi
guru
yang
memungkinkan
untuk
mengembangkan
suatu
lembaga
pendidikan
yang
unggul
yaitu :Petama,kompetensi penguasaan mata pelajaran. Kedua, kompetensi
dalam pembelajaran. Ketiga, kompetensi dalam pembimbingan. Keempat,
kompetensi komunikasi dengan peserta didik. Kelima, kompetensi dalam
mengevaluasi.[6]
Untuk mengembangkan kompetensi ini guru harus selalu rajin-rajin
membaca, belajar terus menerus, selalu up to date membaca fenomena sosial
yang terjadi dimasyarakat sehingga pembelajaran bersifat faktual dan
kontekstual. Pembelajaran dapat berjalan efektif sehingga mencapai tujuan yang
ingin dicapai.
Pembelajaran bisa dikatakan efektif, bila guru mampu memberikan
pengalaman baru bagi siswanya, membentuk kompetensi siswa, serta
melibatkan peserta didik dalam perencanaan pelaksanaan dan penilaian
pembelajaran. Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan
oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Misal salah
satunya dengan tanya jawab.[7]

Disamping itu guru harus ikhlas memberi pelayanan kepada siswa dalam
belajar, dalam artian siswa merasa nyaman berada dalam bimbingan guru
tersebut. Guru harus mampu menilai hasil balajar ranah kognitif, psikomotorik
dan afektif siswa dan dapat mengetahui siapa dan ranah apa saja yang belum
dikuasai oleh siswa, sehingga guru tepat memberi pencerahan kembali kepada
siswanya.
Dengan demi Guru yang profesional, dalam pembelajaran harus
menempuh empat tahap, yaitu: Pertama, persiapan, dalam arti yang luas adalah
segala usaha misalnya membaca, kursus, pelatihan, seminar, diskusi, lokakarya
yang dilakukan oleh guru dalam rangka mengembangkan profesionalitasnya.
Persiapan dalam perngertian yang sempit adalah kegiatan pembuatan program
kerja guru yang meliput penyusunan kegiatan pembelajaran selama satu tahun,
program semester, penyusunan silabus dan pembuatan rencara pelaksanaan
pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum. Kedua, pelaksanaan, bahwa guru
harus fleksibel, artinya pelaksanaan program disesuaikan dengan kondisi dan
situasi peserta didik. Fokus pelaksanaan pembelajaran adalah pengalaman
peserta
didik,
baik
pengalaman
kognitif,
afektif,
maupun
psikomotorik. Ketiga, Penilaian, perlu dilakukan terhadap kedua belah pihak, baik
guru maupun siswa. Penilaian harus dilakukan secara objektif dan
transparan. Keempat, refleksi. Tindakan yang dilakukan dengan memikirkan
aktivitas pembelajarannya dan melaksanakan pembelajarannya berdasarkan
tujuan yang jelas atas dasar pertimbangan moral dan etika.
Guru harus mampu tanggap terhadap aktivitas pembelajaran dengan
melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan
pembelajaran akan tercapai. Proses pendidikan Islam tidak akan berhasil dengan
baik tanpa peran guru yang professional, terutama pada proses pembelajaran
saat guru menggunakan metode dan memberikan materi. Peranan guru sangat
penting tersebut bisa menjadi potensi besar dalam memajukan atau
meningkatkan mutu pendidikan.
Guru yang benar-benar berlaku professional dan dapat mengelola dengan
baik, tentunya mereka akan makin semangat dalam menjalankan tugasnya,
bahkan rela melakukan inovasi-inovasi pembelajaran untuk mewujudkan
kesuksesan pembelajaran peserta didik. Namun jika mereka terlantar akibat
tindakan pimpinan mereka justru bisa menjadi penghambat serius terhadap
proses pendidikan. Sikap guru ini sangat tergantung pada kualitas manajemen
personalia.[8]
2.

Fasilitas belajar, Sekolah unggulan harus dilengkapi dengan fasilitas yang


mewadahi. memiliki sarana dan prasarana yang mewadahi bagi siswa untuk
menguasai ilmu pengetahuan danteknologi.

3.

Kurikulum, Sekolah unggulan tidak harus menggunakan kurikulum yang


berrstandar internasional. Kurikulum nasional dengan berbagai penyempurnaan
sesuai kebutuhan perkembangan siswa pun cukup baik. Terutama dari segi
bahan, misalnya bidang IPA dan PAI, masih terlalu menekankan bahan-bahan
klasik yang memang penting, tetapi kurang memasukkan bahan dan penemuan

modern yang lebih dekat dengan situasi teknologi saat ini. Misalnya mengkaitkan
materi-materi dari kedua mata pelajaran tersebut. Di samping itu, penguasaan
bahasa Arab, bahasa inggris dan bahasa Indonesia mutlak diperlukan. Sehingga
siswa dapat mengkomunikasikan gagasan dan pengetahuannya kepada orang
lain secara sistematis dengan menggunakan kedua bahasa tersebut. Perpaduan
kedua kurikulum itu akan sangat membantu dalam menghasilkan generasigenerasi masa depan yang lebih unggul.
4.

Metode pembelajaran, Sekolah unggulan harus menggunakan metode


pembelajaran yang membuat siswa menjadi aktif dan kreatif yang disertai
dengan kebebasan dalam mengungkapkan pikirannya.

5.

Program ekstrakurikuler, Sekolah unggulan harus memiliki seperangkat


kegiatan ekstrakurikuler yang mampu menampung semua kemampuan, minat,
dan bakat siswa. Keragaman ekstrakurikuler akan membuat siswa dapat
mengembangkan berbagai kemampuannya di berbagai bidang secara optimal

6.

Jaringan kerjasama,Sekolah unggulan memiliki jaringan kerjasama yang baik


dengan berbagai instansi, terutama instansi yang berhubungan dengan
pendidikan dan pengembangan kompetensi siswa. Dengan adanya kerjasama
dengan berbagai instansi akan mempermudah siswa untuk menerapkan
sekaligus memahami berbagai sektor kehidupan (life skill).[9]

Ketiga, Output, Sekolah uggulan harus menghasilkan lulusan yang


unggulan. Keunggulan lulusan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian yang tinggi.
Indikasi lulusan yang unggulan ini baru dapat diketahui setelah yang
bersangkutan memasuki dunia kerja dan terlibat aktif dalam kehidupan
bermasyarakat.[10]
Kemampuan lulusan yang dihasilkan dirasa unggulan, bila mereka telah
mampu mengembangkan potensi intelektual, potensi emosional, dan potensi
spiritualnyadimana mereka berada.

D. Pengembangan Pendidikan Islam Melalui Sekolah Unggulan


Pengembangan pendidikan Islam dapat terealisasi melalui adanya kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Institusi yang melahirkan kebijakankebijakan yang mendukung program Sekolah unggulan adalah Departemen
Agama.
Sekolah sebagai suatu institusi pendidikan harus mampu mengembangkan
mutu dan keunggulan pendidikan. Sekolah yang mengenalkan dirinya sebagai
Sekolah unggulan, harus beda dari pada Sekolah lainnya. Sekolah harus memiliki
keuggulan yang layak dibanggakan oleh Sekolah dan masyarakat. Dalam hal ini
dikenal dua jenis keunggulan, yaitu:
1.

Keunggulan Komparatif

Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang sudah disediakan, dimiliki


tanpa perlu adanya suatu upaya. Kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu wilayah
adalah contoh nyata keunggulan komparatif.konteks lembaga pendidkan,
keunggulan komparatif menekankan pada keunggulan kaitannya dengan sumber
daya yang disediakan, dimilki tanpa perlu adanya suatu upaya. Misalkan suatu
Sekolah dibandingkan dengan Sekolah lainnya memiliki fasilitas belajar yang
diperoleh dari bantuan dari pemerintah, sedangkan Sekolah disekitarnya belum
menerima bantuan fasilitas belajar. Nah Sekolah ini memiliki keunggulan
komparatif.
2.

Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang timbul karena ada suatu upaya
yang dilakukan untuk mencapainya. Keunggulan kompetitif terkait dengan daya
saing suatu produk yang relatif mapan sehingga mampu memasuki pasar
tertentu dengan tingkat harga dan kualitas sesuai kebutuhan penggunanya.
Produk yang memiliki keunggulan kompetitif biasanya didukung oleh pelayanan
memadai sehingga memiliki daya saing dibandingkan dengan produk yang
berasal dari sumber lain.[11]

Sekolah yang memiliki keunggulan kompetitif akan terus mengejar


prestasinya sehingga mampu bersaing dengan Sekolah lain, walaupun sudah
mendapat bantuan dari pemerintah Sekolah unggulan ini tetap dan terus
berusaha meningkatkan kualitas keunggulannya, baik dalam hal manajemennya
maupun outputnya. Pelayanan terhadap siswa dikelola dengan baik sehingga
mereka dapat belajar dalam keadaan kondusif. Lulusan yang berkualitas akan
dicari oleh masyarakat untuk diberdayakan potensinya yang diperoleh ketika di
Sekolah.
Tantangan kehidupan saat ini lebih mengutamakan keunggulan kompetitif
dibandingkan keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif menekankan pada
keunggulan kaitannya dengan sumber daya yang disediakan. Sedangkan
keuntungan kompetitif bersandar pada penguasaan IPTEK serta informasi. Atas
dasar
pemahaman
tersebut,
yang
dimaksud
dengan
keunggulan/excellence pada istilah Center for Excellence adalah jenis
keunggulan kompetitif yaitu keunggulan yang diraih melalui suatu usaha.
Sekolah unggulan merupakan satu aktivitas yang kompleks karena
berkaitan dengan pengembangan sebuah organisasi sebagai wadah
terhimpunnya komunitas yang memiliki latar belakang yang beragam.
Membangun budaya unggulan dalam sebuah organisasi, termasuk budaya
unggulan dalam lingkungan Sekolah memerlukan proses dan waktu yang
panjang.
Mengembangkan keunggulan dalam sebuah Sekolah melalui
pendekatan budaya organisasi berarti mengorganisasi beragam manusia dan
melebur mereka dalm satu pikiran yang terarah ke pembuatan produk dan
layanan terbaik, pemuasan pelanggan sepenuhnya dan pemeliharaan warga

organisasi itu sendiri. Berikut ini hal-hal yang mendukung untuk


mengembangkan organisasi Sekolah dalam mencapai keunggulan, diantaranya:
1. Visi untuk unggulan
Visi unggulan menjadi demikian sentral posisinya dalam
pengembangan Sekolahunggulan, sebab tanpa visi, mimpi dan gambaran
tentang masa depan sebuah organisasi sulit untuk berjalan lancar. Dengan visi
unggulan sebuah Sekolah selalu mengupayakan arah masa depan yang lebih
baik, memiliki SDM yang religious, terampil mandiri dan berwawasan ke depan .
[12]
2. Kepemimpinan yang inspiratif
Organisasi membutuhkan kepemimpinan yang professional tapi rendah
hati, visioner dan inspiratif. Kepemimpinan yang mampu mengubah dan
memperbarui organisasi serta dapat membangkitkan semangat dan memberikan
inspirasi kepada segenap komunitas organisasi yang dipimpinnya.
3. Kolaborasi dan Kolegilitas
Kolaborasi mencakup semua aktivitas yang dilakukan oleh
komunitas organisasi pembelajar dan layanan pendukung eksternalnya bersamasama berbagi informasi dan ide-ide, merencankan bersama, dan bersama-sama
pula membuat keputusan dan partisipasi dalam pengembangan organisasi.
Kolegialitas lebih menekankan interaksi interpersonal yang dibangun melalui
keterbukaan atau keyakinan.[13]
4.

Membangun rasa saling percaya


Dalam sebuah organisasi terdapat team work yang tidak mungkin bekerja
sama kecuali atas dasar nilai saling mempercayai atau mampu menjadikan diri
sebagai anggota yang pantas dipercayai. Di lembaga pendidikan seperti Sekolah
juga diperlukan semangat saling mempercayai dalam bekerja sama agar tercipta
iklim organisasi yang kondusif bagi komunitas Sekolah.

5.

Membangun jaringan sosial (social capital)


Untuk menjadi Sekolah organisasi unggulan, Sekolah perlu memiliki
kecerdasan sosial. Kemampuan sebuah Sekolah untuk tetap survive tidak hanya
ditentukan oleh seberapa besar kemmpuannya dalam menghasilkan output yang
berkinerja dan berprestasi unggulan, tetapi juga ditentukan oleh koneksinya
dengan stakeholders, dan para pengguna jasa. Salah satunya tetap menjaga
kepercayaan stakeholders terhadap
keunggulan
Sekolah
dengan
mempertahankan dan meningkatkan citra serta kinerja organisasi Sekolah
unggulan.
Dengan merealisasikan beberapa bentuk pendekatan-pendekatan
pengembangan pendidikan Islam melalui Sekolah unggulan maka diharapkan
akan melahirkan lulusan yang bisa menampilkan citra diri sebagai sosok
makhluk Tuhan yang didalam dirinya terdapat potensi rasional (nalar), emosi dan
spiritual. Tiga dimensi keunggulan dalam perspektif Islam mencitrakan sosok

manusi utuh. Lembaga pendidikan yang terlalu banyak menekankan pentingnya


nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja, mengabaikan kecerdasan emosi
(EQ) yang mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas,
ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan
diri atau sinergis menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya.[14]
Dalam
perspektif
pendidikan
ideal
belumlah
cukup
untuk
menggambarkan keutuhan sosok manusia. Sebab dalam diri manusia terdapat
satu aspek penting lainnya yaitu potensi spriritual. Kecerdasan yang membuat
manusia berbuat kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kasih sayang dalam
hidup, kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup manusia dalam kontek
makna yang luas dan lebih kaya. Kecerdasan spiritual yang ditanamkan melalui
pendidikan akan memberikan bekal kepada peserta didik sehingga mampu
menjawab keprihatinan dirinya tentang apa arti menjadi manusia, apa makna
dan tujuan puncak dari hidup manusia.[15]
Dengan demikian pemerintah akan mampu memfasilitasi sekolah
terhadap pengembangan pendidikan Islam, apa yang dimiliki dan apa yang
menjadi kebutuhan siswa dalam kerangka mengembangkan seluruh potensi
yang ada pada diri siswa baik itu potensi intelektual, emosional dan spiritualnya.
Dengan demikian Sekolah dapat melahirkan sosok yang memiliki intelektualitas
tinggi yang siap berpotensi, responsif terhadap perkembangan dan mempunyai
pandangan ke depan dan sikap kritis, jati diri yang jelas, empati ditopang dengan
iman dan takwa dalam konteks Sekolah model sebagai salah satu lembaga
pendidikan yang berciri khas Islam.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sekolah unggulan mampu mengubah citra sekolah menjadi lebih baik dan
bisa menunjukkan kualitasnya dikalangan lembaga pendidikan pada umumnya.
Program yang dicanangkan pemerintah ini merupakan langkah positif untuk
mensejajarkan kualitas sekolah dengan sekolah umum, baik manajemennya
maupun output yang dihasilkan, sehingga memilki nilai lebih yang selalu dicari
lulusannya dan didamba-dambakan masyarakat.
Pada dasarnya, munculnya sekolah unggulan dilatar belakangi oleh
masalah yang sama, yaitu masih rendahnya mutu pendidikan Islam, terutama
masalah output yang dihasilkan dan kualitas manajemen yang ada di Sekolah.
Dari sinilah, pemerintah melakukan langkah awal dengan mengeluarkan
kebijakan-kebijakan yang mendukung adanya sekolah ungulan.
Seperti menyekolahkan guru-guru sekolah hingga tingkat S2,
menyediakan fasilitas-fasilitas laboratorium dan lain-lain. Setelah proyek ini jalan
dan sukses menjadi sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya (sekolah

swasta), Sehingga sekolah tersebut bangkit untuk bisa berkembang seperti


sekolah unggulan negeri tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan
sekolah swasta dapat menjadi sekolah unggulan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Maimun, Agus Zainul Fitri. Sekolah Unggulan. Malang: UIN Maliki Press, 2010.
Ahid, Nur. Problematika Sekolah Aliyah di Indonesia. Kediri: STAIN Kediri Press, 2009.
Fachruddin, Fuad dari Headlye Beare, dkk. Creating An Exellence School. London:
Routtledge, 1991.
Lubis, Halfian. Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia. Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama Republik Indonesia, 2002.
Maimun, Agus dan Agus Zaenul Fitri. SekolahUnggulan Lembaga Pendidikan Alternatif di
Era Kompetitif. Malang: UIN Maliki Press, 2010.
Mastuhu. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999
Muhammad. Konsep Pengembangan SekolahUnggulan, Kreatif, Vol. 4, No. 1, Januari,
2009.
Puslitbang, Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2001, Manajemen Sarana dan Prasarana
Jakarta, Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan RI, 2001
Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Erlangga, 2007.
Sahlan, Asmaun. Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah. Malang: UIN- MALIKI Press,
2010.
Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern
English Press, 1991.
Semiawan. Prespektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta, Grasindo, 1996
Surtiah. Pengembangan Potensi Anak Didik di Sekolah, Makalah Pelatihan Manajemen
Sekolah se-Jawa Timur 1 s/d 28 Februari 1999, Malang: STAIN
Trimantara, Petrus. Sekolah Unggulan: Antara Kenyataan dan Impian, Jurnal Pendidikan
Penabur, Vol. 6, No.08, Juni, 2007.
Zayadi, Ahmad. Desain Pengembangan Sekolah. Jakarta: Dirjen Kelembagaan Pendidikan
Islam Depag, 2005.

(Sumber: http://makalahpendidikanislamismail.blogspot.co.id/2013/06/sekolahunggulan.html )

Admin | Minggu, 01 Maret 2015 - 07:33:22 WIB | dibaca: 1439 pembaca


0

Sekolah unggul merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah keinginan untuk memiliki
sekolah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pengertian sekolah unggulan adalah sekolah yang dikembangkan
untuk mencapai keunggulan dalam keluaran ( out put ) pendidikannya. Untuk mencapai
keunggulan tersebut, maka masukan ( input), proses pandididkan, guru dan tenaga kependidikan,
manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang
tercapainya tujuan tersebut.
Sekolah dikatakan sebagai sekolah unggulan jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Prestasi akademik dan non akademik di atas rata-rata sekolah yang ada di daerahnya.
2. Sarana dan prasarana dan layanan yang lebih lengkap.
3. Sistem pembelajaran lebih baik dan waktu belajar lebih panjang.
4. Melakukan seleksi yang cukup ketat terhadap pendaftar.
5. Mendapat animo yang besar dari masyarakat, yang dibuktikan banyaknya jumlah
pendaftar dibanding dengan kapasitas kelas.
6. Biaya sekolah lebih tinggi dari sekolah sekitarnya.
sekolah unggulan perlu di tunjang dengan berbagai aspek, di antaranya, input yang unggul, guru
yang professional, sarana memadai, kurikulum yang inovatif,rung kelas atau pembelajaran yang
representative, sehimgga dapat menciptakan output yang unggul dan berkualitas.
Ada lima aspek yang menentukan orang tua dalam memilih sekolah bagi putra / putrinya, yaitu :
1. Kemampuan guru dalam mentransfer ilmu.
2. Lingkungan pergaulan siswa,
3. Sarana dan prasarana,

4. Citra sekolan dan


5. Penanaman nilai-nilai agama.
Banyak pendapat mengenai sekolah unggulan, namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
menjelaskan bahwa yang dimaksud denan unggul adalah lebih tinggi, pandai, kuat dan sebagainya
dari pada yang lain; terbaik; terutama. Sedangkan keunggulan artinya keadaan unggul;
kecakapan; kebaikan dan sebagainya yang labih dari pada yang lain.
Sekolah unggul dalam dalam perspektif Departemen Pendidikan Nasional adalah sekolah yang
dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran ( output ) pendidikannya.

Sumber Berita: http://disdik.bekasikab.go.id/berita-sekolah-unggulan.html#ixzz41c9FdEvE

Sekolah Unggulan Dan Sekolah Model


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat urgen dalam sebuah kehidupan.
Sebagai wahana untuk membentuk manusia ideal, maka pendidikan memiliki peranan
penting dalam kehidupan manusia, sehingga pendidikan tidak terlepas dari kehidupan kita
sehari-hari.
Lembaga pendidikan yang mengatasnamakan dirinya sebagai sekolah unggulan
harus diakui oleh pemerintah dan masyarakat, bukan oleh lembaga atau sekolah itu sendiri.
Karena keunggulan berarti memiliki nilai yang lebih dibanding dengan sekolah/madrasah
yang lain dan tentunya nilai itu tidak hanya dapat dilihat dari aspek fisik, melainkan juga
aspek-aspek lain yang sangat menentukan. Misalnya proses pembelajarannya ataupun
output yang dihasilkan. Begitupun juga sekolah yang mendapat predikat sekolah model dari
pemerintah harus mampu menunjukkan dirinya sebagai sekolah yang layak dan pantas
untuk dicontoh oleh sekolah atau madrasah lainnya.
Banyak persepsi yang berkembang di masyarakat kita tentang konsep sekolah
unggulan. Paradigma pada umumnya adalah bahwa sekolah unggulan biasanya
memerlukan uang masuk yang cukup besar, setiap tahun selalu banyak peminatnya, tingkat
kelulusan yang sesuai standar nasional atau bahkan lebih, banyaknya kegiatan kegiatan
sekolah yang diselenggarakan,mulai dari ekstrakurikuler, cara belajar dan lain sebagainya.
Kategori unggulan/ model menjadi sebuah pilihan bagi orang tua untuk
menyekolahkan anaknya, karena sekolah model maupun unggulan sudah dianggapnya
mampu mencatak anak-anak didik yang berkualiatas. Dalam makalah ini akan dibahas
konsep pengembangan sekolah unggulan dan sekolah model.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sekolah Unggulan
1.

Pengertian Sekolah Unggulan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan
unggul adalah lebih tinggi, pandai, kuat, dan sebagainya daripada yang lain; terbaik;
terutama. sedangkan Keunggulan artinya keadaan unggul; kecakapan, kebaikan dan
sebagainya yang lebih dari pada yang lain.[1]
Secara

ontologis

sekolah

unggul

dalam

perspektif

Departemen

Pendidikan Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai


keunggulan

dalam

keluaran (output) pendidikannya.

Untuk

mencapai

keunggulan tersebut maka masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga
kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya
harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. [2]
2.

Karakteristik Sekolah Unggulan

1.

Karakteristik Madrasah/Sekolah Unggulan


Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan sejumlah kriteria yang
harus dimiliki sekolah/madrsah unggul:[3]

a.

Masukan

(input)

menggunakan

berupa

ktriteria

siswa

yang

tertentu

diseleksi
dan

secara

prosedur

ketat.

Dengan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan. Kriteria yang digunakan itu meliputi:


Prestasi belajar siswa yang superior dengan indikator angka raport, danem, dan

hasil tes akademik lainnya

b.

Skor-skor tes yang meliputi intelegensi dan kreativitas

Tes fisik
Sarana dan prasarana yang menunjang untuk memenuhi kebutuhan belajar

siswa serta dapat menyalurkan minat dan bakatnya, baik dalam bidang kurikuler
maupun ekstrakurikuler
c.

Lingkungan belajar yang kondusif, baik lingkungan fisik maupun social


psikologis.

d.

Guru dan tenaga kependidikan mempunyai kualifikasi mutu yang baik, sehingga
system rekrutmen diseleksi dengan ketat dan diberikan wahana pembinaan dan
pengembangan intelektual serta fasilitas yang menunjang

e.

Kurikulum yang diperkaya yaitu kurikulum yang dilakukan pengembangan


improvisasi secara maksimal sesuai tuntunan belajar siswa peserta didik yang
mempunyai keunggulan tersebut sehingga perlu dilakukan pengayaan dan/atau
percepatan kurikulum.

f.

Rentang waktu belajar disekolah lebih panjang sehingga perlu disediakan


sarana dan prasarana penunjang.

g.

Proses

belajar

mengajar

yang

berkualitas

dan

hasilnya

dapat

dipertanggungjawabkan kepada siswa, lembaga dan masyarakat.


h.

Nilai sekolah unggul terletak pada perlakuan tambahan diluar kurikulum


nasional melalui pengembangan materi kurikulum, program pengayaan dan
perluasan serta percepatan, pengajaran remedial pelayanan bimbingan dan
konseling, pembinaan dan disiplin serta kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

i.

Sekolah unggul diproyeksikan untuk menjadi pusat keunggulan bagi sekolahsekolah

disekitarnya,

sehingga

mampu

memberikan

resonansi

kepada

lingkungan disekitarnya.
3.

Konsep Pangembangan Sekolah Unggulan


Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh madrasah/sekolah
unggulan, diantaranya sebagai berikut:

a.

Aspek-Aspek Keunggulan pada Madrasah/Sekolah Unggulan


Secara umum sekolah yang dikategorikan unggul harus meliputi tiga
aspek. Ketiga aspek tersebut adalah: [4]

1)

Input
Daniel Goleman, dalam bukunya, menyebutkan bahwa kemampuan
mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat secara
objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat, yang
membutuhkan

kecerdasan

otak/Intelligence Quotien (IQ)

dan

kecerdasan

emosional/Emotional Quotien (EQ). Di samping itu, kecerdasan spiritual/Spiritual


Quotien (SQ) calon siswa hendaknya dapat terukur saat seleksi siswa baru.
Dengan demikian, tes seleksi siswa baru hendaknya dapat mengukur ketiga
aspek kecerdasan atau bahkan dapat mengukur berbagai kecerdasan/multy
intellegence..[5]
2)

Proses
Proses belajar-mengajar sekolah unggul ini setidaknya berkaitan dengan
kemampuan guru, fasilitas belajar, kurikulum, metode pembelajaran, program
ekstrakurikuler, dan jaringan kerjasama.

(1) Kemampuan guru


Sekolah unggul harus memiliki guru yang unggul juga. Artinya, guru
tersebut harus profesional dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Adapun
kompetensi guru yang memungkinkan untuk mengembangkan suatu lembaga
pendidikan yang unggul adalah:
(a) Kompetensi penguasaan mata pelajaran

(b) Kompetensi dalam pembelajaran


(c) Kompetensi dalam pembimbingan
(d) Kompetensi komunikasi dengan peserta didik
(e) Kompetensi dalam mengevaluasi
Pembelajaran bisa dikatakan efektif, bila guru mampu memberikan
pengalaman

baru

bagi

siswanya,

membentuk

kompetensi

siswa,

serta

melibatkan peserta didik dalam perencanaan pelaksanaan dan penilaian


pembelajaran. Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan
oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Misal salah
satunya dengan tanya jawab.

[6]

(2) Fasilitas belajar


Sekolah unggul harus dilengkapi dengan fasilitas yang mewadahi. memiliki
sarana dan prasarana yang mewadahi bagi siswa untuk menguasai ilmu
pengetahuan danteknologi.
(3) Kurikulum
Sekolah unggul tidak harus menggunakan kurikulum yang berstandar
internasional. Kurikulun nasional dengan berbagai penyempurnaan sesuai
dengan kebutuhan perkembangan siswa pun cukup baik. Di samping itu,
penguasaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia mutlak diperlukan. Sehingga
siswa dapat mengkomunikasikan gagasan dan pengetahuannya kepada orang
lain secara sistematis dengan menggunakan kedua bahasa tersebut. Perpaduan
kedua kurikulum itu akan sangat membantu dalam menghasilkan generasigenerasi masa depan yang lebih unggul.
(4) Metode pembelajaran
Sekolah unggul harus menggunakan metode pembelajaran yang membuat
siswa menjadi aktif dan kreatif yang disertai dengan kebebasan dalam
mengungkapkan pikirannya.
(5) Program ekstrakurikuler
Sekolah unggul harus memiliki seperangkat kegiatan ekstrakurikuler yang
mampu menampung semua kemampuan, minat, dan bakat siswa. Keragaman
ekstrakurikuler

akan

membuat

siswa

dapat

mengembangkan

berbagai

kemampuannya di berbagai bidang secara optimal.


(6) Jaringan kerjasama
Sekolah unggul memiliki jaringan kerjasama yang baik dengan berbagai
instansi,

terutama

instansi

yang

berhubungan

dengan

pendidikan

dan

pengembangan kompetensi siswa. Dengan adanya kerjasama dengan berbagai


instansi akan mempermudah siswa untuk menerapkan sekaligus memahami
berbagai sektor kehidupan (life skill).
3)

Output
Sekolah unggul harus menghasilkan lulusan yang unggul. Keunggulan
lulusan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian yang tinggi. Indikasi lulusan yang
unggul ini baru dapat diketahui setelah yang bersangkutan memasuki dunia
kerja dan terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

4.

Peluang
Pada

kenyataannya,

sekolah

unggulan

ternyata

mendapat

dukungan

dari

masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah-madrasah sekolah-sekolah yang


unggul dengan tanpa menghiraukan berapapun biaya yang dikeluarkan. Sekolah unggulan
memiliki daya saing yang ketat, karakteristik yang menjanjikan serta output yang berkualitas.
Sehingga peluang untuk merekrut siswa/pelajar sangat besar.
Sekolah unggul diharapkan mampu menampilkan citra diri sebagai sosok
makhluk Tuhan yang didalam dirinya terdapat potensi rasional (nalar), emosi dan
spiritual. Tiga dimensi keunggulan (cerdas intelek, cerdas emosional dan cerdas
spiritual) dalam perspektif Islam mencitrakan sosok manusi utuh. Lembaga
pendidikan yang terlalu banyak menekankan pentingnya nilai akademik,
kecerdasan otak atau IQ saja, mengabaikan kecerdasan emosi (EQ) yang
mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental,
kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau sinergis
menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya.
5.

[7]

Tantangan
Kualitas sebagian besar Kepala sekolah (terutama Madrasah Negeri) juga
merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi. Berdasarkan informasi, selama ini,
proses pengangkatan untuk menjadi kepala Madrasah Negeri masih didasarkan pada
senioritas dan urutan kepangkatan, bukan pada kemampuan manajemen dan potensinya
untuk memajukan sekolah.[8] Akibatnya, mungkin saja ada guru yang memiliki potensi untuk
mengembangkan sekolah secara kreatif akan dikalahkan oleh guru senior yang mungkin
kurang memiliki potensi hanya karena guru senior tadi pangkatnya lebih memenuhi syarat
daripada si anak muda yang potensial tersebut, dan faktor penentu dalam proses suatu
sekolah menjadi berprestasi, antara lain, adalah kepemimpinan sekolah yang efektif.
Disamping itu, kepemimpinan kepala sekolah yang efektif merupakan kunci,
Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif akan menimbulkan faktor lainnya itu yang ujung
akhirnya adalah peningkatan prestasi madrasah yang dipimpinnya. Kepala Sekolah yang

efektif akan dapat memotivasi stafnya (guru dan non-guru) untuk berprestasi dan bekerja
dengan semangat tinggi. Ia juga akan dapat membina hubungan yang baik dengan orang
tua dan masyarakat sekitar demi kemajuan Madrasahnya.

Motivasi berprestasi dan

semangat kerja tinggi staf Madrasah ini akan menghasilkan kualitas layanan pendidikan
yang lebih baik yang kemudian menghasilkan siswa yang berprestasi baik. Prestasi siswa
yang baik akan menimbulkan kepercayaan masyarakat akan kualitas pendidikan di
Madrasah tersebut. Masyarakat yang percaya akan kualitas Madrasah tersebut akan tidak
keberatan kalau mereka diminta membayar lebih banyak daripada kalau mereka
menyekolahkan

anaknya

ke

sekolah

lain

yang

kalah

kualitasnya.

B. Sekolah Model
1.

Pengertian Sekolah Model


Dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah model diartikan adalah pola,
contoh, acuan atau macam dari sesuatu yang akan dibuat atau diartikan orang
yang digunakan sebagai contoh untuk dilukis, digambar atau difoto. [9]
Kemudian istilah model disandingkan dengan sekolah sebagai salah satu program lembaga
pendidikan. Sekolah model adalah sebuah program yang ditujukan untuk menjadikan satu
sekolah yang baik dalam semua unsurnya, agar dapat digunakan sebagai percontohan bagi
sekolah disekitarnya.[10]
Sekolah model adalah sekolah yang memiliki motif tersendiri yang bertaraf
nasional ataupun internasional, sekolah model mencerminkan sekolah yang
berkualitas tinggi yang beracuan pada system nasional ataupun internasional.
Kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)
1. Landasan Hukum
UU Sisdiknas Pasal 50 Ayat 3
Pemerintah

dan/atau

pemerintah

daerah

menyelenggarakan

sekurang-

kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk


dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional. [11]

2. Kebijakan Pokok Pembangunan Pendidikan Nasional dalam Rencana Strategis


Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009.
a. Pemerataan dan Perluasan Akses
b. Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing
Salah

satunya

meningkatkan

daya

pembangunan
saing

bangsa.

sekolah
Dalam

bertaraf
hal

ini,

internasional

untuk

pemerintah

perlu

mengembangan SBI pada tingkat kabupaten/kota melalui kerja sama yang


konsisten

antara

Pemerintah

dengan

Pemerintah

Kabupaten/Kota

yang

bersangkutan untuk mengembangkan SD, SMP, SMA, dan SMK yang bertaraf
internasional sebanyak 112 unit di seluruh Indonesia.
c. Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik. [12]
3. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)
a. Filosofi Eksistensialisme dan Esensialisme
Penyelenggaraan

SBI

didasari

filosofi eksistensialisme danesensialisme (fungsionalisme).


Filosofi eksistensialisme berkeyakinan bahwa pendidikan harus menyuburkan
dan mengembangkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui
fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, properubahan,

kreatif,

inovatif,

dan

eksperimentif),

menum-buhkan

mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik.


Filosofi eksistensialisme berpandangan
mengajar,

peserta

didik

harus

diberi

bahwa

perlakuan

dalam
secara

dan

[13]

proses

belajar

maksimal

untuk

mengaktualkan, mengeksiskan, menyalurkan semua potensinya, baik potensi


(kompetensi) intelektual (IQ), emosional (EQ), dan Spiritual (SQ).
Filosofi esensialisme menekankan bahwa pendidikan harus berfungsi dan
relevan

dengan

kebutuhan,

baik

kebutuhan

individu,

keluarga,

maupun

kebutuhan berbagai sektor dan sub-sub sektornya, baik lokal, nasional, maupun
internasional. Terkait dengan tuntutan globalisasi, pendidikan harus menyiapkan
sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing secara internasional.
Dalam

mengaktualkan

kedua

filosofi

tersebut,

empat

pilar

pendidikan,

yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to
be merupakan

patokan

berharga

bagi

penyelarasan

praktek-praktek

penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, mulai dari kurikulum, guru, proses


belajar mengajar, sarana dan prasarana, hingga sampai penilainya. [14]
2.

Karakteristik Sekolah Model


Karakteristik sekolah model tentunya tidak lepas dari tawaran modelmodel yang barbasis nasional ataupun internasional. Sekolah model menjadikan
nilai akademiknya sangat bagus yang bertaraf nasional ataupun internasional.
Karakteristik Sekolah Bertaraf Internasional
1). Karakteristik visi
Dalam sebuah lembaga/organisasi, menentukan visi sangat penting
sebagai arahan dan tujuan yang akan dicapai. Tony Bush&Merianne Coleman

menjelaskan visi untuk menggambarkan masa depan organisasi yang diinginkan.


Itu

berkaitan

erat

dengan

tujuan

sekolah

atau

perguruan

tinggi,

yang

diekspresikan dalam terma-terma nilai dan menjelaskan arah organisasi yang


diinginkan. Tony Bush&Merianne Coleman mengutip pendapat Block, bahwa visi
adalah masa depan yang dipilih, sebuah keadaan yang diinginkan. [15]
Visi Sekolah Bertaraf Internasional adalah: Terwujudnya Insan Indonesia
yang cerdas dan kompetitif secara internasional.[16] Visi ini mengisyaratkan
secara tidak langsung gambaran tujuan pendidikan yang diselenggarakan oleh
sekolah model SBI, yaitu mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan
kompetitif/memiliki daya saing secara internasional.

2). Karakteristik Esensial


Karakteristik esensial dalam indikator kunci minimal (SNP) dan indikator
kunci tambahan (x) sebagai jaminan mutu pendidikan bertaraf internasional
dapat dilihat pada table di bawah ini.
Karakteristik Esensial SMP-SBI sebagai Penjaminan Mutu Pendidikan Bertaraf
Internasional.[17]
No

Obyek

Indikator Kinerja Indikator

Penjaminan

Kunci

Mutu

Kinerja

Kunci

Minimal Tambahan

(unsur (dalam SNP)

Pendidikan
dalam SNP)
I

Akreditasi

Berakreditasi
dari

A Berakreditasi tambahan dari

BAN- badan

Sekolah
Madrasah

dan pada

akreditasi
salah

satu

sekolah
lembaga

akreditasi pada salah satu


negara
dan/atau
lainnya

anggota
negara
yang

OECD
maju

mempunyai

keung-gulan tertentu dalam


bidang pendidikan
II

Kurikulum
(Standar

Menerapkan
Isi) KTSP

Sekolah
system

telah

menerapkan
administrasi

dan

Standar

akademik berbasis teknologi

Kompe-tensi

Informasi

lulusan

(TIK)

dan

dimana

Komu-nikasi
setiap

dapat

siswa

meng-akses

transkipnya masing-masing.
Memenuhi

Muatan

pelajaramn

(isis)

Standar Isi

dalam kurikulum telah setara


atau lebih tinggi dari muatan
pelajaran yang sama pada
sekolah
satu

unggul

negara

negara

dari

salah

diantara

anggota

30

OECD

dan/atau dari negara maju


lainnya.
Memenuhi SKL

Penerapan standar kelulusan


yang setara atau lebih tinggi
dari SNP
Meraih

mendali

tingkat

internasional pada berbagai


kompetensi

sains,

matematika, tekno-logi, seni,


dan olah raga.
III

Proses

Memenuhi

Pembelajaran

Standar Proses

Proses pembelajaran pada


semua mata pelajaran telah
menjadi teladan atau rujukan
bagi sekolah lainnya dalam
pengembangan akhlak mulia,
budi

pekerti

luhur,

kepribadian

unggul,

kepemimpinan,

jiwa

kewirausahaan, jiwa patriot,


dan jiwa inovator
Proses pembelajaran telah
diperkaya

dengan

model-

model proses pembelajaran


sekolah
satu

unggul

negara

negara
dan/atau

dari

salah

diantara

anggota
negara

30

OECD
maju

lainnya.
Penerapan
pembelajaran

proses

berbasis

TIK

pada semua mapel


Pembelajaran pada mapel
IPA, Matematika, dan lainnya
dengan

bahasa

Inggris,

kecuali

mapel

bahasa

Indonesia.
IV

Penilaian

Memenuhi

Sistem/model penilaian telah

Standar Penilai- diperkaya


an

dengan

system/model penilaian dari


sekolah unggul di salah satu
negara diantara 30 negara
anggota

OECD

dan/atau

negara maju lainnnya.


V

Pendidik

Memenuhi
Standar

Guru sains, matematika,


Pen- dan

didik

teknologi

mengajar

mampu

dengan

bahasa

guru

mampu

Inggris
Semua

memfasilitasi pem-belajaran
berbasis TIK
Minimal

20%

berpendidikan

guru

S2/S3

perguruan

dari

tinggi

program

yang
studinya

terakreditasi A
VI

Tenaga

Memenuhi

Kependidikan

Standar Tenaga berpendidikan


Kependidikan

Kepala

sekolah
minimal

S2

dari perguruan tinggi yang


program

studinya

terakreditasi A
Kepala

sekolah

telah

menempuh pelatihan kepala


sekolah

yang

Pemerintah

diakui

oleh

Kepala

sekolah

berbahasa

mampu

Inggris

secara

aktif
Kepala sekolah memiliki visi
internasional,

mampu

membangun

jejaring

internasional,

memiliki

kompetensi manajerial, serta


jiwa

kepemimpinan

dan

enterprenual yang kuat


VII

Sarana

Memenuhi

Prasarana

Standar Sarana dilengkapi


Prasarana

Setiap

ruang

kelas
sarana

pembelajaran berbasis TIK


Sarana

perpustakaan

TELAH

dilengkapi

dengan

sarana

digital

yang

memberikan

akses

sumber

ke

pembelajaran

berbasis TIK di seluruh dunia


Dilengkapi dengan ruang
multi

media,

ruang

unjuk

seni budaya, fasilitas olah


raga, klinik, dan lain-lain.
VIII

Pengelolaan

Memenuhi
Standar
lolaan

Sekolah meraih sertifikat ISO

Penge- 9001

versi

2000

atau

sesudahnya (2001, dst) dan


ISO 14000
Merupakan

sekolah

multi

kultural
Sekolah
hubungan

telah
sister

dengan

menjalin
school
sekolah

bertaraf/berstandar
internasional diluar negeri
Sekolah terbebas dari rokok,
narkoba, kekerasan, kriminal,
pelecehan seksual, dan lain-

lain
Sekolah menerapkan prinsip
kesetaraan
semua

gender

aspek

dalam

pengelolaan

sekolah
IX

Pembiayaan

Memenuhi

Menerapkan

Standar

Pem- pembiayaan

biayaan

untuk

model

yang

efisien

mencapai

target

berbagai

indikator

kunci

tambahan

3). Karakteristik Penjaminan Mutu (Quality Assurance)


a). Output (Produk)/lulusan SBI
Adalah

memiliki

kemampuan-kemampuan

bertaraf

nasional

plus

internasional sekaligus, yang ditunjukkan oleh penguasaan SNP Indonesia dan


penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan dalam era global.
Ciri-ciri output/outcomes SBI

sebagai

berikut;

(1)

lulusan

SBI

dapat

melanjtkan pendidikan pada satuan pendidikan yang bertaraf internasional, baik


di dalam negeri maupun luar negeri, (2) lulusan SBI dapat bekerja pada
lembaga-lembaga internasional dan/atau negara-negara lain, dan (3) meraih
mendali tingkat internasional pada berbagai kompetensi sains, matematika,
teknologi, seni, dan olah raga. [18]

b). Proses Pembelajaran SBI


Ciri-ciri proses pembelajaran, penilaian, dan penyelenggaraan SBI sebagai
berikut:

(1)

pro-perubahan,

menumbuhkan

dan

yaitu

proses

mengembangkan

pembelajaran

daya

kreasi,

yang

inovasi,

mampu

nalar,

dan

eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru,a joy of


discovery, (2) menerapkan model pem-belajaran aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan; student

centered;

reflective

learning,

active

learning;

enjoyable dan joyful learning, cooperative learning; quantum learning; learning


revolution; dan contextual learning, yang kesemuanya itu telah memiliki standar
internasional; (3) menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada semua
mata

pelajaran;

(4)

proses

pembelajaran

menggunakan

khususnya mata pelajaran sains, matematika, dan teknolog.

[19]

bahasa

Inggris,

c). Input
Ciri input SBI ialah (1) telah terakreditasi dari badan akreditasi, (2) standar
lulusan lebih tinggi daripada standar kelulusan nasional, (3) jumlah guru minimal
20% berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya
terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif. Kepala sekolah minimal S2
dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu
berbahasa inggris aktif. (4) siswa baru (intake) diseleksi secara ketat melalui
saringan rapor SD, ujian akhir sekolah, kesehatan fisik, dan tes wawancara.
Siswa baru SBI memeliki potensi kecerdasan unggul yang ditunjukkan oleh
kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, dan berbakat luar biasa.

3.

Peluang
Sekolah model memiliki peluang besar dalam rekruitmen siswa, karena masyarakat
cenderung termaghnetik untuk melaju ke sekolah yang bermodel internasional. Seperti
halnya model SBI, Sekolah Bertaraf Internasional merupakan acuan masarakat yang
menjadikan generasi berkualitas,m dan sekolah bertaraf internasional merupakan patokan
masyarakat elit yang berinisiatif anak-anaknya menjadi berkualitas.

4.

Tantangan
Sekolah model ataupun tidak tentunya memiliki kekurangan dan tantangan serta
persaingan yang ketat antar instansi-instansi yang berdiri. Sekolah model tentunya memiliki
tantangan

yang

berkaitan

dengan Rekruitmen, PengembanganInput dan Output. Rekruitmen dalam artian masyarakat


yang belum mampu di bidang finasial tentunya merasa keberatan, sehingga sekolah sulit
untuk

merekrut

siswa

pedesaan

finansial. Pengembangan Inputadalah


membutuhkan

SDM

yang

yang

belum

pengembangan

professional,

sehingga

mampu

secara
sekolah

dibidang

terstrukturalyang
harus

mengadakan

pengembangan SDM secara intensif. Output adalah hasil dari lulusan siswa harus mencetak
siswa yang benar-benar professional dan berkualitas serta kreatif, sehingga tidak
merendahkan repotasi almamater sekolah.

C. Korelasi Sekolah Model Dan Sekolah Unngulan Dengan Pengembangan


Pendidikan Islam
Sekolah Unggulan dan Model sekolah

merupakan

lembaga

pendidikan

yang

memiliki beground yang berkualitas baik material ataupun kualitas KBM didalamnya,
sehingga sekolah unggulan ini sangat penting dalam menghasilkan output yang berkualitas
sesuai dengan harapan orang tua. olah tersebut menjadi bahan lirikan masyarakat sebagai
tempat proses belajar bagi anak-anaknya dengan harapan mampu bersaing serta
berkemampuan dibidang Intelektual, emosional dan spiritual.

Untuk mmengembangkan kecerdasan spiritual anak orang tua biasa banyak


menyekolahkan anaknya dilembaga pendidikan yang memiliki beaground islam, yang
memiliki kualitas unggul maupun model. Dal hal ini pendidikan islam sangat memiliki
pengaruh dalam mengembangankan potensi peserta didik. Pendidikan Islam merupakan
sebuah system pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk
memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai
dan mewarnai corak kepribadiannya.[20]
Membicarakan pendidikan islam tidak terlepas dari dasar dan tujuan pendidikan
islam, karena keduanya merupakan pintok pokok untuk dapat memahami kemana arah dan
tujuan dari pendidikan islan tersebut. Menentukan dasar pendidikan, menjadi sesuatu yang
sangat penting karena tujuan pendidikan sangat ditentukan oleh pandangan hidup, yaitu alQuran dan Hadist.
Pendidikan Islam ditujukan pada penumbuhan dan pemantapam kecendrungan
tauhid oleh karena itu pendidikan islam selalu menyelenggaran pendidikan berbasis agama,
bukan hanya sebuah disiplin ilmu, namun lebih pada penanaman nilai dan prinsip-prinsip
kemanusiaa sebagai esensi ajaran agama.[21]
Dari uraian diatas pendidikan islam tidak hanya muatan pendidikan Islam tidak
hanya muatan pengajaranteologi atau pengajaran al-Quran saja, akan tetapi juga memuat
semua cabang ilmu yang diajarkan dari sudut pandang Islam yang bersumber dari al-Quran
dan Hadist, ruang lingkup pendidikan Islam sangat luas, ia tidak hanya terbatas pendidikan
agama dan tidak hanya terbatas pada pendidikan umum semata.
Muatan pendidikan agama merupakan sebuah komponen yang tidak bisa
terpisahkan dari system pendidikan Islam. Bahkan bisa dikatakan bahwa pendidikan agama
Islam berfungsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan Islam dengan bidang studi lain.[22]
Tujuan pendidikan Islam, sangatlah penting karena berkaitan dengan pendidikan
Islam tentu tidak terlepas kaitannya dengan pengembangan potensi diri, dan untuk
mencapai ranah tersebut dinutuhkan tujuan-tujuan agar hal itu dapat tercapai dengan baik,
para ahli berpendapat bahwa ada tiga fungi tujuan pendidikan yang besemuanya bersifat
normative. Pertama member arah bagi proses pendidikan. Keduamember motivasi dalam
aktivitas belajar. Ketiga tujuan pendidikan merupakan criteria atau ukuran dalam evaluasi
pendidikan. Sehingga dari tujuan itu, pendidikan dapat diarahkan untuk mencapai kehidupan
yang baik serta menjadi motivasi bagi pengembangan pendidikan Islam.[23]
Dari gambaran diatas sudah jelas bahwa pendidikan islam sangat memiliki
pengaruh besar terhadap terciptanya insane yang memiliki pengetahuan dan wawasan luas,
tidak salah jika para orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di lembaga
pendidikan Islam yang memiliki berbagai nilai keunggulan maupun lembaga pendidikan
Model. Dengan harapan anak kelak menjadi manusia yang siap bersaing dalam
menyongsong masa depannya.

Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki baeground unggul dan model yang
berbasis pendidikan Islam berkewajiban untuk menciptakan suasana religious dilingkungan
belajar (sekolah). Penciptaan ini dimaksud dalam rangka mengimplementasikan nilai-nilai
bersikap (attitude Value), nilai-nilai penghayatan (experiental Value) dan menumbuhkan
semangat kesadaran beragama. Karena itu, untuk menciptakan suasana tersebut, perlu
dikembangkan model fungsional untuk menciptakan suasana religious yang didasari atas
pemahaman bahwa pendidikan agama adalah upaya manusia untuk mengajarkan masalah
masalah kehidupan akhirat, disamping aktivitas duniawi yang berpijak pada tatanan moraletis. Penciptaan ini bersumber pada nilai nilai normative dan doktrin agama yang telah
diyakini kemutlakannya
Disamping itu melalui model struktural, untuk menciptakan suasana religious
dengan pendekatan dengan disemangati oleh adanya kedisiplinan yang teratur dengan
melalui penanaman budaya yang melibatkan seluruh jajaran sekolah.
Dengan demikian lembaga pendidikan unggul dan model yang berbasis agama
secara langsung akan semakin terangkat dan memiliki kualitas lebih tinggi baik dari system
akademik maupun dihadapan masyarakat. Ditambah lagi proses pembelajarannya
menggunakan teknologi sebagai media bantu belajar mengajar bagi guru dan murid, dengan
menggunakan media teknologi siswa diharapkan mampu dan mudah dalam penyerapan
materi yang dipelajari.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan

dari

pembahasan

di

atas

bahwasanya

sekolah

unggulan sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam


keluaran (output) pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut maka
masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen,
layanan

pendidikan,

menunjang

serta

tercapainya

sarana

tujuan

penunjangnya
tersebut.

harus

Karakter

diarahkan

sekolah

untuk

unggulan,

meliputi:input, saranan prasarana, lingkungan belajar, guru, kurikulum dan lain


sebagainya.
Sedangkan sekolah model adalah Sekolah model adalah sekolah yang
memiliki motif tersendiri yang bertaraf nasional ataupun internasional, sekolah
model mencerminkan sekolah yang berkualitas tinggi yang beracuan pada
system nasional ataupun internasional. Sekolah model

memiliki beberapa

karakter sekolah diantaranya, karakter visi, esensisl dan karakter mutu yang
meliputi:out put, proses, dan input.

DAFTAR PUSTAKA

bers Mohrman, Susan. 1994. School Based Management: Organizing for High Performance, San
Francisco.

nonim, 2006. Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. WIPRESS

nonim, 2006. Rencana Startegis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009. Departemen
Pendidikan Nasional. Jakarta.

hid Nur, 2009. Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia . Kediri: STAIN Kediri Press.

ifin, Imron, 1998. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengelola Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar
Berprestasi. Malang: IKIP-Malang.

aryana, Kir. 2007. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional (artikel). Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Pertama.

urniawan, Asep, 2007. PembaharuanPendidikan Islam di Indonesia (kajian historis), Jurnal Tarbiyah,
Vol.XX No.20 Desember.

ubis, Halfian .Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia (Badan Litbang dan Diklat Departemen
Agama Republik Indonesia),
M. Arifin. 2006. Ilmu pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Maksum , 1999. Madrasah:Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta:Logos

wacana Ilmu,)

Muhammad, 2009. Konsep Pengembangan Madrasah Unggul Jurnal Ilmiah Kreatif Vol. VI
no. 1 Januari
Sahlan , Asmaun 2010. Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah Malang: UIN-MALIKI
Press
Sardiman. 2011. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada.
Salim, Peter dan Salim , Yenny. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer Jakarta:
Modern English Press.
Trimantara , Petrus 2007. Sekolah Unggulan: Antara Kenyataan dan Impian Jurnal
Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni

Yasin Fatah, 2008. Dimensi-dimensi Pendidikan. Malang: UIN-Malang

(Sumber:
none.html)

Press.

http://erlynsyafiqoh.blogspot.co.id/2012/07/normal-0-false-false-false-en-us-x-

MADRASAH UNGGULAN
DAN MADRASAH MODEL

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teknologi Pendidikan

Dosen Pengampu:
Dr. Asaril Muhajir, M.Ag.

Oleh:
Nur Azizah
F0 5411138

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012
MADRASAH UNGGULAN
DAN MADRASAH MODEL

Abstrak: Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikelola


dibawah naugan Departemen Agama. Untuk meningkatkan mutu dan kualitas
pendidikan Islam, terutama masalah sains dan teknologi sehingga Departemen
Agama telah mengadakan proyek madrasah model yang dimaksudkan agar
terjadi pemerataan peningkatan kualitas madrasah secara nasional dan
madrasah model tersebut dapat menularkan kualitasnya bagi madrasahmadrasah lainnya didaerahnya. Langkah selanjutnya dari program madrasah
model ini telah membawa madrasah-madrasah lainnya untuk menjadi madrasah
unggulan dan mampu mensejajarkan dan meningkatkan mutu dan kualitas

lulusan yang dihasilkan, baik cerdas secara intelektual, emosional, maupun


spiritual.

Kata Kunci: Madrasah, Unggulan, Model

A. PENDAHULUAN
Pada masa sekarang banyak madrasah yang menamakan dirinya sebagai
lembaga pendidikan Islam unggulan. Namun tidak jelas kriteria dan standar yang
diberlakukan pada masing-masing madrasah. Untuk mengatasi problem ini,
maka sangat diperlukan standarisasi yang ditetapkan oleh pemerintah atau
institusi yang memiliki kewenangan untuk memberikan panilaian terhadap
performansi madrasah sebagai suatu lembaga pendidikan Islam. Hal ini sangat
urgen sekali untuk dibahas dalam tulisan ini, karena kualitas layak tidaknya
predikat unggulan bagi suatu madrasah akan mempengaruhi mutu dan kualitas
pendidikan Islam dibanding dengan pendidikan atau institusi pendidikan pada
umumnya. Mutu madrasah hendaknya dapat sejajar dan lebih unggul dari
pendidikan umum unggulan lainnya.
pada saat keadaan yang sama, langkah-langkah awal pemerintah untuk
mendukung adanya madrasah unggulan dan meningkatkan mutu dn kualitas
madrasah, pemerintah dibawah naungan Departemen Agama melahirkan
kebijakan-kebijakan dengan melahirkan madrasah model. Inspirasi adanya
madrasah model berawal adanya lulusan-lulusan madrasah dan kualitas
pendidikan di madrasah masih rendah dibandingkan dengan pendidikan umum
lainnya. Oleh sebab itu kebijakan tersebut terealisasi sehingga dari segi
manajemen, administrasi, personal dan lulusannya dapat mengembangkan
dirinya melalui bantuan fasilitas, beasiswa pendidikan lanjutan bagi guru-guru
dan lain-lain.
Madrasah yang mengatasnamakan dirinya sebagai sekolah unggulan dan
madrasah model harus diakui oleh pemerintah dan masyarakat, bukan oleh
madrasah/sekolah itu sendiri. Karena keunggulan berarti memiliki nilai yang lebih
dibanding dengan sekolah/madrasah yang lain dan tentunya nilai itu tidak hanya
dapat dilihat dari aspek fisik, melainkan juga aspek-aspek lain yang sangat
menentukan. Misalnya proses pembelajarannya ataupun output yang dihasilkan.
Begitupun juga sekolah yang mendapat predikat madrasah model dari
pemerintah harus mampu menunjukkan dirinya sebagai sekolah yang layak dan
pantas untuk dicontoh oleh sekolah atau madrasah lainnya.
Bila dicermati, dari kebijakan ini, bahwa harus ada implementasi baik
madrasah unggulan dan madrasah model untuk melibatkan teknologi
pendidikan, salah satunya teknologi pembelajaran. Sekolah dan guru sebagai
pelaku utama dalam penerapan madrasah unggulan dan madrasah model
dituntut inovatif dan kreatif untuk menggunakan perangkat teknologi, sehingga
mendukung kualitas pembelajaran.

B. PEMBAHASAN
1. Madrasah Unggulan
a. Pengertian Madrasah/Sekolah Unggulan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud
dengan unggul adalah lebih tinggi, pandai, kuat, dan sebagainya daripada yang
lain; terbaik; terutama. sedangkan Keunggulan artinya keadaan unggul;
kecakapan, kebaikan dan sebagainya yang lebih dari pada yang lain.[1]
Secara ontologis sekolah unggul dalam perspektif Departemen Pendidikan
Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam
keluaran (output) pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut maka
masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen,
layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk
menunjang tercapainya tujuan tersebut.[2]
Dengan demikian sekolah/madrasah unggulan dapat didefinisikan sekolah
yang dikembangkan dan dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua
komponennya untuk mencapai hasil lulusan yang lebih baik dan cakap daripada
lulusan sekolah lainnya.
b. Latar Belakang Munculnya Madrasah Unggulan
Sejak diberlakukannya Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan Nasional yang menempatkan madrasah sebagai bagian dari
subsistem pendidikan nasional. Madrasah pun dituntut untuk melakukan inovasi
dan pembaharuan diri baik secara kelembagaan maupun dari sisi mutu outputnya.[3]
Mutu output yang diharapkan telah terkonsep dalam UUD 1945 pasal 31
ayat 3 yang menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq mulia. Konsep ini memiliki tujuan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dimana menaruh harapan dan cita-cita bahwa
suatu lembaga pendidikan harus mampu membawa dan mengarahkan siswanya
untuk memiliki iman, taqwa dan akhlaq mulia. Sehingga mereka cerdas baik
secara intelektual, moral maupun spiritual. Madrasah sebagai lembaga
pendidikan memiliki tugas menyiapkan dan mengembangkan sumber daya
manusia berkualitas dibidang IMTAQ dan IPTEK yang perlu dibarengi dengan
terobosan dan inovasi yang up to date guna memfasilitasi lahirnya output yang
unggul.
Pada kenyataannya, madrasah/sekolah unggulan ternyata mendapat
dukungan dari masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasahmadrasah yang unggul dengan tanpa menghiraukan berapapun biaya yang
dikeluarkan. Sehingga mendirikan madrasah yang baiK (unggul) menjadi lahan
bisnis yang menggiurkan disamping misi sosial tertentu yang diemban oleh
yayasan yang mendirikan madrasah-madrasah unggul.[4]

Dalam konteks lembaga pendidikan atau sekolah istilah unggul dapat


dilekatkan pada madrasah yang pada akhirnya terdapat adanya keinginan dan
gairah baru dilingkungan organisasi pendidikan seperti madrasah untuk inovasi
menjadikan sekolahnya menjadi lebih baik kualitasnya dan unggul dari sekolah
lainnya. Usaha ini menuntut madrasah bukan hanya harus memiliki cita-cita dan
keinginan saja, tapi madrasah agar selalu memiliki kebutuhan berprestasi dan
terus berprestasi sehingga tercapai keunggulan dalam segala aspeknya.

c. Karakteristik Madrasah Unggulan


Secara umum Madrasah yang dikategorikan unggul harus meliputi tiga
aspek. Ketiga aspek tersebut adalah:
1) Input
Daniel Goleman, dalam bukunya, menyebutkan bahwa kemampuan
mengenal diri dan lingkungannya adalah kemampuan untuk melihat secara
objektif atau analisis, dan kemampuan untuk merespon secara tepat, yang
membutuhkan kecerdasan otak/Intelligence Quotien (IQ) dan kecerdasan
emosional/Emotional Quotien (EQ). Di samping itu, kecerdasan spiritual/Spiritual
Quotien (SQ) calon siswa hendaknya dapat terukur saat seleksi siswa baru.
Dengan demikian, tes seleksi siswa baru hendaknya dapat mengukur ketiga
aspek kecerdasan atau bahkan dapat mengukur berbagai kecerdasan/multy
intellegence. Sehingga, tes seleksi siswa baru tujuannya tidak semata-mata
untuk menerima atau menolak siswa tersebut tetapi jauh ke depan untuk
mengetahui tingkat kecerdasan siswa. Dengan data tingkat kecerdasan siswa
tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan proses
pembinaannya dan bahkan dapat untuk menentukan target atau arah
pendidikan di masa depan. [5]
Untuk madrasah dapat menyeleksi siswa oleh sekolah dengan sistem
seleksi yang sangat ketat. Selain seleksi bidang akademis, juga diberikan
persyaratan lain sesuai tujuan yang ingin dicapai sekolah. Misalkan tes IQ,
prestasi belajar dari jenjang pendidikan sebelumnya, tes kesehatan, kemampuan
membaca al-Quran, wawasan keagamaan.[6]
Sungguh suatu keunggulan luar biasa bila suatu madrasah sudah mampu
selektif dalam proses penerimaan siswa baru. Calon siswa nantinya dapat dibina,
dibimbing dan belajar sesuai dengan tingkatan kecerdasan mereka, yang
nantinya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang unggul.
2) Proses
Proses belajar-mengajar sekolah unggul ini setidaknya berkaitan dengan
kemampuan guru, fasilitas belajar, kurikulum, metode pembelajaran, program
ekstrakurikuler, dan jaringan kerjasama.
a) Kemampuan guru.

Sekolah unggul harus memiliki guru yang unggul juga. Artinya, guru
tersebut harus profesional dalam melaksanakan proses belajar-mengajar. Adapun
kompetensi guru yang memungkinkan untuk mengembangkan suatu lembaga
pendidikan yang unggul adalah: a)Kompetensi penguasaan mata pelajaran; b)
Kompetensi dalam pembelajaran; b) Kompetensi dalam pembimbingan; c)
Kompetensi komunikasi dengan peserta didik; dan d) Kompetensi dalam
mengevaluasi.[7]
Untuk mengembangkan kompetensi ini guru harus selalu rajin-rajin
membaca, belajar terus menerus, selalu up to date membaca fenomena sosial
yang terjadi dimasyarakat sehingga pembelajaran bersifat faktual dan
kontekstual. Pembelajaran dapat berjalan efektif sehingga mencapai tujuan yang
ingin dicapai.
Pembelajaran bisa dikatakan efektif, bila guru mampu memberikan
pengalaman baru bagi siswanya, membentuk kompetensi siswa, serta
melibatkan peserta didik dalam perencanaan pelaksanaan dan penilaian
pembelajaran. Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan
oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Misal salah
satunya dengan tanya jawab.[8]
Disamping itu guru harus ikhlas memberi pelayanan kepada siswa dalam
belajar, dalam artian siswa merasa nyaman berada dalam bimbingan guru
tersebut. Guru harus mampu menilai hasil balajar ranah kognitif, psikomotorik
dan afektif siswa dan dapat mengetahui siapa dan ranah apa saja yang belum
dikuasai oleh siswa, sehingga guru tepat memberi pencerahan kembali kepada
siswanya.
Nah dengan demi Guru yang profesional, dalam pembelajaran harus
menempuh empat tahap, yaitu: Pertama, Persiapan dalam arti yang luas adalah
segala usaha misalnya membaca, kursus, pelatihan, seminar, diskusi, lokakarya
yang dilakukan oleh guru dalam rangka mengembangkan profesionalitasnya.
Persiapan dalam perngertian yang sempit adalah kegiatan pembuatan program
kerja guru yang meliput penyusunan kegiatan pembelajaran selama satu tahun,
program semester, penyusunan silabus dan pembuatan rencara pelaksanaan
pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum. Kedua, Pelaksanaan, bahwa guru
harus fleksibel, artinya pelaksanaan program disesuaikan dengan kondisi dan
situasi peserta didik. Fokus pelaksanaan pembelajaran adalah pengalaman
peserta
didik,
baik
pengalaman
kognitif,
afektif,
maupun
psikomotorik. Ketiga, Penilaian perlu dilakukan terhadap kedua belah pihak, baik
guru maupun siswa. Penilaian harus dilakukan secara objektif dan
transparan. Keempat, Refleksi. Tindakan yang dilakukan dengan memikirkan
aktivitas pembelajarannya dan melaksanakan pembelajarannya berdasarkan
tujuan yang jelas atas dasar pertimbangan moral dan etika.[9]
Guru harus mampu tanggap terhadap aktivitas pembelajaran dengan
melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan siswa sehingga tujuan
pembelajaran akan tercapai.

Proses pendidikan Islam tidak akan berhasil dengan baik tanpa peran
guru yang professional, terutama pada proses pembelajaran saat guru
menggunakan metode dan memberikan materi. Peranan guru sangat penting
tersebut bisa menjadi potensi besar dalam memajukan atau meningkatkan mutu
pendidikan. Guru yang benar-benar berlaku professional dan dapat mengelola
dengan baik, tentunya mereka akan makin semangat dalam menjalankan
tugasnya, bahkan rela melakukan inovasi-inovasi pembelajaran untuk
mewujudkan kesuksesan pembelajaran peserta didik. Namun jika mereka
terlantar akibat tindakan pimpinan mereka justru bisa menjadi penghambat
serius terhadap proses pendidikan. Sikap guru ini sangat tergantung pada
kualitas manajemen personalia.[10]

b) Fasilitas belajar.
Sekolah unggul harus dilengkapi dengan fasilitas yang mewadahi.
memiliki sarana dan prasarana yang mewadahi bagi siswa untuk menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi.
c) Kurikulum.
Sekolah unggul tidak harus menggunakan kurikulum yang rstandar
internasional. Kurikulun nasional dengan berbagai penyempurnaan sesuai
kebutuhan perkembangan siswa pun cukup baik. Terutama dari segi bahan,
misalnya bidang IPA dan PAI, masih terlalu menekankan bahan-bahan klasik yang
memang penting, tetapi kurang memasukkan bahan dan penemuan modern
yang lebih dekat dengan situasi teknologi saat ini. Misalnya mengkaitkan materimateri dari kedua mata pelajaran tersebut. Di samping itu, penguasaan bahasa
Arab, bahasa inggris dan bahasa Indonesia mutlak diperlukan. Sehingga siswa
dapat mengkomunikasikan gagasan dan pengetahuannya kepada orang lain
secara sistematis dengan menggunakan kedua bahasa tersebut. Perpaduan
kedua kurikulum itu akan sangat membantu dalam menghasilkan generasigenerasi masa depan yang lebih unggul.
d) Metode pembelajaran.
Sekolah yang unggul harus menggunakan metode pembelajaran yang
membuat siswa menjadi aktif dan kreatif yang disertai dengan kebebasan dalam
mengungkapkan pikirannya.
e) Program ekstrakurikuler
Sekolah unggul harus memiliki seperangkat kegiatan ekstrakurikuler yang
mampu menampung semua kemampuan, minat, dan bakat siswa. Keragaman
ekstrakurikuler akan membuat siswa dapat mengembangkan berbagai
kemampuannya di berbagai bidang secara optimal

g)

Jaringan kerjasama.

Sekolah unggul memiliki jaringan kerjasama yang baik dengan berbagai


instansi, terutama instansi yang berhubungan dengan pendidikan dan
pengembangan kompetensi siswa. Dengan adanya kerjasama dengan berbagai
instansi akan mempermudah siswa untuk menerapkan sekaligus memahami
berbagai sektor kehidupan (life skill).[11]
3) Output
Sekolah unggul harus menghasilkan lulusan yang unggul. Keunggulan
lulusan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian yang tinggi. Indikasi lulusan yang
unggul ini baru dapat diketahui setelah yang bersangkutan memasuki dunia
kerja dan terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Kemampuan lulusan yang dihasilkan dirasa unggul, bila mereka telah
mampu mengembangkan potensi intelektual, potensi emosional, dan potensi
spiritualnyadimana mereka berada.[12]

2. Madrasah Model
a. Pengertian Madrasah Model
Dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah model diartikan adalah pola,
contoh, acuan atau macam dari sesuatu yang akan dibuat.[13]
Kemudian istilah ini dilekatkan dengan madrasah/sekolah sebagai salah
satu program lembaga pendidikan. Program madrasah model adalah sebuah
program yang ditujukan untuk menjadikan satu madrasah sebagai madrasah
yang baik dalam semua unsurnya, agar dapat digunakan sebagai percontohan
bagi madrasah-madrasah disekitarnya.[14]
Dengan program madrasah model pada satu madrasah yang ditunjuk oleh
pemerintah sebagai sekolah percontohan bagi madrasah sekitarnya, madrasah
tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas mutu lembaga pendidikan dan
mampu menjadi model yang yang patut dicontoh oleh sekolah lainnya sehingga
keberadaannya dapat memberi efek positif kepada sekolah-sekolah sekitarnya.
b. Latar Belakang munculnya Madrasah Model
Program madrasah Aliyah model dimulai pada 1993 melalui proyek JSEP
(Junior secondary education project) dan kemudian pada tahun 1998 diteruskan
dengan program BEP (Basic Education Project) untuk MI dan Mts. Pada tahun
2000 dikembangkan proyek DMAP (Development of Madrasah Aliyah Project)
untuk MA.[15]
Program ini diadakan dengan dasar pemikiran bahwa pada saat itu citra
madrasah sebagai lembaga pendidikan formal, madrasah masing dianggap
sebagai lembaga pendidikan kelas dua setelah sekolah umum. Kerena dalam
kenyataannya, memang banyak madrasah memiliki kelemahan dalam praktek
penyelenggaraan pendidikan madrasah, yaitu dalam hal manajemennya, bidang
profesionalitas gurunya, masalah kualitas lulusannya, dan dibidang sarana dan
prasarana. Dengan keaadaan tersebut, Departemen Agama sebagai Pembina

madrasah melakukan beberapa program yang diharapkan dapat mengangkat


citra madrasah, agar sejajar dengan sekolah yang berada dibawah pembinaan
Departemen Pendidikan Nasional.[16]
Kemudian Depag menunjuk beberapa madrasah sebagai madrasah
model, yang mana setiap daerah hanya satu madrasah yang mengikuti program
madrasah model. Sehingga madrasah tersebut mendapat beberapa bentuk
bantuan sarana, fasilitas belajar, gedung-gedung baru, hingga bantuan
pendidikan atau beasiswa bagi guru-guru madrasah untuk melanjutkan
pendidikannya ke luar negeri tingkat S2.[17]
Dari upaya ini, Departemen keagamaan pada saat itu sangat
menginginkan adanya perubahan yang signifikan terhadap kualitas madrasah
sebagai lembaga pendidikan yang nantinya bisa sejajar dan unggul dengan
sekolah umum lainnya.
Jadi, hal ini menjadi misi yang diemban oleh Madrasah Model yang telah
ditunjuk oleh Depag di masing-masing daerah adalah tidak hanya unggul
sendirian namun harus membantu madrasah lain sekitarnya dalam
meningkatkan kualitas pendidikan mereka, berperan sebagai lokomotif yang
menarik madrasah-madrasah swasta di sekitanya sehingga menjadi madrasah
yang berkualitas.
c.

Desain Pengembangan Madrasah Model


Berikut ini beberapa poin penting yang harus dimiliki oleh para pengelola
madrasah menuju terwujdnya madrasah unggul: [18]

1) Kepala Madrasah
Kepala madrasah dituntut dapat menerjemahkan perananya
sebagaiprofessional leader dalam tindakan dan perilaku yang mendorong
dirinya, guru dan staf yang ada menuju visi keunggulan.
2) Guru
Guru juga harus siap untuk mengembangkan bahan-bahan pembelajaran,
pendekatan, alat-alat yang diperlukan untuk mendukung potensi siswa untuk
berkembang.
3) Kurikulum
Kurikulum merupakan pedoman bagi guru dalam menyelenggarakan
pembelajaran. Kurikulum memberikan konsep-konsep standar dari mata
pelajaran yang perlu diajarkan kepada siswa berdasarkan pertimbangan
akademik dan perkembangan psikologi siswa. Apa yang akan diajarkan kepada
siswa adalah apa yang sebenarnya diperlukan oleh siswa dan menstimulasi
siswa untuk mempelajari sendiri (rasa keingintahuan).
4) Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran lebih mendorong siswa dalam merasa
tertantang untuk belajar untuk mengembangkan keingintahuan individu siswa

untuk mendalami sesuatu. Siswa membangun pengetahuan dan kegunaan apa


yang dipelajari dalam satu kesatuan. Oleh karena itu, interaksi siswa dengan
pihak lain termasuk sumber belajar yang ada di lingkungan madrasah
merupakan bagian dari peran guru dalam membantu terciptanya kondisi yang
mendukung minat dan keasyikan siswa untuk mempelajari sesuatu.
5) Penilaian
Penilaian pembelajaran bukan hanya untuk melihat daya serap yang
dipelajari. Tetapi juga untuk mengetahui faktor yang menjadikan siswa
mengalami kesulitan dalam belajar, mengembangkan kemampuan siswa
mengenai apa yang ingin dicapai sejalan dengan potensi dan kebutuhan masingmasing. Siswa memahami apa yang dinilai, untuk apa dan bagaimana penilaian
dilaksanakan[19]
Secara umum persyaratan sebagai sekolah model adalah sebagai berikut:
[20]
1)

Memiliki manajemen madrasah yang baik.

2)

SDM yang berkualitas

3)

Kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan

4)

Bantuan pendidikan yang memadai

5)

Keunggulan kualitas lulusan


Madrasah Model dimaksudkan sebagai center for excellence yang
dikembangkan lebih dari satu buah dalam setiap provinsi. Madrasah Model
diproyeksikan sebagai wadah penampung putra-putri terbaik masing-masing
daerah untuk dididik secara maksimal tanpa harus pergi ke daerah lain.
Keberadaan
Madrasah
Model
juga
dapat
mencegah
terjadinya eksodus (perngungsian) SDM terbaik suatu daerah ke daerah lain
disamping juga menstimulir tumbuhnya persaingan sehat antar daerah dalam
menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM).[21]
Proses menjadikan suatu madrasah menjadi madrasah unggul dan
menjadi model bagi sekolah lain merupakan pengembangan madrasah yang
tepat dalam rangka meningkatkan nilai dan mutu pendidikan Islam dimata
masyarakat.
Secara rinci strategi pengembangan Madrasah Model sebagai
berikut:Pertama, Aspek Administrasi atau Manajemen; a) Maksimal 6 kelas untuk
tiap tingkatan; b) Tiap kelas terdiri atas 30 siswa; c) Rasio guru kelas adalah
1:25; d) Mendokumentasi perkembangan tiap siswa; e) Transparan dan
akuntabel. Kedua;Aspek Ketenagaan; a) Kepala Madrasah minimal S2 untuk MA,
S1 untuk MTs dan MI, Pengalaman minimal 5 tahun menjadi kepala madrasah.
mampu berbahasa Arab atau berbahasa Inggris, lulus tes (fit dan proper
test), sistem kontrak satu tahunan, dan siap tinggal di kompleks
madrasah; b) Guru minimal S1, spesialisasi sesuai mata pelajaran, pengalaman
mengajar minimal 5 tahun, mampu berbahasa Arab atau bahasa Inggris, lulus

test (fit and proper test), sistem kontrak 1 tahun; c) Tenaga lain minimal S1,
spesialisasi sesuai dengan bidang tugas, dan pengalaman mengelola minimal 3
tahun.
Sedangkan aspek kesiswaan, madrasah model harus memiliki kriteria
sebagi berikut: Pertama, Input yang berarti siswa sepuluh besar MTs (untuk
MA), sepuluh besar MI (untuk MTs), dan lulus tes akademik (bahasa Arab dan
Inggris). Kedua,Output yang berarti siswa menguasai berbagai disiplin ilmu,
mampu berbahasa Arab maupun bahasa Inggris, terampil menulis dan berbicara
(Indonesia) dengan baik, dan siap bersaing untuk memasuki jenjang lebih tinggi
yakni universitas atau institut bermutu di dalam negeri. Ketiga, aspek kultur
belajar yang a) Full day school; b)Student centered learning; c) Kurikulum
dikembangkan dengan melibatkan seluruh elemen madrasah termasuk siswa; d)
Bahasa pengantar Arab dan Inggris; e) SistemDroup Out; f) Pendekatan belajar
dengan fleksibelitas tinggi dengan mengikuti perkembangan metode-metode
pembelajaran
terbaru. Keempat, aspek
sarana
dan
prasarana
harus
memiliki perpustakaan
yang memadai, laboratorium (IPA,
Bahasa
dan
Matematika), laboratorium alam yang memadai, mushalla, lapangan dan fasilitas
olahraga lainnya.

C.

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM MELALUI MADRASAH UNGGULAN


DAN MADRASAH MODEL
Pengembangan pendidikan Islam dapat terealisasi melalui adanya
kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Institusi yang melahirkan
kebijakan-kebijakan yang mendukung program madrasah unggulan dan
madrasah model ini adalah Departemen Agama.
Madrasah sebagai suatu institusi pendidikan harus mampu
mengembangkan mutu dan keunggulan pendidikan. Madrasah yang
mengenalkan dirinya sebagai sekolah unggul, harus beda dari pada sekolah
lainnya. Madrasah harus memiliki keuggulan yang layak dibanggakan oleh
sekolah dan masyarakat. Dalam hal ini dikenal dua jenis keunggulan, yaitu;

1. Keunggulan Komparatif
Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang sudah disediakan,
dimiliki tanpa perlu adanya suatu upaya. Kekayaan alam yang dimiliki oleh suatu
wilayah adalah contoh nyata keunggulan komparatif. [22]
Dalam konteks lembaga pendidikan, keunggulan komparatif menekankan
pada keunggulan kaitannya dengan sumber daya yang disediakan, dimilki tanpa
perlu adanya suatu upaya. Misalkan suatu madrasah dibandingkan dengan
madrasah lainnya memiliki fasilitas belajar yang diperoleh dari bantuan dari
pemerintah, sedangkan sekolah disekitarnya belum menerima bantuan fasilitas
belajar. Nah sekolah ini memiliki keunggulan komparatif.
2.

Keunggulan Kompetitif

Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang timbul karena ada suatu


upaya yang dilakukan untuk mencapainya. Keunggulan kompetitif terkait dengan
daya saing suatu produk yang relatif mapan sehingga mampu memasuki pasar
tertentu dengan tingkat harga dan kualitas sesuai kebutuhan penggunanya.
Produk yang memiliki keunggulan kompetitif biasanya didukung oleh pelayanan
memadai sehingga memiliki daya saing dibandingkan dengan produk yang
berasal dari sumber lain.[23]
Madrasah atau sekolah yang memiliki keunggulan kompetitif akan terus
mengejar prestasinya sehingga mampu bersaing dengan sekolah lain, walaupun
sudah mendapat bantuan dari pemerintah sekolah unggulan ini tetap dan terus
berusaha meningkatkan kualitas keunggulannya, baik dalam hal manajemennya
maupun outputnya. Pelayanan terhadap siswa dikelola dengan baik sehingga
mereka dapat belajar dalam keadaan kondusif. Lulusan yang berkualitas akan
dicari oleh masyarakat untuk diberdayakan potensinya yang diperoleh ketika
disekolah.
Tantangan kehidupan saat ini lebih mengutamakan keunggulan kompetitif
dibandingkan keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif menekankan pada
keunggulan kaitannya dengan sumber daya yang disediakan. Sedangkan
keuntungan kompetitif bersandar pada penguasaan IPTEK serta informasi. Atas
dasar
pemahaman
tersebut,
yang
dimaksud
dengan
keunggulan/excellence pada istilah Center for Excellence adalah jenis
keunggulan kompetitif yaitu keunggulan yang diraih melalui suatu usaha.
Sedangkan mengembangkan madrasah unggul merupakan satu
aktivitas yang kompleks karena berkaitan dengan pengembangan sebuah
organisasi sebagai wadah terhimpunnya komunitas yang memiliki latar belakang
yang beragam. Membangun budaya unggul dalam sebuah organisasi, termasuk
budaya unggul dalam lingkungan madrasah memerlukan proses dan waktu yang
panjang.
Mengembangkan keunggulan dalam sebuah sekolah/madrasah melalui
pendekatan budaya organisasi berarti mengorganisasi beragam manusia dan
melebur mereka dalm satu pikiran yang terarah ke pembuatan produk dan
layanan terbaik, pemuasan pelanggan sepenuhnya dan pemeliharaan warga
organisasi itu sendiri. Berikut ini hal-hal yang mendukung untuk
mengembangkan
organisasi
madrasah
dalam
mencapai
keunggulan,
diantaranya:
1) Visi untuk unggul
Visi unggul menjadi demikian sentral posisinya dalam
pengembangan madrasah unggul, sebab tanpa visi, mimpi dan gambaran
tentang masa depan sebuah organisasi sulit untuk berjalan lancar. Dengan visi
unggul sebuah madrasah selalu mengupayakan arah masa depan yang lebih
baik, memiliki SDM yang religious, terampil mandiri dan berwawasan ke depan.
[24]
2) Kepemimpinan yang inspiratif

Organisasi membutuhkan kepemimpinan yang professional tapi rendah


hati, visioner dan inspiratif. Kepemimpinan yang mampu mengubah dan
memperbarui organisasi serta dapat membangkitkan semangat dan memberikan
inspirasi kepada segenap komunitas organisasi yang dipimpinnya.
3) Kolaborasi dan Kolegilitas
Kolaborasi mencakup semua aktivitas yang dilakukan oleh
komunitas organisasi pembelajar dan layanan pendukung eksternalnya bersamasama berbagi informasi dan ide-ide, merencankan bersama, dan bersama-sama
pula membuat keputusan dan partisipasi dalam pengembangan organisasi.
Kolegialitas lebih menekankan interaksi interpersonal yang dibangun melalui
keterbukaan atau keyakinan.[25]

4)

Membangun rasa saling percaya


Dalam sebuah organisasi terdapat team work yang tidak mungkin bekerja
sama kecuali atas dasar nilai saling mempercayai atau mampu menjadikan diri
sebagai anggota yang pantas dipercayai. Di lembaga pendidikan seperti
madrasah juga diperlukan semangat saling mempercayai dalam bekerja sama
agar tercipta iklim organisasi yang kondusif bagi komunitas madrasah.

5)

Membangun jaringan sosial (social capital)


Untuk menjadi sekolah organisasi unggul, madrasah perlu memiliki
kecerdasan sosial. Kemampuan sebuah madrasah untuk tetap survive tidak
hanya ditentukan oleh seberapa besar kemmpuannya dalam menghasilkan
output yang berkinerja dan berprestasi unggul, tetapi juga ditentukan oleh
koneksinya dengan stakeholders, dan para pengguna jasa. Yaitu salah satunya
tetap menjaga kepercayaan stakeholders terhadap keunggulan madrasah
dengan mempertahankan dan meningkatkan citra serta kinerja organisasi
madrasah unggul.
Dengan merealisasikan beberapa bentuk pendekatan-pendekatan
pengembangan pendidikan Islam melalui madrasah unggulan maka diharapkan
akan melahirkan lulusan yang bisa menampilkan citra diri sebagai sosok
makhluk Tuhan yang didalam dirinya terdapat potensi rasional (nalar), emosi dan
spiritual. Tiga dimensi keunggulan dalam perspektif Islam mencitrakan sosok
manusi utuh. Lembaga pendidikan yang terlalu banyak menekankan pentingnya
nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja, mengabaikan kecerdasan emosi
(EQ) yang mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas,
ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan
diri atau sinergis menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya.[26]
Dalam
perspektif
pendidikan
ideal
belumlah
cukup
untuk
menggambarkan keutuhan sosok manusia. Sebab dalam diri manusia terdapat
satu aspek penting lainnya yaitu potensi spriritual. Kecerdasan yang membuat
manusia berbuat kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kasih sayang dalam

hidup, kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup manusia dalam kontek
makna yang luas dan lebih kaya. Kecerdasan spiritual yang ditanamkan melalui
pendidikan akan memberikan bekal kepada peserta didik sehingga mampu
menjawab keprihatinan dirinya tentang apa arti menjadi manusia, apa makna
dan tujuan puncak dari hidup manusia.[27]
Bila sekolah mampu mengorientasikan tiga kecerdasan tersebut berarti
sekolah/madrasah unggul telah mengakomodasi dan mengarahkan sisi
kemanusiaan peserta didik agar memiliki intelektualitas, spiritualitas, moralitas,
sosialitas, rasa, dan rasionalitas dalam kehidupannya. Sehingga output yang
dihasilkan akan mampu hidup serasi dan seimbang dengan lingkungan keluarga,
anggota masyarakat, alam, dan juga dengan Tuhan.
Begitu juga dengan madrasah model, semua komponen pendidikan di
madrasah harus mampu inovatif dan kreatif dalam mengemas dan memproses
penddikan Islam di madrasah. Semua komponen tersebut harus mendukung
untuk menghasilkan kualitas dan hasil output pendidikan madrasah yang
berkualitas dan mampu menjadi madrasah percontohan.. Sehingga madrasahmadrasah lain yang ada di daerah tersebut dapat belajar dan mencontoh pada
madrasah model yang ditunjuk Departemen Agama.
Menurut Fuad Fachruddin, pandangan tentang Madrasah Model akan
mewarnai wujud nyata tentang penyelenggaraan kegiatan pendidikan di
madrasah. Dalam mewujudkan Madrasah Model pertama-tama perlu dilakukan
perubahan cara pandang (paradigma) semua pihak yang terlibat secara
langsung seperti pimpinan madrasah dan guru-guru, maupun tidak langsung
seperti para pembina madrasah yang berada di bawah naungan Depag:
pengawas, kandep, kanwil dan pusat.[28]
Dengan demikian pemerintah akan mampu memfasilitasi madrasah
terhadap pengembangan pendidikan Islam, apa yang dimiliki dan apa yang
menjadi kebutuhan siswa dalam kerangka mengembangkan seluruh potensi
yang ada pada diri siswa baik itu potensi intelektual, emosional dan spiritualnya.
Dengan demikian madrasah dapat melahirkan sosok yang memiliki
intelektualitas tinggi yang siap berpotensi, responsif terhadap perkembangan
dan mempunyai pandangan ke depan dan sikap kritis, jati diri yang jelas, empati
ditopang dengan iman dan takwa dalam konteks madrasah model sebagai salah
satu lembaga pendidikan yang berciri khas Islam.

D.

KESIMPULAN
Madrasah unggulan ataupun madrasah model mampu mengubah citra
madrasah menjadi lebih baik dan bisa menunjukkan kualitasnya dikalangan
lembaga pendidikan pada umumnya. Program yang dicanangkan pemerintah ini
merupakan langkah positif untuk mensejajarkan kualitas madrasah dengan
sekolah umum, baik manajemennya maupun output yang dihasilkan, sehingga
memilki nilai lebih yang selalu dicari lulusannya dan didamba-dambakan
masyarakat.

Pada dasarnya, munculnya madrasah unggulan dan madrasah model


dilatar belakangi oleh masalah yang sama, yaitu masih rendahnya mutu
pendidikan Islam, terutama masalah output yang dihasilkan dan kualitas
manajemen yang ada di madrasah. Dari inilah, pemerintah melakukan langkah
awal dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung adanya
madrasah model. Seperti menyekolahkan guru-guru madrasah hingga tingkat S2
dan menyediakan fasilitas-fasilitas laboratorium dan lain-lain. Setelah proyek ini
jalan dan sukses menjadi madrasah percontohan bagi madrasah-madrasah
lainnya (madrasah swasta), madrasah-madrasah tersebut bangkit untuk bisa
berkembang seperti madrasah model negeri tersebut. Sehingga tidak menutup
kemungkinan madrasah swasta dapat menjadi madrasah unggulan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahid, Nur. Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia. Kediri: STAIN Kediri Press, 2009.

Alfiyah. Wawancara Guru MTsN Model. Bangkalan. 30 April 2012.

Fachruddin, Fuad dari Headlye Beare, dkk. Creating An Exellence School. London:
Routtledge, 1991.

_________. Madrasah Model: Indikator Obyektif dan Operasionalnya, Madrasah, Vol. 3,


No. 3, Jakarta: PPIM IAIN, 1998.

Lubis, Halfian. Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia. Badan Litbang dan
Diklat Departemen Agama Republik Indonesia, 2002.

Maimun, Agus dan Agus Zaenul Fitri. Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif. Malang: UIN Maliki Press, 2010.

Muhammad. Konsep Pengembangan Madrasah Unggul, Kreatif, Vol. 4, No. 1, Januari,


2009.

Qomar, Mujamil. Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Erlangga, 2007.

Sahlan, Asmaun. Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah. Malang: UIN- MALIKI Press,
2010.

Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta: Modern
English Press, 1991.

Siregar, Imran. Efektifitas Penyelanggaraan Madrasah Model: Studi tentang MAN 2


Model Padangsidempuan. Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan,
tth.

Suryana,
Cahya.
Mutu
dan
keunggulan
dalam http://csuryana.wordpress.com. 29 April 2012.

Trimantara, Petrus. Sekolah Unggulan: Antara Kenyataan


Pendidikan Penabur, Vol. 6, No.08, Juni, 2007.

Zayadi, Ahmad. Desain Pengembangan


Pendidikan Islam Depag, 2005.

Madrasah., Jakarta:

pendidikan,

dan

Impian, Jurnal

Dirjen

Kelembagaan

[1] Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern
English Press, 1991), 1685.
[2] Muhammad, Konsep Pengembangan Madrasah Unggul, Kreatif, Vol. 4, No. 1 (Januari
2009), 39.
[3] Ibid., 35.
[4] Agus Maimun dan Agus Zaenul Fitri, Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan
Alternatif di Era Kompetitif (Malang: UIN Maliki Press, 2010), 26.
[5] Petrus Trimantara, Sekolah Unggulan: Antara
Pendidikan Penabur, Vol. 6, No.08 (Juni 2007), 7.

Kenyataan

dan

Impian Jurnal

[6] Halfian Lubis, Pertumbuhan SMA Islam Unggulan di Indonesia (Badan Litbang dan
Diklat Departemen Agama Republik Indonesia), 79.
[7] Trimantara, Sekolah Unggulan:, 8.

[8] Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah (Malang: UIN-MALIKI Press,
2010), 45.
[9] Trimantara, Sekolah Unggulan:, 8.
[10] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya: Erlangga, 2007), 129.
[11] Trimantara, Sekolah Unggulan:, 9.
[12] Ibid.
[13] Peter dan Yenny, Kamus Bahasa,, 989.
[14] Nur Ahid, Problematika Madrasah Aliyah di Indonesia (Kediri: STAIN Kediri Press,
2009), 80.
[15] Ibid., 80.
[16] Imran Siregar, Efektifitas Penyelanggaraan Madrasah Model: Studi tentang MAN 2
Model Padangsidempuan (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, tth.),
12.
[17] Alfiyah, Wawancara guru MTsN Model, Bangkalan, 30 April 2012.
[18] Fuad Fachruddin dari Headlye Beare, dkk., Creating An Exellence School. (London:
Routtledge, 1991), 154-157.
[19] Fuad
Fachruddin,
Madrasah
Model:
Indikator
Obyektif
Operasionalnya, Madrasah, Vol. 3, No. 3 (Jakarta: PPIM IAIN, 1998), 20.

dan

[20] Ahid, Problematika, 80.


[21]Ahmad Zayadi, Desain Pengembangan Madrasah, (Jakarta: Dirjen Kelembagaan
Pendidikan Islam Depag, 2005), 57.
[22] Cahya
Suryana,
Mutu
dan
dalam http://csuryana.wordpress.com (29 April 2012), 1.

keunggulan

[23] Ibid., 2.
[24] Muhammad, Konsep Pengembangan Madrasah Unggul, 45.
[25] Muhammad, Konsep Pengembangan Madrasah, 46.
[26] Ibid., 41.
[27] Ibid., 42.
[28] Fuad Fachruddin, Madrasah Model:, 17-20.

(Sumber: http://isyfina.blogspot.co.id/2012/07/v-behaviorurldefaultvmlo.html)

pendidikan,

SEKOLAH EFEKTIF

MAKALAH
SEKOLAH EFEKTIF
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK) Manajemen Sekolah
Rombel 024
Dosen pengampu:
Dra. Lita Latiana, SH, M.H
Sony Zulfikasari, S.Pd

Oleh:
Dwi Ana Supriyanti
6101412005
Diyah Triani
7101412247
Erma Erviana
7101412265
Nur Afifah Nugraheni
7101412279
Siti Nurjanah
7101412318

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2013

PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, karena hanya dengan rahmat-Nyalah makalah ini
dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini disajikan sesederhana mungkin untuk memudahkan
pembaca dalam memahami isi makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Dra. Lita Latiana, SH, M.H
2. Sony Zulfikasari, S.Pd
selaku dosen pengampu Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK) Manajemen Sekolah, sehingga

kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.


Kami yakin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangannya, untuk itu kami berterima
kasih sekali jika Anda para pembaca dapat memberikan kritik yang membangun dan melengkapinya
dengan baik dan benar.

Semarang, 6 Oktober 2013


Penyusun

DAFTAR ISI

COVER i
PRAKATA ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah 1
3. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
1. Sekolah sebagai Suatu Sistem 3
2. Pengertian Sekolah Efektif 5
3. Konsep Sekolah Efektif 6
4. Ciri-ciri dan Karakteristik Sekolah Efektif
5. Kepemimpinan Sekolah Efektif 12
BAB III PENUTUP 15
1. Kesimpulan 15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sekolah sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar tidak berjalan begitu saja tanpa
adanya faktor-faktor lain yang mendukung. Sekolah merupakan suatu system dimana ada input,
proses, dan output. Ketiganya merupakan unsur yang tidak terpisahkan dan saling berhubungan satu
sama lain. Input sekolah misalnya ada siswa. Siswa mengikuti kegiatan belajar sebagai suatu proses.
Terpenting dalam suatu proses ialah kondisi belajar yang kondusif dilengkapi sarana dan prasarana
yang lengkap. Dengan suasana kondusif diharapkan siswa lebih konsentrasi ketika belajar. Output

nya yaitu lulusan yang berkualitas.


Efektivitas sekolah dapat terlihat dari visi misi yang mereka terapkan. Kemudian dilihat dari profil
sekolah juga nampak bagaimana keefektivan sekolah tersebut yang memliki keteraturan dalam
berbagai aspek untuk mencapai tujuan. Aspek-aspek tersebut diantaranya siswa, guru, kepala
sekolah, bimbingan dan konseling, hubungan antara sekolah dengan masyarakat pun harus
diperhatikan. Sehingga nantinya terjadi sinergi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Faktor lain yang kalah penting yaitu manajemen sekolah. Bagaimana sekolah tersebut diatur tentunya
akan memepengaruhi efektivitas sekolah. Kemudian kepemimpinan seorang kepala sekolah juga
sangat penting untuk menggerakkan sumber daya manusianya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud sekolah sebagai suatu system ?
2. Apakah yang dimaksud dengan sekolah efektif ?
3. Bagaimana kah konsep yang diterapkan pada sekolah efektif ?
4. Apakah Ciri-ciri dan Karakteristik sekolah efektif ?
5. Bagaimana kepemimpinan pada sekolah efektif ?

C. Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas maka makalah ini dibuat dengan tujuan agar pembaca
mengetahui dan memahami :
1. Sekolah sebagai suatu system
2. Pengertian sekolah efektif
3. Konsep pada sekolah efektif
4. Ciri-ciri dan karakteristik sekolah efektif
5. Kepemimpinan sekolah efektif

BAB II
PEMBAHASAN
A. SEKOLAH SEBAGAI SUATU SISTEM
Sistem berasal dari bahasa Latin (systma) dan bahasa Yunani (sustma) adalah suatu kesatuan
yang terdiri atas komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran
informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan.
Sistem menurut para ahli
L. James Havery, Sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian
komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai
suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
John Mc. Manama, Sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi
yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil
yang diinginkan secara efektif dan efesien.
C.W. Churchman, Sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk
melaksanakan seperangkat tujuan.
J.C. Hinggins, Sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan.
Edgar F Huse dan James L. Bowdict, Sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian
yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh
dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.
Sekolah sebagai suatu sistem, yaitu sekolah memiliki komponen inti yang terdiri dari input, proses,
dan output.
1. Input sekolah diantaranya :

- Sumber daya Manusia (man) yaitu siswa, guna dididik, dilatih, dibimbing dan dikembangkan
segala potensi yang dimiliki agar menjadi manusia seutuhnya. kepala sekolah, guru dan tenaga
kependidikan lain sebagai pendidik,pelatih dan pembimbing.
- Uang (money), merupakan komponen yang sangat penting guna memperlancar proses.
- Sarana dan prasarana sebagai penunjang proses pembelajaran di sekolah.
- metode-metode (methods) cara-cara / teknik dan strategi pembelajaran dalam mengatasi dan
mempermudah proses transfer ilmu dan pembelajaran dengan berbagai macam karaktristik dari
peserta didik.
2. Proses
Setelah adanya input kemudian unsur-unsur tersebut diproses dalam kegiatan belajar mengajar yang
meliputi :
- Proses kepemimpinan yang menghasilkan keputusan-keputusan pertisipatif yaitu keputusan dan
kesepakatan bersama antara kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa/ wali murid dan orangorang yang berkepentingan terhadap pendidikan serta pemotivasian terhadap staf agar dalam
menjalankan tugas lebih antusias, menghasilkan karya yang dapat dibanggakan dan mengharumkan
nama sekolah.
- proses manajemen yang menghasilkan aturan-aturan penyelenggaraan, pengelolaan
kelembagaan, pengolahan program, pengkoordinasian kegiatan, memonitoring dan evaluasi yang
bertujuan menganalisis serta mengetahui apakah pelaksanaan proses berjalan sesuai planning dan
tujuan atau menyimpang, dan evaluasi sebagai mengambilan serta pertimbangan pengambilan
keputusan berdasarkan monitoring. (Komariah dan Triatna; 2004:5).
3. Output
Dalam sekolah sebagai suatu sistem, output sekolah berupa lulusan siswa. Siswa adalah fokus dari
Output sekolah, dengan catatan siswa harus memiliki kompetensi yang telah dipersyaratkan. Output
sekolah adalah lulusan yang bermanfaat bagi kehidupan, baik secara personal, maupun sosial,
individu dan juga kelompok, ditinjau dari sudut lulusan. Sedangkan pada pendididan dasar dan
menengah, siswa dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi jika ingin melanjutkan,
dan dapat bekerja/ mencari nafkah, baik dengan mempekerjakan diri kepada orang lain atau
mempekerjakan orang lain dengan membuka lapangan kerja baru berdasarkan kemampuan yang
dimiliki dan didapat dari pendidikan.
B.
1.

PENGERTIAN SEKOLAH EFEKTIF


Pengertian Efektif
Menurut KBBI, Efektif adalah ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya); 2 manjur atau
mujarab (tt obat); 3 dapat membawa hasil; berhasil guna (tt usaha, tindakan); mangkus; 4 mulai
berlaku (tt undang-undang, peraturan).
Efektif adalah suatu pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari
serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya.
Efektivitas menunjukan ketercapaian sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas
organisasi merupakan kemampuan organisasi untuk merealisasikan berbagai tujuan dan kemampuan
untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mampu bertahan hidup.
2. Sekolah Efektif
Sekolah efektif dapat diartikan sebagai sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan
dalam menyelenggarakan proses belajarnya, dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutupada
peserta didik sesuai dengan tugas pokoknya. Pada sekolah efektif semua potensi yang dimiliki
peserta didik dijamin berkembang secara optimal.
Pengertian sekolah efektif menurut para ahli:
1. Peter Mortimore (1996) : sekolah efektif dapat diartikan sebagai A high performing school,
through its well-established system promotes the highest academic and other achievements for the

maximum number of students regardless of its socio-economic background of the families.


2. Taylor (1990) mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang mengorgansiasikan dan
memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk menjamin semua siswa (tanpa
memandang ras, jenis kelamin maupun status sosial ekonomi) bisa mempelajari materi kurikulum
yang esensial di sekolah.
3. Cheng (1996) mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang memiliki kemampuan dalam
menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, fungsi sosial kemanusiaan, fungsi
politis, fungsi budaya maupun fungsi pendidikan. Fungsi ekonomis sekolah adalah memberi bekal
kepada siswa agar dapat melakukan aktivitas ekonomi sehingga dapat hidup sejahtera. Fungsi social
kemanusiaan adalah sekolah sebagai media bagi siswa untuk beradaptasi dengan kehidupan
masyarakat. Fungsi politis sekolah adalah sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan tentang
hak dan kewajiban sebagai warganegara. Fungsi budaya sekolah adalah media untuk melakukan
transmisi dan transformasi budaya. Adapun fungsi pendidikan adalah sekolah sebagai wahana untuk
proses pendewasaan dan pembentukan kepribadian siswa.
Pengertian lain tentang sekolah efektif yakni menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam
menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, sosial, politis, budaya maupun
pendidikan. Fungsi ekonomis sekolah memberi bekal kepada peserta didik agar dapat melakukan
aktivitas ekonomi yang bermuara pada kehidupan yang sejahtera. Sekolah sebagai media adaptasi
peserta didik dengan kehidupan masyarakat merupakan fungsi sosial. Sementara fungsi politisnya,
sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan teritang hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Sekolah memiliki fungsi budaya apabila dijadikan media transformasi budaya. Adapun fungsi
pendidikan, sekolah merupakan wahana proses pendewasaan dan pembentukan kepribadian peserta
didik.

C. KONSEP SEKOLAH EFEKTIF


Sekolah efektif dapat dilihat dari sudut pandang mutu pendidikan, sudut pandang manajemen dan
sudut pandang teoriorganisasi.

Sekolah efektif dari sudut pandang mutu pendidikan


Masyarakat kerap mengaitkan perolehan nilai UN sebagai parameter keberhasilan peserta didik
maupun satuan pendidikan. Peserta didik dikatakan berhasil apabila mereka berhasil menorehkan
angka di atas standar yang ditetapkan. Satuan pendidikan dianggap bermutu tinggi manakala seluruh
peserta didiknya lulus UN, tidak ada satu pun yang tercecer disana.
Sudut pandang di atas tidak seluruhnya benar. Masih banyak indikator-indikator lain yang menjadi
tolak ukur mutu pendidikan. Misalnya, indikator nilai sikap dan keterampilan.
lndikator afektif dan atau kecerdasan emosi seperti kemampuan menahan diri, memiliki stabilitas
emosi, selalu memahami orang lain, tidak mudah putus asa, pantang menyerah, sabar, memiliki
kesadaran diri, motivasi yang berlipat, kreativitas yang dinamis, memiliki empati, toleran merupakan
karakteristik yang jauh lebih penting dimiliki peserta didik ketimbang sekedar pencapaian nilai UN itu
sendiri.
Dari tema analisis sekolah efektif dalam perspektif mutu pendidikan dapat dikatakan bahwa sekolah
yang efektif adalah sekolah yang:
1. memiliki masukan siswa dengan potensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum
2. dapat menyediakan layanan pembelajaran yang bermutu
3. memiliki fasilitas sekolah yang menunjang efektivitas dan efesiensi kegiatan belajar mengajar
4. memiliki kemampuan menciptakan budaya sekolah yang kondusif sebagai refleksi dari kinerja
kepemimpinan profesional kepala sekolah.
Sekolah efektif dari sudut pandang manajemen
Manajement dipahami sebagai rangkaian kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
pengawasan, dan pengendalian pekerjaan. Secara substansial jelas yang di-manage adalah seluruh
unsur termasuk keuangan, sistem, prosedur, dan metodenya serta informasi yang berkaitan.

Manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan
melalui tindakan yang rasional, dan sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian,
pengerahan tindakan, dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektifdan efisien.
Tindakan-tindakan manajemen tersebut bersumber pada kebijakan dan peraturan-peraturan yang
menjadi konsensus bersama dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai, dan perilaku dari seluruh
yang terlibat di dalamnya dan terjadi dalam satu keutuhan kompleksitas sistem.
Apabila dilihat dalam perspektif ini, maka dimensi sekolah efektif meliputi:
1) Layanan Belajar bagi Siswa
2) Pengelolaan dan Layanan Siswa
3) Sarana dan Prasarana Sekolah
4) Program dan Pembiayaan
5) Partisipasi Masyarakat
6) Budaya Sekolah.

Sekolah efektif dari sudut pandang teori organisme


Menurut teori organisme, dunia ini bukan benda mati, melainkan merupakan suatu energi yang
memiliki kapasitas berubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam perspektif ini,
maka bentuk kehidupan apa pun hanya akan mampu bertahan apabila organisme itu mampu
memberikan respon yang tepat untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di
sekitarnya
Apabila teori ini diaplikasikan di sekolah, maka sekolah harus lebih dinamis dalam menjawab
perubahan-perubahan yang terjadi. Setiap satuan pendidikan selayaknya melakukan terobosanterobosan, serta inovasi agar memiliki cukup daya saing. Sekolah harus senantiasa mempertahankan
eksistensinya dan tetap berorientasi pada tujuan. Jika ini dilakukan, tidak menutup kemungkinan apa
yang disebut sebagai self-renewing schools, atau adaptif schools, atau kerap diistilahkan dengan
learning organization dapat terwujud, yakni suatu kondisi di mana institusi sekolah sebagai satu
entitas mampu mengurai setiap problem yang dihadapi serta menunjukkan kemampuan berinovasi.

D. CIRI-CIRI DAN KARAKTERISTIK SEKOLAH EFEKTIF


1. Ciri-Ciri Sekolah Efektif
Tabel 2.1
Ciri-ciri dan Indikator Efektivitas Sekolah
Ciri-ciri Indikator
Tujuan sekolah dinyatakan secara jelas Tujuan sekolah:
o Dinyatakan secara jelas
o Digunakan untuk pengambilan keputusan
o Dipahami oleh siswa, guru dan staf
Pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang kuat Kepala Sekolah:
o Bisa dihubungi dengan mudah
o Bersikap responsif kepada guru, staf, dan siswa
o Responsif kepada orang tua dan masyarakat
o Melaksanakan kepemimpinan yang terfokus pada pembelajaran
o Menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai dengan rasio ideal
Ekspektasi guru dan staf tinggi Guru dan staf :
o Yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan berprestasi
o Menekankan pada hasil akademis
o Memandang guru sebagai penentu terpenting bagi keberhasilan siswa

Ada kerja sama kemitraan antara sekolah, orang tua dan masyarakat Sekolah :
o Komunikasi secara positif dengan orang tua
o Memelihara jaminan dukungan orang tua
o Bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat
o Berbagi tanggung jawab untuk menegakkan displin dan mempertahankan keberhasilan
o Menghadiri acara-acara penting di sekolah
Kemajuan siswa sering dimonitor Guru memberi siswa :
o Tugas yang tepat
o Umpan balik secara cepat (segera)
o Kemampuan berpartisipasi di kelas secara optimal
o Penilaian hasil belajar dari berbagai segi
Menekankan kepada keberhasilan siswa dalam mencapai keterampilan aktifitas yang esensial
Siswa :
o Melakukan hal yang terbaik untuk mencapai hasil balajar yang optimal, baik yang bersifat
akademis maupun nonakademis
o Memperoleh berbagai keterampilan yang esensial
Kepala sekolah:
o Menunjukkan komitmen dalam mendukung program keterampilan esensial
Guru :
o Menerima bahan yang memadai untuk mengajarkan keterampilan yang esensial
Komitmen yang tinggi dari SDM sekolah terhadap program pendidikan Guru :
o Membantu merumuskan dan melaksanakan tujuan pengembangan sekolah
o Menunjukkan profesionalisme dalam bekerja

Menurut Peter Mortimore (1991) sekolah efektif dicirikan sebagai berikut:


(1) Sekolah memiliki visi dan misi yang jelas dan dijalankan dengan konsisten;
(2) Lingkungan sekolah yang baik, dan adanya disiplin serta keteraturan di kalangan pelajar dan staf;
(3) Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat;
(4) Penghargaan bagi guru dan staf serta siswa yang berprestasi;
(5) Pendelegasian wewenang yang jelas;
(6) Dukungan masyarakat sekitar;
(7) Sekolah mempunyai rancangan program yang jelas;
(8) Sekolah mempunyai fokus sistemnya tersendiri;
(9) Pelajar diberi tanggung jawab;
(10) Guru menerapkan strategi-strategi pembelajaran inovatif;
(11) Evaluasi yang berkelanjutan;
(12) Kurikulum sekolah yang terancang dan terintegrasi satu sama lain;
(13) Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam membantu pendidikan anak-anaknya.
Jaap Scheerens (1992) sekolah yang efektif mempunyai lima ciri penting yaitu:
1. kepemimpinan yang kuat;
2. penekanan pada pencapaian kemampuan dasar;
3. adanya lingkungan yang nyaman;
4. harapan yang tinggi pada prestasi siswa;
5. dan penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa
2.

Karakteristik Sekolah Efektif

Shannon dan Bylsma (2005) mengidentifikasi 9 karakteristik sekolah-sekolah berpenampilan unggul


(high performing schools). Untuk mewujudkannya mereka berjuang dan bekerja keras dalam waktu
yang relatif lama. Kesembilan karakteristik sekolah efektif berpenampilan unggul itu meliputi:
1. Fokus bersama dan jelas
2. Standar dan harapan yang tinggi bagi semua siswa
3. Kepemimpinan sekolah yang efektif
4. Tingkat kerja sama dan komunikasi inovatif
5. Kurikulum, pembelajaran dan evaluasi yang melampaui standar
6. Frekuensi pemantauan terhadap belajar dan mengajar tinggi
7. Pengembangan staf pendidik dan tenaga kependidikan yang terfokus
8. Lingkungan yang mendukung belajar
9. Keterlibatan yang tinggi dari keluarga dan masyarakat

4.

KEPEMIMPINAN SEKOLAH EFEKTIF


Kepemimpinan adalah aspek terpenting dari oraganisasi melalui penanganan perubahan dan
mananjemen yang dilakukan sehingga dapat mmberi dampak positif dari perkembangan organisasi.
Macam-macam kepemimpinan yang dipandang representative bagi penyelenggaraan organisasional
sekolah yang efektif, yaitu :
a. Kepemimpinan transaksional.
Kepemimpinan transaksional adalah kepemimpnan yang menekankan pada tugas yang diemban
bawahan. Kepemipinan transaksional tidak mengembangkan pola hubungan laizez fair yaitu
memberikan sepenuhnya karyawan untuk menentukan sendiri pekerjaannya karena dikhawatirkan
dengan keadaan personel yag perlu pembinan, pola ini dapat menjadikan malas dan tidak jelas apa
yang ikerjakan,pola yang diemban yaitu pola timbale balik yang dapat menguntungkan, pemimpin
mengetahui jabatan yang sesuai engan peerjan yang hars diakukan.
Kepemimpinan transaksional menurut Bass memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.
Contingent reward
Kontrak pertukaran penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk kinerja yang baik,
mengakui pencapaian.
b.
Active management by exception
Melihat dan mencari penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan perbaikan.
c.
Pasive management by exception
Intervensi hanya jika standar tidak tercapai.
d.
Laissez-faire
Melepaskan tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan.
b.

Kepemimpinan Transformasional atau katalisator.


Kepemimpinan transformasiona adalah suatu proses yang pada dasarnya pemimpi dan karyawan
salng menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yag kebih tinggi. (burns, 1978). Pemimpin
tranformasiona meruakan pemimpin yang berpengalaman dan wawasan jauh kedepan serta
berupaya untuk memperbaiki dalam perkembangan organisasi untuk saat ini ataupun untuk masa
yang akan datang dan juga sebagai reactor, pengubah sistem untuk kearah yang lebih baik dan
meningkatkan SDM.
Kepemimpinan transformasional menurut Bernard M. Bass memiliki karakteristik yang membedakan
dengan gaya kepemimpinan yang lainnya diantaranya:
a.
Charisma
Memberikan visi dan misi yang masuk akal, menimbulkan kebanggaan, menimbulkan rasa hormat
dan percaya.
b.
Inspiration
Mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menggunakan simbol untuk memfokuskan upaya,

mengekspresikan tujuan penting dengan cara yang sederhana.


c.
Intellectual stimulation
Meningkatkan intelegensi, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara teliti.
d.
Individualized consideration
Memberikan perhatian pribadi, melakukan pelatihan dan konsultasi kepada setiap bawahan secara
individual.
c.

Kepemimpinan Visioner.
Kepemimpinan vsioner adalah kemampuan pemimpin dalam mencitakan, merumuskan,
mensosialisasikan dan mengimplemenaskan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau
sebagai hasil ineraki sosial diantara oragnsasi dan stakeholders yang diyakini ebagai cita-cita
oraganisasi dimasa depan yang harus diarah atau diwujudkan melalui komitmen semua anggota.
Ciri-ciri pemimpin visioner ang bekualitas meurut John Adair, yaitu :
1. Memiliki integritas pribadi
2. Memiliki antusiasme terhadap perkembangan lembaga yang diembannya
3. Mengembangkan kehangatan, budaya dan iklim organisasi
4. Memiliki ketenangan dalam manajemen organisasi
5. Tegas dan adil dalam mengambil tindakan / kebijakan kelembagaan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sekolah efektif adalah sekolah yang mampu mengoptimalkan semua masukan dan proses bagi
ketercapaian output pendidikan, yaitu: prestasi sekolah, terutama prestasi siswa yang ditandai
dengandimiliknya semua kemampuan berupa kompetensi yang dipersyaratkan di dalam belajar.
Efektivitas sekolah dapat tercermin dari profil sekolah yang memeiliki keteraturan dalam berbagai
aspek untuk mencapai tujuan (aspek-aspek tersebut antara lain: guru, siswa, dan tenaga
kependidikan lainnya). Orang yang harus bertanggungjawab atas manajemen sekolah adalah
seorang kepala sekolah yang memeiliki karakteristik kepimpinan.

DAFTAR PUSTAKA

Sutomo, dkk. 2009. Manajemen Sekolah. Semarang: UPT MKK UNNES


Judul: Makalah tentang Sekolah Efektif
Alamat: http://gazzlieh46.blogspot.com/2011/06/makalah-tentang-sekolah-efektif.html
Penulis: Van Gal
Diakses tanggal: 27 September 2013, pukul 22.31 WIB
Judul: Manajemen Sekolah Efektif dan Unggul
Alamat: http://www.slideshare.net/Komar1963/manajemen-sekolah-efektif-dan-unggul-11058718
Penulis: Komar Hotim
Diakses tanggal : 27 September 2013, pukul 19.30 WIB

Judul: Kepala Sekolah Penentu Kemajuan Sekolah


Alamat: http://sd-inpres-kuipons.blogspot.com/2013/05/penentu-kemajuan-sekolah.html
Penulis: Slamet Riyadi
Diakses tanggal: 30 September 2013, pukul 13.34 WIB
Judul: Definisi Sistem
Alamat: http://ariebrain.wordpress.com/2010/03/06/sistem/
Penulis: Arie
Diakses tanggal: 6 Oktober 2013, pukul 00.50 WIB

(Sumber: http://nur-afifah-nugraheni.blogspot.co.id/2013/11/sekolah-efektif.html)

SEKOLAH EFEKTIF
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG

Salah satu masalah yang sangat serius dalam bidang pendidikan di tanah air kita
saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang
pendidikan. Banyak pihak berpendapat bahwa rendahnya mutu pendidikan
merupakan salah satu faktor yang menghambat penyediaan sumber daya manusia
yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi tuntutan
pembangunan bangsa diberbagai bidang.
Menurut Karsidi (2001:1) yang dimaksud mutu dalam pendidikan adalah suatu
keberhasilan proses belajar mengajar yang menyenangkan dan memberikan
kenikmatan bagi orang tua dan siswa sebagai pengguna jasa layanan pendidikan.
Rendahnya mutu pendidikan terkait dengan kebijakan yang dipakai oleh
pemerintah dalam membangun pendidikan, yang selama ini lebih menekankan pada
pendekatan input dan output. Pemerintah berkeyakinan bahwa dengan
meningkatkan mutu input maka dengan sendirinya akan dapat meningkatkan mutu
output. Dengan keyakinan tersebut , kebijakan dan upaya yang ditempuh
pemerintah adalah pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, pengadaan guru,
menatar para guru dan menyediakan dana operasional pendidikan secara lebih
memadai.
Kenyataan tersebut memberikan gambaran umum bahwa pendekatan inputoutput secara makro belum meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan.
Pendekatan input-output yang bersifat makro tersebut kurang memperhatikan aspek
yang bersifat mikro yaitu proses yang terjadi di sekolah. Dengan kata lain, dalam
membangun pendidikan, selain memakai pendekatan makro juga memperhatikan
pendekatan mikro yaitu dengan memberikan fokus secara luas pada institusi sekolah
yang berkenaan dengan memberikan fokus secara luas pada institusi sekolah yang
berkenaan dengan kondisi keseluruhan sekolah seperti budaya sekolah dan individuindividu yang terlibat di sekolah baik guru, siswa dan kepala sekolah serta
peranannya masing-masing dan hubungan yang terjadi satu sama lain.
Sekolah efektif dapat dibentuk melalui manajemen dengan kepemimpinan
visioner karena kepemimpinan ini berfokus pada masa depan. Hal tersebut
merupakan suatu kondisi yang penting untuk terbentuknya iklim sekolah yang
kondusif sehingga terwujud budaya sekolah yang mampu menghadapi berbagai
tantangan.

1.2

RUMUSAN MASALAH

1.
2.
3.
4.
5.

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :


Apa yang dimaksud dengan sekolah sebagai sebuah sistem?
Apa pengertian sekolah efektif?
Bagaimana konsep sekolah efektif?
Bagaimana ciri-ciri dan karakteristik sekolah efektif?
Apakah penjelasan dari kepemimpinan sekolah efektif?

1.3
1.
2.
3.
4.
5.

TUJUAN

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :


Dapat menjelaskan sekolah sebagai sebuah sistem
Mengetahui pengertian sekolah efektif
Mengetahui konsep sekolah efektif
Dapat menjelaskan ciri-ciri dan karakteristik sekolah efektif
Dapat menjelaskan kepemimpinan sekolah efektif

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sekolah Sebagai Suatu Sistem
Sebagai sebuah sistem,sekolah memiliki komponen inti yang terdiri
dariinput,proses, dan output.Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu
sama lain karena merupakan merupakan satu kesatuan yang utuh yang saling terkait
, terikat , mempengaruhi , membutuhkan ,dan menentukan.Perubahan satu
komponen akan berpengaruh terhadap komponen-komponen lainnya.Input sekolah
adalah segala masukan yang dibutuhkan sekolah untuk terjadinya pemrosesan guna
mendapatkan output yang diharapkan.Input sekolah antara lain manusia(man),
uang(money), material/bahan-bahan(materials), metode-metode(methods), dan
mesin-mesin(mechine).
Manusia yang dibutuhkan sebagai masukan bagi proses pendidikan adalah siswa
sebagai bahan utama atau bahan mentah(raw input).Untuk menghasilkan manusia
yang seutuhnya diperlukan input manusia yang memiliki potensi untuk dididik,
dilatih, dibimbing, dan dikembangkan menjadi manusia seutuhnya.Stakeholder atau
orang-orang yang berkepentingan dengan sekolah seperti orng tua/wali, orang dunia
usaha, masyarakat, dan pemerintah memiliki hak dan kewajiban menciptakan
system sekolah yang efektif.Input dapat dikategorikan menjadi dua yaituinput
sumber daya yang meliputi sumber daya manusia yang terdiri dari kepala

sekolah,guru, dan tenaga kependidikan serta sumber daya lainnya yang meliputi
uang, peralatan, perlengkapan, bahan, bangunan, dan lain sebagainya.
Sedangkan input manajemen atau kepemimipinan adalah input potensial bagi
pembentukan system yang efektif dan efisien.Uang(money) merupakan masukan
yang melancarkan pemrosesanraw input.Walaupun bukan yang paling essensial,
tetapi jika tidak ada uang maka perwujudan manusia seutuhnya diragukan karena
terkait dengan proses yang terganggu dikarenakan ditiadakannya banyak
kegiatan.Kedudukan uang dalam input pendidikan sangat penting untuk membiayai
semua progam yang telah ditetapkan.keuangan sekolah berasal dari pemerintah,
masyarakat, dan orang tua./wali.Bahan-bahan (materials) adalah bahan fisik yang
diperlukan untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran di sekolah guna
membentuk siswa seutuhnya. Bahan-bahan atau barang tersebut adalah berupa
sarana dan prasarana, alat-alat pendidikan atau media, dan sumber
pendidikan.Metode(methods) yaitu metode pembelajaran atau cara-cara teknik, dan
strategi
yang
dikembangkan
sekolah
dalam
melaksanakan
proses
pendidikan.Sedangkan mesin-mesin(machine) adalah seperangkat yang mendukung
terjadinya proses pembelajaran, seperti computer, radio, televise, atau media-media
yang menggunakakn teknologi.Alat-alat ini digunakan sekolah baik sebagai daya
dukung maupun sebagai objek untuk dipelajari.
Proses berlangsungnya sekolanh pada intinya adalah berlangsungnya
pembelajaran, yaitu terjadinya interaksi antara siswa dengan guru yang didukung
oleh perangkat lain sebagai bagian dai proses pembelajaran.Daya dukung tersebut
adalah satu kesatuan aksi yang menciptakan sinergi proses belajar mengajar yaitu:
a. Proses
kepemimpinan
yang
menghasilkan
keputusan-keputusan
kelembagaan,pemotivasian staf, dan penyebaran inovasi.
b. Proses manajemen yang menghasilkan aturan-aturan penyelenggaraan, pengelolaan
kelembagaan, pengelolaan program, pengkoordinasian kegiatan, memonitoring, dan
evaluasi.
Proses kepemimpinan yaitu menghasilkan keputusan kelembagaan yang terjadi
sebagai keputusan partisipasif atau keputusan bersama antara kepala sekolah, guru,
siswa, orang tua siswa/wali murid, para ahli, dan orang-orang yang berkepentingan
terhadap pendidikan(stakeholders).Kepala sekolah sebagai agent of change yang
mampu memoivasi para stafnya agar terus bekerja dengan semangat dan
menghasilkan karya yang berguna dan bermutu.Langkah lain yang penting dalam
proses penyelenggaraan sekolah adalah memonitoring dan evaluasi sebagai langkah
untuk memperoleh kejelasan tentang output yang akan dicapai.Monitoring
dilakukan sebagai upaya sekolah untuk mengetahui pelaksanaan proses,yang dapat
dijadikan bahan evaluasi atau penilaian terhadap aspek-aspek yang terjadi dalam
pelaksanaan program.Hasil evaluasi akan digunakan sebagai masukan bagi
pengambilan keputusan sekolah.

Sekolah sebagai suatu system, seharusnya menghasilkan output yang dapat


dijamin kepastiannya.output sekolah yaitu berupa kelulusan siswa.

2.2Pengertian Sekolah Efektif


Efektifitas menunjukkan ketercapaian sasaran atau tujuan yang telah
ditetapakan. Efektivitas sekolah terdiri dari dimensi manajemen dan kepemimpinan
sekolah, guru, tenaga kependidikan, personal lainnya, siswa,kurikulum, sarana
prasarana, pengelolaan kelas, hubungan sekolah dam masyarakatnya, pengelolaan
bidang khusus lainnya, hasil nyatanya merujuk pada hasil yang diharapkan bahkan
menunjukkan kedekatan atau kemiripan antara hasil yang nyata dengan hasil yang
diharapkan.Sekolah efektif dapat diartikan sebagai sekolah yang menunjukkan
tingkat kinerja yang diharapkan dalam menyelenggarakan proses belajarnya, dengan
menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada peserta didik sesuai dengan tugas
pokoknya. Mutu pembelajaran dan hasil belajar yang memuaskan tersebut
merupakan produk akumulatif dari seluruh layanan yang dilakukan sekolah dan
pengaruh dari suasana/iklim yang kondusif yang diciptakan di sekolah.
Ada beberapa pandapat para ahli mengenai pengertian sekolah efektif ini,di
antaranya:
1. Komariah dan Triatna(2004:28) menyebut sekolah efektif sebagai sekolah yang
menetapkan keberhasilan pada input, proses, output, danoutcome yang ditandai
dengan berkualitasnya komponen-komponen sisten tersebut.
Dengan demikian efektifitas sekolah bukan sekedar pencapaian sasaran atau
terpenuhinya berbagai kebutuhan untuk mencapai sasaran,tetapi erat terkait dengan
saratnya komponen-komponen sistem dengan mutu, yaitu pengembangan mutu
sekolah.
2. Sergiovanni(1995:75) menyebut sekolah efektif dengan membandingkan antara
sekolah efektif dengan sekolah sukses.Sekolah efektif dipahami sebagai sekolah yang
kemampuan siswanya pada keterampilan dasar yang di ukur dengan tes
kemampuan.Dimensi manjemen, pengajaran, dan kepemimpinan termasuk dalam
model sekolah efektif.Sekolah sukses mempunyai kesan lebih komprehensif,
ekspansif dan lebih knsisten dengan kualitas sekolah yang tinggi dimana kebanyakan
orang Amerika, kaya dan miskin, pedesaan dan perkotaan, muda dan tua,
menginginkan untuk anak-anak mereka(Goodlad,1983 dalam Sergiovanni,1995:77).
3. Allan A.Glatthron(1990:2-17),sekolah efektif adalah sekolah yang mempunyai
beberapa karakteristik yaitu: adanya organizational leadership (Kepemimpinan
Organisasi),curricullum
leadership(Kepemimpinan
Kurikulum), supervisory
leadership(Pemimpin Sebagai Pengawas), dan mangement(Manajemen).
Dengan demikian, sekolah efektif adalah sekolah yang menunjukkan tingkat
kesesuaian antara hasil yang dicapai (achievment atau observed output)dengan hasil
yang diharapkan (objectives, targets, intended output)sebagaiman telah ditetapkan
dimana kemampuan siswanya pada keterampilan dasar yang diukur dengan tes

kemampuan dan dalam proses penyelenggaraannya terdapat dimensi manajemen,


pengajaran, dan kepemimpinan.

2.3 Konsep Sekolah Efektif


2.4 Ciri-Ciri Dan Karakteristik Sekolah Efektif
Tidak semua sekolah yang memiliki kelengkapan semua komponen sistem
dikatakan efektif. Penekanan keefektifan sekolah adalah pada proses belajar yang
berlangsung secara aktif atau ada keterlibatan berbagai pihak terutama siswa dan
guru sebagai subjek belajar. Ada beberapa komponen penting yang turut
menentukankeberhasilan sekolah efektif, yaitu pengaturan kelembagaan yang
didasarkan pada prestasi dan kenyamanan staf, perhatian terhadap kebutuhan,
aspirasi, dan karier staf, pengembangan budaya sekolah dan manajemen modern
yang didasarkan pada share, care, dan fair.
Ciri-ciri sekolah efektif ditentukan oleh adanya aspek-aspek yang diperlukan
dalam menentukan keberhasilan sekolah sebagaimana tabel di bawah ini.

Tabel 1
Ciri-ciri Sekolah Efektif
Ciri-ciri
Tujuan sekolah dinyatakan secara jelas dan
spesifik.

Indikator

Pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang

kuat oleh kepala sekolah

Ekspektasi guru dan staf tinggi

Tujuan sekolah :
Dinyatakan secara jelas.
Digunakan untuk mengambil keputusan.
Dipahami oleh guru, staf dan siswa.
Kepala sekolah :
Bisa dihubungi dengan mudah.
Bersikap responsif kepada guru dan siswa.
Responsif kepada orang tua dan masyarakat.
Melaksanakan kepemimpinan yang berfokus
kepada pembelajaran.
Menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai
dengan rasio ideal.
Guru dan staf :
Yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan
berprestasi.
Menekankan pada hasil akademis.
Memandang guru sebagai penentu terpenting
bagi keberhasilan siswa.

Ada kerjasama kemitraan antara sekolah,


orang tua dan masyarakat

Adanya iklim yang positifdan kondusif bagi

siswa untuk belajar

Kemajuan siswa sering dimonitor

Menekankan kepada keberhasilan siswa dalam

mencapai keterampilan aktivitas esensial

Komitmen yang tinggi dari SDM sekolah


terhadap program pendidikan

Sekolah :
Komunikasi secara positif dengan orang tua.
Memelihara jaringan serta dukungan orang tua
dan masyarakat.
Berbagi tanggung jawab untuk menegakkan
disiplin dan mempertahankan keberhasilan.
Menghadiri acara-acara penting di sekolah.
Sekolah :
Rapi, bersih dan aman secara fisik.
Dipelihara secara baik.
Memberi penghargaan kepada yang
berprestasi.
Memberi penguatan terhadap perilaku positif
siswa.
Siswa :
Menaati peraturan sekolah dan aturan
pemerintah daerah.
Menjalankan tugas atau kewajiban tepat
waktu.
Guru member siswa :
Tugas yang tepat.
Umpan balik secara cepat/segera.
Kemampuan berpartisipasi di kelas
secaraoptimal.
Penilaian hasil belajar dari berbagai segi.
Siswa :
Melakukan hal terbaik untuk mencapai hasil
belajar yang optimal, baik yang bersifat
akademis maupun non akademis.
Memperoleh keterampilan yang esensial.
Kepala sekolah
Menunjukkan komitmen dan mendukung
program keterampilan esensial.
Guru :
Menerima bahan yang memadai untuk
mengajarkan keterampilan yang esensial.
Guru :
Membantu merumuskan dan melaksanakan
tujuan pengembangan sekolah.
Staf :

Memperkuat dan mendukung kebijakan


sekolah dan pemerintah daerah.
Menunjukkan profesionalisme dalam bekerja.

Diadopsi dari Tola & Furqon (2002:19 dalam Komariah & Triatna, 2004:39)
Pam Sammors (Morely and Rasool, 1999 :13 dalam Komariah & Triatna,
2004 :39) menetapkan aspek sekolah efektif sekaligus dengan indikatornya seperti
dalam tabel berikut :

Tabel 2
Karakteristik Sekolah Efektif Pam Sammors
Aspek
Professional leadership

Shared vision and goals

A learning environment

Learning
Purposeful teaching

Positive reinforcement
Monitoring progress
Pupil right and responsibility

Home/school partnership
A learning organization
Diadopsi dari Morely & Rassool (1999:21)

Indikator
Firm and purposeful
A participate approach
The leading professional
Unity of purpose
Consistency of practice
Collegiality and collaboration
An ordery atmosphere
An attractive working environment
Maximation of learning time
Academic emphasis
Focus on achievement
High expectation all round
Communication expectations
Providing intellectual challenge
Clear and fair discipline
Feedback
Monitoring pupil performance
Evaluating school performance
Raising pupil self esteem
Position of responsibility
Control of work
Parental involvement in their childerns
learning
School based staff development

a)

b)

c)

d)

Berbveda dengan Pam Sammors, Bank Dunia (2000) mengidentifikasikan


empat kelompok karakteristik sekolah efektif, yang ditinjau dari supporting inputs,
enabling condition, school climate, danteaching learning process.
Supporting Inputs (input dukungan)
Karakteristik pertama ditinjau dari sudut input dukungan yaitu erangkat-perangkat
yang turut menjelmakan sekolah efektif ditinjau dari dukungan terhadap sistem
sekolah.
Enabling Conditions (kondisi yang memungkinkan)
Yaitu kondisi yang membuat sekolah efektif itu mungkin akan terwujud dengan
kondisi yang diciptakan oleh lingkungan atau sistem sekolah.
School Climate (iklim sekolah)
Adalah indicator sekolah efektif yang menekankan pada keberadaan rasa
menyenangkan dari suasana sekolah, bukan saja dari kondisi fisik, tetapi
keseluruhan aspek internal organisasi.
Teaching learning process (proses pengajaran guru)
Sekolah merupakan tempat belajar yang memberikan layanan pembelajaran yang
bermutu melalui strategi pembelajaran yang bervariasi, penilaian yang kontinyu
dengan follow up yang cepat dan tepat, mendorong partisipasi siswa dalam
pembelajaran serta memperhatikan kehadiran siswa, pelaksanaan tugas-tugas siswa
dan keberlanjutan tugas-tugasnya.

2.5 Kepemimpinan Sekolah Efektif


Kepemimpinan merupakan aspek penting dalam sistem sekolah. Kepemimpinan
merupakan faktor penggerak organisasi melalui penanganan perubahan dan
manajemen yang dilakukannya sehingga keberadaan pemimpin bukan hanya sebagai
simbol yang ada atau tidaknya tidak menjadi masalah tetapi keberadaannya
memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi. Terdapat 3 jenis
kepemimpinan yang dipandang representatif bagi penyelenggaraan sekolah efektif,
yaitu :
a. Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas
yang diemban bawahannya. Kepemimpinan transaksional lebih ditekankan pada
peranannya sebagai manajer karena ia sangat terlibatdalam aspek aspek prosedural
manajerial

(Sumber: http://deltacoursesemarang.blogspot.co.id/2011/11/sekolahefektif.html)

Jun 2, 2014

Pilar-Pilar Sekolah Efektif


Artikel 2 Comments

***
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.
Pendidikan adalah senjata yang terkuat yang dapat Anda gunakan untuk
mengubah dunia.
(Nelson Mandela).
Education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living.
Pendidikan, oleh karena itu, adalah sebuah proses kehidupan dan bukan satu
persiapan kehidupan di masa depan.
(John Dewey).
***
Pada saat melaksanakan tugas monev tentng standar pelayanan minimal (SPM)
pendidikan dasar pada tanggal 30 Mei 2014, saya merasakan tentang pentingnya
perhatian kita terhadap pilar-pilar sekolah efektif di negeri ini. Untuk
meningkatkan perhatian terhadap pilar-pilar sekolah efektif tersebut, saya telah
mencoba menulis buku tentang Pilar-Pilar Sekolah Efektif. Kebetulan ada seorang
teman yang begitu baik hati menawarkan untuk mengedit dan memdesainnya
menjadi dami.
Awalnya buku itu akan diberi judul Faktor-Faktor Determinan Sekolah Efektif.
Memang itulah isinya. Tetapi judul itu masih panjang sedikit. Maka akhirnya judul
itu diubah menjadi Pilar-Pilar Sekolah Efektif. Mudah-mudahan ada pihak yang
mau bekerja sama untuk menerbitkannya, agar sekolah-sekolah di negeri ini
menyadari tentang pentingnya komponen-komponen penting yang besar
pengaruhnya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Misalnya,
apakah faktor kepala sekolahnya yang perlu mendapatkan perhatian, atau
hubungan antara sekolah dengan orang tua, dan faktor-faktor determinan lainnya.
Tulisan ini merupakan inti sari buku tersebut, yang menjelaskan tentang faktorfaktor determinan yang mempengaruhi efektivitas suatu sekolah. Kelika kita
terjun langsung ke sekolah-sekolah, kita akan dapat merasakan dengan mata hati
tentang denyut nadi sekolah yang bersangkutan, apakah sekolah tersebut memiliki
faktor-faktor yang menjadi pemantik untuk dapat berhasil atau sebaliknya.
Kurikulum dan Fasilitas Sekolah Sebagai Faktor Determinan

Kita mengenal beberapa macam sebutan sekolah, seperti sekolah unggulan,


sekolah bertaraf internasional (SBI) yang dihapuskan karena dinilai diskriminatif
dengan sekolah lain, yang dikenal dengan sekolah RSBI (sekolah rintisan bertaraf
internasional) yang dipelesetkan menjadi Rintihan Sekolah Bertaraf Internasional.
Selain itu, ada pula sebutan sekolah yang tidak sepenuhnya diatur dalam sistem
pendidikan nasional, seperti sekolah berasrama (boarding school), dan sebutan
lainnya, termasuk sekolah satu atap, karena muridnya sedikit sehingga demi
efisiensi maka sekolah tersebut perlu dijadikan satu manajemen (satu atap). Di
samping itu, dalam praktik di lapangan kita mengenal sekolah-sekolah terpadu,
seperti Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Memengah Islam Terpadu
(SMPIT). Jenis sekolah ini disebut lebih karena penerapan kurikulum yang
menyatukan antara kurikulum di sekolah umum dengan mata pelajaran keislaman
(keilmuan dan keislaman).
Pada masa lalu, sebutan sekolah biasanya dikaitkan dengan lengkap-tidaknya
sarana dan prasarana sekolah atau fasilitas sekolah. Contoh yang amat fenomenal
adalah gambaran sekolah masa lalu yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi,
karya Andrea Hirata. Dalam novel itu diceritakan dengan apik bahwa gedung SMP
Muhammadiyah di Pulau Belitong adalah gambaran sekolah pinggiran di daerah
pedesaan yang sudah nyaris roboh. Sekolah itu akan ditutup pemerintah jika pada
tahun pelajaran baru tidak dapat menerima siswa baru minimal 10 (sepuluh)
orang siswa. Hari terakhir penerimaan siswa baru, satu jam sebelum penerimaan
siswa baru itu ditutup, ternyata masih ada sembilan orang siswa yang telah
mendaftar. Jadi masih ada satu orang lagi yang mendaftar yang akan menjadi
dewa penolong sekolah ini. Menit-menit terakhir, seorang anak berjalan agak
pincang bersama orangtuanya datang ke sekolah ini untuk mendaftar sebagai
siswa yang kesepuluh. Alhamdulillah, sekolah ini dapat meneruskan proses belajar
mengajar, dengan hanya sepuluh siswa baru. Kesepuluh siswa baru inilah yang
kemudian diberikan gelar sebagai laskar pelangi oleh penulis novel ini. Mengapa
disebut pelangi, karena sepuluh anak ini memiliki karakter dan kecerdasan yang
berbeda-beda. Singkat cerita, laskar pelangi pulalah yang telah membawa
keharuman nama sekolahnya, yang berhasil mengalahkan sekolah gedongan
dalam berbagai acara lomba.
Definisi Sekolah Efektif
AIBEP (Australia Indonesia Basic Education Program) telah mengembangkan
pelatihan WDD (Whole District Development) dan WSD (Whole School
Development) di Indonesia. AIBEP menjelaskan definisi sekolah efektif sebagai
berikut.

Sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki sistem pengelolaan yang baik,
transparan dan akuntabel, serta mampu memberdayakan setiap komponen
penting sekolah, baik secara internal maupun eksternal, dalam rangka pencapaian
visi-misi-tujuan sekolah secara efektif dan efesien (bahan pelatihan AIBEP).
Dalam kalimat yang berbeda, ada rumusan yang menyatakan sebagai berikut:
An effective school is a school in which students achieve high standards that they
can use in their future education or the workplace, a school where students feel
safe and happy. It promotes those values that will help pupils to become good and
responsible citizens, enable them to become involved in their community and
become good family members. We all write these sorts of things in our school
mission statements and school documents, but we are all too often distracted from
them in day-to-day planning (http://www.teachingexpertise.com).
Khusus untuk sekolah dasar (primary school), secara khusus UNESCO telah
mendefinisikan dan sekaligus menyebutkan karakteristik sekolah efektif di sekolah
dasar sebagai berikut:
School effectiveness research shows that successful primary schools are typically
characterized by strong leadership, an orderly school and classroom environment
and teachers who focus on the basics of the curriculum, hold high expectations of
their students potential and performance and provide them with frequent
assessment and feedback (diberi garis bawah dan ditebalkan oleh penulis, EFA
Global Monitoring Report 2005, hal. 228).
Berdasarkan definisi tersebut karakteristik tipikal minimal sekolah efektif adalah:
(1) kepemimpinan yang kuat, lingkungan ruang kelas dan sekolah yang teratur, (3)
para pendidik yang memfokuskan pada hal-hal yang mendasar dalam kurikulum,
dan (4) mempunyai harapan yang tinggi terhadap unjuk kerja dan potensial para
siswanya, serta (5) menyediakan mereka penilaian dan umpan balik (feed back)
bagi pendidik secara teratur.
Sayang sekali, konsep sekolah efektif tersebut tidak berjalan lama di negeri ini,
dan sampai sampai ini konsep tersebut kurang mendapatkan perhatian lagi. Habis
proyeknya, selesailah sudah program dan kegiatannya.
Pilar-Pilar Sekolah Efektif
Jika pada awalnya efektivitas sekolah dilihat dari segi kelengkapan sarana dan
prasarananya, maka dewasa ini efektivitas sekolah lebih banyak ditentukan oleh

pengelolaan pendidikan, termasuk harapan guru dan peserta didiknya untuk


mencapai hasil belajar yang tinggi, melalui proses pembelajaran.
Untuk lebih mengingatkan kita, dalam laporan tahun 2005 UNESCO menyatakan
dengan tegas bahwa Schools are definitly not factories producing outputs
according to recipe in a technically deterministic way (EFA Global Monitoring
Report, 2005: 228). Dengan kata lain, sekolah-sekolah adalah sama sekali
bukanlah pabrik-pabrik yang memproduksi keluaran sesuai dengan resep dengan
satu cara yang secara teknikal dipandang sangat menentukan. Pernyataan ini
mengubah pandangan dari teori fungsi produksi (production function theory)
sebagaimana telah dijelaskan di muka. Jadi, yang penting bukan gedungnya,
bukan fasilitas fisikalnya, bukan masukan instrumental lain, bahkan berapa kali
ditatar dan ditatar terus, jika semuanya itu tidak dilaksanakan dalam proses
belajar mengajar yang optimal di dalam kelas. Kembalilah kepada pandangan
bahwa proses pembelajaran adalah kunci masalah pendidikan selama ini. Proses
pembelajaran di dalam kelas merupakan kotak kitamnya (black box) yang selama
ini harus kita temukan tempat dan kuncinya. Dengan demikian, sekali lagi pilar
sekolah efektif bukan faktor fasilitas sekolah, tetapi lebih dari proses
pembelajarannya.
Sejarah Gerakan Sekolah Efktif (Effetive School Movement)
Konsep sekolah efektif memang bukan konsep yang baru. Sebagai contoh, Dr.
Lawrence W. Lezotte (http://www.edutopia.org) menyatakan bahwa konsep
sekolah efektif telah mengalami revolusi dan evolusi lebih dari tiga puluh tahun.
Dalam tulisannya bertajuk Revolutionary and Evolutionary The Effective School
Movement telah memberikan daftar 10 (sepuluh) bahan pustaka tentang sekolah
effektif. Bahkan dalam tulisan tersebut, Lazotte telah menggunakan istilah yang
revolusioner, yakni gerakan sekolah effektif (the effective school movement).
Lezotte menjelaskan sejarah panjang tentang gerakan sekolah efektif tersebut.
Dimulai dari kajian Prof. James Coleman, yang telah melakukan kajian tentang
hasil belajar peserta didik dengan melibatkan 600.000 peserta didik di 4.000
sekolah. Pada bulan Juli 1966, Coleman telah menerbitkan hasil kajiannya dengan
tajuk The Equal Educational Opportunity Survey, dengan temuan bahwa ternyata
latar belakang keluarga bukan sekolah merupakan faktor penentu hasil belajar
peserta didik (family background, not the school, was the major determinant of
student achievement). Peserta didik yang berhasil di sekolah berasal dari keluarga
yang mampu secara ekonomis, sedang peserta didik yang berasl dari keluarga
tidak mampu ternyata tidak hanya gagal dalam menempuh pendidikannya, tetapi
juga gagal dalam kehidupannya. Tentu saja, hasil kajian tersebut telah
mengejutkan banyak pihak. Alalagi hasil kajian tersebut dipaparkan di depan The

United States Congress. Hasil kajian Colemen tersebut ternyata telah memicu para
ahli pendidikan untuk melakukan penelitian tentang sekolah efektif secara lebih
intensif.
Akhirnya, pada tahun 1982, Prof. Ron Edmonds telah menerbitkan paper bertajuk
Programs of School Improvement: An Overvew, yang mencoba untuk mencari
faktor-faktor yang disebut sebagai the Correlates of Effective School, yaitu faktorfaktor yang diidentifikasi sebagai faktor penentu sekolah efektif. Hasil kajiannya,
Edmonds menyebutkan lima faktor penentu sekolah efektif, yaitu:
1. The leadership of the principal notable for substantial attention the quality of
instruction. Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat memberikan perhatian
secara substansial terhadap kualitas pembelajaran. Bagaimanapun juga peran
kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan proses pengelolaan dan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Namun, kepala sekolah tidak akan dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik jika tidak didukung oleh semua guru dan staf
tata usaha sekolahnya.
2. A pervasive and broadly understood instructional focus. Fokus kepada
pembelajaran dapat difahami secara mendalam oleh para guru dan semua peserta
didik. Fokus kepada pembelajaran memang menjadi faktor penentu, tetapi lebih
dari itu, sekolah juga memiliki visi dan misi, yang juga harus difahami oleh semua
warga sekolah.
3. An orderly, safe climate conducive to teaching and learning. Iklim belajar yang
aman dan teratur untuk proses belajar mengajar. Suasana belajar yang kondusif
harus diciptakan, bukan dengan tangan besi, melainkan dengan menumbuhkan
kesadaran. Disiplin sering diartikan sebagai kepatuhan kepada aturan. Tetapi
dalam pelaksanaannya disiplin itu diartikan sebagai disiplin yang mati, bukan
disiplin yang tumbuh dari kesadaran diri yang tinggi.
4. Teacher behaviors that convey the expectation that all students are expected to
obtain at least minimum mastery. Sikap dan perilaku para guru memberikan
harapan yang tinggi kepada semua siswa agar paling tidak dapat memperoleh
penguasaan minimum. Sikap dan perilaku guru memang merupakan kurikulum
tersembunyi (hidden curriculum) yang justru mempunyai pengaruh yang sangat
besar untuk menumbuhkan harapan peserta didiknya agar berhasil.
5. The use of measures of pupil achievement as the basis for program evaluation.
Menggunakan alat ukur hasil belajar peserta didik sebagai basis untuk penilaian
program. Sering hasil belajar dipandang sebagai semacam hukuman bagi siswa,
padahal seharusnya hasil belajar tersebut justru harus menjadi bahan masukan
(feed back) bagi perbaikan program pembelajaran.

Pada tahun 1995, Gary D. Borich, sebagai contoh, menggunakan istilah sekolah
efektif dalam bukunya bertajuk Beginning A Teacher, An Inquiring Dialog for
Beginning Teacher. Dalam kata pengantarnya, Gary D. Borich mengungkapkan
bahwa by effective I mean how teacher like yourself have helped their students to
learn, managed their classroom better, and felt good about themselves (1995: ix).
Ungkapan Borich ini tampak amat sederhana. Dalam ungkapan tersebut, yang
dimaksud efektif adalah bagaimana guru membantu para siswa untuk belajar,
mengelola ruang kelasnya dengan lebih baik, dan merasakan senang dengan
pekerjaannya sendiri. Bagaimana mungkin dapat dikatakan efektif jika guru di
sekolah itu sebenarnya tidak menyenangi pekerjaannya sebagai guru? Tentu saja,
guru-guru di sekolah efektif adalah guru-guru yang menyenangi tugas
profesionlnya sebagai pendidik.
Buku yang telah menuangkan dialog antara wartawan dengan para guru di suatu
sekolah, dijelaskan tentang beberapa karakteristik kunci sekolah effektif:
democratic, supportive, understanding, dan humanistic (1995:3). Di samping itu
karakteristik lain yang tidak kalah pentingnya adalah well organized, goal-based,
result-orieted climate (1995: 3). Dengan beberapa karakteristik tersebut, Borich
mencoba untuk menggambarkan bagaimana sekolah efektif.
Konsep Sekolah Efektif menurut CCES (California Center of Effective School)
Menurut California Center for Effective School (CCES), ketujuh pilar sekolah
efektif tersebut, masing-masing terdiri atas empat indikator. Dalam bentuk tabel,
tujuh faktor determinan sekolah efektif dan masing-masing empat indikatornya
menurut CCES dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 1: Tujuh Faktor determinan dan Indikator Sekolah Efektif Menurut CCES
I A clear and focused mission
1 Kepala sekolah, pendidik, dan pegawai tata usaha mengetahui dan memahami
misi utama sekolah mereka.
2 Pembelajaran peserta didik adalah kriteria terpenting yang digunakan dalam
membuat keputusan.
3 Standar tingkat negara bagian (state) sejalan dan searah dengan kurikulum lokal
yang digunakan.
4 Program instrusional sekolah memfokuskan pada upaya pencapaian indikator
keberhasilan belajar peserta didik, dengan level keberhasilan tertentu, baik
akademis maupun nonakademis. Indikator-indokator keberhasilan tersebut telah
diidentifikasi dan disetujui oleh kepala sekolah, guru, dan pegawai tata usaha,
serta semua pihak yang terkait.
II High expectations for success

1 Para guru percaya dan mengharapkan bahwa semua siswa dapat mencapai hasil
belajar. Untuk itu, para guru dapat mengkomunikasikan hal ini kepada peserta
didiknya.
2 Perhatian diberikan secara adil kepada semua peserta didik, baik yang rendah
maupun yang tinggi hasil belajarnya.
3 Peserta didik memahami apa yang diharapkan, dan para guru menyediakan
kesempatan-kesempatan untuk peserta didik untuk memperoleh pengalaman
dalam mencapai keberhasilan mereka.
4 Para guru menyediakan kesempatan-kesempatan kepada peserta didik agar
meraka dapat bertanggung jawab dan juga dalam kepemimpinan.
III Instructional leadership
1 Kepala sekolah, dengan semua jajarannya, memberikan penekanan bahwa tujuan
utama sekolah adalah pembelajaran.
2 Kepala sekolah dan para guru aktif dan terlibat dengan semua kegiatan dalam
sekolah. Mereka menjadi sumber, memberikan penegasan, dukungan, dan
berdedikasi untuk mencapai misi sekolah.
3 Kepala sekolah dan para guru menyampaikan harapan-harapan tinggi untuk
peningkatan kinerja peserta didik dan pegawai tata usaha.
4 Kepala sekolah dan para guru berkolaborasi untuk meningkatkan program
isntruksional dan memonitor kemajuan hasil belajar siswa.
IV Frequent monitoring of student progress
1 Data hasil belajar peserta didik mendorong perubahan-perubahan dalam
program pembelajaran dan prosedur-prosedur sekolah.
2 Data hasil tes, distribusi nilai, dan pola-pola penerimaan siswa baru dianalisis
berdasarkan ras, gender, etnis, dan status sosial-ekonomi untuk mengetahui
ketidakmerataan dan untuk meyakinkan bahwa semua siswa belajar.
3 Ringkasan tentang prestasi belajar diketahui bersama oleh semua staf dan
dilaporkan kepada masyarakat. Skor pada tingkat kabupaten dan sekolah
dianalisis oleh semua staf untuk membuat inferensi tentang keberhasilan program
dan target baru tentang upaya peningkatan sekolah.
4 Tes berpatokan norma dan/atau penilaian autentik dirancang dan/atau
digunakan oleh para guru untuk menilai tingkat penguasaan siswa untuk kelas
atau tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran.
V Opportunity to learn and student time on task

1 Waktu terbesar dialokasikan untuk proses pembelajaran dalam semua mata


pelajaran.
2 Para guru mengurangi kegiatan yang kurang penting dan memfokuskan pada
proses pembelajaran.
3 Para guru secara jelas mengkomunikasikan tentang maksud atau tujuan setiap
pelajaran.
4 Angka keberhasilan siswa, dalam mencapai standar-standar, adalah 80 85%
untuk memastikan pembelajaran yang produktif. Semua ini diselesaikan oleh para
guru dengan melakukan monitoring kualitas pelajarannya, revisi dan remedial
serta dengan penganekaragaman tugas-tugas siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang sama.
VI Safe and orderly environment
1 Kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi percaya, dan perilaku mereka
menunjukkan bahwa konsistensi di antara semua warga sekolah adalah kunci
untuk membangun satu suasana yang posititf.
2 Kepala sekolah, guru, dan staf tata usaha menerima proposisi bahwa mereka
siap bertugas kapan saja dan dimana saja selama di sekolah.
3 Ada suasana yang positif bagi siswa. Tingkah laku positif, keberhasilan, usaha,
dan semua atribut dari keberhasilan tersebut akan diberikan.
4 Perhatian terhadap semua peralatan interior dan administratif yang terjaga
dengan baik.
VII Home/school relations
1 Orangtua siswa telah memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan-tujuan
sekolah dan standar kurikulum melalui komunikasi yang teratur.
2 Orangtua siswa telah diberikan informasi tentang bagaimana cara membantu
anak-anaknya belajar di rumah.
3 Orangtua siswa telah diberikan informasi secara jelas tentang kemajuan peserta
didik, termasuk tes hasil belajar di tingkat negara bagian dan apakah anaknya
telah mencapai standar itu atau tidak, di bawah atau di atas standar itu.
4 Rata-rata ganda (multiple means) digunakan untuk mengkomunikasikan kepada
orangtua siswa, termasuk buku panduan, newsletters, catatan rumah, nomor
telepon, rapat orantua dan guru, kunjungan rumah, paket belajar di rumah, dan
pertemuan sekolah dan kelas.
Sumber: Sekolah efektif menurut CCES (California Center for Effective School)
Sebenarnya masih ada beberapa teori tentang sekolah efektif, namun teori CCES
tersebut sudah sangat memadai untuk misalnya dijadikan acuan penyusunan

instrumen penilaian sekolah efektif. Kalau akan melihat apakah sekolah-sekolah


itu sudah dapat kita kategorikan sebagai sekolah efektif atau belum, kita dapat
menggunakan pilar-pilar dan indikator CCES. Kemudian, indikator mana yang
harus disempurnakan, sudah tentu dapat dipastikan dari hasil evaluasi dengan
menggunakan pilar-pilar dan indikator CCES tersebut.
Akhir Kata
Buku PILAR-PILAR SEKOLAH EFEKTIF tersebut telah menjadi dami, yang satu
langkah lagi telah dapat diterbitkan menjadi buku. Niat untuk berkolaborasi untuk
menerbitkannya sangat diharapkan. Silahkan hubungi
revkapetra.media@yahoo.com atau me@suparlan.com.
*) S2 University of Houston. E-mail: me@suparlan.com. Laman:
www.suparlan.com.
Depok, Juni 2014.

(Sumber: http://suparlan.com/1562/2014/06/02/pilar-pilar-sekolah-efektif/)

SEKOLAH EFEKTIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. KONSEP TEORITIS
Sekolah sebagai institusi tidaklah berdiri sendiri. Sekolah berkaitan erat dengan nilai,
budaya, dan kebiasaan yang hadir di masyarakat. Sekolah merupakan ujung tombak dari
proses modernisasi ( agent of change ) yang diupayakan melalui kebijakan sekolah.
Komponen dalam sekolah meliputi guru, siswa ,dan staf administrasi yang masing masing
mempunyai tugas tertentu dalam melancarkan program. Sebagai institusi pendidikan formal
sekolah dituntut menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan akademis tertentu,
ketrampilan, sikap, dan mental, serta kepribadian lainnya sehingga mereka dapat
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja pada lapangan pekerjaan
yang membutuhkan ketrampilan dan keahliannya. Keberhasilan sekolah merupakan ukuran
yang bersifat mikro atau khusus yang didasarkan pada tujuan pendidikan nasional serta
sejauh mana tujuan tersebut dapat dicapai tujuan dan sasaran pendidikan yang telah
ditetapkan. Dengan kata lain sekolah disebut efektif juga sekolah tersebut dapat mencapai
apa yang telah direncanakan. Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan
perumusan apa yang kami kerjakan dengan apa yang harus dicapai sehingga suatu sekolah
akan disebut efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan
dengan hasil yang telah dicapai. Oleh sekolah sebelumnya sekolah dikatakan sudah efektif
bila hubungan tersebut rendah (Getzel 69).
Sekolah sebagai suatu sistem seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin
kepastiannya. Output dari aktivitas sekolah adalah segala sesuatu yang kita pelajari di
sekolah. Output sekolah berfokus pada siswa ,tetapi siswa yang memiliki kompetensi yang
dipersyaratkan. Jika ditinjau dari sudut lulusan, output sekolah adalah lulusan yang berguna
bagi kehidupan.
B. KENYATAAN DI LAPANGAN
Globalisasi memberikan warna tersendiri bagi arah pencapaian tujuan pendidikan. Di era
global seperti sekarang ini kemajuan sekolah merupakan penerapan dari pengelolaan
mutu , responsif terhadap tantangan dan antisipasi terhadap perubahan perubahan yang
diakibatkan oleh tatanan internal sehingga menimbulkan gejolak dan ketidakpastian yang
dapat mengancam runtuhnya berbagai tatanan yang diciptakan sedemikian rupa.
Adanya arus globalisasi sangat berpengaruh terhadap pengembangan sekolah- sekolah
yang hanya memelihara keadaan stabil tanpa ingin merespon berbagai gejolak dan
pengaruh eksternal seperti perkembangan iptek. Pada akhirnya akan berhadapan dengan
keadaan yang tidak menguntungkan. Mulai dari lulusnya yang dianggap tidak relevan,
dengan dunia kerja. Berkurangnya kepercayaan masyarakat dan pada akhirnya sekolah
yang berkualitas yang mampu eksis dalam persaingan global. Mutu sudah menjadi
keharusan dan menjadi konsep yang paling penting untuk menjawab tantangan global. Hal
ini mendorong berbagai kalangan untuk mengembangkan straegi perubahan dan antisipasi
sehingga mampu menyesuaikan diri dengan pimpinan di era global ini. Sebagai upaya
meningkatkan mutu pendidikan, lembaga pendidikan harus melakukan berbagai langkah
penataan kembali baik internal dan eksteernal agar nantinya mampu menyesuaikan diri
dengan tuntutan baru dengan tetap memgang teguh nilai- nilai jati diri bangsa yang
terpelihara.

C. PERMASALAHAN
1. Pengertian Sekolah Efektif

Efektivitas menunjukan ketercapaian sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas
organisasi merupakan kemampuan organisasi untuk merealisasikan berbagai tujuan dan
kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mampu bertahan hidup. Efektivitas
sekolah menunjukan kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan target yang telah
ditetapkan.
Efektivitas sekolah bukan hanya sekedar pencapaian sasaran atau terpenuhinya berbagai
kebutuhan untuk mencapai sasaran, tetapi erat kaitannya antara komponen- komponen
sistem dengan mutu- mutu atau kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari
lulusan yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan.
Misalnya nilai ujian akhir, prestasi olahraga, prestasi karya ilmiah , dan prestasi karya seni.
Kualitas lulusan dipengaruhi oleh tahapan- tahapan kegiatan sekolah yang saling
berhubungan meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Sekolah efektif merujuk pada adanya total quality manajemen (TQM) dimana TQM
merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk
memaksimalkan daya organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk jasa,
manusia dan proses lingkungannya ( Tjiptono dan Diana, 2001:4). Atau dengan kata lain
TQM adalah suatu pendekatan manajemen yang memusatkan perhatian pada peningkatan
mutu mulai komponen terkait. Dengan demikian sekolah efektif adalah sekolah yang
menunjukan tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai ( archivement atau observed
output ) dan sekolah yang mampu mengoptimalkan semua masukan dan proses bagi
ketercapaian output pendidikan yaitu prestasi sekolah, terutama prestasi siwa yang ditandai
dengan dimilikinya semua kemampuan berupa kompetensi yang menjadi syarat dalam
belajar.
2. Ciri ciri dan karakteristik sekolah efektif
Efektivitas sekolah menunjukan adanya proses perekayasaan berbagai sumber dan metode
yang diarahkan pada terjadinya pembelajaran di sekolah yang optimal. Efektivitas sekolah
merujuk pada pemberdayaan semua komponen sekolah berbagai organisasi tempat belajar
berdasarkan tugas pokok dan fungsinya masing- masing struktur program dengan tujuan
agar siswa belajar dan mencapai hasil yang ditetapkan yaitu kompetensi. Tidak semua
sekolah yang memiliki kelengkapan semua komponen sistem dikatakan efektif. Hal ini
sangat tergantung pada tingkat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada masingmasing komponen, terutama tercapainya output sekolah yaitu menghasilkan lulusan yang
bermutu. Penekanan keefektivan sekolah adalah pada proses belajar yang berlangsung
pada proses belajar yang berlangsung secara aktif atau ada keterlibatan berbagai pihak
terutama siswa dan guru sebagai subjek belajar.
Ciri- ciri sekolah efektif ditentukan oleh adanya aspek aspek yang diperlukan untuk
menentukan keberhasilan sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN
1. SEKOLAH SEBAGAI SUATU SISTEM
Sebagai sebuah sistem, sekolah memiliki komponen inti yang terdiri dari input, proses, dan
output. Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena merupakan
satu kesatuan utuh yang saling terkait, terikat, mempengaruhi, membutuhkan dan
menetukan. Perubahan satu komponen akan berpengaruh pada komponen-komponen

lainnya. Input sekolah adalah segala masukan yang dibutuhklan sekolah untuk terjadinya
pemrosesan guna mendapatkan output yang diharapkan. Input sekolah antara lain manusia
(man), uang (money), material (materials), metode-metode (methods), mesin- mesin
(machine). Input disini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu inputsumber daya dan input
manajemen atau kepemiminan. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia dan
sumber dayalainnya. Input manajemen adalah seperangkat tugas, rencana, program,
ketentuan-ketetuan untuk menjalankan tugas, pengendalian, dan kesan positif yang
ditanamkan kepala sekolah kepada warga sekolah.input manajemen adlah input potensial
bagi pembentuklan sistem yang efektif dan efisien. Kedudukan uang dalam input pendidikan
sangat penting untuk membiayai semua program yang telah ditetapkan. Bahan-bahan
adalah bahan fisik yang diperlukan untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran di
sekolah guna membentuk siswa seutuhnya.bahan-bahan tersebut adalah berupa sarana
dan prasarana, alat-alat pendidikan/media, dan sumber pendidikan. Metode yaitu metode
pembelajaran atau cara-cara, teknik, dan strategi yang dikembangkan sekolah dalam
melaksanakan proses pendidikan. Sedangkan mesin-mesin adalah seperangkat yang
mendukung terjadianya proses pembelajara dapat berupa teknologi komputer, radio, televisi,
mobil, atalu media-media yang menggunakan teknologi. Alat-alat terebut diguanakan
sekolah baik sebagai daya dukung maupun sebagai objek untuk dipelajari. Proses
berlangsungnya sekolah pada intinya adalah berlangsungnya pembelajaran, yaitu terjadinya
interaksi antara siswa dengan guru yang didikung oleh perangkat lai sebagai bagian darip
proses pembelajaran. Daya dukung tersebut adalah satu kesatuan aksi yang menciptakan
sinergi proses belajar mengajar, yaitu :
a. Proses kepemimpinan yang menghasilkan keputusan-keputusan kelembagaan,
pemotivasian staf, dan lpenyebaran inovasi.
b. Proses manajemen yang menghasilkan aturan-aturan penyelenggaraan,
pengkoordinasian kegiatan, memonitoring, dan evaluasi.
Proses kepemimpinan yaitu menghasilkan keputisan kelembagaan yang terjadi sebagai
keputusan partisipatif atau keputusan bersama antara kepala sekolah, guru, siswa, orang
tua siswa, para ahli dan orang-orang berkepentingan dalam pendidikan. Langkah lain yng
penting dalam proses penyelenggaraan sekolah adalah monitoring dan evaluasi sebagai
langkah untuk memperoleh kejelasan tentang output yang akan dicapai. Sekolah sebagai
sistem, seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin kepastiannya. Ouput dari
aktivitas sekolah adalah segala sesuatu yang kita pelajari didekolah, yaitu seerapa banyak
yang dipelajari dan seberapa baik kita mempelajarinya. Output sekolah yaitu berupa
kelulusan siswa. Output sekolah berfokus pada siswa, tetapi siswa yang memiliki
kompetensi yangdipersyaratkan. Output sekolah adalah lulusan yang berguna bagi
kehidupanyaitu lulusan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungannya.
Outcame pada pendidikan dasardan menengah adalah siswa dapat melanjutkan
pendidikannya kejenjang yanglebih tinngi.
PENGERTIAN SEKOLAH EFEKTIF
Sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki sistem pengelolaan yang baik, transparan dan
akuntabel, serta mampu memberdayakan setiap komponen penting sekolah, baik secara
internal maupun eksternal, dalam rangka pencapaian visi-misi-tujuan sekolah secara efektif
dan efesien.
Karakterstik sekolah efektif
- Organizational leadership (kepemimpinan organisasi)
- Curicullum leadership (kepemimpinan kurikulum)
- Supervisory leadership (pemimpin sebagai pengawas)
- Management (manajemen).
2. KONSEP SEKOLAH EFEKTIF
Di era globalisasi sekarang ini, kemajuan sekolah merupakan esensi dari pengelolaan
sekolah melalui pemeliharaan mutu, responsive terhadap tantangan dan antisipatif terhadap
perubahan perubahan yang di akibatkan dari berubahnya tatanan internal sehingga tidak

menimbulkan keadaan bergejolak dan ketidakpastian yang dapat mengancam runtuhnya


berbagai tatanan yang telah diciptakan sedemikian rupa.
Globalisasi memberikan warna tersendiri bagi arah pencapaian tujuan pendidikan. Adanya
arus globalisasi sangat berpengaruh terhadap pengembangan sekolah. Hanya sekolah yang
berkualitas saja yang mampu eksis dalam global. Mutu sudah menjadi satu keharusan dan
menjadi konsep yang paling manjur untuk menjawab tantangan global. Sebagai upaya
peningkatan mutu pendidikan, lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi harus
melakukan berbagai langkah penataan baik internal maupun eksternal.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah perbaikan di bidang manajemen, salah satu aspek
penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang kurang mendapatkan perhatian jika
dibanding dengan aspek-aspek lainnya. Salah satu konsep peraikan input, proses, dan
output adalah TQM. TQM diartikan sebagai manajemen kualitas secara total dimana
merupakan satu pendekatan yang sistematis, praktis, strategis, bagi penyelenggara
pendidikan yang mengutamakan kepuasan pelanggan yang bertujuan meningkatan mutu.
TQM adalah komitmen pada mutu yang baik oleh tiap orang dalam suatu organisasi yang
menekankan kesempurnaan oleh kerja tim dan proses peningkatan berlanjutan. Pencapaian
tingkatan kualitas bukan merupakan hasil merupakan hasil penerapan cara instan jangka
pendek untuk meningkatkan daya saing, akan tetapi pengimplementasian TQM
mengisyaratkan kepemimpinan yang kontinyu. Mutu sekolah adalah mutu semua komponen
yang ada dalam system pendidikan, artinya efektifitas sekolah tidak hanya dinilai dari hasil
semata, tetapi bersinergi dengan berbagai komponen dalam mencapai tujuan yang
ditetapkan dengan mutu.
Asas terpenting dan menjadi landasan bergerak dalam pengelolaan pendidikan menuju
sekolah efektif adalah semua anak dapat belajar. Hal ini mengisyaratkan bahwa sekolah
merupakan wahana yang menyediakan tempat yang terbaik bagi anak untuk belajar, dimana
semua upaya manajemen dan kepemimpinan yang terjadi di sekolah diarahkan bagi usaha
membuat semua peserta didik belajar.
Efektivitas belajar bukan hanya menilai hasil belajar siswa, tetapi semua upaya yang
menyebabkan anak belajar. Hal ini terkait dengan fungsi sekolah sebagai tempat belajar
yang memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pengalaman pembelajaran yang bermutu
bagi peserta didik. Dengan demikian, sekolah efektif adalah sekolah yang menjalankan
fungsinya sebagai tempat belajar yang paling baik yang menyediakan layanan pembelajaran
yang bermutu bagi siswa. Sekolah merupakan suatu institusi yang didalamnya terdapat
komponen guru, siswa, dan staf administrasi yang masing-masing mempunyai tugas
tertentu dalam melancarkan program.
Keberhasilan suatu sekolah merupakan ukuran bersifat mikro yang didasarkan pada tujuan
dan sasaran pendidikan pada tingkat sekolah sejalan dengan tujuan pendidikan nasional
serta sejauh mana tujuan itu dapat tercapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya
pendidikan yang berlangsung disekolah.
Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan perumusan apa yang harus
dikerjakan dengan apa yang telah dicapai. Sehingga suatu sekolah akan disebut efektif jika
terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan
hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah, sebaliknya sekolah dikatakan tidak efektif bila
hubungan tersebut rendah.
Efektivitas sekolah menunjukkan pada tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai berupa
achievements atau observed output dengan hasil yang diharapkan berupa objectives,
targets, intended outputs yang telah ditetapkan. Sekolah efektif adalah sekolah yang
membuat prestasi tidak saja pada siswa tetapi pada semua komponen yang melingkupinya.
Parameter untuk mencapai efektifitas dinyatakan sebagai angka nilai rasio antara jumlah
hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu dibandingkan dengan jumlah yang
ditargetkan dalam kurun waktu tertentu.
Efektivita sekolah juga terkait pula dengan kualitas. Kualitas adalah gambaran dan
karakteristik menyeluruh dari lulusan yang menunjukkan kemampuannya dalam
memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat misalnya nilai hasil ujian akhir,
prestasi olahraga, prestasi karya tulis ilmiah, dan prestasi pentas seni. Dengan demikian

sekolah efektif adalah sekolah yang mampu mengoptimalkan semua masukan dan proses
bagi ketercapaian output pendidikan yaitu prestasi sekolah terutama prestasi siswa yang
ditandai dengan dimilikinya semua kemampuan berupa kompetensi yang sipersyaratkan
didalam belajar.

4. Ciri-ciri dan Karakteristik Sekolah Efektif


Tidak semua sekolah yang memiliki kelengkapan semua komponen sistem dikatakan efektif.
Penekanan keefektifan sekolah adalah pada proses belajar yang berlangsung secara efektif
atau ada kterlibatan berbagai pihak terutama siswa dan guru sebagai subjek belajar. Ada
beberapa komponen penting yang turut menentukan keberhasilan sekolah efektif, yaitu
pengaturan kelembagaan yang didasarkan pada prestasi dan kenyamaan staf, perhatian
terhadap kebutuhan, aspirasi, dan karier staf, pengembangan budaya sekolah dan
manajemen modern yang didasarkan pada share, care dan fair.
Ciri-ciri sekolah efektif
Ciri-ciri Indikator
Tujuan sekolah dinyatakan secara jelas dan spesifik tujuan sekolah :
-dinyatakan secara jelas
- digunakan untuk megambil keputusan
- dipahami oleh guru, staf, dan siswa
Pelaksanaan kepemimpinan pendidikan yang kuat oleh kepala sekolah Kepala sekolah :
-bisa dihubungi dengan mudah
- bersifat responsif kepada guru dan siswa
- responsif kepada orang tua dan masyarakat
- melaksanakan kepemimpinan yang berfokus kepada pembelajaran
- menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai dengan rasio ideal
Ekspektasi guru dan staf tinggi Guru dan staf:
-yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan berprestasi
- menekankan pada hasil akademis
- memandang guru sebagai penentu terpenting bagi keberhasilan siswa.
Ada kerjasama kemitraan antara sekolah, orang tua dan masyarakat Sekolah :
-komunikasi secara positif dengan orang tua
- memelihara jaringan serta dukingan orang tua dan masyarakat
- berbagi tanggung jawab untuk menegakkan disiplin dan mempertahankan keberhasilan.
Menghadiri acara-acara penting di sekolah.
Adanya iklim yang positif dan kondusif bagi siswa untuk belajar Sekolah :
-rapi, bersih, dan aman secara fisik
- dipelihara secara baik
- memberi penghargaan kepada yang berpestasi
- memberi penguatan terhadap perilaku positif siswa
Siswa :
-menaati peraturan sekolah dan aturan pemerintah daerah
-menjalankan tugas/kjewajiban tepat waktu.
Kemajuan siswa sering dimonitor Guru memberi siswa :
-tugas yang tepat
- umpan balik secara cepat/segera
- kemampuan berprestasi dikelas secara optimal
- penilaian hasil belajar dari berbagai segi.
Menekankan kepada keberhasilan siswa dalam mencapai keberhasilan siswa dalam
mencapai keterampilan aktivitas yang esensial Siswa :
-melakukan hal terbaik untuk mencapai hasil belajar ;
yang optimal, baik yang bersifat akademis maupun non akademis.
- memperoleh keterampilan yang esensial

Kepala sekolah :
Menunjukan komitmen dan mendukung program keterampilan esensial
Guru :
Menerima bahan yang memadai untuk mengajarkan keterampilan yang esensial
Komitmen yang tinggi dari SDM sekolah terhadap program pendidikan Guru :
Membantu merumuskan dan melaksanakan tujuan fpengembangan sekolah.
Staf :
-memperkuat dan mendukung kebijakan sekolah dan pemerintah daerah
- menunjukkan profesionalisme dalam bekerja.
David A. Squires berhasil merumuskan ciri-ciri sekolah efektif yaitu :
1. Adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekkolah, guru, siswa, dan karyawan di
sekolah;
2. Memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan dikelas;
3. Mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi;
4. Siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan
5. Siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik
6. Adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi
7. Siswa berpendapat kerja keras lebih penting daripada faktor keberuntungan dalam
meraih prestasi
8. Para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum
9. Kepala sekolah mempunyai program inservice,, pengawasan, supervisi, serta
menyediakan waktu untuk membuaat rencana bersama-sama dengan para guru yang
memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademikya.
Jaap Scheerens menyatakan bahwa sekolah efektif mempunyai lima ciri penting yaitu :
1. Kepemimpinan yang kuat
2. Penekanan pada pencapaian kemampuan dasar
3. Adanaya lingkungan yang nyaman
4. Harapan yang tinggi pada prestasi siswa
5. Penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa
Mackenzie mengidentifikasikan tiga dimensi pendidikan efektif yaitu kepemimpinan,
keefektifan dan efesiensi serta unsur pokok dan penunjang masing-masing dimensi tersebut
Edmons mewnyebutkan bahwa ada lima karakteristik sekolah efektif yaitu :
1. Kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualiltas pengajaran
2. Pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran
3. Iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajara dan pembelajaran
4. Harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu
5. Penilaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa
Pengetahuan lain mengenai sekolah efektif adalah sebagai berikut :
1. Mampu mendemontrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria
2. Menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya
3. Adanya kepemimpinan yang kuat
4. Adanaya hubungan yang baik antara ssekolah dengan orang tua siswa
5. Pengembanga nstaf dan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar
Metode lain yang dipakai untuk mengidentifikasikan sekolah yang efektif adalah :
penggunaan standar tes, pendekatan reputasi, dan penggunaan evaluasi sekolah serta
pengembangan berbagai aktivitas.
Edward Heneveld mengungkapkan serangkaian indikator berupa 16 faktor yang berkenaan
dengan sekolah efektif yaitu ;
1. Dukungan orang tua siswa dan lingkungan
2. Dukungan yang efektif dari sistem pendidikan
3. Dukungan materi yang cuku
4. Kepemimpinan yang efektif
5. Pengajaran yang baik
6. Fleksibilitas dan otonomi

7. Waktu yang cukup disekolah


8. Harapan yang tinggi dari siswa
9. Sikap yang positif dari para guru
10. Peraturan dan disiplin
11. Kurikulum yang terorganisir
12. Adanya penghargaan dan insentif
13. Waktu pembelajaran yang cukup
14. Variasi strategi pembelajaran
15. Frekuensi pekerjaan rumah
16. Adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin.
Karakteristik sekolah efektif Pam Sammors
Aspek indikator
Profesional leadership -firm and purposeful
- a participate approach
- the leading profesional
Shared vision and goals -unity of purpose
- consistency of practise
- collegiallity and collaboration
A learning environment -an ordery atmosphere
- an attractive working environment
- maximation of learning time
Learning -academic emphasis
- focus on achievement
Purposeful teaching -high expectation all round
- communication expectation
- providing intelectual challenge
Positive reinforcement -clear and fair dicipline
- feedback
Monitoring progress -monitoring pupil performance
- evaluating school performance
Pupil right and responsibility -raising pupil self esteem
- position of responsibility
- control of work
Home/school partnership Parental involvement in their childrens learning
A learning organization Scholl based staff development
Bank dunia mengidentifikasikan empat kelompok karakteristik sekolah efektif yaitu :
a. Supporting Inputs (input dukungan)
Karakteristik pertama ditinjau dari sudut input dukungan yaitu perangkat-perangkat yang
turut menjelmakan sekolah efektif ditinjau dari dukungan sekolah. Dukungan dari siswa
adalah kesadaran siswa akan hak dan kewajibanny disekolah dan belajar dengan prinsip
kejujuran. Dukungan guru dan staf lain adlah menciptakan kondisi belajar yang sehat.
Dukungan orang tua dan masyarakat terhadap program sekolah berupa dukungan terhadap
sarana prasarana, kelengkapan buku sumber, dan alat-alat praktik, serta adanya dukungan
sistem yang diselenggarakan dengan efisien dan efektif.
b. Enabling conditions (kondisi yang memungkinkan)
Yaitu kondisi yang membuat sekolah efektif itu mungkin akan terwujud dengan kondisi yang
diciptakan oleh lingkungan atau sistem sekolah
c. School climate (iklim sekolah)
Adalah indikator sekolah efektif yang menekankan pada keberadaan rasa menyenangkan
dari suasana sekolah,bukan saja dari kondisi fisik, tetapi keseluruhan aspek internal
organisasi.

d. Teaching learning prosess (proses pengajaran guru)


Sekolah merupakan tempat belajar yang memberikan layanan pembelajaran bermutu
melalui strategi pembelajaran yang bervariasi, penilaian yang kontinyu dengan follow up
yang cepat dan tepat, mendorng partisipasi siswa dalam pembeljaran serta memperhatikan
kehadiran siswa, pelaksanaan tugas-tugas siswa dan keberlanjutan tugas-tugasnya.
5. KEPEMIMPINAN SEKOLAH EFEKTIF
Kata pemimpin diartikan oleh para pempraktik sebagai orang yan menrapkan prinsip-prinsip
dan tenik yang memastikan motivasi, disiplin dan produktivitas dalam bekerjasama dengan
orang, tugas dan situasi agar dapat mencapai tujuan organisasi. Sebelum mengerti akan
sifat kepemimpinan maka langkah awal harus megetahui sifat kekuasaan karena
kepemimpinan adalah bentuk khusus dari kekuasaan yang melibatkan.
Kepemimpinan adalah aspek terpenting dari oraganisasi melalui penanganan perubahan
dan mananjemen yang dilakukan sehingga dapat mmberi dampak posotif dari
perkembangan organisasi.
Macam-macam kepemimpinan yang dipandang representative bagi penyelenggaraan
organisasional sekolah yang efektif, yaitu :
a. Kepemimpinan trensaksional
Kepemimpinan transaksiona adalah kepemimpnan yang menekankan pada tugas yang
diemban bawahan. Kepemipinan transaksional tidak mengembangkan pola hubungan laizez
fair yaitu memberikan sepenuhnya karyawan untuk menentukan sendiri pekerjaannya
karena dikhawatirkan dengan keadaan personel yag perlu pembinan, pola ini dapat
menjadikan malas dan tidak jelas apa yang ikerjakan,pola yang diemban yaitu pola timbale
balik yang dapat menguntungkan, pemimpin mengetahui jabatan yang sesuai engan peerjan
yang hars diakukan.
b. Kepemimpinan Transformasional atau katalisator
Kepemimpinan transformasiona adalah suatu proses yang pada dasarnya pemimpi dan
karyawan salng menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yag kebih tinggi. (burns,
1978). Pemimpin tranformasiona meruakan pemimin yang berpengalaman dan wawasan
jauh keepan serta berupaya untuk memperbaiki dalam perkembangan organisasi untuk saat
ini ataupun untuk masa yang akan datang dan juga sebagai reactor, pengubah sistem untuk
kearah yang lebih baik dan meningkatkan SDM.
c. Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan vsioner adalah kemampuan pemimpin dalam mencitakan, merumuskan,
mensosialisasikan dan mengimplemenaskan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari
dirinya atau sebagai hasil ineraki sosial diantara oragnsasi dan stakeholders yang diyakini
ebagai cita-cita oraganisasi dimasa depan yang harus diarah atau diwujudkan melalui
komitmen semua anggota.
Ciri-ciri pemimpin visioner ang bekualitas meurut John Adair, yaitu :
1. Memiliki integritas pribadi
2. Memiliki antusiasme terhadap perkembangan lembaga yang diembannya
3. Mengembangkan kehangatan, budaya dan iklim organisasi
4. Memiliki ketenangan dalam manajemen organisasi
5. Tegas dan adil dalam mengambil tindakan / kebijakan kelembagaan.

BAB III
PENUTUP
Sekolah memiliki misi mendidik siswanya agar dapt melanjutkan pendidikan kejenjang yang
lebih tinggi, meningkatkan pengetahuan dan hubungan timbal balik dengan
masyarakat.efektifitas sekolah dapat tercermin dari profil sekolah yang memiliki keteratran
dalam berbagai aspek untuk mencapi tujuan. Aspek-aspek tersebut antara lain siswa, guru,
dan tenaga kependidkan lainnya, kurikulum, sarana prasarana, kegiatan belajar,
ekstrakurikuler, bimbingan dan konseling, kemitraan sekolah dengan masyarakat sampai
pada kegiatan-kegiatan khusus yang berkembang atas kebutuhan dan inspirasi sekolah.

Orang yang bertanggung jawab atas manajemen sekolah adalah seorang kepala sekolah
yang memiliki karakteristik kepemimpinan karena untuk menggerakan orang-orang
diperlukan pengaruh pimpinan yang memiliki kapabilitas sebagi pemimpin yang berkualitas.
(Sumber: http://gazzlieh46.blogspot.co.id/2011/06/makalah-tentang-sekolahefektif.html)

HAKIKAT DAN KARAKTERISTIK SEKOLAH UNGGUL


HAKIKAT SEKOLAH UNGGUL
Istilah sekolah dalam khazanah ke Indonesiaan merujuk pada lembaga
pendidikan formal yang berada pada jenjang bawah perguruan tinggi. Sekolah
mengandung arti tempat atau wahana anak mengenyamproses pembelajaran.
Artinya di sekolah seoranganak menjalani proses belajar secara terarah,
terpimpin dan terkendali.
Sekolah berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan (knowledge transfer),
transfer nilai (value transfer), juga berfungsi mempertahankan dan
mengembangkan tradisi dan budaya-budaya luhur dalam suatu masyarakat
melalui proses pembentukan kepribadian (in the making personality processes)
sehingga menjadi manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri di
dalamkebudayaan dan masyarakat sekitarnya.
Sekolah tidak boleh hanya diartikan sebagai sebuah ruangan atau gedung
tempat anak berkumpul dan mempelajari sejumlah materi pengetahuan. Sekolah
harus diartikan lembaga pendidikan yangterkait akan norma dan budaya yang
mendukungnya sebagai suatu sistem sosial. Apabila sekolah dipandang sebagai
sebuah wadah untuk memproses pembudayaan nilai, maka menurut Imam
Suprayogo, hal-hal yang perlu diperhatikan secara serius adalah pembentukan
iklim pendidikan baik klim yang bersifat tangible maupun yang intangible.
Iklim yang bersifat tangible seperti perangkat keras sekolah berupa gedung,
kelengkapan taman, halaman, dan juga penampilan para guru maupun siapa
saja yang terlibat dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan. Sedangkan
iklim yang bersifat intangible menyangkut tentang birokrasi sekolah yang
dikembangkan, hubungan antar guru, guru dan murid, antar murid dan
seterusnya. Iklim tersebut merupakan bagian dari hal-hal penting yang perlu
diperhatikan oleh sebuah sekolah, terutama dalam membentuk iklim sekolah
unggul.
Sebutan sekolah unggulan itu sendiri kurang tepat. Kata unggul menyiratkan adanya superioritas
dibanding dengan yang lain. Kata ini menunjukkan adanya kesombongan intelektual yang sengaja
ditanamkan di lingkungan sekolah. Di negara-negara maju, untuk menunjukkan sekolah yang baik
tidak menggunakan kata unggul (excellent) melainkaneffective, develop, accelerate, dan essential.

Terkait dengan pemahaman sekolah unggul (effective) berbagai pendapat teori


dari ahli pedidikan menegaskan beberapa indikatornya sebagai berikut :
David A. Squires, et.al. (1983) ciri-ciri sekolah efektif yaitu: 1.) adanya standar
disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di sekolah.
2). Memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas; 3). Mempunyai
standar prestasi sekolah yang sangat tinggi; 4). Siswa diharapkan mampu
mencapai tujuan yang telah direncanakan; 5). Siswa diharapkan lulus dengan
menguasai pengetahuan akademik; 6). Adanya penghargaan bagi siswa yang
berprestasi; 7). Siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor
keberuntungan dalam meraih
prestasi; 8). Para siswa diharapkan mempunyai
tanggungjawab yang diakui secara umum; dan 9). Kepala sekolah mempunyai

program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk


membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya
umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya.
Jaap Scheerens (1992) sendiri, sekolah yang efektif mempunyai lima ciri penting
yaitu; (1) Kepemimpinan yang kuat; (2) Penekanan pada pencapaian
kemampuan dasar; (3) Adanya lingkungan yang nyaman; (4) Harapan yang
tinggi pada prestasi siswa; (5) Dan penilaian secara rutin mengenai program
yang dibuat siswa.
Atau Edmons (1979) lima karakteristik sekolah efektif yaitu; Kepemimpinan dan
perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran, pemahaman yang
mendalam terhadap pengajaran, iklim yang nyaman dan tertib bagi
berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran, harapan bahwa semua siswa
minimal akan menguasai ilmu pengetahuan tertentu, dan penilaian siswa yang
didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa.
Mackenzie (1983) mengidentifikasikan tiga dimensi pendidikan efektif yaitu
kepemimpinan, keefektifan dan efisiensi serta unsur pokok dan penunjang
masing-masing
dimensi
tersebut.
Sedangkan
(Townsend,
1994). mengidentifikasikan sekolah yang efektif adalah penggunaan standar tes,
pendekatan reputasi, dan penggunaan evaluasi sekolah serta pengembangan
berbagai aktifitas.
Pengetahuan
lain
mengenai
sekolah
efektif
adalah
(1) Mampu
mendemontrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria ; (2)
Menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya; (3) Adanya
kepemimpinan yang kuat ; (4) Adanya hubungan yang baik antara sekolah
dengan orangtua siswa; dan (5) Pengembangan staf dan iklim sekolah yang
kondusif untuk belajar.
Secara ontologis, sekolah unggul dalam perspektif Departemen Pendidikan
Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam
keluaran (output) pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut maka
masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen,
layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus di arahkan untuk
menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Sekolah unggul merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah keinginan
untuk memiliki sekolah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia
dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh ditunjang oleh akhlakul
karimah.
Sekolah unggul dikembangkan untuk mencapai keistimewaan dalam keluaran
pendidikannya. Untuk mencapai keistimewaan tersebut, maka masukan, proses
pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan,
serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya
tujuan tersebut

KARAKTERISTIK SEKOLAH UNGGUL

Sesuai dengan pengertian dasarnya, sekolah unggul (effectife school) berarti


sekolah yang memiliki kelebihan, kebaikan, keutamaan jika dibandingkan dengan
yang lain, maka dalam konteks ini sekolah unggul mengandung makna sekolah
model yang dapat dirujuk sebagai contoh bagi kebanyakan sekolah lain karena
kelebihan, kebaikan dan keutamaan serta kualtas yang dimilikinya baik secara
akademik maupun non akademik.
Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan sejumlah kriteria yang harus
dimiliki sekolah unggul. Meliputi :
Pertama, masukan (input) yaitu siswa diseleksi secara ketat dengan
menggunakan
kriteria
tertentu
dan
prosedur
yang
dapat
dipertanggungjawabkan. Kriteria yang dimaksud adalah : (1) prestasi belajar
superior dengan indicator angka rapor, Nilai Ebtanas Murni (NEM, sekarang nilai
UN), dan hasil tes prestasi akademik, (2) skor psikotes yang meliputi intelgensi
dan kreativitas, (3) tes fisik, jika diperlukan.
Kedua, sarana dan prasarana yang menunajang unutk memenuhi kebutuhan
belajar siswa serta menyalurkan minat dan bakatnya, baik dalam kegiatan
kurikuler maupun ekstra kurikuler.
Ketiga, lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi
keunggulan menjadi keunggulan yang nyata baik lingkung fisik maupun socialpsikologis.
Keempat, guru dan tenaga kependidikan yang menangani harus unggul baik
dari segi penguasaan materi pelajaran, metode mengajar, maupun komitmen
dalam melaksanakan tugas. Untuk itu perlu diadakan insentif tambahan guru
berupa uang maupun fasilitas lainnya seperti perumahan.
Kelima, kurikulum dipercaya dengan pengembangan dan improvisasi secara
maksimal sesuai dengan tuntutan belajar peserta didik yang memiliki kecepatan
belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa seusianya.
Keenam, kurun waktu belajar lebih lama dibandingkan sekolah lain. Karena itu
perlu ada asrama untuk memaksimalkan pembinaan dan menampung para
siswa dari berbagai lokasi. Di kompleksasrama perlu adanya sarana yang bisa
menyalurkan minat danbakat siswa seperti perpustakaan, alat-alat olah
raga,kesenian dan lain yang diperlukan.
Ketujuh, proses belajar mengajar harus berkulitas dan hasilnya dapat
diertanggungjawabkan (accountable) baik kepada siswa, lembaga maupun
masyarakat.
Kedelapan, sekolah unggul tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta
didikdi sekolah tersebut, tetapi harus memiliki resonansi social kepada
lingkungan sekitarnya.
Kesembilan, nilai lebih sekolah unggul terletak pada perlakuan tamban di luar
kurikulum nasional melalui pengembangan kurikulum, program pengayaan dan
perluasan, pengajaran remedial, pelayanan bimbingn dan konseling yang
berkualitas, pembinaan kreatifitas dan disiplin.

Mencermati sekolah unggul yang diajukan di atas, secara eksplisit masih


mengarah pada aspek-aspek bersifat tangible, atau berada pada ranah kognitif
sehingga sulit diharapkan mampu menciptakan manusia yang sesungguhnya
atau insan kamil (manusia utuh).
Manusia utuh yang diharapkan lahir dari sekolah unggul adalah manusia yang
menampilkan citra sebagai sosok makhluk tuhan yang di dalam dirinya terdapat
potensi rasional (nalar), potensi (emosi) dan potensi spiritual. Tiga dimensi
keunggulan
(cerdas
intelek,
cerdas
emosional
dan
serdas
spiritual)dalamperspektif Islam mencitrakan sosok manusia utuh.
Lembaga pendidikan yang terlalu banyak menekankan pentingnya nilai
akademik, kecerdasan otak atau IQ saja, mengabaikan kecerdasan emosi yanga
mengajarkan: integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan
mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri atau
sinergi menjadikan pendidikan kehilangan ruhnya.
Aspek emosional sebagai salah satu unsur yang menandai ke- diri-an manusia
tidakbisadiabaikan, karena ia akan membentuk karakter kepribadian manusia,
terutama ketika iamenghadapi berbagai kerumitan dan keruwetan kenyataan
hidup.
Secara esensi kecerdasan emosional (EQ) adalah hatiyang mengaktifkan nilainilai kita yang terdalam, mengubahnya dari suatu yangkita piker menjadi
sesuatu yang kita jalani. Hatimampu mengetahui hal-hal mana yang tidakboleh,
atau tidak dapat diketahui oleh pikiran kita.
Kedua aspek tersebut, dalam perspektif pendidikan ideal belumlah cukup
untukmenggambarkan kebutuhan sosok manusia. Sebab dalam diri manusia
terdapat satu asek penting lainnya yaitu potensi spiritual. Pemanduan ketiga
potensi ini menggambarkan keutuhan manusia yang sesungguhnya. Sebab
bukanlah manusia jikahanya memiliki rasio, tetapi tumpul rasa. Juga ukanlah
manusia jika iamenggambarkan sosok dirinya sebagai makhluk yangterus
menrus berzikir tanpa memiliki kepekaan terhadap aspek-aspek lain (sosial,
ekonomi, budaya dan sebagainya).
Karena itu, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang kita gunakan untuk
membuat kebaikan, kebenaran,keindahan, dan kasih saying dalam hidup kita,
kecerdasan untuk menghadapi persoalanmakna atau value, yaitu kecerdasan
untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih
luas dan kaya. Dengan lain pernyataan, pendidikan adalah kemampuan
merasakan hubungan yang tersembunyi (the hidden connection) antar berbagai
fenomena dalam hidup manusia. Dengan mengorientasikan tiga unsur tersebut
berarti sekolah unggul telah mengakomodasi sisi kemanusiaan peserta didik
secara komprehensif, tidak hanya berkutat pada persoalan nilai UN, atau
pengetahuan kognitif saja, tetapi hal ini juga menekankan semua segi
kehidupan manusia seperti spiritualitas,moralitas, sosialitas, rsadan rasionalitas.
Sebab, menentukan kriteria keunggulan sekolah dari sisi kognitif saja tidak
hanya mereduksi keluasan makna dan fungsi pendidikan, tetapi juga sekolah
akan menjadi semacam ajang pemaksaan budaya dominan, yaitu prestise
danpopularitas sesaat para shareholders (pemegang kepentingan) sehingga out
put (siswa)-nya tidak lagi dipandang sebagai people who can transform

knowledge and society, tetapi sebagi makhluk semi mati yang bisa direkayasa
untuk kepentingan-kepentingan pragmatis pula.
Sekolah yang idealnya merupakan sebuah proses humanisasi dan liberalisasi
(amr bil maruf wa hany an almungkar) menjadi keilangan relevansi dan jati
dirinya bagi pemecahan permasalahan dalam pembangunan manusia
seutuhnya. Lembaga pendidikan unggul idealnya berkepentingan untuk
menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi multidimensi
seperti dikemukakaan di atas, tidak untuk menjadikan manusiasebagai makhluk
tuna dimensi. Dengan demikian output lembaga pendidikan unggul mampu
hidup serasi bukan hanya dengan habitat ekologinya (lingkungan keluargaI,
manusia dengan anggota masyarakat,manusia dengan alam, tetapi juga
manusia dengan Tuhan.
(Sumber: http://www.ibnushobah.web.id/2012/08/hakikat-dan-karakteristiksekolah-unggul.html)

MANAJEMEN PENDIDIKAN MASA DEPAN


Oleh: Eman Suparman
(Widyaiswara PPPG Tertulis Bidang Studi IPS)

Salah satu masalah pendidikan yang kita hadapi dewasa ini adalah rendahnya mutu
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar
dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan, antara lain memlalui berbagai
pelatihan dan peningkatan kualifikasi guru, penyediaan dan perbaikan
sarana/prasarana pendidikan, serta peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun
demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang
merata. Sebagaian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu
yang cukup menggembirakan, namun Sebagian lainnya masih memprihatinkan. Dari
berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan
mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.
Pertama
, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan
educational production function yang tidak dilaksanakan secara konsekuen.
Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi
yang apabila dipilih semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan
produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki.
Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi, mengapa? Karena
selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu
memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses
pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.
Kedua
, penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik, sehingga sekolah
sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi,
yang kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi
sekolah setempat. Dengan demikian sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan
inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan
mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.
Ketiga
, peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan
pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi masyarakat pada umumnya selama
ini lebih banyak bersifat dukungan dana, bukan pada proses pendidikan
(pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas). Berkaitan dengan
akunfabilitas, sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan
hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa,
sebagai salah satu pihak utama yang berkepentingan dengan pendidikan.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, perlu dilakukan upaya-upaya
perbaikan, salah satunya yang sekarang sedang dikembangkan adalah reorientasi
penyelenggaraan pendidikan, melalui manajemen sekolah (School Based
Management).

Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


1. Pengertian
Manajemen berbasis sekolah atau School Based Management dapat didefinisikan
dan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan
melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara
langsung dalam proses pengembilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu
sekolah atau untuk mencapai tujuan mutu sekolah dalam pendidikan nasional.
2. Esensi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Esensi dari MBS adalah otonomi dan pengambilan keputusan partisipasi untuk
mencapai sasaran mutu sekolah. Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan
(kemandirian) yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Jadi,
otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus
kepentingan warga sekolah sesuai dengan dengan peraturan perundang-undangan
pendidikan nasional yang berlaku. Kemandirian yang-dimaksud harus didukung oleh
sejumlah kemampuan, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan yang terbaik,
kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat, kemampuan
memobilisasi sumber daya, kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik,
kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif, kemampuan memecahkan
persoalan-persoalan sekolah, kemampuan adaftif dan antisipatif, kemampuan
bersinergi danm berkaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri.
Pengambilan keputusan partisipatif adalah suatu cara untuk mengambil keputusan
melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, di mana warga sekolah
(guru, karyawan, siswa,orang tua, tokoh masyarakat) dkjorong untuk terlibatsecara
langsung dalam proses pengambilankeputusan yang akan dapat berkontribusi
terhadap pencapaian tujuan sekolah.
Pengambilan keputusan partisipasi berangkat dari asumsi bahwa jika seseorang
dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan tersebut, sehingga yang
bersangkutan akan merasa memiliki keputusan tersebut, sehingga yang
bersangkutan akan bertanggung jawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk
mencapai tujuan sekolah. Singkatnya makin besar tingkat partisipasi, makin besar
pula rasa memiliki, makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggung
jawab, dan makin besar rasa tanggung jawab makin besar pula dedikasinya.
Dengan pola MBS, sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) yang lebih besar
dalam mengelola manajemennya sendiri. Kemandirian tersebut di antaranya meliputi
penetapan sasaran peningkatan mutu, penyusunan rencana peningkatan mutu,
pelaksanaan rencana peningkatan mutu dan melakukan evaluasi peningkatan mutu.
Di samping itu, sekolah juga mmiliki kemandirian dalam menggali partisipasi
kelompok yang brekepentingan dengan sekolah. Di sinilah letak ciri khas MBS.
Berdasarkan konsep dasar yang telah diuraikan di atas, maka perlu dilakukan
penyesuaian din dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru
manajemen pendidikan- masa depan yang lebih bernuansa otonomi yang
demokratis. Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen dari yang lama menuju
yang baru tersebut, dewasa ini secara konseptual maupun praktik tertera dalam
MBS.
Perubahan dimensi pola manajemen pendidikan dari yang lama ke pola yang baru
menuju MBS'dapat digambarkan sebagai berikut.

Dimensi-dimensi perubahan pola manajemen pendidikan dari yang lama ke pola


yang baru menuju MBS dapat digambarkan sebagai berikut
Pola lama
- Subordinasi
- Pengambilan keputusan terpusat
- Ruang gerak kaku
- Pendekatan birokratik
- Sentralistik
- Diatur
- Overregulasi
- Mengontrol
- Mengarahkan
- Menghindar Resiko
- Gunakan uang semuanya
- Individu yang cerdas
- Informasi terpribadi
- Pendelegasian
- Organisasi herarkis

Menuju
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>
------>

Pola baru
- Otonomi
- Pengambilan keputusan partisipasi
- Ruang gerak luwes
- Pendekatan Profesional
- Desentralistik
- Motivasi diri
- Deregulasi
- Mempengaruhi
- Memfasilitasi
- Mengelola resiko
- Gunakan yang seefisien mungkin
- Informasi terbagi
- Pemberdayaan
- Organisasi datar

Mengacu pada dimensi-dimensi tersebut di atas, sekolah memiliki wewenang lebih


besar dalam pengelolaan lembaganya. Pengambilan keputusan akan dilakukan
secara partisipatif dengan mengikutsertakan peran masyarakat sebesar-besarnya.
Selanjutnya,melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik lainnya dari profil
sekolah mandiri, di antaranya sebagai berikut :
1. Pengelolaan sekolah akan lebih desentaristik
2. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur
oleh luar sekolah.
3. Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana.
4. Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi.dari
mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola
resiko.
5. Akan mengalami peningkatan manajemen.
6. Dalam bekerja, akan menggunakan team work
7. Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan
sekolah
8. Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur
organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien.
Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk memandirikan atau
memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan sumber
daya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya, maka:
1. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman bagi dirinya dibanding dengan lembaga-lembaga lainnya.
2. Dengan demikian sekolah dapat mengoptimal kan sumber daya yang tersedia
untuk memajukan lembaganya.
3. Sekolah lebih mengetahui sumber daya yang dimilikinya dan input pendidikan
yang akan dikembangkan serta didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai
dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik,

4. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing


kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada, umumnya,
sehingga sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan
mencapai sasarn mutu pendidikan yang telah direncanakan.
5. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah-sekolah yang lainnya
untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan
dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.
Dengan demikian, secara bertahap akan terbentuk sekolah yang memiliki
kemandirian tinggi. Secara umum, sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Tingkat kemandirian tinggi sehingga tingkat ketergantungan menjadi rendah
2. Bersifat adaptif dan antisipatif memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif,
gigih, berani mengambil resiko)
3. Bertanggung jawab terhadap input manajemen dan sumber dayanya.
4. Memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja.
5. Komitmen yang tinggi pada dirinya.
6. Prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya.
Selanjutnya dilihat dari sumber daya manusia sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Pekerjaan adalah miliknya
2. Bertanggung jawab
3. Memiliki kontribusi terhadap pekerjaannya
4. Mengetahui poisisi dirinya dan memiliki kontrol terhadap pekerjaannya
5. Pekerjaan merupakan bagian hidupnya.
Dalam upaya menuju sekolah mandiri, terlebih dahulu kita perlu menciptakan
sekolah yang efektif. Ciri sekolah yang efektif adalah sebagai berikut:
1.visi dan misi yang jelas dan target mutu yang harus sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan secara lokal.
2. Sekolah memiliki output yang selalu meningkat setiap tahun.
3. Lingkungan sekolah aman, tertib, dan menyenangkan bagi warga sekolah.
4. Seluruh personil sekolah memiliki visi, misi, dan harapan yang tinggi untuk
berprestasi secara optimal.
5. Sekolah memiliki sistem evaluasi yang kontinyu dan komprehensif terhadap
berbagai aspek akademik dan non akademik.
Untuk lebih jelasnya gambaran sekolah yang efektif (effective school) dapat
digambarkan melalui gambar berikut ini.

Kesimpulan dan Saran


Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa
kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya.
Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu, manajemen yang sentralistis telah
menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada
berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di
bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.
Seiring dengan bergulirnya era dtonomi daerah, terbukalah peluang untuk
melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi
pengelolaan pendidikan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah
dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi
pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS. MBS bukan sekedar mengubah
penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis, tetapi lebih
dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah.
Melalui penerapan MBS, kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan
menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Dengan
demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan
akuntabilitas publik yang memadai. ^
Daftar Pustaka
1. Depdiknas; Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Buku 1 dan 2;
Jakarta; Depdiknas
2. Dadi Permadi; Artikel Pikiran Rakyat; tanggal 17 Pebruari 2001