Anda di halaman 1dari 16

ILMU UKUR TANAH

Disusun Oleh :
Wahyu Sugeng Triadi
111.140.190
KELAS I

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016

1. Posisi Horizontal
Sebuah garis dikatakan garis horizontal jika garis itu mendatar. Pengertian horizontal
adalah sejajar horizon (langit bagian bawah yang berbatasan dengan bumi menurut
pandangan mata).
Kegunaan koordinat horizontal:
a. Pendeskripsian lokasi dan letak suatu titik, garis, ataupun bidang secara kuantitatif,
baik secara absolut maupun relatif terhadap yang lainnya.
b. Perekonstruksian lokasi dan letak suatu titik, garis, ataupun bidang dilapangan.
c. Perhitungan parameter-parameter geografis seperti jarak antara 2 titik, arah dari suatu
titik ke titik lainnya, dan luas suatu bidang tanah.
Metode pengukuran posisi Horizontal:
Metode Polar
Menentukan satu titik koordinat yang diikatkan pada satu titik yang sudah
diketahui koordinatnya

Metode Mengikat Kemuka


Menentukan satu titik koordinat yang diikatkan pada dua titik yang sudah
diketahui koordinatnya.
Pada dasarnya metode mengikat kemuka adalah penentuan sebuah titik
yang akan dicari koordinatnya melalui 2 (dua) buah titik yang sudah diketahui
koordinatnya.

Metode Mengikat Kebelakang

Menetukan satu titik koordinat yang diikatkan pada tiga titik yang sudah diketahui
koordinatnya. Menentukan suatu titik baru dengan jalan mengadakan pengukuran sudut pada
titik yang tidak diketahui koordinatnya kita namakan penentuan titik dengan cara mengikat ke
belakang. Ketentuan yang harus dipenuhi adalah diperlukan paling sedikit tiga titik pengingat
yang sudah diketahui koordinatnya beserta sudut yang diukur dari titik yang akan ditentukan
koordinat tsb. Keuntungan metode ini adalah kita hanya satu kali menempatkan instrumen, yaitu
pada titik yang akan kita cari tersebut.

Terdapat dua cara perhitungan yang kita kenal, yaitu Metode Collins dan Cassini.
1. METODE COLLINS
Bila kita akan menentukan suatu koordinat (misalnya titik P), maka titik tersebut harus diikatkan
pada titik-titik yang sudah diketahui koordinatnya (misalnya titik A, B, dan C), kemudian kita
ukur sudut a dan b
2. Cara Cassini
Untuk menentukan koordinat titik P, titik tersebut diikatkan pada titik yang sudah
diketahui koordinatnya, misalnya titik A(Xa;Ya), B(Xb;Yb), dan C(Xc;Yc). Pada cara ini
diperlukan dua titik penolong, cara ini membuat garis yang melalui titik A, tegak lurus
pada AB dan garis ini memotong lingkaran di Titik R, demikian pula dari titik C dibuat
garis tegak lurus BC dan memotong lingkaran di titik S.
Poligon
Poligon adalah serangkaian garis lurus di permukaan tanah yang
menghubungkan titik-titik dilapangan, dimana pada titik-titik tersebut
dilakukan pengukuran sudut dan jarak.
Tujuan dari Poligon adalah untuk memperbanyak koordinat titik-titik di
lapangan yang diperlukan untuk pembuatan peta.
Ada 2 (dua) macam bentuk poligon, yaitu :
Poligon Terbuka : poligon yang tidak mempunyai syarat geometris
Poligon Tertutup : poligon yang mempunyai syarat geometris
Poligon Terbuka

ab = arc Tg

Xb - Xa
Yb - Ya

S2

Pada gambar di atas, koordinat titik A dan B diketahui, dengan


demikian kita dapat menghitung sudut jurusan AB. Untuk menentukan
koordinat titik 1 diperlukan koordinat titik A, sudut jurusan A-1 dan jarak
A-1, begitu pula titik 2 diperlukan koord titik 1, sudut jurusan 1-2 dan
jarak 1-2 dan seterusnya
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa aab= (lihat rumus di atas)
aa1 = aab + Sa
a12 = aa1 + S1- 180

a(n, n+1) = a(n-1, n) + Sn - 180


a23

= aab + S2 - 180

Sc

Poligon Tertutup

Poligon Tertutup Terikat Sempurna adalah poligon yang terikat diujungujungnya baik koordinat maupun sudut jurusannya. Apabila Titik A, B, C
dan D diketahui, maka sudut jurusan awal aab dan acd
Adapun syarat geometris dari poligon di atas adalah :
1. aab - acd = SSi - n. 180

di mana n = kelipatan

2. XC - Xd = d. Sin a
3. YC - Yd = d. Cos a
Poligon tertutup kring

B
Sb
A Sa

Sc C
SdD
Sf SeE
F

Poligon Kring adalah poligon yang mempunyai titik awal dan akhir yang
sama pada suatu titik.
2. Jarak dan Metode
Jarak horizontal adalah jarak antara dua titik yang berada pada bidang atau garis
horizontal. Garis (bidang) Horizontal adalah garis (bidang) yang sejajar dangan rata-rata
permukaan tanah.
Jarak vertikal adalah jaral antara dua titik yang bberada pada bidang atau atau
garis vertikal, atau jarak antara dua bidang horizontal. Garis (bidang) vertikal merupakan
garis (bidang) yang sejajar dengan arah gravitasi (arah batu duga).

dv

2
Jarak miring (dm) adalah jarak antara dua titk yang berada pada bidang atau garis miring
atau rata-rata lahan miring. Garis (bidang) miring merupakan garis (bidang) yang membentuk
sudut dengan garis atau bidang horizontal. Sudut yang dibentuk tersebut (a) disebut sudut miring.

dm

Ketelitian alat pengukuran jarak menunjukan satuan ukuran terkecil (dibagi 2) yang
dapat dibaca dengan pasti dari alat tersebut. Sedangkan ketelitian pengukuran jarak merupakan
angka yang menunjukan perbedaan atau selisih antara jarak hasil pengukuran atau sama dengan
jarak sesuai kondisi lahan. Dengan jarak sebenarnya=jarak horizontal, satuan % (1 meter tiap
100 meter)
Dalam pengukuran tanah, jarak datar antara dua titik berarti jarak horisontal. Jika kedua titik
berbeda elevasinya, jaraknya adalah panjang garis horisontal antara garisan antara kedua titik itu.
Pengukuran jarak dalam pemetaan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pengukuran jarak
dengan pita ukur, pengukuran jarak dengan cara optis dan pengukuran jarak dengan cara
elektronis

a. Pengukuran Jarak Dengan Pita Ukur

Pengukuran jarak horisontal dengan pita ukur merupakan penerapan panjang yang
diketahui pada pita berpembagian skala langsung pada sebuah garis beberapa kali.
1) Metode Pengukuran Jarak dengan Pita Ukur

Jarak antara titik A dan B dalam ruang akan diukur dengan pita ukur. Melalui titik A dan
B direntangkan pita ukur dengan tegangan secukupnya, sehingga pita ukur betul-betul lurus
(tidak melengkung). Jika titik A dinamakan titik belakang dan pembacaan skala pita ukur di titik
itu adalah sedangkan titik B dinamakan titik muka dengan pembacaan skala pita ukur di titik itu
adalah, maka jarak dari titik A ke B adalah jarak
jarak= untuk (7.1) jarak
atau
jarak= untuk (7.2) jarak
Jika panjang AB adalah lebih kecil dari panjang pita ukur yang digunakan, maka langsung
dapat ditentukan dari hasil pembacaan dan pada masing-masing titik A dan B. Jika brmrAB
panjang sekali, maka jarak antara A ke B harus dilakukan dengan pengukuran bertahap.
Potongan garis AB dibagi menjadi beberapa bagian dimana masing-masing bagian sama panjang
atau lebih pendek dari panjang pita ukur yang digunakan. Jika panjang masing-masing bagian
adalah , maka jarak dari A ke B menjadi ndddd,.....,,321
==++++=niindddddd1321....... (7.3)
Jika potongan garis AB terletak pada bidang datar maka d merupakan jarak horisontal, sedangkan
jika garis AB terletak tidak pada bidang datar maka panjang garis AB merupakan jarak miring.
Jika titik A dan B terletak tidak pada bidang datar, dan garis AB membuat sudut dengan bidang
datar, panjang garis AB merupakan jarak miring (SD), maka jarak horisontal (HD) adalah
HD = SD.cos (7.4)
Kesalahan dalam Pengukuran dengan Pita Ukur
1. Kesalahan Membaca

Kesalahan ini dapat dihilangkan dengan melakukan pembacaan pada masingmasing ujung dalam kedudukan pita ukur yang berbeda, misalnya:
Kedudukan 1 : = 48,22 m mr
= 0,14 m br
jarak = (bmrr) = 48,08 m
Kedudukan 2 : = 48,15 m mr
= 0,08 m br
jarak = (bmrr) = 48,07 m
2. Kesalahan Mencatat
Cara menghindari kesalahan ini sama dengan cara menghindari kesalahan
membaca.
Kesalahan yang Bersumber pada Pita Ukur
Pita ukur yang sering dipakai mempunyai tendensi panjangnya akan berubah, apalagi jika
menariknya terlalu kuat. Sehingga panjang pita ukur tidak betul atau tidak memenuhi standar
lagi. Untuk itu perlu dilakukan dengan pita ukur.
dimana :
CP = koreksi akibat tarikan pita ukur (m)
P1 = tarikan pada saat pengukuran (kg)
P = tarikan standar (kg)
L = panjang yang terbaca pada pita ukur (m)
A = luas penampang pita ukur (cm2)
E = modulus elastisitas bahan pita ukur (kg/cm2)

Kesalahan yang Bersumber pada Keadaan Alam


Kesalahan yang bersumber pada keadaan alam yang berpengaruh pada pengukuran jarak
dengan pita ukur adalah kesalahan yang disebabkan oleh temperatur. Standard pita ukur adalah
pada suhu C. Pembetulan akibat suhu dirumuskan sebagai berikut : 20
LTTCt)(1= (7.6)

dimana :
Ct = faktor koreksi terhadap temperatur
= angka muai panjang bahan pita ukur
T1 = temperatur pada saat pengukuran
T = temperatur standar
L = pembacaan pada pita ukur

b.

Pengukuran Jarak Dengan Cara Optik


Pengukuran jarak dengan cara optik adalah pengukuran jarak dengan
menggunakan alat ukur yang dilengkapi pengukur jarak optik.

Alat ini dalam

teropongnya terdapat tiga benang mendatar dan melintang


1). Metode Pengukuran Jarak
Metode Segitiga Sama Kaki
Prinsipnya berdasar pemecahan pada sebuah segitiga sama kaki. Terdapat dua metoda
dasar, iaitu
1. Metode Pertama
Basis yang digunakan konstan dan sudut paralaks adalah variabel yang harus ditentukan
nilainya.
Untuk penentuan jaraknya, dipakai sebuh mistar basis yang panjangnya tepat 2 meter
yang umumnya dipasang mendatar. Sudut paralaks diukur dengan theodolit. Dalam hal
ini bebenang dipasang mendatar, maka sudut adalah sudut mendatar.
2. Metode Kedua
Sudut paralaks konstan, sedangkan basis adalah variabel yang harus ditentukan nilainya.
Panjang S dibaca pada mistar yang bisanya dipasang tegak. Pengukuran jarak optis pada
alat sipat datar menggunakan prinsip metode kedua.
Metode Tangensial
Jarak mendatar HD antara titik P dan Q akan ditentukan. Theodolit ditempatkan di
titik P dan rambu diletakkan tegak di titik Q. Garis bidik diarahkan ke A di rambu dan

dibaca sudut miring di A (mA). Kemudian garis bidik diarahkan ke B dan dibaca sudut
miringnya (mB). Selisih pembacaan skala rambu di A dan B menghasilkan jarak S = AB.
Metode Stadia
Metode stadia adalah pengukuran jarak optis dengan sudut paralaks konstan. Jika
alat yang dipakai adalah sipat datar, maka jarak optisnya adalah jarak mendatar, karena
garis bidik alat ukur sipat datar selalu dibuat mendatar. Dalam pengukuran situasi, alat
yang digunakan adalah theodolit. Garis bidik diarahkan ke rambu yang ditegakkan di atas
titik yang akan diukur jaraknya dari alat tersebut. Dalam hal ini garis bidik tidak
mendatar. Jika sudut tegak (baik sudut miring atau zenith) diukur, maka dapat dihitung
dengan rumus :
Jika sudut miring yang diukur, maka :
HD=SD.cosm (7.8)
Jika sudut zenith yang diukur, maka :
HD = SD.sin z (7.9)
Metode Subtense
Metode subtense adalah pengukuran jarak optis dengan rambu basis 2 m. Prinsip dasar
metoda ini adalah mencari garis tinggi segitiga sama kaki, yang panjang alasnya (basis) diketahui
dan sudut paralaks yang dihadapannya diukur. Jarak dapat dihitung dengan rumus:
2121cot=bD (7.10)
Panjang basis biasanya 2 m dan bila sudut paralaks cukup kecil, maka dipakai rumus pendekatan
"21tan2"bbD== (7.11)
dan karena b = 2 m ,
)(""2mD= (7.12)
dimana 206265"=
Metode ini dinamakan metode subtense karena sudut harus dinyatakan dalam detik (). Sudut
adalah sudut horisontal dan diukur dengan theodolit. Walaupun tinggi theodolit dan tinggi
rambu basis tidak sama tinggi, namun jarak yang diperoleh adalah jarak mendatar.
VII - 6
Kesalahan dalam Pengukuran

Sumber Kesalahan pada Instrumen


Instrumen Tidak pada Keadaan Teratur
Garis bidik tidak sejajar dengan garis arah nivo (kecuali untuk alat sipat datar otomatik)
sehingga jika teropong diputar tidak terbentuk bidang kerucut, tetapi bidang datar.
Benang Silang Tidak Tepat Horisontal
Pembacaan rambu ditepatkan dekat pusat benang silang horisontal akan menghilangkan
atau membuat minimum kesalahan potensial ini.
Panjang Rambu Tidak Benar
Pembagian skala yang tak akurat pada rambu menyebabkan kesalahan dalam beda elevasi
terukur serupa dengan yang diakibatkan oleh pembagian skala tidak tepat pada pita.
Pembagian skala rambu harus dicek dengan membandingkan terhadap pita yang
dibakukan.
Kaki Tiga Longgar
Baut yang terlalu longgar atau ketat menyebabkan gerakan atau tegangan yang
mempengaruhi bagian atas instrumen.
Paralaks
Paralaks disebabkan oleh lensa obyektif dan/atau okuler yang tidak sempurna menyebabkan
pembacaan rambu yang tidak benar.
Sumber Kesalahan dari Alam
1. Kelengkungan Bumi
Pengaruh kelengkungan bumi adalah meningkatkan pembacaan bebenang.
2. Biasan
Apabila teropong dibelokkan, ianya boleh menyebabkan terjadi garisan berbentuk konkaf
terhadap permukaan bumi, dan kerana ia dapat menjejaskan pembacaan bebenang.
3. Suhu
Keadaan yang panas juga boleh menyebabkan gelombang infra merah yang dihantar
kepada pemantul dapat terjejas. Bukan ini sahaja, namun jika juruukur tersebut dapat
melihat daripada bebenang, yang dapat mengelirukan akibat daripada suhu.
4. Angin
Angin yang kuat menyebabkan alatan ukur bergetar dan bebenang tidak tenang.

Sumber Kesalahan dari Juruukur


1. Kesalahan Membaca Bebenang
Pembacaan bebenang yang tidak seberapa betul disebabkan oleh paralaks, keadaan
cuaca yang buruk, penempatan sasaran dan bebenang yang tidak baik, dan juga yang
tidak tepat, serta pertukaran letak nombor bering.
2.

Pemasangan Sasaran
Kesalahan ini juga menjadi penyebab kepada berlakunya kesalahan membaca bering,
mungkin kerana pembantu juruukur ini tidak teliti dengan kerjanya, yang mungkin
kurang tepat mendirikan tripod dan alat pemantul.

4.4 Pengukuran Jarak Dengan Electronic Distance Measurement (EDM)


Alat EDM menentukan panjang berdasarkan pada perubahan fasa yang terjadi semasa
tenaga elektromagnetik dengan panjang gelombang yang diketahui, dihantar dari satu ujung garis
ke ujung yang lain dan kembali. Kelebihan EDM adalah jarak yang di ukur lebih cepat dan teliti.
Dengan EDM, jarak ditunjukkan dalam bentuk digital dalam kaki atau meter, dan banyak
diantara alat-alat ini mempunyai koputer mikro terpasang tetap yang memberi hasil secara
langsung ke komponen medatar dan menegak.
4.4.1 Metode Pengukuran Jarak dengan EDM
Sebenarnya kerja dari alat ini adalah gelombang infra merah (gelombang cahaya,
microwave, gelombang radio) yang dipancarkan dari pemancar di A (transmitter) dan di B
dipantulkan oleh alat pemantul (relector) dan diterima kembali oleh alat penerima (receiver).
Apabila juruukur mula mencerap jarak ke arah prisma pemantul = V m/dt, dan waktu
yang diperlukan pada saat menghantar gelombang isyarat dari mulai dipancarkan sampai
diterima kembali = t masa, maka dapat dihitung jarak dari titik A ke B = tv21 meter. Ketelitian
yang dapat dicapai oleh alat ,oleh itu harus diambil berat juga ini adalah sekitar 2 sampai 10 p.p.
Penghasilan gelombang tenaga ini tadi nipis di udara terhadap suhu dan tekanan udara semasa
pengukuran jarak dibuat

3. Pengukuran Jarak
Ada beberapa metode pengukuran jarak yang dapat dilakukan, antara lain :
1). Dengan metode kira-kira
Metode ini digunakan untuk menentukan jarak secara kasar, yaitu melakukan kira-kira, misalnya
dengan pandangan secara fisual, melalui waktu tempuh dan kecepatan jalan atau kendaraan.
Contoh :
Waktu tempuh antara kota A dan B = 2,5 jam Kecepatan kendaraan rata-rata 60 km/jam Jarak
antara kota A dan B = 2,5 jam x 60 km/jam = 150 km
2). Dengan Metode Langkah (Pacing)
Metode ini juga tergolong kasar, yaitu dilakukan dengan menghitung langkah anatara titik-titik
yang diukur dan mengetahui standar panjang langkah dari pelaksana. Jarak diperoleh dengan
mengalikan jumlah langkah antara titik yang diukur dengan panjang langkah yang bersangkutan.
Contoh :
Antara titik A dan B ditempuh dengan 120 langkah Rata-rata panjang langkah = 60 cm . Jarak
antara titik A dan B = 120 langkah x 60cm/langkah = 7.200 cm = 72 m
3). Metode Skala Peta
Metode ini juga tergolong kasar, yaitu menentukan jarak dari peta. Dengan mengetahui jarak
lurus atau jarak jalur yang menghubungkan antara dua titik dan skala petanya, maka jarak lurus
atau jarak sesuai jalur dapat dihitung, jengan persamaan berikut :
Jarak di lapangan (sebenarnya) antara dua titik = jarak di peta x skala peta
Contoh :
Jarak antara dua titik di peta = 6,2 cm . Skala peta 1 : 25.000, maka Jarak sebenarnya antara dua
titik itu = 6,2 cm x 25.000 = 155.000 cm = 1,55 km
4). Pengukuran Jarak Dengan Odometer
Metode pengukuran jarak dengan Odometer merupakan metode sederhana hampir mirip dengan
metode langkah, yaitu mengukur jarak dengan menghitung jumlah putaran roda yang kelilingnya
diketahui, bila roda tersebut digelindingkan antara dua titik pengukuran. Jarak dihitung dengan
persamaan berikut :
Jarak = Jumlah putaran roda x keliling roda
5). Pengukuran Jarak Dengan Meteran

Disebut dengan istilah Taping, yaitu pengukuran jarak menggunakan tape atau pita ukur berupa
rol meter atau rantai ukur (Irvine, 1995).
Ada 3 metode memperoleh jarak mendatar dengan meteran, yaitu:
1) Metode koreksi
2) Metode taping bertingkat
3) Breaking taping
Pengukuran jarak mendatar dengan meteran pada lahan miring selain diperlukan patokan untuk
menandai titik-titik yang diukur, juga diperlukan unting-unting untuk menempatkan angka
meteran dengan patok dititik pengukuran bahkan pengukuran mengontrol datar tidaknya meteran
di anjurkan menggunakan nico tangan.
4. Pengertian Sudut, arah, dan Azimut.
Sudut dihitung pada bidang datar proyeksi dan bukan dibidang yang memuat titiktitik dipermukaan bumi.
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan istilah sudut dalam ilmu ukur tanah
yang perlu diketahui, yaitu:
1). Sudut Mendatar (Sudut Horisontal),merupakan sudut yang dibentuk dua
bidang normal yang melalui titik sudut tersebut.
2). Sudut Jurusan merupakan besarnya sudut mendatar pada suatu titik tertentu
dengan berpedoman pada sumbu Y positif salib sumbu kartesian XOD.

Sudut dihitung pada bidang datar proyeksi dan bukan dibidang yang memuat titik-titik dipermukaan
bumi. Sebagai contoh pada gambar dibawah ini sudut antara arah AB dan arah AC (<BAC)
adalah sudut antara arah-arah tersebut dibidang datar proyeksi.

Arah menunjukan suatu titik relatif terhadap titik lainnya.


Sebagai contoh pada gambar dibawah ini,
Dilihat dari titik A, titik-titik 1 dan 2 terletak dalam arah yang berbeda.
Dilihat dari titik B, titik-titik 1 dan 2 terletak dalam arah yang sama.
Secara

kuantitatif suatu arah biasanya dinyatakan dalam besaran sudut yang dihitung searah jarum jam
terhadap suatu arah acuan (arah nol) yang dipilih atau ditemukan.

Azimuth adalah besar sudut mendatar pada suatu titik yang berpedoman pada arah
utara geografi, dan besarannya dihitung menurut arah putaran jarum jam, dimulai dari
arah utara sebagai titik nol sampai titik tertentu.
Azimut suatu ssi adalah sudut yang dihitung dari arah utara searah putaran jarum jam
(kekanan) sampai sisi yang bersangkutan.

Azimuth mempunyai harga dari 00 sampai 3600