Anda di halaman 1dari 13

No.

Jenis
rempah

Suhu
awal
(C)

Suhu akhir
(C)

Berat
Awal
(g)

U1

U2

U3

rerata

Berat akhir
(g)

warna

U1

U2

U3

Tekstur

Aroma

rerat
a
105

U1

U2

U3

rerata

U1

U2

U3

rerata

U1

Rasa

U3

rerata

U1

U2

U
2
4

U
3
4

rer
ata
4

1.
Merica

29

38

39

39

38,6

100

104

105
,5

105
,5

2.
Kunyit

27

41

41

41

41

100

100,7

99

97

98,9

3,33

3.
Kemiri

28

37

38

39

38

100

107,5

108

108
,5

108

4.
Cabai

29

35

35

36

35,3

100

112,5

109

104
,5

108,6

5.
Bawang
putih

28

39

39

39

39

100

102,4

102
,4

102
,4

102,4

6.
Ketumb
ar

25

39

42

40

40,3

100

110

104

102

105,3

Keterangan :
1. warna tempe
skor1: putih kehitaman
skor 2: putih kecoklatan

3. aroma tempe

skor 3: putih kekuningan

Skor 1: aroma tidak enak dan busuk

skor 4: putih cerah

Skor 2: tidak beraroma

2. tekstur tempe

Skor 3: aroma enak, tetapi masih ada aroma kedelainya

Skor 1: lunak dan berair

Skor 4: aroma sangat enak dan menimbulkan selera makan

Skor 2: lunak dan tidak berair

4. rasa tempe

Skor 3: cukup padat

Skor 1: rasa tidak enak, agak masam dan pahit

Skor 4: padat

Skor 2: rasa hambar

Skor 5: sangat padat

Skor 3: rasa enak, tetapi masih terasa kedelainya


Skor 4: aroma sangat enak, gurih dan menimbulkan selera makan

Analisis data
Pada praktikum pembuatan tempe dengan variasi rempah setelah kedelai
dikeringkan dan dicampur dengan rempah-rempah yakni merica, kunyit, kemiri,
cabai, bawang putih, ketumbar. Kemudian diukur suhu awal saat pengemasan dan
suhu akhir diukur pada saat selesai pemeraman selama 28 jam serta berat yang
dimiliki tempe juga diukur diawal sebelum pemeraman dan di akhir sesudah
pemeraman. Uji organoleptik pada praktikum ini dilakukan setelah tempe selesai
diperam, meliputi uji rasa, aroma, tekstur, warna tempe.
Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa suhu awal tertinggi dimiliki
oleh tempe yang diberi rempah merica dan cabe sebesar 29C, berturut-turut
kemiri dan bawang putih sebesar 28C, kunyit sebesar 27C, ketumbar sebesar
25C. kemudian penghitungan suhu akhir dengan rerata dapat diketahui bahwa
yang tertinggi adalah tempe diberi kunyit sebesar 41C, kemudian berturut-turut
ketumbar sebesar 40,3C, bawang putih sebesar 39C, merica sebesar 38,6C,
kemiri sebesar 38C, yang terakhir adalah cabai dengan suhu 35,3C.
Berat awal ditimbang saat pengemasan adalah sama untuk setiap jenis
rempah yang ditambahkan yakni sebesar 100 g. selanjutnya ditimbang lagi setelah
selesai pemeraman untuk mengetahui ada penyusutan atau pertambahan berat.
Penyusutan terjadi pada tempe berempah kunyit yakni rat-rat berat menyusut
menjadi 98,9 g, sedangkan yang lain mengalami pertambahan yakni pada tempe
berempah cabai sebesar 108,6 g, tempe berempah kemiri sebesar 108 g, tempe
berempah ketumbar sebesar 105,3 g, tempe berempah merica sebesar 105 g.
Uji organoleptik selanjutnya dilakukan untuk warna tempe, tekstur tempe,
aroma tempe, rasa tempe. Dari hasil praktikum didapatkan data bahwa warna pada
tempe berempah kunyit, merica, kemiri rata-rata adalah sama yakni berwarna
putih cerah, sedangkan tempe berempah cabai, bawang putih, ketumbar rata-rata
sama juga berwarna putih kekuningan. Tektur tempe berguna untuk meperlihatkan
kepadatan pada tempe, dari hasil praktikum didapatkan data bahwa tektur tempe
berempah merica,kunyit, kemiri, cabai rata-rata sama yakni sangat padat,
sedangkan tekstur tempe berempah ketumbar bertekstur padat serta tempe

berempah bawang putih bertekstur cukup padat. Selanjutnya adalah uji aroma
tempe, dari hasil praktikum dapat rata-rata aroma yang dihasilkan sama pada
tempe berempah merica, kemiri, bawang putih, ketumbar yakni memiliki aroma
yang sangat enak dan menimbulkan selera makan, sedangkan pada tempe
berempah kunyit dan cabai rata-rata memiliki aroma yang enak, tetapi masih ada
aroma kedelainya. Rasa pada uji organoleptik berfungsi untuk mengetahui citarasa
tempe yang diperlakukan dengan rempah yang berbeda-beda. Dari hasil amatan
dapat disimpulkan bahwa semua tempe yang diberi rempah merica, kemiri, cabai,
bawang putih, ketumbar memiliki aroma sangat enak, gurih dan menimbulkan
selera makan, sedangkan tempe berempah kunyit memiliki cita rasa enak, gurih,
tapi masih terasa ledelainya (langu).
PEMBAHASAN
Menurut Tarigan (1988) jamur adalah kelompok jasad hidup yang sudah
mempunyai inti sel dengan membran inti yang sempurna, tidak mempunyai
klorofil, uniseluler atau multiseluler serta berkembang biak dengan spora.Tempe
merupakan salah satu makanan hasil fermentasi yang dilakukan oleh spesies
jamur tertentu. Selama proses fermentasi ini, terjadi perubahan fisik dan kimia
pada kedelai sehingga menjadi tempe (Hastuti, 2008).
Tempe terbuat dari kedelai yaitu sejenis kacang polong yang mengandung
banyak zat-zat makanan yang diperlukan tubuh. Kedelai ini mengandung 30-40%
protein zat putih telur. Protein ini diperlukan sekali untuk pertumbuhan dan untuk
mengganti serta memperbaiki bagian-bagian tubuh yang rusak. Kedelai baru akan
menjadi tempe jika seluruh kedelai itu sudah ditumbuhi suatu macam kapang dan
cendawan halus. Kapang dan cendawan yang tumbuh dalam kedelai itu
menembus dinding-dinding tebal sel biji kedelai tersebut. Selanjutnya dindingdinding sel biji kedelai dipecahkan oleh kapang sehingga lebih mudah untuk
dicerna oleh sistem pencernaan kita (Mulyokusumo, 1981). Sedangkan menurut
Pangastuti dan Triwibowo (1996) tempe adalah makanan hasil fermentasi yang
populer di Indonesia, dibuat dari kacang-kacangan yang diinokulasi dengan jamur
Rhizopus oligosporus sehingga membentuk padatan kompak berwarna putih.

Untuk membuat tempe bisa digunakan 2 macam jenis jamur yaitu


Rhizopus sp dan Mucor sp. Untuk jenis Mucor sp umumnya digunakan untuk
membuat tempe yang memiliki permukaan berwarna kemerah-merahan. Tempe
ini sering disebut oncom (Mulyokusumo, 1981). Sedangkan dalam kegiatan
praktikum kali ini digunakan jenis jamur Rhizopus sp. Jenis ini termasuk ke dalam
kelas Phycomycetes. Beberapa spesies Rhizopus hidup sebagai saprofit dan
beberapa spesies lain hidup sebagai parasit pada tumbuh-tumbuhan. Rhizopus
banyak yang menyerupai Mucor, hanya miselium Rhizopus terbagi-bagi atas
stolon yang dapat menghasilkan alat-alat serupa akar atau Rhizoid dan
sporangiofor (Dwidjoseputro, 2005).
Jamur yang tumbuh pada kedelai tersebut menghasilkan enzim-enzim yang
mampu merombak senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih
sederhana sehingga senyawa tersebut dengan cepat dapat dipergunakan oleh tubuh
Rhizopus sp

menghasilkan enzim-enzim protease. Perombakan senyawa

kompleks protein menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana adalah penting


dalam fermentasi tempe, dan merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas
tempe (Pangastuti dan Triwibowo, 1996).
Pada kegiatan praktikum pembuatan tempe, kulit tempa harus dibuang
terlebih dahulu setelah direbus selama 30 menit. Hal ini dimaksudkan agar
inkubasi berlangsung, jamur Rhizopus sp lebih mudah untuk merapuhkan
dinding-dinding sel biji kedelai dan lebih mudah untuk tumbuh pada biji-biji
kedelai itu. Menurut Sulistyorini (2002) pengelupasan kulit diusahakan agar
keping lembaga kedelai terpisah, karena penentrasi miselium kapang lebih banyak
terjadi pada permukaan datar daripada permukaan yang luas.
Setelah kedelai direbus selama 30 menit, proses selanjutnya adalah
perendaman selama semalam ( 12 jam). Perendaman ini bertujuan untuk
melunakkan biji dan mencegah tumbuhnya bakteri pembusuk selama fermentasi.
Perendaman juga berfungsi agar kepingan-kepingan biji kedelai dapat menyerap
air sehingga pertumbuhan kapang menjadi optimum (Wilujeng, 2002).

Tahap selanjutnya yaitu perebusan kedelai hingga lunak ( 30 menit).


Setelah biji kedelai menjadi lunak, sisa kulit yang masih tertinggal kemudian
dibersihkan. Selain itu, biji kedelai juga dibelah menjadi dua bagian. Tujuan
kelompok kami melakukan pembelahan biji kedelai menjadi kepingan-kepingan
kedelai yang lebih kecil adalah agar jamur lebih mudah menembus biji kedelai
sehingga pemecahan ikatan protein menjadi asam-asam amino bebas lebih efektif.
Apriadji (2001) menyebutkan bahwa hal ini menyebabkan kandungan protein dari
kedelai lebih mudah diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Berbeda dari asam
amino penyusun protein pada bahan makanan lain, asam amino kedelai tidak
mudah teroksidasi. Karena itu, sekalipun lebih banyak permukaan kedelai yang
terpapar udara, tempe yang terbuat dari bji kedelai yang pecah memiliki mutu
protein yang tetap prima. Tempe kedelai pecah sedikit sekali menghasilkan radikal
bebas yang dapat merusak sel dan mempercepat proses penuaan.
Dalam kegiatan praktikum ini, diteliti adanya pengaruh pemberian rempah
rempah terhadap warna, kepadatan, aroma, dan rasa tempe. Rempah rempah
yang digunakan adalah kunyit, bawang putih, kemiri, ketumbar, cabai dan merica.
Dari hasil praktikum didapatkan data bahwa warna pada tempe berempah kunyit,
merica, kemiri rata-rata adalah sama yakni berwarna putih cerah, sedangkan
tempe berempah cabai, bawang putih, ketumbar rata-rata sama juga berwarna
putih kekuningan. Warna putih pada tempe menunjukkan adanya miselium yang
membungkus biji kedelai, jika masih ditemukan adanya permukaan tempe yang
tidak berwarna putih dapat dimungkinkan pada permukaan biji kedelai tersebut
tidak ditumbuhi oleh miselium jamur tempe sehingga akan terlihat berwarna
kuning.
Tektur tempe berguna untuk meperlihatkan kepadatan pada tempe, dari
hasil praktikum didapatkan data bahwa tektur tempe berempah merica,kunyit,
kemiri, cabai rata-rata sama yakni sangat padat, sedangkan tekstur tempe
berempah ketumbar bertekstur padat serta tempe berempah bawang putih
bertekstur cukup padat. Perbedaan kepadatan pada tekstur tempe dapat disebabkan
oleh beberapa hal yaitu kemungkinan pemasakan kedelai sebelum pemberian ragi

yang cukup lunak sehingga jamur tidak dapat tumbuh pada kedelai tersebut. Hal
lain yang dapat menyebabkan perbedaan tekstur kepadatan pada tempe yaitu
pengaruh

senyawa

yang

terdapat

dalam

rempah-rempah

tempe

yang

memungkinkan dapat menghambat pertumbuhan jamur sehingga tidak maksimal.


Selanjutnya adalah uji aroma tempe, dari hasil praktikum dapat rata-rata
aroma yang dihasilkan sama pada tempe berempah merica, kemiri, bawang putih,
ketumbar yakni memiliki aroma yang sangat enak dan menimbulkan selera
makan, sedangkan pada tempe berempah kunyit dan cabai rata-rata memiliki
aroma yang enak, tetapi masih ada aroma kedelainya. Aroma yang ditimbulkan
pada tempe akan beraroma sangat enak dan menimbulkan selera makanan.
Pemberian rempah-rempah pada tempe akan mempengaruhi aroma rempah yang
terdapat pada tempe sehingga akan menimbulkan selera makanan. Tempe yang
memiliki kualitas baik akan memiliki aroma tempe dan tidak menimbulkan bau
busuk. Bau busuk pada tempe dapat disebabkan menurunnya kualitas
pertumbuhan jamur tempe. Hasil praktikum tempe dengan aneka rempah-rempah
tidak ditemukan adanya tempe yang memiliki aroma tidak enak, tetapi terdapat
tempe yang masih memiliki aroma kedelai. Hal tersebut bisa disebabkan karena
pertumbuhan jamur pada tempe tersebut belum bekerja secara maksimal sehingga
aroma rempah-rempah lebih kuat dibanding aroma tempe.
Rasa pada uji organoleptik berfungsi untuk mengetahui citarasa tempe
yang diperlakukan dengan rempah yang berbeda-beda. Dari hasil amatan dapat
disimpulkan bahwa semua tempe yang diberi rempah merica, kemiri, cabai,
bawang putih, ketumbar memiliki aroma sangat enak, gurih dan menimbulkan
selera makan, sedangkan tempe berempah kunyit memiliki cita rasa enak, gurih,
tapi masih terasa ledelainya (langu). Rasa yang ditimbulkan masing-maisng tempe
dapat disebabkan rempah-rempah yang digunakan dalam penambahan pembuatan
tempe merupakan bahan dapur yang memiliki rasa, sedangkan kunyit secara
umum digunakan sebagai bahan pengawet dan pewarna.
Dari hasil analisis data tampak bahwa terjadi perubahan suhu dari sebelum
diinkubasi dengan sesudah diinkubasi. Untuk ketiga perlakuan dalam kegiatan

praktikum ini sama-sama mengalami perubahan suhu sebesar 10 oC-12oC pada


semua bahan. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan suhu selama
proses fermentasi berlangsung. Darkuni (2001) menyatakan

bahwa Khamir

biasanya melakukan respirasi aerobik yang memerlukan oksigen bebas untuk


proses pertumbuhannya. Ini berarti bahwa selama Rhizopus sp melakukan
respirasi/fermentasi aerobik pada kepingan-kepingan biji kedelai maka jamur
tersebut membutuhkan lebih banyak energi untuk proses respirasinya sehingga
dihasilkan panas dari hasil oksidasi jamur tersebut.
Selain perubahan suhu, terjadi juga perubahan berat. Berat awal perlakuan
adalah sama yaitu 100 gram. Setelah diinkubasi, terjadi perubahan berat yaitu
pada perlakuan yang perhasil membentuk tempe bertambah.namun ada beberapa
bahan yang pada data menghasilkan berat yang justru berkurang, hal ini
dikarenakan pengguanan alat timbang yang tidak sama, pada awal digunakan alat
timbang duduk sedangkan pada akhir menggunakan triple been. Sehingga
dimungkinkan tingkat keakuratannya berbeda dan pada tempe yang gagal
dimungkinkan penyusutan berat diakibatkan oleh pengurangan kadar air pada
kedelai. Penambahan berat setelah kedelai menjadi tempe yaitu tumbuhnya
miselium jamur Rhizopus sp yang berwarna putih cerah. Selain itu terjadi
penambahan berat akibat adanya air berupa embun pada kantong plastik yang
membungkus tempe. Air berupa embun tersebut merupakan hasil dari fermentasi
oksidatif yang dilakukan oleh Rhizopus sp yang telah mengubah sebagian glukosa
dalam biji kedelai menjadi karbohidrat dan air. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Darkuni (2001) bahwa aerasi yang terjadi pada fermentasi oksidatif itu akan
berakibat tidak terjadinya produksi alkohol. Sebab dengan adanya aerasi ini
aktivitas fermentasi akan menurun dan sebagian glukosa hanya akan
direspirasi/dioksidasi menjadi karbohidrat dan air.
Dalam praktikum ini digunakan waktu inkubasi selama 28 jam, hal ini
dilakukan agar didapatkan tempe yang maksimal. Karena jika inkubasinya dalam
waktu yang lama akan berdampak kurang baik, sebab dalam waktu yang lama,

kapang yang tumbuh di tempe akan mengalami penurunan dalam hal


pertumbuhan. Adanya penurunan pertumbuhan ini dapat dilihat dari jumlah jamur
yang semakin sedikit, semakin menurunya jumlah jamur ini disebabkan oleh
berbagai macam faktor, misalnya faktor pH, kadar air, dan kebutuhan nutrien. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Triwibowo dan Pangastuti (1996) yang menyatakan
bahwa analisis mikrobiologi berupa perhitungan jumlah mikrobia yang meliputi
jamur dan bakteri. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa
jumlah jamur pada awal fermentasi (fermentasi 24 jam) tinggi. Akan tetapi,
semakin lama waktu fermentasi yaitu 24 jam sampai 108 jam ternyata jumlah
jamurnya semakin menurun. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti
pH, kadar air dan kebutuhan nutrien.
Menurut Sorenson dan Hesseltine (1986) dalam Pangastuti dan Triwibowo
(1996), Rhizopus sp tumbuh baik pada kisaran pH 3,4-6. Pada penelitian semakin
lama waktu fermentasi, pH tempe semakin meningkat sampai pH 8,4, sehingga
jamur semakin menurun karena pH tinggi kurang sesuai untuk pertumbuhan
jamur. Secara umum jamur juga membutuhkan air untuk pertumbuhannya, tetapi
kebutuhan air yang diperlukan jamur sangat sedikit, sebab jika kadar air
meningkat (banyak) maka akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan jamur.
Hal ini diperjelas dengan pernyataan Pangastuti dan Triwibowo (1996) bahwa
meningkatnya kadar air menghalangi difusi oksigen sehingga jamur terhambat
pertumbuhannya. Selain pH dan kadar air yang kurang sesuai untuk pertumbuhan
jamur, penurunan jumlah jamur mungkin juga disebabkan kurangnya nutrien
dalam bahan, sehingga jamur banyak yang mati.
DISKUSI
1. Tidak terdapat perbedaan warna yang mencolok antara warna tempe yang diujikan
dengan beberapa macam rempah. Hanya saja, tempe yang ditambahkan merica,
kunyit, dan kemiri berwarna putih cerah. Tempe yang ditambahkan cabai, bawang
putih, dan kemiri berwarna putih kekuningan. Dari hasil praktikum didapatkan

data bahwa warna pada tempe berempah kunyit, merica, kemiri rata-rata
adalah sama yakni berwarna putih cerah, sedangkan tempe berempah cabai,
bawang putih, ketumbar rata-rata sama juga berwarna putih kekuningan.
Warna putih pada tempe menunjukkan adanya miselium yang membungkus
biji kedelai, jika masih ditemukan adanya permukaan tempe yang tidak
berwarna putih dapat dimungkinkan pada permukaan biji kedelai tersebut
tidak ditumbuhi oleh miselium jamur tempe sehingga akan terlihat berwarna
kuning.
2. Terdapat perbedaan antara kepadatan tempe yang diberi beberapa macam
rempah. Dari hasil praktikum didapatkan data bahwa tektur tempe berempah
merica,kunyit, kemiri, cabai rata-rata sama yakni sangat padat, sedangkan
tekstur tempe berempah ketumbar bertekstur padat serta tempe berempah
bawang putih bertekstur cukup padat. Perbedaan kepadatan pada tekstur tempe
dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu kemungkinan pemasakan kedelai
sebelum pemberian ragi yang cukup lunak sehingga jamur tidak dapat tumbuh
pada kedelai tersebut. Hal lain yang dapat menyebabkan perbedaan tekstur
kepadatan pada tempe yaitu pengaruh senyawa yang terdapat dalam rempahrempah tempe yang memungkinkan dapat menghambat pertumbuhan jamur
sehingga tidak maksimal.
3. Terdapat perbedaan antara aroma tempe yang diberi beberapa macam rempah.
Dari hasil praktikum dapat rata-rata aroma yang dihasilkan sama pada tempe
berempah merica, kemiri, bawang putih, ketumbar yakni memiliki aroma yang
sangat enak dan menimbulkan selera makan, sedangkan pada tempe berempah
kunyit dan cabai rata-rata memiliki aroma yang enak, tetapi masih ada aroma
kedelainya. Aroma yang ditimbulkan pada tempe akan beraroma sangat enak
dan menimbulkan selera makanan. Pemberian rempah-rempah pada tempe
akan mempengaruhi aroma rempah yang terdapat pada tempe sehingga akan
menimbulkan selera makanan. Tempe yang memiliki kualitas baik akan
memiliki aroma tempe dan tidak menimbulkan bau busuk. Bau busuk pada
tempe dapat disebabkan menurunnya kualitas pertumbuhan jamur tempe.

Hasil praktikum tempe dengan aneka rempah-rempah tidak ditemukan adanya


tempe yang memiliki aroma tidak enak, tetapi terdapat tempe yang masih
memiliki aroma kedelai. Hal tersebut bisa disebabkan karena pertumbuhan
jamur pada tempe tersebut belum bekerja secara maksimal sehingga aroma
rempah-rempah lebih kuat dibanding aroma tempe.
4. Terdapat perbedaan rasa tempe yang diberi beberapa macam rempah. Rasa
pada uji organoleptik berfungsi untuk mengetahui citarasa tempe yang
diperlakukan dengan rempah yang berbeda-beda. Dari hasil amatan dapat
disimpulkan bahwa semua tempe yang diberi rempah merica, kemiri, cabai,
bawang putih, ketumbar memiliki aroma sangat enak, gurih dan menimbulkan
selera makan, sedangkan tempe berempah kunyit memiliki cita rasa enak,
gurih, tapi masih terasa ledelainya (langu). Rasa yang ditimbulkan masingmaisng tempe dapat disebabkan rempah-rempah yang digunakan dalam
penambahan pembuatan tempe merupakan bahan dapur yang memiliki rasa,
sedangkan kunyit secara umum digunakan sebagai bahan pengawet dan
pewarna.
KESIMPULAN
1. Pengaruh pemberian rempah terhadap warna tempe tidak terlalu terlihat. tempe
yang ditambahkan merica, kunyit, dan kemiri berwarna putih cerah. Tempe yang
ditambahkan cabai, bawang putih, dan kemiri berwarna putih kekuningan. Hal itu
disebabkan penyebaran miselium yang tidak merata pada butir-butir kedelai.
2. Pengaruh pemberian rempah terhadap kepadatan tempe terdapat pada lunak atau
kerasnya tempe. Perbedaan kepadatan pada tekstur tempe dapat disebabkan

oleh beberapa hal yaitu kemungkinan pemasakan kedelai sebelum pemberian


ragi yang cukup lunak sehingga jamur tidak dapat tumbuh pada kedelai
tersebut.
3. Pengaruh pemberian rempah terhadap aroma tempe tidak terlalu signifikan.
Hanya terdapat sedikit aroma kedelai pada tempe yang ditambahkan kunyit
dan cabai.

4. Pengaruh pemberian rempah terhadap rasa tempe, dari hasil amatan dapat
disimpulkan bahwa semua tempe yang diberi rempah merica, kemiri, cabai,
bawang putih, ketumbar memiliki aroma sangat enak, gurih dan menimbulkan
selera makan, sedangkan tempe berempah kunyit memiliki cita rasa enak,
gurih, tapi masih terasa kedelainya
Apriadji, Wied Harry. 2001. Tempe Masih Dianggap Sepele (online),
(http://www.p3gizi.litbang.depkes.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=50&Itemid=2, diakses tanggal
2 Mei
2008)

Darkuni, Noviar. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, Mikologi). Malang: JICA.

Dwijosepoetro. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Hastuti, Utami Sri. 2008. Petunjuk Praktikum Biologi. Malang: Universitas Negeri
Malang.

Mulyokusumo, Sudigdo. 1981. Tempe dan Oncom. Bandung: Tarate.

Pangastuti, Hestining Pupus dan Triwibowo, Sitoresmi. 1996. Proses Pembuatan Tempe
Kedelai. (Online), (Http:www.kalbe.co.id.file.html diakses tanggal 29 April
2008).

Sulistyorini, Peny. 2002. Pengaruh Pemberian Berbagai Macam Rempah-Rempah


Terhadap Kualitas Tempe dalam Pembuatan Tempe. Skripsi Tidan Diterbitkan.
Malang: Universitas Negeri Malang.

Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud.

Wilujeng, Ika. 2002. Studi Tentang Pengaruh Beberapa Varietas Kedelai (Glycine Wax L
Merrill) Terhadap Pertumbuhan Kapang dan Mutu Tempe. Skripsi Tidak
Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

Wijayanti, Ika Rahayu. 2002. Studi tentang Pengaruh Beberapa Varietas Kedelai
(Glycine max.(L.) Merrill) terhadap Pertumbuhan Kapang dan Mutu Tempe.
Skripsi. Tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.