Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS CVA PADA ANAK

1.

PENGERTIAN
Istilah stroke atau penyakit serebrovaskular mengacu kepada setiap gangguan
neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau berhentinya aliran darah
melalui sistem suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya digunakan secara spesifik
untuk menjelaskan infark serebrum. Istilah yang masih lama dan masih sering
digunakan adalah cerebrovaskular accident (CVA) (Price, 2006)
Menurut Arif Muttaqin, stroke merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai
dan harus ditangani secara tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul
mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak yang
bisa terjadi pada siapa saja (Muttaqin, 2008).

2. EPIDEMIOLOGI
Insidens stroke yang terjadi pada anak relatif sama. Menurut Abram dkk, beberapa
penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa insidensnya berkisar antara 2,5-2,7 per
100.000 anak/tahun. Angka ini hampir sama dengan yang ditemukan oleh Broderick dkk
(2,7/100.000anak/tahun), dan Schoenberg dkk (2.52/100.000anak/tahun) di Rochester,
Minnesota. Di Kanada, insidensnya relatif lebih kecil yaitu 1,2/100.000anak/tahun.
Sedangkan menurut Nelson Textbook of Pediatrics, insidensnya 1-3/100.000anak/tahun .
Schoenberg dkk juga menemukan bahwa insidens untuk stroke hemoragik adalah
1,89/100.000anak/tahun, sedangkan untuk stroke iskemik 0,63/100.000anak/tahun . Pada
anak, 55% kasus disebabkan oleh stroke iskemik dan 45% sisanya oleh stroke hemoragik,
sedangkan pada orang dewasa 80% kasus adalah stroke iskemik. Stroke dapat terjadi pada
anak usia berapa saja. Insidens tertinggi dijumpai pada usia < 2 tahun, dan kemudian
menurun sesuai dengan pertambahan usianya. Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna
antara kedua jenis kelamin

3. ETIOLOGI
Stroke pada anak-anak dan orang dewasa muda sering ditemukan jauh lebih
sedikit daripada hasil di usia tua, tetapi sebagian stroke pada kelompok usia
yang lebih muda bisa lebih buruk. Kondisi turun temurun predisposisi untuk
stroke termasuk penyakit sel sabit, sifat sel sabit, penyakit hemoglobin SC
(sickle cell), homosistinuria, hiperlipidemia dan trombositosis. Namun belum
ada perawatan yang memadai untuk hemoglobinopati, tetapi homosistinuria
dapat diobati dengan diet dan hiperlipidemia akan merespon untuk diet atau
mengurangi lemak obat jika perlu. Identifikasi dan pengobatan hiperlipidemia
pada usia dini dapat memperlambat proses aterosklerosis dan mengurangi
risiko stroke atau infark miokard pada usia dewasa (Gilroy, 1992)

4. MANIFESTASI KLINIS
1)Defisit

lapang pandang seperti kehilangan setengah lapang penglihatan, Kehilangan penglihatan perifer, dan

diplopia.
2)Defisit

motorik (seperti Hemiparesis, Hemiplegia, Ataksia, Disartria dan Disfagia). Defisit sensori (seperti

Parestesia).
3)Defisit

Verbal (seperti Afasia eksprensif: tidak mampu membentuk kata yang dapat dipahami, Afasia reseptif:

tidak mampu memahami kata yang dibicarakan, Afasia global: kombinasi afasia eksprensif dan reseptif).
4)

Defisit kognitif (seperti Kehilangan memori jangka pendek dan panjang, Penurunan lapang perhatian,

Perubahan penilaian, Kerusakan untuk berkosentrasi).


5)

Defisit emosional (seperti Kehilangan kontrol diri, Labilitas emosional, Penurunan toleransi pada situasi

yang menimbulkan stres, Depresi, Menarik diri, Perasaan isolasi)


(Smeltzer. 2002).

5. PROGNOSIS

Pada anak, prognosa stroke tergantung pada jenis stroke, lokasi lesi, usia penderita dan
proses patologis yang mendasarinya 7 . Stroke hemoragik lebih sering menimbulkan
kematian daripada stroke iskemik. Setelah 1 bulan sejak terjadinya stroke, 60-80%
penderita stroke hemoragik dapat bertahan, sedangkan penderita stroke iskemik 8595%. Pada stroke iskemik dapat terjadi late death, dalam waktu 2 tahun setelah
terjadinya stroke, sering diakibatkan oleh intractable seizure. Defisit neurologis, dalam
berbagai derajat, dijumpai pada 75% penderita infark serebri. Gejala sisa pasca stroke,
baik hemoragik atau iskemik, dapat berupa parese, gangguan pergerakan, kejang,
hemianopsia, gangguan berbahasa, gangguan perilaku atau retardasi mental. Bila
terjadi kejang pada saat mengalami serangan stroke akut, maka prognosanya lebih jelek
dan gangguan intelektual serta perilaku yang terjadi lebih berat

1. ANAMNESA
- UGD
An. Khoirun Nisa , umur 5 th, RMK 503440. Masuk di Triase kuning dengtan
GCS 13-15, Jalan napas bebas, RR 20-30x/menit, sirkulasi nadi kuat, Rujukan dari RS
Rahman Rahim dengan Dx Parase N VII Central . Keluhan utama kelemahan ekstimitas
kanan dan bibir asimetris. TTV: N 100x/menit, TD 83/51 mmHg, RR 20x/menit, S 36,3 C,
GCS 4x6, SpO2 100%,

- Ruang Anak
Datang

ke Ruang Ismail pukul 20.00, RPS: Hari jumat ke Rahman Rahim dapat obat

kandistatin untuk sariawan. Kemudian tiba-tiba tidak bisa bicara, masih bisa berdiri, sejak sore
sebelah kanan wajah asimetris, px minta gendong terus. RPD: Muntaber, DHF.

Pola Nutrisi Metabolik : BB saat dikaji 12 kg, makan oral

Pola Eliminasi : BAB normal

Pola Kognitif Persepsi Sensorik : Status mental sadar, bicara afasia, pendengaran

penglihatan penciuman normal

Riwayat kehamilan : Spontan, BB lahir 3400 kg, PB 54 cm

Riwayat Imunisasi : lengkap

2. PEMERIKSAAN FISIK

Kesadaran Umum: Komposmentis, GCS 4x5, N 96x/menit, S 36,5 C, CRT < 2detik,

Muskulosletal : Normal

Mobilisasi : Aktif terkontrol

Kekuatan Otot :

3
5

Persyarafan : Parase kanan

5
5

3 PENUNJANG
1. 21-02-2016
Pemeriksaan CT Scan Polos, pukul 21:33, oleh Dr. dr. Hj. Anggraini DwiS.Sp.Rad (K)
Kesimpulan: Curiga ada emboli di hemisphere cerebri kiri, adakah hemiparese dextra?
Bagaimana dengan jantung? Saran MRI kepala.

2. 22-02-2016
ECG, pukul 12.30
Hasil: Sinus Tachicardia (HR 100-130), PAC (Premature Atrial Contraction)

Lanjutan
3. 23-02-2016
Pukul 01:34:00

Lanjutan
Pukul 05:44:36
PARAMETER
HGB

HASIL
11,6 (g/dl)

NILAI RUJUKAN
L 13,0 18,0
P 11,5 16,5

RCB

4,27 (10^6/uL)

L 4,5 5,5
P 4,0 5,0

HCT

33,7 (%)

L 40,0 50,0
P 37,0 45,0

MCV

78,9 (fL)

82,0 92,0

MCH

27,2 (pg)

27,0 31,0

MCHC

34,4 (g/dl)

32,0 37,0

RDW-SD

37,8 (fL)

35 47

RDW-CV

13,3 (%)

11,5 14,5

WBC

7,05 (10^3/uL)

4,0 11,0

PLT

411+ (10^3/uL)

150 400

Lanjutan
Pemeriksaan MRI d RSAL, Hasil MRI kepala irisan axial T1W, T2W, FLAIR.
Coronal dan Sagital T2W tanpa kontras didapatkan kesimpulan
- Acute thromboembolic infarct. Kortikal sd subkortikal temporo-parietal sd temporal
kiri basal ganglia kiri; sesuai teritori MCA kiri yang kesan mulai disertai edema
yang

menyebabkan penekanan ringan ventrikel lateralis kiri


- Acute subacute infarct kecil di corona radiata kiri
- Penebalan mucosa di sinus sphenoidalis kiri kanan
- Penebalan mucosa tipis d sinus ethmoidalis kiri kanan
- Kesan terdapat deviasi septum nasi ke kiri
- Kesan terdapat penebalan concha nasalis inferior kiri kanan

4. 24-02-2016
Pemeriksaan Echocardiografi, dr. Mahrus A. Rahman, SpA (K)
Kesimpulan: Echocardiogram Normal

Lanjutan
5. 27-02-2016
Pukul 00:27

Lanjutan
01-03-2016 : ku/ cukup, vital sign stabil S 36 0 C, N 110x/mnit, TD 100/70 mmHg,
Tindakan fisioterapi, oromotor dengan perlakuan meniup dan menyecup, latihan hand
function tdak bisa dilakukan karena ada infus
02-03-2016 : ku/ cukup, gangguan komunikasi verbal belum teratasi, vital sign stabil.