Anda di halaman 1dari 53

PENGERTIAN PEMBELAJARAN EFEKTIF

Makalah Pengertian Pembelajaran Efektif


By: Ibrahim Lubis, M.Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN
Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian pelaksanaan
oleh guru dan siswa atas dasar hubungan timbal-balik yang berlangsung dalam situasi edukatif
untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa ini
merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Pada kenyataan yang kita
lihat di sekolah-sekolah, seringkali guru terlalu aktif di dalam proses pembelajaran, sementara
siswa dibuat pasif, sehingga interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran
tidak efektif. Jika proses pembelajaran lebih didominasi oleh guru, maka efektifitas pembelajaran
tidak akan dapat dicapai. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif, guru dituntut
agar mampu mengelola proses pembelajaran yang memberikan rangsangan kepada siswa
sehingga ia mau dan mampu belajar.

Untuk bisa belajar efektif setiap orang perlu mengetahui apa arti belajar sesungguhnya. Belajar
adalah sebuah tindakan aktif untuk memahami dan mengalami sesuatu. Belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Jadi, proses belajar terjadi jika anak
merespon stimulus (rangsangan) yang diberikan guru, selain itu untuk meraih pembelajaran
yang efektif peserta didik juga dapat dibimbing oleh Guru dari pengetahuan sebelumnya yang
mereka miliki yang tersimpan dalam ingatan dan pemikiran mereka (Kognitif) dengan
menggunakan teori dan metode pembelajaran dengan tepat. Jika hal itu belum terjadi maka
proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan optimal.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas pembelajaran yang
dilaksanakan di kelas dan atau di ruang praktek/laboratorium. Sehubungan dengan tugas ini,
guru hendaknya selalu memikirkan tentang bagaimana upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran tersebut, diantaranya dengan membuat perencanaan
pembelajaran dengan seksama dan menyiapkan sejumlah perangkat pembelajaran yang tepat.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian belajar dan pembelajaran


Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian sebagai suatu pola baru yang berupa
kecakapan sikap kebiasaan, atau suatu pengertian.[1] Belajar pada hakikatnya merupakan suatu
usaha, suatu proses perubahan yang terjadi pada individu sebagai hasil dari pengalaman atau
hasil dari pengalaman interaksi dengan lingkungannya.[2] Belajar dalam pengertian yang lain
yaitu suatu upaya untuk menguasai sesuatu yang baru. Konsep ini mengandung dua hal:
pertama; usaha untuk menguasai, Hal ini bermakna menguasai sesuatu dalam belajar, kedua;
sesuatu yang baru dalam arti hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar.[3]

Dalam defenisi lain dijelaskan bahwa Belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan secara
sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari[4]. belajar juga
kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan
jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat
tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Soemanto[5] mengemukakan definisi belajar menurut para ahli bahwa belajar dapat didefinisikan
sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through
training or experience. Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat
pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah
tidak termasuk sebagai belajar.

Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi di atas, dikemukakan oleh Cronbach dalam
bukunya yang berjudul Educational Psychology sebagai berikut: Learning is shown by change
in behavior as a result of experience.[6] Maksudnya bahwa dalam proses belajar, seseorang
berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya. Belajar
dalam arti mengubah tingkah laku, akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang
belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga
berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian
diri.

Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang,
kelas audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran[7].

Dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan
oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik.

Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan
pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau
norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa menjadi bertambah, baik
kuantitas maupun kualitasnya.

2. Pengertian Efektif
Efektif adalah perubahan yang membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu. Pembelajaran
yang efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif.
Pembelajaran menekankan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang dikerjakan, tetapi
lebih menekankan pada internalisasi, tentang apa yang dikerjakan sehingga tertanam dan
berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktekkan dalam kehidupan oleh siswa.[8]
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran efektif merupakan sebuah proses perubahan seseorang
dalam tingkah laku dari hasil pembelajaran yang ia dapatkan dari pengalaman dirinya dan dari
lingkungannya yang membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu.

3. Pengertian dan Inti Pembelajaran Efektif


Dari defenisi belajar dan pembelajaran serta efektif, maka hakikat pembelajaran yang efektif
adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta
didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman
yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan
prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.[9]

Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa.
pembelajaran efektif juga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan
sehingga memberikan kreatifitas siswa untuk mampu belajar dengan potensi yang sudah
mereka miliki yaitu dengan memberikan kebebasan dalam melaksanakan pembelajaran dengan
cara belajarnya sendiri. Di dalam menempuh dan mewujudkan tujuan pembelajaran yang efektif
maka perlu dilakukan sebuah cara agar proses pembelajaran yang diinginkan tercapai yaitu
dengan cara belajar efektif. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu adanya
bimbingan dari guru.[10]

Muara dari berfungsinya manajemen pembelajaran yang baik adalah pembelajaran efektif.
Artinya, dari posisi guru tercipta mengajar efektif, dari posisi murid tercipta belajar efektif.
Menurut Joyce and Weil , Guru yang berhasil adalah mengajar murid bagaimana memiliki
informasi dalam pembicaraan dan membuatnya menjadi milik mereka. Sedangkan pelajar efektif

adalah membentuk informasi, gagasan dan kebijaksanaan dari guru mereka dan menggunakan
sumber daya belajar secara efektif[11].

Peran utama dalam pengajaran adalah menciptakan model aktivitas pengajaran kuat dan
tangguh. Intinya adalah aktivitas pengajaran sebagai penataan lingkungan, pengaturan ruang
kelas, yang didalamnya para pelajar dapat berinterkasi dan belajar mengetahui bagaimana
caranya belajar. Berkaitan dengan efektivitas pengajaran, untuk mencapai pembelajaran aktif,
satu aspek penting adalah masalah metode yang digunakan guru dalam menciptakan suasana
aktif. Proses pembelajaran dengan metode ceramah, guru mendominasi pembicaraan
sementara siswa terpaksa atau bahkan dipaksa untuk duduk, mendengar dan mencatat hal ini
sangat tidak dianjurkan. Metode ceramah harus dikurangi bahkan ditinggalkan.

Pembelajaran akan berjalan efektif jika pengalaman, bahan-bahan, dan hasil-hasil yang
diharapkan sesuai denagn tingkat kematangan peserta didik serta latar belakang mereka.
Proses belajar akan berjalan baik jika peserta didik bias melihat hasil yang fositif untuk dirinya
dan memperoleh kemajuan-kemajuan jika ia menguasai dan menyelesaikan proses belajarnya.
[12] Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan
perubahan sebagai hasil dari proses belajar. Sehingga dilihat dari pengertian prestasi dan
belajar tersebut maka dapat diambil kesimpulan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh
berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan. Bentuk perubahan dari hasil belajar
meliputi tiga aspek, yaitu :

Aspek kognitif meliputi perubahan-perubahan dalam segi penguasaan pengetahuan dan


perkembangan

eterampilan/kemampuan

yang

diperlukan

untuk

menggunakan

pengetahuan tersebut.

Aspek efektif meliputi perubahan-perubahan dalam segi sikap mental, perasaan dan
kesadaran.

Aspek psikomotor meliputi perubahan-perubahan dalam segi bentuk-bentuk tindakan


motorik. (Daradjat, 1995: 197) Prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam proses
belajar-mengajar disekolah dapat dilihat dan diketahui dari nilai hasil ujian semester,
yang kemudian dituangkan dalam daftar nilai raport.

Nilai tersebut merupakan nilai yang dapat dijadikan acuan berhasil tidaknya siswa belajar serta
dijadikan acuan berhasil tidaknya proses belajar mengajar di kelas. Penilaian prestasi siswa
yang dicantumkan dalam rapot, bisa berbentuk anka jiga berbentuk huruf. Prestasi belajar tidak

hanya sebagai indikator keberhasilan dalam bidang studi tertentu yang telah dipelajarinya, akan
tetapi juga keberhasilan sebagai indikator kualitas institusi pendidikan di tempat dia belajar. Para
guru diharapkan dan harus mampu menciptakan pembelajaran dengan efektif, menyenangkan,
tercipta suasana dan iklim pembelajaran yang kondusif, terdapat interaksi balajar-mengajar yang
bagus, sehingga keberhasilan belajar dan prestasi dapat dicapai dengan baik sesuai tujuan
pembelajaran.[13]

BAB III
KESIMPULAN

Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian pelaksanaan


oleh guru dan siswa atas dasar hubungan timbal-balik yang berlangsung dalam situasi edukatif
untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa ini
merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Untuk mewujudkan
pembelajaran yang efektif ditinjau dari kondisi dan suasana serta upaya pemeliharaannya, maka
guru selaku pembimbing harus mampu melaksanakan proses pembelajaran tersebut secara
maksimal. Selain itu untuk menciptakan suasana dan kondisi yang efektif dalam pembelajaran
harus adanya factor factor pendukung tertentu seperti lingkungan belajar, keahlian guru dalam
mengajar, fasilitas dan sarana yang memadai serta kerjasama yang baik antara guru dan
peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Ngalim purwanto, Psikologi pendidikan remaja (Bandung: Remaja Rosda Karya,1996)

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Jakarta: PT. Imtima,
2007)

Prayitno, Dasar teori dan praksis Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2009)

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka
Cipta, 1994)

Wasty Soemanto, Psikologi Pendidika : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Jakarta:


PT Rineka Cipta, 1998)

Lee Joseph Cronbach, Educational psychology (New York: Harcourt, Brace & World,
1963)

Oemar Hamalik,Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2002)

E. Mulyasa, Menjadi kepala sekolah profesional: dalam konteks menyukseskan MBS dan
KBK (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003)

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Grasindo, 2002)

Slameto, Belajar dan Faktor - Faktor Belajar yang Mempengaruhi (Jakarta: rineka cipta,
1995)

Joyce, Bruce dan Marrsha Weil, Models of Teaching, (London ; Allyn Bacon,1996)

Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: sebuah Model Pelibatan Masyarakat


dalam Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaaan Kelas sebagai Lembaga


Pendidikan (Jakarta: Haji Masagung, 1989)

_______________________________
[1] Ngalim purwanto, Psikologi pendidikan remaja (Bandung: Remaja Rosda Karya,1996), H. 84
[2] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Jakarta: PT. Imtima, 2007)
cet.11, h. 329
[3] Prayitno, Dasar teori dan praksis Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2009), h. 201
[4] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta,
1994), h. 21
[5] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidika : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 1998), h. 104
[6] Lee Joseph Cronbach, Educational psychology (New York: Harcourt, Brace & World, 1963), 47
[7] Oemar Hamalik,Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2002), h. 56
[8] E. Mulyasa, Menjadi kepala sekolah profesional: dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK
(Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003), h. 149
[9] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Grasindo, 2002), h. 226-227
[10] Slameto, Belajar dan Faktor - Faktor Belajar yang Mempengaruhi (Jakarta: rineka cipta, 1995), h.
75-76
[11] Joyce, Bruce dan Marrsha Weil, Models of Teaching, (London ; Allyn Bacon,1996), h. 45

[12] Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2004), h. 100
[13] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan
(Jakarta: Haji Masagung, 1989), h. 117.

(Sumber: http://www.anekamakalah.com/2014/03/pengertian-pembelajaranefektif.html)

Pengertian Pembelajaran Efektif Menurut Para


Ahli
Dalam melaksanakan kegiatan sudah semestinya harus bersifat efektif yang artinya kegiatan tersebut harus
menghasilkan efek dan dampak yang positif.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya,
pengaruhnya, kesannya), manjur atau mujarab, dapat membawa hasil.
Jadi efektif adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju.
Efektif berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya
partisipasi aktif dari anggota.

Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang komplek dan terjadi pada setiap manusia sejak lahir.proses belajar dapat
terjadi karena adanya unsur kesengajaan ataupun tidak disengaja.
Menurut Oemar Hamalik Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar
merupakan suatu proses atau aktivitas dan bukan suatu hasil atau tujuan.
Belajar adalah mengubah kelakuan anak, jadi mengenai pembentukan pribadi anak. Hasil yang diharapkan
bukan hanya bersifat pengetahuan, akan tetapi juga sikap, pema-haman, perluasan minat, penghargaan normanorma, kecakapan meliputi seluruh pribadi anak.
Pembelajaran efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa atau peserta didik untuk belajar
ketrampilan spesifik, ilmu pengetahuan, dan sikap juga membuat siswa senang. Pembelajaran yang efektif
menumbuhkan murid belajar sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta, ketrampilan, nilai konsep dan bagaimana
hidup serasi dengan sesama atau sesuatu hasil belajar yang diinginkan.
Kebutuhan dan harapan masyarakat akan mutu pelayanan pendidikan yang baik menjadi faktor pemicu utama
inovasi manajemen pendidikan. Efektivitas sekolah dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
sebagian ditentukan oleh kemampuan sekolah berkomunikasi dengan instansi diatasnya.

Sekolah Efektif
Menurut Sudarwan Danim sebagai ukuran dasar, berikut ini disajikan kriteria sekolah yang efektif:

Mempunyai standar kerja yang tinggi dan jelas mengenai untuk apa setiap siswa harus mengetahui dan
dapat mengerjakan sesuatu.

Mendorong aktivitas, pemahaman multibudaya, kesetaraan gender, dan mengembangkan secara tepat
pembelajaran menurut standar potensi yang dimiliki oleh para pelajar.

Mengharapkan para siswa untuk mengambil peran tanggung jawab dalam belajar dan perilaku dirinya.

Mempunyai instrument evaluasi dan penilaian prestasi belajar siswa yang terkait dengan standar pelajar
(Learner standards), menentukan umpan balik yang bermakna untuk siswa, keluarga, staf, dan lingkungan
tentang pembelajaran siswa.

Menggunakan metode pembelajaran yang berakar pada penelitian pendidikan dan suara praktik
professional.

Mengorganisasikan sekolah dan kelas untuk mengkreasikan lingkungan yang bersifat memberi
dukungan bagi kegiatan pembelajaran.

Pembuatan keputusan secara demokratis dan akuntanbilitas untuk kesuksesan siswa dan kepuasaan
pengguna.

Menciptakan rasa aman, sifat saling menghargai, dan mengako-modasikan lingkungan secara efektif.

Mempunyai harapan yang tinggi kepada semua staf untuk menum-buhkan kemampuan professional
dan meningkatkan keterampilan praktisnya.

Secara aktif melibatkan keluarga di dalam membantu siswa untuk mencapai sukses.

Bekerja sama atau berpartner dengan masyarakat dan pihak-pihak lain untuk mendukung siswa dan
keluarganya.

Upaya Meningkatkan Efektivitas Mengajar


Banyak faktor yang menyebabkan pengajaran tidak efisien karena tiap pengajar mempunyai kelebihan dan
kekurangan tersendiri.
Menurut Joan Midden-fort dalam Soekartawi memberikan saran tentang bagaimana cara meningkatkan
efektivitas mengajar yaitu:
1.

Menyiapkan segala sesuatunya dengan baik

2.

Buat motivasi di kelas

3.

Tumbuhkan dinamika dan enthuism dalam diri pengajar

4.

Menciptakan kesempatan untuk berkomunikasi dengan siswa

5.

Perbaiki terus isi atau kualitas bahan ajar

Demikian artikel yang membahas mengenai pembelajaran efektif, kriteria sekolah efektif, cara meningkatkan
efektifitas belajar.

(Sumber: https://idtesis.com/pengertian-pembelajaran-efektif-menurut-para-ahli/)

Konsep Pembelajaran yang Efektif


Pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam proses pembelajaran setiap elemen
berfungsi secara keseluruhan, peserta merasa senang, puas dengan hasil pembelajaran,
membawa kesan, sarana/fasilitas memadai, materi dan metode affordable, guru
profesional. Tinjauan utama efektivitas pembelajaran adalah outputnya, yaitu
kompetensi siswa.
Efektivitas dapat dicapai apabila semua unsur dan komponen yang terdapat pada sistem
pembelajaran berfungsi sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Efektivitas
pembelajaran dapat dicapai apabila rancangan pada persiapan, implementasi, dan
evaluasi dapat dijalankan sesuai prosedur serta sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan mengadaptasi pengukuran efektivitas
pelatihan yaitu melalui validasi dan evaluasi (Lesli Rae, 2001:3). Untuk mengukur
keberhasilan pembelajaran harus ditetapkan sejumlah fakta tertentu, antara lain dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
1. Apakah pembelajaran mencapai tujuannya?
2. Apakah pembelajaran memenuhi kebutuhan siswa dan dunia usaha?
3. Apakah siswa memiliki keterampilan yang diperlukan di dunia kerja?
4. Apakah keterampilan tersebut diperoleh siswa sebagai hasil dari pembelajaran?
5. Apakah pelajaran yang diperoleh diterapkan dalam situasi pekerjaan yang
sebenarnya?
6. Apakah pembelajaran menghasilkan lulusan yang mampu berkerja dengan efektif dan
efisien? (diadaptasi dari Rae, 2001:5)
Efektivitas pembelajaran merupakan permasalahan yang kompleks dan
multidimensional. Penyelenggaraan program produktif sebagai bagian dari proses
pendidikan dan latihan harus dipandang sebagai suatu kekuatan yang komprehensif dan
utuh. Oleh karena itu, selain melakukan evaluasi intensif terhadap pelaksanaan
pembelajaran produktif, perlu diterapkan konsep Total Quality Control (TQC) dalam
pelaksanaan pembelajaran.
Total Quality Control atau Pengendalian Mutu Terpadu merupakan suatu sitem yang
efektif untuk mengintegrasikan usaha-usaha pengembangan kualitas, pemeliharaan
kuantitas, dan perbaikan kualitas atau mutu dari berbagai kelompok dalam organisasi,
sehingga meningkatkan produktivitas dan pelayanan ke tingkat yang paling ekonomis
yang menimbulkan kepuasan semua pelanggan (Hasibuan, 2000:219). Pengembangan
kualitas merupakan tujuan yang ingin dicapai dari program produktif. Pemeliharaan
kuantitas menyangkut jumlah input, output, dan pemberdayaannya secara seimbang.
Dasar dari konsep TQC adalah mentalitas, kecakapan, manajemen partisipatif dengan
sikap mental yang mengutamakan kualitas dan totalitas kerja. Mentalitas adalah
kesediaan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan bertanggung jawab dalam
mengerjakannya.
Selanjutnya, Hasibuan (2000:218) menyebutkan beberapa mentalitas dasar TQC yang
harus dijadikan parameter dalam mengukur tingkat efektivitas pelatihan, antara lain
sebagai berikut.
1. Adanya kerja sama dan partisipasi total. Tujuannya adalah berorientasi pada tanggung
jawab kelompok, bersedia membuat lebih/berpartisipasi dalam bidang yang

berhubungan, menciptakan kesadaran kelompok, dan saling menghargai satu sama lain.
2. Berorientasi pada mutu. Maksudnya adalah disesuaikan dengan permintaan dan
standarnya adalah tidak ada cacat/kesalahan (zero mistakes) serta ukurannya adalah
biaya yang tidak terlalu banyak dikeluarkan.
3. Hubungan atasan dan bawahan secara harmonis. Maksudnya adalah terjalinnya
hubungan yang baik antara pihak manajemen (pimpinan sekolah dan pimpinan program
keahlian) dengan para guru, saling memotivasi dan memberikan dukungan dalam setiap
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Kesiapan guru dalam penguasaan bidang keilmuan yang menjadi kewenangannya,
merupakan modal dasar bagi terlaksananya pembelajaran yang efektif. Guru yang
profesional dituntut untuk memiliki persiapan dan penguasaan yang cukup memadai,
baik dalam bidang keilmuan maupun dalam merancang program pembelajaran yang
disajikan. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran menggambarkan dinamika kegiatan
belajar siswa yang dipandu dan dibuat dinamis oleh guru. Untuk itu, guru semestinya
memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam mengaplikasikan
metodologi dan pendekatan pembelajaran secara tepat. Kompetensi profesional dari
guru perlu dikombinasikan dengan kemampuan dalam memahami dinamika perilaku dan
perkembangan yang dijalani oleh para siswa.
Beberapa aspek yang menjadi orientasi ke arah pencapaian efektivitas pembelajaran
dalam perspektif guru dipaparkan oleh Djaman Satori, et al. (2003:44-52) sebagai
berikut.
1. Apresiasi Guru Terhadap Pengembangan Kurikulum dan Implikasinya. Guru dituntut
mempunyai kemampuan dalam pengembangan kurikulum secara dinamik sesuai dengan
potensi sekolah dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip di bawah ini. (a) Keseimbangan
etika, logika, estetika, dan kinestika. (b) Kesamaan memperoleh kesempatan bagi
semua siswa.(c) Kesiapan menghadapi abad pengetahuan dan tantangan teknologi
informasi. (d) Pengembangan keterampilan hidup. (e) Berpusat pada anak sebagai
pembangun pengetahuan. (f) Penilaian berkelanjutan dan komprehensif.
2. Kreativitas Guru dalam Aplikasi Teknologi Pembelajaran. Guru dituntut mempunyai
pemahaman konsep teoretis dan praktis berkenaan dengan desain, pengembangan,
pemakaian, manajemen, dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan sumber belajar.
Pembelajaran yang memiliki efektivitas tinggi ditunjukkan oleh sifatnya yang
menekankan pada pemberdayaan peserta didik. Pembelajaran bukan sekadar
transformasi dan mengingat, juga bukan sekadar penekanan pada penguasaan
pengetahuan tentang apa yang diajarkan, akan tetapi lebih menekankan pada
internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dalam jiwa anak dan
berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktikkan dalam kehidupan seharihari oleh peserta didik. Bahkan pembelajaran lebih menekankan pada peserta didik agar
mau belajar bagaimana cara belajar yang produktif.
Selain faktor guru, keberhasilan proses pembelajaran banyak bertumpu pada sikap dan
cara belajar siswa, baik perorangan maupun kelompok. Selain itu, tersedianya sumber
belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran secara tepat merupakan faktor
pendorong dan pemelihara kegiatan belajar siswa yang produktif, efektif, dan efisien.
Memelihara suasana pembelajaran yang dinamis dan menyenangkan merupakan kondisi

esensial dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, perlu ditanamkan persepsi positif
pada setiap diri siswa, bahwa kegiatan pembelajaran merupakan peluang bagi mereka
untuk menggali potensi diri sehingga mampu menguasai kompetensi yang diperlukan
untuk kehidupannya kelak.
Dilihat dari perspektif perkembangan kebutuhan pembelajaran dan aksesbilitas dunia
usaha/industri, sekurang-kurangnya ada tiga dimensi pokok yang menjadi tantangan
bagi SMK dalam penyelenggaraan pembelajaran yang efektif. Demnsi-dimensi tersebut
antara lain sebagai berikut.
1. Implementasi program pendidikan dan pelatihan harus berfokus pada pendayagunaan
potensi sumber daya di sekolah, sambil mengoptimalkan kerjasama secara intensif
dengan institusi pasangan (misalnya: dunia usaha, industri, asosiasi profesi, balai
pelatihan industri, balai pelatihan tenaga kerja dan lain sebagainya).
2. Pelaksanaan kurikulum harus berdasarkan pendekatan yang lebih fleksibel sesuai
dengan tren perkembangan dan kemajuan teknologi agar kompetensi yang diperoleh
peserta didik selama dan sesudah mengikuti program pendidikan dan pelatihan, memiliki
daya adaptasi yang tinggi.
3. Program pendidikan dan pelatihan sepenuhnya harus berorientasi mastery learning
(belajar tuntas) dengan melibatkan peran aktif-partisipatif para stakeholders pendidikan.
Efektivitas pada lembaga pendidikan, dalam hal ini SMK, dapat dinilai dengan melihat
ketepatan kebijakan yang ditetapkan sekolah dan kesesuaiannya dengan standar yang
ditetapkan departemen/dinas terkait serta kesesuaiannya dengan kondisi dan kebutuhan
riil di lapangan. Kebijakan tersebut menyangkut penetapan visi, misi, tujuan, dan
strategi yang dikembangkan. Selain itu, faktor sosialisasi kebijakan, pemahaman seluruh
anggota organisasi, serta penciptaan iklim kerja yang kondusif juga perlu diperhatikan.
Faktor-faktor tersebut merupakan elemen konteks dalam penilaian efektivitas. Dalam
konteks pembelajaran, tujuan merupakan patokan dan arah yang harus dijadikan
pedoman dalam mengendalikan proses pembelajaran.
Selain konteks, efektivitas juga dinilai dengan melihat input pembelajaran pada lembaga
pendidikan yang mencakup siswa, guru, kurikulum, metode, dan fasilitas. Selanjutnya,
input tersebut dilihat daya fungsinya dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran
harus berlangsung dengan baik, sesuai pendekatan, pola, dan prosedur yang relevan.
Selain itu, kepuasan dari subjek yang terlibat merupakan hal penting dalam menilai
efektivitas, sebab subjek inilah (siswa dan guru) yang merupakan pelaku utama dari
proses pembelajaran.
Daya fungsi dari input dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan hasil dari
pembelajaran. Hasil yang diharapkan dalam hal ini adalah meningkatnya kompetensi
siswa. Keberhasilan pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi siswa merupakan
dimensi utama dalam menilai efektivitas pembelajaran. Tingkat keberhasilan
pembelajaran ini dilihat dari berbagai sudut pandang baik dari sisi siswa sebagai subjek,
persepsi guru, dan kepuasan dunia usaha/industri sebagai pengguna hasil/lulusan.
Daftar Bacaan
Djohar, Asari. (2002). Pengembangan Model Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah
Menengah Kejuruan (Studi pada SMK Program Keahlian Teknik Mesin Perkakas).

Disertasi Doktor pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.


Ekasari. (2005). Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pendidikan dan
Pelatihan Produktif Bidang Keahlian Seni Tari SMK Negeri 10 Bandung. Tesis Magister
pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Gie, The Liang. (1989). Ensiklopedi Administrasi. Jakarta: PT. Air Agung Putra.
Handoko, T. Hani. (2001). Manajemen, Edisi 2. Yogyakarta : BPFE UGM.
Iman, Muis Saad. (2004). Pendidikan Partisipatif. Yogyakarta: Safira Insania Press.
Isjoni. (2003, 4 November). SMK dan Permasalahanya. Artikel Pendidikan Network
[online], halaman 1. Tersedia: http://re-searchengines.com/isjoni3.html. [8 Desember
2007]
Iskandar, Suryana. (2006). Pembelajaran Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan
Kurikulum SMK Program Keahlian Mekanik Otomotif (Studi Implementasi Kurikulum
Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi di Kota Bandung). Tesis Magister pada
PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Jubaedah, Yoyoh (2005). Telaah Implementasi Pendekatan Competency Based Training
Berdasarkan Standar Kompetensi Nasional pada Kegiatan Pembelajaran di Sekolah
Menengah Kejuruan Program Keahlian Pariwisata. Tesis Magister pada PPS UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Kartadinata, Sunaryo. (2007). Tingkatkan Kualitas SDM melalui Pendidikan Kejuruan.
Pikiran Rakyat (24 Oktober 2007)
Marwansyah, & Mukaram. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Pusat
Penerbit Admistrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung.
Robbin, Stephen P. (2001). Orgazinational Behaviour. New Jersey: Pearson Educational
International.
Oxford University. (2001). Concise Oxford Dictionary, Tenth Edition. [CD-ROM]. Oxford:
Oxford University Press.
Oxford University. (2003). Oxford Learners Pocket Dictionary, Third Edition. Oxford:
Oxford University Press
Samani, Muchlash. (2000). Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan. Makalah pada
Diskusi di Pusat Penelitian Kebijakan Balitbang Depdiknas, Jakarta, 23 Oktober 2000.
Satori, Djaman, et all. (2003). Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di Jawa
Barat. Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Steers, Richard M. et al. (1985). Efektivitas Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Sukmadinata, Nana. S. (2002). Pengendalian Mutu Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip,
dan Instrumen. Bandung: Remaja Rosda Karya.
sumber : http://sambasalim.com/pendidikan/kinerja-mengajar-guru.html
(Sumber download: https://tongkal09.wordpress.com/2010/04/07/konseppembelajaran-yang-efektif/)

Rabu, 28 Agustus 2013

5 PRINSIP PEMBELAJARAN EFEKTIF


Menyelenggarakan pembelajaran efektif merupakan impian setiap guru dan sekolah.
Pembelajaran efektif adalah kegiatan pembelajaran yang berhasil mengantarkan
peserta didik pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Secara managerialadministratif dan berlaku secara kedinnasan, ukuran keberhasilan tersebut adalah
pencapaian
kriteria
ketuntasan
minimal
oleh
setidaknyaa
85%
siswa.
Mewujudkan pembelajaran efektif bukan hal mudah bagi kebanyakan guru, bahkan
yang pernah mengajar berpuluh tahun sekalipun. Hal ini dikarenakan efektivitas
pembelajaran merupakan proses yang kompleks, baik dipengaruhi oleh kondisi siswa,
lingkungan
maupun
kompetensi
pengajarnya.
Di antara sekian faktor penentu efektivitas pembelajaran, kemampuan pengajar
merupakan faktor paling dominan. Pada sebagian orang pembelajaran efektif
dipengaruhi oleh ketrampilan bawaan dalam mengajar. Sekalipun demikian,
pembelajaraan efektif merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari, setidaknya
dengan
memperhatikan
beberapa
prinsip
berikut.
1. Pengendalian Kelas
Pembelajaran efektif pertama-tama membutuhkan kemampuan pengajar untuk
mengendalikan kelas, yaitu mengkondisikan siswa agar dengan antusias bersedia
mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti instruksi pengajar. Pengendalian kelas
merupakan kunci pertama keberhasilan pembelajaran. Kegagalan ataupun
pengendalian kelas yang kurang maksimal akan berakibat kegagalan atau minimal
keberhasilan pembelajaran kurang optimal. Intinya, pengendalian kelas merupakan
upaya membuat siswa secara mental siap untuk dibelajarkan.
2. Membangkitkan minat eksplorasi.
Setelah siswa secara mental siap belajar, tugas guru adalah meyakinkan siswa-siswinya
betapa materi pembelajaran yang tengah mereka pelajari penting dan mudah
dipelajari, sehingga menggugah minat mereka untuk mempelajarinya. Ibarat makan,
setelah anak mandi, berganti pakaian dan duduk di meja makan, sajian yang akan
mereka santap memang membangkitkan selera. Anak tahu makanan itu enak,
bermanfaat dan tak sabar untuk segera melahapnya.
3. Penguasaan konsep dan prosedur mempelajarinya
Seenak apapun makanan, pasti ada cara paling tepat untuk menikmatinya. Kesalahan
cara menikmati tak jarang membuat anak kehilangan selera, misalnya makan satu
ayam tetapi dari sambalnya lebih dulu. Itu sebabnya, hal pertama yang harus
dilakukan adalah memperkenalkan hakekat makanan yang akan mereka santap, serta
dari bagian mana atau dengan cara seperti apa menikmatinya.
Tugas inti seorang guru secara profesional adalah memperkenalkan konsep dasar dari
materi pelajaran yang tengah dipelajari, dimulai dari sisi termudah dan paling
menarik. Guru yang benar-benar menguasai materi pelajaran pasti menemukan banyak
cara untuk membuat anak didiknya memahami materi pelajaran, dan bila perlu
membuat kiasan, terutama untuk materi pelajaran yang bersifat abstrak,

4. Latihan
Pemahaman dalam sekali proses akan sangat mudah menguap oleh berbagai aktivitas
lain siswa. Memberikan latihan demi latihan baik berupa latihan di kelas, PR atau
pemberian tugas-tugas tertentu merupakan wahana untuk memperkuat penguasaan
materi yang telah dipelajari. Pemberian tugas dan latihan mutlak diberikan agar siswa
berlatih secara terstruktur, sekalipun secara mandiri mereka mungkin saja
mempelajarinya.
Hal yang harus diperhatikan dalam pemberian latihan meliputi ketercakupan materi
pelajaran. Itu sebabnya kisi-kisi materi pelajaran harus disusun sejelas mungkin,
sehingga dalam pemberian latihan dan penugasa benar-benar meluas dan mendalam.
5. Kendali Keberhasilan
Tugas guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu
guru harus memastikan seluruh siswa menguasainya. Penjajagan terhadap penguasaan
materi pelajaran oleh siswa harus dilakukan baik selama proses pembelajaran, latihan
maupun penugasan.
Selama kegiatan pembelajaran guru perlu mulai menjajagi penguasaan materi
pelajaran semisal melalui kuis, snap shot, atau pertanyaan acak lainnya. Hal yang
harus diperhatikan saat memberikan kuis atau pertanyaan penjajagan adalah jawaban
siswa yang selama ini dikenal paling lemah daya tangkapnya. Meminta siswa yang
dikenal paling lemah dan sedang daya tangkapnya menjadi indikator awal keberhasilan
pembelajaran, sebab secara otomatis dapat diperkirakan penguasaan materi oleh
siswa yang daya tangkapnya kuat.
(Sumber: http://kampuspendidikan.blogspot.co.id/2013/08/5-prinsip-pembelajaranefektif.html)

PEMBELAJARAN EFEKTIF DENGAN MEMFUNGSIKAN MEDIA


PEMBELAJARAN
Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Media Pembelajaran

Dosen Pengampu
Nurul Malikah MPd. I
Disusun oleh
Sriatun
Sri Muryani
FAKULTAS TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI
04A)
INSTITUTE AGAMA ISLAM SUNAN GIRI
PONOROGO
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya.
Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Pada kesempatan ini kami telah menyelesaikan makalah dengan judul Pembelajaran
Efektif dengan Memfungsikan Media Pembelajaran. Dalam makalah ini akan kami jelaskan
pengertian pembelajaran efektif, pengertian media pembelajaran, dan pembelajaran efektif
dengan memfungsikan media pembelajaran.
Kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikan makalah kami selanjutnya. Semoga
makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca sekalian.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Ponorogo, Maret 2011


Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
BAB II: PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Efektif
B. Pengertian Media Pembelajaran
C. Pembelajaran Efektif dengan Memfungsikan Media Pembelajaran
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknlogi dalam kehidupan manusia ,yang merujuk
pada inovasi inovasi besar dalam berbagai bidang, tidak terkecuali termasuk dalam
pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya. Selanjutnya, dalam proses pembelajaran, memerlukan beberapa komponen
pendukung agar suasana belajar mengajar bisa mencapai pembelajaran yang efektif.
Pembelajaran harus mampu menciptakan suasana yang kondusif yang lebih bisa

menyeimbangkan usaha, proses serta hasil dalam berkaitan dengan siswa, lingkungan belajar
serta lingkugan sekolah. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan kami bahas tentang hal hal
yang terkait dengan pembelajaran efektif dengan memfungsikan media pembelajaran. Media
pembelajaran yang merupakan salah satu komponen yang bisa menunjang keberhasilan
belajar yang efektif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pembelajran efektif?
2. Apa pengertian media pembelajaran?
3. Bagaimana pembelajaran efektif dengan memfungsikan media pembelajaran?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Efektif
Sebelum mempelajari pembelajaran efekif, terlebih dahulu kita pelajari pengertian
dari efektif. Efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu kata effective yang dapat diartikan
mempunyai efek (akibat, pengaruh, kesan) atau dapat pula diartikan membawa hasil, berhasil
guna. Selain itu efektif tidak hanya diorientasikan pada hasil tetapi juga proses yang ada
dalam mencapai tujuan.[1]
Sehingga dapat disimpulkan pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang
berorientasi pada program pembelajaran berkenaan dengan usaha mempengaruhi, memberi
efek, yang dapat membawa hasil sesuai dengan tujuan maupun proses yang ada di dalam
pembelajaran itu sendiri.
Pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam proses pembelajaran setiap elemen,
berfungsi secara keseluruhan, peserta merasa tenang, puas dengan hasil pembelajaran,
membawa kesan, sarana dan prasarana yang memadai serta materi, metode dan media yang
sesuai serta guru yang professional.
Juga keberhasilan proses pembelajaran banyak tertumpu pada sikap dan cara belajar
siswa, baik perorangan maupun kelompok, selain itu, tersedianya sumber belajar dengan
memanfaatkan media pembelajaran dengan tepat merupakan factor pendorong dan
pemeliharaan kegiatan belajar siswa yang produktif, efektif dan efisien.[2]

1.

Pembelajaran efektif mencakup 4 dimensi:


Konteks

Merupakan situasi/latar belakang yang mempengaruhi tujuan dan strategi yang


dikembangkan.misalnya berupa kebijakan departemen, sasaraan yang ingin dicapai oleh unit
kerja dsb.
2. Masukan (input)
Mencakup bahan, peralatan dan fasilitas yang disiapkan untuk keperluan program. Misalnya
dokumen, kurikulum, staf pengajar, media pembelajaran dsb.
3. Proses
Merupakan pelaksanaan yang nyata dari program pendidikan di kelas/lapangan.
4. Hasil/product
Merupakan hasil keseluruhan yang dicapai oleh program. Tujuan utamanya adalah untuk
meningkatkan kompetensi siswa.

1.
2.
3.
4.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan tentang pengertian dari pembelajaran
efektif adalah pembelajaran yang berorientasi pada program pembelajaran berkenaan dengan
usaha mempengaruhi, memberi efek yang dapat membawa hasil sesuai dengan tujuan
maupun proses yang ada di dalam pembelajaran itu sendiri.
Adapun dimensi dari pembelajaran efektif adalah:
Konteks
Masukan (input)
Proses
Hasil (product)

B. Pengertian Media Pembelajaran


Media berasal dari bahasa latin yakni medius yang secara harfiahnya berarti tengah
tengah, pengantar atau perantara. Dalam bahasa arab diartikan wasail, jamak dari
wasilah yakni sinonim al wasath, yang berarti tengah tengah juga, berada di 2 sisi, karena
posisinya ditengah, maka maka ia disebut pengantar atau penghubung dari 1 sisi ke sisi
lainnya.[3]
Gerlach dan Ely (1980:244)menyatakan bahwa media adalah orang, bahan, peralatan atau
kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkin siswa memperoleh pengetahuan,
keterampilan, dan sikap.
Sehingga dapat disimpulkan pengertian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber, baik berupa orang, bahan,
peralatan atau kegiatan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan penerima (siswa)
dapat melakukan proses pembelajaran dengan baik.
Adapun nilai praktis dari media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengealaman siswa.
2. Media pembelajaran dapat meningkatkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengn
lingkugan.
3. Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
4. Dapat mengatasi batas ruang kelas.
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang tepat, nyata dan benar
6. Dapat membangkitkan motivasi, minat, dan merangsang peserta didik untuk belajar lebih
baik.

7. Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa


8. Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkrit sampai
yang abstrak.
Prinsip pengunaan media pembelajaran
1. Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapi tujuan
pembelajaran
2. Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran
3. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat,ketekunan,dan kondisi siswa
4. Media yang digunakan harus memperhatikan afektivitas dan efesien
5. Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikanya.[4]
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan dari nilai praktis media pembelajaran adalah:
o Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengealaman siswa.
o Media pembelajaran dapat meningkatkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan
lingkungan.
o Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
o Dapat mengatasi batas ruang kelas.
o Media dapat menanamkan konsep dasar yang tepat, nyat a dan benar
o Dapat membangkitkan motivasi, minat, dan merangsang peserta didik untuk belajar lebih
baik.
o Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa
o Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang konkrit sampai
yang abstrak.

1.
2.
3.
4.
5.

Adapun prinsip media pembelajaran adalah:


Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapi tujuan
pembelajaran.
Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
Media pembelajaran harus sesuai dengan minat,ketekunan,dan kondisi siswa
Media yang digunakan harus memperhatikan afektivitas dan efesien
Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikanya.[5]

C. Pembelajaran Efektif dengan Memfungsikan Media Pembelajaran


Dari beberapa pengertian di atas, pembelajaran efektif dengan memfungsikan media
pembelajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat, dimana pembelajaran akan sangat efektif
dengan difungsikannya media pembelajaran.
Seperti dalam pembahasan sebelumnya, bahwa keberhasilan pembelajaran salah satu
pendukungya adalah dengan tersedianya media pembelajaran. Karena dengan media
pembelajaran akan lebih memperjelas dan lebih memperdalam pemahaman siswa.
Suatu misal dalam suatu kelas terdapat materi tentang kehidupan makhluk hidup di
dasar laut, tidaklah mungkin guru membimbing siswa langsung menyelam ke daras lautan
untuk mempelajari makhluk hidup disana, selain itu, apabila hanya menggunakan metode
ceramah, kemungkinan besar siswa akan memiliki persepsi/pandanagn yang berbeda, yang
beragam dari penjelasan guru, kemungkinan ada dari siswa yang belum pernah ke laut, ada
dari siswa yang belum pernah melihat biota laut seperti tarumbu karang, rumput laut,

sehingga menimbuklan perbedaan pemahaman yang pada akhirnya hasil yang dicapai kurang
maksimal dan kurang dari tujuan pembelajaran hal ini secara tiak langsung mengurangi ke
efektifan proses pembelajaran. Siswa kurang minat terhdap materi Karena keterbatasan
sarana prasarana/media, serta yang diperoleh hanyalah teori. Sedangkan pembelajaran yang
efektif merupakan pembelajaran yang merujuk pada kesesuaian antara konteks, input, output
serta hasil pembelajaran.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, pembelajaran lebih efektif dengan
memfungsikan media pembelajaran, karena akan lebih mudahnya siswa dalam memahami
dam memperdalam mteri yang disampaikan serta untuk membuat keseragaman pemahaman
sehingga hasil yang dicapai bisa maksimal serta meningkatkan produktifitas dan kompetensi
siswa.

BAB III
PENUTUP

a.

b.

c.
o
o
o
o
o
o
o
o

KESIMPULAN
Pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang berorientasi pada program pembelajaran
berkenaan dengan usaha mempengaruhi , member efek, yang dapat membawa hasil sesuai
sesuai dengan tujuan maupun proses yang ada di dalam pembelajaran itu sendiri.
Pengertian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan
menyalurkan pesan dari sumber, bak berupa orang, bahan, peralatan atau dan benarkegiatan
untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan penerima(siswa)dapat melakukan proses
pembelajaran dengan baik.
Nilai praktis media pembelajaran adalah
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengealaman siswa.
Media pembelajaran dapat meningkatkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengn
lingkugan.
Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
Dapat mengatasi batas ruang kelas.
Media dapat menanamkan konsep dasar yang tepat, nyat a dan benar
Dapat membangkitkan motivasi, minat, dan merangsang peserta didik untuk belajar lebih
baik
Media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa
Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruhdari hal-hal yang konkrit sampai yang
abstrak
d. Prinsip media pembelajaran adalah
Media yang digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapi tujuan
pembelajaran

e.

Media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran


Media pembelajaran harus sesuai dengan minat,ketekunan,dan kondisi siswa
Media yang digunakan harus memperhatikan afektivitas dan efesien
Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikanya.
Pembelajaran lebih efektif dengan memfungsikan media pembelajaran, karena akan lebih
mudahnya siswa dalam memahami dam memperdalam mteri yang disampaikan serta untuk
membuat keseragaman pemahaman sehingga hasil yang dicapai bisa maksimal serta
meningkatkan produktifitas dan kompetensi siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, wina. Strategi Pembelajaran. 2006. Jakarta. Prenada media.
Munadhi, yudi. Media Pembelajaran. 2008. Jakarta. Gaung persada press
www. Word press. Com. Pembelajaran Efektif. 19/03/2011

www. Word press. Com./pembelajaran efektif.19/03/2011.16.00 pm


Ibid 1
Yudhi munadhi, media pembelajaran. Gaung
persada(Jakarta:2008)hal.6
[4] Wina sanjaya, strategi pembeajaran, kencana prenada
media(Jakarta:2006)hal.147
[1]
[2]
[3]

[5] Wina sanjaya, strategi pembeajaran, kencana prenada media(Jakarta:2006)hal.147

(sumber: http://bambangindrayana.blogspot.co.id/2013/02/makalah-tentangpembelajaran-efektif.html)

Belajar Efektif
ASIDESEPTEMBER 22, 2013LEAVE A COMMENT

BELAJAR EFEKTIF
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang mana
pada kesempatan ini penulis telah selesai menulis sebuah makalah dengan
judul BELAJAR EFEKTIF DAN EFISIEN, agar pembavca mengetahui lbih
banyak tentang belajar efektif dan efisien.
Dalam proses pembuatan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih
kepada pembimbing yang telah membantu dalam penelitian.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk menambah
pengetahuan serta wawasan yang luas kepada para pembaca. Dengan
mengetahui apa arti dari belajar efektif dan efisien, pembaca diharapkan bias
merealisasikan cara belajar efektif dan efisien dala proses kegiatan belajar
mengajar. Sehingga kegiatan belajar yang dilakukan dapat memberikan hasil
yang maksimal yang dapat berpengaruh terhadap pembaca.
Penulis sadar bahwa makalah yang penulis buat masih sangatlah jauh dari
kesempurnaan dan masih sangat banyak memiliki kekurangan. Maka dari itu,
penulis sangat mengharapkan saran dari pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tentu dirasakan sangat membosankan
oleh sebagian pelajar. Sampai ada pelajar yang bersemboyan I love Sunday
but, I hate Monday . Belajr rupanya menjadi suatu beban tersendiri bagi
pelajar. Tetapi, apakah harus setiap hari pelajar bersombayan seperti itu
sampai hari kelak mereka tua? Apakah mereka harus terus berpura-pura
duduk bersikap manis lalu mendengarkan gurunya berbicara tanpa aa yang
diingat? Tidak. Lalu, cara mereka harus belajar?

Belajar haruslah dapt memberikan dampak serta efek bagi para pelajar.
Belajar tidak harus selalu membosankan, tetapi buatlah pembelajaran
sesederhana mungkin agar dapat diserap. Itylah yang dinamakan Belajar
Efektif . Bagaimanakah cara belajar efektif itu? Penulis akan menjelaskannya
pada bagian makalah ini.
1.2 Perumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan belajar efektif?
1.2.2 Bagaimanakah persiapan belajar yang baik?
1.2.3 Bagaimana strategi belajar yang efektif dan efisien?
1.2.4 Apa sajakah gaya belajar dan prinsip belajar itu?
1.2.5 Apa sajakah modalitas belajar dan cirri-cirinya?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi nilai semester ganjil (III) dan
memberi keterangan pada masyarakat bagaimana cara meneliti dengan
langkah membaca dari berbagai sumber.
1.4 Metode Penelitian
Penulis meneliti dengan cara membaca dari berbagai sumber. Dalam sumbersumber itu penulis ambil data-data yang diperlukan.
1.5 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna bagi pembaca, aik dan kakak kelas dan masyarakat
untuk menambah pengetahuan dalam bidang penelitian.
1.6 Sistematika Penelitian
Penulis melakukan penelitian dengan langkah sebagai berikut:
1.6.1 Mencari / menentukan judul
1.6.2 Membaca sumber-sumber yang berhubungan dengan judul

1.6.3 Mengumpulkan data dari wacana yang dibaca


1.6.4 Menentukan permasalahan
1.6.5 Menulis pendahuluan
1.6.6 menulis pembahasan permasalahan
1.6.7 Menulis penutup untuk kesimpulan
1.6.8 Menulis daftar pustaka
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Belajar Efektif
Sebelum mempelajari pembelajaran efekif, terlebih dahulu kita pelajari
pengertian dari efektif. Efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu kata
effective yang dapat diartikan mempunyai efek (akibat, pengaruh, kesan)
atau dapat pula diartikan membawa hasil, berhasil guna. Selain itu efektif
tidak hanya diorientasikan pada hasil tetapi juga proses yang ada dalam
mencapai tujuan.
Sehingga dapat disimpulkan pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang
berorientasi pada program pembelajaran berkenaan dengan usaha
mempengaruhi, memberi efek, yang dapat membawa hasil sesuai dengan
tujuan maupun proses yang ada di dalam pembelajaran itu sendiri.
Pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam proses pembelajaran setiap
elemen, berfungsi secara keseluruhan, peserta merasa tenang, puas dengan
hasil pembelajaran, membawa kesan, sarana dan prasarana yang memadai
serta materi, metode dan media yang sesuai serta guru yang professional.
Juga keberhasilan proses pembelajaran banyak tertumpu pada sikap dan cara
belajar siswa, baik perorangan maupun kelompok, selain itu, tersedianya
sumber belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran dengan tepat
merupakan factor pendorong dan pemeliharaan kegiatan belajar siswa yang
produktif, efektif dan efisien.

Pembelajaran efektif mencakup 4 dimensi:


1. Konteks
Merupakan situasi/latar belakang yang mempengaruhi tujuan dan strategi
yang dikembangkan.misalnya berupa kebijakan departemen, sasaraan yang
ingin dicapai oleh unit kerja dsb.
2. Masukan (input)
Mencakup bahan, peralatan dan fasilitas yang disiapkan untuk keperluan
program. Misalnya dokumen, kurikulum, staf pengajar, media pembelajaran
dsb.
3. Proses
Merupakan pelaksanaan yang nyata dari program pendidikan di
kelas/lapangan.
4. Hasil/product
Merupakan hasil keseluruhan yang dicapai oleh program. Tujuan utamanya
adalah untuk meningkatkan kompetensi siswa.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan tentang pengertian dari
pembelajaran efektif adalah pembelajaran yang berorientasi pada program
pembelajaran berkenaan dengan usaha mempengaruhi, memberi efek yang
dapat membawa hasil sesuai dengan tujuan maupun proses yang ada di
dalam pembelajaran itu sendiri.
2.2 Persiapan Belajar
Ada sebelas langkah yang dapat dipersiapkan sebelum kita belajar, yaitu
adalah:
1.

Murnikan niat. Jadikan menuntut ilmu sebagai ibadah.

2.

Selalu ingat bahwa anugerah berasal dari Allah dan sebab-sebabnya


berasal manusia.

3.

Hilangkanlah kata akan dari hidup anda, dan jangan menunda-nunda.

4.

Waspadalah dengan sugesti-sugesti yang negative, seperti, aku


gagal, atau, pelajaran yang sulit.

5.

Percayalah dengan anugerah Allah dan lakukanlah hal-hal yang dapat


mendatangkan anugerah-Nya.

6.

Percayalah tentang pentingnya ilmu dan mempelajarinya.

7.

Waspadalah dengan teman yang kurang baik dan membuang-buang


waktu.

8.

Aturlah buku tulis dan belajar anda.

9.

Kerjakan pekerjaan rumah dan ulagilah setiap hari.

10.

Makanlah makanan yang sehat, dan jauhi makanan instant.

11.

Jangan pernah belajar di saat merasa lelah.

2.3 Strategi Belajar yang Efektif dan Efisien


Perlu trik-trik khusus agar belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Berikut ini
ada beberapa trik yang bisa dicoba :
1. Ciptakan suasana belajar yang nyaman
Yang perlu anda lakukan pertama adalah bagaimana cara membangun
suasana belajar yang nyaman. Ada banyak cara untuk membuat mood
belajar itu muncul, diantara : anda bisa belajar sambil mendengarkan nasyid
islami, belajar di tempat-tempat yang sejuk dan nyaman seperti di taman, di
sawah, di perkebunan, dll
2. Merangkum Materi Pelajaran
Kegiatan ini sangat penting. Kenapa? Karena jika anda membaca 1 buku
maka akan butuh waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan. Carilah
intisari dari pelajaran tersebut. Kalau perlu catat ulang materi-materi yang
antum anggap penting, sehingga mempermudah dalam mempelajarinya.
3. Belajar Bersama
Metode ini seringkali di katakan metode yg paling efektif karena dalam
suasana belajar berkelompok yang cukup santai otak menjadi lebih rileks
menerima pelajaran / materi yg akan di serap. Selain itu hal hal yg belum di
ketahui akan lebih mudah di selesaikan dengan bekerja sama. Maka sangat
dianjurkan untuk belajar bersama ketika menghadapi ujian.
4. Metode mempersingkat atau memodifikasi menyerupai nama
sesuatu

Untuk mempermudah hafalan, gunakan singkatan nama-nama yang hampir


mirip untuk mengingat materi. Ini sangat efektif digunakan dan otak tidak
terbebani dengan hafalan-hafalan berat.
5. Belajar dengan Praktik
Mempraktekan semua materi yang pernah diajarkan oleh guru akan
membuat Anda jauh dari kebosanan dan membuat suasana belajar lebih
menyenangkan. Misalnya pelajaran IPA seperti Botani atau Avertebrata, kita
bisa belajar sambil mengamati tumbuh-tumbuhan, hewan atau apapun,
dengan itu kita bisa membuat sebuah acara belajar jadi lebih asyik.
6. Belajar rutin tapi jangan lama
Dengan rutin belajar anda akan semakin mudah untuk mengingat hal yang
sudah Anda pelajari. yang perlu anda lakukan adalah belajar
rutin bukan Terlalu lama belajar. Seperti belajar saat pagi 45 menit, siang
25 menit, sore 50 menit, malam 1 jam. Cara ini sangat efetif dan pikiran juga
akan tetap dalam keadaan rileks dari pada harus belajar terlalu lama dengan
sistim borongan.
7. Belajar dengan Memahami Bukan Menghafal
Hal yg paling sering dilakukan oleh siswa atapun mahasiswa ketika ingin
menghadapi ujian adalah menghafal. Sebenarnya tidak salah hanya saja
kurang efektif. Untuk lebih efektifnya adalah dengan memahami teorinya
maka dengan sendiri akan kita ingat ketika ujian. Kalau anda masih memakai
metode belajar dengan menghafal, sangat disarankan untuk pindah ke
metode memahami pelajaran.
8. Keteraturan dalam belajar
Cara belajar yang efisien mengandung asas-asas tertentu yang tidak saja
untuk dipahami melainkan lebih dihayati sepanjang masa dalam belajarnya.
Asas adalah suatu dalil umum yang dapat diterapkan pada suatu rangkaian
kegiatan untuk menjadi petunjuk dalam melakukan tindakan-tindakan.
Dalam belajar yang baik / cara belajar yang efektif efisien, yang menjadi
pokok pangkal pertama ialah adanya suatu keteraturan, baik dalam belajar,
mencatat ataupun menyimpan alat-alat perlengkapan untuk belajar.

9. Disiplin belajar
Asas lain cara belajar yang baik ialah disiplin. Dengan jalan berdisiplin untuk
melaksanakan pedoman-pedoman yang baik di dalam usaha belajar, barulah
seseorang mempunyai cara belajar yang baik. Karena berdisiplin selain akan
membuat seseorang memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang
baik juga merupakan suatu proses kearah pembentukan watak yang baik
yang akan menciptakan pribadi yang luhur. Dengan demikian cara
belajar yang baik adalah suatu kecakapan yang dapat dimiliki seseorang
dengan jalan latihan.
10. Konsentrasi
Setiap orang yang sedang menuntut ilmu harus melakukan konsentrasi
dalam belajarnya, karena tanpa konsentrasi dalam belajarnya, tak mungkin
berhasil menguasai pelajaran yang diberikannya. Konsentrasi adalah
pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan menyampaikan semua hal
lainnya yang tidak berhubungan.
2.4 Gaya Belajar dan Prinsip Belajar
Landasan utama dalam mencapai keberhasilan belajar adalah kesiapan
mental. Tanpa kesiapan mental, maka tidak akan dapat bertahan terhadap
berbagai kesukaran (kesulitan) yang dihadapi selama belajar.
Agar mendapatkan hasil belajar yang optimal, proses belajar mesti kita
sesuaikan denga gaya belajar yang sesuai dengan diri kita.
Macam-macam gaya belajar :
Gaya Belajar Visual
belajar dengan cara melihat, membayangkan dan memperhatikan secara
langsung objek yang dipelajari.
Gaya Belajar Audio
belajar dengan cara mendengarkan dari sumber ajar (diterangkan,
radio/kaset, nada, irama, suasana heboh, suasana gaduh dll)
Gaya Belajar Kinesthetic

belajar dengan cara bergerak, merasa, menyentuh, menggengam,


menangkap, menekan (dingin, kasar, tebal, tipis dll)
2.5 Modalitas Belajar dan Ciri-cirinya
a. Visual
Kekuatan belajar seseorang berdasarkan indera penglihatannya.
Ciri-cirinya:

Lebih suka membaca dari pada dibacakan

Jika berbicara, gerakan bola matanya sering ke arah atas dan

bicaranya agak cepat


Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai

memilih kata
Mementingkan penampilan dalam berpakaian pada saat presentasi

Nada suara cenderung tinggi

Cara belajar visual:

Lebih banyak membaca buku atau majalah

Membuat grafik, diagram atau peta pemikiran

Belajar dengan media komputer

Membuat poster ringkasan pelajaran

Kartu kecil (flowchart) yang mudah dibawa dan digunakan untuk

belajar
Memberikan warna-warni yang ceria pada catatan/buku

Memakai model/alat peraga dalam menjalankan proses belajar

Berimajinasi dengan membayangkan sebuah peristiwa

b. Auditori
Kekuatan belajar seseorang terfokus dengan alat pendengarannya.
Ciri-ciri:

Balajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan


daripada yang dilihat
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
Gerakan bola mata sejajar dengan telinga

Penampilan rapi

Saat belajar dilakukan dengan bicara kepada dirinya sendiri

Mudah terganggu oleh keributan

Lebih suka gurau lisan daripada membaca komik

Lebih pandai mengeja dengan keras, daripada menuliskannya

Cara belajar auditori

Membaca dengan suara keras

Mendengarkan rekaman atau bisa juga dengan mendengarkan

rekamannya sendiri
Selalu mendiskusikannya dengan orang lain

Belajar dengan mendengarkan

Menyampaikan kembali yang dipelajari

Belajar dengan media musik atau diiringi dengan musik

Kerja kelompok

Membutuhkan waktu tenag untuk memikirkan materi

c. Kinestetik
Kekuatan seseorang yang memiliki gaya belajar seperti ini , mirip dengan
gaya belajar visual, yaitu melalui penglihatnnya
Ciri-cirinya

Penampilan rapi

Menggunakan gerakan atau bahasa tubuh

Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

Menyukai permainan yang menyibukan

Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

Menggunakan jari sebagai petunjukketika membaca

Menyentuh orang untuk mendapat perhatian, menggunakan kata-kata


yang mengandung aksi

Ciri belajar kinestetik

Melibatkan fisik, belajar sambil bereksperimen

Membuat model atau media-media belajar

Bermain peran

Membuat permainan maind mapping ( pemetaan daya ingat)

Belajar sambil berjalan

Pewarnaan
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembelajaran yang baik dan benar dapat memberikan efek yang bai.
Diperlukan juga strategi belajar yang mendukung dalam belajar efektif.
Strategi belajar didapatkan dari masing-masing pelajar dengan gaya yang
dimiliki.
Dalam mendapatkan hasil belajar yang maksimal, belajar juga harus tumbuh
dari kemauan diri sendiri bukan dari orang lain atau orang tua.
Belajar tidak selalu membosankan jika dilakukan dengan hal-hal yang
menyenangkan dan mengasyikkan selama dapat menunjang kegiatan
belajar.
DAFTAR PUSTAKA

http://smkn3pacitan.sch.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=169&Itemid=187
http://lila-alazhar.blogspot.com/2012/10/modalitas-belajar-dan-ciricirinya_4.html

(Sumber: https://yuniarlestari.wordpress.com/2013/09/22/41/)

Konsep Pembelajaran yang Efektif


7 APRIL 2010DNGASTEAMING

ALAMAT SITUS-SITUS PENTING LEAVE A COMMENT

Konsep Pembelajaran yang Efektif


Pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam proses pembelajaran setiap elemen
berfungsi secara keseluruhan, peserta merasa senang, puas dengan hasil pembelajaran,
membawa kesan, sarana/fasilitas memadai, materi dan metode affordable, guru
profesional. Tinjauan utama efektivitas pembelajaran adalah outputnya, yaitu
kompetensi siswa.
Efektivitas dapat dicapai apabila semua unsur dan komponen yang terdapat pada sistem
pembelajaran berfungsi sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Efektivitas
pembelajaran dapat dicapai apabila rancangan pada persiapan, implementasi, dan
evaluasi dapat dijalankan sesuai prosedur serta sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan mengadaptasi pengukuran efektivitas
pelatihan yaitu melalui validasi dan evaluasi (Lesli Rae, 2001:3). Untuk mengukur
keberhasilan pembelajaran harus ditetapkan sejumlah fakta tertentu, antara lain dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
1. Apakah pembelajaran mencapai tujuannya?
2. Apakah pembelajaran memenuhi kebutuhan siswa dan dunia usaha?
3. Apakah siswa memiliki keterampilan yang diperlukan di dunia kerja?
4. Apakah keterampilan tersebut diperoleh siswa sebagai hasil dari pembelajaran?
5. Apakah pelajaran yang diperoleh diterapkan dalam situasi pekerjaan yang
sebenarnya?
6. Apakah pembelajaran menghasilkan lulusan yang mampu berkerja dengan efektif dan
efisien? (diadaptasi dari Rae, 2001:5)
Efektivitas pembelajaran merupakan permasalahan yang kompleks dan
multidimensional. Penyelenggaraan program produktif sebagai bagian dari proses
pendidikan dan latihan harus dipandang sebagai suatu kekuatan yang komprehensif dan
utuh. Oleh karena itu, selain melakukan evaluasi intensif terhadap pelaksanaan
pembelajaran produktif, perlu diterapkan konsep Total Quality Control (TQC) dalam
pelaksanaan pembelajaran.
Total Quality Control atau Pengendalian Mutu Terpadu merupakan suatu sitem yang
efektif untuk mengintegrasikan usaha-usaha pengembangan kualitas, pemeliharaan
kuantitas, dan perbaikan kualitas atau mutu dari berbagai kelompok dalam organisasi,
sehingga meningkatkan produktivitas dan pelayanan ke tingkat yang paling ekonomis
yang menimbulkan kepuasan semua pelanggan (Hasibuan, 2000:219). Pengembangan
kualitas merupakan tujuan yang ingin dicapai dari program produktif. Pemeliharaan
kuantitas menyangkut jumlah input, output, dan pemberdayaannya secara seimbang.
Dasar dari konsep TQC adalah mentalitas, kecakapan, manajemen partisipatif dengan
sikap mental yang mengutamakan kualitas dan totalitas kerja. Mentalitas adalah
kesediaan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan bertanggung jawab dalam
mengerjakannya.
Selanjutnya, Hasibuan (2000:218) menyebutkan beberapa mentalitas dasar TQC yang
harus dijadikan parameter dalam mengukur tingkat efektivitas pelatihan, antara lain
sebagai berikut.
1. Adanya kerja sama dan partisipasi total. Tujuannya adalah berorientasi pada tanggung
jawab kelompok, bersedia membuat lebih/berpartisipasi dalam bidang yang
berhubungan, menciptakan kesadaran kelompok, dan saling menghargai satu sama lain.
2. Berorientasi pada mutu. Maksudnya adalah disesuaikan dengan permintaan dan
standarnya adalah tidak ada cacat/kesalahan (zero mistakes) serta ukurannya adalah
biaya yang tidak terlalu banyak dikeluarkan.
3. Hubungan atasan dan bawahan secara harmonis. Maksudnya adalah terjalinnya

hubungan yang baik antara pihak manajemen (pimpinan sekolah dan pimpinan program
keahlian) dengan para guru, saling memotivasi dan memberikan dukungan dalam setiap
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Kesiapan guru dalam penguasaan bidang keilmuan yang menjadi kewenangannya,
merupakan modal dasar bagi terlaksananya pembelajaran yang efektif. Guru yang
profesional dituntut untuk memiliki persiapan dan penguasaan yang cukup memadai,
baik dalam bidang keilmuan maupun dalam merancang program pembelajaran yang
disajikan. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran menggambarkan dinamika kegiatan
belajar siswa yang dipandu dan dibuat dinamis oleh guru. Untuk itu, guru semestinya
memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam mengaplikasikan
metodologi dan pendekatan pembelajaran secara tepat. Kompetensi profesional dari
guru perlu dikombinasikan dengan kemampuan dalam memahami dinamika perilaku dan
perkembangan yang dijalani oleh para siswa.
Beberapa aspek yang menjadi orientasi ke arah pencapaian efektivitas pembelajaran
dalam perspektif guru dipaparkan oleh Djaman Satori, et al. (2003:44-52) sebagai
berikut.
1. Apresiasi Guru Terhadap Pengembangan Kurikulum dan Implikasinya. Guru dituntut
mempunyai kemampuan dalam pengembangan kurikulum secara dinamik sesuai dengan
potensi sekolah dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip di bawah ini. (a) Keseimbangan
etika, logika, estetika, dan kinestika. (b) Kesamaan memperoleh kesempatan bagi semua
siswa.(c) Kesiapan menghadapi abad pengetahuan dan tantangan teknologi informasi.
(d) Pengembangan keterampilan hidup. (e) Berpusat pada anak sebagai pembangun
pengetahuan. (f) Penilaian berkelanjutan dan komprehensif.
2. Kreativitas Guru dalam Aplikasi Teknologi Pembelajaran. Guru dituntut mempunyai
pemahaman konsep teoretis dan praktis berkenaan dengan desain, pengembangan,
pemakaian, manajemen, dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan sumber belajar.
Pembelajaran yang memiliki efektivitas tinggi ditunjukkan oleh sifatnya yang
menekankan pada pemberdayaan peserta didik. Pembelajaran bukan sekadar
transformasi dan mengingat, juga bukan sekadar penekanan pada penguasaan
pengetahuan tentang apa yang diajarkan, akan tetapi lebih menekankan pada
internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dalam jiwa anak dan
berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktikkan dalam kehidupan seharihari oleh peserta didik. Bahkan pembelajaran lebih menekankan pada peserta didik agar
mau belajar bagaimana cara belajar yang produktif.
Selain faktor guru, keberhasilan proses pembelajaran banyak bertumpu pada sikap dan
cara belajar siswa, baik perorangan maupun kelompok. Selain itu, tersedianya sumber
belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran secara tepat merupakan faktor
pendorong dan pemelihara kegiatan belajar siswa yang produktif, efektif, dan efisien.
Memelihara suasana pembelajaran yang dinamis dan menyenangkan merupakan kondisi
esensial dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, perlu ditanamkan persepsi positif
pada setiap diri siswa, bahwa kegiatan pembelajaran merupakan peluang bagi mereka
untuk menggali potensi diri sehingga mampu menguasai kompetensi yang diperlukan
untuk kehidupannya kelak.
Dilihat dari perspektif perkembangan kebutuhan pembelajaran dan aksesbilitas dunia
usaha/industri, sekurang-kurangnya ada tiga dimensi pokok yang menjadi tantangan bagi
SMK dalam penyelenggaraan pembelajaran yang efektif. Demnsi-dimensi tersebut antara
lain sebagai berikut.
1. Implementasi program pendidikan dan pelatihan harus berfokus pada pendayagunaan
potensi sumber daya di sekolah, sambil mengoptimalkan kerjasama secara intensif
dengan institusi pasangan (misalnya: dunia usaha, industri, asosiasi profesi, balai
pelatihan industri, balai pelatihan tenaga kerja dan lain sebagainya).
2. Pelaksanaan kurikulum harus berdasarkan pendekatan yang lebih fleksibel sesuai
dengan tren perkembangan dan kemajuan teknologi agar kompetensi yang diperoleh
peserta didik selama dan sesudah mengikuti program pendidikan dan pelatihan, memiliki
daya adaptasi yang tinggi.

3. Program pendidikan dan pelatihan sepenuhnya harus berorientasi mastery learning


(belajar tuntas) dengan melibatkan peran aktif-partisipatif para stakeholders pendidikan.
Efektivitas pada lembaga pendidikan, dalam hal ini SMK, dapat dinilai dengan melihat
ketepatan kebijakan yang ditetapkan sekolah dan kesesuaiannya dengan standar yang
ditetapkan departemen/dinas terkait serta kesesuaiannya dengan kondisi dan kebutuhan
riil di lapangan. Kebijakan tersebut menyangkut penetapan visi, misi, tujuan, dan strategi
yang dikembangkan. Selain itu, faktor sosialisasi kebijakan, pemahaman seluruh anggota
organisasi, serta penciptaan iklim kerja yang kondusif juga perlu diperhatikan. Faktorfaktor tersebut merupakan elemen konteks dalam penilaian efektivitas. Dalam konteks
pembelajaran, tujuan merupakan patokan dan arah yang harus dijadikan pedoman dalam
mengendalikan proses pembelajaran.
Selain konteks, efektivitas juga dinilai dengan melihat input pembelajaran pada lembaga
pendidikan yang mencakup siswa, guru, kurikulum, metode, dan fasilitas. Selanjutnya,
input tersebut dilihat daya fungsinya dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran
harus berlangsung dengan baik, sesuai pendekatan, pola, dan prosedur yang relevan.
Selain itu, kepuasan dari subjek yang terlibat merupakan hal penting dalam menilai
efektivitas, sebab subjek inilah (siswa dan guru) yang merupakan pelaku utama dari
proses pembelajaran.
Daya fungsi dari input dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan hasil dari
pembelajaran. Hasil yang diharapkan dalam hal ini adalah meningkatnya kompetensi
siswa. Keberhasilan pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi siswa merupakan
dimensi utama dalam menilai efektivitas pembelajaran. Tingkat keberhasilan
pembelajaran ini dilihat dari berbagai sudut pandang baik dari sisi siswa sebagai subjek,
persepsi guru, dan kepuasan dunia usaha/industri sebagai pengguna hasil/lulusan.
Daftar Bacaan
Djohar, Asari. (2002). Pengembangan Model Kurikulum Berbasis Kompetensi Sekolah
Menengah Kejuruan (Studi pada SMK Program Keahlian Teknik Mesin Perkakas). Disertasi
Doktor pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Ekasari. (2005). Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pendidikan dan
Pelatihan Produktif Bidang Keahlian Seni Tari SMK Negeri 10 Bandung. Tesis Magister
pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Gie, The Liang. (1989). Ensiklopedi Administrasi. Jakarta: PT. Air Agung Putra.
Handoko, T. Hani. (2001). Manajemen, Edisi 2. Yogyakarta : BPFE UGM.
Iman, Muis Saad. (2004). Pendidikan Partisipatif. Yogyakarta: Safira Insania Press.
Isjoni. (2003, 4 November). SMK dan Permasalahanya. Artikel Pendidikan Network
[online], halaman 1. Tersedia: http://re-searchengines.com/isjoni3.html. [8 Desember
2007]
Iskandar, Suryana. (2006). Pembelajaran Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Kurikulum
SMK Program Keahlian Mekanik Otomotif (Studi Implementasi Kurikulum Sekolah
Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi di Kota Bandung). Tesis Magister pada PPS UPI
Bandung: tidak diterbitkan.
Jubaedah, Yoyoh (2005). Telaah Implementasi Pendekatan Competency Based Training
Berdasarkan Standar Kompetensi Nasional pada Kegiatan Pembelajaran di Sekolah
Menengah Kejuruan Program Keahlian Pariwisata. Tesis Magister pada PPS UPI Bandung:
tidak diterbitkan.
Kartadinata, Sunaryo. (2007). Tingkatkan Kualitas SDM melalui Pendidikan Kejuruan.
Pikiran Rakyat (24 Oktober 2007)
Marwansyah, & Mukaram. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Pusat
Penerbit Admistrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung.
Robbin, Stephen P. (2001). Orgazinational Behaviour. New Jersey: Pearson Educational
International.
Oxford University. (2001). Concise Oxford Dictionary, Tenth Edition. [CD-ROM]. Oxford:
Oxford University Press.
Oxford University. (2003). Oxford Learners Pocket Dictionary, Third Edition. Oxford:
Oxford University Press

Samani, Muchlash. (2000). Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan. Makalah pada


Diskusi di Pusat Penelitian Kebijakan Balitbang Depdiknas, Jakarta, 23 Oktober 2000.
Satori, Djaman, et all. (2003). Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di Jawa Barat.
Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Steers, Richard M. et al. (1985). Efektivitas Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Sukmadinata, Nana. S. (2002). Pengendalian Mutu Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip,
dan Instrumen. Bandung: Remaja Rosda Karya.
sumber : http://sambasalim.com/pendidikan/kinerja-mengajar-guru.html

(Smber download: https://tongkal09.wordpress.com/2010/04/07/konseppembelajaran-yang-efektif/)

PEMBELAJARAN EFEKTIF
(PEMBELAJARAN KONTEKTUAL DAN BERFIKIR KRITIS)

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan SLTP membawa
konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model pembelajaran yang
mengajarkan mata-mata pelajaran (subject matter based program) ke model pembelajaran
berbasis kompetensi (competencies based program). Model pembelajaran berbasis
kompetensi bermaksud menuntun proses pembelajaran secara langsung berorientasi pada
kompetensi atau satuan-satuan kemampuan. Pengajaran berbasis kompetensi menuntut
perubahan kemasan kurikulum, dari model lama berbentuk silabus yang berisi uraian mata
pelajaran yang harus diajar ke dalam kemasan yang berbentuk paket-paket kompetensi. Hal
ini membawa konsekuensi bahwa proses pembelajaran harus berorientasi pada
pembentukan seperangkat kompetensi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal
demikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik bidang kajian dan karakteristik siswa agar mencapai hasil yang
maksimal. Oleh kerana itu peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan,
antara lain : (a) peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih banyak
berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) peserta didik adalah
individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka mempunyai perbedaan cara
belajar sesuatu yang berbeda pula, (c) proses belajar mengajar llebih ditekankan pada
belajar daripada mengajar (Laster, 1985).
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan pergeseran peran
guru dalam pembelajaran, yaitu :
Cara pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi sebagai obyek
pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran. Dalam diri siswa
terdapai berbagai potensi yang siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam konteks
pembelajaran guru diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa untuk
mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
b.
Guru diharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa berhubungan dengan
masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan yang muncul di masyarakat. Antara lain
dengan cara memberikan tantangan yang berupa kasus-kasus yang sering terjadi di
masyarakat yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa dapat
mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai
bekal kemandirian dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh
lagi diharapkan bisa ikut ambil bagian dalam mengembangkan potensi masyarakatnya.
a.

1.

Prinsip pembelajaran KBK


Prinsip pembelajaran yang dikembangkan untuk mencapai kefektifan dan efisiensi
pengelolaan KBK di SLTP, antara lain :
a. Pembelajaran berfokus pada siswa (student cenrtered), artinya orientasi pembelajaran
terfokus kepada siswa. Siswa menjadi subyek pembelajaran dan kecepatan belajar siswa
yang tidak sama perlu diperhatikan.
b. Pembelajaran terpadu (integrated learning), maksudnya pengelolaan pembelajaran/KBM
dilakukan secara integratif. Semua tujuan pembelajaran yang berupa kemampuan dasar

yang ingin dicapai bermuara pada satu tujuan akhir, yaitu mencapai kemampuan dasar
lulusan.
a. Pembelajaran individu (individual learning), artinya siswa memiliki peluang untuk melakukan
pembelajaran secara individual.
b. Belajar tuntas (mastery learning), maksudnya pembelajaran mengacu pada ketuntasan
belajar kemampuan dasar melalui pemecahan masalah. Setiap individu dan kelompok harus
menuntaskan pembelajaran satu kemampuan dasar baru belajar ke kemampuan dasar
berikutnya.
c. Pemecahan masalah (problem solving), artinya proses dan hasil pembelajaran mengacu
pada aktifitas pemecahan masalah yang ada di masyarakat, yaitu dengan menggunakan
pendekatan belajar kontekstual.
d. Experience-based learning, yakni pembelajaran dilaksanakan melalui pengalamanpengalaman belajar tertentu dalam mencapai kemampuan belajar tertentu.
e. Selain pemanfaatan prinsi-prinsip tersebut, guru dimungkinkan menerapkan prinsip-prinsip
pembelajaran lain yang sesuai dengan tuntutan perkembangan.

B. BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


1.

Belajar Aktif
Winkel (1996) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap. Perubahan itu
bersifat tetap dan berbekas. Belajar dapat dipandang sebagai usaha untuk melakukan
proses perubahan tingkah laku kearah menetap sebagai pengalaman berinteraksi dengan
lingkungannya.
Belajar merupakan usaha seseorang untuk membangun pengetahuan dalam dirinya.
Dalam proses belajar terjadi perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan,
dan keterampilan siswa, baik dari segi kognitif, psikomotor maupun afektif.
Belajar aktif (sering dikenal sebagai cara belajar siswa aktif) merupakan suatu
pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif
menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari
belajar aktif. Untuk dapat mencapai hal tersebut, kegiatan pembelajaran dirancang
sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa. Belajar yang bermakna terjadi bila siswa
berperan secara aktif dalam proses belajar dan akhirnya mampu memutuskan apa yang
akan dipelajarinya.
Belajar aktif merupakan perkembangan dari teori Dewey learning by doing (18591952). Dewey sangat tidak setuju pada rote learning belajar dengan menghafal. Dewey
merupakan pendiri sekolah Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip learning by
doing, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Keingintahuan
siswa akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam
suatu proses belajar. Menurut Dewey, guru berperan untuk menyediakan sarana bagi siswa
untuk dapat belajar. Dengan peran serta siswa dan guru dalam belajar aktif, akan tercipta
suatu pengalaman belajar yang bermakna.
Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan
kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk samasama berkembang dan berbagi pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman.

Melalui pendekatan belajar aktif, siswa diharapkan akan lebih mampu mengenal dan
mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimilikinya. Di samping itu siswa
secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di
sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, kritis, tanggap,
sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang
bermakna baginya.
Selanjutnya, belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara
sistematis, dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya,
guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan
menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu
guru diharapkan memiliki kemampuan :
a. Memanfaatkan
pembelajaran.

sumber

belajar

di

lingkungannya

secara

optimal

dalam

proses

b. Berkreasi dan mengembangkan gagasan baru


c. Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan
pengetahuan yang diperoleh di masyarakat
d. Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan
sehari-hari dalam masyarakat
e. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku siswa secara bertahap dan utuh
f. Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai
dengan kemampuannya
g. Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
Dengan demikian, belajar aktif diasumsikan sebagai pendekatan belajar yang efektif
untuk dapat membentuk siswa sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kemampuan
untuk belajar mandiri sepanjang hayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.

2.

Pembelajaran
Mengajar atau teaching adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide,
keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar
bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Pembelajaran adalah upaya untuk
membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pengertian ini terdapat kegiatan memilih,
menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi
pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari
perencanaan pembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekat
perencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah
sebabnya dalam belajar, siswa tidak berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber
belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dipakai untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada
bagaimana membelajarkan siswa, dan bukan pada pa yang dipelajari siswa. Dengan
demikian perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengorganisasi pembelajaran,
bagiaman cara menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara
sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal. Pembelajaran perlu
direncanakan dan dirancang secara optimal agar dapat memenuhi harapan dan tujuan.
Rancangan Pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Pembelajaran diselenggarakan dengan pengalaman nyata dan lingkungan otentik, karena


hal ini diperlukan untuk memungkinkan seseorang berproses dalam belajar (belajar untuk
memahami, belajar untuk berkarya, dan melakukan kegiatan nyata) secara maksimal.
b. Isi pembelajaran harus didesain agar relevan dengan karakteristik siswa karena
pembelajaran difungsikan sebagai mekanisme adaptif dalam proses konstruksi,
dekonstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, sikap, dan kemampuan.
c. Menyediakan media dan sumber belajar yang dibutuhkan. Ketersediaan media dan sumber
belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara konkrit, luas,
dan mendalam, adalah hal yang perlu diupayakan oleh guru yang profesional dan peduli
terhadap keberhasilan belajar siswanya.
d. Penilaian hasil belajar terhadap siswa dilakukan secara formatif sebagai diagnosis untuk
menyediakan pengalaman belajar secara berkesinambungan dan dalam bingkai belajar
sepanjang hayat (life long contiuning education).

3. Pembelajaran Efektif
Pembelajaran efektif adalah pembelajaran dimana siswa memperoleh keterampilanketerampilan yang spesifik, pengetahuan dan sikap serta merupakan pembelajaran yang
disenangi siswa. Intinya bahwa pembelajaran dikatakan efektif apabila terjadi perubahanperubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor (Reiser Robert, 1996).
a. Ciri-ciri pembelajaran efektif :
o Aktif bukan pasif
o Kovert bukan overt
o Kompleks bukan sederhana
o Dipengaruhi perbedaan individual siswa
o Dipengaruhi oleh berbagai konteks belajar
b. Kriteria :
o Kecermatan penguasaan
o Kecepatan unjuk kerja
o Tingkat alih belajar
o Tingkat retensi (Reigeluth & Merril, 1989)

4. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan
daripada hasil.

Landasan filosofi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah


konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar
menghapal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak siswa sendiri.
Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah,
tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam
status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Siswa perlu menyadari bahwa yang
mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan demikian siswa memposisikan
sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka
mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya
ini, siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuan belajar. Oleh karena itu guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama
untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru
(pengetahuan, keterampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari apa kata guru.
Pembelajaran kontektual merupakan salah satu dari sekian banyak
model pembelajaran, pembelajaran kontekstual dikembangkan dengan tujuan membekali
siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan
ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya.

a. Perbedaan pembelajaran kontektual dan konvensional


Pola pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional yang
selama ini dikenal. Perbedaan tersebut tergambar dalam tabel berikut.

Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran Kontektual

Menyandarkan pada hafalan

Menyandarkan pada memori spasial

Pemilihan informasi ditentukan


oleh guru

Pemilihan informasi berdasarkan


kebutuhan individu siswa

Cenderung terfokus pada satu


bidang tertentu

Cenderung
mengintegrasikan
beberapa bidang

Memberikan tumpukan informasi Selalu


mengkaitkan
informasi
kepada siswa sampai pada
dengan pengetahuan awal yang
saatnya diperlukan
telah dimiliki siswa
Penilaian hasil belajar hanya
melalui kegiatan akademik
berupa ujian ulangan

Menerapkan penilaian auntentik


melalui penerapan praktis dalam
pemecahan masalah

b. Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual.


Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme
(contructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning

community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya


(authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika
menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Model pembelajaran
kontektual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas
yang bagaimanapun keadaannya.

c. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual


Penerapan model pembelajaran kontekstual dalam kelas secara garis besar mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut :
1). Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan
barunya
2). Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3). Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4). Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5). Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6). Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7). Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

d. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual


Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa dalam konteks bermakna yang
menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan
sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru. Untuk itu guru
dalam menggunakan pendekatan pengajaran konekstual memperhatikan hal-hal sebagai
berikut.

1). merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa


(developmentally appropriate)
2). membentuk group belajar yang saling ketergantungan (interdependent learning group)
3). Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri (self regulated
learning) yang mempunyai karakteristik : kesadaran berfikir, penggunaan strategi, dan
motivasi berkelanjutan.
4). Mempertimbangkan keragaman siswa (disversity of student)
5). Memperhatikan multi-intelegensi siswa (mltiple intelligences), spasial-verbal, linguisticverbal, interpersonal, musikal ritmik, naturalis, badan-kinestetika, intrapersonal, dan
logismatematis. (Gardner, 1993)
6). Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran
perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat tinggi.
7). Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment).

siswa,

e. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual


1). Adanya kerjasama
2). Saling menunjang
3). Menyenangkan, tidak membosankan
4). Belajar dengan bergairah
5). Pembelajaran terintegrasi
6). Menggunakan bebagai sumber
7). Siswa aktif
8). Sharing dengan teman
9). Siswa kritis, guru kreatif
10).

Laporan kepada orang tua berujud, rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, dan
karangan siswa, dll.

f. Penilaian
Penilaian dilakukan dengan menggunakan penilaian authentik, yang mempunyai
karakteristik sebagai berikut :
1). Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
2). Menggunakan penilaian formatif maupun sumatif
3). Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
4). Berkesinambungan
5). Terintegrasi
6). Digunakan sebagai umpan balik.

Hal-hal yang digunakan sebagai dasar penilaian prestasi siswa meliputi :

1). Penilaian kinerja (performance assessment)


2). Observasi Sistematik (Systematic observation)
3). Portofolio (portofolio)
4). Jurnal Sain (Journal)
5). Penilaian mencakup umpan balik dan berbagai bentuk refleksi

4. Mengembangkan sikap kritis dan kreatif siswa


Sebagai salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah sikap kritis siswa dan kreatif
guru dalam proses pembelajaran. Berfikir kritis dan kreatif merupakan komponen utama

berfikir tingkat tinggi (higher order thinking). Proses berfikir tingkat tinggi harus
dikembangkan pada setiap diri siswa. Hal ini merupakan tugas guru, karena guru harus
megembangkan potensi siswa semaksimal mungkin hingga mencapai kemampuan yang
tinggi pada setiap diri siswa. Oleh karena itu pembelajaran dituntut dapat mengembangkan
siap kritis dan kreativitas siswa. Sikap kritis dan kreatifitas siswa dapat dikembangkan
melalui pembelajaran yang berpusat pada otak kanan. Otak kanan mempunyai kemampuan
berfikir kreatif, holistik, spasial. sedangkan otak kiri mengembangkan kemampuan berfikir
rasional, analitis, linier. Otak kiri mengendalikan wicara dan otak kanan mengendalikan
tindakan. Tabel berikut ditunjukkan perbedaan proses berfikir otak kiri dan kanan.

Berfikir Konvergen

Berfikir Divergen

(Proses di belahan otak Kiri)

(Proses di belahan otak kanan)

1. tertarik pada proses penemuan yang


bersifat bagian-bagian dari suatu
komponen.

1.

tertarik pada proses pengintegrasian


dari bagian-bagian suatu komponen
menjadi satu kesatuan yang bersifat
utuh dan menyeluruh

2.

proses berfikir yang bersifat relasional,


konstruksional, dan membangun suatu
pola.

3.

proses berfikir simultan, dan paralel

2. proses berfikir analisis

3. proses berfikir yang mementingkan tata 4. proses berfikir lintas ruang, tidak
terikat pada waktu kini
urutan secara sekuensial dan serial
4. proses berfikir temporal, terikat pada
waktu kini
5.

5.

proses berfikir yang bersifat visual,


lintas ruang dan musikal.

proses berfikir verbal, matematis, notasi


musikal.

Berikut disajikan berbagai perilaku dan kaitannya dengan berfikir kreatif dan kritis
pada diri siswa.
PERILAKU

TERKAIT DENGAN

Bosan dengan tugas rutin; menolak


membuat pekerjaan rumah

Kreativitas
Toleransi tinggi untuk makna ganda,

Tidak berminat terhadap detail dan


pekerjaan kotor

Berfikir bebas, divergen

Membuat lelucon atau komentar pada Berani ambil resiko


saat tidak tepat
Imaginatif, sensitif
Menolak otoritas, tidak konformistis,
keras kepala
Sukar beralih pada topik lain

Motivasi
Tekun dalam bidang yang diminatinya

Emosional sensitif, overacting, cepat


marah atau menangis kalau ada yang Intens dalam menghayati perasaan dan
salah
nilai
Kecenderungan dominasi

Bebas

Sering tak setuju ide orang lain atau tak


setuju ide gurunya
Kritis terhadap diri, tak sabar
menghadapi kegagalan
Kritis terhadap guru dan orang lain.

Berfikir kritis
Dapat melihat kesenjangan antara
kenyataan dan kebenaran
Mengacu pada hal-hal yang ideal
Mampu menganalisis dan evaluasi.

KEPUSTAKAAN
Johnson, Elaine B. (2002). Contextual Teaching and Learning. California : A Sage Publications
Company.

Laster, Lan. (1985). The school of the future : some teachers view on education in the year 2000. UK.

Reigeluth, C.M. (1983). Instruction design theories and models, an overview of their current
status. London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

CONTOH 1
RENCANA PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL

Mata Pelajaran

: IPA

Kelas

Semester

Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 kali pertemuan)

A. Tujuan
Siswa dapat membedakan antara tumbuhan berbiji tunggal dengan tumbuhan berbiji banyak

B. Media
1.

lima kantung plastik ukuran 30 x 20 mc

2.

biji-bijian masing-masing 20 butir

3.

biji kacang tanah

biji aren

biji rambutan

biji salak

biji jambe

biji kedelai

biji kenari

lima pasang gambar, yang masing-masing menunjukkan jenis akar tumbuhan berbiji
tunggaldan berbiji jamak.

Catatan : setiap kantung plastik diisi dengan lima butir biji-bijian dari masing-masing jenis.

C. Skenario Pembelajaran
1.

sebagai kegiatan pembuka, guru menanyakan kepada siswa tentang :


b. buah-buahan yang setiap hari dikonsumsinya
c. biji-bijian bahan pembuat makanan

2.

siswa dibagi dalam lima kelompok, per kelompok menyebar mencari tempat, boleh di lantai,
boleh menghadap meja (dan atau tiga meja disatukan).

3.

siswa menerima satu kantung plastik biji-bijian dsn dua lembar gambar (gambar akar yang
di sampingnya berupa kolom yang bisa diisi biji-bijian)

4.

siswa membuka kantung plastik, kemudian mengamati secara teliti biji-bijian yang ada

5.

berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, siswa mengelompokkan


berdasarkan bentuk akar yang ditunjukkan dalam gambar

biji-bijian

6.

siswa menempatkan biji-bijian yang telah dipisahkannya ke dalam kotak/kolom yang ada di
samping gambar

7.
8.
9.

siswa membuat catatan tentang pengelompokan jenis biji-bijian dengan istilah yang
ditemukannya sendiri.
setelah tiga puluh menit bekerja, siswa menyampaikan secara lisan temuannya
guru memberi komentar temuan siswa dengan menyesuaikan istilah yang digunakan siswa
dengan istilah dalam IPA

10. selanjutnya, dengan cara sharing, siswa menyebutkan sebanyak mungkin contoh tumbuhtumbuhan untuk masing-masing jenis
11. sebagai kegiatan akhir, siswa diminta mengungkapkan sejumlah komoditas biji-bijian
unggulan di Indonesia

D. Penilaian
Penilaian untuk kegiatan ini didasarkan pada :
1. kerja sama dalam kelompok
2. format lembar kerja yang telah diisi siswa
3. catatan yang dibuat siswa

CONTOH 2
RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL

/Kegiatan

: Mendeskripsikan Benda Misteri

petensi Dasar : Menulis Paragraf Deskripsi

ng Studi

: Bahasa Indonesia

s/Caturwulan

: 2/2

: 90 menit

A. Tujuan
Melatih siswa mendeskripskan ciri dan menemukan karakteristik benda-benda, kemudian
mengungkapkannya dalam sebuah paragraf deskriptif.

B. Media
Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan media:
1. 4 buah benda misteri yang dibungkus rapi (korek api, kotak sabun, akar pohon, dll).
2. 1 lembar pengamatan.

C. Skenario Pembelajaran
1. Guru menjelaskan rencana kegiatan saat itu, yaitu mendeskripsikan benda misteri.
Kemampuan yang dilatihkan adalah cara mendeskripsikan atau menemukan ciri bendabenda.
2. Siswa dibagi dalam empat kelompok, dengan cara guru menghitung siswa satu, dua, tiga,
dan empat. Yang nomor satu, masuk kelompok satu, yang nomor dua masuk kelompok dua,
dan seterusnya.
3. Guru membagi benda yang telah disiapkan. Jangan sampai kelompok lain mengintip.
Kemudian dibagikan juga blanko.
4. Siswa mendeskripsikan benda misteri dengan mengisi blangko yang ada. Pertama
menjelaskan ciri benda dengan dua kata, kemudian dalam kalimat. Usahakan deskripsinya
lengkap, tetapi tidak merujuk pada benda api itu.
5. Setelah 15 menit, secara bergantian masing-masing kelompok mendeskripsikan secara
lisan benda itu. Setelah itu, kelompok lain menebaknya. Sebelum menebak, kelompok lain
boleh bertanya.
6. Siswa menyusun sebuah paragraf deskripsi berdasarkan data yang diperolehnya secara
kelompok.

D. Penilaian
Data kemajuan belajar diperoleh dari:
1. Partisipasi setiap siswa dalam kerja kelompok.
2. Lembar pengumpulan data deskriptif.
3. Cara siswa menyampaikan ulasan deskriptif secara lisan.
4. Paragraf deskripsi yang ditulis siswa.
CATATAN:
Setelah berakhir, lakukan refleksi atas pembelajaran itu!
1. Tanyakan kepada siswa, Apakah kalian senang dengan kegiatan tadi? Dengan cara itu,
kalian lebih mudah menyusun paragraf deskripsi.
2. Refleksi CTL
Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendeskripsikan yang ditempuh siswa.
Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul,
dan menebak.
Learning community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok
lain.

CONTOH 3

RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS CTL


Topik

: Mendeskripsikan Ikan dan Perilakunya

Bidang Studi : Integrasi antara IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia


Waktu

: 90 menit

A. Tujuan
Melatih siswa menemukan, menganalisis, mengamati, menggambarkan, menyajikan secara
visual, dan menyajikan di hadapan orang banyak ikan dan perilakunya.
B. Media
Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan media:
1. Lima topless atau gelas, yang masing-masing sudah diisi seekor ikan (besarnya
disesuaikan dengan gelas).
2. Lima lembar kertas karton (manila) untuk membuat gambar.
3. 5 termometer pengukur suhu air.
4. 5 penggaris.
5. 5 spidol warna (atau lebih).
6. 10 lembar kertas kwarto.

C. Skenario pembelajaran
1. Kelas dibagi lima kelompok.
2. Masing-masing kelompok menghadap meja yang di atasnya telah tersedia 1 toples berisi air
dan ikan, penggaris, termometer, dan kertas manila, masing-masing satu buah. Juga dua
lembar kertas kwarto.
3. Selama empat puluh menit, siswa mengamati ikan yang ada di toples. Siswa diminta
mengamati ikan itu, mencatat semua yang mereka amati: ukuran warna, kira-kira beratnya,
dll., dan perilakunya.
4. Siswa menyajikan hasil pengamatan di kertas karton. Kreativitas dalam menyajikan ide hasil
pengamatan sangat dihargai: boleh dengan gambar, bagan, atau verbal. Juga, apakah
siswa mampu membedakan antara data kuantitatif dan data kualitatif yang mereka temukan.
5. Diwakili oleh salah seorang anggota, setiap kelompok menyajikan hasilnya.
6. Sharing dalam kelas mengenai apa-apa yang bisa diamati dari kehidupan seekor ikan:
warna, ukuran, tebal, berapa kali bernapas setiap menit, dsb.
7. Berikan bonus untuk penampil terbaik! (gambar bintang, permen, bolepen, dsb.)

D. Authentic Assessment
1. Partisipasi siswa dalam kerja kelompok.
2. Kualitas display hasil pengamatan.

C. Catatan dari rp itu


Ilmu dan pengalaman diperoleh siswa dari menemukan sendiri. Itu berartikonstruktivisme.
Proses inquiry muncul pada cara dan kiat mendeskripsikan yang ditempuh siswa.
Questioning muncul ketika siswa (peserta) mengamati benda, bertanya, mengajukan usul,
dan menebak.
Learning community muncul pada kerja kelompok dan saling menebak dengan kelompok
lain.
Authentic assessment: yang dinilai dari kegiatan itu adalah kerja sama dalam kelompok
dan hasil presentasi siswa.

(Sumber: http://irwansafari.blogspot.co.id/p/pembelajaran-efektif.html)