Anda di halaman 1dari 17

1

nPROPOSAL
KAJIAN YURIDIS LUMPUR LAPINDO SIDOARJO TERKAIT UU
NOMOR 32 TAHUN 2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah lingkungan semakin lama semakin besar, meluas dan serius.
Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalannya
bukan hanya bersifat local atau translokal, tetapi regional, nasional, trans-nasional,
dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak hanya terkait
pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait sesuai dengan sifat lingkungan
yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi subsistem.
Apabila satu aspek dari lingkungan terkena masalah, maka berbagai aspek lainnya
akan mengalami dampak atau akibat pula.
Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni
peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural
ini yang terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu
sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasis).
Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan
sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan
faktor penyebab yang sangat signifikan secara variable bagi peristiwa-peristiwa
lingkungan.Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir
dan berkembang karena faktor rmanusia jauh lebih besar dan rumit (complicated)

dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai


dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran
dengan segala perkembangannya aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga
dengan faktor proses mata atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan
manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan dengan masalah-masalah
lingkungan hidup.1
Dikaitkan dengan arah pembangunan nasional untuk meningkatkan
kualitas hidup masyarakat, pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan bagi
investor asing agar bisa memaksimalkan sumber daya alam di daerah terutama
pada sektor minyak dan gas. Dampak dari eksploitasi minyak dan gas yang
dilakukan oleh investor asing berpengaruh negatif terhadap kualitas lingkungan
disekitarnya.
Pencemaran yang disebabkan oleh semburan lumpur lapindo Sidoarjo
mengakibatkan kurang lebih 600 hektar lahan terendam, amblesnya permukaan
tanah disekitar semburan lumpur.2 Akibat dampak semburan lumpur lapindo
Sidoarjo, mengakibatkan banyaknya lingkungan fisik yang rusak, kesehatan
warga setempat juga terganggu, yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan dan
iritasi kulit, karena lumpur tersebut juga mengandung bahan karsinogenik jika
menumpuk di tubuh dapat menyebabkan penyakit serius seperti kanker,
mengurangi kecerdasan, yang berdasarkan uji laboratorium terdapatkan dugaan
bahan beracun dan berbahaya (B3) yang melebihi ambang batas.3
1

Nommy Horas Thombang Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan,


Jakarta: Erlangga, 2004. hal. 1
2
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Banjir_Lumpur_Panas_Sidoarjo, di akses 8 April 2015,
pukul 19.25 WIB
3
http://m.kompasiana.com/post/read/431239/1/perspektif-dampak-pencemaran-lumpurlapindo-sidoardjo-sebagai-bukti-pencemaran-terhadap-lingkungan-hidup-serta-analisa-

Baku Mutu Lingkungan (Envitonmental Quality Standart), atau biasa


disingkat dengan BML, berfungsi sebagai suatu tolok ukuran untuk mengetahui
apakah telah terjadi kerusakan atau pencemaran lingkungan. Gangguan terhadap
tata lingkungan dan ekologi diukur menurut besar kecilnya penyimpangan dari
batas-batas yang telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan atau daya tenggang
ekosistem lingkungan.
Batas-batas daya dukung, daya tenggang, daya toleransi atau kemampuan
lingkungan disebut sebagai Nilai Ambang Batas, yang disingkat dengan
NAB.Nilai Ambang Batas (NAB) ialah batas tertinggi (maksimum) dan terendah
(minimum) dari kandungan zat-zat, makhluk hidup atau komponen-komponen
lain yang diperbolehkan dalam setiap interaksi yang berkenaan dengan
lingkungan, khususnya yang berpotensi mempengaruhi mutu tata lingkungan
hidup atau ekologi.4
Salah satu manfaat BML adalah sebagai sarana penentuan/pengontrol atas
terjadinya pencemaran atau kerusakan lingkungan. Di negara-negara industri,
seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Jerman, pencemaran lingkungan
dapat diketahui dengan mudah karena sistem BML di negara-negara ini betulbetul diterapkan dengan baik. Penerapan ketentuan BML lebih memudahkan,
bukan saja dalam hubungannya dengan pembinaan lingkungan. Tetapi, disamping
itu, masyarakat yang mengalami korban dapat dengan mudah mengidentifikasi
pencemaran-pencemaran lingkungan yang terjadi, selain karena pabrik telah

berbagai-permasalahannya.html, di akses 8 April 2015, pukul 19.45 WIB.


4
Opcit, hal. 288.

sedemikian rupa melengkapi sarana-sarana pengontrol/deteksi bahan-bahan


buangan yang berasal dari pabrik-pabrik.5
Oleh karena itu penulis mencoba untuk menganalisis mengenai
permasalahan semburan lumpur lapindo Sidoarjo terkait dengan Undang-Undang
nomor 32 tahun 2009 kedalam skripsi penulis yang berjudul : KAJIAN
YURIDIS LUMPUR LAPINDO SIDOARJO TERKAIT UNDANG-UNDANG
NOMOR 32 TAHUN 2009.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan pemahaman latar belakang yang diuraikan diatas, penulis
merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1.

Bagaimana tinjauan Undang-undang nomor 32 tahun 2009 terkait

semburan lumpur lapindo Sidoarjo?


2.

Bagaimana upaya penyelesaian kasus semburan lumpur lapindo

Sidoarjo terkait Undang-undang nomor 32 tahun 2009?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini di maksudkan :
1.

Untuk mengetahui penyebab terjadinya semburan lumpur lapindo

Sidoarjo terkait dengan Undang-undang nomor 32 tahun 2009


2.

Untuk mengetahui upaya penyelesaian kasus semburan lumpur

lapindo Sidoarjo terkait dengan Undang-undang nomor 32 tahun 2009.

Opcit, hal. 301.

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

sumbangan pemikiran ilmu hukum pada umumnya serta Undang-Undang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
2.

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan bagi penyusun dan pembaca pada umumnya, dan dapat


memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dan LSM yang
menangani kasus sengketa lingkungan semburan lumpur lapindo Sidoarjo.

1.5 Kajian Pustaka


1.5.1

Kajian tentang Lingkungan Hidup

Menurut Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 ayat (1) , lingkungan hidup adalah :
Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Lingkungan hidup merupakan bagian yang mutlak dari kehidupan
manusia. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak terlepas dari kehidupan
manusia. Manusia mencari makan dan minum serta memenuhi kebutuhan lainnya
dari ketersediaan atau sumber-sumber yang diberikan oleh lingkungan hidup dan
kekayaan alam sebagai sumber pertama dan terpenting bagi pemenuhan berbagai

kebutuhannya. Manusia makan dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan bijibijian atau buah-buahan seperti beras, jagung, tomat.
Lingkungan Hidup disebut juga dengan Lingkungan Hidup Manusia
(human environment). Istilah ini biasa dipakai dengan lingkungan hidup. Bahkan
seringkali dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai lingkungan saja.
Dari definisi-definisi di atas, maka pengertian lingkungan hidup ini dapat
dirangkum dalam suatu rangkaian unsur-unsur sebagai berikut :
1. Semua benda, berupa manusia, hewan, tumbuhan, organisme, tanah,
air, udara, rumah, sampah, mobil, angin, dan lain-lain. Keseluruhan
yang disebutkan ini digolongkan sebagai materi. Sedangkan satuansatuannya disebut sebagai komponen;
2. Daya, disebut juga dengan energi;
3. Keadaan, disebut juga kondisi atau situasi;
4. Perilaku atau tabiat;
5. Ruang, yaitu wadah berbagai komponen berada;
6. Proses interaksi, disebut juga saling mempengaruhi, atau biasa pula
disebut dengan jaringan kehidupan.6
Mencermati secara seksama mengenai unsur yang termasuk dalam
lingkungan yang mencakup semua makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha esa, baik
yang bernyawa dan tidak bernyawa, besar dan kecil, bergerak dan tidak bergerak,
maka dapatlah dikatakan bahwa lingkungan merupakan sumber daya. Mengapa
lingkungan merupakan sumber daya merupakan asset yang dapat diperlukan

Opcit, hal. 4-5.

untuk menyejahterakan masyarakat. Hal ini sesuai dengan perintah Pasal 33 ayat
(3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa :
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dipergunakan
untuk sebasar-besarnya kemakmuran rakyat.
Sumber daya lingkungan mempunyai daya regenerasi dan asimilasi yang
terbatas. Selama eksploitasi atau permintaan pelayanan ada di bawah bayas daya
regenerasi atau asimilasi, sumber daya terbarui itu dapat digunakan secara lestari.
Akan tetapi, apabila batas itu dilampaui, asumber daya itu akan mengalami
kerusakan dan fungsi sumber daya itu sebagai faktor produksi dan konsumsi atau
sarana pelayanan akan mengalami gangguan.
Lebih jauh lagi, bahwa sumber daya lingkungan milik umum, sering dapat
digunakan untuk bermacam peruntukan secara simultasn, tanpa suatu peruntukan
mengurangi manfaat yang dapat diambil dari peruntukan lain sumber daya yang
sama itu. Misalnya, air sungai dapat digunakan sekaligus untuk melakukan proses
produksi dalam pabrik, mengangkut limbah, pelayaran sungai, produksi ikan, dan
keperluan rumah tangga (Otto Soemarwoto, 1994:59-60)
Bertitik tolak dari pendapat Otto Soemarwoto, dapat diambil kesimpulan
bahwa dalam realitasnya lingkungan merupakan sumber daya yang memiliki
kemampuan dalam melakukan regenerasi pada dirinya, apalagi terhadap sumber
daya lingkungan yang tidak dapat diperbarui. Oleh karena itu, dalam menata
lingkungan sebgai sumber daya, maka yang perlu dilakukan adalah agar
melakukan pengelolaan dengan bijaksana.7

Supriadi, Hukum Lingkungan Di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hal. 4.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan pengertian Lestari,


yaitu tetap seperti keadaannya semula, tidak berubah, kekal. Oleh karena itu,
apabila dikaitkan dengan kalimat pelestarian, maka mempunyai makna sebagai
perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan; pengawetan.
Berdasarkan pengertian mengenai pelestarian fungsi lingkungan hidup di
atas, maka logika yang harus diambil dari pengertian tersebut, yaitu bahwa yang
dilestarikan itu adalah fungsi dari lingkungan hidup tersebut, bukan lingkungan
an sich. Dengan demikian kesimpulannya, lingkungan dapat dikelola dengan tetap
menjaga fungsi dari lingkungan tersebut. Oleh karena itu, untuk melestarikan
lingkungan, perlu dilakukan perlindungannya. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 ayat
(6) UU nomor 32 tahun 2009, dinyatakan bahwa
Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tamping lingkungan
hidup.
Peranan lingkungan hidup sebagai aset bangsa dan negara sangat penting
sehingga diperlukan suatu pendekatan yang bijak dalam pengelolaannya.
Pendekatan yang bijak terhadap pengelolaan lingkungan hidup ini, berkaitan pula
karena lingkungan hidup sangat bersentuhan langsung dengan aktivitas
pembangunan. Oleh karena itu pentingnya lingkungan hdup maka dalam pasal 1
(11) UU nomor 32 tahun 2009, dinyatakan bahwa
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut
Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.

Berdasarkan analisis ini, dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar
dan penting terhadap lingkungan hidup, baik dampak negatif maupun dampak
positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan
langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak
positif. Diatur dalam Pasal 22 UU nomor 32 tahun 2009, untuk mengukur atau
menentukan dampak besar dan penting tersebut diantaranya digunakan kriteria
mengenai :
a. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha
dan/atau kegiatan;
b. luas wilayah penyebaran dampak
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Ketentuan yang terdapat dalam pasal 22 kemudian secara rinci ditegaskan
pada pasal 23 UU nomor 32 tahun 2009 menyatakan bahwa usaha dan/atau
kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dapat besar dan penting terhadap
lingkungan hidup meliputi :
a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;

10

b. eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang


tidak terbarukan;
c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pencemaran

dan/atau

pemborosan

dan

kerusakan

kemerosotan

lingkungan

sumber

daya

hidup

serta

alam

dalam

pemanfaatannya;
d. proses

dan

kegiatan

yang

hasilnya

dapat

mempengaruhi

lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan


budaya;
e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian
kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar
budaya;
f. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan dan jasad renik;
g. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati;
h. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi
pertahanan negara; dan/atau
i. penerapan teknolosgi yang diperkirakan mempunyai potensi besar
untuk mempengaruhi lingkungan hidup.
Bertitik tolak dari pelaksanaan pelestarian fungsi lingkungan hiduo di atas,
pada intinya pelestarian fungsi lingkungan hidup dapat dilakukan dengan
pendekatan ilmiah, yaitu dengan menggunakan analisis mengenai dampak
lingkungan sebagai tolok ukurnya. Oleh karena itu, pelestarian fungsi lingkungan
hidup sangat ditentukan pula oleh sebuah kajian yang mendalam dari sebuah hasil

11

studi amdal, sebab fungsi utama studi amdal adalah mengkaji pendekatan yang
mengintegrasikan semua unsur lingkungan dalam satu kajian terpadu. Selain itu,
kajian ilmiah amdal ini, pada akhirnya akan memberikan solusi terbaik yang
dilakukan oleh pemrakarsa suatu kegiatan dan pemerintah dalam menangani
lingkungan sesuai arahan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) tersebut.8
1.5.2

Kajian Tentang Bencana

Menurut UU nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pasal


1 ayat (1), bencana adalah
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor non-alammaupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan, lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Pasal 1 ayat (2) UU nomor 24 tahun 2007, bencana alam adalah
Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa yang disebabkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi,tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angina topan,
dan tanah longsor.
Sedangkan yang dimaksud dengan bencana non-alam menurut UU nomor
24 tahun 2007 pasal 1 ayat (3) adalah
Bencana yang

diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa

nonalam yang antara lain berupa gagal teknolosi, gagal modernisasai,


epidemi, dan wabah penyakit.
8

Supriadi, Opcit, Hal. 190-192.

12

1.5.3

Kajian Tentang Human Error

Human Error sebagai kegagalan dari manusia untuk melakukan tugas


yang telah di design dalam batas ketetapan, rangkaian, atau waktu tertentu.
Sebab-sebab human error bisa dibagi menjadi
1. Sebab-sebab primer
Sebab primer merupakan sebab human error pada level individu.
Untuk menghindari kesalahan pada level ini, ahli teknologi cenderung
menganjurkan pengukuran yang berhubungan ke individu
2. Sebab-sebab manajerial
Penekanan peran dari pelaku individual dalam kesalahan merupakan
suatu hal yang tidak tepat. Kesalahan merupakan sesuatu yang tidak
dapat dihindarkan, pelatihan dan pendidikan mempunyai efek yang
terbatas dan penipuan atau kelalaian akan selalu terjadi, tidak satupun
penekanan penggunaan teknologi yang benarakan mencegah terjadinya
kesalahan.9
1.5.4

Kajian Tentang Penyelesaian Sengketa Lingkungan


Upaya penegakan hukum terhadap pengelolaan lingkungan hidup

yang diakibatkan oleh terjadinya kerusakan atau pencemaran lingkungan


hidup adalah dengan melakukan upaya penyelesaian terhadap sengketa
lingkungan hidup. Ketentuan penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini
diatur dalam pasal 84 ayat (1) UU nomor 32 tahun 2009 dinyatakan bahwa

http://m.jurnal-sd,.blogspot.com/2009/06/human-error-definisi-pendekatan-dan.html?
m=1, di akses pada 14 April 2015, pukul 20.35 WIB.

13

Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui


pengadilan atau di luar pengadilan10

1.5.4.1 Penyelesaian Sengketa Lingkungan Melalui Pengadilan


1.5.4.1.1

Tanggung Jawab Mutlak

Dalam

Undang-Undang

Perlindungan

dan

Pengelolaan

Lingkungan Hidup, asas tanggung jawab mutlak diatur dalam pasal


88 :
Setiap orang yang tindakannya , usahanya, dan/atau
kegiatannya menggunakan bahan berbahaya dan beracun ,
menghasilkan dan/atau mengelola limbah bahan berbahaya dan
beracun, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap
lingkungan hidup bertanggungjawab mutlak atas kerugian yang
terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.
Pasal 88 menerapkan asas tanggung jawab mutlak secara
terbatas, yakni hanya pada sengketa lingkungan akibat kegiatan
usaha yang :
a. Menimbulkan

dampak

besar

dan

penting

terhadap

lingkungan
b. Menggunakan bahan berbahaya dan beracun (B3) dan/atau;
c. Menghasilkan limbah B3

1.5.4.1.2

Gugatan Kelompok (Class Action)

Gugatan Kelompok atau Class Action diatur dalam pasal 91


ayat (1) UU nomor 32 tahun 2009 :
10

Supriadi, Opcit, hal.212.

14

Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok


untuk kepentingan dirinya sendiri dan/atau kepentingan
masyarakat apabila mengalami kerugian akibat pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
1.5.4.1.3

Legal Standing Organisasi Lingkungan Hidup

Makna substansial legal standing organisasi lingkungan hidup


adalah kewenangan organisasi lingkungan untuk bertindak sebagai
penggugat dalam penyelesaian sengketa. Diatur dalam UU nomor
32 tahun 2009 pasal 92 ayat (1)
Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup, organisasi lingkungan hidup
berrhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian
fungsi lingkungan hidup.11
1.5.4.2 Penyelesaian Sengketa Melalui Luar Pengadilan

11

1.5.4.2.1

Negosiasi

1.5.4.2.2

Mediasi

1.5.4.2.3

Konsiliasi

1.5.4.2.4

Pencari Fakta

1.5.4.2.5

Arbitrase12

Suparto, Penyelesaian Sengketa Lingkungan, Airlangga University Press, Surabaya,


1999, hal.28-50.
12
Supriadi, Opcit. Hal. 222-227.

15

1.6 Metode Penelitian


Dalam rangka menyusun skripsi ini penulis menggunakan suatu metode
sebagai sarana dan pedoman dalam menyelesaikan untuk mendapatkan hasil yang
baik
1.6.1

Pendekatan Penelitian
Pembahasan dalam skripsi ini menggunakan metode pendekatan

yuridis empiris dengan pendekatan ini dimaksudkan agar peneliti dapat


dengan mudah menggambarkan dan mengungkapkan persoalan-persoalan
hukum yang diteliti dalam hubungan timbal balik antara hukum dan
perilaku-perilaku sosial di masyarakat.
1.6.2

Lokasi Penelitian
Dalam mengkaji secara mendalam penelitian ini, penulis

melakukan penelitian di wilayah terdampak Semburan Lumpur Lapindo


Sidoarjo yang terjadi kasus sengketa lingkungan.
1.6.3

Sumber Data
Untuk

mendapatkan

data

yang

akurat,

maka

penelitian

menggunakan sumber data sebagai berikut :


a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan
dengan cara melakukan wawancara terhadap responden yaitu para
warga wilayah terdampak semburan lumpur Lapindo Sidoarjo dan
LSM peduli lingkungan.
b. Data Sekunder

16

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dengan cara mengkaji


bahan buku-buku literature, koran dan majalah serta perundangundangan serta dokumen-dokumen resmi lainnya.
1.6.4

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data dalam penulisan ini dilakukan dengan

cara teknik pengumpulan data primer :


a. Wawancara
Yaitu suatu cara pengumpulan data dengan teknik bertanya
langsung kepada responden, melalui tatap muka secara langsung dalam
hal ini adalah wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
b. Field Research
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan terjun secara
langsung ke lapangan tempat penelitian dilakukan.
Field research terdiri dari :
1. Observasi
Yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti
2. Dokumentasi
Yaitu dengan cara meneliti dokumen-dokumen sumber yang
relevan yang ada pada instansi yang terkait.

1.6.5

Analisa Data
Metode yang dipakai adalah metode deskriptif analisa, yaitu

bahasan terhadap informasi dan data yang diperoleh dari responden baik

17

secara tertulis ataupun lisaan dan disajikan dengan suatu yang utuh
memahami gejala tersebut.
Deskriptif dimaksudkan agar dapat memberikan penjelasan tentang
kenyataan yang terjadi mengenai adanya sengketa lingkungan, sedangkan
analisa menggunakan data dan informasi yang didapat dari penelitian di
lapangan dikaji lebih lanjut sesuai dengan judul pembuatan skripsi ini.
1.6.6. Pertanggung Jawaban Sistematika
Dalam penulisan skripsi ini, diperlukan adanyasuatu pertanggung
jawaban sistematika sehingga dapat diketahui secara jelas kerangka dari isi
skripsi ini :
Bab I

: Pendahuluan, dalam bab ini berisi latar belakang masalah,


perumusan masalah, tujuan penilitian, manfaat penilitian, metode
penilitian, dan pertanggung jawaban sistematika.