Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN

PRAKTIKUM PEMANTAUAN TERAPI OBAT


KASUS 2 GANGREN DIABETIKUM

PENYUSUN :
KELAS A KELOMPOK I.2
Elisabeth Ersa Pasampang

3351141411

Diana Catur Handayani

3351141421

Hasmawati

3351141423

Erlangga Restu Martayasa

3351141427

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDRAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2015

BAB I
TEORI PTO, DATA PASIEN DAN DIAGNOSA
I.1 Pengertian
Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang meliputi semua
fungsi yang perlu untuk menjamin terapi obat kepada pasien yang aman, efektif
dan rasional bagi pasien. Kegiatan tersebut mencakup: pengkajian pilihan obat,
dosis, cara pemberian obat, respons terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki
(ROTD) dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi. Pemantauan terapi obat
harus dilakukan secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada
periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui.
Tujuan: Untuk memastikan bahwa pasien mendapat obat yang paling sesuai,
dalam bentuk dan dosis yang tepat, di mana waktu pemberian dan lamanya terapi
dapat dioptimalkan, dan DRP diminimalkan
I.2 DATA PASIEN
IDENTITAS PASIEN

Ruangrawat

: Kemuning III

Nama inisial : Kxxx

Sub Bagian

: Bedah Wanita

Umur/jenis kelamin: 70 Thn/Wanita

No. RekamMedik : 13xxxx

Alamat: Kp. Cxxx RT.... RW....

Tgl. Masuk

:12-09-2014

Status Pasien : Kontraktor

Tgl. Keluar

:-

Status pulang

:-

Dokter

: dr.xxx

DATA KLINIS AWAL

Apoteker
:Riwayat Konsumsi

Keadaan Umum : Sakit Sedang

Obat

Kesadaran : CM (Compos Mentis)


Tekanan darah : 130/70 mmhg
Nadi

: 80x/menit

Respirasi

: 30x/menit

Suhu

: 36,2oC

Gizi

:1

:-

Tinggi Badan : ...


Berat Badan

: 70 kg

Alasan masuk Rumah Sakit :


Luka dikaki kanan dan terasa nyeri
Anamnesis :
Luka luka 1 bulan di kaki kanan, lecet
di jari kaki dan terasa nyeri. Tidak
mengkonsumsi obat.
Penyakit terdahulu :
DM yang tidak terkontrol.
Diagnosis Utama :
Gangren Diabetikum

Nama
N obat
o Bentuk
sediaan

D R
Keku
osi u
atan
s te

1 Ceftriax
.
one

1
gr/10
ml

2 Metroni
. dazole

500
mg/
10 ml

3 Tramad
. ol Amp

100
mg/2
ml

4 Ranitidi
. ne Amp

50
mg/a
mp

5 Amlodi
. pin Tab

6
Heparin
.

7
.

Ativan

8
.

Paracet
amol
Tab

5
mg ;
10
mg
2500
0 iu/5
ml
vial
5
mg/m
l
dala
m
ampu
l 2 ml
500
mg

2x
1
gr
3x
50
0
m
g
2x
1
a
m
p
2x
1
a
m
p
1x
10
m
g
2x
50
0
iu

Pemberian obat per hari


1
2
/
9

1
3
/
9

1
4
/
9

1
5
/
9

1
6
/
9

1
7
/
9

1
8
/
9

1
9
/
9

2
0
/
9

2
1
/
9

2
2
/
9

2
3
/
9

2
4
/
9

2
5
/
9

I

V

I

V

I

V

I

V

P
O

S
C

2x
0,
5
m
g

I
V

3x
1
gr

p
o

9 Metoclo
. pramid

10
mg/2
ml

1
Ketorol
0
ac Amp
.

10
mg/m
l ; 30
mg/m
l

1x
1
a
m
p
2x
1
a
m
p

I
V

I
V

BAB ll
INFORMASI MENGENAI PENYAKIT

1. Definisi Diabetes melitus


Adalah Penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi yang
disebabkan oleh gangguan pada sekresi insulin atau gangguan kerja insulin
atau keduanya. Sindrom ini ditandai oleh adanya hiperglikemia dan
berkaitan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein.
TABEL KONTROL GULA DARAH

Pemeriksaan

Kadar

gula

darah Kadar

Sebelum makan( puasa)


Setelah makan
Dua jam setelah makan

penderita diabetes
>126
>200
>200

gula

darah

normal
>100
>100
>140-180

2. Tipe diabetas melitus


Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes melitus atau IDDM)
Pada diabetes mellitus tipe I tidak ditemukan insulin karena pada
jenis ini timbul reaksi autoimun yang disebabkan adanya
peradangan pada sel beta yang disebut ICA (Islet Cell Antibody).
Reaksi

antigen

(sel

beta)

dengan

antibodi

(ICA)

yang

ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta. Insulitas bisa


disebabkan macam-macam diantaranya virus, seperti virus
cocksakie, rubella, CMV, herpes dan lain-lain. Umumnya yang
diserang pada insulitas itu adalah sel beta, dan biasanya sel alfa

dan delta tetap utuh


Tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes melitus atau NIDDM)
Penyebab resistensi insulin pada DM tipe II sebenarnya tidak
begitu jelas, tetapi faktor-faktor seperti obesitas, diet tinggi lemak,
dan rendah karbohidrat, kurang aktivitas, dan faktor keturunan.
Pada DM tipe II jumlah sel beta berkurang sampai 50-60% dari
normal, jumlah sel alfa meningkat. Yang menyolok adalah adanya
peningkatan jumlah jaringan amiloid pada sel beta yang disebut
amilin. Baik pada DM tipe II kadar glukosa darah jelas meningkat
bila kadar itu melewati batas ambang ginjal, maka glukosa akan
keluar melalui urin.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Diabetes Melitus.


a) Gaya Hidup
Gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama terjadinya diabetes
melitus.diet dan olahraga yang tidk baik berperan besar terhadap
timbulnya diabetes melitus yang dihubungkan dengan minimnya
aktivitas sehingga meningkatkan jumlah kalori dalam tubuh.
b) Usia
Peningkatan usia juga merupakan salah satu faktor resiko yang
penting dibandingkan wanita pada usia 20 an, wanita yang berusia
di atas 40 tahun beresiko enam kali lipat mengalami kehamilan
dengan diabetes. Kadar gula darah yang normal cenderung
meningkat secara ringan tetapi progresif setelah usia 50 tahun.
Terutama pada orang-orang yang tidak aktif.
c) Ras dan Suku Bangsa
Suku bangsa Amerika-afrika, Amerika-meksiko, Indian-Amerika,
Hawai dan sebagian Amerika Asia memiliki resiko diabetes dan
penyakit jantung yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh

tingginya angka tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes pada


populasi tersebut.
d) Riwayat Keluarga
Meskipun penyakiut ini terjadi dalam keluarga, cara pewarisan
tidak diketahui kecuali untuk jenis yang dikenal sebagai Diabetes
pada usia muda dengan dewasa.
e) Kegemukan (obesitas)
Obesitas erat hubungannya dengan peningkatan resiko sejumlah
komplikasi

yang

dapat

terjadi

sendiri-sendiri

atau

secara

bersamaan. Penyakit kronik yang sering menyertai obesitas adalah


diabetes tipe 2, hipertensi dan hiperkolesterolemia.
4. Komplikasi Diabetes Melitus
Diabetes merupakan penyakit yang memiliki komplikasi yang paling
banyak. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi terus
menerus, sehingga berakibat rusaknya pembukuh darah, syaraf dan struktu
r eksternal lainnya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung
menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat. Sehingga
mempercepat terjadinya ateros klerosis (penimbunan plak lemak di dalam
pembuluh darah).
Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.
Sirkulasi darah yang buruk melalui pembuluh darah besar bisa melukai
otak, jantung, dan pembuluh darah kaki (makroangiopati), sedangkan
pembuluh darah kecil bisa melukai mata, saraf, dan kulit serta
memperlambat penyembuhan luka. Penderita diabetes bisa mengalami
berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan
baik . Gangguan syaraf dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk,
misalnya jika saraf mengalami kelainan fungsi, maka sebuah lengan atau
tungkai bisa secara tiba-tiba menjadi lemah. Jika saraf yang menuju tangan
dan tungkai mengalami kerusakan maka pada lengan dan tungkai bisa
merasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar atau kelemahan.
Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit sering mengalami cidera karena

penderita tidak dapat merasakan perubahan tekanan maupun suhu.


Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus atau
borok dimana proses penyembuhannya akan berjalan secara lambat hingga
menyebabkan amputasi.
4.1 Luka Diabetik
Adalah luka yang terjadi pada pasien diabetik yang melibatkan
gangguan pada syaraf peripheral atau autonomik. Luka diabetik adalah
luka yang terjadi karena adanya kelainan pada syaraf, kelainan pembukuh
darah dan kemudian adanya infeksi. Bila infeksi tidak diatasi dengan baik,
hal itu akan berlanjut menjadi pembusukan bahkan diamputasi. Klasifikasi
luka diabetik salah satunya adalah Gangren Diabetik.
Gangren diabetik adalah luka diabetik yang sudah membusuk dan bisa
melebar ditandai dengan jaringan yang mati berwarna kehitaman dan
membau karena disertai pembusukan oleh bakteri. Beberapa faktor secara
bersama-sama berperan pada terjadinya ulkus atau gangren diabetes.
Dimulai dari faktor pengelolaan kaki yang tidak baik pada penderita
diabetes, adanya neuropati, faktor komplikasi vaskuler yang memperburuk
aliran darah ke kaki tempat luka, faktor kerentanan terhadap infeksi akibat
respon kekebalan tubuh yang menurun pada keadaan DM yang tidak
terkendali, serta kemudian faktor ketidaktahuan pasien sehingga terjadi
masalah gangren diabetik. gangren diabetik biasanya terjadi akibat,

neuropati perifer.
insufisiensi vaskuler perifer (iskemik).
Infeksi.
penderita yang berisiko tingi mengalami gangren diabetik yaitu
pasien dengan lama penyakit diabetes yang melebiihi 10 tahun,
usia pasien yang lebih dari 40 tahun, riwayat merokok, penurunan
denyut nadi perifer, penurunan sensibilitas, deformitas anatomis
atau bagian yang menonjol (seperti bunion atau kalus), riwayat

ulkus kaki atau amputasi, pengendalian kadar gula darah yang


buruk.
Rangkaian yang khas dalam proses timbulnya gangren diabetik pada
kaki dimulai dari edem jaringan lunak pada kaki, pembentukan fisura
antara jari-jari kaki atau didaerah kaki kering, atau pembentukan kalus.
Jaringan yang terkena mula-mula berubah warna menjadi kebiruan dan
terasa dingin bila disentuh. Kemudian jaringan akan mati, menghitam dan
berbau busuk. Rasa sakit pada waktu cedera tidak dirasakan oleh pasien
yang kepekaannya sudah menghilang dan cedera yang terjadi bisa berupa
cedera termal, cedera kimia atau cedera traumatik. Pengeluaran nanah,
pembengkakan, kemerahan (akibat selulitis) pada gangren biasanya
merupakan tanda-tanda pertama masalah kaki yang menjadi perhatian
penderita
Gangren diabetik diklasifikasikan menjadi lima tingkatan yaitu
1. Tingkat 0, Resiko tinggi untuk megalami luka pada kaki, tidak ada
luka.
2. Tingkat 1, luka ringan tanpa adanya infeksi, biasanya luka taerjadi
akibat kerusakan saraf, kadang timbul kalus.
3. Tingkat 2 luka yang lebih dalam, sering kali dikaitkan dengan
peradangan jaringan sekitarnya. Tidak ada infeksi pada tulang dan
pembentukan abses.
4. Tingkat 3 luka yang lebih dalam hingga ketulang dan berbentuk abses.
5. Tingkat 4 gangren yang teralokasi, seperti pada jari kaki, bagian depan
kaki atau tumit.
6. Tingkat 5, gangren pada seluruh kaki.
Tahapan penyembuhan luka Gangren diabetik
Penyembuhan luka terjadi melalui tahapan yang berurutan mulai proses
inflamasi, proliferasi, pematangan dan penutupan luka. Pada gangren,
tindakan debridement yang baik sangat penting untuk mendapatkan hasil
pengelolaan yang perawatan luka diabetik yang memuaskan dengan melihat

kondisi luka terlebih dahulu, apakah luka yang dialami pasien dalam
keadaan kotor atau tidak, ada apus atau ada jaringan nekrotik (mati) atau
tidak. Setelah dikaji , barulah dilakukan perawatan luka.
Untuk perawatan luka biasanya menggunakan antiseptik dan kassa steril.
Jika ada jaringan nekrotik sebaiknya dibuang daengan cara digunting sedikit
demi sedikit sampai kondisi luka mengalami granulasi (jaringan baru yang
mulai tumbuh). Lihat kedalam luka, pada pasien diabetes dilihat apakah
terdapat sinus (luka dalam yang sampai berlubang) atau tidak. Bila terdapat
sinus, sebaiknya disemprot (irigasi) dengan NaCl sampai pada kedalaman
luka, sebab pada sinus terdapat banyak kuman. Lakukan pembersihan luka
sehari minimal dua kali (pagi dan sore), setelah dilakukan perawatan
lakukan pengkajian apakah sudah tumbuh granulasi, (pembersihan
dilakukan dengan kassa steril yang dibasahi larutan NaCl). Setelah luka
dibersihkan lalu tutup dengan kassa basah yang diberi larutan NaCl lalu
dibalut disekitar luka, dalam penutupan dengan kassa jaga agar jaringan luar
luka tertutup. Sebab jika jaringan luar ikut tertutup akan menimbulkan
maserasi (pembengkakan). Setelah luka ditutup dengan kassa basah
bercampur NaCl, lalu tutup kembali dengan kassa steril yang kering untuk
selanjutnya dibalut.
Jika luka sudah mengalami penumbuhan granulasi, selanjutnya akan ada
penutupan luka (skin draw). Penanganan luka diabetik, harus ekstra agresif
sebab pada luka diabetik kuman akan terus menyebar dan memperparah
kondisiluka.

BAB III
INFORMASI MENGENAI OBAT DARI LITERATUR
III.1.

Informasi Mengenai Obat

No

Nama obat
Bentuk sediaan

1.

Ceftriaxone

2.

Metronidazole

3.

Tramadol Amp

100 mg/2 ml

4.

Ranitidine Amp

50 mg/amp

5.

Amlodipin Tab

6.

Heparin

7.

Ativan

8.

Paracetamol Tab

5 mg ; 10
mg
25000 iu/5
ml vial
5 mg/ml
dalam ampul
2 ml
500 mg

9.

Metoclopramid

10 mg/2ml

10.

Ketorolac Amp

10 mg/ml ;
30 mg/ml

Kekuatan
1 gr/10 ml
500 mg/ 10
ml

Dosis
2x1 gr
3x500
mg
2x1
amp
2x1
amp
1x10
mg
2x500
iu
2x0,5
mg
3x1 gr
1x1
amp
2x1
amp

Pemberian obat per hari

Rute
12/9

13/9

14/9

15/9

16/9

17/9

18/9

19/9

20/9

21/9

22/9

23/9

24/9

25/9

IV

IV

IV

IV

PO

SC

IV

PO

IV

IV

1. Ceftriaxone
Indikasi
Ceftriaxone untuk Injeksi, untuk mengurangi perkembangan bakteri resistan
terhadap obat dan mempertahankan efektivitas, USP dan obat antibakteri lain ,
Ceftriaxone untuk Injeksi , digunakan hanya untuk mengobati atau mencegah
infeksi yang terbukti atau diduga kuat disebabkan oleh bakteri .
Dosis :

Biasa Dosis Dewasa untuk Infeksi Bakteri


dosis harian : 1 sampai 2 g/hari IV atau IM dalam 1 sampai 2 dosis terbagi,

tergantung pada sifat dan keparahan infeksi


Untuk infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus (methicillin rentan, MSSA), dosis yang dianjurkan adalah 2 sampai 4 g/hari , dalam

rangka mencapai lebih dari 90% pencapaian target .


Dosis harian total tidak boleh melebihi 4 g .
Dosis Dewasa biasa untuk Bakterimia 2 g IV setiap 24 jam selama 14 hari,

tergantung pada sifat dan keparahan infeksi


Dosis Dewasa biasa untuk Chancroid 250 mg IM sebagai dosis tunggal

Organisme penyebab adalah Haemophilus ducreyi .


Pasien terinfeksi HIV mungkin memerlukan pengobatan lebih lama.
Ceftriaxone hanya boleh diberikan jika pasien tindak lanjut dapat dijamin .
Pasien harus diuji ulang untuk sifilis dan HIV dalam 3 bulan , jika tes awal
menunjukkan hasil negatif . Pasangan seksual pasien juga harus

dievaluasi/diobati .
Dosis Dewasa biasa untuk Konjungtivitis
Konjungtivitis gonokokal : 1 g IM sekali Terapi doksisiklin selama 7 hari
(jika tidak hamil) atau azitromisin dosis tunggal juga dianjurkan untuk
mengobati kemungkinan infeksi klamidia bersamaan. Pasangan seksual

pasien juga harus dievaluasi/diobati .


Dosis Dewasa biasa untuk Endokarditis
Pasien dengan fungsi ginjal normal : Infeksi katup asli karena sangat penisilin rentan viridans Streptococcus Grup dan S bovis (MIC 0,12 mcg /
ml atau kurang): Ceftriaxone 2g IV atau IM setiap 24 jam selama 4

minggu ditambah gentamisin 3 mg/kg IV atau IM setiap 24 jam untuk 2


minggu
Infeksi katup asli karena viridans S relatif tahan dan S bovis (MIC lebih
besar dari 0,12 mcg/ml dan 0,5 mcg/mL atau kurang) : Ceftriaxone 2 g IV
atau IM setiap 24 jam selama 4 minggu ditambah gentamisin 3 mg / kg IV
atau IM setiap 24 jam selama 2 minggu
Infeksi katup prostetik karena penisilin - rentan S viridans dan S bovis
(MIC 0,12 mcg/ml atau kurang): Ceftriaxone 2 g IV atau IM setiap 24 jam
selama 6 minggu ditambah gentamisin 3 mg/kg IV atau IM setiap 24 jam
selama 2 minggu
Infeksi katup prostetik karena relatif atau sepenuhnya tahan penisilin
viridans S dan S bovis (MIC lebih besar dari 0,12 mcg / mL): Ceftriaxone
2 g IV atau IM setiap 24 jam selama 6 minggu ditambah gentamisin 3
mg/kg IV atau IM setiap 24 jam selama 6 minggu
Infeksi katup asli atau palsu karena strain enterococcal resisten terhadap
penisilin, aminoglikosida, dan vankomisin: Ceftriaxone 2 g IV atau IM
setiap 24 jam ditambah ampisilin 2 g IV setiap 4 jam selama 8 minggu
atau lebih
Endokarditis gonokokal: 1 sampai 2 g IV setiap 12 jam selama minimal 4
minggu
Efek samping :
Gangguan lambung-usus, perubahan hematologikal, reaksi kulit, gangguan
koagulasi, flebitis (pada injeksi IV), nyeri pada tempat penyuntikan (pada
injeksi IM), sakit kepala, pusing, agranulositosis.

Perhatian atau Kewaspadaan :


-

Ceftriaxone tidak boleh digunakan untuk mengobati bayi yang baru


lahir hyperbilirubinemic , terutama bayi baru lahir prematur . Dalam
studi vitro telah menunjukkan perpindahan bilirubin dari albumin

serum dengan ceftriaxone dan bilirubin encephalopathy dapat


-

berkembang pada pasien ini .


Ceftriaxone merupakan kontraindikasi

pada

neonatus

yang

memerlukan (atau diperkirakan membutuhkan) pengobatan dengan


infus yang mengandung kalsium karena resiko pengendapan
ceftriaxone - kalsium. Ceftriaxone tidak boleh diberikan bersamaan
(bahkan melalui jalur infus terpisah di lokasi yang terpisah) atau
dicampur dengan produk atau solusi yang mengandung kalsium karena
resiko pengendapan ceftriaxone - garam kalsium . Contoh reaksi yang
fatal dengan ceftriaxone - kalsium mengendap di paru-paru dan ginjal
dalam jangka panjang dan bayi baru lahir prematur telah dilaporkan ,
bahkan dalam kasus ketika ceftriaxone dan solusi yang mengandung
-

kalsium yang diresapi waktu yang berbeda dan garis infus


Pengencer yang mengandung kalsium (seperti larutan Ringer atau
larutan Hartmann) tidak boleh digunakan untuk menyusun kembali
botol ceftriaxone atau lebih encer botol dilarutkan untuk pemberian
intravena karena endapan bisa terbentuk . Pengendapan ceftriaxone kalsium dapat terjadi ketika ceftriaxone dicampur dalam jalur
intravena sama dengan solusi yang mengandung kalsium. Ceftriaxone
tidak

boleh

diberikan

bersamaan

dengan

cairan

infus

yang

mengandung kalsium melalui Y -site. Namun, pada pasien selain


neonatus , ceftriaxone dan solusi intravena yang mengandung kalsium
dapat diberikan secara berurutan jika garis infus secara menyeluruh
-

memerah antara infus dengan cairan yang kompatibel


Reaksi hipersensitivitas yang serius dan kadang-kadang fatal telah
dilaporkan dengan antibiotik . Obat ini harus dihentikan segera pada
penampilan pertama dari ruam kulit atau tanda-tanda lain dari
hipersensitivitas.

Parah,

reaksi

hipersensitivitas

akut

mungkin

memerlukan pengobatan dengan epinefrin dan tindakan resusitasi


lainnya

termasuk

oksigen,

cairan

intravena,

antihistamin,

kortikosteroid, dukungan kardiovaskular dan manajemen jalan napas


sesuai indikasi klinis

Sefalosporin dapat dikaitkan dengan penurunan aktivitas protrombin .


Faktor risiko meliputi gangguan ginjal atau hati, keadaan gizi buruk ,
kursus berlarut-larut terapi antimikroba, dan terapi antikoagulasi
kronis. Kali protrombin harus dimonitor dan terapi vitamin K dimulai
jika diindikasikan .

2. Ranitidine
Indikasi :
Pengobatan jangka pendek tukak usus 12 jari aktif, tukak lambung aktif,
mengurangi gejala refluks esofagitis. Terapi pemeliharaan setelah
penyembuhan tukak usus 12 jari, tukak lambung. Pengobatan keadaan
hipersekresi patologis (misal : sindroma Zollinger Ellison dan mastositosis
sistemik). Ranitidine injeksi diindikasikan untuk pasien rawat inap di
rumah sakit dengan keadaan hipersekresi patologis atau ulkus 12 jari yang
sulit diatasi atau sebagai pengobatan alternatif jangka pendek pemberian
oral pada pasien yang tidak bisa diberi Ranitidine oral.
Dosis: Ranitidine injeksi
Injeksi i.m. : 50 mg (tanpa pengenceran) tiap 6 8 jam.
Injeksi i.v. : intermittent.

Intermittent bolus : 50 mg (2 mL) tiap 6 8 jam. Encerkan injeksi 50 mg


dalam larutan NaCl 0,9% atau larutan injeksi i.v. lain yang cocok sampai
diperoleh konsentrasi tidak lebih dari 2,5 mg/mL (total volume 20 mL).
Kecepatan injeksi tidak lebih dari 4 mL/menit (dengan waktu 5 menit).

Intermittent infusion : 50 mg (2 mL) tiap 6 8 jam. Encerkan injeksi 50


mg dalam larutan dekstrosa 5% atau larutan i.v. lain yang cocok sampai
didapat konsentrasi tidak lebih besar dari 0,5 mg/mL (total volume 100
mL).

Kecepatan infus tidak lebih dari 5 7 mL/menit (dengan waktu 15 20


menit).

Infus kontinyu : 150 mg Ranitidine diencerkan dalam 250 mL dekstrosa


atau larutan i.v. lain yang cocok dan diinfuskan dengan kecepatan 6,25
mg/jam selama 24 jam. Untuk penderita sindrom Zollinger-Ellison atau
hipersekretori lain, Ranitidine injeksi harus diencerkan dengan larutan
dekstrosa 5% atau larutan i.v. lain yang cocok sehingga diperoleh
konsentrasi tidak lebih dari 2,5 mg/mL. Kecepatan infus dimulai 1 mg/kg
BB/jam dan harus disesuaikan dengan keadaan penderita.
Efek samping : Diare, nyeri otot, pusing dan timbul ruam kulit, malaise,
nausea, konstipasi, Penurunan jumlah sel darah putih dan platelet (pada
beberapa penderita). Sedikit peningkatan kadar serum kreatinin (pada
beberapa penderita).

Beberapa kasus (jarang) reaksi hipersensitivitas

(bronkospasme, demam, ruam, urtikaria, eosinofilia).


3. Metronidazole
indikasi : infeksi yang disebabkan bakteri anaerob. Amubiasis, giardiasis.
Dosis : Dewasa: 500 mg tiap 8 jam. Anak: 7.5mg/kgBB tiap 8jam
Efek samping: mual, muntah, gangguan daya pengecapan, lidah berbulu,
gangguan gigi, ruam kulit
4. Tramadol
Indikasi : Obat ini digunakan untuk meringankan rasa sakit yang parah.
Obat ini hampir sama dengan narkotika, bekerja di otak utuk mengubah
respon tubuh terhadap rasa sakit.
Dosis : anak-anak 1-14 tahun 3-4 dd 1-2 mg/kg. di atas 14 tahun 3-4 dd
50-100 mg, maksimal 400 mg sehari.
Efek samping : Mual, muntah, mulut kering, sedasi dan sakit kepala.
Tramadol juga dapat menyebabkan konvulsi atau kambuhnya serangan
konvulsi.
5. Amlodipine
Indikasi : untuk pengobatan hipertensi, angina stabil kronik, angina
vasospastik (angina prinzmetal atau varian angina)
Dosis : 1 kali 5 mg, maks 10 mg.
Efek samping : edema, pulmonary edema, sakit kepala, mual, muntah
6. Heparin

Indikasi : pengobatan hipertensi pulmonar primer atau sekunder karena


penyakit jaringan ikat atau karena diinduksi obat.
Dosis : untuk profilaksis 5000 unit SC 8-12 jam atau 7500 unit SC 12 jam.
Untuk perawatan 80 unit/kg IV bolus, kemudian dilanjutkan infus 18
unit/kg/jam atau 5000 unit IV bolus, kemudian dilanjutkan infus 1300
units/jam atau 250 units/kg (alternatif 17500 unit) SC, kemudian 250
units/kg selama 12 jam.
Efek Samping : Vasodilatasi, hipotensi, sinkop, batuk, sakit kepala,
trismus, dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan
mesin.
7. Ativan
Indikasi : merupakan turunan dari oksazepam obat hipnotik sedatif.
Dosis : untuk penenang 2-3 sehari 0,5-1 mg, sebagai obat tidur malam hari
1-2,5 mg. Untuk lansia separuhnya.
Efek samping : sedasi, pusing, malas atau tak bermotivasi, lamban,
inkoordinasi motorik, ataksia, gangguan fungsi mental dan psikomotorik,
amnesia dan bingung.
8. Parasetamol
Indikasi : untuk analgesik dan antipiretik
Dosis : dewasa 300 mg sampai 1 gram 1 kali minum dengan maksimum 4
gram perhari; untuk anak 6-12 tahun 150-300 mg 1 kali, dengan
maksimum 1-2 gram per hari. Untuk anak 1-6 tahun; 60-120 mg 1 kali
minum dan bayi dibawah 1 tahun 60 mg 1 kali minum; pada keduanya
diberikan maksimum 6 kali sehari.
Efek samping: hipersensitivitas terhadap parasetamol, hepatotoksik,
pneumonitis
9. Metoclopramid
Indikasi : untuk diabetik gastroparesis, mual dan muntah, mabuk
perjalanan, mual pada pagi hari, meredakan rasa panas pada ulu hati dan
keterlambatan pada pengosongan lambung yang menyertai refluks
esofagitis, pencegahan mual dan muntah pasca operasi dan akibat
kemoterapi kanker yang emetogenik.
Dosis : untuk diabetik gastroparesis 10 mg IV
Efek samping : mengantuk, gelisah, kelelahan, diare dan konstipasi.

10. Ketorolac
Indikasi : analgesik non narkotik
Dosis : IV 30 mg dosis tunggal. IM 60 mg dosis tunggal. Peroral 20 mg.
Maksimal perhari 120 mg/hari
Efek samping : berupa nyeri di tempat suntikan, gangguan saluran cerna,
kantuk, pusing dan sakit kepala.
III.2.
Interaksi Obat
1. Ceftriaxon dengan heparin
Ceftriaxon akan meningkatkan efek dari heparin sebagai antikoagulan.
Kemungkinan terjadinya interaksi yang serius atau mengancam nyawa.
Harus dipantau. Gunakan alternatif jika tersedia. Cepalosporin bisa
menurunkan aktifitas prototrombin.
2. Heparin dengan ketorolac
Keduanya dapat meningkatkan efek antikoagulan. Yang secara signifikan
berpotensi terjadi interaksi yang berbahaya. Sebaiknya penggunaanya
diperhatikan dan dipantau.
3. Lorazepam (ativan) dengan tramadol
Dapat meningkatkan efek sedasi. Berpotensi untuk berinteraksi, sehingga
harus di monitoring
4. Metronidazol dengan parasetamol
Metronidazole akan meningkatkan efek dari parasetamol dengan
mempengaruhi metabolisme enzim CYP2E1 di hati. Interaksi minor atau
tidak signifikan.
5. Metronidazol dengan amlodipin
Metronidazol akan meningkatkan efek amlodipin dengan mempengaruhi
metabolisme enzim CYP3E4 di hati/intestinal. Interaksi minor atau tidak
signifikan.
6. Metoclopramid dengan parasetamol
Metoclopramid meningkatkan absorpsi parasetamol di GI. Jika keduanya
digunakan secara oral. Interaksi minor atau tidak signifikan.

7. Lorazepam dengan parasetamol


Lorazepam menurunkan efek

parasetamol

dengan

meningkatkan

metabolisme. Interaksi minor atau tidak signifikan.


8. Parasetamol dengan heparin
Parasetamol meningkatkan efek dari heparin, mekanisme tidak diketahui.
Interaksi minor atau tidak signifikan.

BAB IV
PEMANTAUAN TERAPI OBAT MENGGUNAKAN METODE SOAP

IV.1 SUBJEKTIF
Sejak 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit luka luka di kaki kanan, lecet di jari
kaki dan terasa nyeri. Sebelum masuk Rumah Sakit tidak mengkonsumsi obat
apapun. Alasan masuk Rumah Sakit luka dikaki kanan dan terasa nyeri. Penyakit
terdahulu DM yang tidak terkontrol.

IV. 2 OBJEKTIF
Data pemerikasaan Klinis awal
Keadaan umum
Kesadaran
penuh

: Sakit sedang
: CM (Compos mentis ) atau kesadaran

Tekanan darah

: 130/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 30x/ menit

Suhu

:36,2 0C

Tinggi badan

:.cm

Berat badan

: 70 kg

Alergi

:-

Riwayat konsumsi obat

:-

Data pemerikasaan penunjang laboratorium


Test
HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Lekosit
Trombosit
INDEKS
ERITROSIT
MCV
MCH
MCHC
KIMIA KLINIK
Albumin
Protein plasma
Kolestrol total
Kolestrol HDL
Kolestrol LDL
Trigliserida
Ureum
Kreatinin
Gula darah
sewaktu
Gula darah
puasa

13
sept
*7,2
*23
*2,54
*11.60
0
235.00
0

15 sept

16 sept

21 sept

22 sept

Unit

Nilai normal

g/dL
%
Juta/Ul
/mm3

P:12,0-16,0
P : 35-47
P:3,6-5,8
4400-11300

12,7
38
4,43
11.000

164.000

/mm3

150000450000

89,0
28,3
*31,9

84,7
28,7
33,9

FI
Pg
%

80-100
26-34
32-36

*1,9
*4,8
74
*29
16
79
27
0,88
-

*1,9
*5,2
54

*2,5
*5,3
77

19
0,66
-

g/dL
g/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL

3,5-5,0
6,6-8,7
< 200
>45
<130
P:<135
15-50
P:0,5-0,9
<140

83

*148

mg/dL

70-100

Natrium
Kalium
Kalsium(ca
bebas)
Magnesium(mg)
HbA1c

142
*3,3
-

135
*2,9
*4,43

135
*3,4
*4,60

mEq/dL
mEq/ dL
mg/dL

135-145
3,6-5,5
4,7-5,2

5,4

*1,53
-

*1,43
-

mg/dL
mg/dL

1,70-2,25
98-108

IV.3 ASSESMENT
A. Ketepatan Penggunaan Obat Terhadap Indikasi atau Diagnosis
N
o

Nama Obat

Kekuatan

Bentu
k
Sedia
an

Indikasi
menurut
Literatur

Diagnosa
Pasien

Ketepatan
Indikasi

Infeksi oleh
bakteri
Anaerob

Tepat

Infeksi oleh
bakteri
anaerob

Tepat

Nyeri

Tepat

Mual
muntah

Tepat

Hipertensi
, angina

Anti
Hipertensi

Tepat

Tepat

Mengobati
atau
mencegah
infeksi
disebabka
n oleh
bakteri
infeksi
yang
disebabka
n bakteri
anaerob
Meringan
kan rasa
sakit yang
parah
Tukak
lambung,
tukak
duodenal,
refluks
esofagitis

Ceftriaxon

1 g/10
ml

Injek
si

Metronidaz
ole

500 mg/
10 ml

Injek
si

Tramadol

100 mg/2
ml

Injek
si

Ranitidine

50
mg/amp

Injek
si

Amlodipin

5 mg ; 10
mg

Tabl
et

Heparin

25000
iu/5 ml
vial

Injek
si

Antikoagu
lan

Tromboemb
oli pada
pembuluh
darah

Ativan

5 mg/ml
dalam
ampul 2
ml

Injek
si

Hipnotik,
sedatif

Gangren
Diabetikum

Tepat

Paracetamol

500 mg

Tabl
et

Analgetik,
antipiretik

Nyeri dan
demam

Tepat

Metoclopra
mid

10
mg/2ml

Tabl
et

Diabetik
gastropare
sis

Mual dan
muntah

Tepat

1
0

Ketorolac

10
mg/ml
30mg/ml

Injek
si

Analgetik

Nyeri

Tepat

B. Ketepatan Dosis Obat


Bentuk
Sediaan

Dosis
menurut
Literatur

Dosis
Pasien

Ketepat
an
Indikasi

No

Nama Obat

Kekuata
n

Ceftriaxon

1 g/10 ml

Injeksi

1-2 gr/hari

2 x 1 gr

Tepat

Metronidazole

500 mg/
10 ml

Injeksi

1500
mg/hari

3 x 500 mg

Tepat

Tramadol

100 mg/2
ml

Injeksi

400mg/har
i

2x1 amp

Tepat

Ranitidine

50
mg/amp

Injeksi

50 mg/6-8
jam

2 x 1 amp

Tepat

Amlodipin

5 mg ; 10
mg

Tablet

10 mg/hari

1 x 10 mg

Tepat

Heparin

25000
iu/5 ml
vial

Injeksi

5000 unit

2 x 500 iu

Tepat

Ativan

5 mg/ml
dalam
ampul 2
ml

Injeksi

2-3 sehari
0,5-1 mg.
Lansia
separuhnya

2 x 0,5 mg

Tepat

Paracetamol

500 mg

Tablet

4gr/hari

3 x 1 gr

Tepat

Metocloprami
d

10
mg/2ml

Injeksi

10 mg

1 x 1 amp

Tepat

10

Ketorolac

10
mg/ml ;
30 mg/ml

Injeksi

120
mg/hari

2 x 1 amp

Tepat

C. Kejadian Efek Samping Obat


N
o

Nama Obat

Kekuatan

Bentuk
Sediaan

Efek samping menurut Literatur

Kondisi
Pasien

Keterangan

Mual
muntah

Sebagai antibiotik
sepktrum luas,
bakteri aerob

Mual
muntah

Untuk bakteri
anaerob

Ceftriaxon

1 g/10 ml

Injeksi

Gangguan
lambung-usus,
perubahan
hematologikal, reaksi kulit, gangguan koagulasi,
flebitis (pada injeksi IV), nyeri pada tempat
penyuntikan (pada injeksi IM), sakit kepala,
pusing, agranulositosis.

Metronidazole

500 mg/ 10
ml

Injeksi

mual, muntah, gangguan daya pengecapan, lidah


berbulu, gangguan gigi, ruam kulit

Tramadol

100 mg/2
ml

Injeksi

Mual, muntah, mulut kering, sedasi dan sakit


kepala. Tramadol juga dapat menyebabkan Mual muntah Meringankan nyeri
konvulsi atau kambuhnya serangan konvulsi.

Mual,
muntah

Untuk mengatasi
efek samping mual
dan muntah dari
obat

Ranitidine

50 mg/amp

Injeksi

Diare, nyeri otot, pusing dan timbul ruam kulit,


malaise, nausea, konstipasi, Penurunan jumlah
sel darah putih dan platelet (pada beberapa
penderita). Sedikit peningkatan kadar serum
kreatinin (pada beberapa penderita). Beberapa
kasus
(jarang)
reaksi
hipersensitivitas
(bronkospasme,
demam,
ruam,
urtikaria,
eosinofilia).

Amlodipin

5 mg ; 10
mg

Tablet

Edema, pulmonary edema, sakit kepala, mual,


muntah.

Tekanan
darah
tinggi

Menurunkan
tekanan darah

Heparin

25000 iu/5
ml vial

Injeksi

Vasodilatasi, hipotensi, sinkop, batuk, sakit


kepala, trismus, dapat mengganggu kemampuan
mengemudi atau menjalankan mesin.

Sakit
kepala

Untuk pencegahan
tromboemboli vena

Injeksi

Sedasi, pusing, malas atau tak bermotivasi,


lamban, inkoordinasi motorik, ataksia, gangguan
fungsi mental dan psikomotorik, amnesia dan
bingung.

Sedasi

Penenang

Mual
muntah

Analgetik,
antipiretik

dan

Mual,
muntah

Anti mual

Gangguan
saluran
cerna
seperti
mual dan
muntah

Analgetik

Ativan

5 mg/ml
dalam
ampul 2 ml

Paracetamol

500 mg

Tablet

Hipersensitivitas
terhadap
hepatotoksik, pneumonitis.

Metocloprami
d

10 mg/2ml

Injeksi

Mengantuk,
konstipasi.

10

Ketorolac

10 mg/ml ;
30 mg/ml

Injeksi

gelisah,

parasetamol

kelelahan,

diare

berupa nyeri di tempat suntikan, gangguan


saluran cerna, kantuk, pusing dan sakit kepala.

D. Kejadian Interaksi Obat


N
o

Interaksi Obat

Ceftriaxon + heparin

Heparin + ketorolac

Intensitas
Interaksi
serius atau
mengancam nyawa
interaksi yang
berbahaya

meningkatkan efek dari


heparin sebagai antikoagulan
meningkatkan efek
antikoagulan

Harus di pantau

meningkatkan efek sedasi

Interaksi minor

meningkatkan efek dari


parasetamol

Interaksi minor

meningkatkan efek
amlodipin

Interaksi minor

meningkatkan absorpsi
parasetamol di GI

Interaksi minor

menurunkan efek
parasetamol

Interaksi minor

meningkatkan efek dari


heparin

Akibat Interaksi

Lorazepam (ativan)
3

+ tramadol
Metronidazol +

parasetamol
Metronidazol +

amlodipin
Metoclopramid +

parasetamol
Lorazepam +

parasetamol
Parasetamol +

heparin

E. Assesment
No
1
2
3
4
5
6
7

Jenis DRPs
Ada indikasi tidak diobati
Pemberian obat tanpa indikasi
Dosis rendah
Dosis tinggi
Kejadian efek samping
Kejadian interaksi obat
Ketidakpatuhan pasien

Penilaian
Ada
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Ada
Ada
Tidak ada

Pemeliharaan obat tidak tepat

Tidak ada

IV.4

PLAN

Rekomendasi kepada dokter

Pada penggunaan heparin banyak interaksi terhadap


obat-obat yang digunakan. Sebaiknya, heparin diganti
dengan alteplase yang memiliki fungsi memecah
gumpalan darah yang tidak diinginkan dengan
pemantauan atau dengan penggantian ceftriaxon.
Ceftriaxon dapat diganti dengan cefotaxim. Cefotaxim
dapat digunakan karena obat ini hanya mengalami
interaksi minor sehingga dapat digunakan tetapi
dengan pemantauan. Penggantian obat ini dapat dipilih
antara obat heparin yang diganti dengan alteplase atau
ceftriaxon yang diganti dengan cefotaxim.

Rekomendasi kepada perawat

Rekomendasi kepada pasien

Selalu memantau keadaan pasien.


Lakukan pembersihan luka dan penggantian perban
luka pada pasien secara rutin.
Memperhatikan perawatan luka pasien.
Pemberian jeda waktu pada penggunaan obat
ativan, tramadol, metronidazol, paracetamol,
amlodipin, metoclopramid dan heparin karena obatobat ini dapat menyebabkan interaksi minor.
Selalu memeriksa tekanan darah pasien dan kadar
gula darah pasien.
Harus patuh pada pengobatan yang di jalani
Perhatikan makanan yang di konsumsi
Rubah gaya hidup
Memperhatikan perawatan luka
Lakukan olahraga ringan.
Lakukan pemeriksaan kembali ke dokter tentang
luka.

PEMBAHASAN

Ny x umur 70 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan, Sejak 1 bulan


sebelum masuk Rumah Sakit luka luka di kaki kanan, lecet di jari kaki dan
terasa nyeri. Sebelum masuk Rumah Sakit tidak mengkonsumsi obat apapun.
Alasan masuk Rumah Sakit luka dikaki kanan dan terasa nyeri. Penyakit terdahulu
DM yang tidak terkontrol. kemudian pasien di diagnosa menderita gangren
diabetik, pasien mendapat terapi selama 14 hari di rumah sakit.
Pengobatan yang diterima oleh pasien

Pada hari 1- 14 pasien mendapat obat ceftriaxone, metronidazole,

tramadol ampul dan ranitidin secara intravena


Kemudian pada hari ke 8 sampai hari ke 10 pasien mendapat tambahan

terai obat amlodipin tablet 1 x 10 mg


Heparin digunakan pada hari ke 8 sampai hari ke 14 2 x 500 iu , ativan
diberikan pada hari ke 10 2 x 0,5 mg secara intravena, paracetamol
diberikan pada hari ke 10 dan 11 3 x1 g, metoclopramide pada hari ke 10

1x 1 ampul
Ketorolac pada hari ke 11 sampai hari ke 14 2x 1 ampul.

Antibiotik Ceftriaxone dikombinasikan dengan metronidazole, diberikan


kepada pasien untuk mengobati infeksi berat pada luka pasien karena luka pada
pasien gangren meliputi bakteri aerob dan anaerob. Pada penggunaan tramadol
diberikan sebagai analgetik untuk mengurangi nyeri dan demam yang dirasakan
oleh pasien yang diakibatkan oleh luka sedangkan Ranitidin diberikan untuk
mengatasi efek samping dari ceftriaxone, metronidazole dan tramadol.
Pemberian heparin pada pasien untuk mencegah tromboemboli yang
diakibatkan oleh diabetus melitus yang tidak terkontrol. heparin diberikan dengan
dosis rendah yang tujuannya untuk mencegah tromboemboli, maka dosis yang
diberikan pada pengobatan pasien di rekapitulasi penggunaan obat pasien tepat.
Tetapi penggunaan ceftriaxon bersamaan dengan heparin dapat mengakibatkan
interaksi obat yg serius/moderat sehingga penggunaan heparin dapat diganti
dengan alteplase untuk mencegah terjadinya interaksi yang serius, walaupun
pengguanaan ceftriaxone dan alteplase juga dapat menyababkan interkasi tetapi

interaksi ini termasuk interaksi minor sehingga hanya perlu dilakukan pemantauan
atau pemberian dengan jeda waktu.
Ativan diberikan sebagai penenang untuk pasien pada hari ke 10 bersamaan
dengan paracetamol dan metoclopramid dikarenakan kondisi pasien mengalami
demam dan nyeri yang hebat. Yang selanjutnya diberikan ketorolac pada hari
berikutnya. Ativan dengan tramadol mempunyai interaksi meningkatkan efek
sedasi dari ativan sehingga perlu pengontrolan dan jeda waktu pada pemberian
obat, pemberian jeda waktu ini dapat dilakukan oleh perawat. Ketorolac dengan
heparin memilki interaksi yang dapat menyebabkan pendarahan sehingga perlu
alternatif obat lain misalnya alteplase.
Pada pengobatan yang diterima oleh pasien terdapat interaksi serius antara
ceftriaxon dan heparin, heparin dan ketorolac sehingga obat-obat tersebut harus
ada yang diganti. Rekmendasi yang dapat dilakukan pada kasus pasien ini adalah
dengan penggantian heparin, heparin diganti dengan alteplase yang memiliki
fungsi memecah gumpalan darah yang tidak diinginkan, jika obat alteplase
digunakan bersamaan dengan ceftriaxon, akan terjadi interaksi minor sehingga
penggunaan obat ini hanya perlu dilakukan pemantauan atau pemberian jeda
waktu. Rekomendasi kedua yang dapat dilakukan adalah dengan penggantian
ceftriaxon, Ceftriaxon dapat diganti dengan cefotaxim. Cefotaxim dapat
digunakan karena obat ini hanya mengalami interaksi minor sehingga dapat
digunakan tetapi dengan pemantauan. Penggantian obat ini dapat dipilih antara
obat heparin yang diganti dengan alteplase atau ceftriaxon yang diganti dengan
cefotaxim.

DAFTAR PUSTAKA

Dipiro, Joseph. T., Robert L.Talbert, Gary C. Yee, Gary R. Matake, Barbara G.
Wells,L. Michael Posey. 2008. Pharmacotherapy A Pathophysiological
Approach, Seventh Edition. New York : McGraw-Hill Medical Publishing
Division.
Gunawan s, dkk. (2007). Farmakologi Dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Gaya Gon
Ikatan sarjana farmasi Indonesia, 2008.,Iso Farmakoterapi.,Penerbit : PT.ISFI
Penerbitan.Jakarta Barat.
Tjay, Tan Hoon dan Kirana, Raharja.2002.Obat-obat Penting,Khasiat,Penggunaan
dan Efek-efek Sampingnya.Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kelompok
Gremedia.
www.medscape.com