Anda di halaman 1dari 2

Kisah Para Rasul 26:1-11

Nats : ayat 1
Ketika kesempatan tiba maka Paulus tidak menyia-nyiakannya. Kita juga perlu menggunakan
setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya teristimewa kesempatan untuk bersaksi. Dan Tuhan
pasti memberikan kesempatan itu kepada kita bila kita punya kerinduan. Dan hendaklah kalian
selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang
kalian miliki. 1Pet. 3:15
Dalam pembacaan Alkitab kita hari ini kita bertemu dengan rasul Paulus yang juga melihat
adanya satu kesempatan di dalam sebuah kesempitan!
Kesempitan? Jelas kalau posisi Paulus waktu itu tidak mengenakkan! Dia ada di pengadilan!
hukuman mati atau penjara siap menanti.
Jika kita membaca kisah kita hari ini dari pasal 21 sampai dengan perikop kita ini ... kita akan
segera menyadari 3 kesempitan yang dihadapi oleh Paulus waktu itu:

ada taktik orang Yahudi untuk membunuh Paulus

sampai mereka janji gak akan makan dan minum sebelum Paulus mati

itu artinya Paulus harus mati!

Tapi sewaktu kesempatan itu diberikan kepada Paulus ... Dia berani mengambil kesempatan itu
meskipun dia tahu resikonya
Dan kalau faktanya Paulus bisa bebas, tetap hidup dan terus berkarya ... bukankah luar biasa apa
yang sudah Tuhan lakukan bagi setiap orang yang mau melihat kesempatan itu?! Kalau tidak ada
.. ciptakan kesempatan, raih, tindaklanjuti setiap kesempatan yang ada ... untuk apa? Untuk
menyatakan kemuliaan nama Tuhan
Ada kalanya Tuhan mengizinkan satu kesempitan itu hadir dalam hidup kita ... tapi gak berhenti
di situ aja ... sebab Tuhan juga memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat kemuliaan
Tuhan dinyatakan dalam kehidupan kita.

1 Samuel 6:1-7:1
Merespons anugerah dan janji
Judul: Merespons anugerah dan janji
Keistimewaan bangsa Israel dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain terletak pada anugerah
yang mereka terima berupa ikatan perjanjian Sinai dengan Tuhan. Kehadiran tabut Allah
merupakan tanda kehadiran Allah di tengah mereka. Namun, sebagaimana kita lihat pada pasal 4,
kehadiran tabut tidak serta merta memberkati mereka. Saat mereka salah mengerti bahkan
menyalahgunakan tabut tersebut, mereka pun menerima hukuman dari Allah.
Hal serupa terulang di Bet-Semes. Mula-mula penduduk kota itu bersukacita karena tabut itu
kembali ke tengah umat Tuhan. Beberapa orang dari suku Lewi pun berinisiatif menyambutnya
dengan menyelenggarakan persembahan kurban. Ternyata kehadiran tabut tersebut menjadi
bencana buat sebagian penduduk yang mencoba melihatnya (19). Sangat mungkin orang-orang
ini dengan pemahaman yang keliru memperlakukan tabut itu sebagai berhala untuk disembah
atau untuk dijadikan jimat!
Kalau itu terjadi di tengah bangsa yang tidak mengenal Allah, memang tidak heran. Seperti di
perikop hari ini, orang-orang Filistin setelah berkonsultasi dengan para dukun mereka lalu
memulangkan tabut tersebut ke negeri Israel. Mereka juga memberikan upeti atau sesajen agar
Yahweh jangan menulahi mereka, seperti yang pernah orang Mesir alami dulu (6). Paling tidak
mereka tidak berani lagi sembarangan memperlakukan tabut tersebut.
Menjadi umat Allah memang merupakan anugerah, apalagi diteguhkan dengan perjanjian. Tidak
berarti karena sudah beroleh anugerah, lalu umat Tuhan bisa hidup sembarangan. Anugerah dan
perjanjian menuntut hidup umat serasi dengan Allah. Baik serasi dalam pengenalan maupun
dalam tindakan
Di dalam zaman kita hidup sekarang, kita dapat merasakan kehadiran Allah yang sejati, di dalam
Kristus. Tuhan Yesus adalah anugerah Allah bagi kita untuk masuk ke dalam ikatan perjanjian
dengan Allah, yaitu keselamatan kekal.