Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal pemeriksaan identifikasi yang

merupakan bagian tugas yang mempunyai arti cukup penting. Disebutkan bahwa
yang dimaksud identifikasi adalah salah satu usaha untuk mengetahui identitas
seseorang melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal, sedemikian rupa
sehingga dapat ditentukan bahwa orang itu apakah sama dengan orang yang
hilang yang diperkirakan sebelumnya juga dikenal dengan ciri-ciri itu. Identifikasi
mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi untuk kepentingan forensik
maupun non-forensik.1
Peningkatan kualitas kejahatan dimana pelakunya sering berusaha
menyembunyikan korbannya yang bertujuan untuk menghilangkan jejak serta
barang bukti agar pelaku dan korbannya tidak dikenal lagi, dengan demikian
korban ditemukan sudah tinggal tulang belulang. Terjadinya peningkatan
kriminalitas dan kasus-kasus korban mutilasi pada akhir-akhir ini membuat proses
identifikasi sangat dibutuhkan oleh penyelidik untuk mengungkapkan identitas
korban, salah satu identifikasi yang diperlukan adalah memperkirakan panjang
badan, jenis kelamin dan umur korban melalui tulang belulang korban.1
Salah satu cara mengungkapkan identitas seseorang yaitu dengan cara
identifikasi melalui kerangka atau tulang belulang. Upaya identifikasi pada
kerangka bertujuan membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka
manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, ciri-ciri khusus,
deformitas dan bila memungkinkan dapat dilakukan rekontruksi wajah orang
tersebut. Dicari pula tanda kekerasan pada tulang. Perkiraan saat kematian
dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan tulang.2
Dalam proses penyidikan suatu tindak pidana mengetahui identitas korban
merupakan suatu hal yang mempunyai arti sangat penting, yaitu sebagai langkah
awal penyidikan yang harus dibuat lebih dahulu sebelum dapat dilakukan
langkah-langkah selanjutnya dalam proses penyidikan tersebut. Apabila identitas

korban tidak dapat diketahui, maka sebenarnya penyidikan menjadi tidak mungkin
dilakukan. Selanjutnya apabila penyidikan tidak sampai menemukan identitasnya
identitas korban, maka dapat dihindari adanya kekeliruan dalam proses peradilan
yang dapat berakibat fatal.
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, budaya dan fisik, disemua
waktu dan tempat. Antropologi forensik adalah aplikasi pengetahuan antropologis
dan teknik dalam konteks hukum. Hal ini melibatkan pengetahuan rinci osteologi
(anatomi budaya tulang dan biologi) untuk membantu dalam identifikasi dan
penyebab kematian sisa-sisa kerangka, serta pemulihan tetap menggunakan teknik
arkeologi. Antropologi fisik forensik mengkhususkan diri dalam penelitian dan
penerapan teknik yang digunakan unutk menentukan usia saat kematian, seks,
afinitas populasi, perawakannya, kelainan dan atau patologi, dan keistimewaan
untuk bahan tulang modern.
Osteologi forensik adalah subdisiplin dari antropologi forensik dan secara
garis besar memfokuskan pada analisa dari rangka manusia untuk tujuan
medikologal. Osteologi forensik paling sering dibutuhkan saat investigasi sisa-sisa
dari tubuh manusia akibat dari kematian wajar yang tidak dapat dijelaskan,
pembunuhan, bunuh diri, atau bencana alam. Meskipun begitu, seiring
meningkatnya frekuensi tersebut, osteologi forensik seringkali diminta untuk
mendampingi dokter spesialis forensik dalam mengkonfirmasi usia dari makhluk
hidup maupun jenazah untuk keperluan peradilan. Pada makalah ini, kami akan
membahas tentang identifikasi tulang belulang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
Secara definisi disebutkan bahwa ilmu kedokteran forensik adalah salah satu
cabang spesialistik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu
kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Dalam istilah
lain, ilmu kedokteraan forensik juga dikenal dengan nama legal medicine.1 Seiring
dengan perkembangan zaman dan perjalanan waktu, ilmu kedokteran forensik
terus berkembang menjadi suatu ilmu yang universal karena meliputi berbagai
aspek ilmu pengetahuan. Salah satu bidang penting dalam ilmu kedokteran
forensik adalah identifikasi.2
Untuk kepentingan visum et repertum (VetR), ketika dokter memeriksa
jenazah maka identifikasi pada jenazah tetap dilakukan sekalipun jenazah tersebut
dikenal. Dokter haruslah mencatat jenis kelamin, umur, suku bangsa, panjang dan
berat badan, kebangsaan, warna kulit, perawakkan, keadaan otot, keadaan gizi,
rambut, mata, gigi, bekas-bekas luka, tahi lalat, tato (rajah), pakaian, perhiasaan,
barang-barang yang ada jenazah, ada tidaknya kumis/jenggot (pada laki-laki),
cacat tubuh (bawaan atau didapat) dan sebagianya.2,3,4
Dalam bidang kedokteran forensik peranan pemeriksaan identifikasi
sangatlah penting pada korban yang telah meninggal, hal ini oleh karena setelah
dilakukan identifikasi terhadap jenazah untuk kepastian identitas, barulah
kemudian pemeriksaan dapat dilakukan ketahap berikutnya. Pada jenazah yang
tak dikenal atau biasa di sebut dengan istilah Mr.X, tentunya identifikasi menjadi
sulit dan pemeriksaan jenazah untuk identifikasi menjadi lebih sulit lagi bila
mayat dikirim ke rumah sakit atau puskesmas telah mengalami pembusukan atau
kerusakan berat baik akibat kebakaraan, ledakan, kecelakaan pesawat ataupun
tinggal beberapa jaringan tubuh misalnya kasus mutilasi (tubuh terpotongpotong). Pada kondisi ini juga tidak jarang pihak kepolisian hanya menyerahkan
kepala saja, sebagian lengan atau kaki yang terpotong-potong atau kadang kala
tinggal tulang belulang saja.1,3

2.2 IDENTIFIKASI FORENSIK


Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal
sering merupakan masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan
identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya
kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada
kecelakaan masal, bencana alamatau huru hara yang mengakibatkan banyak
korban mati, serat potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi
forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi
yang tertukar atau diragukan orang tuanya.
Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang
digunakan memberikan hasil positip (tidak meragukan).
Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik
jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik, gigi, serologik dan secara
eksklusi. Akhir-akhir ini dikembangkan pula metode identifikasi DNA.
a. Pemeriksaan Sidik Jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik
jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem. Sampai saat ini,
pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan
identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang
sebaiknya terhadap jari tangan jenazah untuk pemeriksaan jari, misalnya
melakukan pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantung plastik.
b. Metode Visual
Metode ini dilakukan dengan cara memperhatikan jenazah pada orang-orang
yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya
efektif pada jenazah yang belum membusuk sehingga masih mungkin
dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang. Hal ini perlu
diperhatikan mengingat adanya kemungkinan faktor emosi yang turut

berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah


tersebut.
c. Pemeriksaan Dokumen
Dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor dsb.) yang kebetulan
dijumpai dalam saku pakaian akan sangat membantu mengenali jenazah
tersebut. Perlu diingat bahwa pada kecelakaan masal, dokumen yang
terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jenazah belum tentu
adalah milik jenazah yang bersangkutan.
d. Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat
diketahui merek atau nama pembuat,ukuran, inisial nama pemilik, badge,
yang semuanya dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi
kerusakan pada jenazah tersebut. Khususnya anggota ABRI, masalah
identifikasi dipermudah dengan adanya nama serta NRP yang tertera pada
kalung logam yang dipakainya.
e. Idenfikasi Medik
Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna
rambut,warna mata, cacat/kelainan khusus, tatu (rajah). Metode ini
mempunyai nilai yang tinggi karena selain dilakukan seorang yang ahli
dengan

menggunakan

berbagai

cara/modifikasi

(termasuk

dengan

pemeriksaan sinar X), sehingga ketepatannya cukup tinggi. Bahkan pada


tengkorak/kerangkapun masih dapat dilakukan identifiaksi ini. Melalui
metode ini, diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan
tinggi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.
f. Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pecatatan data gigi (ontogram) dan rahang yang
dapat dilakukan dengan pemeriksaan manual,sinar X dan pencetakan gigi
serta rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah,bentuk, susunan,
tambalan,protesa gigi dan sebagainya. Seperti halnya dengan sidik jari,
maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas, dengan demikian,

dapat dilakukan identifikasi dengan cara membandingkan data temuan


dengan data banding ante mortem.
g. Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah
jenazah. Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk
dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.
h. Metode Eksklusi
Metode ini digunakan pada kecelakaan masal yang melibatkan sejumlah
orang yang dapat diketahui jumlahnya, misalnya penumpang pesawat
udara,kapal laut dan sebainya. Bila sebagian besar korban telah dapat
dipastikan identitasnya dengan menggunakan metode-metode identifikasi
lainnya, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan dengan
metode tersebut diatas, maka sisa korban diidentifikasi menurut daftar
penumpang.
i. Identifikasi Potongan Tubuh Manusia ( Kasus Mutilasi)
Pemeriksaan bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari
manusia atau binatang. Bila nerasal dari manusia, ditentukan apakah
potongan-potongan tersebut berasal dari satu tubuh. Penentuan juga meliputi
jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan, dan keterangan lainnya seperti cacat
tubuh, penyakit yang pernah diderita,statsu sosial ekonomi, kebiasaankebiasaan tertentu dan sebagainya serta cara pemotongan tubuh yang
mengalami mutilasi.
Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia dapat
digunakan beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara
makroskopik, mikroskopik dan pemeriksaan serologik berupa rekasi
antigen-antibodi (reaksi presiptin). Penentuan jenis kelamin dilakukan
dengan pemeriksaan makroskopik dan diperkuat dengan pemeriksaan
mikroskopik yang bertujuan menenmukan kromatin seks wanita seperti
drum stick pada leukosit dan barr body pada sel epitel.

j. Identifikasi Kerangka
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan membuktikan bahwa kerangka
tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi
badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan dapat dilakukan
rekontruksi wajah orang tersebut. Dicari pula tanda kekerasan pada tulang.
Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan
kekeringan tulang.
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu,maka dilakuakn
identifikasi dengan membankannya dengan data ante mortem. Bila terdapat
foto terakhir wajah orang tersebut semasa hidup, dapat dilaksanakan metode
superimposisi, yaitu dengan jalan menumpukann foto rontgen tulang
tengkorak diatas foto wajah yang dibuat berukuran sama dan diambil dari
sudut pemotretan yang sama dan diambil dari sudut pemotretan yang sama.
Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan.
Pemeriksaan anatomik dapat memastikan bahwa kerangka adalah
kerangka manusia. Kesalahan penafsiran dapat timbul bila hanya terdapat
sepotong tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik
(reaksi presiptin) dan histologik jumlah dan diameter kanal-kanal havers.24
2.3 Ruang Lingkup Pemeriksaan Forensik
Faktor utama yang digunakan pada pemeriksaan forensik adalah:
1. Osteologi
Satu dari teknik yang paling bermakna pada pemeriksaan
antropologi

forensik,

karena

antropologi

forensik

berhubungan

dengan pemeriksaan sisa sisa tulang maupun tulang yang utuh.


Pemeriksa dapat menentukan perkiraan usia, jenis kelamin, pertalian
ras, tampilan fisik saat hidup. Tengkorak merupakan bagian dari rangka
manusia yang paling informatif. Namun,

jarang

sekali

tengkorak

ditemukan dalam keadaan utuh ataupun baik. Oleh karena itu


osteologis harus dapat memanfaatkan apapun tulang yang tersedia.

Osteologi

harus

mengerti

mengenai

kerangka

manusia.

Langkah pertama pertama dari osteologi menentukan sisa rangka


yang ditemukan apakah dari manusia atau bukan. Walaupun banyak
sekali variasi yang terdapat pada manusia atau hewan, namun terdapat
persamaan-persamaan umum pada setiap spesies. Jika tengkorak tidak
ditemukan, tulang manusia dapat dibedakan dari hewan berdasarkan
bentuk, ukuran dan perbedaan densitas tulang. Penentuan spesies
akan sangat sulit jika tulang yang ditemukan berupa pecahan pecahan.
Ada dua tipe sifat yang dapat ditemukan dari sisa sisa
rangka yaitu metrik dan nonmetrik. Tipe metrik adalah variasi
ukuran tulang. Contohnya panjang dari humerus pada seseorang
dapat lebih panjang dari orang lain yang mempunyai tinggi badan
yang sama. Sifat nonmetrik adalah perbedaan antara tulang tulang
seseorang yang tidak dapat diukur. Contohnya penyatuan pada tulang
seseorang dapat berbeda dengan orang lainnya.
2. Dentisi
Dentisi merupakan ilmu yang mempelajari sisa sisa gigi. Analisa
dari sisa-sisa gigi dapat digunakan untuk menentukan beberapa aspek pada
antropologi forensik. Digunakan bersama dengan osteologi untuk
menentukan usia, jenis kelamin dan diet. Pada orang dewasa terdapat 32
gigi yang pada masing masing sisinya, pada rahang atas dan bawah
terdapat dua insisivus, satu kaninus, dan dua atau tiga molar. Pada anak
anak terdapat dua puluh gigi dengan dua insisivus dan satu kaninus serta
dua molar pada masing masing kuadran.

3. Etnobotani
Etnobotani merupakan ilmu yang mempelajari tentang serbuk sari dan
tanaman dari masa lalu. Ini berguna untuk menentukan waktu sejak
kematian dan menentukan diet dari sisi arkeologi.23

2.4 ANTROPOLOGI
Antropologi merupakan bidang studi sains tentang asal usul, prilaku,
fisik, sosial dan pengembangan

lingkungan manusia. Antropologi

forensik

merupakan bidang ilmu untuk physical anthropologists yang mengaplikasikan


ilmunya dalam bidang biologi, sains, dan budaya dalam proses hukum.
Antropologi Forensik adalah pemeriksaan pada sisa-sisa rangka. Pemeriksaan
ini dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk menentukan apakah sisa-sisa
tersebut berasal dari manusia.23
Menurut

American

Board

of

Forensic

Anthropology,

forensik

antropologi adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi fisik untuk


proses hukum Identifikasi dari kerangka, atau sediaan lain dari sisa sisa
jasad (dugaan manusia) yang tidak teridentifikasi penting untuk alasan
hukum maupun

alasan kemanusiaan. Forensik antropologi mengaplikasikan

tehnik sains sederhana yang berdasarkan antropologi fisik untuk mengidentifikasi


sisa sisa jasad manusia dan mengungkap tindak kejahatan.
Antropologi

forensik

meliputi

penggalian

arkeologis, pemeriksaan

rambut, serangga, plant materials dan jejak kaki, penentuan waktu kematian;
facial reproduction, photographic

superimposition, detection

of

anatomical

variants, dan analisa mengenai cedera masa lalu dan penanganan medis.
Namun, pada pelaksanaannya forensik antropologi terutama untuk menentukan
identitas jasad berdasar bukti yang tersedia, yaitu menentukan jenis kelamin,
perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras.
2.5 ANTROPOMETRI
Antropometri berasal dari kata Anthropos yang berarti man (orang) dan
Metron yang berarti ukuran. Jadi, antropometri merupakan pengukuran terhadap
manusia (mengukur manusia). Johan Sigismund Elsholtz adalah orang pertama
yang menggunakan istilah antropometri dalam pengertian sesungguhnya (tahun
1654). Ia adalah seorang ahli anatomi berkebangsaan jerman. Pada saat itu ia
menciptakan alat ukurnya dan inilah cikal bakal alat ukur yang sekarang kita
kenal sebagai antropometer.

Gambar 2.1 Papan Osteometri

Gambar 2.2 Antropometer menurut Martin

Pada abad 19, penelitian di bidang antropometri mulai berkembang dari


perhitungan sederhana menjadi lebih rumit, yaitu dengan menghitung indeks.
Indeks adalah cara perhitungan yang dikembangkan untuk mendeskripsikan
bentuk (shape) melalui keterkaitan antara titik pengukuran. Perhitungan indeks,
titik pengukuran dan cara pengukuran berkembang pesat yang berdampak pada
banyaknya variasi cara klasifiksasi. Hal ini berdampak pada tidak adanya
standarisasi, terutama pada bidang osteometri (pengukuran tulang-tulang). 8,9 Tidak
adanya standarisasi ini membuat para ahli tidak bisa membandingkan hasil
penelitiannya karena standar pengukuran, titik pengukuran serta indeks yang
berbeda-beda.
Upaya standarisasi mulai dilakukan pada pertengahan abad 19 berdasarkan
studi Paul Broca yang mana upaya tersebut telah dilakukan sejak awal 1870-an
dan kemudian disempurnakan melalui kongres ahli antropologi Jerman pada 1881
di Frankfurt yang kemudian dikenal sebagai Kesepakatan Frankfurt, yaitu

10

menentukan garis dasar posisi kepala atau kranium ditetapkan sebagai garis
Frankfurt Horizontal Plane atau Dataran Frankfurt.6

Gambar 2.3 Dataran Frankfurt

Garis C adalah dataran Frankfurt yang merupakan bidang horizontal sejajar


dengan dasar/lantai yang melalui titik paling bawah pada satu lekuk mata
(umumnya paling kiri) dan titik paling atas pada dua lubang telinga luar (porion
dan tengkorak, tragion pada manusia hidup. Dataran ini merupakan patokan
penilaian dan pengukuran baik pengukuran tinggi badan maupun merupakan
sudut.
Perkembangan berikutnya dibuat oleh antropologi Jerman lainnya yaitu
Rudofl Martin pada tahun 1914 menerbitkan buku yang berjudul Lehrbuch der
Anthropologic. Selanjutnya pada tahun 1981 bersama Knussmann, Rudolf Martin
memperbaharui buku tersebut.6,7
Masyarakat lama umumnya telah menggunakan satuan ukuran dengan lebar
jari, lebar telapak tangan, jengkalm hasta, depa, langkah kaki dan sebagainya.
Namun Rudolf Martin dalam bukunya menjelaskan dengan teliti masing-masing
titik anatomis yang dipergunakan. Masing-masing titik diberikan nama serta
simbolnya, yang terdiri dari satu sampai tiga huruf. Jaral antara titik-titik
antropometris ini menjadi ukuran antropometris, yang dilambangkan dengan
simbol kedua titik/ujung, misalnya simbol v ialah vertex, sty adalah stylion yang
11

merupakan titik paling distal pada ujung processus. Styloideus. Disamping itu
masing-masing ukuran lazimnya disertai nomor sesuai numerus pada buku
Martin.
2.6 PROSEDUR IDENTIFIKASI ANTROPOMETRI
Salah satu dasar dari sebuah pengetahuan identifikasi adalah pengetahuan
tentang antropometri. Antropometri berarti pengukuran pada manusia. DVI atau
Disaster Victim Identification menerangkan metode identifikasi yang telah
distandarkan secara internasional dan diadopsi di Indonesia. Terdapat 2 golongan
identifikasi, yaitu pertama disebut dengan Primary Identifiers yang terdiri dari
sidik jari (fingerprint) rekam medik gigi (dental record) dan DNA (Deoxyribo
Nucleic Acid), serta yang kedua disebut dengan Secondary Identifiers yang terdiri
dari pemeriksaan medik (medical); property dan photography.8
Pada pemeriksaan medik dilakukan pemeriksaan fisik jenazah secara
keseluruhan yang meliputi bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, warna tirai
mata, cacat tubuh serta kelainan bawaan, jaringan parut bekas luka operasi, tato
dan sebagainya.9
Dalam pemeriksaan forensik penentuan tinggi badan seseorang individu
sangatlah penting, terutama bila hanya sepotong bagian tubuh jenazah saja yang
ditemukan. Oleh sebab itu begitu banyak metode-metode/ formula pemeriksaan
yang dirumuskan untuk mengukur atau memperkirakan tinggi badan seseorang.10
2.7 IDENTIFIKASI TULANG
Tulang atau kerangka merupakan bagian tubuh manusia yang cukup keras,
tidak mudah mengalami pembusukan. Jaringan lunak pembungkus tulang akan
mulai mengalami pembusukan dan menghilang pada sekitar 4 minggu setelah
kematian. Pada masa ini tulang masih menunjukkan kesan ligamentum yang
masih melekat disertai bau busuk. Setelah 3 bulan, tulang belulang kelihatan
berwarna kuning. Setelah 6 bulan, tulang tidak lagi mempunyai kesan ligamen
dan berwarna kuning keputihan, serta tidak lagi mempunyai bau busuk.10 Dengan
demikian, tulang atau kerangka merupakan salah satu organ tubuh yang cukup

12

baik untuk identifikasi manusia karena selain cukup lama mengalami


pembusukan, tulang juga mempunyai karakteristik yang sangat menonjol untuk
identifikasi. 10,11
Upaya identifikasi pada tulang atau kerangka bertujuan untuk membuktikan
bahwa tulang tersebut adalah:
1. Apakah tulang manusia atau hewan
2. Apakah tulang berasal dari satu individu
3. Berapakah usianya
4. Berapakah umur tulang itu sendiri
5. Jenis kelamin
6. Tinggi badan
7. Ras

Gambar 2.4 Tengkorak dari Tiga Kelompok Utama (a) Kulit Putih; (b) Orang Asia; (c) Kulit
Hitam

8. Berapa lama kematian


9. Adakah ruda paksa atau deformitas tulang
10. Sebab kematian 5, 11

13

Gambar 2.5 Kematian karena Luka Tembak

Gambar 2.6 Kematian karena Gigitan Binatang Buas

Ada begitu banyak hal yang dapat diungkap dari pemeriksaan terhadap
tulang atau kerangka, dan kenyataannya bahwa tinggi badan memiliki peranan
penting dalam sebuah proses identifikasi. Pengetahuan identifikasi terhadap
tulang sangat berperan tidak hanya pada saat organ tubuh hanya tinggal tulang
belulang saja, tetapi banyak hal yang dapat diungkap dari tulang atau kerangka
tersebut pada saat masih dibaluti oleh jaringan otot, tendon dan kulit. Diantara hal
yang dapat diungkapkan pada saat tulang terbalut jaringan lunak adalah
pengukuran panjang dari tulang-tulang panjang untuk mengukur tinggi badan,
perkiraan usia korban juga dapat dilakukan dengan melihat garis epifise. Hal
tersebut tentunya dapat dilakukan dengan mengukur tulang secara langsung pada
organ tersebut ataupun dengan mengukur panjangnya organ dan melihat garis
epifise melalui pemeriksaan radiologis. 9,12,13

14

Gambar 2.7 Gambaran Radiologis Processus Olecranii Ulnae di daerah siku

Identifikasi tulang belulang atau potongan tulang maupun bagian tulang


belulang yang masih dibaluti sebagian atau seluruh jaringan kulit yang
diakibatkan oleh kasus mutilasi, gigitan binatang buas, maupun akibat lainnya
sebaiknya tidak menggunakan satu prosedur pemeriksaan identifikasi, sangat
disarankan agar semaksimal mungkin menggunakan berbagai metode identifikasi
yang ada sehingga kesimpulan yang diperoleh dapat maksimal. Dalam penentuan
tinggi badan juga sebaiknya demikian agar hasil maksimal maka disarankan untuk
menggunakan berbagai metode atau formula pengukuran yang ada.12

Gambar 2.8 Gambaran posisi titik Processus Olecranii Ulna lengan kanan bawah pada saat posisi difleksikan

15

2.8 PENENTUAN JENIS KELAMIN


Pada umumnya penentuan jenis kelamin pada orang hidup tidaklah sukar.
Hanya dari penampilan wajah, potongan tubuh, bentuk rambut, pakaian serta ciriciri seks dan pertumbuhan buah dada, kita sudah dapat mengenali apakah orang
tersebut laki-laki atau perempuan. Hanya pada kasus-kasus khusus yang jarang
terjadi, diperlukan permeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testis.
Penentuan jenis kelamin dalam kasus kriminal dimana tubuh korban rusak
oleh karena proses pembusukan atau kerusakan tersebut memang disengaja oleh
pelaku, misalnya mutilasi.
Penentuan jenis kelamin pada rangka (tulang), seperti tulang panggul,
tengkorak, tulang-tulang panjang, tulang dada, dimana yang mempunyai nilai
tinggi di dalam hal penentuan jenis kelamin adalah tulang panggul dan kemudian
tengkorak.23 Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul,
tulang tengkorak, sternum, tulang panjang serta skapula dan metakarpal. Pada
panggul, indeks isio- pubis (panjang pubis dikali seratus dibagi panjang isium)
merupakan ukuran yang paling sering digunakan. Nilai laki-laki sekitar 83,6 dan
wanita 99,5.
a. Panggul
Pemeriksaan panggul secara tersendiri tanpa pemeriksaan lain, jenis kelamin
sudah dapat ditentukan pada sekitar 90 persen kasus. Indek Ischium- pubis pada
wanita 15 persen lebih besar dari pria, ini terdapat pada lebih dari 90 persen
wanita. Indeks tersebut diukur dari ischium dan pubis dari titik dimana mereka
bertemu pada acetabulum.
Bentuk dari Greater schiatic notch, mempunyai nilai tinggi dalam
penentuan jenis kelamin dari tulang panggul, 75 persen kasus dapat ditentukan
hanya dari pemeriksaan tersebut.23

16

Gambar 2.9 Menentukan Jenis Kelamin Menggunakan Pelvis

b. Tengkorak
Untuk dapat menentukan jenis kelamin dari tengkorak, diperlukan penilaian
dari berbagai data ciri-ciri yang terdapat pada tengkorak tersebut. Ciri utama
adalah tonjolan diatas orbita (supra orbital ridges), processus mastoideus, palatum,
bentuk rongga mata dan rahang bawah.
Ciri-ciri tersebut akan tampak jelas setelah usia 14-16 tahun. Menurut
Korgman ketetapan penentuan jenis kelamin atas dasar pemeriksaan tengkorak
dewasa adalah 90 persen. Luas permukaan processus mastoideus pada pria lebih
besar dibanding wanita, hal ini dikaitkan dengan adanya insersi otot leher yang
lebih kuat pada pria.

Gambar 2.10 Penentuan Jenis Kelamin Menggunakan Tengkorak

17

Berikut adalah tabel perbandingan tengkorak pada perempuan dan laki-laki.


Tabel 2.1 Tabel Perbandingan Tengkorak Pada Perempuan dan Laki-Laki
No
1

Tanda
Ukuran, Volume

Pria

Wanita

Besar

Kecil

2
3
4
5

endokranial
Arsitektur
Tonjolan Supraorbital
Prosesus Mastoideus
Daerah oksipital, linea

Kasar
Sedang-Besar
Sedang-Besar
Tidak Jelas

Halus
Kecil- Sedang
Kecil- Sedang
Jelas/ Menonjol

Kecil
Kecil
Persegi, rendah

Besar
Besar
Bundar,tinggi relatif

relatif kecil tepi

besar tepi tajam

Dahi

tumpul
Curam kurang

Membundar penuh,

Tulang Pipi

membundar
Berat, arkus lebih ke

infantil
Ringan, lebih

Mandibula

lateral
Besar simfisinya

memusat
Kecil, dengan ukuran

tinggi,ramus

korpusnya da ramus

assendingnya lebar
Besar dan lebar

lebih kecil
Kecil, cenderung

cenderung seperti

seperti parabola

Kondilus Oksipitalis

huruf U
Besar, M1 bawah

Kecil,molar biasanya

Gigi-geligi

sering 5 kuspid

4 Kuspid

muskulares dan
6
7
8

9
10
11

12

13

Protuburensia
Eminensia frontalis
Eminensia Parietalis
Orbita

Palatum

c. Tulang Dada
Ratio panjang dari manubrium sterni dan corpus sterni menetukan jenis
kellamin. Pada wanita manubrium sterni melebihi separuh panjang corpus sterni
dan ini mempunyai ketepatan sekitar 80 persen.

18

d. Tulang Panjang
Pria pada umumnya memiliki tulang yang lebih panjang lebih berat dan
lebih kasar, serta impresinya lebih banyak. Tulang paha (Os. femur), merupakan
tulang panjang yang dapat diandalkan dalam penentuan jenis kelamin,
ketetapannya pada orang dewasa sekitar 80 persen. Konfigurasi, ketebalan, ukuran
dan caput femoris, serta bentukan dari otot dan ligamen serta perangai radiologis
perlu diperhatikan.
Tulang panjang laki-laki lebih panjang dan lebih masif dibandingkan dengan
tulang wanita dengan perbandingan 100:90. Pada tulang-tulang femur, humerus
dan ulna terdapat beberapa ciri khas yang menunjukan jenis kelamin seperti
ukuran caput dan kondilus, sudut antara caput femoris terhadap batangnya yang
lebih kecil pada laki-laki, perforasi fosa olekranii menunjukan jenis wanita, serta
adanya belahan pada sigmoid notch pada laki-laki (24).

Gambar 2.11 Penentuan Jenis Kelamin Dengan Menggunakan Os. Femur

Penentuan jenis kelamin secara histologik atau mikroskopik ini adalah


berdasarkan pada kromosom. Bahan pemeriksaan dapat diambil dari: kulit,
leukosit, sel-sel selaput lendir pipi bagian dalam, sel-sel rawan, kortex kelenjar
supra renalis dan cairan amnion.

19

Metoda yang praktis untuk kepentingan Kedokteran Forensik adalah


pemeriksaan kromosom dari biopsi kulit. Untuk maksud tersebut dipakai fiksasi:
merkuri-khlorida setengah jenuh dalam 15 persen formol-saline.
Cara lain yang lebih praktis adalah dengan melakukan pemeriksaan atas sel
PMN laukosit yaitu melihat adanya bentuk drumstick. Kemungkinan
dijumpainya drumstick pada wanita lebih banyak dibanding pria.
Pada pemeriksaan didapatkan adanya bentuk drumstick atau tidak
ditemukan adanya bentuk drumstick. Ini disebabkan adanya fakta: enam
drumstick adalah normal ditemukan pada 300 neutropil wanita, dimana untuk pria
drumstick tidak dijumpai pada 500 atau lebih.
Pemeriksaan seks-kromatin dapat dilakukan pada akar rambut, dimana pada
wanita didapatkan pada 70 persen sedang pada pria hanya 7 persen.
Pemeriksaan penentuan jenis kelamin secara histologik yang paling penting
tepat (ketepatan 100 persen) ialah pemeriksaan atas struktur inti darah putih dan
dari kulit, pemeriksaanpun dapat dikerjakan pada bahan post mortal. Adapun
ketepatan pemeriksaan pada bahan post mortal adalah 85.8 persen.
2.9 PENENTUAN UMUR
Saat terjadinya unfikasi dari diaphyses memberi hasil dalam bentuk
perkiraan. Persambungan speno occipital terjadi dalam umur 17-25 tahun. Pada
wanita saat persambungan tersebut antara 17-20 tahun. Tulang selangka
merupakan tulang panjang yang terakhir mengalami unfikasi. Unfukasi dimulai
pada umur 18-25 tahun, dan mungkin tidak lengkap sampai 25-30 tahun. Dalam
usia 31 tahun keatas unfukasi menjadi lengkap.
Tulang belakang (ossis vertebrae), sebelum 30 tahun akan menunjukkan
alur-alur yang dalam yang berjalan radier pada bagian permukaan atas dan bawah,
dalam hal ini corpus vertebrae-nya.23
Pemeriksaan terhadap pusat penulangan (osifikasi) dan penyatuan epifisis
tulang sering digunakan untuk perkiraan umur pada tahun-tahun pertama
kehidupan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan menggunakan foto radiologis atau
dengan melakukan pemeriksaan langsung terhadap pusat penulangan pada tulang.

20

Pemeriksaan terhadap penutupan sutura pada tulang-tulang atap tengkorak


guna perkiraan umur sudah lama diteliti dan telah berkembang berbagai metode,
namun pada akhirnya hampir semua ahli menyatakan bahwa cara ini tidak dapat
dipercaya/ tidak akurat dan hanya dipakai dalam lingkup dekade (umur 20-30-40
tahun) atau mid-dekade umur (25-35-45 tahun)
Pemeriksaan permukaan simfisis pubis dapat memberikan skala umur dari
18-50 tahun, baik yang dikemukakan oleh Todd maupun oleh mokern dan stewart.
Mokern dan stewart membagi simfisis pubis menjadi 3 komponen yang masingmasing diberi nilai. Jumlah nialai tersebut menunjukan umur berdasarkan tabel.
Scharanz mengajukan cara pemeriksaan tulang humerus dan femur guna
penentuan umur. Demikian pula clavicula, sternum, tulang iga dan tulang
belakang mempunyai ciri yang dapat digunakan untuk memperkirakan umur.
Nemeskeri, Harsanyi dan Ascadi menggabungkan pemeriksaan penutupan
sutura endokranial, relief permukaan simfisis pubis dan struktur spongiosa
humerus proksimal/epifise femur, dan mereka dapat menentukan umur dengan
kesalahan sekitar 2,55 tahun.

Gambar 2.12 Penentuan Usia Menggunakan Gigi Geligi

Perkiraan

umur

dari

gigi

dilakukan

dilakukan

dengan

melihat

pertumbuhan dan perkembangan gigi (intrauterin, gigi susu 6 bulan- 3 tahun,


masa statis gigi susu 3-6 tahun, geligi campuran 6-12 tahun).

21

Selain itu juga dapat digunakan metode gustafson yang memperhatikan


atrisi (keausan), penurunan tepi gusi,pembentukan dentin sekunder, semen
sekuinder, tranparansi dentin dan penyempitan atau penutupan foramen apikalis.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam menentukan umur tulang
yaitu dengan cara :
a. Tes Fisika
Seperti pemeriksaan gambaran fisik dari tulang, fluoresensi cahaya ultra
violet dapat menjadi suatu metode pemeriksaan yang berguna. Jika batang
tulang dipotong melintang, kemudian diamati ditempat gelap, dibawah
cahaya ultra violet, tulang-tulang yang masih baru akan memancarkan
warna perak kebiruan pada tempat pemotongan. Sementara yang sudah tua,
lingkaran bagian luar tidak berfluorosensi sampai ke bagian tengah.
Dengan pengamatan yang baik akan terlihat bahwa daerah tersebut
akan membentuk jalan keluar dari rongga sumsum tulang. Jalan ini
kemudian pecah dan bahkan lenyap, maka semua permukaan pemotongan
menjadi tidak berfluoresensi. Waktu untuk terjadinya proses ini berubahubah, tetapi diperkirakan efek fluoresensi ultra violet akan hilang dengan
sempurna kira-kira 100 -150 tahun.
Tes Fisika yang lain adalah pengukuran kepadatan dan berat tulang,
pemanasan secara ultra sonik dan pengamatan terhadap sifat-sifat yang
timbul

akibat pemanasan

pada kondisi tertentu. Semua kriteria

ini

bergantung pada berkurangnya stroma organik dan pembentukan dari


kalsifikasi tulang seperti pengoroposannya.

22

Keterangan gambar 2.13:


a) Tulang berumur 3 -80 tahun. Kelihatan permukaan pemotongan tulang memancarkan
warna perak kebiruan pada seluruh pemotongan.
b) Setelah satu abad atau lebih sisa fluoresensi mengerut ke pusat sumsum tulang.
c) Sebelum fluoresensi menghilang dengan sempurna pada abad berikutnya.

b. Tes Serologi
Tes yang positif pada

pemeriksaan hemoglobin

pemeriksaan permukaan tulang ataupun

yang dijumpai pada

pada serbuk tulang, mungkin

akan memberikan pernyataan yang berbeda tentang lamanya kematian


tergantung pada kepekaan dari tehnik yang dilakukan.

penggunaan

metode cairan peroksida yang hasilnya positif, diperkirakan lamanya


kematian sekitar 100 tahun. Aktifitas serologi pada tulang akan berakhir
dengan cepat

pada tulang yang terdapat di daerah berhawa panas.

Pemeriksaan dengan memakai reaksi Benzidin dimana dipakai campuran


Benzidin peroksida. Jika reaksi negatif penilaian akan lebih berarti. Jika
reaksi positif menyingkirkan bahwa tulang masih baru. Reaksi positif,
diperkirakan umur tulang saat kematian sampai 150 tahun. Reaksi ini
dapat dipakai pada tulang yang masih utuh ataupun pada tulang yang telah
menjadi serbuk. Aktifitas Immunologik ditentukan dengan metode gel
difusion technique dengan anti human serum. Serbuk tulang yang diolesi
dengan amoniak yang konsentrasinnya rendah, mungkin akan memberi
reaksi yang positif dengan serum anti human seperti reagen coombs, lama
kematian kira-kira 510 tahun, dan ini dipengaruhi kondisi lingkungan.
c. Tes Kimia
Tes Kimia dilakukan dengan metode mikro-Kjeld-hal dengan cara
mengukur pengurangan jumlah protein dan Nitrogen tulang.
tulang yang baru mengandung kira-kira

Tulang-

4,5 % Nitrogen, yang akan

berkurang dengan cepat. Jika pada pemeriksaan tulang mengandung lebih


dari 4 % Nitrogen, diperkirakan bahwa lama kematian tidak lebih dari 100
tahun, tetapi jika tulang mengandung kurang dari 2,4 %, diperkirakan
tidak lebih dari 350 tahun. Penulis lain menyatakan jika nitrogen lebih

23

besar dari 3,5 gram percentimeter berarti umur tulang saat kematian
kurang dari 50 tahun, jika Nitrogen lebih besar dari 2,5 per centimeter
berarti umur tulang atau saat kematian kurang dari 350 tahun. Inti protein
dapat dianalisa, dengan metode Autoanalisa ataupun dengan Cromatografi
dua dimensi. Tulang segar mengandung kira-kira 15 asam amino, terutama
jika yang diperiksa dari bagian kolagen tulang. Glisin dan Alanin adalah
yang terutama. Tetapi Fralin dan Hidroksiprolin merupakan tanda yang
spesifik jika yang diperiksa kolagen tulang. Jika pada pemeriksaan Fralin
dan Hidroksiprolin tidak dijumpai, diperkirakan lamanya kematian sekitar
50 tahun. Bila hanya didapatkan Fralin dan Hidroksiprolin maka perkiraan
umur saat kematian kurang dari 500 tahun. Asam amino yang lain akan
lenyap setelah beratus tahun, sehingga jika diamati tulang-tulang dari
jaman purbakala akan hanya mengandung 4 atau 5 asam amino saja.
Sementara itu ditemukan bahwa Glisin akan tetap bertahan sampai masa
1000 tahun. Bila umur saat kematian kurang dari 70 -100 tahun, akan
didapatkan 7 jenis asam amino atau lebih.

24

Gambar 2.14 : Ringkasan Kriteria Penentuan Lama Kematian dari Identifikasi Tulang

2.10 MENGUKUR INTERVAL WAKTU KEMATIAN


Memperkirakan waktu kematian sangat sulit. Biasanya diperkirakan
berdasarkan jumlah dan kondisi dari jaringan lunak seperti otot, kulit, dan
ligamen, keadaan tulang yang masih baik, luas yang berhubungan dengan
pertumbuhan akar tanaman, bau busuk, dan aktivitas karnivora maupun serangga
pada jasad. Namun banyak variabel yang harus dipertimbangkan, seperti suhu saat
kematian, luka tusuk, kelembapan, ph tanah, dan kadar air. Semakin lama waktu
kematian semakin sulit menentukan interval waktu kematian.
2.11 TINGGI TUBUH MANUSIA
Struktur tubuh manusia disusun atas berbagai macam organ yang tersusun
sedemikian rupa satu dengan lainnya, sehingga membentuk tubuh manusia
seutuhnya, dan kerangka adalah struktur keras pembentuk tinggi badan.(14)

25

Gambar 2.15 Kerangka Tubuh Manusia Tampak Depan dan Belakang

Proses pertumbuhan dimulai sejak terjadi konsepsi dan berlangsung terusmenerus sampai umur dewasa , kemudian stabil dan pada usia relatif tua akan
kembali berkurang. Pada saat sesudah dilahirkan, umur dapat diperkirakan sesuai
dengan pertumbuhan dan perkembangan badan, antara lain bayi, balita, anakanak, dewasa muda. Pada janin, bayi baru lahir dan anak-anak sampai masa puber
umur dapat ditentukan berdasarkan tinggi (panjang) dan berat badan. Beberapa
faktor harus dipertimbangkan antara lain keturunan, bangsa, gizi dan lain-lain.
Namun pada orang dewasa penentuan umur berdasarkan tinggi badan dan berat
badan tidak dapat dipergunakan lagi.2, 15
2.12 PERKIRAAN TINGGI BADAN
Disebutkan bahwa tubuh manusia dibangun berdasarkan susunan struktur
tulang atau kerangka tubuh manusia.16,17 Berdasarkan hal tersebut, maka diyakini
bahwa tinggi badan tubuh manusia diyakini erat hubungannya dengan ukuran dari
panjang tulang-tulang tersebut. Disebutkan bahwa ukuran panjang tulang-tulang

26

panjang memiliki hubungan yang signifikan dalam memperkirakan tinggi badan


manusia.
Sering sekali autopsi yang dilakukan oleh ahli forensik tidak dilakukan
terhadap tubuh yang masih utuh, tetapi sudah dalam keadaan rusak atau
terpotong-potong. Dalam autopsi yang dilakukan terhadap tubuh-tubuh yang tidak
lagi sempurna atau utuh, teori ataupun rumus yang menyatakan tentang hubungan
panjang tulang-tulang tertentu dengan tinggi badan merupakan acuan yang tidak
lagi dapat dipungkiri.17,18,19,20
Tulang-tulang panjang yang terdapat dalam tulang atau kerangka tubuh
manusia meliputi humerus, radius, ulna, femur, tibia dan fibula 13,20 ruas lengan
dibangun atas tulang-tulang panjang seperti humerus pada ruas lengan atas dan
radius dan ulna pada ruas lengan bawah.19,20,21
Dalam memperkirakan tinggi badan seseorang, maka harus diperhatikan
bahwa pembentukan tinggi badan seseorang yang memang sudah dimulai sejak
masih dalam kandungan (intra uterin), dan pertumbuhan tinggi badan tersebut
akan terus bertambah ukurannya hingga usia sekitar 20-21 tahun. Setelah usia
tersebut tidaklah terlalu signifikan pertumbuhan tinggi badan dan akan berkurang
seiring dengan pertambahan umur.5,16,22
Selain yang disebutkan diatas, perlu diperhatikan pula tentang tinggi badan
yang masih akan mengalami perpanjangan pada beberapa hal, seperti: bahwa
pertumbuhan maksimum akan terjasi pada usia 21-25 tahun usia seseorang, dapat
terjadi pertambahan tinggi badan 1-3 cm, dan pada jenazah akan terjadi
pertambahan panjang badan selama fase relaksasi primer (sepanjang 1,5 cm pada
pria dan 2 cm pada wanita).3,6
Disisi lain pula ternyata tinggi badan dapat mengalami penurunan atau
pengurangan dalam hal: pertambahan usia setelah 25 tahun akan mengakibatkan
terjadinya pengurangan tinggi badan sebanyaj sekitar 1 mm pertahun, pada saat
sore dan malam hari terjadi pengurangan tinggi badan sekitar 1,5 cm
dibandingkan dengan pada saat pagi hari, ini disebabkan terjadinya penurunan
elastisitas dan peningkatan kekuatan otot tulang punggung belakang pada waktu
sore atau malam hari, pada posisi berdiri badan mengalami pengurangan

27

dibandingkan pada posisi telanjang atau berbaring, pada tubuh mayat, dapat terjasi
pengurangan panjang badan selama terjadinya kaku mayat (rigor mortis).3,16
Pada keadaan tubuh yang tidak lagi utuh dapat di perkirakan tinggi badan
secara kasar, yaitu dengan: 2,5
a. Mengukur jarak kedua ujung jari tengah kiri dan kanan pada saat
direntangkan secara maksimum, akan sama dengan ukuran tinggi badan.
b. Mengukur panjang dari pucak kepala (Vertex) sampai symphisis pubi kali
2 ataupun ukuran panjang dari symphisis pubis sampai ke salah satu
tumit, dengan posisi pinggang dan kaki direngang serta tumit dijanjikan.
c. Mengukur panjang salah satu lengan (diukur dari salah satu ujung jari
tengah sampai ke acromion di klavikula pada sisi yang sama) dikali dua
(cm), lalu ditambah lagi 34 cm (terdiri dari 30 cm panjang 2 buah
klavikula dan 4 cm lebar dari manubrium sterni/sternum).
d. Mengukur panjang dari lekuk diatas sternum (sterni notch) sapai
symphisis pubis lali dikali 3,3.
e. Mengukur panjang ujung jari tengah sampai ujung olecranon pada satu
sisi yang sama, lalu dikali 3,7.
f.

Panjang femur dikali 4.

g. Panjang humerus dikali 6.


Bila pengukuran dilakukan pada tulang-tulang saja, maka dilakukan
penambahan 2,5 sampai 4 cm untuk mengganti jarak sambungan dari sendi-sendi.
Ketika sendi-sendi tidak lagi didapat, maka perhitungan tinggi badan dapat
dilakukan dengan mengukur tulang-tulang panjang dengan menggunakan
beberapa formula yang ada.2,16,21 Ketebalan bagian tulang rawan yang hilang ratarata adalah

28

Tabel 2.2 Perkiraan rata-rata kehilangan tulang rawan


Tulang
Ujung Atas
Ujung Bawah
Total
Femur
2,0 mm
2,5 mm
4,5 mm
Humerus
1,5 mm
1,3 mm
2,8 mm
Tibia
3,0 mm
1,5 mm
4,5 mm
Radius
1,5 mm
1,0 mm
2,5 mm

Maka harus ditambah


7,1 mm
4,1 mm
6,2 mm
3,2 mm

Gambar 2.16 Struktur Ruas Lengan Kanan

Bila yang diukur adalah tulang yang dalam keadaan kering, maka umumnya
telah terjadi pemendekan sepanjang 2 millimeter (mm) dibanding dengan tulang
yang segar, yang tentunya hal tersebut harus diperhatikan dalam melakukan
perhitungan tinggi badan.(1) Dalam mencari tinggi badan sebenarnya, perlu
diketahui pula bahwa rata-rata tinggi badan laki-laki lebih besar dari perempuan,
maka perlu ada rumus yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Apabila tidak
dibedakan, maka perhitungan ratio laki-laki:perempuan adalah 100:90.1,2
Dibawah ini akan dijabarkan beberapa formula yang ada tentang
perhitungan perkiraan tinggi badan oleh beberapa ahli:

29

A. Formula Karl Pearson


Formula ini telah dipakai luas diseluruh dunia sejak lama. Formula ini
membedakan formula untuk laki-laki dan perempuan untuk subjek orang-orang
Eropa dengan melakukan pengukuran pada tulang-tulang panjang yang kering.
Laki-laki
1. Tinggi badan = 81,306 + 1,88 x F1
2. Tinggi badan = 70,641 + 2,894 x H1
3. Tinggi badan = 78,6674 + 2,376 x T1
4. Tinggi badan = 85,925 + 3,271 x R1
5. Tinggi badan = 71,272 + 1,159 x (F1 + T1)
6. Tinggi badan = 71,443 + 1,22 x (F1 + 1,08 x T1)
7. Tinggi badan = 66,855 + 1,73 x (H1 + R1)
8. Tinggi badan = 69,788 + 2,769 x (H1 + 0,195 x R1)
9. Tinggi badan = 68,397 + 1,03 x F1 + 1,557 x H1
10. Tinggi badan = 67,049 + 0,913 x F1 + 0,6 x T1 + 1,225 x H1 0,187 x R1
Perempuan
1. Tinggi badan = 72,844 + 1,945 x F1
2. Tinggi badan = 71,475 + 2,754 x H1
3. Tinggi badan = 74,774 + 2,352 x T1
4. Tinggi badan = 81,224 + 3,343 x R1
5. Tinggi badan = 69,154 + 1,126 x (F1 + T1)
6. Tinggi badan = 69, 154 + 1,126 x (F1 + 1,125 x T1)
7. Tinggi badan = 69,911 + 1,628 x (H1 + R1)
8. Tinggi badan = 70,542 + 2,582 x (H1 + 0,281 x R1)
9. Tinggi badan = 67,435 + 1,339 x F1 + 1,027 x H1
10. Tinggi badan = 67,469 + 0,782 x F1 + 1,12 x T1 + 1,059 x H1 0,711 x R1
Nota: F1 Panjang maksimal tulang paha (Femur)
H1 Panjang maksimal tulang lengan atas (Humerus)
R1 Panjang maksimal tulang pengumpil (Radius)
T1 Panjang maksimal tulang kering (Tibia)

30

B. Formula Trotter-Glesser
Formula ini memakai subjek penelitian orang-orang Amerika kulit hitam
(negro) dan kulit hitam dan kulit putih yang berusia anatara 18-30 tahun baik
laki-laki maupun perermpuan. Pertama sekali diteliti pada tahun 1952 oleh Trotter
dan kemudian disempurnakan oleh Krogman dan Iscan pada tahun 1977.
Tabel 2.3 Formula Trotter-Glesser (1952)
Male Whites
Strature = 63,05 + 1,31 (Femur + Fibula) +
3,63 cm
Strature = 67,09 + 1,26 (Femur + Tibia) +
3,74 cm
Strature = 75,50 + 2,60 Fibula + 3,86 cm
Strature = 65,53 + 2,32 Femur + 3,94 cm
Strature = 81,93 + 2,22 Tibia + 4,00 cm
Strature = 67,97 + 1,82 (Humerus + Radius)
+ 4,31 cm
Strature = 66,98 + (Humerus + Ulna) + 4,37
cm
Strature = 78,10 + Humerus + 4,57 cm
Strature = 79,42 + 3,79 Radius + 4,66 cm
Strature = 75,55 + 3,76 Ulna + 4,72 cm

Male Negroes
Strature = 67,77 + 1,20 (Femur + Fibula) +
3,63 cm
Strature = 71,75 + 1,15 (Femur + Tibia) +
3,68 cm
Strature = 72,22 + 2,10 Femur + 3,91 cm
Strature = 85,36 + 2,19 Tibia + 3.96 cm
Strature = 80,07 + 2,34 Fibula + 4,02 cm
Strature = 73,08 + 1,66 (Humerus + Radius)
+ 4,23 cm
Strature = 70,67 + 1,65 (Humerus + Ulna) +
4,23 cm
Strature = 75,48 + 2,88 Humerus + 4,23 cm
Strature = 85,43 + 3,32 Radius + 4,57 cm
Strature = 82,77 + 3,20 Ulna + 4,74 cm

Tabel 2.4. Krogman dan Iscan (1977)


Male Whites
Strature = 50,12 + 0,68 Humerus + 1,17
Femur + 1,15 tibia + 3,51 cm
Strature = 53,20 + 1,39 (Femur + Tibia) +
3,55 cm
Strature = 53.07 + 1,48 Femur + 1,28 Tibia +
3,55 cm
Strature = 59,61 + 2,93 Fibula + 3,57 cm
Strature = 61,53 + 2,90 Tibia + 3,66 cm

Male Negroes
Strature = 57,33 + 0,44 Humerus 0,20
Radius + 1,46 Femur + 0,86 Tibia + 3,22 cm
Strature = 58,54 + 1,53 Femur + 0,96 Tibia +
3,28 cm
Strature = 59,72 + 1,26 (Femur + Tibia) +
3,28 cm
Strature = 59,76 + 2,28 Femur + 3.41 cm
Strature = 62,80 + 1,08 Humerus + 1,79 Tibia
+ 3,58 cm
Strature = 52,77 + 1,35 Humerus + 1,95 Strature = 72,65 + 2,45 Tibia + 3,70 cm
Tubia + 3,67 cm
Strature = 54,10 + 2,47 Femur + 3,72 cm
Strature = 70,90 + 2,49 Fibula + 3,80 cm
Strature = 54,93 + 4,74 Radius + 4,24 cm
Strature = 64,67 + 3,08 Humerus + 4,25 cm
Strature = 57,76 + 4,27 Ulna + 4,20 cm
Strature = 75,38 + 3,31 Ulna + 4,83 cm
31

Strature = 57,97 + 3,36 Humerus + 4,45 cm

Strature = 94,51 + 2,75 Radius + 5,05 cm

C. Formula Trotter-Gleser (1968)


Formula yang dipopolerkan dalam buku Martin-Knussmann (1988) ini
memakai subjek penelitian kelompok laki-laki ras mongoloid.
TB = 2,68 x (H1) + 83,2 + 4,3
TB = 3,54 x (R1) + 82,0 + 4,6
TB = 3,48 x (U1) + 77,5 + 4,8
TB = 2,15 x (F1) + 72,6 + 3,9
TB = 2,39 x (T1) + 81,5 + 3,3
TB = 1,67 x (H1 + R1) + 74,8 + 4,2
TB = 1,68 x (H1 + U1) + 71,2 + 4,1
TB = 1,22 x (F1 + T1) + 70,4 + 3,2
TB = 1,22 x (F1 + Fi1) + 70,2 + 3,2
Nota: Angka dengan tanda + adalah nilai Standard Error, yang dapat
dikurangi atau ditambah pada nilai yang diterima dari kalkulasi. Makin kecil
SE, makin tepat taksiran menurut rumus regresi.

D. Formula Dupertuis dan Hadden


Merupakan formula yang didasarkan atas penelitian terhadap tulangtulang panjang orang Amerika.
Tabel 2.5 Formula Dupertuis dan Hadden
Men
Cm
Women
2,238 (Femur)
+ 69,089 2,317 (Femur)
2,392 (Tibia)
+ 81,688 2,533 (Tibia)
2,970 (Humerus)
+ 73,570 3,144 (Humerus)
3,650 (Radius)
+ 80,405 3,876 (Radius)
1,225 (Femur + Tibia)
+ 69,294 1,233 (Femur + Tibia)
1,728 (Humerus +
+ 71,429 1,984 (Humerus +
Radius)
Radius)
1,422 (Femur) + 1,062
+ 66,544 1,657 (Femur) + 0,879
(Tibia)
(Tibia)
1,789 (Humerus) + 1,841 + 66,400 2,164 (Humerus) + 1,525

Cm
+ 61,412
+ 72,572
+ 64,977
+ 73,502
+ 65,213
+55,729
+ 59,259
+ 60,344

32

(Radius)
1,928 (Femur) + 0,568
(Humerus)
0,083 (Humerus) + 0,480
(Radius)

+ 64,505
+ 56,006

(Radius)
2,009 (Femur) + 0,566
(Humerus)
1,544 (Femur) + 0,764
(Tibia) + 0,126
(Humerus) + 0,295
(Radius)

+ 57,600
+ 57,495

E. Formula Telkka
Merupakan formula yang
orang Finisia.
Tabel 2.6 Formula Telkka
Men
169,4 + 2,8 (Humerus 32,9)
169,4 + 3,4 (Radius 22,7)
169,4 + 3,2 (Ulna 23,1)
169,4 + 2,1 (Femur 45,5)
169,4 + 2,1 (Tibia 36,6)
169,4 + 2,5 (Fibula 36,1)

didasarkan dari pemeriksaan terhadap orangSE


5,0
5,0
5,2
4,9
4,6
4,4

Women
156,8 + 2,7(Humerus 30,7)
156,8 + 3,1 (Radius 20,8)
156,8 + 3,3 (Ulna 21,3)
156,8 + 1,8 (Femur 41,8)
156,8 + 1,9 (Tibia 33,1)
156,8 + 2,3 (Fibula 32,7)

SE
3,9
4,5
4,4
4,0
4,6
4,5

F. Formula Parikh
Formula ini didasarkan atas pemeriksaan terhadap tulang-tulang kering.
Tabel 2.7 Formula Parikh
Laki-Laki
TB(cm) = humerus x 5.31

Perempuan
TB (cm) = humerus x 5.31

TB(cm) = radius x 6.78

TB (cm) = Radius x 6.70

TB(cm) = Ulna x 6.00

TB (cm) = Ulna x 6.00

TB (cm) = Femur x 3.82

TB (cm) = Femur x 3.80

TB (cm) = Tibia x 4.49

TB (cm) = Tibia x4.46

TB (cm) = Fibula x 4.46

TB (cm) = Fibula x 4.43

G. Formula Mohd. Som dan Syef Abdul Rahman

33

Formula hasil kajian Mohd.Dom(tahun 1990) dan Syeh Abdul Rahman


(tahun 1991) di malaysia ini didasarkan ataspenelitian terhadap jenis kelamin
laki-laki dari 3 suku bangsa terbesar di Malaysia.
Tabel 2.8 Formula Mohd.Som dan Syed Abdul Rahman
Lelaki Melayu
Lelaki Cina
Y = 2.44 H +101.6
Y = 2.48 H +101.9
Y = 1.96 R + 117.9
Y = 3.05 R + 91.8
Y=1.86 U + 119.1
Y = 1.49 U + 130.0
Y = 1.30 T +122.5
Y = 1.95 T + 97.7
Y=0.93 F + 133.0
Y = 1.35 F + 117.5
Y= 1.16 Fi + 127.1
Y = 1.68 Fi +108.5
Lelaki India
Y = 3.71 H + 69.3
Y = 5.32 R + 35.5
Y = 6.86 U + (-7.4)
Y = 2.72 T + 70.2
Y = 2.59 F + 71.3
Y = 2.15 Fi + 92.4

Pengertian
Y = Anggaran Ketinggian (cm)
H = Panjang humerus (cm)
R= Panjang radius (cm)
U = Panjang ulna (cm)
T = Panjang tibia (cm)
F = Panjang femur (cm)

H. Formula Antropologi Ragawi UGM


Merupakan formula perkiraan tinggi badan untuk jenis kelamin pria
orang dewasa suku Jawa
Tinggi badan
Tinggi badan
Tinggi badan
Tinggi badan
Tinggi badan
Tinggi badan
Tinggi badan
Tinggi badan

897 + 1.74 y (femur kanan)


822 + 1.90 y (femur kiri)
879 + 2.12 y (tibiakanan)
847 +2.22 y (tibia kiri)
867 + 2.19y (fibula kanan)
883 + 2.14 (fibula kiri)
847 + 2.60 (humerus kanan)
805 +2.74 ( humerus kiri)

I. Formula Djaja Surya Atmadja


Merupakan formula yang dilakukan oleh Jaya terhadap orang dewasa
yang hidup, panjang tulang-tulang panjang diukurdari luar tubuh, berikut kulit
di luarnya.
Pria

: TB = 72,9912 + 1,7227 (tib) + 0,7545 (fib) ( 4,2961 cm)


34

TB = 75,9800 + 2.3922 (tib) ( 4,3572 cm)


TB = 80,8078 + 2,2788 (fib) ( 4,6186)
Wanita : TB = 71,2817 + 1,3346 (tib) + 1,0459 (fib)( 4,8684)
TB = 77,4717 + 2,1889 (tib) ( 4,9526)
TB = 76,2772 + 2,2522 (fib) ( 5,0226)

J. Formula Amri Amir


Formula yang dibuat oleh Prof.dr.Amri pada tahun 1989 ini dibuat
berdasarkan pemeriksaan terhadap orang hidup pada laki-laki dan perempuan
dewasa muda.
Tabel 2.10 Formula Amri Amir Rumus regresi hubungan tinggi badan dengan
tulang panjang pada laki-laki dengan nilai r2 untuk masing-masing tulang
N
Tulang
Rumus Regresi
r2
o
1
Humerus
1.34 x H + 123.43
0.22
2
Radius
3.13 x Ra + 87.91
0.45
3
Ulna
2.88 x U + 91.27
0.43
4
Femur
1.42 x Fe + 109.28
0.30
5
Tibia
1.12 x T + 124.88
0.23
6
Fibula
1.35 x Fi + 117.20
9.29
Tabel 2.11 Formula Amri Amir Rumus regresi hubungan tinggi badan dengan
ukuran beberapa bagian tubuh pada laki-laki dengan nilai r2 untuk masng-masing
tulang :
No
Bagian Tubuh
Rumus Regresi
r2
1
Rentang tangan
0.64 x RT + 56.98
0.62
2
Lengan
0.99 x L +89.01
0.46
3
Lengan bawah
1.81 x LB + 83.65
0.52
4
Symphisis kaki
1.09 x SK + 71.59
0.62
5
Dagu vertex
2.47 x DV + 104.53
0.14
6
Clavicula
2.27 x C + 130.30
0.14
Keterangan : Panjang lengan bawah diukur jarak antara olecranon sampai ke ujung jari tangan tengah

Tabel 2.12 Formula Amri Amir Rumus regresi hubungan tinggi badan dengan
tulang panjang pada wanita dengan nilai R2 untuk masing-masing tulang :
No Tulang
Rumus Regresi
r2
35

1
2
3
4
5
6

Humerus
Radius
Ulna
Femur
Tibia
Fibula

1.46 x H + 111.3
1.50 x Ra + 119.58
2.85 x U + 86.75
0.79 x Fe + 124.67
1.33 x T +110.70
1.71 x Fi + 99.20

0.32
0.30
0.46
0.17
0.26
0.36

Tabel 2.13 Formula Amri Amir Rumus regresi hubungan tinggi badan dengan
ukuran beberapa bagian tubuh pada wanita dengan nilai R2 untuk masing-masing
tulang
No Bagian Tubuh
Rumus Regresi
r2
1
Rentang tangan
0.64 x RT + 53.64
0.69
2
Lengan
0.87 x L + 92.65
0.39
3
Lengan bawah
1.83 x LB + 78.36
0.44
4
Symphisis kaki
0.98 x SK + 76.92
0.56
5
Dagu vertex
0.49x DV + 143.30
0..02
6
Clavicula
2.15 x C + 124.58
0.27

K. Formula India
Faktor perkalian untuk menentukan tinggi badan pada orang dibeberapa
negara bagian India oleh beberapa peneliti India
Tabel 2.14 Formula Perkalian Penentuan Tinggi Badan di India
Multiplication factor to get the stature
For Bengal,binhar and For U.P Nat
For Punjabi
Orissa, Pan (1924)
(1931)
Siddiqui&
Bones
Shah (1944)
Male
Female
Male
Female
Femur
3.82
3.8
3.7
3.6
Tibia
4.49
4.46
4.48
4.2
Fibula
4.46
4.43
4.48
4.4
Humerus
5.31
5.31
5.3
5.0
Radius
6.78
6.7
6.9
6.3
Ulna
6.0
6.0
6.3
6.0

36

BAB III
KESIMPULAN
1. Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu
kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan
penegakan hukum serta keadilan. Dalam istilah lain, ilmu kedokteraan forensik
juga dikenal dengan nama legal medicine
2. Identifikasi adalah salah satu usaha untuk mengetahui identitas seseorang
melalui sejumlah ciri yang ada pada orang tak dikenal. Identifikasi mempunyai
arti penting baik ditinjau dari segi untuk kepentingan forensik maupun nonforensik.
3. Upaya identifikasi pada tulang belulang bertujuan membuktikan bahwa
kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur,
tinggi badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan dapat
dilakukan rekontruksi wajah orang tersebut. Dicari pula tanda kekerasan pada

37

tulang. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan


kekeringan tulang.
4. Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi
personal sering merupakan masalah dalam kasus pidana maupun perdata.
Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari,
visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, medik,gigi, serologik dan secara
eksklusi, identifikasi kerangka dan potongan tubuh manusia. Akhir-akhir ini
dikembangkan pula metode identifikasi DNA.
5. Penentuan jenis kelamin dapat dilihat berdasarkan tulang panggul, tengkorak,
tulang dada serta tulang panjang, sedangkan untuk penentuan umur dapat
dilakukan dengan metode fisika, serologi dan kimia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto A., Widiatmaka W., Atmaja D.S., dkk. Identifikasi Forensik.
Dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik FK-UI.
Jakarta. 1999: 197-202.
2. Amir A. Identifikasi. Dalam: Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi
Kedua. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK-USU. Meda. 2005: 178-203.
3. Hamdani N. Identifikasi Mayat. Dalam: Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi
Kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1992: 83-88.
4. William D.J., Ansford A.J., Friday D.D., et all. Identification. In: Dcolour
Guide Forensic Phatology. Churchill Livingstone. 2002: 13-20.
5. Nandy A. Identification of An Individual. In: Principles of Forensic Medicine.
New Central Book, Agency (P) Ltd. Calcutta. 1996: 47-109.
6. Glinka J., Artaria M.D., Koesbardiati T. Metode Pengukuran Manusia.
Airlangga University Press. Surabaya. 2008: 1-66.

38

7. Krogman W.M., Iscan M.Y. Osteometry. In: The Human Skeleton In Forensic
Medicine. Charkes C. Thomas Publisher. Illionis. 1986: 518-532.
8. Ishaq M. DVI Overview: Recent Development in Indonesia. Dalam Disaster
Victim Identification Workshop. Medan. 2007.
9. Idries A.M. Identifikasi. Dalam Pedoman Ilmu Kedokteran Forensil. Edisi
Pertama. Binarupa Aksara. 1992: 31-52.
10. Wahid S.A. Identifikasi. Dalam: Patologi Forensik. Dewan Bahasa dan
Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia. Kuala Lumpur. 1993: 13-48, 5678.
11. Curran W.J., McGarry A.L. Petty C.S Identification Procedures in Death
Ivestigation. In: Modern Legal Medicine, Psychiatry, and Forensic Science.
F.A. Davis Company. Philadelphia. 1980: 1206-1220.
12. Parikh C.K. Medicolegal Autopsy. In: Mediculegal Postmortem In India.
Medical Publications. Bombay. 1985: 1-17.
13. Snell R.S. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Bagian 2. Edisi 3
Alih Bahasa Adji Dharma, Mulyani. EGC. Jakarta. 1998: 113-270.
14. Mcminn R.M.H., Hutchings R.T., Pegington J., et all. A Colour Atlas of
Human Anatomy. Third Edition. Wolfie. 1993: 99-154.
15. Chacha P.V. Identifikasi. Dalam: Catatan Kuliah Ilmu Forensik dan
Toksikologi. Edisi V. Alih Bahada Johan Hutauruk. Widya Medika. Jakarta.
1995: 24-45.
16. Byers S.N. Basics of Human Osteology and Odontology. In: Introduction to
Forensic Anthropology. Third Edistion. Boston. 2008: 28-59.
17. Iscan. M.Y., Kennedy K.A.R. Skeletal Markers of Occupational Stress. In:
Recontruction of Life from The Skeleton. Alan R. Liss, Inc. New York. 1989:
129-160.
18. El Najjar M.Y., McWilliams K.R. Forensic Anthropology. Charles C. Thomas
Publisher. Illionis. 1978: 83-105.
19. Ludwig J. Skeletal System. In: Handbook of Autopsy Practice. Third Edition.
Humana Press. New Jersey. 2002: 95-99.

39

20. Mestri S.C. Examination of Skeletal Remain. In: Manual of Forensic


Medicine. Jaypee Brothers Medical Publishers PVT. Ltd. New Delhi. 1994:
45-48.
21. Mann G.T., Jordan T.D. Anatomy of The Extremities. In: Personal Injury
Problems. Charles C. Thomas Publisher. Illinois. 1963: 86-101.
22. DiMaio V.J.M., Dana S.E. Intoduction to Medicolegal Case Work. In:
Handbook of Forensic Pathology. Landes Bioscience. Texas. 1998: 1-11.
23. Idries, A.M., Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Bab I Visum
et Repertum dan Bab II Identifikasi. PT Binarupa Aksara. Jakarta. Indonesia.
1989.
24. Anonim. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta
25. Fajar, Bayu dkk. Antropologi Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Riau. 2009.

40

Anda mungkin juga menyukai