Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

PENCEMARAN SUNGAI DI DAERAH JATISRONO

Disusun Oleh :
Sri Rahayu (6411414102)
Rombel 65

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

TAHUN 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan laporan makalah dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Lingkungan Hidup dengan judul Pencemaran Air Sungai di Daerah Jatisrono.
Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini penulis akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang penulis miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu penulis mengharapkan para pembaca untuk bersedia
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 2015

Penulis

ii

Daftar Isi
Halaman Judul................................................................................................................... i
Kata Pengantar................................................................................................................. ii
Daftar Isi.......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang.............................................................................................................. 1
B.Rumusan Masalah......................................................................................................... 2
C.Tujuan........................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Lingkungan................................................................................................. 3
2. Pengertian Pencemaran Lingkungan............................................................................ 4
3. Pengertian Pencemaran Sungai.................................................................................... 6
4. Sumber Pencemaran Air Sungai
di Jatisrono dan Dampaknya.......................................................................................... 8
5. Solusi untuk Menanggulangi
Pencemaran Sungai di daerah Jatisrono....................................................................... 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................................ 13
B. Saran.......................................................................................................................... 13
Daftar Pustaka................................................................................................................. 14
Lampiran......................................................................................................................... 15

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam
maupun lingkungan sosial. Kita memerlukan sumber daya alam dari ingkungan untuk
memenuhi kebutuhan. Kebutuhan sandang, pangan, papan semuanya memerlukan
lingkungan.
Namun dalam pemanfaatan sumber daya tersebut, terkadang manusia tidak
memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan. Dan serakah dalam pemanfaatan lingkungan
tersebut. Sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan dan pencemaran
lingkungan. Dan akhirnya berdampak pada manusia itu sendiri. Sehingga akan mengancam
kelestarian makhluk hidup di dalamnya termasuk manusia.
Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk
diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa
berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita.
Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.
Pencemaran lingkungan ini ada bermacam macam dan salah satunya adalah pencemaran air
sungai. Pencemaran sungai mungkin tidak asing lagi bagi kita, saat ini banyak sungai yang
tercemar karena perilaku manusia yang tidak peduli lingkungan. Salah satu contohnya adalah
pencemaran sungai di daerah Jatisrono. Keadaan sungai disana bisa dibilang cukup miris dan
tercemar. Masyarakat di daerah tersebut mayoritas bersikap acuh dan tidak peduli akan
lingkungannya, sehingga perlu adanya solusi untuk mengatasi pencemaran sungai agar tidak
semakin parah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi lingkungan ?
2. Apa definisi pencemaran lingkungan?
3. Apa definisi pencemaran sungai?

4. Apa penyebab dari pencemaran lingkungan sungai di Jatisrono dan bagaimana


dampaknya?
5. Bagaimana solusi atau cara menanggulangi pencemaran sungai?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi lingkungan air
2. Untuk mengetahui definisi pencemaran lingkungan
3. Untuk mengetahui definisi pencemaran sungai
4. Untuk mengetahui penyebab pencemaran sungai di Jatisrono beserta dampaknya
5. Untuk mengetahui cara penanggulangan pencemaran sungai

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Lingkungan
Lingkungan merupakan sebuah kata yang sangat failiar ditelinga kita. Dalam kehidupan
sehari-hari, kata lingkungan sering diucap dan didengar. Biasanya, kata lingkungan

digunakan untuk menyatakan sesuatau yang ada disekitar makhluk hidup. Baik itu berupa
orang,alam ataupun sebuah keadaan sosial.
Menurut Darsono (1992), lingkungan merupakan semua benda atau kondisi dimana
manusia dan aktivitasnya termasuk didalamnya, yang terdapat didalam ruang dimana manusia
tersebut mempengaruhi kelangsungan hidupnya. Jadi, semua hal termasuk manusia
merupakan lingkungan dan perubahan diantara keduanya akan saling mempengaruhi satu
sama lain.
Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya,
yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan
kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.
Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala
sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.
Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan
perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lainnya.
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Unsur Hayati (Biotik)
Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup,
seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun
sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam
kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
b. Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang
merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial.
Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang
diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
c. Unsur Fisik (Abiotik)
Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak
hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Lingkungan air sendiri terdiri dari
lingkungan laut, lingkungan danau dan lingkungan sungai. Keberadaan lingkungan fisik
sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan,
apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja
3

kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana
kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur,
munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.
2.

Pengertian Pencemaran lingkungan


Pencemaran, menurut SK Menteri

Kependudukan

Lingkungan

Hidup

No

02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat,energi, dan/atau


komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh
kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak
dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas
industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran
lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas
kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak
menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya.
Pada saat ini, pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan laju yang
sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan
masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat.

Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi:

Pencemaran Air.

Pencemaran Udara.

Pencemaran Tanah.
2.1. Macam-macam Pencemaran Lingkungan
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pencemaran lingkungan dibagi menjadi tiga
yaitu :
1) Pencemaran Air
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air
seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam
seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar
terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat
disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya
kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan
(sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang
mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh

ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam
berat, toksinorganik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal,
terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen
dalam air.
2) Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansifisik, kimia, atau biologi di
atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan,
mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia.
Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya
dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara
dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.
Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar
primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara.
Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan
hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari
reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia
adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.
Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini
pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan
hubungannya denganpemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer
semakin meningkat.
3) Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah
cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air
permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan
pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta
limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal
dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat
menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke
dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah
tersebut dapat berdampak langsung kepadamanusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari
air tanah dan udara di atasnya.
5

3. Pengertian Pencemaran Sungai


Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mulai terasa pengaruhya pada usaha
memperluas kegiatan pertanian dan industri di berbagai tempat di dunia, secara alamiah
sumber-sumber air merupakan kekayaan alam yang dapat di perbaharui dan yang mempunyai
daya generasi yang selalu dalam sirkulasi. Air sebagai sumber daya kini lebih di dasari
merupakan salah satu unsure penentu di dalam ikut mencapai keberhasilan pembangunan
termasuk pula terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan lingkungan.
Pada masa sekarang ini, nampaknya sulit untuk memperoleh air yang betul-betul murni,
aliran air dari gunung yang di perkirakan paling bersih pun akan membawa mineral-mineral,
gas-gas berlarut dan zat-zat organik dari tumbuhan atau binatang yang hidup di dalam atau
dekat aliran tersebut, selain itu aktifitas manusia merupakan salah satu yang menyebabkan
timbulnya masalah-masalah pencemaran air di dalam ekosistem air.
Menurut SK menteri Kependudukan Lingkungan Hidup no. 02/MENKLH/1988.
Pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan / atau
berubahnya tatanan (komposisi air) oleh kegiatan manusia dan proses alam sehingga kualitas
air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukanya.
Pencemaran air sungai terjadi apabila dalam sungai tersebut terdapat bahan yang
menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak di harapkan baik yang bersifat fisik, kimiawi,
maupun biologis sehingga air sungai tersebut kualitasnya menurun dan berkurang nilai
gunanya yang dapat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di sekitarnya.
Menurut Diryanto (2004:73) pencemaran merupakan sebuah siklus yang selalu berputar
dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya.
Pada hakikatnya antara aktifitas manusia dan timbulnya pencemaran terdapat hubungan
melingkar berbentuk siklus. Agar dapat hidup dengan baik manusia beradaptasi dengan
lingkunganya dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia mengembangkan teknologi,
akibat sampingan dari pengembangan teknologi adalah bahan pencemaran yang menyebabkan
terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini merupakan stimulus agar
manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Pada saat ini pencemaran terhadap lingkungan berlangsung dimana-mana dengan laju yang
sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan
masukya logam berat.
Dalam PP No. 20/1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air
didefinisikan sebagai : Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup,
zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiaan manusia sehingga kualitas air

turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya.
Indikator atau tanda bahwa air telah tercemar adalah adanya perubahan atau tanda-tanda yang
dapat diamati:
Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat
kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahan warna, bau dan

rasa
Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat kimia

yang terlarut, perubahan pH


Pengamatan secara biologis,

yaitu

pengamatan

pencemaran

air

berdasarkan

mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen.
Indikator yang umum diketahui pada pemeriksaan pencemaran air adalah pH atau
konsentrasi ion hydrogen, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen, DO), kebutuhan oksigen
biokimia (Biochemiycal Oxygen Demand, BOD) serta kebutuhan oksigen kimiawi (Chemical
Oxygen Demand, COD).
4. Sumber Pencemaran Air Sungai di Jatisrono dan Dampaknya
Sungai di daerah Jatisrono merupakan sungai yang tidak lebar namun terbentang
panjang dan mengalir di sepanjang kecamatan Jatisrono. Sungai ini mengalir dari Gunung,
melewati kelurahan plalar, kelurahan slogoretno, kelurahan tawangsari, kelurahan tanjungsari
dan beberapa kelurahan lain serta bermuara di Waduk Gajah Mungkur. Keadaan sungai di
Jatisrono memang bisa dibilang cukup memprihatinkan. Kurangnya perhatian dan kesadaran
masyarakat terhadap keadaan sungai di sekitar membuat pencemaran di sungai ini semakin
parah.
Sumber pencemar sungai di Jatisrono yang paling dominan yaitu peternakan, permukiman,
dan pertanian dengan hasil sebagai berikut :
a. Peternakan
Peternakan yang ada di daerah sekitar aliran sungai adalah ternak sapi, babi, dan ayam.
Namun yang paling dominan adalah ternak babi. Para peternak cenderung membangun
peternakan di daerah dekat aliran sungai karena mereka berfikir bahwa jika didekat sungai
maka pembuangan limbah akan semakin mudah. Kurangnya kesadaran akan pencemaran
sungai dan pentingnya sungai terhadap kehidupan membuat para peternak mengambil jalan
pintas dan tidak mau ambil pusing. Mereka akan membuat suatu pipa besar yang menuju
sungai untuk pembuangan kotoran ternak. Keadaan tersebut membuat sungai menjadi kotor

dan muncul bau yang tidak sedap. Kotoran hewan yang mengandung cacing pita membuat
warna sungai menjadi merah seperti darah. Orang yang lewat disekitar sungai mungkin akan
merasa jijik atau takut melihat keadaan tersebut. Selain itu, limbah ternak masih mengandung
nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat
menimbulkan pencemaran. limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis
yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat.
Kandungan air manure antara 27-86 % merupakan media yang paling baik untuk
pertumbuhan dan perkembangan larva lalat, sementara kandungan air manure 65-85 %
merupakan media yang optimal untuk bertelur lalat.
Senyawa nitrogen yang terkandung dalam kotoran ternak adalah sumber polutan yang
mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat menimbulkan konsekuensi
penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan
konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air yang
dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air. Tinja dan urine dari hewan yang
tertular dapat sebagai sarana penularan penyakit, misalnya saja penyakit anthrax melalui kulit
manusia yang terluka atau tergores. Spora anthrax dapat tersebar melalui darah atau daging
yang belum dimasak yang mengandung spora.
b. Pemukiman
Sumber limbah domestic adalah seluruh buangan yang berasal dari kegiatan
permukiman meliputi buangan kamar mandi, dapur air bekas cucian dan toilet. Sebagian
warga di daerah aliran sungai cenderung membuang sampah ke sungai, terutama saat banjir di
daerah sungai. Mereka membuang sampah ke sungai karena malas untuk membakar sampah
dan menganggap saat banjir sampah akan terbawa arus sungai sehingga tidak perlu repotrepot untuk membakar sampah. Selain itu, masyarakat di dekat sungai juga cenderung
membuang limbah toilet dengan menghubungkan pipa yang langsung menuju sungai, hal
tersebut karena pembuangan ke sungai juga lebih efisien dan tidak akan takut jika tampungan
limbah akan penuh. Keberadaan sendang atau kamar mandi umum di daerah ini juga menjadi
salah satu penyebab terjadinya pencemaran sungai,saluran pembuangan air sabun hasil cucian
maupun mandi langsung dibuang ke sungai. Padahal banyak warga yang sering mandi dan
mencuci di sendang tersebut. Jika dalam satu desa misalnya di desa Joho, terdapat kurang
lebih 54 KK yang terdiri dari paling sedikit 4 anggota keluarga dan separuhnya mandi atau
mencuci di sendang, bisa di bayangkan berapa besar pencemaran sungai yang ditimbulkan,
belum lagi ditambah warga dari 2 desa lainnya.

Limbah pemukiman yang mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan
sampah anorganik serta deterjen ini berdampak buruk bagi sungai.Sampah anorganik tidak
dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable).
Sampah organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut,
karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya. Apabila sampah
anorganik yang dibuang kesungai, cahaya matahari dapat terhalang dan menghambat proses
fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen.
Sedangkan, deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari
air. Pada saat ini hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen
sangat sukar diuraikan oleh bakteri.Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama.
Penggunaan deterjen secara besar- besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai
atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan
ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau
sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan
terhambatnya proses fotosintesis.Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan
yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan
pendangkalan.
c. Pertanian
Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara agraris yang mayoritas
masyarakatnya bekerja sebagai petani, begitu pula di daerah Jatisrono. Masyarakat di daerah
ini menggantungkan hidup dari lahan pertanian, mayoritas dari masyarakat lebih memilih
untuk mengolah lahan sebagai lahan pertanian daripada perkebunan atau untuk dibuat industri
kecil, mengingat pendapatan mereka yang bisa dibilang cukup kecil. Berbagai usaha untuk
meningkatkan produksi pertanian, baik kuantitatif maupun kualitatif dilakukan oleh para
petani,misalnya dengan penggunaan pestisida. Sayangnya para petani di daerah ini terkesan
kolot dan tidak mau jika diajak untuk menggunakan pupuk atau pestisisda alami. Mereka
beranggapan bahwa pestisida dari bahan kimia lebih efektif membunuh hama dibandingkan
pestisida alami, mereka juga beranggapan bahwa pupuk kimia yang digunakan akan membuat
tanaman menjadi lebih subur dan hasil panen lebih banyak dibandingkan dengan pupuk
organik atau pupuk kompos. Para petani berpendapat bahwa pemberantasan hama dan
penyakit tanaman diartikan penggunaan pestisida, sehingga bermacam-macam pestisida
banyak digunakan yang juga menimbulkan berbagai dampak negatif.

Pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air. Limbah pupuk
mengandung fosfat yang dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan
eceng gondok. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali ini menimbulkan dampak seperti
yang diakibatkan pencemaran oleh deterjen.
Limbah pestisida mempunyai aktifitas dalam jangka waktu yang lama dan ketika
terbawa aliran air keluar dari daerah pertanian, dapat mematikan hewan yang bukan sasaran
seperti ikan, udang dan hewan air lainnya. Pestisida mempunyai sifat relatif tidak larut dalam
air,tetapi mudah larut dan cenderung konsentrasinya meningkat dalam lemak dan sel-sel tubuh
mahluk hidup disebut Biological Amplification, sehingga apabila masuk dalam rantai
makanan konsentrasinya makin tinggi dan yang tertinggi adalah pada konsumen puncak.
Contohnya ketika di dalam tubuh ikan kadarnya 6 ppm, di dalam tubuh burung pemakan ikan
kadarnya naik menjadi 100 ppm dan akan meningkat terus sampai konsumen puncak.
5. Solusi untuk Menanggulangi Pencemaran Sungai di daerah Jatisrono
Berbagai solusi dapat dilakukan untuk menanggulangi pencemaran sungai yaitu :
a. Sektor Peternakan
Bagi pengusaha ternak limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk berbagai
kebutuhan, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah
ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan. Limbah
ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen
(BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances).
Limbah ini dapat diolah menjadi pupuk kompos sebagai alternatif penggunaan pupuk kimia
yang berdampak buruk bagi lingkungan.Pemerintah daerah setempat telah membuat peraturan
yang melarang pembuangan limbah ternak ke sungai dan memberikan sanksi keras dengan
menutup usaha ternak jika pengusaha tidak mematuhi peraturan tersebut. Selain itu,
pemerintah juga telah memberikan bantuan kepada pengusaha ternak untuk membuat
pengolahan limbah ternak sebagai biogas yang lebih murah dan mengurangi penggunaan gas
elpiji. Sehingga diharapkan cara tersebut dapat mengurangi pencemaran .
b. Sektor Pemukiman
Menangani Limbah Pemukiman perlu kesadaran dari semua lapisan masyarakat untuk
berlaku bijak dengan limbah rumah tangga yang dihasilkannya.
Pengelolaan sampah, perubahan gaya hidup dan pola pikir tentang sampah, melakukan 4R
Reduce (pengurangan sampah), Reuse (menggunakan kembali). metode daur ulang dan
Replace (mengganti), serta tidak membuang sampah terutama di sungai.
10

Bagi seluruh warga masyarakat diharapkan dapat memilah-milah sampah organik dan
anorganik, agar lebih mudah dalam mengolah sampah tersebut menjadi barang daur ulang
yang bermanfaat .
Sampah padat dari rumah tangga berupa plastik atau serat sintetis yang tidak dapat diuraikan
oleh mikroorganisme dipisahkan, kemudian diolah menjadi bahan lain yang berguna,
misalnya dapat diolah menjadi keset.
Sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dikubur dalam lubang tanah,
kemudian kalau sudah membusuk dapat digunakan sebagai pupuk.
Dan bagi masyarakat yang mandi atau mencuci di sendang dapat membuat saluran
saitasi yang baik yaitu dengan membuat saluran atau penampungan dan tidak membuang
limbah langsung ke sungai.Selain itu, saat ini sudah banyak masyarakat yang menyalurkan
sumber air sendang ke rumah sehingga pencemaran sungai dapat sedikit berkurang.
c. Sektor Pertanian
Untuk mengurangi pencemaran dari sektor pencemaran perlu dilakukan dengan
mengubah mainset dari para petani setempat, disini perangkat desa setempat sangat berperan
untuk mengajak dan menyarankan kepada petani untuk menggunakan pupuk organik dan
pestisida alami.Selain itu perlu adanya penyuluhan bagi para petani yang menggunakan
pestisida untuk tanamannya agar

menggunakan dengan seefisien mungkin atau dengan

katalain tidak berlebihan, karena sisa pestisida tersebut akan mencemari air tanah lingkungan
pertanian tersebut.
Namun semua usaha dan solusi

tersebut

hanya bisa diwujudkan dengan sebuah

tindakan kecil sebagai awalan dan dimulai dari diri sendiri dan tidak akan berjalan bila
masyarakat di tidak memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

BAB III
PENUTUP

11

A. Kesimpulan
Lingkungan merupakan semua benda atau kondisi dimana manusia dan aktivitasnya
termasuk didalamnya, yang terdapat didalam ruang dimana manusia tersebut mempengaruhi
kelangsungan hidupnya. Perilaku manusia yang tidak peduli akan lingkungan menyebabkan
pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini ada banyak salah satunya adalah
pencemaran sungai yang terjadi di daerah Jatisrono.
Penyebab pencemaran lingkungan ini berasal dari sektor peternakan, pemukiman dan
pertanian. Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi pencemaran lingkungan. Solusi untuk
mengatasi pencemaran lingkungan tersebut berupa ajakan atau himbauan agar masyarakat
mau berperilaku menjaga lingkungan maupun berupa solusi alternatif yang disediakan oleh
pemerintah.
B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan masyarakat mau merubah sikap mereka yang
tidak peduli akan lingkungan. Selain itu, diharapkan masyarakat mulai menyadari akan
pentingnya lingkungan, dan memulai pelestarian lingkungan sejak dini terutama melestarikan
lingkungan sungai, mengingat pentingnya fungsi sungai bagi kehidupan manusia.

Daftar Pustaka
Tim MKU PLH. 2014. Pendidikan Lingkungan Hidup. Semarang :Pusbang MKU/MKDK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Dyah Agustiningsih, Setia Budi Sasongko, dan Sudarno. ANALISIS KUALITAS AIR DAN
STRATEGI PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR SUNGAI BLUKAR KABUPATEN
KENDAL

12

Adianse Tarigan, Markus T. Lasut, Sandra O. Tilaar. Volume 1 Nomor 1 Tahun 2013.
KAJIAN KUALITAS LIMBAH CAIR DOMESTIK DI BEBERAPA SUNGAI YANG
MELINTASI KOTA MANADO DARI ASPEK BAHAN ORGANIK DAN ANORGANIK

LAMPIRAN

13

14

15

16