Anda di halaman 1dari 35

CORPORATE GOVERNANCE DAN ETIKA

FUNGSI PEMANTAUAN
DAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

Judul Buku : Corporate Governance Post-Sarbanes-Oxley


Penulis

: Zabihollah Rezaee

Chapter

: 10 (Monitoring Function)

FUNGSI PEMANTAUAN
Fungsi pemantauan tata kelola perusahaan adalah tanggung jawab langsung pada
pemegang saham dan stakeholder lainnya (misal, pegawai, pelanggan, kreditur, suplier).
Fungsi pemantauan dapat dicapai melalui partisipasi langsung para investor di dalam urusanurusan bisnis dan keuangan perusahaan atau melalui perantara, misalnya analis sekuritas,
investor institusional, dan bankir investasi. Survei PricewaterhouseCoopers (PwC) tahun 2006
menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari 1.300 direktur yang disurvei (51 persen)
melaporkan investor institusional paling mempengaruhi dewan direktur 26 persen mengatakan
analis dan 15 persen melaporkan bahwa agensi-agensi pemeringkat Institusional Shareholder
Services (ISS) paling mempengaruhi dewan direktur; sementara yang lainnya menyatakan
bahwa ancaman hukuman dan aktivis hedge fund (lindung nilai) juga memainkan peran
(berturut-turut 4 persen dan 3 persen).

1. PEMEGANG SAHAM
Gelombang skandal keuangan di awal abad dua puluh satu membuktikan bahwa
kurangnya pemantauan oleh para pemegang saham bisa berakibat fatal bagi mereka.
Partisipasi aktif serta pemantauan pemegang saham di perusahaan yang mereka miliki adalah
komponen penting dari tata kelola perusahaan yang efektif. Para pemegang saham dapat
memenuhi fungsi pemantauan mereka secara efektif dengan:
- Menghadiri rapat pemegang saham tahunan dan khusus.
- Berpartisipasi di dalam pemilihan direktur.
- Mengajukan usulan-usulan untuk dimasukkan sebagai resolusi pemegang saham pada
rapat tahunan.
- Berkomunikasi secara terus menerus dengan para direktur dan pejabat perusahaan
dengan tetap mengikuti perkembangan dan event-event perusahaan.
0

Para pemegang saham memiliki hak yang sah untuk mengawasi dewan direktur, dan
mereka sering berperan sebagai pemeriksa terhadap dewan. Undang-undang negara bagian
dan federal bertujuan melindungi hak pemegang saham dengan mengijinkan para pemegang
saham untuk:
1) memeriksa dan menyalin buku besar perusahaan, daftar pemegang sahamnya, serta
buku dan catatan-catatan tertentu
2) menyetujui transaksi-transaksi bisnis tertentu (misal, merger dan akuisisi)
3) menerima materi-materi proksi (wakil)
4) mendapatkan pengungkapan yang signifikan untuk transaksi-transaksi pihak terkait.
a) Pemantauan Pemegang Saham
Working Group on Corporate Governance, di tahun 1991, mengajukan lima prinsip
tata kelola perusahaan bagi para pemegang saham, yang masih relevan bagi efektivitas fungsi
pemantauan dari para investor:
-

Pemegang saham institusional perusahaan-perusahaan publik harus menganggap


dirinya sendiri sebagai pemilik, bukan sekedar investor.
- Pemegang saham seharusnya tidak dilibatkan di dalam menjalankan kegiatan
perusahaan sehari-hari.
- Pemegang saham harus mengevaluasi kinerja para direktur secara berkala.
- Di dalam mengevaluasi kinerja para direktur, para pemegang saham harus
mendapatkan informasi.
- Pemegang saham harus mengakui dan menghormati bahwa satu-satunya tujuan umum
bagi seluruh pemegang saham adalah kemakmuran perusahaan secara terus menerus.
Tingkat kepercayaan dan keyakinan yang dimiliki para investor terhadap informasi
keuangan yang dilaporkan terkait secara langsung dengan reliabilitas, kualitas, dan
transparansi informasi. Keyakinan tersebut dipengaruhi secara negatif oleh motivasi yang
berbeda-beda serta asimetri informasi. Oleh karena itu mekanisme tata kelola perusahaan
ditunjukkan untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan kepentingan pemegang
saham, yang memungkinkan para investor untuk menilai dan mengawasi perilaku manajemen,
dan memperkuat kepercayaan para pemegang saham terhadap manajemen.
Efektivitas fungsi pemantauan dan pengendalian oleh para investor adalah ditentukan
berdasarkan faktor-faktor yang saling terkait yaitu :
- Hak-hak kepemilikan yang ditetapkan oleh undang-undang dan perjanjian kontraktual
yang menentukan hubungan diantara investor perusahaan dengan manajemennya
- Sistem-sistem keuangan yang memfasilitasi supply (penawaran) pembiayaan diantara
rumah tangga, perantara keuangan, dan perusahaan-perusahaan.
- Jaringan persaingan dan kerjasama antar-peruahaan yang menetapkan hubunganhubungan diantara perusahaan-perusahaan di pasar.
b) Hak Kepemilikan (Property Right)
Hak kepemilikan yang efektif menciptakan pembagian kekuasaan yang seimbang dan
tepat diantara investor dengan manajemen, dalam pengertian bahwa para investor diberi
pengendalian yang memadai, sedangkan otonomi manajemen dijamin untuk bekerja sesuai
1

keleluasaannya. Hak-hak kepemilikan khususnya undang-undang perusahaan, secara khusus


menentukan bagaimana hak-hak pemegang saham diterjemahkan ke dalam hak-hak voting di
perusahaan, termasuk hak voting pemegang saham, aturan-aturan mengenai suara perwakilan,
ambang batas voting untuk keputusan-keputusan tertentu, dan kuorum rapat investor. Undangundang perusahaan dan sekuritas, juga menetapkan kewajiban fiduciary, struktur, peran dan
komposisi dewan direktur perusahaan.
c) Sistem Keuangan
Sistem keuangan memberi cara pembiayaan dan kepemilikan perusahaan yang pada
dasarnya membentuk sisi penawaran pasar-pasar modal. Sisi penawaran pasar keuangan
sangat dipengaruhi oleh langkah-langkah regulasi, rezim pensiun, dan aturan-aturan tenaga
kerja. Sistem keuangan memberi dua mode mediasi keuangan alternatif diantara rumah tangga
(investor) dengan perusahaan. Mode yang pertama adalah pembiayaan berbasis bank, dimana
bank-bank mengambil tabungan dari rumah tangga dan menyalurkan tabungan ini ke dalam
pinjaman-pinjaman yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan. Mode kedua adalah
pembiayaan berbasis pasar dimana rumah tangga, secara langsung maupun tidak langsung
melalui program pensiun, berinvetasi di dalam sekuritas ekuitas atau hutang yang diterbitkan
oleh perusahaan-perusahaan. Tingkat tabungan rumah tangga, jangka waktunya, serta jenisjenis pembuataan regular maupun pension, mempengaruhi insentif-insentif serta kebijakankebijakan investasi lembaga-lembaga keuangan, termasuk pension funds dan mutual funds
(reksadana). Sebagai imbalannya, institusi-institusi ini dapat mempengaruhi tata kelola
perusahaan dengan memberikan jenis-jenis pembiayaan yang berbeda-beda yang
membutuhkan reformasi keuangan dan sistem tata kelola perusahaan yang berbeda-beda.
d) Jaringan Antar-perusahaan
Pengaruh investor terhadap tata kelola perusahaan dipengaruhi oleh pola-pola jaringan
antar-perusahaan. Jaringan-jaringan antar-perusahaan menentukan hubungan diantara
perusahaan dengan perusahaan atau organisasi lainnya, struktur kekuasaan dan peluang, serta
akses ke sumberdaya, informasi, atau keputusan-keputusan strategis yang penting. Hubungan
antar-perusahaan ini, dengan menciptakan koalisi kekuasaan dan peluang-peluang, dapat
mempengaruhi tata kelola perusahaan serta cara-cara pengelolaan jaringan-jaringan ini. Sifat
dan tingkat kontrol perusahaan di dalam jaringan-jaringan adalah dipengaruhi oleh peraturan
negara, persaingan pasar, dan undang-undang anti-trust. Contoh, regulasi persaingan pasar
tidak mendorong ikatan-ikatan modal diantara perusahaan-perusahaan yang bersaing, yang
mungkin memaksa mereka untuk melakukan merger. Merger ini mungkin mengurangi
konsentrasi kepemilikan di perusahaan-perusahaan besar serta kepentingan-kepentingan
strategis di dalam tata kelola perusahaan.
e) Kekuasaan Pemegang Saham
Undang-undang perusahaan memberi hak-hak suara (voting) kepada pemegang saham
untuk mengawasi perusahaan mereka dalam beberapa cara. Para pemegang saham memiliki
hak untuk memberi suara untuk:
1) Memilih para direktur.
2

Mekanisme pemantauan paling penting dari para pemegang saham adalah hak voting
mereka untuk memilih para direktur. Hak voting ini dapat dibatasi oleh pengaturan
konstitusional yang membatasi kemampuan para pemegang saham untuk
melaksanakan kekuasaan mereka. Ketentuan voting pluralitas adalah contoh lain dari
batasan-batasan yang dikenakan kepada pemegang saham untuk membatasi kekuasaan
voting mereka untuk mengganti para direktur. Sesuai dengan sistem voting pluralitas
yang ada, para pemegang saham mendapatkan ballots yang memungkinkan mereka
untuk memilih direktur atau menahan suara mereka tanpa diberi peluang untuk
menentang direktur. Oleh karena itu, para direktur dapat dipilih dan dipilih kembali
bahkan dengan satu suara yang mendukung mereka. Sistem voting pluralitas harus
diganti oleh sistem voting mayoritas yang mensyaratkan para direktur individu yang
tidak menerima setidaknya 50 persen dukungan voting dari pemegang saham untuk
mengundurkan diri dari dewan direktur.
2) Mengamandemen anggaran rumah tangga perusahaan.
Kekuasaan para pemegang saham untuk mengamandemen anggaran rumah tangga
perusahaan dapat dibatasi oleh provisi-provisi yang dimasukkan di dalam piagam
perusahaan atau anggaran rumah tangga. Contoh dari batasan sedemikian adalah
provisi persyaratan super mayoritas (misal, dua pertiga saham beredar), yang dapat
menyulitkan para pemegang saham untuk meloloskan amandemen anggaran rumah
tangga yang ditentang manajemen.
3) Menyetujui amandemen charter (piagam perusahaan) dan merger.
Para pemegang saham juga memiliki kekuasaan untuk menyetujui amandemen piagam
perusahaan dan merger. Namun demikian, kekuasaan ini dapat dibatasi oleh provisi
persyaratan super mayoritas untuk meloloskan amandemen piagam atau menyetujui
merger jika ditentang oleh manajemen, terutama karena para pemegang saham non
manajemen kecil kemungkinannya untuk memberikan suara dan manajemen dapat
mempengaruhi beberapa suara. Jika ada batasan sedemikian, manajemen dapat
mempengaruhi amandemen piagam atau merger secara signifikan.
f) Memperkuat Hak-hak Pemegang Saham
Para pemegang saham tidak memperhatikan dan biasanya tidak berpartisipasi di dalam
tata kelola perusahaan secara efektif dengan membiarkan preferensi dan suara mereka untuk
didengar dewan perusahaan. Kurangnya transparansi, akuntabilitas, dan komunikasi yang
sesuai diantara para pemegang saham dengan dewan direktur mungkin adalah faktor yang
paling menghambat bagi efektivitas tata kelola perusahan. Para pemegang saham yang tidak
perhatian menimbulkan sebuah sistem dimana chief executive officer (CEO) memiliki
pengaruh yang tidak semestinya terhadap pemilihan direktur dan kompensasi mereka, dan
juga memiliki peran signifikan pada dewan sehubungan dengan peran gandanya yaitu sebagai
ketua dewan dan CEO. Jika CEO diberi kesempatan untuk membentuk struktur dewan
direktur karena kurangnya keterlibatan pemegang saham, maka kemungkinan para direktur
untuk menentang preferensi CEO atau mengawasi fungsi manajerial secara efektif dapat
berkurang secara substansial. Kompromi atau gamesmanship yang dirasakan ini menciptakan
budaya boardroom yang dapat mempengaruhi secara negatif efektivitas tata kelola di
perusahaan. Oleh karena itu, memperkuat hak-hak para pemegang saham dengan memberikan
akses yang tepat waktu ke informasi, meningkatkan kekuasaan voting para pemegang saham,
3

dan mempromosikan demokrasi pemegang saham bisa memiliki efek positif terhadap tata
kelola perusahaan.
g) Akses ke Informasi
Para pemegang saham, dengan terlibat di dalam fungsi pemantauan, memainkan peran
penting di dalam tata kelola perusahaan dengan membuat dewan direktur perusahaan
bertanggung jawab atas strategi bisnis, kinerja, dan keputusan-keputusan investasi. Di era
teknologi informasi dan Internet, para pemegang saham harus diberikan akses elektronik yang
tepat waktu ke seluruh informasi yang relevan sebelum rapat tahunan pemegang saham.
Reformasi Undang-Undang Perusahaan yang diusulkan Inggris memberi beberapa langkah
untuk meningkatkan komunikasi dan keterlibatan pemegang saham, yaitu:
- Mensyaratkan persetujuan pemegang saham untuk laporan remunerasi para direktur.
- Melakukan rapat umum tahunan perusahaan (AGM) dalam enam bulan dari akhir
tahun keuangan.
- Membuat hasil-hasil tahunan perusahaan, laporan lengkap, dan laporan-laporan
tersedia secara elektronik bagi seluruh anggota dan publik.
- Mengungkap resolusi ke AGM dan hasil-hasil pemilihan pada rapat umum pada
website perusahaan.
- Memperbolehkan para pemegang saham untuk meminta pemeriksaan independen
terhadap pemilihan suara.
- Mempromosikan penggunaan komunikasi elektronik dengan para pemegang saham.
- Meningkatkan kemampuan para investor tidak langsung yang tidak memiliki hak
hukum terhadap saham mereka untuk melaksanakan hak melalui wakil, hak tata
kelola, dan hak kekuasaan informasi.
Untuk memastikan pemantauan bisnis dan urusan perusahaan secara efektif, para
pemegang saham harus mampu berkomunikasi secara teratur dengan para direktur
perusahaan. Pada bulan Mei 2005, Business Roundtable merilis pedoman komunikasi
pemegang saham-direkturnya. Laporan ini menyatakan bahwa 90 persen dari perusahaan
anggotanya telah membuat kebijakan dan prosedur-prosedur untuk komunikasi para
pemegang saham dengan para direktur, dan 85 persen komite yang dinominasikan
menunjukkan minatnya untuk mempertimbangkan rekomendasi pemegang saham bagi para
calon anggota dewan direktur.
Business Roundtable merekomendasikan lima prinsip bagi perlakuan pemegang saham
yang adil dan terhormat serta pandangan-pandangan mereka.
1. Perusahaan-perusahaan publik harus memiliki prosedur-prosedur yang efektif bagi
para pemegang saham untuk berkomunikasi dengan dewan dan bagi para direktur
untuk merespon terhadap keprihatinan-keprihatinan para pemegang saham.
2. Seluruh komunikasi dengan para pemegang saham harus konsisten, jujur, transparan,
jelas, dan gamblang. Perusahaan riset terkemuka, organisasi pemeringkat tata kelola
perusahaan, dan aktivis investor, antara lain Council of Institutional Investors (CII),
Conference Board, Corporate Library, ISS, Glass, Lewis & Co (Glass Lewis), dan
State Board of Administration (SBA) of Florida telah membuat pedoman-pedoman
voting proksi (wakil) dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang membahas
berbagai macam isu tata kelola dan keuangan, mulai dari struktur-struktur dewan,
4

independensi direktur, kompensasi eksekutif, dan independensi auditor, sampai


kualitas, reliabilitas, dan transparansi laporan keuangan.
3. Prosedur-prosedur komunikasi pemegang saham yang telah dibuat harus sudah
tersedia bagi para pemegang saham. Securities and Exchange Commission (SEC) telah
merilis aturan-aturan yang akan memungkinkan perusahaan-perusahaan publik untuk
mengirimkan materi-materi proksi (wakil) secara elektronik kepada para pemegang
saham mereka. Upaya-upaya SEC untuk mengurangi biaya cetak materi-materi proksi
(wakil) dengan menggunakan Internet harus diimbangi dengan misi keseluruhannya
yaitu melindungi para investor dengan memastikan bahwa mereka mendapatkan
materi tersebut dengan mudah. Forrester Research, Inc, melakukan survei pemegang
saham yang menunjukkan bahwa jika aturan-aturan yang diusulkan SEC tersebut
digunakan tanpa modifikasi, maka partisipasi pemegang saham di dalam proses voting
proksi (wakil) akan menurun secara substansial. Khususnya, survei tersebut
menunjukkan:
a. Mayoritas pemegang saham yang disurvei melaporkan bahwa mereka tidak
akan mengambil langkah ekstra yang diperlukan untuk mendapatkan informasi
proksi (wakil).
b. Sekitar 38 persen pemegang saham aktif yang berpartisipasi kecil
kemungkinannya untuk memberikan suara di bawah aturan yang diusulkan
SEC.
c. Mayoritas pemegang saham (67 persen) lebih memilih proses voting SEC yang
sudah ada.
d. Lebih dari 46 persen meyakini aturan yang diusulkan SEC akan mempersulit
untuk berpartisipasi di dalam proses voting.
e. Kurang dari setengah pemegang saham online memiliki broadband, yang
memungkinkan mereka untuk terlibat di dalam aktivitas-aktivitas keuangan
online.
f. Lebih dari setengah pemegang saham di dalam kategori usia 50 tahun atau
lebih akan kecil kemungkinannya untuk online.
g. Mayoritas pemegang saham yang kecil kemungkinannya untuk memiliki
keahlian teknologi untuk online lebih memilih untuk tidak membaca online
atau meyakini bahwa surat kertas adalah lebih aman dan reliabel.
4. Dewan perusahaan harus diberitahu mengenai seluruh usulan pemegang saham, dan
dewan atau komite tata kelola perusahaannya harus mengawasi respon perusahaan
terhadap usulan-usulan tersebut. Menurut Peter Chapman, pensiunan ketua konsultasi
investasi TIAA-CREF, para direktur independen lebih memilih untuk mempelajari isuisu yang serius secara langsung dari para investor institusional karena kadang-kadang
informasi yang mereka dapatkan mengenai perbedaan-perbedaan pendapat telah
disaring oleh manajemen. Para direktur harus memahami sepenuhnya kapan ada
perselisihan diantara pemegang saham institusional dengan manajemen.
5. Para direktur harus menghadiri rapat tahunan pemegang saham dan menjawab, atau
memastikan bahwa manajemen menjawab seluruh pertanyaan yang relevan. Rapat
tahunan pemegang saham memberi kesempatan bagi para pemegang saham untuk
mengajukan pertanyaan kepada dewan direktur dan manajemen perusahaan mengenai
5

kinerja perusahaan serta prospek masa depan yang relevan dengan keputusankeputusan investasi mereka. Rapat tersebut juga memungkinkan direktur dan pejabat
perusahaan untuk memberikan pandangan-pandangan mereka serta memberikan
jawaban yang relevan dan meyakinkan terhadap pertanyaan-pertanyaan pemegang
saham.
CII dan National Association of Corporate Directors (NACD) menerbitkan laporan
tugas gabungan di tahun 2004 yang menyajikan lima determinan komunikasi dewanpemegang saham yang efektif. Determinan-determinan ini mensyaratkan:
1. Program komunikasi yang kontinyu, antara lain pengungkapan yang berkala,
komprehensif, dan tersedia secara umum yang terkait dengan topik-topik penting bagi
perusahaan, misalnya isu-isu kinerja dan tata kelola.
2. Informasi kontak yang rinci bagi sekretaris perusahaan dan/atau perwakilan
manajemen lainnya serta setidaknya untuk seorang direktur. Kontak yang paling tepat
bagi komunikasi dewan-pemegang saham adalah anggota dewan independen, direktur
independen, atau anggota independen komite pencalonan/tata kelola.
3. Pembedaan isu-isu yang sesuai bagi dewan perusahaan untuk dibahas dari isu-isu yang
tepat bagi manajemen. Contoh, komunikasi dewan-pemegang saham harus mencakup
isu-isu tata kelola dan keputusan-keputusan bisnis strategis yang penting, misalnya
merger, akuisisi, dan divestasi; urusan-urusan yang lebih rutin harus dikomunikasikan
oleh manajemen.
4. Pembuatan dan pengungkapan kebijakan-kebijakan komunikasi perusahaan, antara
lain rapat langsung, panggilan telepon, e-mail, dan komunikasi tertulis lainnya.
5. Kepatuhan yang efektif terhadap kebijakan komunikasi yang telah dibuat serta
pengawasan yang terus menerus terhadap kebijakan-kebijakan ini. Dewan perusahaan
harus memastikan bahwa kebijakan-kebijakan komunikasi dewan-pemegang saham
adalah sesuai, diimplementasikan secara efektif, dan dikaji serta diperbarui secara
berkala.
PricewaterhouseCoopers (PwC) memberi pedoman referensi umum untuk membantu
manajemen dan dewan direktur di dalam menyiapkan rapat tahunan. Pedoman ini memberi
daftar 300 pertanyaan yang mungkin diajukan para pemegang saham mengenai harga saham
perusahaan, tata kelola perusahaan, rencana-rencana kompensasi eksekutif, strategi dan
operasi bisnis, teknologi informasi, laporan keuangan, dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Contoh-contoh beberapa pertanyaan yang menonjol adalah:
- Bagaimana kinerja saham perusahaan dibandingkan pasar keseluruhan dan dengan
para pesaing?
- Bagaimana kebijakan dividen perusahaan dan bagaimana perbandingannya dengan
perusahaan-perusahaan lain di dalam industri?
- Berapa banyak saham beredar dan berapa persentase yang dimiliki direktur dan
pejabat perusahaan?
- Apa yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan demokrasi dan hubunganhubungan pemegang saham?
- Apakah perusahaan mematuhi seluruh hukum, regulasi, aturan, dan standar-standar
yang berlalu, termasuk SOX, aturan-aturan SEC, dan standar-standar listing?

Bagaimana manajemen menilai kecukupan dan efektivitas pengendalian internal


perusahaan terhadap pelaporan keuangan, dan apa kekurangan dan kelemahan material
di dalam pengendalian internal?
Bagaimana kualitas audit laporan keuangan yang terintegrasi serta pengendalian
internal terhadap pelaporan keuangan yang dilakukan oleh auditor independen
perusahaan?
Apakah ada pengaturan kewajiban terbatas di dalam surat perikatan audit terintegrasi?
Apakah perusahaan memiliki departemen audit internal, dan apa fungsi serta tanggung
jawab pelaporannya?
Apakah perusahaan memiliki kode etik yang mempromosikan perilaku beretika?
Apakah kompensasi eksekutif perusahaan disetujui oleh dewan direktur dan disetujui
pemegang saham?
Apakah laporan keuangan perusahaan mencerminkan penyajian posisi keuangan dan
hasil-hasil operasi secara wajar?
Apa misi dan strategi keseluruhan perusahaan?
Apa tujuan-tujuan jangka pendek manajemen, dan apakah tujuan-tujuan tersebut
sesuai dengan tujuan jangka panjang yaitu mencapai penciptaan dan peningkatan nilai
pemegang saham yang berkelanjutan?
Apakah perusahaan menganggap dirinya sendiri sebagai pemimpin industri di dalam
penggunaan teknologi informasi?
Bagaimana perusahaan mengukur berbagai kegiatan bottom line-nya (MBL) di bidang
ekonomi, tata kelola, sosial, etika, dan kinerja lingkungan?

h) Meningkatkan Kekuasaan Voting Pemegang Saham


Aturan-aturan SEC yang ada memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk menolak
usulan pemegang saham yang terkait dengan pemilihan direktur. U.S. Second Circuit Court of
Appeals (Pengadilan Banding AS), pada tanggal 5 September 2006 mengeluarkan putusan
yang memungkinkan para pemegang saham di dalam wilayah hukumnya (New York,
Connecticut, Vermont) untuk mencalonkan para direktur perusahaan. Pengadilan tersebut
memutuskan bahwa SEC keliru untuk menghalangi upaya oleh American Federation of State,
Country and Municipal Employees (AFSCME) untuk memasukkan usulan pemegang saham
pada proksi (wakil) perusahaan. Staff SEC membela upaya AIG untuk mengesampingkan
usulan pemegang saham mengenai pemilihan direktur dari materi proksi-nya. Pengadilan
menolak pendekatan SEC tersebut. SEC, pada tanggal 12 Oktober 2006, memutuskan untuk
menangguhkan keputusan penting mengenai apakah mengijinkan lebih banyak akses kepada
para pemegang saham ke proksi-proksi perusahaan. Ini telah ditafsirkan bahwa pemilihan
dewan direktur adalah isu yang sulit mengenai demokrasi pemegang saham; namun demikian,
penangguhan ini memungkinkan didukungnya keputusan oleh pengadilan, yang dianggap
positif oleh para aktivis investor.
Perusahaan-perusahaan publik biasanya mengirimkan ballots proksi kepad pemegang
saham, termasuk nama-nama direktur untuk dipilih. Calon direktur bisa dinominasikan oleh
komite dewan dan ditempatkan pada ballot. Tentu saja, para pemegang saham dapat
menominasikan calonnya sendiri melalui ballot tersendiri, yang seringkali menjadi proses
yang rumit dan mahal. Pengadilan memutuskan bahwa di bawah aturan-aturan SEC yang ada,
7

para pemegang saham harus memiliki akses ke proksi dengan tujuan menominasikan pilihan
calon mereka untuk direktur. Pada bulan Oktober 2003 SEC menerbitkan usulan untuk
memberi akses pemegang saham ke proksi; tidak ada tindakan yang diambil oleh SEC untuk
menindaklanjuti usulan tersebut. Mengikuti putusan pengadilan, SEC mengumumkan bahwa
ia akan merekomendasikan amandemen ke Rule 14a-8 di bawah Securities Exchange Act
1934 yang terkait dengan pencalonan direktur oleh para pemegang saham. Keputusan oleh
Second Court of Appeals adalah penting karena: (1) menyatakan bahwa para pemegang saham
harus bisa mengakses proksi dengan maksud menominasikan pilihan calon direktur mereka,
yang bertentangan dengan penafsiran staff SEC mengenai aturan-aturan proksi; (2) sejumlah
besar perusahaan publik berada di bawah wilayah hukum Second Circuit Court of Appeals;
dan (3) SEC diharapkan untuk memperbaiki aturan-aturan proksinya untuk memastikan
aplikasi aturan-aturannya yang rasional dan konsisten pada usulan-usulan pemegang saham.
Pelaksanaan hak-hak pemegang saham akan meningkat dengan memungkinkan
mereka untuk:
- Mencalonkan direktur untuk dimasukkan pada proksi perusahaan
- Mengajukan pertanyaan dan menyatakan keprihatinan-keprihatinan.
- Membuat resolusi
- Melakukan voting in absentia.
- Berpartisipasi di dalam rapat umum melalui alat-alat elektronik.
CII merekomendasikan enam hak voting pemegang saham:
1. Akses ke proksi. Perusahaan-perusahaan harus memberi akses ke materi proksi
manajemen bagi para investor jangka panjang (yaitu investor yang memiliki saham
setidaknya untuk tiga tahun atau kelompok investor jangka panjang yang secara
agregat memiliki setidaknya 5 persen saham voting perusahaan) untuk menominasikan
kurang dari mayoritas direktur.
2. Satu saham, satu suara. Perusahaan-perusahaan harus memungkinkan satu suara untuk
setiap satu saham dari saham umum mereka dimana tidak ada kelas-kelas saham
memiliki hak-hak voting yang berbeda. Dewan perusahaan seharusnya tidak
menerbitkan saham dengan hak voting yang tidak sama tanpa persetujuan pemegang
saham.
3. Voting rahasia. Perusahaan-perusahaan harus memiliki kebijakan dan praktek-praktek
kerahasiaan untuk penghitungan dan verifikasi voting proksi.
4. Persyaratan voting. Suara super mayoritas seharusnya tidak disyaratkan dalam
keadaan apapun. Suara mayoritas sudah memadai untuk mengubah anggaran rumah
tangga perusahaan atau mengambil tindakan-tindakan lain yang membutuhkan
persetujuan pemegang saham. Suara mayoritas saham beredar harus disyaratkan untuk
menyetujui:
a. Keputusan-keputusan perusahaan yang penting mengenai penjualan atau
perjanjian aset perusahaan yang nilainya lebih dari 10 persen dari aset total
terkonsolidasi.
b. Akuisisi 5 persen atau lebih saham beredar perusahaan di atas harga pasar
kecuali untuk tender yang ditawarkan kepada seluruh pemegang saham.
c. Poison pills.
8

d. Membatasi hak pemegang saham umum untuk mengambil berbagai tindakan


(misal, pemilihan atau penggantian direktur, pencalonan direktur, panggilan
untuk rapat khusus).
e. Keputusan-keputusan untuk penerbitan hutang sampai tingkat dimana ini akan
terlalu me-leverage perusahaan.
5. Broker votes. Broker non-votes dan absensi seharusnya hanya dihitung untuk tujuantujuan kuorum.
6. Bundled voting. Perusahaan-perusahaan harus mengijinkan para pemegang saham untuk
memberi suara pada isu-isu yang tak terkait secara terpisah. Tidak ada bundled voting
yang harus diijinkan untuk tindakan-tindakan mengenai amandemen piagam
perusahaan, anggaran rumah tangga, atau provisi-provisi anti-takeover.
i) Demokrasi Pemegang Saham
Hubungan diantara dewan direktur perusahaan dengan para pemegang saham telah
mendapatkan banyak perhatian di era pasca-Enron. Biasanya, akuntabilitas dan transparansi
diantara dewan dan pemegang saham tidaklah efektif dalam pengertian bahwa dewan tidak
mengetahui apa yang diharapkan pemegang saham daripadanya dan pemegang saham tidak
mengetahui aktivitas dewan serta efektivitasnya. Para pemegang saham memiliki hak-hak
voting untuk memilih para direktur sebagai agen mereka; namun demikian, para direktur
individu tidak memiliki tanggung jawab atau akuntabilitas langsung kepada para pemegang
saham. Demokrasi pemegang saham yaitu memberdayakan pemegang saham untuk
mencalonkan, memilih, atau mengganti direktur telah banyak diperdebatkan di dalam literatur.
Di bawah sistem voting pluralitas sekarang, bahkan satu suara untuk calon akan memilih
direktur tersebut ke dewan, tanpa memandang jumlah suara yang ditahan.
Sistem voting mayoritas, yang akan mewajibkan direktur yang mendapatkan suara
menentang untuk mengundurkan diri, telah mendapatkan banyak perhatian. Terlepas dari
beberapa masalah hukum (misal, voting pluralitas adalah diperbolehkan pada undang-undang
negara bagian), versi voting mayoritas yang dimodifikasi, yang lebih dikenal sebagai voting
mayoritas Pfizer, telah disarankan, namun tidak banyak didukung oleh para investor. Di
bawah satu versi aturan voting mayoritas, para direktur yang menerima mayoritas suara
tidak akan diwajibkan untuk mengajukan pengunduran diri ke dewan. Dewan direktur
perusahaan kemudian akan memutuskan apakah menerima pengunduran diri tersebut, dan jika
menerima, akan menunjuk calonnya sendiri (bukannya menerima calon direktur yang
dicalonkan pemegang saham). Committee on Capital Market Regulation mendukung voting
mayoritas daripada voting pluralitas. Komite ini menulis laporan dua pihak yang pertama
yang mendukung aturan mayoritas, yang membawa pemilihan pemegang saham Amerika
Serikat sesuai dengan negara-negara maju lainnya. Komite ini juga membahas apakah suara
broker dihitung atau tidak di dalam pemilihan direktur perusahaan seperti yang dipraktekkan
sekarang ini. Bursa Saham New York sudah mengusulkan untuk mengubah praktek sekarang
dengan tidak mengijinkan penghitungan suara dari broker, yang hampir selalu mendukung
resolusi manajemen.
Artikel New York Times menyatakan bahwa para investor mungkin menganggap
bahwa mereka tinggal di Amerika Serikat namun jika tiba saatnya memilih para direktur
keuangan, mereka seakan-akan tinggal di Uni Soviet. Para investor hanya bisa memilih
9

direktur atau menahan suaranya. Bagi seseorang yang menentang calon, pemilihan tersebut
hanyalah sebuah gejolak. Diperkirakan bahwa investor yang memiliki perusahaan, dan pada
akhirnya memiliki klaim residual atas aset-asetnya, harus diberdayakan untuk memilih para
direktur yang dianggap sebagai penjaga investasi mereka. Usulan yang memberikan
kekuasaan kepada investor untuk mempengaruhi pencalonan dan proses pemilihan tersebut
diajukan oleh SEC namun tidak pernah menjadi sebuah aturan. Insiden terbaru mengenai
kasus penyalahgunaan metode voting pluralitas adalah pemilihan dewan di Career Education
Corp. Voting demokratis tidak dipraktekkan saat para direktur dipilih meski ditentang
mayoritas suara dan saat broker dapat memberi suara untuk manajemen menggantikan sekutu
diam. Di bawah model voting pluralitas, suara yang ditahan (suara simbolis yang menentang
direktur pada kartu proksi) di Career Education adalah lebih dari 62 persen saham beredar
untuk tiga calon yang didukung manajemen. Ini menunjukkan bahwa ketiga direktur tersebut
mendapatkan suara tidak dipercaya oleh mayoritas pemegang saham, namun mereka dipilih di
bawah model voting pluralitas, yaitu praktek voting yang lazim di perusahaan Amerika.
Perusahaan dana investasi telah menyatakan keprihatinan mereka mengenai kurangnya
demokrasi di ruang dewan. Satu contohnya adalah surat yang dikirimkan oleh perusahaan
dana investasi yang meminta SEC mengkaji penentuan no-action mengenai usulan pemegang
saham untuk Computer Associates, Inc, (CA) dimana para pemegang saham telah ditolak
untuk memilih apakah dua direktur masih tetap berada di dewan dari periode ketika CA
mengalami masalah. CA diminta untuk menyatakan kembali laporan keuangannya di tahun
2006; diselidiki oleh SEC, yang mengakibatkan beberapa tuduhan dan denda; dan kehilangan
para eksekutif senior, antara lain chief operating officer, chief financial officer (CFO), dan
chief of global sales, pada bulan-bulan belakangan ini, dan harga sahamnya sekitar 35% di
bawah harga sahamnya di tahun 1996. Ada tanda-tanda tata kelola perusahaan yang tidak
efektif, khususnya dewan direktur yang tidak bertanggung jawab, sedangkan pemegang
saham tidak diijinkan untuk menggantinya. SEC telah memutuskan bahwa CA dapat
mengesampingkan usulan bagi proksinya yang melarang pemegang saham menggunakan
haknya untuk memilih menghentikan dua direktur. Investor institusional dan aktivis investor
meminta SEC untuk mengkaji pendapatnya mengenai proposal CA dengan menyatakan:
Isunya adalah apakah SEC akan menempatkan dirinya sendiri diantara perusahaan
dengan para pemegang sahamnya jika para pemegang saham meyakini bahwa direkturdirektur tertentu harus diganti dan jika undang-undang negara mendukung penggantian
sedemikian.
Beberapa manajer investasi terbesar di dunia (misal, Association of British Insurers,
F&C Asset Management, Dutch Pension Fund Manager, Third Swedish Pension Fund,
Australian Reward Investment Alliance, dan Standard Life Investment Scotlandia) yang secara
bersama-sama mengelola aset senilai $34 triliun telah meminta SEC untuk memberi
kekuasaan kepada pemegang saham untuk mengubah komposisi dewan perusahaanperusahaan Amerika Serikat. Para investor di negara-negara lain (misal, Inggris, Australia,
dan Belanda) diberi lebih banyak kesempatan untuk mengganti direktur yang kurang
berkinerja dengan baik daripada para sejawatnya di Amerika Serikat. Hak kepemilikan dasar
dari para pemegang saham yaitu memiliki akses yang tidak terbatas ke proksi-proksi
perusahaan untuk pemilihan dewan adalah tidak sesuai dengan hak-hak pemegang saham dari

10

negara-negara maju lainnya, yang mengurangi efektivitas tata kelola perusahaan di Amerika
Serikat dan demokrasi pemegang saham.
Akses para pemegang saham ke proksi-proksi perusahaan, dalam rangka mengajukan
calon direktur, dan resolusi-resolusi lainnya telah mendapatkan banyak perhatian dari para
aktivis pemegang saham dan telah menjadi fokus beberapa kasus pengadilan. Mengenai
demokrasi pemegang saham dan perannya di dalam sistem usaha bebas, Arthur Levitt, mantan
ketua SEC, menyatakan:
Kapitalisme pemegang saham memungkinkan pasar-pasar kita untuk berkembang,
perusahaan-perusahaan kita untuk tumbuh, dan ekonomi kita untuk tetap kuat. Dan inti bagi
sistem ini adalah prinsip bahwa para pemegang saham bisa memiliki suara di dalam
menjalankan perusahaan-perusahaan yang mereka miliki, bahwa suara mereka akan
dihitung. Bagaimana SEC menangani ini (akses proksi) bisa memiliki pengaruh besar
terhadap masa depan demokrasi pemegang saham, tata kelola perusahaan dan masa depan
pasar-pasar.
Levitt menyatakan bahwa SEC memperkuat demokrasi pemegang saham dengan: (1)
meloloskan usulan akses proksi di tahun 2003; (2) melakukan pengamanan, misalnya saham
minimum yang layak untuk mengajukan calon direktur; (3) meningkatkan jumlah
pengecualian dari 10 orang menjadi 20 orang agar para investor, khususnya investor
institusional, dapat saling berkomunikasi dengan mudah; (4) mengijinkan pengiriman materi
proksi secara elektronik; dan (5) mendukung prinsip mayoritas direktur.
Di era pasca SOX, para investor menjadi lebih aktif di dalam fungsi pengawasan
mereka dengan mengirimkan usulan-usulan untuk memperbaiki tata kelola perusahaan
mereka. Resolusi pemegang saham dari tahun 2007 berisi beberapa usulan penting antara lain:
(1) advisory vote mengenai paket kompensasi eksekutif Aflac adalah perusahaan besar AS
pertama yang memberi advisory vote tidak mengikat kepada pemegang sahamnya mengenai
praktek-praktek pembayaran perusahaan di tahun 2009; (2) resolusi say-on-pay yang menekan
perusahaan-perusahaan untuk menghubungkan kebijakan dan praktek kompensasi mereka ke
kinerja eksekutif; (3) usulan-usulan untuk memungkinkan pemegang saham untuk menentang
calon direktur; (4) voting mayoritas untuk pencalonan dan pemilihan direktur. Jumlah usulan
pemegang saham sedikit meningkat di tahun 2006 menjadi 634 usulan dari 625 usulan di
tahun 2005 dengan: (1) lebih dari 120 menerima tingkat dukungan mayoritas; (2)
penghapusan persyaratan voting super mayoritas; (3) de-klasifikasi dewan; (4) independensi
ketua dewan; (5) award opsi saham berbasis kinerja; dan (6) isu laporan-laporan
keberlanjutan.
Dirangkum, ketujuh masalah pemegang saham paling menonjol dan ekspektasi
mereka serta isu-isu yang harus dipahami para direktur di tahun 2007 dan sesudahnya adalah:
1. Pemegang saham menginginkan suara mengenai siapa yang duduk di dewan.
Demokrasi dan akuntabilitas dewan yang didorong oleh voting mayoritas dan akses
pemegang saham ke materi proksi untuk mencalonkan direktur dapat meningkatkan
efektivitas fungsi pengawasan pemegang saham secara signifikan.
2. Pemegang saham kurang mempercayai dewan yang kurang memiliki kepemimpinan
yang independen. Efektivitas fungsi pengawasan dari dewan direktur perusahaan dapat
dipengaruhi secara signifikan oleh independensi dewan. Dewan yang independen
harus memiliki pemimpin dewan yang merupakan ketua non eksekutif atau direktur
11

3.

4.

5.

6.

7.

utama dengan tanggung jawab yang sudah ditentukan yaitu meningkatkan


independensi dewan.
Pemegang saham mengharapkan pengungkapan untuk menunjukkan kondisi
perusahaan yang sebenarnya. Para pemegang saham mengharapkan informasi
keuangan dan non keuangan yang lebih transparan yang mencerminkan kondisi
perusahaan mereka yang sebenarnya, dan penyajian secara wajar indikator-indikator
keuangan yang penting di luar prinsip-prinsip akuntansi berterima umum (GAAP) dan
aturan-aturan pengungkapan item lini.
Pemegang saham bersikap skeptis terhadap skema-skema kompensasi yang kompleks.
Pemegang saham mengharapkan kompensasi eksekutif yang lebih adil, transparan,
berbasis kinerja, dan wajar yang memenuhi advisory vote dan persetujuan mereka.
Pemegang saham menginginkan skenario exit yang masuk akal. Pemegang saham
mengharapkan paket pemutusan hubungan kerja yang layak bagi CEO yang
menyimpang sehubungan dengan perilaku mereka yang tidak sesuai atau kurang
berkinerja yang memadai dan efektif.
Pemegang saham mengharapkan dewan untuk bertanggung jawab dan mengganti
dewan jika diperlukan. Pemegang saham menuntut dewan perusahaan mereka untuk
menerima tanggung jawab atas tindakan mereka (baik atau buruk), bertanggung jawab
atas konsekuensi-konsekuensinya, dan mengubah perilaku dan/atau komposisinya
untuk mengatasi masalah.
Pemegang saham harus bisa melakukan penggantian. Jika pemegang saham tidak lagi
mempercayai kemampuan dewan direktur perusahaan dan tim top manajemen untuk
melakukan tugas mereka secara efektif, maka mereka harus bisa melakukan
penggantian.

2. INVESTOR INSTITUSI
Tanggung jawab fungsi monitoring ada pada pemegang saham dan pemakai lain (user)
lain seperti karyawan, pelanggan, kreditur dan pemasok. Fungsi monitoring ini dapat dicapai
melalui :
a. partisipasi langsung oleh pemegang saham (investor)
b. melalui perantara misalnya: analis sekuritas, investor institusi dan bank investasi.
Dari hasil survey yang dilakukan oleh PricewaterhouseCoopers terhadap 1.300
responden (direksi) pada tahun 2006 (lihat slide 1) menunjukkan bahwa yang paling
mempengaruhi dewan mereka.adalah investor institusi (52%), diikuti analis sekuritas (26%),
kemudian Institutional Shareholder Services, sebuah institusi pemeringkat, (15%) dan aktivis
pemegang saham (4%) dan Hedge fund (3%)
Note :
- Investor tersebut dapat berupa institusi ( perusahaan asuransi, dana pensiun, dll)
ataupun dapat juga merupakan investor perorangan, dimana sarana yang digunakan
biasanya berupa kontrak investasi atau yang umumnya digunakan adalah berupa
kontrak investasi kolektif (KIK) seperti reksadana
- Aktivis pemegang saham adalah seseorang yang menggunakan kepemilikan
sahamnya pada sebuah perusahaan untuk menciptakan tekanan publik kepada pihak
manajemen perusahaan tersebut. Sasaran para aktivis pemegang saham dapat berbeda12

beda, mulai dari keuangan (peningkatan nilai pemegang saham melalui perubahan
kebijakan perusahaan, struktur pembiayaan, pemotongan biaya, dan lain-lain) sampai
non-keuangan (divestasi dari negara-negara tertentu, adopsi kebijakan yang ramah
lingkungan, dan lain-lain)
Perubahan struktur kepemilikan saham di Amerika pada tahun 1950 dan 2004 semula
dikuasai oleh investor individu menjadi investor institusi. Hal ini mengubah konsep agensi
tradisional, pemisahan kontrol kepemilikan dari kontrol pengambilan keputusan.
Investor institusi mengakui beberapa kesalahan pelaporan keuangan maupun skandal
keuangan (praktek earning management, penipuan skala besar dan kegagalan audit) karena
kurangnya pemantauan governance perusahaan mereka, Meskipun demikian, investor tidak
ingin mengajukan pertanyaan atau tidak peduli selama harga saham akan naik. Hanya pemilik
saham besar dan, khususnya, investor institusional yang memiliki insentif dan sumber daya
untuk memantau corporate governance dan manfaat dari tindakan-tindakan monitoring
investor institusi tanpa mendatangkan biaya. Kepemilikan pada perusahaan di Amerika
Serikat adalah sangat luas dan menyebar, yang berarti bahwa banyaknya pemegang saham
kecil (lebih dari 50 persen, oleh sebab itu insentif dan kesempatan bagi investor individu
untuk memantau corporate governance sangat menyebar. Investor institusi dapat memainkan
peran penting mengurangi asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham dengan
mendapatkan informasi pribadi dari manajemen dan menyampaikan ke pasar modal.
Sebuah laporan bersama oleh CFA Institute dan the Business Roundtable Institute for
Corporate Ethics menunjukkan bahwa investor mereka lebih terlibat dengan: (1) mendorong
partisipasi luas dalam perusahaan terus dialog dengan para manajer asset dan peserta pasar
keuangan lainnya untuk lebih memahami bagaimana perusahaan mereka dinilai di pasar; (2)
mendidik investor institusi dan penasehat mereka pada isu jangka pendek dan tugas fidusia
jangka panjang untuk konstituen mereka, dan (3) mendukung pendidikan inisiatif bagi
investor individu untuk mempromosikan fokus pada penciptaan dan peningkatan nilai
pemegang saham yang berkelanjutan.
a) Monitoring Investor Institusi
Investor Institusi biasanya memantau sebatas milik mereka (tidak micromanagement)
dengan menggunakan sistem penyaringan berdasarkan kinerja keuangan (misalnya, standar),
mengidentifikasi area masalah dan keprihatinan, dan menentukan penyebab dan dampak dari
masalah. Investor institusi tidak campur tangan dalam perusahaan kecuali dalam keadaan
khusus, misalnya dalam situasi ada kekhawatiran tentang kinerja keuangan, corporate
governance, strategi, kinerja operasional, merger dan akuisisi strategi, fungsi pengawasan
direktur independen yang gagal , kelemahan bahan laporan dalam monitoring internal,
perencanaan suksesi tidak memadai, skema kompensasi tidak pantas, atau kurangnya
komitmen untuk sosial, lingkungan, dan masalah etika.

Investor institusi dapat campur tangan pada:


Pertemuan dengan manajemen.
Mengekspresikan kekhawatiran melalui penasihat perusahaan.
Pertemuan dengan direksi, terutama direktur independen, direktur utama, atau ketua
independen dewan.
13

Berkolaborasi dengan investor institusional lainnya.


Membuat laporan umum sebelum pertemuan pemegang saham tahunan.
Menyerahkan resolusi pada pertemuan pemegang saham tahunan.
Memanggil untuk pertemuan khusus untuk mengubah dewan perusahaan.

Investor institusi dapat berfungsi sebagai pemimpin penggugat dalam perkara gugatan
class action securitas, di bawah the Private Securitas Litigation Reform Act of 1995. Sebagai
bagian dari negosiasi, mereka telah mencoba untuk secara positif mempengaruhi corporate
governance. Misalnya, California State Teacheers Retireement System (CalSTRS) membawa
gugatan class action melawan Homestore, sebuah perusahaan real estat Internet.
Peran investor institusi memainkan dalam corporate governance yaitu :

Menggunakan hak mereka untuk memilih direksi.


Membudidayakan keprihatinan mereka tentang governance
Membantu mengurangi asimetri informasi dengan menyediakan suatu
mekanisme untuk menyampaikan informasi yang relevan yang diperoleh dari
manajemen kepada investor.
Meningkatkan efisiensi pasar modal dengan mengirimkan informasi relevan yang
mereka peroleh dari manajemen untuk pasar keuangan dan mengurangi masalah
agensi dengan memiliki sumber daya, insentif, kesempatan, dan keahlian untuk
memantau manajerial dan fungsi monitoring lebih efektif.

b) Tata Kelola Investor Institusi


Tanggung jawab ganda investor institusi sebagai agen dari investor individu dan
prinsip-prinsip umum perusahaan dapat menciptakan konflik kepentingan bagi mereka.
menyebabkan investor institusi untuk menahan diri dari aktif monitoring urusan perusahaan
dan governance. Alasan kurangnya pengawasan yang efektif oleh investor institusi yaitu :
1. investor institusi

memiliki kepentingan sendiri untuk melayani selain dari


kepentingan-pelaku investor mereka. Misalnya, program pensiun korporasi sering
dipantau oleh eksekutif perusahaan yang terkait dengan kompensasi laba yang
dilaporkan.
2. Lembaga keuangan memiliki kecenderungan dan motivasi untuk berfokus pada
spekulasi jangka pendek perubahan harga saham bukan investasi jangka panjang
berdasarkan nilai intrinsik perusahaan berkelanjutan.
3. Manajer reksa dana dan dana pensiun kecil kemungkinannya untuk mendukung
proposal proxy yang ditentang oleh manajemen
3. REKSADANA
Reksa dana adalah sarana investor biasa (investor individu) agar dapat menjadi
pemegang saham dengan berinvestasi di pasar modal yang dapat digunakan untuk mencapai
tujuan keuangan mereka, termasuk menabung untuk masa pensiun yang nyaman dan cukup
investasi untuk pendidikan anak-anak mereka.
14

Luka skandal reksadana pada tahun 2003 menunjukkan ketidakefektifan dalam


struktur dana governance yang signifikan, menyebabkan erosi kepercayaan investor pada
industri reksa dana. Transformasi kepemilikan saham bertahap dari investor individu ke
investor institusi yang dijalankan oleh manajer keuangan profesional dan perusahaan telah
memberikan kontribusi untuk dua tingkat yang berbeda (masalah keagenan), pertama
dikaitkan dengan tingkat potensi konflik kepentingan antara investor individu dan wakil
mereka dan tugas fidusiari, manajer keuangan profesional dan perusahaan yaitu (Reksa dana,
dana pensiun publik dan swasta). Tingkat kedua adalah terkait dengan potensi konflik
kepentingan antara manajer keuangan profesional dan perusahaan (intermediasi finansial) dan
klien korporasi mereka. Tingkat-tingkat masalah agen akan terus ada selama kepemilikan
individu dan agen (tengah) masyarakat kurang memantau tata perusahaan publik .
Kongres menyetujui Investment Company Act tahun 1940, menetapkan persyaratan
untuk melarang perusahaan investasi (reksadana) terlibat dalam transaksi tertentu yang dapat
menciptakan konflik kepentingan, mensyaratkan dewan direksi (BOD) dana itu mengawasi
manajemen. Selain itu SEC telah membawa aksi penegakan hukum terhadap reksa dana
bermasalah dan memperoleh lebih dari $ 2,2 Milyard atas disgorgements dan denda, untuk
meningkatkan kemandirian dan pengawasan direktur reksa dana, SEC mengharuskan reksa
dana untuk mempunyai ketua independen.
a) Chief Compliance Officer

SEC pada bulan Desember 2003, mengadopsi inisiatif untuk memiliki kebijakan dan
prosedur kepatuhan secara menyeluruh dan untuk itu menunjuk seorang Chief Compliance
Officer (CCO) untuk membantu Dewan dalam meningkatkan struktur governance. CCO Fund
memainkan peran penting dalam memonitoring dan memastikan bahwa dana dan penasihat
secara efektif mematuhi hukum, dan peraturan yang berlaku, termasuk undang-undang
sekuritas, serta memberikan informasi yang tepat mengenai kepatuhan tersebut untuk dewan.
b) Kode Etik

Untuk memperkuat perilaku etika dan integritas dalam industri pengelolaan investasi,
SEC, pada bulan Juli 2004, mengeluarkan aturan yang memerlukan penasihat investasi
terdaftar, termasuk penasihat untuk reksa dana, untuk mengadopsi kode etik yang
memaparkan standar perilaku etis bagi setiap karyawan. Reksa dana dan penasehat mereka
harus memenuhi persyaratan kode etik mereka.
c) Soft dollar Trading
Soft dolar adalah istilah yang digunakan dalam pembiayaan untuk menggambarkan
komisi yang dihasilkan dari perdagangan atau transaksi keuangan lainnya antara klien dan
manajer investasi . [1] Sebuah susunan dolar lembut adalah salah satu di mana manajer
investasi mengarahkan komisi yang dihasilkan oleh transaksi terhadap pihak ketiga atau
pihak-rumah dengan imbalan jasa yang merupakan keuntungan dari klien klien tetapi tidak
diarahkan. [2] Soft dolar, berbeda dengan dolar keras (kas yang sebenarnya), yang harus
dilaporkan , dimasukkan ke dalam biaya broker dan membayar biaya, yang mungkin tidak
dilaporkan secara langsung.
4. HEDGE FUNDS
15

Dalam dunia perbankan orang yang mengalihkan dananya ini dikenal dengan istilah
Fund Manager/Hedge Fund. Awalnya, keberadaan Fund Manager hanya bertujuan melindungi
kekayaan (how you protect your fund). Namun, seiringnya waktu kegiatan Fund Manager
berubah menjadi kegiatan menggandakan uang sebanyak mungkin dari keuntungan membaca
fluktuasi saham.
5. MONITORING KARYAWAN
Sumber daya tenaga kerja yang menjadi bagian penting dari corporate governance
sebagai sumber modal. Keseimbangan kekuasaan dan asosiasi di antara hak milik
(perlindungan investor), monitoring manajerial (hak prerogatif manajemen), dan hak
partisipasi karyawan (manajemen tenaga kerja dan perlindungan karyawan) dapat memainkan
peran penting dalam efektivitas corporate governance. Partisipasi karyawan dalam corporate
governance yang dapat mempengaruhi monitoring manajerial dan wewenang dan dapat
mempengaruhi partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan dan kerjasama dalam
pelaksanaan keputusan. Lagi pula, itu adalah whistleblower karyawan di Enron dan di lain
perusahaan yang mengungkap penipuan ini meluas pada tingkat tertinggi perusahaan
Ada beberapa keuntungan dari partisipasi karyawan dalam corporate governance:

Karyawan, memiliki insentif lebih untuk menyelaraskan kepentingan mereka


dengan para pemegang saham, tetapi mungkin merasakan tekanan untuk
mendukung manajemen agar tetap bekerja.
Merupakan proses pembelajaran bagi karyawan untuk memajukan posisi mereka,
menunjukkan mereka komitmen, dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas
operasi perusahaan.
Merupakan mekanisme internal untuk memonitor kinerja manajerial dan
mencegah perilaku oportunistik manajemen. Kekhawatiran satunya adalah
apakah konflik pegawai governance dan monitoring dengan governance
pemegang saham dan monitoring.

16

Judul Buku : Beyond Governance


Penulis

: Martin Fahy, Jeremy Roche, Anastasia Weiner

Chapter

: 10 (Corporate Responsibility)

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY


Menurut The World Business Council for Sustainable Development , tanggung jawab
perusahaan/corporate social responsibility (CSR) adalah komitmen yang berkelanjutan oleh
bisnis untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi serta
meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja dan keluarga mereka sebagaimana juga terhadap
komunitas lokal dan masyarakat pada umumnya.
1. Lahirnya Kesadaran Kolektif CSR
Sebelum tahun 2001, meskipun regulasi mengenai praktik lingkungan dan corporate
stewardship telah ada, Corporate Social Responsibility (sekarang lebih sering disebut sebagai
Corporate Responsibility), khususnya di Amerika Serikat masih dianggap secara luas sebagai
suatu hal atau kegiatan yang menghabiskan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Sebagai
dampak dari pemikiran ini, banyak organisasi memilih untuk menginterpretasikan CR sematamata hanyalah serangkaian sumbangan sukarela yang dibuat dengan mengumpulkan dana
dari para karyawannya.
Akan tetapi, sebenarnya sebelum awal tahun 2000-pun, investor telah mengungkapkan
ketidaksukaannya pada perilaku etis perusahaan yang terfokus untuk meningkatkan nilai laba
tanpa memperdulikan nilai kemanusiaan dan biaya lingkungan. Sentimen anti-globalisasi
meningkat secara dramatis sebagaimana konsumen mulai mempertanyakan kebijakan dan
praktik operasi organisasi.
Oleh karena itu, dapat dikatakan telah terjadi perkembangan pola pikir terkait
eksistensi entitas bisnis beserta industrinya. Masyarakat beranggapan bahwa entitas bisnis
seharusnya tidak hanya berfokus untuk mencari laba semata tetapi juga harus mengutamakan
aktivitas sosial dan lingkungan dalam setiap aktivitas operasi perusahaan. Hal ini dapat
dikaitkan dengan Teori Stakeholder yang menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas
yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri, namun haruslah bermanfaat bagi para
stakeholdernya (pemegang kepentingan) yang tidak hanya berupa pemegang saham dan
kreditur saja, melainkan juga pemasok, karyawan, pemerintah, dan juga masyarakat di sekitar
perusahaan.
2. Pengaruh Kunci Dibalik Gerakan CR
17

Technology investor dan konsumen sekarang dapat mengakses sejumlah besar informasi
Transparency - stakeholder sekarang dapat memilih darimana mereka akan membeli,
berinvestasi, dan menggunakan benchmark yang dapat diukur seperti dampak lingkungan
dan komunitas.
Sustainability organisasi menghadapi tekanan yang semakin meningkat untuk
mengadopsi strategi pengembangan yang sustainable.
Globalisation seiring peningkatan ekspansi global, khususnya di negara berkembang,
begitu juga seruan mengenai kebijakan ekspor, hak asasi dan lingkungan.
Borderless governance direfleksikan dengan penyusunan pendekatan tata kelola global
seperti Global Reporting Initiative, UN Global Compact, Sullivan Principles, dan Kyoto
Protocol.
Stakeholder pressure tata kelola yang buruk, termasuk ketidakteraturan akuntansi dan
remunerasi yang berlebihan, mengarah pada permintaan transparansi perusahaan yang
lebih besar.
Mega-risk organisasi sekarang menghadapi risiko-risiko yang semakin kompleks dan
berpotensial besar seperti kesalahan produk, aksi teroris, pelanggaran hak asasi,
modifikasi genetik, perubahan iklim, polusi dan kepedulian nutrisi terkait bertambahnya
tingkat obesitas.
Meskipun terdapat berbagai tren-tren yang mempengaruhi tersebut, dibutuhkan
terjadinya keruntuhan sebuah perusahaan energy raksasa di Amerika Serikat untuk benarbenar memfokuskan perhatian dunia pada bagaimana organisasi harus berperilaku. Dengan
kata lain, agenda CR bergerak dari consumer-driven menjadi investor-driven. Kegagalan
Enron di dalam memfokuskan perhatian pada regulasi, sektor finansial dan stakeholder tidak
hanya pada standar corporate governance, tetapi juga pada pengendalian internal dan
kebijakan manajemen risiko. Sebagai hasilnya, perusahaan di seluruh pasar modal dunia
sekarang memiliki kebijakan CR, atau yang tidak memiliki kebijakan tersebut, akan diperiksa
secara seksama. Dengan demikian CR telah menjadi value-added platform yang terbaru bagi
sebagian besar dewan komisaris.
Tetapi CR tidak hanya mengenai penggabungan kebijakan lingkungan dan sosial saja.
Meskipun alasan moral untuk mempraktikkan CR adalah menambah benchmark etis yang
dapat diidentifikasi seperti lingkungan, kesempatan karyawan dan hak asasi, manfaat
keuangan yang ada adalah asimetris, dengan kata lain, perusahaan tidak hanya mendapatkan
manfaat dari mempraktikkan CR, tetapi juga dapat meningkatkan kinerja dengan melakukan
CR secara baik.
Bila sebuah organisasi ingin mendapatkan manfaat penuh dari disiplin bisnis yang
esensial ini, organisasi harus siap untuk menerima CR secara penuh ke dalam budaya korporat
yang dimiliki. Perusahaan harus memastikan bahwa disiplin bisnis yang esensial ini terdapat
di semua bagian bisnis, termasuk dewan operasi. Meskipun CR tidak boleh dianggap sematamata sebagai penjamin kinerja, memiliki check and balance yang tepat dapat membantu
memfasilitasi mengurangi risiko yang ditanggung perusahaan bila terjadi skandal atau
kegagalan strategi.
Sebagai contohnya, pada awal tahun 2004, Coca-Cola yang selama beberapa dekade
adalah satu diantara perusahaan-perusahaan yang dihormati di dunia, menghadapi beberapa
tuduhan mengenai irresponsibility perusahaan meskipun memiliki catatan CR yang
18

konsisten. Masalah dimulai tahun 1999, ketika berbagai denda dan peringatan dari legislator
mengelilingi pelaksanaan bisnis perusahaan, organisasi dipaksa untuk me-recall dan
menghancurkan 17 juta kaleng Coke setelah 200 orang mengajukan keluhan sakit. Meskipun
telah mengambil tindakan yang tepat, cara Coca-Cola menangani krisis ini dianggap tidak
simpatik dan lambat oleh berbagai sumber media dan konsumen. Di bulan September, nilai
modal saham jatuh menjadi US$34 juta.
Bahkan ketika CEO Douglas Ivester yang bermasalah dipaksa untuk mengundurkan
diri oleh mayoritas investor institusional, situasi tetap memburuk. Di tahun 2003, operasi
pembotolan perusahaan di Keralam, Varanasi, Tamil Nadu dan Thane dituduh telah
menciptakan kondisi kekurangan air, mencemari persediaan air, dan memberikan limbah cair
kepada petani lokal, meskipun limbah cair tersebut dianggap sebagai pupuk yang baik. Aliran
limbah tersebut kemudian menunjukkan kandungan bahan kimia yang mematikan, dan praktik
pemberian tersebut segera dihentikan. Setahun kemudian, Coca-Cola meluncurkan merek air
Dasani ke dalam pasar UK; yang kemudian imagenya rusak setelah diungkapkan bahwa
produk tersebut hanya air keran biasa yang dimurnikan, dan selanjutnya menjadi sangat
rusak seminggu kemudian ketika diungkapkan bahwa air tersebut mengandung karsinogen
bromate dalam tingkat yang membahayakan.
Akan tetapi, reputasi CR-nya yang menjadi panutan telah membantu perusahaan di
dalam menghadapi devaluasi shareholder. Perusahaan telah memiliki beberapa strategi
pertumbuhan yang sustainable, termasuk sebuah Entrepreneurs Development Programme di
Afrika Selatan yang didesain untuk mendorong bisnis mikro dari retailer Coca-Cola. Hampir
13.000 pekerjaan telah diciptakan. Dari sebanyak 5.000 outlet baru, 3.500 diantaranya adalah
bagian dari program tersebut. Contoh lainnya adalah McD yang juga terkena skandal terkait
standar kebersihan penyiapan makanan, dan dianggap sebagai pemicu meningkatnya obesitas
di US, yang kemudian di tahun 2004 melakukan serangkaian kampanye misalnya
menggalakkan standar kebersihan penyiapan makanan, dan melakukan penarikan menu-menu
khusus berporsi besar.
Biaya untuk getting it wrong / menjadi salah adalah besar. Tidak hanya karena
perusahaan menghadapi kerusakan mengenai posisi keuangan, image dan reputasinya, tetapi
peraturan perundang-undangan juga menambahkan pelaksanaan etika. Sebagai contoh, di
bawah Sarbanes-Oxley, shareholder sekarang dapat menuntut direktur karena tidak
memperdulikan kepentingan mereka. Peningkatan aset intangible yang signifikan termasuk
merek, dikombinasikan dengan implikasi dari globalisasi dan persyaratan pemerintah untuk
pengungkapan, memberikan dampak yang besar atas tugas-tugas dan akuntabilitas direktur.
Perusahaan sekarang harus menunjukkan bahwa mereka bertanggungjawab kepada
lingkungan, komunitas dimana mereka beroperasi, dan masyarakat pada umumnya agar dapat
memuaskan para stakeholdernya.
3. Manfaat dari Corporate Social Responsibility
Manfaat dari mengadopsi CR atau pengembangan berkelanjutan sebagai budaya
perusahaan, meskipun manfaatnya tidak nampak secara nyata, adalah penting. Berikut adalah
manfaat yang diberikan oleh CR :
a. Manajemen Risiko yang Meningkat

19

CR memungkinkan sebuah organisasi untuk meningkatkan manajemen risiko dan


penilaian risiko organisasi. Bahkan pada kondisi saat ini, banyak eksekutif senior masih
menghubungkan kata risk dengan kegagalan bisnis, kecurangan dan pada akhirnya
penghancuran nilai shareholder. Tetapi terdapat bukti yang substansial yang menyarankan
bila CEO memahami profil risiko organisasinya, serta menempatkan strategi dan
mekanisme untuk mengatasinya, seperti CR, mereka akan menghasilkan return
shareholder yang superior dari tahun ke tahun. Untuk mendapatkan pengendalian
operasional yang memadai guna menghindari konfrontasi dengan stakeholder, direktur
membutuhkan platform yang terintegrasi dan otomatis yang memberikan pengendalian satu
titik, dan juga memperkuat aturan bisnis dan kepatuhan terhadap kebijakan, di seluruh
bagian organisasi. Gabungan Corporate Performance Management (CPM) dan Risk
Management Corporate Control (RMCC) harus memberikan kepastian bahwa data yang
penting diterima dengan cepat oleh orang yang tepat, dan data tersebut adalah benar-benar
yang mereka butuhkan, bukan hanya data yang mereka inginkan.
b. Menjamin Kepatuhan
Lingkungan corporate governance yang global saat ini sedang mengalami evolusi
yang dramatis. Kepatuhan sekarang menjadi ukuran tanggung jawab kepada shareholder,
lingkungan dan komunitas. Pemimpin bisnis harus bersiap untuk mendemonstrasikan dan
menjelaskan kontribusi sosial mereka pada pelatihan, perekrutan, penciptaan pendapatan,
penciptaan kekayaan, inovasi dan pengembangan rantai nilai. Kegagalan untuk melakukan
hal tersebut, akan menimbulkan harga yang mahal. Seperti yang diketahui, CR secara
intrinsik dihubungkan dengan corporate governance dan pelaporan keuangan. Pada tahun
2005, laporan keuangan di UK untuk perusahaan yang terdaftal di FTSE dan firma swasta
utama akan menyertakan sebuah laporan jenis baru yang dikenal dengan Operational and
Financial Review (OFR), yang akan menggantikan laporan direktur tradisional. Secara
hukum, faktor-faktor kinerja yang mempengaruhi termasuk karyawan, pelanggan,
persediaan dan dampak terhadap lingkungan dan komunitas yang lebih luas, harus lebih
dijelaskan dan lebih detail Meskipun aturan tersebut hanya berlaku bagi perusahaan
publik dengan turnover 50 juta atau lebih dan 500 karyawan, serta perusahaan swasta
dengan turnover 500 juta atau lebih dan dengan 5.000 karyawan, tetapi terdapat
kepastian bahwa hukum tersebut akan mencakup juga perusahaan publik dan organisasi
swasta yang lebih kecil.
c. Meningkatkan Kinerja Keuangan
Meskipun kasus etika bisnis yang lebih luas mengenai CR terbukti dengan sendirinya,
motivasi keuangan selalu sedikit lebih sulit untuk diukur. Akan tetapi, sejumlah laporan
yang telah dipublikasikan menghubungkan peningkatan kinerja keuangan dengan CR.
Menurut London Business School, lebih dari 100 studi yang dilakukan selama kurun
waktu 30 tahun, 68 persen menunjukkan korelasi yang positif antara CR dan nilai
shareholder.
Sebagaimana dilaporkan Institute of Business Ethics di tahun 2003, menunjukkan
bahwa perusahaan yang menerapkan CR ke dalam strategi mereka, memiliki kinerja
yang lebih baik pada tiga dari empat pengukuran.
20

Review yang dilakukan Dow-Jones Sustainability Index menyatakan bahwa antara


2002 dan 2003, index tersebut memiliki kinerja yang melebihi pasar mainstream.
Pada waktu yang sama DJSI World meningkat 23,1 persen, sedangkan Dow-Jones
Word Index naik sebesar 22,7 persen.
Studi mengenai stakeholder superstar termasuk Protect and Gambler, Johnson &
Johnson menunjukkan bahwa perusahaan yang secara konsisten berusaha
memperhatikan opini stakeholder memiliki kinerja yang melebihi S&P 500 lebih dari
dua kali rata-rata selama 15 tahun. Return total shareholder adalah 43 persen, dan
return total shareholder dari S&P 500 adalah 19 persen.
Di tahun 2000, Harvard University mengeluarkan laporan yang menunjukkan bahwa
perusahaan yang stakeholder-balanced memiliki tingkat pertumbuhan empat kali lipat
dan pertumbuhan karyawan delapan kali lipat bila dibandingkan dengan perusahaan
yang hanya terfokus pada shareholder.

d. Investasi Institusional
Satu dekade yang lalu, investasi yang etis secara sederhana berarti menghindari
perusahaan senjata, tembakau, farmasi, pertrokimia dan generator tenaga nuklir.
Sekarang, investasi yang etis memiliki makna dan komitmen yang baru, dari yang semula
hanya melihat dari jenis-jenis industri tertentu yang bersifat jelek atau sering diperolok.
Menyusul kasus Enron, etis sekarang dapat diukur dalam kaitannya dengan corporate
governance dan praktik CR, sama halnya seperti sektor industri. Seperti yang sudah
diketahui, dana investasi etis tumbuh dengan cepat. Di UK, lebih dari 120 milyar telah
diinvestasikan ke dalam dana institusional dan retail yang memiliki kebijakan Socially
Responsible Investment yang aktif, dengan lebih dari 100 milyar oleh perusahaan
asuransi yang mencari investasi dengan risiko sosial dan lingkungan yang rendah.
Menurut Social Investment Group di Amerika Serikat, pengukuran CR telah digunakan
pada lebih dari $2 triliun aset. Laporan yang sama oleh Russell Reynolds Associates
menunjukkan bahwa 50 persen dari investor Eropa dan 61 persen investor Amerika
Serikat telah memutuskan untuk mengurangi portofolio mereka atau tidak berinvestasi di
perusahaan dengan tata kelola yang buruk.
e. Akuntabilitas
Dalam kondisi pasar yang saat ini sangat kompetitif, merek menjadi sesuatu yang sangat
penting, karena melindungi reputasi dari aset tak berwujud adalah suatu keharusan.
Penelitian yang dilakukan oleh kelompok periklanan Interbrand menunjukkan bahwa 96
persen dari nilai sekarang Coca-Cola adalah tak berwujud; untuk kasus Kellogs, 97 persen;
dan untuk American Express, 84 persen. Ahli reputasi manajemen telah lama menyetujui
bahwa lebih mudah untuk membangun reputasi dari awal daripada mengembalikan reputasi
yang rusak karena skandal.
Hanya dengan meningkatkan hubungan dengan stakeholdernya, perusahaan dapat
benar-benar menciptakan nilai perusahaan. Menurut Jane Nelson, pimpinan bisnis dan
direktur strategi di International Business Forum, inovator CR dapat dengan cepat
mengenali kebutuhan untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai CR ke dalam
struktur dan strategi utama bisnis. Akuntabilitas kemudian dapat secara jelas ditelusuri ke
21

tim dan dewan manajemen eksekutif, dimana ada beberapa perusahaan yang bahkan
mengintegrasikan target kinerja ke dalam SRI dalam penilaian manajemen.
Mengutip dari sebuah laporan Ernst & Young di tahun 200, mengungkapkan bahwa
94 persen dari CEO yang diwawancarai percaya bahwa strategi CSR dapat menghasilkan
manfaat bisnis yang sebenarnya. Sebuah studi oleh Hill & Knowltons Reputation Watch
menemukan bahwa satu dari tiga eksekutif berpikir bahwa CSR akan meningkatkan
penjualan.
f. Ketertarikan dan Kebertahanan Karyawan
Menurut sebuah studi oleh konsultan tenaga kerja di Amerika Serikat, Aon, karyawan
sekarang lebih memperdulikan masalah pengendalian waktu kerja mereka, tantangan
intelektual dan bekerja untuk organisasi dengan visi dan nilai yang jelas dibandingkan
hanya dengan pertimbangan gaji yang diberikan. Hal ini, ditambah dengan perubahan
lingkungan kerja yang menunjukkan penurunan di bidang manufaktur dan pertumbuhan di
bidang jasa, telah mengarah pada semakin besarnya perhatian akan dampak yang
ditimbulkan korporat daripada yang mungkin dialami oleh karyawan generasi
sebelumnya. Program dan pencapaian di masyarakat, lingkungan dan tempat kerja
menjadi elemen yang familiar di dalam iklan pekerjaan, merefleksikan prioritas tinggi
yang diberikan pada triple-bottom line oleh pelamar yang potensial, dan pengakuan oleh
perusahaan bahwa CSR yang sukses adalah komitmen bagi semua stakeholder.
CR di dalam tempat kerja, meskipun demikian, menurut definisinya adakah suatu
disiplin yang kompleks. Benchmark terdiri dari kesamaan etnis/gender dan diversitas,
praktik kesehatan dan keamanan, pelatihan, sampai pada kebijakan hak asasi manusia
semuanya itu harus dipertahankan di seluruh perusahaan. Perusahaan multinasional seperti
Shell, yang secara tahunan mempublikasikan laporan CR, bekerja dengan keras untuk
memastikan berbagai standar yang ada di seluruh bagian perusahaan dipertahankan, dengan
menggunakan indikator kinerja kunci untuk mengukur keberhasilan dan kegagalan.
Pengambilan data yang intens seperti itu, tidak hanya untuk menjaga reputasi dan
meningkatkan kebijakan manajemen risiko, tetapi juga menunjukkan akuntabilitas sosial;
sebuah faktor yang penting ketika pemerintah di negara-negara berkembang akan
mempertimbangkan investasi asing yang mereka ketahui akan menciptakan dampak sosial
dan lingkungan yang substansial.
g. Inovasi
Merupakan hal yang benar ketika berbagai pemimpin bisnis memandang peraturan
hanya sebagai penekan, tetapi faktanya dengan menerapkan peraturan di dalam agenda
tanggung jawab perusahaan, hal ini dapat mendorong kreatifitas. Menurut laporan
Business in the Comumunity Fast Forward, 80 persen dari CEO di Eropa meyakini bahwa
praktik bisnis yang bertanggungjawab memungkinkan perusahaan untuk menjadi kreatif.
Ketika CR memberikan pandangan perusahaan yang luas, organisasi dapat menempatkan
kebijakan manajemen risiko yang lebih baik pada tempatnya, tidah hanya dengan
melengkapi dengan strategi yang memadai untuk menangani yang tidak terduga, tetapi
memungkinkan mereka untuk memperoleh manfaat dari kesempatan pasar.
4. Pengukuran dan Pelaporan Corporate Social Responsibility
22

Disamping berkembangnya keinginan oleh komunitas korporat untuk mengadopsi CR


atau perkembangan yang sustainable, pengukuran dan bagaimana melaporkannya masih
menjadi isu yang perlu mendapatkan banyak perhatian. Pertumbuhan CR telah mengarah pada
munculnya berbagai perkumpulan etis dan benchmark, semuanya menawarkan perspektif
yang berbeda tentang CR.
Kebingungan yang meliputi pelaporan SRI semakin memburuk oleh kurangnya
kerangka kerja pelaporan yang terstandarisasi, yang mengakibatkan munculnya berbagai
inisiatif, kode dan panduan. Yang semuanya meningkatkan tekanan stakeholder untuk
membuat laporan-laporan tersebut. Hal ini juga mengakibatkan beberapa masalah tentang
kejelasan mengenai konsistensi, dan di tahun 2004 sekelompok analis mengklaim bahwa
beberapa PLC mulai untuk mempermainkan laporan CR mereka karena takut bila kegagalan
dalam laporan CR akan mengakibatkan kehilangan yang substansial di dalam investasi.
Kabar buruknya, termasuk denda lingkungan atau masalah kesehatan dan keselamatan,
disembunyikan di dalam laporan tersebut sebagai sesuatu yang tidak memiliki hubungan
dengan kesuksesan perusahaan.
Meskipun terdapat beberapa masalah, dan perlunya dialog yang lebih baik antara
komunitas investasi, agensi pemeringkatan dan organisasi itu sendiri, pelaporan CR dapat
secara substansial memberi tambahan nilai. Organisasi yang siap untuk menggunakan
Enterprise Governance akan menemukan bahwa mereka tidak hanya memiliki banyak informasi
yang sudah tersedia, tetapi manajemen internal dan sistem informasi yang dibutuhkan untuk
memberikan laporan CR yang relevan dan reliabel.
Materiality Explained
Mendefinisikan materialitas telah menjadi suatu masalah, baik bagi legislator dan
organisasi profesional. Secara teknis, masalah material adalah sesuatu yang memiliki risiko
non-finansial pada tingkat operasional, atau sebuah dampak pada kinerja bisnis; dan yang
relevan dengan kepentingan stakeholder. Sebagai konsekuensinya, badan legislatif telah
berusaha mendefinisikan materialitas melalui hukum, meskipun terdapat beberapa kasus
hukum di Amerika Serikat karena misrepresentation tentang kinerja non-keuangan oleh
perusahaan Amerika Serikat. Karena itu organisasi tidak hanya perlu untuk mengindetifikasi
isu-isu yang material, tetapi juga mendemonstrasikan tata kelola yang transparan untuk
menghindari tindakan hukum dan mengamankan keyakinan jaminan profesional.
AccountAbility, sebuah institut internasional non-profit yang berdasarkan keanggotaan
telah diciptakan untuk mendorong akuntabilitas bagi perkembangan yang sustainable, telah
bekerja secara ekstensif dengan pemerintah dan legislator untuk mendefinisikan kembali
materialitas Kelompok tersebut telah mengembangkan pendekatan materialitas, yang
melibatkan pengujian lima tahap di dalam menentukan apa yang seharusnya diungkapkan
kepada publik.
1. Direct short-term financial impacts dari kinerja sustainabilitas, dimana mereka mucul
sebagai item yang signifikan pada laba dan rugi atau neraca.
2. Aspek-aspek dari policy-based performance dimana terdapat eksistensi dari posisi
kebijakan yang disetujui berdasarkan sifat strategiknya, tanpa memperdulikan
konsekuensi keuangan jangka pendek.

23

3. Peer-based norms, yang dapat ditentukan dimana perbandingan perusahaan


dipertimbangkan dan mengungkapkan isu-isu dan aspek kinerja yang material.
4. Stakeholder behaviour and concerns, yang relevan terhadap organisasi dimana hal ini
merupakan bukti yang dapat diterima bahwa pandangan stakeholder tentang perusahaan
dapat mempengaruhi keputusan dan perilaku. Pandangan stakeholder saja tidaklah
memadai untuk dipertimbangkan sebagai material perubahan perilakulah yang
membuatnya menjadi material.
5. Pertimbangan tentang social norms. Di atas regulasi, pengujian akan memasukkan aspekaspek kinerja yang cenderung akan diregulasi di masa depan.
Pelaporan
The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan
laporan pembangunan berkelanjutan sebagai laporan publik oleh perusahaan untuk
menyediakan stakeholder eksternal dan internal sebuah gambaran posisi perusahaan dan
aktivitas dalam dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial. Pendeknya, laporan seperti ini
mencoba mendeskripsikan kontribusi perusahaan melalui pembangunan yang berkelanjutan.
Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut
Sustainability Reporting. Sebagian besar kerangka kerja atau panduan pelaporan didasarkan
pada triple-bottom line, dengan beberapa kinerja keuangan yang terintegrasi. Khususnya, CR
dan laporan sustainable development meminta pelaku bisnis untuk mengakui tanggung jawab
atas dampak yang mereka timbulkan pada komunitas dan lingkungan.

Perusahaan harus mendefinisikan apa tujuan keseluruhan dari laporan, siapa yang akan
melihat laporan tersebut, isu-isu apa yang relevan, dalam format apa laporan tersebut akan
dipublikasikan (hanya sedikit organisasi yang mempublikasikan secara elektronik meskipun
secara jelas memberikan dampak lingkungan yang jelas), dan apakah umpan balik dari
stakeholder seperti NGO, akan disertakan. Organisasi juga harus mendefinisikan siapa yang
akan bertanggung jawab atas laporan tersebut, sebagaimana memastikan bahwa sistem yang
memadai telah ditempatkan untuk mengumpulkan dan mengukur data yang dibutuhkan.
Laporan tersebut kemudian perlu untuk diaudit secara internal dan eksternal.
Dikarenakan kompleksitas dan kebingungan yang melingkupi CR dan pelaporan
sustainable development, World Business Council for Sustainable Development meluncurkan
sebuah reporting portal- sebuah jasa online yang memberikan berbagai contoh tentang
bagaimana para anggota WBCSD melakukan pelaporan. Situs tersebut membagi pendekatan
pelaporan inti ke dalam empat kategori:
24

Company context informasi tentang komitmen manajemen puncak, profil perusahaan,


dampak dan posisi pasar.
Governance informasi tentang strategi, kebijakan, sistem manajemen, perikatan
stakeholder, manajemen risiko dan kesempatan bisnis.
Performance informasi tentang spesifikasi Key Performance Indicators CR.
Assurance keuntungan dari observasi pihak ketiga di dalam mendukung kredibilitas dan
reliabilitas.
Sementara itu, di Indonesia pengungkapan dalam laporan keuangan baik yang bersifat
wajib maupun sukarela telah diatur dalam PSAK No.1. Selain itu pemerintah melalui
Keputusan Ketua Bapepam No: kep-38/PM/1996 juga mengatur mengenai pengungkapan
informasi dalam laporan keuangan tahunan perusahaan-perusahaan di Indonesia, terdapat dua
jenis pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan, yakni:
a. Mandatory disclosure (pengungkapan wajib)
Dalam UU No. 8/PM/1995 mandatory disclosure yaitu pengungkapan yang diwajibkan
oleh peraturan pemerintah. Bagi emiten setelah go public pengungkapan wajib merupakan
pengungkapan minimum yang disyaratkan`oleh standar akuntansi yang berlaku.
Pengungkapan wajib setelah going public dapat terjadi selama perusahaan masih
merupakan perseroan terbuka. Pengungkapan wajib ini berupa segala informasi yang
diungkapkan dalam laporan keuangan baik yang terdapat dalam laporan laba rugi, neraca,
laporan perubahan modal, laporan arus kas, serta informasi-informasi pendukung lain
yang ada dalam catatan atas laporan keuangan yang keuangan seperti kebijakan akuntansi
yang diterapkan dan informasi lain yang wajib diungkapkan seperti kewajiban perusahaan
terhadap pihak ketiga, praktek Corporate Governance, serta masalah-masalah yang
berkaitan dengan keberlangsungan perusahaan (going concern).
b. Voluntary disclosure (pengungkapan sukarela)
Teori signal (signalling theory) melatarbelakangi pengungkapan sukarela ini. Teori
signal memandang manajemen selalu berusaha untuk mengungkapkan informasi privat
yang menurut pertimbangannya sangat diminati dan direspons baik oleh investor dan
pemegang saham khususnya apabila informasi tersebut merupakan berita baik (good
news). Beberapa elemen laporan yang diungkap secara sukarela, yang dirancang agar
sesuai dengan keputusan yang digunakan oleh pengguna untuk membuat proyeksi, nilai
perusahaan atau menilai prospek pembayaran kembali pinjaman perusahaan.
Kerangka Kerja Global Reporting Initative
Sebagai respon terhadap meningkatnya kecaman terhadap jumlah kerangka kerja yang
longgar dan tidak memadai, maka dibentuklah Global Reporting Initiative. Inisiatif tersebut,
yang didukung oleh kalangan bisnis, NGO, serikat dagang, investor institusi dan badan
akuntansi, bertujuan untuk menyebarkan dan mengembangkan secara global panduan
pelaporan sustainable untuk sektor industri individu. Lebih dari 300 perusahaan di 44 negara
telah mengadopsi panduan tersebut, yang termasuk prinsip pelaporan dan indikator isi.
Diantara perusahaan di UK yang menggunakan GRI adalah AstraZeneca, British American
Tobacco, Sainsburys, mmO2 dan Diageo. Perusahaan AS yang termasuk menggunakan
adalah Abbott Laboratories, Anheuser-Busch Companies, Dupont dan Hewlett-Packard.
Perusahaan di daratan Eropa adalah Carrefour, Siemens dan Volkswagen.
25

GRI juga mengembangkan panduan bagi perusahaan yang ingin melaporkan kinerja,
kebijakan dan praktik-praktik yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Kerangka kerja
tersebut, yang pada awalnya didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, memungkinkan
perusahaan untuk meningkatkan kredibilitas CR dan memberikan kesempatan bagi
stakeholder untuk mengukur dan membandingkan kompetitor sektor.
Melalui serangkaian tools, panduan GRI memungkinkan pengguna untuk melakukan
hal-hal berikut:
Mengukur dan membandingkan (benchmark) kinerja terhadap target dan kompetitor
mereka sendiri;
Meningkatkan komparabilitas dan mengurangi biaya transaksi sustainability ketika GRI
digunakan sebagai kerangka kerja pelaporan yang diterima umum;
Memastikan bahwa merek dan reputasi tidak dirusak oleh tindakan yang dilakukan oleh
pihak lain yang termasuk di dalam rantai nilai.
Termasuk di dalam manfaat kerangka kerja GRI adalah:
Membantu meningkatkan financial bottom line dengan mengindentifikasi area-area yang
tidak bermanfaat dan juga mengidentifikasi kesempatan bisnis yang baru;
Memberikan bahasa umum dan serangkaian indikator yang dapat digunakan untuk
mendiskusikan kinerja bersama dengan stakeholder dan mengurangi survey fatigue.
Memberikan informasi yang berharga terkait perubahan kepentingan stakeholder dan
permintaan untuk legislasi.
Menawarkan satu dari beberapa forum dimana kelompok stakeholder utama mengikuti
rapat dengan derajat yang sama untuk mendiskusikan dan memajukan sustainability.
GRI mengklaim bahwa panduan tersebut juga dapat membantu perusahaan
mengurangi volum dan variasi informasi yang diproses, dan juga meningkatkan fokus dan
nilai. Menurut riset, indikator GRI mencakup sekitar 80 persen dari indikator yang biasanya
digunakan dalam rating dan survei SRI. Kelompok tersebut juga merekomendasikan
indikatornya kepada stakeholder yang ingin mengukur kualitas praktik corporate governance
yang dilakukan oleh perusahaan. Karena biaya pengembangan panduan dan dokumen GRI
lainnya dibagi antara berbagai penggunanya, maka biaya keseluruhannya menjadi lebih
rendah bila dibandingkan dengan mengembangkan sendiri kerangka kerja perusahaan.
Panduan tersebut juga berada dalam perkembangan yang konstan. Protokol-protokol teknis
untuk setiap indikator sedang diciptakan untuk memberikan definisi yang mendetail, rumusrumus dan referensi yang menjamin konsistensi di dalam laporan tersebut. Terlebih lagi,
panduan tersebut memberikan bahasa yang secara umum dibagi untuk investor, stakeholder,
perusahaan dan regulator.
Standar dan Kerangka Kerja Voluntary Lainnya
Pada bulan Maret 2003, institut bisnis non-profit yang berbasis di UK, AccountAbility
meluncurkan standar internasionalnya yaitu AA1000AS untuk menjamin sustainability
sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pernyataan keyakinan oleh auditor independen.
European Federation of Accountant (FEE), yang sedang mendorong perusahaan untuk
melaksanakan laporan sustainability, meyakini bahwa standar tersebut akan memberikan
verifikasi independenden yang kuat dalam satu metodologi yang dapat diterima.
26

AA1000AS merekomendasikan bahwa penilai menilai laporan terhadap prinsipprinsip berikut:


Materiality: apakah laporan tersebut telah mencakup semua area kinerja yang diperlukan
oleh stakeholder untuk menilai kinerja sustainability perusahaan?
Completeness: apakah informasi tersebut cukup lengkap dan akurat untuk menilai dan
memahami kinerja organisasi di semua area tersebut?
Responsiveness: Apakah perusahaan sudah merespon secara logis dan konsisten terhadap
kepedulian dan kepentingan stakeholder?
SA800 Global Workplace Standard
Diciptakan oleh organisasi hak asasi manusia Social Accountability International, SA800
didasarkan pada norma-norma di tempat kerja yang berlaku secara internasional di dalam
konvensi ILO dan Universal Declaration of Human Rights serta Convention on Rights of The
Child oleh PBB. Isu-isu yang diukur dan dilaporkan adalah:
1. Child labour tidak ada pekerja di bawah usia 15 tahun, usia minimum diturunkan
menjadi 14 tahun untuk negara yang berada di bawah ILO Convention tentang 138 negara
berkembang yang dikecualikan; remediasi untuk setiap anak yang ditemukan sedang
bekerja.
2. Forced labour tidak ada pekerja yang dipaksa, termasuk narapidana dan pekerja yang
terikat hutang; tidak ada tempat penahanan deposito atau kartu identitas oleh pemberi
kerja atau perekrut dari luar.
3. Health and safety memberikan lingkungan kerja yang aman dan sehat; melakukan
tindakan untuk mencegah cedera; pelatihan kesehatan dan keamanan yang rutin bagi
pekerja; sistem untuk mendeteksi ancaman terhadap kesehatan dan keamanan; akses untuk
ke kamar kecil dan air yang dapat diminum.
4. Freedom of association and right to collective bargaining menghormati hak unuk
membentuk dan bergabung dengan serikat pekerja dan menawar secara kolektif; ketika
hukum melarang kebebasan ini, berikan kemudahan yang paralel untuk melakukan
asosiasi dan penawaran.
5. Discrimination tidak ada diskriminasi atas dasar ras, kasta, asal, agama, cacat fisik,
gender, orientasi seksual, afiliasi serikat atau politik, atau usia; tidak ada pelecehan
seksual.
6. Discipline tidak ada hukuman badan, kekerasan mental atau fisik atau pelecehan secara
verbal.
7. Working hours mematuhi hukum yang berlaku, tetapi dalam peristiwa apapun, tidak
lebih dari 48 jam per minggu dengan setidaknya satu hari libur untuk periode tujuh hari;
jam lembur sukarela dibayar dengan tingkat premium dan tidak melebihi 12 jam untuk
basis kerja reguler; lembur dapat menjadi kewajiban bila menjadi bagian dari persetujuan
kolektif.
8. Compensation upah yang dibayarkan untuk standar kerja mingguan harus mematuhi
standar hukum dan industri dan harus cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar pekerja
dan keluarganya; tidak ada pengurangan upah bila pekerja melakukan tindakan yang tidak
disiplin.
27

9. Management system memperoleh dan mempertahankan sertifikasi harus melampaui dari


hanya sekedar standar kepatuhan untuk mengintegrasikan standar ke dalam sistem dan
praktik manajemen mereka.
Standar lainnya yang diakui secara internasional termasuk standar lingkungan ISO
140001, yang merupakan standar yang populer bagi sektor manufaktur, GHG Protocol dan
Global Compact. Organisasi seperti Business in the Community juga telah mengembangkan
sendiri panduan pelaporan sebagai tambahan untuk indeks benchmark CR. Kelompok
tersebut juga menciptakan program CR yang terkenal seperti Community Cares, yang
memungkinkan perusahaan untuk secara reguler mengambil bagian di dalam proyek sukarela
lokal. Dalam tahun-tahun ini mereka memfokuskan upaya mereka untuk terlibat di dalam
komunitas SME, dengan menciptakan program penghargaan CommunityMark, yang secara
resmi mengakui kontribusi sosial sebuah perusahaan. Organisasi non-profit internasional
yaitu Ethical Trade Initiative (ETI) menawarkan para anggotanya kerangka kerja pelaporan
yang komprehensif yang diciptakan atas dasar kode organisasi itu sendiri. Kerangka kerja
tersebut memfokuskan pada kondisi tenaga kerja, pengawasan rantai supply perusahaan,
mekanisme komplain, hubungan dengan NGO dan serikat dagang, serta efektifitas tindakan
koreksi yang dilakukan. Laporan kemudian akan direview berdasarkan kriteria evaluasi,
berapa lama perusahaan menjadi anggota di dalam organisasi, jangka waktu perusahaan di
dalam melakukan program pengawasan etis dan tingkat kemajuan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan pada kriteria tersebut, setiap perusahaan akan dikelompokkan ke dalam satu dari
lima indeks.
Merupakan hal yang penting untuk diingat, akan tetapi, pelaporan kerangka kerja CR
tidak bisa hanya dilakukan dengan mentalitas one-size-fits-all. CR memiliki interpretasi yang
banyak, tergantung pada ukuran, sektor industri dan kondisi geografis perusahaan. Sebagai
contoh, sebuah perusahaan IT tidak memiliki dampak lingkungan yang sama dengan
kompleks manufaktur, meskipun perusahaan IT juga mengkonsumsi energi. CR dapat juga
menjadi disiplin yang membutuhkan biaya yang besar untuk diimplementasikan, meskipun
hasil akhirnya akan memberikan nilai dan menghemat biaya, sehingga dapat menjadi suatu
strategi jangka panjang. Pelaporan CR adalah konsep yang berkembang untuk perusahaan
dan stakeholder. Perkembangan dan kemajuannya masih membutuhkan waktu.
5. UU No.40 tahun 2007 dan Ketentuan CSR Lainnya di Indonesia
Undang-undang tentang CSR di Indonesia tertuang dalam UU Perseroan Terbatas No.
40 tahun 2007. Pasal 74 dari UU PT No. 40 Tahun 2007 berbunyi:
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan / atau berkaitan dengan
sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

28

Selanjutnya, selain UU PT No. 40, terdapat beberapa peraturan lagi yang mengatur
tentang kewajiban pelaksanaan CSR di Indonesia, yaitu :
a) Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Tanggungjawab Sosial dan
Lingkungan. PP ini melaksanakan ketentuan Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2007. Dalam PP ini, perseroan yang kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam diwajibkan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan
lingkungan. Kegiatan dalam memenuhi kewajiban tanggung jawab sosial dan lingkungan
tersebut harus dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang
dilaksanakan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
b) Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) wajib melaknasakan Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan (PKBL) sesuai dengan Peraturan Menteri Negara BUMN: Per05/MBU/2007 Pasal 1 ayat (6) dijelaskan bahwa Program Kemitraan BUMN dengan
Usaha Kecil, yang selanjutnya disebut Program Kemitraan, adalah program untuk
meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui
pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Sedangkan pada pasal 1 ayat (7) dijelaskan
bahwa Program Bina Lingkungan, yang selanjutnya disebut Program BL,
adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui
pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Program Bina Lingkungan, meliputi:
bantuan korban bencana alam; bantuan pendidikan dan/atau pelatihan; bantuan
peningkatan kesehatan; bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana umum;
bantuan sarana ibadah; dan bantuan pelestarian alam.
c) Bagi penanaman modal asing, diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal, daalam Pasal 15 (b) dinyatakan bahwa "Setiap penanam
modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan". Sanksi-sanksi
terhadap badan usaha atau perseorangan yang melanggar peraturan, diatur dalam Pasal
34, yaitu berupa sanksi administratif dan sanksi lainnya, meliputi: (a). Peringatan
tertulis; (b). pembatasan kegiatan usaha; (c). pembekuan kegiatan usaha dan/atau
fasilitas penanaman modal; atau (d). pencabutan kegiatan usaha dan/atau
fasilitas penanaman modal.
d) Bagi perusahaan pengelola minyak dan gas bumi, terikat oleh Undang-undang No 22
Tahun 2001, tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 13 ayat 3 (p), menyebutkan bahwa:
Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memuat paling
sedikit ketentuan-ketentuan pokok yaitu : (p). pengembangan masyarakat sekitarnya dan
jaminan hak-hak masyarakat adat. Jadi berdasarkan Undang-undang tersebut,
perusahaan yang operasionalnya terkait Minyak dan Gas Bumi baik pengelola eksplorasi
maupun distribusi, wajib melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat dan
menjamin hak-hak masyarakat adat yang berada di sekitar perusahaan.
Jika dilihat dari peraturan diatas, urusan terkait dengan CSR merupakan domain
pemerintah pusat, karena baik Peraturan Menteri BUMN, Undang-Undang PT, UndangUndang PMA, Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi dibuat oleh DPR bersama Pemerintah
Pusat. Sedangkan peran pemerintah daerah adalah melakukan monitoring dengan perangkat
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan Sosial (Amdalsos) dan mengkaji sejauhmana
perusahaan mampu memberikan manfaatnya kepada stakeholder dalam hal ini masyarakat
29

setempat. Pemda tidak berkewenangan dalam mengatur CSR yang merupakan urusan
program perusahaan terlebih masalah pengelolaan dananya, kecuali menjalin kerjasama
antarstakeholder didasarkan pada program dan skala prioritas yang sama terkait upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat.

Judul Buku : Management Model for Corporate Social Responsibility


Penulis
: Jan Jonker, Marco De Witte
Chapter
: 1 (Finally is Business : Organising Corporate Social Responsibility in Five)

AKHIR DALAM BISNIS : MENGATUR CORPORATE


RESPONSIBILITY DALAM LIMA HAL
I. Pendahuluan
Masyarakat kita pada dasarnya berada dalam transisi. Akibatnya, tuntutan baru dan
tak terduga ditempatkan pada bisnis. Dalam dekade terakhir telah menjadi jelas bahwa
bisnis perlu menemukan cara-cara baru untuk menanggapi perkembangan ini. Salah satu
isu penting yang menjadi jelas adalah perubahan antar muka diantara bisnis dan
masyarakat. Tidak jelas bagaimana peran, tanggung jawab dan fungsi bisnis harus
ditentukan dan ditangani dalam transisi ini.
Dalam dekade terakhir pencarian untuk jawaban ini menyebabkan perkembangan
konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Buku ini memberikan kontribusi pada
pencarian ini secara hand-on, karena menyajikan kisaran luas berbagai model dan
instrumen yang dicoba dan diuji yang dikembangkan untuk mengeksplorasi dan mengatur
CSR dalam organisasi. Dalam banyak hal, ini adalah hasil dari upaya praktis para
profesional yang bergerak dalam menemukan cara bagi organisasi untuk menghadapi
peran dan tanggung jawab baru mereka dalam masyarakat kontemporer.
CSR merupakan salah satu payung' label yang baru-baru ini mendapatkan
popularitas. Banyak masalah yang sedang muncul dibahas di bawah label (CSR) ini. CSR
memang mencakup berbagai isu dan topik-topik seperti hak asasi manusia, kesehatan,
energi yang dapat diperbaharui, buruh anak dan eko-efisiensi. Ini dianggap positif,
meskipun sering tidak terintegrasi dalam bisnis inti dari suatu organisasi. Setelah satu
dekade berbagai inisiatif, sekaranglah saatnya untuk bertanya apakah aktivitas ini secara
fundamental memberikan kontribusi terhadap permintaan bagi pendekatan-pendekatan
baru, konsep-konsep dan strategi bisnis yang baru. Berdasarkan atas hasil penelitian dan
praktek saat ini, kesimpulannya adalah bahwa CSR terutama masih tetap menjanjikan
untuk masa depan.

II. Akar Perdebatan


30

Perlu ada penelitian mendalam untuk menyadari berbagai perdebatan yang terjadi
di masyarakat. Dua kata kunci tampaknya menjadi inti dari perdebatan ini: ketahanan
[sustainability] dan tanggung jawab [responsibility]. Ketahanan mengacu pada perspektif
normatif terhadap lingkungan internal dan eksternal mengenai sumber daya berwujud
[tangible] dan tidak berwujud [intangible]. Tanggung jawab saat ini tidak hanya merujuk
pada tanggung jawab ekonomi, tetapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Perusahaan ditantang untuk melampaui tampilan yang didominasi ekonomi dan
mempertimbangkan konteks yang lebih luas. Tantangan ini dapat diartikan sebagai
tuntutan masyarakat (implisit dan eksplisit) untuk memasukkan nilai-nilai sosial dan
lingkungan ke dalam praktik bisnis. Baru-baru ini, telah menjadi sangat umum untuk
mengacu tanggung jawab ini di tingkat perusahaan sebagai tanggung jawab sosial
perusahaan' (CSR). Tidak diragukan lagi bahwa CSR telah menjadi salah satu tantangan
organisasi (yang baru) selama dasawarsa terakhir, tentu bila dilihat dari perspektif
pertumbuhan kebutuhan dan kewajiban sustainability.
III.Signifikansi Strategis CSR
Konsekuensi dari perdebatan ini adalah bahwa secara sukarela atau terpaksa
perusahaan akan cepat menjadi pihak yang bertanggung jawab bagi beragam masalah.
Peran tradisional mereka sedang ditulis ulang. Jelas bahwa perdebatan saat ini mengenai
CSR masih terlalu dini, meskipun akarnya kuat. Sustainability/ ketahanan dan tanggung
jawab, di bawah 'payung' CSR, sekarang merupakan bagian dari kemunculan gerakan
sosial global. Apa yang tampaknya dipertaruhkan dalam perdebatan ketahanan dan
tanggung jawab adalah peran dan fungsi dari perusahaan bisnis dalam masyarakat
kontemporer, termasuk cara bisnis didorong dalam pengertian nilai-nilai, strategi, usulan
bisnis, perubahan tanggung jawab dan akuntabilitas. CSR tampaknya tidak begitu banyak
merujuk pada kualitas individu (organisasi) tapi pada kualitas hubungan dengan dunia
(berdasarkan nilai-nilai dan identitas). Hal ini membutuhkan pengembangan visi inovatif
dari dunia menuju penggabungan eksternalitas dan kontribusi positif terhadap konteks
sosial. Jika CSR benar-benar tertanam dalam suatu organisasi, dia akan menjadi inti/
jantung bisnis, terkait dengan semua usulan/ proposisi bisnis dan nilai tambah dalam
rantai nilai dari berbagai pihak. Keadaan ini memungkinkan untuk melihat CSR sebagai
bagian dari proses inovasi dan pembaharuan (sosial). Titik kuncinya adalah
pengembangan kompetensi dan kemampuan untuk menghubungkan pendekatan bisnis
dengan kebutuhan dan keadaan dari berbagai stakeholder [pemangku kepentingan]. Hal
ini menuntut komitmen untuk membentuk kembali hubungan dalam bisnis dan konteks
sosial. Pertanyaan kuncinya adalah, oleh karena itu, bagaimana mengatur CSR?
Pengorganisasian CSR
Perspektif CSR umumnya disebut sebagai triple bottom line' dan banyak digunakan
dalam perdebatan CSR kontemporer. 'Planet' mengacu pada sustainability, 'masyarakat'
merujuk perubahan tanggung jawab sosial dan 'laba' merujuk pada hasil bisnis.
Diluncurkan pada pertengahan tahun 1990-an oleh John Elkington, tipologi ini telah
mendapat penerimaan luas dan dengan demikian telah sangat membantu dalam
meningkatkan dan memposisikan CSR dalam organisasi. Suatu dekade berjalan, secara
31

semantik maupun secara konseptual, tampaknya triple bottom line seolah-olah telah
melayani tujuannya. CSR saat ini benar-benar menjadi masalah organisasi, masalah
pelaksanaan yang timbul dari tipologi ini tidak memberikan arah yang jelas. Isu utamanya
adalah untuk menghubungkan domain organisasi internal dan eksternal yang berbeda
secara terpadu. CSR perlu menjadi bagian dari bisnis yang terorganisir dan terkait dengan
proposisi nilai, yaitu tantangan nyata yang terhampar di muka. Saat ini pada umumnya
tidak terjadi. Karena itu kita tidak perlu heran ketika organisasi hanya meletakkannya
untuk satu sisi ketika sibuk dengan isu-isu 'prioritas' seperti persaingan, perubahan
tuntutan atau resesi ekonomi. Pendekatan yang diambil di sini adalah melibatkan CSR
dalam semua aspek organisasi. Pendekatan ini perlu diarahkan melalui strategi bisnis yang
spesifik dari organisasi individu. CSR hanya benar-benar dapat tertanam secara
organisasional ketika berhasil di semua putaran nilai tambah. Berdasarkan atas perspektif
ini model manajemen terpadu telah dikembangkan yang digambarkan pada Gambar 1.1.

Model ini menyediakan pendekatan umum untuk semua aspek organisasi CSR dan cara
mereka saling terkait. Model ini muncul selama proyek dengan Corporate Citizenship
Centre (CCC) dari Universitas Afrika Selatan (UNISA) 1. Gagasan utama model ini
adalah Proposisi Bisnis (BP) dari suatu organisasi. BP adalah apa yang dibuat atau dijual
organisasi; raison 'd'etre'-nya. Model ini terdiri dari misi, visi dan strategi bisnis yang
secara keseluruhan berfokus pada penciptaan nilai pelanggan. Agar dapat secara efektif
menentukan BP, empat domain harus diatur: (a) identitas organisasi, (b) sistem, (c)
akuntabilitas dan akhirnya (d) transaksitivias. Keempat kegiatan organisasi yang saling
terkait ini terjadi dalam bisnis dan konteks sosial. Masing-masing isu-isu ini memerlukan
sejumlah kegiatan 'pengorganisasian:
BP dan pengaturan identitas mencakup masalah-masalah seperti: nilai-nilai inti,
pengendali/ driver, visi, branding, citra dan identitas perusahaan. Tergantung pada

32

strategi yang dipilih, suatu identitas yang spesifik dan nilai-nilai yang sesuai dapat
dirumuskan;
BP dan pengaturan sistem mencakup isu-isu seperti komunikasi internal dan eksternal,
desain proses primer dan pendukung, pelaksanaan, pemasaran, pelatihan,
pengembangan kompetensi, dan lain-lain;
BP dan pengaturan akuntabilitas mencakup isu-isu seperti audit, pelaporan, akuntansi,
pemantauan kinerja dan standar;
BP dan pengaturan transactivity mencakup masalah-masalah seperti keterlibatan
stakeholder, pengembangan kemitraan, pengadaan,pengaturandialog, dan rantai
pasokan.
Titik kunci di sini adalah untuk mengembangkan semua unsur yang sangat penting untuk
perusahaan individual dengan strategi yang telah disempurnakan berdasarkan proposisi
bisnis. Jika suatu perusahaan secara normal umpamanya mengikuti strategi inovasi,
penekanan harus diberikan pada masalah-masalah seperti keragaman, inklusi, ruang untuk
manuver, nilai-nilai karyawan, dialog dan komunikasi. Jika sebaliknya, perusahaan
mengikuti strategi yang lebih mempertahankan biaya kepemimpinan maka ini semua
adalah tentang penggunaan, pemakaian ulang dan daur ulang arus cacat nol [zero defect
flows], memaksimalkan penghindaran limbah dan analisis risiko. Apapun strateginya,
suatu pendekatan modern pada sustainability harus menjadi elemen inti sehingga hasilnya
adalah optimasi eko-efisiensi.
IV. Pengalaman
Sejauh ini kita telah menggunakan model ini dalam sejumlah studi kasus. Analisis
kasus-kasus ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan mengembangkan pendekatan
yang disesuaikan untuk CSR. Selain itu, Hasil penelitian menunjukkan titik fokus spesifik
selama pelaksanaan CSR. Berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, menjadi jelas bahwa
model paling penting ketika suatu perusahaan sudah memiliki beberapa jenis strategi CSR
di situ. Strategi ini seberapapun sederhananya menawarkan bidang untuk perbaikan
sistemik. Analisis juga menunjukkan semacam 'hierarki' dalam model: pengorganisasian
identitas memimpin jalannya. Ini adalah identitas yang memberikan arah strategis.
Pengalaman-pengalaman ini telah memberikan dukungan kepada gagasan bahwa model
ini merupakan alat yang sangat berharga. Kita saat ini terlibat dalam proyek-proyek
tambahan untuk memperluas pemahaman kita mengenai berbagai kemungkinan metode
dalam praktek.
V. Pencarian Model Manajemen yang Dapat Diterapkan
Selama beberapa tahun terakhir, kemajuan yang mengesankan telah dicapai dalam
bidang CSR. Seperti yang kita tahu ini harus telah menghasilkan sejumlah dicoba dan
diuji model manajemen (konsep, alat, instrumen dll), model yang telah menunjukkan nilai
tambah dalam latihan (organisasi) sehari-hari, kami telah mengumpulkan kemajuan ini
dalam prakteknya. Sebagai hasil dari inisiatif email internasional, lebih dari 150 orang
dari seluruh dunia setuju untuk turut berpartisipasi. Kami lalu menggunakan model yang
telah diuraikan di atas untuk menilai dan menyusun kontribusi potensial yang ditawarkan.
Hasil akhir menyebabkan gambaran ringkas tentang model yang disajikan di sini. Dalam
33

buku ini kami menawarkan pengalaman secara praktis yang mengarah ke volume yang
mudah diakses dan sangat gampang dibaca. Hasilnya adalah suatu bank pengetahuan yang
diberikan oleh orang-orang yang masih berjuang sampai suatu tingkat dengan berbagai
aspek CSR. Pengalaman hands-on ini adalah yang membuat buku ini sangat berharga. Hal
ini terutama ditujukan untuk para manajer dan konsultan: orang-orang yang harus
berurusan dengan CSR dalam praktek sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Fahy, M., J. Roche, and A. Weiner, 2004, Beyond Governance: Creating Corporate Value
through Performance, Conformance and Responsibility, Chichester, England: John Wiley
& Sons)
Jonker, J. and M. Witte, 2006, Management Model for Corporate Social Responsibility,
Heidelberg, Germany: Springer.
Rezaee, Z., 2007, Corporate Governance Post-Sarbanes-Oxley, New Jersey: John Wiley &
Sons, Inc.
Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007
http://www.amerta.id/2014/03/12/537/tujuh-regulasi-csr-di-indonesia.php,

diakses

pada

tanggal 21 Desember 2015

34