Anda di halaman 1dari 22

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

LAPORAN SISTEM KEMUDI REM DAN SUSPENSI


Semester 4

RACK AND PINION POWER STEERING

No.JST/OTO/OTO 633204

Revisi : 01

11 Maret 2016

Di susun oleh :
ERI SETYAWAN

(14504241021)

YULIUS RONALDO D

(14504241025)

RIFQI ARDIYANTO H

(14504241027)

PANJI ANDIKO P

(14504241040)

PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGRI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016

100 menit

A. PENDAHULUAN
I.

JUDUL LAPORAN
Laporan ini berjudulRack and Pinion Power Steering yang telah
dipraktikkan dan diketahui hasil analisanya.

II.

KOMPETENSI
Setelah melakukan praktik Rack and Pinion Power Steering
diharapkan mahasiswa :
1. Membongkar dan memasang Rack and Pinion Power Steering dengan
prosedur yang baik dan benar.
2. Menganalisa kondisi benda kerja yang digunakan untuk praktikum.

III.

ALAT DAN BAHAN


1.

Alat Kerja

: 1 set Tool box

2.

Alat Ukur

: 1 buah Busur baja

3.

Alat Bantu

: 1 set Alat tulis


: 1 buah Nampan

4.

Bahan

: 1 unit Roda Gigi Kemudi Jenis Rack dan Pinion


:

IV.

Power Steering

KESELAMATAN KERJA
1.

Berdoa sebelum memulai kegiatan praktik.

2.

Gunakan alat praktikum sesuai dengan fungsinya.

3.

Laksanakan praktikum sesuai dengan prosedur kerja.

4.

Tanyakan pada instruktur apabila mengalami permasalahan


praktikum.

5.

Bersihkan alat dan bahan praktik, kemudian kembalikan alat dan


bahan praktik ke tempat semula.

6.

Bersihkan area praktik setelah selesai melakukan kegiatan praktik.

B. KEGIATAN PRAKTIK
I.
DASAR TEORI
Rack dan Pinion
Sistem kemudi pada kendaraan dirancang untuk memudahkan
pengemudi menggerakkan roda-roda depan ke kiri atau ke kanan.
Tetapi dalam perkembangannya para pengendara menginginkan
kenyamanan dalam mengemudi, yaitu usaha dan gaya seminimal
mungkin untuk menggerakkan kemudi. Kemudian digunakanlah
power steering pada sistem kemudi. Power steering pada system
kemudi rack and pinion menggunakan rack dan tabungnya sebagai
power silinder dan untuk control valve memanfaatkan dari gerakan
pinion gear. Control valve/ rotary valve akan mengatur aliran fluida
dari pompa power steering ke power silinder. Pengontrolan akan
diatur oleh pergerakan pinion gear yang bergerak berdasarkan
kemudi, sehingga saat kemudi digerakkan control valve akan
membuka dan mengalirkan fluida ke power silinder sebelah kanan
atau kiri. Rack dan Pinion biasanya digunakan pada kendaraan
ringan seperti mobil sedan dan pick up.

Gambar 01. Rack dan Pinion

a. Bagian dan komponen Rack dan Pinion Power Stering


Sistem power steering konstruksinya tidak jauh beda
dengan sistem kemudi manual dengan komponen steering wheel
(roda kemudi), Steering column (batang kemudi) dan steering
linkage, hanya ditambah mekanis hidrolis yang bertujuan
membantu mendorong piston pada power silinder. Untuk tipe
rack dan pinion ini mempunyai komponen-komponen yang
penting yaitu gear housing, power cylinder, control valve dan vane
pump.
-

Gear Housing

Gambar 02. Gear Housing Rack dan Pinion


Gear housing pada power steering menggunakan roda gigi
tipe rack and pinion. Dimana steering pinion bagian ujung
pada poros utama kemudi bersinggungan dengan steering rack,
sehingga pada saat steering wheel diputar dan diikuti shaft
pinion akan menggerakkan steering rack ke kiri atau ke kanan.
Gerakan steering rack diteruskan rack end dan tie rod end ke roda
depan kiri dan kanan.
Roda gigi rack and pinion mempunyai keuntungan sebagai berikut:
Konstruksinya sederhana, ringan karena gear box kecil,

rack end sebagai steering linkage.


Gigi reduksinya lebih besar maka momen untuk menggerakkan
roda lebih ringan.

Persinggungan giginya langsung sehingga respon

pengemudian sangat tajam.


Rakitan steering tertutup sehingga tidak memerlukan perawatan.

Power Silinder

Gambar 03.Power Cylinder Rack dan Pinion


Power
ditempatkan

silinder

adalah

tempat

piston

bekerja

dan

pada rack, rack bergerak karena tekanan minyak

yang dihasilkan oleh tekanan vane pump yang bekerja pada power
piston. Kebocoraan minyak dicegah oil seal pada kedua ruangan
silinder dan bagian ujung power cylinder juga dicegah oil seal
untuk mencegah kebocoran fluida. Minyak yang digunakan
dextron dengan SAE 10. Steering wheel dihubungkan dengan
steering main shaft untuk menggerakkan control valve. Pada saat
steering wheel dalam posisi lurus control valve pada posisi netral
sehingga minyak dari vane pump tidak bekerja dikedua
ruangan tetapi dialirkan ke reservoir tank. Jika steering wheel
diputar kesalah satu arah, maka control valve merubah saluran
fluida sehingga vane pump bekerja kesalah satu ruangan dan
minyak pada salah satu ruangan akan kembali ke reservoir tank.
-

Katup Rotary

Arah aliran minyak dari pompa ditentukan oleh control


valve (rotary valve) yang ada dalam rumah gigi (gear housing).
Control valve shaft yang menerima momen dari steering wheel
dengan pinion gear dihubungkan oleh pasak dan berputar bersamasama.

Gambar 04. Control Valve Rack dan Pinion


Bila tidak ada tekanan minyak dari vane pump, torsion
bar akan terpuntir sepenuhnya. Control valve shaft dengan pinion
gear berhubungan dengan stopper, sehingga momen dari control
valve diteruskan langsung ke pinion gear (Toyota 1994 : 64).

Pompa
Pompa berfungsi untuk membangkitkan tekanan hidrolik
yang diperlukan untuk tekanan kerja. Tipe pompa banyak sekali,

antara lain : pompa torak, membran, plunger, roda gigi luar, roda
gigi dalam, vane, screw dan lain-lain. Tekanan yang diperlukan
merupakan tekanan secara menerus (continue), sehingga tipe
pompa yang digunakan adalah tipe Vane atau Roda Gigi. Pompa
menghasilkan tekanan dengan memanfaatkan putaran mesin,
sehingga volume pemompaan sebanding dengan putaran mesin.

Gambar 05. Pompa Power Steering


II.

LANGKAH KERJA
1. Pembongkaran
a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk melakukan
kegiatan praktikum.
b. Mengamati komponen-komponen yang ada pada sistem kemudi
tersebut serta mempelajari cara kerja sistem tersebut.
c. Membongkar sistem kemudi rak dan pinion

d. Melepas pinion gear dan control valve dari housing.

Gambar 06. Pinion Gear dan Housing

e. Melepas tie rod dari rack.

Gambar 07. Pelepasan Tie Rod


f. Melepas rack dari steering gear box dan power cylinder.

Gambar 08. Pelepasan Rack


g. Melepas control valve dari housing.

Gambar 09. Control Valve dan Housing


2. Pengamatan dan Pemeriksaan
a. Cara Kerja

Sistem Kemudi Jenis Rack dan Pinion Power Steering

Gambar 10. Rack dan Pinion Power Steering


Prinsip kerja Power Steering dari sistem kemudi yang
menggunakan peralatan hidrolis adalah bekerja untuk
meringankan pengemudian, adapun sumber tenaganya dari
pompa yang menggunakan putaran mesin. Pompa pada
power

steering

yang

digerakkan

mesin

bertujuan

membangkitkan tekanan fluida. Fluida yang bertekanan,


menekan torak dalam power silinder yang membantu tenaga

gerak pada pinion dan batang rack. Besarnya tenaga bantu


yang dihasilkan, tergantung pada tekanan hidrolis yang
bekerja pada torak. Oleh karena itu diperlukan tenaga
pengemudian yang besar, maka tekanan harus ditingkatkan.
Tekanan fluida ini diatur oleh katup pengontrol (control
valve) yang dihubungkan dengan steering main shaft. Katup
pengontrol (control valve) menurut cara kerjanya dibedakan
menjadi dua, yaitu :
-

Posisi Netral (Lurus).


Minyak dari pompa dialirkan ke katup pengontrol

(control valave). Bila katup pengontrol berada pada posisi


netral,

semua

minyak

akan

mengalir

melalui

katup

pengontrol keseluruh relief port dan kembali ke pompa. Pada


saat ini tidak terbentuk tekanan dan tekanan pada kedua sisi
torak sama, torak tidak akan bergerak kemanapun (Toyota
1994 : 54). Sehingga roda tidak akan bergerak dikarenakan
roda tidak menerima gaya dorong dari torak tersebut.

Gambar 11. Rack dan Pinion Power Steering Saat Lurus


-

Pada Saat Membelok.

Pada saat poros utama kemudi (steering main shaf.t)


diputar kesalah satu arah, maka katup pengontrol juga akan
bergerak menutup kesalah satu saluran minyak. Saluran yang
lain akan terbuka dan terjadi perubahan volume aliran
minyak dan akhirnya terbentuk tekanan. Pada kedua sisi torak
akan bergerak ke sisi yang bertekanan lebih rendah sehingga
minyak yang berada dalam ruangan tersebut dialirkan ke
pompa melalui katup pengontrol (Toyota 1994 : 54). Dengan
demikian roda akan terdorong karena mendapatkan dorongan
dari torak tersebut.

Gambar 12. Rack dan Pinion Power Steering Saat Belok


b. Data Pengamatan Rack dan Pinion Power Steering
Nama
No

Kompon
en

Jumla
h

Kondisi

Pinion

Baik

Rack

Baik

Foto

Rotary
Valve

Rumah
Pinion

Tie-Rod

Power
Cylinder

Baik

Baik

Baik

Baik

Rack
Boot

Baik

Pipa
8

Saluran
atau Selang

Tidak
Tersedia

Oli
Pengunci
9

10

Torsion Bar
Bagian
Atas
Seal Rotary
Valve

Tidak
Tersedia
Tidak
Tersedia

3.

Analisis Data dan Pembahasan


Rack dan Pinion Power Steering

Gambar 13. Konstruksi Rack and Pinion Power Steering


1. Pinion
Cara Kerja : ketika roda kemudi diputar, poros pinion yang terpasang
menjadi satu dengan poros kemudi akan ikut berputar dan
menggerakkan rotary valve untuk mengalirkan minyak pelumas

menuju power silinder.


Pinion dalam kondisi baik, namun Kemungkinan Kerusakan dan
Akibatnya yang mungkin terjadi pada pinion adalah : keausan pada
gigi gigi poros pinion, akibatnya menjadikan perkaitan antara poros

pinion dan rack tidak sempurna (kocak)


Tindak Lanjut atau Kemungkinan Perbaikan : karena kondisi pinion
baik, tindak lanjutnya hanya perlu pengecekan secara berkala, namun

jika terjadi kerusakan tersebut maka apabila gigi poros telah aus maka
di lakukan penyetelan, namun bila sudah masimal tetapi gap antar gigi
masih lebar, maka harus di ganti.
2. Rack
Cara Kerja : menerima gerak putar pinion dan gerak dorong dari torak
serta mengkonversikannya menjadi gerak bergeser kanan kiri untuk

menggerakkan roda depan melalui tie rod dan knuckle arm


Rack dalam kondisi baik, namun Kemungkinan Kerusakan dan
Akibatnya yang mungkin terjadi pada rack adalah : keausan yang terus
menerus yang akan lebih cepat rusak. Akibatnya rack kurang resopnsif

bergerak sehingga penyaluran gaya menjadi kurang optimal


Tindak Lanjut atau Kemungkinan Perbaikan : karena kondisi rack baik,
tindak lanjutnya hanya perlu pengecekan secara berkala.

3. Rotary Valve
Cara Kerja :
Arah aliran minyak dari pompa ditentukan oleh control valve
(rotary valve) yang ada dalam rumah gigi (gear housing). Control
valve shaft yang menerima momen dari steering wheel dengan pinion
gear dihubungkan oleh pasak dan berputar bersama-sama. Bila tidak
ada tekanan minyak dari vane pump, torsion bar akan terpuntir
sepenuhnya. Control valve shaft dengan pinion gear berhubungan
dengan stopper, sehingga momen dari control valve diteruskan
langsung ke pinion gear (Toyota 1994 : 64).

Gambar 14. Konstruksi Rotary Valve

Cara Kerja Pengaturan Minyak :


Pembatasan dalam sirkuit hidrolis dilakukan oleh gerakan putar
dari control valve shaft dalam kaitanya dengan rotary valve. Pada saat
membelok ke kanan, tekanan ditutup orifice X dan Y pada saat
membelok ke kiri pembatasan dilakukan oleh orifice X dan Y. Pada
saat steering wheel diputar, maka control shaft valve berputar
memutarkan pinion gear melalui torsion bar. Pada saat ini control
valve terpuntir berlawanan dengan pinion gear sesuai dengan gaya
permukaan jalan, control valve shaft berputar hanya sebatas puntiran
dan bergerak ke kiri atau ke kanan mengikuti rotary valve. Akibatnya,
orifice X dan Y (X dan Y) terbentuk dan perbedaan tekanan hidrolis
terjadi pada ruang silinder kiri atau kanan.
Dengan cara ini putaran control valve melakukan perubahan
saluran untuk merubah pengaturan tekanan minyak. Minyak dalam
vane pump dari lingkaran luar rotary valve akan kembali ke tangki
reservoir melalui celah antara torsian bar dan control valve shaft
(Toyota 1994 :65)

Gambar 15. Pengaturan Sirkuit Minyak


a) Posisi Netral.
Selama control valve shaft dan katup rotary (rotary valve)
tidak berputar, maka dalam posisi netral. Posisi ini terjadi saat
berjalan lurus tanpa memutar roda kemudi. Minyak yang dialirkan
dari pompa kembali ke tangki reservoir melalui lubang D pada
ruang D. Ruangan sebelah kiri dan kanan dalam silinder mulai
bertekanan, tetapi keduanya tidak ada perbedaan maka tidak terjadi
bantuan power steering(Toyota 1994 :72)

Gambar 16. Rotary Valve Posisi Netral

b) Posisi Belok Kanan.


Pada saat membelok kekanan, Torsian bar terpuntir dan
control valve berputar kekanan. Minyak dari pompa ditahan oleh
orifice X dan Y dari edge untuk menghentikan aliran kelubang C
dan D. Akibatnya minyak mengalir kelubang B ke sleeve B dan
kemudian ke silinder kanan, menyebabkan rack pinion bergerak ke
kekiri dengan bantuan power steering. Pada saat bersamaan
minyak dari ruang silinder kiri kembali ke reservoir tank melalui
sleeve C- lubang C- lubang D ruang D.

Gambar 17. Rotary Valve Posisi Belok Kanan

c) Posisi Belok Kiri.


Sama halnya dengan membelok ke kanan, kendaraan
membelok ke kiri torsian bar terpuntir dan control shaft berputar
ke kiri. Minyak yang dialirkan dari pompa ditahan oleh orifice X
dan Y dan menutup aliran ke lubang B dan D. Akibatnya minyak
mengalir dari lubang C ke Sleeve C dan kemudian ke ruang silinder
kiri memberikan bantuan power steering. Pada waktu yang sama,
minyak pada silinder kanan mengalir kembali ke reservoir tank
melalui sleeve C- lubang B- lubang D- ruang D.

Gambar 18. Rotary Valve Posisi Belok Kiri

Rotary valve dalam kondisi baik, namun Kemungkinan Kerusakan dan


Akibatnya yang mungkin terjadi pada rotary valve adalah : saluran
atau katup yang tersumbat kotoran, menyebabkan pendistribusian

minyak ke power silinder menjadi terganggu.


Tindak Lanjut atau Kemungkinan Perbaikan : karena kondisi rotary
velve baik, tindak lanjutnya hanya perlu pengecekan secara berkala.
Namun jika terjadi kerusakan tersebut maka hal yang harus dilakukan
adalah mengganti minyak power steering dan membersihkan katup.

4. Power Silinder
Cara Kerja : saat roda kemudi diputar, secara bersamaan pelumas akan
mendapat gaya tekan dari rotary valve, pelumas bertekanan ini akan
mendorong power silinder (piston) untuk menggerakkan rack yang

kemudian diteruskan ke lengan kemudi dan roda.


Power Slilinder dalam kondisi baik, namun Kemungkinan Kerusakan
dan Akibatnya yang mungkin terjadi pada power silinder adalah :
kebocoran pada seal perapat menyebabkan kebocoran minyak power
steering, dan keausan power piston menyebabkan penekanan tidak

sempurna.
Tindak Lanjut atau Kemungkinan Perbaikan : karena kondisi power
silinder baik, tindak lanjutnya hanya perlu pengecekan secara berkala.
Namun jika terjadi kerusakan tersebut maka hal yang harus dilakukan
adalah mengganti seal dan power piston.

5. Rack Boot
Cara Kerja : boot dipasang pada gear housing dan tie rod, boot dibuat
lentur sehingga dapat menyesuaikan pergerakan rack, sehingga dapat

menutup rack dengan sempurna.


Rack Boot dalam kondisi baik, namun Kemungkinan Kerusakan dan
Akibatnya yang mungkin terjadi pada rack boot adalah : karena
bergesekan dan timbul panas, akibatnya karet penutup tidak dapat
meelindungi dari debu dan kotoran, sehingga jika tidak ada karet

penutup maka rack dan pinion akan stuck atau macet.


Tindak Lanjut atau Kemungkinan Perbaikan : karena kondisi rack boot
baik, tindak lanjutnya hanya perlu pengecekan secara berkala. Namun

jika terjadi kerusakan tersebut maka hal yang harus dilakukan adalah
mengganti rack boot jika sudah rusak.

4. Pemasangan
a. Memasang rotary valve ke pinion.
b. Memasang rack pada power cylinder.
c. Memasang tie rod pada rack.
d. Memasang pinion dan rotary valve pada housing.
e. Mengecek kembali apakah pemasangan komponen sudah benar dan
lengkap
f. Bersihkan alat dan kembalikan ke tempat semula
C. PENUTUP
1. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian hasil kerja secara keseluruhan sistem kemudi
jenis rak dan pinion power steering dalam keadaan baik, semua
komponennya masih cukup baik dan hanya perlu dilakukan perawatan
dan pelumasan. Namun ada beberapa komponen yang tidak tersedia
seperti pipa atau selang saluran oli ke power cylinder, seal rotary valve
dan pengunci tensior bar bagian atas. Jadi tindak lanjut terhadap benda
kerja adalah memberikan pelumasan dan merawat komponen yang
dalam kondisi baik serta menyediakan komponen yang tidak tersedia.
2. SARAN
Saran untuk pihak jurusan adalah mohon disediakan buku atau
standar justifikasi kondisi komponen yang sesuai dengan komponen
praktik yang ada di Bengkel Otomotif, FT UNY. Hal ini akan sangat

membantu mahasiswa untuk menjustifikasi kondisi komponen dengan


benar.