Anda di halaman 1dari 17

Andrew Reynold mencatat bahwa berdasarkan pengalaman dari negara-negara demokrasi,

beberapa tujuan yang muncul dalam proses perancangan sistem pemilu adalah:
1. Keinginan akan pemerintahan yang stabil, efisien, dan tahan lama. Untuk tujuan u1i,
diperlukan kepercayaan rakyat bahwa sistem yang dianut relatif adil; pemerintah mampu
memerintah, dan sistem tidak bersifat diskriminatif.
2. Membuat perumus undang-undang, menteri, dan partai politik yang memerintah
bertanggung jawab kepada pemilih mereka sampai tahap yang setinggi-tingginya (tidak
sekadar penyelenggaraan pemilu nasional secara regular, tetapi juga pertanggungjawaban
geografis dan kebebasan memilih bagi para pemilih).
3. Mendorong partai politik,danpemilih agar mengambil sikap berdamai dengan oposisi
merekaw Sistem pemilu menjadi sarana untuk menangani konflik politik. menghindari
partai-partai yang bersifat eksklusif dan memecah belah serta mendorong agar lebih bersatu
dan inklusif.
4. Memberikan kemudahan pada "oposisi loyal" dalam politik demokratis. Jika sistem pemilu
itu main uat partai-partai oposisi impoten, pemerintahan secara inheren dilemahkan.
5. Menjamin agar vemilihan dapat dijalankan dan dikendalikan.
D. Demokrasi dan Etno-Religius
Hefner beranggapan bahwa keberhasilan demokrasi sangat bergantung pada sumbex daya
kultural setempat. Ia juga tergantung pada pada- tradisi dan organisasi yang mampu
mentransformasikan hakikat demokrasi pada masyarakat. Karena itu, kemajuan demokrasi dapat
dipahamt dengan mempelajari tiga unsur utamanya, yaitu:
1. Reformasi negara dan institusi-institusinya,
2. Peraturan dan undang-undang (rule of law),
3. Kultur demokratisi.
Dalam wilayah perpolitikan, kelompok agama merupakan suatu c~mensi dari kondisi
politik, baik sebagai alat kekuasaan, jaminan legitimasi maupun alat perjuangan politik. Ada tiga
kemungkinan yang mendorong hubungan antara agama dan politik.
1. Norma-norma agama sangat berkaitan dengan norma-norma politik, agama dapat
mengintegrasikan fungsinya dalam masyarakat dan membantu mengurangi ketegangan dari
proses pencarian yang terbatas dan mungkin karena ketiadaan penghargaan.

2. Institusi politik mengasumsikan pengendalian terhadap agama bahwa semua agama dalam
praktiknya menjadi instrumen lain yang memaksa, satu bagian dari organisme yang disebut
negara.
3. Berkaitan dengan kemungkinan kedua, boleh jadi terjadi ketegangan yang tajam (sharp
ten.rion) antara agama dan politik. Sebab, norma agama seringi bertentangan dengan norma
politik.
E. Demokrasi dan Kepercayaan
Pada bagian ini, kita akan mengekplorasi posisi kepercayaan dalam dua bentuk sistem
politik yang berlawanan, yaitu demokrasi dan otokrasi. Hubungannya dipercaya menjadi intim
dan mutual. Sistem politik dipandang melekat dalam budaya, termasuk budaya kepercayaan.
Keterlekatan ini merupakan manifes dirinya sendiri dalam dua cara.
Di satu~sisi, kepercayaan dianggap sebagai prasyarat bagi keteraturan politik. Sebuah
sistem-ekonomi, hukum, atau politik membutuhkan kepercayaan sebagai kondisi,input. Tanpa
kepercayaan, ia tidak daat mendorong kegiatan-kegiatan dalam situasi yang tidak jelas atau
berisiko Luhman 1988:103). "Kepercayaan merupakan suatu kondisi penting bagi masyarakat
sipil dan demokrasi" (Bellah et at, 1991: 33). Di sisi lain, kepercayaan dipertimbangkan sebagai
hasil tatanan poitik tipe tertentu.
F. Kepercayaan sebagai Prasyarat Demokrasi
Ada beberapa praktik fundamental demokrasi bahwa tidak dapat dan tidak akan diikuti
tanpa beberapa pengukuran dasar dari kepercayaan (Cladis 1992:213).
Lucien Pye membedakan dua tipe budaya politik, "Budaya-budaya yang terbangun atas
kebenaran fundamental bahwa ia adalah mungkin untuk percaya dan bekerja dengan sekelompok
orang" dan budaya-budaya terbangun atas "harapan bahwa kebanyakan orang adalah tidak
dipercaya dan bahwa orang asing secara terpisah mungkin berbahaya" (Pye dan Verba 1965: 22).
Ini adalah yang awal bahwa ia mengasosiasikan dengan demokrasi. Apakah praktik-praktik
demokrasi demkian sedang membutuhkan pengukuran kepercayaan?
1. Demokrasi membutuhkan komunikasi di antara warga negara: Pertukaran pendapat,
formulasi pilihan-pilihan politik, artikulasi dorongan politik, dan seterusnya. Interaksi yang
tinggi membuatnya lebih tidak didiami dan spontanitas, bahwa kepercayaan memfasilitasi

komunikasi. "Komunikasi mutual diperlukan dalam sebiah banyak lengkungan terbaik yang
terjadi ketika seseorang memercayai yang lainnya" (Parry 1976 : 129).
2. Demokrasi memerlukan toleransi: mengakui perbedaan, mengenal pluralitas pendapat, gaya
hidup, jalan hidup, perasaan, dan preferensipreferensi (pilihan-pilihan). Sebagaimana kita
nyatakan sebelumnya, kepercayaan memberikan masyarakat dengan lebih aman dan jelas,
begitu pula membuatnya untuk merangkul (mencakup) perbedaan sebagai kesempatan
daripada ancaman.
3. Demokrasi menempatkan konflik dan perjuangan melalui kompronu dan konsensus,
sebagaimana mekanisme utama membentuk kebijakan-kebijakan dan mengambil keputusan.
Setiap kompromi dan konsensus dapat dilakukan hanya jika patner menerima beberapa draft
peraturan main secara biasa, beberapa platform umum yang memungkinkan mereka
membuat solusi yang dapay saling diterima.
4. Demokrasi menuntut beberapa tingkat keadaban perselisihan publik: memfokuskan pada
subjek, menglundari perlawanan ad homanem, mengenal martabat lawan, dan seterusnya.
Saling percaya kelihatannya sangat diperlukan untuk itu. "Sebuah perasaan kepercayaan
mencegah perselisihan secara politik dari beberapa permusuhan." (Parry 1976 : 129).
5. Demokrasi membutuhkan partisipasi: ini memerlukan warga negara yang aktif, siap untuk
ikut serta dalam lembaga lembaga demokrasi, juga asosiasi dan organtsasi, bagian
masyarakat sipil.
6. Demokrasi memerlukan warga negara terdidik. Partisipasi demokrasi yang efekti , bahkan
dalam bentuk dasar pemilihan, menuntut sejumlah informasi yang dapat dipertimbangkan,
serta pengetahuan, kemampuan evaluasi dan melihat pikiran yang tajam.

PARTAI POLITIK
A. Definisi Partai Politik
Dalam perspektif sosiologi politik, partai politik merupakan kumpulan dari sekelompok
orang dalam masyarakat yang berusaha untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan suatu
pemerintahan atau negara. Adapun dalam ilmu politik, istilah partai politik bisa disebut sebagai
suatu kelompok yang terorganisasi yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai, dan
cita-cita yang sama.
Secara umum, tujuan dibentuknya partai politik adalah memperoleh kekuasaan politik
dan merebut kedudukan politik -biasanya dengan cara konstitusional- untuk melaksanakan
kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka. Carl J. Friedrich, sebagaimana dikutip Miriam Budihardjo,
(1998:160) mengemukakan bahwa partal politik adalah:
`A political party is a grouping of human beings, stably or ganiZed with the objective of
securing or maintaining for its leaders the control of government, with the further
objective of giving to members of the party, through such control ideal and material
benefits and advantages." (sekelompok manusia yang terorganisasi secara stabil dengan
cara merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan
partai politiknya, ..dan, berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun.materiel).
R..H. Soltau (seperti dikutip Bidihard)o, 1998: 160) mendefinisikan partai politik sebagai
berikut:
`A grow; of citizens more or less organi5,,ed, who act (is a political unit and who, by the
use of their voting power; aim to control the: goverment anf carry out theirgeneralpolicies':
(Sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisasikan, yang bertindak sebagai
kesatuan politik dan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih -bertujuan menguasai
pernerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum mereka).
Sigmeun Neuman dalam bukunya Modern Political Parties mendefinisikan sebagai berikut:
"A political party is the articulate organization of sociaty'r active political agents, those
who are concerned with the control of governmental power and Who compete for popular
support with another group or groups holding divergent views': (Partai politik adalah

organisasi

aktivitas-aktivitas

politik

yang

berusaha

untuk

menguasai

kekuasaan

pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan
atau golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda).
Sementara itu, Miriam Budiardjo sendiri membedakan partai politik dengan tiga kategori,
yakni kelompok penekan (pressuregrourp), kelompok kepentingan (interst group) dan gerakan
(movement). Dalam buku "Dasar-Dasar Ilmu Politik" diterangkan tiga variabel kelompok
tersebut.
Perbedaan gerakan sosial dengan partai politik terletak pada ciricirinya.Gerakan sosial,
seperti dikemukakan Bottomore (1992), memiliki ciri-ciri berikut. '
1. Sifat yang kurang terorganisasi sehingga tidak ada keanggotaan tetap atau keanggotaan yang
mudah dikenal (lidak ada ID card atau kartu pengenal).
2. Tidak memiliki hierarkis atau jalur staf pusat.
3. Satu kelompok yang bersimpati terhadap pandangan sosial atau doktrin tertentu, yang
menampakkan dirinya dalam perdebatan politik sehari hari.
4. Berperan serta dalam kegiatan-kegiatan seperti demonstrasi atau "riotous assemblies".
5. Bertindak dalam cara yang lebih menyatu.
6. Membangun

prasyarat

bagi

perubahan-perubahan

policy

atau

rezim

dengan

mempermasalahkan keabsahan sistem politik yang ada (sebagian atau seluruhnya) dengan
menciptakan iklim pendapat yang berbeda dengan mengajukan alternatif.
B. Asal dan Perkembangan Partai Politik
Berbicara tentang asal mula partai politik berarti kita berbicara tentang bagaimana partal
politik muncul untuk pertama kalinya.
1. Teori kelembagaan, yakni teori yang mengemukakan adanya hubungan antara parlemen awal
dan timbulnya partai politik. Lebih jauh, teori ini menjelaskan bahwa partai politik dibentuk
oleh kalangan legislatif (dan eksekutif) karena adanya kebutuhan para anggota parlemen
(yang ditentukan berdasarkan pengangkatan) untuk mengadakan kontak dengan masyarakat
dan membina dukungan dari mereka. Setelah partai politik terbentuk dan menjelaskan
fungsi, muncul partai politik lain yang dibentuk oleh kalangan masyarakat.
2. Teori situasi historis, yakni menjelaskan bahwa munculnya'partai politik sebagai kebutuhan
dari sistem politik untuk mengatasi krisis sebagai akibat dari perubahan. Perubahan ini

terutama dari masyarakat tradisional yang berstruktur sederhana menjadi masyarakat modern
yang berstuktur kompleks. Akibat yang paling berdampak dalam situasi historis ini adalah
krisis legitimasi, krisis integrasi, dan krisis partisipasi.
3. Teori pembangunan, yakni menjelaskan bahwa partai politik muncul karena kebutuhan dari
ekses modernisasi sosial ekonomi, seperti pembangunan teknologi komunikasi, perluasan
dan peningkatan pendidikan, industrialisasi, urbanisasi, perluasan kekuasaan Negara seperti
birokratisasi, pembentukan berbagai kelompok,kepentingan dan kelompok profesi.. Contoh
proses yang disebutkan terakhir misalnya menggambarkan hal yang melahirkan kebutuhan
akan suatu organisasi politik yang mampu memadukan dan memperjuangkan berbagai
aspirasi kelompok profesi tersebut.
C. Fungsi Partai Politik
Setiap keberadaan lembaga politik, termasuk partai politik, tentunya memiliki fungsifungsi pohtik. Hanya saja, fungsi partai politik akan berbeda-beda satu sama lain, khususnya
dalam hal pengejawantahannya, apabila dikaitkan dengan beragamnya sistem politik yang dianut
dan dijalankan oleh suatu negara.
Berkenaan dengan beragamya fungsi partai politik, Minram Budiarjo (1998: 163)
misalnya menuturkan bahwa ada perbedaan fungsi partai politik dalam negara demokratis dan
negara.berkembang, yakni: partai politik dalam negara demokratis menyelenggarakan beberapa
fungsi:
1. Sebagai sarana komunikasi politik;
2. Partai sebagai sarana sasialisasi politik;
3. Partai politik sebagai sarana rekruitment politik; dan
4. Partai sebagai sarana pengatur konflik (conflict management).
Adapun partal politik untuk negara berkembang, memiliki tiga fungsi pokok, yakru
menyediakan
1. Dukungan basis masa yang stabil
2. Sarana integrasi dan mobilisasi,
3. Memelihara kelangsungan kehidupan Politik.
Dengan fungsi ini, menurut Miriam Budiarjo, partai politik berfungsi untuk mencari dan
mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan pohtik sebagai anggota partai

(kader partai-pen). Dengan demikian, partal politik turut memperluas partisipasi politik. Caranya
ialah dengan kontak pribadi, persuasi, dan lain-lain. Juga diusahakan untuk menarik golongan
muda untuk dididik menjadi kader yang di masa mendatang yang akan mengganti pimpinan lama
(selection of leadersbo).
D. Tipologi Partai Politik
Tipologi atau pengklasifikasian berbagai partai politik dapat dijumpai atau dikefahiu
dan tiga- dasar kriteria, yaitu asas an orientasi, komposisi dan fungsi, basis sosial dan tujuan.
1. Dari sisi asas dan orientasi, partai politik dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe, yakni
partai politik pragmatis partai politik doktriner dan partai politik kepentingan
a. Partai politik pragmatis adalah suatu partai yang mempunyai program dan kegiatan
yang tidak terikat kaku pada suatu doktrin dan ideologi tertentu.
b. Partai politik doktriner ialah suatu partai politik yang memiliki sejumlah program dan
kegiatan konkret sebagai penjabaran ideologi.
c. Partai kepentingan merupakan suatu partai politik yang dibentuk dan dikelola atas
dasar kepentingan tertentu, seperti petani, buruh, etnis, agama atau lingkungan hidup
yang secara langsung ingin berpartisipasi dalam pemerintahan.
2. Berdasarkan komposisi dan fungsinya, partai politik dapat dikatagorikan menjadi dua,
yaitu partai massa atau partai lindungan (patronage party) dan partai kader.
a. Partai massa adalah partai politik yang mengandalkan kekuatan pada keunggulan
jumlah anggota dengan cara memobilisasi masa sebanyak-banyaknya, dan
mengembangkan diri sebagai pelindung bagi berbagai kelompok dalam mayarakat.
Dengan demikian, pemilihan urnum dapat dengan mudah dimenangkan, dan kesatuan
nasional dapat dipelihara. Selain itu, masyarakat dapat dimobilisasi untuk mendukung
dan melaksanakan kebijakan tertentu.
b. Partai kader adalah suatu partai yang mengandalkan kualitas anggota, kedekatan
organisasi, dan disiplin anggota sebagai sumber kekuatan utama.
3. Berdasarkan basis sosial dan tujuannya, partai politik dapat digolongkan pada empat tipe,
yaitu:
a. Partai politik yang beranggotakan lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat, seprti
kelas atas, menengah dan bawah.

b. Partai politik yang anggotanya berasal dari kalangan kelompok kepentingan tertentu'
seperti petani, buruh, dan penusaha.
c. Partai politik yang anggota-anggotanya berasal dari pemeluk agama tertentu, seperti
Islam, Katholik, Protestan, dan Hindu.
d. Partai politik yang anggota-anggotanya berasal dari budaya tertentu, seperti suku
bangsa, bahasa dan daerah tertentu
E. Sistem Kepartaian
Bila dilihat dari sudut jarak ideologi, Alan Ware menyatakan bahwa sistem kepartaian
digolongkan atas dasar jumlah kutub (polar), jarak di antara kutub-kutub itu (polaritas), dan arah
perilaku politiknya. Berkaitan dengan itu, Sartori mengklasifikasikan sistem kepartaian mienjadi
tiga, yaitu pluralisme sederhana, pluralisme, moderat, dan pluralisme ekstrem.
1. Sistem pluralisme sederhana mempunyai dua kutub (bipolar) dengan jarak polaritas
tidak ada dan arah politik mengarah pada sentripental.
2. Sistem pluralisme moderat memiliki dua kutub (bipolar) dengan polaritas kecil dan
arah politik partai sentripetal.
3. Sistem pluralisme ekstrem yang memiliki banyak kutub (multipolar) dengan
polaritas besar dan arah perilaku politik sentripugal.

BUDAYA POLITIK
A. Definisi Budaya Politik
Gabriel A. Almond dan Sidney Verba (1990: 14) mengaitkan budaya pohtik dengan
onentasi dan sikap pohtik seseorang terhadap sistem politik dan bagian-bagiannya yang lain serta
sikap terhadap peranan kita sendiri dalam sistem politik. Berikut ini adalah definisi budaya
politik yang diberikan oleh para pakar.
1. Sidney Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sistem kepercayaan empirik,
simbol-simbol ekspresif, dan nilai-nilai yang menegaskan suatu situasi tempat dilakukannya
tindakan politik.
2. Alan R. Ball mendefinisikan budaya politik sebagai suatu susunan yang terdiri dari sikap,
kepercayaan, emosi, dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan
isu-isu politik.
3. Austin Ranney menyebutkan bahwa budaya politik adalah seperangkat yandangan tentang
politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama; sebuah pola orientasi terhadap
objek-objek politik.
4. Gabriel A. Almond dan G. Bingharn Powell mendefuusikan bahwa budaya politik adalah
berisikan sikap, keyakinan, nilai dan keterampilan yang berlaku bagi seluruh populasi, juga
kecenderungan dan pola-pola khusus yang terdapat pada bagian-bagian tertentu dari
populasi.
5. Rusadi Kantaprawira menyebutkan bahwa budaya politik tidak lain adalah pola tingkah laku
individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu
sistem politik. Sebenarnya, istilah budaya politik tertentu inheren pada setlap masyarakat
yang terdiri atas sejumlah mchvidu yang hidup, baik dalam sistem politik tradisional
transisional maupun modern.
6. Nazaruddin Syamsuddin (1993: 90) dalam bukunya Dinamika Sistem Politik DI 'Indonesia
berpandangan bahwa budaya politik lazimnya diartikariseTiagai"seperangkat sikap,
kepercayaan, bafiasa, dan lambang yang dimilikinya. Bagaimana sikap, kepercayaan, dan
perasaan seseorang terhadap sistem politik sebenamya ditentukan oleh bagaimana hubungan
antara kebudayaan masyarakat itu dengan struktur politiknya.
Bertolak dari beberapa definisi tersebut di atas terdapat beberapa subtansi dari budaya
politik.

1. Konsep budaya politik lebih mengedepankan berbagai perilaku nonaktual ketimbang


berbagai perilaku aktual. Perilaku nonaktual misalnya adalah orientasi, sikap, nilai, dan
kepercayaan-kepercayaan.
2. Hal-hal yang diorientasikan dalam budaya politik adalah sistem politik. Ini artinya
pembicaraan tentang budaya politik tidak bisa lepas dari pembicaraan sistem politik.
Hal-hal yang diorientasikan dalam sistem politik, yaitu setiap komponen yang terdiri
dari komponen struktur dan fungsi dalam ~ sistem politik. Misalnya, seseorang akan
memiliki orientasi yang berbeda terhadap sistem politik, dengan melihat fokus yang
diorientasikan, apakah dalam tatanan struktur politik, fungsi struktur politik, dan gabungan
keduanya. Umpamanya, orientasi politik terhadap lembaga kepresidenan (eksekutif),
legisladf, dan sebagainya.
3. Budaya politik merupakan deskripsi konseptual yang menggambarkan komponen-komponen
budaya pohtik dalam tataran masif (dalam jumlah besar), atau mendeskripsikan masyarakat
di suatu negara atau wilayah, bukan per-individu. Hal tersebut berkenaan dengan pemahaman
bahwa budaya politik merupakan refleksi perilaku warga negara secara massal, yang
memiliki peran besar bagi terciptanya system politik yang ideal Deden Faturahman dan
Wawan Sobari 2002: 232-234).
B. Hakikat Budaya Politik
Gabriel A. Almond dan Sidney Verba dalam buku The Civic Culture, menjelaskan secara
gamblang konsep budaya politik pada bab paling depan. Pada awal tulisan wacana tersebut,
Almond dan Verba (1984) mengakui bahwa buku The Civic Culture merupakan hasil kajian
mengenai kebudayaan politik demokrasi dan struktur sosial serta proses-proses yang
mendukungnya. Untuk mendukung dan menyesuaikan antara konsep dan realitas sosial,
keduanya melakukan studi kasus (studi survey) pada lima negara yang dipandang dapat
mewakili semua pemikiran budaya poiitiknya, yakni Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia,
dan Meksiko.
Menurut keduanya, keyakinan akan pencerahan keberhasilan akali dan kebebasan umat
manusia telah dua kali digoncangkan dalam masa-masa terakhir ini. Perkembangan fasisme dan
komunisme pascaperang Duma I telah menunbulkan kekhawatiran yang cukup serius tentang
keharusaii demokrasi di dunia Barat.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang menjadi masalah tentang substansi kebudayaan
dunia yang sedang berkembang ini, yakni masalah ciri pohtisnya? Walaupun gerakan menuju
teknologi dan rasionalitas organisasi telah tampil dengan keseragamaan di seluruh dunia,
petunjuk arah perubahan politis masih samar. Akan tetapi, salah satu aspek.yang dapat dilihat
dari kebudayaan politik dunia yang baru ini ialah ia akan menjadi kebudayaan politik dalam
partisipasi. Meskipun wujud kebudayaan politik dunia yang sedang bergerak ini didominasi oleh
ledakan paxtisipasi, apa yang akan menjadi bagian partisipasi tersebut masih kurang jelas.
Bangsa-bangsa yang sedang berkembang diperkenalkan dengan dua model partisipasi
politik modern yang saling berbeda, yaitu yang bersifat demokratis dan yang totaliter. Negara
demokratis memberi orang-orang awam suatu kesempatan untuk mengambil bagian dalam
proses pembuatan keputusan politik sebagai warga negara yang berpengaruh.
Adapun negara yang totaliter memberikannya "tugas partisipan". Kedua mode itu
mempunyai daya tank bagi bangsa-bangsa baru, dan mana di antaranya yang akan berhasil jika
perpaduan antara keduanya tidak timbul, tak dapat dikatakan lebih dahulu.
Bentuk demokratis dari sistem politik yang partisipatif menuntut adanya keserasian
kebudayaan politik dengannya. Akan tetapi, transfer kebudayaan politik negara-negara
demokratis Barat kepada negara-negara yang sedang berkembang sering menemukan banyak
kesulitan. Di sini, Almond dan Verba menyebutkan dua alasan yang mendatangkan kesulitan
tersebut.
1. Sifat kebudayaan demokratis itu sendiri. Ide-ide besar demokrasi kebebasan individual,
prinsip pemerintahan atas perkenan warga yang diperintah berjalan terus dan menimbulkan
inspirasi.
2. Adanya sejumlah masalah objektif yang menghadang bangsa-bangsa ini. Mereka
menyongsong sejarah dengan penguasaan dan pernilihan perangkat teknologi dan sistemsistem sosial yang sangat kuno, kemudian beranjak menyongsong fajar dan kekuatan
teknologi serta revolusi ilmu pengetahuan.
Almond dan Verba menegaskan bahwa budaya (kebudayaan) politik itu bukanlah
kebudayaan modern, tetapi suatu kombinasi antara modernitas dengan tradisi. Namun di sini,
mereka berdua tidak menjelaskan sisi mana dari modernitas dan tradisional yang mengombinasi
dan akhirnya memunculkan budaya politik. Mereka hanya memberikan' contoh pada penerapan
konteks Negara Inggris. Dikatakan pada bukunya bahwa Inggris memberikan suatu contoh

bagaimana kebudayaan itu di Inggris dapat dianggap sebagai produk rangkaian pertemuan antara
modernisasi dan tradisionalisme, perpaduan tersebut begitu tajam atau terkonsentrasi, trtapi tidak
menimbulkan disintefrasi dan polarisasi. Sebagian karena keamanan insulernya, Negara Inggris
yang mewarisi era unifikasi nasional dan absolutisme dapat menolerir penerapan pemerintahan
aristokratik lokal yang lebih besar, dan mengabsahkan otonomi dibanding negara manapun di
Eropa. Model tersebut telah menjadi sebuah kekuatan yang mentransformasikan tradisi feodal
dalam tradisi parlemen sekaligus yang memungkinkan Inggris mampu melalui era absolutisme
tanpa merusak kemajemukannya.
Sebenarnya, dalam perjalanan abad ke-19, pembangunan kebudayaan politik (dalam hal
ini budaya demokrasi) berlangsung lebih cepat dan tegas di Amerika Serikat ketimbang di
Inggris. Itulah sebabnya, Amerika Serikat tampil sebagai negara yang berkembang secara cepat
dan relatif tidak dihalangi oleh institusi tradisional. Walaupun pola dasar mereka sama,
kebudayaan politik Inggris dan Amerika Serikat mempunyai perbedaan subtansial yang
mencerminkan perbedaan-perbedaan dalam sejarah nasional dan struktur sosial.
Menurut Almond dan Verba, kondisi di Eropa daratan lebih tercampur. Walaupun polapola mereka berbeda dalam banyak hal dengan apa yang terdapat di Inggris dan Amerika Serikat,
negeri-negeri Skandinavia, Low Countries, dan Switzerland tampaknya telah menata versi
kebudayaan politik mereka sendiri dan melancarkan akomodasi serta kompromi.
C. Tipologi dan Objek Budaya Politik
Setelah mengemukakan hakikat dari budaya politik, Almond dan Verba menuliskan ti petipe budaya politik yang berkembang pada sebuah negara (pada konteks ini tidak ditekankan
pada "karakter nasional" atau "model personalitas") dan pada proses "sosialisasi politik", yakni:
1. Tipe kebudayaan parokial.
2. Tipe kebudayaan subjek
3. Tipe kebudayaan partisipan.
Sebelum menjelaskan tiga tipe budaya politik di atas, terlebih dahulu diuraikan pula
mengenai akar munculnya tipe-tipe budaya politik tersebut. Almond dan Verba menyebutkan
bahwa kebudayaan politik suatu bangsa merupakan distribusi pola-pola orientasi khusus menuju
tujuan politik di antara masyarakat bangsa itu. Adapun tentang rumusan pola orientasi tersebut,
Almond dan Verba, dengari mengikuti rumusanXarspp,dan Shils, mengklasifikasikan tipe-tipe

orientasi pohtik bahwa budaya politik mengandung beberapa komponen orientasi, yaitu;
1. Orientasi kognitif: berisikan kesadaran, pengetahuan, dan kepercayaan pada pohtik, peranan
dan segala kewajibannya, serta input dan output-nya;
2. Orientasi afektif berisikan emosi-emosi dan perasaan terhadap system politik, objek,
peranannya, para aktor, dan penampilannya;
3. Orientasi evaluatif, keputusan dan pendapat tentang objek-objek pohtik yang secara tipikal
melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.
Selanjutnya, objek orientasi politik meliputi keterlibatan seseorang terhadap:
1. Pada sistem, yakni sebagai suatu keseluruhan dan termasuk berbagai perasaan tertentu
seperti patriotisme dan alienasi, kognisi dan evaluasi suatu bangsa;
2. Pada pribadi sebagai aktor politik: isi dan kualitas, norma-norma kewajiban politik
seseorang serta isi dan kualitas kemampuan diri setiap orang vis a vis sistem politik.
Ada berbagai pandangan terhadap objek orientasi politik yang diuraikan di atas. Rusadi
Kantaprawira misalnya, dengan redaksi berbeda namun substansi sama menjelaskan bahwa
objek orientasi politik meliputi keterlibatan seseorang terhadap:
1. Sistem politik secara keseluruhan yang meliputi intensitas pengetahuan, ungkapan perasaan
yang ditandai oleh apresiasi terhadap sejarah, ukuran lingkup lokasi, persoalan kekuatan,
karakteristik konstitusional negara atau sistem politiknya;
2. Proses input yang meliputi intensitas pengetahuan dan perbuatan tentang proses penyaluran
segala tuntutan yang diajukan atau yang diorganisasi oleh masyarakat, termasuk prakarsa
untuk menerjemahkan atau mengonversi tuntutan-tuntutan tersebut sehingga menjadi
kebijaksanaan yang otoritatif sifatnya. Dengan demikian menurutnya, proses input antara lain
meliputi pula pengamatan atas partai politik, kelompok kepentingan, dan alat komunikasi
massa yang nyata-nyata berpengaruh dalam kehidupan politik sebagai alat (sarana)
penampung berbagai tuntutan;
3. Proses output yang berkenaan dengan fungsi pembuatan aturan/ perundang-undangan oleh
badan legislatif, fungsi pelaksanaan aturan oleh eksekutif (termasuk birokrasi) dan fungsi
peradilan;
4. Diri sendiri yakni yang dipersoalkan adalah apakah yang menjadi hak, kekuasaan, dan
kewajiban. Apakah yang bersangkutan dapat memasuki lingkungan orang atau kelompok
yang mempunyai pengaruh atau bahkan bagaimana caranya untuk mengingatkan

pengaruhnya sendiri.
Kembah pada uraian Almond dan Verba tentang klasifikasi atau tipe-tipe budaya politik.
1. Budaya politik parokial. Di sini, dijelaskan bahwa jika frekuensi orientas itasi ini
terhadap keempat jenis objek orientasi politik khusus seperti yang dijelaskan di atas
mendekati nol. Artinya masyarakat pada budaya ini mengalami proses apriori terhadap
persoalanpersoalan politik atau bahkan lebih ekstremnya "apolitik".
2. Budaya pohtik subjek atau kaula, di sini terdapat frekuensi orientasi yang tinggi terhadap
sistem yang diferensiatif dan aspek output darl sistem itu, tetapi frekuensi orientasi,
terhadap objek-objek input secara khusus, dan terhadap4pribadi'sebagai partisipasi yang
aktif, mendekati nol.
3. Budaya politik partisipan, yakni suatu bentuk kultur yang anggotaanggota masyarakat
cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem sebagai keseluruhan dan
terhadap struktur dan proses politik serta administratif.
Dengan kata lain, terhadap aspek- input dan output darl sistem politik itu. Lebih jelasnya,
menurut Almond dan Verba, budaya partisipasif itu merupakan stratum tambahan yang boleh
ditimpakan kepada atau digabungkan dengan kebudayaan subjek dan parokial.
Dengan dapat ditimpakan atau digabungkan partisipan terhadap dua tipe lainnya, Almond
dan Verba lebih mengklasifikasikan tipe budaya pohrik tersebut pada tiga bentuk:
1. Budaya politik subjek-parokial (The Parochial subject Culture), yakni suatu tipe budaya
politik di mana sebagian besar penduduk menolak tuntutan-tuntutan eksklusif masyarakat
kesukuan atau desa atau otoritas feodal dan telah mengembangkan kesetiaan terhadap
sistem politik yang lebih kompleks dengan struktur-struktur pemerintahan pusat yang
bersifat khusus.
2. Budaya politik partisipan-subjek (The subject Parti~an-Culture) yakni cara bagaimana
proses peralihan dari budaya parochial menuju budaya subjek dilakukan pasti akan
mempengaruhi cara bagaimana proses peralihan darl budaya subjek menuju budaya
partisipasi langsung.
3. Budaya politik parokial-partisipan (The parochial participan culture). Dalam kebudayaan
ini,

menurut

Almond,

senantiasa

mendapat

masalah

kontemporer

mengenai

pembangunan kebudayaan di sejumlah negara yang sedang berkembang. DI hampir


semua negara ini, budaya politik yang dominan adalah budaya parokial. Normanorma

struktural yang telah diperkenalkan biasanya bersifat partisipan; demi keselarasan,


mereka menuntut suatu kultur partisipan. Dengan demikian, persoalan yang perlu
ditanggulangi ialah mengembangkan orientasi dan output secara simultan.
D. Transformasi Budaya Politik
Setelah diketahtu pengertian, hakikat, objek darl budaya politik dan tipe-tipenya,
pertanyaan "strategis dan taktis" kemudian adalah bagaimana proses pesan darl budaya politik
tersebut bisa tersampaikan atau textransformasikan pada publik secara utuh?
Untuk kepentingan itu, Almond dan Verba mengemukakan perlunya "teori sosialisasi
politik" dalam penyampaian pesan budaya politik. Pada bukunya, dijelaskan bahwa ada tiga
anggapan yang biasa dibuat untuk subjek berhubungan dengan sosiahsasi politik sebagai proses
yang sederhana.
1. Pengalaman sosialisasi yang akan memengaruhi tingkah laku politik di kemudian hari
yang terjadi sebelumnya dalamlkehidupan.
2. Pengalaman ini bukan pengalaman yang bersifat politik, tetapi memiliki berbagai
konsekuensi politik laten, yaitu yang tidak dimaksudkan melahirkan dampak politik,
sedang dampak tersebut tidak terorganisasi.
3. Proses sosialisasi selalu bersifat unidireksional: yaitu pengalamanpengalaman mendasar
di dalam keluarga mempunyai pengaruh penting terhadap struktural sekunder politik,
tetapi sebaliknya tidak dipengaruhi oleh politik.
Adapun sarana alamiah untuk terjadinya sosialisasi politik adalah keluarga, sekolah, dan
tempat bekerja. Institusi tersebut, menurut teori ini, membutuhkan proses ekspansi, yang bisa
dilakukan, baik secara eksplisit maupun implisit. Orang tua atau guru dapat secara eksplisit
berusaha mengajarkan norma tingkah laku politik. Pengaruh latihan warga negara eksplisit ini
akan dipertimbangkan pula.
Di sini, Almond dan Verba tidak menyebutkan partai politik sebagai sarana proses
sosialisasi politik. Untuk konteks itu, Ramlan Surbakti, menyebutkan bahwa sosialisasi politik
merupakan bagian dari fungsi partai politik.
E. Budaya Politik di Indonesia
Dalam konteks ke Indonesia-an, budaya politik secara tak langsung merupakan realitas

yang paling dianggap intens dan mendasari sistem politik Indonesia. Pengamatan terhadapnya
menurut Rusadi, tidaklah berhenti pada hasil perolehan identifikasi pengamatan momen
(moment opname) tentang pola dan struktur kebudayaan dalam situasi tertentu dan terbatas.
Sistem politik yang dipengaruhi atau dilandasi kebudayaan (politik), baru dapat
dimengerti dan dipahami dengan baik setelah mengarungi kurun waktu tertentu (yang mungkin
cukup panjang). Pudaya politik dan struktur politik tidak pernah berada dalam keadaan diam
(stasioner), tetapi selalu bergerak dan berinteraksi satu sama lain.
Dengan demikian, pembangunan politik Indonesia dapat pula diukur berdasarkan
keseimbangan atau harmoni yang dicapai antara lain oleh budaya politik dengan pelembagaan
politik yang ada atau akan ada. Konstatasi sementara tentang budaya politik Indonesia, yang
tentunya harus ditelaah dan dibuktikan lebih lanjut, adalah pengamatan tentang variable sebagai
berikut:
1. Konfigurasi subkultur di Indonesia masih beragam, walaupun tidak sekompleks yang
dihadapi India misalnya, yang menghadapi masalah perbedaan bahasa, agama, kelas, kasta,
yang semuanya relatif masih rawan (vulnerable).
2. Budaya politik Indonesia yang bersifat "farokial-kaula" di satu pihak dan budaya politik
partisipan di pihak lain; dari satu segi, massa masih ketinggalan dalam menggunakan hak dan
dalam memikul tanggung jawab politik yang mungkin disebabkan oleh isolasi dari
kebudayaan luar, pengaruh penjajahan, feodalisme, bapakisme, ikatan primodial.
Adapun di pihak lain, kaum elitnya sungguh-sungguh merupakan partisipan yang aktif
disebabkan pengaruh pendidikan modern (Barat), kadang-kadang bersifat sekuler, dalam arti
relatif dapat membedakan faktor-faktor penyebab disintegrasi seperti: agama, kesukuan, dan
lain-lain.
Melihat segi ini, keadaan ini merupakan kondisi yang mencerahkan (promising), karena
ternyata ide masih berperan besar sebagai salah satu modal bagi pembangunan. Jadi, jelas
terlihat, menurut Rusadi bahwa kebudayaan politik Indonesia merupakan "mixed political
culture" yang diwarnai besarnya pengaruh kebudayaan politik parokial-kaula.
3. Sifat ikatan primodial yang masih kuat berakar, yang dikenal melalui indikatornya berupa
sentimen kedaerahan, kesukuan, keagamaan, perbedaan pendekatan terhadap keagamaan
tertentu: puratisme dan nonpuratisme.
4. Kecenderungan budaya politik Indonesia yang masih mengukuhi sikap paternalisme dan sifat

patrimonial; sebagai indikatornya dapat disebutkan bapakisme, sikap asal bapak senang.
5. Dilema interaksi tentang introduksi modernisasi (dengan segala konsekuensinya) dengan
pola-pola yang telah lama berakar sebagai tradisi dalam masyarakat. Persoalannya ialah
apakah pelembagaan dalam sistem politik Indonesia sudah siap menampung proses
pertukaran (Inerchange) kedua variabel ini?.
Akhirnya, dari catatan konteks Indonesia, budaya politik Indonesia masih akan terus
menarik untuk dikaji dan dipelajari karena dari setiap periode politik (pengurunannya), budaya
politik relatif konstan, sedangkan sistem politik di Indonesia sering mengalami perubahan,
pergeseran, dan pergantian sesuai dengan karakter rezim yang berkuasa, baik pada masa Orde
Lama, Orde Baru maupun pada Orde Reformasi
Dari sini pula, sebenarnya kita memperoleh persoalan, meskipun dapat dikatakan bukan
persoalan baru, tentang belum selesainya pembahasan mengenai bagaimana sesungguhnya
keterkaitan antara budaya politik dan sistem politik di berbagai realitas politik? Untuk itu, kita
perlu memperluas analisis wacana tersebut pada kesempatan lain yang lebih luas, dengan
senantiasa mengacu pada adanya kesesuaian antara das sollen dan: das sein.