Anda di halaman 1dari 5

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Sindroma Ovarium Polikistik
1. Definisi
Tahun 1935 Steven dan Levental pertama kali menemukan suatu
gejala yang kompleks berhubungan dengan anovulasi, dan kemudian diberi
nama Sindrome Stein Levental atau sekarang biasa disebut Sindroma Ovarium
Polikistik (Broekmans, 2006). Sindroma Ovarium Polikistik merupakan suatu
kumpulan gejala seperti oligomenore, amenore, infertilitas, hirsutisme, akne,
dan pembesaran kedua ovarium (The Rotterdam, 2003). Gambar 1
menjelaskan tentang gambaran makroskopis pada SOPK (Franks, 1995).

Gambar 1. Ovarium Polikistik Makroskopis (Franks, 1995).


2. Etiologi
Penyebab secara pasti SOPK belum sepenuhnya diketahui. Namun,
terdapat beberapa teori yang mendasari terjadinya SOPK. Resistensi insulin,
peningkatan kadar Luteinizing Hormone (LH) dan penurunan Sex Hormone
Binding Globulin (SHBG) adalah beberapa faktor penyebab pada SOPK yang
sekarang diketahui (Diejomaoh, 2007). Resistensi insulin merupakan
penyebab tersering pada SOPK, hal ini diperkuat dengan pemberian terapi
metformin dengan atau tanpa kombinasi clomiphene citrate mampu
memperbaiki proses ovulasi. Resistensi insulin meningkat pada SOPK
sebanyak 40%, bahkan pada penelitian lain menyebutkan bahwa dari 85 kasus
SOPK resistensi insulin merupakan penyebab 48,2% sehingga terjadi

hiperinsulinemia sebagai suatu faktor etiologik di dalam patogenensis SPOK


(Maryam et al., 2012).
3. Epidemiologi
Penyebab infertilitas pada wanita dapat berupa gangguan ovulasi
sebesar 21%, gangguan pada tuba sebesar 14%, endometriosis sebesar 6%,
gangguan lendir serviks sebesar 3%. Penyebab lain infertilitas disebabkan
oleh gangguan koitus sebesar 6%, ganguan pada sperma sebesar 26%, dan
sebanyak 28% penyebab infetilitas belum dapat dijelaskan. Penyebab
infertilitas paling sering pada wanita adanya gangguan ovulasi. Salah satu
gangguan ovulasi yang paling sering terjadi ialah sindroma ovarium polikistik
(SOPK) pada 5-10% wanita usia reproduktif (Speroff, 2005). Prevalensi ini
sangat tergantung pada keadaan geografis dan etnis setempat. Diperkirakan
pada tahun 1999 di Indonesia terdapat 52.996.200 perempuan usia subur, dan
pada kelompok wanita usia subur tersebut terdapat 5.229.260 wanita yang
menderita SOPK (Hadisaputra, 2003).
4. Patomekanisme
Kadar androgen yang meningkat pada SOPK disebabkan karena adanya
gangguan pada aksis hipotalamus-pituitari-ovarium. Terjadi peningkatan
kadar

LH

akibat

peningkatan

frekuensi

pulsasi

pada

hipotalamus

gonadotropin - releasing hormone (GnRH). Rangsangan oleh LH akan


menstimulasi sel teka ovarium untuk mensekresi androgen. Biosintesis
androgen dimediasi oleh sitokrom P-450c17, terdiri atas enzim: 17hidroxylase dan 17,20-lyase, keduanya dibutuhkan dalam pembentukan
androstenedion. Androgen steroid kemudian diubah oleh 17-hidroxysteroid
dehydrogenase (17-HSD) untuk membentuk testosteron, yang kemudian
akan mengalami aromatisasi oleh enzim aromatase (sitokrom P-450arom)
untuk membentuk estron (Gambar 2) (Ehrman, 2005).

Gambar 2. Patofisiologi Sindroma Ovarium Polikisitik (Ehrman, 2005)


Frekuensi stimulus GnRH berpengaruh pada sintesis LH dan FSH dalam
gonadotropin. Peningkatan frekuensi pulsasi hipotalamus GnRH menjadikan
LH yang meningkat daripada FSH, sebaliknya penurunan pulsasi GnRH akan
meningkatkan FSH dan penurunan LH (Ehrman, 2005). Kadar LH yang
meningkat dapat dipengaruhi beberapa faktor, yaitu : 1) sensitivitas
hipotalamus terhadap stimulus Gonadotrophin Releasing Hormone (GnRH)
yang meningkat, 2) meningkatnya frekuensi sekresi GnRH akibat penurunan
tonus opioid akibat tidak adanya progesteron dalam waktu lama, serta 3)
meningkatkanya kadar estron (Balen, 2005).
Wanita dengan SOPK terjadi peningkatan frekuensi LH 30-90%,
dimana terdapat pulsasi denyut GnRH yang cepat (Eagleson et al., 2000).
Kadar LH yang tinggi menyebabkan sel teka menghasilkan androgen dalam
bentuk androstenedion dan testosteron. Sementara itu di sisi lain, kadar FSH
menurun karena kadar estron yang tinggi sehingga menyebabkan keadaan
yang lebih androgenik di dalam lingkungan internal folikel yang lebih

dominan. Kadar FSH yang tidak sepenuhnya disupresi total menyebabkan


perkembangan folikel terus berlangsung, namun tidak terjadi pematangan
folikel yang sempurna sehingga folikel menjadi atresia dan membentuk kistakista yang kecil (Balen, 2005).
4.a Resistensi Insulin pada SOPK
Insulin bekerja secara langsung pada reseptor insulin, maupun
tidak langsung pada wanita dengan SOPK. Gangguan resistensi insulin
terjadi pada post- reseptor yang berakibat penurunan transpor glukosa
(Pedro, 2005). Hal tersebut mengakibatkan sebagian besar wanita obes
dengan SOPK mengalami autofosforilasi reseptor. Fosforilasi tirosin yang
seharusnya berlangsung menjadi berkurang, digantikan oleh dominasi
fosforilasi serin pada kompleks Insulin Receptor Substrat (IRS).
Hambatan pada fosforilasi gugus tironin kompleks IRS ini menyebabkan
tidak teraktivasinya jalur Phosphatidylinositol-3-kinase (PI3-kinase),
sehingga menyebabkan glukosa tetap berada di ekstrasel (Savage, 2005).
Residu fosforilasi serin yang berlebihan pada reseptor insulin
menurunkan transmisi sinyal, dan hal ini juga merupakan alasan untuk
terjadinya hiperandrogenisme oleh fosforilasi serin pada enzim P450c17
di kelenjar adrenal dan ovarium yang berakibat peningkatkan aktifitas
enzim 17,20-lyse dan produksi androgen (Gill, 2001).
Insulin secara langsung akan meningkatkan produksi hormon
steroid pada ovarium walaupun dengan kapasitas rendah. Insulin dengan
kadar tinggi akan menurunkan produksi Insulin-like Growth Factor
Binding Protein-I (IGFBP-I) sehingga akan berikatan lebih banyak
dengan reseptor Insulin-like Growth Factor-I (IGF) yang secara struktural
mirip dengan reseptor insulin. Insulin-like Growth Factor-I bekerja pada
sel teka untuk meningkatkan reseptor terhadap LH. Rangsangan reseptor
IGF-I oleh insulin akan meningkatkan produksi androgen pada sel teka
(Dunaif, 2001). Selain berefek langsung pada ovarium, hiperinsulinemia

juga akan menghambat Sex Hormone-Binding Globulin (SHBG) dimana


merupakan protein yang berfungsi untuk mengikat testosteron bebas agar
tidak terjadi peningkatan testosteron (Ehrman, 2005).