Anda di halaman 1dari 128

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP

MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN


PENYAKIT TUBERKULOSIS DI RW 04 KELURAHAN
LAGOA JAKARTA UTARA TAHUN 2013
Skripsi Diajukan Sebagai Tugas Akhir Strata-1 (S-1) pada
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Oleh:
SUMIYATI ASTUTI
109104000039

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013 M

RIWAYAT HIDUP

Nama

: Sumiyati Astuti

Tempat, Tanggal Lahir

: Brebes, 5 Juli 1991

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Status

: Belum Menikah

Alamat

: Jln. Tipar cakung No. 69 RT 001 RW 01


Kel. Sukapura, Kec. Cilincing
Jakarta Utara

Telepon/Hp

: 087876771564

Email

: sumiyati.astuti@gmail.com

Riwayat Pendidikan:
1. SDN Sukapura 02 Pagi Jakarta (1997-2003)
2. SMP Negeri 30 Jakarta (2003-2006)
3. SMAN 75 Jakarta (2006-2009)
4. S1 Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2009-2013)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi, September 2013
Sumiyati Astuti, NIM: 109104000039
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta
Utara tahun 2013
xx + 89 halaman + 10 tabel + 3 bagan + 5 lampiran

ABSTRAK

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh


bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang paling umum mempengaruhi paru-paru.
Prevalensi penyakit TBC semakin meningkat, total kasus penyakit TBC di
Kelurahan Lagoa yang tercatat di Puskesmas Kecamatan Koja pada tahun 2012
mencapai 67 kasus. Hal ini terjadi karena upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
belum dilakukan secara maksimal oleh warga Kelurahan Lagoa.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross
sectional, sampel dalam penelitian ini adalah warga RW 04 Kelurahan Lagoa
yang didapat dengan teknik Cluster Sampling. Analisis data yang digunakan
adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji
Correlation Spearman.
Hasil analisis univariat menunjukkan 71,7% mayoritas responden
memiliki pengetahuan yang baik terhadap upaya pencegahan penyakit TBC, 55%
responden memiliki sikap positif terhadap upaya pencegahan penyakit TBC dan
66,7% responden memiliki upaya pencegahan penyakit TBC yang baik. Analisis
bivariat dengan uji Correlation Spearman dengan =0.05, hasil analisis
didapatkan ada hubungan antara pengetahuan dengan upaya pencegahan penyakit
TBC (p value=0.000), dan ada hubungan antara sikap masyarakat dengan upaya
pencegahan penyakit TBC (p value=0.003). Diharapkan tenaga kesehatan dapat
lebih meningkatkan promosi kesehatan yang lebih baik lagi mengenai pentingnya
melakukan upaya pencegahan penyakit TBC yang dapat dilakukan oleh
masyarakat sebagai pencegahan terhadap penyakit TBC yang dapat menyebabkan
kematian.

Kata Kunci: Tuberkulosis,


Pengetahuan, Sikap

Upaya

Pencegahan

vi

Penyakit

Tuberkulosis,

THE STUDY PROGRAM OF NURSING SCIENCES


FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
STATE ISLAMIC UNIVERSITY SYARIF HIDAYATULLAH OF JAKARTA
Undergraduated thesis,

September 2013

Sumiyati Astuti, NIM: 109104000039


Relationship of Knowledge Level and Society Attitude Against Tuberculosis
Disease Prevention in RW 04 Lagoa, North Jakarta Year 2013
xx + 89 pages + 10 tables + 3 sketch + 5 appendixes

ABSTRACT

Tuberculosis (TBC) is an infection disease which it caused by


Mycobacterium tuberculosis. Prevalence increase in 2012 total cases of TBC
disease in Lagoa, Koja district health centre reported there up to 67 cases. This
happen due to the prevention has not done optimaly by citizen from Lagoa
district.
The purpose of this study was determine the relationship of the level of
knowledge and society attitude due the effort from preventing tuberculosis
disease. This study is quantitative cross sectional design, the sample in this study
were citizen from RW 04 subdistrict of Lagoa with Cluster Sampling. Analysis of
the data used is the univariate and bivariate analysis. Bivariate analysis used is
Correlation Spearmans test.
The result of univariate analysis showed 71,7% majority of respondent
have good knowledge about the prevention of tuberculosis, 55% of respondent
have positive attitude about tuberculosis prevention and 66,7% of respondent have
good effort of preventing the TBC disease. Bivariate analysis with Correlation
Spearmans test with =0.05 level, the result found there were a relationship
between knowledge and the prevention of tuberculosis (p value=0.000). And a
relationship between society attitude and the prevention of tuberculosis (p
value=0.003). therefore health workers are expected to further enhance the
promotion of better health and more about the importance of prevention of TBC
disease that can be done by the community as the prevention of tuberculosis
disease that can cause death.

Keyword : Tuberculosis, Preventing TBC disease, Knowledge, Attitude

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya. Shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Hubungan tingkat
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara.
Selama proses penyelesaian skripsi ini, penulis telah banyak mendapat
bantuan berupa bimbingan dan dukungan dari semua pihak. Untuk itu penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Prof. Dr. (hc). dr. M. K Tadjudin, Sp. And sebagai Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ns. Waras Budi Utomo, S. Kep, MKM dan Ns. Eni Nuraini Agustini, S.
Kep, M. Sc, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan
(PSIK) FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ns. Waras Budi Utomo, S. Kep, MKM, selaku pembimbing pertama yang
telah membimbing dengan sabar dan memberikan motivasi kepada
penulis.
4. Ns. Puspita Palupi, S. Kep, M. Kep, Sp. Kep. Mat, selaku pembimbing
kedua yang telah membimbing dan memberikan motivasi kepada penulis.
5. Bapak/Ibu dosen Program Studi Ilmu Keperawatan, yang telah
memberikan doa dan ilmu pengetahuan selama penulis mengikuti
perkuliahan.

viii

6. Segenap staf bidang Akademik FKIK dan Program Studi Ilmu


Keperawatan.
7. Kepala Dinas Kesehatan Kota Jakarta beserta seluruh stafnya karena telah
membantu dalam perizinan penelitian.
8. Kepala Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara beserta seluruh stafnya
karena telah membantu dalam pemberian data untuk penelitian.
9. Kepala Kelurahan Lagoa Kecamatan Koja Jakarta Utara beserta seluruh
stafnya karena telah membantu dalam perizinan dan pengambilan data
penelitian.
10. Ketua RT 002, RT 004, RT 006, RT 008, RT 010 dan RT 012 karena telah
membantu dalam perizinan dan pengambilan data.
11. Teristimewa ucapan terima kasih kepada seluruh keluarga tercinta, orang
tua yang telah memberikan kasih sayang, doa, dan pengorbanan baik moril
maupun materil demi kelancaran kehidupan dan masa depan penulis, serta
untuk kakak-kakakku yang selalu memberikan doa dan semangat.
12. Karang Taruna 03, Wati, Yessi, dan Winda yang telah banyak membantu
dalam mengumpulkan data penelitian.
13. Sahabat-sahabatku yang telah memberikan doa dan semangat dalam
menyelesaikan penelitian ini.
14. Teman-teman PSIK 2009 yang telah berjuang bersama-sama dalam
mengikuti perkuliahan di Keperawatan.

ix

Demikian penyusunan skripsi ini penulis buat, semoga dapat bermanfaat


bagi pembaca sekalian. Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih jauh
dari kesempurnaan dan masih banyak terdapat kesalahan. Oleh sebab itu kritik
dan saran untuk perbaikan skripsi ini sangat penulis harapkan. Terima kasih untuk
semua bimbingan, arahan, kritikan dan saran yang telah diberikan oleh semua
pihak. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kemudahan kepada kita semua.

Jakarta, Oktober 2013

Sumiyati Astuti

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
PERNYATAAN PERSETUJUAN ..........................................................

LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................

ii

LEMBAR PERNYATAAN .....................................................................

iv

RIWAYAT HIDUP ..................................................................................

ABSTRAK ................................................................................................

vi

ABSTRACT ..............................................................................................

vii

KATA PENGANTAR ..............................................................................

viii

DAFTAR ISI .............................................................................................

xi

DAFTAR TABEL ....................................................................................

xvi

DAFTAR BAGAN ....................................................................................

xvii

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

xviii

DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN ........................................................

xix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................................

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

C. Pertanyaan Penelitian .....................................................................

D. Tujuan Penelitian ...........................................................................

E. Manfaat Penelitian .........................................................................

10

F. Ruang Lingkup Penelitian ..............................................................

11

xi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengetahuan ...................................................................................

12

1. Pengertian ................................................................................

12

2. Klasifikasi ................................................................................

13

3. Proses Adopsi Perilaku ............................................................

14

4. Tingkat Pengetahuan dari Domain Kognitif ...........................

15

5. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ...............................

16

B. Sikap ...............................................................................................

18

1. Pengertian ................................................................................

18

2. Komponen Pokok Sikap ..........................................................

19

3. Tingkatan Sikap .......................................................................

20

4. Faktor yang Mempengaruhi Sikap ..........................................

21

C. Tuberkulosis ...................................................................................

23

1. Pengertian Tuberkulosis ..........................................................

23

2. Etiologi ....................................................................................

24

3. Penularan .................................................................................

25

4. Manifestasi Klinis ...................................................................

25

5. Komplikasi ..............................................................................

27

6. Faktor Risiko TBC ..................................................................

28

7. Pencegahan ..............................................................................

34

8. Kebijakan Program Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis


di Indonesia ..................................................................................

37

D. Penelitian Terkait ...........................................................................

39

E. Kerangka Teori ...............................................................................

42

xii

BAB

III

KERANGKA

KONSEP,

HIPOTESIS

DAN

DEFINISI

OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep ...........................................................................

43

B. Hipotesis Penelitian ........................................................................

44

C. Definisi Operasional .......................................................................

44

BAB IV METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian ............................................................................

48

B. Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................

48

C. Populasi dan Sampel ......................................................................

49

1. Populasi Penelitian ..................................................................

49

2. Sampel Penelitian ....................................................................

49

D. Teknik Pengambilan Sampling ......................................................

52

E. Alat Pengumpul Data dan Prosedur Penelitian ..............................

52

1. Instrumen Penelitian ................................................................

52

2. Uji Validitas dan Reabilitas .....................................................

56

3. Metode Pengumpulan Data .....................................................

58

F. Pengolahan Data .............................................................................

59

G. Teknik Analisa Data .......................................................................

60

H. Etika Penelitian ..............................................................................

61

BAB V HASIL PENELITIAN


A. Gambaran Kelurahan Lagoa Jakarta Utara .....................................

64

B. Gambaran Karakteristik Responedn ..............................................

65

xiii

1. Karakteristik Usia ....................................................................

65

2. Karakteristik Jenis Kelamin ....................................................

66

3. Karakteristik Pendidikan .........................................................

66

4. Karakteristik Pekerjaan ...........................................................

67

C. Analisa Univariat ...........................................................................

67

1. Gambaran Pengetahuan Masyarakat Terhadap Upaya


Pencegahan Penyakit Tuberkulosis .........................................

68

2. Gambaran Sikap Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan


Penyakit Tuberkulosis .............................................................

69

3. Gambaran Upaya Pencegahan Penyakit TBC .........................

69

D. Analisa Bivariat ..............................................................................

70

1. Hubungan Pengetahuan Masyarakat Terhadap Upaya


Pencegahan Penyakit Tuberkulosis .........................................

70

2. Hubungan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan


Penyakit Tuberkulosis .............................................................

71

BAB VI PEMBAHASAN
A. Analisis Univariat ...........................................................................

73

1. Gambaran Pengetahuan Tentang Penyakit Tuberkulosis


Dan Upaya Pencegahan Penyakit TBC ........................................

73

2. Gambaran Sikap Masyarakat Tentang Upaya Pencegahan


Penyakit Tuberkulosis ..................................................................

77

3. Gambaran Upaya Pencegahan Penyakit TBC .........................

80

xiv

B. Analisis Bivariat .............................................................................

81

1. Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap


Upaya Pencegahan Penyakit TBC ...........................................

81

2. Hubungan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan


Penyakit Tuberkulosis .............................................................

83

C. Keterbatasan Penelitian ..................................................................

85

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ....................................................................................

87

B. Saran ...............................................................................................

88

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xv

DAFTAR TABEL

No. Tabel

Halaman

Tabel

3.1

Definisi Operasional ..............................................................

45

Tabel

5.1

Distribusi Statistik Deskriptif Umur Responden....................

65

Tabel

5.2

Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin.......................

66

Tabel

5.3

Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan ..............

66

Tabel

5.4

Distribusi Responden Menurut Jenis Pekerjaan .....................

67

Tabel

5.5

Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Terhadap Upaya


Pencegahan Penyakit Tuberkulosis ........................................

Tabel

5.6

Distribusi Responden Menurut Sikap Masyarakat Terhadap


Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis ............................

Tabel

5.7

5.8

5.9

69

Distribusi Responden Menurut Proporsi Pengetahuan Terhadap


Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis ............................

Tabel

69

Distribusi Responden Menurut Upaya Pencegahan Penyakit


Tuberkulosis ...........................................................................

Tabel

68

70

Distribusi Responden Menurut Sikap Masyarakat Terhadap


Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis ............................

xvi

71

DAFTAR BAGAN

No. Bagan

Halaman

Bagan

2.1

Proses Terbentuknya Sikap dan Reaksi ..................

19

Bagan

2.2

Kerangka Teori .......................................................

42

Bagan

3.1

Kerangka Konsep ....................................................

43

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Informed Concent


Lampiran 2 Kuesioner
Lampiran 3 Output Analisis Univariat dan Bivariat
Lampiran 4 Surat Izin Uji Validitas dan Reabilitas
Lampiran 5 Surat Izin Penelitian

xviii

DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN

Amiloidosis

: Kelainan metabolisme protein

Apeks paru-paru

: Bagian puncak paru-paru

BCG

: Bacillus Calmette et Guerin

Bronkitis kronis

: Gangguan paru obstruktif yang ditandai produksi


mukus berlebihan di saluran napas bawah dan
menyebabkan batuk kronis

Depkes

: Departemen Kesehatan

DOTS

Directly

Observed

Treatment,

Shorcourse

chemotherapy
Efusi pleura

: suatu keadaan dimana terdapat penumpukan


cairan dalam pleura

Empiema

: Terkumpulnya cairan purulen (pus) di dalam


rongga pleura

Hemoptisis

: Darah yang keluar dari mulut saat batuk

Karsinoma paru

: Neoplasma ganas yang muncul dari epitel


bronkus

Kor pulmonale

: Gagal jantung kanan akibat penyakit paru kronis

Laringitis

: Infeksi pada daerah laring

MDGs

: Millenium Development Goals

Meninges

: Membran tipis yang membungkus otak dan


medula spinalis.

Morbiditas

: Kesakitan

xix

Parenkim paru

: Organ berupa kumpulan kelompok alveoli yang


mengelilingi cabang-cabang bronkus.

Penyakit jantung koroner

: Penyakit jantung yang disebabkan penyempitan


arteri koroner

Pleuritis

: Peradangan pada pleura

Sindrom gagal napas

: Suatu kondisi yang ditandai dengan hipoksemia


berat, dispnea dan infiltrasi pulmonari bilateral

Tuberkulosis ekstrapulmonar : Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain


selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput
jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing,
alat kelamin, dan lain-lain.

xx

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan global. Sepertiga
dari populasi dunia sudah tertular dengan TBC dimana sebagian besar
penderita TBC adalah usia produktif (15-55 tahun). Hal ini menyebabkan
kesehatan yang buruk di antara jutaan orang setiap tahun dan menjadi
penyebab utama kedua kematian dari penyakit menular diseluruh dunia,
setelah Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS (Acquired Immune
Deficiency Syndrome). Pada tahun 2011 terdapat 9 juta kasus baru dan 1,4
juta kematian akibat penyakit TBC dan HIV. World Health Organization
(WHO) menyatakan TBC sebagai global darurat kesehatan masyarakat pada
tahun 1993 (WHO, 2012).
Di Indonesia, TBC merupakan masalah kesehatan yang harus
ditanggulangi oleh pemerintah. Data WHO (2008) mencatat bahwa Indonesia
berada pada peringkat 5 dunia penderita TBC terbanyak setelah India, China,
Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini mengalami penurunan dibandingkan
tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TBC
terbanyak setelah India dan China (Depkes, 2012).
Angka kematian dan kesakitan akibat kuman

Mycobacterium

tuberculosis di Indonesia sangatlah tinggi. Tahun 2009, 1,7 juta orang


meninggal karena TBC yang diantaranya 600.000 perempuan dan 1,1 juta
laki-laki, sementara ada 9,4 juta kasus baru TBC yang diantaranya 3,3 juta

perempuan dan 6,1 juta laki-laki. Kasus TBC lebih banyak diderita oleh lakilaki dibandingkan perempuan. Tahun 2010 Indonesia telah berhasil
menurunkan insidens, prevalensi, dan angka kematian. Insidens berhasil
diturunkan sebesar 45% yaitu 343 menjadi 189 per 100.000 penduduk,
prevalensi dapat diturunkan sebesar 35% yaitu 443 menjadi 289 per 100.000
penduduk dan angka kematian diturunkan sebesar 71% yaitu 92 menjadi 27
per 100.000 penduduk. TBC masih merupakan masalah kesehatan penting di
dunia dan di Indonesia. TBC juga merupakan salah satu indikator
keberhasilan MDGs yang harus dicapai oleh Indonesia, yaitu menurunkan
angka kesakitan dan angka kematian menjadi setengahnya di tahun 2015
(Depkes, 2011).
Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional pada tahun 2007 menunjukkan
prevalensi TBC paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan
prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi TBC paru 20%
lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan, tiga kali lebih tinggi di
pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada
pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. Sebanyak 17 provinsi
mempunyai prevalensi Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional, yaitu
Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, Jawa
Tengah, DI Yogyakarta, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua (Depkes,
2008).

Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2007 menunjukkan


total presentase angka kejadian TBC paru secara klinis sebesar 37,026%
dimana presentase wilayah Jakarta Pusat sebesar 2,269%, Jakarta Utara
sebesar 16,274%, Jakarta Barat sebesar 2,274%, Jakarta Selatan sebesar
4,615% dan Jakarta Timur sebesar 11,594%. Presentase tertinggi terdapat
pada wilayah Jakarta Utara yaitu sebesar 16,274% (Dinkes, 2007).
Hasil survei prevalensi TBC tahun 2004 mengenai pengetahuan, sikap
dan perilaku menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat anggota keluarga
yang menderita TBC dan hanya 13% yang menyembunyikan keberadaan
mereka. Meskipun 76% keluarga pernah mendengar tentang TBC dan 85%
mengetahui bahwa TBC dapat disembuhkan, akan tetapi hanya 26% yang
dapat menyebutkan dua tanda dan gejala utama TBC. Cara penularan TBC
dipahami oleh 51% keluarga dan hanya 19% yang mengetahui bahwa tersedia
obat TBC gratis (Depkes, 2011). Dari hasil survei tersebut menunjukkan
bahwa masih ada keluarga yang belum memiliki pengetahuan yang cukup
tentang penyakit tuberkulosis.
Survei pada tahun 2004 tersebut juga mengungkapkan pola pencarian
pelayanan kesehatan. Apabila terdapat anggota keluarga yang mempunyai
gejala TBC, 66% akan memilih berkunjung ke Puskesmas, 49% ke dokter
praktik swasta, 42% ke rumah sakit pemerintah, 14% ke rumah sakit swasta
dan sebesar 11% ke bidan atau perawat praktik swasta. Namun pada
responden yang pernah menjalani pengobatan TBC, tiga Fasilitas Pelayanan
Kesehatan (FPK) utama yang digunakan adalah rumah sakit, puskesmas dan
praktik dokter swasta. Keterlambatan dalam mengakses fasilitas DOTS

(Directly Observed Treatment, Shorcourse chemotherapy) untuk diagnosis


dan pengobatan TBC merupakan tantangan utama di Indonesia dengan
wilayah geografis yang sangat luas (Depkes, 2011).
Media (2010) melakukan penelitian yang berjudul Pengetahuan, Sikap
dan Perilaku Masyarakat Tentang Penyakit Tuberkulosis Paru di Kecamatan
Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatra Barat. Hasil
penelitian ini menunjukkan pengetahuan sebagian masyarakat mengenai
tanda-tanda penyakit TBC relatif cukup baik, sikap masyarakat masih kurang
peduli terhadap akibat yang dapat ditimbulkan oleh penyakit TBC, perilaku
dan kesadaran sebagian masyarakat untuk memeriksakan dahak dan
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan masih kurang, karena mereka
malu dan takut divonis menderita TBC.
Penelitian yang dilakukan oleh Handoko (2010) tentang Hubungan
Tingkat Penghasilan, Pendidikan, Pengetahuan, Sikap Pencegahan dan
Pencarian Pengobatan, Praktek Pencegahan dan Pencarian Pengobatan
Dengan Penyakit TBC di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM)
Surakarta mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
sikap pencegahan dan pencarian pengobatan serta tingkat pendidikan
masyarakat terhadap penyakit TBC di kota Surakarta. Dan tidak ada
hubungan yang bermakna antara tingkat penghasilan, pengetahuan dan
praktek pencarian pengobatan terhadap penyakit TBC di kota Surakarta.
Wahyuni (2008) melakukan penelitian tentang Determinan Perilaku
Masyarakat Dalam Pencegahan, Penularan Penyakit TBC Di Wilayah Kerja
Puskesmas Bendosari mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang

bermakna antara pengetahuan, sikap, tingkat pendidikan, kepadatan hunian


rumah dan luas ventilasi rumah dengan pencegahan penularan penyakit
tuberkulosis. Serta determinan yang paling besar pengaruhnya adalah tingkat
pendidikan, kepadatan hunian dan pengetahuan.
Pencegahan penyakit merupakan komponen penting dalam pelayanan
kesehatan. Perawatan pencegahan melibatkan aktivitas peningkatan kesehatan
termasuk program pendidikan kesehatan khusus, yang dibuat untuk
membantu klien menurunkan risiko sakit, mempertahankan fungsi yang
maksimal, dan meningkatkan kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan
yang baik (Perry & Potter, 2005). Upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
dilakukan untuk menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit
tuberkulosis. Upaya pencegahan tersebut terdiri dari menyediakan nutrisi
yang baik, sanitasi yang adekuat, perumahan yang tidak terlalu padat dan
udara yang segar merupakan tindakan yang efektif dalam pencegahan TBC
(Francis, 2011).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang
baik apabila tidak ditunjang dengan sikap yang positif yang diperlihatkan
akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku, seperti yang diungkapkan
oleh Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2007) yang menyatakan
bahwa domain dari perilaku adalah pengetahuan, sikap dan tindakan. Menurut
Roger (1974) dalam Notoadmodjo (2007) sikap dan praktek yang tidak
didasari oleh pengetahuan yang adekuat tidak akan bertahan lama pada
kehidupan seseorang, sedangkan pengetahuan yang adekuat jika tidak

diimbangi oleh sikap dan praktek yang berkesinambungan tidak akan


mempunyai makna yang berarti bagi kehidupan. Maka dari itu pengetahuan
dan sikap merupakan penunjang dalam melakukan perilaku sehat salah
satunya upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.
Kasus penyakit tuberkulosis di wilayah kecamatan Koja cukup tinggi.
Data kasus penyakit tuberkulosis yang tercatat di Puskesmas Kecamatan Koja
menunjukkan tahun 2010 sebanyak 147 kasus, tahun 2011 sebanyak 142
kasus dan tahun 2012 sebanyak 129 kasus. Dari hasil data yang tercatat
selama tiga tahun terakhir menunjukkan kasus penyakit tuberkulosis yang
terjadi di wilayah Kecamatan Koja cukup tinggi. Puskesmas Kecamatan Koja
memiliki wilayah cakupan kerja sebanyak enam kelurahan, yaitu kelurahan
Tugu Utara, kelurahan Tugu Selatan, kelurahan Koja, kelurahan Lagoa,
kelurahan Rawa Badak Utara dan kelurahan Rawa Badak selatan.
Penanggung jawab poli TB mengatakan bahwa dari semua kelurahan yang
ada di kecamatan koja, yang memiliki kasus tuberkulosis terbanyak yaitu
kelurahan Lagoa sebanyak 52 kasus tahun 2010, 58 kasus tahun 2011, dan 67
kasus tahun 2012.
Studi pendahuluan yang telah dilakukan di wilayah RW 04 Kelurahan
lagoa melalui wawancara. Hasil wawancara dari 5 pertanyaan didapatkan
delapan warga mengatakan tidak tahu mengenai penyakit tuberkulosis, cara
penularan, dan tindakan pencegahan. Dua warga kelurahan Lagoa lainnya
mengatakan tahu tentang penyakit tuberkulosis, penularan dan tindakan
pencegahannya.

Wawancara lebih lanjut mengenai sikap masyarakat kelurahan Lagoa


mengenai penyakit tuberkulosis didapatkan hasil dari 3 pertanyaan yaitu
delapan warga mengatakan bahwa tidak terlalu mempedulikan tentang
tindakan pencegahan penyakit TBC karena mereka beranggapan selama
mereka tidak berinteraksi dengan penderita TBC, mereka tidak akan tertular
penyakit TBC. Responden juga mengatakan bahwa saat bersin dan batuk
tidak menutup mulutnya, dan masih ada masyarakat yang membuang ludah
atau dahak disembarang tempat.
Penelitian-penelitian

terkait

tentang tuberkulosis

sudah

banyak

dilakukan di Indonesia namun kebanyakan hanya terbatas pada keberhasilan


pengobatan penyakit tuberkulosis saja. Penelitian yang akan dilakukan oleh
peneliti yaitu mengenai upaya pencegahan penyakit tuberkulosis secara
keseluruhan. Pengetahuan mengenai upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
bagi masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui dan
dipahami sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyakit tuberkulosis.
Berdasarkan latar belakang ini peneliti ingin mengetahui adakah
hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis di RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara.

B. Perumusan Masalah
TBC masih menjadi masalah kesehatan global. Pada tahun 2011
terdapat 9 juta kasus baru dan 1,4 juta kematian akibat penyakit TBC dan
HIV (WHO, 2012). Angka kematian dan kesakitan akibat kuman
Mycobacterium tuberculosis di Indonesia sangat tinggi sebesar 1,7 juta orang
meninggal karena TBC (Depkes, 2011).
Kasus penyakit tuberkulosis di wilayah kecamatan Koja cukup tinggi.
Data kasus penyakit tuberkulosis yang tercatat di Puskesmas Kecamatan Koja
menunjukkan tahun 2010 sebanyak 147 kasus, tahun 2011 sebanyak 142
kasus dan tahun 2012 sebanyak 129 kasus. Dari semua kelurahan yang ada di
kecamatan koja, yang memiliki kasus tuberkulosis terbanyak yaitu kelurahan
Lagoa sebanyak 52 kasus tahun 2010, 58 kasus tahun 2011, dan 67 kasus
tahun 2012.
Studi pendahuluan yang telah dilakukan di wilayah RW 04 Kelurahan
lagoa didapatkan masih banyaknya warga yang tidak mengetahui tentang
penyakit TBC dan pencegahannya, serta sikap warga Kelurahan Lagoa tidak
terlalu memperhatikan tentang tindakan pencegahan penyakit TBC.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti merumuskan Hubungan
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan
Penyakit TBC pada Masyarakat di RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara.

C. Pertanyaan penelitian
1. Bagaimana tingkat pengetahuan tentang upaya pencegahan penyakit TBC
pada masyarakat di RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara?
2. Bagaimana sikap tentang upaya pencegahan penyakit TBC pada
masyarakat di RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara?
3. Bagaimana upaya pencegahan penyakit TBC pada masyarakat di RW 04
kelurahan Lagoa Jakarta Utara?
4. Bagaimana hubungan tingkat pengetahuan terhadap upaya pencegahan
penyakit TBC pada masyarakat di RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara?
5. Bagaimana hubungan sikap terhadap upaya pencegahan penyakit TBC
pada masyarakat di RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara?

D. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum :
Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap upaya
pencegahan penyakit TBC pada masyarakat RW 04 kelurahan Lagoa
Jakarta Utara.
2. Tujuan khusus :
a. Diketahuinya tingkat pengetahuan tentang upaya pencegahan
penyakit TBC pada masyarakat RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta
Utara.
b. Diketahuinya sikap tentang upaya pencegahan penyakit TBC pada
masyarakat RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara.
c. Diketahuinya upaya pencegahan penyakit TBC pada masyarakat
RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara.

10

d. Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan terhadap upaya


pencegahan penyakit TBC pada masyarakat RW 04 kelurahan
Lagoa Jakarta Utara.
e. Diketahuinya hubungan sikap terhadap upaya pencegahan penyakit
TBC pada masyarakat RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara.

E. Manfaat penelitian
1. Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya PSIK
Secara akademik penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan
mahasiswa keperawatan mengenai pengaruh tingkat pengetahuan dan
sikap terhadap upaya pencegahan penyakit TBC
2. Bagi profesi keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menambah informasi bagi perawat khususnya
mengenai penyakit TBC tentang pentingnya pengetahuan dan sikap
terhadap upaya pencegahan penyakit TBC
3. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian
yang akan datang mengenai aspek lain tentang pencegahan penyakit TBC

11

F. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan
design penelitian analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Alat
pengumpul data yang digunakan berupa kuesioner. Penelitian ini dilakukan
pada masyarakat RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta Utara, dengan membatasi
masalah pada penelitian mengenai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap
masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit TBC. Pemilihan sampel
dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik cluster sampling.

BAB II
Tinjauan Pustaka

A. Pengetahuan
1. Pengertian
Martin dan Oxman (1988) dalam Kusrini (2009) mengungkapkan
bahwa pengetahuan merupakan kemampuan untuk membentuk model
mental

yang

menggambarkan

obyek

dengan

tepat

dan

merepresentasikannya dalam aksi yang dilakukan terhadap suatu obyek.


Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan suatu kejadian tertentu. Pengindraan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam
terbentuknya suatu tindakan. Dengan demikian terbentuknya perilaku
terhadap seseorang karena adanya pengetahuan yang ada pada dirinya
terbentuknya suatu perilaku baru, terutama yang ada pada orang dewasa
dimulai pada domain kognitif. Dalam arti seseorang terlebih dahulu diberi
stimulus yang berupa informasi tentang upaya pencegahan penyakit TBC
sehingga

menimbulkan

pengetahuan

yang

baru

dan

selanjutnya

menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap pada orang tersebut


terhadap informasi upaya pencegahan penyakit TBC yang diketahuinya.
Akhirnya rangsangan yakni informasi upaya pencegahan penyakit TBC

12

13

yang telah diketahuinya dan disadari sepenuhnya tersebut akan


menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan atau
sehubungan dengan stimulus atau informasi upaya pencegahan penyakit
TBC (Notoatmodjo, 2007).
Djannah (2009) dalam penelitiannya di Yogyakarta mengungkapkan
bahwa semakin tinggi pengetahuan terhadap suatu objek maka akan
semakin baik pula sikap seseorang terhadap objek tersebut. Pengetahuan
dan pemahaman seseorang tentang penyakit tuberkulosis dan pencegahan
penularannya memegang peranan penting dalam keberhasilan upaya
pencegahan penularan penyakit tuberkulosis. Dari pengalaman dan
penelitian terbukti bahwa perilaku yang di dasari oleh pengetahuan akan
lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2007).

2. Klasifikasi
Budiman (2013) menjelaskan bahwa jenis pengetahuan di antaranya
sebagai berikut:
a. Pengetahuan Implisit
Merupakan pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk
pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat
nyata, seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip.
b. Pengetahuan Eksplisit
Merupakan pengetahuan yang telah disimpan dalam wujud nyata,
bisa dalam wujud perilaku kesehatan.

14

3. Proses Adopsi Perilaku


Penelitian

Rogers

(1974)

dalam

Notoatmodjo

(2007)

mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru


(berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yakni:
a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu
b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih
baik lagi
d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang
positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting).
Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan
kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2007).

15

4. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif


Notoatmodjo (2012) menjelaskan bahwa pengetahuan yang tercakup
dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (comprehension)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat


menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real
(sebenarnya).
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama
lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau

menghubungkan

bagian-bagian

di

dalam

suatu

bentuk

16

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu


kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi
yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaianpenilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri,
atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

5. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Budiman

(2013)

menjelaskan

mengenai

faktor-faktor

yang

mempengaruhi terbentuknya pengetahuan adalah sebagai berikut:


a. Pendidikan
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah
menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang
dimiliki.
b. Informasi/media massa
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun
nonformal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga
menghasikan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif
baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.
c. Sosial, budaya, dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan seseorang tanpa melalui
penalaran sehingga akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak

17

melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan


tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu
sehingga status sosial ekonomi ini akan memengaruhi pengetahuan
seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke
dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini
terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan
direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang
kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah
yang dihadapi masa lalu.
f. Usia
Usia memengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin
bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan
pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin
membaik.

18

B. Sikap (attitude)
1. Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Newcomb menyatakan
bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan
bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan
suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan
suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan
merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Maka dari itu,
sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan
tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).
Sikap dalam hal ini merupakan sikap seseorang dalam menghadapi
penyakit tuberkulosis dan upaya pencegahannya. Sikap merupakan
kecenderungan seseorang untuk menginterpretasikan sesuatu dan bertindak
atas dasar hasil interpretasi yang diciptakannya. Sikap seseorang terhadap
sesuatu dibentuk oleh pengetahuan, antara lain nilai-nilai yang diyakini
dan norma-norma yang dianut. Untuk dapat mempengaruhi seseorang,
informasi perlu disampaikan secara perlahan-lahan dan berulang-ulang
dengan memperlihatkan keuntungan dan kerugiannya bila mengadopsi
informasi tersebut (Kurniasari,2008).

19

Diagram di bawah ini dapat lebih menjelaskan uraian tersebut.


Proses Terbentuknya Sikap dan Reaksi
Stimulus
Rangsangan

Proses
Stimulus

Reaksi
Tingkah laku
(terbuka)

Sikap
(tertutup)
Bagan 2.1 Proses Terbentuknya Sikap dan Reaksi, Skiner (1938)

Proses pembentukan sikap dapat terjadi karena adanya rangsangan,


seperti pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit TBC.
Rangsangan tersebut menstimulus diri masyarakat untuk memberi respon,
dapat berupa sikap positif atau negatif, akhirnya akan diwujudkan dalam
perilaku atau tidak.
Menurut Berkowitz (1972) dalam Azwar (2013), setiap orang yang
mempunyai perasaan positif terhadap suatu objek psikologis dikatakan
menyukai objek tersebut atau mempunyai sikap favorable terhadap objek
itu, sedangkan individu yang mempunyai perasaan negatif terhadap suatu
objek psikologis dikatakan mempunyai sikap yang unfavorable terhadap
objek sikap tersebut.

2. Komponen Pokok Sikap


Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2012) menjelaskan bahwa sikap
itu mempunyai 3 komponen pokok:
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

20

c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).


Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang
utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh
misalnya, seorang ibu telah mendengar penyakit TB paru (penyebabnya,
akibatnya, pencegahannya, dan sebagainya). Pengetahuan ini akan
membawa ibu untuk berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena
penyakit TB paru. Dalam berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut
bekerja sehingga ibu tersebut berniat untuk melakukan pencegahan agar
anaknya tidak terkena penyakit TB paru. Ibu ini mempunyai sikap tertentu
terhadap objek yang berupa penyakit TB paru.
Breckler (1984) dalam Budiman (2013) menjelaskan bahwa
komponen utama sikap adalah sebagai berikut:
a. Kesadaran
b. Perasaan
c. Perilaku

3. Tingkatan Sikap
Notoatmodjo (2007) membagi sikap dalam berbagai tingkatan:
a. Menerima (receiving)
Menerima

diartikan

bahwa

orang

(subjek)

mau

dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).


b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

21

Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau


mengerjakan tugas yang di berikan, terlepas dari pekerjaan itu benar
atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Pengukuran
sikap dapat dilakukan secara langsung. Secara langsung dapat
ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap
suatu objek.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap


Azwar (2013) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
adalah:
a. Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi

penghayatan

kita

terhadap

stimulus

sosial.

Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap, untuk


dapat mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek
psikologis.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen
sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita

22

anggap penting, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita


terhadap sesuatu.
c. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh
besar terhadap pembentukan sikap kita. Tanpa kita sadari,
kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap
berbagai masalah.
d. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai
pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang.
Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup
kuat, akan memberi dasar efektif dalam menilai sesuatu hal sehingga
terbentuklah arah sikap tertentu.
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan
keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri
individu, pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari
pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
f. Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap yang ditentukan oleh situasi lingkungan
dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk

23

sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang


berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan ego.

C. Tuberkulosis Paru
1. Pengertian
TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis, yang paling umum mempengaruhi paru-paru.
Penyakit ini ditularkan dari orang ke orang melalui cairan dari
tenggorokan dan paru-paru seseorang dengan penyakit pernapasan aktif
(WHO, 2012).
Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena
infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup
80% dari keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20%
selebihnya merupakan tuberkulosis ekstrapulmonar (Djojodibroto, 2009).
TBC adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim
paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Agens infeksius
utama, Mycobacterium tuberculosis, adalah batang aerobik tahan asam
yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar
ultraviolet (Smeltzer, 2002).
Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa TBC
merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis yang biasanya menyerang organ paru-paru, akan tetapi dapat

24

juga menyerang organ lain, seperti tulang, meninges, ginjal, dan nodus
limfe.

2. Etiologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk
batang berukuran panjang 1 sampai 4 mm dengan tebal 0,3 sampai 0,6
mm. Sebagian besar komponen Mycobacterium tuberculosis adalah berupa
lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap asam serta sangat
tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Mikroorganisme ini adalah
bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. Oleh karena
itu, Mycobacterium tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru
yang kandungan oksigennya tinggi. Daerah tersebut menjadi tempat yang
kondusif untuk penyakit tuberkulosis (Somantri, 2007).
Mycobacterium tuberculosis mempunyai sifat istimewa, yaitu dapat
bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol, sehingga
sering disebut Basil Tahan Asam (BTA), serta tahan terhadap zat kimia
dan fisik. Bakteri ini juga tahan dalam keadaan kering dan dingin, bersifat
dorman dan aerob (Widoyono, 2008).
Bakteri tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100oC selama 5-10
menit atau pada pemanasan 60oC selama 30 menit, dan dengan alkohol 7095% selama 15-30 detik. Bakteri ini tahan selama 1-2 jam di udara
terutama di tempat yang lembab dan gelap (bisa berbulan-bulan), namun
tidak tahan terhadap sinar atau aliran udara. Data pada tahun 1993
melaporkan bahwa untuk mendapatkan 90% udara bersih dari kontaminasi
bakteri memerlukan 40 kali pertukaran udara per jam (Widoyono, 2008).

25

3. Penularan
Penyakit tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis ditularkan melalui udara (droplet nuklei) saat seorang pasien
TBC batuk dan percikan ludah yang mengandung bakteri tersebut terhirup
oleh orang lain saat bernapas. Bila penderita batuk, bersin, atau berbicara
saat berhadapan dengan orang lain, basil tuberkulosis tersembur dan
terhisap ke dalam paru orang yang sehat. Masa inkubasinya selama 3-6
bulan.
Setiap satu BTA positif akan menularkan kepada 10-15 orang
lainnya, sehingga kemungkinan setiap kontak untuk tertular TBC adalah
17%. Hasil studi lainnya melaporkan bahwa kontak terdekat (misalnya
keluarga serumah) akan dua kali lebih berisiko dibandingkan kontak biasa
(tidak serumah) (Widoyono, 2008).

4. Manifestasi klinis
Tuberkulosis paru memiliki gejala seperti demam tingkat rendah,
keletihan, anoreksia, penurunan berat badan, berkeringat malam, nyeri
dada, dan batuk menetap. Batuk pada awalnya mungkin nonproduktif,
tetapi dapat berkembang ke arah pembentukan sputum mukopurulen
dengan hemoptisis (Smeltzer, 2002).
Gejala utama pasien TBC adalah batuk berdahak selama 2 sampai 3
minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu
dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, nafsu
makan menurun (anoreksia), berat badan menurun, malaise, berkeringat

26

malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari 1 bulan
(Depkes, 2009).
Menurut Werdhani (2007), gejala penyakit TBC dapat dibagi
menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ
yang terlibat:
Gejala sistemik/umum:
a. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan
darah)
b. Demam yang tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya
dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang
serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
c. Penurunan nafsu makan dan berat badan
d. Perasaan tidak enak (malaise), lemah
Gejala khusus:
a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru)
akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang disertai
sesak.
b. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat
disertai dengan keluhan sakit dada.
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi
tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan

27

bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan
nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak)
dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya
adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejangkejang.

5. Komplikasi
Ardiansyah (2012) membagi komplikasi penyakit TBC itu dalam 2
kategori yaitu:
a. Komplikasi Dini
1) Pleuritis
2) Efusi Pleura
3) Empiema
4) Laringitis
5) TB usus
b. Komplikasi Lanjut
1) Obstruksi Jalan Napas
2) Kor Pulmonale
3) Amiloidosis
4) Karsinoma Paru
5) Sindrom Gagal Napas

28

6. Faktor Risiko
Suryo (2010) menjelaskan bahwa faktor risiko yang menyebabkan
penyakit TBC adalah sebagai berikut:
a. Faktor umur
Beberapa faktor risiko penularan penyakit tuberkulosis di
Amerika yaitu umur, jenis kelamin, ras, asal negara bagian, serta
infeksi AIDS. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York
pada panti penampungan orang-orang gelandangan, menunjukkan
bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat
secara bermakna sesuai dengan umur.
Insiden tertinggi tuberkulosis paru-paru biasanya mengenai
usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TBC
adalah kelompok usia produktif, yaitu 15-50 tahun.
b. Faktor Jenis Kelamin
Di benua Afrika banyak tuberkulosis, terutama menyerang
laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TBC pada laki-laki
hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TBC pada
wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9% pada wanita. Antara
tahun 1985-1987 penderita TBC pada laki-laki cenderung meningkat
sebanyak 2,5%, sedangkan penderita TBC pada wanita menurun
0,7%.
TBC lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan
wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan
merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TBC.

29

c. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap
pengetahuan seseorang, di antaranya mengenai rumah yang
memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TBC sehingga
dengan pengetahuan yang cukup, maka seseorang akan mencoba
untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, tingkat
pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaannya.
d. Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus
dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang
berdebu, paparan partikel debu di daerah terpapar akan memengaruhi
terjadinya gangguan pada saluran pernapasan. Paparan kronis udara
yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya
gejala penyakit saluran pernapasan dan umumnya TBC.
Jenis pekerjaan seseorang juga memengaruhi pendapatan
keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup seharihari di antara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan. Selain
itu, akan memengaruhi kepemilikan rumah (konstruksi rumah).
Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan di bawah UMR
akan mengonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai
dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai
status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena
penyakit infeksi, di antaranya penyakit TBC. Dalam hal jenis
konstruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang,

30

maka konstruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat


kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan
penyakit TBC.
e. Kebiasaan Merokok
Merokok

diketahui

mempunyai

hubungan

dengan

meningkatkan risiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit


jantung koroner, bronkitis kronis, dan kanker kandung kemih.
Kebiasaan rokok meningkatkan risiko untuk terkena TBC sebanyak
2,2 kali.
Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per orang per
tahun adalah 230 batang, relatif lebih rendah dengan 430
batang/orang/tahun di Sierra Leon, 480 batang/orang/tahun di Ghana
dan 760 batang/orang/tahun di Pakistan. Prevalensi merokok pada
hampir semua negara berkembang lebih dari 50% terjadi pada lakilaki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5%. Dengan
adanya kebiasaan merokok sehingga mempermudah untuk terjadinya
infeksi penyakit TBC.
f. Kepadatan Hunian Kamar Tidur
Luas lantai bangunan rumah harus cukup untuk penghuni di
dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus
disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan
overload. Hal ini tidak sehat karena di samping menyebabkan
kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga

31

terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota


keluarga yang lain.
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya
dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif
bergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk
rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Untuk kamar tidur
diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Untuk mencegah
penularan penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang
satu dengan yang lainnya minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya
tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk suami-istri dan anak
di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara yang cukup,
disyaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2,75 m.
g. Pencahayaan
Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan
luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakkan jendela
kurang baik atau kurang leluasa, dapat dipasang genting kaca.
Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri
patogen di dalam rumah, misalnya basil TBC. Oleh karena itu,
rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup.
Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau
kurang lebih 60 lux, kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya
yang lebih redup.
Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda
dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya.

32

Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna


dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat daripada
yang melalui kaca berwarna. Penularan kuman TBC relatif tidak
tahan pada sinar matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam
rumah serta sirkulasi udara diatur, risiko penularan antarpenghuni
akan sangat berkurang.
h. Ventilasi
Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar.
Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni
rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan
kurangnya oksigen di dalam rumah. Di samping itu, kurangnya
ventilasi akan menyebabkan kelembapan udara di dalam ruangan
naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan
penyerapan. Kelembapan ini akan menjadi media yang baik untuk
pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/bakteri penyebab penyakit,
misalnya kuman TBC.
Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan
udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena
di situ selalu terjadi aliran udara terus-menerus. Bakteri yang
terbawa oleh udara akan selalu tetap di dalam kelembapan
(humiditas) yang optimum.
Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang
ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen

33

minimal 5% dari luas lantai dan luas ventilasi insidentil (dapat


dibuka tutup) 5% dari luas lantai. Untuk udara segar juga diperlukan
untuk menjaga temperatur dan kelembapan udara dalam ruangan.
Umumnya temperatur kamar 22o-30oC, dari kelembapan udara
optimum kurang lebih 60%.
i. Kondisi Rumah
Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor risiko penularan
penyakit TBC. Atap, dinding, dan lantai dapat menjadi tempat
perkembangbiakan kuman. Lantai dan dinding yang sulit dibersihkan
akan menyebabkan penumpukan debu sehingga akan dijadikan
sebagai

media

yang

baik

bagi

berkembangbiaknya

kuman

Mycobacterium tuberculosis.
j. Kelembapan Udara
Kelembapan

udara

dalam

ruangan

untuk

memperoleh

kenyamanan, di mana kelembapan yang optimum berkisar 60%


dengan temperatur kamar 22o-30oC. Kuman TBC akan cepat mati
bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup
selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembap.
k. Status Gizi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi
kurang mempunyai risiko 3,7 kali untuk menderita penyakit TBC
berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau
lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap

34

kekuatan daya tahan tubuh dan respon imunologik terhadap


penyakit.
l. Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan,
keadaan sanitasi lingkungan, gizi, dan akses terhadap pelayanan
kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya
kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga
akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk,
akan

menyebabkan

kekebalan

tubuh

menurun

sehingga

memudahkan terkena infeksi TBC.


m. Perilaku
Perilaku dapat terdiri atas pengetahuan, sikap, dan tindakan.
Pengetahuan penderita TBC yang kurang tentang cara penularan,
bahaya, dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan
perilaku sebagai orang sakit dan akhirnya berakibat menjadi sumber
penular bagi orang di sekelilingnya.

7. Pencegahan
Naga (2012) berpendapat bahwa tindakan yang dapat dilakukan
untuk mencegah timbulnya penyakit TBC, yaitu:
a. Bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan
menutup mulut saat batuk, dan membuang dahak tidak di
sembarangan tempat.

35

b. Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan


meningkatkan ketahanan terhadap bayi, yaitu dengan memberikan
vaksinasi BCG.
c. Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan
memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi
gejala, bahaya, dan akibat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan
masyarakat pada umumnya.
d. Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian dan
pemeriksaan terhadap orang-orang yang terinfeksi, atau dengan
memberikan pengobatan khusus kepada penderita TBC. Pengobatan
dengan cara dirawat di rumah sakit hanya dilakukan bagi penderita
dengan kategori berat dan memerlukan pengembangan program
pengobatannya, sehingga tidak dikehendaki pengobatan jalan.
e. Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan melaksanakan
desinfeksi, seperti cuci tangan, kebersihan rumah yang ketat,
perhatian khusus terhadap muntahan atau ludah anggota keluarga
yang terjangkit penyakit TBC (piring, tempat tidur, pakaian), dan
menyediakan ventilasi dan sinar matahari yang cukup.
f. Melakukan imunisasi bagi orang-orang yang melakukan kontak
langsung dengan penderita, seperti keluarga, perawat, dokter,
petugas kesehatan, dan orang lain yang terindikasi, dengan vaksin
BCG dan tindak lanjut bagi yang positif tertular.
g.

Melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang kontak dengan


penderita TBC. Perlu dilakukan Tes Tuberkulin bagi seluruh anggota

36

keluarga. Apabila cara ini menunjukan hasil negatif, perlu diulang


pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, dan perlu pemeriksaan
intensif.
h. Dilakukan pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu
pengobatan yang tepat, yaitu obat-obat kombinasi yang telah
ditetapkan oleh dokter untuk diminum dengan tekun dan teratur,
selama 6 sampai 12 bulan. Perlu diwaspadai adanya kebal terhadap
obat-obat, dengan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.
Francis (2011) menyatakan pencegahan penyakit tuberkulosis dapat
dilakukan dengan cara penyediaan nutrisi yang baik, sanitasi yang adekuat,
perumahan yang tidak terlalu padat dan udara yang segar merupakan
tindakan yang efektif dalam pencegahan TBC.
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), 2010
menjelaskan tentang pencegahan penularan penyakit TBC, yaitu:
a. Bagi masyarakat
1) Makan makanan yang bergizi seimbang sehingga daya tahan
tubuh meningkat untuk membunuh kuman TBC
2) Tidur dan istirahat yang cukup
3) Tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkoba
4) Lingkungan yang bersih baik tempat tinggal dan disekitarnya
5) Membuka jendela agar masuk sinar matahari di semua ruangan
rumah karena kuma TBC akan mati bila terkena sinar matahari
6) Imunisasi BCG bagi balita, yang tujuannya untuk mencegah
agar kondisi balita tidak lebih parah bila terinfeksi TBC

37

7) Menyarankan apabila ada yang dicurigai sakit TBC agar segera


memeriksakan diri dan berobat sesuai aturan sampai sembuh
b. Bagi penderita
1) Tidak meludah di sembarang tempat
2) Menutup mulut saat batuk atau bersin
3) Berperilaku hidup bersih dan sehat
4) Berobat sesuai aturan sampai sembuh
5) Memeriksakan balita yang tinggal serumah agar segera
diberikan pengobatan pencegahan

8. Kebijakan Program Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia


(Depkes, 2009)
a. Penanggulangan TBC dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi
yaitu kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang
meliputi : perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta
menjamin ketersediaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana.
b. Penanggulangan TBC dilaksanakan dengan menggunakan strategi
DOTS.
c. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap
program penanggulangan TBC.
d. Pengembangan strategi DOTS untuk peningkatan mutu pelayanan,
kemudahan akses, penemuan dan pengobatan sehingga mampu
memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadi TB-MDR.
e. Penanggulangan TBC dilaksanakan oleh seluruh sarana pelayanan
kesehatan, meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Umum Pemerintah dan

38

Swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Besar Kesehatan Paru


Masyarakat (BBKPM), Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM),
Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4), dan Klinik Pengobatan
lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).
f. Pengembangan pelaksanaan program penanggulangan TBC di
tempat kerja (TB in workplaces), Lembaga Pemasyarakatan dan
Rumah Tahanan (TB in prison), TNI dan POLRI.
g. Program penanggulangan TBC dengan pendekatan program DOTS
Plus (MDR), Kolaborasi TB-HIV, PAL (Practical Approach to Lung
Health), dan HDL (Hospital DOTS Linkages).
h. Penanggulangan TBC dilaksanakan melalui promosi, penggalangan
kerja sama/kemitraan dengan lintas program dan sektor terkait,
pemerintah dan swasta dalam wadah Gerakan Terpadu Nasional
Penanggulangan TB (Gerdunas TB).
i. Peningkatan kemampuan laboratorium TBC di berbagai tingkat
pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring.
j. Menjamin ketersediaan Obat Anti TB (OAT) untuk penanggulangan
TBC dan diberikan kepada pasien secara cuma-cuma.
k. Menjamin ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam
jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan
kinerja program.
l. Penanggulangan TBC lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin
dan kelompok rentan terhadap TBC.

39

m. Menghilangkan stigma masyarakat terhadap pasien TB agar tidak


dikucilkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya.
n. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam MDGs.

D. Penelitian Terkait
1. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Nanin Kurniasari dengan judul
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita TBC Dengan Keteraturan
Dalam Pengobatan TBC Di UPTD Puskesmas Cibogo Kabupaten
Subang Tahun 2007. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah
kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Teknik analisa
dalam penelitian adalah korelasi pearson moment (produk). Sampel
dalam penelitian sebesar 25 orang dari populasi penderita TBC yang
diterapi di Puskesmas Cibogo (Sampling Jenuh). Hasil dari uji
pengetahuan penderita TBC dengan keteraturan dalam pengobatan TBC
di peroleh nilai P = 0, 590 tidak ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan penderita TBC dengan keteraturan dalam pengobatan TBC,
sikap penderita TBC dengan keteraturan dalam pengobatan TBC di
dapatkan nilai P = 0,180 tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap
penderita TBC dengan keteraturan dalam pengobatan TBC.
2. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Bagas Wirasti Tahun 2010 dengan
judul Hubungan Antara Karakteristik dan Pengetahuan Tentang
Tuberkulosis Paru Dengan Perilaku Penularan Tuberkulosis Paru Di
Puskesmas Sawangan Kota Depok Tahun 2010. Jenis penelitian ini
adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel
adalah penderita TBC yang tercatat di Puskesmas Sawangan Depok yang

40

berjumlah 33 orang, di ambil menggunakan metode sampling jenuh.


Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut menunjukkan variabel
yang mempunyai hubungan signifikan terhadap perilaku pencegahan
penularan TB adalah pendidikan (p = 0,001), pekerjaan (p = 0,046) dan
pengetahuan (p = 0,031). Variabel yang tidak berhubungan dengan
perilaku pencegahan penularan TBC adalah usia dan jenis kelamin (p >
0,05).
3. Penelitian yang dilakukan oleh Arimas Bramantyo dengan judul
Hubungan Status Gizi Anak, Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu
Terhadap Gizi dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Pada Anak
di Puskesmas Pisangan Tahun 2009-2010. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah anak
penderita TBC yang berumur 15 tahun dan ibu penderita. Cara
pengumpulan data dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data
ini dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov, Chi-Square dan FisherExact sebagai alternatifnya (p<0,05). Hasil yang didapat menunjukkan
terdapat hubungan status gizi anak terhadap keberhasilan pengobatan TB
paru anak (p=0,047), ada hubungan tingkat pendidikan ibu terhadap
keberhasilan pengobatan TB paru anak (p=0,037) dan tidak ada
hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi terhadap keberhasilan
pengobatan TB paru anak (p=0,273). Terdapat hubungan antara status
gizi anak dan tingkat pendidikan terhadap keberhasilan pengobatan TB
paru anak.

41

4. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Rizki Ramdan Sudarso dengan


judul Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu

tentang

Tuberkulosis dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru Anak


Di Puskesmas Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Periode Januari 2009-Juni
2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan
pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian adalah ibu yang
menderita tuberkulosis paru dan berobat di Puskesmas Kelurahan Lagoa
Jakarta Utara dengan jumlah sampel 58 orang dengan pendekatan
sampling jenuh. Hasil analisis uji chi-square variabel yang memiliki
hubungan yang bermakna dengan keberhasilan pengobatan TB Paru anak
di Puskesmas Kelurahan Lagoa Jakarta Utara periode Januari 2009 Juni
2010 adalah usia ibu (p = 0,001), pekerjaan ibu (p = 0,013), dan tingkat
pengetahuan ibu tentang tuberkulosis (p = 0,027).
5. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Niko Rianda Putra dengan judul
Hubungan Perilaku dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian TB
Paru Di Wilayah Kota Solok Tahun 2011. Penelitian ini menggunakan
desain case control. Sampel dalam penelitian ini adalah orang yang
pernah menderita TB paru yang termasuk dalam kasus Dinkes Kota
Solok dan seluruh Puskesmas di Kota Solok pada tahun 2011 yaitu 22
kasus atau orang yang Tb paru dibandingkan dengan yang belum pernah
menderita TB paru atau kontrol. Data variabel independen diperoleh
dengan mewawancarai, observasi dan mengukur. Dari hasil uji statistik
menunjukkan tingkat pengetahuan nilai (p = 0,034), sikap tentang
pencegahan (p = 0, 028), tindakan pencegahan (p = 0,028), kondisi

42

kepadatan hunian (p = 0,015), kondisi ventilasi (p = 0,016), dan kondisi


pencahayaan (p = 0,015), memiliki hubungan dengan kejadian TB Paru
di Kota Solok. Sedangkan untuk kondisi jenis lantai dengan hasil uji
statistik kondisi jenis lantai (p = 1,000) tidak memiliki hubungan dengan
kejadian TB Paru di Kota Solok.

E. Kerangka Teori
Stimulus

Organisme

(Informasi)

- Perhatian
- Perasaan
- Penerimaan

Faktor yang mempengaruhi


pengetahuan dengan sikap:
- Pendidikan
- Usia
- Pengalaman
- Sumber informasi
- Penghasilan

Respon Tertutup:
- Pengetahuan
- Sikap

Respon Terbuka:
Penyakit TBC dapat
dicegah/tidak terjadi

Upaya pencegahan
penyakit TBC

Faktor yang mempengaruhi


sikap dengan perilaku:
- Pengalaman pribadi
- Pengaruh orang lain yang
dianggap penting
- Pengaruh kebudayaan
- Media massa
- Pengaruh faktor
emosional

Bagan 2.2 Kerangka Teori


Berdasarkan Teori Stimulus Organisme Respon(SOR), Skiner (1938) dalam
Notoatmodjo (2010), Budiman (2013), Azwar (2013), PPTI (2010)

BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan antara konsepkonsep atau variabel-variabel yang akan diamati (diukur) melalui
penelitian yang dimaksud (Notoatmodjo, 2010). Sesuai dengan tujuan
penelitian yang bersifat kuantitatif yaitu untuk mengidentifikasi adanya
hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis. Dimana upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
sebagai variabel dependen sedangkan tingkat pengetahuan dan sikap
sebagai variabel independen.

VARIABEL INDEPENDEN

VARIABEL DEPENDEN
Upaya
Pencegahan
Penyakit TBC

Pengetahuan
Sikap

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

43

44

B. Hipotesis Penelitian
Nursalam (2008) menjelaskan bahwa hipotesis adalah jawaban
sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian. Maka
hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis pada masyarakat RW 04
kelurahan Lagoa Jakarta Utara.
2. Ada hubungan antara sikap terhadap upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis pada masyarakat RW 04 kelurahan Lagoa Jakarta
Utara.

C. Definisi Operasional
Definisi

operasional

adalah

mendefinisikan

variabel

secara

operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga peneliti


dapat melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek (Hidayat,
2007).

45

No.
1.

2.

Variabel
Penelitian
Pengetahuan.

Sikap

Definisi Operasional
Adalah segala sesuatu
yang diketahui
responden mengenai
penyakit tuberkulosis
paru meliputi
pengertian, gejala,
penyebab, cara
penularan, komplikasi,
faktor risiko dan
tindakan pencegahan.

Adalah penilaian,
persepsi responden
terhadap upaya

Alat Ukur
Kuesioner

Kuesioner

Cara Ukur
Meminta responden
untuk mengisi
pernyataan pada
kuesioner B, yang
berisi tentang
pengetahuan terhadap
upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis
menggunakan skala
Guttman dan skoring.
Pertanyaan terdiri dari
pernyataan positif dan
negatif.
- Pernyataan positif,
pada responden
menjawab benar
diberi nilai 1, dan
jika salah diberi
nilai 0
- Pernyataan negatif,
pada responden
menjawab benar
diberi nilai 0, dan
jika salah diberi
nilai 1
Meminta responden
untuk mengisi
pernyataan pada

Hasil Ukur
Dinyatakan dalam tingkatan:

Skala
Ordinal

1. Pengetahuan kurang
Apabila skor tingkat
pengetahuan responden < 55%
atau < 10 pernyataan yang
benar.
2. Pengetahuan cukup
Apabila skor tingkat
pengetahuan responden antara
56-74% atau 11-14 pernyataan
yang benar.
3. Pengetahuan baik
Apabila skor tingkat
pengetahuan responden 75%
atau 15 pernyataan yang
benar.
(Arikunto, 2010)

1. Positif (mendukung upaya


pencegahan penyakit TBC)
jika nilai nilai mean (77,8)

Ordinal

46

pencegahan penyakit
TBC yang dilakukan
pada kehidupan seharihari.

3.

Upaya
Pencegahan
penyakit
TBC

Merupakan tindakan
yang pernah dilakukan
responden dalam
mencegah penyakit
tuberkulosis paru.

Kuesioner

kuesioner C, yang
berisi tentang sikap
terhadap upaya
pencegahan penyakit
tuberkulosis
menggunakan skala
Likert dan skoring.
Pertanyaan terdiri dari
pernyataan positif dan
negatif dengan pilihan
jawaban; sangat setuju
(SS), setuju (S), tidak
setuju (TS), sangat
tidak setuju (STS).
- Pernyataan positif di
beri nilai SS: 4, S: 3,
TS: 2, STS: 1
- Pernyataan negatif
di beri nilai STS: 4,
TS: 3, S: 2, SS: 1.

2. Negatif (menolak upaya


pencegahan penyakit TBC)
jika nilai < nilai mean (77,8)

Meminta responden
untuk mengisi
pernyataan pada
kuesioner D, yang
berisi tentang
pelaksanaan upaya
pencegahan penyakit
tuberkulosis
menggunakan skala

Dinyatakan dalam tingkatan:

(Azwar, 2013)

1. Kurang
Apabila skor responden < 55%
2. Cukup
Apabila skor responden antara
56-74%
3. Baik
Apabila skor responden 75%

Ordinal

47

Likert dan skoring.


Pertanyaan terdiri dari
pernyataan positif dan
negatif dengan pilihan
jawaban; selalu,
sering, kadangkadang, jarang, tidak
pernah.
- Pernyataan positif di
beri nilai selalu: 5,
sering: 4, kadangkadang: 3, jarang: 2,
tidak pernah: 1
- Pernyataan negatif
di beri nilai tidak
pernah: 5, jarang: 4,
kadang-kadang: 3,
sering: 2, selalu: 1.

Tabel 3.1 Definisi Operasional

(Budiman, 2013)

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan
menggunakan rancangan penelitian analitik dan desain cross sectional
(potong lintang). Desain penelitian ini digunakan untuk meneliti suatu
kejadian pada waktu yang bersamaan (sekali waktu). Sehingga variabel
dependen dan variabel independen diteliti secara bersamaan (Notoatmodjo,
2010). Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan
dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis, dan
variabel dependen dalam penelitian ini adalah upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis. Tujuannya untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan
dan sikap terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Variabel dalam
penelitian ini adalah bivariat yaitu pengetahuan dan sikap masyarakat
terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Mei Juni 2013. Penelitian dilakukan
di RW 04 kelurahan Lagoa kotamadya Jakarta Utara, alasan pemilihan lokasi
penelitian ini karena wilayah ini terdapat banyak warganya yang menderita
penyakit tuberkulosis akibat wilayah ini dekat dengan pabrik sehingga
terkena polusi dari pabrik tersebut.

48

49

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya (Hidayat, 2007). Populasi dalam penelitian ini adalah
semua warga RW 04 kelurahan Lagoa kotamadya Jakarta Utara sebanyak
1.719 KK.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah subunit populasi survei itu sendiri yang oleh peneliti
dipilih dengan mewakili populasi target. Semakin besar sampel maka
representative sampel tersebut semakin mendekati jumlah populasi
(Nursalam, 2008). Sampel penelitian ini adalah warga yang berada di
RW 04 kelurahan Lagoa kota madya Jakarta Utara.
a. Kriteria Sampel
Dalam pemilihan sampel, peneliti membuat kriteria bagi
sampel yang diambil. Sampel yang diambil berdasarkan pada kriteria
inklusi, yaitu karakteristik sampel yang dapat dimasukkan atau layak
untuk diteliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Warga RW 04 kelurahan Lagoa yang sudah dewasa (>17 tahun).
2) Bersedia untuk menjadi responden.
3) Mampu berkomunikasi dengan aktif.

50

Kriteria eksklusi:
1) Tidak dapat membaca, menulis dan mendengar
2) Tempat tinggal tidak permanen
b. Jumlah Sampel
Perhitungan sampel menggunakan rumus uji hipotesis beda
dua proporsi menurut Budiarto (2003) yaitu:
(

))

( (

))

( (

))
]

Keterangan :
n

= jumlah sampel yang dibutuhkan


= 1,96 (Derajat kemaknaan 95% (CI) confident internal
dengan () sebesar 5%)
= 1,645 (Kekuatan uji sebesar 95%)
= 0,117 (Praktek pencegahan penyakit tuberkulosis, hasil
penelitian Handoko, 2010)
=
=

+ 30% = 0,117 + 0,30 = 0,417


(

)
(
=

)
= 0,267

51

))

( (

))

( (

))
]

))

))

))

Setelah dilakukan penghitungan, maka didapat n (sampel) = 54


responden. Selanjutnya hasil sampel dikalikan 10% untuk mengantisipasi
adanya kemungkinan hilangnya data atau ketidaklengkapan pengisian
kuesioner, 54 x 10% = 5,4 = 6. Maka total sampel dalam penelitian
adalah 54 + 6 = 60 responden. Supaya penyebaran data warga pada setiap
RT merata dan seimbang, maka digunakan rumus sebaran data dari
Suyanto (2011), yaitu:

RT 002 =

RT 008 =

RT 004 =

RT 010 =

RT 006 =

RT 012 =

52

D. Teknik Pengambilan Sampling


Teknik sampling adalah teknik yang dipergunakan untuk mengambil
sampel dari populasi. Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi
proporsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Setiadi, 2007). Teknik
sampling yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan teknik Cluster
sampling. Cluster sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana
pemilihannya mengacu pada kelompok bukan pada individu (Dahlan, 2010).
Pengambilan sampel dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu dengan
mengambil 6 RT dari 15 RT yang ada di RW 04 kelurahan Lagoa tersebut
secara acak, maka terpilih 6 RT yang menjadi sampel yaitu RT 002 sebanyak
3 KK, RT 004 sebanyak 3 KK , RT 006 sebanyak 4 KK, RT 008 sebanyak 3
KK, RT 010 sebanyak 4 KK dan RT 012 sebanyak 4 KK. Alasan pemilihan
tempat tersebut didasarkan kepada banyaknya kasus penyakit tuberkulosis
yang terdapat di tempat tersebut. Kemudian masing-masing KK dari setiap
RT diambil 2-3 orang sebagai responden.

E. Alat Pengumpul Data dan Prosedur Penelitian


1. Instrumen Penelitian
Pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah kuesioner atau
angket yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan mengacu kepada
konsep dan teori yang telah dibuat. Pertanyaan terdiri dari empat bagian
yaitu, bagian A berisi tentang data demografi yang meliputi nama, usia,
jenis kelamin, status pendidikan dan status pekerjaan. Bagian B berkaitan
dengan tingkat pengetahuan dalam bentuk pernyataan tertutup tentang
penyakit tuberkulosis dan pencegahannya sebanyak 20 item. Pernyataan

53

negatif berjumlah 7 point, yaitu pada point B1, B3, B5, B8, B10, B14,
B17 dan pernyataan positif berjumlah 15 point, yang terdiri dari point B2,
B4, B6, B7, B9, B11, B12, B13, B15, B16, B18, B19 dan B20.
Bagian C berisi 24 pernyataan tentang sikap tentang upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis dalam bentuk pernyataan tertutup.
Pernyataan positif berjumlah 11 point, yang terdiri dari point C1, C3, C5,
C6, C10, C16, C17, C18, C19, C20, C22 dan pernyataan negatif
berjumlah 13 point, yang terdiri dari point C2, C4, C7, C8, C9, C11, C12,
C13, C14, C15, C21, C23 dan C24.
Bagian D berisi 18 pertanyaan tentang upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis yang telah dilakukan oleh warga dalam bentuk pertanyaan
tertutup. Pertanyaan positif berjumlah 9 point, yang terdiri dari point D1,
D3, D6, D7, D8, D9, D11, D13, D14 dan pertanyaan negatif berjumlah 9
point, yang terdiri dari point D2, D4, D5, D10, D12, D15, D16, D17 dan
D18.
Skala pengukuran pengetahuan tentang pencegahan penyakit
tuberkulosis menggunakan skala Guttman, skala yang bersifat tegas dan
konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari
pernyataan: benar dan salah atau ya dan tidak. Skala Guttman dapat
dibuat dalam bentuk pilihan ganda atau dalam bentuk check list. Skor
penilaiannya jika jawaban pernyataan benar maka nilainya 1, sedangkan
jika jawaban pernyataan salah maka nilainya 0 (Hidayat, 2007).
Skala pengukuran sikap tentang upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis menggunakan skala Likert. Dalam penilaian atau skor

54

berdasarkan skala Likert berbeda antara pernyataan positif dengan


pernyataan negatif. Penilaian untuk pernyataan positif sikap responden
tentang upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yaitu:
Sangat setuju

:4

Setuju

:3

Tidak setuju

:2

Sangat tidak setuju

:1

Sedangkan penilaian pernyataan negatif sikap responden tentang


upaya pencegahan penyakit tuberkulosis juga menggunakan skala Likert,
yaitu:
Sangat tidak setuju

:4

Tidak setuju

:3

Setuju

:2

Sangat setuju

:1

Skala pengukuran upaya pencegahan penyakit tuberkulosis juga


menggunakan skala Likert. Skala Likert dapat dibuat dalam bentuk check
list. Penilaian untuk pertanyaan positif tentang upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis yang telah dilakukan oleh responden yaitu:
Selalu

:5

Sering

:4

Kadang-kadang

:3

Jarang

:2

Tidak pernah

:1

55

Sedangkan penilaian pertanyaan negatif tentang upaya pencegahan


penyakit tuberkulosis yang telah dilakukan oleh responden juga
menggunakan skala Likert, yaitu:
Tidak pernah

:5

Jarang

:4

Kadang-kadang

:3

Sering

:2

Selalu

:1

Penilaian bagi upaya pencegahan penyakit tuberkulosis dilakukan


dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban dengan skor yang
diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya berupa
presentase. Selanjutnya presentase jawaban diinterpretasikan dalam
kalimat kualitatif dengan acuan sebagai berikut:
Skor Penilaian
76 100%
56 75%
0 55%

Interpretasi Tingkat Upaya


Pencegahan
Baik
Cukup
Kurang

Penilaian bagi sikap terhadap upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis dilakukan dengan cara membandingkan jumlah nilai jawaban
dengan nilai median, apabila nilai responden < mean (77,8) dari nilai
sikap terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis maka termasuk
responden yang tidak mendukung terhadap upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis sedangkan apabila nilai responden mean (77,8) dari nilai
sikap terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis maka termasuk

56

responden yang mendukung terhadap upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis.
Penilaian bagi pengetahuan dilakukan dengan cara membandingkan
jumlah skor jawaban dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian
dikalikan 100% dan hasilnya berupa presentase. Selanjutnya presentase
jawaban diinterpretasikan dalam kalimat kualitatif dengan acuan sebagai
berikut:
Skor Penilaian
76 100% atau 15-20 point
jawaban yang benar
56 75% atau 11-14 point
jawaban yang benar
0 55% atau 0-10 point
jawaban yang benar

Interpretasi Tingkat
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang

2. Uji Validitas dan Reabilitas


a. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo, 2010).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.
Untuk mendapatkan data yang valid dan realibel maka kuesioner
tersebut harus diuji validitas dan reabilitas. Sebelum kuesioner
digunakan dalam penelitian, terlebih dahulu kuesioner dilakukan uji
validitas dengan rumus korelasi Pearson product moment. Bila nilai r
hitung lebih besar dari r tabel berarti valid sedangkan jika nilai r
hitungnya lebih kecil dari r tabel berarti tidak valid (Hidayat, 2007).

57

Setelah dilakukan uji validitas dari 62 pertanyaan, maka


diperoleh jumlah pertanyaan yang valid. Pertanyaan yang dinyatakan
valid inilah yang digunakan dalam pertanyaan penelitian.
b. Reabilitas
Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu
alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti
menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama,
dengan menggunakan alat ukur yang sama. Pengukuran reabilitas
menggunakan bantuan Software komputer dengan rumus Alpha
Cronbach. Suatu variabel dikatakan realibel jika memberikan nilai
Alpha Cronbanch > 0,60 (Budiman, 2013)
c. Hasil Uji Validitas dan Reabilitas
Uji coba kuesioner dilakukan pada tanggal 9 10 Juni 2013
terhadap 30 warga kelurahan Lagoa Jakarta Utara. Tujuan dari uji
coba kuesioner adalah untuk mengetahui apakah pertanyaanpertanyaan yang ada dalam kuesioner penelitian mudah dimengerti
atau sulit dimengerti oleh responden. Dari hasil uji coba kuesioner ini
ditemukan banyak pertanyaan yang belum memiliki validitas dan
reliabilitas yang baik, sehingga dilakukan uji validitas konten.
Validitas konten adalah instrumen atau kuesioner dapat
diperiksa untuk melihat apakah isinya mencakup pengertian
konseptual tertentu yang hendak diukur (Pohan, 2006). Dari hasil uji
validitas konten didapatkan dari 62 pertanyaan, ada beberapa

58

pertanyaan yang kontennya belum sesuai sehingga dilakukan


perbaikan pada pertanyaan B2, C6 dan D17.

3.

Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek
dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam
penelitian (Nursalam, 2008). Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti
dan dibantu oleh beberapa teman mahasiswa peneliti yang sebelumnya
dilakukan diskusi untuk mempersamakan persepsi dari kuesioner
penelitian. Pengumpulan data dilakukan di wilayah kelurahan Lagoa
kotamadya Jakarta Utara dengan prosedur sebagai berikut:
a. Membuat surat permohonan izin penelitian dari PSIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang ditujukan kepada Lurah kelurahan Lagoa
Jakarta Utara.
b. Setelah mendapat persetujuan dari Lurah kelurahan Lagoa Jakarta
Utara, peneliti menyerahkan surat permohonan tersebut kepada ketua
RT 002, RT 004, RT 006, RT 008, RT 010 dan RT 012. Setelah itu
peneliti melakukan penseleksian calon responden.
c. Peneliti mengidentifikasi responden yang memenuhi kriteria inklusi
penelitian.
d. Meminta calon yang terpilih agar bersedia menjadi responden setelah
mengadakan pendekatan dan memberikan penjelasan tentang tujuan,
manfaat, dan prosedur penelitian serta hak dan kewajiban selama
menjadi responden. Responden yang bersedia selanjutnya diminta
menandatangani lembar informed concent.

59

e. Memberikan kesempatan kepada responden untuk bertanya bila ada


yang belum jelas.
f. Setelah itu pertanyaan dalam kuesioner dijawab, maka peneliti
mengumpulkan data dan mengucapkan terima kasih kepada
responden.

F. Pengolahan Data
Pada pengolahan data, penulis menggunakan alat perangkat lunak.
Setiadi (2007) membagi 5 tahapan pengolahan data yaitu:
1. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan sendiri oleh
peneliti di tempat penelitian agar apabila jika ada kekurangan data
dapat segera dilengkapi.
2. Coding
Coding merupakan pemberian kode numerik (angka) terhadap data
yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting
bila pengolahan dan analisis data menggunakan komputer.
3. Scoring (Penetapan skor)
Setelah data terkumpul dan kelengkapannya diperiksa kemudian
dilakukan tabulasi dan diberi skor sesuai dengan kategori dari data
serta jumlah item pertanyaan dari setiap variabel.
4. Entry Data
Entry data adalah kegiatan memasukan data dari kuisioner kedalam
paket program komputer agar dapat dianalisis, kemudian membuat

60

distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel


kontingensi.
5. Cleaning Data
Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang
sudah dimasukkan ke dalam komputer untuk memastikan data telah
bersih dari kesalahan sehingga data siap dianalisa.

G. Teknik Analisis Data


Analisis data dibantu menggunakan perangkat lunak dengan analisa
yang digunakan adalah:
1. Analisis Univariat
Menurut Setiadi (2007), analisis univariat merupakan analisis
tiap variabel yang dinyatakan dengan menggambarkan dan meringkas
data dengan cara ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik. Variabel
dalam penelitian ini meliputi variabel independen yaitu pengetahuan
dan sikap. Dan variabel dependennya adalah upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
variabel independen dengan dependen, yaitu hubungan tingkat
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis di RW 04 kelurahan Lagoa kotamadya Jakarta
Utara. Analisis yang paling tepat untuk penelitian ini yaitu
menggunakan uji Spearman Rank (Rho). Uji ini merupakan ukuran
asosiasi yang menuntut kedua variabel diukur sekurang-kurangnya

61

pada skala ordinal sehingga objek atau responden dapat di ranking


dalam dua rangkaian yang berurutan (Dahlan, 2012). Sehingga dari
hasil uji ini dapat terlihat pola hubungan antara tingkat pengetahuan
dan

sikap

masyarakat

terhadap

upaya

pencegahan

penyakit

tuberkulosis di RW 04 kelurahan Lagoa kotamadya Jakarta Utara.


Kekuatan hubungan dari kedua variabel tersebut ditentukan dengan
mengetahui nilai dari kekuatan korelasinya (nilai r) menurut Dahlan
(2010), sebagai berikut:
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Parameter

Kekuatan korelasi (r)

Untuk

melihat

Nilai
0,00-0,199
0,20-0,399
0,40-0,599
0,60-0,799
0,80-1,000

kemaknaan

Interpretasi
Sangat lemah
Lemah
Sedang
Kuat
Sangat kuat

perhitungan

sistem

dengan

membandingkan nilai p < (0,05) maka ada hubungan yang bermakna


antara variabel dependent dengan variabel independent. Sebaliknya
jika p > (0,05) maka tidak ada hubungan yang bermakna antara
variabel dependent dengan variabel independent.

H. Etika Penelitian
Hidayat (2007) menjelaskan bahwa dalam melakukan penelitian
menekankan masalah etika penelitian yang meliputi:
1. Lembar persetujuan (Informed Consent)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti
dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.

62

Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan


dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.
Pemberian informed concent bertujuan agar subjek mengerti
maksud, tujuan penelitian, dan mengetahui dampaknya. Jika subjek
bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan.
Jika responden tidak menerima, maka peneliti harus menghormati hak
subjek.
2.

Tanpa Nama (Anonimity)


Peneliti memberikan jaminan dalam penggunaan subjek
penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama
responden pada lembar kuisioner dan hanya menuliskan kode pada
lembar pengumpulan data atau hasil penelitian.

3. Kerahasiaan (Confidentially)
Etika penelitian bertujuan untuk menjamin kerahasiaan identitas
responden, melindungi dan menghormati hak responden dengan
mengajukan surat pernyataan persetujuan (informed consent).
Sebelum menandatangani surat persetujuan, peneliti menjelaskan
judul

penelitian,

tujuan

penelitian,

manfaat

penelitian

dan

menjelaskan kepada responden bahwa penelitian tidak akan


membahayakan bagi responden. Peneliti akan menjamin kerahasiaan
identitas responden, dimana data-data yang diperoleh hanya akan
digunakan untuk kepentingan penelitian dan apabila telah selesai
maka data tersebut akan dimusnahkan.

BAB V
HASIL PENELITIAN

Bab ini akan memaparkan secara lengkap, hasil penelitian hubungan tingkat
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara. Penelitian ini dilaksanakan
selama satu minggu dari tanggal 23 Juni sampai 29 Juni 2013. Pembagian
kuesioner dilakukan di enam RT yang ada di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta
Utara.

A. Gambaran Kelurahan Lagoa Jakarta Utara


Kelurahan Lagoa merupakan salah satu kelurahan yang ada di wilayah
Kecamatan Koja Jakarta Utara, dengan luas wilayah kurang lebih 15.799 km2.
Letaknya berbatasan dengan:
a. Sebelah Utara

: Jalan Raya Cilincing, Kelurahan Kalibaru

b. Sebelah Selatan

: Jalan Mawar, Jalan Johar, Jalan Waru,


Kelurahan Tugu Utara

c. Sebelah Barat

: Kali Pinang, Kelurahan Rawa Badak Utara, dan


Kelurahan Koja

d. Sebelah Timur

: Jalan Kramat Jaya, Kelurahan Semper Barat

Kelurahan Lagoa Jakarta Utara memiliki 18 RW dan 222 RT. Jumlah


penduduk di wilayah Kelurahan Lagoa Jakarta Utara pada bulan Februari 2013
berjumlah 71.219 jiwa dengan kepadatan penduduk 451 jiwa/km2.

64

65

RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta utara memiliki 15 RT dengan jumlah


penduduk sejumlah 4990 jiwa. Luas wilayah RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta
Utara kurang lebih 8,90 ha.

B. Gambaran Karakteristik Responden


Responden dalam penelitian ini adalah warga yang berusia 17 tahun
yang tinggal di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara baik yang menderita
TBC maupun yang tidak menderita TBC. Total responden berjumlah 60 orang.
Dalam penelitian ini didapatkan 6 responden yang menderita penyakit TBC.
Berikut adalah kategori responden penelitian, antara lain:

1. Karakteristik Usia

Tabel 5.1
Distribusi Statistik Deskriptif Umur Responden
Di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013

Umur

Mean
33,43

Median
30

Modus
30

Min-Mak
17-61

Berdasarkan tabel 5.1 diperoleh hasil analisis didapatkan umur


responden adalah 33,43 tahun, median 30 tahun dengan modus 30 tahun.
Umur termuda 17 tahun dan umur tertua 61 tahun.

66

2. Karakteristik Jenis Kelamin

Tabel 5.2
Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin
Di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Jenis Kelamin

Jumlah

Persentase (%)

Laki-Laki

40

66.7

Perempuan

20

33.3

Total

60

100.0

Tabel 5.2 diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan


jenis kelamin. Dapat diketahui responden perempuan sebanyak 20 orang
(33,3%) dan laki-laki sebanyak 40 orang (66,7%).

3. Karakteristik Pendidikan

Tabel 5.3
Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan
Di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Pendidikan Terakhir

Jumlah

Persentase (%)

Dasar

15

25.0

Menengah

39

65.0

Tinggi

10.0

Total

60

100.0

Tabel 5.3 diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan


tingkat pendidikan. Hal ini menunjukkan dari 60 responden, semuanya
menempuh pendidikan, berpendidikan dasar sebanyak 15 orang (25%),
berpendidikan SMA sebanyak 39 responden (65%) dan berpendidikan
tinggi sebanyak 6 responden (10%).

67

4. Karakteristik Pekerjaan

Tabel 5.4
Distribusi Responden Menurut Jenis Pekerjaan
Di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Jenis Pekerjaan

Jumlah

Persentase (%)

Buruh

13

21.7

Guru

1.7

IRT

15.0

Karyawan Swasta

24

40.0

Mahasiswa

1.7

Pelajar

3.3

Wiraswasta

10

16.7

Total

60

100.0

Tabel 5.4 diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan


jenis pekerjaan. Hal ini menunjukkan pekerjaan dari 60 responden yang
terdapat pada penelitian ini meliputi 13 orang (21,7%) buruh, 1 orang
(1,7%) guru, 9 orang (15%) IRT, 24 orang (40%) karyawan swasta, 1
orang (1,7%) mahasiswa, 10 orang (16,7%) wiraswasta, dan 2 orang (3,3
%) pelajar.

C. Analisis Univariat
Analisis univariat adalah cara analisis dengan mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Pada
umumnya analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap
variabel.

68

1. Gambaran pengetahuan masyarakat terhadap upaya pencegahan


penyakit tuberkulosis

Tabel 5.5
Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Terhadap Upaya
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Pada Masyarakat Di RW 04
Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Pengetahuan

Jumlah

Persentase (%)

Baik

43

71.7

Cukup

16

26.7

Kurang

1.7

Total

60

100.0

Tabel 5.5 diatas diperoleh hasil pengetahuan terhadap upaya


pencegahan penyakit tuberkulosis pada masyarakat. Dapat diketahui dari
60 responden yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai upaya
pencegahan
pengetahuan

penyakit
yang

tuberkulosis

cukup

sebanyak

mengenai

upaya

43

orang

(71,7%),

pencegahan

penyakit

tuberkulosis sebanyak 16 orang (26,7%) dan pengetahuan yang kurang


mengenai upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 1 orang
(1,7%).

69

2. Gambaran sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis

Tabel 5.6
Distribusi Responden Menurut Sikap Masyarakat Terhadap
Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Di RW 04 Kelurahan
Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Sikap

Jumlah

Persentase (%)

Positif

33

55.0

Negatif

27

45.0

Total

60

100.0

Tabel 5.6 diatas diperoleh hasil sikap masyarakat terhadap upaya


pencegahan penyakit tuberkulosis. Responden yang memiliki sikap positif
terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 33 orang
(55%), dan responden yang memiliki sikap negatif terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 27 orang (45%).

3. Gambaran Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis

Tabel 5.7
Distribusi Responden Menurut Upaya Pencegahan Penyakit
Tuberkulosis Pada Masyarakat Di RW 04 Kelurahan Lagoa
Jakarta Utara Tahun 2013
Upaya Pencegahan

Jumlah

Persentase (%)

Baik

40

66.7

Cukup

20

33.3

Kurang

Total

60

100.0

70

Tabel 5.7 hasil penelitian mengenai upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis meliputi kategori baik sebanyak 40 orang (66,7%) dan
kategori cukup sebanyak 20 orang (33,3%).

D. Analisis Bivariat
Berdasarkan kerangka konsep, analisis bivariat telah menguji hubungan
satu persatu antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel bebas
adalah tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis. Uji bivariat ini menggunakan uji Correlation Spearman
dengan menggunakan = 5%.

1. Hubungan pengetahuan masyarakat terhadap upaya pencegahan


penyakit tuberkulosis

Tabel 5.8
Distribusi Responden Menurut Proporsi Pengetahuan Terhadap
Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Pada Masyarakat
Di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Upaya Pencegahan
Pengetahuan
Baik
Cukup Kurang
N % N %
N %
36 83.7 7 16.3 0
0
Baik
4 25.0 12 75.0 0
0
Cukup
0
0
1 100.0 0
0
Kurang
Total
40 66.7 20 33.3 0
0

Tabel

5.8

menunjukkan

bahwa

Total
N
43
16
1
60

%
100.0
100.0
100.0
100.0

responden

Nilai r p value

0.541

0.000

yang

memiliki

pengetahuan yang baik sebanyak 43 orang (100%) terdapat 36 orang


(83,7%) memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang baik dan
7 orang (16,3%) memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang

71

cukup. Responden yang memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 16


orang (100%) terdapat 4 orang (25%) memiliki upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis yang baik dan 12 orang (75%) memiliki upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup. Responden yang memiliki
pengetahuan kurang sebanyak 1 orang (100%) terdapat 1 orang (100%)
memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup. Hasil uji
Correlation Spearman diperoleh nilai p value=0,000, dimana nilai p<0,05
yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan
upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Nilai coefficient correlation
diperoleh nilai 0,541 yang berarti terdapat hubungan yang sedang antara
pengetahuan dengan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.

2. Hubungan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis

Tabel 5.9
Distribusi Responden Menurut Sikap Masyarakat Terhadap
Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis Di RW 04 Kelurahan
Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013
Upaya Pencegahan
Sikap

Baik
N

Cukup Kurang
n

Total

Positif

23 69.7 10 30.3 0

33

100.0

Negatif

17 63.0 10 37.0 0

27

100.0

Total

40 66.7 20 33.3 0

60

100.0

Nilai r p value

0.378

0.003

72

Tabel 5.9 menunjukkan bahwa responden yang memiliki sikap


positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 33
orang (100%) terdapat 23 orang (69,7%) memiliki upaya pencegahan yang
baik dan 10 orang (30.3%) memiliki upaya pencegahan yang cukup.
Responden yang memiliki sikap negatif terhadap upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis sebanyak 27 orang (100%) terdapat 17 orang (63%)
memiliki upaya pencegahan yang baik dan 10 orang (37%) memiliki upaya
pencegahan yang cukup. Hasil uji Correlation Spearman diperoleh nilai p
value=0,003, dimana nilai p<0,05 yang berarti terdapat hubungan yang
bermakna antara sikap dengan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.
Nilai coefficient correlation diperoleh nilai 0,378 yang berarti terdapat
hubungan yang lemah antara sikap dengan upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis.

BAB VI
PEMBAHASAN

Pembahasan ini akan menguraikan makna hasil penelitian yang dilakukan


tentang hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap
upaya pencegahan penyakit tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara
tahun 2013. Pembahasan ini mencakup perbandingan antara hasil penelitian
dengan konsep teoritis dan penelitian sebelumnya. Bab ini juga akan menjelaskan
tentang keterbatasan penelitian yang telah dilaksanakan.

A. Analisis Univariat
1. Gambaran Pengetahuan tentang Penyakit Tuberkulosis dan Upaya
Pencegahan Penyakit Tuberkulosis
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menimbulkan
rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat
dikatakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
untuk

terbentuknya

tindakan

seseorang

(Notoatmodjo,

2007).

Pengetahuan dalam penelitian ini adalah responden mampu mengetahui


tentang penyakit tuberkulosis dan upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis.
Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa sumber informasi yang
diperoleh dari berbagai sumber maka seseorang cenderung mempunyai

73

74

pengetahuan yang luas. Pengetahuan tentang penyakit tuberkulosis dan


upaya pencegahannya yang didapatkan oleh responden berasal dari
berbagai sumber, seperti buku, media massa, penyuluhan atau
pendidikan dan melalui kerabat. Adanya informasi baru mengenai suatu
hal dari media massa memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.
Hasil penelitian pada 60 responden menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan responden tentang penyakit tuberkulosis dan upaya
pencegahan

penyakit

tuberkulosis

yang

baik

sebesar

71,1%,

pengetahuan yang cukup sebesar 26,7% dan pengetahuan yang kurang


sebesar 1,7%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian
besar responden memiliki pengetahuan yang baik terhadap penyakit
tuberkulosis dan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Pengetahuan
yang baik tersebut didapatkan melalui berbagai faktor, seperti buku,
media massa, penyuluhan dari Puskesmas dan dari kerabat terdekat
yang memberitahukan tentang pentakit TBC dan upaya pencegahannya.
`Pengetahuan yang baik dalam penelitian ini adalah wawasan atau
pemahaman yang dimiliki responden tentang penyakit TBC dan upaya
pencegahannya yang mencakup pengertian, penyebab, penularan, tanda
dan gejala, komplikasi, faktor risiko dan tindakan pencegahan penyakit
TBC. Sedangkan pengetahuan yang cukup dalam penelitian ini dapat
diartikan bahwa responden memiliki pemahaman yang cukup tentang
penyakit TBC dan upaya pencegahannya seperti pengertian, tanda
gejala, penularan dan beberapa upaya pencegahan. Pengetahuan yang

75

kurang dalam penelitian ini adalah responden memiliki pemahaman


yang kurang tentang penyakit TBC dan upaya pencegahannya seperti
tentang pengertian, komplikasi, faktor risiko dan beberapa upaya
pencegahan. Hal ini dikarenakan responden kurang mendapatkan
informasi tentang penyakit tuberkulosis dari media massa maupun dari
Puskesmas karena responden jarang mengikuti kegiatan pendidikan
kesehatan di Puskesmas.
Pengetahuan yang baik mengenai upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis akan sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam
melakukan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Masyarakat
dengan pengetahuan yang baik diharapkan dapat melakukan upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis yang tepat. Kesadaran akan tumbuh
pada masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis jika warga mempunyai pengetahuan yang baik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008),
tingkat pengetahuan responden tentang penyakit tuberkulosis dan
perilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di desa Sidorejo
didapatkan nilai presentase sebesar 42,5% yang berpengetahuan baik.
Pada penelitian ini juga melaporkan bahwa pengetahuan baik yang
didapatkan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti media massa,
pengalaman, usia dan lingkungan.
Hal tersebut sesuai dengan penelitian ini dimana pengetahuan
yang dimiliki responden didapatkan melalui media massa, buku,
pengalaman responden, penyuluhan dari Puskesmas, dan informasi

76

tentang penyakit TBC dan upaya pencegahannya yang didapatkan dari


kerabat terdekat. Latar belakang pendidikan dari responden juga
mempengaruhi pengetahuan yaitu mayoritas pendidikan responden
adalah SMA. Sesuai dengan teori, semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang akan semakin baik tingkat pengetahuannya (Notoatmodjo,
2007).
Penelitian ini tidak sejalan dengan Putra (2011), tingkat
pengetahuan

responden

tentang

penyakit

TBC

dan

perilaku

pencegahannya di kota Solok didapatkan presentase sebesar 63,6%


yang berpengetahuan rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan dalam
penelitian Putra dapat disebabkan oleh kurangnya pemahaman
responden terhadap penyakit TBC dan upaya pencegahannya. Sampel
yang diambil oleh Putra adalah penderita TB paru yang tercatat oleh
Dinkes Kota Solok.
Notoatmodjo (2007) mengungkapkan bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
persepsi seseorang untuk lebih mudah menerima pengetahuan baru dan
semakin

tinggi

pendidikan

seseorang

akan

semakin

baik

pengetahuannya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan


oleh peneliti, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik
(71,7%) terhadap penyakit tuberkulosis dan upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis dengan mayoritas karakteristik pendidikan responden
adalah SMA (65,0%).

77

2. Gambaran Sikap Masyarakat tentang Upaya Pencegahan Penyakit


Tuberkulosis
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek
(Notoatmodjo, 2007). Proses pembentukan sikap dapat terjadi karena
adanya

rangsangan,

seperti

pengetahuan

masyarakat

tentang

pencegahan penyakit TBC. Rangsangan tersebut menstimulus diri


masyarakat untuk memberi respon, dapat berupa sikap positif atau
negatif, akhirnya akan diwujudkan dalam perilaku atau tidak.
Berkowitz (1972) dalam Azwar (2013) berpendapat bahwa setiap orang
yang mempunyai perasaan positif terhadap suatu objek psikologis
dikatakan menyukai objek tersebut atau mempunyai sikap favorable
terhadap objek itu, sedangkan individu yang mempunyai perasaan
negatif terhadap suatu objek psikologis dikatakan mempunyai sikap
yang unfavorable terhadap objek sikap tersebut. Sikap responden dalam
penelitian ini adalah bagaimana responden bersikap terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis, baik mendukung atau menolak.
Hasil penelitian pada 60 responden ini menunjukkan bahwa
responden yang memiliki sikap positif terhadap upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis sebanyak 55% dan sikap negatif sebanyak 45%.
Sikap positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
cenderung menerima dan mengetahui tentang hal tersebut, sedangkan
sikap negatif cenderung menolak terhadap upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis. Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan

78

dalam mengambil tindakan, terlebih bila sikap tersebut bersifat terbuka,


besar kemungkinan dapat tercermin dari tindakan yang diperlihatkan.
Azwar (2013) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
sikap yaitu pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap
penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan
lembaga agama dan pengaruh faktor emosional. Hal ini sesuai dengan
penelitian dimana sikap masyarakat RW 04 dipengaruhi oleh beberapa
faktor, seperti pengalaman pribadi, pengaruh orang lain, kebudayaan
yang dimiliki masyarakat dan pendidikan masyarakat, dimana sebagian
pendidikan responden dalam penilitian adalah SMA sehingga memiliki
pemahaman yang baik tentang upaya pencegahan penyakit TBC yang
dapat mempengaruhi responden dalam bersikap. Ini sejalan dengan
penelitian

Djannah

(2009),

sikap

responden

tentang

perilaku

pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di Sleman Yogyakarta


didapatkan sebagian besar memiliki sikap yang baik.
Sikap positif dalam penelitian ini terdiri dari responden
mendukung dengan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis, cara
penularan, dan fsktor risiko yang menyebabkan penyakit tuberkulosis
terjadi. Sikap negatif dalam penelitian ini terdiri dari beberapa
responden kurang mendukung dengan beberapa upaya pencegahan dan
faktor risiko yang dapat menyebabkan penyakit tuberkulosis. Hal ini
disebabkan responden kurang informasi tentang penyakit tuberkulosis,
memiliki pengalaman yang kurang tentang upaya pencegahannya dan

79

dapat juga disebabkan oleh pengaruh orang lain atau kebudayaan dalam
pengambilan sikap dari responden.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Fibriana
(2011), responden yang memiliki sikap negatif tentang pencegahan
penyakit menular tuberkulosis sebanyak 54,5%. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu pengalaman pribadi, faktor emosional, faktor
dukungan keluarga, dan usia, dimana sebagian usia responden dalam
penelitian berusia <36 tahun yang mempunyai emosi yang terkadangkadang (malas) untuk pergi berobat. Sampel yang diambil oleh Fibriana
adalah keluarga penderita tuberkulosis yang ada di Puskesmas
Wringinanom Gresik.
Sikap masyarakat RW 04 Kelurahan Lagoa sebagian besar
memiliki sikap positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
yang artinya sebagian besar masyarakat RW 04 mendukung atau
menerima tentang upaya untuk mencegahan penyakit TBC. Dengan
sikap positif yang dimiliki warga RW 04 dapat menurunkan angka
kejadian penyakit TBC di Kelurahan Lagoa. Kasus penyakit
tuberkulosis di Kelurahan Lagoa pada tahun 2012 sebesar 67 kasus
dimana sikap penderita rata-rata kurang mendukung dalam pengobatan,
seperti tidak rutin meminum obat anti tuberkulosis di Puskesmas.
Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap seseorang adalah
pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi pengetahuan yang
dimiliki akan memberikan kontribusi terhadap terbentuknya sikap yang
baik. Pembentukan sikap tidak dapat dilepaskan dari adanya faktor-

80

faktor yang mempengaruhi seperti pengalaman pribadi, kebudayaan,


orang lain yang dianggap penting, media massa, serta faktor emosional
dari individu (Azwar, 2013).

3. Gambaran Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis


Pencegahan penyakit merupakan komponen penting dalam
pelayanan kesehatan. Perawatan pencegahan melibatkan aktivitas
peningkatan kesehatan termasuk program pendidikan kesehatan khusus,
yang dibuat untuk membantu klien menurunkan risiko sakit,
mempertahankan fungsi yang maksimal, dan meningkatkan kebiasaan
yang berhubungan dengan kesehatan yang baik (Perry & Potter,2005).
Upaya pencegahan penyakit tuberkulosis dilakukan untuk menurunkan
angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tuberkulosis. Upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis dalam penelitian ini adalah tindakan
yang pernah dilakukan oleh responden dalam mencegah penyakit
tuberkulosis.
Hasil penelitian pada 60 responden ini menunjukkan bahwa
responden yang memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang
baik sebanyak 66,7% dan yang memiliki upaya pencegahan penyakit
tuberkulosis yang cukup sebanyak 33,3%. Hal ini disebabkan oleh
faktor pengetahuan dan sikap yang dimiliki oleh responden. Hasil
penelitian tentang pengetahuan didapatkan sebagian besar responden
memiliki pengetahuan yang baik sedangkan hasil penelitian tentang
sikap didapatkan sebagian besar responden memiliki sikap positif
terhadap upaya pencegahan penyakit TBC sehingga upaya pencegahan

81

yang dilakukan responden sudah baik. Upaya pencegahan yang


dilakukan masyarakat untuk mencegah penyakit tuberkulosis seperti
menggunakan masker pada saat berbicara dengan penderita TBC,
mengkonsumsi makanan yang bergizi, menjaga kebersihan lingkungan,
menyediakan ventilasi dan sinar matahari yang cukup dan tidak
membuang dahak disembarang tempat.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Djannah (2009),
54,1% respondennya memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan
upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Hasil penelitian ini tidak
sejalan dengan Putra (2011), didapatkan hasil tingkat tindakan
pencegahan TB paru oleh penderita TB di kota Solok secara umum
terhadap TB paru tergolong kurang dengan nilai sebesar 81,8%.

B. Analisis Bivariat
1. Hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis
Berdasarkan

hasil

pengolahan

data

yang

menggunakan

perhitungan korelasi Spearman Rank dengan bantuan program


komputer menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih kecil dari
nilai =0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak yang berarti ada
hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis. Nilai coefficient correlation 0,541
menyatakan bahwa ada hubungan yang sedang dan searah antara
pengetahuan terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang

82

artinya semakin baik tingkat pengetahuan, maka semakin baik upaya


pencegahan penyakit tuberkulosis yang dilakukannya.
Hasil penelitian yang didapatkan dari 43 orang dengan tingkat
pengetahuan yang baik terdapat 83,7% memiliki upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis yang baik dan 16,3% memiliki upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis

yang cukup. Responden

yang memiliki

pengetahuan yang cukup sebanyak 16 orang terdapat 25% memiliki


upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang baik dan 75% memiliki
upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup. Responden yang
memiliki pengetahuan yang kurang sebanyak 1 orang dengan upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008) yang
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
pengetahuan

dengan

perilaku

pencegahan

penularan

penyakit

tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Bendosari. Semakin baik


tingkat pengetahuan maka semakin tinggi juga tindakan pencegahan
penularan penyakit tuberkulosis yang dilakukan.
Djannah (2009) dalam penelitiannya mengungkapkan pendapat
yang berbeda dengan hasil penelitian ini yaitu bahwa tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan mahasiswa tentang
penyakit tuberkulosis dengan perilaku pencegahan penularan penyakit
tuberkulosis. Nilai probabilitas yang didapatkan bersifat tidak
signifikan yaitu 0,904>0,05. Nilai

coefficient corelation

yang

83

didapatkan 0,21 artinya berkorelasi lemah dan tidak mempunyai


hubungan.
Berdasarkan

hasil

analisa

mengenai

hubungan

tingkat

pengetahuan terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis pada


masyarakat kelurahan Lagoa dapat disimpulkan sesuai dengan teori dan
penelitian terkait bahwa responden dengan tingkat pengetahuan yang
baik memiliki tindakan pencegahan penyakit tuberkulosis lebih baik
dibandingkan dengan responden dengan tingkat pengetahuan yang
kurang dan cukup. Hal ini dapat diartikan bahwa pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang karena dengan pengetahuan yang baik dapat menciptakan
perilaku yang baik (Notoatmodjo,2007).

2. Hubungan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis
Hasil pengolahan data yang menggunakan perhitungan korelasi
Sperman Rank menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,003 lebih kecil
dari nilai =0,05 maka dapat disimpulkan Ho ditolak yang berarti ada
hubungan yang signifikan antara sikap masyarakat terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis. Nilai coefficient correlation 0,378
menyatakan bahwa ada hubungan yang lemah dan searah antara sikap
masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang
artinya semakin positif sikap seseorang, maka semakin baik upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis yang dilakukannya.

84

Hasil penelitian yang didapatkan dari 33 orang dengan sikap


positif

terdapat

69,7%

memiliki

upaya

pencegahan

penyakit

tuberkulosis yang baik dan 30,3% memiliki upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis yang cukup. Responden yang memiliki sikap negatif
sebanyak 27 orang terdapat 63% memiliki upaya pencegahan yang baik
dan 37% memiliki upaya pencegahan yang cukup.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008) yang
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap
responden dengan perilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis
di wilayah kerja Puskesmas Bendosari. Nilai probabilitas yang
didapatkan bersifat signifikan yaitu 0,000<0,05. Nilai coefficient
corelation yang didapatkan 0,755 artinya korelasi kuat dan searah.
Semakin positif sikap masyarakat maka semakin baik tindakan
pencegahan yang dilakukan.
Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2007) yang
menyatakan bahwa domain dari perilaku adalah pengetahuan, sikap dan
tindakan. Roger (1974) dalam Notoatmodjo (2007) memiliki pendapat
yang sama yaitu sikap dan praktek yang tidak didasari oleh
pengetahuan yang adekuat tidak akan bertahan lama pada kehidupan
seseorang, sedangkan pengetahuan yang adekuat jika tidak diimbangi
oleh sikap dan praktek yang berkesinambungan tidak akan mempunyai
makna yang berarti bagi kehidupan.
Berdasarkan hasil analisa mengenai hubungan sikap masyarakat
terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis pada masyarakat

85

kelurahan Lagoa dapat disimpulkan sesuai dengan teori dan penelitian


terkait bahwa responden dengan tingkat pengetahuan yang baik dan
sikap yang positif memiliki tindakan pencegahan penyakit tuberkulosis
yang baik. Hal ini dapat diartikan bahwa pengetahuan dan sikap
merupakan

penunjang

dalam

melakukan

perilaku

sehat

(Notoatmodjo,2007).

C. Keterbatasan Penelitian
Adapun keterbatasan dalam penelitian ini meliputi :
1. Ketika mencari responden dalam penelitian ini yang sesuai dengan
kriteria inklusi dan ekslusi merupakan suatu tantangan karena peneliti
harus mendatangi setiap rumah dan tidak mengetahui secara lengkap
data dari responden.
2. Kebanyakan responden merupakan warga pendatang yang kebanyakan
dari suku Jawa sehingga responden kurang bervariasi.
3. Banyak

responden

menganggap

bahwa

penyakit

tuberkulosis

merupakan penyakit yang memalukan karena dapat membuat malu


keluarga.
4. Instrumen mengenai pengetahuan, sikap dan upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis yang digunakan merupakan hasil modifikasi dari
teori dan instrumen dibuat oleh peneliti sendiri, kemudian pertanyaan
yang ada dalam instrumen merupakan pernyataan tertutup, sehingga
bisa jadi pernyataan dalam instrumen ini belum mewakili apa yang

86

dirasakan oleh responden. Namun peneliti sudah meminimalkan hal


tersebut dengan melakukan uji validitas dan reabilitas instrumen.
5. Informasi bias pada penelitian ini dapat terjadi karena pada variabel
upaya pencegahan sebagian besar berdasarkan pada pernyataan yang
terdapat pada kuesioner. Dimana sebaiknya dapat dilakukan selain
menggunakan kuesioner yaitu dengan observasi.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan mengenai
hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara
tahun 2013, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada masyarakat RW 04 Kelurahan Lagoa sebagian besar memiliki
pengetahuan yang baik tentang upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
sebesar 71,7%.
2. Pada masyarakat RW 04 Kelurahan Lagoa sebagian besar memiliki sikap
positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebesar 55 %.
3. Pada masyarakat RW 04 Kelurahan Lagoa sebagian besar memiliki
upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang baik sebesar 66,7%.
4. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan masyarakat
dengan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis di RW 04 Kelurahan
Lagoa dengan nilai p sebesar 0,000 serta memiliki hubungan positif yang
sedang dengan nilai r sebesar 0,541 artinya semakin baik tingkat
pengetahuan maka semakin baik upaya pencegahan penyakit tuberkulosis
pada masyarakat RW 04 Kelurahan Lagoa.
5. Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap masyarakat dengan
upaya pencegahan penyakit tuberkulosis di RW 04 Kelurahan Lagoa
dengan nilai p sebesar 0,003 serta memiliki hubungan yang lemah

87

88

dengan nilai r sebesar 0,378 artinya semakin positif sikap seseorang


maka semakin baik upaya pencegahan penyakit tuberkulosis pada
masyarakat RW 04 Kelurahan Lagoa.

B. Saran
1. Bagi Pelayanan Keperawatan
a. Promosi kesehatan tentang penyakit TBC dan pencegahan penyakit
TBC agar ditingkatkan kembali, supaya dapat menumbuhkan
kesadaran kepada masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan
penyakit TBC.
b. Petugas kesehatan tetap memberikan dorongan/motivasi kepada
masyarakat untuk melakukan pengobatan secara teratur bagi penderita
TBC.
2. Bagi Pendidikan Keperawatan
a. Diharapkan dapat meningkatkan peran perawat dalam promosi
kesehatan sebagai health educator terhadap upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis.
b. Diharapkan dapat menjadi evidence based bagi perkembangan ilmu
keperawatan, khususnya mengenai pentingnya upaya pencegahan
penyakit tuberkulosis.
c. Diharapkan dapat menambah bahan literatur mengenai upaya
pencegahan penyakit tuberkulosis.

89

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Penelitian lebih lanjut, di rekomendasikan untuk peneliti selanjutnya
adalah area penelitian dapat dikembangkan dengan jumlah populasi lebih
banyak dan jumlah variabel yang di teliti juga ditambah, sehingga dapat
menghasilkan hasil yang lebih akurat. Analisa data yang digunakan untuk
penelitian berikutnya tidak hanya pada analisa univariat dan bivariat saja,
tetapi dapat dilakukan analisa secara multivariat.

DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah, M. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Jogjakarta: Diva Press. 2012
Arikunto, S. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. 2010
. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta. 2010
Azwar, S. Sikap Manusia (Teori dan Pengukurannya). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. 2013
Bramantyo, A. Hubungan Status Gizi Anak, Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan
Ibu Terhadap Gizi dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Pada
Anak di Puskesmas Pisangan. Jakarta: Skripsi FK UPN Veteran. 2010
Budiarto, E. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC. 2003
Budiman, A.R. Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Salemba Medika. 2013
Dahlan, M.S. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel Dalam Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. 2010
. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto. 2010

Bidang

. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskriptif, Bivariat,


Multivariat, Dilengkapi Dengan Menggunakan SPSS Edisi 5. Jakarta :
Salemba Medika. 2012
Departemen Kesehatan RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007: Jakarta. 2008
. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2010: Jakarta. 2010
.
TBC
Masalah
Kesehatan
Dunia.
http://depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1444-tbc-masalahkesehatan-dunia.html . Diakses tanggal 4 November 2012
. Pedoman Nasional Penangulangan Tuberkulosis Edisi
2: Jakarta. 2007
. Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB): Jakarta.
2009
.
Penanggulangan
TB
Alami
Kemajuan.
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1449-menkes-

penanggulangan-tb-alami-kemajuan-.html . Diakses tanggal 4 November


2012
. Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 20102014: Jakarta. 2011
. TBC Masalah Kesehatan Dunia: Jakarta. 2011
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Profil DKI Jakarta 2007: Jakarta. 2008
Djannah, S.N. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Dengan Perilaku
Pencegahan Penularan TBC Pada Mahasiswa di Asrama Manokwari
SlemanYogyakarta.www.journal.uad.ac.id/index.php/KesMas/article/downl
oad/549/pdf. Diakses pada tanggal 3 Juni 2013
Djojodibroto, D. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC. 2009
Fibriana, L.P. Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Keluarga Tentang
Pencegahan
Penyakit
Menular
Tuberkulosis.
http://www.dianhusada.ac.id/jurnalimg/jurper1-9-lin.pdf. Diakses pada
tanggal 6 Juli 2013
Francis, C. Perawatan Respirasi. Jakarta: Erlangga. 2011
Handoko, N.P. Hubungan Tingkat Penghasilan, Pendidikan, Pengetahuan, Sikap
Pencegahan dan Pencarian Pengobatan, Praktek Pencegahan dan
Pencarian Pengobatan Dengan Penyakit TBC di BBKPM Surakarta
Tahun 2010. www.akpergshwng.com/naspub_handoko.pdf. Diakses
tanggal 10 Oktober 2012
Hidayat, A. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta:
Salemba Medika. 2007
Kurniasari, N. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita TBC Dengan
Keteraturan Dalam Pengobatan TBC Di UPTD Puskesmas Cibogo
Kabupaten
Subang
Tahun
2008.
http://library.esaunggul.ac.id/opac/files/NANIN%20KURNIASARI%2020
0531015.pdf . Diakses tanggal 28 Maret 2013
Kusrini. Sistem Pakar, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: ANDI. 2009
Media, Y. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Tentang Penyakit
Tuberkulosis (TB) Paru di Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah
Datar
Provinsi
Sumatra
Barat
Tahun
2010.
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/view/108/89.
Diakses tanggal 2 Desember 2012
Muttaqin, A. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika. 2009

Naga, S.S. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Jogjakarta: DIVA
Press. 2012
Niven, N. Psikologi Kesehatan: Pengantar Untuk Perawat & Profesional
Kesehatan Lain. Jakarta: EGC. 2000
Notoatmodjo, S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010
. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010
. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
2007
. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta. 2012
Nursalam. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika. 2008
Perkumulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Buku Saku PPTI:
Jakarta. 2010
Pohan, I.S. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar-Dasar Pengertian dan
Penerapan. Jakarta: EGC. 2006
Potter, P.A. & Perry, A.N. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik Edisi 4. Jakarta: EGC. 2005
Putra, N.R. Hubungan Perilaku dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian
TB
Paru
Di
Wilayah
Kota
Solok.
http://repository.unand.ac.id/16894/1/SKRIPSI_LENGKAP_NIKO.pdf.
Diakses tanggal 2 Desember 2012
Setiadi. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2007
Smeltzer, S.C. & Brenda, G.B. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth. Jakarta: EGC. 2002
Somantri, I. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika. 2007
Sudarso, R.R. Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang
Tuberkulosis Dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru Anak
Di Puskesmas Kelurahan Lagoa Jakarta Utara. Jakarta: Skripsi FK UPN
Veteran. 2010

Suryo. J. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta: B


First. 2010
Wahyuni. Determinan Perilaku Masyarakat Dalam Pencegahan, Penularan
Penyakit TBC di Wilayah Kerja Puskesmas Bendosari. www.jurnal.stikesaisyiyah.ac.id/index.php/gaster/article/download/2/2 . Diakses tanggal 3
Juni 2013
Werdhani, R.A. Patofisiologi, Diagnosis, dan Klasifikasi Tuberkulosis Tahun
2007.
http://staff.ui.ac.id/internal/0107050183/material/PATO_DIAG_KLAS.pdf
. Diakses tanggal 26 Desember 2012
WHO

Internasional.
Global
Tuberculosis
Report
2012.
http://www.who.int/tb/publications/global_report/en/. Diakses tanggal 9
November 2012
. Tuberculosis. http://www.who.int/topics/tuberculosis/en/
. Diakses tanggal 9 November 2012

Widoyono. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan,


Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga. 2008

Pencegahan

&

Wirasti, B. Hubungan Antara Karakteristik dan Pengetahuan Tentang


Tuberkulosis Paru Dengan Perilaku Penularan Tuberkulosis Paru Di
Puskesmas Sawangan Kota Depok. Jakarta : Skripsi FK UPN Veteran.
2010

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera
Nama

: Sumiyati Astuti

NIM

: 109104000039
Saya mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan


sedang melaksanakan penelitian untuk penulisan skripsi sebagai tugas akhir untuk
menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Keperawatan (S.Kep). Saya akan
melakukan penelitian tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap
Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis. Tujuan
Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan
sikap terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.
Untuk keperluan tersebut saya harap dengan kerendahan hati agar kiranya
anda bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner yang telah
disediakan. Kerahasiaan jawaban anda akan dijaga dan hanya diketahui oleh
peneliti. Kuesioner ini saya harap diisi dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan apa
yang dipertanyakan. Sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran yang baik
untuk penelitian ini.
Saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan partisipasi anda dalam
pengisian kuesioner ini.
Apakah anda bersedia menjadi responden dalam penelitian ini ?

YA / TIDAK
Tertanda
(

)
Responden

Lampiran 2

KUESIONER PENELITIAN TENTANG HUBUNGAN TINGKAT


PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP UPAYA
PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERKULOSIS DI RW 04 KELURAHAN
LAGOA JAKARTA UTARA TAHUN 2013
Tujuan :
Kuesioner ini dirancang untuk mengidentifikasi: Hubungan Tingkat Pengetahuan
dan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis di RW
04 Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Tahun 2013.
Petunjuk :
1. Bacalah pernyataan dengan hati-hati sehingga dapat dimengerti
2. Setiap jawaban dimohon untuk dapat memberikan jawaban yang jujur
3. Harap mengisi pernyataan yang ada dalam kuesioner ini, pastikan tidak
ada yang terlewat. Setiap nomor hanya diisi dengan satu jawaban.
4. Beri tanda ceklist () pada kotak pertanyaan bapak/ibu yang dianggap
benar.
5. Jika bapak/ibu salah mengisi jawaban, coret/silang jawaban tersebut dan
beri tanda ceklist pada jawaban yang dianggap benar.
6. Bapak/ibu/saudara/i dapat bertanya langsung pada peneliti jika ada
kesulitan dalam menjawab isi kuesioner.

A. Karakteristik Responden
Nama

Usia

Jenis kelamin

Status pendidikan

Status pekerjaan

B. Pengetahuan
Isilah pernyataan dibawah ini dengan memberi tanda chek list () pada kotak.
Benar atau Salah sesuai pilihan jawaban anda! Jika anda ingin mengganti
jawaban, silahkan mencoret jawaban kemudian menuliskan kembali tanda chek
list () pada jawaban yang baru dengan pernyataan yang sama, misalnya:

Benar Salah

No
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

Benar Salah

Pernyataan
Benar
TBC merupakan penyakit keturunan dari orang tua
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri TBC
Penyebaran penyakit TBC dapat melalui pemakaian sabun
yang digunakan bersama-sama penderita penyakit TBC
Batuk, nyeri dada, dan demam merupakan tanda dan gejala
dari penyakit TBC
Anggota keluarga yang tidak tinggal serumah dengan
penderita TBC memiliki risiko yang besar terserang atau
tertular penyakit TBC
Sering begadang dan kurang istirahat merupakan salah satu
faktor penyebab terjangkit TBC
Pencegahan penularan TBC dengan menutup mulut saat
bersin dan batuk
TBC bila tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan
komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti otak, jantung,

Salah

9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

19.
20.

dan ginjal
Cahaya yang terang dan sinar matahari yang dapat masuk ke
rumah dapat membunuh kuman TBC
TBC dapat disebut juga dengan paru-paru basah
Penderita TBC dapat mengalami kematian akibat kuman TBC
yang ada di dalam tubuhnya
Supaya tidak tertular penyakit TBC, maka sebaiknya anak
balita diberikan imunisasi BCG
Membersihkan lingkungan rumah setiap hari merupakan
tindakan efektif dalam pencegahan TBC
Perumahan yang terlalu padat dan kumuh merupakan kondisi
yang tidak dapat menyebabkan TBC
Lingkungan yang lembab merupakan kondisi yang dapat
menyebabkan TBC
Membuka jendela pada siang hari merupakan salah satu
tindakan pencegahan TBC
Upaya pencegahan yang lain yaitu dengan membuang
dahak/ludah di sembarang tempat
Meminum obat secara tekun dan teratur bagi penderita TBC
merupakan tindakan yang efektif untuk mencegah penularan
penyakit
Tidur dan istirahat yang cukup dapat mencegah tertularnya
TBC
Pencegahan TBC dapat dilakukan dengan menyediakan
makanan dengan gizi seimbang seperti nasi, lauk, sayur, dan
buah

C. Sikap
Isilah pernyataan dibawah ini dengan memberi tanda chek list () pada kotak.
SS, S, TS atau STS sesuai pilihan jawaban anda! Jika anda ingin mengganti
jawaban, silahkan mencoret jawaban kemudian menuliskan kembali tanda chek
list () pada jawaban yang baru dengan pernyataan yang sama, misalnya:

SS

TS

STS

SS

TS

STS

Keterangan :
SS

: sangat setuju

: setuju

TS

: tidak setuju

STS

: sangat tidak setuju

No
1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Pernyataan
Untuk mencegah terserang penyakit TBC perlu
pemahaman yang baik tentang penyebaran penyakit
TBC
Menurut saya penyakit TBC dapat sembuh sendiri
Pemeriksaan kesehatan secara berkala harus
dilaksanakan sebagai langkah pencegahan
Menurut saya tidak perlu tahu masalah penyakit TBC
Saya menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal
dapat mempengaruhi penyebaran TBC
Saya melakukan pemeriksaan ke puskesmas apabila
merasakan demam, dan batuk lebih dari 2 minggu
Menurut saya pencegahan TBC dapat dilakukan
dengan mengkonsumsi jamu
Jika saya mengalami batuk-batuk, saya lebih memilih
membeli obat di warung dari pada ke Puskesmas
Saya menganggap bahwa penyakit TBC merupakan
penyakit yang memalukan
Keluarga harus memberikan perlakuan berbeda apabila
ada salah satu keluarganya terjangkit TBC, guna

SS

TS

STS

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

20.
21.
22.

23.
24.

mencegah tersebarnya penyakit TBC


Untuk membunuh kuman penyebab TBC diperlukan
pengobatan jangka pendek
Saat batuk dan bersin sebaiknya tidak menutup mulut
Saya tidak perlu memperhatikan kebersihan
lingkungan tempat tinggal
Membuang dahak di sembarangan tempat adalah hal
yang wajar bagi saya
Penyuluhan TBC tidak perlu dilaksanakan
Luas kamar yang sangat kecil dan sempit akan
menyebabkan penyakit TBC
Cahaya yang terang dan sinar matahari yang dapat
masuk ke rumah merupakan hal yang sangat penting
Jika ada di lingkungan masyarakat kita ada yang
terdiagnosa TBC kita anjurkan untuk pengobatan
Untuk mencegah penyakit TBC,saudara menganjurkan
keluarga untuk memeriksakan kesehatan ke
Puskesmas/RS
Pemberian Obat Anti TBC secara cuma-cuma
merupakan upaya penanggulangan TBC yang tepat
Penderita TBC sebaiknya dikucilkan dari keluarga,
masyarakat dan pekerjaannya
Meminum Obat Anti Tuberkulosis selama 6 sampai 12
bulan secara tekun dan teratur merupakan tindakan
yang paling efektif
Saya memakai barang-barang yang sama dengan
penderita TBC seperti piring, gelas, dan pakaian
Pemeriksaan kesehatan tidak penting bagi saya

D. Upaya Pencegahan TBC


Isilah pernyataan dibawah ini dengan memberi tanda chek list () pada kotak.
Selalu, Sering, Kadang-kadang, Jarang atau Tidak Pernah sesuai pilihan
jawaban anda! Jika anda ingin mengganti jawaban, silahkan mencoret jawaban
kemudian menuliskan kembali tanda chek list () pada jawaban yang baru
dengan pernyataan yang sama, misalnya:
Selalu

Sering

Kadangkadang

Jarang

Tidak
pernah

Selalu Sering Kadang- Jarang


kadang

No

Pertanyaan

1.

Apakah saudara menutup mulut saat


bersin dan batuk?
Apakah saudara membuang dahak di
sembarang tempat?
Apakah saudara menggunakan masker
jika berbicara dengan penderita TBC?
Jika ada anggota keluarga saudara ada
yang terkena penyakit TBC, apakah
saudara menggunakan alat makan
yang sama dengan penderita TBC?
Apakah jendela di setiap ruangan yang
ada di rumah saudara tertutup pada
siang hari?
Apakah saudara menjaga kebersihan
rumah setiap hari, seperti menyapu
dan mengepel ruang tamu, kamar
tidur, dapur, dan ruangan lainnya?
Apakah
saudara
mendapatkan
informasi
mengenai
tindakan
pencegahan penyakit TBC dari

2.
3.
4.

5.

6.

7.

Selalu

Sering

Tidak
pernah

Kadangkadang

Jarang

Tidak
pernah

8.

9.

10.

11.

12.

13.
14.

15.
16.
17.

18.

petugas kesehatan?
Apakah saudara menyajikan makanan
sehat dan bergizi seimbang (seperti
nasi, lauk-pauk, sayur, buah-buahan,
dll) setiap hari?
Apakah saudara melakukan kerja bakti
membersihkan rumah dan lingkungan
setiap minggu?
Apakah di setiap kamar yang ada di
rumah saudara selalu dihuni oleh lebih
dari 3 orang?
Apakah saudara mengikuti penyuluhan
tentang penyakit TBC oleh petugas
kesehatan yang ada di Puskesmas?
Apakah saudara jika mengalami batuk
berdahak lebih dari 2 minggu sering
mengabaikannya/tidak berobat ke
dokter?
Apakah saudara rutin melakukan
pemeriksaan kesehatan?
Apakah saudara mencuci tangan
sebelum dan setelah melakukan
kegiatan?
Apakah saudara merokok setiap hari?
Jika sakit, apakah saudara membeli
obat di warung?
Apakah
saudara
mengucilkan
penderita TBC dalam pergaulan untuk
menghindari tertular penyakit TBC?
Apakah saudara mengkonsumsi jamu
setiap hari untuk menghindari tertular
penyakit TBC?

Lampiran 3
OUTPUT ANALISA UNIVARIAT DAN BIVARIAT
Analisa Univariat
Statistics
Usia
N

Valid

60

Missing

Mean

33.4333

Median

30.0000

Mode

30.00

Std. Deviation

12.12836

Minimum

17.00

Maximum

61.00

Sum

2006.00

Jenis kelamin
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Laki-Laki

40

66.7

66.7

66.7

Perempuan

20

33.3

33.3

100.0

Total

60

100.0

100.0

Pendidikan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Dasar

15

25.0

25.0

25.0

Menengah

39

65.0

65.0

90.0

Tinggi

10.0

10.0

100.0

Total

60

100.0

100.0

Pekerjaan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Buruh

13

21.7

21.7

21.7

Guru

1.7

1.7

23.3

IRT

15.0

15.0

38.3

24

40.0

40.0

78.3

Mahasiswa

1.7

1.7

80.0

Pelajar

3.3

3.3

83.3

Wiraswasta

10

16.7

16.7

100.0

Total

60

100.0

100.0

Karyawan Swasta

Pengetahuan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

43

71.7

71.7

71.7

Cukup

16

26.7

26.7

98.3

Kurang

1.7

1.7

100.0

60

100.0

100.0

Statistics
sikap pencegahan TBC
Valid
Missing

60
0

Mean

77.7667

Median

78.5000

Mode
Std. Deviation

83.00
6.63163

Minimum

63.00

Maximum

93.00

Sum

Percent

Baik

Total

Valid Percent

4666.00

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


pengetahuan
N
Normal Parameters

Most Extreme Differences

sikap
60

60

60

Mean

15.8500

77.7667

76.5667

Std. Deviation

2.34936

6.63163

9.21194

Absolute

.188

.074

.152

Positive

.113

.065

.079

Negative

-.188

-.074

-.152

1.454

.571

1.178

.029

.900

.125

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Test distribution is Normal.

Sikap
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Positif

33

55.0

55.0

55.0

Negatif

27

45.0

45.0

100.0

Total

60

100.0

100.0

Upaya pencegahan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Baik

40

66.7

66.7

66.7

Cukup

20

33.3

33.3

100.0

kurang

60

100.0

100.0

Total

pencegahan

Analisa Bivariat
Pengetahuan
Correlations
upaya
pengetahuan
Spearman's rho

Pengetahuan

Correlation Coefficient

1.000

Sig. (2-tailed)

Correlation Coefficient

60

60

**

1.000

.000

60

60

N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
pengetahuan * pencegahan Crosstabulation
Count
Pencegahan
Baik
Pengetahuan

Baik

Cukup
36

43

Cukup

12

16

Kurang

40

20

60

Total

Nilai r

0,541

0,000

Total

Kurang

Sikap
Correlations
upaya
sikap
Spearman's rho

Sikap

Correlation Coefficient

pencegahan

1.000

Sig. (2-tailed)
N
upaya pencegahan

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

**

.000

.541

Sig. (2-tailed)

.541

N
upaya pencegahan

pencegahan

.378

**

.003

60

60

**

1.000

.003

60

60

.378

sikap * pencegahan Crosstabulation


Count
Pencegahan
Baik
Sikap

Total

Cukup

Kurang

Nilai r

0,378

0,003

Total

negatif

17

10

27

positif

23

10

33

40

20

60

KEMBNTERIAN AGAMA
IJNWERSTTAS rSLAM NEGERT ( urN )
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKI]LTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

I TIL.

IIII I
Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat

Telp. : (62-21) 74716718 Fax : (62-21) 7404985


Website : www.uinjkt.ac.id; E-maii : *ik@uinllc.ac.id

15419

Nornor : Un.01lFl0/I(M.Al.2l

Ciputa!

LLA /2A13

Q luni20l3

Lampiran : -

Hal

: Permohonan Izin Uji Validitas dan Relibilitas


Kepada YangTerhorma!
KepalaKslurahan Lagoa
JI. Lagoa No. 3

di

Jakarat Utara

Assalamu'alaikum \Mr. Wb.

Dalam rangka penyelesaian fugas akhir perkuliahan mahasiswa


diperlukan penyusunan Skripsi yang berjudul "Hubungan Tingkat

Pengetahuan dan sikap Masyarakat Terhadap upaya Pencegahan penyakit


Tuberkulosis di Kelurahan Lagoa J akarta lJtart' .

Sehubungan dengan itu kami mohon diberikan izin mel*ksanakan uji


validitas dan relibilitas rtas nama :

Nama

Surniyati Astuti

NIM

109104000039

Semester

VUI

Program Studi

Ilrnu Keperawatan

Fakultas

Kedokteian dan

i.l.rn.o,1l

Hidayatullah

u Kesehatan UIN Syarif

hl1l"

Demikian atas perhatian dan bantuan saudara kami ucapkan terima


kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

i Widjajak*sumah, AJF., PFK


Tembusan:
Dekan FKIK

d-'/-*1* t*r.ar{
.--*
/3

H /4c''l

KEMENTERIAN AGAMA
IiNTVERSTTAS ISLAM NEGERT ( UrN )
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
FAKT]LTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
Telp.

: (62-21) 74716718 Fax : (62-21) 7404985


Website : www.uinjll.ac.id; E-mail : fkik@uinjkt.ac.id

Jl. Kertamukti No. 5 Pisangan Ciputat 15419

Nomor : Un.0llFl0/KM.01.2/
Lampiran

Hal

Ciputat z1 Juni2013
7V2( /2013

: Permohonan Izin Penelitian


KepadaYang Terhormat
Kepala Kelurahan Lagoa
Jl. LagoaNo.3
di
Jakarat Utara

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dalam rangka penyelesaian tugas akhir perkuliahan mahasiswa


diperlukan penyusunan Skripsi yang berjudul "Hubungan Tingkat
Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya Pencegahan Penyakit
Tuberkulosis di Kelurahan Lagoa Rw 04 JakartalJtard'.

Sehubungan dengan
penelitian atas nama:

itu kami mohon diberilon izin

Nama

Sumiyati Astuti

NIM

109104000039

Semester

VtrI

Program Studi

Ilmu Keperawatan

Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Symif

melaksanakan

Hidayatullah lakarta

Demikian atas perhatian dan bantuan saudara kami ucapkan terima


kasih.

.ilt
Widjajakusumah, AIF., PFK
Tembusan:

l.

2.

Dekan FKIK
Ketua Rt 002,004,006,008,010,012

GIIUIA,N