Anda di halaman 1dari 36

I.

BIOGRAFI SOEJOEDI
Saya perang tidak digaji, saya semata-mata membela Tanah
Air, jadi saya menerima apa yang diberikan dengan pekerjaan saya
Soejoedi
Soejoedi Wirjoatmodjo lahir di
Rembang, sebuah kota di bagian
utara Jawa Tengah dekat pesisir.
Tanggal kelahiran beliau bertepatan
dengan
pengakuan
kedaulatan
Indonesia, yaitu pada tanggal 27
Desember 1928. Sejak kecil, Soejoedi
terkenal
pediam
dan
senang
menggambar. Ia tidak banyak bergaul
dengan
teman
sebayanya.
Kegemarannya hanya memperhatikan
lingkungan sekitar, apalagi ketika
diajak berjalan-jalan. Obyek pilihan
yang diperhatikannya pun tidak
banyak, hanyalah bangunan gedung dan pesawat terbang.
Kedua orang tuanya yang sangat mengenali kegemaran
maupun kebiasaan Soejoedi dan sudah bisa memperkirakan bahwa
Soejoedi kelak akan menjadi seseorang yang dihormati dalam bidang
yang berkaitan dengan gambar-menggambar. Kakak dan adiknya, di
lain pihak, mengenali teknik menggambarnya yang halus dan alami,
sehalu tutur katanya sehingga tidak ada seorang pun dari mereka
yang tega mengusik manakala ia sedang menggambar.
Perjalanannya menuju kesuksesan dan posisi terhormat itu
tidak mulus. Ketika beliau berusia 18 tahun, Soekarno dan Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Seperti remaja yang
lainnya pada saat itu, beliau terpanggil untuk mempertahankan
kemerdekaan melalui perjuangan bersenjata . Ia bergabung dengan
kesatuan Tentara Pelajar sampai menjabat Kepala Staf Tentara Pelajar
Brigade 17 Detasemen II Rayon V, Solo. Kehidupan yang tak menentu
pada saat itu mengawali menurunnya kesehatan jasmaninya, yang
mulai terasa pada saat ia melanjutkan pendidikan di Eropa. Setelah
pengakuan kedaulatan Indonesia, Soejoedi menyelesaikan pendidikan
menengah umum lebih dulu kemudian mendaftarkan diri di Fakultas
Ilmu Pengetahuan Teknik Bandung Universitas Indonesia. Mula-mula

di Bagian Mesin, setelah itu pindah ke Bagian Arsitektur pada tahun


1951.

II. MENUJU EROPA


Pada tahun 1954 Soejoedi menerima beasiswa dari Pemerintah
dari Perancis untuk meneruskan studi di LEcole des Beaux-Arts, Paris.
Lembaga pendidikan tersebut mulanya bernama Academie des
Beaux-Arts, didirikan pada tahun 1648 sebagai sebuah lembaga
pendidikan seni terapan (fine arts) yang terbagi menjadi dua jurusan
yaitu Seni Lukis dan Patung serta Arsitektur.
Soejoedi pernah mencoba pindah ke Inggris, namun juga tidak
cocok. Dia tertarik dengan Belanda. Di Technischehooge school,
Delft, ia menempuh pendidikan dalam bidang arsitektur. Ia datang ke
Eropa dengan beasiswa karena itulah tak mudah baginya untuk
pindah. Oleh sebab itu, Profesor Van Rommon membantu mengurusi
sekaligus mengantarnya ke Technischehoogeschool di Delft untuk
bertemu para guru besar di sana, juga para mahasiswa Indonesia,
pada tahun 1955. Di sana karya-karyanya diakui dan Soejoedi
diterima sebagai mahasiswa tingkat IV.

Belanda termasuk negara


yang
mengalami
kerusakan
terparah semasa Perang Dunia II.
Karena
itu,
program
utama
pemerintah pembangunan fisik
dari awal, khususnya penataan
ulang lingkungan perkotaan dan
penyediaan sarana perumahan.
Menghadapi
program
tersebut
arsitek Eropa belum siap dengan
pandangan,
titik
tolak
dan
program perancangan arsitektur
yang
baru.
Di
Belanda
menghasilkan dua pendekataan.
Di satu pihak mengikuti arsitek HP
Berlage,
dipelopori
oleh
GM
Grandpre Moliere, kelompok ini menolak peran dan dominasi fungsi
terhadap unsur arsitektural lain karena cenderung bersifat
materialistik dan utiliter sementara yang diperlukan warga Belanda
adalah isi spiritualnya dengan mengutamakan kehati-hatian dalam
penataan denah supaya tidak menghasilkan wujud yang tanpa aura.
Kelompok ini dijuluki Delft Traditional School dan kuat pengaruhnya di
Technischehoogeschool, Delft.
Di lain pihak, dipelopori Jacob Bakema, fungsi justru harus
diperlakukan sebagai faktor utama, baik dalam penataan kembali
kota Belanda maupun dalam perancangan bangunan gedung, apalagi
perumahan. Selain itu terdapat kelompok Avant-Garde seperti DeStijl
dengan komposisi bidangnya. Soejoedi tampaknya menyukai DeStijl,
bahkan pernah diangkat menjadi anggota klub DeStijl muda berkat
kemahirannya mengolah komposisi bidang dalam tugas-tugas
perancangan di Technischehoogeschool, Delft.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa dirinya pernah bekerja
sambilan sebagai desainer pembantu di Biro Kraayvanger, Rotterdam
pada tahun 1957. Meskipun demikian forum diskusi ATAP yang ketika
itu dibentuk para mahasiswa asal Indonesia tetap diikutinya. Suatu
saat Soejoedi diberi tugas mengikuti kongres mahasiswa arsitektur
sedunia. Ketika itulah Soejoedi mengajukan pertanyaan what is a
good design? yang memperoleh respon berupa tinjauan kritis atas
berbagai karya para master builders, khususnya Frank Llyod Wright,
Walter Gropius, Le Corbusier, dan Ludwig Mies van der Rohe. Tidak
ada kesimpulan akhir dari diskusi tersebut kecuali pandangan umum

bahwa sebuah karya arsitektur yang baik adalah sebagaimana


dicontohkan oleh hasil karya para pakar bangunan tersebut.
Suatu ketika Soejoedi bersama para mahasiswa Indonesia
melakukan kunjungan studi ke Skandinavia. Salah satu arsitek yang
menggugah perhatian Soejoedi kala itu adalah Ralph Erskine,
seorang arsitek asal Swedia namun kelahiran Inggris. Erskine
menuntut pendidikan bidang Arsitektur di Inggris, namun kariernya
dimulai di Skandinavia dan baru berlanjut ke Inggris setelah tahun
1980-an.

Ralph Erskine dan karyanya


Berbentuk kubus dengan dilubangi pada kedua sisinya dan diletakkan pada
sebuah landasan yang menginspirasi Soejoedi dalam berkarya

` Apartemen karya Walter Gropius di Interbau, Berlin, ini memperlihatkan

lengkungan massa yang membuat unit-unit huniannya seakan terpusat ke sebuah


ruang luar. Soejoedi menerapkan kiat ini dalam penggubahan massa Gedung
Sekretarat proyek Conefo.

Pada tahun 1958, Soejoedi bersama mahasiswa Indonesia


mendaftarkan diri ke Technische Universitat, Berlin Barat. Kepindahan
dari Belanda ke Jerman Timur ini akibat dari adanya kebijakan
Pemerintah Republik Indonesia sebagai langkah nasionalisasi
terhadap perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Adapun
dampak lainnya seperti penarikan seluruh staff dan pekerja Belanda
di Indonesia, jurusan arsitektur satu-satunya di ITB terancam ditutup,
dan mendatangkan staff pengajar dari Amerika serikat.
Soejoedi tidak dapat sepenuhnya menyelesaikan pendidikannya
di Delf Belanda. Hal ini dikarenakan adanya kemelut antara
Indonesia- Belanda, dimana pada tahun 1957 Presiden Soekarno
memerintahkan nasionalisasi perusahaan asing yang beroperasi di
Indonesia. Hal tersebut memicu pihak Belanda untuk menarik semua
tenaga ahli yang berada di Indonesia, termasuk para tenaga pengajar
5

di perguruan tinggi di Indonesia sehingga


mengakibatkan satu
satunya jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung di Indonesia
terancam ditutup karena tidak adanya tenaga pengajar yang
sebelumnya ditangani oleh Professor Insinyur Van Rammond dan staff
pengajar lainnya yang berasal dari Belanda. Hal tersebut dapat
teratasi setelah beberapa perwakilan mahasiswa menghadap
Presiden Soekarno untuk mempertahankan Professor Insinyur Van
Rammond serta mendatangkan tenaga pengajar baru dari Eropa.
Meskipun lembaga pendidikan tinggi di Delf tidak keberatan
dengan keberadaan mahasiswa Indonesia disana. Namun nyatanya
timbul kemelut lain dalam hati Soejoedi dan teman temannya yang
tentunya merasa tidak nyaman untuk mengikuti pendidikan di negara
yang saat itu sedang mengalami konfrontasi dengan Indonesia.
Alhasil sebagian besar dari mereka memilih pindah ke negara Eropa
lainnya,
termasuk
Soejoedi
yang
kemudian
melanjutkan
pendidikannya di Technische Universitat di Berlin barat pada tahun
1958
Di Berlin Barat tradisi pameran rancang-bangunan yang dirintis
Bauhaus di Dessau dilanjutkan dan dikombinasikan dngan prinsipprinsip baru penataan kota dalam rangka menciptakan sebuah
kawasan terpadu di dalam kota. Di kawasan ini diisi karya para
arsitek berhaluan modern dari mancanegara, baik generasi pertama
seperti Walter Gropius maupun penerusnya seperti Oscar Niemeyer.
Gropius mengubah masssa bangunannya dalam wujud empat persegi
panjang sedikit melengkung sehingga tampak lebih lentur. Soejoedi
juga pasti mengenal rumah tinggal Gropius di Amerika Serikat, yang
memperlihatkan teknik proporsi
khas antara bidang masif dan
transparan secara bersenjang sehingga mengesankan. Oscar
Niemeyer mengubah massa bangunan berwujud empat persegi
panjang yang diletakkan di atas sederetan tiang penyangga miring
yang membentuk huruf V sehingga bangunan gedung berkonstruksi
beton ini terkesan melayang dan ringan.
Seperti itulah wacana arsitektur di Jerman Barat saat Soejoedi
menempuh
pendidikan disana. Berbagai terobosan arsitektural
tersebut
dicamkan
dalam
sanubarinya
bersama
dengan
pengalamannya saat mengikuti kerja praktik di Biro Arsitek Kasper
tahun 1958, dan bekerja sebagai arsitek di Biro Arsitek Heintrich &
Petschnigg tahun 1960-61, akan muncul dalam karyanya kelak. Biro
Arsitek Heintrich & Petschnigg tersebut menghasilkan rancangan
gedung perkantoran yang khas, yaitu menggeser separuh massanya
mengikuti pola denah sehingga terjadi wujud yang tipis tanpa
6

mengurangi kapasitasnya. Soejoedi


juga mengenal baik kiat
merancang bangunan perkantoran berlantai banyak
dengan
optimasi lahan dan ruang-luar melalui komposisi huruf Y yang lazim
diterapkan baik di Jerman Barat maupun Berlin Barat ketika itu.
Soejoedi sempat mengunjungi Skandinavia untuk yang kedua
kali, bukan lagi bersama mahasiswa Indonesia namun dengan
mahasiswa lainnya yang juga belajar di Technische Universitat. Saat
itu sasarannya adalah karya arsitek generasi berikutnya seperti Alvar
Aalto dan Arne Jacobsen. Alvar Aalto adalah arsitek asal Finlandia.
Yang membuat Soejoedi tertarik adalah ketrampilannya dalam
menangani detail dan ketelitiannya mengatur potongan bahan-bahan
bangunan sehingga menghasilkan komposisi artistik. Sedangkan
Arne Jacobsen berasal dari Denmark. Beliau ini mampu
mengendalikan wujud-wujud formal dan menampilkan keanggunan
bahan, khususnya terampil dalam perancangan furnitur.

Arne Jacobsen dan karyanya yang menunjukkan wujud-wujud formal.

Pada tahun 1960, Soejoedi menempuh ujian akhir dengan


mengajukan sebuah proyek Pesantren. Soejoedi berhasil memuaskan
pengujinya dengan teknik penggambaran yang memukau yang
penyajiannya hanya berberapa lembar saja. Soejoedi lulus pada
tahun 1960 dengan predikat tertinggi yang diberikan oleh Technische
Universitat, Berlin Barat.
Tahun 1960, Soejoedi kembali ke Indonesia untuk menggantikan
Profesor Insinyur Van Rommondt menjadi Ketua Jurusan Arsitektur di
Institut Teknologi Bandung.
.

III. KARIR
SOEJOEDI
(BANDUNG)

DI

INDONESIA

Pada tahun 1960 setelah menyelesaikan pendidikannya di


Technische Universitat di Berlin barat, Soejoedi kembali ke indonesia.
KETUA
BANDUNG

JURUSAN

ARSITEKTUR

INSTITUT

TEKNOLOGI

Soejoedi mengawali karirnya sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di


Institut Teknologi Bandung. Dalam kepemimpinannya Soejoedi
banyak melakukan perubahan mendasar dalam kurikulum pendidikan
arsitektur meliputi:

Menghapus mata kuliah yang berisi pelatihan satu keahlian


tanpa berkaitan dengan keahlian lainnya. Mata kuliah yang
demikian dijadikan satu dan diajarkan sebagai sebuah kesatuan
keahlian.
Memperkenalkan jenis pelatihan keterampilan baru yaitu yang
kemudian disebut hari sketsa. Dimana mahasiswa dipaksa
untuk berpikir sistematik dan mencari akar permasalahan
dengan cepat dan mendasar.
Melakukan perubahan pola pikir mahasiswa yang sebelumnya
kreatifitasnya terikat konstruksi menjadi menitik beratkan pada
pola gubahan ruang.
KETUA TIM DESAIN PAVILIUN INDONESIA

Selain itu Soejoedi juga sempat ditunjuk sebagai ketua tim


desain paviliun Indonesia untuk New York World Fair pada 1962,
8

dimana Indonesia berkesempatan menampilkan kehebatan budaya


dan peradabannya dalam bentuk paviliun. Namun tanpa alasan yang
jelas Soejoedi mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
KETUA LEMBAGA CAMPUS PLANNING
Soejoedi juga sempat diangkat sebagai ketua lembaga Campus
Planning Departemen PTIP pada tahun 1963. Jabatan tersebut
dimanfaatkannya dengan optimal untuk membina pendidikan bidang
arsitektur di Indonesia yang sebelumnya dipenuhi ajang pertarungan
kekuatan politik. Soejoedi turut memprakarsai pembentukan jurusan
arsitektur di Universitas lain dan mendorong lulusan arsitektur ITB
untuk memulai karir mereka disana sebagai pengajar yang
independen, bebas dari haluan politik dan berjiwa kepemimpinan.

KEPALA KANTOR CABANG BIRO ARSITEK ESTETIKA DI


BANDUNG
Untuk menambah penghasilan sehari hari Soejoedi bergabung
dengan Biro Arsitek Estetika dan mengepalai kantor cabang Bandung.
Restoran-toko Braga Permai merupakan salah satu karyanya dari biro
tersebut.
PEMILIK BIRO ARSITEK PRAKARSA
Dengan dibantu teman teman semasa studi di Eropa, Soejoedi
mulai membentuk biro arsiteknya sendiri yang kemudian diberi nama
PRAKARSA. Dari sinilah sejumlah karya lainnya tercipta seperti rumah
dinas Rektor Universitas Indonesia di Rawamangun, rumah tinggal di
Sangkuriang. Dari rancangannya tersebut terlihat berbagai
karakteristik para arsitek Eropa yang dikaguminya yang diterapkan
dengan cermat dalam konteks lokal.
STAFF AHLI BIDANG ARSITEKTUR MENTERI PUTL
Disinilah Soejoedi mengerjakan dan memenangkan sayembara
proyek Conefo yang kemudian mengangkat dirinya sebagai salah
satu tokoh penting dalam wacana arsitektur Indonesia Modern.

PROYEK CONEFO (JAKARTA)


Dengan
ditetapkannya
Soejoedi
sebagai
pemenang
sayembara Conefo. Beliau pun
diangkat sebagai Ketua Tim Desain
dalam
organisasi
Koppronef
( Komando Operasional Projek
Conefo).
Karena
pertimbangan
besarnya tanggung jawabnya atas proyek ini, akhirnya Soejoedi
pindah ke Jakarta
Kegiatannya di awal kepindahannya lebih difokuskan untuk
menangani proyek Conefo. Tanggung jawabnya bukan hanya berkisar
di pengembangan desain melainkan juga mobilisasi para ahli teknik
di Indonesia. Dalam pengerjaan proyek monumental tersebut
Soejoedi turut dibantu oleh para mahasiswa terbaiknya dari ITB.
Pemancangan tiang pertama proyek Conefo dilaksanakan pada
19 April 1965 dan sejak saat itu sebagian besar ahli bidang bangunan
gedung indonesia berada di Senayan untuk menyelesaikan proyek
monumental tersebut sebelum tanggal 17 Agustus 1966.
PT GUBAHLARAS
Selain itu Soejoedi juga mendirikan PT Gubahlaras. Dalam
perusahaan
ini
Soejoedi
mulai
menangani
proyek
yang
mengangkatnya menjadi salah satu tokoh arsitek Indonesia yang
patut diperhitungkan.
Selain itu, Soejoedi juga kembali diangkat sebagai Ketua
Nasional Design Centre Paviliun Indonesia untuk Expo 70 di Osaka
Jepang.
Dengan intensitas dan volume kegiatan seperti itu kesehatan
jasmaninya semakin tergangu sehingga diet dan periode istirahat di
rumah sakit menjadi bagian dari jadwal di kehidupannya sampai saat
memasuki periode istirahat total di Magelang pada tahun 1981

IV. KARYA SOEJOEDI


A. BRAGA PERMAI (1923)

10

Braga
Permai adalah
sebuah kaferestoran yang
didirikan oleh
Soejoedi
semasa
ia
menjabat
sebagai Ketua
Jurusan
Arsitektur
di
ITB. Pada mulanya, nama kafe-restoran ini adalah Maison
Bogerijen. Pasa saat berada di lokasi, ini berbentuk sebuah
bangunan gedung bergaya Villa Eropa yang ditandai dengan atap
curam tipe mansaart (dua tekukan dengan kemiringan berbeda,
tekukan bagian atas lebih rendah daripada tekukan bawah).
Gugusan massanya simetris dan dimundurkan dari garis
sempadan. Bagian depan gedung terdapat kursi dan meja yang
dinaungi payung yang mengesankan musim panas di eropa. Pada
bagian depan (pintu masuk) bangunan ini dibuat cembung untuk
menambah
kesan
volumetrik
serta
plastis
sehingga
keseluruhannya mengingatkan pada prinsip perancangan urban
yang dipelopori oleh arsitektur Baroque.
Dibangun pada tahun
1923, kafe-restoran ini
memperoleh piagam dari
Ratu
Belanda
sebagai
tempat
menghidangkan
menu kerajaan (Sukada,
2011:54).
Kafe-restoran
ini
juga
menjadi
langganan
Gubernur
Jendral Hindia Belanda
untuk
acara-acara
resminya.
Setelah berganti pemilik, Maison Bogerijen diubah namanya
menjadi Braga Permai dan Seojoedi disuruh untuk melakukan
Braga Permai sebelum
pada gedung tersebut menjadi gedung baru. Pada proyek ini,
direnovasi
pengalaman Soejoedi di Jerman Barat (selama masa perkuliahan)
diterapkannya.

11

Pemasukan lantai satu bangunan yang


menunjukkan kesan melayag

Posisi massa bangunan dipertahankan karena ruang luar yang


dihasilkan cocok dengan prinsip penataan lingkung-urban yang
dipelajarinya semasa studi di Jerman Barat (Sukada, 2011:54).
Selain itu, fungsi yang ada di halaman bangunan tetap
dipertahankan karena fungsinya serupa yaitu untuk outdoor cafe.
Namun, Soejoedi mengubah total massa bangunan tersebut. Ia
mengubahnya menjadi bentukan persegi panjang yang salah satu
sisinya mengapit sisi bangunan pengapit. Bagian yang menarik
adalah pada bagian fasd bangunan. Ia memberikan bentuk
kontras solid-void fasad dengan bahan dinding dan kaca yang
bersifat kontras. Perbandingan ketebalan tersebut membuat
sebuah kontras yang sedap dipandang. Landasan massa tunggal
ini dibuat menjadi tangga sebagai jalur masuk ke dalam
bangunan yang terasa seakan melayang. Bidang pintu masuk
dibuat masuk ke dalam sehingga lantai dua bangunan tampak
seakan melayang.
Kedua bangunan (sebelum dan setelah renovasi) memiliki dua
lantai. Namun, pada Maison Bogerijen tiap bagian massa
mencerminkan fungsi masing-masing. Sedangkan pada Braga
Permain fungsi dibagi menjadi dua, yaitu kafe dan etalase kue
serta roti. Antarlantai dihubungkan dengan tangga dan peleburan
antara lantai satu dengan lantai dua dengan keberadaan void.
Soejoedi berusaha menggabungkan volume ruangan menjadi satu
dengan pembatas antarruang yang abstrak.
Pencahayaan alami dimasukkan ke dalam ruangan dengan
bukaan sempit memanjang sehingga membuat efek yang
dramatis. Selain itu, hal ini juga dapat memberikan efek
12

perbedaan dimensi dinding dan cahaya yang datang sebagai garis


tebal yang utuh.
Dengan desain pertama Soejoedi ini, ia telah memperkenalkan
kepada bangsa Indonesia sebuah isu-isu baru yang kelak akan
mempengaruhi perkembangan arsitektur di Indonesia. Isu-isu
baru tersebut adalah ruang luar sebagai bagian dari konteks
urban setempat, gubahan massa berwujud kotak murni sebagai
sebuah objek free-standing yang seakan melayang di dalam
konteks urban tersebut, perwujudan obyek tersebut sebagai
sebuah volume, dan prinsip keteraturan yang melandasi
pemasangan elemen-elemen bangunan gedung-gedung (Sukada,
2011:55).
B. KEDUTAAN BESAR DI KUALA LUMPUR (1947-1976)
Proyek ini dikerjakan pada
tahun 1974 sampai 1976.
Dalam proyek ini, Soejoedi
ditantang
untuk
membuat
sebuah bangunan yang dapat
merepresentasikan
sebuah
karya
Indonesia
di negeri
Malaysia.
Melalui pendekatan ragawi
arsitektur vernakular Indoensia,
Soejoedi secara jeli mengamati
keuinikan
ragam
budaya
Indoensia dan mewujudkannya secara geometris dalam bangunan
ini. Dalam hal ini. Wujud yang menjadi rujukannya adalah wujud
meru dari Bali. Hal itu dikarenakan wujud meru merupakan satusatunya konstruksi bertngkat banyak dalam arsitektur vernakular
Indonesia. Tumpukan atap pada meru diwujudkan dalam jurai
atap di tiap lantai ang kemiringannya dibuat sama, sehingga
secara keseluruhan bentuk fasad bangunan Kedutaan Besar di
Kuala Lumpur ini terlihat sangat menyerupai wujudnya. Kesan
horizontal yang kuat Soejoedi seperti yang terukir di karyakaryanya juga terlihat dominan di setiap lantai bangunan ini.
C. GEDUNG MPR/DPR (1964-1983)
D. Tujuan
Merupakan sebuah tempat penyelenggaraan pertemuan
politik (political venues) berskala internasional bagi negara13

negara yang dikatagorikan sebagai new emerging forces oleh


Presiden Soekarno. Rencananya negara-negara tersebut akan
dihimpun dalam sebuah organisasi baru yang menandingi PBB.
Alasan
Awalnya indonesia belum memiliki political venues, satusatunya sarana seperti itu berada di Bandung yaitu gedung
societeit, tempat konfersi asia afrika pada tahun 1955, tetapi
Presiden Soekarno tidak memakainya karena tidak terletak di
jakarta, juga dinilai kurang representatif.
Sayembara
November
1964,
mentri
PUTL
diperintahkan
untuk
menyelenggarakan sayembara untuk political venues tadi, yang
disebut Conference of the new emerging forces (Conefo) yang
berlokasi berdampingan Gelora Senayan, ke arah barat. Peserta
yang mengikuti sayembara ini yaitu perusahaan yang bernaung
di depatermen PTUL, yaitu Bina Karja dan Virama Karja, dari
swasta yaitu Perentjana Djaja. Soejoedi selaku staf ahli bidang
Arsitektur di Depatermen PUTL diperintahkan oleh Mentri PTUL
untuk mengikutinya.
Proses Perancangan
Dalam proses perancangannya, Soejoedi menggunakan
contoh sayembara League of Nation di jenewa, Swiss (1927),
sayembara Palace of the Soviets di Moskow, Uni Soviet (1931),
markas besar PBB di New York, AS (1950). Rancangan Le
Corbuser. Soejoedi mengikuti pola pemikiran yang diterapkan oleh
Le Corbusier. Dia mewadahi kegiatan di kompleks political venues
tersebut dengan massa bangunan yang berbeda. Mula mula
formasinya mirip seperti markas besar PBB. Masa bangunan untuk
kegiatan sekretariat diletakan frontal terhadap jalan masuk ke
dalam tapak , sementara massa untuk bangunan persidangan
diletakkan
disampingnya.
Dalam
diskusi
bersama
Tim
perancangannya terlontar pandangan bahwa gedung sekretariat
di Markas Besar PBB itu pada kenyataanya lebih terkenal
dibanding gedung persidangan, padahal semua keputusan
penting yang diambil bangsa-bangsa di dunia justru dilakukan di
gedung persidangan.
Hal tersebut membuat Soejoedi segera mengubah formasi
gubahan massa bangunannya. Massa bangunan untuk kegiatan
persidangan diletakkan frontal menghadap ke jalan masuk,
14

kegiatan sekretariat diletakkan disampingnya, massa bangunan


untuk perjamuan diletakkan dalam posisi linear terhadap massa
bangunan sekretariat sedangkan massa bangunan auditorium
diletakkan tegak lurus terhadapnya. Massa bangunan untuk
gedung persidangan direncanakan berwujud dasar lingkaran dan
beratap kubah sempurna, kurang lebih seperti gedung
persidangan di Kompleks Parlemen Brasilia. Sementara massamassa bangunan lainya masih berwujud persegi panjang yang
kemudian
diletakkan
di
atas
sebuah
podium
yang
menghubungkan massa-massa itu satu sama lain sehingga
komunikasi dia antaranya dapat berlangsung tanpa harus keluar
dari bangunan. Apabila diperhatikan podium itu sendiri
membentuk wujud dengan karakteristik seperti massa bangunan
sekolah Bauhaus di Dessau, yaitu asimetrik di tinjau dari sudut
pandang manapun, sehingga dengan demikian mencerminkan
haluan modern yang sejak awal dipanuti Soejoedi.

Kompleks Parlemen Brasilia

Sumber: www.capitalteresina.com.br
Keunikan dari arsitektur proyek Conefo ini adalah pada
bentuk atap gedung persidangan. Atap gedung ini mirip dengan
prinsip struktur sayap pesawat terbang. Ide bentuk ini justru
muncul pada saat pelaksanaan sayembara perancangan proyek
15

Conefo sudah hampir habis. Dalam situasi terburu-buru, Soejoedi


Wiroatmodjo yang sudah hampir menyelesaikan gambar
rancangan dan maket gedung, ternyata belum memiliki
rancangan atap ruang sidang utama, yang menjadi induk dari
kompleks gedung rancangannya.
Sebenarnya, telah ada beberapa alternatif untuk bentuk atap
gedung. Yang paling sederhana adalah bentuk struktur kubah
beton. Tetapi Ir. Sutami selaku ahli struktur bangunan sejak awal
telah memperingatkan tim arsitek, bahwa jika diputuskan
memakai atap kubah murni, akan muncul masalah serius. Karena
hal ini menyangkut perataan penyaluran beban gaya vertikal ke
tiang-tiang penopang kubah. Satu saja di antara tiang tersebut
melorot, maka akan menimbulkan akibat berantai, seluruh kubah
bakal mengalami keretakan, pecah dan akhirnya runtuh.
Konsekuensi logis jika rancangan atap memakai kubah murni,
maka seluruh ruang sidang utama harus diberi tambahan balok
melingkar yang besar dan tebal. Penambahan tersebut pasti akan
menambah beban berat bagi bangunan kubah. Di samping itu,
seara arsitektural, balok melingkar ini akan memerlukan sejumlah
tiang penopang yang besar-besar, yang pada akhirnya akan
mengganggu pandangan di dalam ruang sidang utama. Hadirnya
barisan tiang penyangga itu juga akan menyebabkan dampak
lanjutan, yaitu mengganggu pembagian ruang-ruang sidang di
lantai dasar.
Dalam
keadaan
mendesak,
Soejoedi kemudian menugaskan Ir.
Nurpotjo, seorang stafnya untuk membikin
maket gedung ruang sidang utama, tetap
dengan bentuk kubah murni. Bahan maketnya
dibuat dari plastik yang dipres. Karena kesulitan
mencari alat pengepresan, maka digunakanlah dua
buah
kuali penggorengan kue serabi yang
diisi air panas. Cara mengepres
plastik di
antara dua buah kuali ini rupanya
tidak pernah membuahkan hasil yang
baik, karena selalu saja terjadi keriputkeriputan di puncak kubah.
Dalam keadaan setengah putus asa, Nurpotjo lalu mengambil
gergaji dan membelah hasil cetakan menjadi dua bagian.
Maksudnya, kalau hasil cetakan kubah plastik tersebut dibelah16

belah, maka akan ada beberapa potongan yang tidak kelihatan


keriputnya, sehingga bisa digabung menjadi kubah yang utuh.
Dalam keadaan yang kritis itu, Soejoedi datang dan melihat
hasil cetakan plastik untuk kubah yang sudah digergaji menjadi
dua bagian. Dia tak tahu bahwa hasil cetakan tersebut
sebenarnya digergaji karena keputus-asaan Nurpotjo. Tetapi
Soejoedi justru sangat tertarik melihat itu, sambil mereka-reka
bagaimana kalau kubah murni terbelah dua dan ujungnya
diangkat sedikit, itu digunakan sebagai rancangan atap gedung
ruang sidang utama. Dia pun segera berkonsultasi kepada
Sutami.
Sebagai ahli struktur, Sutami sangat sigap menjawab dan
melakukan perhitungan teknis yang diminta Soejoedi. Dalam
waktu singkat Sutami langsung membuat sketsa dan memberi
jaminan, bahwa tidak ada halangan teknis. Pokoknya bisa
dikerjakan. Sutami menjelaskan, struktur yang dibuat ini
prinsipnya sama dengan membuat sayap pesawat tebang,
memakai prinsip struktur kantilever. Sutami malah berani
menjamin, bahwa dengan bentangan 100 meter pun, bentuk
struktur ini masih dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, yang
berfungsi sebagai badannya adalah dua buah busur beton yang
dibangun berdampingan dan akan bertemu pada satu titik
puncak.
Struktur berupa sepasang busur beton yang bertemu pada
satu titik puncak tersebut harus diteruskan masuk ke dalam
tanah, untuk bisa menyalurkan beban. Struktur semacam ini
merupakan struktur kesatuan yang sangat kokoh dan stabil, yang
nantinya bisa dibebani sayap-sayap berukuran dua kali setengah
kubah beton. Kubah atap ruang sidang utama memang
diharapkan menjadi pusat perhatian. Sebab, sejak awal sang
arsitek telah memfokuskan titik sentral perhatian pada ruang
sidang utama. Bentuk atap gedung tercipta tanpa disengaja itu
akhirnya menjadi sangat unik dan merupakan rancangan yang
memiliki keunggulan inovatif.

Kemenangan Sayembara
Kemenangan rancangan Soejoedi dikarenakan karya tersebut
unggul di strategi perancangan yang meletakkan fungsi utama
dalam massa bangunan yang berbeda dan Soejoedi satu-satunya
17

peserta yang menyertakan maket. Keberadaan maket ini sangat


memudahkan tim penilai memahami wujud tiga dimensi, bila
bangunannya telah selesai. Selain itu, rancangan Soejoedi sangat
memudahkan pelaksanaan pembangunan gedung ini, karena bisa
dikerjakan secara terpisah-pisah, namun jika bangunannya telah
jadi semua, setiap unit akan saling berkaitan dalam satu
kesatuan.
Setelah menetapkan pemenang sayembara, Presiden
Soekarno memerintahkan pembentukan Komando Pembangunan
Projek Conefo (Koppronef) untuk mewujudkan karya Soejoedi,
sebagai pemenang sayembara. Batas akhir penyelesaian proyek
Gedung Conefo adalah 17 Agustus 1966. Dengan demikian hanya
tersedia waktu sekitar 17 bulan untuk memenuhi komando
Presiden Soekarno. Soejoedi Kemudian diangkat sebagai ketua tim
Perencanaan
dan Pengawasan Teknik di dalam organisasi
Koppronef dan bekerja sama dengan tiga tim lainnya, yaitu Tim
Keuangan dan Pembiayaan, Tim Logistik serta Tim Pelaksana
Penyempurnaan Rancangan
Pemancangan tiang pertama dilakukan pada tanggal 19 April
1965 dan bersamaan dengan proses pelaksanaan proyek Conefo
itu
Soejoedi
akhirya
berkesempatan
menyempurnakan
rancangannya
menjadi
program
perancangan
arsitektur
Internasional Style sepenuhnya. Tampilan struktur utama dalam
gedung persidangan sudah terlihat menghujam ke bawah
permukaan tanah, menembusi podium yang melandasinya.
Hubungan serasi antara struktur utama tersebut dan dua keping
kubahnya juga berhasil dicapai sedangkan hubungan dengan
tangga monumental tampak terjalin dengan selaras membentuk
poros utama menuju ke jalan raya. Untuk memperkuat poros
tersebut dibuat lubang besar berwujut 4 persegi panjang yang
selaras ditambah sebuah tugu yang menjulang dari lantai
basement lubang tadi. Di lantai tersebut di sekeliling lubangnya,
ditempatkan toko-toko dan berbagai fasilitas penunjang bagi
kegiatan pertemuan politik bersekala internasional sementara
sebagai pengapit poros tadi diletakkan barisan tiang untuk
mengibarkan bendera negara-negara yang tergabung dalam New
Emerging Force di satu sisi sedangkan di sisi lainnya terdapat
massa bangunan untuk kegiatan sekretariat dan perjamuan
dalam posisi linier. Berdiri di atas podium yang berkesinambungan
dengan podium gedung persidangan. Bangunan-bangunan
gedung tersebut sudah beradaptasi terhadap iklim tropis lembab
18

di indonesa, yaitu dibuat dengan atap berkonstruksi kantilever


sejauh 5 sampai 7,5 meter dari dinding atau tiang-tiangnya
sehingga menghasilkan bayangan yang terasa menyejukkan.
Gedung perjamuan dibuat memanjang tegak lurus jalan raya
sebagai pengarah sedangkan gedung sekretariat sedikit ditekuk
supaya menghasilkan ruang luar positif bersama dengan tugu
yang menjulang dari basement di lubang memanjang tempat
berkumpulnya
fasilitas
pendukung
komplek
Conefo
ini.
Keberadaan tig objek tersebut vital karena merupakan pengantar
bagi siapapun untuk menuju ke gedung persidangan dan setelah
itu memasuki bangunan gedung lainnya tanp harus keluar
bangunan lagi. Tekukan di gedung sekretariat itu juga
mengingatkan pada massa bangunan apaterment karya Walter
Gropius di Interbau, Berlin Barat, karena bertujuan sama, yaitu
membentuk ruang luar positif.
Sebagai Ketua Tim Perencanaan dan Pengawasan Teknik,
tugas Soejoedi tidak hanya mengembangkan rancangan tiap
massa
bangunan
menjadi
lebih
rinci
melainkan
juga
mengkoorinasikannya dengan tim lain dalam organisasi
Koppronef. Tugas Koordinatif tersebut akhirnya menyita waktu
sehingga sebagian besar detail perancangan bangunan projek
Conefo diserahka kepada wakil dan asisten, demikian pula
perancangan lansekap dan tapaknya. Sebab itu hasil akhir
perancangan beberapa diantaranya merupakan adaptasi dari
karya arsitektur yang sudah terbangun di Indonesia.
Atap gedung perjamuan merupakan adaptasi dari gedung
Masjid Salman di depan kampus ITB karya Ahmad Noeman.
Sementara gedung auditorium atapnya berwujud cungkup yang
digubah dengan teknik lipatan. Sekalipun demikian atap tersebut
juga terpisah dari bangunan gedungnya sehingga wujud dasar
dari sebuah kubus selalu tampil lebih dulu. Tugu yang
direncanakan diganti dengan patung-patung oleh tim yang diisi
staf pengajar dari Jurusan Seni Rupa ITB yang juga bertugas
mengisi interior bangunan dalam proyek Conefo. Penambahan tim
lansekap sangat mendukung dalam proses pengembangan karena
menghasilkan gambar rencana tapak (site plan) yang pertama di
Indonesia, berisi kelengkapan pengisian hamparan tata ruang luar
dengan tanaman dan bukan tanaman sehingga instalasi jaringan
infrastruktur dapat dirancang dengan lebih mudah.

19

Soejoedi, seperti telah diutarakan sebelumnya, percaya


bahwa prinsip naungan yang terjadi di arstektur vernakular
Indonesia dapat ditafsirkan dalam konteks modern melalui wujud
wujud geometrik murni dan untuk itu pilihan pribadinya adalah
wujud kubus. Sudah tentu Soejoedi tahu bahwa wujud cangkang
juga dapat digunakan dalam penafsiran modern tersebut,
sebagaimana digunakan pada gedung persidangan proyek
Conefo. Akan tetapi pilihan tersebut diambil karena merupakan
solusi terbaik untuk menampung demikian banyaknya orang di
dalam sebuah ruang bebas tiang. Dilain pihak Soejoedi tetap
mengusahakan agar wujud cangkang tersebut merepresentasikan
prinsip arsitektur vernakular indonesia, yaitu sebuah naungan
dengan batas sekelilingnya. Melalui permukaan atap yang
cembung soejoedi ingin merepresentasikan sebuah naungan
sedangkan bidang kacanya merepresentasikan sebuah batas.
Dilain pihak, bahan kaca yang tembus pandang tersebut juga
dimaksudkan merepredentasikan sesuatu yang tak terbatas.
Itulah mainfestasi modern atas konsep jagad cilik dan jagad gede
dalam pandangan masyaraka Jawa yang amat dikaguminya.

Proyek Conefo Berhenti


Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-20, seluruh
struktur berbagai bangunan telah bisa terwujud. Namun sentuhan
akhir pembangunan proyek, terganggu oleh peristiwa G30S/PKI.
Menjelang akhir 1966, pasca peristiwa G30S/PKI, berlangsung
pembicaraan antara pihak pemerintah dengan pimpinan DPR,
untuk membahas gedung yang akan digunakan DPR. Ketua
Presidium Kabinet Ampera, Jenderal Soeharto, kemudian
20

mengunjungi bangunan utama Conefo. Sesudah melihat


kenyataan di lapangan, Soeharto kemudian memutuskan untuk
menggunakan Gedung Conefo menjadi Gedung MPR/DPR, melalui
SK Nomor 79/U/Kep/11/1966, tanggal 9 November 1966.
Selanjutnya Panitia Proyek Pembangunan Conefo dibubarkan.

D. PUSAT LISTRIK TENAGA AIR SUTAMI (1966-1973)


Proyek
ini dikerjakan
pada tahun
1969 sampai
1973.
Bangunan ini
berdiri
di
Bendungan
Karang
Kates, Jawa
Timur.
Soejoedi
merancang bangunan ini berdasarkan gubahan dua selubung
bidang paralel dalam formasi simetrik yang masing-masing
menaungi fungsi benda (Sukada, 2011:96). Selubung pertama
yaitu selubung yang berukuran besar dan menaungi unit-unit
turbin sedangkan selubung yang kedua berupa sebuah bidang
kecil yang terletak di belakang selubung pertama untuk fungsi
perkantoran.

21

Bangunan ini terbuat dari beton exposed dengan sistem


struktur gabungan tiang dan dinding kaku dengan lipatan. Batu
exposed pada bangunan ini dikerjakan lebih halus, rata, dan licin.
Bidang lipatan terlihat di dua lokasi, pertama di tempat masuknya
air
ke
dalam
turbin.
Lipatan
ini
berupa
tudung segitiga
yang
segaris
dengan
posisi
bukaan kaca di
badan bangunan
gedung sehingga
terlihat
akurat.
Yang kedua, berada pada selubung bidang besar agar bidang
tersebut tidak terlihat terlalu monoton. Teknik pelipatan tersebut
menghasilkan garis-garis cahaya linear di sekelilingnya. Seojoedi
juga mengartikan perbedaan fungsi kedua bangunan mellaui
perbedaan warna sehingga terlihat menarik.
Seojoedi menambahkan sentuhannya pada bangunan tinggi
tersebut dengan tangga melayang yang arahnya mengikuti
pergerakan bendanya sehingga terlihat sangat estetik dan
dinamis. Hal ini diinspirasi dari bangunan-bangunan gedung era
klasik di Eropa. Namun, Seojoedi menerjemahkannya secara
modern, lebih minimalistik.

E. RUMAH DI SANGKURIANG, BANDUNG (1967-1968)


Rumah tinggal ini dirancang Soejoedi antara tahun 1967 dan
1968, direnovasi pada tahun 1978 sampai 1979 dan direstorasi
secara menyeluruh pada tahun 1999 sampai 2000 (Sukada,
2011:90). Tapak berada di kawasan Sangkuriang, Bandung Utara,
dengan bagian yang menurun pada sebagian tapak. Bagian
bangunan yang memanjang menghadap ke arah jalan utama.
Rumah ini terdiri dari dua lantai. Bagian lantai kedua dibuat
seakan melayang dengan menjorokkan massa lantai dua ke
depan dalam jarak yang cukup yang ditahan oleh kantilever.
Soejoedi tetap memberikan kesan horizontal yang kuat dalam
setiap karyanya, termasuk rumah tinggal di Sangkuriang ini. Ia
memberikan ciri khasnya pada bagian atap perisai yang dibuat
sangat landai sehingga mengingatkan pada rancangan the
22

Robbie
House,
karya F L
Wright.

Perbedaannya yaitu F L Wright memberikan pelipit di tepi atas


bidang-bidang horizontal, sedangkan Seojoedi membuatnya
sepolos mungkin.
Ruamh ini memiliki pintu masuk dengan substraksi pada
bagian massa utuhnya yang menandakan karyanya Soejoedi.
Bagian ini diisi unit pintu-jendela yang terbut dari kaca.
Organisasi ruangannya disusun linier mengikuti massa
bangunannya.

F. DUTA MERLIN (1970)


23

Bangunan
Duta
Merlin
adalah
sebuah
hotel
yang
kondisi
awal
tapaknya
terdapat dua jenis
bangunan.
Soejoedi
tidak
memperhatikan
kedua bangunan
tersebut dan menganggap tapak yang telah terbangun adalah
tapak kosong.
Untuk mengatasi tapak
yang begitu luas Sorjoedi
meletakkan
dua
massa
bangunan gedung tinggi ke
kedua tepi sisi tapak yang
menghadap ke Timur (Jln.
Gajah Mada dan Jln. Hayam
Wuruk), perkantoran 15 lantai
dan hotel 10 lantai. Massa
perkantoran digarap dengan
dengan teknik sayatan dan
geseran menjadi 2 selubung bidang sejajar dalam formasi
asimetrik, sedangkan untuk massa hotel digubah menjadi
selubung bidang huruf Y.
Pandangan atas vertikal gubahan massa-massa bangunan
tinggi tampak tidak serasi. Karena selubungnya berbeda.
Soejoedi mengubah massa untuk fasilitas apartemen dalam
bentuk bangunan yang tidak terlalu tinggi dan dengan wujud
kotak digabungkan komposisi asimetrik Soejoedi menyadari
perbedaan yang jauh dari massa-massa bangunan tinggi.
Sehingga beliau meletakkannya jauh di bagian belakang tapak
dan dipisahkan oleh jalur internal kendaraan serta taman yang
luas.

G. RUMAH DI RAWAMANGUN (1972)


Rumah ini adalah salah satu rumah yang dibnagun oleh
Soejoedi pada tahun 1972 yang berada di Jalan Balai Pustaka 4,
24

Rawamngun,
Jakarta
Timur.
Menurut Sukada:
2011,
wujud
tapak
tersebut
memanjang
sepanjang
jalan
dengan
bentuk
tidak beraturan.
Soejoedi
berencana
mendirikan dua buah rumah tinggal di tapak tersebut sehingga ia
membagi tapak tepat ditengah dengan perbedaan luas yang
hampir sama. Kemudian ia menyusun pemograman arsitektur
yang sama untuk kedua bangunan rumah tinggal itu.
Bangunan yang ditinggali Soejoedi dan keluarganya adlaah
bangunan yang memiliki tanah yang lebih sempit. Penataan
denah kedua bangunan ini secara sekilas mirip dengan konsep
Mies van der Rohe yang terdiri dari garis-garis utama yang
mempresentasikan dinding yang disusun sejajar membentuk
ruangan-ruangan lepas, yang saling berhubungan dalam sikuens
linier.
Sementara
itu,
garis-garis
sekunder
yang
mempresentasikan dinding disusun dalam posisi tegak lurus
untuk menghasilkan pertemuan yang membentuk kamar-kamar
(Sukada, 2011:132).
Konsep rumah tinggal menurut keprivasian pemilik ada tiga,
yaitu bagian umum, semi-privat, dan privat. Bagian umum dalam
rumah ini daibagi menjadi dua bagian . Bagian pertama yaitu area
halaman depan sampai ruang tamu. Bagian kedua yaitu dari are
tanjakan (area menuju garasi mobil) hingga area di depan ruang
keluarga. Pada bagian ini, sebuah teras dan bingkai pintu-jendela
menerima para tamu dan mengarahkannya memasuki ruang
tamu.
Kedua, bagian semi-privat yang berupa area berkumpulnya
keluarga. Ruangan ini diapit oleh kedua ruangan yang bersifat
umum dan menyebabkan keberadaan ruangan keluarga sebagai
objek yang ditembusi ruang-ruang disekitarnya dikarenakan oleh
dimensi pintu-jendela yang memenuhi bidang dinding. Ruang
keluarga dijadikan tidak terpisah keberadaannya dengan ruang
tidur yang memiliki sifat privat. Seojoedi menjadikan ruang

25

keluarga dan ruang privat dalam satu volume dengan dinding


pemisah yang tak ditutup sepenuhnya.

Ketiga, bagian privat. Bagian ini berupa kamar tidur dan ruang
makan yang berdekatan dengan ruangan servis, baik dapur,
kamar tidur pembantu, dan kamar mandi. Ruangan-ruangan
tersebut disusun secara linear membentuk huruf L dan dipusatkan
menuju halaman belakang. Bagian privat tersebut memberikan
kesan lebih lega. Baik kamar maupun ruang servis mendapatkan
cahaya dan penghawaan yang memadai.
Ciri khas bangunan Soejoedi sudah melekat pada bangunan
ini. Hal ini dapat terlihat dari bentukan atapnya yang memeliki
kemiringan landai dan bidang-bidang horizontal yang membentuk
kesan bangunan gedung dalam posisi terangkat dari permukaan
tanah (Sukada, 2011:133).

26

Soejoedi tampak sangat memperhatikan detail-detail eleman


banguan pada ruamh ini. Tampak ukuran lantai dan
pembagiannya segaris dengan kaki dinding ataupun satu poros.
Sementara detail pertemuan langit-langit teritisan dan kemiringa
atap mengekspresikan keyakinannya terhadap prinsip naungan
pada rumah tinggal tropis di Indonesia.
H. BANK EKSPOR IMPOR INDONESIA (1976-1978)
Proyek
ini
dikerjakan
antara
tahun 1976
sampai
1978.
Terletak di
Pematang
Siantar,
Sumatra
Utara, jauh
dari medan
sebagai
ibukota
provinsi
terkait.
Pada proyek
ini, Soejoedi menampilkan kumpulan gubahan massa berwujud
dua selubung bidang yang digeser sejajar, masing-masing berada
dalam posisi zig-zag terhadap lainnya. Seluruh gugus massa
dilapisi bahan penutup luar yang sejenis dengan warna yang
sama pula sehingga terasa polos, keras, serta masif. Akan tetapi
satu-satu tepi selubung bidang tersebut bertemu bidang
permukaan depan yang dipasang dalam posisi diagonal terhadap
pola perletakan kumpulan massa tadi sehingga keseluruhan
gugusan massa tadi terasa lebih memanjang sekaligus
melunakkan kesan keras dan masif tiap gugusan.
Seperti diproyek-proyek sebelumnya, bidang terdepan
dibagian lantai dasar tiap gugus massa dibuat mundur sampai
terbentuk bayangan sehingga selain menyejukkan interior bagian
tersebut dan mengurangi beban energi penghawaan buatan,
teknik tersebut juga menghasilkan kesan bangunan yang
27

terangkat
dari

permukaan tanah. Sehingga kesan polos, keras, dan masif


gugusan massanya juga menjadi berkurang. Bukaan ventilasi
dibuat bervariasi mengikuti fungsional ruangan sehingga terjadi
kelompok bukaan yang terasa lebih vertikal dari pada lainya.
Penempatan pola zig-zag serta variasi bukaan untuk jendelanya
itulah yang membangkitan dinamaika dalam tampilan yang
homogen tersebut.
I. DEPARTEMEN PERHUBUNGAN (1980-1982)
Proyek
ini
dikerjakan pada
tahun 1980
1982
yang
bersamaan
dengan
4
pengerjaan
proyek
lainnya,
yaitu
Pusat
Kehutanan,
Departemen
Pertanian,
KBRI
di Kolombo, dan
Bank
Ekspor
Impor
di
Balikpapan. Bangunan ini berada pada pusta kota, yaitu di jalan
Medan Merdeka Barat dan diapit sejumlah bangunan
pemerintahan lainnya. Oleh karenanya, bangunan yang berada
pada pusat kota telah diatur dengan ketat, baik dalam hal
ketinggian, garis sempadan, hadapan, sampai fasad bangunan
gedungnya.
Pada dasarnya Soejoedi menerapkan melakukan gubahan
massa bangunan gedung yang lazim diterapkan olehnya, yaiutu
selubung bidang yang kemudian diisi tumpukan lantai dalam
ekspresi garis-garis tebal horizontal (Sukada, 2011:184).
28

Soejoedi berusaha untuk mengubah pola-pola kolom yang grid


menjadi diagonal. Untuk menegaskan perubahan pola-pola
kolomnya, garis-garis horizontal di antara bidnag-bidang masif
tadi semakin ke bawah diletakkan semakin maju sehingga kesan
bangunan semakin volumetrik.
Usulan
Soejoedi
mengenai
pola-pola
digonal tersebu ditolak
oleh
TPAK
(Tim
Penasihat
Arsitektur
Kota),
bertugas
mengatur
keserasian
bangunan-bangunan
pada
wilayah
kewenangan RI, yang
menyatakan
bahwa
pola
tersebut
akan
merusak bangunan di
sekitarnya.
Namun
pada akhirnya, ususlan
Soejoedi diterima oleh
pihak TPAK. Soejoedi yang kala itu sedang mengurusi proyek yag
lain, tidak lagi meluangkan waktunya untuk memedulikan proyek
Departemen Perhubugan. Di lain pihak, usulan diagonal tersebut
tidak terlalu terlihat pada fasad. Selain itu, Soejoedi ingin
menghilangkan kesan masif pada bangunan dngan membuat
garis-garis horizontal yang void. Perubahan tersebut memang
mengurangi
ketegasan posisi grid diagonal bangunan
gedungnya terhadap lingkungan seputar Lapangan Merdeka
namun tetap memperlihatkan sikap yang berbeda dari bangunan
gedung di sepanjang jalan Medan Merdeka Barat sehingga masih
terus mengundang pertanyaan dari para pemerhati bidang
arsitektur di Indonesia
J. PUSAT KEHUTANAN JAKARTA (1980-1984)

29

Proyek ini dilaksanakan


pada tahun 1980-1984,
yang bersamaan dengan
proyek
Departemen
Pertanian
di
Jakarta
Selatan.
Kesamaan
tampak jelas pada kedua
bangunan yang didirikan
pada saat yang bersamaan
ini dan pada bangunan
yang telah didirikan 10 tahun sebelumnya, yaitu Duta Merlin.
Ketiga proyek tersebut berada pada lahan pojok, sehingga
Soejoedi mengolah bangunannya membentuk huruf Y.
Soejoedi menaruh hal yang beda pada bangunan ini
dibandingkan dengan karya sebelumnya. Pada karya ini, dia
tidak membuatnya seakan melayang dengan garis horizontal
yang tegas. Ia justru memberi selubung kaca gelap penuh pada
bangunan ini yang lebih mengesankan ringan dan tidak masif.

V. DORONGAN ESTETIK
Dorongan Estetik pada hakikatnya berkenaan dengan hasrat
seseorang menyempurnakan hubungan dirinya dengan alam
sekeliling sampai mencapai tahap yang disebut pandangan dunia
(world view) (Sukada, 2011:44). Soejodi mendapatkan pengalaman
estetika yang dituangkannya ke dalam karya-karyanya ketika
menempuh studi di Prancis, Belanda, dan Jerman Barat, serta ketika
ia melakukan perjalanan studi ke negara-negara Skandinavia. Selain
itu, dorongan estetik di dalam dirinya muncul dari rasa kepeduliannya
terhadap masa denpan dunia arsitektur.
Di dalam Sukada (2011:44), dorongan estetik dalam diri Soejoedi
tersebut tersimpulkan dari catatan di buku Gedung MPR/DPR RI
(1995, 105) yang menyebutkan sebagai berikut:
...saat seorang arsitek menerima tugas, dia harus bersedia
menanggulangkan diri dengan seluruh permasalahan yang bakal
muncul. Seperti halnya manusia merupakan bagian dari alam, karya
manusiapada hakikatnya juga sekedar bagian adari alam. Oleh
karenanya, seyogyanya sebuah karya tidak harus menimbulkan
disharmoni dengan alam sekitarnya maupun disharmoni dari
manusia calon pemakainya. Karya selalu memanifestasikan jagad
30

cilik (dunia kecil). Tetapi jagad cilik bila tidak ada kaitannya dengan
jagad gede (dunia besar) juga tidak ada artinya....Jagad cilik adalah
bangunan gedung yang harus mampu menunjukkan keselarasan,
kewajaran, kegairahan, dan kemanusiaan. Sementara itu, bagian luar
gedung juga harus sanggup menampilkan keserasian, kewajaran,
kegairahan, dan kealamian dengan situasi di sekelilingnya. Berdasar
hal tersebut, sebelum memulai berkarya maka pribadi arsiteklah
yang ahrus terlebih dahulu dibenahi....karya arsitektur bakal selalu
terkait dengan kepribadian sang arsitek.
Bila dijabarkan, komponen pembentuk dorongan estetik Soejoedi
tersebut di atas terdiri dari pembenahan diri dan harmonisasi
(Sukada, 2011:44). Ia melakukan pembenahan diri dengan
berkontemplasi terhadap tapak dan lingkungan alami. Ia berlamalama mengamati keadaan di sekitar tapak dan berusaha untuk
menghayati suasana yang terjadi agar ia dapat merancang bangunan
yang sesuai dengan potensi dan keadaan tapak serta lingkungan
tapak. Ia melakukan harmonisasi dengan membuat bangunan yang
sesuai dengan tapak. Ia sangat menekankan pentingnya studi fasad
suatu bangunan, sehingga ke arah mana bangunan tersebut dia
arahkan dan apa asaja yang suadah ada di depan fasad bangunan
menjadi faktor yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Untuk
menahasilkan wajah yang ramah terhadap lingkungan sekitarnya,
Soejoedi mengawali dari studi potongan dinding-dinding luar yang
digambar dalam skala besar sehingga permasalahan yang berkaitan
dengan fungsi (tinggi, tekukan, kemiringan, teknik penggabungan
bahan dan seterusnya) maupun proporsi terselesaikan sekaligus
(Sukada, 2011:46). Oleh karenanya, Soejoedi menangani keempat
sisi bangunan dengan sangat baik dan penuh perhatian. Semua sisi
harus terlihat ramah dan sopan terhadap lingkungan disekitarnya.
Sehingga, ia kurang memperhatikan bagaimana desain interior
bangunan tersebut. Desain interior bagunan ia lakukan semata-mata
untuk memenuhi fungsi utamanya melalui oraganisasi, dimensi, serta
skala ruangan yang proporsional.
Di dalam Sukada (2011:46) disebutkan bahawa pilihan bentuk
utama Soejoedi adalah kubus karena mengisyaratkan himpunan
sekaligus perlindungan, megikuti kekagumannya pada hasil karya
para pelopor arsitektur modern Eropa serta potensinya sebagai obyek
baru yang responsif terhadap iklim dan cuaca Indonesia. Ia
mempersepsika kubus tersebut sebagai sesuatu yang melayang
sehingga hasil karyanya seakan-akan melayang dari permukaan
tanah. Secara ilmu konstruksi, seluruh bentuk tersebut sebenarnya

31

didukung oleh deretan tiang yang satu dengan lainnya diikat dengan
plat lantai dasar.
Tenik-teknik itulah yang menjadi program dasar perancangan
Soejoedi yang selanjutnya telah ia kembangkan menjadi beberapa
versi.

VI. RANGKUMAN
Dari tinjauan atas karya-karyanya jelas terlihat bahwa kemahiran
Soejoedi pada dasarnya terletaak pada kepekaannya terhadap situasi
tapak, pilihan gubahan massa bangunan gedungnya yang responsif
terhadap situasi tersebut, dan penanganan tampilan luar bangunan
gedungnya yang dilakukan secara komprehensif dengan penuh
kehati-hatian supaya semua elemen bangunan tampil proporsional
satu sama lainnya (Sukada, 2011). Selain itu, bangunan-bangunan
yang dirancangnya berciri khas interntional style berdasrkan
pengalamannya semasa kuliah di Eropa.
Soejoedi merancang bangunan berdasrkan fungsinya. Apabila
yang ia rancang adalah bangunan rumah tinggal maka ia
menampilkan tampilan massa persegi panjang yang seakan
terangkat dari permukaan tanah yang diperkuat dengan dindingdinding polos sehingga terlihat garis horizontal yang mendominasi
bangunan. Selain itu, Seojoedi menampilkan bangunan dengan atap
landai, sehingga garis horizontal bangunan akan semakin jelas.
Selain itu, Soejoedi juga ikut ambil alih dalam penataan denah.
Denah rumah ia kelompokkan berdasarkan fungsi-fungsi yang terkait
antarruang. Selain itu, komposisi ruangan harus berkaitan dengan
ruang luar (taman dalam ataupun taman luar) sehingga ruangan
akan terasa lebih nyaman.
Ciri khas Soejoedi yang terdapat pada rumah tinggal yaitu posisi
pintu masuk. Apabila rumah tinggal satu lantai maka ia meletakkan
pintu masuk menghadap halaman samping agar tamu yang masuk
dapat terlebih dahulu mengamati keadaan sekitar. Apabila rumah
tinggal tersebut dua lantai maka ia mmbuat lantai kedua bangunan
seolah melayang dengan memasukkan posisi lantai satu dan
diperkuat dengan garis horizontal pada elemen-elemen bangunan.
Pada bangunan gedung umum, Soejoedi tetap tidak
meninggalkan karakteristiknya yaitu membuat bangunan seolah-olah
ringan dengan massa yang berat. Hal ini dilakukannya dengan
32

memasukkan lantai bangunan dibawahnya sehingga terlihat


melayang. Selain itu, Soejoedi juga menggunakan bentukan massa Y
(bentuk Y) pada bangunan umum yang terletak pada lahan dipojok.
Hal ini dilakukannya untuk menambah kesan pandangan yang luas
terhadap fasad bangunan.
Bila kronologi pembuatan karya-karyanya dipertautkan dengan
kualitas gubahan massa bangunan gedungnya, terlihat bahwa
Soejoedi selalu melakukan penyempurnaan dengan cara mengganti
unit-unit sekunder tampak luar bangunan gedungnya baik dalam
rangka mengubah wajah ataupun memenuhi tuntutas fungsional
berbeda yang harus dijalankan oleh lapisan luar bangunan gedung
terkait (Sukada, 2011).

VII. AKHIR SOEJOEDI


Soejoedi bukan termasuk seseorang yang selalu menjaga
kesehatan. Ia suka merokok sampil memikirkan ide
konsepan dalam membangun gubahan massa
bangunannya. Sejak sebelum ia pergi studi ke
Eropa, ia sudah memiliki penyakit yang hinggap di
dalam dirinya. Selain itu, jadwalnya yang padat
ketika berkarier di Indonesia membuatnya merasa
lelah. Oleh sebab itulah, pergi ke rumah sakit
merupakan rutinitasnya setiap hari.
Setelah beberapa lama, Soejeodi akhirnya
memutuskan utnuk beristirahat ke Magelang
bersama keluarganya atas usulan teman-temannya.
Namun, sosok Soejoedi yang pekerja keras tak
dapat menghindari dirinya dari pekerjaan yang menumpuk sehingga
rencana istirahat total selama di Magelang itu pun gagal.
Dengan kegiatan seperti itu, tubuhnya tak dapat lagi bertahan
lebih lama. Akhirnya, pada tanggal 17 Juni 1981 Soejoedi
menghembuskan nafas terakhirnya. Sosok Soejoedi yang demikian
dikenang oleh seluruh keluarganya, kerabat, serta arsitek lainnya di
Indonesia. Soejoedi akhirnya dibawa kembali ke Jakarta dan
dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

VIII.

KESIMPULAN
A. SOSOK/PRIBADI SOEJOEDI

33

Soejoedi adalah pribadi yang sangat gemar menggambar. Sedari


kecil, ia suka sekali mengamati keadaan sekitar, terutama hal-hal
yang berkaitan dengan gedung dan pesawat terbang. Soejoedi
dikenal sebagai seseorang yang pekerja keras hingga ketika ia
sedang dalam masa peristirahatan pun ia masih terus bekerja.
B. PANDANGAN ARSITEKTUR
Pandangan arsitektural yang dijumpai Soejoedi banyak sekali
karena ia memiliki pengalaman visual yang banyak. Soejoedi hidup
pada zaman International Style sehingga semua gubahan
massanya berbentuk kubus, atap datar, dan hal lainnya. Dengan
mengikuti ciri khas arsitektur pada zamannya, Soejoedi dapat
mengembangkan karyanya hingga kancah internasional.
Soejoedi pun pernah menempuh studi di Eropa. Eropa saat itu
sangat terkenal dengan kemajuan teknologi sehingga banyaknya
karya-karya arsitektural beraliran International Style. Soejoedi yang
di kala itu masih di Eropa secara tidak langsung mengikuti ggaya
International Style dan diterapkannya dalam karyanya. Selain itu,
Soejoedi pernah melakukan kunjungan ke Skandinavia dua kali
untuk mengamati objek-objek yang dibuat oleh arsitek terkenal,
seperti Ralph Erskine, Alvar Aalto, dan Arne Jacobsen. Karya-karya
mereka tersebut menginspirasi Soejoedi dalam menggoreskan ciri
khasnya di Indonesia, seperti kesan melayang, bentukan Y, atap datar,
gubahan massa kubus, serta garis horizontal yang kuat.
Ketika di Eropa, Soejoedi juga masuk dalam anggota De Stijl sehingga
karya-karyanya yang berada di Indonesia mendapat pengaruh kuat dari
International Style.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hal-hal pandangan


arsitektural yang dapat diambil Soejoedi sebagai rujukan karyanya
selama ini adalah:
a. Kesan melayang

Kesan melayang didapatkannya ketika kunjungan ke Skandinavia


pertama kali oleh arsitek Ralph Erskine.
b. Bentukan Y
Gubahan massa yang sangat azim diterapkan di Jerman Barat maupun
Berlin Barat pada masa itu sehingga Soejoedi menerapkannya dalam
karyanya.

C. KARAKTERISTK KARYA
34

Karakteristik yang paling menonjol dari gubahan massa


bangunan Soejoedi adalah bentukan kubus yang mendominasi.
Menurutnya, kubus adalah elemen estetik yang merupakan
himpunan sekaligus perlindungan, megikuti kekagumannya pada
hasil karya para pelopor arsitektur modern Eropa serta potensinya
sebagai obyek baru yang responsif terhadap iklim dan cuaca
Indonesia. Soejoedi memilih bentukan kubus karena bentukn kubus
lebih mencerminkan ruangan yang fungsional.
Soejoedi juga lebih dominan untuk menggunakan garis
horizontal yang kuat di dalam setiap karyanya. Hal ini
dimaksudnkan untuk menambah kesan melayang yang kuat agar
bangunan terasa lebih ringan dan tidak terlalu masif.
Ciri khas Soejoedi sendiri sebenarnya adalah ciri khas yang
telah didominasi oleh pengaruh Eropa di kala itu. Soejoedi pun
menerapkan semua hal yang didapatkannya dari Eropa dalam
setiap karya yang ia bangun di Indonesia.

35

DAFTAR PUSTAKA
Sukada, Budi A. 2011. Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi.
Jakarta: Gubahlaras, Arsitek dan Perencana

36