Anda di halaman 1dari 9

Mengapa gejala pada Tn. Y memburuk sejak satu minggu yang lalu?

7 9
Semua gejala pada kasus terjadi akibat infeksi Mycobacterium Tuberculosis. Infeksi
bakteri -> Reaksi imun -> Sekresi mucus -> Terdapat infeksi membrane mukosa karena
basil tuberkel -> Hipersekresi mucus -> Proses pembersihan normal tidak efektif
(mekanisme silia kurang efektif) -> mucus akan tertimbun disaluran nafas, akibatnya
membrane mukosa akan terangsang kemudian mucus akan dibatukkan melalui refleks
batuk keluar menjadi sputum.
Infeksi akan mengakibatkan dihasilkannya prostaglandin yang menaikkan thermostat
suhu di hipotalamus sehingga suhu naik sebagai upaya kompensasi menghambat
pertumbuhan bakteri, maka terjadi demam ringan.
Pada infeksi M. tuberculosis, sistem imun akan menghasilkan TNF alpha dan
Interleukin 2 yang pada akhirnya akan menyebabkan anorexia. Anorexia lebih lanjut
mengakibatkan berat badan turun dan BMI jatuh di bawah normal.
Infeksi bakteri M. tuberculosis -> kerusakan parenkim paru yang luas dan kelainan
saluran nafas (radang mukosa,penyempitan maupun penimbunan sekret) -> gangguan
fungsi ventilasi -> jumlah oksigen ke alveolus berkurang -> sesak nafas.
Keluhan pasien semakin parah sejak seminggu lalu disebabkan infeksi kuman TB
yang diderita pasien tidak dapat dilawan oleh sistem imun. Hal ini biasa terjadi pada pasien
koinfeksi TB-HIV, dimana terjadi penurunan status imunitas yang ditandai dengan
rendahnya kadar CD4. Kadar CD4 berperan untuk aktivitasi dari makrofag. Turunnya kadar
CD4 sesuai dengan progesivitas perburukan gejala pasien koinfeksi TB-HIV menyebabkan
makrofag juga ikut menurun. Akibatnya, Mycobacterium Tuberculosis dapat hidup di luar
sel dan M. Tb meluas tanpa disertai pembentukan granuloma, nekrosis perkejuan maupun
kavitas. Ini menyebabkan diagnosis TB lebih sulit karena gambaran radiologisnya tidak
seperti umumnya penderita TB tanpa HIV tetapi Pasien koinfeksi TB-HIV dengan kadar
CD4 rendah lebih sering menimbulkan lesi ekstraparu dan menimbulkan lesi minimal pada
gambaran radiologis. Pada kasus, terdapat infiltrate pada paru kanan bawah yang
menunjukkan adanya lesi minimal yang sering terjadi pada penderita TB-HIV. M.Tb lamalama akan mengekskavasi dan mengulcerasi dari dinding kavitas. Jika keadaan M.Tb terus
menginfeksi paru akan menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang ada di paru. Sehingga
terjadilah hemoptisis. Keadaan inilah yang menyebabkan keadaan Mr. Y semakin
memberat. Artinya ada peningkatan progresifitas penyakit TB. Memburuknya system imun
akibat AIDS akan lebih mempercepat proses infeksi dan akibatnya gejala penyakitnya
semakin hari semakin memburuk.

Bagaimana klasifikasi demam? 9 11


1. Demam Remiten atau Demam Tifoid.
Yaitu naik turun suhu rentang 1 derajat celcius, akan tetapi penurunannya tidak pernah
mencapai suhu normal.
2. Demam Intermen atau Demam Malaria.
Yaitu naik turun suhu, bisa mencapai batas normal.
3. Demam Kontinyu atau Demam Pneumonia.
Yaitu demam yang terjadi terus menerus dan disebabkan oleh infeksi bakteri.
4. Demam Bifasik atau Demam Berdarah.
Yaitu demam dengan bentuk pelana kuda.
5. Demam Pel-Ebstein atau Penyakit Hodgkin.
Yaitu demam lama 1 minggu diselingi dengan periode tidak demam dengan jumlah
ahri yang sama, dan siklus berulang.
Bagaimana mekanisme abnormalitas dari BP? 7 9
BP: 100/70 mmHg
Mekanisme: Batuk darah (2 gelas) pengeluaran darah berlebihan volume darah
berkurang darah yang dipompa oleh jantung menurun penurunan tekanan darah
prehipotensi.
Apa makna dari pemeriksaan HIV negatif? 7 9
Bagaiman hubungan HIV dengan TBC? (Mana yang duluan muncul?) 9 11
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas system daya tahan tubuh seluler (cellular
immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka
yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Orang
dengan HIV mempunyai risiko 10 kali terinfeksi TB dibandingkan bukan ODHA. Di lain
pihak, TB dapat mempercepat virus HIV memperbanyak diri sehingga juga akan
mempercepat perjalanan penyakitnya.
Interaksi HIV-TB
HIV:
- Melemahkan sistem imun tubuh.
- Terjadi deplesi limfosit sehingga kemungkinan untuk terinfeksi mikrobakteri
tuberculosis meningkat.
Mempermudah reaktivasi infeksi TB primer.
Mempercepat manifestasi TB.
TB:
- Terjadi saat awal infeksi HIV.
- Menurunkan sel-sel CD4.
-

Mempermudah infeksi oportunistik lainnya.


Perangsangan produksi TNF , IL-1, dan IL-6 yang mempermudah replikasi
virus HIV sehingga meningkatkan angka kematian PHA (Primary HIV/AIDS).
HIV dan M. tuberculosis keduanya merupakan patogen intraseluler yang

saling berinteraksi baik pada tingkat populasi, klinis, maupun seluler. ODHA
rentan terhadap TB. Progresivitas TB menjadi aktif sejak awal paparan lebih besar
pada ODHA (40%) dibandingkan dengan pada non ODHA yang kurang dari 0,1%
pertahun.
TB juga terbukti mempercepat perjalanan infeksi HIV. Angka mortalitas
pertahun dari HIV terkait TB yang diobati berkisar antara 20,35%. Angka
mortalitas HIV TB empat kali lebih tinggi dari pada angka mortalitas TB tanpa
HIV. Tingginya angka mortalitas diantara penderita TB disebabkan terutama oleh
infeksi HIV yang progresif, walaupun mortalitas dini ( dalam 3 bulan pertama)
kebanyakan disebabkan oleh karena TBnya sendiri. Tuberkulosis dapat muncul
pada setiap tahap infeksi HIV dan dengan presentasi yang bervariasi.
Apa faktor risiko dari kasus? 7 9
TB banyak terjadi di daerah dimana terdapat kemiskinan, kepadatan penduduk,
dan penyakit kronis yang menyebabkan debilitas. Orang yang berusia
lanjut,dengan daya tahan melemah, juga rentan terjangkit.
Apa manifestasi klinis dari kasus? 9 11

Gejala Respiratorik, meliputi :


Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan
bercampur darah bila sudah ada kerusakan jaringan.
Batuk Darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis
atau bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah
sangat banyak. Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat
ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang
pecah.
Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada
hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lainlain.

Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini
timbul apabila sistem persarafan di pleura terkena.

Gejala Sistemik, meliputi :


Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam
hari mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang
serangannya sedang masa bebas serangan makin pendek.
Gejala Sistemik Lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat
badan serta malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa
minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk, panas, sesak napas
walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pn

Chronic Pulmonary Infection (TBC)


TUBERKULOSIS PRIMER
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang

primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja
dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan
peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan
tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis
regional).Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai
kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai
berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis
fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara : Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya
Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian penekanan
bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar
sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan akibat
atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini
ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis
tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru
sebelahnya atau tertelan Penyebaran secara hematogen dan limfogen.Penyebaran ini
berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang
ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imunitas
yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti
tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran
ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang,
ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini
mungkin berakhir dengan :
-

Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang

pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau


Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer

TUBERKULOSIS PASCA-PRIMER
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian
tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15- 40 tahun. Tuberkulosis post primer
mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,
localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis

inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi
sumber penularan.Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang
umumnya terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus
inferior.Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib
sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tetapi segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri
menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam bentuk
perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali,
membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju
dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa).
Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti
sklerotik). Nasib kaviti ini :
Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang
pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan diatas.
Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula
aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed
cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya mengecil.
Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga
kelihatan seperti bintang (stellate shaped).

KLASIFIKASI TUBERKULOSIS

TUBERKULOSIS PARU
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura.
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi atas:
a) Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA
-

positif
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan

kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif


Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan

biakan positif
b)
Tuberkulosis paru BTA (-)
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik
-

dan kelainan radiologic menunjukkan tuberkulosis aktif


Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.
tuberculosis positif

Berdasarkan tipe pasien


Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu :
A. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
B. Kasus kambuh (relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan


tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
- Infeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan dahulu
antibiotik selama 2 minggu, kemudian dievaluasi.
- Infeksi jamur
- TB paru kambuh
Bila meragukan harap konsul ke ahlinya.
C. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatannya selesai.
D. Kasus gagal
- Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
-

positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan)
Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi

BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan


E. Kasus kronik / persisten
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik
Kasus Bekas TB:
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran
radiologik paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial
menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan

lebih mendukung
Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan
gambaran radiologik

TUBERKULOSIS EKSTRA PARU


Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.

Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi.


Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka
diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.
Manifestasi TBC
Gejala sistemik/umum:
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam
hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti
influenza dan bersifat hilang timbul
Penurunan nafsu makan dan berat badan
Perasaan tidak enak (malaise), lemah
Gejala khusus:
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara mengi,

suara nafas melemah yang disertai sesak.


Kalau ada cairan dirongga pleura

disertaindengan keluhan sakit dada.


Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya,

pada muara ini akan keluar cairan nanah.


Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut

(pembungkus

paru-paru),

dapat

sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi,


adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.