Anda di halaman 1dari 20

Arsitektur Kolonial Belanda

Pada
pengaruh

masa

penjajahan

Occidental

Belanda,

Indonesia

(Barat) dalam berbagai

segi

mengalami
kehidupan

termasuk dalam tata kota dan bangunan. Para pengelola kota dan
arsitek Belanda banyak menerapkan konsep lokal atau tradisional
dalam perencanaan dan pengembangan kota, permukiman dan
bangunan-bangunan, Wardani (2009).
Wardani (2009). Adanya pencampuran budaya, membuat
arsitektur kolonial di Indonesia menjadi fenomena budaya yang
unik. Arsitektur kolonial di berbagai tempat di Indonesia apabila
diteliti lebih jauh, mempunyai perbedaan-perbedaan dan ciri
tersendiri antara tempat yang satu dengan yang lain.
Arsitektur kolonial lebih banyak mengadopsi gaya neoklasik, yakni gaya yang berorientasi pada gaya arsitektur klasik
Yunani dan Romawi. Ciri menonjol terletak pada bentuk dasar
bangunan dengan trap-trap tangga naik (cripedoma). Kolom-kolom
dorik, ionik dan corinthian dengan berbagai bentuk ornamen pada
kapitalnya. Bentuk pedimen, yakni bentuk segi tiga berisi relife
mitos Yunani atau Romawi di atas deretan kolom. Bentuk-bentuk
tympanum (konstruksi dinding berbentuk segi tiga atau setengah
lingkaran) diletakkan di atas pintu dan jendela berfungsi sebagai
hiasan.
Arsitektur kolonial merupakan arsitektur yang memadukan
antara budaya Barat dan Timur. Arsitektur ini hadir melalui karya
arsitek Belanda dan diperuntukkan bagi bangsa Belanda yang
tinggal di Indonesia, pada masa sebelum kemerdekaan. Arsitektur
yang hadir pada awal masa setelah kemerdekaan sedikit banyak

dipengaruhi oleh arsitektur kolonial disamping itu juga adanya


pengaruh dari keinginan para arsitek untuk berbeda dari arsitektur
kolonial yang sudah ada. Safeyah ( 2006).
Arsitektur klonial Belanda adalah gaya desain yang cukup
popular di Netherland tahun 1624-1820. Ciri-cirinya yakni (1) facade
simetris, (2) material dari batu bata atau kayu tanpa pelapis, (3)
entrance mempunyai dua daun pintu, (4) pintu masuk terletak di
samping bangunan, (5) denah simetris, (6) jendela besar berbingkai
kayu, (7) terdapat dormer (bukaan pada atap) Wardani, (2009).
Arsitektur kolonial adalah arsitektur cangkokan dari negeri
induknya Eropa kedaerah jajahannya,

Arsitektur kolonial Belanda

adalah arsitektur Belanda yang dikembangkan di Indonesia, selama


Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda sekitar awal abad 17
sampai tahun 1942 (Soekiman,2011).
Eko

Budihardjo

(1919),

menjelaskan

arsitektur

kolonial

Belanda adalah bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda


seperti benteng Vastenburg, Bank Indonesia di Surakarta dan masih
banyak lagi termasuk bangunan yang ada di Karaton Surakarta dan
Puri Mangkunegaran.
Kartono (2004) mengatakan bahwa sistem budaya, sistem
sosial,

dan

sistem

teknologi

dapat

mempengaruhi

wujud

arsitektur. Perubahan wujud arsitektur dipengaruhi oleh banyak


aspek, akan tetapi perubahan salah satu aspek saja dalam
kehidupan masyarakat dapat mempengaruhi wujud arsitektur.
Arsitektur kolonial Belanda merupakan bangunan peninggalan
pemerintah Belada dan bagian kebudayaan bangsa Indonesia yang
merupakan aset besar dalam perjalanan sejarah bangsa.

Pada zaman sebelum ekspansi Jepang pada Perang Dunia II,


kota-kota di Indonesia terutama kota besar mengalami krisis
perumahan.

Gejalanya semua sama di mana-mana yaitu sewa

mahal, sangat padat, pemeliharaan rumah sangat kurang, sanitasi


buruk. Hal ini juga terjadi di Surabaya. Pada tahun dua puluhan,
perusahaan kereta api akan mengembangkan usahanya di daerah
Wonokromo, lima kilometer dari pusat kota Surabaya.

Darmo,

daerah yang tidak jauh dari sana dipilih untuk lokasinya; pada saat
itu masih kosong dan harga tanahnya murah.
Atas permintaan tersebut daerah Darmo akan dijadikan
daerah

permukiman,

dan

menunjuk

Maclaine

Pont

sebagai

perencananya. Daerah tersebut dibatasi Sungai Kalimas di sebelah


Timur dan sebuah sungai kecil yang menjadi cabang Sungai Kalimas
di ujung Selatan daerah ini. Seperti diketahui Kalimas membelah
kota Surabaya menjadi dua bagian. Untukpengembangan kawasan
Darmo, ia lebih banyak menerapkan konsepsi klasik Eropa dengan
sumbu-sumbu dibentuk oleh jalan, bulevar maupun taman. Sampai
sekarang masih terlihat adanya dua sumbu utama pada kawasan
ini.

Yang pertama dimulai pada ujung Selatan, dengan sebuah

taman luas yang sekarang menjadi kebun banatang, berikutnya


sebuah jalur hijau berbentuk oval, dan dilanjutkan dengan sebuah
taman lagi yang memanjang; ketiganya membentuk sumbu TimurUtara dan selatan-Barat.

Tegak lurus pada hamper ujung taman

yang disebut terakhir, terdapat sumbu kedua, juga terdiri dari


taman-taman luas dan jalan raya.

Selain berfungsi sebagai

penghijauan, beberapa di antara taman-taman tadi dipergunakan


untuk lapangan olahraga.

Seperti pada kota-kota besar lainnya, pada saat itu di


Surabaya system transportasi umum menggunakan trem. Sebelum
berakhir pada Stasiun trem Darmo yang terletak di sebelah Barat
kebun binatang, jalur trem melalui Jalan Diponegoro dan Jalan Raya
Darmo. Sayang system transportasi yang sampai sekarang masih
banyak dipergunakan di kota-kota besar di negara-negara maju di
Eropa, sudah sejak tahun enam puluhan dihilangkan. Stasiun trem
Darmo sekarang digunakan untuk terminal bis dan angkutan umum
kota.
Selain pada kedua sumbu tersebut, banyak jalan-jalan lainnya
lurus, melengkung atau berbelok-belok mengikuti bentuk kedua
sungai yang membatasinya.

Kalau kita perhatikan lebih jauh,

sumbu-sumbu dan jalan-jalan di kawasan Darmo tidak mengikuti


arah mata angin Utara, Selatan, Barat maupun Timur, tetapi pada
arah Barat Daya, Timur Laut, Barat Laut dan Tenggara. Hal tersebut
memungkinkan rumah-rumah di sana tidak menghadap langsing
arah matahari (Timur-Barat).
Sekarang

sudah

banyak

taman-taman

dan

ruang-ruang

terbuka yang banyak memberikan kesegaran, hilang karena di


tempat tersebut telah didirikan berbagai bangunan.

Namun

demikian

daerah

daerah

Darmo

yang

mulanya

merupakan

pinggiran, sampai saat ini tetap menjadi daerah nyaman, enak


untuk

digunakan

sebagai

tempat

tinggal,

sehingga

menjadi

kawasan yang termasuk elite dan mahal di wilayah kota Surabaya.


Ketika ia (Herman Thomas Karsten) tiba di Indonesia, sejak
tahun 1903 sudah ada beberapa aktivitas local dalam bidang
perencanaan kotal

Aktivitas tersebut merupaka pelaksanaan dari

politik desentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah

dalam pengembangannya.

Pada awal abad ini kota-kota mulai

berkembang dengan pesat, dimana salah satu sebabnya adalah


tumbuh

dan

berkembangnya

perkebunan

dan

industrialisasi.

Sebagai akibatnya penduduk terlalu padat, keadaan kota semakin


buruk, terutama dalam hal sanitasi dan pengadaan air minum.
Dalam situasi kota-kota di Indonesia seperti itu, Thomas
Karsten

diangkat

perencanaan

kota

pekerjaan umum.

menjadi

penasehat

Semarng,

bekerja

otoritas
sama

local

dengan

untuk
jawatan

Selanjutnya Karsten menjadi bagian dalam

kelompok orang-orang Belanda, pendukung kemerdekaan untuk


Indonesia.

Ia memperlihatkan perhatiannya yang besar kepada

penduduk asli dan kebudayaannya, terutama dalam arsitektur dan


tata ruang kota. Sejalan dengan pendapat Maclaine Pont, dalam
salah satu tulisannya ia mengatakan adanya integritas antara
kebudayaan setempat dengan kebudayaan Barat.

Perhatiannya

yang besar terhadap kebudayaan setempat dalam hal ini Jawa,


terlihat

dalam

keanggotaannya

dalam

berbagai

perkumpulan

kesenian Jawa, bahkan menjadi salah seorang pendiri Institut de


Java.
Dalam kapasitasnya sebagai penasehat, ia menyusun suatu
paket lengkap untuk perencanaan, berbagai kota, dimana di
dalamnya terdapat perencanaan kota (town-plan), rencana detail
(detail plan) dan peraturan bangunan (building regulation). Di Jawa
ia merencanakan Sembilan dari Sembilan belas otoritas local yaitu
Semarang,

Bandung,

Baravia

(Jakarta),

Magelang,

Malang,

Buitenzorg (Bogor), Madiun, Cirebon, Meester Cornelis (Jatinegara)


dua kota kerajaan Yogyakarta, Surakarta, dan kota kecil Purwokerto.

Di Sumatra, ia menjadi penasehat kota-kota Palembang, Padang,


Medan, dan di Kalimantan untuk kota Banjarmasin.
Masyarakat pada zaman colonial secara garis besar dapat
digolongkan menjadi tiga kelompok atau suku bangsa yaitu:
Indonesia, Cina, dan Belanda.

Dikatakan bahwa pendekatan

perencanaan yang cocok adalah mengingat berbagai perbedaan


penghasilan, perkembangan, dan persyaratan lainnya.

Karsten

menentang dan tidak mengikuti pembagian lingkungan tempat


tinggal berdasarkan suku yang sudah berlangsung sangat lama dan
menjadi tradisi.

Menurutnya pembagian harus berdasarkan pada

kelas ekonomi.
Rencana pengembangan dan perluasan kota Semarng, adalah
pengalaman praktisnya yang pertama.

Ia menerapkan prinsip

perencanaan kota, penzoningan, tingkatan atau hierarki jalan-jalan


seperti di Eropal Selain itu perencanaannya juga mengacu kepada
rencana pemerintah kota yang sudah ada sebelum ia dating.
Pengaruh Karsten dalam pengembangan kota adalah adanya
pembagia lingkungan yang tidak lagi berdasarkan suku, tetapi
berdasarkan kelas ekonomi yaitu tinggi, menengah, dan rendah.
Semarang terletak di pantai Utara Jawa Tengah, berudara
panas lembab dan banyak tanah berawa.

Situasi demikian,

membuat kondisi kehidupan buruk, terutama di kampong-kampung


yang tidak pernah mendapat perbaikan berarti dari otoritas local.
Sudah ada beberapa rencana lama, tetapi tidak cocok lagi maka
pada tahun 1916 dengan bekerja sama denga ahli-ahli setempat
diminta untuk merencanakan pengembangan kota. Pada masa itu
Candi, suatu kawasan kota di Selatan kora Semarang yang berbukitbukit (altitude 80 m), udara sejuk dan pemandangan indah, belum

tersentuh urbanisasi.

Atas kearifan dua orang pemiliknya tanah

seluas 50 jektar dapat dikuasai oleh otoritas lokal. Setelah wilayah


Candi

dikuasai

pemerintah,

pengembangan

kota

Semarang

diarahkan ke Selatan.

Karsten membaginya ke dalam tiga zona,

dengan

pada

mendasarkan

karakteristik

topografi

dan

flora.

Mengenai tipe bangunan, seperti telah dikatakan di atas, ia


menerapkan konsep pengelompokan berdasarkan tingkat ekonomi.
Selanjutnya

ia

juga

diminta

untuk

meremcanakan

pemngembangan daerah Pekundan dan Peterongan yaitu wilayah


yang dimiliki secara pribadi oleh dua orang. Bersama dengan ahliahli setempat pada tahun 1919, membuat pengembangan lainnya
di Sompok dan Semarang bagian timur.
Dalam perencanaan daerah Candi, pengaruh gaya Eropa
cukup dominan terutama konsep Garden City, terlihat pada
adanya taman umum dan halaman pada setiap rumah.

Untuk

perletakan rumah, taman umum dan ruang terbuka, Karsten


mengikuti sejauh mungkin keadaan topografi, kemiringan dan
belokan-belokan yang ada. Pembagian tanah dan arah jalan yang
hanya terdiri dari dua kategori (jalan utama dan jalan sekunder),
selain mengikuti keadaan tanah juga dibuat sedemikian rupa
sehingga rumah-rumah dan taman-taman umum dapat menikmati
pemandangan indah ke laut di sebelah Utara.
Pada tahun 1930, Karsten diangkat menjadi penasehat dalam
perencanaan kota Malang di Jawa Timur dimana ia membuat satu
paket rencana pengembangan dan satu paket lagi mengenai
peraturan bangunan.

Dengan demukuan merupakan salah satu

kota yang pengembangannya dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip Town Planning-Bill.

Pada beberapa tahun terakhir waktu itu kota berkembang


sangat cepat karena fungsunya sebagai pusat perdagangan di Jawa
Timur.
Eropa

Keadaan ini banyak menarik para pengusaha baik orang


maupun

Indonesia,

sehingga

dalam

waktu

25

tahun

penduduknya berkembang berlipat. Oleh karena itu perlu disusun


rencana kota di dalamnya mencakup land-use(guna-tanah) untuk
semua bagian wilayah kota.
oleh

Karsten

menyelesaikan

Rencana jangka panjang tambahan

mencakup

usulan

perluasan

masalah

ekspansi

illegal.

pinggiran

untuk

Termasuk

juga

pengembangan jaringan jalan yang sekaligus membentuk struktur


kota, selain pembuatan jalan baru juga perbaikan dan pelebaran
jalan. Jalan-jalan tidak haya lapang, tetapi juga berfungsi sebagai
ruang terbukan dan menjadi bagian dari pertamanan kota.
Dalam pengembangan kota, ruang terbuka untuk umum dan
pertamanan

mempunyai

peranan

penting.

Karsten

meremcanakansungai yang mengalir melewati kota difungsikan


sebagai ruang terbuka untuk masa dating.

Ia juga banyak

membangun taman untuk olahraga maupun rekreasi pada daerah


sebelah Timur kota Semarang, di mana banyak terdapat rumahrumah villa (rumah mewah). Kampung-kampung dilokasikan pada
daerah Utara dan Selatan.

Di beberapa tempat kampong dan

perumahan lebih baik ditempatkan berdekatan satu sama lain.


Kampung-kampung menempati area cukup luas, untuk itu harus
diperhatikan agar setiap area dapat berkembang menjadi unit social
yang lengkap. Rumah-rumah villa dan tipe lebih kecil, dilokasikan
antara kampong sepanjang sungai dan jalan utama. Pada saat ini,
penataan kota Semarang, Malang, dan lain-lainnya oleh Karsten
masih membekas.

Magelang

di

Jawa

Tengah,

dahulu

menjadi

ibu

kota

Karesidenan Kedu terletak di dataran tinggi (altitude 375-500 m).


Udaranya sejuk, sangat disukai oleh orang-orang Belanda. Seperti
kebanyakan kota-kota di Indonesia, Magelang juga mengalami
masalah perkembangan penduduk yang cepat, menyebabkan
kurangnya
terutama

perumahan
di

dan

memburuknya

kampong-kampung.

Pada

kondisi

tahun

lingkungan

1937

Karsten

merencanakan salah satu dari tiga program pembangunan rumah


murah di kawasan yang sampai sekarang bernama Kwarasan di
bagian Selatan-Barat kota Magelang.
Untuk

menghindari

suasana

monoton,

sederhana

dan

ekonomis, rumah-rumah di Kwarasan, dibuat berbagai tipe. karena


letaknya di dataran tinggi, topografi kota Magelang berteras-teras.
Disesuaikan dengan kitinggian tanah dan tipe rumah lingkungan
perumahan Kwarasan dibagi tiga. Yang pertama dengan tipe paling
besar (sekitar 60-80 m2), terletak di sekeliling sebuah lapangan.
Lapangan terbuka ini, berfungsi sebagai pusat kawasan semacam
alun-alun dalam bentuk kecil, utnuk rekreasi, olahraga, dan ruang
terbuka.

Di bagian ini semua rumah menghadap ke jalan agak

besar, dan rumah-rumah sisi Timur lapangan berdiri pada tanah


tinggi.

Bagian kedua adalah padasebelah Utara juga pada

ketinggian, dimana dahulu mempunyai lapangan, tetapi lebih kecil


dari yang pertama (sekarang untuk kantor kecamatan).

Rumah-

rumah di sebelah Barat bagian kedua ini lebih kecil dan sebagian
dindingnya menggunakan asbes semen.

Rumah-rumah pada

bagian ini hanya mempunyai jalan kecil. Kota mendapaktan rumahruamh lebih kecil tetapi dengan sepenuhnya dari dinding bata, pada
daerah ketiga di sebelah Selatan lapangan utama.

Yang menarik diperhatikan di sini, selain adanya lapangan


yang

mendapat

inspirasi

dari

alun-alun

juga

rumah-rumah

meskipun kecil semua mempunyai halaman. Beberapa rumah (di


Selatan dan Utara) menggunakan arsitektur Jawa dengan atai
limasan pacul gowang, bentuk rumah untuk rakyat biasa atau
petani di pedesaan.

Tata Ruang pada Kawasan Ijen Boulevard,


Malang
~ Architecture ~
Letak Geografis dan Bentuk Kota Malang
Kota-kota kolonial di Jawa secara geografis selalu terbagi menjadi
kota Pasisir dan Kota Pedalaman. Malang sendiri merupakan kota
pedalaman. Letaknya yang cukup tinggi (450m diatas permukaan
laut)

serta

sekitarnya

yang

merupakan

daerah

perkebunan,

membuat kota ini menjadi sangat strategis, sekaligus juga indah.


Inilah salah satu modal bagi kota kecil di pedalaman ini untuk
tumbuh dengan cepat menjadi kota kedua terbesar di Jawa Timur
setelah Surabaya.
Rencana perkembangan kota Malang dan pengembangan wilayah
Ijen Boulevard merupakan salah satu perencanaan kota yang
terbaik di Hindia Belanda waktu itu. Tentu saja hal ini tidak luput
dari orang-orang yang ada dibalik rencana tersebut. Selain walikota
10

Malang yang pertama yaitu : H.I. Bussemaker (1919 - 1929) juga


tak bisa lepas dari peran perencana kota yang terkenal pada waktu
itu yaitu : Ir. Herman Thomas Karsten.
Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, perkembangan
yang pesat telah menggeser citra Malang sebagai kota terindah di
Hindia Belanda sebelum perang dunia kedua. Hal itu terjadi karena
kini telah bertebaran pusat - pusat perdagangan (commercial
centre) bernuansa modern yang penataan kawasannya cenderung
menghilangkan bangunan - bangunan kuno yang mempunyai nilai
sejarah. Namun, kawasan Ijen Boulevard tetap bertahan dengan
gaya Kolonialnya.
Pola

Tata

Ruang

Wilayah

dan

Peletakan

Wilayah Ijen Boulevard dan Sekitarnya

11

Bangunan

di

Pola Wilayah Malang Jaman Dahulu


Hampir sebagian besar kotakota di Jawa menggunakan alunalun
sebagai pusat kota atau sentral dari kota tersebut. Kota-kota
kolonial di Jawa antara th.1800 sampai tahun 1900 memiliki ciri
khas dengan alun-alun sebagai pusatnya. Bentuk-bentuk kotanya
juga ditujukan terutama pada kepentingan ekonomi. Dimana
kepentingan produksi pertanian serta distribusi memegang peran
penting dalam perekonomian Kolonial. Semua ini memerlukan
kontrol dalam sistim pemerintahan.

12

Pusat kontrol pemerintahan pada kota-kota kolonial di Jawa


ditempatkan

disekitar

alun-alun

kotanya.

Sehingga

semua

bangunan pemerintahan seperti kantor Assisten Residen, Kantor


Bupati, Penjara serta bangunan keagamaan seperti Masjid, Gereja
dibangun disekitar alun-alun. Jadi, alun-alun berfungsi sebagai
pusat kepentingan umum rakyat (Civic Center). Sedangkan pola
permukimannya

terbentuk

disekeliling

alun-alun

menurut

pengelompokan dari masyarakat majemuk yang menjadi penghuni


kotanya. Orang Belanda tinggal di dekat pusat pemerintahan serta
jalan - jalan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Orang Cina
yang sebagian besar merupakan pedagang perantara tinggal
disekitar pasar, yang disebut sebagai daerah Pecinan (suatu
wilayah yang mayoritas penghuni adalah warga Tionghoa atau
keturunan China), sedangkan orang Pribumi setempat tinggal di
gang-gang disekitar daerah alun-alun.
Seperti umumnya kota di Jawa, pada tahun 1914 pola permukiman
di Kota Malang dibagi menjadi permukiman Eropa, Timur Asing dan
pribumi. Perkembangan penduduk Eropa yang cepat di Kota Malang
menyebabkan permukiman orang Eropa kian menjauhi pusat kota.
Hal

ini

menyebabkan

Kota

Malang

berbentuk

seperti

pita

memanjang (ribbon shaped cities).


Penyebaran Pemukiman di Malang
Pola penyebaran permukiman di Malang sampai tahun 1914 adalah
sebagai berikut (Staadgemeente Malang 1914 - 1939):

13

1. Daerah permukiman orang Eropa terletak disebelah Barat daya


dari alun-alun, Taloon, Tongan, Sawahan dan sekitarnya, selain itu
juga terdapat disekitar Kayutangan,Oro-oro Dowo, Celaket, Klojenlor
dan Rampal,
2. Daerah permukiman orang Cina terdapat sebelah Tenggara dari
alun-alun (sekitar Pasar Besar). Daerah orang Arab disekitar
belakang Masjid,
3. Daerah orang Pribumi kebanyakan menempati daerah kampung
sebelah

Selatan

alun-alun,

yaitu

daerah

kampung:

Kabalen,

Penanggungan, Jodipan, Talon dan Klojenlor,


4. Daerah Militer terletak disebelah Timur daerah Rampal.
Luas wilayah kota Malang pada th. 1914 adalah 1503 HA,
sedangkan

jumlah

penduduknya

adalah

sebagai

berikut

(Staadgemeente Malang 1914-1939):


a. Penduduk Pribumi : kurang lebih 40.000 jiwa
b. Penduduk Eropa : kurang lebih 25.000 jiwa
c. Penduduk Timur Asing : kurang lebih 4.000 jiwa
Demikianlah gambaran kasar bentuk kota Malang, sampai tahun
1914, dengan alun-alun sebagai pusat serta pola jaringan jalan
yang berbentuk jejala (Grid) dan penyebaran daerah permukiman
yang ada disekitarnya.

14

Batas Alun-Alun Kota Malang


Alun-alun kota Malang itu sendiri terletak di sebelah selatan
kawasan Kayutangan. Di sekeliling alun-alun berdiri bangunanbangunan publik baik peninggalan belanda maupun bangunan
baru.
- Sayap utara alun-alun terdapat sebuah kantor pos dengan
arsitektur khas perkantoran zaman kolonial berdampingan dengan
Hotel Pelangi (dulu bernama hotel Concordia) yang juga sudah ada
sejak zaman Belanda.
- Sebelah barat, berdiri megah Masjid Jami berdampingan dengan
gereja yang dua - duanya sudah menjadi saksi bisu kota Malang
sejak zaman kolonial.
- Plaza Sarinah dan Gereja Kayutangan membentengi alun-alun di
sebelah selatan. Plaza Sarinah adalah bekas gedung bioskop
peninggalan Belanda.
- Sebelah timur alun - alun dihuni oleh gedung pemerintahan
kabupaten Malang dan Mall Alun-alun (Ramayana).
- Bergeser sedikit ke tenggara akan ditemui kompleks Plaza dan
pertokoan serta Pasar besar Malang.

15

Rencana kota Malang pada tahun 1920, yang dibuat oleh Ir. Thomas
Kartsen merupakan sebuah fenomena baru bagi perencanaan kota kota

di

Indonesia,

kaidah-kaidah

perencanaan

modern

telah

memberikan warna baru bagi bentuk tata ruang kota, seperti


penggunaan pola boulevard, bentuk-bentuk simetri yang menonjol
dan sangat disukai pada periode Renaisance. Tatanan ruang kota
Malang semula berpola radial, dengan alun-alun sebagai pusatnya
(alun-alun sebagai sentral). Namun seiring datangnya pengaruh
arsitektur kolonial, pola radial berangsur-angsur menjadi pola grid,
karena pola grid dinilai lebih baik dari segi kepentingan kolonialnya.
Grid memiliki pola yang tertata rapi sehingga dalam masa kolonial
hal ini benar-benar lebih menguntungkan.
Menguntungkan dalam artian, Pola grid tersebut lebih tertata, rapi,
lebih ekonomis dan efisien, serta dalam pembangunan pola grid
lebih cepat terealisasinya sedangkan dari segi sirkulasinya lebih
mudah untuk keluar masuk sarana transportasi saat itu, sehingga
tidak

menyebabkan

kemacetan.

namun

pola

grid

memiliki

kelemahan dimana pola grid tersebut hanya bisa dibangun pada


lahan yang datar, sehingga pola grid tidak bisa dibangunin pada
lahan bergelombang. Alun-alun sebagai sentral atau pusat kota
masih dipertahankan sesuai dengan konsep umum yang berlaku
bagi kota-kota kabupaten di Jawa pada masa kolonial waktu itu.
Di bagian barat kota Malang terhampar sebuah kawasan elite yang
dahulunya adalah tempat tinggal orang-orang kaya Belanda.
Rumah-rumah peninggalan belanda yang sampai sekarang masih
tetap dipertahankan gayanya berdiri megah lengkap dengan nama
dan tahun di depannya seperti; Anno 1320, Eleanor, Elizabeth dan

16

sebagainya. Rumah-rumah itu berdiri dalam blok-blok rapi yang


dibelah oleh jalan-jalan dengan pohon - pohon palem raksasa di
pinggirnya. Tatanan rumah-rumah elite pada kompleks ini langsung
berhadapan dengan jalan besar Ijen. Hal ini dikarenakan bangunanbangunan ini bersifat monumental.
Di kawasan inilah terdapat sebuah boulevard yang dulunya adalah
arena pacuan kuda yang pernah digunakan untuk Jambore Pandu
(pramuka) sedunia pada tahun 30-an. Ijen Boulevard yang terletak
di Jalan Ijen Kota Malang, begitu indah dan sejuk dipandang mata
karena wilayah ini merupakan kompleks elit orang Belanda dan dari
sisi desain lansekapnya sangat indah, menawan dan sangat
diperhitungkan sekali seperti komplek bangunan, pedestrian, jalan,
maupun median jalannya.
Tata bangunan di daerah Ijen Boulevard ini jika dilihat sekilas
mungkin terlihat berpola grid, seperti gaya tatanan kota kota Jawa
di jaman kolonial Belanda. Namun menurut Respati Wikantiyoso
(Ulasan Disain Urban Kawasan Idjen Boulevard). Pola grid sama
sekali tidak ditemukan pada pengembangan Ijen Boulevard, malah
pola di kawasan Ijen Boulevard lebih kepada pola linear dan simetri,
karena pola grid menghasilkan pola yang seragam, sehingga lebih
mudah dan lebih ekonomis. Penggunaan pola pola grid biasanya
digunakan pada daerah yang didominasi orang orang pribumi.
Unsur unsur lokalitas yang berkembang pada seni arsitektur
tradisional Indonesia tidak lagi digunakan pada pengembangan
daerah Ijen Boulevard ini.

17

Dahulu komplek bangunan di Jalan Ijen ini sangat kental dengan


bangunan Belanda pada umumnya. Namun sayangnya keadaan
bangunan banyak yang mulai berubah seiring perkembangan jaman
dan apa daya untuk mengembalikan seperti semula juga tidak
memungkinkan, hanya berharap kondisi asli yang masih bertahan
tetap dijaga oleh pemiliknya. Di sana juga terdapat Museum
Brawijaya Malang yang menghalangi pemandangan Gunung jika
kita datang dari arah Jalan Semeru.
Jika kita berjalan di area pedestrian di sepanjang jalan ini, sangat
terasa nyaman, sejuk, dan area pedestrian yang luas sehingga
terhindar dari kendaraan dari samping kanan. Pohon Palem
menghiasi sepanjang pedestrian di Jalan Ijen. Selain itu berbagai
vegetasi banyak ditanam di areal pedestrian baik dikelola oleh
pemilik bangunan maupun oleh Pemerintah Kota Malang.
Jika kita melewati jalan ini, kita akan disuguhi oleh jajaran pohon
palem raja dan median jalan yang penuh bunga dan perdu. Dengan
jalan yang cukup lebar kita bisa lebih luas menikmati pemandangan
dari kendaraan sewaktu melewatinya. Ijen Boulevard menjadi
magnet tersendiri bagi pengunjung yang melewatinya. Konon Ijen
Boulevard juga menjadi panduan bagi boulevard - boulevard yang
terkenal di dunia, karena banyak orang luar yang meneliti desain
boulevard ini.
Meskipun tatanan bangunan di wilayah ini cenderung terlihat
berpola grid, namun ada pula pola sentral yang tidak ditinggalkan
disini, pola sentral tersebut dapat kita lihat pada monumen Mayor
Hamid Rusdi. Dimana monumen tersebut menjadi titik pusat dan

18

banyak terdapat bangunan bangunan yang mengelilinginya.


Lokasi Monumen ini terletak di Jl. Simpang Balapan, Ijen Boulevard
Malang. Monumen ini didirikan atas gagasan dan inisiatif pihak TNI
KOREM 083 Baladhika Jaya untuk mengenang jasa-jasa Mayor
Hamid

Rusdi

dalam

mewujudkan

Kemerdekaan

Indonesia.

Diresmikan pertama kali pada 10 November 1975 di persimpangan


jalan antara Jl. Semeru dan Jl. Arjuna. Namun kemudian dengan
seiring

keberhasilan

Kota

Malang

dalam

meraih

dan

mempertahankan Piala Adipura untuk yang kesekian kalinya, maka


keberadaan monument Hamid Rusdi digantikan oleh Monumen
Adipura Kencana. Kemudian Monumen Hamid Rusdi dipindahkan ke
Areal Taman Rekreasi Sena Putra Malang. Sekarang ini Monumen
Hamid Rusdi berada di Simpang Balapan atau Ijen Boulevard.
Monumen Hamid Rusdi ini bersifat sebagai alun alun dari wilayah
Ijen. Ini merupakan salah satu lokalitas yang tidak ditinggalkan oleh
pemerintahan Belanda.
Seiring dengan perkembangan jaman dan perubahan arus global,
kawasan

kawasan

Ijen

mulai

semakin

dipadati,

sehingga

keindahan yang dulu didapat dan dengan mudah dilihat, tidak dapat
lagi dinikmati dengan mudah, karena memang ramai dan bangunan
bangunan pribumi mulai masuk dan merusak keindahan kawasan
bangunan bangunan peninggalan Kolonial Belanda.

DAFTAR PUSTAKA
Sumalyo, Yulianto. 1995. Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia.
Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

19

http://vikhramaditya.blogspot.com/2012/02/tata-ruang-pada-kawasanijen-boulevard.html

20