Anda di halaman 1dari 14

Mata Kuliah : Mekanika Batuan

Nama Kelompok :
1. Sutrisno

DBD 114 091

2. Ade Anugrah Saputra DBD 114 137


3. Jupriarto Yahya

DBD 114 170


RESUME BAB IV
PERILAKU BATUAN

4.1. Pendahuluan Perilaku Batuan


Secara mekanik batuan mempunyai perilaku yang berbeda-beda pada
saat menerima beban dan dapat diketahui melalui perilaku konstitutif atau
kurva tegangan renggangan yang diperoleh melalai uji kuat tekan, kuat geser,
uji kriaksial dan kuat tarik yang dilakukan dilaboraturium. Jika pengujian
laboratorium dilakukan dengan tegangan konstan terhadap fungsi waktu maka
akan diperoleh kurva rayapan (creep). Sedangkan kurva relaksasi akan
diperoleh jika pengujiannya dilakuakan pada regangan konstan terhadap
fungsi waktu.
4.2. Perilaku Kurva
Untuk mengetahui dasar perilaku batuan terhadap beban sebenarnya
dapat diperoleh dari kuat tekan yang digambarkan oleh Bienniawski(1967)
seperti ditunjukan oleh gambar 4.1. Pada tahap awal batuan dikenakan gaya,
kurva berbentuk landai dan tidak linier yang berarti bahwa gaya yang
diterima oleh batuan dipergunakan untuk menutup patahan awal (pre-existing
cracks) yang terdapat didalam batuan.
Proses terjadinya perambatan rekahan mikro didalam batuan pada
rayapan identik dengan proses runtuhan yang terjadi pada uji kuat tekan
uniaksial yaitu :

Penutupan rekahan (closing of crack)


Deformasi elastis sempurna (perpectly elastic deformation)
Perambatan rekahan stabil (stable fracture propagation)
Perambatan rekahan tidak stabil (unstable fracture propagation

4.3. Definisi
Material elastik adalah sebuah reologi ideal dimana regangan terjadi
akibat adanya tegangan dan aka pulih kembali saat tegangannya kembali ke
nol. Kasus khusus pada material elastik adalah dimana hubungan antara
tegangan dan renggangan merupakan garis lurus dengan nilai modulus young
atau modulus geser konstan.
Material viskos adalah sebuah kondisi material idealn dimana tegangan
yang bekerja pada material akan mengakibatkan sebuah laju regangan dan
mengalir. Kasus khusus adalah sebuah material viskos linear dengan nilai
viskositas konstan dan sering disebut sebagai fluida viskos.
Reologi plastik adalah sebuah mekanisme deformasi bergantung waktu
seperti pergerakan dislokasi twinning dan rayapan.
Getas (brittle) adalah mekanisme bergantung tegangan dan seringnya
melibatkan proses nukleasi pengembangan dan tumbunan serta tabrakan dari
sebuah dilantansi rekahan.
Perubahan getas duktil adalah istilah yang banyak digunakan untuk
menggambarkan suatu perubahan dari patahan menuju aliran pada kerak
bumi, juga digunakan untuk menggambarkan perubahan bentuk kepermukaan
yang rata.
Deformasi kataklastik adalah sebaran lokasi dilantansi bisa pada suatu
daerah atau melalui masa batuan, dapat mengakomodasi regangan besar
(duktil) dengan mekanis getas.
Duktil adalah sebuah kapasitas suatu batuan untuk mempertahankan
aliran atau perpindahan besar melalui mekanisme perpindahan yang spesifik

yang kejadian ini (kataklasis getas atau rayapan plastic) tidak secara khusus
didefinisikan.
Material plastic adalah suatu bentuk reologi ideal yang mengandung
perilaku dua gaya dibawah suatu kondisi tegangan, tidak ada perpindahan
jikja tegangan lebih kecil dari suatu batas spesifik.
4.4. Analisis tegangan renggangan
Cara untuk menghubungkan tegangan dan renggangan dalam sebuah
material yang dibebani digambarkan secara kualitatif oleh perilaku konstitutif
(constitutive behavior) batuan tersebut.
Dalam setiap model konstitutif tegangan dan rengangan atau beberapa
kuantitas berifatif seperti laju tegangan dan laju regangan dihubungkan
melalui persamaan konstitutif. Elastisitas adalah perilaku konstitutif yang
paling umum untuk material rekayasa, termasuk banya batuan, dan
membentuk dasar yang berguna untuk penjelasan perilaku yang lebih
kompleks.
4.4.1. Hubungan Tegangan () dan Regangan () untuk Perilaku Batuan
Elastic Linear dan Isotropik
Secara sederhana hubungan antara tegangan dan regangan bagi perilaku
batuan elastic linear dan bersipat isotropic.
Dalam bentuk umum hubungan dan pada arah sumbu utamanya(arah
principal) maka ketiga persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.
N= 1 + 2 + 3
I bervariasi dari 1 sampai 3

4.4.2. Hukum hooke hubungan tegangan regangan


Sipat isotropic material secara langsung ditentukan oleh elemen-elemen
off diagonal apakah sebuah regangan normal atau geser akan dihasilkan oleh
sebuah tegangan geser atau normal.
4.4.3. Material Elastik Isotropik
Seperti sudah diberikan pada persamaan sebelumnya bahwa sesuai
dengan bentuk umum hukum hooke hubungan regangan dan tegangan
material elastic isotropic pada tiga sumbu untuk material elastic isotropic.
4.4.4. Material Orthotropik
Apabila kita mengasumsikan bahwa didalam suatu material terdapat tiga
bidang simetri elastic xoz, yoz, xoy, maka material ini dikenal sebagai
material orthotrop.
4.4.5. Material elastic isotrop transverse
Contoh material yang mempunyai sipat elastic isotropic transverse adalah
material berlapis artificial dan batuan-batuan berlapis seperti serpih (shale).
4.5. Hubungan dan pada bidang untuk perilaku batuan elastic linear dan
isotrop
Untuk menyederhanakan perhitungan hubungan antara tegangan dan
rengangan maka dibuat model dua dimensi dimana pada kenyataannya adalah
tiga dimensi.
Model dua dimensi yang dikenal adalah

Regangan bidang (plane strain)


Tegangan bidang (plane stress)
Symmetrical revolution

4.5.1.Renggangan Bidang (plane strain)


Misalkan sebuah terowongan yang mempunyai system sumbu kartesian
x,y,dan z dipotong ole sebuah bidang dengan sumbu x,y.
4.5.2.Tegangan Bidang (plane strees)
Pada tegangan bidang maka seluruh tegangan pada salah satu sumbu
sama dengan nol. Penyelesai permasalahan mekanika batuan problem planar
dengan plane stress.
4.5.3. Axisymetric
Jika sebuah benda berbentuk silinder diputar pada sumbunya mak benda
tersebut dapat diwakili oleh sebuah bidang. Karena sumbunya merupakan
sumbu simetri maka benda tersebut cukup diwakili oleh bidang yang diaksir

4.5.4. Contoh Metode Perhitungan


Analisis dengan FEM

Untuk memperkirakan depormasi yang terjadi pada permukaan tanah


Medol dianggap sebagai suatu masa yang continue dua pendekatan
analisis yaitu, penurunan tekanan hidrostatis lumpur hingga adanya

rongga (capity) bawah tanah.


Model analisis
Model axisymetric
Model plainstrain
4.6. Kekuatan Jangka Panjang
Menurut ASTM (amerika standar of testing and material) D 440684 (reapproved 1989), rayapan (creed) didefinisikan sebagai
renggangan atau reformasi bergantung terhadap waktu yang terjadi
sebagai akaibat adanya tegangan axial konstan. Pada batuan , rayapan
dapat dilihat sebagai penomena proses terjadinya dan penambahan
renggangan sebagai akibat adanya pembebanan konstan secara terus

menerus selama suatu kurun waktu tertentu rayapan juga dapat terjadi
karena adanya pengaruh suhu (Kraus,1980).
Beberapa definisi kekuatan jangka panjang menurut berbagai
peneliti terdahulu adalah fundamental strength (griggs,1939), true
strength (Phillips, 1948), time safe stress (potts,1964), longterm
strength (price, 1960) dan time dependent strength. Nilai kekuatan
jangka panjang batuan tergantung pada laju pembebanan yang
diberikan pada saat pengujian.
Metode lansung, dikenal sebagai uji rayapan, yang berdasarkan
pada metode pembebanannya dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Beban konstan
Pada prinsipnya adalah memberi beban konstan yang berbeda-beda
pada beberapa contoh dan nilai beban konstan tertinggi hingga wakti
yang ditentukan tidak terjadi runtuhan diambil sebagai kekuatan jangka
panjang (lama dan vutukuri, 1978).
2. Beban konstan multitahap
Pada metode ini hanya diperlukan satu contoh dan dibebani secara
bertahap. Dengan bantuan analisa rayapan akan didapatkan persamaan
reologi pada masing-masing tahap pembebanan. Kelemahan metode ini
adalah adanya pengaruh beban pada tahap pembebanan sebelumnya dan
batuan suadah mengalami deformasi terlebih dahulu sehingga kekuatan
batuan sebenarnya suadah mengalami penurunan.
3. Metode rayapan primer
Metode ini mengasumsikan bahwa kuat tekan jangka panjang
dinyatakan dengan tingkat tegangan dimana hanya terjadi rayapan
primer (transient creep) dan laju rayapan sekunder adalah nol.

Wawersik (1972) mengatakan bahwa penentuan kekuatan jangka


panjang dengan metode langsung membutuhkan waktu lama dan biaya
cukup besar.
Perambatan rekahan pada batuan dibawah beban uniaksial
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu stabil dan tidak stabil. Pada
perambatan rekahan stabil, suadah mulai terdapat rekahan mikro namun
masih bersipat elastic dan proses runtuhan merupakan fungsi dari beban
sampai batas luluh (yield) sehingga penomena yang terjadi masih dapat
dikontrol. Namun pada perambatan rekahan tidak stabil , rekahan mikro
akan mulai berkembang secara luas , batuan akan mengembang dan
perambatan rekahan tidak dapat dikontrol.
Beberapa metode tidak langsung diantaranya adalah :
1. Metode dilatansi
Metode ini didapatkan dari hasil pengujian kuat tekan uniaksial.
Kuat tekan jangka panjang atau tingkat rekahan merayap (creep
fracture level) adalah tegangan pada saat mulai terjadi perambatan
rekahan tidak stabil, yang dicirikan dengan mulai meningkatnya
regangan volume pada kurva tegangan regangan dan berlanjut
hingga mengalami penurunan.
2. Metode log tegangan log regangan
Berdasarkan pada prinsip metode dilatansi dari pengujian kuat
tekan uniaksial dibuat kurva hubungan antara log tegangan log
regangan aksial dan didapatkan tiga garis lurus dengan kemiringan
yang berbeda sehingga didapatkan dua titik pertemuan.
3. Metode laju pembebanan
Didapatkan dari hasil pengujian kuat tekan uniaksial dengan laju
pembebanan konstan serta deformasi aksial dan lateral selama
pembebanan dicatat secara kontinyu dan simultan. Kurva linear

ditunjukan

dalam

kurva

tegangan

dan

deformasi

aksial

mempresentasikan deformasi elastic.


4.6.1. Proses rayapan
Tahap regangan elastic seketika (OA) terjadi segera sesaat setelah
pembebanan diberikan.Selanjutnya diikuti oleh tahap terjadinya
rayapan primer atau rayapan sementara, dimana laju regangan
berkurang terhadap waktu. Berbeda dengan dua tahap deformasi
sebelumnya. Rayapan tersier tidak menunjukan proses deformasi
murni melainkan menggambarkan keruntuhan yang cepat.
4.6.2. Faktor yang mempengaruhi rayapan
4.6.2.1. Jenis beban
Dalam pengujiannya percepatan rayapan diberikan ditingkatkan sedikit
demi sedikit hingga tercapai rayapan tersier. Sebelum contoh
runtuh ada tanda-tanda keruntuhan yang ditujukan oleh pengukur
deformasi. Sedang pada beban tarik tidak ada, rayapan tersier
terjadi begitu cepat tidak ada tanda tanda sebelum terjadi
keruntuhan.
4.6.2.2. Tingkat tegangan
Besarnya rayapan sangat tergantung kepada tegangan awal yang
diterimanya.Jika tegangan yang diterima kecil maka regangan yang
terjadi terlampau kecil.Jika tegangan yang diberikan besar dapat
diharapkan bahwa kurva akan langsung menuju tahap tersier dan
disusul dengan keruntuhan dan tahap ini berlangsung sangat cepat.
4.6.2.3. Kandungan Air Dan Tingkat Kelembapan
Batuan Alabaster yang dicelupkan dalam larutan HCI dan
kecepatan rayapan lebih cepat dibanding dalam air
kelarutannya lebih kecil tapi bukan fungsi waktunya.

walaupun

4.6.2.4.Faktor Struktur
Lacomte (1965) meneliti pengaruh ukuran butiran terhadap
perilaku rayapan pada batu garam (salt rock), peningkatan ukuran butir
mengurangi kecepatan rayapan.
4.6.2.5.Temperature
McClain dan Bradshaw (1970) mempelajari rayapan dengan
pengaruh panas pada pilar batugaram . Pada pengujiannya pemanasan
dilakukan secara bertahap dan hasilnya menunjukan peningkatan laju
regangan sampai 100 kali.
Demikian juga halnya dengan Kuznetsov dan Vashcillin (1970)
yang menguji rayapan batu pasir menyatakan bahwa deformasi rayapan
sekunder akan meningkat dengan meningkatnya temperature.
4.6.3. Persamaan Empirik Rayapan
Menganalisis

perilaku

rayapan

untuk

mendapatkan

persamaan

pendekatan terhadap kurva regangan waktu hasil pengujian dilakukan


dengan pendekatan empiris.
Pendekatan empiris rayapan adalah pendekatan bentuk kurva regangan
waktu tanpa memasukan parameter sipat-sipat fisik dari material, dan hanya
pendekatan secara matematik terhadap plot data hasil pengujian rayapan.
Hasil pendekatan proses rayapan dengan cara empiris tidak adapat
member gambaran parameter lain kecuali regangan terhadap waktu. Maka
persamaan umum rayapan sampai dengan rayapan fungsi pangkat bias
digunakan untuk evaluasi data hasil uji rayapan triaksial yang berupa
hubungan perpindahan terhadap waktu.

4.6.4. Model Reologi


Metode lain dalam menganalisis perilaku rayapan dapat dilakukan
dengan mengunakan rheologi. Reologi adalah ilmu yang membahas
fenomena aliran atau deformasi dari suatu zat, yang merupakan studi
mengenai perilaku rayapan atau regangan sebagai fungsi waktu dalam
padatan dan cairan. Secara umum bentuk reologi dapat dibagi menjadi ,

Bentuk sederhana yang dibangun oleh elemen-elemen dasar tunggal.


Bentuk kompleks yang merupakan kombinasi dari beberapa elemen
dasar yang dapat dihubungkan secara seri, parallel, maupun
gabungan keduanya.

Sedangkan model reologi disusun oleh elemen-elemen dari perilaku


mekanik seperti elastisitas, viskositas dan plastisitas. Elemen-elemen dasar
tersebut adalah ,

Pegas, yang mewakili perilaku elastic.


Peredam kejut (dash pot), yang mewakili perilaku viskos.
Tahanan gesek pada benda bergerak, yang mewakili perilaku
plastis.

Sistem ini hanya mewakili perilaku mekanik material pada kondisi


pengujiannya, dan tidak mewakili perilaku material sebnarnya secara
umum. Model reologi untuk rayapan dapat dibagi dalam dua bagian yaitu,
model sederhana dan model kompoleks.

Model sederhana
Hooke (elastic)
Newton (viskos)
Plastik sempurna
Model kompleks
Kelvin
Maxwell, dan
Burger

Model burger adalah model kompleks yang paling banyak digunakan


untuk menjelaskan perilaku batuan sedimen karena dianggap mampu
mengakomodasi tahapan dalam rayapan.
4.6.4.1. Reologi sederhana hookean elastic
Benda yang mengiikuti hukum hooke secara sempurna, memiliki
hubungan antara tegangan-tegangan () dan Regangan ().
4.6.4.2. Reologi sederhana Newtonian- viscous sempurna
Model ini mewakili perilaku mekanik material yang bersifat viskos
sempurna, disimulasikan oleh bentuk sebuah peredam kejut (dash pot).
Model elastik dan plastik sempurna mengabaikan pengaruh waktu dan suhu
terhadap perilaku material. 4.6.4.2. Reologi sederhana Newtonian- viscous
sempurna.
4.6.4.3. Reologi sederhana Newtonian- viscous perfect pure
Matrial viscous dapat menghasilkan gaya geser berbanding lurus
dengan perubahan renggangan.
4.6.4.4. Reologi sederhana plastic sempurna
Model ini mewakili perilaku mekanik material yang bersipat plastic
sempurna, disimulasikan berupa frictional contact sebuah beban W yang
diletakan pada permukaan yang memiliki koefisien gesekan tetap.
4.6.4.5. Reologi kompleks Maxwell - elasto viscous
Model ini mewakili perilaku mekanik material yang bersipat viskoelastik, disimulasikan oleh rangkaian seri dari dua elemen dasar berupa
pegas yang bersipat elastic dan peredam kejut yang bersipat viskos, dengan
kurva tegangan renggangan berupa garios lurus dengan kemiringan yang
dimulai tidak dari nol, melainkan dari suatu nilai renggangan seketika
tertentu.

4.6.4.6. Reologi kompleks st. Venent-Elasto Plastik sempurna


Model ini mewakili perilaku mekanik material yang bersipat elasto
plastic, disimulasikan oleh rangkaian seri dari dua elemen mendasar berupa
pegas yang bersipat elastic dan frictional contact yang bersipat plastic.
4.6.4.7. Reologi kompleks Kelvin/voigt-firm viscous
Model ini mewakili perilaku mekanik material yang bersipat firmoviskos, disimulasikan oleh rangkaian paralel dari dua elemen dasar berupa
pegas yang bersipat elastic dan peradam kejut yang bersipat viskos.
4.6.4.8. Reologi kompleks generalized Kelvin
Model Kelvin yang dibahas sebelumnya memiliki kekurangan yaitu,
tidak menampakan renggangan elastik seketika, sebagaimana yang
umumnya terlihat dalam kurva rayapan material. Model ini disebut Kelvin
umum atau model nakamura (1949).
4.6.4.9. Reologi kompleks burger
Merupakan kombinasi dari model Maxwell dan model Kelvin yang
dirangkai secara seri. Model ini merupakan gambaran paling sederhana dari
p[erilaku material batuan, dan cukup representative untuk berbagai
pengujian pada batuan. Dimana proses rayapannya meliputi rayapan primer
dan rayapan sekunder dengan kecepatan tertentub secara konstan.
4.6.5.eksprimentasi uji rayapan
4.6.5.1. uji creep uniaksial silicified coal sample
Suatu pengembangan yang menarik pada studi ini adalah inisiatif untuk
mengunakan senar gitar yang ditempelkan sekeliling batuan utuh. Dan
berdiri pada suatu system sandaran dari senar gitar dan elektronik dial gauge
yang disusun secara sistematik. Perpindahan senar gitar mengikuti
perubahan volume yang terjadi pada contoh pada batuan utuh selama
pengujian.

4.6.5.2. uji rayapan uniaksial


Sebelum uji rayapan ini dilakukan adalah melakukan pengujian fisik.
Hasil tersebut selanjutnya diplotkan ke dalam suatu kurva antara waktu dan
regangan. Setelah dilakukan anlisis terhadap waktu dan regangan sesuai
dengan model perilaku yang ditunjukkan selama pengujian, maka model
perilaku dari batuan saat diberikan beban konstan adalah berperilaku burger.
4.6.5.3. uji rayapan triaksial dengan pemanasan pada contoh batuan tuff
breksi
Batuan runtuh dibawah kondisi triaksial tergantung pada tekanan
pengurungan, temperatur dan kecepatan pembebanan. Suatu studi perilaku
triaksial rayapan dilakukan dengan melakukan pengujian pada contoh breksi
tuff dan menggunakan triaksial cell von karman termodifikasi yang
menyatukan mesin pemanasan dibawah rangka uji rayapan.
4.6.5.4. Rayapan hasil pemantauan extensometer pongkor
Metode yang digunakan dengan menggunakan alat pemantau
ekstensometer. Alat ini berfungsi untuk mengukuran perpindahan yang
terjadi di dalam massa batuan.

4.6.5.5 rayapan uji geser langsung


Suatu

penelitian

denga

perilaku

bergantung

waktu

pada

kemantapan lereng yang dilakukan pada muara 3 besar. Tanjung enim open
pit coal mine ( PTBA ). Suatu fakta yang menarik bahwa longsoran lereng
open burden yang walaupun bidang perlapisan diketahui bahwa mempunyai
arah berlawanan dengan arah orientasi lereng tetap longsor.
4.6.6. Rekayasa Batuan Lunak
Batuan lunak memiliki sifat diantara tanah dan batuan serta sifat
utama jenis batuan dapat dengan mudah di temukan di Indonesia. Ada

beberapa istilah yang digunakan untuk menggunakan material yang dikenal


sebagai batuan ( Johnston,1991, Fairthrust, 1993 and Vutukuri

&

katsuyama,1994 ). Batuan lunak adalah batuan yang runtuh dalam kondisi


tegangan insitu-nya umumnya batuan lunak dapat dikatakan sebagai
Geomaterials dengan sifat-sifat diantara batuan dan tanah.