Anda di halaman 1dari 2

Sejak masih kanak-kanak hingga remaja, Nabi Sulaiman sudah

memperlihatkan kecerdasan, kecakapan dan kemampuan


berpikir yang baik terutama dalam pengambilan keputusan.
Nabi Sulaiman as diceritakan juga sering Menengahi berbagai
perselisihan yang terjadi antar penduduk di kalangan Bani
Israil.
Beliau juga seringkali ikut bersama ayahnya dalam persidangan
untuk menangani berbagai perselisihan yang terjadi di
kalangan Bani Israil. Nabi Sulaiman as memang sengaja diajak
bersama sebagai proses kaderisasi jika suatu saat Nabi Dauh as
wafat.
Dalam sejarah, diketahui bahwa Nabi Sulaiman as memang
yang paling pandai di antara saudaranya yang lain.
Ada satu kejadian yang menunjukkan kematangan Nabi
Sulaiman dalam menengahi perselisihan. Dalam sebuah
persidangan ada dua orang datang meminta Nabi Daud as
memutuskan perkara mereka, anggaplah si A dan si B.
Kebun si A telah dimasuki oleh kambing-kambing si B saat
malam hari sehingga isi kebun yang telah dirawat sekian lama
itu habis dirusak dan dimakan. Padahal sudah masuk masa
panen. Si B sendiri mengakui kejadian tersebut.

Dalam permasalahan itu, Nabi Daud memutuskan si B wajib


menyerahkan kambing-kambingnya kepada si A sebagai ganti
rugi.
Nabi Sulaiman merasa keputusan tersebut kurang tepat.
Beliau kemudian berkata kepada ayahnya kurang lebih seperti
ini:
Wahai ayahku, menurut pertimbanganku keputusan tersebut
kurang tepat. Menurutku sebaiknya karena kambing si B telah
memakan tanaman si A, maka si B wajib memugarkan (dengan
ditanam kembali misalnya) kembali tanaman tersebut sehingga
seperti sedia kala. Dan selama si B mengerjakan demikian,
maka si A wajib menjaga kambing-kambing si B, merawatnya
dan mengambil manfaat seperlunya.
Kuputusan tersebut diterima dengan baik oleh kedua orang
yang menggugat dan digugat. Kejadian ini menjadikan Nabi
Sulaiman as semakin dikagumi kecerdasannya.