Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Untuk mengetahui macam-macam instruman bedah, karakteristik masing-masing
instrumen bedah, fungsi dan kegunaan masing-masing instumen bedah serta cara menggunakan
dan memegang masing-masing instrumen dengan benar.
1.2 Latar Belakang
Pengenalan instrumen-instrumen bedah merupakan langkah pertama sebelum
melaksanakan pembedahan, karena dengan mengenal macam-macam instrumen tersebut dapat
diketahui fungsi dari instrumen-instrumen tersebut serta tata cara pengoperasian atau penggunaan
instrumen-instrumen tersebut dengan benar. Sehingga berbekal dengan pemahaman dan
pengetahuan tentang masin-masing instrumen bedah akan meningkatkan tingkat keberhasilan dari
suatu pembedahan/operasi yang akan dilaksanakan.
Beberapa prosedur operasi khusus memerlukan instrumen-instrumen khusus yang
digunakan, selain itu juga terdapat instrumen-instrumen yang digunakan secara umum pada
berbagai macam prosedur operasi. Instrumen-instrumen tersebut memiliki berbagai macam fungsi
seperti menjepit jaringan, menstabilkan jaringan, mengangkat jaringan yang mati pada luka,
membuat sayatan, memotong jaringan dan pembuluh darah, menarik jaringan, menghentikan laju
pendarahan, meningkatkan kecepatan kesembuhan luka dengan jahitan dan fungsi-fungsi yang
lain. Penggunaan instrumen-instrumen bedah yang sesuai dengan fungsinya masing-masing akan
mencegah insiden kerusakan jaringan maupun kerusakan instrumen akibat penggunaan instrumen
yang tidak sesuai dengan fungsinya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pinset/Tissue Forceps
2.1.1 Pinset Anatomis/Dressing Forceps

Karakteristik dari pinset anatomis adalah mempunyai alur transversal pada ujungnya dan
mempuyai panjang 4,5 hingga 12 inchi. Digunakan untuk menjepit dan menstabilkan jaringan.
Pinset anatomis dengan alur yang lebih halus lebih disarankan penggunaanya dalam menjepit
jaringan hidup dibandingkan dengan pinset anatomis yang mempunyai alur lebih tajam (Fossum,
2013).
2.1.2 Pinset Chirurgis/Tissue Forceps (Rat-Tooth Forceps)

Karakteristik dari pinset chirurgis adalah pada tiap ujunnya disambungkan oleh gigi yang
dimana pada salah satu ujung terdapat satu gigi yang akan sesuai dengan celah diantara dua gigi
pada ujung satunnya. Mempunyai panjang 4,5 hingga 12 inchi dan variasi jumlah giginya beragam
seperti 1x2, 2x3, 3x4 dan 4x5 gigi. Digunakan untuk menjepit kulit dan jaringan yang tebal
sehingga dapat dilakukan penempatan jahitan. Tidak disarankan untuk digunakan pada jaringan
yang tipis dan organ yang berlumen (Fossum, 2013).
2.2 Arteri Klem/Hemostatic Forceps
2.2.1 Mosquito Forceps

Mosquito Forceps dapat dibagi menjadi Hartman Mosquito Forceps dengan panjang 3,5
inchi (gambar kiri) dan Halsted Mosquito Forceps dengan panjang 5,5 inchi. Kedua jenis
Mosquito Forceps memiliki alur transversal sepanjang sisi dalam bagian rahangnya. Digunakan
untuk menjepit pembuluh darah berukuran kecil (Sonsthagen, 2011).
2.2.2 Kelly Forceps

Mempunyai alur transversal yang hanya terdapat pada bagian depan dari rahang forceps,
sedangkan bagian belakang rahang tidak terdapat alur transversal. Forceps tersebut mempunyai
panjang sekitar 6,5 inchi. Digunakan untuk menjepit pembuluh darah berukuran kecil hingga
sedang (Sonsthagen, 2011).
2.2.3 Rochester Carmalt Forceps

Mempunyai alur transversal dan longitudinal pada 1/3 bagian depan rahangnya dan sisanya
hanya terdapat alur longitudinal. Panjangnya bervariasi antara 6,25 sampai 8 inchi yang digunakan
untuk hewan-hewan kecil dan 12 inchi untuk digunakan pada hewan-hewan besar. Alur
longitudinalnya membuat forceps ini dapat menghentikan laju aliran darah pada pembuluh darah
dengan sempurna, sehingga Rochester Carmalt Forceps sering digunakan untuk menjepit
pembuluh dasar yang besar dan jaringan-jaringan yang besar (Sonsthagen, 2011).
2.2.4 Rochester Pean Forceps

Rahang pada forceps ini memiliki alur transversal dari ujung hingga pangkalnya sehingga
dapat memberikan penekanan yang baik untuk menghambat laju aliran darah. Panjangnya sekitar
6,25 sampai 8 inchi dan sering digunakan untuk menjepit pembuluh darah yang besar dan jaringan
yang besar (Sonsthagen, 2011).
2.2.5 Rochester Ochsner Forceps

Mempunyai alur transversal sepanjang ujung rahangnya dan terdapat gigi 1x2 pada
ujungnya seperti yang terdapat pada Tissue Forceps (Rat-Tooth Forceps). Gigi tersebut mencegah
selipnya forceps saat digunakan untuk menjepit pumbuluh darah dan jaringan. Panjangnya sekitar
6,25 hingga 8 inchi (Sonsthagen, 2011).
2.3 Towel Forceps

Mempunyai ujung melengkung yang tajam dan saling menyentuh pada kedua ujung
rahangnya. Ujung yang tajam tersebut akan menusuk dalam pada kulit sehingga mencegah
selipnya drape pada saat melaksanakan operasi. Panjangnya sekitar 3,5 hingga 5,5 inchi dan
digunakan untuk menjepit drape dengan cara ditusukkan pada kulit pasien (Sonsthagen, 2011).
2.4 Scalpel Handle

Scalpel Handle #3 (gambar paling atas) dan #4 (gambar di tengah) berbentuk seperti
spatula dan memiliki garis-garis yang menambah kesesuaian dengan tangan operator. Scalpel
Handle #8 terbuat dari plastik dan menyesuaikan bentuk tangan. Masing-masing Scalpel Handle
mempunyai pasangan blade nya masing-masing, dimana Scalple Handle #3 digunakan untuk
operasi pada hewan kecil dan Scalpel Handle #4 dan #8 digunakan untuk operasi pada hewan
besar (Sonsthagen, 2011).
2.5 Scalpel Blade

Digunakan untuk membuat insisi, memotong jaringan dan memotong jaringan debris pada
luka. Masing-masing blade mempunyai fungsinya sendiri, yaitu :
- #10 digunakan secara umum untuk operasi pada hewan kecil; berpasangan dengan
Scalpel Handle #3
- #11 digunakan untuk membuka kulit, memotong arteri dan memotong ligament;
berpasangan dengan Scalpel Handle #3
- #12 digunakan untuk menusuk abses; berpasangan dengan Scalpel Handle #3
- #15 digunakan untuk membuat sayatan kecil yang membutuhkan presisi tinggi;
berpasangan dengan Scalpel Handle #3
- #20 dan #23 digunakan secara umum untuk operasi pada hewan besar; berpasangan
dengan Scalpel Handle #4 dan #8 (Sonsthagen, 2011).
2.6 Groove Director

Digunakan untuk melindungi jaringan yang berada tepat dibawah jaringan yang akan
disayat. Alur sepanjang batang Groove Director untuk memandu agar insisi menjadi tepat lurus
dan tidak berbelok-belok (Sonsthagen, 2011).
2.7 Needle Holder

Digunakan untuk menjepit dan mengendalikan jarum jahit pada saat melakukan penjahitan
pada jaringan dan juga digunakan untuk membantu dalam penyimpulan jahitan. Mempunyai
rahang yang pendek dengan alur yang saling menyilang dan terdapat lekukan longitudinal pada
bagian tengah sisi dalam rahang. Alur yang saling menyilang membuat jarum jahit akan terjepit
kuat dan tidak mudah selip. Mempunyai panjang sekitar 5,25 hingga 12 inchi (Sonsthagen, 2011).
2.8 Gunting/Scissors

2.8.1 Gunting Operasi/Operating Scissors (Blunt-Blunt, Sharp-Blunt, Sharp-Sharp)

Gunting operasi mempunyai panjang bervariasi sekitar 4,5 hingga 6,5 inchi dengan ujung
yang bervariasi pula. Gunting operasi dapat digolongkan berdasarkan ujungnya, yaiu ujung tajamtajam (sharp-sharp), ujung tajam-tumpul (sharp-blun) dan ujung tumpul-tumpul (blunt-blunt) yang
mempunyai kegunaan masing-masing. Gunting operasi yang melengkung memberikan efek
maneuver yang lebih tinggi daripada gunting operasi yang lurus. Gunting operasi sering
digunakan untuk memotong jaringan dan memotong benang jahit (Sonsthagen, 2011).
2.8.2 Metzenbaum Scissors

Metzenbaum Scissors mempunyai ujung yang panjangnya 1,5 inchi yang berakhir tumpul
dan membulat. Panjang keseluruhan sekitar 4,5 hingga 12 inchi dan yang paling umum digunakan
adalah Metzenbaum Scissors dengan panjang 7 inchi. Digunakan untuk memotong jaringan lunak
dan pembedahan. Ujungnya yang membulat membuat Metzenbaum Scissors tidak akan merusak
pembuluh darah kapiler dan mencegah terjadinya ketidaksengajaan pemotongan tendon, ligament
dan pembuluh darah besar (Sonsthagen, 2011).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terdapat berbagai macam instrumen bedah yang digunakan pada prosedur operasi baik
pada hewan besar maupun hewan kecil. Instrumen-instrumen tersebut dirancang sesuai dengan
fungsinya masing-masing yaitu pinset untuk menjepit jaringan, Hemostatic Forceps untuk
menghentikan laju aliran darah, Needle Holder untuk mengendalikan jarum jahit saat
melaksanakan penjahitan, gunting operasi untuk memotong jaringan serta Scalpel Handle dan

Blade untuk membuat sayatan pada jaringan. Dengan diketahuinya fungsi dari masing-masing
instrumen bedah, makan diharapkan tingkat insidensi kecelakaan akibat kesalahan penggunaan
instrumen yang mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan maupun kerusakan instrumen dapat
dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA
Fossum, T. W. 2013. Small Animal Surgery, 4th Edition. Missouri: Elsevier Inc
Sonsthagen, T. F. 2011. Veterinary Instruments and Equipment, 2nd Edition. Missouri: Elsevier Inc