Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

GANGGUAN AKIBAT PENYALAHGUNAAN NAPZA


DAN PENANGGULANGANNYA

Oleh:
Aryati Pratama Putri

1118011013

Vandy Ikra

1118011137

Pembimbing:
dr. Tendry Septa, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA


UNIVERSITAS LAMPUNG
MARET 2016
1

KATA PENGANTAR

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa,


Pertama penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Gangguan
Akibat Penyalahgunaan NAPZA dan penanggulangannya Tepat pada waktunya. Adapun
pembuatan Referat ini adalah sebagai prasyarat penulis untuk dapat mengikut kepanitraan
dalam bidang Ilmu Kesehatan Jiwa.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing referat penulis, dr. Tendry Septa,
Sp.KJ atas bimbingannya. Ilmu yang telah penulis terima tidaklah dapat dinilai dan akan
berguna selama penulis masih dapat mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah penulis
dapatkan.
Demikianlah Referat ini, penulis curahkan. Semoga Referat yang penulis buat bermanfaat
bagi siapa pun yang membacanya. Penulis memohon maaf apabila selama penulisan,
penulis melakukan kesalahan baik yang disengajakan maupun yang tidak.

Bandar Lampung, Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
Bab I Pendahuluan
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab III Kesimpulan
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau
istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.1 Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak
hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah
Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat
sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur
antara 1524 tahun.
Berdasarkan data penelitian pengguna NAPZA di dunia, dilaporkan hampir 40%
penduduk di dunia pernah menggunakan NAPZA dalam hidup mereka. Beberapa
substansi tersebut menyebabkan kelainan status mental secara internal, seperti
menyebabkan perubahan mood, secara eksternal menyebabkan perubahan perilaku.
Substansi tersebut juga dapat menimbulkan problem neuropsikiatrik yang masih belum
ditemukan penyebabnya, seperti skizofrenia dan gangguan mood, sehingga kelainan
primer psikiatrik dan kelainan yang disebabkan oleh NAPZA menjadi sangat
berhubungan.1 Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas
kesehatan itu sendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat
dibidang kesehatan jiwa, khususnya penyalahgunaan NAPZA. Dan minimnya
pengetahuan mengenai masalah NAPZA, penggunaannya, masalah psikiatri yang
ditimbulkan, serta penangannya, mendorong penulis untuk menyusun referat mengenai
Gangguan Akibat Penyalahgunaan NAPZA dan penanggulangannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4

A. Definisi
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat
yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama
otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik,
psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta
ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA umumnya
digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada
upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA
sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak,
sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.1
B. Penggolongan NAPZA
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat
digolongkan menjadi tiga golongan :
1. Golongan Depresan (Downer)
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional
tubuh. Jenis ini menbuat pemakainya merasa tenang, pendiam dan bahkan
membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk
Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot
tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
2. Golongan Stimulan(Upper)
Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan
meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi
aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah :
Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain.
3. Golongan Halusinogen
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang
bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya
pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu.
Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk :
Kanabis (ganja), LSD, Mescalin.
5

C. Penyalahgunaan dan Ketergantungan


Pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V), yang
disebut gangguan akibat zat psikoaktif dan sindrom ketergantungan mencakup
dua kategori, yakni gangguan penyalahgunaan zat psikoaktif dan gangguan
akibat zat psikoaktif. Penyalahgunaan dan Ketergantungan adalah istilah
klinis/medik-psikiatrik yang menunjukan ciri pemekaian yang bersifat
patologik yang perlu di bedakan dengan tingkat pemakaian psikologik-sosial,
yang belum bersifat patologik
1. Penyalahgunaan NAPZA
adalah penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala
atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan
kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.
2. Ketergantungan NAPZA
adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis,
sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah
(toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan
timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu
berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun,
agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara normal.
Kedua istilah diatas memiliki perbedaan yang bermakna. Pada gangguan
penyalahgunaan zat psikoaktif menunjukkan reaksi negatif atas penggunaan
yang sering dan bersifat terus menerus dari zat tersebut. Kondisi ini tidak
menunjukkan efek secara langsung melainkan terjadi secara bertahap
bersamaan dengan proses ketergantungan. Sedangkan gangguan akibat zat
psikoaktif mengacu pada efek langsung dari penggunaan zat, atau disebut
intoksikasi, dan efek langsung dari putus obat (withdrawal syndrome).

D. Memahami Adiksi Sebagai Gangguan Otak


Zat psikoaktif, khususnya NAPZA, memiliki sifat-sifat khusus terhadap
jaringan otak: bersifat menekan aktivitas fungsi otak (depresan), merangsang
6

aktivitas

fungsi

otak

(stimulansia)

dan

mendatangkan

halusinasi

(halusinogenik). Karena otak merupakan sentral perilaku manusia, maka


interaksi antara NAPZA (yang masuk ke dalam tubuh manusia) dengan selsel saraf otak dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku manusia.
Perubahan-perubahan perilaku tersebut tersebut tergantung sifat-sifat dan jenis
zat yang masuk ke dalam tubuh .
Masuknya NAPZA ke dalam tubuh memiliki berberapa cara: disedot melalui
hidung (snorting, sneefing), dihisap melalui bibir (inhalasi, merokok),
disuntikan dengan jarum suntikan melalui pembuluh darah balik atau vena,
ditempelkan pada kulit (terutama lrngan bagian dalam) yang telah diiris-iris
kecil dengan cutter, ada juga yang melakukannya dengan mengunyah dan
kemudian ditelan. Sebagian NAPZA sesuai dengan cara penggunaannya,
langsung masuk ke pembuluh darah dan sebagian lagi yang dicerna melalui
traktus gastro-intestinal diserap oleh pembuluh-pembuluh darah di sekitar
dinding usus. Karena sifat khususnya, NAPZA akan menuju reseptornya
masing-masing yang terdapat pada otak.
Beberapa jenis NAPZA menyusup kedalam otak karena mereka memiliki
ukuran dan bentuk yang sama dengan natural meurotransmitter. Di dalam
otak, dengan jumlah atau dosis yang tepat, NAPZA tersebut dapat mengkunci
dari dalam (lock into) reseptor dan memulai membangkitkan suatu reaksi
berantai pengisian pesan listrik yang tidak alami yang menyebabkan neuron
melepaskan sejumlah besar neurotransmitter miliknya. Beberapa jenis
NAPZA lain mengunci melalui neuron dengan bekerja mirip pompa sehingga
neuron melepaskan lebih banyak neurotransmitter. Ada jenis NAPZA yang
menghadang reabsorbsi atau reuptake sehingga menyebabkan kebanjiran yang
tidak alami dari neurotransmitter.
Bila seseorang menyuntik heroin (opioid atau putauw). Heroin segera
berkelana cepat di dalam otak. Konsentrasi opioid terdapat pada: VTA
(ventral tegmental area), nucleus accumbens, caudate nucleus dan thalamus
yang merupakan sentra kenikmatan yang terdapat pada area otak yang sering
7

dikaitkan dengan sebutan reward pathway. Opioid mengikat diri pada reseptor
opioid yang berkonsentrasi pada daerah reward system. Aktivitas opioid pada
thalamus mengindikasikan kontribusi zat tersebut dalam kemampuannya
untuk memproduksi analgesik. Neurotranmitter opioid memiliki ukuran dan
bentuk yang sama dengan endorfin, sehingga ia dapat menguasai reseptor
opioid.

Opioid

mengaktivasi

sistem

reward

melalui

peningkatan

neurotransmisi dopamin. Penggunaan opioid yang berkelanjutan membuat


tubuh mengadalkan diri kepada adanya drug untuk mempertahankan perasaan
rewarding dan perilaku normal lain. Orang tidak lagi mampu merasakan
keuntungan reward alami (seperti makanan, air, sex) dan tidak dapat lagi
berfungsi normal tanpa kehadiran opioid.

E. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA


1. Faktor Psikodinamik
Berdasarkan teori klasik, penyalahgunaan NAPZA seperti keinginan untuk
masturbasi, mekanisme pertahanan untuk keadaan cemas, atau manifestasi
dari regresi oral. Dalam teori psikososial, menyebutkan bahwa banyak
alasan untuk mencurigai faktor lingkungan memainkan peran dalam
penyalahgunaan NAPZA. Sehingga dalam banyak artikel disebutkan
bahwa pelaku penyalahgunaan substansi ini kebanyakan adalah anak-anak
atau remaja dengan perkembangan psikososial yang buruk.
2. Faktor Genetik
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak kembar, anak adopsi, dan
saudara kandung yang terpisah ataupun dipisahkan menjadi penyebab
utama terjadinya penyalahgunaan NAPZA.
3. Teori Prilaku
Beberapa
model
perilaku
penyalahgunaan

zat

memfokuskan pada perilaku mencari zat dibanding pada


gejala dependensi fisik. Sebagian besar penyalahgunaan
zat menimbulkan pengalaman positif setelah penggunaan
8

pertama, dan oleh karena itu, zat tersebut bertindak


sebagai penguat positif perilaku mencari zat.
4. Faktor Neurokimiawi
Dengan pengecualian alkohol, para peneliti
mengidentifikasi

neurotransmitter

atau

telah

reseptor

neurotransmitter tertentu yang terlibat dengan sebagian


besar zat yang disalahgunakan. Neurotransmitter utama
yang

mungkin

terlibat

dalam

perkembangan

penyalahgunaan dan ketergantungan zat adalah opioid,


katekolamin

(terutama

gamma-aminobutirat.

dopamin),

Neuron

yang

dan

sistem

terutama

asam
penting

adalah neuron dopaminergik pada area tegmental ventral.

F. Komorbiditas
Komorbid adalah keterlibatan dua atau lebih gangguan psikiatrik pada seorang
pasien. Pada pasien yang mendapatkan terapi karena ketergatungan substansi
seperti opioid, alkohol, dan kokain, memiliki prevalensi tinggi mendapatkan
gangguan psikiatri tambahan. Hal ini dibuktikan pada studi epidemiologi
bahwa orang-orang dengan ketergantungan terhadap NAPZA lebih mudah
mengalami gangguan psikiatri lain.
1. Gangguan kepribadian antisosial
Pada berbagai macam studi, menunjukkan bahwa 35 sampai 60 persen
pasien dengan ketergantungan NAPZA juga memiliki diagnosa gangguan
kepribadian antisosial.
2. Depresi dan bunuh diri
Gejala depresi sangat banyak ditemukan pada pasien yang didiagnosa
sebagai penyalahgunaan NAPZA ataupun ketergantungan NAPZA.
Hampir 40 persen pengguna opioid dan alkohol memenuhi kriteria
diagnosis gangguan depresi mayor dalam hidup mereka. Penggunaan
NAPZA juga salah satu penyebab terjadinya bunuh diri. Orang dengan

penyalahgunaan NAPZA, sekitar 20 persen lebih rentan melakukan bunuh


diri dibandingkan populasi pada umumnya.
G. Gejala Klinis
1. Perubahan Fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara
umum dapat digolongkan sebagai berikut:
- Pada saat menggunakan NAPZA: jalan sempoyongan, bicara pelo
(cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curiga
- Bila kelebihan dosis (overdosis): nafas sesak, denyut jantung dan nadi
lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal.
- Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau): mata dan hidung berair,
menguap terus menerus, diare, rasa sakit diseluruh tubuh, takut air
sehingga malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
- Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat, tidak peduli terhadap
kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas
suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan
jarum suntik)
2. Perubahan Sikap dan Perilaku
- Prestasi sekolah menurun, sering tidak mengerjakan tugas sekolah, sering
membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
- Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk
dikelas atau tempat kerja.
- Sering berpegian sampai larut malam, kadang tidak pulang tanpa memberi
tahu lebih dulu
- Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar
bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah.
- Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh
keluarga,kemudian menghilang
- Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak
jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik

10

sendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau


berurusan dengan polisi.
- Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap
bermusuhan, pencuriga,tertutup dan penuh rahasia.

H. Gejala klinis berdasarkan zat yang digunakan


1. Alkohol
Di Indonesia, terutama di daerah Indonesia Timur dan beberapa tempat
didaerah Sumatera, terdapat antara 2-3 juta orang menggunakan minuman
beralkohol dari ringan sampai berat. Jenis-jenis minuman beralkohol di
Indonesia sangat bervariasi (dari tradisional sampai fermentasi buatan,
dari berkadar tinggi hingga rendah). Misalnya:Green Sands Sandy Bier,
Brandy, Vodka, Mansion House, Kontru, Jack Daniels, Napoleon, Drum,
Whisky, Martini, Mac D, Tomi (topi-miring). Minuman beralkohol

memberikan berbagai gambaran klinis antara lain:


Intoksikasi: euforia, cadel, nistagmus, ataksia, bradikardi, hipotensi,

kejang, koma. Pada keadaan intoksikasi berat, refleks menjadi negatif


Keadaan putus alkohol: halusinasi, ilusi (bad dream), kejang, delirium,
tremens, gemetar, keluhan gastrointestinal, muka merah, mata merah dan

hipertensi
Gangguan fisik: mulai dari radang hati sampai kanker hati, gastritis, ulkus
peptikum, pneumonia, gangguan vaskuler dan jantung, defisiensi vitamin,

fetal alcohol syndrome


Gangguan mental: depresi hingga skizofrenia
Gangguan lain: kecelakaan lalu lintas, perkelahian, problem domestik dan

tindak kekerasan.
2. Opioid

11

Termasuk dalam golongan opioid adalah morfin, petidin, heroin, metado,


kodein. Golongan opioid yang paling sering disalahguakan adalah heroin.
Di Indonesia, sekurangnya terdapat 300-500 ribu orang dengan adiksi
heroin.
Akibat penyalahgunaan opioid adalah
a. Problem fisik:
Abses pada kulit sampai septikemia
Infeksi karena emboli, dapat sampai stroke
Endokarditis
Hepatitis B dan C
HIV/AIDS
Injeksi menyebabkan trauma pada jaringan syaraf lokal
Opiate neonatal abstinence syndrome.
b. Problem psikiater:
Gejala withdrawal menyebabkan perilaku agresif
Suicide
Depresi berat sampai skizofrenia
c. Problem sosial
Gangguan interaksi di rumah tangga sampai lingkungan masyarakat
Kecelakaan lalu lintas
Perilaku kriminal sampai tindak kekerasan
Gangguan perilaku sampai antisosial (mencuri, mengancam,
menodong, menipu hingga membunuh)
d. Sebab-sebab kematian
Reaksi heroin akut menyebabkan kolapsnya kardiovaskuler dan

akhirnya meninggal
Overdosekarena heroin menekan susunan saraf pusat, sukar bernafas

dan menyebabkan kematian


Tindak kekerasan
Bronkhopneumonia
Endokarditis
3. Ganja
Bahan aktif ganja berasal dari tanaman ganja yang bersifat adiktif disebut
delta tetra hidrokannabinol (THK) yang hanya larut dalam lemak. Karena
tidak larut dalan air, THK tinggal lama didalam lemak jaringan (termasuk
jaringan lemak otak sehingga menyebabkan brain damage). Gambaran
klinis disebabkan ganja tegolong kombinasi CNS-depresant, stimulasi dan
halusinogenik.
12

Di indonesia terdapat antara 2-3 juta orang yang pernah mengisap ganja.
Penggunaan pemula ganja, terutama dikalangan anak usia muda
meningkat tajam selama 4-5 tahun terakhir, karena ganja mudah diperoleh
dimana-mana.
Akibat penyalahgunaan ganja adalah :
a. Problem fisik:
Gangguan sistem reproduksi (infertilitas, mengganggu menstruasi,

maturasi organ seksual, kehilangan libido, impotensi)


Fetal damage selama kehamilan
Infeksi sistem pernafasan (sinusitis, bronkitis kronik)
Mengandung agen sel-sel epitel kanker (kanker paru, sistem

pernafasan bagian atas, saluran pencernaan, leher dan kepala)


Empisema
Gangguan kardiovaskuler
Gangguan imunitas
Gangguan syaraf (sakit kepala, gangguan fungsi koordinasi motorik)
b. Problem psikiatri:
Gangguan memori hingga kesulitan belajar
Sindro amotivasional
Ansietas, panik hingga reaksi bingung
Psikosis paranoid sampai skizofrenia
Depresi berat sampai suicide
Apatis, perilaku antisosial
c. Problem sosial:
Kesulitan belajar sampai dikeluarkan dari sekolah
Kenakalan rmaja
Hancurnya akademic or job performance sampai kehilangan pekerjaan
Gangguan dalam mengendarai kendaraan, alat mesin
Terlibat masalah hukum
d. Sebab kematian:
Suicide
Infeksi berat
Tindak kekerasan (termasuk kecelakaan lalu lintas).
4. Amfetamin dan turunannya
Amfetamin merupakan senyawa kimia yang bersifat stimulasi, sering
dikenal sebagai Amphetamine Type Stimulants atau ATS. Dulu amfetamin
sulfat digolongkan dalam ilmu kedokteran sebagai obat untuk obesitas,
epilepsi, narkolepsi dan depresi. Amfetamin sulfat pada tahun 1960 dan
13

1970 disalahgunakan oelh siswa/mahasiswa yaitu tahan tidak tidur untuk


belajar dan untuk diet agar badan tetap langsing.
Dewasa ini oleh sindikat psikotropik ilegal, derivat amfetamin dipasarkan
di Indonesia dalam bentuk : ecstasy (MDMA, 3,4 metilenediaxymethamphetamine) dan shabu (methamphetamine). Ecstasydalam bentuk
pil, tablet atau kapsul dan shabu dalam bentuk bubuk kristal putih. Kedua
zat digunakan sebagai alasan klasik yaitu for fun, recreational use,
meningkatkan libido dan memperkuat sex perfomance.
Cara penggunaan ATS tergantung pada jenis yang digunakan sebagai
berikut:
Amfetamin dapat berupa tablet atau suntikan
Ecstasy digigit dengan gigi sedikit demi sedikit kemudian ditelan
Shabu, uap yang dipanaskan melalui tabung air kemudian dihisap
melalui bibir.
Akibat penyalahgunaan amfetamin (termasuk escstasy dan shabu) adalah:
a. Problem fisik:
Malnutrisi akibat defisiensi vitamin, kehilangan nafsu makan
Denyut jantung meningkat sehingga membahayakan bagi mereka yang
pernah memiliki riwayat penyakit jantung
Gangguan ginjal, emboli parru dan stroke
Hepatitis
HIV/AIDS bagi mereka yang menggunakan suntikan amfetamin
b. Problem psikiatri:
Perilaku agresif
Confusional state, psikosis paranoid sampai skizofrenia
Kondisi putus zat meneybabkan letargi, fatigue, exhausted, serangan
panik, gangguan tidur
Depresi berat sampai suicide
Halusinasi (terutama ecstasy dan shabu)
c. Problem sosial:
Tindak kekerasan (berkelahi)
Kecelakaan lalu lintas
Aktivitas kriminal
d. Sebab kematian:
Suicide
Serangan jantung
Tindak kekerasan, kecelakaan lalu lintas
14

Dehidrasi, sindrom keracunan air.

I. Menetapkan Diagnosis
Dalam nomenklatur kedokteran, ketergantungan NAPZA adalah suatu jenis
penyakit atau disease entity yang dalam ICD-10 (international classification
of disease and health related problems-tenth revision 1992) yang dikeluarkan
oleh WHO digolongkan dalam Mental and behavioral disorders due to
psychoactive substance use .
Gambaran klinis utama dari fenomena ketergantungan dikenal dengan istilah
sindrom

ketergantungan

(PPDGJ-III,

1993).

Sehingga

diagnosis

ketergantungan NAPZA ditegakkan jika diketemukan tiga atau lebih dari


gejala-gejala di bawah selama masa setahun sebelumnya:
1. Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi)
untuk menggunakan NAPZA
2. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan NAPZA sejak
awal, usaha penghentian atau tingkat penggunaannya
3. Keadaan putus NAPZA secara fisiologis ketika penghentian penggunaan
NAPZA atau pengurangan, terbukti orang tersebut menggunakan NAPZA
atau golongan NAPZA yang sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan
atau menghindari terjadinya gejala putus obat.
4. Adanya bukti toleransi, berupa peningkatan dosis NAPZA yang
diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh
dengan dosis yang lebih rendah.
5. Secara progressif mengabaikan alternatif menikmati kesenangan karena
penggunaan NAPZA, meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk
mendapatkan atu menggunakan NAPZA atau pulih dari akibatnya
6. Meneruskan penggunaan NAPZA meskipun ia menyadari dan memahami
adanya akibat yang merugikan kesehatan akibat penggunaan NAPZA
seperti gangguan fungsi hati karena minum alkohol berlebihan, keadaan
depresi sebagai akibat penggunaan yang berat atau hendaya fungsi
15

kognitif. Segala upaya mesti dilakukan untuk memastikan bahwa


pengguna NAPZA sungguh sungguh menyadari akan hakikat dan
besarnya bahaya.
J. Terapi dan Upaya pemulihan
Karakteristik terapi adiksi yang efektif NIDA (National Institute of Drug
Abuse, 1999) menunjuk 13 prinsip dasar terapi efektif berikut, untuk dijadikan
pegangan bagi para profesional dan masyarakat5,6:
1. Tidak ada satupun terapi yang serupa untuk semua individu
2. Kebutuhan mendapatkan terapi harus selalu siap tersedia setiap waktu.
Seorang adiksi umumnya tidak dapat memastikan kapan memutuskan
untuk masuk dalam program terapi. Pada kesempatan pertama ia
mengambil keputusan, harus secepatnya dilaksanakan ( agar ia tidak
berubah pendirian kembali )
3. Terapi yang efektif harus mampu memenuhi banyak kebutuhan ( needs )
individu tersebut, tidak semata mata hanya untuk kebutuhan memutus
menggunakan NAPZA
4. Rencana program terapi seorang individu harus dinilai secara kontinyu
dan kalau perlu dapat dimodifikasi guna memastikan apakan rencana
terapi telah sesuai dengan perubahan kebutuhan orang tersebut atau
belum.
5. Mempertahankan pasien dalam satu periode program terapi yang adekuat
merupakan sesuatu yang penting guna menilai apakah terapi cukup
efektif atau tidak
6. Konseling dan terapi perilaku lain merupakan komponen kritis untuk
mendapatkan terapi yang efektif untuk pasien adiksi
7. Medikasi atau psikofarmaka merupakan elemen penting pada terapi
banyak pasien, terutama bila dikombinasikan dengan konseling dan terapi
perilaku lain

16

8. Seorang yang mengalami adiksi yang juga menderita gangguan mental,


harus mendapatkan terapi untuk keduanya secara integratif
9. Detoksifikasi medik hanya merupakan taraf permulaan terapi adiksi dan
detoksifikasi hanya sedikit bermakna untuk menghentikan terapi jangka
panjang
10. Terapi yang dilakukan secara sukarela tidak menjamin menghasilkan
suatu bentuk terapi yang efektif
11. Kemungkinan penggunaan zat psikoaktif selama terapi berlangsung harus
dimonitor secara kontinyu
12. Program terapi harus menyediakan assesment untuk HIV / AIDS ,
hepatitis B dan C, tuberkulosis dan penyakit infeksi lain dan juga
menyediakan

konseling

untuk

membantu

pasien

agar

mampu

memodifikasi atau mengubah tingkah lakunya, serta tidak menyebabkan


dirinya atau diri orang lain pada posisi yang beresiko mendapatkan
infeksi
13. Recovery dari kondisi adiksi NAPZA merupakan suatu proses jangka
panjang dan sering mengalami episode terapi yang berulang ulang
Sasaran terapi7,8
Sasaran jangka panjang terapi pasien/ klien dengan aiksi NAPZA :
1. Abstinensia atau mengurangi penggunaan NAPZA bertahap sampai
abstinensia total. Hasil yang ideal untuk terapi adiksi NAPZA adalah
penghentian total penggunaan NAPZA. Perjanjian pada awal terapi sangat
penting dilakuakan, terutama dalam komitmen terapi jangka panjang.
Komitmen tersebut membantu menurunkan angka morbiditas dan
penggunaan NAPZA. Umumnya mayoritas pasien / klien perlu mendapat
motivasi yang cukup kuat untuk menerima abstinensia total sebagai sasaran
terapi.
2. Mengurangi frekuensi dan keparahan relaps. Pengurangan frekuensi
penggunaan NAPZA dan keparahannya merupakan sasaran kritis dari
17

terapi. Fokus utama dari pencegahan relaps adalah membantu pasien.klien


mengidentifikasi situasi yang menempatka dirinya kepada resiko relaps dan
menggembangkan respon alternatif asal bukan merupakan NAPZA. Pada
beberap pasien atau klien, situasi sosial atau interpersonal dapat merupakan
faktor beresiko terjadinya relaps. Pengurangan frekuensi dan keparaha
relaps sering menjasikan sasaran yang realistik daripada pencegahan yang
sempurna.
3. Perbaikan dalam fungsi psikologi dan penyesuaian fungsi sosial dalam
masyarakat. Gangguan penggunaan zat sering dikaitkan dengan problema
psikologi dan sosial, melepaskan diri dari hubungan antar teman dan
keluarga, kegagalan dalam performance di sekolah maupun dalam
pekerjaan, problema finensial dan hukum dan gangguan dalam fungsi
kesehatan umum. Mereka memerlukan terapi spesifik untuk memperbaiki
gangguan hubungannya dengan orang lain tersebut, mengembangkan
keterampilan sosial serta mempertahankan status dalam pekerjaannya
disamping mempertahankan dirinya semaksimal mungkin agar tetap dalam
kondisi bebas obat.
Tahapan terapi9,10,11
Proses terapi adiksi zat umumnya dapat dibagi atas beberapa fase berikut:
1. Fase penilaian (assesment phase), sering disebut dengan fase penilaian
awal (initial intake). Informasi dapat diperoleh dari pasien dan juga dapat
diperoleh dari anggota keluarga, karyawan sekantor, atau orang yang
menanggung biaya. Termasuk yang perlu dinilai adalah :
a. Penilaian yang sistematik terhadap level intiksokasi, keparaha gejala
gejala putus obat, dosis zat terbesar yang digunakan terakhir, lama
waktu setelah penggunaan zat terakhir, awitan gejala, frekuensi dan
lamanya penggunaan, efek subjektif dari semua jenis zat yang
digunakan.

18

b. Riwayat medis dan psikiatri umum yang komprehensif, termasuk status


pemeriksaan fisik dan mental lengkap, untuk memastikan ada tidaknya
gangguan komorbiditas psikiatris dan medis seperti tanda dan gejala
intoksikasi atau withdrawal. Pada beberapa kasus diindikasikan juga
pemeriksaan psikologik dan neuro psikologi
c. Riwayat terapi gangguan penggunaan zat sebelumnya, termasuk
karakteristik berikut: setting terapi, kontekstual (voluntary, non
voluntary), modalitas terapi yang digunakan, kepatuhan terhadap
program terapi, lamanya (singkat 3 bulanan, sedang 1 tahun) dan hasil
dengan program jangka panjang, berikut dengan jenis zat yang
digunakan, level fungsi sosial dan okupasional yang telah dicapai dan
variabel hasi terapi lainnya
d. Riwayat penggunaan zat sebelumnya, riwayat keluarga dan riwayat
sosio ekonomik lengkap, termasuk informasi tentang kemungkinan
adanya gangguan penggunaan zat dan gangguan psikiatri pada
keluarga, faktor faktor dalam keluarga

yang mengkontribusi

berkembang atau penggunaan zat terus menerus, penyesuaian sekolah


dan vokasional, hubunggan dengan kelompok sebaya, problema
finansial dan hukum, pengaruh lingkungan kehidupan sekarang
terhadap kemampuannya untuk mematuhi terapi agar tetap abstinensia
di komunitasnya, karakteristik lingkungan pasien ketika menggunakan
zat (dimana, dengan siapa, berapa kali/ banyak, bagaimana cara
penggunaan).
e. Skrining urin dan darah kualitatif dan kuantitatif untuk jenis jenis
NAPZA yang disalahgunakan, pemerisaan pemeriksaan laboratorium
lainnya terhadap kelainan kelainan yang dikaitkan dengan
penggunaan zat akut atau menahun.
f. Skrining penyakit penyakit infeksi dan penyakit lain yang sering
diketemukan

pada pasien / klien ketergantungan zat (seperti HIV,

tuberkulosis, hepatitis).

19

2. Fase terapi detoksifikasi, sering disebut dengan fase terapi withdrawal atau
fase terapi intoksikasi. Fase ini memiliki beragam variasi :
a. Rawat inap dan rawat jalan
b. Intensive out patient treatment
c. Terapi simptomatik
d. Rapid dotoxification, ultra rapid detoxification
e. Detoksifikasi dengan menggunakan: kodein dan ibuprofen, klonidin
dan naltrexon, buprenorfin, metadon
3. Fase terapi lanjutan. Tergantung pada keadaan klinis, strategi terapi harus
ditekankan kepada kebutuhan individu agar tetap bebas obat atau
menggunakan program terapi subtitusi (seperti antagonis naltrexon,
agonis metadon, atau partial agonisbrupenorfin. Umumnya terapi yang
baik berjalan antara 24 sampai 36 bulan. Terapi yang lamanya kurang dari
jangka waktu tersebut, umumnya memiliki relaps rate yang tinggi.

20

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan data penelitian pengguna NAPZA di dunia, dilaporkan hampir 40%


penduduk di dunia pernah menggunakan NAPZA dalam hidup mereka. Beberapa
substansi tersebut menyebabkan kelainan status mental secara internal, seperti
menyebabkan perubahan mood, secara eksternal menyebabkan perubahan
perilaku. Substansi tersebut juga dapat menimbulkan problem neuropsikiatrik
yang masih belum ditemukan penyebabnya, seperti skizofrenia dan gangguan
mood, sehingga kelainan primer psikiatrik dan kelainan yang disebabkan oleh
NAPZA menjadi sangat berhubungan.
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang
bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama
otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik,
psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta
ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Penyebab penyalahgunaan napza
karena faktor genetik dan juga psikodinamik. Penyalahhunaan NAPZA sendiri
memiliki Komorbid dengan gangguan kepribadian antisocial dan juga prilaku
bunuh diri. Gejala-gejala klinis gangguan penyalahgunaan NAPZA adalah:
Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa ( kompulsi ) untuk
menggunakan NAPZA, kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan
NAPZA sejak awal, keadaan putus NAPZA secara fisiologis ketika penghentian
penggunaan NAPZA atau pengurangan, adanya bukti toleransi, secara progressif
mengabaikan alternatif menikmati kesenangan karena penggunaan NAPZA,
meneruskan penggunaan NAPZA meskipun ia menyadari dan memahami adanya
akibat yang merugikan kesehatan akibat penggunaan NAPZA. Terapi pada
gangguan akibat penyalahgunaan NAPZA itu sendiri dibagi menjadi 3 fase: Fase
penilaian, fase terapi detoksifikasi, fase terapi lanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
21

1. Sadock Benjamin, Sadock Virginia. Substance Related Disorders. Introduction and


Overview. Dari: Kaplan & Sadock Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical
Psychiatry 9th edition, Lippingcott Williams & Wilkins, 2002, h. 380.
2. Sadock Benjamin, Sadock Virginia. Substance Related Disorders. Dari: Kaplan & Sadock
Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry 9th edition, Lippingcott
Williams & Wilkins, 2002, h. 380-435.
3. Allen K.M. Clinical Care of the Addicted Client, Review Article on: American
Psychiatriy Journal, 2010 October 20.
4. Maslim Rusdi, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PDGJ-III,
PT. Nuh Jaya, 2001, h. 34-43.
5. The Indonesian Florence Nightingale Foundation, Kiat Penanggulangan dan
Penyalahgunaan Ketergantungan NAPZA. Dalam: www.ifnf.org/NAPZA/ <diakses pada
Selasa, 27 September 2011.
6. Klagenberg KF, Zeigelboim BS, Jurkiewicz AL, Martins-Bassetto J. Substance Related
Disorders in Teenagers. PMC Journal, 2007 May-Jun;73(3):353-8.
7. Tom, Kus, Tedi. Bahaya NAPZA Bagi Pelajar , Bandung :Yayasan Al-Ghifari,2009, h.2057.
8. Morgan, Segi PraktisPsikiatri, Jakarta; Bina rupa aksara,2001, h. 110-145.
9. Stuart Sundeen, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, St Louis: Mosby Year
Book, 2001. Dalam: www.pdfsearch.com/ebook/ <diakses pada Selasa, 27 September
2011.
10. Smith, CM.,Community Health Nursing; Theory and Practice .Philadelphia: W.B.
Saunders Company. Dalam: www.pdfsearch.com/ebook/ <diakses pada Selasa, 27
September 2011.
11. Warninghoff JC, Bayer O,Straube A, Ferarri U. Treatment and Rehabilitation in
Substance Related disorders, Review Article on: British Psychiatry Journal, 2009 July 7.

22