Anda di halaman 1dari 28

KEGIATAN BELAJAR 1

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH


Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!
A. Pengantar
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan. Berbagai
upaya telah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan mutu
pendidikan nasional, misalnya pengembangan delapan

standar

nasional pendidikan, alokasi dana pendidikan minimal 20% APBN


dan

APBD,

sertifikasi

pendidik

beserta

tunjangan

profesinya,

penerapan ujian nasional, peningkatan partisipasi masyarakat dalam


pendidikan, dan sejumlah terobosan baru berdasarkan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
B. Materi Pokok
Pada bagian ini akan diuraikan seperlunya mengenai topik-topik
berikut: (1) pola baru manajemen pendidikan masa depan, (2) arti
MBS, (3) tujuan MBS, (4) karakteristik MBS, dan (5) urusan-urusan
yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah.
1. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan
Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan
nasional dan digulirkannya otonomi daerah telah mendorong
dilakukannya penyesuaian dari pola lama manajemen pendidikan
menuju pola baru.
Tabel

Dimensi-Dimensi

Perubahan

Pendidikan

Pola

Manajemen

Pola Lama

2.
Arti

Menuju

Pola Baru

Otonomi
Pengambilan keputusan

keputusan terpusat
Ruang gerak kaku
Pendekatan

partisipatif
Ruang gerak luwes
Pendekatan professional

birokratik
Sentralistik
Diatur
Overregulasi
Mengontrol
Mengarahkan
Menghindari resiko
Gunakan uang

Desentralistik
Motivasi diri
Deregulasi
Mempengaruhi
Memfasilitasi
Mengelola resiko
Gunakan uang seefisien

semuanya
Individual yang

mungkin
Teamwork yang cerdas

cerdas
Informasi terpribadi
Pendelegasian
Organisasi herarkis

Informasi terbagi
Pemberdayaan
Organisasi datar

Subordinasi
Pengambilan

MBS
MBS dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang
memberikan otonomi, dan keluwesan (fleksibilitas) yang lebih
besar

kepada

sekolah,

dan

mendorongpartisipasiaktif

langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu


sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan
perundang-undangan yang berlaku (Anonim, 2007).
3.Tujuan MBS
MBS bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian
kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah
yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang
baik

yaitu

partisipasi,

transparansi,

dan

akuntabilitas.

Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan


kualitas,

efektivitas,

efisiensi,

produktivitas,

dan

inovasi

pendidikan.Prinsip MBS menurut PP 19 Tahun 2005 tentang

Standar Pendidikan Nasional, pasal 54 adalah mandiri, efisien,


efektif, dan akuntabel.
2

4. Karakteristik MBS
MBS memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah
yang akan menerapkannya.Pendekatan sistem yaitu input-prosesoutputdigunakan

sebagai

panduan

dalam

menguraikan

karakteristik MBS.

a. Output yang Diharapkan


Sekolah memiliki output yang diharapkan. Output sekolah
adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran
dan

manajemen

di

sekolah.

Pada

umumnya,

output

dapat

diklasifikasikan menjadi dua, yaitu prestasi akademik (academic


achievement)

dan

prestasi

non-akademik

(non-academic

achievement).

b. Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki 15 karakteristik
proses sebagai berikut.
(1) Proses Pembelajaran yang Efektivitasnya Tinggi
Sekolah yang menerapkan MBS memiliki efektivitas
proses pembelajaran yang tinggi. Ini ditunjukkan oleh sifat
proses

pembelajaran

yang

menekankan

pada

pemberdayaan peserta didik. Proses pembelajaran yang


efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui
(learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar
hidup bersama (learning to live together), dan belajar
menjadi diri sendiri (learning to be).

(2) Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Kuat


Kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang
dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi,
misi, tujuan, dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.
3

Oleh

karena

itu,

kepala

sekolah

dituntut

memiliki

kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh


agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa
untuk meningkatkan mutu sekolah.
(3) Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib
Sekolah

memiliki

lingkungan

(iklim)

belajar

yang

aman, tertib, dan nyaman sehingga proses pembelajaran


dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning).
Pengelolaan

tenaga

kependidikan,

mulai

dari

analisis

kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja,


hubungan

kerja

sehingga

sampai

pada

imbal

jasa,

merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah.


(4) Sekolah Memiliki Budaya Mutu
Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut:

(a)

informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan, bukan


untuk mengadili/mengontrol orang; (b) kewenangan harus
sebatas tanggungjawab; (c) hasil harus diikuti penghargaan
(rewards) atau sanksi (punishment); (d) kolaborasi dan
sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan basis untuk
kerjasama;

(e)

pekerjaannya;

warga
(f)

sekolah

atmosfir

merasa

keadilan

aman

terhadap

(fairness)

harus

ditanamkan; (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai


pekerjaannya; dan (h) warga sekolah merasa memiliki
sekolah.
(5) Sekolah Memiliki Teamwork yang Kompak, Cerdas, dan
Dinamis
Budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah, antar
individu dalam sekolah, harus merupakan kebiasaan hidup
sehari-hari warga sekolah.
(6) Sekolah Memiliki Kewenangan
Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang
4

terbaik bagi sekolahnya sehingga dituntut untuk memiliki


kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu
menggantungkan pada atasan.
(7) Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat
Sekolah yang menerapkan MBS memiliki karakteristik
bahwa

partisipasi

warga

sekolah

dan

masyarakat

merupakan bagian kehidupannya.


(8) Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen
Keterbukaan
keputusan,

ini

ditunjukkan

perencanaan

dan

dalam

pengambilan

pelaksanaan

kegiatan,

penggunaan uang, dan sebagainya, yang selalu melibatkan


pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol.
(9) Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan
Fisik)
Perubahan
menyenangkan
merupakan

harus
bagi

semua

peningkatan,

psikologis.Hasil

merupakan

perubahan

warga

baik

sesuatu

sekolah.

bersifat

diharapkan

Perubahan

fisik
lebih

yang
maupun

baik

dari

sebelumnya.
(10)Sekolah

Melakukan

Evaluasi

dan

Perbaikan

Secara

Berkelanjutan
Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan
untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan
peserta didik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana
memanfaatkan

hasil

evaluasi

belajar

tersebut

untuk

memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran di


sekolah.
(11) Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan
Sekolah selalu tanggap (responsif) terhadap berbagai
aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu, serta mampu
mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi.
5

(12) Memiliki Komunikasi yang Baik


Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi
yang baik, terutama antar warga sekolah, dan antar sekolah
dan masyarakat, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan
oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui.
(13) Sekolah Memiliki Akuntabilitas
Akuntabilitas
yang

harus

program

adalah

dilakukan

yang

telah

bentuk

sekolah

pertanggungjawaban

terhadap

dilaksanakan.

keberhasilan

Akuntabilitas

ini

berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan


kepada pemerintah, orangtua siswa, dan masyarakat.
(14) Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Bagus
Sekolah efektif melaksanakan manajemen lingkungan
hidup sekolah secara efektif. Sekolah melakukan upayaupaya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan
kesadaran warga sekolah tentang nilai-nilai lingkungan
hidup dan mampu mengubah perilaku dan sikap warga
sekolah untuk menuju lingkungan hidup yang sehat.
(15) Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas
Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk
menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik
dalam program maupun pendanaannya.
c. Input Pendidikan
(1)

Memiliki Kebijakan, Tujuan, dan Sasaran Mutu yang


Jelas
Secara formal, sekolah menyatakan dengan jelas
tentang

keseluruhan

kebijakan,

tujuan,

dan

sasaran

sekolah yang berkaitan dengan mutu. Kebijakan, tujuan,


dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah.
Kebijakan,

tujuan,

dan

sasaran

mutu

tersebut

disosialisasikan kepada semua warga sekolah, sehingga

tertanam pemikiran, tindakan, kebiasaan, hingga sampai


pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah.
(1)

Sumberdaya Tersedia dan Siap


Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan
untuk

berlangsungnya

proses

pendidikan

di

sekolah.

Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu


sumberdaya

manusia

dan

sumberdaya

lainnya

(uang,

peralatan, perlengkapan, bahan, dan sebagainya).


Secara umum, sekolah yang menerapkan MBS harus
memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai
untuk menjalankan proses pendidikan. Oleh sebab itu,
diperlukan

kepala

sekolah

yang

mampu

memobilasi

sumberdaya yang ada di sekitarnya.


(2)

Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi


Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf
yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap
sekolahnya.

(3)

Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi


Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan
harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta
didik dan sekolahnya. Harapan tinggi dari kepala sekolah,
guru, dan peserta didik di sekolah merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk
selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya.

(4)

Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa)


Pelanggan, terutama siswa, harus merupakan fokus
dari semua kegiatan sekolah.

(5)

Input Manajemen
Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan
membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan
efektif. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas
yang jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program
7

yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuanketentuan (aturan main) yang jelas.
5. Urusan-urusan yang Menjadi Kewenangan dan Tanggung
Jawab Sekolah
Desentralisasi urusan-urusan pendidikan di sekolah tidak semua
urusan dilimpahkan ke sekolah, tetapi sebagian urusan masih
merupakan

kewenangan

dan

tanggungjawab

Pemerintah,

pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan sebagian


urusan lainnya diserahkan ke sekolah. Urusan-urusan pendidikan
yang sebagian menjadi kewenangan dan tanggungjawab sekolah,
yaitu: (1) proses belajar mengajar, (2) perencanaan dan evaluasi
program sekolah, (3) pengelolaan kurikulum, (4)

pengelolaan

ketenagaan, (5) pengelolaan peralatan dan perlengkapan, (6)


pengelolaan keuangan, (7) pelayanan siswa, (8) hubungan sekolahmasyarakat, dan (9) pengelolaan kultur sekolah.
(1)Pengelolaan Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah.
Secara

umum,

strategi/metode/teknik

pembelajaran

dan

pengajaran yang dipilih harus pro-perubahan.


(2) Perencanaan dan Evaluasi
Sekolah diberi kewenangan untuk menyusun rencana
pengembangan sekolah (RPS) atau school-based plan sesuai
dengan

kebutuhannya.

peningkatan

Sekolah

pemerataan,

mutu,

harus

membuat

relevansi

dan

rencana
efisiensi

sekolah.Untuk itu, sekolah harus melakukan evaluasi, khususnya


evaluasi yang dilakukan secara internal.
(3) Pengelolaan Kurikulum
Pengelolaan kurikulum yang dimaksud dinamakan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemerintah Pusat hanya
menetapkan

standar

dan

sekolah

diharapkan

mengoperasionalkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah


pusat. Selanjutnya sekolah berhak mengembangkan KTSP ke
8

dalam silabus, materi pokok pembelajaran, proses pembelajaran,


indikator

kunci

kinerja,

sistem

penilaian,

dan

rencana

pelaksanaan pembelajaran.
(4)Pengelolaan
Ketenagaan
Kependidikan)

(Pendidik

dan

Tenaga

Pengelolaan ketenagaan, mulai dari analisis kebutuhan,


perencanaan, rekrutmen, pengembangan, hadiah dan sanksi
(reward and punishment), hubungan kerja, sampai evaluasi
kinerja tenaga kerja sekolah (guru, tenaga administrasi, laboran,
dan

sebagainya)

dapat

dilakukan

oleh

sekolah,

kecuali

pengupahan dan rekrutmen pegawai negeri.


(5) Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan)
Pengelolaan fasilitas sekolah meliputi pengadaan,
pemeliharaan dan perbaikan, hingga pengembangan.
(6) Pengelolaan Keuangan
Pengelolaan dan penggunaan keuangan menjadi
kewenangan sekolah sesuai kebutuhannya. Sekolah juga harus
diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
mendatangkan

penghasilan

(income

generating

activities),

sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada


pemerintah.
(7)Pelayanan Siswa
Pelayanan siswa, mulai dari penerimaan siswa baru,
pengembangan/pembinaan/pembimbingan,

penempatan

untuk

melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja, hingga


sampai pada pengurusan alumni.
(8) Hubungan Sekolah-Masyarakat
Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan
keterlibatan,

kepedulian,

kepemilikan,

dan

dukungan

dari

masyarakat terutama dukungan moral dan finansial.


(9) Pengelolaan Kultur Sekolah
Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimisme dan
harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah, kesehatan
9

sekolah,

dan

kegiatan-kegiatan

yang

terpusat

pada

siswa

(student-centered activities).
Uraian di atas dapat digambarkan sebagai berikut.
Input

Proses

Output

Perencana
an dan
evaluasi
Pengelolaa
n
Proses
Kurikulum
Prestasi
Belajar
Pengelolaa
Siswa
Mengaj
n
ar
Ketenagaa
n
Pengelolaa
n peralatan
dan
perlengkap
an
Pengelolaa
n
Gambar 1. Urusan-urusan yang Didesentralisasikan
Keuangan
Pelayanan
siswa
Humas
Pengelolaa
n kultur
KEGIATAN BELAJAR 2
sekolah
PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!


A. Pengantar
Pelaksanaan

MBS

sudah

sepantasnya

menerapkan

pendekatan

idiograpik (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan


MBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan nomotetik (cara
melaksanakan MBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua
10

sekolah). Oleh karena itu, dalam arti yang sebenarnya, tidak ada satu
resep pelaksanaan MBS yang sama untuk diberlakukan ke semua
sekolah. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah
pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis
sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya
(one-shot and quick-fix), akan tetapi merupakan proses yang
berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang
berwenang dan bertanggungjawab dalam penyelenggaraan sekolah.
Paling tidak, proses menuju MBS memerlukan perubahan empat hal
pokok berikut.
(1) Perlu penyempurnaan peraturan-peraturan, ketentuan-ketentuan,
dan kebijakan-kebijakan bidang pendidikan yang ada di daerah yang
menjadikan sekolah bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai
unit utama.
(2) Kebiasaan (routines) berperilaku warga (unsur-unsur) sekolah perlu
disesuaikan karena MBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku
baru yang mandiri, kreatif, proaktif, sinergis, koordinatif/kooperatif,
integratif, sinkron, luwes, dan professional.
(3) Peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang
diputuskan oleh birokrat diatasnya) perlu disesuaikan menjadi
sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (self-motivator).
(4) Hubungan antar warga (unsur-unsur) dalam sekolah, dengan
instansi terkait.

B. Materi Pokok
1. Tahap-tahap Pelaksanaan
a. Melakukan Sosialisasi MBS
Sosialisasi konsep MBS dilakukan oleh sekolah kepada semua
warga/unsur sekolah (guru, siswa, wakil kepala sekolah, guru
BK, karyawan, orangtua siswa, pengawas, pejabat Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota, pejabat Dinas Pendidikan Provinsi,
dan sebagainya) melalui berbagai mekanisme.
b. Memperbanyak Mitra Sekolah
11

Kemitraan dalam sekolah meliputi: kepala sekolah dengan


guru, guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan
siswa.

Kemitraan

sekolah

dengan

masyarakat

sekitarnya

meliputi: kepala sekolah dengan komite sekolah, guru dengan


orangtua siswa, kepala sekolah dengan instansi terkait.
c. Merumuskan

Kembali

Aturan

Sekolah,

Peran

Unsur-unsur

Sekolah,Kebiasaan dan Hubungan antar Unsur-unsur Sekolah


Aturan sekolah perlu dirumuskan kembali agar sesuai dengan
tuntutan MBS yaitu otonomi, fleksibilitas, dan partisipasi.
Demikian juga, peran masing-masing unsur sekolah perlu
ditinjau

kembali

sesuai

dengan

tuntutan

MBS

yaitu

demokratisasi sekolah. Ini berarti bahwa peran-peran yang


semula lebih bersifat otoriter perlu diubah agar

menjadi

egaliter.
d. Menerapkan Prinsip-prinsip Tata Kelola yang Baik
Prinsip-prinsip tata kelola yang baik meliputi: partisipasi,
transparansi,
kedepan,

tanggung

jawab,

penegakan

akuntabilitas,

hukum,

keadilan,

wawasan
demokrasi,

prediktibilitas, kepekaan, profesionalisme, efektivitas, efisiensi,


dan kepastian jaminan hukum.
e. Mengklarifikasi Fungsi dan Aspek Manajemen Sekolah
Manajemen sekolah merupakan pengelolaan sekolah yang
dilakukan

dengan

dan

melalui

pendidik

dan

tenaga

kependidikan untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif


dan

efisien.Fungsi-fungsi

sekolah

(digabung

diklarifikasi

secara

manajemen

menjadi

dan

manajemen

bersama-sama

urusan-urusan
sekolah)

untuk

perlu

menemukan

pembagian urusan-urusan tentang fungsi-fungsi manajemen


dan urusan-urusan pendidikan yang menjadi kewenangan dan
tanggungjawab sekolah, termasuk komite sekolah.
Matrik Manajemen Berbasis Sekolah
12

Perencanaan

Pengorganisasian

Pelaksanaan

Pengkoordinasian

Pengontrolan

PBM

Kurikulum

Penilaian

Pendidik & TK

Kesiswaan

Sarpras

Dana

Humas

Fungsi
Aspek

f. Meningkatkan Kapasitas Sekolah

Keberhasilan MBS sangat tergantung pada kesiapan


kapasitas (kemampuan dan kesanggupan) sekolah. Makin
tinggi tingkat kesiapan kapasitas sekolah dalam melaksanakan
MBS, makin tinggi pula tingkat keberhasilan MBS di sekolah
yang bersangkutan.
g. Meredistribusi Kewenangan dan Tanggung jawab
Dalam MBS, kewenangan dan tanggung jawab tidak lagi
terpusat pada kepala sekolah, tetapi disebar/didistribusikan
kepada

para

pemangku

kepentingan

pendidikan

sekolah.

Kekuatan di sekolah tidak lagi semata-mata di satu pundak


kepala sekolah, melainkan menjadi kekuatan kolektif (team
work).
h. Menyusun

Rencana

Pengembangan

Sekolah

(RPS/RKAS),

Melaksanakan, dan Memonitor serta Mengevaluasinya


Sekolah pelaksana MBS diharapkan menyusun desain,
melaksanakan

dan

melakukan

evaluasi

RPS/RKAS

secara

berkelanjutan setiap 5 tahun (renstra) dan rencana tahunan seperti


gambar berikut.

Desai
n
RPS

- Cakupan Isi
RPS
- Kualitas RPS

Implementasi
RPS

Evaluasi
RPS

Kepatuhan
Kesesuaian
Implementasi13dengan
Hasil dengan
Desain RPS
Desain RPS

Feed Back
Gambar 2. Disain, Implementasi, dan Evaluasi RPS
2. Penyusunan RPS/RKAS berdasarkan tuntutan MBS
a.

Menyusun Desain RPS/RKAS


RPS/RKAS disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar
perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai
dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil; (2)
mendukung koordinasi antar pelaku sekolah; (3) menjamin
terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi, baik antar
pelaku

sekolah,

antar

sekolah

dan

dinas

pendidikan

kabupaten/kota, dan antar waktu; (4) menjamin keterkaitan dan


konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,
dan pengawasan; (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah
dan masyarakat, dan (6) menjamin tercapainya penggunaan
sumberdaya

secara

efisien,

efektif,

dan

berkeadilan

dan

berkelanjutan.
b.

Melaksanakan RPS/RKAS
Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan,
maka

sekolah

perlu

mengambil

langkah

proaktif

untuk

mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Kepala


sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam
menjalankan

program-program

yang

diproyeksikan

supaya

dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.


c.

Melakukan Monitoring dan Evaluasi RPS/RKAS


Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program, sekolah
perlu

mengadakan

evaluasi

pelaksanaan

program

jangka

pendek maupun jangka panjang. Dalam melaksanakan evaluasi,


kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang
terlibat dalam program, khususnya guru dan tenaga lainnya.
14

Demikian pula, orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai


pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan
program yang telah dilaksanakan. Hasil evaluasi pelaksanaan
MBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari teknis dan keuangan.
d.

Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi


Seiring dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor
38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan (Bidang Pendidikan)
antara

Pemerintah,

Pemerintah

Propinsi,

dan

Pemerintah

Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP 38/2007), maka tugas


dan fungsi masing-masing jajaran birokrasi pendidikan dalam
penyelenggaraan MBS dapat dituliskan sebagai berikut.
1) Direktorat Pembinaan Sekolah (SD, SMP, SMA, SMK)
Direktorat

Pembinaan

Sekolah

(SD,

SMP,

SMA,

SMK,

selanjutnya disingkat Direktorat Pembinaan) mempunyai


tugas

dan

fungsi

menyusun

perundang-undangan),
kebijakan,

baik

norma-norma

standar,

pada

kriteria,

tataran

(peraturan

prosedur,

dan

formulasi/penetapan,

implementasi, maupun evaluasinya pada tingkat nasional.


2) Dinas Pendidikan Provinsi
Tugas

dan

menjabarkan

fungsi

Dinas

kebijakan

Pendidikan

dan

strategi

Provinsi
MBS

yang

adalah
telah

digariskan oleh Direktorat Pembinaan untuk diberlakukan di


Provinsi masing-masing.
3) Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas
dan

fungsi

utamanya

memberikan

pelayanan

dalam

pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masingmasing yang menjalankan MBS.


4) Sekolah
Tugas

dan
15

fungsi

utama

sekolah

adalah

mengelolapenyelenggaraan MBS di sekolah masing-masing.


Sekolah

menjalankan

tugas

dan

fungsinya

sebagai

berikut:Menyusun rencana dan program pelaksanaan MBS


dengan melibatkan pemangku kepentingan, antara lain:
wakil sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru,
tata usaha), wakil siswa (OSIS), wakil orangtua siswa, wakil
organisasi

profesi,

wakil

pemerintah,

dan

tokoh

masyarakat;Melaksanakan MBS secara efektif dan efisien


dengan

menerapkan

prinsip-prinsip

total

quality

management (fokus pada pelanggan, perbaikan secara


terus-menerus, dan keterlibatan total warga sekolah dalam
meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir
holistik/tidak

parsial,

Melaksanakan

saling

pengawasan

terkait,

dan

dan

terpadu);

pembimbingan

dalam

pelaksanaan MBS sehingga implementasi dapat dijamin


untuk mencapai sasaran MBS;Melakukan evaluasi untuk
menilai tingkat ketercapaian sasaran program MBS yang
telah

ditetapkan.

menentukan

Hasil

sasaran

evaluasi
baru

digunakan

program

MBS

untuk
tahun

berikutnya;Menyusun laporan penyelenggaraan MBS beserta


hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihakpihak

terkait;

penyelenggaraan

danMempertanggung
MBS

kepada

jawabkan
pihak-pihak

hasil
yang

berkepentingan dengan sekolah.


5) Komite Sekolah
Tugas dan fungsi utama Komite Sekolah dalam
pelaksanaan MBS di sekolah adalah: (1) memberi masukan,
pertimbangan, dan rekomendasi kepada sekolah mengenai
kebijakan dan program pendidikan, RAPBS, kriteria kinerja
sekolah, kriteria pendidik dan tenaga kependidikan, kriteria
fasilitas pendidikan, dan hal-hal lain yang terkait dengan
pendidikan; (2) mendorong orangtua siswa dan masyarakat

16

untuk berpartisipasi dalam pendidikan, (3) menggalang dana


masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan
pendidikan,

(4)

mendorong

komitmen

masyarakat

tumbuhnya
terhadap

perhatian

dan

penyelenggaraan

pendidikan yang bermutu tinggi, (5) melakukan evaluasi dan


pengawasan terhadap kebijakan/program/penyelenggaraan
dan keluaran pendidikan, (6) melakukan kerjasama dengan
masyarakat, dan (7) menampung dan menganalisis aspirasi,
ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang
diajukan oleh masyarakat.

KEGIATAN BELAJAR 3

17

TATA KELOLA YANG BAIK

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!


A. Pengantar
Sekolah diberi otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) yang
lebih besar untuk mengelola sekolahnya. Namun, kewenangan dan
tanggung jawab yang lebih besar hanya dapat dilaksanakan dengan
baik apabila sekolah menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik
yaitu partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efektivitas, efisiensi,
berwawasan ke depan, hukum dilaksanakan dengan baik, keadilan,
demokrasi/egaliterisme, prediktif, peka terhadap aspirasi stakeholders,
dan pasti dalam penjaminan mutu. Berikut uraian singkat tentang
partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas.
B. Materi Pokok
1. Partisipasi
a. Latar Belakang
MBS mensyaratkan adanya partisipasi aktif dari semua pihak
yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah
(stakeholders), baik warga sekolah seperti guru, kepala sekolah,
siswa, dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya, maupun warga di
luar

sekolah

seperti

orang

tua

siswa,

akademisi,

tokoh

masyarakat,dan pihak-pihak lain yang mewakili masyarakat yang


diwadahi melalui komite sekolah. Saat ini, Komite Sekolah
merupakan wadah formal bagi stakeholdersuntuk berpartisipasi
secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan
sekolah.
b.Arti Partisipasi
Partisipasi adalah proses di mana stakeholders (warga
sekolah dan masyarakat) terlibat aktif baik secara individual
maupun kolektif, secara langsung maupun tidak langsung, dalam
18

pengambilan keputusan, pembuatan kebijakan, perencanaan,


pelaksanaan, pengawasan/ pengevaluasian pendidikan sekolah.
Diharapkan, partisipasi dapat mendorong warga sekolah dan
masyarakat

sekitar

untuk

menggunakan

haknya

dalam

menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan,


pembuatan

kebijakan,

perencanaan,

pengawasan/pengevaluasian

yang

menyangkut

pelaksanaan,
kepentingan

sekolah, baik secara individual maupun kolektif, secara langsung


maupun tidak langsung.
c. Tujuan Partisipasi
Tujuan utama peningkatan partisipasi adalah untuk: (1)
meningkatkan

dedikasi/

kontribusi

stakeholders

terhadap

penyelenggaraan pendidikan di sekolah, baik dalam bentuk jasa


(pemikiran/intelektualitas, keterampilan), moral, finansial, dan
material/barang; (2) memberdayakan kemampuan yang ada pada
stakeholders

bagi

pendidikan

untuk

mewujudkan

tujuan

pendidikan nasional; (3) meningkatkan peran stakeholders dalam


penyelenggaraan pendidikan di sekolah, baik sebagai advisor,
supporter, mediator, controller, resource linker, and education
provider, dan (4) menjamin agar setiap keputusan dan kebijakan
yang diambil benar-benar mencerminkan aspirasi stakeholders
dan menjadikan aspirasi stakeholders sebagai panglima bagi
penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
d.Upaya-Upaya Peningkatan Partisipasi
Upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam rangka
meningkatkan partisipasi stakeholders adalah sebagai berikut.
(1) Menyediakan sarana partisipasi atau saluran komunikasi agar
stakeholders
keinginannya,

dapat

mengutarakan

pendapatnya,

dan aspirasinya melalui pertemuan umum,

temu wicara, konsultasi, dan penyampaian pendapat secara


tertulis.
(2) Melakukan advokasi, publikasi, komunikasi, dan transparansi
kepada stakeholders.
19

e. Indikator Keberhasilan Partisipasi


Keberhasilan peningkatan partisipasi stakeholders dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat diukur dengan
enam indikator berikut.
(1) Kontribusi/dedikasi stakeholders meningkat dalam hal jasa
(pemikiran,

keterampilan),

finansial,

moral,

dan

material/barang.
(2) Meningkatnya

kepercayaan

stakeholders

kepada

sekolah,

terutama menyangkut kewibawaan dan kebersihan.


(3) Meningkatnya

tanggungjawab

stakeholders

terhadap

penyelenggaraan pendidikan di sekolah.


(1) Meningkatnya kualitas dan kuantitas masukan (kritik dan
saran) untuk peningkatan mutu pendidikan.
(4) Meningkatnya kepedulian stakeholders
terhadap

setiap

langkah yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan


mutu.
(5) Keputusan-keputusan yang dibuat oleh sekolah benar-benar
mengekspresikan aspirasi dan pendapat stakeholders dan
mampu meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Transparansi
a. Latar Belakang
Sekolah adalah organisasi pelayanan yang diberi mandat oleh
publik

untuk

menyelenggarakan

pendidikan

sebaik-baiknya.

Mengingat sekolah adalah organisasi pelayanan publik, maka


sekolah harus transparan kepada publik mengenai proses dan
hasil pendidikan yang dicapai. Transparansi dicapai melalui
kemudahan dan kebebasan publik untuk memperoleh informasi
dari sekolah.Pengembangan transparansi sangat diperlukan untuk
membangun

keyakinan

dan

kepercayaan

publik

kepada

sekolah.Dengan transparansi yang tinggi, publik tidak lagi curiga


terhadap sekolah dan karenanya keyakinan dan kepercayaan
publik terhadap sekolah juga tinggi.
b.Arti Transparansi

20

Transparansi sekolah adalah keadaan di mana setiap orang


yang terkait dengan kepentingan pendidikan dapat mengetahui
proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah.
Dalam konteks pendidikan, istilah transparansi sangatlah jelas
yaitu kepolosan, apa adanya, tidak bohong, tidak curang, jujur,
dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh
sekolah. Ini berarti bahwa sekolah harus memberikan informasi
yang benar kepada publik. Transparansi menjamin bahwa data
sekolah yang dilaporkan mencerminkan realitas.
c. Tujuan Transparansi
Pengembangan transparansi bertujuan untuk membangun
kepercayaan dan keyakinan publik kepada sekolah bahwa sekolah
adalah

organisasi

pelayanan

pendidikan

yang

bersih

dan

berwibawa. Bersih dalam arti tidak KKN dan berwibawa dalam arti
profesional.
d.Upaya-Upaya Peningkatan Transparansi
Transparansi sekolah perlu ditingkatkan agar publik
memahami situasi sekolah dan dengan demikian mempermudah
publik untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di
sekolah. Upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam kerangka
meningkatkan transparansi sekolah kepada publik antara lain
melalui pendayagunaan berbagai jalur komunikasi, baik secara
langsung melalui temu wicara, maupun secara tidak langsung
melalui

jalur

media

tertulis

(brosur,

leaflet,

newsletter,

pengumuman melalui surat kabar) maupun media elektronik


(radio dan televisi lokal), serta handphone.
e. Indikator Keberhasilan Transparansi
Keberhasilan transparansi sekolah ditunjukkan oleh beberapa
indikator berikut: (a) meningkatnya keyakinan dan kepercayaan
publik kepada sekolah bahwa sekolah adalah bersih dan wibawa,
(2) meningkatnya partisipasi publik terhadap penyelenggaraan
sekolah, (3) bertambahnya wawasan dan pengetahuan publik
terhadap

penyelenggaraan
21

sekolah,

dan

(4)

berkurangnya

pelanggaran

terhadap

peraturan

perundang-undangan

yang

berlaku di sekolah.
3. Akuntabilitas
a. Latar Belakang
MBS memberi kewenangan yang lebih besar kepada
penyelenggara sekolah yaitu kewenangan untuk mengatur dan
mengurus sekolah, mengambil keputusan, mengelola, memimpin,
dan mengontrol sekolah. Agar penyelenggara sekolah tidak
sewenang-wenang

dalam

menyelenggarakan

sekolah,

maka

sekolah harus bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan.


Untuk

itu,

sekolah

berkewajiban

mempertanggungjawabkan

kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekwensi


dari mandat yang diberikan oleh publik/ masyarakat.
b.Arti Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan
pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan
kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang
memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan
atau pertanggungjawaban.
Akuntabilitas

meliputi

pertanggungjawaban

penyelenggara sekolah yang diwujudkan melalui transparansi


dengan

cara

menyebarluaskan

informasi

dalam

hal:

(a)

pembuatan dan pelaksanaan kebijakan serta perencanaan, (b)


anggaran pendapatan dan belanja sekolah, (c) pengelolaan
sumberdaya pendidikan di sekolah, dan (d) keberhasilan atau
kegagalan pelaksanaan rencana sekolah dalam mencapai tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan.
Menurut jenisnya, akuntabilitas dapat dikategorikan menjadi 4:
(1)

akuntabilitas

kebijakan,

yaitu

akuntabilitas

pilihan

atas

kebijakan yang akan dilaksanakan, (2) akuntabilitas kinerja


(product/quality

accountability),

yaitu

akuntabilitas

yang

berhubungan dengan pencapaian tujuan sekolah, (3) akuntabilitas


22

proses, yaitu akuntabilitas yang berhubungan dengan proses,


prosedur, aturan main, ketentuan, pedoman, dan sebagainya.,
dan (4)akuntabilitas keuangan (kejujuran) atau sering disebut
(financial accountability), yaitu akuntabilitas yang berhubungan
dengan pendapatan dan pengeluaran uang (cash in and cash
out). Sering kali istilah cost accountability juga digunakan untuk
kategori akuntabilitas ini.
c. Tujuan Akuntabilitas
Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong
terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu
prasyarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya.
Selain itu, tujuan akuntabilitas adalah untuk menilai kinerja
sekolah dan kepuasan publik terhadap pelayanan pendidikan
yang diselenggarakan oleh sekolah, untuk mengikutsertakan
publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan, dan untuk
mempertanggungjawabkan

komitmen

pelayanan

pendidikan

kepada publik.
Sekolah dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi jika proses dan
hasil kinerja sekolah dianggap benar dan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan sebelumnya.
d.Indikator Keberhasilan Akuntabilitas
Keberhasilan akuntabilitas dapat diukur dengan beberapa
indikator berikut, yaitu: (a) meningkatnya kepercayaan dan
kepuasan publik terhadap sekolah, (b) tumbuhnya kesadaran
publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraan
pendidikan di sekolah, (c) berkurangnya kasus-kasus KKN di
sekolah, dan (d) meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan
sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat.

23

KEGIATAN BELAJAR 4
MONITORING DAN EVALUASI

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat


A. Pengantar
Monitoring dan Evaluasi (ME) merupakan bagian integral dari
pengelolaan pendidikan, baik di tingkat mikro (sekolah), meso (dinas
pendidikan kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi), maupun makro
(kementerian).
Monitoring adalah suatu

proses pemantauan untuk mendapatkan

informasi tentang pelaksanaan MBS. Jadi, fokus monitoring adalah


pemantauan pada pelaksanaan MBS, bukan pada hasilnya. Tepatnya,
fokus

monitoring

menyangkut

adalah

proses

pada

komponen

pengambilan

proses

keputusan,

MBS,

baik

pengelolaan

kelembagaan, pengelolaan program, maupun pengelolaan proses


belajar mengajar. Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk
mendapatkan informasi tentang hasil MBS. Jadi, fokus evaluasi adalah
pada hasil MBS. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan
sasaran yang telah ditetapkan.

24

ME pada MBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat


digunakan untuk pengambilan keputusan. Hasil monitoring dapat
digunakan untuk memberi masukan (umpan balik) bagi perbaikan
pelaksanaan MBS. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi
yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan
komponen MBS, baik pada konteks, input, proses, output, maupun
outcomenya. Masukan-masukan dari hasil monitoring dan evaluasi
akan digunakan untuk pengambilan keputusan.
B. Materi Pokok
1. Komponen-Komponen MBS yang Dimonitor dan Dievaluasi
MBS sebagai sistem, memiliki komponen-komponen yang saling
terkait secara sistematis satu sama lain, yaitu konteks, input,
proses, output, dan outcome.
Konteks

adalah

eksternalitas

sekolah

berupa

demand

and

support(permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input


sekolah. Dalam istilah lain, konteks sama artinya dengan istilah
kebutuhan. Dengan demikian, evaluasi konteks berarti evaluasi
tentang kebutuhan. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi
konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment).
Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan siap
karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses.Secara garis besar,
input

dapat

diklasifikasikan

menjadi

sumberdaya, dan input manajemen.

tiga,

yaitu

harapan,

Harapan-harapan terdiri dari

visi, misi, tujuan, sasaran. Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu


sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang, peralatan,
perlengkapan, bahan). Input manajemen terdiri dari tugas, rencana,
program, regulasi (ketentuan-ketentuan, limitasi, prosedur kerja,
dan sebagainya), dan pengendalian atau tindakan turun tangan.
Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi
tentang ketersediaan dan kesiapan input sebagai prasyarat untuk
berlangsungnya proses.

25

Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain.


Dalam MBS sebagai sistem, proses terdiri dari: proses pengambilan
keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan
program, proses belajar mengajar, proses evaluasi sekolah, dan
proses akuntabilitas. Dengan demikian, fokus evaluasi pada proses
adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS, sehingga dapat
ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara
rancangan/disain

MBS semula dengan proses implementasi yang

sebenarnya. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut,


segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan.
Outputadalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. Hasil nyata yang
dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement),
misalnya, nilai NUN, dan peringkat lomba karya tulis, maupun
prestasi

non-akademik

(non-academic

achievement),

misalnya,

IMTAQ, kejujuran, kedisiplinan, dan prestasi olahraga, kesenian, dan


kerajinan.

Fokus

sejauhmana

evaluasi

sasaran

pada

(immediate

output

adalah

objectives)

mengevaluasi

yang

diharapkan

(kualitas, kuantitas, waktu) telah dicapai oleh MBS. Dengan kata


lain, sejauhmana hasil nyata sesaat sesuai dengan hasil/sasaran
yang diharapkan. Tentunya makin besar kesesuaiannya, makin
besar pula kesuksesan MBS.
Outcome adalah hasil MBS jangka panjang, yang berbeda
dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat/jangka
pendek. Karena itu, fokus evaluasi outcome adalah pada dampak
MBS jangka panjang, baik dampak individual (siswa), institusional
(sekolah), dan sosial (masyarakat). Untuk melakukan evaluasi ini,
pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit
analysis).ME dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan
konteks, input, proses, output, dan outcome pada waktu sebelum
dan

sesudah

melaksanakan

MBS.

Selain

memonitor

dan

mengevaluasi komponen-komponen konteks, input, proses, output,


dan outcome sekolah, yang tidak kalah penting untuk dimonitor dan
dievaluasi adalah pelaksanaan prinsip-prinsip MBS yang baik (tata
26

pengelolaan yang baik), seperti disebut sebelumnya yaitu meliputi:


partisipasi, transparansi, tanggungjawab, akuntabilitas, wawasan ke
depan, penegakan hukum, keadilan, demokrasi, prediktif, kepekaan,
profesionalisme, efektivitas dan efisiensi, dan kepastian jaminan
hukum. Setiap tata pengelolaan harus dievaluasi apakah sebelum
dan sesudah MBS ada perubahan tata pengelolaan sekolah.Berikut
adalah visualisasi ME pada saat sebelum dan pada saat sesudah
melaksanakan MBS.
PRA & PASCA MPMBS ?

MBS
SEBELUM

SESUDAH

Konteks
Input
Proses
Output
Outcome
Tata Pengelolaan yang Baik
(Good Governance)

Gambar 3: Monitoring dan Evaluasi MBS

2. Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal


Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah, yaitu internal
dan eksternal. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal
adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri.
Pada umumnya, pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah
warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orangtua
siswa, guru bimbingan dan penyuluhan, dan warga sekolah lainnya.
Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk
mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan
dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Sedang yang
dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan
evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external
27

institution), misalnya Dinas Pendidikan, Pengawas, dan Perguruan


tinggi, atau gabungan dari ketiganya. Hasil monitoring dan evaluasi
eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu
sekolah, meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah, kepentingan
akuntabilitas

publik,

keseluruhan,

dan

memperbaiki

membantu

sistem

sekolah

yang

dalam

ada

secara

mengembangkan

dirinya.
3. Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan MBS
Untuk mengevaluasi keberhasilan MBS, sekolah-sekolah yang
melaksanakan

MBS

harus

membuat

tonggak-tonggak

kunci

keberhasilan untuk kurun waktu tertentu. Tonggak-tonggak kunci


keberhasilan MBS merupakan target-target hasil MBS yang akan
dicapai dalam jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1
tahun). Target-target tersebut bersumber dari pemerataan kualitas
pendidikan, dan tata kelola sekolah yang baik (good governance)
yang

meliputi:

partisipasi,

transparansi,

tanggungjawab,

akuntabilitas, wawasan kedepan, penegakan hukum, keadilan,


demokrasi, prediktif, kepekaan, profesionalisme, efektivitas dan
efisiensi, dan kepastian jaminan hukum. Sebaiknya, tonggaktonggak kunci keberhasilan dibuat tabuler yang terdiri dari programprogram strategis dan tonggak-tonggak kunci keberhasilan dari
setiap program strategis.

28