Anda di halaman 1dari 46

TUGAS TERSTRUKTUR MN 1

IBU HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG

Disusun Oleh :
Kelompok 4
FELA ERMAWATI 0710720005

DYAH RATNA SARI 0710720014


LEGA UMAMI 0710720024
PRINGGA ADITYAWAN 0710720034
KRISTIEN T 0710720043
DIAN BEKTI SUSANTI 0710723010
ISTIQAMAH 0710723019

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan
Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah “Asuhan
Keperawatan pada Ibu Hamil Resiko Tinggi Dengan Pre Eklampsia dan
Eklampsia” untuk memenuhi tugas mata kuliah Maternity Nursing ini dengan
baik.
Atas terselesaikannya makalah ini, kami ingin mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Ibu Asty Melani Astari SKp. Mkep. Sp. Mat selaku
koordinator mata kuliah Maternity Nursing
2. Teman-teman Program A angkatan tahun 2007 yang
telah memberikan dukungan, semangat, dan dorongan untuk menyelesaikan
makalah ini
3. Pihak-pihak yang secara tidak langsung membantu
penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari apa yang kami sampaikan dalam makalah ini masih
terdapat banyak kekurangan, untuk itulah semoga dalam diskusi kelas nanti dapat
menjadi sarana untuk saling melengkapi. Kritik dan saran tetap kami harapkan
demi kesempurnaan makalah kami.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua sebagai landasan dalam
melakukan asuhan keperawatan. Amin.

Malang, 08 April 2008


Penyusun

Kelompok IV
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..............................................................................................
Daftar Isi ......................................................................................................
......................................................................................................
Bab 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ...................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................
1.3 Tujuan .................................................................................................
1.4 Manfaat ...............................................................................................
Bab II Pembahasan
2.1 Definisi dan Klasifikasi ......................................................................
2.2 Etiologi ................................................................................................
2.3 Tanda dan Gejala ...............................................................................
2.4 Patofisologi ..........................................................................................
2.5 Tes Diagnosa .......................................................................................
2.6 Penatalaksanaan ................................................................................
2.7 Asuhan Keperawatan ........................................................................
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan
Daftar Pustaka ...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehamilan akan menyebabkan perubahan fisiologis yang luas pada sistem


kardiovaskular dan berakibat terjadinya gangguan pada jantung dan aliran darah
sehingga perlu dipertimbangkan jika terjadi kehamilan. Pada wanita sehat dapat
beradaptasi terhadap perubahan hemodinamik (denyut jantung, sistem pernafasan,
volume darah, hormon dan lain sebagainya). Namun perubahan-perubahan ini
dapat menjadi ancaman pada wanita dengan penyakit jantung. Walaupun penyakit
jantung jarang muncul secara de novo selama kehamilan, namun banyak wanita
dengan penyakit jantung yang telah diketahui sebelumnya atau wanita dengan
potensi penyakit jantung mengalami kehamilan.
Insiden penyakit jantung pada kehamilan adalah sekitar 1% dan terus
meningkat. Perubahan ini mungkin sebagai hasil dari kemajuan penatalaksaan
penyakit jantung selama beberapa dekade terakhir hal ini menyebabkan
bertambahnya jumlah wanita dengan penyakit jantung bawaan mencapai
usia dewasa dan mampu melahirkan. Kemajuan teknik operasi dan medika
mentosa menyebabkan penurunan penyakit jantung rematik secara drastis
dibandingkan dengan penyakit jantung kongenital di dunia barat. Namun di
negara berkembang, penyakit jantung rematik masih cukup tinggi. Hal ini akan
menambah penyebab utama kematian pada maternitas, terhitung 35 kematian
secara tidak langsung di Inggris dari tahun 1997-1999. Di Malaysia, suatu laporan
yang diterbitkan tahun 2000, terdapat 77 kematian akibat penyakit jantung pada
kehamilan, sekitar 16,4% dari seluruh kematian pada kehamilan dari tahun 1995-
1996. Sebagai tambahan, masih terdapat angka morbiditas yang patut
dipertimbangkan berkenaan dengan gagal jantung kongestif, komplikasi
tromboemboli, dan gangguan irama jantung. Komplikasi pada fetus mencakup
keguguran, restriksi pertumbuhan intrauterinne, dan kelahiran prematur
(Patrick Chia, Hendrick Chia, dan Raman Subramaniam, 2008)
Penyakit hipertensi pada kehamilan berperan besar dalam morbiditas dan
mortalitas maternal dan perinatal. Hipertensi diperkirakan menjadi komplikasi
sekitar 7% sampai 10% seluruh kehamilan. Dari seluruh ibu yang mengalami
hipertensi, selama maa hamil, setengah sampai dua pertiganya didiagnosis
mengalami preeklampsia atau eklampsia (Brown,1991). Peneliti Fiona Broughton
Pipkin dari University of Notthingham dan koleganya dari Genetics of Pre-
Eklampsia (GOPEC) menjelaskan bahwa pre-eklamsia dan eklamsia adalah
penyebab kematian paling sering ke-2 saat kehamilan di Inggris dan diperkirakan
70.000 kematian di seluruh dunia pada perempuan hamil setiap tahun. Tahun
2005, 742 bayi meninggal sebagai akibat langsung hipertensi kehamilan di Inggris
dan Wales.(Scott, dkk, 1990, fairlie, sibai, 1993)
Tingginya angka kematian ibu hamil dan melahirkan di tanah air membuat
para pakar dan pemerintah gerah, sehingga segala cara telah dikerjakan namun
hasilnya masih jauh dari harapan. Menurut data yang diperoleh menunujkkan
bahwa, Indonesia menempati urutan pertama tertinggi angka kematian ibu hamil
dan melahirkan di Asia tenggara, Di Indonesia, Jawa barat merupakan propinsi
tertinggi sedangkan di Jawa barat maka Bogor dan Cirebon adalah urutan
pertama. Ini sama artinya Bogor dan Cirebon merupakan juara satu se Asia
Tenggara dalam hal tingginya Angka kematian ibu hamil dan melahirkan.
Menurut data, penyebab terbanyak kematian ibu adalah : Perdarahan, eklamsi,
penyakit jantung dan infeksi. Penyebab kematian terbesar kematian ibu hamil dan
melahirkan kemungkinan bukan oleh perdarahan melainkan akibat penyakit
jantung (kardiovaskuler).
Dengan tetap tingginya angka kematian ibu hamil dan melahirkan di
Indonesia dari tahun 2003 sampai sekarang, berbagai cara metode telah ditempuh,
namun harapan masih jauh untuk dicapai. Oleh karena itu pengetahuan perihal
hubungan penyakit jantung pada ibu hamil ini kami anggap sangat perlu untuk
dipelajari.

1.2 Rumusan Masalah


Berikut ini adalah beberapa permasalahan mengenai penyakit jantung pada ibu
hamil pada makalah ini
1. Apa pengaruh penyakit kardiovaskular terhadap kehamilan?
2. Bagaimana klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan?
3. Apa tanda dan gejala pada penderita penyakit jantung dengan
kehamilan?
4. Apa diagnosa yang perlu dilakukan untuk mengetahui adanya
penyakit jantung pada kehamilan?
5. Bagaimana penatalaksanaan pada penderita penyakit jantung
dengan kehamilan?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada penderita penyakit jantung
dengan kehamilan?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah tersusun, maka
dapat ditentukan tujuannya sebagai berikut
1. Untuk mengetahui pengaruh penyakit kardiovaskular terhadap
kehamilan.
2. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan.
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala pada penderita penyakit
jantung dengan kehamilan.
4. Untuk mengetahui diagnosa yang perlu dilakukan untuk
mengetahui adanya penyakit jantung pada kehamilan.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada penderita penyakit
jantung dengan kehamilan.
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan penderita penyakit
jantung dengan kehamilan.

1.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa keperawatan dapat
mengetahui pengaruh penyakit jantung pada ibu hamil beserta asuhan
keperawatannya sebagai bekal di lingkup klinik nantinya. Dan secara tidak
langsung akan menekan angka kematian ibu hamil dengan penyakit jantung
seiring berkembangannya keprofesionalan perawat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Klasifikasi


Jantung adalah organ vital pada manusia yang bertugas memompakan darah
beroksigen keseluruh tubuh, kepada janin juga tentunya jika ibu sedang dalam
proses kehamilan. Janin yang terus tumbuh menuntut makanan berupa oksigen
dan nutrisi dari ibunya dan ini terpenuhi lewat aliran darah yang terus meningkat
pada tubuh ibu. Akibatnya, jantung ibu pun akan semakin meningkat daya
kerjanya apalagi selama kehamilan juga terjadi proses pengenceran darah
(hemodilasi) untuk menjamin lancarnya suplai darah pada ibu dan janin. Kerja
keras itu ditandai dengan meningkatnya denyut jantung ibu. Oleh karena itu, di
dalam kehamilan selalu terjadi perubahan-perubahan pada sistem kardiovaskular
yang biasanya masih dalam batas-batas fisiologis.

Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan :


- Kelas 1 :
a. Tanpa pembatasan gerak fisik.
b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa
- Kelas II :
a. Sedikit dibatasi kegiatan fisiknya
b. Waktu istirahat tidak ada keluhan
c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insulfisiensi jantung.
d. Gejalanya adalah lelah, palpitalis, sesak nafas, dan nyeri dada ( angin
pectoris ).
- Kelas III :
a. Kegiatan fisik sangat dibatasi
b. Waktu istirahat tidak ada keluhan
c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung.
- Kelas IV :
a. Waktu istirahat dapat menimbulkan keluhan insufisiensi jantung, apalagi
kerja fisik.
Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II dan kehamilan dapat
meningkatkan kelas tersebut menjadi III atau IV, Faktor-faktor yang dapat pula
mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya aritmia jantung, dan hipertropi
ventrikuler dan keluhan sakit jantung.

2.2 Etiologi
1. Penyakit jantung
- Hipervolumia
- Pembesaran rahim
- Demam rematik
2. Hipertensi
- Hipertensi esensial
- Hipertensi ginjal
Pada saat hamil terjadi perubahan – perubahan pada tubuh ibu hamil, dan itu
dapat menyebabkan terjadinya penyakit jantung pada ibu hamil. Perubahan-
perubahan tersebut disebabkan oleh :
a. Hipervolumia : dimulai sejak kehamilan 28 minggu dan mencapai puncak
pada 28-32 minggu, lalu menetap.
b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran rahim.
Adapun etiologi dari preeklamsi dan eklamsi, yaitu:
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Teori yang dapat diterima sebagai penyebab preeklampsi-eklampsia harus
dapat menerangkan hal-hal berikut:
(1) Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda,
hidramnion, dan mola hidatidosa.
(2) Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan.
(3) Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian
janin dalam uterus.
(4) Sebab jarangnya terjadi eklampsia pada kehamilan-kehamilan berikutnya.
(5) Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang, dan koma.
(6) Faktor resiko primigravida, usia ibu <17 tahun >35 tahun, riwayat
keluarga dengan PIH, kehamilan ganda atau hidramnion, DM, penyakit
ginjal, mola hidatidosa hydrops fetalis.

2.3 Tanda dan Gejala


Menurut Anwar T. Bahri (2004), tanda dan gejala yang terdapa pada ibu
hamil dengan peyakit jantung antara lain:
- Aritmia
- Pembesaran jantung
- Mudah lelah
- Dispenea
- Peningkatan denyut nadi, Nadi tidak teratur
- Edema pulmonal
- Sianosis
- Sesak napas
- Odem ekstrimitas
- sinkop
- hemoptisis dan nyeri dada
- murmur ejeksi sistolik dan murmur pansistolik----- parah, harus dirujuk
pada ahli jantung
- edem perifer
- bunyi jantung mengeras,
- terdengar adanya bising jantung ringan
Diagnosis preeklampsia ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga gejala
yaitu:
1. Pre eklampsia ringan
- Tekanan darah ≥140/90mmHg, kenaikan tekanan diastolic 15 mmHg
atau lebih dari 90 mmHg dalam dua pengukuran berjarak 1 jam atau
tekanan diastolik sampai 110 mmHg.
- Penambahan berat badan (terjadi kenaikan 1 kg seminggu).
- Edema pada kaki, jari tangan dan muka.
- Kehamilan lebih dari 20 minggu
- Proteinuria +1 atau 0,3g/l dalam air kencing 24 jam
2. Preeklampsia berat didiagnosis pada kasus dengan salah satu gejala
berikut:
- Tekanan sistolik >160mmHg dan tekanan diastolic > 110 mmHg.
- Proteinuria + ≥ 5g./24 jam atau ≥ 3 pada tes celup.
- Oliguria < 400 ml per 24 jam.
- Edema paru: nafas pendek, ronkhi +, sianosis.
- Nyeri daerah epigastrium atau kuadran atas kanan.
- Gangguan penglihatan, skotoma atau penglihatan berkabut.
- Nyeri kepala hebat, tidak berkurang dengan analgesic biasa.
- Hiperfleksia.
- Mata: spasme arteriolar, edema, ablasio retina.
- Koagulasi: koagulasi intravascular disseminate, sindrom HELLP.
- Pertumbuhan janin terhambat
- Otak: edema serebri.
- Jantung: gagal jantung.
- Trombositopenia
3. Gejala klinis Eklamsi adalah sebagai berikut:
a) Terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih
b) Terdapat tanda-tanda pre eklamsi ( hipertensi, edema, proteinuri, sakit
kepala yang berat, penglihatan kabur, nyeri ulu hati, kegelisahan atu
hiperefleksi)
c) Kejang dapat terjadi tidak tergantung dari beratnya hipertensi.
d) Kejang bersifat toksik tonik-klonik menyerupai kejang pada epilepsi
grand mal.
e) Koma terjadi sesudah kejang, dapat berlangsung lama (berjam-
jam)

Kejang dalam eklamsi ada 4 tingkat, meliputi:


 Tingkat awal atau aura (invasi)
Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat
(pandangan kosong) kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar
kekanan dan kekiri.

 Stadium kejang tonik


Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku tangan menggenggam
dan kaki membengkok kedalam, pernafasan berhenti muka mulai
kelihatan sianosis, lodah dapat trgigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik.
 Stadium kejang klonik
Semua otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang
cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat
tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah
berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak
sadar, menarik mafas seperti mendengkur.
 Stadium koma
Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam.
Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita
tetap dalam keadaan koma. Koma terjadi setelah kejang. (Muchtar
Rustam, 1998: 275).

Faktor – faktor yang dapat memperparah keadaan ibu hamil yang


mengalami penyakit jantung yaitu:
a. Pada kehamilan 32-36 minggu dimana volume darah mencapai puncaknya.
b. Pada kala II wanita mengerahkan tenaganya untuk mengedan dan
memerlukan tenaga jantung yang erat.
c. Pada post partum,dimana darah dari ruang internilus plasenta yang sudah
lahir, sekarang masuk dalam sirkulasi darah ibu.
d. Pada masa nifas, karena kemungkinan adanya infeksi.
Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan :
a. Dapat terjadi abortus
b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan.
c. Dismaturitis : lahir cukup bulan namun dengan berat badan rendah.
d. Lahir dengan apgar rendah atau lahir mati.
e. Kematian jani dalam lahir ( KJDL )
2.4 Patofisologi
Banyak gejala pada kehamilan yang dapat menggambarkan penyakit jantung.
Selama kehamilan terus berlangsung, pembesaran uterus menekan diagfragma ke
atas sehingga menurunkan kapasitas vital dan total volume paru, menyebabkan
sulit bernafas. Odema pada ekstremitas terjadi pada hampir semua wanita hamil,
sebagai akibat meningkatnya total sodium dan air dalam tubuh dan kompresi vena
kava inferior pada uterus yang matang. Kompresi vena kava inferior
menyebabkan menurunnya venous return ke jantung dan menyebabkan sakit
kepala ringan dan sinkop. Palpitasi bisa terjadi dan biasanya merupakan tanda
sinus takikardi, yang normal pada kehamilan. Bagaimanapun, paroksismal
nokturnal dyspnoea dan sinkop, hemoptisis dan nyeri dada bukan merupakan
gejala normal pada kehamilan dan harus dievaluasi lebih lanjut. Peningkatan
volume plasma menyebabkan vena jugularis terisi lebih banyak dan tekanan vena
sentral sedikit meningkat. Perubahan ukuran dan massa pada ventrikel kiri yang
berhubungan dengan peningkatan volume dapat menyebabkan apical impulse
bergeser ke kiri. Elevasi dan rotasi jantung yang disebabkan pelebaran uterus,
juga memberi kontribusi pada pergeseran ini. Perubahan pada auskultasi pada
kehamilan normal telah didokumentasikan dengan baik. Intensitas bunyi jantung I
dan bunyi jantung III terdengar pada 84% pasien. Hal ini dapat menyebabkan
kebingungan, karena dapat diinterpretasikan sebagai suatu murmur diastolik atau
suatu opening snap. Bunyi jantung IV umumnya tidak terdengar pada kehamilan
dan terdengar hanya pada sekitar 4% pasien.
Ejeksi murmur sistolik umumnya terdengar pada 96% wanita hamil normal,
baik pada batas sternum bawah atau pada daerah katup pulmonal. Hal ini
terjadi secara sekunder terhadap perubahan hiperdinamik, mengindikasi adanya
peningkatan aliran yang melalui katup aorta. Oleh karena itu, kecurigaan
adanya murmur ejeksi sistolik, yang perlu dirujuk kepada ahli jantung,
termasuk murmur pansistolik yang menyebar ke seluruh prekordium dan
karotis dan kelainan lain dengan intensitas yang tidak berubah dengan posisi.
Murmur diastol tidak umum ditemukan pada kehamilan dan biasanya
menandai adanya fungsi atau anatomi jantung yang tidak normal, yang
memerlukan evaluasi lebih jauh. Sebagai tambahan, murmur sistolik atau
kontinyu dapat terdengar pada ruang intercosta kanan atau kiri, berkenaan
dengan meningkatnya aliran darah pada arteri mammaria interna. Murmur ini
dapat berubah saat dilakukan penekanan pada stetoskop atau saat pasien pada
posisi tegak lurus. Suara redup vena pada fossa supraklavikula kanan dapat
membingungkan dengan murmur kontinyu pada patent ductus arteriosus
(PDA) atau fistula arteri-vena. Secara umum, murmur sistolik pada stenosis
katup meningkat intensitasnya selama gestasi sebagai akibat dari meningkatnya
volume sirkulasi darah dan stroke volume dan murmur regurgitasi menurun
intensitasnya sebagai akibat menurunnya tahanan perifer total.
(Edia Sanif, 2009)
2.5 Tes Diagnosa yang terkait

Evaluasi status kardiovaskular pada wanita hamil lebih baik hanya


dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Adakalanya diperlukan pemeriksaan
lain yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan resikonya terhadap
wanita hamil dan janin yang dikandungnya. Pemeriksaan oleh orang yang
berpengalaman sangat diperlukan untuk menghindarkan kesalahan dalam
diagnosis yang dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan dan biaya yang
tidak diperlukan.

Dari anamnesis sering sudah diketahui bahwa wanita itu penderita


penyakit jantung baik sebelum ia hamil maupun dalam kehamilan-kehamilan
yang terdahulu. Terutama penyakit demam rheuma mendapat perhatian
khusus dalam anamnesis, walaupun bekas penderita rheuma tidak selalu
menderita kelainan jantung.

Burwell dan Mercalfe mengajukan 4 kriteria, satu diantaranya sudah


cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan :

1. bising diastolic, presistolik, atau bising jantung terus menerus ;


2. pembesaran jantung yang jelas;
3. bising jantung yang nyaring;
4. aritmia yang berat
Wanita hamil yang tidak menunjukkan salah satu gejala tersebut di
atas jarang menderita penyakit jantung. Penyakit jantung yang berat tidak sulit
untuk dikenal. Akan tetapi, karena diagnosis penyakit jantung pada kehamilan
lebih sulit seperti yang dijelaskan di atas, maka jika ada kemungkinan adanya
penyakit tersebut harus diminta pendapat dokter yang lebih ahli.

Pemeriksaan penunjang
Adapun pemeriksaan penunjang
menurut Anwar T. Bahri (2004) yang dapat dilkukan untuk mendukung
diagnosis peyakit jantung pada ibu hamil yaitu:
- Pemeriksaan ekokardiografi

Pemeriksaan ekokardiografi, termasuk Doppler sangat aman dan tanpa


resiko terhadap ibu dan janin. Pemeriksaan tranesofageal ekokardiografi pada
wanita hamil tidak dianjurkan karena resiko anestesi selama prosedur
Pemeriksaan radiografi. Semua pemeriksaan radiografi mesti dihindarkan
terutama pada awal kehamilan.

Pemeriksaan radiografi mempunyai resiko terhadap organogenesis


abnormal pada janin, atau malignancy pada masa kanak-kanak terutama
leukemia. Jika pemeriksaan sangat diperlukan sebaiknya dilakukan pada
kehamilan lanjut, dosis radiasi seminimal mungkin dan perlindungan terhadap
janin seoptimal mungkin.

- Pemeriksaan elektrokardiografi

Pemeriksaan EKG sangat aman dan dapat membantu menjawab


pertanyaan rang spesifik. Kehamilan dapat menyebabkan interpretasi dari
variasi gelombang ST-T lebih sulit dari yang biasa, Depresi segmen ST
inferior sering didapati pada wanita hamil normal. Pergeseran aksis QRS
kekiri sering didapati, tetapi deviasi aksis kekiri yang nyata (-30°) menyatakan
adanya kelainan jantung.

- Pemeriksaan radionuklide.

Beberapa pemeriksaan radionuklide akan mengikat albumin dan tidak


akan mencapai fetus, pemisahan akan terjadidan eksposure terhadap janin
mungkin terjadi. Sebaiknya pemeriksaan ini dihindarkan. Adakalanya
pemeriksaan ventilasi pulmonal/perfusi scan atau scan perfusi miokard
thallium diperlukan saat kehamilan. Diperkirakan eksposur terhadap fetua
rendah.

- Magnetic resonance imaging

Meskipun tidak tersedia informasi mengenai keamanan prosedur


MRI pada evaluasi wanita hamil dengan kehamilan, dilaporkan tidak
didapati efek fetal yang merugikan bila digunakan pada tujuan yang lain.
Pemeriksaan ini mesti dihindarkan pada wanita dengan implantasi pacu
jantung atau defibrillator.

- Menilai resiko pada pasien yang berpenyakit jantung


Bila memungkinkan wanita yang mempunyai kelainan jantung harus
mendapat nasihat sebelum hamil, termasuk membicarakan kontrasepsi, resiko
maternal dan janin yang dikandungnya saat hamil, kemungkinan jangka
panjang mengenai morbidity dan mortalitas. Fungsional klas dari The New
York Heart Association (NYHA) selalu digunakan sebagai tolok ukur untuk
meramalkan akibat dari penyakit jantung yang diderita pasien. Wanita dengan
NYHA klas III dan IV akan menghadapi mortality rate sampai 7% dan
morbiditas rate lebih dari 30% dan harus mendapat perhatian yang lebih
dalam kehamilan. Ada lima factor yang dapat dipakai meramalkan komplikasi
jantung pada wanita hamil.
Pemeriksaan diagnostik untuk preeklamsi dan eklamsi yaitu:
o Ultrasonografi: pada gestasi minggu ke-20 sampai ke-26 dan di ulang 6-10
minggu kemudian, menentukan usia gestasi dan mendeteksi retardasi
pertumbuhan intrauterus (IUGR).

o Tekanan arteri rerata (MAP): 90 mmHg pada trimester kedua menandakan


HKK.

o Hematokrit (Ht): meningkat pada perpindahan cairan, atau penurunan pada


sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hepar, hitung trombosit
rendah).
o Hemoglobin (Hb): rendah bila terjadi hemolisis (sindrom HELLP).

o Smear perifer: distensi sel-sel darah atau skistosit pada sindrom HELLP
atau hemolisis intravaskuler.

o Hitung trombosit serum: kurang dari 100.000/mm pada koagulasi


intravascular diseminata (KID) atau pada sindrom HELLP, seperti
perekatan trombosit pada kolagen yang dilepaskan dari pembuluh darah
yang rusak.

o Kadar kreatinin serum: meningkat.

o Bilirubin meningkat

o AST (SGOT), laktat dehidrogenase (LDH), dan kadar bilirubin serum


(terutama yang tidak langsung): meningkat pada sindrom HELLP dengan
masalah hepar.

o Kadar asam urat: setinggi 7 mg/100 ml, bila masalah ginjal berat.

o Masa protrombin (PT), masa tromboplastin parsial (PTT), masa


pembekuan: memanjang, penurunan fibrinogen, produk split fibrin (FSP)
dan produk degradasi fibrin (FDP) positif bila terjadi koagulopati.

o Berat jenis urin: meningkat, menunjukkan perpindahan cairan/dehidrasi


vascular.

o Proteinuria: dengan menggunakan dipstick pengukuran 1+ ke 2+ (sedang),


3+ ke 4+ (berat), atau lebih besar dari 5 g/l dalam 24 jam.

o Kadar estriol urin/plasma: menurun menandakan penurunan fungsi


plasenta. (Estriol tidak bermanfaat sebagai predictor dai profil biofisik
[BPP] karena kesenjangan waktu antara masalah janin dan hasil tes).
o Kadar laktogen plasenta manusia: kurang dari 4mEq/ml menunjukkan
fungsi plasenta abnormal (tidak sering dilakukan pada screening HKK).

o Tes cairan amniotic (rasio lesitin terhadap sfingomielin [L/S],


fosfatidilgliserol (pg), kadar fosfatidilkolin tersaturasi): menggambarkan
maturitas paru janin.

o BPP (Biophysical profile), termasuk volume cairan amniotic, “fetal tone”,


pergerakan pernafasan janin (FBM), pergerakan janin dan denyut jantung
janin reaktif/tes nonstres: menentukan kesejahteraan/resiko janin.

o Tes sress kontraksi (CST): mengkaji respons janin terhadap stress


kontraksi uterus.
2.6 Penatalaksanaan Ibu Hamil Dengan Penyakit Jantung
Penatalaksanaan
Penanganan wanita hamil dengan penyakit jantung sebaiknya dilakukan
kolaborasi dengan ahli penyakit dalam atau kardiolog. Kelainan penyerta sebagai
faktor predisposisi yang dapat memperburuk penyakit jantung adalah :
1) Peningkatan usia penderita dengan penyakit jantung hipertensi dan
superimposed preeklamsia atau eklamsia
2) Aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri
3) Riwayat dekompensasi kordis
4) Anemia
5) Hipotensi, terutama pada wanita dengan septum terbuka.
Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dicegah, maka penderita akan masuk ke
dalam tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, perlu juga diperhatikan adanya
kenaikan berat badan yang berlebihan, infeksi, serta retensi air. Pengobatan
dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada
derajat fungsionilnya.
Para penderita kelas I dan terbanyak penderita kelas II dapat meneruskan
kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan per vaginam. Selama
persalinan dan nifas penderita harus dalam pengawasan yang ketat.
Pencegahan timbulnya dekompensasi kordis harus dalam pengawasan yang
ketat. Pencegahan timbulnya dekompensasi kordis harus diusahakan sebaik-
bakinya. Dekompensasi kordis biasanya terjadi terjadi perlahan-lahan dan
dapat dikenal apabila perhatian secara terus menerus ditujukan kepada
beberapa gejala tertentu. Mackanzie menyatakan bahwa terdengarnya ronki
tetap di dasar paru-paru yang tidak hilang setelah penderita menarik napas
dalam sebanyak dua atau tiga kali, merupakan gejala permulaan dari gagal
jantung. Tanda-tanda lain bagi gagal jantung yang berat ialah kurangnya
kemampuan penderita secara mendadak untuk melakukan kegiatan sehari-hari,
dispnea, serangan sesak napas dengan batuk-batuk dan hemoptoe, juga edema
yang progresif dan takikardi.
Apabila timbul gejala dekompensasi kordis, wanita harus segera dirawat
dan digolongkan ke dalam kelas satu tingkat lebih tinggi. Penderita harus
istirahat dengan berbaring dan diberi pengobatan dengan digitalis. Dalam
persalinan diperlukan pengawasan khusus dan sedapat-dapatnya diusahakan
partus pervaginam. Dari berbagai penelitian, dinyatakan bahwa partus
pervaginam menunjukkan angka mortilitas dan morbiditas ibu yang lebih
rendah. Seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetrik seperti plasenta
previa dan disproporsio sefalo-pelvik.
Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Rasa nyeri dan penderitaan
harus dikurangi, lebih-lebih apabila diduga persalinan akan berlangsung lama.
Pemberian sedasi dan analgesik dengan derivat morfin dapat menguntungkan
ibu. Ibu ditidurkan setengah duduk apabila posisi ini lebih nyaman. Untuk
mencegah timbulnya dekompensasi kordis sebaiknya dibuat daftar
pengawasan khusus untuk pencatatan nadi dan pernafasan secara berkala:
dalam kala I setiap 10 sampai 15 menit dan kala II setiap 10 menit. Apabila
nadi menjadi lebih dari 100 permenit dan pernafasan lebih dari 28 per menit,
lebih-lebih apabila disertai sesak nafas, maka keadaan sangat berbahaya
(dekompensasi kordis berpotensi) dan wanita harus diobati dengan digitalis.
Biasanya wanita disuntik intravena perlahan-lahan dengan delanosid
(cedilanid) 1,2 mg sampai 1,6 mg dengan dosis permulaan 0,8 mg. Jika perlu,
suntikan dapat diulang 1 atau 2 kali lagi dengan selang waktu 1 sampai 2 jam.
Di samping itu pemberian oksigen, morfin(10-15 mg), dan diuretikum, seperti
furosemid (lasix), bermanfaat pula. Apabila sungguh-sungguh sudah terjadi
dekompensasi, maka terapinya sama seperti tersebut di atas.
Dalam kala II, apabila tidak timbul gejala-gejala dekompensasi, anak
boleh lahir spontan, hanya ibu sedapat-dapatnya dilarang meneran. Apabila
janin belum lahir setelah persalinan kala II berlangsung 20 menit, atau ibu
tidak dapat dilarang meneran kuat, maka sebaiknya persalinan diakhiri dengan
forseps atau ekstraktor vakum. Dekompensasi dalam kala II, memerlukan
pengakhiran partus dengan segera.
Penderita dalam kelas III dan IV tidak boleh hamil karena bahaya
terlampau besar. Apabila ia hamil juga, maka pada kehamilan kurang dari 12
minggu, abortus terapetik perlu dipertimbangkan. Pada kehamilan yang
berjalan terus, untuk mencegah timbulnya dekompensasi, sebaiknya ia harus
berbaring terus selama kehamilan dan nifas. Hal itu sukar dilaksanakan bagi
kebanyakkan wanita. Sekali terjadi dekompensasi dalam jalannya kehamilan
penderita mutlak harus dirawat dan berbaring terus sampai setelah anak lahir.
Dengan digitalis, istirahat baring, diuretikum biasanya gejla-gejala gawat
jantung biasanya lekas hilang.(Samil, 2007)
- Konseling prakonsepsi
o Konseling prakonsepsi dg memperhatikan resiko penyakit
o Kelainan jantung kelas 3 dan 4 sebaiknya tidak hamil dan dapat memilih
alat kontrasepsi AKDR, tubektomi atau vasektomi pada suaminya

- Pada kehamilan
o Pengawasan antenatal secara teratur sesuai jadwal
o Pencegahan kenaikan berat dan retensi air yg berlebihan
o Kunjungan 2 minggu sekali s/d 28 minggu dan 1 minggu sekali setelahnya

- Saat Persalinan
o Pada kala 1 dan 2 dapat meneruskan kehamilan dan melahirkan
pervaginam
o Mengawasi his, pernapasan, nadi, TD tiap 15 menit pada kala I dan 10
menit pada kala II
o Penyakit jantung berat  monitoring hemodinamik dg kateterisasi
o Oksigenasi melalui hidung, masker atau tekanan positif intermiten bila
diperlukan dan menurunkan konsumsi O2 melalui istirahat / pembatasan
aktivitas
o Sedasi: morfin (10-15mg)  menenangkan kecemasan dan agitasi
o Kala II tidak ada payah jantung dapat ditolong secara spontan. Jika dalam
20-30 menit belum lahir segera dilanjutkan diperpendek dengan vakum
ekstraksi
o Cegah infeksi: hindari kontak dg klien infeksi saluran napas & influenza
dan dilarang merokok dan menggunakan narkotik
o Berikan analgesic pada saat partus dengan obat pilihan
o Hindari terjadinya hipotensi
o Batasi pemberian cairan mencegah overload
o Bila perlu diberikan oxytocin drip
o Baringkan ibu dalam posisi miring ke kiri untuk menjamin aliaran darah
ke uterus
o Sedapat mungkin hindari meneran untuk fungsional kelas 2
o Menurunkan beban klerja jantung dengan diet rendah garam dan
pengobatan diuretic dan vasolidilatasi
o Penanganan kala III secara aktif
o Jangan beri ergometrin
o Berikan obat anti biotic oral amoksisilin 1,5 gram setelah 6 jam sebagai
dosis kedua ampisilin IV

- Saat Nifas
o Awasi kejadian perdarahan postpartum akibat kolaps
o Perawatan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah persalinan
PENATALAKSANAAN IBU HAMIL DENGAN HIPERTENSI
1. PENANGANAN UMUM
• Segera rawat.
• Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari
riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya.
• Jika pasien tidak bernafas:
- Bebaskan jalan nafas.
- Beri oksigen dengan masker.
- Intubasi jika perlu.
• Jika pasien tidak sadar/koma:
- Bebaskan jalan nafas.
- Baringkan pada satu sisi.
- Ukur suhu.
- Periksa apakah ada kaku tengkuk.
• Jika pasien syok → lihat penanganan syok.
• Jika ada perdarahan → lihat penanganan perdarahan.
JIKA KEJANG :
• Baringkan pada satu sisi, tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit
untuk mengurangi kemungkinan aspirasi sekret, muntahan atau darah.
• Bebaskan jalan nafas.
• Pasang spatel lidah untuk menghindari tergigitnya lidah.
• Fiksasi untuk menghindari jatuhnya pasien dari tempat tidur.
2. HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN TANPA PROTEINURIA
Jika kehamilan < 37 minggu, tangani secara rawat jalan :
• Pantau tekanan darah, proteinuria, dan kondisi janin tiap minggi.
• Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeclampsia.
• Jika kondisi janin memburuk, atau terjadi pertumbuhan janin
terhambat, rawat dan pertimbangkan terminasi kehamilan.

3. PREEKLAMPSIA RINGAN
Jika kehamilan < 37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan
penilaian dua kali seminggu secara rawat jalan :
• Pantau tekanan darah, proteinuria, reflex, dan kondisi janin.
• Anjurkan istirahat baring selama 2 jam siang hari dan tidur >8 jam
pada malam hari
• Diet biasa.
• Tidak perlu diberi obat-obatan.
• Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit :
♦ Diet biasa;
♦ Pantau tekanan darah 2x sehari, proteinuria 1x sehari;
♦ Tidak perlu obat-obatan
♦ Tidak perlu diuretic, kecuali jika terdapat edema paru,
dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut.
♦ Jika tekanan diastolic turun sampai normal pasien dapat
dipulangkan :
- Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda
preeclampsia berat.
- Kontrol 2 x seminggu.
- Jika tekanan diastolic naik lagi → rawat kembali.
♦ Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan → tetap rawat.
♦ Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat,
pertimbangkan terminasi kehamilan.
♦ Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat.
• Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500
ml dekstrose IV 10 tetes/manit atau dengan prostaglandin.
• Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau
kateter foley, atau terminasi dengan seksio sesarea.

4. PREEKLAMPSIA BERAT DAN EKLAMPSIA


Penanganan preeclampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa
persalinan harus berlangsung 12 jam setelah timbulnya kejang dan
eklampsia.
Penanganan Kejang :
• Beri obat antikonvulsan.
• Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker
oksigen, oksigen).
• Lindungi pasien dari kemungkinan trauma.
• Aspirasi mulut dan tenggorokan.
• Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi untuk mengurangi resiko
aspirasi.
• Beri oksigen 2-4 liter/menit.
Penanganan Umum:
• Jika tekanan diastolic > 110 mmHg, berikan antihipertensi, sampai
tekanan diastolic di antara 90-100 mmHg.
• Pasang infuse Ringer Laktat dengan jarum besar (16 gauge atau >).
• Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload.
• Kateterisasi urine untuk pengeluaran volume dan proteinuria.
• Jika jumlah urin < 30 ml per jam:
• Infuse cairan dipertahankan 1 1/8 jam .
• Pantau kemungkinan edema paru.
• Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin.
• Observasi tanda-tanda vital, reflex dan denyut jantung janin setiap
jam.
• Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.
• Krepitasi merupakan tanda edema paru. Jika ada edema paru, stop
pemberian cairan, dan berikan diuretik misalnya furosemide 40 mg
IV.
• Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside. Jika
pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat
koagulopati.
ANTIKONVULSAN
Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan
mengatasi kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Cara pemberian lihat box.
Alternatife lain adalah diazepam, dengan resiko terjadinya depresi neonatal.
2.7 Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatn pada ibu hamil dengan penyakit jantung
2.7.1 Pengkajian
1. Biodata :
• Nama
• Umur
• Jenis Kelamin
• Status
• Status Perkawinana
• Pekerjaaan
• Agama
• Pendidiikan
• Alamat
• Tanggal Masuk Rumah Sakit
• Tanggal Pengkasjian
• No Registrasi
2. Keluhan Utama:
Biasanya klien mengeluh badan terasa lemah, sesak, batuk dan bengkak
pada kaki punggung kaki dan jari jari kaki
3. Riwayat penyakit sekarang :
Penyakit atau keluhan saat pengkajian
4. Riwayat penyakit Lalu :
Apakah pernah mengalami penyakit ini sebelumnya
5. Riwayat Perkawinan :
Kehamilan ini dihasilkan dari perkawinan keberapa ?
6. Riwayat kehamilan atau persalinan yang lalu
7. Riwayat kehamilan atau persalinan yang sekarang
8. Riwayat KB
9. Riwayat Kesehatan atau penyakit yang lalu
10. Pola aktivitas sehari hari
• Pola Eliminasi
• Pola makan dan minum
• Pola istirahat dan tidur
• Personal hygiene
11. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Apakah anggota keluarga ad yang pernah mengalami kelainan jantung
pada kehamilan sebelumnya
12. Riwayat Psikososial
13. Pemeriksaan Fisik:
• Pemeriksaan Umum :
Manifestasi yang jelas dari kelainan jantung, penyebabnya yang
mendassr dari umur klien.
• Tanda tanda vital
• Pemeriksaan kepala dan leher
• Pemerisaan Integumen
• Pemeriksaan dada dan thorax/paru
Ronchi basal bilateral adanya tanda edema pada alveolus dan
adanya cairan dalam bronchus terminalis
• Pemeriksaan Jantung, bising jantung (diastolic, presisitolik atau
continue), aritmia dan pembesaran jantung menunjukkan penyakit
jantung
• Pemeriksaan abdomen :
Hepar dapat membesar dan nyeri tekan, asites kemungkinan ada
• Pemeriksaan penunjang :
 EKG (elektrokardiogram), Elektrokardiografi, Kardiac Scan
 Foto thorax
 Darah :WEBC, ABG, Kolesterol, serum, katekolamin.Study
tyoid
 KateterisasiJantung
 Studi lever dan renal
- Data Subyektif
o Dada terasa nyeri seperti dihimpit benda berat
o Palpitasi / berdebar-debar, denyut jantung cepat
o Meningkatnya rasa lelah/lemah
o Sesak napas dan hemoptoeatau batuk batuk
o Insomnia (susah tidur)
o Pernapasan agak cepat (overbreathing) sering ditemukan karena kompresi
paru bagian basal oleh uterus yang membesar
o Anoreksia, nausea, dan vomiting
o Sinkop atau pusing pada akhir kehamilan akibat kompresi vena kava
inferior oleh uterus yang membesar  berkurangnya arus balik vena 
penurunan curah jantung
o Edema pada wajah, punggung kaki dan jari jari

- Data Obyektif:
o Denyut jantung lemah, denyut teratur, nadi cepat (>100x/menit)
o Edema
o Terdengar suara krekels setelah dua kali ekspirasi dan inspirasi
o Orthopnea : meningkatnya sesak
o Respirasi cepat (>25 X/menit)
o Frekuensi batuk basah
o Rasa lemah yang semakin meningkat
Sianosis pada bibir dan kuku
2.7.2 Diagnosa Keperawatan

- Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan Hb utk pengiriman oksigen /


nutrien ke sel
- Nyeri akut b.d aritmia
- Perubahan kelebihan cairan b.d penekanan uterus pd vena kava inferior,
gangguan mekanisme regulasi, kelebihan natrium / masukan cairan
- Resti gangguan pertukaran gas b.d oksigenasi jaringan menurun
- Ansietas b.d kurang pengetahuan dan informasi serta kesalahan interpretasi
informasi
- Intoleransi aktifitas b.d hipotensi
2.7.3 Intervensi keperawatan

1. Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan Hb utk pengiriman


oksigen / nutrien ke sel
Kriteria evaluasi
- TTV stabil
- Membran mukosa merah muda
- Pengisian kapiler baik
- Haluaran urine adekuat

Intervensi mandiri
- Awasi TTV, kaji pengisian kapiler, warna kulit / membran mukosa, dasar
kuku
- Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
- Awasi pernapasan, auskultasi bunyi napas
- Awasi keluhan nyeri dada, palpitasi
- Kaji respon melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, dan
bingung
- Orientasikan klien berulang sesuai dengan kebutuhan. Catat jadwal aktivitas
klien untuk dirujuk. Berikan cukup waktu untuk klien berpikir, komunikasi
dan aktivitas.
- Catat keluhan dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai
indikasi
- Hindari penggunaan bantalan hangat / botol air panas, ukur suhu mandi dg
termometer

Intervensi kolaborasi
- Awasi pemeriksaan lab: Hb/Ht, SDM, GDA
- Berikan SDM lengkap, produk darah sesuai indikasi, awasi ketat utk
komplikasi transfusi
- Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
- Siapkan intervensi pembedahan sesuai indikasi
2. Nyeri akut b.d aritmia

Kriteria evaluasi
- Menyatakan nyeri hilang
- Melaporkan episode serangan jantung yg menurun: frekuensi, durasi, dan
beratnya
Intervensi mandiri
- Anjurkan utk memberi tahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada
- Kaji / catat respon klien terhadap obat
- Identifikasi faktor pencetus nyeri, frekuensi, durasi, intensitas, dan lokasi
nyeri
- Observasi gejala yg b.d dspnea, mual, muntah, pusing, palpitasi, dan
keinginan berkemih
- Evaluasi laporan nyeri pd rahang, leher, bahu, dan lengan kiri
- Posisikan dlm posisi istirahat total slm episode nyeri
- Tinggikan kepala tempat tidur klien bila klien bernapas pendek
- Pantau kecepatan / irama jantung
- Pantau TTV tiap 5 menit selama serangan nyeri
- Berada di dekat klien selama klien mengalami nyeri dan cemas
- Pertahankan lingkungan yg tenang, nyaman, dan batasi pengunjung
- Berikan makanan lembut. Biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan

Intervensi kolaborasi
- Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
3. Perubahan kelebihan cairan b.d penekanan uterus pd vena kava
inferior, gangguan mekanisme regulasi, kelebihan natrium / masukan
cairan
Kriteria Evaluasi
- Menunjukkan volume cairan stabil (adanya keseimbangan pemasukan
dengan pengeluaran cairan)
- Berat badan dalam rentang stabil.
- Tanda vital dalam rentang normal.
- Tidak adanya edema.
Intervensi Keperawatan
- Ukur masukan dan keluaran, catat keseimbangan positif (pemasukan
melebihi pengeluaran). Timbang berat badan tiap hari, dan catat peningkatan
berat badan 0,5 kg/hari
- Awasi TD, CVP, catat adanya distensi vena
- Awasi disaritmia. Auskultasi bunyi jantung, catat terjadinya irama Gallop
S3/S4
- Kaji derajat perifer / edema dependen
- Ukur lingkar abdomen
- Dorong untuk tirah baring jika didapat edema
- Berikan perawatan mulut sesering mungkin
- Awasi albumin serum dan elektrolit, khususnya natrium dan kalium
Kolaborasi
- Awasi seri foto dada
- .Batasi natrium dan cairan sesuai indikasi
- Berikan obat-obatan seperti inotropik positif
4. Resti gangguan pertukaran gas b.d oksigenasi jaringan menurun
Kriteria Evaluasi
- Klien mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi pada jaringan ditunjukkan
oleh oksimetri dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan
- Klien berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan
INTERVENSI KEPERAWATAN
- Kaji status pernapasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi, upaya
pernapasan atau perubahan pola napas
- Auskultasi jalan napas, catat krekels, mengi
- Auskultasi irama dan frekuensi jantung
- Kaji adanya sianosis
- Observasi kecenderungan tidur, apatis, tidak perhatian, gelisah, bingung,
somnolen
- Berikan periode istirahat yang cukup dan atur lingkungan agar tenang / tidak
menggangu pasien
- Dorong perubahan posisi sering
- Anjurkan klien untuk batuk efektif, napas dalam
- Pertahankan duduk di kursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur tinggi
20-30º , posisi semi fowler. Sokong tangan dengan bantal
Kolaborasi
- Kaji seri foto dada
- Pantau/gambarkan seri GDA, nadi oksimetri
- Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
- Berikan obat sesuai indikasi contoh steroid, antibiotik, brionkodilator dan
ekspektoran
5. Ansietas b.d kurang pengetahuan dan informasi serta kesalahan
interpretasi informasi
Kriteria Evaluasi
- Klien menyatakan kesadaran perasaan ansietas dan cara sehat yang sesuai.
- Klien melaporkan ansietas menurun sampai tingkat yang dapat diatasi
- Klien menyatakan masalah tentang efek penyakit pada pola hidup, posisi
dalam keluarga
- Klien menunjukkan strategi koping efektif atau ketrampilan pemecahan
masalah
Intervensi keperawatan:
- Kaji pemahaman tentang patologi/ komplikasi mengenai kehamilan. Tinjau
riwayat, insiden, komplikasi, dsb.
- Diskusikan perlunya pemantauan yang sering, misalnya setiap 2 minggu
selama 20 minggu pertama, lalu setiap minggu setelah kelahiran
- Berikan informasi dengan tepat mengenai diet, istirahat/tidur, latihan, dan
relaksasi.
- Berikan informasi tentang gejala-gejala yang mengindikasikan masalah
jantung, seperti sesak napas, batuk, palpitasi, penambahan berat badan yang
tidak biasanya (misal 1-2 kg dalam 2 hari), edema, anoreksia
- Tinjau ulang kebutuhan untuk menghindari infeksi.
- Tinjau ulang efek samping obat (misalnya perdarahan).
- Diskusikan pertimbangan khusus, seperti kebutuhan untuk menghindari
makanan tinggi vitamin K seperti sayuran mentah dan berdaun hijau jika
menggunakan antikoagulan
Kolaborasi
- Libatkan tim perawatan kesehatan dalam penyuluhan / perencanaan
- Berikan informasi yang tepat untuk protokol perawatan dalam situasi
komunitas / RS serta di rumah.
- Identifikasi kelompok pendukung untuk klien berisiko tinggi
6. Intoleransi aktifitas b.d hipotensi
Kriteria Evaluasi
– Klien berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan, memenuhi
kebutuhan perawatan diri sendiri
– Klien mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapt diukur,
dibuktikan oleh menurunnya kelamahan dan kelelahan dan tanda vital
dalam rentang normal
INTERVENSI KEPERAWATAN:
– Kaji adanya pengembangan gejala-gejala subyektif/obyektif
– Kaji tanda-tanda / gejala-gejala dengan klien dan orang terdekat
– Bantu klien dalam menyusun kembali rutinitas setiap hari untuk
menurunkan aktivitas fisik
– Identifikasi kebutuhan terhadap bantuan rumah tangga dan adanya
sumber-sumber yang tersedia
7. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, kebutuhan
pengobatan.
Kriteria Evaluasi
 Berpartisipasi dalam proses belajar
 Mengasumsi tanggung jawab untuk belajar, mencari informasi dan
menanyakan pertanyaan
 Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan pengobatan
 Berpartisipasi dalam program pengobatan
 Melakukan perubahan pola hidup
Intervensi Keperawatan
 Kaji ulang patofisiologi kondisi. Tekankan perlunya mencegah serangan
jantung yang berulang
 Dorong untuk menghindari faktor atau situasi sebagai pencetus dari beban
jantung yang semakin berat
 Bantu klien/orang terdekat untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stres
emosi dan diskusikan cara yang dapat mereka hindari.
 Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan merokok, perubahan
diet dan olahraga.
 Dorong klien untuk mengikuti program yang sudah ditentukan;
pencegahan untuk menghindari kelelahan.
 Diskusikan damapak penyakit jantung pada kehamilan sesuai pola hidup
yang diinginkan dan aktivitas, kerja sampai pada aktivitas seksual dan
hobi
 Tunjukkan / dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktivitas,
membuat jadwal aktivitas yang mungkin dilakukan, hindari peregangan
yang berlebihan.
 Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan jantung mendadak,
contohnya dengan menghentikan aktivitas, pemberian obat bila perlu dan
penggunaan teknik relaksasi.
 Kaji ulang obat-obat yang diberikan
 Tekankan pentingnya pemeriksaan secara teratur pada dokter
 Memberikan informasi tertulis kepada keluarga tentang jadwal pengobatan
yang bisa dibawa pulang

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein


plasma, penurunan tekanan osmotik koloid plasma menyertai perpindahan
cairan dari kompartemen vaskuler

Yang ditandai dengan:

a. Pembentukan edema,

b. Penambahan berat badan secara tiba-tiba

c. Hemokonsentrasi
d. Mual/muntah

e. Nyeri epigastrik

f. Sakit kepala

g. Perubahan penglihatan

h. Penurunan haluaran urine

2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia, peningkatan


tahanan vaskuler sistemik

Yang ditandai dengan:

a. Variasi tekanan darah/hasil hemodinamik

b. Edema

c. Sesak nafas

d. Perubahan status mental

3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia ibu,


interupsi aliran darah (vasospasme progresif dari arteri spinal)

Yang ditandai dengan:

a. Retardasi pertumbuhan intrauterus

b. Perubahan aktivitas janin/frekuensi jantung

c. Kelahiran prematur, kematian janin

4. Resiko terjadinya maternal injury berhubungan dengan disfungsi sistem


organ ditandai dengan vasospasme dan peningkatan tekanana darah.
5. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan masukan tidak adekuat untuk memenuhi kubutuhan metabolik dan
menggantikan kehilangan

6. Resiko terjadinya fetal injury berhubungan dengan gangguan perfusi


placenta maternal

7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan tindakan


berhubungan dengan kurangnya pemajanan/tidak mengenal sumber-
sumber informasi kesalahan interpretasi

Yang ditandai dengan:

a. Meminta informasi

b. Pernyataan salah konsep

c. Ketidakakuratan mengikuti instruksi

d. Terjadinya komplikasi

II. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein


plasma, penurunan tekanan osmotik koloid plasma menyertai
perpindahan cairan dari kompartemen vaskuler

Kriteria evaluasi:

a. Pasien mengungkapkan pemahaman tentang kebutuhan akan


pemantauan yang ketat dari berat badan, tekanan darah, protein
urine, dan edema
b. Berpartisipasi dalam regimen terapeutik dan pemantauan sesuai
indikasi

c. Menunjukkan hematokrit (Ht) dalam batas normal dan edema


fisiologis tanpa adanya tanda pitting

d. Bebas dari tanda-tanda edema umum (misal nyeri epigastrik,


gejala-gejala serebral, dispnea, mual/muntah)

Intervensi:

a. Timbang berat badan klien secara rutin. Anjurkan klien untuk memantau
berat badan dirumah antara waktu kunjungan.
R/ Penambahan berat badan bermakna dan tiba-tiba (lebih dari
1,5kg/bln pada trimester dua atau lebih dari 0,5 kg/mgg
pada trimester tiga) menunjukkan retensi cairan. Gerakan
cairan dari vaskular ke ruang intersisiel mengakibatkan edema

b. Bedakan edema kehamilan yang patologis dan fisiologis, pantau lokasi dan
derajat pitting
R/ Adanya edema pitting pada wajah, tangan, kaki, area sakral
atau dinding abdomen, atau edema yang tidak hilang setelah 12
jam tirah baring, adalah bermakna
c. Perhatikan tanda edema berlebihan atau berlanjut (nyeri epigastrik/KKaA,
gejala serebral, mual, muntah). Kaji kemungkinan eklampsia

R/ Edema dan deposisi fibrin intravaskuler dalam hepar


teselubung dimanifestasikan dengan nyeri KKaA, dispnea
menandakan adanya hubungan dengan pulmonal, edema
serebral kemungkinan mengarah pada kejang, mual serta
muntah menandakan edema gastrointestinal (GI)
d. Perhatikan perubahan pada kadar Ht/Hb
R/ Mengidentifikasikan derajat hemokonsentrasi disebabkan oleh
perpindahan cairan (Ht kurang dan 3 kali kadar Hb)
e. Kaji ulang masukan diet dari protein dan kalori. Berikan informasi sesuai
kebutuhan
R/ Ketidakadekuatan protein/kalori meningkatkan pembentukan
edema. Untuk menggantian kehilangan diperlukan protein 80-
100g setiap hari
f. Pantau masukan dan haluaran. Perhatikan wama urine dan berat jenis
sesuai indikasi
R/ Haluaran urine adalah indikator sensitif dari sirkulasi volume
darah. Oliguria dan berat jenis 1,040 menandakan hipovolemia
berat dan ada masalah pada ginjal (pemberian MgSO4
meningkatkan haluaran urine sementara).
g. Kaji adanya bunyi paru dan frekuensi/usaha pernafasan
R/ Dispnea dan krekels dapat mengidentifikasikan adanya edema
paru
h. Pantau TD dan nadi
R/ peningkatan TD dapat terjadi karena respon terhadap
katekolamin, vasopressin, prostaglandin dean sebagai anjuran
temuan terjadi penurunan kadar prostasiklin
i. Lakukan tirah baring dan anjurkan posisi miring kiri
R/ Posisi miring kiri menurunkan tekanan pada vena kava
meningkatkan aliran balik vena dari volume sirkulasi
j. Kolaborasi menjadwalkan kunjungan prenatal setiap 1-2 mgg bila HKK
ringan, setiap minggu bila berat
R/ Memantau perubahan lebih ketat
k. Kolaborasi ganti cairan oral atau parenteral, melalui pompa infus sesuai
indikasi
R/ Memperbaiki hipovolemia tapi perhatikan adanya kelebihan beban
saat pemberian cairan
l. Kolaborasi pantau asam urat serum dan kadar kreatinin dan BUN
R/ Peningkatan kadar menandakan kerusakan ginjal dan
memburuknya kondisi ibu dan hasil janin buruk

2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia,


peningkatan tahanan vaskuler sistemik

Kriteria Evaluasi:

a. Klien tetap normotersif selama sisa masa kehamilan

b. Klien melaporkan tidak adanya dan/menurunnya kejadian dispnea

c. Klien akan mengubah tingkat aktivitas sesuai kondisi

Intervensi:

a. Pantau TD dan nadi

R/ Klien dengan HKK tidak menunjukkan respon kardiovaskuler


normal pada kehamilan. Hipertensi adalah manifestasi kedua
setelah edema

b. Kaji tekanan arteri rerata (MAP) pada gestasi .ninggu ke 22. Kaji krekels,
gurgel dan dispnea; perhatikan frekuensi dan adanya upaya pernafasan

R/ Edema paru dapat terjadi pada perubahan tahanan vaskuler perifer


dan penurunan pada tekanan osmotic koloid plasma

c. Lakukan tirah baring dengan posisi miring

R/ Meningkatkan aliran balik vena, curah jantung dan perfusi


ginjal/plasenta

d. Pantau TD dan efek samping obat hipertensi


R/ Efek-efek samping seperti takikardia, sakit kepala mual, muntah
dan palpitasi dapat diatasi dengan propanolol sesuai kebutuhan

e. Kolaborasi berikan obat antihipertensi seperti hidralazin, ikuti dengan


pemberian metildopa (aldomet)

R/ Obat anti hipertensi bekerja langsung pada arteriol untuk


meningkatkan relaksasi otot solos kardiovaskuler dan membantu
meningkatkan suplai darah

3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia ibu,


interupsi aliran darah

Kriteria evaluasi:

a. Tidak ada penurunan frekuensi jantung janin pada CST/OCT


(contraction stess test/oxytocin challenge test)

Intervensi:

a. Berikan informasi mengenai pengkajian/pencatatan gerakan janin

R/Penurunan aktivitas janin menandakan kondisi yang


membahayakan janin dan terjadi mendahului perubahan DJJ janin
b. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas janin

R/ Merokok, penggunaan obat, kadar glukosa serum, keadaan


lingkungan, dalam waktu sehari dan siklus tidur-bangun dari janin
dapat meningkatkan atau menurunkan gerakan janin
c. Tinjau ulang tanda-tanda abrupsi plasenta (perdarahan vagina, nyeri tekan
uterus, nyeri abdomen dan penurunan aktivitas janin)

R/ Pengenalan dan intervensi dini meningkatkan kemungkinan hasil


yang positif
d. Evaluasi pertumbuhan janin; ukur kemajuan pertumbuhan fundus
R/ Penurunan fungsi plasenta dapat menyertai HKK, mengakibatkan
IUGR
e. Perhatikan respon janin terhadap obat-obatan

R/ Efek depresan dari medikasi dapat menurunkan pernafasan dan


fungsi jantung janin Berta tingkat aktivitas janin
f. Pantau DJJ secara manual atau elektronik sesuai indikasi

R/ Mengevaluasi kesejahteraan janin. Peningkatan DJJ dapat


menandakan respon kompensasi pada hipoksia, prematuritas atau
abrubsi plasenta
4. Resiko terjadinya maternal injury berhubungan dengan
disfungsi sistem organ ditandai dengan vasospasme dan
peningkatan tekanan darah, kejang tonik-klonik.

Kriteria evaluasil :

a. Pasien tidak ada tanda-tanda injury maternal ditandai dengan tekanan


darah dalam batas normal, tidak ada proteinuria dan tidak ada oedem.

b. Pasien minimal mengalami atau tidak ada perkembangan dari PIH


ditandai dengan tidak ada penambahan berat badan tiba-tiba, tidak ada
tanda oedem dan tidak ada sakit kepala atau perubahan visual.

c. Pasien akan menerima pengobatan yang tepat untuk kemajuan indikasi


dari PIH seperti cairan IV, kateter urinary dan mengakhiri monitoring
dari kondisi fisiknya.

d. Pasien tidak mengalami serangan hipertensi.

e. Pasien akan merasa aman selama dan setelah serangan.

Intervensi:

a. Monitor tekananan darah setiap kunjungan


R/ Normalnya tekanan darah tidak berubah selama kehamilan tetapi
kadang tekanan darah turun pada trimester kedua dan awal
trimester tiga. Faktor psikososial sebaiknya dievaluasi karena
mungkin meningkatkan tekanan darah (kunjungan klinik,
kebisingan, anak kecil, kurang support). Hipertensi ada jika
tekanan darah mengalami peningkatan sedikitnya dalam dua kali
pengukuran dengan selang waktu 6 jam.

b. Gunakan tangan yang sama dan pastikan pasien dalam posisi yang
sama dalam tiap pengukuran tekanan darah.

R/ Posisi mempengaruhi pembacaan tekanan darah pada area


brakhialis terbaca lebih tinggi(pasien duduk), sedang pada supiene,
lebih rendah pada posisi pasien terlentang di posisi lateral kiri.

c. Monitor MAP pasien.

R/ MAP>90mmHg pada kehamilan trimester kedua meningkatkan


resiko PIH, MAP≥105mmHg mengindikasi PIH.

d. Monitor pasien untuk nondependent patologi edema, terutama tangan


dan wajah dan mengintegrasikan penemuan ini pada catatan klinik
secara lengkap.

R/ Edema dependen adalah keadaan yang ditemukan pada kehamilan


yang tidak lengkap. Secara umum edema adalah gejala pertama
yang muncul.

e. Monitor peningkatan BB dengan teliti

R/ Peningkatan BB bertahap 11-16 kg optimal untuk pertumbuhan


fetal dan perubahan ibu.

f. Kaji adanya oedem setiap kunjungan klinik


R/ Penurunan perfusi ginjal dan filtrasi glomerular sama dengan
perubahan volume cairan dari vaskular ke interstitial secara tiba-
tiba mengindikasi peningkatan BB berlebih dan oedem.

g. Intruksikan pasien bedrest selama di rumah, rekomendasikan posisi


rekumben lateral pada waktu yang tepat

R/ Bedrest menurunkan metabolisme dan psikologi. Posisi lateral


meningkatkan perfusi ginjal.

h. Terangkan pada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda


peningkatan PIH seperti sakit kepala, gangguan penglihatan,
hiperpireksia, nyeri epigastrik, penurunan output urine, perdarahan
vagina.

R/ Tanda- tanda tersebut mengindikasikan perburukan kondisi.

i. Kolaborasi pemberian vasodilator hydralazine(apresoline) secara IV


dan monitor irama jantung fetal dan tekanan darah, nadi ibu.

R/Vasodilator menurunkan tekanan darah .

j. Monitor bunyi krekels, ronkhi, dispneu dan hemoptisis, catat jumlah


dari cairan infus.

R/ Merupakan gejala edema pulmonal

k. Berikan MgSO4 IV
R/ MgSO4, depresan SSP, menurunkan pelepasan asetilkolin,
memblok transmisi neuromuscular dan mencegah kejang.
Ini mernpunyai efek sementara menurunkan TD dan
meningkatkan haluaran urine dengan mengubah respon
vascular pada substansi yang menekan.
5. Resiko terjadinya fetal injury berhubungan dengan gangguan
perfusi placenta maternal
Kriteria evaluasi:

a. Pasien akan menunjukkan tidak ada tanda-tanda fetal injuri


ditandai dengan FHR positif, aktivitas fetal, pertumbuhan baik

b. Infant dapat dilahirkan dengan selamat

Intervensi :

a. Setiap kunjungan kaji aktivitas fetal : membandingkan hasil


pengkajian dengan buku catatan mengenai gerakan fetal dan FHR

R/ Pertumbuhan uterus yang lebih kecil atau kurang dari normal


dibandingkan dengan usia kehamilan akan mengindikasi IUGR.
Penurunan yang signifikan pada aktivitas fetal mengindikasi
insufiensi uteroplasenta

b. Lakukan USG

R/ USG mengindikasi ukuran fetal dan ukuran plasenta dan mungkin


menyaatakan IUGR

b. Lanjutkan pengkajian ibu, apabila pre eklampsia berat. Siapkan dan


bantu dengan induksi oksitocin.

R/ Pre- eklampsia yang berat dapat membuat fetus resiko tinggi


kelahiran premature

c. Siapkan kelahiran caesaria bila induksi gagal

R/ Bila oksigenasi janin sangat menurun karena vasokonstriksi dalam


malfungsi plasenta pemberian oksigen dengan segara diperlukan
untuk menyelamatkan janin.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan
kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurangnya
pemajanan/tidak mengenal sumber-sumber informasi
Kriteria Evaluasi:
a. Mengungkapkan pemahaman tentang proses penyakit dan rencana
tindakan yang tepat
b. Melakukan prosedur yang diperlukan dengan benar
Intervensi:
a. Kaji pengetahuan klien/pasangan tentang proses penyakit. Berikan
informasi tentang patofisiologi HKK, implikasi terhadap ibu dan janin
dan rasional intervensi, prosedur dan tes sesuai kebutuhan
R/ Membuat data dasar dan memberikan informasi tentang bidang
mana yang membutuhkan pembelajaran.
b. Berikan informasi tentang tanda dan gejala yang mengindikasikan kondisi
yang semakin buruk.
R/ Membantu menjamin bahwa klien mencari tindakan pada waktu
yang tepat dan mencegah memburuknya kondisi preeklampsi atau
komplikasi tambahan.

III.IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Implementasi dalam hal ini adalah penerapan dari rencana keperawatan yang
sudah dibuat berdasarkan kondisi klien. Tindakan yang dilakukan pada klien
dengan preeklampsia dan eklampsia ditujukan pada membantu mencapai
tujuan terapi dan strategi utamanya adalah konsultasi dan penyuluhan.

IV. EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan


yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, tindakan, dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Untuk eveluasi memungkinkan
perawat utuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian,
analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pelaksanakan asuhan keperawatan pada ibu hamil resiko
tinggi dengan preeklampsia dan eklampsia didasarkan pada kebutuhan
dasar klien dan disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah
ditentukan.
2. Diagnosa keperawatan pada ibu hamil resiko tinggi
dengan preeklampsia dan eklampsia dapat diperoleh pada saat anamnese
dan diagnosa keperawatan ini dapat berubah atau bertambah sesuai
dengan respon yang ditunjukkan oleh klien.
3. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang dilakukan
setelah melakukan tindakan keperawatan terhadap klien, dicatat dan
didelegasikan terhadap perawat selanjutnya.

SARAN
Saran – saran yang penulis berikan untuk perbaikan dalam meningkatkan
mutu asuhan keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Hendaknya dalam pengkajian menggunakan teknik sesuai dengan teori
yang lebih lengkap sehingga tepat dalam penegakan diagnosa.
2. Format diagnosa keperawatan diisi dengan lengkap beserta dengan
rencana tindakannya sebagai acuan dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan.
3. Dalam setiap pelaksanaan tindakan keperawatan hendaknya ditulis di
dalam catatan keperawatan dengan lengkap dan diberi catatan waktu dan
nama jelas pelaksana, sebagai aspek legal dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan.
4. Dalam evaluasi setiap pendelegasian harus jelas.
5. Pendokumentasian pelaksanaan asuhan keperawatan merupakan tanggung
jawab dan tanggung gugat sehingga tidak ada yang boleh terlewatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Chia, Patrick, Hendrick Chia, dan Raman Subramaniam.2008. PENDEKATAN


KLINIS penyakit jantung pada
kehamilan.http://www.jantungku.com/2008/07/20/penyakit-jantung-pada-
kehamilan-2/. Diakses tanggal 19 Oktober 2009 pukul 17.00 wib

Anwar, T. Bahri.2004. Wanita kehamilan dan penyakit


jantung.http://209.85.229.132/search?
q=cache:Ky7rGcdAwPwJ:library.usu.ac.id/download/fk/gizi-
bahri11.pdf+penyakit+jantung+pada+kehamilan&cd=6&hl=id&ct=clnk&gl=id.
Diakses tanggal 19 Oktober 2009 pukul 17.00 wib