Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

HIDROLOGI
PEMODELAN HIDROLOGI

Oleh:
Niken Sri Wahyuningsih
A1H014028

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Pada keperluan perencanaan pengembangan sumberdaya air pada suatu


kawasan DAS, diperlukan seperangkat data yang memadai mulai dari data hujan
sebagai masukan karakteristik DAS itu sendiri secara keseluruhan dan data debit
sungai sebagai keluaran. Kendala umum yang dihadapi dalam analisis
perencanaan adalah kurang tersedianya data debit sungai, akan tetapi data curah
hujan yang tersedia cukup memadai. Suatu model hidrologi yang menggambarkan
hubungan antara hujan dengan debit sungai berdasarkan beberapa parameter fisik
DAS dapat dibuat untuk mengatasi kendala tersebut. Dengan pendekatan simulasi
(model) hidrologi maka keterkaitan input, proses dan ouput DAS dapat diketahui,
sehingga dapat dilakukan perencanaan pengelolaan wilayah yang bersifat lintas
sektoral dan komprehensif sehingga dapat ditentukan aktivitas pengelolaan dan
perbaikan terhadap sistem DAS serta memprediksi dampak pengelolaan di masa
mendatang.
Pemodelan dalam hidrologi awalnya bertujuan mencari hubungan antara
hujan dan respon debit sungai terhadap hujan tersebut. Namun sering dengan
perkembangan teknologi komputer, model hidrologi menjadi lebih rumit dan
kompleks, mencakup kejadian erosi dan lain-lain. Secara garis besar, modelmodel hidrologi dapat digolongkan berdasarkan proses, skala, dan metode
pemecahannya.

B. Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah :


Menganalisis data hidrologi menggunakan model hidrologi tank model.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Brooks et al. (1987), Model hidrologi merupakan gambaran sederhana dari


suatu system hidrologi yang aktual. Model hidrologi biasanya dibuat untuk
mempelajari fungsi dan respon suatu DAS dari berbagai masukan DAS. Melalui
model hidrologi dapat dipelajari kejadian-kejadian hidrologi yang padagilirannya
dapat digunakan untuk memprediksi kejadian hidrologi yang akan terjadi. Harto
(1993), model hidrologi adalah sebuah sajian sederhana (simple representation)
dari sebuah system hidrologi yang kompleks.
Harto (1993) mengemukakan bahwa tujuan penggunaan suatu model dalam
hidrologi, antara lain sebagai berikut : a) peramalan (forecasting) menunjukkan
besaran maupun waktu kejadian yang dianalisis berdasar cara probabilistik; b)
perkiraan (predicting) yang mengandung pengertian besaran kejadian dan waktu
hipotetik (hipotetical future time); c) sebagai alat deteksi dalam masalah
pengendalian; d) sebagai alat pengenal (identification) dalam masalah
perencanaan; e) ekstrapolasi data/informasi; f) perkiraan lingkungan akibat tingkat
perilaku manusia yang berubah/meningkat; dan g) penelitian dasar dalam proses
hidrologi.
Secara

sederhana,

DAS

dianggap

sebagai

suatu

sistem

yang

menggambarkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara hujan sebagai


masukan DAS, dan aliran sebagai keluaran. Dalam hal ini, data hujan sebagai
masukan dan debit aliran sungai sebagai keluaran. Data aliran sungai merupakan
data hidrologi yang penting karena dapat digunakan sebagai dasar perencanaan
dan pengembangan DAS. Salah satu model hidrologi yang dapat diaplikasikan
dalam sebuah perhitungan debit aliran dalam sebuah DAS. Model tangki

merupakan salah satu model hidrologi yang gunanya untuk menganalisis


karakteristik aliran sungai. Model ini dapat memberikan informasi mengenai
kualitas air dan untuk memprediksi banjir. Model ini menerima masukan data
harian hujan, evapotranspirasi dan debit sungai dalam satuan mm/hari sebagai
parameter tank model.(Sulistyowati, 2010)
Sugawara (1961) dalam Rudiyanto dan Setiawan (2003) menyatakan bahwa
Tank Model mengasumsikan besarnya limpasan dan infiltrasi merupakan fungsi
dari jumlah air yang tersimpan di dalam tanah atau tampungan air di bawah
permukaan. Sugawara (1986) dalam

Rudiyanto dan Setiawan (2003)

memperkenalkan struktur Tank Model terdiri atas beberapa tank sederhana yang
tersusun secara vertikal. Struktur Tank Model terdiri dari 4 tank yang tersusun seri
secara vertikal yang kemudian disebut sebagai Standard Tank Model. Namun,
dalam

perkembangannya para perancang Tank Model melakukan berbagai

modifikasi agar Tank Model mampu mempresentasikan kondisi lapang. Menurut


Sugawara (1956), model tangki dikembangkan untuk menghitung run off yang
diakibatkan hujan yang jatuh pada suatu daerah tangkapan air. Model ini
mendeskripsikan suatu daerah tangkapan air digantikan kombinasi beberapa
tangki yang disusun sedemikian rupauntuk mewakili lapisantanah di dalam daerah
tangkapan air. Salim et al (2006) juga berpendapat bahwa Tank model merupakan
model hidrologi dengan lumped parameter. Tank model digunakan untuk
menduga debit aliran yang ada pada pemotongan bagian DAS dengan asumsi
bahwa parameter-parameter yang signifikan dalam seluruh proses hidrologi
adalah homogen.(Zulfida, 2011)

Aplikasi Tank Model adalah sebuah model hidrologi yang dapat digunakan
untuk mengetahui karakteristik dari sebuah Sub-DAS atau DAS. Model ini dapat
memberikan informasi mengenai kualitas air dan untuk memprediksi banjir.
Model ini menerima masukan data harian hujan, evapotranspirasi dan debit sungai
dalam satuan mm/hari sebagai parameter Tank Model. Tank Model adalah salah
satu model hidrologi yang digunakan untuk menganalisis karakteristik aliran
sungai. Model ini dapat memberikan informasi mengenai kualitas air dan untuk
memprediksi banjir. Model ini menerima masukan

data harian hujan,

evapotranspirasi dan debit sungai dalam satuan mm/hari sebagai parameter Tank
Model. Tank Model tersusun atas 4 reservoir vertikal, dimana bagian atas
mempresentasikan surface reservoir, di bawahnya intermediate reservoir,
kemudian sub-base reservoir dan paling bawah base reservoir. Dalam konsep
Tank Model ini air dapat mengisi reservoir dibawahnya dan bias terjadi sebaliknya
apabila evapotranspirasi sedemikian berpengaruh. Tank Model yang telah
divalidasi dan telah diuji keabsahannya dengan tolok ukur koefisien determinasi
(R2) dapat dilanjutkan untuk analisis hidrologi salah satunya adalah simulasi
perubahan tataguna lahan dan kaitannya terhadap ketersediaan air atau debit
sungai. (Sahayana, 2011)
Menurut Setiawan et al (2003), secara global persamaan kesetimbangan air
ditulis sebagai berikut:
dH
=P ( t )ET ( t )Y (t)
dt

Dimana, H adalah tiggi air (mm), P adalah hujan (mm/hari), ET adalah


evapotranspirasi (mm/hari), Y adalah aliran total (mm/hari), dan t adalah waktu
(hari).
Skema model tangki sederhana yang digunakan dalam praktikum ini adalah
sebagai berikut:

dH 1
=H 1 b+ P ( t )ET (t )Y a ( t )Y b ( t )Y c ( t )
dt
dH 1
=H 1 b+Y a ( t ) Y d ( t )
dt
Y a=a . H 1
Y b=b(H 1H b )

Y c =c (H 1H c )
Y d =d . H 2
Keterangan:
P

:Presipitasi

ET

:Evapotranspirasi

:Tinggi air dalam tangki

Yc

:Debit

a, b, c, dan d

:Koefisien lubang tangki

Ya, Yb, Yc, danYd

:Fungsi koefisien tangki

H1b

:H1 pada t-1 atau t sebelumnya

H2b

:H2 pada t-1 atau t sebelumnya

(TIM ASISTEN, 2015)

III.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Komputer atau laptop
2. Software Microsoft Excel
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1. Data curah hujan dan debit
B. Metode Kerja
1. Membuat tabel dalam lembar kerja Microsoft excel seperti berikut
T (hari)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

P (mm)
19.10
6.37
122.03
0.00
56.26
7.93
6.37
3.18
3.82
3.51

Qobservasi (m3jam)
0.88
0.72
1.96
0.97
1.17
0.89
0.80
0.57
0.70
0.71

Qmodel (m3/jam)

Error

2. Membuat persamaan-persamaan tiap tangki dalam Visual Basic (dalam excel)


Option Explicit
Function Yb (b, H1, Hb)
H1 tinggi air di tangki 1, Hb tinggi lubang pengeluaran b
Yb besar air yang keluar dari lubang b

If H1 > Hb Then Yb = b * (H1 - Hb) Else Yb = 0


End Function
Function Yc (c, H1, Hc)
H1 tinggi air di tangki 1, Hc tinggi lubang pengeluaran c
Yc besar air yang keluar dari lubang c
If H1 > Hc Then Yc = c * (H1 - Hc) Else Yc = 0
End Function
Function Ya (a, H1)
H1 tinggi air di tangki 1
Ya besar air yang keluar dari lubang a
Ya = a * H1
End Function
Function Yd (d, H2b, Ya)
Yd = d * (H2b + Ya)
End Function
Funtion NH1 (dt, P, ET, Yan, Ybn, Ycn, H1b)
NH1 tinggi air di tangki 1 pada time step berikutnya
Yan, Ybn, Ycn, adalah besar air yang keluar dari lubang a, b, dan c
NH1 = H1b + (P ET Yan Ybn - Ycn) * dt
End Function
Function NH2 (dt, H2b, Yan, Ydn)
NH2 tinggi air pada tangki 2
Yan, Ydn besar air yang keluar dari lubang a dan d
NH2 = H2b + (Yan Ydn) * dt
End Function
3. Memecahkan persamaan-persamaan tersebut dengan menggunakan fasilitas
solver dalam excel.
4. Memplot hubungan antara hujan-limpasan langsung dalam sebuah grafik.

IV.

T
(hari
)
1
2

P
(mm)

Qobs
(m3/jam)

19,1
6,37

0,88
0,72

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Yc=Q model
(m3/jam)
0,862565384
0,931653128

error
0,000304
0,044797

Ya
13,78548989
14,78104073

3
4
5
6
7
8
9
10

122,03
0
56,26
7,93
6,37
3,18
3,82
3,51

Yb
12,30755412
13,2933358
11,32610621
27,26471504
6,610427719
19,81641849
9,727880792
12,31317034
11,17287677
11,57373886

a
b
c
d
Hb
Hc
H1
H1
b
H2
H2
b

0,134
4
0,133
1
0,009
3
0,1
10,08
8
10,08
8
102,5
6
117,8
2
0,1
0,1

1,96
0,97
1,17
0,89
0,8
0,57
0,7
0,71

Yd
1,38854899
1,48810407
1,28943158
2,89908773
0,81319046
2,14687676
1,12802518
1,38911618
1,27395678
1,31444025

0,793781368
1,910826404
0,463286699
1,388818318
0,681770979
0,862958992
0,783042401
0,81113651

H1
109,9648906
95,18447033
214,9362967
59,75408131
158,974881
83,17649558
102,6005964
94,0332089
97,04501303
95,90122216

1,360066
0,885154
0,499444
0,24882
0,013978
0,085825
0,006896
0,010229

H2
12,4969409
13,39293666
11,60488419
26,09178953
7,318714134
19,32189084
10,15222665
12,50204559
11,46561103
11,82996222

12,79431576
28,89087725
8,031904593
21,3687676
11,18025183
13,79116177
12,63956781
13,04440247

ET

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

hasil model tangki


2.5
2
1.5
Debit air (m3/s)

Qobs
Qmodel

1
0.5
0
0

10

12

waktu(hari)

Gambar grafik hasil model tangki.


B. Pembahasan

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan unit alam berupa kawasan yang
dibatasi oleh pemisah topografis berupa punggung-punggung bukit yang
menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya ke
sungai utama dan kemudian menyalurkannya ke laut. Wilayah daratan tersebut
dinamakan Daerah Tangkapan Air (DTA atau catchment area) yang merupakan
suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam (tanah, air,
dan vegetasi) dan sumberdaya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam.
(Asdak, 1995)
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
menyebutkan bahwa DAS adalah suatu bentang lahan yang dibatasi oleh

punggung bukit pemisah aliran (topographic divide) yang menerima, menyimpan,


dan mengalirkan air hujan melalui jaringan sungai dan bermuara di satu patusan
(single outlet) di sungai utama menuju danau dan laut. DAS merupakan ekosistem
alam berupa hamparan lahan yang bervariasi menurut kondisi geomorfologi
(geologi, topografi, dan tanah), penggunaan lahan, dan iklim yang memungkinkan
terwujudnya ekosistem hidrologi yang unik.
Secara makro, DAS terdiri dari unsur biotik (flora dan fauna), abiotik (tanah,
air, dan iklim), dan manusia yang saling berinteraksi dan saling ketergantungan
membentuk sistem hidrologi. DAS juga dapat dipandang sebagai suatu sistem
hidrologi yang dipengaruhi oleh presipitasi (hujan) sebagai masukan ke dalam
sistem. DAS mempunyai karakteristik yang spesifik berkaitan dengan unsur-unsur
utama seperti jenis tanah, topografi, geologi, geomorfologi, vegetasi, dan tata
guna lahan.
Berdasarkan fungsinya, DAS dibagi menjadi tiga bagian yaitu DAS bagian
hulu, DAS bagian tengah, dan DAS bagian hilir. DAS bagian hulu didasarkan
pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan
DAS agar tidak terdegradasi, yang dapat diindikasikan oleh kondisi tutupan
vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah
hujan. DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang
dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi,
yang dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan
air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti

pengelolaan sungai, waduk, dan danau. DAS bagian hilir didasarkan pada fungsi
pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat sosial dan
ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan
menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian,
air bersih, serta pengelolaan air limbah. (Effendi, 2008)
Manfaat mengumpulkan data aliran sungai: Diperolehnya data karakteristik
DAS dan estimasi kondisi, potensi, dan perilaku/watak yang diperlakukan dalam
rangka pengembangan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia serta
kelembagaan secara optimal. Diperolehnya data dan informasi mengenai
perlakuan-perlakuan yang mungkin terjadi di dalam DAS dan selanjutnya untuk
dijadikan sebagai dasar dalam perumusan pemecahan permasalahan DAS yang
akan dilakukan secara terintegrasi (terpadu) antara sektor (lintas sektoral) dalam
rangka pengelolaan DAS terpadu.
Data curah hujan diperlukan sebagai input utama model, baik pada model
hidrologi maupun model erosi. Data curah hujan yang diperlukan pada model
hidrologi adalah berupa curah hujan bulanan dan pada model erosi berupa jumlah
hujan harian dan bulanan, hujan maksimum dan intensitas hujan. Data/informasi
kondisi penutupan lahan yang diperlukan dalam penggunaan lahan adalah
gambaran rapat tidaknya penutupan lahan sehingga memberikan pengaruh
langsung terhadap intersepsi dan aliran permukaan serta evapotranspirasi. Data
evapotranspirasi diperlukan pada model hidrologi berupa evapotranspirasi
bulanan. Data debit aliaran sungai yang diperlukan adalah berupa data debit

bulanan yang dikonversi menjadi tebal limpasan. Data kondisi topografi yang
diperlukan dalam model erosi adalah panjang dan kemiringan lereng sebagai
faktor yang menentukan laju erosi. Data sedimen suspensi sungai diketahui
melalui pengambilan contoh air yang selanjutnya dianalisis dengan persamaan
hubungan untuk memperoleh data seri bulanan. Seri data suspensi ini diperlukan
pada model sedimentasi. (Soemarno, 2011)
Model dalam hidrologi mengandung pengertian bermacam-macam, dalam
Sri Harto (2000), Clarke (1973) menyebutkan bahwa model sebagai simplifikasi
dari satu sistem yang kompleks,

baik berupa fisik, analog atau matematik.

Sedangkan Dooge (1979), menambahkan bahwa model hidrologi selain sebagai


struktur, alat, skema atau prosedur nyata atau abstrak, model hidrologi adalah
sebuah hubungan antara masukan atau rangsangan, tenaga atau informasi,
keluaran, dan pengaruh atau tanggapan dalam referensi waktu tertentu. Kemudian,
Ponce (1989), menyatakan bahwa model hidrologi adalah satu set pernyataanpernyataan matematika yang menyatakan hubungan antara fase-fasedari siklus
hidrologi dengan tujuan mensimulasikan transformasi hujan menjadi limpasan.
Brooks et al. (1987), Model hidrologi merupakan gambaran sederhana dari suatu
sistem hidrologi yang aktual. Model hidrologi biasanya dibuat untuk mempelajari
fungsi dan respon suatu DAS dari berbagai masukan DAS. Melalui model
hidrologi dapat dipelajari kejadian-kejadian hidrologi yang pada gilirannya dapat
digunakan untuk memprediksi kejadian hidrologi yang akan terjadi. Harto (1993),
model hidrologi adalah sebuah sajian sederhana (simple representation) dari
sebuah sistem hidrologi yang kompleks.Pendekatan sistem dalam dalam analisis

hidrologi merupakan suatu teknik penyederhanaan dari sistem prototipe ke dalam


suatu sistem model, sehingga perilaku sistem yang kompleks dapat ditelusuri
secara kuantitatif.Hal ini menyangkut sistem dengan mengidentifikasikan adanya
aliran massa/energi berupa masukan dan keluaran serta suatu sistem simpanan
(Pawitan 1995).
Harto (1993) mengemukakan bahwa konsep dasar yang digunakan dalam
setiap sistem hidrologi adalah siklus hidrologi. Persamaan dasar yang menjadi
landasan bagi semua analisis hidrologi adalah persamaan neraca air (water
balanced equation). Persamaan neraca air dari suatu DAS untuk suatu periode
dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
S = Input Output
Di mana :
S = perubahan tampungan (storage change),
Input = masukan (inflow), dan
Output = keluaran (outflow).
Harto (1993) mengemukakan bahwa tujuan penggunaan suatu model dalam
hidrologi, antara lain sebagai berikut :
a) Peramalan (forecasting) menunjukkan besaran maupun waktu kejadian yang
dianalisis berdasar cara probabilistik.

b) Perkiraan (predicting) yang mengandung pengertian besaran kejadian dan


waktu hipotetik (hipotetical future time).
c) Sebagai alat deteksi dalam masalah pengendalian.
d) Sebagai alat pengenal (identification) dalam masalah perencanaan.
e) Ekstrapolasi data/informasi.
f) Perkiraan

lingkungan

akibat

tingkat

perilaku

manusia

yang

berubah/meningkat.
g) Penelitian dasar dalam proses hidrologi.
Model hidrologi diklasifikasikan menjadi dalam beberapa macam. Menurut
Harto (1993) mengemukakan bahwa secara umum model dapat dibagi dalam tiga
kategori, yaitu :
a) Model fisik yang menerangkan model dengan skala tertentu untuk menirukan
prototipenya.
b) Model analog yang disusun dengan menggunakan rangkaian resistorkapasitor untuk memecah persamaan-persamaan diferensial yang mewakili
proses hidrologi.
c) Model matematik yang menyajikan sistem dalam rangkaian persamaan dan
kadang-kadang dengan ungkapan-ungkapan yang menyajikan hubungan antar
variabel dan parameter.
Selain itu, model juga dapat diklasifikasikan menjadi:
a) Model stokastik, di mana hubungan antara masukan dan keluarannya
didasarkan atas kesempatan kejadian dan probabilitas
b) Model deterministik, di mana setiap masukan dengan sifat-sifat tertentu,
selalu akan menghasilkan keluaran yang tertentu pula.

Di samping itu, model dapat digolongkan menjadi:


a) model empirik, yaitu model yang semata-mata mendasarkan pada percobaan
dan pengamatan
b) model konseptual, yaitu model yang menyajikan proses-proses hidrologi
dalam persamaan matematik dan membedakan antara fungsi produksi
(production) dan fungsi penelusuran (routing).
Selain tank model masih ada model hidrologi yang lain, yaitu:
1. USLE model
Model penduga erosi USLE (universal soil loss equation) merupakan model
empiris yang dikembangkan di Pusat Data Aliran Permukaan dan Erosi Nasional,
Dinas Penelitian Pertanian, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA)
bekerja sama dengan Universitas Purdue pada tahun 1954 (Kurnia 1997). Model
tersebut dikembangkan berdasarkan hasil penelitian erosi pada petak kecil
(Wischmeier plot) dalam jangka panjang yang dikumpulkan dari 49 lokasi
penelitian.Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dibuat model penduga
erosi dengan menggunakan data curah hujan, tanah, topografi dan pengelolaan
lahan. Secara deskriptif model tersebut diformulasikan sebagai:
A = RKLSCP
Di mana:
A : jumlah tanah yang tererosi (ton/ha/tahun)
R : faktor erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : faktor panjang lereng

S : faktor kemiringan lereng


C : faktor penutupan dan pengelolaan tanaman
P : faktor tindakan konservasi tanah
Disamping digunakan sebagai model penduga erosi wilayah (DAS), model
tersebut juga digunakan sebagai landasan pengambilan kebijakan pemilihan
teknik konservasi tanah dan air yang akan diterapkan, walaupun ketepatan
penggunaan model tersebut dalam memprediksi erosi DAS masih diragukan
(Kurnia 1997). Hal ini disebabkan karena model USLE hanya dapat memprediksi
rata-rata kehilangan tanah dari erosi lembar dan erosi alur, tidak mampu
memprediksi pengendapan sedimen pada suatu landscape dan tidak menghitung
hasil sedimen dari erosi parit, tebing sungai dan dasar sungai (Wischmeier 1976).
Berdasarkan beberapa kelemahan tersebut, model erosi USLE disempurnakan
menjadi RUSLE (Revised USLE) dan MUSLE (Modified USLE) dengan
menggunakan teori erosi modern dan data-data terbaru (Renard 1992dalam Risse
et al. 1993), tetapi masih tetap berbasis plot.
2. ANSWER model
Model ANSWERS (areal nonpoint source watershed environmental
response simulation) merupakan sebuah model hidrologi dengan parameter
terdistribusi yang mensimulasikan hubungan hujan-limpasan dan memberikan
dugaan hasil sedimen. Model distribusi parameter DAS dipengaruhi oleh variabel
keruangan (spatial), sedangkan parameter- parameter pengendalinya, antara lain:
topografi, tanah, penggunaan lahan dan sifat hujan. Model ANSWERS adalah
model deterministik yang didasarkan pada hipotesis bahwa setiap titik di dalam

DAS mempunyai hubungan fungsional antara laju aliran permukaan dan beberapa
parameter hidrologi yang mempengaruhi aliran, seperti intensitas hujan, infiltrasi,
topografi, jenis tanah dan beberapa faktor lainnya. Laju aliran yang terjadi dapat
digunakan untuk memodelkan fenomena pindah massa, seperti erosi dan polusi
dalam wilayah DAS. Data masukan model ANSWERS dikelompokkan dalam
lima bagian,yaitu :
a) Data curah hujan, yaitu : jumlah dan intensitas hujan pada suatu kejadian
hujan.
b) Data tanah, yaitu : porositas total (TP), kapasitas lapang (FP), laju infiltrasi
konstan (FC) selisih laju infiltrasi maksimum dengan laju infiltrasi konstan
(A), eksponen infiltrasi (P), kedalaman zona kontrol iniltrasi (DF),
kandungan air tanah awal (ASM), dan erodibilitas tanah (K).
c) Data penggunaan dan kondisi permukaan lahan, meliputi : volume intersepsi
potensial (PIT), persentase penutupan lahan (PER), koefisien kekasaran
permukaan (RC), tinggi kekasaran maksimum (HU), nilai koefisien
manning untuk permukaan lahan (N), faktor tanaman dan pengelolaannya
(C).
d) Data karakteristik saluran, yaitu lebar saluran (CW) dan koefisien manning
(N).

e) Data satuan individu elemen, yaitu : kemiringan lereng, arah lereng, jenis
tanah, jenis penggunaan lahan, liputan penakar hujan, kemiringan saluran,
dan elevasi elemen rata-rata.
Mekanisme model ANSWERS dapat dijelaskan sebagai berikut (de Roo 1993) :
a) Hujan yang jatuh pada suatu DAS dengan vegetasi tertentu, sebagian akan
diintersepsi oleh tajuk vegetasi (PER) sampai potensial simpanan intersepsi
(PIT) tercapai.
b) Apabila laju hujan lebih kecil dari laju intersepsi, maka air hujan tidak akan
mencapai permukaan tanah. Sebaliknya jika laju hujan lebih besar dari laju
intersepsi, maka terjadi infiltrasi.
c) Laju infiltrasi awal tersebut dipengaruhi oleh kandungan air tanah awal
(ASM = anticedent soil moisture), porositas tanah total (TP), kandungan air
tanah pada kapasitas lapang (FP), laju infiltrasi pada saat konstan (FC), laju
infiltrasi maksimum (FC+A), dan kedalaman zona kontrol infiltrasi (DF).
Laju infiltrasi akan menurun secara eksponensial dengan bertambahnya
kelembaban tanah.
d) Jika hujan terus berlanjut, maka laju hujan menjadi lebih besar dari laju
infiltrasi dan intersepsi. Pada kondisi ini air mulai mengumpul dipermukaan
tanah dalam depresi mikro (retention storage) yang dipengaruhi oleh
kekasaran permukaan tanah, yaitu RC dan HU.
e) Jika retensi permukaan melebihi kapasitas depresi mikro, maka akan terjadi
limpasan permukaan, di mana besarnya limpasan permukaan tersebut
dipengaruhi oleh kekasaran permukaan (N), kelerengan dan arah aliran.
f) Jika hujan terus berlanjut, maka akan tercapai laju infiltrasi konstan (FC).
g) Pada saat hujan reda, proses infiltrasi masih terus berlangsung sampai
simpanan depresi sudah tidak tersedia lagi.

Model ANSWERS juga menampilkan grafik yang berisi hyetograf hujan terpilih,
hidrograf aliran permukaan, dan sedimentasi. Dari setiap kajadian hujan dapat
dianalisis debit puncak dan waktu puncak. Debit puncak adalah nilai puncak
(tertinggi) dari suatu hidrograf aliran, dan waktu puncak adalah selang waktu
mulai dari awal terjadinya aliran permukaan sampai terjadinya debit puncak.
3. Model AGNPS
Model AGNPS (Agricultural Non Point Source Pollution model)
dikembangkan oleh USDA-ARS, North Central Soil Consrvation Service, Morris,
Minnesota yang bekerjasama dengan USDA-SCS, MPCA (Minnesota Pollution
Control Agency), LCMR (Legeslative Commission in Minnesota Resources) dan
EPA (Environmental Protection Agency) (Young et al. 1994).Model ini terus
berkembang dan telah diterapkan di beberapa negara untuk menentukan langkahlangkah kebijakan dan evaluasi dalam kegiatan konservasi, seperti di Amerika,
Canada dan negara-negara di Eropa (Yoon 1996). Model AGNPS bekerja pada
basis sel geografis (dirichlet tesselation) yang digunakan untuk menggambarkan
kondisi daratan (upland) dan saluran (channel). Dirichlet tesselation adalah proses
pembagian dan pengelompokan DAS menjadi sel (tiles) yang juga dikenal dengan
nama polygon Thiessen atau Voronoi. Seluruh karakteristik DAS dan masukan
digambarkan pada tingkatan sel. Setiap sel mempunyai resolusi 2,5 akre (1,01 ha)
hingga 40 akre (16,19 ha). Ukuran sel yang lebih kecil dari 10 akre
direkomendasikan untuk DAS dengan luas kurang dari 2000 akre (809,36 ha).
Untuk DAS yang luasnya lebih dari 2000 akre, maka ukuran seladapat berukuran

40 akre. Ketelitian hasil dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran sel, tetapi
hal ini akan membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk
menjalankan model. Nilai-nilai parameter model untuk skala sel ditetapkan
berdasarkan kondisi biofisik aktual pada masing-masing sel. Oleh sebab itu, untuk
mendapatkan satu nilai parameter yang seragam pada masing-masing sel, perlu
ditetapkan nilai tunggal parameter sel dengan menghitung nilai rata-rata
tertimbang dari berbagai kondisi bergam yang ada. Ada dua parameter masukan
dalam model AGNPS, yaitu inisial data dan data per sel (spreadseheet data entry)
(Yoon 1996). Hasil keluaran (output) dari model AGNPS dapat berupa grafik dan
tabular dengan informasi yang sangat lengkap, baik keluaran DAS (watershed
summary) maupun keluaran per sel.
4. Model SWAT
Model SWAT (soil and water assessment toll) adalah model yang
dikembangkan untuk memprediksi dampak pengelolaan lahan (land management
practices) terhadap air, sedimen dan bahan kimia pertanian yang masuk ke sungai
atau badan air pada suatu DAS yang kompleks, dengan tanah, penggunaan tanah
dan pengelolaannya yang bermacam-macam sepanjang waktu yang lama.
5. Model HEC-HMS
Seperti yang dijelaskan dalam buku Hydrologic Modeling System (HECHMS) Technical Reference Manual, program HEC-HMS ini merupakan program
komputer untuk menghitung pengalihragaman hujan dan proses routing pada
suatu sistem DAS. Dalam

software

HEC-HMS terdapat fasilitas kalibrasi

maupun simulasi model distribusi, model menerus dan kemampuan membaca


data GIS.
6. MUSLE model
Metode MUSLE (Modified Universal Soil Loss Equation) merupakan
sebuah metode yang digunakan untuk menduga laju sedimentasi yang merupakan
metode yang dikembangkan dari

metode yang sudah ada sebelumnya yakni

metode USLE (Universal Soil Loss Equation). Dalam

menduga besarnya

sedimentasi MUSLE tidak menggunakan faktor energi hujan sebagai trigger


penyebab terjadinya erosi melainkan menggunakan faktor limpasan permukaan
sehingga MUSLE tidak memerlukan faktor sediment delivery ratio (SDR). Faktor
limpasan permukaan mewakili energi yang digunakan untuk penghancuran dan
pengangkutan sedimen, selain itu MUSLE dapat menduga erosi setiap kejadian
hujan.
7. Unit Hydrograph
Menurut Sosrodarsono dan Takeda (2003) diagram yang menggambarkan
hubungan variasi debit atau aliran permukaan menurut waktu disebut hidrograf.
Kurva itu memberikan gambaran mengenai berbagai kondisi di daerah itu secara
bersama-sama. Jadi kalau karakteristik daerah aliran itu berubah maka bentuk
hidrograf akan berubah.
Manfaat yang diperoleh setelah mempelajari pemodelan hidrologi adalah
mampu menganalisis data hidrologi menggunakan model hidrologi tank model,
mampu memecahkan persamaan persamaan dalam Visual Basic (dalam Excel),
serta mampu mem-plot hubungan antara hujan limpasan langsung dalam grafik.

Pendekatan simulasi (pemodelan/modeling) hidrologi bertujuan untuk


menggambarkan sistem hidrologi yang nyata secara matematis. Model tersebut
digunakan untuk (PPSL-Unmul, 1997) :
1. Menetapkan ciri-ciri lebih lanjut dan mengerti sistem yang ada
2. Untuk mengevaluasi respon sistem terhadap berbagai masukan presipitasi
3. Membantu merancang dan mengoptimalkan fungsi-fungsi cara bekerjanya
dan perawatan struktur sumberdaya air
4. Mengevaluasi respon sistem untuk perubahan-perubahan dalam faktor-faktor
DAS (yaitu daya infiltrasi tanah, jalur aliran air), dan
5. Mengevaluasi respon sistem terhadap perubahan-perubahan dalam faktorfaktor manusia (yaitu tata guna lahan).
Penggunaan model hidrologi DAS juga sering digunakan untuk analisis tata
ruang berdasarkan tata guna lahan dalam DAS, untuk peramalan/ prediksi dari
perubahan/ perlakuan (banjir, kekeringan, erosi, sedimentasi, dll), kini telah
berkembang menganalisis hasil air DAS untuk penilaian (valuation) jasa variabel
lingkungan DAS. Model-model pun telah berkembang lebih praktis dan mudah
diterapkan, serta muktahir.
Pemanfaatan model hidrologi dan simulasinya dapat membantu dalam
perencanaan penatagunaan lahan atau mengevaluasi kondisi lahan aktual (existing
landuse) terhadap hasil air dan ikutannya (aliran dan sedimentasi). Selain itu
model hidrologi dan simulasinya juga dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi
hasil implementasi atau kebijakan perencanaan yang telah disusun dengan
pendekatan yang berbeda (misalnya rencana tata ruang yang disusun dengan
pendekatan ekonomi wilayah). (Soemarno, 2011)

Praktikum ini membahas tentang pemodelan hidrologi yang


menggunakan
dilakukan

tank

dalam

model.

Microsoft

Berdasarkan
Excel,

perhitungan

kemudian

hasil

yang

tersebut

digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut:

hasil model tangki


2.5
2
1.5
Debit air (m3/s)

Qobs
Qmodel

1
0.5
0
0

10

12

waktu(hari)

Gambar grafik hasil model tangki.


Pada grafik yang berbentuk diagram garis diperoleh dari
hasil perhitungan yang menghubungkan antara waktu (t hari)
terjadinya hujan sebagai sumbu X dengan Qobs (debit observasi)
dan Qmodel sebagai sumbu Y. Grafik tersebut menunjukkan
mengenai hubungan antara besarnya curah hujan yang terjadi
dengan besarnya debit yang dihasilkan dalam waktu tertentu.
Berdasarkan grafik tersebut, bahwa besarnya curah hujan yang

terjadi berpengaruh terhadap besarnya debit. Selain itu, pada


referensi debit juga dipengaruhi oleh adanya beberapa factor, seperti :
1.
2.
3.
4.
5.

Intensitas curah hujan


Luas penampang
Evapotranspirasi
Kedalaman tangki
Koefisien tangki
Dalam

grafik

diatas

dijelaskan

bahwa

kenaikan

dan

penurunan yang terjadi dalam grafik diatas disebabkan oleh


besarnya curah hujan yang terjadi. Semakin besar curah hujan,
maka debit air yang dihasilkan akan semakin besar, begitu juga
sebaliknya. Karena air yang turun ke permukaan bumi akan
mengalami infiltrasi, jika curah hujan tinggi maka air yang masuk
terinfiltrasi pun akan penuh dan mengalami kelembaban dan
penjenuhan di dalam tanah, akhirnya debit air di luar permukaan
tanah pun akan besar, begitu pula dengan curah hujan yang
rendah maka yang akan terjadi adalah air yang masuk akan
terinfiltrasi seluruhnya ke dalam tanah hingga tanah tersebut
lembab dan jenuh, karena air yang turun sedikit maka debit air
pun yang mengalir di atas permukaan tanah sedikit.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Data aliran sungai merupakan data hidrologi yang penting karena dapat
digunakan sebagai dasar perencanaan dan pengembangan DAS. Model
hidrologi merupakan gambaran sederhana dari suatu sistem hidrologi yang
aktual. Tank Model adalah salah satu model hidrologi yang digunakan untuk
menganalisis karakteristik aliran sungai.
2. Grafik menunjukkan mengenai hubungan antara besarnya
curah hujan yang terjadi dengan besarnya debit yang
dihasilkan dalam waktu tertentu. Berdasarkan grafik tersebut,
bahwa besarnya curah hujan yang terjadi berpengaruh
terhadap besarnya debit. Semakin besar curah hujan, maka
debit air yang dihasilkan akan semakin besar, begitu juga
sebaliknya.
B. Saran
Pada praktikum Pemodelan Hidrologi ini sudah berjalan dengan lancar,
walaupun terdapat sedikit kendala, seperti sedikit tertinggal dalam langkah-

langkah membuat persamaan tiap tangki dalam Visual Basic (dalam Excel).
Dalam praktikum selanjutnya, diharapkan para asisten praktikum jangan terlalu
cepat dalam menjelaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Asdak,Chay.1995.Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.Gadjah


Mada University Press;Yogyakarta.
Beasley DB and Huggins LF. 1991. ANSWERS. Users Manual. Agricultural
Engineering Department, Purdue University, West Laffayete, Indiana.
Brooks KN, Folliot PF, Gregesen HM, and Thames JL. 1987. Hydrology and The
Management of Watershed. USA.
De Roo. 1993. Modelling Surface Runoff and Soil Erosion in Catchment Using
Geographical Information System. Utrecht. Utrecht University.
Effendi E. 2008. Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Terpadu. Jakarta: Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air,
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.Pemerintah Republik Indonesia.
2004.
Kurnia U. 1997. Pendugaan Erosi dengan Metoda USLE : Kelemahan dan
Keunggulan. Lokakarya Penetapan Model Pendugaan Erosi Tanah, Bogor, 7
Maret.
Sahayana, CandraRahmat. 2011. PendugaanNeraca Air, Erosi, Dan
SedimentasiMenggunakanAplikasi Tank Model Dan Metode MUSLE Di Sub
DAS
CilebakKabupaten
Bandung.
Skripsi.FakultasKehutananInstitutPertanian Bogor.
Soemarno.2011.Simulasi
Hidrologi
dalam
Pengelolaan
DAS.
http://marno.lecture.ub.ac.id/. Diakses pada 18 April 2015 pukul 06.22 WIB.

Sulistyowati,
Trianingtyas.
2010.
Aplikasi
Tank
Model
DalamAnalisisHidrologiBerbasis Data Spas Di Sub-sub DAS
CipedesKabupatenGarut.Skripsi.FakultasKehutananInstitutPertanian Bogor.
Tim

Asisten.
2014.
ModulPraktikumHidrologi.
StudiTeknikPertanianUniversitasJenderalSoedirman;Purwokerto.

Program

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya


Air; Jakarta.