Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

GEOMORFOLOGI NUSA TENGGARA


UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Geomorfologi Indonesia
Yang diampu Oleh Sudarno Herlambang
Oleh
Riza Firdianzah
140721605648
Uzlifatil Jannah
140721604412
Yoneta Okta Verianti
140721601728
Waode Yunia Silviariza 140721601241

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
Februari 2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB 1......................................................................................................................1
1.1.

Latar Belakang........................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah...................................................................................1

BAB II.....................................................................................................................2
2.1.

Kondisi Fisik Nusa Tenggara..................................................................2

2.1.1.

Nusa Tenggara Timur......................................................................3

2.1.2.

Nusa Tenggara Barat.......................................................................4

2.1.3.

Bali.....................................................................................................4

2.2.

Kondisi Geomorfologi Nusa Tenggara..................................................6

2.2.1.

Palung Belakang...............................................................................7

2.2.2.

Busur Dalam.....................................................................................7

2.2.3.

Palung antara dengan Sumba.........................................................9

2.2.4.

Busur Luar......................................................................................10

2.2.5.

Palung Depan..................................................................................11

2.3.

Sejarah Geologi Nusa Tenggara...........................................................11

2.3.1.

Sejarah Geologi Pulau NTT..........................................................11

2.3.2.

Sejarah Geologi Pulau Lombok....................................................13

2.3.3.

Sejarah Gologi Pulau Bali.............................................................15

2.4.

Pengembangan Potensi Fisik Nusa Tenggara.....................................16

2.4.1.

Kelautan..........................................................................................17

2.4.2.

Pertanian.........................................................................................21

2.4.3.

Peternakan......................................................................................24

2.4.4.

Pertambangan................................................................................25

2.4.5.

Pariwisata.......................................................................................27

BAB III..................................................................................................................29
3.1.

Kesimpulan............................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................32

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kepulauan Indonesia, analisis geomorfologi untuk identifikasi
masalah lingkungan fisikal dan pengembangan wilayah Indonesia. Wilayah
Indonesia terletak pada daerah tropis dan merupakan kesatuan wilayah laut
yang ditebari pulau-pulau atau kepulauan. Jarak terjauh Barat Timur 5.110
Km. dan jarak terjauh Utara Selatan 1.118 Km. ini berarti panjang
kepulauan Indonesia menduduki + 1/8 equator.
Kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara ialah gugusan pulau di
sebelah timur Pulau Jawa, dari Pulau Bali di sebelah barat hingga Pulau
Timor di sebelah timur. Kepulauan Sunda Kecil termasuk wilayah negara
Indonesia kecuali bagian timur Pulau Timor yang termasuk wilayah negara
Timor Timur. Di Indonesia, kepulauan ini terdiri dari tiga buah provinsi, yaitu
(berturut-turut dari barat): Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara
Timur.
Sunda kecil juga memiliki cerita geologi seperti halnya pulau-pulau
lainnya. Secara goelogis Sunda kecil memeiliki karakteristik yang khas
karena terdiri dari pulau-pulau kecil yang tersebar dimulai dari Pulau Bali
hingga Pulau Timor. Sunda kecil merupakan hasil bentukan dari lempeng
Samudra Hindia yang bergerak kearah utara dan mendesak lempeng Eurasia.
Pulau-pulau di wilayah Sunda Kecil memiliki banyak gunung api yang masih
aktif, gunung api ini merupakan jaluran dari pegunungan Busur Sunda
(Jaluran Pegunungan Mediteran).

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan Masalah makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimana kondisi fisik kepulauan Nusa Tenggara?
2. Bagaimana kondisi Geomorfologi kepulauan Nusa tenggara?
3. Bagaimana sejarah geologi kepulauan Nusa Tenggara?
4. Bagaimana pengembangan potensi fisik kepulauan Nusa Tenggara?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kondisi Fisik Nusa Tenggara
Kepulauan Nusa Tenggara terletak di Indonesia bagian tengah yang
tersebar sepanjang 2.850 km dari barat ke timur (1150 49 BT sampai 134054
BT) dan 1.450 km dari utara ke selatan (2036 LU sampai 110LS). Nusa
tenggara berada diantara bagian timur pulau Jawa dan kepulauan Banda tediri
dari pulau-pulalu kecil dan lembah sungai. Secara fisik, dibagian utara
berbatasan dengan pulau Jawa, bagian timur dibatasi oleh kepulauan Banda,
bagian utara dibatasi oleh laut Flores dan bagian selatan dibatasi oleh
Samudra Hindia Terdapat lima pulau besar yaitu Bali, Lombok, Sumbawa,
Flores, dan Sumba. Selain itu terdapat pulau-pulau kecil lainnya
Nusa Tenggara atau Kepulauan Sunda Kecil (sekarang kadangkala
digunakan dalam peta-peta geografis dunia), adalah gugusan pulau-pulau di
sebelah timur Pulau Jawa, dari Pulau Bali di sebelah barat, hingga Pulau
Timor di sebelah timur. Kepulauan Barat Daya dan Kepulauan Tanimbar yang
merupakan bagian dari wilayah Provinsi Maluku secara geologis juga
termasuk dalam kepulauan Nusa Tenggara.
Secara administratif, Kepulauan Nusa Tenggara termasuk wilayah
negara Indonesia, kecuali bagian timur Pulau Timor termasuk wilayah negara
Timor Leste. Di awal kemerdekaan Indonesia, kepulauan ini merupakan
wilayah Provinsi Sunda Kecil yang beribukota di kota Singaraja, kini terdiri
atas 3 provinsi (berturut-turut dari barat): Bali, Nusa Tenggara Barat, dan
Nusa Tenggara Timur. Kondisi fisik Nusa Tenggara sangat berbeda dengan
kawasan lainnya di Indonesia. Kepulauan ini terdiri dari pulau-pulau vulkanis
dan rangkaian terumbu karang yang tersebar di sepanjang lautan yang
terdalam di dunia, dan tidak memiliki pulau besar, seperti Jawa dan Sumatera.

2.1.1.

Nusa Tenggara Timur


Menurut Venny (2010) Nusa Tenggara Timur terletak antara
80-120 Lintang Selatan dan 1180 - 1250 Bujur Timur. NTT dibagi
atas 4 pulau yaitu Pulau Timor, Pulau Flores, Pulau Sumba dan
Pulau Alor. Luas wilayah daratan 47.349,9 km2 dan luas wilayah
lautan 200.000 km2. Jumlah pulau yang ada di Provinsi Nusa
Tenggara Timur 566 pulau dimana 42 pulau telah dihuni sedangkan
524 pulau tidak berpenghuni. Adapun pulau yang telah memiliki
nama 246 pulau dan yang belum memiliki nama 320 pulau.
Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Nusa

Tenggara Timur dikenal 2 musim yaitu musim kemarau dan musim


hujan. Pada bulan Juni-September arus angin berasal dari Australia
dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan
musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember-Maret arus
angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan
Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Suhunya berkisar
sekitar 26,7C

2.1.2.

Nusa Tenggara Barat


Nusa Tenggara Barat terletak pada 115 46' - 119? 5' Bujur
Timur dan 8 10' - 9? 5' Lintang Selatan. Provinsi Nus Tenggara

Barat terdiri atas 2 pulau besar yaitu Lombok dan Sumbawa dan
dikelilingi oleh 280 pulau-pulau kecil. Luas wilayah Provinsi ntb
mencapai 49.312,19km2 teriri dari daratan seluas 20.153,15 Km2
(40,87%) dan perairan laut seluas 29.159,04 Km2 (59,13%) dengan
panjang garis pantai 2.333 km. Luas Pulau Sumbawa mencapai
15.414,5 km2 (23,51%).

Berdasarkan data statistik

dari lembaga

meteorologi,

temperatur maksimum pada tahun 2001 berkisar antara 30,9-32,1


C, dan temperatur minimum berkisar antara 20,6- 24,5C.
Temperatur tertinggi terjadi pada bulan September dan terendah
ada bulan Nopember. Sebagai daerah tropis, NTB mempunyai ratarata kelembaban yang relatif tinggi, yaitu antara 48-95 %

2.1.3.

Bali
Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 83'40" 850'48" Lintang Selatan dan 11425'53" - 11542'40" Bujur Timur.
Pulau Bali merupakan daerah kepulauan nusantara bagian tengah
dan dikelilingi oleh laut. Relief dan topografi Pulau Bali di tengahtengah terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke
timur. Provinsi Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau
Lombok.

Secara administrasi, Provinsi Bali terbagi menjadi delapan


kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Jembrana, Tabanan,
Badung, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Bangli, Buleleng, dan
Kota Denpasar yang juga merupakan ibukota provinsi. Selain Pulau
Bali Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau kecil lainnya, yaitu
Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan di
wilayah Kabupaten Klungkung, Pulau Serangan di wilayah Kota
Denpasar, dan Pulau Menjangan di Kabupaten Buleleng. Luas total
wilayah Provinsi Bali adalah 5.634,40 ha dengan panjang pantai
mencapai 529 km.
Berdasarkan informasi iklim yang ada dapat disimpulkan
kondisi iklim di Nusa Tenggara tidak mempunyai berbedaan yang
mencolok, hal ini terlihat dengan adanya kondisi alam yang hampir
sama di wilayah tersebut, misalnya terdapatnya padang rumput
yang luas sehingga mempengaruhi iklim yang ada. Selain itu juga
karena wilayah nusa tenggara yang berbentuk pulau-pulau sempit
juga mempengaruhi iklim yang ada disana.
2.2. Kondisi Geomorfologi Nusa Tenggara
Menurut Bemmlen (1970) dalam Sudarno Herlambang, Pulaupulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang
merupakan perluasan busur Banda di sebelah barat. Geantiklinal yang
membujur dari timur sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing, Alor,
6

Pantar, Lomblen, Solor, Adonara, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa,


Lombok dan Bali. Sedangkan dibagian selatan dibentuk oleh pulau-pulau
Timor, Roti, Sawu, Raijua dan Dana. Punggungan geantiklinal tersebut
bercabang di daerah Sawu. Salah satu cabangnya membentuk sebuah
ambang yang turun ke laut melewati Raijua dan Dana, berakhir ke arah
punggungan bawah laut di selatan Jawa. Cabang lain merupakan rantai
penghubung dengan busur dalam yang melintasi daerah dekat Sumba.

2.2.1.

Palung Belakang
Di sebelah timur Flores dibentuk oleh bagian barat Basin
Bandaselatan. Di sebelah utara Flores dan Sumbawa terbentang
Laut Flores, yang dibedakan menjadi tiga bagian.
a. Laut Flores barat laut, berupa dataran (platform) yang luas dan
dangkal, yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan
dangkalan Sunda.

b. Basin Flores Tengah, berbentuk segitiga dengan puncak terletak di


sebelah selatan Volkan Lompobatang, yang berhubungan dengan
depresi Walanae. Sedangkan dasarnya terletak di sepanjang pantai
utara Flores, yang merupakan bagian terdalam (-5140 m)
c. Laut Flores Timur terdiri dari punggungan dan palung di antaranya,
yang menghubungkan lengan selatan Sulawesi dengan punggungan
bawah laut Batu Tara.
Disebelah utara Bali dan Lombok Palung belakang ini dibentuk
oleh Laut Bali (lebar 100 km dan dalam 1500 m). kearah barat
dasarnya berangsur-angsur terangkat sampai bersambungan dengan
laut dangkal di Selat Madura (-100 m)

2.2.2.

Busur Dalam
Busur dalam Nusa Tenggara merupakan kelanjutan dari
Jawa menuju Busur Dalam Banda. Di Nusa Tenggara merupakan
punggungan geantiklinal, lebarnya sekitar 100 km pada ujung barat
berangsur-angsur berkurang kea rah timur hingga 40 km. selat
diantara pulau di bagian barat dangkal dan menjadi lebih dalam ke
arah timur.
Bali dipisahkan terhadap Jawa oleh selat Bali yang sempit,
menurut sejarah Hindu terjadi tahun 280 sebelum Masehi
( Stuterheim,1922). Zone di Bali sama dengan Jawa. Bagian utara
merupakan bagian terluas terdiri dari volkan-volkan Kuarter yang
masih aktif, menunjukkan kelanjutan kompleks volkan muda di
Jawa. Dataran Denpasar yang membentang pada kaki selatan
volkan termasuk sub zone Blitar di Jawa. Dataran ini dihubungkan
oleh tanah genting yang menyempit dengan bukit-bukit kapur
Tertier Ulu Watu (213 m) yang dapat di bandingkan dengan
semenanjung Blambangan. Pulau Nusa Penida (529 m) antara Bali
dan Lombok juga terdiri dari kapur Tertier ini.
Struktur umum Lombok sama dengan Bali, di sebelah utara
merupakan zone volkanis dengan volkan aktif Rinjani (Zone Solo),
dataran rendah Mataram (subzone Blitar). Di selatan berupa

pegunungan selatan dengan materi kapur Tertier dan breksi


volkanis (Mareje, 710 m).
Fisiografi Sumbawa tidak sama dengan Bali dan Lombok,
keadaan alam yang khas adalah adanya depressi yang memisahkan
geantiklinal menjadi beberapa bagian, di antaranya berupa teluk
dibagian timur. Teluk tersebut dipisahkan dari laut oleh Pulau Mojo
(600 m) yang memebrikan sifat khas dari depressi antar
pegunungan pada puncak geantiklinal.
Sisi utara ditumbuhi oleh beberapa volkan muda. Volkan
Ngenges, Tambora, dan Soromandi menghasilkan batuan leucit.
Volkan tersebut dapat dibandingkan dengan volkan-volkan alkali
dari Subzone Ngawi di Jawa, misalnya Lurus dan Ringgit Besar.
Untuk yang akhir ini sedimen Tertier dan batuan kapur alkali
disebarkan secara luas pada Pulau Sumbawa. Hal ini memberi
gambaran bahwa zone pegunungan Selatan Jawa terdapat di
seluruh pulau itu dan depressi menengah yang disebut Zone Solo,
hanya mencapai tidak begitu jauh di sebelah timur Lombok. Teluk
Saleh merupakan sebuah depressi terpencil dari Zone Solo di
Sumbawa.
Pulau Flores dipisahkan dari Sumbawa oleh Selat Sape.
Komodo dan Rinca termasuk ke dalam puncak geantiklinal Flores
Barat sampai Flores Tengah, yang terdiri dari batuan volkanis lebih
tua (Tertier) dan intrusi magmatis yang dapat dibandingkan dengan
Pegunungan Selatan Jawa. Volkan-volkan yang lebih muda muncul
di sepanjang pantai selatan Flores Barat. Di Flores Tengah volkanvolkan semacam itu tidak hanya terdapat di sepanjang pantai
selatan saja, akan tetapi juga di sepanjang sisi utara. Di Flores
Timur geantiklinal itu berupa sumbu yang tenggelam sehingga
batuan volkanis yang lebih tua dan intrusi granodiorit tidak begitu
banyak, serta hanya terdapat volkan muda yang muncul di bagian
puncaknya. Geantiklinal itu bersambung di sepanjang Solor,
Adonara, Lomblen, dan Pantar dimana pulau-pulau tersebut terdiri
dari volkan muda yang aktif. Sumbu itu kemudian melalui Alor,

Kambing, Wetar, dan Romang. Di bagian ini busur dalam tidak


memiliki volkan aktif. Pulau-pulau tersebut tersusun dari endapan
volkanis Tertier akhir yang sebagian terdapat di bawah permukaan
laut.

2.2.3.

Palung antara dengan Sumba


Palung ini berada di antara busur dalam volkanis Jawa-BaliLombok dan punggungan dasar laut sebelah selatan Jawa. Bagian
terdalam terdapat di selatan Lombok, bercabang dua ke arah timur
menjadi dua cabang yaitu sebelah utara dan selatan Sumba (Selat
Sumba, -1020 m dan Selat Sawu, -1160 m). Cabang-cabang ini
merupakan penghubung antara palung sebelah selatan Jawa dan
Basin Sawu (-3440 m), paling lebar 200 km, antara Flores Timur
dan Roti.
Cabang-cabang itu kemudian berangsur-angsur menyempit
ke arah timur sampai ke ambang antara Kambing dan Timor yang
memisahkan Basin Sawu terhadap Palung Wetar. Palung Wetar itu
dibatasi oleh Kisar di ujung timurnya. Lereng yang curam pada
Wetar dan Basin Sawu serta dasar laut yang datar menunjukkan
adanya penurunan permukaan bumi. Sedangkan ujung timur dan
baratnya dibatasi oleh pengangkatan seperti sembur (horst) di Kisar
dan Sumba. Kedua pulau tersebut secara morfologis termasuk zone
palung antara.
Sumba merupakan mata rantai geologis yang terpenting
antara busur dalam dan busur luar Sistem Sunda. Volkan muda
tidak terdapat disini, sebagian besar tertutup oleh deposit marin
Neogen-Kuarter berupa lahan rusak (bad land) yang tidak terdapat
di tempat lain di Indonesia.

2.2.4.

Busur Luar
Pulau-pulau di Nusa Tenggara yang termasuk busur luar
adalah : Dana, Raijua, Sawu, Roti, Seman, dan Timor. Punggungan
dasar laut dari selatan Jawa muncul sampai 1200 m di bawah
10

permukaan laut, selanjutnya turun ke arah timur sampai 4000 m.


Palung antara tersebut sebagian terangkat. Selanjutnya sumbu
geantiklinal itu naik lagi sampai ke pulau-pulau Sawu, Dana,
Raijua, dan Sawu.
Pulau Sawu mempunyai terumbu karang yang tingginya
300 m di atas permukaan laut dan mengelilingi pulau ini yang
tersusun dari batuan Pre-tertier. Punggungan Dana-Raijua-Sawu
serong

terhadap

punggungan

Roti-Timor, dari

tempat

itu

dipisahkan oleh Selat Daong. Pulau Roti tersusun dari sedimen


terlipat kuat dan tertutup oleh batu karang Kuarter yang tingginya
430 di atas permukaan laut. Timor merupakan hasil geantiklinal
yang lebar. Di samping itu terdapat depressi memanjang di
puncaknya, melalui Teluk Kupang sampai perbatasan Timor Leste
dan berakhir di muara Sungai LDis

2.2.5.

Palung Depan
Antara Pulau Christmast dan punggungan bawah laut di
selatan Jawa terdapat cekungan dalam utama yang membujur arah
timur barat, kedalamannya 7450 m. Palung depan Jawa dari
sistem Pegunungan Sunda itu membentang ke arah timur, seperti
sebuah palung sempit yang dalamnya 6000 7000 m. Sampai di
Sumba ke dalamannya berkurang dan di sebelah selatan Sawu
melengkung ke timur laut sejajar dengan Timor. Sampai di Pulau
Roti dipisahkan oleh punggungan (1940 m) terhadap palung Timor
(-3310 m). Palung di selatan Jawa itu di bagian selatan di batasi
oleh pengangkatan dasar laut yang tidak jelas batasnya melalui
Pulau Christmast menuju dasar laut yang dalamnya 3000 4000 m.
Data bathymetris yang ada tidak cukup untuk menentukan apakah
palung itu membentuk punggungan sambungan pada dasar laut
yang dalamnya 5000 6000 m, atau yang menjadi suatu relief
dasar laut yang lebih kompleks di Samudra Hindia. Bagian timur

11

palung Timor ini dibatasi oleh dangkalan Australia atau dangkalan


Sahul.
2.3. Sejarah Geologi Nusa Tenggara
2.3.1.

Sejarah Geologi Pulau NTT


Bagian timur Nusa Tenggara mulai dari Alor-KambingWetar-Romang, disebut orogene timor dengan pusat undasi di L.
Flores. Evolusi orogenik daerah Nusa Tenggara bagian timur ini
agak kompleks karena pada masa Mesozoikum muda terjadi
penggelombangan yang termasuk sirkum Australia menghasilkan
busur dalam dari P. Sumba kearah timur laut dan busur luar melalui
P. Sawu ke timur laut, Namun memasuki periode tertier daerah ini
mengalami penggelombangan dengan pusat undasi di Laut Flores
sebagai bagian dari sitem Pegunungan Sunda. Keganjilankeganjilan yang nampak seperti posisi pulau sumba di interdeep,
garis arah busur luar Rote-Timor ke arah timur laut nndan
sebagiannya, menurut Van Bemmelen adalah warisan dari evolusi
Geologis terdahulu yang tidak dapat dikaitkan dengan sistem
penggelombangan masa tertier dari pegunungan Sunda.
Adapun daerah undasi di Orogene Timor sebagai berikut:
Busur dalam
: Alor-Kambing-Wetar-Romang, tidak
memperlihatkan
tanda-tanda vulkanis.
Palung Antara
: Pulau Sumba-L.
Sawu Busur Luar : Dana-Raijua-Sawu-Rote-Semau-Timor.
Backdeep
: Punggungan Batutaza
Brouwer mengemukakan dalam makalah Tionanda absenya
aktivitas vulakanisme didaerah ini karena jalan keluarnya magma
tersubat sebagai akibat dari pergeseran lempeng Australia ke utara.
Pendapat Brouwer ini mendapat tantangan dari para ahli
belakangan ini termasuk Van Bemmelen karena tidak ada tandatanda yang menunjukkan adanya pergeseran secara lateral ke utara
disekitar P. Bantar-P. Alor, tempat mulai absenya aktivitas
vulkanisme kearah timur. Juga tidak ada perubahan arah struktural
12

pada busur luar yang menandakan pengaruh tekanan

blok

Australia, padahal busur luar inilah yang akan terlebih dahulu


tenderita

tekanan

tersebut.

Lebih

jauh,

Van

Bemmelen

mengemukakan alasannya bahwa bila ditelusuri terus ke timur


maka deretan busur dalam yang tidak vulkanis ini tidak
bersambung dengan deretan busur dalam Damar-Banda yang
vulkanis, tetapi dengan zona Ambon yang tidak vulkanis. Menurut
Van Bemmelen absennya aktivitas vulkanisme dari alor ke timur
dan juga zona Ambon terjadi karena berbatasan dengan dangkalan
sahul.
Faktor lokal lainnya yang mungkin berpengaruh adalah:
1. Gaya endogen dari lapisan tektonosfer telah habis
2. Puncak asthenolithnya mungkin mengalami pembekuan sehingga
saluran magma yang keluar tersumbat.
Sumbu geantiklin di Nusa Tenggara makin ke timur makin
tenggelam. Hal ini dapat dilihat dari selat-selat antar pulau yang
makin ke timur makin dalam (di sebelah barat pulau Tampar ratarata kurang dari 200 meter, sedang sebelah timurnya makin dalam
yaitu

antara

Pantar-Alor=

1140m,

Alor-Kambing=1260m,

Kambing=1040 m, Wetar-Roman=lebih 2000 m, sebelah timur


Roman kira-kira 4000 m). P. Rote, tersusun dari sedimen-sedimen
yang telah mengalami pelipatan kuat, tertutup dengan karang
kuarter sampai ketinggian 430 m. P. Sawu, terdiri dari batuan
praterrier, dikelilingi oleh karang koral setinggi 300 m. P. Timur,
puncak genatiklinalnya mengalami depresi memanjang mulai dari
teluk Kupang sampai dengan sungai Lois. Brouwer (1935)
mengemukakan bahwa menurut cerita penduduk asli Timor, dahulu
hampir seluruh pulau merupakan laut. G. Lakaan 1525 m dahulu
merupakan pulau saja. Ini berarti pengangkatan P. Timor telah
terjadi Belum lama ini.
Adanya pengangkatan tersebut didukung oleh bukti-bukti
ditemukannya sisa-sisa karang

pada ketinggian 1000 m lebih.

Pulau ini banyak mengalami over thrust, batuan intrusi banyak

13

yang tersingkap di permukaan bumi. Bahan galian seperti emas,


tembaga, chromium, dan uranium ditemukan di sana namun dalam
jumlah yang tidak ekonomis.

2.3.2.

Sejarah Geologi Pulau Lombok


Struktur Geologi NTB. Kondisi geologi wilayah NTB
dengan batuan tertua berumur Tersier dan yang termuda berumur
Kuarter, didominasi oleh Batuan Gunungapi serta Aluvium
(recent). Batuan Tersier di Pulau Lombok terdiri dari perselingan
batupasir kuarsa, batulempung, breksi, lava, tufa dengan lensalensa batugamping, batu gamping dan dasit. Sedangkan di Pulau
Sumbawa terdiri dari lava, breksi, tufa, andesit, batupasir tufaan,
batulempung, dasit, tonalit, tufa dasitan, batugamping berlapis,
batugamping tufaan dan lempung tufaan. Batuan Kuarter di Pulau
Lombok terdiri dari perselingan breksi gampingan dan lava, breksi,
lava, tufa, batuapung dan breksi lahar. Sedangkan di Pulau
Sumbawa terdiri dari terumbu koral terangkat, epiklastik
(konglomerat), hasil gunungapi tanah merah, gunungapi tua,
gunungapi Sangeangapi, gunungapi Tambora, gunungapi muda dan
batugamping koral. Aluvium dan endapan pantai cukup luas
terdapat di Pulau Sumbawa dan Lombok.
Berdasarkan tatanan geologi Indonesia, Wilayah Nusa
Tenggara Barat terletak pada pertemuan dua lempeng besar
(Lempeng

Hindia-Australia

dan

Lempeng

Eurasia)

yang

berinteraksi dan saling berbenturan satu dengan yang lain. Batas


kedua lempeng ini merupakan daerah yang sangat labil ditandai
dengan munculnya tiga gunungapi aktif tipe A (Rinjani,
TamboradanSangeangapi). Struktur geologi yang kita jumpai di
Jawa

dapat

ditelusuri

sampai

di

pulau

Flores.

Hanya

geantiklinalnya sebagian besar telah mengalami Tektonik Sekunder


Dermal meluncur ke dasar laut di sebelah utaranya. Stutterhein
(1922) mengemukakan bahwa berdasarkan sejarah Hindu, pulau
Bali terpisah dari Pulau Jawa pada tahun 280M. Perluasan ke timur
14

dari busur dalam vulkanis adalah rangkaian pulau-pulau BaliLombok-Sumbawa-Flores. Di setiap pulau tersebut dijumpai Zonezone seperti di Jawa Timur misalnya zone Solo yang terisi vulkan
kuarter menempati bagian utara Pulau Bali (G. Batur, G Agung),
bagian utara pulau Lombok (G. Rinjani), mulai tidak nampak di
Pulau Sumbawa karena geantiklinalnya tenggelam di dasar laut
membentuk teluk Sholeh, di P. Flores bekas geantiklinalnya masih
nampak Di pulau Komodo dan P. Rinca dan juga Teluk Maumere di
Flores Timur. Busur luar non vulkanisnya berupa punggungan
dasar laut sebelah selatanderetan pulau-pulau tersebut.

2.3.3.

Sejarah Gologi Pulau Bali


Struktur Geologi NTB. Kondisi geologi wilayah NTB
dengan batuan tertua berumur Tersier dan yang termuda berumur
Kuarter, didominasi oleh Batuan Gunungapi serta Aluvium
(recent). Batuan Tersier di Pulau Lombok terdiri dari perselingan
batupasir kuarsa, batulempung, breksi, lava, tufa dengan lensalensa batugamping, batu gamping dan dasit. Sedangkan di Pulau
Sumbawa terdiri dari lava, breksi, tufa, andesit, batupasir tufaan,
batulempung, dasit, tonalit, tufa dasitan, batugamping berlapis,
batugamping tufaan dan lempung tufaan. Batuan Kuarter di Pulau
Lombok terdiri dari perselingan breksi gampingan dan lava, breksi,
lava, tufa, batuapung dan breksi lahar. Sedangkan di Pulau
Sumbawa terdiri dari terumbu koral terangkat, epiklastik
(konglomerat), hasil gunungapi tanah merah, gunungapi tua,
gunungapi Sangeangapi, gunungapi Tambora, gunungapi muda dan
batugamping koral. Aluvium dan endapan pantai cukup luas
terdapat di Pulau Sumbawa dan Lombok.
Berdasarkan tatanan geologi Indonesia, Wilayah Nusa
Tenggara Barat terletak pada pertemuan dua lempeng besar
(Lempeng

Hindia-Australia

dan

Lempeng

Eurasia)

yang

berinteraksi dan saling berbenturan satu dengan yang lain. Batas


kedua lempeng ini merupakan daerah yang sangat labil ditandai
15

dengan munculnya tiga gunungapi aktif tipe A (Rinjani,


TamboradanSangeangapi). Struktur geologi yang kita jumpai di
Jawa

dapat

ditelusuri

sampai

di

pulau

Flores.

Hanya

geantiklinalnya sebagian besar telah mengalami Tektonik Sekunder


Dermal meluncur ke dasar laut di sebelah utaranya. Stutterhein
(1922) mengemukakan bahwa berdasarkan sejarah Hindu, pulau
Bali terpisah dari Pulau Jawa pada tahun 280M. Perluasan ke timur
dari busur dalam vulkanis adalah rangkaian pulau-pulau BaliLombok-Sumbawa-Flores. Di setiap pulau tersebut dijumpai Zonezone seperti di Jawa Timur misalnya zone Solo yang terisi vulkan
kuarter menempati bagian utara Pulau Bali (G. Batur, G Agung),
bagian utara pulau Lombok (G. Rinjani), mulai tidak nampak di
Pulau Sumbawa karena geantiklinalnya tenggelam di dasar laut
membentuk teluk Sholeh, di P. Flores bekas geantiklinalnya masih
nampak Di pulau Komodo dan P. Rinca dan juga Teluk Maumere di
Flores Timur. Busur luar non vulkanisnya berupa punggungan
dasar laut sebelah selatanderetan pulau-pulau tersebut.
2.4. Pengembangan Potensi Fisik Nusa Tenggara
Zmit (2015) mengemukakan Propinsi nusa tenggara merupakan
sebuah propinsi yang terletak di belahan selatan indonesia dan
berdampingan dengan benua autralia. Propinsi nusa tenggara ini merupakan
wilayah kepulauan yang terdiri dari beberapa pulau besar, seperti pulau
lombok, flores, sumba, timor, alor dan lebih dari 500 pulau kecil yang
letaknya tersebar membentang dari ujung barat sampai ujung timur. Dilihat
dari sudut pandang tektonisme, busur kepulauan bali dan Nusa tenggara
merupakan salah satu daerah dengan tingkat kegempaan yang tinggi di
indonesia.
Keaktifan ini disebabkan wilayah ini berada di antara zona
benturan lempeng indo-australia dengan eurasia di selatan dan patahan naik
busur belakang bali-flores (bali-flores back arc thrusting) di utara.
Kenyataan ini akan memberi gambaran yang cukup jelas bahwa seolah

16

daerah ini hampir-hampir tidak akan pernah aman dari bencana kebumian,
seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan letusan gunung api. Dari
catatan sejarah gempa besar dan merusak di jalur busur bali-nusa tenggara
tersebut, sedikitnya di kawasan ini sudah terjadi 16 kali gempa kuat dan
merusak yang menelan ribuan korban jiwa. Terlepas dari ancaman bencana
yang mengancam, adanya beberapa gunung itu juga memberi beberapa
dampak positiv. Secara tidak langsung, daerah yang dekat dengan
pegunungan tersebut cenderung lebih subur dibanding dengan lainnya.
Adanya perbedaan iklim, cuaca, kondisi geologi mengahsilkan
adanya perbedaan jenis tanah yang terdapat di wilayah propinsi nusa
tenggara. Dengan anugrah kondisi fisik yang bervariasi, menjadikan
propoinsi nusa tenggara memiliki begitu banyaknya potensi fisik yang patut
untuk dikembangkan. Berbagai potensi propinsi nusa tenggara yang
beragam dapat kita lihat dalam wacana di bawah ini :

2.4.1.

Kelautan
Karakteristik laut dan pesisir setiap pulau yang ada di
wilayah propinsi Nusa tenggara pada umumnya tidak sama, hal ini
disebabkan oleh tipe lautan dan kondisi topografi setiap pesisir.
Dilihat dari posisi wilayahnya yang berbatasan dengan australia
dan dipisahkan oleh laut lepas, akan sangat berpengaruh terhadap
kondisi perairan dan pesisir pantainya. Saat ini garis pantai
dipergunakan antara lain untuk penangkapan ikan, budidaya laut
(teripang, mutiara, rumput laut, penampungan ikan hidup),
penangkapan nener dan penangkapan ikan hias srta wisata bahari.
Lokasi yang potensial unutk budidaya laut meliputi kabupaten
kupang, alor, lembata, flores, sikka, sumba timur dan masih banyak
lagi daerah yang lain. Sumber daya pesisir dan laut di nusa
tenggara sangat beranekaragam sehingga memberikan peluang
ekonomis yang cukup tinggi untuk perikanan, pariwisata bahari
serta jasa-jasa lingkungan laut. Sumberdaya alam pesisir dan laut

yang terdapat di wilayah nusa tenggara adalah sebagai berikut :


a. Perikanan Tangkap
17

Potensi sumber daya laut di propinsi nusa tenggara,


berdasarkan hasil survey komisi nasional pengkajian sumberdaya
perikanan laut pada tahun 1999, cukup besar yaitu lebih dari 365.7
metrik ton/tahun, dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB)
sebesar 292,2 metrik ton/tahun sedangkan tingkat pemanfaatan baru
sekitar 30%. Potensi perikanan laut terdiri dari :
Ikan pelagis besar meliputi tuna, cakalang, paruh panjang, tongkol,
tenggiri.
Ikan pelagis kecil meliputi tembang, teri, terbang, kombong, layang,
salar.
Ikan demersal meliputi kakap, bambangan, lencam dll.Udang yang
meliputi lobster, dan jenis udang penaid cumi-cumi
Ikan seperti karapu, beronang dan ekor kuning
Jenis ikan pelagis kecil, berpotensi besar dan bernilai
ekonomis tinggi adalah kembung, lemuru, teri, laying, terbang dan
salar. Ikan-ikan pelagis kecil ini terutama dipasarkan untuk konsumsi
lokal, sebagaimana psar regional dan umpan hidup penangkapan ikan
pelagis besar, jenis pelagis besar antara lain terdiri dari cakalang,
tongkol, tuna madidihang, mata besar, albacore dan cucut. Ikan
pelagis pelagis besar merupakan hasil perikanan laut utama yang
diekspor.
Ikan pelagis besar merupakan hasil perikanan laut dalam.
Semua jenis tuna hampir terdapa di perairan nusa tenggara timur,
terkecuali tuna sirip biru utara (thumus thynnus) dan tuna sirip biru
selatan (tuna atlanticus). Jenis ikan demersal, ikan-ikan demersal
merupakan kelompok ikan yang tinggal di dasar atau dekat dasar
perairan.
Ikan

demersal

tersebar

diseluruh

perairan

dengan

kecenderungan kepadatan populasi dan potensinya yang tinggi pada


daerah sekitar pantai. Ikan demersal menurut kategori nilai ekonomis
terdiri dari kelompok utama sebanyak 24% (kerapu, bambangan,
bawal putih, kakap, mayung, kuwe dan nomei) kelompok komersial
kedua sebanyak 17 % (bawal hitam, gerot-gerot, cucut), kelompok
18

komersial ketiga 37% (pepetek, beloso, mata merah, kerong-kerong,


gabus laut, besot, dan sidat) dan kelompok ikan rucah sebanyak 22%
(srinding, lidah, sebelah, kapas-kapas, wangi, batu dan kipper). Jenisjenis ikan demersal tersebar diseluruh perairan nusa tenggara timur
terutama sepanjang pantai utara flores, perairan pulau-pulau kecil dan
propinsi nusa tenggara timur 2006-2020 II-9 kawasan perairan
terumbu karang, ikan-ikan demersal ini dujual untuk konsumsi
domestik dan pasar ekspor.
b. Udang-Kepiting
Jenis-jenis udang penaeid, borong, windu dan jenis crustecae
lain seperti kepiting, rajungan merupakan komoditas perikanan
bernilai ekonomis tinggi dan banyak terdapat di kabupaten kupang,
ngada, belu, alor, flores timur dan masih banyak daerah yang lain.
Komoditas kelompok ini umumnya ditangkap dengan perangkap
(bubu) dan jaring.
c. Komodiatas Perikanan Jenis Lainnya
Hasil perikanan lain seperti cumi-cumi, kerang-kerangan,
teripang, ikan hias laut dan rumput laut merupakan komoditas bernilai
ekonomis tinggi juga. Cumi-cumi banyak terdapat di kabupaten
manggarai, flores timur, sumba timur, ende dan ngada. Kerangkerangan terutama kerang mutiara hasil budidaya, batu loa, japingjaping dan mata tujuh (abolan) merupakan komoditas berpotensi untuk
dipasarkan.
Kerangkerangan kecuali mutiara, teripang dan rumput laut
terdapat pada sebagian besar perairan nusa tenggara timur, sedangkan
mutiara, sebagai induk alam budidaya, terdapat di perairan kabupaten
kupang, flores timur, alor, lembata, sikka dan manggarai.
Potensi lainnya adalah budidaya laut yang

mulai

dikembangkan di pantai pulau-pulau di propinsi nusa tenggara timur.


Panjang pentai keseluruhan mencapai 5.700 km memiliki kualitas
perairan pantai relativ masih baik. Dasar pantai umumnya berpasir dan
ditumbuhi karang sampai berlumpur bercirikan tanaman mengrove
dan bentuk pantai yang berteluk serta terlindungi.
d. Perikanan Budidaya Termasuk Darat
19

Budidaya laut

potensi pengembangan budidaya laut diperkirakan sekitar


5.150 Ha, dengan tingkat pemanfaatan baru mencapai 8,74% atau
sekitar 450 Ha. Jenis produksi dan sebarannya adalah sebagai berikut :
a). Mutiara : pengembangan usaha budidaya mutiara terdapat
pada lokasi-lokasi perairan pantai dikabupaten sumba timur, ende,
alor, flores timur, lembata, manggarai dan ngada.
b). Rumput laut : potensi pengembangan budidaya rumput laut
pada lokasi-lokasi, perairan di kabupaten belu, kupang, sumba timur,
timor tengah utara, ngada, pantai utara kabupaten ende, lembata,
tanjung karoso bangedo, kabupaten manggarai, pulau pemana, pantai
pulau damhila, perairan pantai pangabatang (sikka).
c). Teripang : potensi pengembangan usaha budidaya teripang
terdapat pada lokasi-lokasi perairan di pantai utara selatan
ngada, manggarai, perairan pantai utara kabupaten sikka,
perairan pantai kabupaten flores timur dan alor.
Budidaya tambak
Lahan yang tersedia adalah 35.455 Ha dan lahan yang telah
diusahakan adalah 284,5 Ha atau tingkat pemanfaatan baru 23%
dengan produksi tambak garam yang baru sebagai kecil dimanfaatkan.
Budidaya kolam
Lahan yang tersedia 8.375 Ha dan yang telah diusahakan
adalah 284,5 Ha atau tingkat pemanfaatan lahan baru 3,40 % dengan
kemampuan produksi : ikan mas 91,6 ton, mujair 53,9 ton, tawas 23,0
ton dan nila produksi 49,5 ton.
Budidaya ikan disawah (mina padi). Lahan yang tersedia
185 hadengan tingkat pemanfaatan lahan baru 75% atau seluas 138,7
Ha. Kemampuan produksi yaitu : ikan mas 10,6 ton, 5,2 ton dan lele
1,5 ton.
Hutan mangrove
Potensi hutan mangrove di nusa tenggara cukup besar, hasil
survey dinas kehutanan yang mengidentivikasi 11 spesies mangrove
di pulau timor, rote, sabu dan semau dengan luas 19.603,12 Ha dan
17.251,71 Ha di pulau flores dan solor. Luas hutan mangrove di

20

sumba timur sekitar 15.000 Ha dengan jumlah tegakkan yang telah


diiddentivikasi seluas 1.359 Ha.
Terumbu karang
Perairan nusa tenggara diperkirakan memiliki 160 jenis
terumbu karang dari 15 famili dengan 350 jenis ikan yang
mendiaminya. Lokasi penyebaran terumbu karang di nusa tenggara
disekitar wilayah teluk kupang, teluk maumere, pantai utara, timur dan
pulau sumba, alor, lembata dan labuan bajo.

2.4.2.

Pertanian
Pertanian merupakan sektor yang paling dominan di nusa
tengara. Lebih dari 80% penduduknya terlibat dalam kegiatan
sektor pertanian. Meskipun total konstribusi pertanian dalam
pembentukan nilai PDRB mengalami penurunan dari tahun ke
tahun, tetapi tetap merupakan sektor yang dominan, dalam arti
bahwa presentase sektor ini tetap besar. Sektor pertanian ini
meliputi

sektor

tanaman

pangan,

perkebunan,

kehutanan,

peternakan, kehutanan, perkebunan dan perikanan.


a.

Tanaman pangan

Pembangunan tanaman pangan dapat dilakukan pada lahan


basah dan lahan kering yang luas dan kemampuan potensinya
bervariasi antar wilayah kabupaten/kota. Berdasarkan kajian
potensi lahan pertanian terdapat potensi pertanian kering seluas
lebih dari 1.528.308 Ha. Produksi padi (padi sawah dan padi
ladang) tahun 2003 sebesar 509,4 ribu ton menurun menjadi 495,5
ribu ton dalam bentuk gabah kering giling, penurunan tersebut
memang sejalan dengan dengan penurunan luas panen sekitar 2000
hektar dari tahun sebelumnya. Penurunan produksi juga terjadi
pada komunitas jagung dan kacang hijau, dimana pada tahun 2003,
padi sawah : kabupaten padi ladang : berdasarkan luas panen, yang
terbesar adalah kabupaten sumba barat yaitu 12.424 Ha, tetapi
berdasrkan jumlah produksinya, yang terbesar adalah kabupaten
manggarai lebih tinggi dari pada sumba barat-jagung : kabupaten
21

timor tengah selatan-ubi-ubian : kabupaten timor tengah selatan,


kacang-kacangan : kabupaten kupang produksi jagung sebesar
583,4 ribu ton menurun manjadi 568,4 ribu ton menurun menjadi
568,4, ribu ton menurun menjadi 568,4 ribu ton pada tahun 2004.
Hal ini juga sejalan dengan penurunan luas panen kurang lebih
13.000 hektar
Sedangkan komoditi kacang hijau pada tahun 2003 mampu
menghasilkan produksi sebesar 20,1 ton ribu ton dan menurun
menjadi 16,2 ribu ton pada tahun 2004. Lain halnya dengan
komoditi tanaman pangan lainnya, seperti kedelai, kacang tanah,
ubi kayu, ubi jalar dan sorghum, dalam 2 tahun terakhir ini
mengalami peningkatan baik luas panen maupun produksinya.
b. Perkebunan

Tanaman perkebunan merupakan komoditi strategis


dalam

pembangunan

perekonomian

nusa

tenggara,

karena

merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap total ekspor.


Seperti telah disinggung

diatas

bahwa

peranan subsektor

perkebunan ini terhitung masih begitu kecil peranannya terhadap


PDRD nusa tenggara.

Walaupun begitu kecil produksi dari sektor ini dapat


menunjang pendapatan, terutama dalam rangka memenuhi bahan
baku sektor indutri. Penentuan daerah penghasil utama didasarkan
pada jumlah produksi dan luas areal perkebunan, yaitu : - kelapa :
kabupaten sikka, flotim dan ende, - kopi : kabupaten manggarai,
kabupaten ngada, - kapok,pinang : kabupaten sumba-barat, cengkeh : berdasarkan luas daerah panen terbesar adalah kabupaten
manggarai, tetapi berdasarkan produksinya adalah kabupaten sikka,
- cokelat, lada :kabupaten sikka, - kapas : kabupaten ende, vanilli : kabupaten manggarai, kab alor, - tembakau : kab sumba
barat.

Seperti telah diuraikan diatas bahwa tanaman

perkebunan telah dimanfaatkan untuk ekspor luar negeri, terutama


dalam bentuk diolah. Berdasarkan jalur pemasaran yang telah

22

dirintis, disamping untuk kebutuhan masyarakat atau perdagangan


dalam wilayah, beberapa komoditas telah menjadi komoditas
ekspor seperti kopi, kakao, jambu mente, biji kapas dan cassiavera,
bawang merah, bawang putih dan buncis merupakan sayuran yang
banyak ditanam di kec kintamani, kec yang paling luas di bangli.

Tanaman buah-buahan juga menjadi komoditas andalan


bangli. Jeruk keprok, misalnya. Produksi jeruk kab bangli bersaing
dengan jeruk keprok dari kab badung. Bangli menghasilkan 22.103
ton jeruk keprok, sementara badung 49.469 ton. Dari lapangan
usaha perkebunan, kopi arabika nilai jualnya tinggi dan menjadi
andalan bangli. Pada tahun 2001 produksi kopi arabika bangli
mencapai 64% dari total produksi provinsi sebesar 5.644 ton.
Petani yang mengelola perkebunan kopi juga paling besar
ditemukan di bangli dibandingkan daerah lain di provinsi,
berjumlah 5.436 petani dari 13.986 petani kopi di bali. Budidaya
kopi arabika dikelola oleh perkebunan rakyat.

Biji kering olahan secara terdisional dari petani


kemudian dibawa ke pabrik pengolahan kopi PT Perkebunan
Nuasantara XII di kintamani. Kemudian oleh sebuah perusahaan
perdagangan dibawa ke surabaya untuk dikemas dan dikapalkan ke
jepang. Tahun 2002, ekspor kopi ke jepang sekitar 10% atau 240
ton dari produksi biji kopi olahan. Saat ini, pemerintah daerah
kabupaten sedang mencoba prospek pemasaran ke prancis.
a. Kehutanan

Propinsi Nusa Tenggara mempunyai areal kawasan


hutan labih dari 1.808.981,21 Ha yang terdiri dari hutang lindung
713.216,97 Ha, hutan produksi tetap 423.357,03 Ha. Berdasarkan
penyebaran hutannya, terlihat bahwa beberapa pulau besar seperti
pulau lombok dan flores merupakan terbanyak terdapat hutan
produksi. Produksi kayu cendana di provinsi Nusa Tenggara Timur
selama tahun 2002 sebesar 261,26 ton yang berasal dari 5
kabupaten yaitu : sumba barat 50,02 ton, sumba timur 30,09 ton,
timor tengah selatan 72,58 ton, timor tengah utara 17,10 ton, dan
terbesar di belu 91,48 ton.
23

Produksi kayu jenis lainnya yang paling menonjol

adalah kayu jati. Selama tahun 2002 produksinya mencapai sekitar


3,10 ribumeter kubik. Beberapa pulau di Nusa Tenggara juga
meiliki kawasan hutan yang bervariasi seperti padang rumput
(sabana) meliputi dataran timur, sumba bagian timur dan flores
bagian timur. Hasil hutan berupa kayu anpupu (flores), kayu merah
dan cendana (timur), jenis ini merupakan hasil hutan primer.
Sedangkan hasil hutan sekunder terdiri dari pinus, jati, mahoni,
albasia dan akasia. Hutan ini menghasilkan kayu untuk bahan
bangunan guna kebutuhan lokal, manghasilkan madu dan lilin.

2.4.3.

Peternakan
Sebagai salah satu gudang ternak di indonesia, peranan
subsektor peternakan di provinsi ini adalah kedua terbesar setelah
tanaman pangan. Populasi ternak besar diwilayah propinsi nusa
tenggara timur pada tahun 2002 tercatat untuk sapi sebanyak
503.154 ekor, kerbau 132.497 ekor dan kuda 93.157 ekor. Untuk
populasi sapi sebagian besar berada di kapupaten kupang dan kab
timor tengah selatan, sementara untuk kerbau dan kuda sebagian
besar berada di kab sumba barat, sumba timur, kupang, ngada dan
manggarai.
Populasi ternak kecil yang menonjol di wilayah propinsi
nusa tenggara adalah babi yakni tercatat sekitar 1,17 juta ekor pada
tahun2002, disusul kambing 420,8 ibu ekor, dan terendah domba
dengan populasi 55,6 ribu ekor. Untuk kelompok unggas, populasi
ayam kampung tahun 2002 tercatat sekitar 9, 64 juta ekor yang
sebagian besar berada di kabupaten kupang dan ende. Ternak sapi
merupakan salah satu komoditas andalan dari subsektor peternakan
karana telah manjadi komoditas perdagangan antar pulau dengan
peluang pasar cukup prospektif.
Dalam upaya meningkatkan peluang usaha peternakan
terdapat paluang padang pengembalaan yang kualitas padangnya
perlu ditingkatkan dalam upaya percepatan populasi ternak sapi dan
24

ternak kecil. Hewan jenis unggas terdiri dari ayam dan itik.
Wilayah nusa tenggara barat ikut mendorong perkembangan usaha
komoditi ayam buras. Meningkat terutama untuk pasar lokal guna
memenuhi kebutuhan rumah makan. Sedangkan hasil produsiayam
jago untuk memenuhi kebutuhan pasar luar seperti bali da jawa
timur kurang lebih mencapai 25.000 ekor per tahun. Produksi
ternak itik digunakan untuk memenuhi pasar lokal dan bali,
sedangkan produksi telur asin, yang merupakan salah satu komoditi
unggulan NTB, umumnya untuk memenuhi permintaan pasar luar
daerah NTB mencapai 25.000 butir per minggu, namun
kemampuan mensuplai baru 50%. Wilayah peternakan terbesar di
pulau timor, pulau sumba dan pulau flores.
Melalui penggunaan lahan yang tepat serta keadaan alam
yang ada, maka kesesuaian lahan dan arah pengembangannya bagi
lahan ternak dapat ditentukan. Luas lahan untuk sapi potong
(termasuk kambing/domba) seluas 2.707.057 Ha. Kuda banyak
dipelihara di sumba, flores dan timor. Kuda dipelihara untuk
ditunggangi dan sebagai kuda beban saja. Setiap tahun puluhan ribu
ekor yang di ekspor ke negara lain sebagai ternak-ternak potong.

2.4.4.

Pertambangan
Sebagai salah satu gudang ternak di indonesia, peranan
subsektor peternakan di provinsi ini adalah kedua terbesar setelah
tanaman pangan. Populasi ternak besar diwilayah propinsi nusa
tenggara timur pada tahun 2002 tercatat untuk sapi sebanyak
503.154 ekor, kerbau 132.497 ekor dan kuda 93.157 ekor. Untuk
populasi sapi sebagian besar berada di kapupaten kupang dan kab
timor tengah selatan, sementara untuk kerbau dan kuda sebagian
besar berada di kab sumba barat, sumba timur, kupang, ngada dan
manggarai.
Populasi ternak kecil yang menonjol di wilayah propinsi
nusa tenggara adalah babi yakni tercatat sekitar 1,17 juta ekor pada
tahun2002, disusul kambing 420,8 ibu ekor, dan terendah domba
25

dengan populasi 55,6 ribu ekor. Untuk kelompok unggas, populasi


ayam kampung tahun 2002 tercatat sekitar 9, 64 juta ekor yang
sebagian besar berada di kabupaten kupang dan ende. Ternak sapi
merupakan salah satu komoditas andalan dari subsektor peternakan
karana telah manjadi komoditas perdagangan antar pulau dengan
peluang pasar cukup prospektif.
Dalam upaya meningkatkan peluang usaha peternakan
terdapat paluang padang pengembalaan yang kualitas padangnya
perlu ditingkatkan dalam upaya percepatan populasi ternak sapi dan
ternak kecil. Hewan jenis unggas terdiri dari ayam dan itik.
Wilayah nusa tenggara barat ikut mendorong perkembangan usaha
komoditi ayam buras. Meningkat terutama untuk pasar lokal guna
memenuhi kebutuhan rumah makan. Sedangkan hasil produsiayam
jago untuk memenuhi kebutuhan pasar luar seperti bali da jawa
timur kurang lebih mencapai 25.000 ekor per tahun. Produksi
ternak itik digunakan untuk memenuhi pasar lokal dan bali,
sedangkan produksi telur asin, yang merupakan salah satu komoditi
unggulan NTB, umumnya untuk memenuhi permintaan pasar luar
daerah NTB mencapai 25.000 butir per minggu, namun
kemampuan mensuplai baru 50%. Wilayah peternakan terbesar di
pulau timor, pulau sumba dan pulau flores.
Melalui penggunaan lahan yang tepat serta keadaan alam
yang ada, maka kesesuaian lahan dan arah pengembangannya bagi
lahan ternak dapat ditentukan. Luas lahan untuk sapi potong
(termasuk kambing/domba) seluas 2.707.057 Ha. Kuda banyak
dipelihara di sumba, flores dan timor. Kuda dipelihara untuk
ditunggangi dan sebagai kuda beban saja. Setiap tahun puluhan ribu
ekor yang di ekspor ke negara lain sebagai ternak-ternak potong.

2.4.5.

Pariwisata
Dengan keindahan alam yang dimilikinya, nusa tenggara
menyuguhkan berbagai objek wisata yang menarik. Perkembangan

26

pariwisata di Nusa Tenggara meliputi daerah pantai yaitu pantai


sanur, pantai kuta, pantai padang bai, pantai candidasa, pantai pasir
putih yang terletak di pulau objek wisata bahari tulamben memiliki
pemandangan bawah laut yang indah dan alami dengan beragam
ikan hias. Wilayah objek wisata bahari menyebar di kawasan bali
selatan dan kupang. Selain pariwisata pantai, di bali juga terdapat
objek wisata yang meiliki panorama alam yang indah. Misalnya
danau batur yang terletak diantara pegunungan yaitu gunung batur
yang berada bawah kintamani. Selain itu di beberapa pulau yang
lain juga banyak banyak dimanfaatkan sebagai tempat wisata,
misalnya di lombok yang pengembangan wilayahnya sebagaian
besar disektor wisata pantai dan pegunungan rinjani. Bagi wilayah
nusa tenggara timur, pariwisata dapat berlangsung dimana-mana.
Variasi alamiah dan kebudayaannya merupakan daya tarik
yang berbeda satu dengan yang lain. Namun demikian di tempattempat tertentu dijumpai daya tarik khusus, yaitu objek-objek yang
memiliki ciri khas yang unik dan merupakan pusat daya tarik
karena alasan-alasan tertentu. Pusat-puast daya tarik ini memiliki
skala yang berbeda-beda tergantung kepada tingkat keunikan dan
juga jumlah serta jenis objek-objek wisata lain yang terletak dalam
jangkauan jarak yang berdekatan, sehingga saling menunjang
dalam menciptakan daya tarik bersama, membentuk suatu kawasan
wisata atau satuan pengembangan pariwisata (SPP).
Kawasan-kawasan wisata atau satuan pengembangan
pariwisata tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing, yang
sesuai dengan daya tarik yang terdapatdi lokasi tersebut. Sektor
pariwisata di wilayah propinsi nusa tenggara timur merupakan
merupakan salah satu penghasil devisa non-migas yang potensial.
Memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan lebih
lanjut menjadi salah satu tulang punggung pengembangan
perekonomian wilayah propinsi nusa tenggara timur, karena
ditunjang oleh sumber daya manusia (Human Resources), sumber

27

alam (Natural Resources), sumber daya buatan yang beraneka


ragam dan faktor keindahan lainnya.
Bila sektor non-migas ini berkembang dengan baik, akan
merangsang dan mendorong pertumbuhan pembangunan setiap
kabupaten/kota, pelestarian dan pemanfaatan potensi sumber daya
alam dengan manusia dan kebudayaan serta meningkatkan
devisa/pendapatan daerah. Disamping itu sektor ini mampu
menumbuhkan sektor-sektor lainnya, seperti industri kerajinan
rakyat, perluasan kesempatan kerja, agrowisata, pelayanan, jasa
perhubungan, perdagangan, pengembangan budaya dan sebagainya.

28

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kepulauan Nusa Tenggara terletak di Indonesia bagian tengah yang
tersebar sepanjang 2.850 km dari barat ke timur (1150 49 BT sampai
134054 BT) dan 1.450 km dari utara ke selatan (2036 LU sampai 110LS).
Nusa tenggara berada diantara bagian timur pulau Jawa dan kepulauan
Banda tediri dari pulau-pulalu kecil dan lembah sungai. Secara fisik,
dibagian utara berbatasan dengan pulau Jawa, bagian timur dibatasi oleh
kepulauan Banda, bagian utara dibatasi oleh laut Flores dan bagian selatan
dibatasi oleh Samudra Hindia Terdapat lima pulau besar yaitu Bali,
Lombok, Sumbawa, Flores, dan Sumba. Selain itu terdapat pulau-pulau
kecil lainnya.
Kondisi fisik Nusa Tenggara sangat berbeda dengan kawasan
lainnya di Indonesia. Kepulauan ini terdiri dari pulau-pulau vulkanis dan
rangkaian terumbu karang yang tersebar di sepanjang lautan yang terdalam
di dunia, dan tidak memiliki pulau besar, seperti Jawa dan Sumatera.
Asal-usul kepulauan ini dan proses-proses yang dialami dalam
pembentukan pulau-pulau yang sampai sekarang masih terjadi sangat
mempengaruhi posisi, ukuran, dan bentuk pulau. Sebagian besar pulaupulau di kawasan ini, secara geologis, masih sangat muda, umurnya
berkisar antara 1-15 tahun dan tidak pernah merupakan bagian dari massa
daratan lain yang lebih besar. Kerumitan kondisi geologi Nusa Tenggara
disebabkan oleh posisinya di persimpangan tiga lempeng geologis yaitu
lempeng Asia, lempeng Australia, lempeng Pasifik dan dua benua yaitu
Asia dan Australia.
Secara geologi nusa tenggara berada pada busur Banda. Rangkaian
pulau ini dibentuk oleh pegunungan vulkanik muda. Pada teori lempeng
tektonik, deretan pegunungan di nusa tenggara dibangun tepat di zona
subduksi indo-australia pada kerak samudra dan dapat di interpretasikan

29

kedalaman magmanya kira-kira mencapai 165-200 km sesuai dengan peta


tektonik Hamilton (1979).
Pulau-pulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal,
yang merupakan perluasan busur Banda di sebelah barat. Geantiklinal
yang membujur dari timur sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing,
Alor, Pantar, Lomblen, Solor, Adonara, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa,
Lombok dan Bali.
Kondisi iklim di Nusa tenggara barat maupun timur tidak
mempunyai berbedaan yang mencolok, hal ini terlihat dengan adanya
kondisi alam yang hampir sama di wilayah tersebut, misalnya terdapatnya
padang rumput yang luas sehingga mempengaruhi iklim yang ada. Selain
itu juga karena wilayah nusa tenggara yang berbentuk pulau-pulau sempit
juga mempengaruhi iklim yang ada disana. Nusa tenggara tergolong
beriklim kering, yang antara lain ditandai dengan jumlah curah hujan yang
sedikit, dan tidak terbagi merata. Selain itu pada daerah dengan iklim
kering ditandai dengan luasnya padang rumput.
Berdasarkan penyebarannya, maka prosentasi jenis-jenis tanah di
wilayah Nusa Tenggara Timur antara lain terdiri dari tanah Mediteran
51%; tanah-tanah kompleks 32,25%; Latosol 9,72%; Grumusol 3,25%;
Andosol 1,93%; Regosol 0,19% dan jenis tanah Aluvial 1,66% (Sumber
Rencana Umum Kehutanan Propinsi Dati I Nusa Tenggara Timur tahun
1987).
Nusa Tenggara merupakan kepulauan yang dikelilingi laut dan
terletak di pesisir pantai,hal ini juga akan mempengaruhi kondisi hidrologi.
Secara umum keadaan hidrologi Nusa Tengara sangat bergantung pada
curah hujan setempat. Wilayah perairan laut Nusa Tenggara Barat
termasuk pada perairan laut dalam dengan dasar perairan yang terdiri dari
batu karang dan pasir.Meskipun curah hujan di kabupaten lombok barat
relatif rendah, di wilayah kota ini mengalir 4 buah sungai yang cukup
besar dan potensial sebagai sumber mata air permukaan. Sungai yang
terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mempunyai
fluktuasi aliran air yang cukup tinggi, pada musim penghujan berair dan

30

banjir, sedangkan pada musim kemarau berkurang bahkan ada yang tidak
berair sama sekali.
Pemanfaatan

lahan

untuk

pengembangan

potensi

wilayah

kepulauan Nusa Tenggara berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh adanya


perbedaan kondisi fisik lahan yang bervariasi dalam hal topografi,
kelerengan, kesuburan tanah dan pasang surut air. Adapun pemanfaatan
lahan di Nusa Tenggara antara lain untuk pertanian, perhutanan,
pertambangan, perkebunan, perternakan, perikanan, dan pariwisata.

31

DAFTAR PUSTAKA
Al Aziz, Sidiq. 2013. Kepulauan Nusa Tenggara.
http://sidiqalazis.blogspot.co.id/2013/04/kepulauan-nusa-tenggara-nusatenggara.html.(online), diakses tanggal 12 Februari 2016.
Anonim. 2014. Kondisi Geografis Nusa Tenggara Barat
http://www.ntbprov.go.id/hal-kondisi-geografis-nusa-tenggarabarat.html#ixzz3zuqb1uTi. (online), diakses tanggal 12 Februari 2016
Anonim. 2010. Geograhpy. http://www.baliprov.go.id/id/Geographi. (online),
diakses tanggal 12 Februari 2016
Anonim. Geomorfologi Bali dan Nusa Tenggara.
http://ict.unm.ac.id/public/data/Bahan%20Ajar/Geografi/Geomorfologi
%20Indonesia/Geomorfologi%20%20Bali%20dan%20Nusa
%20Tenggara.pdf.(online), diakses tanggal 01 Februari 2016
Irawan, Dedi. 2012. Sejarah Geologi Pulau Bali, NTT, Lombok.
http://dediirawan66.blogspot.co.id/2012/12/sejarah-geologi-pulau-balinttlombok.html. (online), diakses tanggal 12 Februari 2016
Herlambang, Sudarno. . Garis Besar Geomorfologi Indonesia. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Venny, Kelvin. 2010. Kondisi Geografis Nusa Tenggara Timur
http://kelvinsudalivenny.blogspot.co.id/2010/05/kondisi-geografis-nusatenggara-timur.html. (online), diakses tanggal 12 Februari 2016
Tionida, Asef. 2016. Makalah Geologi Nusa Tenggara (Sunda Kecil).
https://www.academia.edu/9038937/Makalah_geologi_Nusa_Tenggara_Su
nda_kecil. (online), diakses tanggal 12 Februari 2016
Zmit, Edward J. 2015. Kondisi Fisiografis dan Pengembangan Potensi Fisik NT
(Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur). http://edwardjz.blogspot.co.id/2015/11/makalah-kondisi-fisiografis-dan.html. (online),
diakses tanggal 12 Februari 2016

32