Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

I.

Konsep Dasar Benigna Prostat Hiperplasi


I.1 Anatomi Prostat
Kelenjar prostat terletak dibawah leher kandung kemih. Kelenjar ini
mengelilingi uretra dan di potong melintang oleh duktus ejakulatoris, yang
merupakan kelanjutan dari vas deferens. Kelenjar ini menghasilkan sekresi
yang penyalurannya dati testis secara kimiawi dan fisiologis sesuai dengan
kebutuhan spermatozoa. Prostat mengekskresikan cairan basa yang membantu
mempertahankan

motilitas

sperma.otot

polos

pada

kelenjar

prostat

berkontraksi selama ejakulasi untuk turut berperan dalam pengeluaran semen


dari urethra. Semen tersebut mengandung beberapa bahan yang amat penting
dalam konsentrasi yang tinggi. Bahan-bahan tersebut adalah prostaglandin,
fruktosa, asam sitrat, protein dan beberapa macam enzym seperti
immunoglobulin, protease, phospatase dan esterase. Bahan-bahan tersebut
sangat penting dalam mmenunjang fertilitas yang natural, memberikan
lingkungan yang nyaman dan nutrisi bagi spermatozoa. Kemungkinan yang
laian bahan-bahan tersebut juga mempunyai daya proteksi terhadap invasi
mikroba pathogen eksternal.

I.2 Definisi
1) Benigna prostaat hiperplasi (BPH) adalah pembesaran secara progresif dari
kelenjar prostaat (secara umum pada pria lebih dari 50 tahun) menyebabkan

berbagai

derajat

obstruksi

uretral

dan

pembatasan

aliran

urinarius(Doenges,.2000:671).
2) Benigna prostaat hiperplasi (BPH) adalah pembesaran prostat yang
mengenai uretra yang menyebabkan gejala urinaria (Nursalam,2008:135).
3) BPH adalah neoplasma atau tumor jinak yang mengenai kelenjar prostat
(Soenaryo,1999:1)
I.3 Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, namun terdapat factor risiko umur dan
hormone androgen. Adapun beberapa pathogenesis yang diduga timbulnya
Benigne Prostat Hyperplasia antara lain (Mansjoer, 2000 :329)
1) Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
Aksis hipofisis testis dan reduksi testosterone menjadi dehidrotestosteron
(DHT) dalam sel prostat menjadi factor terjadinnya penetrasi DHT ke
dalam inti sel yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA sehingga
menyebabkan terjadinya sintesis protein. Proses reduksi ini difasilitasi
oleh enzim 5- reduktase
2) Factor interaksi stroma - epitel
Hal ini banyak dipengaruhi growth factor. Basic Fibrolast Growth Factor
(-FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi
yang lebih besar pada pasien dengan pembesaran prostat jinak. -FGH
dapat dicetuskan oleh mikrotrauma karena miksi, ejakulasi dan infeksi.
3)

Teori kebangkitan kembali atau reinduksi dari kemampuan mesenkim


sinus urogenital untuk berpoliferasi dan membentuk jaringan prostat.

I.4 Klasifikasi (drvegan.wordpress.com)


1.4.1 Terdapat empat derajat pembesaran kelenjar prostat yaitu sebagai berikut :

a. Derajat Rektal
Derajat rektal dipergunakan sebagai ukuran dari pembesaran kelenjar prostat
ke arah rektum. Rectal toucher dikatakan normal jika batas atas teraba
konsistensi elastis, dapat digerakan, tidak ada nyeri bila ditekan dan
permukaannya rata. Tetapi rectal toucher pada hipertropi prostat di dapatkan
batas atas teraba menonjol lebih dari 1 cm dan berat prostat diatas 35 gram.
Ukuran dari pembesaran kelenjar prostat dapat menentukan derajat rectal
yaitu sebagai berikut :
1) Derajat O
:Ukuran

pembesaran

prostat

0-1

cm

2). Derajat I

:Ukuran

pembesaran

prostat

1-2

cm

3). Derajat II

:Ukuran

pembesaran

prostat

2-3

cm

4). DerajatIII

:Ukuran

pembesaran

prostat

3-4

cm

5). Derajat IV

:Ukuran

pembesaran prostat lebih dari 4 cm

Gejala BPH tidak selalu sesuai dengan derajat rectal, kadang-kadang dengan
rectal toucher tidak teraba menonjol tetapi telah ada gejala, hal ini dapat
terjadi bila bagian yang membesar adalah lobus medialis dan lobus lateralis.
Pada derajat ini klien mengeluh jika BAK tidak sampai tuntas dan puas,
pancaran urine lemah, harus mengedan saat BAK, nocturia tetapi belum ada
sisa urine.
b. Derajat Klinik
Derajat klinik berdasarkan kepada residual urine yang terjadi. Klien disuruh
BAK sampai selesai dan puas, kemudian dilakukan katerisasi. Urine yang
keluar dari kateter disebut sisa urine atau residual urine. Residual urine dibagi
beberapa derajat yaitu sebagai berikut :
1) Normal sisa urine adalah nol
2) Derajat I sisa urine 0-50 ml
3) Derajat II sisa urine 50-100 ml
4) Derajat III sisa urine 100-150 ml

5)

Derajat IV telah terjadi retensi total atau klien tidak dapat BAK sama
sekali.
Bila kandung kemih telah penuh dan klien merasa kesakitan, maka urine
akan keluar secara menetes dan periodik, hal ini disebut Over Flow
Incontinencia. Pada derajat ini telah terdapat sisa urine sehingga dapat
terjadi infeksi atau cystitis, nocturia semakin bertambah dan kadangkadang terjadi hematuria.

c.

Derajat Intra Vesikal


Derajat ini dapat ditentukan dengan mempergunakan foto rontgen atau
cystogram, panendoscopy. Bila lobus medialis melewati muara uretra, berarti
telah sampai pada stadium tida derajat intra vesikal. Gejala yang timbul pada
stadium ini adalah sisa urine sudah mencapai 50-150 ml, kemungkinan terjadi
infeksi semakin hebat ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, menggigil dan
nyeri di daerah pinggang serta kemungkinan telah terjadi pyelitis dan

trabekulasi bertambah.
d. Derajat Intra Uretral
Derajat ini dapat ditentukan dengan menggunakan panendoscopy untuk
melihat sampai seberapa jauh lobus lateralis menonjol keluar lumen uretra.
Pada stadium ini telah terjadi retensio urine total.

1.4.2 Klasifikasi menurut WHO


WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan beratnya gangguan miksi yang
disebut WHO PSS (WHO Prostate Symptoms Score). Skor ini berdasarkan
jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi
PERTANYAAN
Keluhan
terakhir

pada

JAWABAN DAN SKOR


bln

Apakah anda merasa bulibuli tidak kosong setelah


b.a.k
Beberapa kali anda hendak
b.a.k lagi dalam waktu 2
jam setelah b.a.k
Beberapa kali terjadi bahwa
arus air kemih berhenti
sewaktu b.a.k
Beberapa kali terjadi anda
tidak dapat menahan air
kemih
Beberapa kali terjadi arus
Pernah sekali sewaktu b.a.k
Beberapa kali tjd anda
mengalami
kesulitan
memulai b.a.k.
Beberapa kali anda bangun
untuk pernah b.a.k di waktu
malam
Andaikata cara bak seperti
anda alami skrg ini akan
seumur hidup tetap seperti
ini
1
2

Nilai : 0 = baik sekali


1 = baik

2 = kurang baik

Tidak

<1

>5

15
kali

> 15
kali

Hampir
selalu

sama

sampai

sampai

sekali
0

5 kali
1

15 x
2

Tdk
pernah

lx

2x

3x

4x

5x

3 = kurang

4 = buruk

5 = buruk sekali
I.5

Cara Penentuan Diagnosa

I.5.1

Manifestasi Klinis ( Price Sylvia A : 2006:1320 )


1) Gejala Obstruktif yaitu :

Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai


dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor
buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan
intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra
prostatika.

Intermitency

yaitu

terputus-putusnya

aliran

kencing

yang

disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam


pempertahankan tekanan int ra vesika sampai berakhirnya miksi.

Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.

Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran


destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di
uretra.

Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa
belum puas.

2) Gejala Iritasi yaitu :

Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.

Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat


terjadi pada malam hari (Nocturia)

Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

1.6 Pemeriksaan Diagnostik (Mansjoer ,2000 :332)


1) Pemeriksaan laboratorium :
Darah terdiri dari : pemeriksaan leukosit untuk mengetahui adanya
infeksi/bakteri, dan BUN/ Kreatinin, kadar ureum

untuk menentukan

fungsi ginjal
Urin terdiri dari pemeriksaan urinalisis dan mikroskopik urin karena
penting untuk melihat adanya bakteri dan infeksi
Elektrolit untuk menentukan status metabolik
2) Radiologi
Prostate Spesific Antigen (PSA): Untuk mendeteksi adanya keganasan, bila
PSA < 4 ng/mltidak perlu biopsy. PSA 4-10 ng/ml dianjurkan untuk
menghitung PSDA (Prostate Spesific Antigen Density) yaitu PSA serum
dibagi dengan volume prostat. Bila PSDA 0,15 maka sebaiknya
dilakukan biopsy prostat, demikian pula bila nilai PSA >10ng/ml.
Uroflowmetri :dengan menggunakan alat uroflowmetri yang menyajikan
gambaran grafik pancaran urin
USG: Untuk mengetahui volume BPH, massa ginjal, mendeteksi residu
urin, batu ginjal, divertikulum atau tumor buli-buli
Cystoskopy :Untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih
IVP (Intravena Pyelografi) :Untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal
maupun pada ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis

Foto Polos Abdomen :Untuk mengetahui kemungkinan adanya batu di


saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat dan adanya bayangan buli3)

buli yang penuh dengan urin sebagai tanda retensi urin


Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisiknya dengan colok dubur, terdiri dari 4 derajat,yaitu:
Derajat I : penonjolan prostat, batas atas mudah diraba, dan sisa volume
urin kurang dari 50 ml
Derajat II: penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai dan sisa

volume urin 50-100ml


Derajat III: batas prostat tidak dapat diraba dan sisa volume urin >100ml
Derajat IV: Retensi urin total
1.7 Penatalaksanaan
(Smeltzer,Suzanne.2001:1627 dan Mansjoer,dkk.2000 :334)
1.7.1 Konservatif
1) Observasi pada pasien dengan keluhan ringan: memberikan nasehat untuk
mengurangi minum setelah makan malam sehingga dapat mengurangi
nocturia, menghindari obat-obat dekongestan, mengurangi minum kopi, dan
tidak diperbolehkan untuk minum alcohol agar tidak terlalu sering miksi.
2) Terapi medikamentosa:
Penghambat adrenergic : prazosin doxazosin, terazosin, afluzosin.
Tujuanya untuk menghambat reseptor-reseptor otot polos trigenum,
leher vesika, prostat dan kapsul prostat sehinga terjadi relaksasi
didaerah prostat sehingga gangguan aliran seni dan gejalanya
berkurang.
Penghambat enzim 5- reduktase: finasterida(proscar).
Tujuannya
untuk
menghambat
pembentukan
DHT(dehidrotestosteron) sehingga prostat yang membesar akan
mengecil .
1.7.2 Pembedahan
1) Indikasi untuk terapi pembedahan, yaitu:

10

Retensi berulang,
Hematuria
Tanda-tanda penurunan fungsi ginjal
Tanda-tanda obstruksi berat, yaitu

diventrikel,

hidroureter,

hidronefrosis
Ada batu saluran kemih
2) Jenis-jenisi pembedahan, yaitu(Mansjoer,dkk,2000 :334)

TURP(transurethral resection of the prostate), yaitu mengangkat


jaringan prostat dengan instrument yang dimaksudnkan melalui
uretra.keuntungannya adalah hospitalisasi dan periode pemulihan
lebih singkat sedangkan kerugiannya adalah obstruksi trauma uretra
dan dapat terjadi perdarahan lama. Sehingga penting untuk pantau
haemoragi.
Open prostatectomy adalah tindakan pembedahan terbuka melalui
sayatanperineal.

Tindakan

ini

juga

merupakan

tindakan

pembedahan untuk mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar


prostat. Keuntungannya adalah dapat sekaligus mengangkat batu
buli-buli
Bedah Laser
1.8 Komplikasi pasca bedah
1) Retensi urine akut dan involusi kontraksi kandung kemih
2) Refluks kandung kemih, hidroureter, dan hidronefrosis
3) Gross Hematuria dan urinary tract infection
4) Obstruksi kateter
5) Disfungsi seksual
6) Hematuri
7) Infeksi saluran kemih yang disebabkan karena kateterisasi

11

WOC

2.
Konsep Dasar Asuhan Kepertawatan
2.1 Pengkajian Data Fokus
2.1.1 Identitas klien : Usia (> 50 tahun), pekerjaan ( bagi pekerja yang
membutuhkan duduk terlalu lama)
2.1.2 Keluhan :
1)
Pra Operasi :
Hesitansi, Intermitency. Terminal dribbling, Pancaran lemah, Rasa tidak
puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas, Urgency,
Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi
pada malam hari (Nocturia) dan Disuria.
2)
Pasca operasi
Nyeri, hambatan mobilitas fisik, resiko infeksi pada pemakaian kateter
2.1.3 Riwayat penyakit sekarang : adanya hesitansi, intermitency. terminal
dribbling, pancaran lemah, rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air
kecil , urgency, frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya
2.1.4

terjadi pada malam hari (Nocturia), disuria dan retensi urin.


Riwayat Penyakit Dahulu

12

adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan BPH yaitu


infeksi saluran kemih , pemakaian kateter, ditanyakan juga penyakit diabetes
mellitus, hipertensi, jantung, karena dapat memperbesar risiko terjadinya
penyulit pasca bedah
2.1.5

2.1.6
-

Data psiko sosial- spiritual


merasa cemas terhadap kondisinya dan pemahaman klien tentang prosdur
pembedahan maupun anstesi yg digunakan.
A.D.L ( Activitas Daily living)
Pola Nutrisi klien :anoreksia, mual, muntah (bila sudah terjadi gagal ginjal).
Eliminasi : Hesitansi, Intermitency. Terminal dribbling, Pancaran lemah, Rasa
tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil , Urgency, Frekuensi yaitu
penderita miksi lebih sering dari biasanya terjadi pada malam hari (Nocturia)

dan Disuria.
Pola istirahat : waktu istirahat pada malam hari terganggu akibat nocturia dan

retensi urine
- Pola Aktivitas : hambatan mobilitas fisik karena akibat dari regional anastesi
2.2 Pemeriksaan Fisik
2.2.1 System pernafasan (B1=Breath): pola nafasnya, irama pernafasan, sesak
(apabila ada komplikasi pada gagal ginjal dapat mengakibatkan edema paru)
2.2.2. System sirkulasi (B2=Blood) : konjutiva merah muda, kalau pucat
menunjukkan adanya anemia akibat perdarahan pasca operasi, mukosa bibir
lembab, kondisi akral hangat , warna merah, kering dan CRT kurang dari 2
detik menunjukkan perfusi jaringannya baik. Bila akral dingin, pucat, lembab
dan CRT lebih dari 2 detik menunjukkan perfusi jelek. Adanya penurunan
2.2.3

tekanan darah yang merupakan tanda syok akibat perdarahan saat operasi.
System neurologi (B3=Brain) : akibat general anastesi terjadi penurunan
kesadaran dan akibat regional anastesi terjadi parestesia pada extremitas
bawah, dan adanya nyeri daerah operasi

13

2.2.4

System perkemihan (B4= Bladder) : adanya retensi urin dan nyeri tekan pada

2.2.5

distensi kandung kemih.


System pencernaan (B5=Bowel) : efek anastesi : penurunan peristaltik usus/

2.2.6

bising usus.
System musculoskeletal (B6=Bone) : ekstremitas bawah tidak mampu

2.2.7

melawan tahanan pada SAB anastesi.


System integument : setelah pembedahan terdapat kerusakan integritas kulit,

kondisi bekas pembedahan


2.3 Pemeriksaan penunjang medis
2.3.1 Hasil pemeriksaan laboratorium :

Darah lengkap : Hb, Eritrosit, thrombosit,Leukosit dan LED

Pemeriksaan PSA : mendeteksi adanya keganasan, bila PSA < 4 ng/mltidak


perlu biopsy. PSA 4-10 ng/ml dianjurkan untuk menghitung PSDA (Prostate
Spesific Antigen Density) yaitu PSA serum dibagi dengan volume prostat.
Bila PSDA 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsy prostat, demikian pula
bila nilai PSA >10ng/ml.

Urinalisis : mengetahui adanya warna urine apakah kuning, coklat gelap,


merah gelap atau terang(berdarah), penampilan keruh pH=7 atau lebih
besar(menunjang adanya infeksi, bakteri)

2.3.2 Pemeriksaan radiologi


-

Foto Polos Abdomen : mengetahui kemungkinan adanya batu di saluran


kemih, adanya batu/kalkulosa prostat dan adanya bayangan buli-buli yang
penuh dengan urin sebagai tanda retensi urin

Pemeriksaan USG : Untuk mengetahui volume BPH, massa ginjal,


mendeteksi residu urin, batu ginjal, divertikulum atau tumor buli-buli

14

IVP (Intravena Pyelografi) : mengetahui adanya kelainan pada ginjal maupun


pada ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis

Uroflowmetri : dengan menggunakan alat uroflowmetri yang menyajikan


gambaran grafik pancaran urin, terdiri dari:
Flow rate maks >15ml/detik

= non obstruktif

Flow rate maks 10-15 ml/detik

= border line

Flow rate maks < 10 detik

= obstruktif

2.4 Alternatif Diagnosa Keperawatan


2.4.1 Pre Operasi
1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
2)

Perubahan pola eliminasi urine: retensi urine berhubungan dengan obstruksi


sekunder

3) Cemas berhubungan dengan rencana pembedahan dan kehilangan status


kesehatan serta penurunan kemampuan sexual ditandai dengan peningkatan
tensi, ungkapan rasa takut
4) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit,
perawatannya
2.4.2 Post Operasi
1)
2)
3)

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama


pembedahan, Kateter.
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan refleks spasme otot
sehubungan dengan prosedur bedah.
Resiko infeksi saluran kemih akibat pemakaian dower cateter yang lama

15