Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

SISTEM PERADILAN DI INDONESIA


Makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas PKn

Guru Mata Pelajaran:


Ust. Bachrudin
Disusun Oleh:
Muhammad Fikri Alfaruq
Fajar Rahmat Hidayat

MUALLIMIEN PERSATUAN ISLAM 72 PADARINCANG


TAHUN AJARAN 1437 H / 2016 M
Sekretariat: Jl. Palka Km. 37 Gunung Buntung Padarincang Serang Banten 42168

KATA PENGANTAR




Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita semua kenikmatan
yang wajib untuk kita syukuri, sehingga dengan kenikmatan itu kita masih bisa
melakukan aktifitas sehari-hari. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada nabi
Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya dari zaman jahiliyah sampai
zaman pencerahan. Tidak lupa juga kepada keluarganya, sahabatnya, tabiin, serta
kita sebagai pengikut setianya hingga akhir zaman.
Terima kasih kami ucapkan kepada Ust. Bachrudin yang telah memberikan
tugas kepada kami untuk menyusun makalah sehingga kami berusaha semaksimal
mungkin untuk mempelajari materi dan bisa menuangkannya melalui tulisan,
tentunya dengan beliau meluangkan waktu dan tenaga untuk memberikan ilmunya
kepada kami, sehingga dengan itu kami dapat menyusun makalah ini dengan judul
SISTEM PERADILAN DI INDONESIA.
Tentu Makalah ini jauh dari kesempurnaan karena kami sebagai penyusun
hanyalah manusia biasa. Namun, dengan adanya makalah ini semoga bisa menjadi
tolak ukur keberhasilan kita semua dan bermanfaat bagi penyusun dan pembaca.
Aamiin...

Padarincang,

Februari 2016

Penyusun

Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia


i

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar isi

ii

Bab I -PENDAHULUAN

A. Latar belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penulisan

Bab II - SISTEM PERADILAN DI INDONESIA

A. Pengertian Sistem dan hukum

B. Sistem Peradilan di Indonesia

C. Peran Lembaga Peradilan

D. Lembaga-lembaga Peradilan di Indonesia

1. Mahkamah Agung (MA)

2. Mahkamah Konstitusi (MK)

3. Komisi Yudisial (KY)

4. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Umum

5. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Agama

6. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Militer

7. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) 5


Bab III -PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia


ii

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana yang diterangkan dalam
penjelasan UUD 1945, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan
penyelenggaraan negara dan pemerintahan harus berlandaskan dan berdasarkan
atas hukum, sebagai barometer untuk mengukur suatu perbuatan atau tindakan
telah sesuai atau tidak dengan ketentuan yang telah disepakati.
Negara hukum adalah suatu negara yang di dalam wilayahnya terdapat
alat-alat perlengkapan negara, khususnya alat-alat perlengkapan dari
pemerintah dalam tindakan-tindakannya terhadap para warga negara dan dalam
hubungannya tidak boleh sewenang-wenang, melainkan harus memperhatikan
peraturan-peraturan hokum yang berlaku, dan semua orang dalam hubungan
kemasyarakatan harus tunduk pada peraturan-peraturan hukum yang berlaku
(Wirjono Prodjodikoro, 1991: 37). Sehubungan dengan pernyataan tersebut,
maka hukum merupakan himpunan peraturan yang mengatur tatanan
kehidupan, baik berbangsa maupun bernegara, yang dihasilkan melalui
kesepakatan dari wakil-wakil rakyat yang ada di lembaga legislatif. Produk
hukum tersebut dikeluarkan secara demokratis melalui lembaga yang terhormat,
namun muatannya tidak dapat dilepaskan dari kekuatan politik yang ada di
dalamnya.
Negara, kekuasaan, hukum dan politik merupakan satu kesatuan yang
sulit untuk dipisahkan, karena semua komponen tersebut senantiasa bermain
dalam pelaksanaan roda kenegaraan dan pemerintahan dan sistem peradilan.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas kami menyusun makalah sederhana
dengan jusul Sistem Peradilan di Indonesia dengan tujuan agar pembaca
dalpat mengetahui lebih lanjut mengenai sistem peradilan di negara kita ini.
B. RUMUSAN MASALAHAN
Sehubungan dengan kondisi tersebut, maka persoalan yang diangkat
dalam tulisan ini adalah:
1. Apa yang dimaksud sistem dan hukum?
2. Bagaimana Sistem Peradilan di Indonesia?
3. Bagaimanakah Peran Lembaga Peradilan?
4. Apa saja lembaga-lembaga Peradilan yang ada di Indonesia?
C. TUJUAN PENULISAN
Sebagaimana rumusan masalah diatas, maka tujuan kami menyusun
makalah Sistem Peradilan di Indonesia adalah:
1. Kita dapat mengetahui Apa yang dimaksud sistem dan hukum
2. Kita dapat mengetahui Sistem Peradilan di Indonesia
3. Kita dapat mengetahui Peran Lembaga Peradilan?
4. Kita dapat mengetahui lembaga-lembaga Peradilan yang ada di Indonesia?

Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia

BAB II
SISTEM PERADILAN DI INDONESIA

A. Pengertian Sistem dan hukum


Sistem adalah suatu kesatuan susunan, dimana masingmasing unsur
yang ada di dalamnya tidak diperhatikan hakikatnya, tetapi dilihat menurut
fungsinya terhadap keseluruhan kesamaan susunan tersebut.
Hukum, Pengertiannya sulit didefinisikan dikarenakan kompleks dan
beragamnya sudut pandang yang akan dikaji. Prof. Van Apeldoorn
mengatakan bahwa definisi hukum sangat sulit dibuat karena tidak mungkin
untuk mengadakannya yang sesuai dengan kenyataan. Karena itu, sebaiknya
kita melihat terlebih dahulu pengertian-pengertian hukum menurut para ahli
hukum terkemuka berikut ini:
a. Prof. Mr. E.M. Meyers
Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan
kesusilaan, ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat, dan
menjadi pedoman bagi penguasa negara dalam melaksanakan tugasnya.
b. Leon Duguit
Hukum adalah aturan tingkah laku anggota masyarakat, aturan yang
daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh suatu masyarakat
sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan yang pelanggaran terhadapnya
akan menimbulkan reaksi bersama terhadap pelakunya.
c. Drs. E. Utrecht, S.H
Hukum adalah himpunan peratuan ( perintah dan larangan ) yang
mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh
masyarakat itu.
d. S.M. Amin, S.H
Hukum merupakan kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan
sanksi, dengan tujuan mewujudkan ketertiban dalam pergaulan manusia.
e. J.C.T. Simorangkir, S.H. dan Woerjono Sastropranoto, S.H
Hukum adalah peratuan-peraturan yang bersifat memaksa, yang
menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat, yang dibuat
oleh badan-badan resmi yang berwajib, dan yang pelanggaran terhadapnya
mengakibatkan diambilnya tindakan, yaitu hukuman terentu.
B. Sistem Peradilan di Indonesia
Sistem peradilan Indonesia pada hakikatnya adalah suatu mekanisme
dari keseluruhan komponen peradilan nasional, pihak dalam proses peradilan,
hierarki (urutan) kelembagaan peradilan, serta komponen lain yang bersifat
proseduraln dan saling berkaitan.
Tujuan sistem peradilan ialah mewujudkan keadilan hukum. Komponen
prosedural sistem peradilan Indonesia mencakup proses penyelidikan,
penuntutan dan pemeriksaan dalam sidang peradilan.
Sistem peradilan di suatu negara dipengaruhi oleh sistem hukum yang
dianut oleh negara tersebut. Sebagai negara yang menjunjung tinggi hukum
(rechstaate), masyarakat dan para penyelenggara pemerintahan Indonesia
mendasarkan setiap kegiatan dan kebijakan percampuran antara sistem hukum
Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia

di Eropa, hukum agama dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut
mengacu pada hukum Belanda. Hal ini didasari fakta dan sejarah bahwa
Indonesia merupakan bekas wilayah jajahan Belanda. Begitupula hukum agama
merupakan dari sistem hukum di Indonesia dikarenakan sebagian besar yang
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa penjajahan dan
masyarakat Indonesia sekarang menganut agama Islam, karena itu hukum Islam
banyak diterapkan, terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan.
Sementara itu hukum adat merupakan aturan-aturan masyarakat yang
depengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara dan
diwariskan secara turun temurun.
Sistem peradilan di Indonesia didasari pada Pancasila, terutama pada
sila kelima, yang kemudian diturunkan ke dalam UUD 1945 pasal 24 ayat 2 dan
3 yang menyebutkan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan
peradilan umun, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha negara
dan oleh Mahkamah Konstitusi dan badan-badan lain yang fungsinya
berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang.
C. Peran Lembaga Peradilan
Lembaga Peradilan adalah lembaga yang mengatur segala sesuatu
tentang hukum. Peran lembaga hukum dalam menjalankan hukum adalah
mengatur segala sesuatu hukum yang berlaku.
1. Perbuatan Yang Sesuai Dengan Ketentuan Hukum
Sikap yang sesuai dengan ketentuan hukum adalah sikap yang mentaati
semua hukum dan Norma yang berlaku.
Contoh Perilaku yang sesuai dengan ketentuan hukum:
a) Di Keluarga
- Mematuhi nasihat orangtua
- Melaksanakan tugas sesuai dengan kesepakatan keluarga
- Membersihkan rumah sesuai jadwal yang yelah ditetapkan
b) Di Sekolah
- Menghormati Guru
- Mematuhi tata tertib sekolah
- Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru
- Tidak menyontek saat ulangan
- Melaksanakan tugas piket
c) Di Masyarakat
- Ikut Melaksanakan ronda malam
- Mengikuti kegiatan kerja bakti
- Mentaati peraturan (adat istiadat) yang berlaku di masyarakat
d) Di Negara
- Turut sertamembela negara
- Mentaati hukum yang berlaku di Negara

Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia

D. Lembaga-lembaga Peradilan di Indonesia


Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi
badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama,
Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara.
1. Mahkamah Agung (MA)
Mahkamah Agung adalah pengadilan negara tertinggi dari semua
lingkungan peradilan, yangdalam melaksanakan tugasnya terlepas dari
pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh yang lain.
Susunan MA terdirin dari Pimpinan, Hakim Anggota, dan Sekretaris
MA. Pimpinan MA terdiri dari seorang Ketua, dua Wakil Ketua, dan beberapa
orang Ketua Muda, yang kesemuanya dalah Hakim Agung dan jumlahnya
paling banyak 60 orang. Sedangkan beberapa direktur jendral dan kepala badan.
2. Mahkamah Konstitusi (MK)
Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga negara yang
melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakan hukum dan keadilan.Susunan MK terdiri dari
seorang Ketua merangkap anggota, seorang Wakil Ketua merangkap anggota,
serta 7 orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan dengan Keputusan
Presiden. Hakim konstitusi harus memiliki syarat: memiliki intergritas dan
kepribadian yand tidak tercela; adil; dan negarawan yang menguasai konstitusi
ketatanegaraan.
3. Komisi Yudisial (KY)
Komisi Yudisial merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan
dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh
kekuasaan lain.Komisi Yudisial terdiri dari pimpinan dan anggota. Pimpinan
Komisi Yudisial terdiri atas seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua yang
merangkap anggota. Komisi Yudisial mempunyai 7 orang anggota, yang
merupakan pejabat negara yang direkrut dari mantan hakim, praktis hukum,
akademis hukum, dan anggota masyarakat.
4. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Umum
Peradilan umum adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi
rakyat pencari keadilan pada umumnya. Kekuasaan kehakiman di lingkungan
Peradilan Umum dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.
a) Pengadilan Negeri
Pengadilan negeri merupakan organ kekuasaan kehakiman dalam
lingkungan Peradilan Umum yang berkedudukan di Ibukota Kabupaten/ Kota,
dan memiliki daerah hukum mencakup wilayah Kabupaten/ Kota tersebut.
b)
Pengadilan Tinggi
c)
Pengadilan tinggi merupakan organ kekuasaan kehakiman
dalam lingkungan Peradilan Umum yang berkedudukan di ibukota Propinsi,
dan memiliki daerah hukum mencakup wilayah Propinsi.
5. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Agama
a) Pengadilan Agama
Pengadilan Agama adalah organ kekuasaan kehakiman dalam
lingkungan peradilan Agama yang berkedudukan di kotamadya atau ibukota
kebupaten meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten.

Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia

b) Pengadilan Tinggi Agama


Pengadilan Tinggi Agama merupakan pengadilan Tingkat Banding,
Pengadilan Tinggi Agama berkedudukan di ibukota prpinsi, dan daerah
hukumnya meliputi wilayah propinsi.
6. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Militer
Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Militer adalah badan yang
melaksanakan kekuasaan kehakiman di lingkungan Angkatan Bersenjata, yang
meliputi Pengadilan Meiliter, Pengadilan Militer Tinggi, Pengadilan Militer
Utama, dan Pengadilan Meiliter Pertempuran.
a) Pengadilan Militer
Susunan persidangan Pengadilan Militer untuk memeriksa dan
memutuskan perkara pidana pada tingkat pertama adalah 1 orang Hakim Ketua
dan 2 orang Hakim Anggota yang dihadiri 1 orang Oditur Militer/ Oditur
Militer Tinggi dan dibantu 1 orang Panitera.
b) Pengadilan Militer Tinggi
Susunan persidangan Pengadilan Militer Tinggi untuk memeriksa dan
memutus perkara pidana pada tingkat pertama adalah 1 orang Hakim Ketua dan
2 orang Hakim Anggota yang dihadiri 1 orang Oditur Militer/ Oditur Militer
Tinggi dan dibantu 1 orang Panitera.
c) Pengadilan Militer Utama
Susunan persidangan Pengadilan Militer Utama untuk memeriksa dan
memutus perkara sengketa Tata Usaha Angkatan Bersenjatapada tingkat
banding adalah 1 orang Hakim Ketua dan 2 orang Hakim Anggota dan dibantu
1 orang Panitera.
d) Pengadilan Militer Pertempuran
Susunan persidangan Pengadilan Militer Pertempuran untuk memeriksa
dan memutus suatu perkara pidana adalah 1 orang Hakim Ketua dengan
beberapa Hakim Anggota yang keseluruhannya selalu berjumlah ganjil, yang
dihadiri 1 orang Oditur Militer/ Oditur Militer Tinggi dan dibantu 1 orang
Panitera.
7. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)
a) Pengadilan Tata Usaha Negara
Pengadilan Tata Usaha Negara merupakan pengadilan tingkat pertama.
Susunan pengadilan terdiri atas Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, dan
Sekretaris; dan pemimpin pengadilan terdiri atas seorang Ketua dan seoirang
Wakil Ketua.
b) Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN)
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara bertugas dan berwenag: (a)
mkemeriksa dan memutuskan sengketa Tata Usaha Negara di tingkat banding;
(b) memeriksa dan memutuskan mengadili antara pengadilan Tata Usaha
Negara di dalamdaerah hukumnya; (c) memriksa , memutus, dan
menyelesaikan di tingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara

Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia

BAB II
PENUTUP

1. Kesimpulan
Sistem adalah suatu kesatuan susunan, dimana masingmasing unsur
yang ada di dalamnya tidak diperhatikan hakikatnya, tetapi dilihat menurut
fungsinya terhadap keseluruhan kesamaan susunan tersebut.
Menurut S.M. Amin, S.H
Hukum merupakan kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan
sanksi, dengan tujuan mewujudkan ketertiban dalam pergaulan manusia.
Sistem peradilan Indonesia pada hakikatnya adalah suatu mekanisme
dari keseluruhan komponen peradilan nasional, pihak dalam proses peradilan,
hierarki (urutan) kelembagaan peradilan, serta komponen lain yang bersifat
proseduraln dan saling berkaitan.
Tujuan sistem peradilan ialah mewujudkan keadilan hukum. Komponen
prosedural sistem peradilan Indonesia mencakup proses penyelidikan,
penuntutan dan pemeriksaan dalam sidang peradilan.
Lembaga-lembaga Peradilan di Indonesia
1. Mahkamah Agung (MA)
2. Mahkamah Konstitusi (MK)
3. Komisi Yudisial (KY)
4. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Umum

Pengadilan Negeri

Pengadilan Tinggi
5. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Agama

Pengadilan Agama

Pengadilan Tinggi Agama


6. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Militer

Pengadilan Militer

Pengadilan Militer Tinggi

Pengadilan Militer Utama

Pengadilan Militer Pertempuran


7. Pengadilan di Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)

Pengadilan Tata Usaha Negara

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN)


2. Saran
Dari pemaparan di atas, ada beberapa yang dapat kami sarankan:
1. Kita sebagai bangsa Indonesia mesti berusaha menegakkan hukum di
Indonesia sesuai undang undang.
2. Dalam penegakan hukum di Indonesia hendaknya dilakukan se adil-adilnya
sehingga tercipta masyarakat yang adil, makmur dan bermartabat
3. Sebuah sistem peradilan di Indonesia hendaknya berjalan sesuai tugas dan
fungsinya masing-masing, sehingga tercipta Negara hukum yang adil dan
professional.
4. Hendaknya Indonesia meletakan hukum sebagai hal yang supreme
(kekuasaan tertinggi) tanpa campurtangan politik pihak lain.
Makalah Sistem Peradilan Di Indonesia