Anda di halaman 1dari 9

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

STUDI KASUS
IMPLEMENTASI GCG DAN KODE ETIK DI PT BANK MANDIRI Tbk

Disusun Oleh :

1. Muhammad Hasanuddin Tuasamu


2. Richard Sibarani
3. Sulaiman

16.19.0231
16.19.0234
16.19.0237

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1. Teori Keagenan
Teori

keagenan

mendeskripsikan

hubungan

antara

pemegang

saham

(shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan


pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang
saham. Karena mereka dipilih, maka pihak manejemen harus mempertanggungjawabkan
semua pekerjaannya kepada pemegang saham.
Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan sebagai agency
relationship as a contract under which one or more person (the principals) engage
another person (the agent) to perform some service on their behalf which involves
delegating some decision making authority to the agent.
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang
(prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal
serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal.
Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan
nilai perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan
kepentingan prinsipal.
Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas
saham perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi
kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung bertindak
untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk memaksimumkan perusahaan. Inilah yang
nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976)
mendefinisikan agency cost sebagai jumlah dari biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk
melakukan pengawasan terhadap agen. Hampir mustahil bagi perusahaan untuk
memiliki zero agency cost dalam rangka menjamin manajer akan mengambil keputusan

yang optimal dari pandangan shareholders karena adanya perbedaan kepentingan yang
besar diantara mereka.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan
mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh
manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang
berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer
merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini
dinamakan dengan bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan
manajemen melalui program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.
Dalam suatu perusahaan, konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen salah
satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow). Kelebihan
arus kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan
kegiatan utama perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan kepentingan karena pemegang
saham

lebih

menyukai

investasi

yang

berisiko

tinggi

yang

juga

menghasilkan return tinggi, sementara manajemen lebih memilih investasi dengan risiko
yang lebih rendah.
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan untuk
mengurangi konflik kepentingan, yaitu : a) meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen (insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih
(earning after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang, d) kepemilikan
saham oleh institusi (institutional holdings).
Sedangkan dalam penelitian Masdupi (2005) dikemukakan beberapa cara yang
dapat

dilakukan

dalam

meningkatkan insider

mengurangi

ownership.

masalah

Perusahaan

keagenan.

meningkatkan

Pertama,
bagian

dengan

kepemilikan

manajemen untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham sehingga


bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan meningkatkan persentase
kepemilikan, manajer menjadi termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan bertanggung
jawab meningkatkan kemakmuran pemegang saham.

Kedua, dengan pendekatan pengawasan eksternal yang dilakukan melalui


penggunaan hutang. Penambahan hutang dalam struktur modal dapat mengurangi
penggunaan saham sehingga meminimalisasi biaya keagenan ekuitas. Akan tetapi,
perusahaan memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan membayarkan
beban bunga secara periodik. Selain itu penggunaan hutang yang terlalu besar juga akan
menimbulkan

konflik

keagenan

antara shareholders dengan debtholders sehingga

memunculkan biaya keagenan hutang.


Ketiga, institutional investor sebagai monitoring agent. Mohd et al, (1998)
menyatakan bahwa bentuk distribusi saham dari luar (outside shareholders)
yaitu institutional investor dan shareholders dispersion dapat mengurangi biaya keagenan
ekuitas (agency cost). Hal ini disebabkan karena kepemilikan merupakan sumber
kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau menantang keberadaan
manajemen, maka konsentrasi atau penyebaran power menjadi suatu hal yang relevan
dalam perusahaan.

2. Peran Tata Kelola dan Tata Kelola Bisnis Untuk Mengatasi Konflik Kepentingan
2.1.
Definisi dan Prinsip Dasar Tata Kelola (Good Corporate Governance)
Perilaku dan kinerja dunia usaha atau korporasi akan berdampak langsung bagi membaiknya
fundamental dan kondisi makro perekonomian Indonesia.
Kelemahan mendasar pada perekonomian di Indonesia terutama diakibatkan oleh
beberapa hal, yaitu: kinerja keuangan yang buruk, daya saing yang rendah, ketiadaan
profesionalisme, tidak responsif terhadap perubahan dalam lingkungan bisnis,
pengelolaan ekonomi dan sektor usaha yang kurang efisien serta sistem perbankan yang
rapuh.
Di dalam berbagai analisis dikemukakan, ada keterkaitan antara krisis ekonomi, krisis
finansial dan krisis yang berkepanjangan di berbagai negara dengan lemahya corporate
governance.
Corporate governance adalah seperangkat tata hubungan diantara manajemen, direksi,
dewan komisaris, pemegang saham dan para pemangku kepentingan (stakeholders)
lainnya yang mengatur dan mengarahkan kegiatan perusahaan (OECD, 2004)

Good Corporate Governance (GCG) diperlukan untuk menjaga kelangsungan


hidup perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi,
akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Di Indonesia,
penerapan Good Corporate Governance telah dibuatkan pedomannya oleh Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG) melalui bukunya yang baru dirilis tahun 2006 lalu berjudul Pedoman Umum
Good Corporate Governance Indonesia.
BAB II
ANALISIS KASUS
(IMPLEMENTASI GCG DI PT BANK MANDIRI Tbk)
1. Profil Perusahaan
Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program
restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada
bulan Juli 1999, empat bank pemerintah -- yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang
Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia -dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki
peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai
dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun
memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.
2. Penerapan GCG di PT Bank Mandiri Tbk
Bank Mandiri terus memperkuat penerapan prinsip tata kelola perusahaan
yang baik atau good corporate governance (GCG) dalam setiap bisnis proses.
Salah satu hasilnya adalah pengakuan dari jurnal Corporate Governance Asian
(CGA) sebagai ikon penerapan GCG terbaik di Tanah Air.
Sebelum dilaksanakannya Initial Public Offering (IPO) pada tanggal 14 Juli
2003, Bank Mandiri melakukan internalisasi GCG melalui:
1) Keputusan Bersama Direksi dan Dewan Komisaris tentang Prinsip-prinsip GCG di
Bank Mandiri.
2) Keputusan Bersama Direksi dan Dewan Komisaris tentang Code Of Conduct PT Bank
Mandiri (Persero) yang menjadi pedoman perilaku di dalam berinteraksi dengan
nasabah, rekanan dan sesama karyawan.

3) Keputusan Direksi tentang Kebijakan Kepatuhan (Compliance Policy) yang


mewajibkan seluruh jajaran Bank Mandiri untuk bertanggung jawab penuh secara
individu didalam melakukan kegiatan operasional Bank di bidangnya masing-masing.
4) Keputusan Direksi tentang Tata Tertib Executive Management PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk yang menjadi dasar pelaksanaan kerja, administrasi, tanggung jawab dan
wewenang Executive Management dalam melaksanakan fungsi, tugas dan kewajiban
sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Setelah go public, Bank Mandiri kemudian melaksanakan implementasi
GCG melalui:
1)

2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Pembentukan Komite-komite di level Dewan Komisaris, yaitu Komite Pemantau


Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, dan Komite GCG untuk melengkapi Komite
Audit yang telah dibentuk sebelumnya.
Pembentukan Sekretaris Perusahaan(Corporate Secretary).
Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham sesuai peraturan perundang-undangan
yang berlaku bagi perusahaan publik dan terbuka.
Keterbukaan Informasi, antara lain dalam publikasi laporan keuangan, informasi
mengenai peristiwa atau fakta material.
Laporan tahunan yang tepat waktu,memadai, jelas dan akurat.
Menghormati dan memperhatikan kepentingan pemegang saham minoritas.
Menetapkan Enam Strategi Utama dalam rangka membenahi serta membangun dasardasar pertumbuhan di masa datang.
Revitalisasi terhadap nilai-nilai kebersamaan (shared values) Bank Mandiri serta
perumusan perilaku utama Bank Mandiri.
enilaian implementasi GCG oleh lembaga independen.
Setelah dibentuknya Komite GCG, internalisasi GCG di Bank Mandiri
dilakukan melalui :

1)

Penyusunan Piagam GCG yang dituangkan melalui Keputusan Dewan Komisaris No.
005/KEP/KOM/2005
2) Pelaksanaan Good Corporate Governance Self Assessment.
3) Pelaksanaan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/4/PBI2006 tanggal 30 Januari 2006
tentang Pelaksanaan GCG Bagi Bank Umum sebagaimana diubah dengan PBI No.
8/14/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 serta SE No.9/12/DPNP/tanggal 30 Mei 2007
tentang Penerapan Good Corporate Governance di Bank Umum, dan Penerapan Good
Corporate Governance di Bank Umum; dan
4) Sosialisasi GCG kepada seluruh jajaran Bank Mandiri. Menyadari bahwa implementasi
GCG memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja Bank, efisiensi dan

(1)

(2)

(3)

(4)

1)

pelayanan kepada stakeholders, Bank Mandiri melakukan penyempurnaan praktek GCG


secara konsisten dan berkesinambung, antar lain melalui:
Publikasi laporan keuangan yang transparan dan tepat waktu, penyempurnaan kualitas
website Bank Mandiri, pelaksanaan investor meeting dan pelaksanaan corporate social
responsibility
Pengambilan keputusan bisnis maupun keputusan manajemen lainnya dengan
mempertimbangkan prinsip-prinsip GCG serta senantiasa mempertimbangkan semua
ketentuan yang berlaku (taat azas). Hal ini berdampak positif dan sangat membantu
Bank Mandiri keluar dari berbagai kesulitan secara bertahap namun pasti, di samping
telah meningkatkan shareholders value yang tercermin dari kinerja Bank Mandiri pada
tahun berikutnya.
Bekerja keras untuk meningkatkan kinerja Bank, antara lain melalui pembenahan
dalam penanganan kredit yang hasilnya terlihat dari penurunan NPL menjadi kurang dari
5%. Hal ini merupakan upaya segenap jajaran Bank dalam rangka menumbuhkan
kepercayaan masyarakat atas kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan dan
membangun nilai jangka panjang bagi stakeholder.
Pelaksanaan program internalisasi budaya Bank Mandiri antara lain melalui
penyelenggaraan Culture Fair, Culture Seminar, Change Agent Championship &
Recognition Program berupa pemberian penghargaan kepada unit kerja dan change
agent terbaik dalam implementasi program budaya guna meningkatkan motivasi seluruh
unit kerja dan para change agent yang ada.
Resep keberhasilan Bank Mandiri, antara lain:
Transformasi Budaya Kerja
Budaya Kerja merupakan elemen integral dari episentrum strategi perusahaan.
Budaya Kerja diaktualisasikan dan dinaturalisasikan dalam visi dan misi perusahaan.
Bukan hanya sekedar basa-basi ataupun menjadi buku pintar namun perlu
implementasi mendalam pada operasisinal sebuah perusahaan. Then, kita dapat
mengatakan bahwa sukses tidaknya suatu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya
memang tidak terlepas dari budaya perusahaan yang dimilikinya.
Sebelum perusahaan menerapkan GCG sebaiknya perusahaan menerapkan
terlebih dahulu nilai-nilai yang terkandung dalam Corporate Culture yang dianutnya.
(Djoko Santoso Moeljono, Good Corporate Culture sebagai inti dari GCG, 2005)
Keberhasilan Bank Mandiri dalam service quality didukung oleh semua pihak,
mulai dari Top Management hingga pegawai lini bawah. Hal ini membutuhkan komitmen
dan perjuangan keras karena yang diubah adalah perilaku manusia, yang kemudian akan
membentuk budaya kerja perusahaan. Bank Mandiri memiliki konsep pelayanan yang
diberikan kepada nasabah sesuai dengan 10 perilaku Utama Budaya kerja perusahaan
yang terangkum dalam TIPCE (Trust, Integrity, Profesionalism, Customer Focus, dan

Excellence), demikian paparan Agus pada saat penganugerahan Bank Mandir sebagai
Bank dengan Pelayanan terbaik tahun 2008.
Selain itu, dalam bidang SDM diberlakukan sistem kinerja dengan berbasis KPI
(Key Performance Indicator). Semua karyawan dari direksi sampai level terendah
diterapkan reward dan punishment yang didasarkan penilaian. Prestasi dan Kinerja
menjadi standar ukuran, dengan konsideran berupa kenaikan gaji dan
apesiasi/penghargaan yang berbeda setiap pergawainya. Di sisi lain, jika diketahui
melakukan tindakan pelanggaran, maka tindakan tegas tidak segan dilakukan.
Menjadi suatu keniscayaan bula budaya perusahaan diaktualisasikan melalui
penyusunan Standar Operasional & Prosedur (OP) dan

B ABAB III
KESIMPULAN

Bank Mandiri merupakan salah satu perusahaan yang penerapan GCG nya diakui oleh
dunia internasional.
Dalam upaya mencapai posisi sebagai bank publik terkemuka (Blue Chip Company) di
kawasan Asia Tenggara (Regional Champion Bank), Dewan Komisaris dan Direksi Bank
Mandiri memiliki untuk menegakkan sistem perbankan yang sehat dan kuat. Manajemen
berkeyakinan bahwa pencapaian tujuan di atas merupakan proses transformasi yang secara
mutlak memerlukan penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) sebagai salah
satu prasyaratnya.
Bank Mandiri percaya bahwa penerapan prinsip internalisasi etika bisnis dalam budaya
perusahaan melalui praktek-praktek GCG yang konsisten akan memberikan manfaat baik bagi
Bank maupun para pemangku kepentingan lainnya. Sejak awal berdirinya, Bank Mandiri
menyadari bahwa kunci utama keberhasilan pengelolaan perusahaan terletak pada kemampuan
mengembangkan serta menumbuhkan budaya perusahaan maupun etos kerja yang baru, antara
lain melalui prudential banking practices, manajemen risiko serta penerapan GCG.

Anda mungkin juga menyukai