Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang kesejahteraan dan
kesehatan berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Sekarang ini
Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan penduduk orang berusia
lanjut terbanyak di Dunia dibawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Berdasarkan
data dari BPS penduduk orang lanjut usia (60 tahun keatas) cenderung meningkat.
Jumlah penduduk orang lanjut usia di Indonesia tahun 2000 adalah 17.767.709
orang atau 7.97 % dari jumlah penduduk Indonesia. Pada tahun 2010
Diprediksikan jumlah orang lanjut usia meningkat menjadi 9,58 % dan pada tahun
2020 sebesar 11,20 %.
Peningkatan populsi orang lanjut usia diikuti pula berbagai persoalanpersoalan bagi orang lanjut usia itu sendiri. Penurunan kondisi fisik dan psikis,
menurunnya penghasilan akibat pensiun, kesepian akibat ditinggal oleh pasangan
atau teman seusia dan lain-lain. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu perhatian
besar dan penanganan khusus bagi orang lanjut usia tersebut. Mengatasi salah satu
dari berbagai persoalan orang lanjut usia, pemerintah dalam hal ini Departemen
Sosial mengupayakan suatu wadah atau sarana untuk menampung orang lanjut
usia dalam satu institusi yang disebut Panti Werdha.
Pada awalnya intitusi ini dimaksudkan untuk menampung orang lanjut
usia yang miskin dan terlantar untuk diberikan fasilatas yang layak mulai dari
kebutuhan makan minum sampai kebutuhan aktualisasi. Namun lambat laun
dirasakan bahwa yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan lanjut usia yang
berbasis panti tidak hanya bagi mereka yang miskin dan terlantar saja, tetapi orang
yang berkecukupan dan mapan pun membutuhkannya.
1

Ada beberapa alasan yang yang menyebabkannya, Pertama; perubahan


tipe keluarga dari keluarga besar (extended family) menjadi keluarga kecil
(nuclear family). Dimana pada awalnya dalam keluarga terdiri dari ayah, ibu dan
anak-anak. Tapi sesuai dengan perkembangan keluarga ada tahap dimana keluarga
menghadapi anak yang menikah atau membentuk keluarga sendiri, sehingga yang
terjadi adalah orang tua akan tinggal berdua saja, tentu saja kondisi ini
membutuhkan peran pengganti keluarga.
Kedua adalah perubah peran ibu. Pada awalnya peran ibu adalah mengurus
rumah tangga, anak-anak, dan lain-lain. Sekarang telah mengalami perubahan
dimana ibu juga bertindak sebagai pencari nafkah bekerja di Kantoran dan
sebagainya. Sehingga anggota keluarga seperti anak-anak dan kakek serta nenek
dititipkan pada institusi tertentu.
Ketiga kebutuhan sosialisasi orang lanjut usia itu sendiri. Apabila ia
tinggal dalam keluarga mungkin ia akan mengalami perasaan yang bosan
ditinggal sendiri, anaknya mungkin berangkat bekerja dan cucunya kesekolah.
Sehingga ia membutuhkan suatu lingkungan sosial diamana didalam komunitas
tersebut terdapat beberapa kesamaan sehingga ia merasa betah dan kembali
bersemangat.
Inilah dilema yang terjadi, diperhadapkannya seseorang pada suatu pilihan
yang sulit, dimana keluarga mengalami situasi yang tidak memungkinkan untuk
merawat sendiri ayah dan ibu yang telah senja karena alasan pekerjaan dan
kesibukan lainnya, membuat keluarga tidak memiliki waktu untuk lebih banyak
bersama kedua orang tua. Sebaliknya karena lebih seringnya ditinggal seorang diri
di rumah membuat orang tua merasa kesepian dan membutuhakan suatu
lingkungan dengan komunitas yang sama.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang
didapatkan adalah bagaimana pengelolaan kesejahteraan lansia di institusi?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mengetahui pengelolaan
kesejahteraan lansia di institusi.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Untuk Akademik
a. Sebagai refernsi untuk tugas mahaiswa
b. Sebagai sumber bacaan mahasiswa
c. Sebagai bukti proses belajar mengajar

1.4.2 Manfaat Untuk Mahasiswa


a. Menambah pengetahuan mengenai konsep keperawatan gerontik
b. Menambah pengetahuan mengenai kesejahteraan lansia di institusi

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian
2.1.1 Pengertian Kesejahteraan
Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi
manusia

di

mana

orang-orangnya

dalam

keadaan

makmur,

dalam

keadaan sehat dan damai.


Definisi Kesejahteraan dalam konsep dunia modern adalah sebuah kondisi
dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan
makanan, pakaian, tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesempatan untuk
melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat
menunjang kualitas hidupnya sehingga memiliki status sosial yang mengantarkan
pada status sosial yang sama terhadap sesama warga lainnya.
Menurut HAM, maka definisi kesejahteraan kurang lebih berbunyi bahwa
setiap laki laki ataupun perempuan, pemuda dan anak kecil memiliki hak untuk
hidup layak baik dari segi kesehatan, makanan, minuman, perumahan, dan jasa
sosial, jika tidak maka hal tersebut telah melanggar HAM.
Konsep kesejahteraan menurut Nasikun (1993) dapat dirumuskan sebagai
padanan makna dari konsep martabat manusia yang dapat dilihat dari empaat
indicator yaitu : (1) rasa aman (security), (2) Kesejahteraan (welfare), (3)
Kebebasan (freedom), dan (4) jati diri (Identity).
2.1.2 Pengertian Lanjut Usia
Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke
atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999;8). Menurut Keliat (1999), usia lanjut
dikatakan sebagai tahap akir perkembangan pada daurkehidupan manusia.
Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang

Kesehatan dikatakan bahwa usia lanut adalah seseorang yang telah mencapai usia
lebih dari 60 tahun.
Usia lanjut dapat dikatakan usia emas karena tidak semua orang dapat
mencapai usia tersebut, maka usia lanjut membutuhkan tindakan keperawatan,
baik yang bersiat promotif maupun bersifat preventif, agar ia dapat menikmati
masa usia emas serta menjadi usia lanjut yang berguna dan bahagia.
2.1.3 Pengertian Pengelolaan Kesejahteraan Lansia di Institusi
Maka dari itu pengelolaan kesejahteraan lansia di institusi adalah suatu
upaya yang dilakukan di suatu institusi tertentu untuk mencapai sebuah kondisi
dimana lansia dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan
makanan, pakaian, tempat tinggal, agar dapat menikmati masa hidupnya dengan
berguna dan bahagia.

2.2 Kebijakan Pengelolaan Kesejahteraan Lansia di Institusi


Melalui forum World Assemble on Aging (WAA) PBB yang diadakan
beberapa dekade yang lalu, mulai disiapkan langkah-langkah antisipasi
meledaknya jumlah penduduk usia tua. Seluruh negara di dunia menindaklanjuti
perkembangan yang terjadi, termasuk di Indonesia yang pada tahun 90-an
memasukkan

hal

ini

ke

dalam

GBHN.

Indonesia

mencoba

mengimplementasikannya melalui UU RI No 4 Tahun 1965, UU RI No 13 Tahun


1998, UU RI No 43 Tahun 2004, dan Peraturan Menteri Sosial RI No 19 Tahun
2002.
Undang-undang RI Nomor 4 Tahun 1965 Tentang Pemberian Bantuan
Penghidupan Orang Jompo yang secara umum mengatakan bahwa perwujudan
ketentuan dalam Undang-undang ini adalah suatu langkah permulaan untuk
mewujudkan kesejahteraan masyarakat khususnya orang jompo.
Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bagi lanjut usia selama ini masih
terbatas pada upaya pemberian sebagaimana dimaksud UU No 4 Tahun 1965,
5

yang pada saat ini dirasakan sudah tidak memadai apabila dibandingkan dengan
perkembangan permasalahan lanjut usia, sehingga membentuk Undang-undang RI
Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
Untuk menindaklanjuti UU No 13 Tahun 1998 dipandang perlu menetapkan
peraturan pemerintah tentang pelaksanaan upayapeningkatan kesejahteraan social
lanjut usia menetapkan Undang-undang RI Nomor 43 Tahun 2004 Tentang
Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia
Mengingat bahwa semakin meningkatnya usia harapan hidup dan jumlah
lanjut usia dengan kompleksitas permasalahannya sehingga memerlukan
penanganan secara kompeherensif sehingga ditetapkan Peraturan Menteri Sosial
RI Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia

2.3 Tujuan Pengelolaan Kesejahteraan Lasia Di Institusi


Menurut UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Pasal 138). Upaya
pemeliharaan kesehatan bagi usia lanjut harus ditujukan untuk menjaga agar tetap
hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat
kemanusiaan. Di Institusi (Panti)
a. Para lansia dapat menikmati hari tuanya dengan aman tentram dan
sejahtera
b. Terpenuhinya kebutuhan lanjut usia baik jasmani maupun rohani
c. Meningkatkan tarap hidup lansia.
d. Terciptanya jaringan kerja pelayanan lanjut usia yang berkualitas

2.4 Sasaran Program Pengelolaan Kesejahteraan Lanjut Usia di Institusi


2.4.1 Secara Langsung
a. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) Lansia dikategorikan menjadi
3 kategori, yaitu :
1. Usia Lanjut (60-74 tahun)
2. Usia Tua (75-89 tahun)
3. Usial sangat lanjut (>90)
6

b. (DepKes RI) Departemen Kesehatan RI membagi lanjut usia menjadi


sebagai berikut :
1. Kelompok menjelang usia lanjut ( 45-54 tahun) keadaan ini sebagai
masa virilitas (masa perkembangan), pada masa ini lansia memerlukan
penngetahuan seperti :
a) Mengetahui sedini mungkin adanya akibat dari proses penuaan,
misalnya muah lelah, nyeri dada, sesak nafas dan keluhan lainnya.
b) Mengetahui pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala
c) Melakukan latihan kesegaran jasmani
d) Melakukan diet dengan menu yang seimbang
e) Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat
f) Meningkatkan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa.
2. Kelompok usia lanjut (55-64 tahun) sebagai masa presenium, pada
masa ini lansia memerlukan informasi pengetahuan mengenai hal-hal
seperti :
a) Pemeriksaan kesehatan secara berkala
b) Perawatan gizi / diet menu seimbang
c) Kegiatan olahraga / kesegaran jasmani
d) Perlunya berbagai alat bantu untuk tetap berdaya guna
e) Pengembangan hubungan sosial di masyarakat
f) Peningkatan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa.
3. Kelompok usia lanjut (>65 tahun) yang dikatakan sebagai masa
senium atau bisa kita sebut sebagai kelompok resiko tinggi ini
memerlukan informasi pengetahuan mengenai :
a) Pembinaan diri sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi,
aktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah
b) Pemakaian alat bantu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
c)
d)
e)
f)

yang ada pada mereka


Pemeriksaan kesehatan secara berkala
Perawatan fisioterapi di rumah sakit terdekat
Latihan kesegaran jasmani
Meningkatkan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa.

c. Menurut Bernice Neugarden tahun 1975, lansia dibagi menjadi 2, yaitu :


1. Lanjut usia muda yang berumur antara (55-75 tahun)
2. Lanjut usia tua, yaitu yang mereka yang berumur lebih dari 75 tahun
d. Levinson tahun 1978, membagi lanjut usia menjadi 3 kelompok, yaitu :
1. Orang lanjut usia peralihan awal (50-55 tahun)
7

2. Orang lanjut usia peralihan menengan (55-60 tahun)


3. Orang lanjut usia peralihan akhir (60-65 tahun)
e. Menurut Depkes (1994)
1. Kelompok lansia dini (55-64 tahun), yakni kelompok yang baru
memasuki lansia
2. Kelompok lansia (65 tauhn keatas)
3. Kelompok lansia resiko tinggi, yakni lansia yang berusia lebih dari 70
tahun
2.4.2 Secara Tidak Langsung
a.
b.
c.
d.
e.

Keluarga
Masyarakat tempat lansia berada
Organisasi sosial
Petugas kesehatan
Masyarakat luas

2.5 Strategi Pengelolaan Kesejahteraan Lansia di Institusi


Strategi untuk mencapai tujuan yaitu melalui pemberdayaan keluarga dan
masyarakat, kemitraan dan kerjasama dengan Organisasi Sosial Kemasyarakatan/LSM, desentralisasi pelaksanaan program dan integrasi pelayanan serta
perlindungan sosial bagi lanjut usia.
Komponen Kegiatan
a.

Penyuluhan sosial melalui berbagai media dan


forum

untuk

meningkatkan

apresiasi

dan

kepedulian

keluarga,

masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan/ LSM, dunia usaha dalam


kegiatan berbagai bidang, antara lain bidang kesehatan, keagamaan,
ketenagakerjaan, pembinaan antar generasi, pemukiman lanjut usia,
pelembagaan hospitium, pelembagaan pelayanan dan perawatan di panti
sosial, pelembagaan peristirahatan dan rehabilitasi serta penyelenggaraan
hari lanjut usia nasional dan pengembangan peraturan perundangundangan kesejahteraan lanjut usia;

b.

Peningkatan fungsi Panti Sosial Tresna Werdha


menjadi pusat pelayanan dan perawatan lanjut usia untuk lingkungan
sekitarnya

melalui

pengembangan

pelayanan

sosial

lanjut

usia

berbasiskan masyarakat.
c.

Peningkatan kegiatan usaha ekonomis produktif


dan kegiatan bimbingan sosial keagamaan secara terarah pada
pemantapan kemandirian sosial, ekonomi yang disesuaikan dengan
kemampuan dan keahlian lanjut usia.

d.

Peningkatan kegiatan pendidikan, kesenian,


kebudayaan, pengisian waktu luang serta rekreasi dan wisata bagi lanjut
usia.

e.

Penyelenggaraan dan pengembangan akomodasi


model hostel type serta day care centre.

f.

Perlindungan sosial dan pemeliharaan taraf


kesejahteraan

melalui

sistem

jaminan

sosial

melalui

lembaga

perlindungan baik pada tingkat nasional maupun di daerah.


g.

Peningkatan pelayanan kesehatan fisik melalui


perbaikan gizi, pelayanan kesehatan, mata dan gigi, pelayanan kesehatan
lanjut usia dalam keluarga serta pelayanan kesehatan jiwa (Psikogeriatri).

h.

Pengembangan lembaga hospitium terutama untuk


perawatan lanjut usia yang menderita penyakit kronik yang berprognosis
dan atau yang menderita penyakit terminal;

i.

Penyediaan sarana dan fasilitas khusus bagi lanjut


usia antara lain meliputi pemberian keringanan biaya pengobatan,
transportasi, rekreasi dan olah raga serta pemberian Kartu Tanda
Penduduk seumur hidup.

2.6 Program Pengelolaan Kesejahteraan Lansia di Institusi


a. Peningkatan dan pemantapan upaya pelayanan kesehatan lanjut usia di
sarana pelayanan kesehatan dasar. Pelayanan kesehatan dasar salah
satunya adalah di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat). Puskesmas
menjadi tempat pelayanan kesehatan tingkat I (pertama), sehingga untuk
meningkatkan kesejahteraan lansia diadakannya program Puskesmas
Santun Lanjut Usia. Dimana puskesmas santun lanjut usia memiliki fungsi
untuk mencegah terjadinya masalah baru dan meluasnya permasalahan
lanjut usia.
b. Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lanjut usia. Dengan merujuk
para lansia yang memiliki gangguan kesehatan untuk melakukan
pemeriksaan di Poli Geriatri di Institusi Kesehatan, baik di Rumah Sakit
Strata II maupun Rumah Sakit Strata III.
c. Penyuluhan dan penyebaran informasi kesehatan bagi lanjut usia. Dalam
upaya meningkatkan pengetahuan lansia agar para lansia mampu
mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialaminya sehingga mampu
menurunkan angka kejadian komplikasi pada lansia.
d. Perawatan kesehatan bagi lanjut usia dan keluarga di rumah (Home Care).
Salah satu caranya adalah dengan memberikan penyuluhan bukan hanya
kepada lansia tapi juga kepada keluarganya yang kelak akan merawat
lansia. Dengan harapan keluarga dapat meningkatkan kesehatan serta
mampu memaksimalkan kemampuan lansia dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan lansia.
e. Peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui Kelompok Lanjut Usia.
Pemberdayaan kelompok lanjut usia ini merupakan pengembangan
program promosi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
peran lansia di masyarakat sehingga kelompok lanjut usia dapat kembali
produktif.

10

f. Pengembangan lembaga tempat perawatan bagi Lanjut Usia. Salah satunya


adalah dengan membentuk Panti Sosial Tresna Wredha baik pemerintah
maupun swasta di seluruh Indonesia. Dengan harapan mampu memenuhi
kebutuhan para lansia yang mungkin keluarganya terlalu sibuk untuk
mengurusnya sendiri di rumah.

2.7 Kegiatan Pengelolaan Kesejahteraan Lansia di Institusi


Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh lansia di Institusi, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pemeriksaan aktivitas sehari-hari


Pemeriksaan status mental
Pemeriksaan status gizi
Pengukuran tekanan darah, denyut nadi
Pemeriksaan Hb, gula darah, protein
Pelaksanaan rujukan ke uskesmas
Penyuluhan kesehatan
Kunjungan kader dan tenaga kesehatan kerumah lansia yang tidak
datang

a. Kegiatan Lansia di Panti Jompo


1. Senam
Kegiatan senam ini diadakan rutin setiap hari jum'at, untuk menjaga
kebugaran para lansia.

2. Bimbingan Agama
Bimbingan rohani ini dilakukan 2 kali dalam satu minggu setiap hari
senin dan kamis.
11

3. Pemeriksaan Kesehatan Lansia


Dilakukan setiap hari, pagi dan sore hari di asrama masing-masing
yang dilakukan oleh tenaga medis.

b. Kegiatan Lansia di Posyandu


Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia
lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan
oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.
Jenis Kegiatan Kesehatan usia lanjut di Posyandu seperti :
1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar
dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian,
naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.

12

2. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan


mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua )
menit.
3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan dan

dicatat pada grafik indeks masa tubuh

(IMT).
4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop
serta penghitungan denyut nadi selama satu menit
5. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
6. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya
penyakit gula (diabetes mellitus)
7. Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai
deteksi awal adanya penyakit ginjal.
8. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau
ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7.
9. Penyuluhan Kesehatan
Kegiatan lain yang dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi
setempat

seperti

Pemberian

Makanan

Tambahan

(PMT)

dengan

memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan kegiatan olah raga
seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan
kebugaran.
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posyandu Lansia,
dibutuhkan, sarana dan prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan
(gedung, ruangan atau tempat terbuka), meja dan kursi, alat tulis, buku
pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan,
stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer,
Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia.

13

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesejahteraan merupakan suatu keadaan dimana seseorang mendapat
keinginan yang sesuai diharapkan, baik itu sandang, pangan, papan bahkan
kualitas hidup. Kesejahteraan bukan hanya milik seseorang yang masih berusia
muda ataupun produktif, tetapi juga hak dari tahap akhir daur hidup manusia yaitu
lansia. Dikatakan lansia, yaitu seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60
14

tahun. Kesejahteraan lansia didapatkan dari berbagai aspek kehidupan, salah


satunya di suatu institusi.
Kesejahteraan lansia di institusi tentunya membutuhkan pengelolaan yang
jelas, baik dari segi kebijakan, program pengelolaan hingga kegiatan yang
dilakukan oleh lansia pada suatu institusi. Pengelolaan ini bertujuan untuk
mencapai derajat kehidupan yang baik bagi lansia, dikarenakan setiap tahunnya
terjadi peningkatan usia harapan hidup dan jumlah lansia yang memiliki
permasalahan yang cukup kompleks sehingga membutuhkan penanganan secara
komprehensif. Tentunya kebijakan pengelolaan ini telah diatur dalam Peraturan
Menteri Sosial RI Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelayanan Sosial
Lanjut Usia.
Setelah dibuat peraturan tersebut, tentunya pengelolaan ini memiliki dua
sasaran, sasaran langsung dan sasaran tidak langsung. Dengan memiliki sasaran
yang jelas, tentunya suatu institusi dapat membuat suatu strategi yang dapat
meningkatkan kesejahteraan lansia, dalam strategi ini terdapat beberapa
komponen kegiatan salah satunya berupa peningkatan fungsi Panti Sosial Tresna
Werdha.

3.2 Saran
Panti Sosial Tresna Werdha merupakan suatu bentuk pengembangan lembaga
tempat perawatan bagi lanjut usia. Diharapkan panti sosial ini dapat memenuhi
kebutuhan para lansia yang mungkin keluarganya terlalu sibuk untuk
mengurusnya di rumah. Dengan dibuatnya kebijakan tentang pedoman
peningkatan kesejahteraan lansia, diharapkan panti sosial yang menjadi institusi
dimana bertugas mensejahterakan lansia dapat memiliki kegiatan yang bermanfaat
untuk para lansia. Baik kegiatan yang bisa dilakukan oleh lansia setiap harinya,
kegiatan pelayanan kesehatan yang rutin hingga kegiatan bimbingan rohani.

15

DAFTAR PUSTAKA

Maryam, S. Ekasari, M. Rosidawati. Jubaedi, A. Batubara, I. 2008. Mengenal


Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika
Nasikun, Dr. 1996. Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. PT. Tiara
Wacana.Yogyakarta.
http://dokumen.tips/documents/pengelolaan-kesejahteraan-lansia.html

(diakses

tanggal 25 Februari 2016)


16

http://erni-jasmita.blogspot.co.id/2012/12/kebijakan-pemerintah-dalampelayanan.html (diakses tanggal 25 Februari 2016)


https://id.wikipedia.org/wiki/Kesejahteraan (diakses tanggal 25 Februari 2016)
http://mahathir71.blogspot.co.id/2011/12/konsep-kesejahteraan_16.html (diakses
tanggal 25 Februari 2016)
http://renstra.depsos.go.id/ (diakses tanggal 25 Februari 2016)

17