Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Agama pada dasaranya adalah sikap dasar manusia yang seharusnya kepada Tuhan.
Agama mengungkapkan diri dalam sembah bakti sepenuh hati kepada Tuhan. Berbeda
dengan iman yang didasarkan pada pewahyuan Tuhan, agama sebenarnya merupakan
hasil usaha manusia, yang dikembangkan dalam rangka mengatur berbagai hal yang
berkaitan dengan pengungkapan iman. Seseorang yang beragama baru merupakan sebuah
awal dari perjalanan panjang yang harus dilaluinya mengarungi dunia rohani yang tiada
batasnya. Disebut tiada batasnya karena perjalanan rohani terutama berkaitan dengan
sesuatu yang trasenden atau gaib. Jadi agama lebih merupakan wadah atau lembaga yang
mempersatukan dan mengatur berbagai aktivitas berkaitan dengan pengungkapan dan
penghayatan iman kepada Tuhan.(Antonius Atoskhi Gea, 2006)
Agama Buddha timbul sekitar abad ke-enam sebelum Masehi, sebagai reaksi
terhadapa system upacara keagamaan Hindu Brahmana yang terlampau kaku. Istilah
Buddha berasal dari Kata Bodhi yang artinya Bangkit atau Bangun dan dari kata
kerja Bujjhati berarti mempeeroleh pencerahan. Mengetahui dan mengerti sehingga
kata Buddha dapat diartikan sebagai seorang yang telah memperoleh kebijjaksanaan
sempurna. Umat Buddha diseluruh dunia menyatakan ketaatan dan kesetiaan mereka
kepada Buddha , Dhamma, dan Sangha dengan kata-kata dalam rumusan Kuno yang
sederhana namun menyentuh hati. Rumusan itu berbunyi:
a. Buddha saranam gacchami aku berlindung kepada Buddha
b. Dhamma saranam gacchami aku berlindung kepada Dhamma
c. Sangha saranam gacchami- aku berlindung kepada Sangha
Tiratana berasal dari bahasa Pali, sedangkan Triratana dari bahasa Sangsekerta. Tiratana
adalah suatu bagian yang terpenting dan yang menjadi dasar agama Buddha. Tri Ratana
terdiri dari dua kata yang menjadi dasar agama Buddha Tri yang berarti tiga dan
Ratana yang artinya permata. Sehingga kata tersebut dapat diartikan secara keseluruhan
; Tiga Permata Mulia berarti Tiga perlindungan. (Hadi Hilman K, 1993)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang didapatkan adalah
bagaimana perawatan spiritual dalam perspektif agama Buddha.

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui perawatan
spiritual dalam perspektif agama budha.

1.4 Manfaat
Manfaat yang bisa didapatkan dalam penyusunan makalah ini yaitu dapat memahami
peran perawat sebagai fasilitator dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perawat Menjadi Fasilitator Kebutuhan Spiritual
Peran perawat menjadi fasilitator klien dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya, yaitu
dimana kita ketahui perawat merupakan seorang pelayan yang sangat berperan dalam
membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien, baik dengan melakukan pendekatan
sharing atau curhat, dengan memberikan pencerahan agama atau mengusahakan
kemudahan seperti mendatangkan pemuka agama sesuai dengan agama yang diyakini
pasien, serta member kelonggaran pada pasien untuk berinteraksi dengan orang lain
misalnya keluarga, teman, dsb. Selain itu perawat juga melakukan kolaborasi tidak hanya
dengan tenaga medis tetapi juga dengan pemuka agama. Salah satu contoh perawat
menjadi fasilitator klien dalam pemenuhan spiritual klien yaitu perawat memfasilitasi
tempat ibadah.
2.2 Prosedur Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Oleh Perawat
1. Komunikasi sebaiknya dilakukan untuk menormalkan suasana perasaan pasien tetapi
usahakan jangan terlalu nyata
2. Mendengarkan pasien yang akan mengungkapkan kebutuhannya sehingga pasien
merasa dihargai
3. Menanyakan kepada pasien tentang perasaan yang ada di benaknya karena pasien
sering takut mengungkapkan hal-hal yang ada dalam pikirannya
4. Memastikan apa yang di tanyakan pasien dengan mengklarifikasi dan mereflesikan
kembali ke pertanyaannya
5. Apabila keadaan memungkinkan perawat perlu menyadari kesulitan pasien dengan
penyakit terminalnya dan jangan dikurangi, begitu juga jangan mendebat pasien
6. Memastikan bahwa perawat dan pasien membicarakan hal-hal yang sama. Selalu
berusaha mencocokkan pemahaman dan minta umpan balik dengan pasien.
7. Mempertahankan keselarasan perilaku verbal dan non verbal
8. Menyediakan waktu jika pasien ingin bicara walaupun kadang-kadang tidak
menyenangkan.

2.3 Tujuan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual


Kebutuhan spiritual adalah suatu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi
karena

sebagai

semangat,

atau

motivasi

untuk

hidup,

kebutuhan

untuk

mempertahankan/mengembalikan keyakinan dan membantu memenuhi kewajiban


agama. Dari pengertian tersebut sangat berkaitan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan
spiritual itu sendiri. Dimana tujuan pemenuhan kebutuhan spiritual yang dimaksud
adalah sebagai kewajiban yang mendasar dari individu untuk mengembalikan keyakinan
terhadap Tuhan sehingga terbentuk motivasi dan kepercayaan untuk hidup. Dengan
pemberian asuhan keperawatan berupa kebutuhan spiritual klien akan merasakan percaya
pada kehidupan atau masa depan, mendapatkan ketenangan pikiran, serta keselarasan
dengan diri-sendiri. Kekuatan yang timbul dari diri seseorang membantunya menyadari
makna dan tujuan hidupnya, diantaranya memandang pengalaman hidupnya sebagai
pengalaman yang positif, kepuasan hidup, optimis terhadap masa depan, dan tujuan
hidup yang semakin jelas.
Jadi dapat disimpulkan sangat begitu penting pemenuhan kebutuhan spiritual dalam
pemberian asuhan keperawatan karena merupakan kebutuhan dasar manusia dalam
kaitannya dengan maha pencipta disamping itu dengan melihat dari tujuan pemenuhan
keperawatan itu sendiri adalah sebagai kekuatan untuk mendapatkan ketenangan pikiran
yang positif baik lahir maupun batin pasien dan sebagai alat ibadah pasien.

2.4 Spiritualitas Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Sebagai umat Buddha, sudah selayaknya jika memiliki sebuah altar Buddha atau
gambar Sang Buddha didalam rumah kita, bukan sebagai barang pameran tetapi sebagai
objek penghargaan dan penghormatan. Lukisan indah dari Sang Buddha, yang
melambangkan Metta (cinta kasih), kesucian dan kesempurnaan, berguna sebagai sumber
hiburan dan inspirasi untuk menolong, mengatasi segala kesulitan, keresahan atau
kesalahpahaman yang perlu hadapi dalam kegiatan sehari-hari di dunia yang penuh
kesukaran ini. Penghidupan penuh dengan perangkap. Perangkap demikian dapat
dihindari jika ingat untuk melaksanakan ajaran-ajaran mulia dari Guru Agung. Sambil
menghormati Sang Buddha, adalah suatu tugas yang paling menguntungkan, bila dapat
bermeditasi walaupun sebentar saja, dengan memusatkan pikiran pada sifat-sifat agung
dan mulia dari Sang Buddha, sehingga dapat menyempurnakan diri melalui inspirasinya.
4

2.4.1 Melaksanakan Kehidupan Sehari-hari


Sebagai penganut agama budha, hendaknya membiasakan diri memberi
penghormatan kepada Guru Agung ini setiap hari. Ini dapat dilakukan pada dini
hari (pagi-pagi sekali) atau malam hari sebelum tidur. Sambil melakukan ini,
adalah berfaedah, jika diusahakan untuk membacakan beberapa sutta. Inilah
cara hidup nan mulia dari umat Buddha. Orang tua harus menananamkan
kebiasaan-kebiasaan agama yang bermanfaat dan dihormati sepanjang zaman ini
diantara anak-anak mereka sehingga mereka dapat menyadari dan menghargai
pusaka mereka yang berharga.
Para orang tua yang beragama Buddha dianjurkan untuk menyekolahkan
anak-anaknya di Sekolah Minggu Buddhis atau kelas-kelas agama untuk
melatih anak-anak itu menjadi anak-anak yang patuh dan menjadi warga negara
yang baik. Selain umat Buddha dianjurkan untuk melaksanakan ketentuanketentuan agama didalam keluarganya, mereka diingatkan untuk tidak
melupakan atau mengabaikan kewajiban-kewajiban bersama terhadap kegiatankegiatan di vihara tempat kebaktian-kebaktian diadakan secara teratur pada harihari bulan purnama dan bulan madu (tanggal 1 dan 15 Candrasankala).
Berkunjung ke wihara dan turut serta dalam kebaktian-kebaktian dapat
dianggap sebagai perbuatan yang berjasa. Pelaksanaan delapan sila (ATTHA
SILA) selama hari-hari tersebut (tanggal 1 dan 15 Lunar Calender) oleh para
penganut merupakan suatu perbuatan yang layak dan berjasa. Mereka yang turut
melaksanakan ini diminta untuk berpakaian putih sederhana dan tinggal di
vihara selama 1 hari, dengan mencurahkan waktunya pada soal-soal keagamaan
seperti meditasi, diskusi agama, rnembaca buku-buku agarna dan memancarkan
cinta kasih (Metta).

2.4.2 Tradisi Dan Adat Istiadat


Pelaksanaan tradisi dan adat istiadat kebangsaan tidak perlu dibuang bila
seseorang menjadi umat Buddha atau mengikuti ajaran Sang Buddha.
Sesungguhnya Sang Buddha menasihati para pengikutnya untuk menghormati
tradisi dan adat istiadat mereka sendiri jika hal itu mempunyai arti penting dan
tidak merugikan. Sebaliknya, jika praktik-praktik itu bertentangan dengan atau
5

melanggar prinsip-prinsip Buddhis yang fundamental, membahayakan orang


lain, atau menyusahkan, maka praktik-praktik itu hendaknya dibuang,
betapapun hal itu ditujukan untuk maksud baik. Bahkan dalam mengatur fungsifungsi keagamaan kita, adalah tugas kita untuk menyusun fungsi-fungsi itu
dengan cara-cara terhormat tanpa menyusahkan orang lain. Pengertian ini sangat
penting dalam pelaksanaan agama kita dalam masyarakat yang terdiri atas
berbagai suku.

2.4.3 Penghormatan Pada Dewa


Di banyak rumah umat Buddha, pesta-pesta tertentu atau perayaan-perayaan
khusus diadakan untuk menghormati berbagai dewa dan "roh" suci yang dipuja
di dalam rumah mereka atau di kuil-kuil. Walaupun tidak ada keberatan khusus
sepanjang hal itu tidak melanggar azas-azas pokok Buddhis, namun harus
ditarik suatu perbedaan terhadap kenyataan bahwa perayaan-perayaan yang
demikian sifatnya tidaklah mernbantu dalam kemajuan batin kita kecuali untuk
kemajuan duniawi. Hal-hal itu harus dengan jelas dibedakan dari Buddha
Dhamma sendiri. Oleh karena itu kita jangan memperkenalkan kebiasaankebiasaan menurut adat atau tradisi ini sebagai kebiasaan-kebiasaan agama
Buddha. Menurut ajaran-ajaran Sang Buddha cara yang tepat untuk mengenang
atau menghormati dewa-dewa ini adalah melalui pemindahan jasa-jasa dengan
jalan melaksanakan perbuatan-perbuatan berjasa dan memancarkan cinta kasih
(Metta) kita kepada mereka melalui meditasi.

2.5 Keperawatan Spiritual Orang Sakit


Seseorang yang sakit, selain menempuh pengobatan medis biasa, sebaiknya juga
rnengundang para bhikkhu untuk melakukan suatu pemberkahan keagarnaan yang
bertujuan mempercepat kesembuhan si pasien. Pemberkahan seperti itu dapat
menanamkan pengaruh spiritual dan kejiwaan pada si pasien sehingga mempercepat
penyembuhannya. Khususnya bila penyakit itu kebetulan berhubungan dengan sikap
batin si sakit, suatu pelayanan spiritual oleh seorang bhikkhu akan sangat menolong
(Silva,2005).
Dalam hal terdapat kepercayaan bahwa suatu penyakit disebabkan oleh pengaruh
buruk dari luar atau "roh-roh" jahat, maka suatu kebaktian Pemberkahan dapat menjadi
6

obat penawar yang baik. Tetapi, sebagai urnat Buddha yang mengerti, kita jangan
menyerahkan diri pada kepercayaan atau khayalan keliru bahwa "roh-roh" jahat
merupakan sebab penyakit kita (Silva,2005).
Nasihat Sang Buddha:"Bilamana badanmu sakit, jangan biarkan pikiranmu menjadi
sakit juga", sungguhlah benar. Sesuai dengan nasehat ini, kita harus mempergunakan
kecerdasan dan pikiran sehat kita untuk mencari pengabatan medis yang cocok untuk
penyakit kita daripada menyerah pada tahyulan Meskipun demikian, kita harus
senantiasa ingat bahwa sakit merupakan bagian dan bidang dari kehidupan kita seharihari didunia ini, dan kita harus menerimanya dengan tenang (Silva,2005).

2.5.1 Peran Perawat Terhadap Kebutuhan Spiritual


Sang Buddha menasehati murid-muridNya tentang pentingnya pelayanan
kepada orang sakit. Beliau bersabda :Seseorang yang merawat orang sakit, berarti
ia telah merawat Saya. Pernyataan terkenal ini dibuat oleh Yang Terberkati saat
Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedang berbaring dalam jubah kotornya .
Menurut agama Buddha menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang
perawat baik (Silva,2005)
Ia harus mampu memberikan obat, ia harus mengetahui apa yang bermanfaat
untuk pasien dan apa yang tidak bermanfaat. Ia harus menjauhkan apa yang tidak
bermanfaat dan hanya memberikan apa yang bermanfaat bagi pasien. Ia harus
mempunyai cinta kasih dan murah hati, ia harus melakukan kewajibannya atas
kesadaran untuk melayani dan bukan hanya untuk imbalan (mettacitto gilanam
upatthati no amisantaro). Ia tidak boleh merasa jijik terhadap air liur, lendir, air
kencing, tahi, luka, dll. Ia harus mampu menasehati dan mendorong pasien dengan
ide-ide mulia, dengan pembicaraan Dhamma (A.iii,144) (Silva,2005).
Patut diperhatikan di sini bahwa perawat tidak hanya diharapkan cakap dalam
merawat badan dengan memberi makanan dan obat yang tepat, tetapi ia juga
diharapkan untuk merawat kondisi batin pasien. Itulah sebabnya cinta kasih (metta)
dan belas kasihan (karuna), yang juga merupakan perasaan-perasaan mulia
(brahmavihara), dianggap sebagai sifat-sifat yang patut dipuji dalam seorang
perawat. Sutta-sutta menambahkan dimensi lain bagi profesi perawatan dengan
memasukkan elemen spiritual dalam pembicaraan perawat.
Keadaan sakit adalah saat seseorang sedang menghadapi kenyataan-kenyataan
hidup dan kondisi ini adalah suatu kesempatan baik untuk menanamkan suatu
kesadaran spiritual yang mendesak, bahkan dalam batin yang paling materialistis
7

sekalipun. Lebih lanjut lagi, seseorang yang sedang sakit tentunya mempunyai
perasaan takut pada kematian yang lebih besar daripada saat ia sedang sehat. Caracara yang paling bagus untuk menenangkan perasaan takut ini adalah dengan
mengalihkan perhatian kepada Dhamma. Dalam pengawasannya, perawat
diharapkan memberikan bimbingan spiritual kepada pasien sebagai suatu bagian
dan paket dari kewajiban seorang perawat (Silva,2005).
Metode Buddhis untuk melayani orang sakit, seperti yang ditunjukkan dari
teks-teks di atas, tidak hanya menyatakan pentingnya pengobatan dan perawatan
yang tepat, tetapi juga pengendalian pikiran pasien ke pikiran-pikiran baik.
Nampaknya terdapat suatu keyakinan bahwa perhatian pada topik-topik
berhubungan dengan Ajaran, terutama pengingatan tentang kebajikan-kebajikan
yang telah dikembangkan oleh seseorang, memiliki sifat-sifat penyembuhan
(Silva,2005).

Pada waktu sakit parah, perhatian ditujukan pada sifat-sifat spiritual seseorang,
maka kegembiraan yang luar biasa akan memenuhi pikirannya, dan faktor-faktor
yang meningkatkan kesehatan menjadi aktif dalam tubuh, mungkin dengan cara
pengeluaran hormon-hormon yang mengembalikan kesehatan. Mungkin dengan
cara demikianlah individu-individu berspiritual tinggi mendapatkan kesehatannya
kembali saat sutta-sutta yang tepat dibacakan (Silva,2005).
Pertanyaan yang mungkin timbul adalah seberapa effektif bimbingan spiritual
jika pasien menjelang kematian sedang tidak sadar. Sebenarnya apa yang penting
di sini adalah kita benar-benar tidak mengetahui kondisi batin pasien pada saat
kematian. Para dokter dan penonton mungkin menyimpulkan bahwa pasien tidak
sadar karena ia tidak bereaksi terhadap sekelilingnya dan pertanyaan-pertanyaan
yang ditujukan kepadanya. Lima inderanya mungkin sebagian atau sama sekali
tidak berfungsi, tetapi tidak ada yang memastikan apakah fungsi pikirannya aktif
atau tidak. Kita tentunya tidak tahu potensi-potensi spesial apa yang ada dalam
pikirannya saat kematian. Kemungkinan besar bahwa bagian pikiran adalah yang
paling aktif pada saat yang penting ini. Mungkin pada saat inilah seseorang
mempunyai perjuangan batin yang paling keras, keinginan hidup yang kuat yang
berasal dari kebiasaan kuat menentang dan memprotes kematian (Silva,2005).
8

Sangat tepat untuk menyimpulkan karangan ini dengan memikirkan apa yang
harus kita lakukan saat kita mengunjungi pasien menjelang kematian. Sikap normal
kita adalah kesedihan dan perasaan kasihan, tetapi Buddhisme menganggap salah
mempunyai pikiran-pikiran negatif pada saat demikian. Pendapat saya adalah akan
lebih membantu bagi pasien menjelang kematian dan bagi pasien siapapun, jika
kita memancarkan pikiran-pikiran metta, cinta kasih kepadanya. Karena pikiran
pasien menjelang kematian mungkin sedang bekerja pada saat penting ini, tak
terhalangi oleh keterbatasan yang dibebankan oleh fungsi-fungsi jasmani,
kemungkinan bahwa batin seseorang akan lebih sensitif dan mudah menerima
gelombang-gelombang pikiran spiritual di sekitarnya. Jika kesedihan dan tangisan
menghasilkan gelombang pikiran negatif, maka orang yang akan meninggal
mungkin terpengaruh. Tetapi jika pikiran-pikiran baik tentang cinta kasih
dipancarkan, pikiran-pikiran demikian dapat berfungsi sebagai penenang batin
yang menghilangkan penderitaan dan kecemasan dari datangnya kematian dan
dapat menyelubungi pikiran seseorang dalam selimut yang hangat, tenang dan
melindungi (Silva,2005).

2.5.2 Hal-Hal Yang Dapat Difasilitasi Oleh Perawat


Dalam agama Buddha, tidak diakui adanya makhluk-agung atau dewa-agung
yang padanya kita harus bermohon. Umat Buddha percaya akan hukum karma
yang menyatakan kebahagian dan ketidakbahagiaan adalah hasil dari perbuatan
kita sendiri. Kejayaan dan kesengsaraan diciptakan individu itu sendiri oleh
perbuatan, ucapan dan pikirannya sendiri. Hukum karma tidak hanya untuk orangorang tertentu, tidak ada perantara/wakil dibaliknya, yang memimpin atau
mengaturnya. Karena tidak hanya untuk orang-orang tertentu, sehingga tidak
menunjukkan belas kasihan/kemurahan hati maupun pengampunan. Kejahatan
yang diperbuat hanya dapat ditebus dengan melakukan kebaikan yang mana akan
mengatasi pengaruh atau akibat dari perbuatan jahat itu sendiri.
Sebagai umat Buddha yang saleh, setiap hari kita wajib menjalankan:
a. Bersembahyang sebelum dan setelah bangun tidur.
a. Bersembahyang sebelum dan sesudah makan, dengan memberikan puja kepada
Buddha, Dharma dan Sangha.
9

b. Sekurang-kurangnya ke Vihara setiap hari Uposatha untuk bersembahyang


secara pribadi, berdoa bersama, kebaktian membaca trivitaka. Berusaha selama
24 jam untuk melatih diri di jalan kesucian yaitu tidak berbuat jahat, selalu
berbuat kebajikan, sucikan hati dan pikran.
c. Sekurang-kurangnya setiap Uposatha melakukan puasa Buddha yaitu 8
pantangan.
Saat umat Buddha bersembahyang benda-benda yang di taruh di meja
sembahyang biasanya yaitu patung Buddha, dupa, kembang, makanan dan
minuman serta tidak jarang yang menaruh foto-foto bhikkhu. Dari semua benda
tersebut maka benda yang dapat difasilitasi oleh seorang perawat kepada pasiennya
yang sedang dirawat diantaranya yaitu:
a. Patung Buddha
Patung buddha

membantu seseorang mengingat keagungan sifat-sifat

baik/kebajikan yang telah dilakukan oleh sang Buddha. Maksud/tujuan


penyembahan sama sekali tidak penting, meskipun ada atau tidaknya patung
tersebut, tetapi boleh digunakan untuk membantu mengkonsentrasikan pikiran.
b. Kembang/bunga
Kembang itu menunjukkan waktu. Bahwa kebajikan seseorang itu ada umurnya.
Ketika bunga tersebut bagus, mekar dan indah maka akan di letakkan di tempat
yang bagus, demikian pula dengan manusia. Ketika seseorang masih indah,
masih kuat dan masih sehat, pikiran, ucapan dan perbuatan harus diberikan yang
terbaik kepada lingkungan. Sehingga dengan memfasilitasi kembang/bunga
untuk klien berkeyakinan Buddha, kita memotivasi klien untuk mengisi pikiran,
ucapan dan perilaku yang baik selama masih bisa bernafas.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebutuhan spiritual adalah suatu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi
karena

sebagai

semangat,

atau

motivasi

untuk

hidup,

kebutuhan

untuk

mempertahankan/mengembalikan keyakinan dan membantu memenuhi kewajiban agama.


Agama Buddha dapat diartikan sebagai seorang yang telah memperoleh kebijjaksanaan
sempurna. Sang Buddha mengatakan :"Bilamana badanmu sakit, jangan biarkan
pikiranmu menjadi sakit juga". Perawat merupakan seorang pelayan yang sangat berperan
dalam membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien.

11

Ia harus mampu memberikan obat, ia harus mengetahui apa yang bermanfaat untuk
pasien dan apa yang tidak bermanfaat. Ia harus menjauhkan apa yang tidak bermanfaat
dan hanya memberikan apa yang bermanfaat bagi pasien. Ia harus mempunyai cinta kasih
dan murah hati, ia harus melakukan kewajibannya atas kesadaran untuk melayani dan
bukan hanya untuk imbalan (mettacitto gilanam upatthati no amisantaro). Itulah
sebabnya cinta kasih (metta) dan belas kasihan (karuna), yang juga merupakan perasaanperasaan mulia (brahmavihara), dianggap sebagai sifat-sifat yang patut dipuji dalam
seorang perawat. Sutta-sutta menambahkan dimensi lain bagi profesi perawatan dengan
memasukkan elemen spiritual dalam pembicaraan perawat.

3.2 Saran
Sebagai perawat yang selalu menghadapi berbagai macam agam pasien, hendaknya
perawat bisa mengenal kebutuhan spiritual setiap agama.

Bukan mengikuti ajaran

agamanya, tetapi perawat bisa menghormati batasan norma spiritual setiap pasien.
Dengan seperti itu, maka pengenalan perspektif keperawatan spiritual setiap agam itu
lebih baik diperkenlkan sejak dini.

DAFTAR PUSTAKA

Atoskhi Antonius Gea, Noor Rachmat, dkk.(2006). Relasi dengan Tuhan. Jakarta: PT Elex
Meedia Komputindo
Hadi Hilman K. (1993). Antropologi Agama I. Bandung: PT. Citra Aditua Bhakti
NN.2015.Agama Buddha. [Online]. Tersedia: http://ww.wikipedia.org (Diakses pada tanggal
20 maret 2015)
Silva

Lily

de.2005.Pelayanan

Kepada

Orang

Sakit

dan

Menjelang

Kematian.

[Online].Tersedia: http://www.samaggi-phala.or.id (Diakses pada tanggal 15 Maret 2015)


12

Widya,Wedaswari.(2013).Peran Perawat Dalam Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Klien.


[Online].Tersedia: http://www.academia.edu (Diakses pada tanggal 20 Maret 2015)

13