Anda di halaman 1dari 29

MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

TL 2203
MODUL XII
MIKROBIOLOGI TANAH
Nama/NIM

: 1. Diana

15313047

2. Ramadian Irvanizar

15313061

3. Widi Ajeng Luthfiyya

15313076

Kelompok/Shift

: 15/Rabu Siang

Tanggal Praktikum

: Rabu, 18 Maret 2015

Tanggal Pengumpulan: Rabu, 15 April 2015


PJ Modul

: Fadya Syifa Hani dan Laurentia Mutiara SW

Asisten

: 1. Agung Kusumawardhana
2. Ayu Listiani
3. Fadya Syifa Hani
4. Amrini Amalia S
5. Laurentia Mutiara SW

Analis

: Didit Trihartomo

Teknisi

: Oleh

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

PERCOBAAN 34: SIKLUS NITROGEN


BAGIAN A: AMONIFIKASI
I.

II.

TUJUAN
1. Memperlihatkan terlepasnya amoniak dari senyawa organik mengandung nitrogen
2. Menentukan kehadiran amoniak dan jumlahnya
PRINSIP DASAR
Amonifikasi adalah fase penting dalam siklus nitrogen, meliputi degradasi biopolimer

mengandung nitrogen dan lepasnya amoniak. Proses ini diinisiasi dengan eksresi enzim
protetik ekstraseluler yang biasanya dihasilkan oleh organisme tanah seperti Bacillus,
Clostridium, dan Streptomyces. Enzim ini bekerja untuk menghidrolisis protein tanaman dan
hewan menjadi asam aminonya. Asam amino kemudian secara enzimatik dideaminasi
ditandai dengan lepasnya amoniak. Kaldu pepton digunakan karena merupakan substrat
nitrogen organik dan digunakan untuk menunjukkan kemampuan beberapa mikroorganisme
untuk mendegradasi protein dengan hasil terbentuknya amoniak. setelah inkubasi, kehadiran
amoniak ditandai dengan warna kuning yang terbentuk ketika reagen Nessler ditambahkan
pada sampel kultur uji. Jumlah amoniak yang terbentuk dapat diperkirakan dari perbedaan
tingkatan warna kuning yang terbentuk.
III.

TEORI DASAR
Amonifikasi adalah proses yang mengubah N-organik menjadi N-ammonia. Bentuk

senyawa N dalam jasad hidup dan sisa-sisa organik sebagian besar terdapat dalam bentuk
amino penyusun protein. Senyawa N organik yang lain adalah khitin, peptidoglikan, asam
nukleat, selain itu juga terdapat senyawa N-organik yang banyak dibuat dan digunakan
sebagai pupuk yaitu urea.
Proses amonifikasi dari senyawa N-organik pada prinsipnya merupakan reaksi
peruraian protein oleh mikroba. Secara umum proses perombakan protein dimulai dari peran
ensim protease yang dihasilkan mikroba sehingga dihasilkan asam amino. Selanjutnya
tergantung macam asam aminonya dan jenis mikroba yang berperan maka asam-asam amino
akan dapat terdeaminasi melalui berbagai reaksi dengan hasil akhirnya nitrogen dibebaskan
sebagai ammonia.
Amonifikasi adalah tahap penting dalam siklus nitrogen, siklus alami yang membuat
pasokan nitrogen di bumi tersedia bagi organisme yang membutuhkannya, seperti tanaman.

Seperti banyak siklus alam lainnya, siklus nitrogen dapat terganggu oleh aktivitas manusia
yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan pada berbagai tahap, kadang-kadang
menyebabkan masalah lingkungan. Amonifikasi dapat menjadi daerah masalah utama dalam
siklus nitrogen ketika intervensi manusia terjadi, sebagai pembangun amoniak yang dapat
menyebabkan masalah kesehatan dan isu-isu lingkungan.
Proses amonifikasi merupakan hasil dari pemecahan bahan organik seperti hewan dan
tumbuhan yang mati atau bahan limbah seperti kotoran. Pemecahan ini dilakukan dengan
sejumlah mikroorganisme yang memanfaatkan bahan organik mati amonia energi dan
memproduksi dan senyawa terkait sebagai produk sampingan dari metabolisme.
Amonifikasi klasik terjadi pada tanah, dalam lingkungan aerobik yang memberikan
bakteri dan mikroorganisme yang bekerja dengan oksigen. Sebagian besar keberadaan N2 di
dalam tanah dalam bentuk molekul anorganik. Organisme yang sudah mati diuraikan melalui
proses hidrolisis yang menyebabkan protein terurai menjadi asam amino. Proses ini disebut
deaminasi. Proses selanjutnya, asam amino yang sudah terbentuk dikonversi menjadi
ammonia (NH3) dan proses ini disebut amonifikasi. Amonifikasi dibantu oleh beberapa
mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.
Amonia merupakan senyawa dalam bentuk gas, pada tanah yang kering mudah
menguap, sebaliknya pada tanah yang lembab/basah ammonia terlarut dalam air dan
membentuk ion ammonium (NH4+ ). Selanjutnya ion amonium dapat digunakan oleh bakteri
dan tumbuhan untuk sintesa asam amino.
Walaupun demikian, pemanfaatan nitrogen oleh kebanyakan tumbuhan umumnya
dalam bentuk NO3- karena NH4+ akan dioksidasi menjadi NO3- oleh bakteri nitrifikasi.
Disamping itu ammonium/ammonia ini bersifat racun bagi tumbuhan dan dapat menghambat
pembentukan ATP di kloroplas dan mitokondria.
Nitrogen sangat penting bagi semua bentuk kehidupan seperti yang diperlukan untuk
asam amino, protein dan DNA; Namun, meskipun banyak di atmosfer, itu tidak dapat diserap
secara langsung dalam bentuk unsur oleh sebagian besar organisme. Beberapa jenis bakteri
tanah yang mampu menjebak nitrogen atmosfer sebuah proses yang dikenal sebagai fiksasi
nitrogen dan mengkombinasikannya dengan hidrogen untuk menghasilkan amonia, yang
kemudian teroksidasi oleh bakteri nitrifikasi menjadi nitrit dan kemudian nitrat. Bentuk unsur
yang dapat diserap oleh tanaman dan diubah menjadi asam amino, yang dihubungkan
bersama untuk membentuk protein. Senyawa ini dikembalikan ke tanah ketika tanaman, atau
hewan yang memakannya, mati, dan melalui kotoran hewan, namun sebagian besar

organisme tidak dapat menyerap dan memproses mereka: mereka harus terlebih dahulu
dipecah menjadi bentuk yang sesuai.
Amonifikasi adalah proses dilakukan oleh berbagai mikroorganisme yang
memecah protein, asam amino, dan senyawa yang mengandung nitrogen lainnya di bahan
organik mati dan limbah untuk membentuk amonia. Protein pertama dibagi menjadi asam
amino, yang merupakan senyawa yang mengandung gugus amina (NH 2) oleh bakteri
menggunakan enzim yang dikenal sebagai protease. Asam amino, dan senyawa lain dengan
gugus amina, seperti asam nukleat dan urea, kemudian diurai oleh mikroorganisme yang
dikenal sebagai bakteri ammonifying, melepaskan amonia (NH3). Hal ini larut dalam air, dan
biasanya membentuk ion amonium (NH4 +), dengan menggabungkan dengan ion hidrogen (H
+

), yang berlimpah di sebagian besar tanah. Amonium ini dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat

dengan bakteri nitrifikasi, dalam cara yang sama seperti nitrogen yang telah tetap dari
atmosfer.
Meskipun, dalam keadaan ideal, nitrogen didaur ulang dalam tanah, kadang-kadang
bisa hilang. Amonia dirilis oleh proses amonifikasi biasanya diubah menjadi NH 4 +, yang
cenderung untuk tetap berada di tanah, di mana ia berputar lagi seperti dijelaskan di atas. Di
tanah yang basa, ion H + tidak tersedia, dan amonia, yang merupakan gas, bisa bocor pergi,
mengakibatkan hilangnya nitrogen. Alasan yang lebih umum untuk kehilangan nitrogen
adalah pencucian jauh dari nitrat, yang sangat larut, air. Jika salah satu dari proses-proses
tersebut terjadi pada tingkat yang lebih besar dari fiksasi, bisa ada kerugian unsur secara
keseluruhan, sehingga pertumbuhan tanaman yang buruk.
Ada dua cara utama di mana kehilangan nitrogen dapat diganti pada lahan pertanian
dan kebun. Pupuk nitrat memberikan unsur yang larut ke dalam, bentuk langsung bisa
digunakan, dan biasanya digunakan di peternakan. Bahan organik yang membusuk, seperti
kompos dan pupuk kandang, memberikan unsur melalui amonifikasi senyawa nitrogen oleh
mikroorganisme. Pupuk dapat menghasilkan hasil yang lebih cepat, tetapi nitrat kadangkadang dapat hanyut sebelum mereka diambil oleh tanaman. Kompos dan pupuk kandang
memiliki keuntungan yang bisa digunakan nitrogen dilepaskan lebih lambat, tetapi
penyebaran pupuk pada lahan pertanian dapat menyebabkan masalah dengan bau bagi warga
di dekatnya.
Praktek-praktek pertanian dapat mengakibatkan jumlah berlebihan tersedia nitrogen
memasuki lingkungan. Sebagai contoh, nitrat dicuci dari lahan pertanian ke sungai dan danau
dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan dari ganggang dan mikroorganisme lainnya,
sebuah fenomena yang dikenal sebagai eutrofikasi. Jika senyawa ini menemukan jalan

mereka ke dalam air minum, mereka dapat menyebabkan masalah kesehatan. Masalah ini
biasanya disebabkan oleh terlalu sering menggunakan pupuk nitrat, tetapi mereka juga dapat
dihasilkan dari amonifikasi dan nitrifikasi pupuk berikutnya. Menggunakan sampah organik
berlebihan, seperti pupuk kandang, juga dapat menyebabkan penumpukan amonia ke tingkat
yang beracun bagi tanaman, ketika amonifikasi memproduksi lebih dari senyawa ini daripada
bakteri nitrifikasi dapat mengatasi.
IV.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat
- 5 buah tabung reaksi berisi kaldu pepton 4%
- pembakar Bunsen
- jarum inokulasi
- spot plate
- pipet tetes
- inkubator
B. Bahan
- kultur bakteri Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. berumur 24 jam pada kaldu
-

V.
No

nutrisi
sampel tanah (subur dan tidak subur)
reagen Nessler dan garam Selgnette

DATA DAN HASIL PENGAMATAN


Gambar

Hasil Pengamatan

1.

Tanah Subur

Setelah ditetesi reagen Nessler dan


garam Selgnette, warna larutan

H+2

berubah

menjadi

cokelat

dan

terdapat endapan cokelat (+3) dari


H+2 hingga H+7 pengamatan. Tiap
hari endapan semkain pekat.

H+5

H+7

No

Gambar

Hasil Pengamatan

2.

Tanah Tidak Subur

Setelah ditetesi reagen Nessler dan


garam Selgnette, warna larutan

H+2

berubah

menjadi

cokelat

dan

terdapat endapan cokelat (+3) dari


H+2 hingga H+7 pengamatan. Tiap
hari endapan semkain pekat.

H+5

H+7

No

Gambar

Hasil Pengamatan

3.

Bacillus sp.

Setelah ditetesi reagen Nessler dan


garam Selgnette, warna larutan

H+2

berubah menjadi kuning muda (+1)


pada H+2 dan kuning tua (+2) pada
H+7 pengamatan.

H+5

H+7

No
4.

Gambar
Pseudomonas sp.

Hasil Pengamatan
Setelah ditetesi reagen Nessler dan

garam Selgnette, warna larutan


H+2

berubah menjadi kuning muda (+1)


pada H+2 dan kuning tua (+2) pada
H+7 pengamatan.

H+5

H+7

VI.

ANALISIS
Percobaan ini diawali dengan menandai setiap tabung kaldu pepton dengan nama

organisme dan jenis tanah yang diinokulasi. Disiapkan pula satu tabung kaldu pepton terakhir
sebagai kontrol. Selanjutnya adalah menginokulasikan tabung dengan organisme uji, yaitu
Bacillus sp. dan Pseudomonas sp., atau menambahkan sampel tanah seberat 0,1 gram. Lalu,
inkubasi tabung kultur selama 7 hari pada temperature 25oC. Kultur diuji kehadiran
amoniaknya pada hari ke 3, 5, dan 7. Caranya dengan menggunakan pipet, tempatkan satu
tetes reagen Nessler dan garam Selgnette pada spot plate, lalu menambahkan satu loopful
kultur mikroorganisme dan sampel tanah pada tempat yang sudah mengandung reagen
Nessler dan garam Selgnette. Campurkan dengan merata. Lakukan pula untuk medium
kontrol. Selanjutnya tentukan kehadiran amoniak dan jumlahnya berdasarkan tabel berikut:
Tabel 6.1. Kehadiran Amonia dan Jumlahnya
Warna
Tidak ada perubahan
Kuning muda
Kuning tua
Endapan cokelat

0
1+
2+
3+

Hasil
Tidak ada amoniak
Amoniak ada dalam jumlah kecil
Amoniak ada dalam jumlah sedang
Amoniak ada dalam jumlah banyak

Pada percobaan ini, digunakan kaldu pepton 4% sebagai medium pertumbuhan bakteri
dan sampel tanah. Kaldu pepton digunakan karena merupakan substrat nitrogen organik dan
digunakan untuk menunjukkan kemampuan beberapa mikroorganisme untuk mendegradasi
protein dengan hasil terbentuknya amoniak. Secara umum, makanan yang paling baik bagi
bakteri adalah medium yang mengandung zat-zat organik seperti rebusan daging, sayursayuran, sisa-sisa makanan, dna lain-lain. Seperti yang kita ketahui, terdapat berbagai bentuk
media, seperti:
1. Media alami, adalah media yang disusun oleh bahan alami seperti kentang, daging,
susu, telur, dan lain-lain.
2. Media sintetik, disusun dari senyawa kimia yang kemurniannya tinggi dan ditentukan
dengan tepat
3. Media semi sintetis, adalah media yang disusun berdasarkan campuran bahan alami
dan bahan sintetis, contohnya ekstrak daging dan pepton. Media ini mempunyai
komposisi kimia yang tidak pasti
Untuk pertumbuhan bakteri sendiri, media yang umum digunakan adalah kaldu
nutrisi. Kaldu nutrisi ini terdiri dari pepton, ekstrak daging, NaCl, dan akuades. Media ini
sendiri memiliki tujuan. Tujuan penggunaan media yaitu untuk isolasi, seleksi, evaluasi dan
diferensiasi biakan yang didapat, artinya penggunaan zat tertentu yang mempunyai pengaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan. Setiap media tentu mempunyai sifat
(spesifikasi) tersendiri sesuai dengan peruntukannya.
Media kaldu pepton ini terdiri dari air murni, ekstrak daging, dan pepton. Pepton ini
adalah protein yang terdapat pada daging, susu, kedelai, dan putih telur. Pepton mengandung
banyak N2. Sementara ekstrak daging mengandung protein sebagai sumber makanna bagi
bakteri. Selain itu, pepton yang merupakan hasil pemecahan protein ini mempermudah kerja
bakteri, sebab bakteri tidak perlu lagi mengeluarkan energi untuk memecah protein menjadi
pepton. Pepton sendiri oleh bakteri akan diuraikan menjadi asam amino, kemudian diserap
untuk digunakan sebagai sumber energi dalam membangun sitoplasma. NaCl diperlukan
untuk memberikan tekanan osmotik tertentu. Medium kaldu pepton dibuat pHnya dalam
rentang 6,8 sampai 7 (sedikit asam sampai netral), hal ini disesuaikan dengan kondisi
optimum bakteri. Karena kaldu pepton mengandung substrat nitrogen organik dan protein,
maka bakteri akan mendegradasi protein ini menjadi asam amino. Asam amino kemudian
secara enzimatik dideaminasi ditandai dengan lepasnya amoniak.

Pada hasil percobaaan, didapatkan untuk bakteri Bacillus sp., bakteri Pseudomonas
sp., sampel tanah subur, dan sampel tanah tidak subur, semuanya menunjukkan hasil positif
mengandung amonia. Sementara jumlahnya bervariasi tergantung mikroorganisme/sampel
tanah uji dan hari pengamatan. Hasil pengamatan ditunjukkan oleh tabel berikut.
Tabel 6.2. Rekapitulasi Uji Kehadira Amoniak dan Jumlahnya
Mikroorganisme/
sampel tanah
Bacillus sp.
Pseudomonas sp.
Mikroorganisme/
sampel tanah
Tanah subur
Tanah tidak subur

Hari
+2
+5
+7
+2
+5
+7

Warna
Kuning muda
Kuning tua
Kuning tua
Kuning muda
Kuning tua
Kuning tua

Hari

Warna

+2
+5
+7
+2
+5
+7

Endapan cokelat
Endapan cokelat
Endapan cokelat
Endapan cokelat
Endapan cokelat
Endapan cokelat

Hasil
1+
2+
2+
1+
2+
2+

Amoniak ada dalam jumlah kecil


Amoniak ada dalam jumlah sedang
Amoniak ada dalam jumlah sedang
Amoniak ada dalam jumlah kecil
Amoniak ada dalam jumlah sedang
Amoniak ada dalam jumlah sedang
Hasil

3+
3+
3+
3+
3+
3+

Amoniak ada dalam jumlah banyak


Amoniak ada dalam jumlah banyak
Amoniak ada dalam jumlah banyak
Amoniak ada dalam jumlah banyak
Amoniak ada dalam jumlah banyak
Amoniak ada dalam jumlah banyak

Pada bakteri Bacillus sp., didapatkan hasil sebagai berikut. Pada hari kedua
pengamatan, didapatkan hasil bahwa positif mengandung amoniak dalam jumlah kecil.
Selanjutnya, kehadiran amoniak ini terus bertambah, terlihat pada hasil pengamatan pada hari
ke lima dan tujuh, warna kuning yang ditunjukkan setelah diberi reagen Nessler dan garam
Selgnette menjadi lebih tua. Artinya, jumlah amoniaknya bertambah. Hal ini menunjukkan
bahwa Bacillus sp. mampu mendegradasi protein yang terdapat pada kaldu pepton atau
terlibat dalam proses amonifikasi.
Amonifikasi sendiri merupakan proses perubahan asam amino menjadi ammonia
(NH3). Amonifikasi ini bertujuan mengubah nitrogen organik menjadi N-amonia. Di awal
telah dijelaskna bahwa kaldu pepton mengandung sumber nitrogen organik, oleh sebab itu
proses amonifikasi oleh Bacillus sp. ini bisa berlangsung. Proses amonifikasi dari senyawa Norganik pada prinsipnya merupakan reaksi peruraian protein oleh mikroba. Secara umum
proses perombakan protein dimulai dari peran ensim protease yang dihasilkan mikroba
sehingga dihasilkan asam amino. Selanjutnya tergantung macam asam aminonya dan jenis

mikroba yang berperan, maka asam-asam amino akan dapat terdeaminasi melalui berbagai
reaksi dengan hasil akhirnya nitrogen dibebaskan sebagai ammonia.
Amonifikasi ini hakikatnya memecah protein, asam amino, dan senyawa yang
mengandung nitrogen lainnya di bahan organik mati dan limbah untuk membentuk amonia.
Protein pertama dibagi menjadi asam amino, yang merupakan senyawa yang mengandung
gugus amina (NH2) oleh bakteri menggunakan enzim yang dikenal sebagai protease. Asam
amino, dan senyawa lain dengan gugus amina, seperti asam nukleat dan urea, kemudian
diurai oleh mikroorganisme yang dikenal sebagai bakteri ammonifying, seperti Bacillus sp.
melepaskan amonia (NH3). Amonia akan larut dalam air dan biasanya membentuk ion
amonium (NH4 +), dengan menggabungkan dengan ion hidrogen (H +), yang berlimpah di
sebagian besar tanah. Amonium ini dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat dengan bakteri
nitrifikasi, dalam cara yang sama seperti nitrogen yang telah tetap dari atmosfer.
Reaksi amonifikasi yang berlangsung:
2NH3 + H2CO3 -> (NH4)2CO3 -> 2NH4+ + CO32Selanjutnya adalah hasil pengamatan pada bakteri Pseudomonas sp. Pada bakteri ini,
hasil yang ditunjukkan adalah sama dengan bakteri Bacillus sp. Sementara itu, berdasarkan
literatur, bakteri ini juga terlibat dalam proses amonifikasi, sehingga secara umum prosesnya
sama dengan bakteri Bacillus sp.
Selanjutnya adalah hasil pengamatan pada sampel tanah subur. Pada sampel tanah
subur, didapatkan hasil bahwa kehadiran ammonia adalah banyak, dimana pada tiap hari
pengamatan, endapat cokelat semakin pekat. Hal ini menunjukkan bahwa ammonia yang
dihasilkan juga semakin banyak. Sebagian besar keberadaan N2 di dalam tanah dalam bentuk
molekul anorganik. Organisme yang sudah mati diuraikan melalui proses hidrolisis yang
menyebabkan protein terurai menjadi asam amino. Proses ini disebut deaminasi. Proses
selanjutnya, asam amino yang sudah terbentuk dikonversi menjadi ammonia (NH 3) dan
proses ini disebut amonifikasi. Amonifikasi dibantu oleh beberapa mikroorganisme seperti
bakteri. Pada tanah subur, terdapat berbagai bakteri ammonifying, salah satunya adalah
Bacillus sp. Tanah subur umumnya berasosiasi dengan pH asam, hal ini sesuai dengan
kondisi optimum yang dibutuhkan bakteri untuk hidup.
Amonia merupakan senyawa dalam bentuk gas, pada tanah yang kering mudah
menguap, sebaliknya pada tanah yang lembab/basah ammonia terlarut dalam air dan
membentuk ion ammonium (NH4+ ). Selanjutnya ion amonium dapat digunakan oleh bakteri
dan tumbuhan untuk sintesa asam amino. Walaupun demikian, pemanfaatan nitrogen oleh
kebanyakan tumbuhan umumnya dalam bentuk NO 3- karena NH4+ akan dioksidasi menjadi

NO3- oleh bakteri nitrifikasi. Disamping itu ammonium/ammonia ini bersifat racun bagi
tumbuhan dan dapat menghambat pembentukan ATP di kloroplas dan mitokondria.
Selanjutnya adalah hasil pengamatan pada sampel tanah tidak subur. Pada sampel
tanah ini hasilnya relatif sama dengan sampel tanah subur, meskipun endapan cokelat yang
dihasilkan tidak terlalu pekat layaknya pada sampel tanah subur. Namun, hal ini bertentangan
dengan literatur, dimana kandungan ammonia pada tanah subur relatif sedikit. Hal ini
dipengaruhi oleh kondisi tanha yang berada pada pH basa, dimana kurang cocok untuk
pertumbuhan bakteri. Akibatnya, proses amonifikasi tidak dapat berlangsung dengan optimal.
Perbedaan hasil dengan litertaur ini dapat disebabkan oleh kesalahan pengambilan sampel
tanah, dimana pada saat percobaan, sampel tanah tidak diberi label, sehingga rentan terjadi
kesalahan pengambilan sampel. Atau dapat pula terjadi kontaminasi dari mikroorganisme lain
akibat kurang aseptiknya saat melakukan percobaan, sehingga hasil yang didapatkan kurang
akurat.
VII. KESIMPULAN
1. Mekanisme proses amonifikasi
- Pada uji bakteri, terjadi proses hidrolisis protein pada kaldu pepton menjadi
asam amino. Asam amino ini terdeaminasi melalui reaksi amonifikasi dengan
hasil akhir nitrogen dan ditandai dengan lepasnya amoniak. Proses ini
diinisiasi dengan eksresi enzim protease/protetik ekstraseluler yang biasanya
dihasilkan. Asam amino kemudian secara enzimatik dideaminasi ditandai
dengan lepasnya amoniak.dihasilkan oleh bakteri.
- Pada uji sampel tanah,
2. Hasil penentuan kehadiran ammonia dan jumlahnya:
- Bakteri Bacillus sp. memberikan hasil positif pada uji amonifikasi dengan
-

kehadiran ammonia dalam jumlah sedang.


Bakteri Pseudomonas sp. memberikan hasil positif pada uji amonifikasi

dengan kehadiran ammonia dalam jumlah sedang.


Sampel tanah subur memberikan hasil positif pada uji amonifikasi dengan

kehadiran ammonia dalam jumlah banyak.


Sampel tanah tidak subur memberikan hasil positif pada uji amonifikasi
dengan kehadiran ammonia dalam jumlah banyak, dimana berdasarkan
literatur seharusnya kehadiran ammonia dalam jumlah sedikit.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Pelczar, Michael J. Jr dan E. Cs Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia.

T. Madigan, Michael. 2009. Brock Biology of Microorganisms: Twelfth Edition. United


States: Pearson Benjamin Cummings.
http://budisma.net/2015/03/pengertian-amonifikasi.html
http://kamusistilahbiologi.blogspot.com/2013/08/amonifikasi.html
https://roiyanali98.wordpress.com/tag/amonifikasi/
http://science.jrank.org/pages/4690/Nitrogen-Cycle-Ammonification-nitrification.html
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/21006/ammonification
http://www.merriam-webster.com/dictionary/ammonification
http://www.pojokpedia.com/urutan-siklus-nitrogen.html
http://www.sridianti.com/pengertian-amonifikasi.html
https://books.google.co.id/books?
id=te9kIRK5c6wC&pg=PA97&lpg=PA97&dq=amonifikasi&source=bl&ots=tvwePC
onUh&sig=7wT93h2tUVtVgp_AuOF9lULCTeU&hl=id&sa=X&ei=2QrVcnwHIKuuQSB3IDICg&redir_esc=y#v=onepage&q=amonifikasi&f=false
https://sites.google.com/a/g.coppellisd.com/nitrogen-cycle/4-ammonification

BAGIAN D: FIKSASI NITROGEN


I.

TUJUAN
1. Menunjukkan fiksasi nitrogen atmosfer oleh mikroorganisme simbiotik dan non
simbiotik
2. Menentukan ukuran, bentuk, dan susunan sel dari pewarnaan gram isolate

II.

PRINSIP DASAR
Fiksasi nitrogen adalah fase dalam siklus nitrogen dimana mikroorganisme

mengkonversi nitrogen atmosfer menjadi senyawa yang mengandung nitrogen n. Fiksasi


nitrogen dimediasi dua simbol mikrobial. Yang pertama terdiri dari mikroorganisme non
simbiotik seperti anggota genus Azotobacter, Clostridium, Beijerinckia, dan Cyanobacteria,
yang mampu menggunakan gas nitrogen sebagai sumber nitrogen. Karakteristik organisme
ini adalah dinding sel tebal, memproduksi kista dormant yang resisten pada proses
pengeringan dan radiasi ultraviolet, tetapi sensitif terhadap panas. Sistem kedua melibatkan
mikroba simbiotik seperti pada genus Rhizobium yang tumbuh pada nodul-nodul seperti
tumor pada akar tanaman kacang-kacangan.
III.

TEORI DASAR
Fiksasi nitrogen adalah kombinasi kimia nitrogen bebas dengan elemen lain untuk

membentuk fixed nitrogen (senyawa mengandung nitrogen). Fiksasi nitrogen dilakukan oleh
berbagai bakteri, baik sebagai organisme yang hidup bebas dan dalam hubungannya
simbiosis dengan tanaman. Karena itu adalah sumber utama dari nitrogen dalam tanah,
nitrogen yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh, fiksasi nitrogen adalah salah satu proses
biokimia yang paling penting di Bumi. Bahkan sistem pertanian modern bergantung pada

fiksasi nitrogen oleh alfalfa, semanggi, dan kacang-kacangan lainnya untuk melengkapi
pupuk nitrogen kimia.
Organisme hidup membutuhkan nitrogen karena merupakan bagian dari asam amino
yang membentuk protein, dan asam nukleat yang membentuk DNA (asam deoksiribonukleat)
dan RNA (ribonucleic acid). Nitrogen dalam organisme hidup akhirnya membusuk dan
diubah menjadi nitrogen atmosfer (N2). Bentuk ini, bagaimanapun, adalah sangat stabil dan
tidak reaktif secara kimia, dan karena itu tidak tersedia untuk digunakan oleh sebagian besar
organisme. Beberapa spesies bakteri, meskipun, dapat mengkonversi N2 menjadi NH3
(amoniak) atau bentuk nitrogen lainnya yang dapat digunakan. Bakteri pengikat nitrogen ini
termasuk spesies genus Rhizobium, Anabaena, Azotobacter, dan Clostridium, serta yang lain.
Pada umumnya derivat nitrogen sangat penting bagi kebutuhan dasar nutrisi, tetapi
dalam kenyataannya substansi nitrogen adalah hal yang menarik sebagai polutan di
lingkungan. Terjadinya perubahan global di lingkungan oleh adanya interaksi antara nitrogen
oksida dengan ozon di zona atmosfir. Juga adanya perlakuan pemupukan (fertilization
treatment) yang berlebihan dapat mempengaruhi air tanah (soil water), sehingga dapat
mempengaruhi kondisi air minum bagi manusia.
Bentuk atau komponen N di atmosfir dapat berbentuk ammonia (NH 3), molekul
nitrogen (N2), dinitrit oksida (N2O), nitrogen oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), asam
nitrit (HNO2), asam nitrat (HNO3), basa amino (R3-N) dan lain-lain dalam bentuk
proksisilnitri (Soderlund dan Rosswall, 1980). Dalam telaah kesuburan tanah proses
pengubahan nitrogen dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu mineralisasi senyawa
nitrogen komplek, amonifikasi, nitrifikasi, denitrifikasi, dan volatilisasi ammonium (Masud,
1992).
Nitrogen organic diubah menjadi mineral N-amonium oleh mikroorganisasi dan
beberapa hewan yang dapat memproduksi mineral tersebut seperti : protozoa, nematoda, dan
cacing tanah. Serangga tanah, cacing tanah, jamur, bakteri dan aktinbimesetes merupakan
biang penting tahap pertama penguraian senyawa N-organik dalam bahan organic dan
senyawa N-kompleks lainnya (Masud, 1993).
Semua mikroorganisme mampu melakukan fiksasi nitrogen, dan berasosiasi dengan
N-bebas yang berasal dari tumbuhan. Nitrogen dari proses fiksasi merupakan sesuatu yang

penting

dan

ekonomis

yang

dilakukan

oleh

bakteri

genus Rhizobium dengan

tumbuhan Leguminosa termasuk Trifollum spp, Gylicene max (soybean), Viciafaba (brand
bean), Vigna sinensis (cow-pea), Piscera sativam (chick-pea), danMedicago sativa (lucerna)
(Rompas,1998).
Menurut Maier, dkk (2000) bakteri dalam genus Rhizobium merupakan bakteri gram
negatif, berbentuk bulat memanjang, yang secara normal mampu memfiksasi nitrogen dari
atmosfer. Umumnya bakteri ini ditemukan pada nodul akar tanaman leguminosae.
Morfologi Rhizobium dikenal sebagai bakteroid. Rhizobium menginfeksi akar
leguminoceae melalui ujung-ujung bulu akar yang tidak berselulose, karena bakteri
Rhizobium tidak dapat menghidrolisis selulose.
Rhizobium yang tumbuh dalam bintil akar leguminoceae mengambil nitrogen
langsung dari udara dengan aktifitas bersama sel tanaman dan bakteri, nitrogen itu disusun
menjadi senyawaan nitrogen seperti asam-asam amino dan polipeptida yang ditemukan dalam
tumbuh-tumbuhan, bakteri dan tanak disekitarnya. Baik bakteri maupun legum tidak dapat
menambat nitrogen swcara mandiri, bila Rhizobium tidak ada dan nitrogen tidak terdapat
dalam tanah legum tersebut akan mati.
Bakteri Rhizobium hidup dengan menginfeksi akar tanaman legum dan berasosiasi
dengan tanaman tersebut, dengan menambat nitrogen. Suatu sistem berdasar pada infeksi
spesifik pada jenis inang Legum digunakan untuk menggolongkan Rhizobium secara tepat
lebih dari 50 tahun. Kekhususan infeksi mempunyai banyak atraksi praktis yang
memperhatikan aplikasi Teknologi Rhizobium, sungguhpun tidak sempurna sebab banyak
strains rhizobia bisa menginfeksi ke kelompok spesifik lain dan sebab ada bukti persamaan
baru dari taxonomic kimia dan data taxonomic kwantitatip. Tinggal suatu ukuran penting
untuk spesiasi genus pada Manual Bergey Systematic Bacteriology, dengan modifikasi
bersama data taxonomic baru (Jordan 1984).
Tidak hanya bakteri Rhizobium, Azotobacter di dalam tanah berperan dalam
pengaturan siklus nitrogen, yaitu melakukan fiksasi nitrogen dan mengubahnya menjadi
Ammonia (NH3). Dalam sel bakteri ini terdapat sebuah alat yang berperan dalam biokatalis,
yaitu enzim nitrogenase. Enzim inilah yang berperan dalam mengubah N2 menjadi NH3.

Bakteri ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan bakteri lain. Jika kita melihat
bentuk koloninya, misalnya; bentuknya bulat, bening, keruh atau opaque, dan putih,
permukaannya halus mengkilap, tepi rata,dan berlendir. Bentuk sel Azotobacter bermacammacam, dari bentuk batang pendek, batang, dan oval serta bentuk yang bermacam-macam,
sehingga bakteri ini dikenal sebagai bakteri dengan bentuk sel pleomorfik. Bakteri ini
umumnya Gram negative, namun spesies tertentu dari bakteri ini Gram variabel. Artinya,
pada saat berumur muda bakteri ini Gram negatif, namun setelah berumur tua akan berubah
menjadi Gram positif.
Akhir-akhir

ini

ditemukan

simbiosis

asosiasi

antara

bakteri

Azospirillum

lipoferum dan akar tumbuhan termasuk rumput tropikal Digitaria decumbens, juga jenis
rumput

tropikalPaspalum

notatum mampu

melakukan

fiksasi

N bersama-sama

bakteri Azotobacter paspalli di dalam akar (Dobereiner, 1978, dalam Rompas, 1998).
Hasil penelitian tentang fiksasi N ini menunjukkan bahwa ada cukup banyak genera
bakteri yang dapat mem-fiksasi N termasuk spesies dari Bacillus, Clostridium, dan Vibrio.
Pada habitat perairan, cyanobacteria adalah kelompok utama yang melakukan fiksasi N
(Anabaena, Nostoc, Gloeotrichia, Oscillatoria, Lyngbya, dll) Komponen yang berperan dalam
fiksasi N di habitat perairan adalah heterocyst, tapi ada cyanobacteria yg tidak memiliki
heterocyst yg juga dpt fiksasi N. Fiksasi N memerlukan cukup banyak energi dalam bentuk
ATP dan koenzim.

IV.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat
- 1 buah erlenmeyer
- lampu unltraviolet
- 1 buah cawan petri
- pipet tetes
- 3 buah kaca preparat
- inkubator
- pembakar Bunsen
- mikroskop
- jarum inokulasi
B. Bahan
- 1 gram sampel tanah yang sedikit basa
- tanaman kacang-kacangan segar dengan nodul akar
- kaldu mannitol bebas nitrogen dalam erlenmeyer
- agar mannitol bebas nitrogen dalam cawan petri
- metil biru
- pewarna gram (kristal violet, garam iodine, etil aklohol, dan safranin)
- minyak imersi

V.
No.

DATA DAN HASIL PENGAMATAN


Gambar

Hasil Pengamatan

1.

Isolasi Aztobacter

Setelah inkubasi selama 7 hari, terbentuk

H+7

lapisan

film

tipis

pada

permukaan

medium. Setelah dipindahkan ke cawan


petri dan diinkubasi kembali selama 7 hari
dan disinari dengan sinar UV, tidak
terlihat

fluorescens

hijau.

Setelah

dilakukan pewarnaan gram, terbentuk


warna pink yang menunjukkan bakteri
termasuk golongan gram negatif.

Koloni pertama

Koloni Kedua

No.
2.

Gambar
Isolasi Rhizobium

Hasil Pengamatan
Setelah diamati di bawah mikroskop,

terlihat

sel

Rhizobium

yang

tidak

beraturan (pleomorf)

VI.

ANALISIS
Percobaan ini dibagi menjadi dua, yaitu isolasi Azotobacter dan isolasi Rhizobium.

Pada isolasi Azotobacter, percobaan diawali dengan menambahkan 1 gram sampel tanah ke
erlenmeyer berisi kaldu mannitol bebas nitorogen. Kaldu dalam erlenmeyer dikocok sampai
merata. Selanjutnya inkubasi kultur selama 4-7 hari pada suhu ruang. Di akhir masa inkubasi,
amati permukaan kultur untuk melihat kehadiran lapisan film tipis. Jangan mengocok atau
mengganggu lapisan film yang terbentuk. Dengan aseptik, transper lapisan film di permukaan
tersebut ke cawan petri berisi agar mannitol bebas nitrogen. Lakukan inokulasi dengan
metode gesek. Selanjutnya inkubasi cawan petri pada posisi terbalik selama 4-6 hari pada
suhu ruang. Pilih dua atau tiga koloni yang terlihat berbeda pada cawan petri. Amati ada atau
tidaknya pigmentasi. Lalu letakkan dua loop dari tiap koloni pada kaca preparat. Tempatkan
tiap slide di bawah lampu UV untuk melihat ada atau tidaknya fluorescens hijau. Perlu
diperhatikan, jangan melihat sinar UV secara langsung. Terakhir, siapkan pewarna gram dari
tiap isolat. Amati hasilnya untuk reaksi gram, ukuran, bentuk, dan susunan sel.
Pada isolasi Rhizobium, langkah pertama bilas sampai bersih seluruh bagian nodul
yang diambil dari akar-akaran tanaman kacang-kacangan. Remukkan nodul dengan
menggunakan dua kaca preparat. Lalu, sebarkan satu loop material dari nodul pada lapisan
tipis permukaan kaca preparat yang bersih. Setelah itu, apusan tadi dibiarkan kering, lalu

difiksasi dan diwarnai apusan dengan metilen biru selama 1 menit. Cuci pewarna dengan
mengalirkan air dan keringkan preparat dengan kertas khusus. Terakhir, amati preparat
metilen biru di bawah perbesaran 100x dengan minyak imersi untuk melihat bentuk sel yang
pleomorf.
Pada isolasi Azotobacter, di akhir masa inkubasi, pada permukaan kultur terdapat
lapisan film tipis. Lapisan tipis ini merupakan selulosa ekstraseluler atau biasa disebut
sebagai nata. Nata yang merupakan lapisan tipis dan terapung di permukaan medium ini
semakin lama akan semakin tebal. Dalam menghasilkan selulosa ekstraseluler ini, tentunya
diperlukan media yang dapat mendukung aktivitas Azetobacter. Untuk itu digunakan kaldu
dan agar mannitol. Agar mannitol ini komposisinya antara lain mannitol yang berfungsi
sebagai sumber karbon, Ada pula Lab-lemco powder yang berfungsi sebagai vitamin B,
karbon, dan asam amino esensial. Pada percobaan ini digunakan agar dan kaldu mannitol
bebas nitrogen. Hal ini dikarenakan bakteri Azetobacter lah yang akan mengikat nitrogen
sebagai sumber makanan.
Azotobacter merupakan bakteri gram negatif, aerobik berbentuk batang pendek,
dengan permukaan dinding yang berlendir. Bakteri ini bisa membentuk rantai pendek dengan
satuan 6-8 sel dan bersifat nonmotil. Sebuah sel tunggal Azotobacter mampu
mempolimerisasi molekul glukosa 200.000 per detik. Bakteri ini tidak membentuk endospora
maupun pigmen. Pada kultur sel yang masih muda, individu sel berada sendiri-sendiri dan
transparan. Koloni yang sudah tua membentuk lapisan menyerupai gelatin yang kokoh
menutupi sel koloninya. Pertumbuhan koloni pada medium cair setelah 48 jam inokulasi akan
membentuk lapisan pelikel dan dapat dengan mudah diambil dengan jarum oose. (Saxena,
dkk. 1995)
Bakteri ini dapat membentuk asam dari glukosa, etil alkohol, dan propel alkohol.
Bakteri ini juga mempunyai kemampuan mengoksidasi asam asetat menjadi CO 2 dan H2O.
Sifat yang paling menonjol dari bakteri ini adalah memiliki kemampuan untuk
mempolimerisasi glukosa sehingga menjadi selulosa. Selanjutnya selulosa tersebut
membentuk matrik yang dikenal sebagai nata. Faktor lain yang dominan dalam
mempengaruhi sifat fisiologi dalam pembentukan nata adalah ketersediaan nutrisi, derajat
keasaman, temperatur, dan ketersediaan oksigen. Reaksi tambatan nitrogen sebagai berikut:
4e- + 0,5 N2 + 4 H+ 8 ATP NH3 + 0,5 H2 + 8 ADP + 8Pi

Proses terbentuknya nata sendiri adalah sebagai berikut. Sel-sel Azotobacter akan
mengambil glukosa dari larutan gula, dimana hal ini terdapat pada kaldu dan agar mannitol.
Kemudian, glukosa akan digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor pada
membran sel, dimana kemudian akan keluar bersama-sama enzim yang mempolimerisasikan
glukosa menjadi selulosa diluar sel. Prekursor dari polisakarida tersebut adalah GDP-glukosa.
Pembentukan prekursor ini distimulir oleh adanya katalisator seperti Ca2+ dan Mg2+.
Prekursor ini kemudian mengalami polimerisasi dan berikatan dengan aseptor membentuk
selulosa.
Bakteri Azotobacter akan membentuk nata jika ditumbuhkan dalam medium yang
kaya dengan karbon (C) dan nitrogen (N) melalui proses yang terkontrol, misalnya pada air
kelapa. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim ekstraseluler
yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa.
Sumber karbon merupakan faktor penting dalam proses fermentasi. Bakteri untuk
menghasilkan nata membutuhkan sumber karbon bagi proses metabolismenya. Glukosa akan
masuk ke dalam sel dan digunakan bagi penyediaan energi yang dibutuhkan dalam
perkembangbiakannya. Fruktosa yang ada akan disintesis menjadi selulosa. Jumlah gula yang
ditambahkan harus diperhatikan sehingga mencukupi untuk metabolisme dan pembentukan
pelikel nata.
Selain gula, sumber nitrogen merupakan faktor penting pula. Nitrogen diperlukan
dalam pembentukan protein yang penting pada pertumbuhan sel dan pembentukan enzim.
Kekurangan nitrogen menyebabkan sel kurang tumbuh dengan baik dan menghambat
pembentukan enzim yang diperlukan sehingga proses fermentasi dapat mengalami kegagalan
atau tidak sempurna. Nitrogen yang digunakan dalam percobaan ini ditangkap dan difiksasi
oleh Azotobacter dari atmosfer murni. Pada tanah basa, yang banyak diserap adalah ion
ammonium, dimana dalam bentuk inilah nitrogen diikat.
Setelah diinkubasi pada posisi terbalik pada cawan petri, ditemukan adanya
pigmentasi. Pigmen yang terlihat berwarna kuning kecokelatan. Berdasarkan literatur, jenis
Azotobacter chroococcum menghasilkan pigmen melanin cokelat gelap. Proses ini terjadi
pada metabolism tingkat tinggi selama fiksasi nitrogen, hal ini digunakan untuk melindungi
struktur nitrogenase dari oksigen. Spesies Azotobacter lainnya ada pula yang menghasilkan

pigmen dari kuning-hijau ke ungu, termasuk pigmen hijau yang berfluoresensi dengan lampu
UV dan pigmen dengan fluoresensi biru-putih.
Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya oleh suatu materi setelah
tereksitasi oleh berkas cahaya berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi karena proses absorbsi
cahaya oleh atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi. Keadaan atom yang
tereksitasi akan kembali keadaan semula dengan melepaskan energi yang berupa cahaya (deeksitasi). Fluoresensi merupakan proses perpindahan tingkat energi dari keadaan atom
tereksitasi (S1 atau S2) menuju ke keadaan stabil (ground states). Proses fluoresensi
berlangsung kurang lebih 1 nano detik sedangkan proses fosforesensi berlangung lebih lama,
sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik.
Suatu benda, atau dalam hal

ini

mikroorganisme,

akan

berfluoresensi

(berpendar/memncarkan cahaya) ketika ia terkena cahaya. Artinya, proses fluoresensi dengan


sinar UV ini bertujuan untukn melihat apakah terdapat lapisan fluor pada Azotobacter. Hal ini
berkaitan pula dengan pigmentasi pada Azotobacter, dimana ada beberapa jenis spesies
Azotobacter yang pigmennya berfluoresensi kuning-hijau. Artinya, pada jenis Azotobacter
yang terdapat pada sampel tanah bukanlah yang berpigmen kuning-hijau.
Fluoresensi ini aplikasinya dapat digunakan dalam identifikasi Azotobacter. Produksi
pigmen kuning-hijau menunjukkan kehadiran besi dalam jumlah rendah dalam medium. Hal
ini sesuai dengan hasil percobaan, dimana tanah yang kurang subur kandungan besinya
rendah, sehingga medium tidak menunjukkan fluoresensi hijau. Besi sendiri berperan dalam
fiksasi nitrogen dan sistem transfer elektron, dimana seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, terdapat korelasi antara kehadiran fluoresensi dan ketersediaan besi dalam
medium.
Hasil pewarnaan gram pada isolate Azotobacter menghasilkan warna pink. Hal ini
menunjukkan bahwa Azotobacter tergolong bakteri gram negatif. Hal ini sendiri sudah sesuai
dengan literatur. Bakteri Azotobacter adalah spesies rizobakteri yang dikenal sebagai agen
penambat nitrogen yang mengkonversi dinitrogen (N2) ke dalam bentuk ammonium (NH3),
yang mampu menambat nitrogen dalam jumlah yang cukup tinggi. (Wedhastri,2002).
Azotobacter diketahui pula mampu mensintesis substansi yang secara biologis aktif
dapat meningkatkan perkecambahan biji, tegakan dan pertumbuhan tanaman seperti vitamin
B, asam indol asetat, giberelin, dan sitokinin. Selain itu, Azotobacter juga memiliki
kemampuan dalam metabolisme senyawa fenol, halogen, hidrokarbon, dan juga berbagai
jenis pestisida (Munir, 2006). Bakteri Azotobacter yang diaplikasikan pada tanah pertanian
akan terus mempersubur tanah karena bakteri tersebut akan semakin banyak jumlahnya di

dalam tanah dan terus bekerja memfiksasi nitrogen, dan menaikkan biomassa tanaman
pertanian (Hindersah & Simarmata, 2004).
Jika kita melihat bentuk koloninya, bakteri ini memiliki ciri-ciri berbentuk bulat,
bening, keruh atau opaque, dan putih, permukaannya halus mengkilap, tepi rata, dan
berlendir. Bentuk sel Azotobacter bermacam-macam, dari bentuk batang pendek, batang, dan
oval serta bentuk yang bermacam-macam, sehingga bakteri ini dikenal sebagai bakteri
dengan bentuk sel pleomorfik. Sel Azotobacter ini memiliki banyak flagel yang tersebar
diseluruh selongsong selnya, sehingga dinamakan bakteri yang memiliki flagel bertipe
peritrik. Pada kondisi yang kurang baik bagi Azotobacter, maka ia akan membentuk kista,
bentuk adapatasi pada lingkungan yang kurang menguntungkan.

Gambar 6.1. Pewarnaan gram Azotobacter referensi


(sumber: http://blog.targethealth.com/?p=15111)

Pada isolasi Rhizobium, bakteri ini tergolong bakteri gram negatif, berbentuk bulat
memanjang, yang secara normal mampu memfiksasi nitrogen dari atmosfer. Umumnya
bakteri ini ditemukan pada nodul akar tanaman leguminosae. Rhizobium adalah bakteri yang
bersifat aerob, bentuk batang, koloninya berwarna putih berbentuk sirkular, merupakan
penambat nitrogen yang hidup di dalam tanah dan berasosiasi simbiotik dengan sel akar
legume, dan bersifat host spesifik. Satu spesies Rhizobium cenderung membentuk nodul akar
pada satu spesies tanaman legume saja.

Bentuk sel Rhizobium adalah pleomorf atau tidak beraturan. Morfologi Rhizobium
dikenal sebagai bakteroid. Rhizobium menginfeksi akar leguminoceae melalui ujung-ujung
bulu akar yang tidak berselulose, karena bakteri Rhizobium tidak dapat menghidrolisis
selulosa. Rhizobium yang tumbuh dalam bintil akar leguminoceae mengambil nitrogen
langsung dari udara dengan aktifitas bersama sel tanaman dan bakteri, nitrogen itu disusun
menjadi senyawaan nitrogen seperti asam-asam amino dan polipeptida yang ditemukan dalam
tumbuh-tumbuhan, bakteri dan tanak disekitarnya. Baik bakteri maupun legum tidak dapat
menambat nitrogen secara mandiri, bila Rhizobium tidak ada dan nitrogen tidak terdapat
dalam tanah legum tersebut akan mati. Bakteri Rhizobium hidup dengan menginfeksi akar
tanaman legum dan berasosiasi dengan tanaman tersebut, dengan menambat nitrogen.

Gambar 6.2. Pewarnaan metilen biru Rhizobium referensi


(sumber: http://www.meghanmoebeitiks.com/?attachment_id=346)

Pada pewarnaan dengan metilen biru, didapatkan hasil bahwa bentuk selnya batang
dan memiliki flagel. Karakteristik utama dari Rhizobium adalah susunan selnya yang
pleomorf atau tidak beraturan. Bakteri ini sendiri tergolong bakteri gram negatif. Hasil yang
didapatkan ternyata sesuai dengan referensi.

VII. KESIMPULAN
1. Fiksasi nitrogen adalah kombinasi kimia nitrogen bebas dengan elemen lain untuk
membentuk fixed nitrogen (senyawa mengandung nitrogen). Fiksasi nitrogen dapat

berlangsung dengan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme memfiksasi N 2


(nitrogen bebas dari udara) di atmosfer ke dalam tanah, yang kemudian N 2 ini akan
dimanfaatkan oleh tumbuhan dalam pembentukan protein. Bakteri yang mampu
melakukan fiksasi nitrogen antara lain Azotobacter dan Rhizobium.
2. Azotobacter memiliki ciri-ciri koloni berbentuk bulat, bening, keruh atau opaque, dan
putih, permukaannya halus mengkilap, tepi rata,dan berlendir, termasuk bakteri gram
negatif, batang pendek, batang, dan oval serta bentuk yang bermacam-macam. Pada
beberapa jenis Azotobacter, memperlihatkan flurosensi hijau. Azotobacter dikenal
sebagai bakteri dengan bentuk sel pleomorfik. Untuk Rhizobium, ciri-cirinya termasuk
bakteri gram negatif, berbentuk bulat memanjang (basil), dan termasuk sel pleomorf.

VIII. DAFTAR PUSATAKA


Pelczar, Michael J. Jr dan E. Cs Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia.
T. Madigan, Michael. 2009. Brock Biology of Microorganisms: Twelfth Edition. United
States: Pearson Benjamin Cummings.
Supriyadi, M. Pengaruh Pupuk Kandang Dan NPK Terhadap Populasi Bakteri Azotobacter
Dan Budidaya Cabai (Capsicum Annum). (www.biosains.mipa.uns.ac.id). 2009.
Wedhastri. Isolasi dan seleksi Azotobacter spp. Penghasil Faktor Tumbuh dan Penambat
Nitrogen dari Tanah Masam. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 2002.
http://aldipatty.blogspot.com/2010/12/fiksasi-nitrogen-oleh-bakteri.html
http://ayufitriastuti17.blogspot.com/2013/11/media-pertumbuhan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_nitrogen
http://riyn.multiply.com/journal/item/43?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0006291X62901195
https://callmecrysant.wordpress.com/tag/bakteri-gram-negatif/