Anda di halaman 1dari 14

Penyakit diare atau gastroenteritis merupakan suatu penyakit

penting disekitar masyarakat yang masih merupakan sebab


utama kesakitan dan kematian seseorang terutama pada
anak.Hal ini tercemin banyak orang yang menderita penyakit
diare atau gastroenteritis yang masuk keluar dari Rumah
Sakit.Akibat dari penyakit diare banyak faktor diantaranya
kesehatan lingkungan, higene perorangan, keadaan gizi, faktor
sosial ekonomi, menentukan serangan penyakit diare, walaupun
banyak kasus diare yang mengalami dehidrasi namun banyak
yang meninggal bila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang
tepat.
Masyarakat pada umumnya selalu menganggap suatu hal
penyakit diare adalah sepele, sedangkan jika mengetahui yang
terjadi sebenarnya banyak penderita diare yang mengalami
kematian. Penyakit gastrointeritis merupakan penyakit yang
harus sege ra ditangani karena dapat mengalami dehidrasi berat
yang mengakibatkan syok hipovolemik dan mengalami
kematian.
Masalah pada penyakit gastrointeritis atau diare yang dapat
mengakibatkan kematian berupa komplikasi lain dan masalah
lain yang berkaitan dengan diare belum sepenuhnya
ditanggulangi secara memadai, namun berbagai peran untuk
mencegah kematian yang berupa komplikasi dan masalah lain
seperti pelayanan kesehatan yang baik dan terpenuhi, dalam
mencegah penyakit diare dengan memberikan pendidikan
kesehatan kepada semua warga masyarakat tentang penyakit
gastroenteriritis serta peran keluarga dan warga sekitarnya
sangat mendorong turunnya terjadinya penyakit gastroenteritis
karena dari keluargalah pola hidup seseorang terbentuk. Dengan
pola hidup yang sehat dan bersih dapat mencegah terjadinya
penyakit gastrointeritis.
Maka dari itu muncul gagasan untuk mengurangi agar tidak
muncul penderita gastroenteritis dengan memberikan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat luas dan dari latar
belakang tersebut penyusun mengambil kasus tersebut sebagai
penyusunan makalah keperawatan medikal bedah dengan judul

gastroenteritis.]
2. Rumusan masalah
Bagaimana memperdalam kajian tentang gastroenteritis

Bagaimana cara merumuskan asuhan keperawatan pada


pasien gastroenteritis.
3. Tujuan
Untuk memperdalam kajian tentang gastroenteritis.

Menambah informasi kepada para pembaca tentang


gastroenteritis.

Merumuskan asuhan keperawatan pada pasien


gastroenteritis.
4. Manfaat
Manfaat penulisan ini antara lain :
Dapat menjelaskan bagaimana asuhan keperawatan dengan
gangguan pencernaan dengan masalah gastroenteritis.

Pembaca dan khususnya penderita gastroenteritis dapat


mengerti apa dan bagaimana gastroenteritis.
Pembaca dapat lebih mengatahui bagaimana cara mencegah
dan menangani gangguan pencernaan: gastroenteritis sehingga
pembaca dapat menerapkannya.

Penulis ingin pembaca luas lebih mengetahui tentang


gangguan pencernaan: gastroenteritis.
Penulis lebih mengetahui dan memahami bagaimana asuhan
keperawatan pada gangguan pencernaan: gastroenteritis.
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Pengertian
Gastroenteritis atau diare akut adalah kekerapan dan
keenceran BAB dimana frekuensinya lebih dari 3 kali
perhari dan banyaknya lebih dari 200 250 gram
(Syaiful Noer, 1996 ). Istilah gastroenteritis digunakan
secara luas untuk menguraikan pasien yang

mengalami perkembangan diare dan/ atau munmtah


akut. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses
inflamasi dalam lambung dan usus.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah
tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100
200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan
atau setengah cair (setengah padat) dapat pula
disertai frekuensi yang meningkat (Arif Mansjoer, 1999
: 501).
Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi lambung
dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri ,
virus, dan pathogen parasitic. Diare adalah defekasi
yang
tidak
normal
baik
frekuensi
maupun
konsistensinya, frekuensi diare lebih dari 4 kali sehari.
2. Anatomi fisiologi
Saluran gastrointestinal yang berjalan dari mulut
melalui esofagus, lambung dan usus sampai anus.
Esofagus terletak di mediastinum rongga torakal,
anterior terhadap tulang punggung dan posterior
terhadap trakea dan jantung. Selang yang dapat
mengempis ini, yang panjangnya kira-kira 25 cm (10
inchi) menjadi distensi bila makanan melewatinya.
Bagian sisa dari saluran gastrointestinal terletak di
dalam rongga peritoneal. Lambung ditempatkan
dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah
tubuh, tepat di bawah diafragma kiri. Lambung adalah
suatu kantung yang dapat berdistensi dengan
kapasitas kira-kira 1500 ml. Lambung dapat dibagi
ke dalam empat bagian anatomis, kardia, fundus,
korpus dan pilorus.
Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran
gastrointestinal, yang jumlah panjangnya kira-kira dua
pertiga dari panjang total saluran. Untuk sekresi dan
absorbsi, usus halus dibagi dalam 3 bagian yaitu
bagian atas disebut duodenum, bagian tengah disebut
yeyunum, bagian bawah disebut ileum. Pertemuan
antara usus halus dan usus besar terletak dibagian
bawah kanan duodenum. Ini disebut sekum pada

pertemuan ini yaitu katup ileosekal. Yang berfungsi


untuk mengontrol isi usus ke dalam usus besar, dan
mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. Pada
tempat ini terdapat apendiks veriformis. Usus besar
terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen,
segmen transversum yang memanjang dari abdomen
atas kanan ke kiri dan segmen desenden pada sisi kiri
abdomen. Yang mana fungsinya mengabsorbsi air dan
elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon.
Bagian ujung dari usus besar terdiri dua bagian. Kolon
sigmoid dan rektum kolon sigmoid berfungsi
menampung massa faeces yang sudah dehidrasi
sampai defekasi berlangsung. Kolon mengabsorbsi
sekitar 600 ml air perhari sedangkan usus halus
mengabsorbsi sekitar 8000 ml kapasitas absorbsi usus
besar adalah 2000 ml perhari. Bila jumlah ini
dilampaui, misalnya adalah karena adanya kiriman
yang berlebihan dari ileum maka akan terjadi diare.
Rektum berlanjut pada anus, jalan keluar anal diatur
oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter
internal dan eksternal.
3. Etiologi
Faktor infeksi
a. Infeksi internal, yaitu saluran pencernaan yang
merupakan penyebab utama diare. Pada sat ini telah
dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis
mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada
anak dan bayi. Penyebab itu dapat digolongkan lagi
kedalam penyakit yang ditimbulkan adanya virus,
bakteri, dan parasit usus. Penyebab utama oleh virus
yang terutama ialah rotavirus (40-60%) sedangkan
virus lainnya ialah virus Norwalk, astrovirus, calcivirus,
coronavirus, minirotavirus dan virus bulat kecil.
Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit itu
adalah
aeromonashidrophilia,
bacillus
cereus,
campylobacter jejuni, clostridium defficile, clostridium

perfringens, E, coli, plesiomonas, shigelloides,


salmonella spp, staphylococcus aureus, vibrio
cholerae, dan yersinia enterocolitica.
Sedangkan penyebab gastroenteritis (diare akut) oleh
parasit
adalah
balantidium
coli,
capillaria
philippinensis, cryptosporidium, entamoeba histolitica,
giarsia lamblia, isospora billi, fasiolapsis buski,
sarcocystis suihominis, strongiloides stercoralis, dan
trichuris trichuria.
b. Bakteri penyebab gastroenteritis (diare akut)
dibagi dalam dua golongan besar, ialah bvakteri non
invasive dan bakteri invasive. Yang termauk dalam
golongan bakteri non invasive adalah : vibrio cholera,
E. coli pathogen (EPEC,ETEC,EIEC). Sedangkan
golongan bakteri invasiv adalah salmonella spp,
shigella spp, E. coli infasif (EIEC), E. coli hemorrhagic
(EHEC) dan camphylobcter. Diare karena bakteri
invasive dan non ihnvasiv terjadi melalui suatu
mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan
transport ion di dalam sel-sel usus berikut ini : cAMP
(cyclic adenosine monophospate), cGMP (cyclic
guaniosin
monophospate),
Ca-dependent
dan
pengaturan ulang sitoskeleton.
c. Infeksi parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain
di luar alat pencernaan seperti : otitis media akut
tonsilopharingitis, dan sebagainya.
4. Insiden
Data departemen kesehatan RI, menyebutkan bahwa
angka kesakitan diare diindonesia saat ini adalah 230330 per 1000 pendududk intuk semua golongan umur
dan 1,6 2,2 episode diare setiap tahunnya untuk
golongan umur balita. Angka kematian diare golongan
umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. Di
laboratorium kesehatan anak RSUD Dr. soetomo pada
tahun 1996 didapatkan 871 penderita diare yang
dirawat dengan dehidrasi ringan 5%, dehidrasi sedang
7,1%, dan dehidrasi berat 23 %.tahun 2000 terdapat
1160 penderita diare yang dirawat dengan 227 (19,56

%) penderita yang meninggal karena dehidrasi.

5. Komplikasi
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
6. Patogenesis
Diare akut akibat infeksi( gastro enteritis) terutama
dilakukan secara fekal oral. Hal ini disebabkan
masukan
minuman
atau
makanan
yang
terkontaminasi tinja ditambah dengan ekskresi yang
buruk, makanan yang tidak matang, bahkan yang
disajikan tanpa dimasak penularannya transmisi orang
ke orang melalui aerosolisasi (Norwalk, rotavirus),
tangan yang terkontaminasi (clostridium difficille),
atau melalui aktivitas seksual. Faktor penentu
terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent)
dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah
kemampuan
pertahanan
tubuh
terhadap
mikroorganisme, yaitu faktor daya tahan tubuh atau
lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman
lambung, motilitas lambung, imunitas juga mencakup
lingkungan mikroflora usus. Faktor penyebab yang
mempengaruhi
patogenesis
antara
lain
daya
penetrasi, yang merusak sel mukosa, kemampuan
memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi
cairan di usus serta daya lekat kuman. Kuman
tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat
menginduksi diare patogenesis diare disebabkan
infeksi bakteri terbagi dua yaitu:
1. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)
Bakteri masuk kedalam makanan atau minuman yang

tercemar oleh bakteri tersebut. Bakteri kemudian


tertelan dan masuk kedalam lambung, didalam
lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung,
namun bila jumlah bakteri terlalu banyak maka akan
ada yang lolos kedalam usus 12 jari (duodenum). Di
dalam duodenum bakteri akan berkembang biak
sehingga jumlahnya mencapai 100 juta koloni atau
lebih per ml cairan usus. Denan memproduksi enzim
muicinase bakteri berhasil mencairkan lapisan lendir
yang menutupi permukaan sel epitel usus sehingga
bakteri dapat masuk ke dalam membrane (dinding sel
epitel). Di dalam membrane bakteri mengeluarkan
toksin yang disebut sub unit A dan sub unit B. sub unit
B melekat di dalam membrane dari sub unit A dan
akan bersentuhan dengan membrane sel serta
mengeluarkan cAMP (cyclic Adenosin Monophospate).
cAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus di
bagian kripta vili dan menghambat absorbsi cairan di
bagian kripta vili, tanpa menimbulkan kerusakan sel
epitel tersebut. Sebagai akibat adanya rangsangan
sekresi cairan dan hambatan absorbsi cairan tersebut,
volume cairan didalam lumen usus akan bertambah
banyak. Cairan ini akan menyebabkan dinding usus
menggelembung dan tegang dan sebagai reaksi
dinding usus akan megadakan kontraksi sehingga
terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk
mengalirkan cairan ke baeah atau ke usus besar.
Dalam keadaan normal usus besar akan meningkatkan
kemampuannya
untuk
menyerap
cairan
yang
bertambah banyak, tetapi tentu saja ada batasannya.
Bila jumlah cairan meningkat sampai dengan 4500 ml
(4,5 liter), masih belum terjadi diare, tetapi bila jumlah
tersebut melampaui kapasitasnya menyerap, maka
akan terjadi diare.
2. Bakteri enteroinvasif
Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa
nekrosis dan ulserasi, dan bersifat sekretorik eksudatif.
Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah.
Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah

Enteroinvasif E. Coli (EIEC), S. Paratyphi B, S.


Typhimurium, S. Enteriditis, S. Choleraesuis, Shigela,
Yersinia dan Perfringens tipe C.
Penyebab diare lainnya, seperti parasit menyebabkan
kerusakan berupa usus besar (E. Histolytica)
kerusakan vili yang penting menyerap air, elektrolit
dan zat makanan (lamdia) patofisologi kandida
menyebabkan gastroenteritis belum jelas, mungkin
karena superinfeksi dengan jasad renik lain.
Mekanisme yang dilakukan virus masih belum jelas
kemungkinan dengan merusak sel epitel mukosa
walaupun hanya superfisial, sehingga mengganggu
absorpsi air, dan elektrolit. Sebaliknya sel-sel kripti
akan berpoliferasi dan menyebabkan bertambahnya
sekresi cairan ke dalam lumen usus. Selain itu terjadi
pula
kerusakan
enzim-enzim
disakarida
yang
menyebabkan intoleransi yang akhirnya memperlama
diare.
7. Gejala Klinik
Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami
nausea, muntah, nyeri perut sampai kejang perut,
demam dan diare terjadi renjatan hipovolemik harus
dihindari kekurangan cairan menyebabkan pasien
akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol,
turgor kulit menurun, serta suara menjadi serak,
gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan
menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan
dalam (pernafasan kusmaul). Bila terjadi renjatan
hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari
120 kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur,
pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstremitas dingin
dan kadang sianosis, kekurangan kalium dapat
menimbulkan aritmia jantung. Perfusi ginjal dapat
menurun sehingga timbul anuria, sehingga bila
kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul
penulit berupa nekrosis tubular akut.

Secara klinis dianggap diare karena infeksi akut dibagi menjadi


dua golongan pertama, kolerifrom, dengan diare yang terutama

terdiri atas cairan saja. Kedua disentriform, pada saat diare


didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.
8. Pengobatan dan pencegahan Gastroenteritis
Umumnya, gastroenteritis virus didiagnosa oleh dokter
berdasarkan gejala dan pemeriksaan medis pasien. Rotavirus
infeksi dapat didiagnosis dengan menggunakan :
1.Tes laboratorium dari spesimen tinja.
Tes untuk mendeteksi virus lain yang menyebabkan
gastroenteritis tidak digunakan rutin, namun unit Gastroenteritis
virus pada CDC dapat membantu dengan analisa khusus
berdasarkan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Yang paling penting dari memperlakukan Gastroenteritis virus
pada anak-anak dan orang dewasa adalah untuk mencegah
kehilangan berat cairan (dehidrasi). Perawatan ini harus dimulai
di rumah. Dokter Anda mungkin memberikan petunjuk spesifik
tentang
apa
jenis
cairan
untuk
memberi.
CDC
merekomendasikan bahwa keluarga dengan bayi dan anak-anak
menjaga pasokan larutan rehidrasi oral (ORS) di rumah setiap
saat dan menggunakan solusi ketika diare pertama terjadi pada
anak. Oralit tersedia di apotek tanpa resep. Ikuti petunjuk
tertulis di paket oralit, dan penggunaan air bersih atau direbus.
Obat-obatan, termasuk antibiotik (yang tidak berpengaruh pada
virus) dan perawatan lainnya, harus dihindari kecuali secara
khusus direkomendasikan oleh dokter.
Orang dapat mengurangi kesempatan mereka terinfeksi
oleh :
1.sering cuci tangan,
2.desinfeksi segera permukaan terkontaminasi dengan
pembersih pemutih klorin berbasis rumah tangga, dan
3.segera mencuci pakaian kotor artikel.
Jika makanan atau air yang dianggap terkontaminasi, itu harus
dihindari.

Gastroenteritis Rotavirus juga dapat dicegah dengan vaksin.


Saat ini ada dua vaksin rotavirus tersedia lisensi yang
melindungi terhadap diare berat dari infeksi rotavirus pada bayi
dan anak-anak muda. Vaksin ini diberikan kepada anak-anak di
tahun pertama mereka hidup dengan vaksin anak lainnya.
9. Penatalaksanaan
Ketiga dasar pengobatan tersebut dijelaskan sebagai
berikut :
1. Pemberian cairan pada pasien diare dengan
memperhatikan
derajat
dehidrasinya
dan
keadaan umum.
Jenis cairan
v Cairan peroral :
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang atau
tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta
kesadaran baik diberikan peroral berupa cairan yang
berisi NaCl dan NaHCO3, KCI dan glukosa. Formula
lengkap sering disebut juga oralit. Cairan sederhana
yang
dapat
dibuat
sendiri
(formula
tidak
lengkap)hanya mengandung garam dan gula (NaCl
dan sukrosa), atau air tajin yang diberi garam dan gula
untuk pengobatan sementara sebelum di bawah
berobat ke rumah sakit pelayanan kesehatan untuk
mencegah dehidrasi lebih jauh.
v Cairan parenteral :
1. Belum ada dehidrasi
Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas tiap
defekasi.
2. Dehidrasi ringan
1 jam pertama : 25 50 ml/kg BB per oral
(intragastrik). Selanjutnya : 125 ml/kg BB /hari.
3. Dehidrasi sedang
1 jam pertama : 50 100 ml/kg BB peroral
/intragastrik (sonde). Selanjutnya ; 125 ml/kg BB/hari.
4. Dehidrasi berat

(a).Untuk anak umur 1 bulan 2 tahun, berat badan 3


10 kg. yaitu 1 jam pertama : 40 ml/kg BB / jam = 10
tetes / kg BB /menit (set infus berukuran 1 ml = 15
tetes) atau 13 tetes / kg BB /menit (set infus 1 ml : 20
tetes). 7 jam berikutnya : 12 ml /kg BB/jam = 33
tetes / kg BB/ m atau 4 tetes / kg BB/menit. 16 jam
berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau
intragastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan
dengan intravena 2 tetes/.kg BB/menit atau 3
tetes/kgBB/menit.
(b).Untuk anak lebih dari 25 tahun dengan BB 10 15
kg :
1 jam pertama : 30 ml /kg BB/jam = 8
tetes/kgBB/menit. atau 10 tetes/kgBB/menit.
7 jam berikutnya : 10 ml /kg BB /jam = 3 tetes/kgBB/
menit. atau 4 tetes/kgBB/menit.
16 jam berikutnya : 125 ml /kg BB oralit peroral atau
intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat
diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/m,
atau 3 tetes/ kgBB/m.
(c).Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2 3
kg.
Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml
/kg bb /24 jam. Jenis cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 %
+ 1 bagian NaHCO3 1 %) dengan kecepatan 4 jam
pertama = 25 ml / kg BB /jam atau 6
tetes/kgBB/menit., 8 tetes/kgBB/ menit. 20 jam
berikutnya 150 ml /kg BB /20 jam = 2 tetes/kgBB/
menit. atau 2 tetes/kgBB/menit.

2.Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun
dengan BB kurang dari 7 kg jenis makanan :
a. Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung
laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh).

b. Makanan setengah padat (bubur) atau makanan


padat (nasi tim).
c. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan
yang ditemukan.
Cara memberikannya :
a.Hari pertama : setelah dehidrasi segera diberikan
makanan peroral. Bila diberi ASI/susu formula tapi
masih diare diberikan oralit selang-seling.
b. Hari kedua keempat : ASI /susu formula rendah
laktosa penuh.
c. Hari kelima : bila tidak ada kelainan pasien
dipulangkan. Kembali susu atau makanan biasa.
3.Obat-obatan
a.Obat anti sekresi : dosis 25 mg /tahun dengan dosis
minimum 30 mg. Klorpromazin dosis
0,5 1 mg /kg bb /hari.
b. Obat spasmolitik.
c. Antibiotik (Ngastiyah, 1997).
10. Prinsip
Pengobatan
Dan
Managemen
Perawatan.
a.
Pengobatan tergantung pada derajat
dehidrasi.
Dehidrasi ringan ada kemungkinan lebih disukai untuk
merawat anak di rumah, asal diberikan perawatan
medis tang efesien.
a.
Dihentikannya pemberian susu yang diganti
dengan campuran glucose elektrolit (dioralite).
b. Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang
hari dan setiap 4 jam selama malam hari, dilanjutkan
selama 24 jam.
c. Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali,
jika diberikan jumlah kecil (15 ml susu krim separuh)
setiap 4 jam dengan salin antara waktu makan.
d. Dengan ditingkatkannya pemberian susu, jumlah
campuran glucose elektrolit diturunkan secara
berimbang.
e.
Sucrose hanya ditambahkan jika feces mulai

berbentuk
Dehidrasi ringan. Pada kasus ini, gambaran klinik
ditegakkan secara baik danbayi mulai dirawat :
a. Dihentikannya pemberian susu.
b.
Penggantian deficit cairan danelektrolit serta
koreksi gangguan asam basa. Ini didasarkan pada
penilaian klinis, atau pada rekaman kehi,angan berat
badanterakhir. Pergantian dapat dilakukan baik peroral
atau intravena dan akan tergantung pada kehilangan
air dan elektrolit melalui diare.
c. Perawatan bayi dengan terapi intra vena
d. Pemeriksaan biokimia dan obsevasi klinis untuk
menentukan status elektrolit
e.
Dimulainya pemberian cairan peroral secara
perlahan lahan untuk kmenentukan kemampuan
menerima cairan.
f.
Dimulainya pemberian susu secara berangsurangsur seperti yangdiuraikanuntuk dehidrasi ringan.
g.
Penimbangan
berat
badan
harian
dan
pengumpilan urin harian.
Dehidrasi parah. Bayi dalamkedaan sakit parah
dengan kegagalan sirkulasi :
a. Infuse intravena dengan larutan yang sesuai dan
masukan cairan dengan peningkatan yang seksama.
b.
Infuse plasma untukmenggantikan penurunan
volume plasma
c.
Koreksi asidosis merabolik dengan pemberian
secara intravena 8,4 % natrium bikarbonat dengan
penilaian kembali status asam basa.
d.
Jika suatu elektrolit dan cairan telah dikoreksi,
secara berangsur-angsur susu diberikan kembali
seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan.
e.
Selama fase akut, bayi dirawat dalam
incubator. Diberikan oksigen dan bayi diobservasi
secara seksama, karena penurunan kadar kalium
serum menimbulkan perubahan aktivitas jantung, dan
peningkatan kadar kalium secara cepat membawa

resiko henti jantung.


b. Perawatan rutin
a.
Pemberian obat-obatan, terutama antibiotika
untuk mengatasu kuman infeksi . jika muntah parah,
obat-obatan yang sesuai, seperti kloramfenikol atau
streptomisin, dapat diberikan secara parenteral.
b.
Isolasi bayi dan pengertian akan proses infeksi
silang serta pencegahannya.
c.
Perawatan bokong anak. Feces yang encer akan
menyebabkan kemerahan dan ekskoriasi kulit. Bayi
tidak boleh ditinggal berbaring dengan popok yang
basah dan kotor. Area popok dibasuh secara lebih dan
diberikan krim pelindung. Meninggalkan bokong dalam
kedaan terpapar merupakan cara yang terbaik untuk
mendorong terjadinya penyembuhan.
d. Inspeksi dan perawatan mulit bayi.
e. Dukungan bagi orang tua. Jika terdapat bukti tidak
adanya pengertian dalam hal perawatan anak,ibu
harusdidorong untuk tinggal bersama anak. Perawatan
dapat diawasi dan diberikan bantuan. Walaupun
demikian, harus diingat bahwa banyak bayi
yangmenderita gastroenteritis kendatipun perawatan
bayi yang bhaik, dan orang tua tidak boleh disalahkan
karena keadaan ini.
f. Persiapan pulang ke rumah. Segera setelah
petunjuk pemberian makanan mencapai tingkat sesuai
umur dan kebutuhan anak, dan jika terjadi
pertambahan berat badan anak yang memuaskan dan
tidak terdapat muntah atau feces yang encer, maka
anak dizinkan pulang. Orang tua diminta untuk datang
ke unit rawat jalan untuk mengubungi dokter umum
untuk menilai kemajuan bayi.