Anda di halaman 1dari 9

1.

Pengertian yayasan
Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan dalam mencapai tujuan tertentu dibidang sosial, keagamaan, dan
kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota. Yayasan dapat mendirikan badan usaha
yang kegiatannya sesuai dengan maksud dan tujuan yayasan. Adapaun pihak-pihak yang
terkait dengan yayasan yaitu :
1) Pengadilan negeri
Pendirian yayasan didaftarkan ke pengadilan negeri
2) Kejaksaan
Kejaksaan negeri dapat mengajukan permohonan pembubaran yayasan kepada
pengadilan jika yayasan tidak menyesuikan anggaran dasar dalam jangka waktu
yang ditentukan.
3) Akuntan publik
Laporan keuangan yayasan diaudit oleh akuntan public yang memiliki izin
menjalankan pekerjaan sebagai akuntan publik
Yayasan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Inndonesia.
Kekayaan dapat diperoleh dari :
a. Sumbangan/ bantuan yang tidak mengikat
b. Wakaf
c. Hibah
d. Hibah wasiat
e. Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan atau peraturan
perundangan yang berlaku.
Yayasan asing yang tidak berbadan hukum Indonesia dapat melakukan kegiatannya di
wilayah Negara Republik Indonesia, jika kegiatan yayasan tersebut tidak merugikan
masyarakat, bangsa, dan negara.
2. Syarat pendirian yayasan
Pendirian suatu yayasan berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 mengenai
yayasan, yang diubah dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2004, diatur dalam pasal 9
UU No. 16/2001, yaitu :
1) Minimal didirikan oleh satu orang atau lebih
Yang dimaksud dengan satu orang bisa berupa orang perorangan, bisa juga berupa
badan hukum. Pendiri yayasan boleh WNI, tapi juga boleh orang asing. Namun
demikian, pendirian yayasan oleh orang asing atau bersama-sama dengan orang
asing akan ditetapkan lebih lanjut dalam peraturan pemerintah (pasal 9 ayat 5).
2) Pendiri tersebut harus memisahkan kekayaan pribadinya dengan kekayaan yayasan
Hal ini sama seperti PT dimana pendiri menyetorka sejumlah uang kepada yayasan,
untuk kemudian uang tersebut selanjutnya menjadi modal awal/ kekayaan yayasan
3) Dibuat dalam bentuk akta notaris
Yang kemudian diajukan pengesahannya pada Menteri Kehakiman dan Hak Asasi
Manusia, serta diumumkan dalam berita negara Republik Indonesia.

Selain dari ketiga syarat di atas terdapat pula syarat lain dalam pendirian yayasan yaitu :
1) Yayasan terdiri atas Pembina, pengurus, dan pengawas
2) Yayasan didirikan oleh satu orang atau lebih dengan memisahkan sebagian harta
kekayaan pendirinya sebagai kekayaan awal
3) Pendiri yayasan dilakukan dengan akta notaris dan dibuat dalam bahasa Indonesia
4) Yayasan dapat didirikan berdasarkan surat wasiat
5) Yayasan yang didirikan oleh orang asing atau bersama orang asing, mengenai syarat
dan tata cara pendiriannya diatur dengan peraturan pemerintah
6) Yayasan memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian yayasan
memperoleh pengesahan oleh menteri
7) Yayasan tidak boleh memakai nama yang :
Telah dipakai secara sah oleh yayasan lain
Bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan
8) Nama yayasan harus didahului kata Yayasan
9) Yayasan dapat didirikan untuk jangka waktu tertentu atau tidak tertentu yang diatur
dalam anggaran dasar
3. Proses Pendirian Yayasan
Untuk melengkapi legalitas suatu yayasan, maka diperlukan ijin-ijin standar meliputi :
1) Surat keterangaan domisi perusahaan (SKDP) dari kelurahan atau kecamatan
setempat
2) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama yayasan
3) Ijin dari dinas sosial, diperlukan apabila yayasan melaksanakan kegiatan-kegiatan
sosial
4) Ijin/terdaftar di Departemen Agama untuk yaysan yang besifat keagamaan
Pendirian yayasan pada saat ini harus diikuti dengan tujuan yang benar-benar besifat
sosial. Karena sejak berlakunya UU No. 16 Tahun 2001, maka yayasan tidak bisa
digunakan sebagai sarana kegiatan yang bersifat komersil dan harus murni bersifat sosial.
Sesuai dengan UU RI No. 28 tahun 2004 tentang yayasan, disebutkan bahwa
organisasi yayasan terdiri atas :
1) Pembina
Pembina adalah bagian dari yayasan yang mempunyai kewenangan yang
diserahkan kepada pengurus atau pengawas oleh UU atau AD. Anggota Pembina
adalah pendiri yayasan atau mereka yang berdasarkan rapat anggota Pembina
dinilai memiliki dedikasi tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan.
2) Pengurus
Pengurus adalah bagian dari yayasan yang melaksanakan kepengurusan yayasan..
susunan pengurus yayasan sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan
bendahara. Adapun hak dari pengurus yaitu :
a. Menetapkan kebijaksanaan dalam memimpin dan mengurus organisasi
b. Mengatur ketentuan-ketentuan tentang organisasi termasuk menetapkan
iuran tetap dan iuran wajib anggota organisasi dengan memperhatikan
ketentuan yang berlaku

c. Menjalankan tindakan-tindakan lainnya baik mengenai pengurus maupun


pemilikan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Anggaran
Dasar Rumah Tangga ini dan ditetapkan oleh rapat anggota berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain itu ada pula kewajiban dari pengurus yaitu :
a. Mengusahakan dan menjamin terlaksananya kegiatan organisasi sesuai
dengan maksud dan tujuan serta kegiatan organisasi
b. Menyiapkan pada waktunya rencana pengembangan organisasi, rencana
kerja dan anggaran tahunan organisasi termasuk rencana-rencana lainnya
yang berhubungan dengan pelaksanaan organisasi.
c. Mengadakan dan memelihara pembukuan dan administrasi organisasi
sesuai dengan kelaziman yang berlaku bagi organisasi.
d. Memberikan pertanggungjawaban dan segala kepentingan tentang
keadaan dan jalannya organisasi berdasarkan laporan tahunan termasuk
perhitungan pada rapat anggota
e. Menyiapkan susunan organisasi lengkap dengan perincian tugasnya
f. Menjalankan kewajiban-kewajiban lain sesuai dengan ketentuanketentuan yang diatur dalam Anggaran Dasar Rumah Tangga dan
ditetapkan oleh rapat anggota berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3) Pengawas
Pengawas adalah bagian yayasan yang bertugas melakukan pengawasan serta
melakukan nasehat kepada pengurus dalam menjalankan kegiatan pengurus.
Pengawas yayasan diangkat oleh Pembina dan merupakan orang yang mampu
melakukan tindakan hukum.
Suatu yayasan dikatakan berakhir sebagai badan hukum apabila berdasarkan :
Pasal 62
a) Jangka waktu berakhir
b) Tujuan yayasan telah tercapai atau tidak tercapai
c) Putusan pengadilan karena melanggar ketertiban umum, tidak mampu

membayar hutang, atau harta kekayaan tidak cukup untuk melunasi utang
Pasal 63
a) Likuidator yaitu pihak yang membereskan kekayaan yayasan
b) Pembina yang menunjuk likuidator
c) Pengurus selaku likuidator
d) Selama proses likuidasi, dicantumkan frase dalam likuidasi di belakang
nama yayasan
Pasal 68
a) Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan pada yayasan lain yang
mempunyai kesamaan kegiatan

b) Jika tidak, maka kekayaan hasil likuidasi tersebut diserahkan kepada


negara dan penggunaanya dilakukan sesuai dengan kegiatan yayasan yang
bubar
Bentuk-bentuk usaha yayasan meliputi :
Sektor pendidikan formal atau non formal
Sektor social
Organisasi kemasyarakatan
Sektor kesehatan
Yayasan diperkenankan memiliki badan usaha dibawah yayasan, yang hasil
operasinya digunakan untuk kepentingan yayasan
4. Akuntansi Yayasan
Tidak ada PSAK khusus yang mengatur standar akuntansi untuk yayasan dan PSAK
yang paling cocok digunakan untuk sementara waktu digunakan adalah PSAK 45 tentang
organisasi nirlaba. Macam-macam basis akuntansi yang digunakan dalam laporan
keuangan yayasan adalah :
a. Basis kas
Dalam akuntansi basis kas, pencatatan transaksi dilakukan apabila ada aliran
uang maka kita tidak akan melakukan pencatatan suaatu transaksi jika belum ada
aliran uang yang diterima atau dikeluarkan. Pencatatan penerimaan pad akas atau
bank apabila ada aliran uang ke dalam kas atau bank yang dipeerlakukan sebagai
pendapatan atau pengeluaran kas apabila ada aliran uang ke luar dari kas atau
bank diperlakukan sebagai beban atau biaya. Kelemahan akuntansi bebasis kas
adalah kurang menggambarkan kejadian ekonomis laporan keuangan.
Akuntansi basis kas banyak diterapkan oleh organisasi nirlaba karena alasan
kepraktisan, tanpa mengetahui lebih dalam pengaruh atas penggunaan basis kas
dengan pilihan basis kas banyak sekali kejadian transaksi yang terjadi tetapi
belum diterima atau dikeluarkan uangnya yang tidak dicatat dan rawan terhadap
kesalahan.
b. Basis akrual
Akuntasi basis akrual, pencatatan suatu transaksi tanpa memperhatikan apakah
terdapat aliran uang masuk atau keluar pada saat kejadian transaksi, pengaruh
dari suatu kejadian transaksi langsung diamati pada saat terjadinya transaksi.
Menuruk PSAK organisasi diasumsikan akan terus hidup untuk jangka waktu
yang panjang, sehingga pencatatan yang dilakukan harus menggunakan basis
akrual.
PSAK 45 tidak spesifik mengatur tentang akuntansi yayasan, melainkan mengatir
tentang akuntansi untuk organissasi nirlaba. PSAK 45 juga tidak menyatakan dengan
pasti bahwa akuntansi yang diatur di dalamnya ditentukan berdasarkan sistem dana,

namun apabila dicermati terlihat seperti sistem dana. Dana dalam PSAK 45 bersifat
single entity, yaitu hanya jenis laporan untuk masing-masing kategori yaitu satu nerasa,
satu laporan aktivitas, satu laporan arus kas. Semua unsur rekenin masuk dalam neraca,
seperti aktiva lancar, aktiva tetap, utang jangka panjang, utang jangka pendek, dan aktiva
bersih. Aspek yang membuat PSAK 45 seperti sistem dana terletak pada ketentuan
sebagai berikut :
Sumber penerimaan dari pihak lain, donator atau pemerintah, yang ada ketentuan

terbatas atau tidak terbatas dalam penggunaannya harus dipisahkan rekeningnya.


Aktiva bersih dikelompokan dalam berbagai rekening seperti aktiva bersih terikat

permanen, aktiva bersih terikat temporer, dan aktiva bersih tidak terikat.
Pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumber dana yang ditetapkan oleh
penyumbang agar sumber daya tersebut dipertahankan secara permanen, tetapi organisasi
diijinkan untuk menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat ekonomi
lainnya yang berasal dari sumber daya tersebut. Pembatasan temporer adalah pembatasan
penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumber aya tersebut
dipertahankan sampai dengan periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan
tertentu. Sumbangan terikat adalah sumber daya yang penggunaannya dibatasi untuk
tujuan tertentu oleh penyumbang, pembatasan tersebut dapat bersifat permanen atau
temporer. Sumbangan tidak terikat adalah sumber daya yang penggunaannya tidak
dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang.
Dalam pencatatan jurnal pada yayasan tidak jauh berbeda dengan pencatatan
jurnal pada umumya. Untuk lebih jelasnya berikut beberapa contoh pencatatan jurnal
pada yayasan.
Pendapatan sumbangan
Tanggal 19 April 2005 yayasan menerima sumbangan dari perseorangan dan korporasi
sebesar Rp 50 juta untuk korban bencana alam
Kas
Pendapatan sumbangan

50.000.000
50.000.000

Pendapatan grants atau hibah


Tanggal 15 Juli 2005 yayasan menerima dana hibah sebesar Rp 500 juta via transfer bank
ke rekening bank lembaga (Bank Cari Artha)
Bank Cari Artha
Pendapatan hibah

Pendapatan sewa training center

500.000.000
500.000.000

Tanggal 5 Agustus 2005 yayasan menerima pembayaran sewa gedung training centre dari
PT AKU CINTA ILMU untuk 10 hari sebesar Rp 10 juta dipotong pajak 10% secara
tunai.
Kas
9.000.000
Pajak 10%
1.000.000
Pendapatan sewa gedung
10.000.000
Biaya fundraising
Tanggal 1 April 2005 yayasan membuat kegiatan bazzar dan pengumpulan dana untuk
korban bencana alam sebagai berikut : biaya cetak brosur 500 buah Rp 1,5 juta, biaya
transportasi lokal ke bazaar Rp 500 ribu, biaya sewa lokasi bazzar Rp 5 juta. Untuk sewa
tempat, yayasan memungut pajak sebesar 10% atau Rp 500 ribu
Biaya cetak brosur
1.500.000
Biaya transportasi lokal
500.000
Biaya sewa lokasi bazzar
5.000.000
Hutang pajak
500.000
Kas
6.500.000
Pembelian aktiva tetap
Tanggal 2 April 2005 yayasan membeli aset sebagai berikut : meja kelas 100 unit Rp 10
juta, kursi kelas 200 unit Rp 10 juta, papan tulis 5 unit Rp 1 juta dan peralatan
laboratorium Rp 7,5 juta. Kebijakan direksi menyatakan bahwa smua peralatan dan
aktiva unit sekolah dicatat di yayasan
Meja kelas
Kursi kelas
Papan tulis
Peralatan laboratorium
Bank Cari Artha

Contoh formal laporan keuangan yayasan


Organisasi Nirlaba
Laporan Posisi Keuangan
31 Desember 2005
(dalam jutaan)

10.000.000
10.000.000
1.000.000
7.500.000
28.500.000

Aktiva :
Kas

Rp

188

Piutang bunga

5.325

Persediaan dan biaya dibayar dimuka

1.525

Piutang lain-lain

7.562

Investasi lancar

3.500

Aktiva terikat untuk investasi dalam tanah, bangunan, dan peralatan


Investasi jangka panjang
Jumlah aktiva

13.025
Rp

545.175
730.550

Rp

6.425

Kewajiban dan Aktiva Bersih :


Hutang dagang
Hutang lain-lain

2.187

Hutang wesel
Kewajiban tahunan
Hutang jangka panjang
Jumlah Kewajiban

4.213
Rp

13.750
26.575

Rp

288.070

Aktiva Bersih :
Tidak terikat
Terikat temporer

60.885

Terikat permanen
Jumlah aktiva bersih
Jumlah kewajiban dan aktiva bersih

355.050
703.975
Rp

730.550

Organisasi Nirlaba
Laporan Aktivitas
Untuk Tahun Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2005
(dalam jutaan rupiah)
Perubahan aktiva bersih tidak terikat :
Pendapatan dan penghasilan :
sumbangan
Rp
jasa layanan
penghasilan investasi jangka panjang
penghasilan investasi lain-lain

21.600
13.500
14.000
2.125

penghasilan bersih investasi jangka panjang belum direalisasi


Lain-lain
Jumlah pendapatan dan penghasilan bersih tidak terikat
Aktiva bersih yang berakhir pembatasannya :
pemenuhan program pembatasan
pemenuhan pembatasan pemerolehan peralatan
berakhirnya pembatasan waktu
Jumlah aktiva yang telah berakhir pembatasannya
Jumlah pendapatan, penghasilan dan sumbangan lain
Beban dan kerugian :
program A
program B
program C
manajemen dan umum
pencairan dana
Jumlah beban
kerugian akibat kebakaran
Jumlah beban dan kerugian
Kenaikan jumlah aktiva bersih tidak terikat
Rp
Perubahan aktiva bersih terikat temporer :
sumbangan
Rp
penghasilan investasi jangka panjang
penghasilan bersih terealisasikan dan belum terealisasikan dari
investasi jangka panjang
kerugian actuarial untuk kewajiban tahunan
aktiva bersih terbebaskan dari pembatasan
penurunan aktiva bersih terikat temporer
Perubahan dalam aktiva bersih terikat permanen :
sumbangan
penghasilan dari investasi jangka panjang
penghasilan bersih terealisasikan dan belum terealisasikan dari
investasi jangka panjang
Kenaikan aktiva bersih terikat permanen
Kenaikan aktiva bersih
Aktiva bersih pada awal tahun
Aktiva bersih pada akhir tahun
Rp

20.570
375
72.170
29.975
3.750
3.125
36.850
109.020
32.750
21.350
14.400
6.050
5.375
79.925
200
80.125
28.895
20.275
6.450
7.380
(75)
(36.850)
(2.820)
700
300
11.550
12.550
38.625
665.350
703.975

Organisasi Nirlaba
Laporan Arus Kas
Untuk Tahun yang Berakhir Pada Tanggal 31 Desember 2005
Aliran kas dari aktivitas operasi :
kas dari pendapatan jasa
Rp13.050,0
kas dari penyumbang
20.075,0
kas dari piutang lain-lain
6.537,5
bunga dan dividen yang diterima
21.425,0
penerimaan lain-lain
375,0

bunga yang dibayarkan


kas yang dibayarkan kepada karyawan dan supplier
hutang lain-lain yang dilunasi
Kas bersih yang diterima dari aktivitas operasi
Aliran kas dari aktivitas investasi :
ganti rugi dari asuransi kebakaran
pembelian peralatan
penerimaan dari penjualan investasi
pembelian investasi
Kas bersih yang diterima untuk aktivitas investasi
Aliran kas dari aktivitas pendanaan
Penerimaan dari kontribusi berbatas dari :
investasi dalam endownment
investasi dalam endownment berjangka
investasi bangunan
investasi perjanjian tahunan
Aktivitas pendanaan lain :
bunga dan dividen berbatas untuk reinvestasi
pembayaran kewajiban tahunan
pembayaran hutang wesel
pembayaran kewajiban jangka panjang
Kas bersih dari aktivitas pendanaan
Kenaikan (penurunan) bersih dalam kas dan setara kas
Kas dan setara kas pada awal tahun
Kas dan setara kas pada akhir tahun

(955,0)
(59.520,0)
(1.063,5)
(75,0)
625,0
(3.750,0)
190.250,0
(187.250,0)
(125,0)

500,0
175,0
3.025,0
500,0
750,0
(363,0)
(2.850,0)
(2.500,0)
(4.962,5)
(762,5)
(962,5)
1.150,0
187,5

Anda mungkin juga menyukai