Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker merupakan suatu penyakit sel yang di tandai dengan hilangnya
fungsi kontrol sel terhadap regulasi daur sel pada organisme multiseluler.
Penyebab penyakit ini diduga karena peningkatan industri, perubahan pola
makan maupun gaya hidup. Kanker juga merupakan penyakit yang paling
ditakuti karena disamping biaya pengobatan yang sangat mahal, penyakit ini
selalu mengakibatkan penderitaan bahkan kematian bagi orang yang
menderitanya.
Penyakit kanker dapat menyerang semua tingkatan sosial dalam
masyarakat dan semua umur. Kanker telah menjadi masalah kesehatan serius di
Indonesia. Insidennya semakin meningkat. Di dunia, diperkirakan 7,6 juta
orang meninggal akibat kanker pada tahun 2005(WHO,2005) dan 84 juta orang
akan meninggal hingga 15 tahun ke depan. Kanker merupakan penyebab
kematian no. 6 di Indonesia(depkes, 2003) dan diperkirakan terdapat 100
penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per tahunnya. Berbagai
faktor yang dapat mempengaruhi angka kejadian kanker antara lain faktor
geografis(misal kanker serviks lebih banyak di negara asia), suku bangsa,
variasi genetik, jenis kelamin(misal kanker payudara pada wanita) dan
pengaruh lingkungan(makanan, pola hidup). Padahal sebenarnya kematian
akibat kanker dapat dihindari.
Kanker prostat merupakan keganasan yang terjadi pada organ prostat
yang hanya ditemui pada pria. Di Jepang, dilaporkan sebanyak 39 penderita per

100.000 orang dan di China hanya 28 penderita per 100.000 orang mengalami
penyakit ini (Pienta,1998 dalam Umar dan Agoes, 2002). Pada akhir tahun
2006, di Inggris kanker prostat menyumbang 36% dari prevalensi kanker yang
sama. Pada tahun 2008 menurut GLOBOCAN (International Agency for
Research on Cancer World Health Organization) Prostat menduduki peringkat
ke -3 kanker yang paling sering terjadi pada laki laki setelah kanker paru dan
kolorektal. Ini menunjukkan bahwa kanker prostat merupakan jenis kanker
yang memerlukan penanganan khusus. Di Indonesia, pada tahun 1992 saja
sudah disimpulkan bahwa kanker prostat menduduki urutan ke 9 dengan 310
kasus baru (4,07%) dari 10 kasus kanker yang diperoleh dari laporan berbagai
rumah sakit. Disimpulkan pula bahwa pada laki laki di atas usia 65 tahun,
kanker prostat menempati urutan ke 2 dengan 202 kasus (12,31%)
(Sarjadi,1999 dalam Boedi-Darmojo,R.Martono, 1999). Pada tahun 2010 di
Amerika, organ prostat menduduki peringkat pertama dalam perkiraan
ditemukannya kasus baru kanker yaitu sebanyak 217.730 (28%) dan perkiraan
kematian sebanyak 32.050 (11%),

Diperkirakan 1 dari 4 jenis kanker yang

baru didiagnosa pada pria ditemukan di Amerika. Kanker prostat umumnya


tidak menunjukkan gejala khas. Karena itu, sering terjadi keterlambatan
diagnosa.
Gejala yang ada umumnya sama dengan gejala pembesaran prostat
jinak atau Benign Prostate Hyperplasia (BPH), yaitu buang air kecil
tersendat/tidak lancar. Keluhan dapat juga berupa nyeri tulang dan gangguan
saraf. Dua keluhan itu muncul bila sudah terjadi penyebaran hingga tulang
belakang. Penyebab kanker prostat tidak diketahui secara tepat, meskipun

beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara diet tinggi lemak


dengan peningkatan kadar hormon testosteron. Pada bagian lain, Rindiastuti
(2007) misalnya menyimpulkan bahwa usia lanjut mengalami penurunan
beberapa unsur esensial tubuh seperti kalsium (Ca) dan vitamin D. Tetapi pola
makan dengan Ca tinggi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker
prostat pada usia lanjut.
Resiko terjadinya kanker prostat ditentukan oleh dua hal yaitu faktor
genetik dan faktor lingkungan. Faktor risiko lain yang tidak kalah penting
adalah usia di atas 50 tahun, pembesaran prostat jinak, infeksi virus, riwayat
kanker prostat dalam keluarga, pola hidup, dan pola makan (Widjojo, 2007).
Salah satu faktor risiko tersebut yaitu pola makan, menurut Umbas Rainy
(2002) diet tinggi lemak dan pola makan berkalsium tinggi (Notrou P, 2007)
merupakan faktor yang mempunyai kaitan erat dengan meningkatnya risiko
kanker prostat.
Diagnosa kanker prostat dapat dilakukan atas kecurigaan pada saat
pemeriksaan colok dubur yang abnormal atau peningkatan Prostate Specific
Antigen (PSA). Kecurigaan ini kemudian dikonfirmasi dengan biopsi, dibantu
dengan Trans Rectal Ultrasound Scanning (TRUSS). Ada 50% lebih lesi yang
dicurigai pada saat colok dubur terbukti sebagai kanker prostat. Nilai prediksi
colok dubur untuk mendeteksi kanker prostat 21,53%. Sensitifitas colok dubur
tidak memadai untuk mendeteksi kanker prostat, tapi spesifisitasnya tinggi.
Bila didapatkan tanda ganas pada colok dubur, maka hampir semua kasus
memang terbukti kanker prostat karena nilai prediktifnya 80% (Umar dan
Agoes, 2002).
B. Tujuan

1. Tujuan umum
Memperoleh gambaran tentang sintesis proses keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan dengan penguasaan keterampilan teknik,
intelektual maupun interpersonal pada klien dengan kanker prostat.
2. Tujuan khusus
Untuk mendapatkan gambaran tentang :
a. Pengertian kanker prostat
b. Penyebab kanker prostat
c. Patofisiologi kanker prostat
d. Manifestasi klinis kanker prostat
e. Klasifikasi kanker prostat
f. Pemeriksaan diagnostik kanker prostat
g. Penatalaksanaan kanker prostat
h. Komplikasi kanker prostat

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
Carsinoma prostat atau kanker prostat adalah pertumbuhan dan
pembelahan sel khususnya sel pada jaringan prostat

yang tidak

normal/abnormal yang merupakan kelainan atau suatu keganasan pada


saluran perkemihan khususnya prostat pada bagian lobus perifer sehingga
timbul nodul-nodul yang dapat diraba.
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat,
sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel

prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini
dapat menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya,
terutama tulang dan lymph node. Kanker prostat dapa menimbulkan rasa
sakit, kesulitan buang air kecil, disfungsi erektil dan gejala lainnya. Kanker
Prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat.
Kanker prostat merupakan keganasan tersering pada laki-laki di
negara-negara barat, sedangkan pada 10 tahun terakhir negara Asia
menunjukkan peningkatan insiden, sebagai petanda tumor pada laki-laki
dengan keluhan sumbatan saluran kencing bawah(Rainy Umbas, 2009)

2. Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya
kanker prostat, tetapi beberapa hipotesa menyebutkan bahwa hiperplasia
prostat erat kaitannya dengan hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya kanker Mammae. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai
penyebab timbulnya kanker prostat adalah:
a. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan
estrogen pada usia lanjut.
b. Peranan dari growth factor ( faktor pertumbuhan ) sebagai pemacu
pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
c. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang
mati
d. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadinya proliferasi abnormal sel
stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan se epitel kelenjar
prostat menjadi berlebihan.
Adapun faktor resiko dari kanker prostat adalah :

a. Laki-laki usia >55 tahun yang mempunyai riwayat famili menderita


b.
c.
d.
e.
f.

kanker prostat
Makanan terbiasa mengandung asam lemak jenuh.
Kontak dengan logam berat seperti cadmium.
Ras Afrika yang tinggal di Amerika.
Kebiasaan hidup kurang melakukan gerakan fisik atau olah raga
Kebiasan merokok

3. Patofisiologi
Penyebab kanker Prostat hingga kini belum diketahui secara pasti,
tetapi beberapa hipotesa menyatakan bahwa kanker Prostat erat
hubungannya dengan hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
kanker Mammae adalah adanya perubahan keseimbangan antara hormon
testosteron dan estrogen pada usia lanjut, hal ini akan mengganggu proses
diferensiasidan proliferasi sel. Difsreniasi sel yang terganggu ini
menyebabkan sel kanker, penyebab lain yaitu adanya faktor pertumbuhan
yang stroma yang berlebihan serta meningkatnya lama hidup sel-sel prostat
karena berkurangnya sel-sel yang mati sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan materi genetik. Perubahan prolife sehingga menyebabkan
produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan
sehingga terjadi Ca Prostat (Price, 1995)
Kanker akan menyebakan penyempitan lumen uretra pars prostatika
dan akan menghambat aliran urin,. Keadaan ini menybabkan penekanan
intraavesikal, untuk dapat mengeluarkan urinbuli-buli harus dapat
berkontraksi kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus
menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divetikel buli-buli. Fase
penebalan ototdetrusor ini disebut fase kompensasi (Purnomo,2000)

Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai


keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary track
symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejal-gejal prostatismus,
dengan semakin meningkatnya retensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam
fase

dekompensaasi

dan

akhirnya

tidak

mampu

lagi

untuk

berkontraksisehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravsikal yang semakin


tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli ke ureter atau terjadi
refluk

vesico-ureter.

Keadaan

ini

jika

berlangsung

terus

akan

mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis,bahkan akhirnya akan dapat jatuh


kedalam gagal ginjal (Price, 1995).
Berkemgangnya tumor yang terus menerus dapat terjadi perluasan
langsung ke uretra, leher kandung kemih dan vesika semmininalis. Ca
Prostat dapat juga menyebar melalui jalur hematogen yaitu tulang tulang
pelvis vertebra lumbalis, femur dan kosta. Metastasis organ adalah pada
hati dan paru (Purnomo,2000)
Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan
elastin diantara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot.
Selain tu terdapat degenerasi sel syaraf yang mempersarafi otot polos. Hal
ini dapat mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional,
ketidakseimbangan neurotransmiter, dan penurunan input sensorik,
sehingga otot detrusor tidak stabil. Karena fungsi otot vesika tidak normal,
maka terjadi peningkatan residu urin yang menyebabkan hidronefrosis dan
disfungsi saluran kemih atas. (Purnomo,2000)

4. Manifestasi Klinis
a. Sulit berkemih
Bisa berupa perasaan ingin berkemih tapi tidak ada yang keluar,
berhenti saat sedang berkemih, ada perasaan masih ingin berkemih atau
harus sering ke toilet untuk berkemih karena keluarnya sedikitsedikit.
Gejala ini akibat membesarnya kelenjar prostat yang ada di sekitar
saluran kemih karena ada tumor di dalamnya sehingga mengganggu
proses berkemih.
b. Nyeri saat berkemih
Problem ini juga disebabkan adanya tumor prostat yang menekan
saluran kemih. Namun, nyeri ini juga bisa merupakan gejala infeksi
prostat yang disebut prostatitis. Bisa juga tanda hiperplasia prostat yang
bukan merupakan kanker.
c. Keluar darah saat berkemih
Gejala ini jarang terjadi, namun jangan diabaikan. Segeralah periksa ke
dokter meski darah yang dikeluarkan hanya sedikit, samarsamar atau
hanya berwarna merah muda. Kadangkala infeksi saluran kemih juga
bisa menyebabkan gejala ini.
d. Sulit ereksi atau menahan ereksi
Tumor prostat bisa saja menyebabkan aliran darah ke penis yang
seharusnya meningkat saat terjadinya ereksi menjadi terhalang sehingga
susah ereksi. Bisa juga menyebabkan tidak bisa ejakulasi setelah ereksi.
Tapi, pembesaran prostat bisa saja menyebabkan munculnya gejala ini.
e. Sulit Buang Air Besar
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih dan di depan rektum.
Akibatnya, bila ada tumor, pencernaan akan terganggu. Namun perlu
diingat, sulit BAB yang terus menerus terjadi juga bisa menyebabkan
pembesaran prostat karena terjadi tekanan pada kelenjar secara terus

menerus. Sulitnya BAB dan gangguan saluran pencernaan bisa juga


mengindikasikan kanker usus besar.
f. Nyeri terus menerus
Di punggung bawah, panggul atau paha dalam bagian atas.
Sering kali, kanker prostat menyebar di wilayah-wilayah ini, yaitu pada
punggung bawah, panggul dan pinggul sehingga nyeri yang sulit
dijelaskan di bagian ini bisa menjadi tanda adanya gangguan.
g. Sering berkemih di malam hari
Jika Anda sering terbangun di malam hari lebih dari sekali hanya untuk
berkemih, periksalah segera ke dokter.
h. Urin yang menetes atau tidak cukup kuat
Gejala ini mirip inkontinensia urin (ngompol). Urin tidak dapat ditahan
hingga perlahan keluar dan menetes. Atau kalau pun keluar aliran tidak
cukup kuat.

5. Klasifikasi
Kanker prostat dikelompokkan menjadi :
a. Stadium A : benjolan/tumor tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisik,
biasanya ditemukan secara tidak sengaja setelah pembedahan prostat
karena penyakit lain.
b. Stadium B : tumor terbatas pada prostat dan biasanya ditemukan pada
pemeriksaan fisik atau tes PSA.
c. Stadium C : tumor telah menyebar ke luar dari kapsul prostat, tetapi
belum sampai menyebar ke kelenjar getah bening.

10

d. Stadium D : kanker telah menyebar (metastase) ke kelenjar getah


bening regional maupun bagian tubuh lainnya (misalnya tulang dan
paru-paru).

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Inspeksi buli-buli: ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah supra pubik
( buli-buli penuh / kosong )
b. Palpasi buli-buli: Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan
rangsangan

ingin

kencing

bila

buli-buli

berisi

atau

penuh.

Terasamassa yang kontraktil dan Ballottement.


c. Perkusi: Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup
d. Colok dubur.
Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus sfingter
anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum
dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus di perhatikan
konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak konsistensinya
kenyal), adakah asimetris adakah nodul pada prostat , apa batas atas
dapat diraba.
e. Laboratorium.
1) Darah lengkap sebagai data dasar keadaan umum penderita.
2) Gula darah dimak sudkan untuk mencari kemungkinan adanya
penyakit diabetus militus yang dapat menimbulkan kelainan
persarafan pada buli-buli (buli-buli nerogen).
3) Faal ginjal (BUN, kreatinin serum) diperiksa untuk mengetahui
kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian
atas.
4) Analisis urine diperiksa untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri,
dan infeksi atau inflamasi pada saluran kemih.

11

5) Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang


menyebadkan infeksi dan sekligus menentukan sensitifitas kuman
terhadap beberapa anti mikroba yang diujikan.
f. Flowmetri :
Flowmetri adalah alat kusus untuk mengukur pancaran urin dengan
satuan ml/detik. Penderita dengan sindroma protalisme perlu di periksa
dengan flowmetri sebelum dan sesudah terapi.
g. Radiologi.
1) Foto polos abdomen
Dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius, pembesaran ginjal
atau buli-buli, adanya batu atau kalkulosa prostat dan kadang
kadang dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi
urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine.
2) Pielografi intra vena
Dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal, hidronefrosis, dan
hidroureter, fish hook appearance ( gambaran ureter berkelok kelok
di vesikula ) inclentasi pada dasar buli-buli, divertikel, residu urine
atau filling defect divesikula.
3) Ultrasonografi (USG)
Dapat dilakukan secara transabdominal atau trasrektal (trasrektal
ultrasonografi = TRUS) Selain untuk mengetahui pembesaran
prostat < pemeriksaan USG dapatpula menentukan volume bulibuli, meng ukur sisa urine dan keadaan patologi lain seperti
divertikel, tumor dan batu .Dengan TRUS dapat diukur besar
prostat untuk menentukan jenis terapi yang tepat. Perkiraan besar
prostat dapat pula dilakukan dengan USG suprapubik.
4) Cystoscopy (sistoskopi)
Pemeriksaan dengan alat yang disebut dengan

cystoscop.

Pemeriksaan ini untuk memberi gambaran kemungkinan tumor

12

dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila darah
datang dari muara ureter, atau batu radiolusen didalam vesika.
Selain itu dapat juga memberi keterangan mengenahi besarprostat
dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat
penonjalan prostat kedalam uretra.
h. Kateterisasi
Mengukur rest urine Yaitu mengukur jumlah sisa urine setelah miksi
sepontan dengan cara kateterisasi . Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya
dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hiper
tropi prostat.
7. Penatalaksanaan
Sebelum dilakukan penanganan terhadap kanker prostat, perlu diperhatikan
faktor faktor yang berhubungan dengan prognosis kanker prostat yang
dibagi kedalam dua kelompok yaitu faktor faktor prognostik klinis dan
patologis kanker prostat. Faktor prognostik klinis adalah faktor faktor
yang dapat dinilai melalui pemeriksaan fisik, tes darah, pemeriksaan
radiologi dan biopsi prostat. Faktor klinis ini sangat penting karena akan
menjadi acuan untuk mengidentifikasi karakteristik kanker sebelum
dilakukan pengobatan yang sesuai. Sedangkan faktor patologis adalah
faktor faktor yang yang memerlukan pemeriksaan, pengangkatan dan
evaluasi kesuruhan prostat. (Buhmeida, A ., et al, 2006).
Faktor prognostik antara lain :
a. Usia pasien
b. Volume tumor
c. Grading atau Gleason score
d. Ekstrakapsular ekstensi
e. Invasi ke kelenjar vesikula seminalis
f. Zona asal kanker prostat

13

g. Faktor biologis seperti serum PSA, IGF, p53 gen penekan tumor dan lainlain.
Penangangan kanker prostat di tentukan berdasarkan penyakitnya apakah
kanker prostat tersebut terlokalisasi, penyakit kekambuhan atau sudah
mengalami metastase. Selain itu juga perlu diperhatikan faktor faktor
prognostik diatas yang sangat penting untuk melakukan terapi kanker
prostat. Untuk penyakit yang masih terlokalisasi langkah pertama yang
dilakukan

adalah

melakukan

watchfull

waiting

atau

memantau

perkembangan penyakit. Watchfull waiting merupakan pilihan yang tepat


untuk pria yang memiliki harapan hidup kurang dari 10 tahun atau
memiliki skor Gleason 3 + 3 dengan volume tumor yang kecil yang
memiliki kemungkinan metastase dalam kurun waktu 10 tahun apabila
tidak diobati (Choen, J. J. dan Douglas M. D., 2008).
Sumber lain menuliskan bahwa watchfull waiting dilakukan bila pasien
memiliki skor Gleason 2 6 dengan tidak adanya nilai 4 dan 5 pada nilai
primer dan sekunder karena memiliki resiko yang rendah untuk
berkembang (Presti, J. C, 2008).
Penatalaksanaan kanker prostat dilakukan dengan prostatektomi yang
merupakan reseksi bedah bagian prostat yang memotong uretra untuk
memperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut, ada
beberapa alternatif pembedahan meliputi :
a. Transsurethral resection of prostate (TURP)
Dimanan jaringan prostat obstruksi dari lobus medial sekitar uretra
diangkat dengan sistoskop/resektoskop dimasukkan melalui uretra

14

b. Suprapubic /open prostatektomi


Dengan diindikasikan untuk massa lebih dari 60 g/60 cc. penghambat
jaringan prostat diangkat melalui insisi garis tengah bawah dibuat
melalui kandung kemih,pendekatan ini lebih ditujukan bila ada batu
kandung kemih. Pedekatan ini lebih ditujukan bila ada batu kandung
kemih.
c. Retropubic prostatektomi
Massa jairingan prostat hipertropi (lokasi tinggi dibagian pelvis)
diangkat melalui insisi abdomen bawah tanpa pembukaan kandung
kemih
d. Perineal prosteatektomi
Massa prostat besar dibawah area pelvis diangkat melalui insisi diantara
skrotum dan rektum, prosedur radikal ini dilakukan untuk kanker dan
dapat mengakibatkan impotensi.
8. Komplikasi
a. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter,
b. hidroureter,
c. hidronefrosis,
d. gagal ginjal
Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi
e. Hernia / hemoroidd
Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya
f.
g.
h.
i.

batu
Hematuriaf
Sistitis
Pielonefritis
Metastase ke paru - paru, otak, dan tulang

B. Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan.
pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan

15

status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan


kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosis keperawatan.
Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pengkajian pre operasi prostektomi
dan penkajian post operasi prostatektomi
a. Pengkajian pre operasi prostatektomi
Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini MRS sampai saat operasinya,
yang meliputi :
1) Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa, alamat, no.
rigester dan diagnosa medis.
2) Riwayat penyakit sekarang
Pada klien ca prostat keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi ,
nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak lampias/
puas sehabis miksi, hesistensi, intermitency, dan waktu miksi
memenjang dan akirnya menjadi retensio urine.
3) Riwayat penyakit dahulu
Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran perkemihan,
misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang berulang. Penyakit
kronis yang pernah di derita. Operasi yang pernah di jalani
kecelakaan yang pernah dialami adanya riwayat penyakit DM dan
hipertensi.
4) Riwayat penyakit keluarga.
Adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang
menderita penyakit ca prostat Anggota keluargayang menderita DM,
asma, atau hipertensi.
5) Riwayat psikososial
a) Intra personal
Kebanyakan klien yang akan menjalani operasi akan muncul
kecemasan. Kecemasan ini muncul karena ketidaktahuan tentang

16

prosedur pembedahan. Tingkat kecemasan dapat dilihat dari


perilaku klien, tanggapan klien tentang sakitnya.
b) Inter personal
Meliputi peran klien dalam keluarga dan peran klien dalam
masyarakat.
6) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Klien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan tembakau,
penggunaan obat-obatan, penggunaan alkhohol dan upaya yang
biasa dilakukan dalam mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan
kesehatan berkala, gizi makanan yang adekuat
7) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien ditanya frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan,
jumlah minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau
keadaan yang mengganggu nutrisi seperti

nause, stomatitis,

anoreksia dan vomiting. Pada pola ini umumnya tidak mengalami


gangguan atau masalah.
8) Pola eliminasi
Klien ditanya tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu
ragu, menetes netes, jumlah klien harus bangun pada malam hari
untuk berkemih, kekuatan system perkemihan. Klien juga ditanya
apakah mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran kemih.
Klien ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan seperti
konstipasi akibat dari prostrusi prostat kedalam rectum.
9) Pola tidur dan istirahat
Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu tidur yang berkurang
karena frekuensi miksi yang sering pada malam hari ( nokturia ).
Kebiasaan tidur memekai bantal atau situasi lingkungan waktu tidur
juga perlu ditanyakan. Upaya mengatasi kesulitan tidur
10) Pola aktifitas.

17

Klien ditanya aktifitasnya sehari hari, aktifitas penggunaan waktu


senggang, kebiasaan berolah raga. Apakah ada perubahan sebelum
sakit dan selama sakit. Pada umumnya aktifitas sebelum operasi
tidak mengalami gangguan, dimana klien masih mampu memenuhi
kebutuhan sehari hari sendiri.
11) Pola hubungan dan peran
Klien ditanya bagaimana hubungannya dengan anggota keluarga,
pasien lain, perawat atau dokter. Bagai mana peran klien dalam
keluarga. Apakah klien dapat berperan sebagai mana seharusnya
12) Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau
dirasakan klien sebelum pembedahan . Biasanya muncul kecemasan
dalam menunggu acara operasinya. Tanggapan klien tentang
sakitnya dan dampaknya pada dirinya. Koping klien dalam
menghadapi sakitnya, apakah ada perasaan malu dan merasa tidak
berdaya.
13) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa, raba, lihat dan
pendengaran dari klien. Pola kognitif berisi tentang proses berpikir,
isi pikiran, daya ingat dan waham. Pada klien biasanya tidak terdapat
gangguan atau masalah pada pola ini.
14) Pola reproduksi seksual
Klien ditanya jumlah anak, hubungannya dengan pasangannya,
pengetahuannya tantangsek sualitas. Perlu dikaji pula keadaan
seksual yang terjadi sekarang, masalah seksual yang dialami
sekarang ( masalah kepuasan, ejakulasi dan ereksi ) dan pola
perilaku seksual.
15) Pola penanggulangan stress

18

Menanyakan apa klien merasakan stress, apa penyebab stress,


mekanisme

penanggulangan

terhadap

stress

yang

dialami.

Pemecahan masalah biasanya dilakukan klien bersama siapa. Apakah


mekanisme penanggulangan stressor positif atau negatif.
16) Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama apa, bagaimana dengan

aktifitas

keagamaannya. Kebiasaan klien dalam menjalankan ibadah.


b. Pemeriksaan Fisik
1) Status kesehatan umum
Keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara, status/ habitus,
pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, nadi.
2) Kulit
Apakah tampak pucat, bagaimana permukaannya, adakah kelainan
pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan kuku klien.
3) Kepala
Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah penonjolan, nyeri
kepala atau trauma pada kepala.
4) Muka
Bentuk simetris atau tidak adakah odema, otot rahang bagaimana
keadaannya, begitu pula bagaimana otot mukanya.
5) Mata
Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata odema atau tidak. Pada
konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan perdarahan. Slera
tampak ikterus atau tidak.
6) Telinga
Ada atau tidak keluar secret, serumen atau benda asing. Bagaimana
bentuknya, apa ada gangguan pendengaran.
7) Hidung
Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran secret, apa ada obstruksi
atau polip, apakah hidung berbau dan adakah pernafasan cuping
hidung.
8) Mulut dan faring

19

Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi apakah ada perdarahan


atau ulkus. Lidah tremor ,parese atau tidak. Adakah pembesaran
tonsil.
9) Leher
Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk, pembesaran kelenjar
limphe.
10) Thoraks
Betuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
11) Paru
Bentuk bagaimana, apakah ada pencembungan atau penarikan.
Pergerakan bagaimana, suara nafasnya. Apakah ada suara nafas
tambahan seperti ronchi , wheezing atau egofoni.
12) Jantung
Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau tidak).Bagaimana dengan
iktus atau getarannya.
13) Abdomen
Bagaimana bentuk abdomen. Pada klien dengan keluhan retensi
umumnya ada penonjolan kandung kemih pada supra pubik. Apakah
ada nyeri tekan, turgornya bagaimana. Pada klien biasanya terdapat
hernia atau hemoroid. Hepar, lien, ginjal teraba atau tidak. Peristaklit
usus menurun atau meningkat.
14) Genitalia dan anus
Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat dapat teraba
pada saat rectal touch. Pada klien yang terjadi retensi urine, apakah
trpasang kateter, Bagaimana bentuk scrotum dan testisnya. Pada
anus biasanya ada haemorhoid.
15) Ekstrimitas dan tulang belakang
Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari jari tremor apa tidak.
Apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar pemasangan infus ada

20

tanda tanda infeksi seperti merah atau bengkak atau nyeri tekan.
Bentuk tulang belakang bagaimana.
c. Pengkajian Post Operasi Prostatektomi
Pengkajian ini dilakukan setelah klien menjalani operasi, yang meliputi:
1) Keluhan utama
Keluhan pada klien berbeda beda antara klien yang satu dengan
yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post
operasi prostektomi adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena
spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu
pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan
dari klien sendiri.
2) Keadaan umum
Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.
3) Sistem respirasi
Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan nafas atau
tidak. Apakah perlu dipasang O2. Frekuensi nafas , irama nafas,
suara nafas. Ada wheezing dan ronchi atau tidak. Gerakan otot
Bantu nafas seperti gerakan cuping hidung, gerakan dada dan perut.
Tanda tanda cyanosis ada atau tidak.
4) Sistem sirkulasi
Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah, suhu
tubuh, monitor jantung ( EKG ).
5) Sistem gastrointestinal
Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi /
obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum,
apakah ada mual dan muntah.
6) Sistem neurology
Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri
kepala.
7) Sistem muskuloskleletal

21

Bagaimana aktifitas klien sehari hari setelah operasi. Bagaimana


memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus dan dibagian
mana dipasang serta keadaan disekitar daerah yang terpasang infus.
Keadaan ekstrimitas.
8) Sistem eliminasi
Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik, kandung kemih
penuh . Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada
tanda tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa. Irigasi
kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi urine tiap hari.
Bagaimana keadaan sekitar daerah pemasangan kateter.
9) Terapi yang diberikan setelah operasi
Infus yang terpasang, obat obatan seperti antibiotika, analgetika,
cairan irigasi kandung kemih.
2. Diagnosa Keperawatan
Tahap akhir dari pengkajian adalah merumuskan diagnosa keperawatan
yang merupakan penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian
keoerawatan. Dari analisa data diatas dapat dirumuskan suatu diagnosis
keperawatan yang dibagi menjadi 2, yaitu diagnosa sebelum operasi dan
diagnosa setelah operasi.
a. Diagnosa sebelum operasi
1) Perubahan eliminasi

urine:

frekuensi,

urgensi,

hesistancy,

inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah


miksi berhubungan dengan obstruksi mekanik : pembesaran
prostat.
2) Nyeri berhubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder
terhadap pelebaran prostat.

22

3) Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan,


kurang pengetahuan tantang aktifitas rutin dan aktifitas post
operasi.
4) Gangguan tidur dan istirahat berhubungan dengan sering terbangun
sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi disuria, frekuensi,
nokturia.
b. Diagnosa setelah operasi
1) Nyeri berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi
sekunder pada prostatektomi
2) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering
3) Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi berhubungan dengan
kurang informasi
4) Gangguan tidur dan istirahat berhubungan dengan nyeri
3. Perencanaan keperawatan
a. Diagnosa sebelum operasi
1) Perubahan eliminasi

urine:

frekuensi,

urgensi,

hesistancy,

inkontinensi, retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi


berhubungan dengan obstruksi mekanik : pembesaran prostat.
NOC : Pola eliminasi urine dapat normal kembali
NIC : Manajement eliminasi urine
a)
b)
c)
d)

Jelaskan pada klien tentang perubahan dari pola eliminasi


Ukur dan catat urine setiap kali berkemih
Anjurkan untuk berkemih setiap 2 3 jam
Anjurkan klien minum sampai 3000 ml sehari, dalam toleransi

jantung bila diindikasikan


e) Palpasi kandung kemih tiap 4 jam
f) Observasi aliran dan kekuatan urine, ukur residu urine pasca
berkemih. Jika volume residu urine lebih besar dari 100 cc maka
jadwalkan program kateterisasi intermiten.
g) Monitor laboratorium: urinalisa dan kultur, BUN, kreatinin.

23

h) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat: antagonis

Alfa

- adrenergik (prazosin)
2) Nyeri berhubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder
terhadap pelebaran prostat.
NOC : Pain level, pain control
NIC :
a) Pain management
(1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehesif meliputi lokasi,
karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi , kualitas,
intensitas, keparahan nyeri dan factor presipitasinya.
(2) Ajarkan teknik penggunaan non farkologis seperti umpanbalik, distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing.
(3) Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri,
berapa

lama

akan

berlangsung

dan

antisipasi

ketidaknyamanan akibat prosedur.


(4) Kendalikan factor lingkungan yang dapat memengaruhi
respon pasien terhadap ketidaknyamanan.
(5) Pastikan pemberian analgesik terapi
b) Vital Sign Monitoring
(1) Monitor tanda-tanda vital
3) Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, prosedur pembedahan,
kurang pengetahuan tantang aktifitas rutin dan aktifitas post operasi.
NOC : Anxiety level
NIC : Anxiety reduction
a) Gunakan pendekatan yang menenangkan klien
b) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
c) Temani pasien dan libatkan keluarga untuk memberikan
keamanan dan rasa takut
d) Berikan informasi tentang penyakit dan perawatannya pada
keluarga / klien
e) Dengarkan keluhan klien
f) Identifikasi tingkat kecemasan klien
g) Bantu Klien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

24

h) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,


persepsi
i) Ajarkan dan anjurkan klien untuk relaksasi
j) Kolaborasi pemberian obat ubtuk mengurangi kecemasan
4) Gangguan tidur dan istirahat sehubungan dengan sering terbangun
sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi disuria, frekuensi,
nokturia.
NOC :
a) Anxiety Control
b) Comfort Level
c) Pain Level
d) Rest : Extent and Pattern
e) Sleep : Extent ang Pattern
NIC : Sleep Enhancement
a) Determinasi efek-efek medikasi terhadap pola tidur
b) Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
c)
Fasilitasi untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur
(membaca)
d) Ciptakan lingkungan yang nyaman
e) Kolaburasi pemberian obat tidur

b. Diagnosa setelah operasi


1) Nyeri berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi
sekunder pada prostatektomi
NOC :
a) Pain Level,
b) pain control,
c) comfort level
NIC : Pain Management
a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
b) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

25

c) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan


dukungan
d) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
e) Kurangi faktor presipitasi nyeri
f) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
g) Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi,
distraksi, kompres hangat/ dingin
h) Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ...
i) Tingkatkan istirahat\
j) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari
prosedur
k) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali
2) Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering
NOC :
a) Knowledge : Infection control
b) Risk control
c) Imune status
d) Nutritional status
NIC :
a) Kontrol infeksi ( infection control)
(1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
(2) Pertahankan tehnik isolasi
(3) Batasi pengunjung bila perlu
(4) Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
berkungjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
(5) Gunakan sabun antimikroba untuk mencuci tangan
(6) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan
(7) Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
(8) Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
(9) Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai
petunjuk umum

26

(10) Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi


kandung kemih
(11) Tingkatkan intake nutrisi
(12) Berikan terapi antibiotik bila perlu
b) Perlindungan infeksi ( infection protection)
(1) Monitor tanda dang gejala infeksi sistemik dan lokal
(2) Monitor dan hitung granulosit, WBC.
(3) Monitor kerentanan terhadap infeksi
(4) Batasi pengunjung
(5) Batasi pengunjung terhadap penyakit menular
(6) Pertahankan tehnik asepsis pada pasien yang beresiko
(7) Pertahankan tehnik isolasi k/p
(8) Berikan perawatan kulit pada area epidermis
(9) Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
(10) Inspeksi kondisi luka/insisi bedah
(11) Dorong masukan nutrisi yang cukup
(12) Dorong masukan cairan
(13) Dorong istirahat
(14) Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
(15) Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
(16) Ajarkan cara menghindari infeksi
(17) Laporkan kecurigaan infeksi
(18) Laporkan kultur positif
3) Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi berhubungan dengan
kurang informasi
NOC :
a) Kowlwdge : disease process
b) Kowledge : health Behavior
NIC : Teaching : disease proces
a) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang
proses penyakit yang spesifik.
b) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
tepat
c) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
d) Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat
e) Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

27

f) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara


yang tepat.
g) Hindari harapan yang kosong
h) Sediakan bagi keluraga informasi tentang kemajuan pasien
dengan carar yang tepat
i) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin di perlukan untk
mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
j) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
k) Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second
opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
l) Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara
yang tepat
m) Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
n) Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan
pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.
4) Gangguan tidur dan istirahat berhubungan dengan nyeri
NOC :
a) Anxiety Control
b) Comfort Level
c) Pain Level
d) Rest : Extent and Pattern
e) Sleep : Extent ang Pattern
NIC :
a) Sleep enhancement
(1) Kaji pola tidur dan aktifitas harian
(2) Jelaskan pentingnya tidur selama perode sakit dan stres
psikososial
(3) Tentukan medikasi yang mempengaruhi pola tidur
(4) Eksplorasi penyebab gangguan atau kesulitan tidur
(5) Fasilitasi klien untuk membuat catatan tidur disesuaikan
dengan kebutuhan tidur/istirahat.
(6) Ciptakan lingkungan yang nyaman
(7) Kolaburasi pemberian obat tidur
b) Pain management

28

(1) Kaji skala nyeri


(2) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
(3) Ajarkan teknik relaksasi guided imagery
c) Environment management
(1) Fasilitasi lingkungan yang tenang
(2) Eksplorasi faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
pola tidur klien.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kanker prostat adalah keganasan yang terjadi di dalam kelenjar
prostat. Beberapa dokter mempercayai bahwa kanker prostat dimulai
dengan perubahan sangat kecil dalam ukuran dan bentuk sel-sel kelenjar
prostat. Kanker prostat merupakan penyebab kematian akibat kanker no 3
pada pria dan merupakan penyebab utama kematin akibat kanker pada pria
diatas 74 tahun. Kanker prostat jarang ditemukan pada pria berusia kurang
dari 40 tahun.
Resiko terjadinya kanker prostat ditentukan oleh dua hal yaitu faktor
genetik dan faktor lingkungan. Faktor risiko lain yang tidak kalah penting
adalah usia di atas 50 tahun, pembesaran prostat jinak, infeksi virus,
riwayat kanker prostat dalam keluarga, pola hidup, dan pola makan
(Widjojo, 2007). Salah satu faktor risiko tersebut yaitu pola makan,

29

menurut Umbas Rainy (2002) diet tinggi lemak dan pola makan
berkalsium tinggi (Notrou P, 2007) merupakan faktor yang mempunyai
kaitan erat dengan meningkatnya risiko kanker prostat.

B. Saran
1. Untuk Sarana Pelayanan Kesehatan
Semua sarana pelayanan kesehatan hendaknya mempertahankan atau
bahkan meningkatkan kinerja yang telah bagus, dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
2. Untuk Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan, hendaknya
menambah literature yang ada di perpustakaan dengan literature yang
tergolong terbitan terbaru, sehingga peserta didik tidak kesulitan saat
mencari literature.
3. Untuk Perawat\
Hendaknya mencantumkan atau mencatat apa saja tindakan yang
dilakukan tentunya yang berkaitan dengan teori, sehingga akan
mempermudah perawat lain yang ingin menerapkan sesuai teori
tersebut, dan hendaknya penyuluhan kesehatan dijadikan suatu program
guna meningkatkan pengetahuan klien tentang penyakitnya dan dapat
mencegah komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi.
4. Untuk Mahasiswa

30

Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan dan dapat


melakukan pengkajian dengan benar sesuai dengan konsep dasar
Kanker Prostat. Selalu berdiskusi dengan teman-teman sejawat dan
pembimbing bila mengalami kesulitan.

DAFTAR PUSTAKA

Buhmeida, A., et al. 2006. Prognostic Factor in Prostate Cancer. In : Diagnostic


Pathology. Finlandia
Choen, J. J. and Douglas M. D. 2008. Localized Prostate Cancers. In : Chabner,
B.A., et al . ed. Harrisons Manual of Oncology. USA : The McGraw Hill
Companies, Inc
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Holick M, 2004, Vitamin D: Importance in the Prevention of Cancer: Am J Clin
Nutr
Notrou P, 2007, Tingkat Kalsium Tinggi dapat Naikkan Risiko Kanker Prostat.
Presti, J. C., et al. 2008. Neoplasm of The Prostate Gland. In : Tanagho, Emil A.,
Jack W. McAnich, ed. Smiths General Urology 17 Ed. USA : The McGraw Hill
Companies Inc
Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar dasar urologi. Malang: CV

Infomedika.

Rindiastuti,Y .2007. Mekanisme Kalsium Dalam Meningkatkan Resiko Kanker


Prostat pada Usia Lanjut. Solo : Fakultas Kedokteran Universitas Negeri
Sebelas Maret : 24

Anda mungkin juga menyukai