Anda di halaman 1dari 46

TUGAS HIV

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA DENGAN


DIAGNOSA MEDIS HIV POSITIF

DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 6
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ni Putu Intan Suskandeni


Novan Cahaya Saputra
Oksa Suhendi
Rachman isnaini Fitriadi
Ramanda Satria Kharismawan
Ramdina Eka Yanti
Reza Wahyu Ilhami

(073STYC13)
(075STYC13)
(077STYC13)
(078STYC13)
(079STYC13)
(080 STYC13)
(083 STYC13)

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG S1
MATARAM
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT pantaslah kami panjatkan, karena berkat
bantuan dan petunjuk-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Konsep Asuhan Keperawatan Pada Wanita Dengan Diagnosa Medis Hiv Positif
ini. Untuk itu kepada berbagai pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Kami membuat makalah ini dengan seringkas-ringkasnya dengan bahasa
yang jelas agar mudah dipahami. Kami menyadari keterbatasan yang kami miliki,
oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca, agar
pembuatan makalah yang berikutnya dapat menjadi lebih baik lagi.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Mataram Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................

KATA PENGANTAR .....................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................

1
2
2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian HIV/AIDS...........................................................................
2.2 Epidemiologi HIV/AIDS pada wanita..................................................
2.3 Etiologi HIV/AIDS...............................................................................
2.4 Tahaptahap infeksi HIV/AIDS............................................................
2.5 Patofisiologi HIV/AIDS.......................................................................
2.6 Gejalagejala HIV................................................................................
2.7 Komplikasi medis pada wanita positif HIV..........................................
2.8 Dukungan sosial spiritual pada wanita dengan HIV/AIDS..................
2.9 Pemeriksaan Diagnostik.......................................................................
2.10Pencegahan penularan HIV pada usia reproduksi...............................

3
3
4
6
7
8
8
12
14
15

BAB 3 KONSEP ASKEP PADA WANITA POSITIF HIV


3.1 Pengkajian keperawatan ......................................................................
3.2 Diagnosa keperawatan..........................................................................
3.3 Intervensi keperawatan.........................................................................
3.4 Implementasi keperawatan...................................................................
3.5 Evaluasi keperawatan...........................................................................

20
27
35
44
44

BAB 4 PENUTUP
4.1 Simpulan ..............................................................................................
4.2 Saran.....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

46
46

Jumlah penderita HIV/AIDS di dunia terus bertambah tidak terkecuali


di Indonesia, khususnya pada usia reproduktif. Pada tahun 2000 terjadi
peningkatan penyebaran epidemi HIV secara nyata melalui pekerja seks
komersial, tetapi ada fenomena baru penyebaran HIV/AIDS melalui
pengguna narkoba suntik (injecting Drug UserIDU. Pada tahun 2002 HIV
sudah menyebar ke rumah tangga(Depkes RI, 2003),
Sejauh ini lebih dari 6,5 juta wanita di Indonesia menjadi populasi
rawan tertular HIV. Lebih dari 24.000 wanita usia subur telah terinfeksi HIV
dan sedikitnya 9000 wanita hamil terinfeksi HIV positif setiap tahun. Bila
tidak ada program pencegahan maka lebih dari 30% diantaranya diperkirakan
melahirkan bayi yang tertular HIV. Pada tahun 2015, diperkirakan akan
terjadi penularan pada 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi
HIV. Sampai tahun 2006, diprediksi 4.360 anak terkena HIV dan separuh
diantaranya meninggal dunia. Saat ini diperkirakan 2320 anak telah terinfeksi
HIV.
Wanita dengan HIV/AIDS harus mendapatkan dukungan dan
perawatan mencakup penyuluhan yang memadai tentang penyakitnya,
perawatan, pengobatan serta pencegahan penularan pada anak dan
keluarganya. Kebanyakan wanita mengurus keluarga dan anakanaknya
selain mengurus dirinya sendiri, sehingga gangguan kesehatan pada wanita
akan mempengaruhi seluruh keluarganya.
Wanita dengan HIV/AIDS yang melahirkan anak yang didiagnosis
HIV juga akan menyebabkan terjadinya trauma emosi yang mendalam bagi
keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat dalam perawatan
anak, pemberian kasih sayang dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi
pertumbuhan mental anak. Orang tua memerlukan waktu untuk mengatasi
masalah emosi, syok, kesedihan, penolakan, perasaan berdosa, cemas, marah
dan berbagai perasaan lain. Dukungan nutrisi, pemberian ARV, psikososial
dan perawatan paliatif membantu ibu dan anak menghadapi HIV/AIDS.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian HIV/AIDS?
2. Bagaimana epidemiologi HIV/AIDS pada wanita?

3. Bagaimana etiologi HIV/AIDS?


4. Bagaimana tahaptahap infeksi HIV?
5. Bagaimana patofisiologi HIV?
6. Bagaimana gejala yang timbul pada penderita HIV?
7. Bagaimana Komplikasi medis pada wanita Positif HIV?
8. Apa saja pemeriksaan diagnostik HIV?
9. Bagaimana pencegahan HIV/AIDS pada usia reproduksi?
10. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada wanita dengan positif HIV?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mahasiwa mampu mengetahui pengertian HIV/AIDS
2. Mahasiwa mampu mengetahui epidemiologi HIV/AIDS khusunya pada
3.
4.
5.
6.
7.

wanita
Mahasiswa mampu mengetahui etiologi penyakit HIV/AIDS
Mahasiwa mampu mengetahui tahaptahap infeksi HIV
Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi HIV
Mahasiswa mampu mengetahui gejala yang timbul pada penderita HIV
Mahasiswa mampu mengetahui komplikasikomplikasi medis yang

diakibatkan oleh infeksi penyakit HIV


8. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan diagnostik HIV
9. Mahasiswa mampu mengetahui pencegahan HIV/AIDS pada usia
reproduksi
10. Mahasiswa mampu mengetahui konsep Asuhan Keperawatan pada wanita
dengan positif HIV
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi HIV/AIDS

HIV (Human immunodeficiency Virus) adalah virus pada manusia


yang menyerang system kekebalan tubuh manusia dalam jangka waktu yang
relatif lama dan dapat menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS sendiri adalah
suatu sindroma penyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif
lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi
HIV.
1. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang
menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya
penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan terjadinya defisiensi
tersebut sepertii keganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang
sudah dikenal dan sebagainya.
2. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem
kekebalan tubuh manusia
3. AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem
kekebalan tubuh
2.2 Epidemiologi HIV/AIDS Pada Wanita
Epidemi HIV/AIDS merupakan krisis global dan tantangan yang berat
bagi pembangunan dan kemajuan sosial (ILO, 2005). Pada tahun 2008,
diseluruh dunia, diperkirakan 33 juta orang hidup dengan HIV. Setiap harinya
terdapat 7.400 infeksi baru HIV dengan 96% dari jumlah tersebut berada di
negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Daerah subsahara di Afrika
merupakan daerah dengan prevalens HIV terbesar mencakup 67% dari jumlah
keseluruhan orang yang hidup dengan HIV. Daerah Asia Tenggara termasuk di
Indonesia dengan kasus HIV dengan jumlah penderita 3,6 juta orang, 37% dari
jumlah tersebut merupakan wanita. Indonesia merupakan satu dari lima negara
dengan jumlah penderita HIV yang besar selain Thailand, Myanmar, Nepal,
dan India .
Kasus AIDS pertama pada wanita di Amerika Serikat dilaporkan pada
tahun 1981. Wanita merupakan salah satu kelompok dalam masyarakat yang
angka insiden infeksinya meningkat sangat cepat. Dilaporkan bahwa dari
100.000 kasus penderita AIDS pertama terdapat 9% wanita, sedangkan pada
100.000 pada kasus AIDS berikutnya terdapat 12% wanita. Selain itu, laporan

dari CDC (central of disease control) juga mengatakan bahwa 100.000 kasus
penderita AIDS pertama terjadi dalam waktu delapan tahun, sedangkan
100.000 penderita AIDS kedua terjadi hanya dalam waktu dua tahun. AIDS
merupakan penyebab kematian utama pada wanita berusia antara 2534 tahun
di New York.
Menurut CDC (central of disease control) penyebab terjadinya infeksi
HIV pada wanita adalah sebagai berikut:
1. Wanita heteroseksual
2. Pemakaian obat injeksi terlarang
3. Transfusi darah dan
4. Pasangan yang sudah terinfeksi HIV
Sekitar 85% dari wanita yang menderita AIDS tersebut berada dalam
usia subur, antara 1544 tahun. Oleh karena itu terdapat risiko untuk
menularkan HIV kepada anak selama kehamilan, persalinan dan melalui ASI.
2.3 Etiologi
Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human
immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983
sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan
lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus
kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan
keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak
ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu
likes illness.
3. Infeksi asimtomatik.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, BB menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi
mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama
kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunistik berat dan tumor pada
berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologis.
2.3.1 Cara penularan HIV:
a. Melakukan seks bebas atau penetrasi seks yang tidak aman dengan
seseorang yang telah terinfeksi. Kondom adalah satusatunya cara
dimana penularan HIV dapat dicegah.

b. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah,


dimana darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum
suntik yang tidak steril.
c. Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius
dengan seseorang yang telah terinfeksi.
d. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama
masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui.
2.3.2 Kelompok resiko tinggi
Para wanita yang termasuk dalam kategori beresiko tinggi
terhadap infeksi HIV mencakup:
a. Wanita yang melakukan hubungan seksual yang berganti-ganti
pasangan.
b. Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis
dimana HIV merupakan sesuatu yang umum.
c. Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang
disuntikkan melalui pembuluh darah.
d. Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan.
e. Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.
f. Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV.
2.3.3 Penularan secara perinatal
a. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang
dikandungnya.
b. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan,
karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu
dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi.
c. Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewaktu berada dalam
kandungan atau juga melalui ASI
2.4 TahapTahap Infeksi HIV
Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV
dibagi menjadi tiga Tahap :
1. Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke dalam
jaringan limfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti
serokonversi dan pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+
sel T antivirus. Secara klinis merupakan penyakit akut yang sembuh
sendiri dengan nyeri tenggorok, mialgia non-spesifik, dan meningitis
aseptik. Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal
terjadi dalam waktu 6-12 minggu.

2. Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis dengan
replikasi. Virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan
CD4+ secara perlahan menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran
kelenjar limfe yang luas tanpa gejala yang jelas. Tahap ini dapat mencapai
beberapa tahun. Pada akhir tahap ini terjadi demam, kemerahan kulit,
kelelahan, dan viremia. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun.
3. Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuh
penderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat
badan, diare, infeksi oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini
umumnya dikenal sebagai AIDS. Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat
menganggap semua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T CD4+
kurang dari 200 sel/l sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis belum
terlihat.
2.5 Patofisiologi
HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel Thelper dengan
melekatkan dirinya pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral
(jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic
acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim
yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari
DNA manusia yang menghasilkan lebih banyak sel jenisnya.
Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus
virus yang baru. Virusvirus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak
bebas dalam aliran darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah
sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem
kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh
infeksi dan penyakitpenyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan
virus tersebut dari orang ke orang.
Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk
melawan selsel yang terinfeksi dan menggantikan selsel yang telah hilang.
Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya.
1. Jumlah normal dari selsel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 8001200
sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang selsel CD4+ Tnya

terhitung dibawah 200, menyebabkan penderita HIV menjadi semakin mudah


diserang oleh infeksiinfeksi oportunistik.
2. Infeksiinfeksi oportunistik adalah infeksiinfeksi yang timbul ketika sistem
kekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi
infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang
pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal.
HIV/AIDS merupakan model penyakit yang memerlukan dukungan
untuk mengatasi masalah fisik, psikis dan sosial. Gangguan fisik yang berat
dapat menimbulkan beban psikis dan sosial. Namun stigma masyarakat akan
memperberat beban psikososial penderita. Dalam penatalaksanaan AIDS
selain penanganan aspek fisik maka aspek psikososial perlu diperhatikan
dengan seksama.
2.6 Gejala HIV AIDS
1. Gejala mayor
a. BB menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologis
d. Demensia / HIV Ensefalopati
2. Gejala minor
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalist
c. Adanya herpes zoster yang berulang
d. Kandidiasis orofaringeal
e. Herpes simplex kronik progresif
f. Limfadenopati generalist
g. Infeksi jamur berulang pada kelamin wanita
h. Retinitis Cytomegalovirus
2.7 Komplikasi Medis Pada Wanita dengan HIV
Esofagitis Candida dan pneumonia pneumocytstis carinii merupakan
penyakitpenyakit AIDS yang paling sering terjadi pada wanita yang
terinfeksi HIV.
Walaupun begitu, ada juga beberapa manifestasi ginekologi pada wanita
yang terinfeksi HIV diantaranya:
1. Virus human papilloma dan penyakit serviks
Virus Human papilloma (VHP) merupakan salah satu dari penyakit
hubungan seksual yang paling sering terjadi. Manifestasi infeksi VHP

antara lain kutil anogential (kondiloma akuminata), dysplasia serviks atau


karsinoma invasif serviks yang ditemukan melalui pemeriksaan Pap smear.
Oleh karena itu pemeriksaan Pap smear yang adekuat perlu dilakukan
paling sedikit satu tahun sekali pada wanita yang terinfeksi HIV. Jika
pemeriksaan Pap smear tidak adekuat atau menunjukkan hasil yang
abnormal, maka perlu dilakukan pemeriksaan kolposkopi.
2. Virus herpes simpleks
Herpes genitalis atau virus herpes simpleks dapat terjadi secara
tibatiba dan menjadi persisten pada wanita yang terinfeksi oleh HIV,
menyebar dan dirasakan lebih nyeri bila dibandingkan dengan VHS pada
wanita yang tidak terinfeksi HIV. Seperti halnya penyakit gangguan sitem
imun lainnya, wanita penderita VHS dan terinfeksi HIV akan lebih sering
menyebarkan HIV dari pada wanita yang tidak terinfeksi dan
meningkatkan risiko penularan HIV ke pasangan seksualnya.
3. Chancroid
Chancroid dimanifestasikan sebagai nyeri akut pada ulkus di
genitalia eksternal dan disertai dengan limfadenopati inguinal. Pengobatan
dengan dosis tunggal quinolon atau seftriakson biasanya efektif. Jika
dengan terapi ini tidak berhasil maka akan diberikan fluoroquinolon
selama 3 hari (contohnya, siprofloksasin hidroklorida). Insiden terjadinya
kegagalan pengobatan pada wanita meningkat pada mereka yang terinfeksi
HIV.
4. Sifilis
Pada individu yang terinfeksi oleh HIV, infeksi sifilis tampaknya
lebih agresif dan berkembang dengan lebih cepat dari sifilis primer ke
sifilis tersier. Pengobatan sifilis primer, sekunder dan tersier pada pasien
yang terinfeksi HIV walau sedang hamil harus dijalani dengan memakai
penisilin benzatin secara intramuskuler sekali seminggu selama tiga
minggu berturutturut. Pemeriksaaan lanjutan sepeti VDRL dan RPR
harus dilakukan pada bulan ke 1, 2, 3, 6, 9 dan 12. Jika hasil pemeriksaan
tersebut tidak menurun 4 kali lipat atau cenderung meningkat dalam waktu
6 bulan, wanita yang terinfeksi oleh HIV harus diperiksa VDRL pada
cairan serebrospinalisnya dan diterapi ulang seperti yang telah dijelaskan.
Hasil penelitian menemukan bahwa mereka yang mempunyai
riwayat sifilis mempunyai risiko tinggi terhadap infeksi HIV. Oleh karena

itu konseling dan pemeriksaan HIV harus dilakukan pada wanita yang
sedang menjalani pengobatan sifilis. Demikian pula pada wanita yang
menderita HIV harus dilakukan pemeriksaan terhadap adanya sifilis atau
tidak.
5. Ulkus genital HIV
Selain ulkus yang terjadi pada chancroid, sifilis dan virus herpes
simpleks, belakangan ini telah ditemukan suatu keadaan baru yang disebut
ulkus genital HIV pada beberapa wanita penderita HIV. Ulkus ini telah
dilakukan kultur untuk menemukan adanya virus herpes simpleks dan
chancroid serta dilakukan pemeriksaan mikroskop lapangan gelap.
Walaupun semua hasil pemeriksaan ini negative, pasienpasien ini
tetap mendapatkan pengobatan untuk VSH, chancroid dan sifilis, tetapi
tidak dapat menyembuhkan ulkus. Maka dilakukanlah pengobatan
zidovudine (AZT) dan ulkus ternyata menyembuh dengan cepat. Ulkus
HIV primer harus dibedakan dengan ulkus genital yang terjadi pada wanita
yang terinfeksi oleh HIV. Walaupun begitu ulkusulkus ini dapat timbul
dibagian tubuh lainnya dimana terdapat membran mukosa
6. Penyakit inflamasi
Walaupun organisme yang menyebabkan infeksi ini seperti
gonorrhea, Chlamydia serta spesies aerob dan anaerob adalah sama baik
pada wanita yang terinfeksi HIV maupun yang tidak. Tetapi pada wanita
yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gambaran klasik dari perjalanan
infeksiinfeksi tersebut. Abses lebih sering terjadi dan intervensi
pembedahan lebih sering dilakukan pada wanita yang terinfeksi HIV.
7. Kandidasi vagina
Walaupun kandidasi vagina merupakan infeksi ginekologi yang
umum terjadi pada wanita, rekurensi kandidasi vagina lebih sering terjadi
pada wanita yang terinfeksi HIV. Oleh karena itu menyebabkan terjadinya
kandidasi vagina berulang, lima sampai enam kali setahun.
Pengobatan kandidasi vagina dini pada wanita yang terinfeksi HIV
adalah dengan memakai obat standar yang telah ditetapkan yaitu obatobat
antijamur topikal seperti klotrimazol. Kandidasi vagina yang rekuren atau
resisten diberi pengobatan dengan ketokonazol, 400 mg perhari selama 14

hari yang diikuti dengan pengobatan 5 hari setiap bulannya selama waktu
6 bulan. Selama pengobatan perlu dilakukan pemeriksaan fungsi hati.
2.8 Nutrisi Pada Wanita Dengan HIV/AIDS
Wanita biasanya merupakan individu yang memberikan perawatan pada
angggota keluarga dan anakanaknya selain mengurus dirinya sendiri,
sehingga nutrisi pada wanita dengan HIV/AIDS memerlukan perhatian
khusus. Wanita dengan HIV/AIDS sebaiknya beristirahat cukup, melakukan
olahraga secara teratur, lebih dari hanya sekedar jalan kaki, makanmakanan
yang sehat dan bergizi, minum obat tepat waktu dan menempatkan kebutuhan
diri sendiri pada prioritas tinggi (HRSA,2002).
1. Wanita HIV/AIDS yang hamil dan menyusui
Kehamilan memerlukan lebih banyak nutrisi untuk ibu dan bayi,
kekurangan nutrisi menyebabkan wanita hamil rentan terhadap infeksi.
Pada saat hamil, asupan gizi ditingkatkan: 300 kalori dan 10 gram protein
sehari. Sebaiknya berat badan meningkat 2535 pon selama hamil, 5 pon
pada trimester pertama, 1015 pon pada trimester kedua dan 15 pon pada
trimester ketiga. Asupan vitamin ekstra, mineral, ion, cairan serta serat
juga diperlukan.
2. Wanita HIV/AIDS saat mengalami menstruasi dan sindrom pramenstruasi
HIV/AIDS mungkin dapat mengubah siklus haid dan memperberat
sindrom pramenstruasi. Misalnya kekakuan payu dara, mudah marah,
depresi, kram dan sebagainya. Dalam keadaan ini, wanita penderita
HIV/AIDS sebaiknya mengkonsumsi makanan rendah gula dan tingggi
serat selama fase sebelum menstruasi dan saat menstruasi. Membatasi
konsumsi garam dan makanan ringan dapat membantu mengurangi kram
dan nyeri payudara. Selain itu sebaiknya wanita tetap melakukan latihan
teratur dan istirahat cukup (HRSA,2002)
3. Wanita HIV/AIDS menopause
Wanita menopause sebaiknya meningkatkan asupan kandungan
kalsium dalam makanan 45 kali lebih banyak. Makanan yang bisa
dikonsumsi misalnya: susu, keju, yoghurt, jus jeruk, jamur dan sardine
serta sumber kalsium lainnya.
4. Wanita HIV/AIDS dengan infeksi dan berat badan
Jika wanita mengalami kegemukan, maka berat badan harus
diturunkan, sebaliknya jika sangat kurus harus ditingkatkan asupan

nutrisinya. Pasien dengan infeksi juga harus makan lebih banyak terutama
makanan yang kaya akan protein dan vitamin(HRSA,2002).
2.9 Dukungan Sosial Spiritual Pada Wanita Dengan HIV/AIDS
Wanita banyak menerima diskriminasi saat membutuhkan pengobatan
HIV, bantuan dari fasilitas rehabilitasi obat dan percobaan riset karena sedang
hamil atau sedang dalam masa subur (Richard, et al.,1997). Wanita keturunan
Afrika, Amerika dan Hispanik seringkali mengalami siksaaan fisik jika dia
menyarankan penggunaan kondom pada pasangannya karena pria hispanik
menganggap kondom hanya digunakan untuk wanita yang tidak mempunyai
moral yang baik dan bukan pada istri atau pasangan tetapnya. Wanita juga
lebih jarang menanyakan kebiasaan seksual pasangannya dibandingkan pria,
dan bila mereka bertanya tidak ada jaminan bahwa pasangannya akan
mengatakan hal yang sebenarnya (Braun et al. dalam Richard, et al.,1997).
Gejala psikiatri yang menyertai penderita HIV/AIDS:
A. Fase awal
1. Ansietas , mungkin panik
2. Marah
3. Penurunan harga diri
4. Rasa malu yang kuat
5. Berpikiran kehilangan multiple
6. Depresi
7. Perasaan sakit
8. Periode mengingkari atau pikiran penuh harap
9. Kesulitan memberikan informasi kepada pasangan seksual yang
berganti ganti dan teman pengguna jarum suntik yang sama
B. Fase pertengahan
1. Munculnya gejala penurunan kesehatan
2. Perubahan penampilan fisik
3. Pengunaan keterampilan koping, hunungan dan keuangan berlebihan
4. Peningkatan ansietas
5. Diperlukan bantuan perawatan diri
6. Rasa tidak menentu
7. Kehilangan kontrol
8. Kesedihan depresi berat
9. Kekuatan keluarga bergerak atau konflik meningkat
10. Berduka adaptif pada keluarga dan teman
11. Memilih persiapan kematian terutama advance
C. Fase akhir
1. Penurunan status kesehatan
2. Kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh masalah fisik dan kognetif
3. Stresor berat
4. Melihat kembali kehidupan secara menyeluruh

5. Nyeri dan penderitan


6. Demensia
7. Takut membebani orang lain terutama pengasuh
Wanita dengan HIV/AIDS perlu diberikan dukungan terhadap
kehilangan dan perubahan mencakup:
1. Memberi dukungan dengan memperbolehkan pasien dan keluarga
untuk membicarakan halhal tertentu dan mengungkapkan perasaan
keluarga
2. Membangkitkan harga diri wanita dengan HIV/AIDS serta keluarganya
dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu yang
indah
3. Menerima perasaan marah, sedih atau emosi dan reksi lainnya
4. Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat
mengendalikan diri dan tidak menyalahkan diri sendiri atau orang lain
(Nursalam, et al.,2005)
Selain itu perlu diberikan perawatan paliatif dan terminal yang
mencakup empat hal yaitu: pemberian kenyamanan, pengelolaan nyeri serta
menyiapkan pasien menghadapi kematian. Perawatan kenyamanan mencakup
tindakan relaksasi dan distraksi, menjaga pasien tetap bersih dan kering,
penggantian posisi secara teratur, memberi toleransi maksimal terhadap
permintaan pasien dan keluarga serta menghormati kebutuhan untuk mandiri
(Nursalam, et al.,2005). Pengelolaan nyeri bisa dilakukan dengan teknik
relaksasi,

pemijatan,

distraksi,

meditasi

maupun

pengobatan

anti

nyeri.Persiapan menjelang kematian meliputi penjelasan yang memadai


tentang

keadaan

pasien,

bantuan

mempersiapkan

pemakaman

serta

pengurusan jenazah sesuai dengan budaya pasien.


2.10

Pemeriksaan Diagnostik
A. Pemeriksaan Awal Untuk Wanita dengan HIV
Pusat Pencegahan dan Pengendalian

Penyakit

(CDC)

menganjurkan agar semua wanita yang berusia subur dan mempunyai


perilaku yang beresiko tinggi harus menjalani konsultasi dan
pemeriksaan HIV. Ulkus merupakan jalan masuk bagi virus dan
penyakit hubungan seksual lainnya. Selain itu wanita yang menderita
lesi ulseratif pada genetalia harus menjalani konsultasi dan
pemeriksaan terhadap HIV.

Pemeriksaan yang perlu dilakukan pada wanita yang terdiagnosa


HIV meliputi
1. Pengambilan riwayat ginekologi lengkap, termasuk riwayat
menstruasi, obsteri, kontrasepsi, dan aktivitas sesual
2. Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan payudara dan pelvis
3. Pemeriksaan: pas smear, kultur serviks untuk mencari adanya
Chlamydia dan gonorrhea, VDRL dan tes kehamilan (jika ada
indikasi)
4. Mammogram untuk wanita yang berusia antara 35 sampai 39
tahun, dua tuhan sekali sampai berusia 49 tahun dan kemudian
setiap tahun untuk wanita yang berusia 50 atau lebih
5. Kolposkopi (merupakan pilihan, tetapi dengan adanya data baru
pemeriksaan ini sangat dianjurkan)
B. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
1. ELISA
2. Western blot
3. P24 antigen test
4. Kultur HIV
C. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
a. Hematokrit.
b. LED
c. CD4 limfosit
d. Rasio CD4/CD limfosit
e. Serum mikroglobulin B2
f. Hemoglobulin
2.11

Pencegahan Penularan HIV/AIDS Pada Wanita Usia Reproduksi


Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya
penularan HIV pada anak adalah dengan mencegah penularan HIV
pada perempuan usia reproduksi 15-49 tahun (pencegahan primer).
Pencegahan primer bertujuan mencegah penularan HIV dari ibu ke
anak secara dini, yaitu baik sebelum terjadinya perilaku hubungan
seksual berisiko atau bila terjadi perilaku seksual berisiko maka penularan
masih bisa dicegah, termasuk mencegah ibu dan ibu hamil agar tidak
tertular oleh pasangannya yang terinfeksi HIV.
Upaya pencegahan ini tentunya harus

dilakukan

dengan

penyuluhan dan penjelasan yang benar terkait penyakit HIV-AIDS, dan


penyakit IMS dan didalam koridor kesehatan reproduksi. Isi pesan yang
disampaikan tentunya harus memperhatikan usia, norma, dan adat istiadat

setempat, sehingga proses edukasi termasuk peningkatan pengetahuan


komprehensif terkait HIV-AIDS dikalangan remaja semakin baik. Untuk
menghindari

perilaku

seksual

yang

berisiko

upaya

penularan HIV menggunakan strategi ABCDE, yaitu:


1. A (Abstinence), artinya Absen seks atau tidak
hubungan seks bagi orang yang belum menikah;
2. B (Be Faithful), artinya Bersikap saling setia

mencegah
melakukan

kepada

satu

pasangan seks (tidak berganti-ganti pasangan);


3. C (Condom), artinya cegah penularan HIV melalui hubungan
seksual dengan menggunakan kondom;
4. D (Drug No), artinya Dilarang menggunakan narkoba.
5. E (Save Equipment)
Kegiatan yang dapat dilakukan pada pencegahan primer antara
lain:
a. Menyebarluaskan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
tentang HIV-AIDS dan Kesehatan Reproduksi, baik secara individu
maupun kelompok, untuk:
1) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara menghindari
penularan HIV dan IMS.
2) Menjelaskan manfaat mengetahui status atau tes HIV sedini
mungkin
3) Meningkatkan

pengetahuan

petugas

kesehatan

tentang

tatalaksana ODHA perempuan


4) Meningkatkan keterlibatan aktif keluarga dan komunitas untuk
meningkatkan pengetahuan komprehensif HIV dan IMS
Sebaiknya, pesan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak juga
disampaikan kepada remaja, sehingga mereka mengetahui cara agar
tidak terinfeksi HIV. Informasi tentang pencegahan penularan HIV
dari ibu ke anak juga penting disampaikan kepada masyarakat luas
sehingga dukungan masyarakat kepada ibu dengan HIV dan
keluarganya semakin kuat.
b. Mobilisasi masyarakat
1) Melibatkan petugas lapangan (seperti kader kesehatan/PKK,
PLKB,

atau posyandu)

sebagai

pemberi

informasi

pencegahan HIV dan IMS kepada masyarakat dan untuk


membantu klien mendapatkan akses layanan kesehatan.

2) Menjelaskan tentang cara pengurangan risiko penularan HIV


dan IMS, termasuk melalui penggunaan kondom dan alat
suntik steril.
3) Melibatkan komunitas, kelompok dukungan sebaya, tokoh
agama dan tokoh masyarakat dalam menghilangkan stigma
dan diskriminasi.
c. Layanan tes HIV
Konseling dan tes HIV dilakukan melalui pendekatan
Konseling dan Tes atas Inisiasi Petugas Kesehatan (KTIP) dan
Konseling dan Tes Sukarela (KTS), yang merupakan komponen
penting dalam upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke
anak. Cara untuk mengetahui status HIV seseorang adalah melalui
tes darah.Prosedur pelaksanaan tes darah dilakukan dengan
memperhatikan 3 c yaitu: Counselling, Confidentiality,dan
informed consent. Jika status HIV ibu sudah diketahui,
1) HIV positif: lakukan intervensi PPIA komprehensif agar ibu
tidak menularkan HIV kepada bayi yang dikandungnya.
2) HIV negatif: lakukan konseling tentang cara menjaga agar tetap
HIV negative
Layanan konseling dan tes HIV diintegrasikan dengan
pelayanan KIA sesuai dengan strategi layanan komprehensif
berkesinambungan dengan tujuan:
1) Konseling dan tes HIV dapat ditawarkan kepada semua ibu
hamil dalam paket pelayanan ANC terpadu, sehingga akan
mengurangi stigma terhadap HIVAIDS.
2) Layanan konseling dan tes HIV di layanan KIA akan
menjangkau banyak ibu hamil, sehingga pencegahan penularan
ibu ke anaknya dapat dilakukan lebih awal dan sedini mungkin.
3) Penyampaian informasi dan tes HIV dapat dilakukan oleh
semua petugas di fasilitas pelayanan kesehatan kepada semua
ibu hamil dalam paket pelayanan Ancterpadu, sehingga akan
mengurangi stigma terhadap HIV-AIDS.
4) Pelaksanaan konseling dan tes HIV mengikuti Pedoman
Konseling dan Tes HIV, petugas wajib menawarkan tes hIV
dan

melakukan

pemeriksaan

Ims, termasuk

tes

sifilis,

kepada semua ibu hamil mulai kunjungan antenatal pertama

bersama dengan pemeriksaan laboratorium lain untuk ibu


hamil (inklusif dalam paket pelayanan ANC terpadu).
5) Tes HIV ditawarkan juga bagi pasangan laki-laki
perempuan dan ibu hamil yang dites (couple conselling);
6) Di setiap jenjang layanan kesehatan yang memberikan
layanan PPIA dalam paket pelayanan KIA, harus ada
petugas yang mampu melakukan konseling dan tes HIV
7) Di layanan KIA, konseling pasca tes bagi perempuan HIV
negatif difokuskan pada informasi dan bimbingan agar klien
tetap HIV negatif selama kehamilan, menyusui dan seterusnya;
8) Konseling penyampaian hasil tes bagi perempuan atau ibu
hamil yang HIV positif juga memberikan kesempatan untuk
dilakukan konseling berpasangandan penawaran tes HIV bagi
pasangan laki-laki.
9) Pada setiap jenjang pelayanan kesehatan, aspek kerahasiaan ibu
hamil ketika mengikuti proses konseling sebelum dan sesudah
tes HIV harus terjamin.
10) Menjalankan konseling dan tes HIV di klinik KIA berarti
mengintegrasikan juga program HIV-AIDS dengan layanan
lainnya, seperti pemeriksaan rutin untuk IMS, pengobatan
IMS,

layanan

kesehatan

reproduksi,

pemberian

gizi

tambahan, dan keluarga berencana.


11) Upaya pengobatan IMS menjadi satu paket dengan pemberian
kondom sebagai bagian dari upaya pencegahan.
d. Dukungan untuk perempuan yang HIV negative

BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA DENGAN HIV
POSITIF
Proses keperawatan adalah suatu metode dimana suatu konsep diterapkan
dalam prktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problemsolving yang memerlukan ilmu, teknik, dan keterampilan intrapersonal dan
ditujukan utuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga.
Asuhan keperawatan adalah factor penting dalam survival pasien dan
dalam aspek-aspek, rehabilitasi, dan preventif perawat kesehatan. (Marilynn E.
Doenges, 1999).
Langkah-langkah

dalam

penerapan

asuhan

keperawatan

meliputi:

pengkajian, diagnose keperawatan, rencana tindakan keperawatan, tindakan


keperawatan dan evaluasi keperawatan.
3.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber
data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.

Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data.


Ada 2 tipe data pada pengkajian:
a. Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu
pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak
dapat ditentukan oleh perawat secara independen tetapi melalui suatu
interaksi atau komunkasi.
b. Data obyektif
Data obyektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur. Informasi
tersebut biasanya diperoleh melalui senses : 2S
(sight,smell) dan HT (hearing dan touch atau taste) selama pemeriksaan
fisik.
Pengumpulan data pasien baik subyektif maupun obyektif adalah
sebagai berikut:
1. Identitas
a. Identitas Klien: nama, umur, jenis kelamin, agama/suku bangsa, status
perkawinan, pendidikan, bahasa yang digunakan, alamat, pekerjaan,
golongan darah, penghasilan.
b. Identitas penanggung Jawab: nama, umur, jenis kelamin, agama/suku
bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan
klien.
2. Keluhan Utama
Umumnya keluhan utama saat klien dirawat/masuk rumah sakit adalah
diare terus menerus, anoreksia, cemas dan gelisah
P (paliatif) : Apa yang menjadi hal-hal yang meringankan dan
memperberat.
Q (quantitas): Seberapa berat keluhan, bagaimana rasanya ?
seberapa sering terjadinya ?
R (radiasi)

: Dimanakah lokasi keluhan ?, bagaimana


penyebarannya.

S (skala)

: Dengan menggunakan GCS untuk gangguan


kesadaran, skala nyeri untuk keluhan nyeri.

T (timing)

: Kapan keluhan itu terasa ?, seberapa sering


keluhan itu terasa.

3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada pasien atau keluarga pasien apakah pasien pernah
mengalami penyakit yang sama sebelumnya sampai terjadi penurunan
berat badan, nafsu makan

berkurang. Apakah pasien sering

mengkonsumsi zat-zat narkoba atau melakukan hubungan seks bebas


tanpa menggunakan pengaman.
b. Riwayat penyakit keluarga
Apakah penyakit yang saat ini diderita pasien pernah dialami oleh
anggota keluarga yang lain
c. Pemeriksaan fisik
Pada dasarnya dalam pemeriksaan fisik menggunakan pendekatan
secara sistematik yaitu : inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
1) Keadaan Umum
Meliputi tanda-tanda vital, BB/TB,
2) Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif)
a) Aktifitas / Istirahat
Gejala

: Mudah lelah, intoleran activity, progresi, malaise,


perubahan pola tidur.

Tanda

: Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon


fisiologi aktifitas (Perubahan TD, frekuensi
jantung dan pernapasan).

b) Sirkulasi
Gejala

: Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan


lama pada cedera.

Tanda

: Perubahan TD postural, menurunnya volume nadi


perifer, pucat/sianosis, perpanjangan pengisian
kapiler.

c) Integritas dan Ego


Gejala

: Stress berhubungan dengan kehilangan,


mengkhawatirkan penampilan, mengingkari
diagnosa, putus asa dan sebagainya.

Tanda

: Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri,

marah.
d) Eliminasi
Gejala

: Diare intermitten, terus menerus, sering dengan


atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa
terbakar saat miksi

Tanda

: Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah,


sering diare, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses
rectal, perianal, perubahan jumlah, warna dan
karakteristik urine.

e) Makanan / Cairan
Gejala

: Anoreksia, mual muntah, disfagia

Tanda

: Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan


gigi dan gusi yang buruk, edema

f) Hygiene
Gejala

: Tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda

: Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

g) Neurosensori
Gejala

: Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,


kerusakan status indera, kelemahan otot, tremor,
perubahan penglihatan.

Tanda

: Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas,


refleks tidak normal, tremor, kejang, hemiparesis,
kejang.

h) Nyeri
Gejala

: Nyeri umum/local, rasa terbakar, sakit


kepala,nyeri dada pleuritis.

Tanda

: Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri


tekan, penurunan rentan gerak, pincang.

i) Pernapasan
Gejala

: ISK sering atau menetap, napas pendek progresif,


batuk, sesak pada dada.

Tanda

: Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi

napas, adanya sputum.


j) Keamanan
Gejala

: Riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka, transfuse


darah, penyakit defisiensi imun, demam berulang,
berkeringat malam.

Tanda

: Perubahan integritas kulit,luka perianal/abses,


timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe,
menurunya kekuatan umum, tekanan umum.

k) Seksualitas
Gejala

: Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi,


menurunnya libido, penggunaan pil pencegah
kehamilan.

Tanda

: Kehamilan,herpes genetalia.

l) Interaksi Sosial
Gejala

: Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi,


kesepian, adanya trauma AIDS.

Tanda

: Perubahan interaksi.

d. Data Psikologis
1) Status Emosi
Kaji emosi pasien apakah stabil/tidak, apakah pasien aktif
menjawab pertanyaan yang diberikan, tidak mudah tersinggung,
efek mimik muka sesuai keadaan atau tidak.
2) Kecemasan
Bagaimana ekspresi wajah pasien mengetahui tentang penyakitnya.
Apakah tampak cemas dan gelisah.
3) Pola Koping
Koping pasien dalam mengatasi masalah yang dihadapi, efektif
atau inefektif.
4) Gaya Komunikasi
Pada saat pasien berkomunikasi apakah cenderung diam, vokal
jelas atau tidak, menggunakan bahasa yang baik atau dengan marah
penuh emosi serta sebaliknya
e. Konsep Diri
1) Gambaran diri

Penerimaan pasien dalam menyukai bentuk seluruh tubuhnya


setelah menderita penyakit.
2) Harga Diri
Apakah ada perasaan bersalah atas perbuatannya selama ini, dan
malu dengan keadaan dirinya yang diduga mengidap HIV
3) Peran Diri
Bagaimana peran pasien dalam keluarga dan masyarakat.
4) Identitas Diri
Kaji tentang status pasien, sifat dan prilakunya.
5) Ideal Diri
f. Data Sosial
Bagaimana hubungan pasien dengan keluarga serta saudaranya dan
masyarakat. Pasien dapat menjalin kerja sama dengan petugas dan
sesama pasien di ruang perawatan atau tidak. Kooperatif atau
sebaliknya
g. Data Spiritual
Agama yang dianut pasien. Pada saat sakit masih tetap menjalankan
ibadah, jarang atau tidak pernah.
4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian
masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan
untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan
memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
1) Serologis
a) Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA.
Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa
b) Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus
(HIV)
c) Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
d) Sel T4 helper
e) T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada
sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
f) P24 ( Protein pembungkus HIV)

Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi


infeksi
g) Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau
mendekati normal
h) Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel
perifer monoseluler.
i) Tes PHS
Kapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
2) Neurologis
a) EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
b) Tes Lainnya
c) Sinar X dada
d) Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap
lanjut atau adanya komplikasi lain
e) Tes Fungsi Pulmonal
f) Deteksi awal pneumonia interstisial
g) Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan
bentuk pneumonia lainnya.
h) Biopsis
i) Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
j) Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan
biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
3) Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi
antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 12
minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 12 bulan.Hal ini
menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak
memperlihatkan hasil tes positif.Tapi antibody ternyata tidak
efektif,

kemampuan

mendeteksi

antibody

Human

Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan


skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. Pada
tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi
tentang uji kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi
semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
a) Tes Enzym Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)

Mengidentifikasi

antibody

yang

secara

spesifik

ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus


(HIV).ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya
menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV).Orang yang dalam
darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus
(HIV) disebut seropositif.
b) Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus
(HIV)

dan

memastikan

seropositifitas

Human

Immunodeficiency Virus (HIV)


c) Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan
seropositifitas.
d) Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.
3.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan dan,
mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah aktual dan
resiko tinggi (Marilynn E. Doenges, 1999).
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan
respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu
atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi
dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan
menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah .
NANDA menyatakan bahwa diagnose keperawatan adalah keputusan
klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah
kesehatan actual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan
untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan
perawat.
A. Analisa Data
No
1.

Data
Batasan karakteristik

Etiologi
HIV Menginfeksi limfosit CD4+
destruksi sel

Masalah
Resiko tinggi

Resiko
Infeksi
a. Penyakit kronis
b. Penekanan system
imun
c. Ketidakadekuat

Memburuknya sistem imun secara progresif

Tubuh rentan terhadap infeksi

Resiko tinggi infeksi

infeksi

imunitas dapatan
d. Malnutrisi
e. Prosedur invasive
f. Pertahanan primer
tidak adekuat
2.

Batasan karakteristik
kekurangan volume
cairan
a. Subjektif
1) Mengungkapka
n rasa haus
b. Objektif
1) Perubahan
status mental
2) Penurunan
turgor kulit
3) Penurunan
haluaran urine
4) Kulit dan
membran
mukosa kering
5) Hemotoktit
meningkat
6) Peningkatan
frekuensi nadi,
penurunan

Memudahkan
Invasi MO
melalui
Makanan &
minuman

Melepaskan
enterotoxin

Reaksi
imflamasi

Peningkatan
motilitas salcerna

Virus HIV
(Rotavirus)

Menurunkan
jmlh & fungsi
CD-4

Kekurangan
volume cairan
tubuh berlebih

Diare tiap hari

Kehilangan cairan yang berlebihan

Kekurangan volume cairan tubuh berlebih

tekanan darah
7) Konsentrasi
urine
meningkat
8) Kelemahan
3.

Batasan karakteristik
nutrisi

Infeksi Virus
HIV

Invasi MO

Perubahan
kebutuhan

kurang dari
kebutuhan tubuh
a. Objektif
1) Kram/nyeri
abdomen
2) Menolak
makan
3) Persepsi
ketidakmampua
n untuk

Aktivasi
Sitokin (IL1+TNF)

nutrisi; kurang
dari kebutuhan

Penetrasi
Demam
Hipotala
kedalam

mus
usus

Hiperme
tabolik
Anoreksia
Merusak

vili-vili usus

Pemecahan Asupan
Protein
nutrisi
Malabsor
Dan Otot
kurang
psi

mencerna
makanan
b. Subjektif
1) Pembulu
kapiler rapuh
2) Diare atau

Kehilangan len body mass

Perubahan kebutuhan nutrisi

steatore
3) Kekurangan
makanan
4) Bising usus
hiperaktif
5) Hb menurun
6) Kurangnya
minat terhadap
makanan
7) Memberan
mukosa pucat
4.

Batasan karakteristik
hipertermi
a. Subjektif
1) Mengungkapka
n keluhan
demam
2) Ungkapan
dehidrasi
b. Objektif
1) Kulit merah
2) Suhu tubuh
meningkat
diatas batas

Invasi MO
Saluran cerna

Masuk komponen dinding


sel

Reaksi inflamasi

Peningkatan metabolisme
sel

Peningkatan suhu tubuh

Hipertermi

Virus HIV
Gangguan

termoregulasi:
Aktivasi Sitokin (ILHipertermi
1+TNF)

Demam

normal
3) Kejang atau
konvulsi
4) Kulit teraba
5.

hangat
Batasan karakteristik
nsietas
(Cemas)
a. Subjektif
1) Mengungkapka
n perasaan
kekhawatiran
akibat
perubahan
dalam peristiwa
hidup
2) Mengungkapka
n sulit untuk
tidur
b. Objektif
1) Gelisah
2) Memandang
sekilas
3) Kontak mata
buruk
4) Gerakan yang
tidak relevan
5) Resah
6) Kesedihan yang
mendalam
7) Distress
8) Ketakutan
9) Perasaan tidak
adekuat
10) Focus pada
hidup sendiri
11) Iritalibitas
12) Gugup
13) Peningkatan
keringat
14) Peningkatan
ketegangan

Didiagnosa HIV/AIDS

Kurang pengetahuan tentang penyakit

Gelisah

Cemas

Cemas

15) Terguncang

6.

Batasan karakteristik
harga diri
rendah
a. Subjektif
1) Evaluasi diri
bahwa ia tidak

HIV/AIDS

Infeksi opportunistik

Gangguan citra tubuh

Harga diri rendah

Harga diri

Didiagnosa AIDS

Isolasi sosial

rendah

sanggup
menghadapi
situasi atau
peristiwa
2) Melaporkan
secara verbal
tantangan
situasional saat
ini
terhadap harga
diri
b. Objektif
1) Gangguan citra
tubuh
2) Kurang kontak
mata
3) Perilaku
bimbang dan
tidak asertif
4) Perkataan
7.

peniadaan diri
Batasan karakteristik

isolasi
sosial
a. Subjektif
1) Mengungkapka
n perasaan
kesendirian
yang
disebabkan
oleh
orang lain
2) Mengungkapka
n perasaan
berbeda
dari orang lain
3) Mengungkapka
n perasaan
penolakan
4) Minat yang
tidak sesuai
dengan
tahap
perkembangan
5) Ketidakmampu
an memenuhi
harapan orang
lain
6) Merasa tidak
aman dalam
bermasyarakat
7) Mengungkapka
n nilai yang
tidak diterima
bagi kelompok
budaya
dominan
b. Objektif
1) Ketidakadaan
orang terdekat

Persepsi AIDS Penyakit Aib

Persepsi tidak diterima dalam masyarakat

Isolasi sosial

yang member
dukungan
(misalnya
keluarga,
teman dan
kelompok)
2) Perilaku yang
tidak sesuai
dengan tahap
perkembangan
3) Adanya cacat
fisik atau
mental
4) Termasuk
golongan
budaya non
dominan
5) Tindakan tidak
terarah
6) Tidak ada
kontak mata
7) Asik dengan
pikiran sendiri
8) Menunjukkan
sikap
bermusuhan
(melalui suara
maupun
perilaku)
9) Tindakan
berulang
10) Afek sedih
11) Memilih untuk
sendiri
12) Tidak
komunikatif
13) Menarik diri

B. Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul antara lain :

1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi


dan pola hidup yang beresiko.
2. Kekurangan volume cairan tubuh berlebih berhubungan dengan diare
setiap hari
3. Perubahan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan asupan nutisi ysng tidak adekuat


4. Gangguan termoregulasi: hipertermi berhubungan dengan invansi MO
saluran cerna dan infeksi virus HIV
5. Ansietas/cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakitnya yang ditandai dengan pasien tampak gelisah, menangisi
keadaannya seperti sekarang
6. Harga diri rendah (kronik, situasional) berhubungan dengan prognosis
penyakit, gangguan citra tubuh.
7. Isolasi sosial berhubungan dengan persepsi tidak diterima dalam
masyaraka
3.3 Intervensi Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan adalah desain spesifik intervensi
untuk membantu dalam mencapai kreteria hasil. Rencana tindakan
dilaksanakan berdasarkan komponen penyebab dari diagnose keperawatan.
Oleh karena itu rencana mendefinisikan suatu aktifitas yang diperlukan untuk
membatasi fakto-faktor pendukung terhadap suatu permasalahan.
Rencana tindakan keperawatan adalah preskripsi untuk prilaku
spesifik yang diharapkan dari pasien dan atau tindakan yang harus di lakukan
oleh perawat.(Maritynn E. Doenges, 1999).

No
1.

Diagnosa

Tujuan dan

Intervensi

Keperawatan
Resiko tinggi

kriteria hasil
Tujuan : Setelah

infeksi

dilakukan

sebelum dan

berhubungan

tindakan

sesudah

dengan

keperawatan

kontak dengan

imunosupresi,

selama 3 x 24

pasien.

malnutrisi dan

jam diharapkan

Anjurkan

pola hidup yang

perluasan infeksi

pasien/orang

beresiko.

atau sepsis tidak

terdekatnya

terjadi dengan

cuci tangan

kriteria hasil :

setelah kontak

1. Cuci tangan

1. Pasien dan
keluarga mau

2.

lingkungan

berpartisipasi

yang bersih

dalam

dan

perilaku

berventilasi

mengurangi
resiko infeksi
2. Luka/lesi
pulih
3. Demam tidak
ada
4. Tidak ada

dengan pasien
Berikan

baik
3. Monitor
tanda-tanda
vital
4. Terapkan
standar

cairan atau

precaution

secret yang

dalam seluruh

purulen dari

kegiatan

tubuh.
5. Jumlah
leukosit
normal

perawatan
5.

pasien
Terapkan
pembatasan
pengunjung

Rasional
1. Mengurangi
resiko/kontaminasi silang

2. Mengurangi patogen pada


sistem imun dan
mengurangi kemungkinan
pasien mengalami infeksi
nasokomial
3. Memberikan informasi
data dasar.
4. Penggunaan masker, skort
dan sarung tangan
dilakukan untuk kontak
langsung dengan cairan
tubuh

5. Mengurangi infeksi
nasokomial

pada pasien
6. Kolaborasi
pemeriksaan
laboratorium
7. Kolaborasi
pemberian

6. Mengidentifikasi proses
adanya infeksi.

antibiotic

7. Menghambat proses
infeksi.

2.

Kekurangan

Tujuan:

1.

Anjurkan 1.

volume cairan

Jangka Panjang :

pasien untuk

keseimbangan cairan,

tubuh berlebih

Volume cairan

minum

mengurangi rasa haus dan

berhubungan

tubuh normal

sedikitnya

melembabkan membran

dengan diare tiap

dipertahankan

2500 ml/hari

mukosa.

hari

Jangka Pendek :

2.

Ukur

Setelah dilakukan

intake dan out

tindakan selama

put

3 x 24 jam

3.

Kaji
turgor kulit,

tercapai rehidrasi

membran

dengan kriteria

mukosa, dan

hasil :

rasa haus

2.

Frekuen

tanda-tanda

berkurang

vital dan

Konsist

timbang BB.
5.

Turgor

6.

Tanda
vital stabil

volume cairan sirkulasi

5.

Kaji

Mendeteksi adanya
darah dalam feses

feses dan

n mukosa
5.

Indikator dari

dan frekuensi

Membra
lembab

4.

konsistensi

kulit baik
4.

Indikator tidak
langsung dari status cairan

Observasi

si BAB

ensi lembek
3.

4.

Menunjukan perfusi
ginjal dan status cairan

3.

diharapkan

1.

2.

Memepertahankan

adanya darah. 6.

Hipermotiliti

Auskultasi

umumnya dengan diare

bunyi usus
7.

7.

Kolaboras

mendukung/memperbesar

i pemberian

volume sirkulasi dan jika

cairan

mual atau muntah terus

parenteral

menerus

8.
8.

Diperlukan untuk

Berikan

Mengurangi kejang
usus dan peristaltik

anti
spasmodik
dan terapi lain
sesuai order
3.

Perubahan

Tujuan:

kebutuhan nutrisi;

Perbaikan status

kemampuan

pencernaan dan toleransi

kurang dari

nutrisi

klien untuk

klien terhadap nutrisi

kebutuhan tubuh

Setelah dilakukan

mendapatkan

yang di berikan

berhubungan

tindakan

nutrisi yang

dengan asupan

keperawatan

tidak adekuat

selama 3 x 24
jam diharapkan
berat badan dapat

1. Kaji

dibutuhkan
2. Monitor
lingkungan
selama makan

1. Meningkatkan proses

2. Meskipun proses
pemulihan klien
memerlukan bantuan

dipertahankan

makanan atau

dengan kriteria

menggunakan alat bantu,

hasil:

sosialisasi waktu makan

1. Berat badan

dengan orang terdekat

2.

tetap

atau teman dapat

Nafsu

meningkatakan

makan
membaik
3.

Tidak mual
saat makan

4.

Porsi makan
habis

3. Anjurkan

pemasukan
3. Makanan yang

klien untuk

mendatangkan mual

batasi

menyebabkan klien

makanan yang

enggan untuk makan

menyebabkan
mual dan
muntah
4. Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb
5. Timbang BB
sesuai indikasi

4. Mengidentifikasi
defesiensi nutrisi, fungsi
organ, dan respon
terhadap nutrisi tersebut
5. jantung/masalah
metabolism
6. Mengevaluasi keefektifan

6. Catat
perubahan BB

atau kebutuhan

mengubah pemberian
7. Kolaborasi
dengan ahli

nutrisi
7. Merupakan sumber yang

gizi untuk

efektif untuk

memenuhi

mengidentifikasi

jumlah kalori

kebutuhan kalori/nutrisi

dan nutrisi

tergantung pada usia, BB,

yang

ukuran penyakit sekarang

dibutuhkan

(trauma, penyakit)

klien
4.

Gangguan

Tujuan:

termoregulasi:

termoregulasi

tanda vital

merupakan aluan untuk

hipertermi

tidak terjadi.

terutama suhu

mengetahui keadaan

berhubungan

Setelah dilakukan

dengan invansi

tindakan

MO saluran cerna

keperawatan

dan infeksi virus

selama 3 x 24

HIV

jam diharapkan

1. Pantau tanda-

umum pasien terutama


2. Berikan
kompres panas
3. Beri pasien

suhu badan klien

banyak minum

turun dengan

air (1500-2000

kriteria hasil:
1. Klien

2.

proses penurunan panas


yang dialami pasien
3. Dengan minum banyak air
diharapkan cairan yang

hilang dapat diganti


cc/hari)
4. Anjurkan klien 4. Karena kondisi tubuh yang
untuk

lembab memicu

Badan tidak

menggunakan

pertumbuhan jamur

panas

baju yang dapat

sehingga beresiko

Badan klien

menyerap

menimbulkan komplikasi

panas
Bibir dan
mulut lembab
4.

suhu tubuhnya
2. Dapat membantu dalam

mengatakan

tidak teraba
3.

1. Tanda-tanda vital

Tanda tanda
vital dalam
keadaan
normal

keringat
5. Monitoring
vital sign

5. Sebagai indikator untuk


mengetahui perkembangan

6. Kolaborasi

hipertermi
6. Pemberian obat antibiotik

dalam

unuk mencegah infeksi

pemberian obat

pemberian obat antipiretik

antipiretik dan

untuk penurunan panas

antibiotik

5.

Ansietas

Tujuan :

berhubungan

mengurangi

tentang

penentraman hati lebih

dengan kurangnya

kecemasan

kerahasiaan

lanjut dan memberi

pengetahuan

pasien

dalam batasan

kesempatan bagi pasien

tentang

Setelah dilakukan

situasi

untuk memecahkan

penyakitnya yang

tindakan

tertentu.

masalah pada situasi yang

ditandai dengan

keperawatan 3 x

pasien tampak

24 jam

gelisah, menangisi

diharapkan

keadaannya

cemas pasien

seperti sekarang

berkurang
dengan kriteria
hasil :
1. Pasien akan
menyatakan

1. Jamin pasien

2. Pertahankan
hubungan
yang sering
dengan pasien,
batasi

tidak akan sendiri serta


menunjukan rasa
menghargai dan
menerimanya

alat pelindung
dan masker.
3. Beri informasi
yang akurat

tentang

dan konsisten

perasaan dan

mengenai

cara sehat

progresi

menghadapin

diantisipasi.
2. Menjamin bahwa pasien

penggunaan

kesadaran

untuk

1. Memberikan

penyakit.
4. Waspada

3. Mengurangi ansietas dan


ketidak mampuan pasien
untuk membuat
keputusan berdasarkan
realita.
4. Pasien mungkin akan

terhadap

menggunakan mekanisme

tanda-tanda

bertahan dengan

rentang

penolakan/dep

penolakan yang terus

normal dari

resi.

berharap bahwa

ya
2. Menunjukan

perasaan dan
berkurangnya
rasa ansietas
3. Menunjukan
kemampuan
untuk
mengatasi
masalah,
menggunaka
n sumbersumber

5. Beri
lingkungan
terbuka
dimana pasien

diagnosanya tidak akurat.


5. Membantu pasien untuk
merasa diterima pada
kondisi sekarang tanpa
perasaan dihakimi

akan merasa
bebas untuk
mendiskusika
n perasaan.
6. Kolaborasi
rujuk pada

6. Diperlukan bantuan lebih


lanjut dalam berhadapan

dengan

konseling

dengan diagnosa tertentu

efektif

psikiatri.

terutama jika timbul


pikiran bunuh diri

6.

Harga diri

Tujuan: pasien

rendah (kronik,

memiliki konsep

hubungan

kemampuan pasien

situasional)

diri yang positif

saling percaya

seperti menilai realitas,

berhubungan

Setelah dilakukan

dengan

kontrol diri atau

tindakan

mengungkapk

keperawatan

an prinsip

selama 3 x 24

komunikasi

jam diharapkan

terapetik

1. Pasien dapat

dengan cara

membina

sapa pasien

hubungan

dengan ramah

saling

baik verbal

dengan
prognosis
penyakit,
gangguan citra
tubuh.

percaya
dengan
perawat
2. Pasien dapat

1. Bina

dan nonverbal.
2. Diskusikan
kemampuan
dan aspek

mengidentifi

positif yang

kasi

dimiliki

kemampuan
dan aspek
positif yang
dimiliki.
3. Pasien dapat
menilai
kemampuan
yang

1. Diskusikan tingkat

2. Integritas ego diperlukan


sebagai dasar asuhan
keperawatan.

pasien.
3. Hindarkan
dari memberi
penilaian
negatif setiap
bertemu
pasien
4. Rencanakan

3. Reinforcement positif
akan meningkatkan harga
diri pasien

digunakan.
4. Pasien dapat

bersama

merencanaka
n kegiatan

aktivitas mandiri sesuai

aktifitas yang

kemampuannya

dilakukan

dengan

setiap hari

kemampuan
dimiliki.

pasien
dapat

yang sesuai

yang

4. Pasien dapat melakukan

sesuai
kemampuan
5. Beri
pendidikan

5. Mendorong keluarga

kesehatan

untuk mampu merawat

pada keluarga

pasien secara mandiri

tentang cara

dirumah.

merawat
pasien dengan
harga diri
rendah
6. Bantu kelurga
menyiapkan
lingkungan di

6. Meningkatkan peran serta


keluarga dalam merawat

rumah

pasien di rumah.
7.

Isolasi sosial

Tujuan : Persepsi

berhubungan

tidak diterima

atasi/hindari

perasaan pasien akan

dengan persepsi

dalam

penggunaan

isolasi fisik dan

tidak diterima

masyarakat

masker, baju

menciptakan hubungan

dalam masyarakat

hilang.

dan sarung

sosial yang positif.

Setelah dilakukan

tangan, jika

tindakan

memungkinka

keperawatan

n.

selama 3 x 24

1.

B 1.

2.

2.
Te

Mengurangi

Isolasi
sebagian dapat

jam diharapkan

ntukan

mempengaruhi diri, saat

klien

persepsi klien

pasien takut penolakan /

menunjukan

tentang

reaksi orang lain.

peningkatan

situasi.

perasaan harga

3.

3.
B

Pasien akan
mengalami isolasi fisik

diri, dengan

erikan waktu

kriteria hasil:

untuk bicara

1.

dengan klien

Klien
dapat

selama dan

berinteraksi

diantara

aktif dan

aktivitas

terbuka

perawatan,

dengan

tetap memberi

petugas

dukungan,

2.

Klien

perlakukan

tampak tidak

dengan penuh

murung

penghargaan

3.

Klien

dan

mau

menghormati

bersosialisasi

perasaan klien

dengan

4.

4.

memantapkan partisipasi

lingkunganny

orong adanya

hubungan

Membantu
pada hubungan sosial.

yang aktif
dengan orang
terdekat
5.

5.

Indikasi
bahwa putus asa dan ide

untuk bunuh diri sering

aspadai

muncul, ketika tanda-tanda

gejala-gejala

ini diketahui oleh pemberi

verbal/nonver

perawatan, pasien pada

bal, misal:

umumnya ingin berbicara

menarik diri,

mengenai perasaan bunuh

putus asa

diri, terisolasi dan putus

perasaan

asa.

kesepian.
Tanyakan
kepasien:
apakah pernah
berfikir untuk
bunuh diri ?

3.4 Implementasi Keperawatan


Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik, tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan diharapkan pada Nursing aders untuk membantu klien mencapai
tujuan yang diharapkan yang mencangkup peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, pemulihan kesehatan dan mempalisitai koping. Ada tiga tahap dalam
tindakan keperawatan yaitu : Persiapan, intervensi, dan dokumentasi.
(Nursalam, 2001)
3.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana
tindakan, dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Melalui evaluasi
memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama
tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan.
Adapun komponen tahap evaluasi adalah pertama pencapaian kreteria
hasil, kedua keefektifan tahap-tahap keperawatn, ketiga revisi atau terminasi
keperawatn.
Evaluasi perencanaan kreteria hasil tulis pada catatan perkembangan
dalam bentuk SOAPIER :
S (Subyektif)

: Keluhan-keluhan klien

O (Obyektif)

: Apa yang dilihat, dicium, diraba dan dapat


diukur oleh perawat.

A (Analisa)

P (Plan of care) :

Kesimpulan tentang keadaan klien


Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi
diagnosa/masalah keperawatan klien.

I (Intervensi)

Tindakan yang dilakukan perawat untuk kebutuhan


klien

E (Evaluasi)

Respon klien terhadap tindakan perawat

R (Ressesment) :

Mengubah

rencana

tindakan

keperawatan

yang

diperlukan.
Tujuan evaluasi ini adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan. Hal ini bias dilaksanakan dengan mengadakan hubungan
dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang
diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan:
a. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan
yang ditetapkan).
b. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan
untuk mencapai tujuan)
c. Meneruskan rencana tindakan keperawatan
yang lebih lama untuk mencapai tujuan)

(kilen memerlukan waktu

BAB 4
PENUTUP
4.1 Simpulan
HIV (Human immunodeficiency Virus) adalah virus pada manusia yang
menyerang system kekebalan tubuh manusia dalam jangka waktu yang relatif
lama dan dapat menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS sendiri adalah suatu
sindroma penyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama
karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
Para wanita yang termasuk dalam kategori beresiko tinggi terhadap
infeksi HIV mencakup:
1. Wanita yang melakukan hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.
2. Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis dimana
HIV merupakan sesuatu yang umum.
3. Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang
disuntikkan melalui pembuluh darah.
4. Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan.
5. Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.
6. Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV.
HIV/AIDS merupakan model penyakit yang memerlukan dukungan
untuk mengatasi masalah fisik, psikis dan sosial. Gangguan fisik yang berat
dapat menimbulkan beban psikis dan sosial. Namun stigma masyarakat akan
memperberat beban psikososial penderita. Dalam penatalaksanaan AIDS
selain penanganan aspek fisik maka aspek psikososial perlu diperhatikan
dengan seksama.
4.2 Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan nantinya akan memberikan
manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan
bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan terutama pada
penderita khususnya wanita dengan diagnosa medis HIV positif.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes R.I. (2003). Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan


bagi ODHA. Buku Pedoman Untuk Petugas Kesehatan dan Petugas
lainnya. Jakarta: Dirtjen PPm dan PL Depkes.
FAOWorld Health Organization. (2002). Living Well with HIV/AIDS. A Manual
Nutritions Care and Support for People Living with HIV/AIDS. Rome.
HRSA (Health Resources and Scienses Administration). (2002). Health Care and
HIV: Nutrition Guide for Providers and Clients. HIV/AIDS Bureau
Lily, V.L. (2004). Transmisi HIV dari Ibu ke Anak. Majalah Kedokteran
Indonesia. p.54
Mariliyn E. Doenges. (1999 ). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Nanda. (2010). Diagnosa Keperawatan. Jakarata: EGC
Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan bayi dan anak (untuk perawat dan
bidan). Jakarta: Salemba Medika
PELKESI. (1995). Pendekatan perencenaan program pencegahan PMS dan AIDS
di Masyarakat. Jakarta: PELKESI
Richar D Muma et al. (1997). Diterjemahkan oleh Shinta P. HIV Manual Untuk
Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC