Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR TIBIA + ORIF


A.

Tinjauan Teoritis

1.

Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Smeltzer & Bare, 2001). Sjamsuhidayat (2004) juga mengungkapkan bahwa
fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Sedangkan Black dan Hawks (2005)
menyatakan bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi
karena tekanan pada tulang yang berlebihan.

2.

Klasifikasi fraktur
Klasifikasi fraktur yang paling sederhana adalah fraktur terbuka dan tertutup
menurut paparannya terhadap lingkungan (Black & Hawks, 2005).
a.

Fraktur terbuka
Karakteristik fraktur terbuka adalah robeknya kulit pada area tulang yang mengalami
fraktur. Akibat adanya hubungan/kontak antara luka dengan lingkungan luar dan
jaringan ekstensif yang rusak, maka fraktur terbuka berpotensi mengalami infeksi.
Fraktur terbuka dibagi menjadi beberapa tingkat keparahannya, yaitu:

Grade 1 : Ukuran luka kurang dari 1 cm dengan kontaminasi minimal.

Grade 2 : Ukuran luka lebih dari 1 cm dengan kontaminasi dan kerusakan


jaringan sedang.

Grade 3 : Ukuran luka lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan jaringan lunak,
saraf
dan tendon serta kontaminasi yang tinggi.

b. Fraktur tertutup
Adanya kerusakan tulang secara internal tetapi tidak menembus kulit. Sebelumnya,
fraktur tertutup kadang dipandang sebagai fraktur yang sederhana. Pandangan ini
dapat menyesatkan karena fraktur tertutup sering menimbulkan komplikasi seperti
fraktur terbuka.
Beberapa jenis fraktur lain:
1

a. Fraktur komplet: patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami
pergeseran dari posisi normal
b. Fraktur tidak komplet: patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
c. Greenstick: fraktur tidak sempurna dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi
lainnya membengkok, sering terjadi pada anak-anak.
d. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
e. Oblik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang
f. Spiral: fraktur memuntir seputar batang tulang
g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
i. Kompresi: fraktur dimana tulang mengalami kompresi (misalnya fraktur tulang
belakang)
j. Patologik: fraktur yang terjadi pada tulang yang mengalami gangguan dan seringkali
menunjukkan penurunan densitas (mis.akibat kista tulang, metastasis tulang, tumor)
k. Avulsi: tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlekatannya
l. Impaksi: fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya
(Smeltzer & Bare, 2001)
3.

Fraktur Tibia
Fraktur bawah lutut paling sering adalah fraktur tibia yang terjadi akibat pukulan
langsung, jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi atau gerakan memuntir yang keras. Klien
biasanya datang dengan nyeri, deformitas, hematoma yang jelas dan edema berat. Sering
kali fraktur ini melibatkan kerusakan jaringan lunak berat karena jaringan subkutis
disekitarnya sangat tipis.
Pengkajian yang dilakukan pada fraktur tibia ada fungsi saraf peroneus sebagai data
dasar. Jika fungsi saraf terganggu pasien tidak akan mampu melakukan gerakan
dorsofleksi ibu jari kaki dan mengalami gangguan sensasi pada sela jari pertama dan
kedua. Kerusakan arteri tibialis dikaji dengan menguji respon pengisian kapiler. Pasien
dipantau mengenai adanya sindroma kompartemen anterior. Gejalanya meliputi nyeri
yang tak berkurang dengan otot dan bertambah bila melakukan fleksi plantar, tegang dan
nyeri tekan otot di sebelah lateral krista tibia dan parestesia. Fraktur dekat sendi dapat
mengakibatkan komplikasi berupa hemartrosis dan kerusakan ligamen.
Penanganan kebanyakan fraktur tibia tertutup ditangani dengan reduksi tertutup dan
imobilisasi awal dengan gips sepanjang tungkai jalan atau patellar-tendon-bearing.
2

Reduksi harus relatif akurat dalam hal angulasi dan rotasinya. Ada saat dimana sangat
sulit mempertahankan reduksi, sehingga perlu dipasang pin perkutaneus dan
dipertahankan dalam posisinya dengan gips atau fiksator eksterna yang digunakan.
Pembebanan berat badan parsial biasanya diperbolehkan dalam 7-10 hari. Aktivitas akan
mengurangi edema dan meningkatkan peredaran darah. Gips diganti menjadi tungkai
pendek atau brace dalam 3-4 minggu, yang memungkinkan gerakan lutut. Penyembuhan
fraktur memerlukan waktu 6-10 minggu.
Fraktur terbuka atau kominutif dapat ditangani dengan traksi skelet, fiksasi interna
dengan batang, plat atau nail, atau fiksasi eksterna. Latihan kaki dan lutut harus didorong
dalam batas alat imobilisasi. Pembebanan berat sesuai dengan indikasi biasanya 4-6
minggu.
4.

Etiologi
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir
mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Smeltzer & Bare, 2001). Black dan
Hawks (2005) mengungkapkan bahwa fraktur juga dapat diakibatkan oleh penyakit yang
mempengaruhi metabolisme tulang seperti osteoporosis. Fraktur dapat terjadi karena
trauma langsung akibat benda bergerak yang menghantam area tubuh yang dilindungi
tulang, maupun trauma tidak langsung karena kontraksi otot yang sangat kuat terhadap
tulang.
Fraktur dapat terjadi karena adanya faktor-faktor predisposisi antara lain:
a.

Kondisi biologis seperti osteopenia (mis. karena penggunaan obat steroid atau
sindrom Cushing), neoplasma yang menyebabkan kelemahan pada tulang,
menurunnya kadar estrogen pascamenopause dan malnutrisi protein sehingga
kepadatan tulang berkurang

b.

Pada orang dengan kondisi tulang yang sehat fraktur dapat terjadi karena
kegiatan-kegiatan yang berisiko tinggi atau kecelakaan lalu lintas.

5.

Patofisiologi
Fraktur yang terjadi mengakibatkan otot tidak lagi terikat pada ujung tulang yang
patah sehingga terjadi spasme yang menekan ujung-ujung patahan tulang dan
menyebabkan fragmen tulang yang patah bergeser dari posisi normalnya. Semakin besar
otot maka dapat menyebabkan spasme berlebihan yang mampu menggeser tulang yang
besar sekalipun seperti fraktur pada femur. Selain itu, periosteum dan pembuluh darah di
3

korteks, sumsum dan jaringan lunak sekitar menjadi rusak. Ujung tulang yang patah serta
jaringan lunak yang cedera menimbulkan perdarahan. Hematoma terbentuk di kanal
medular antara fragmen tulang yang patah dan di bawah periosteum. Jaringan nekrotik
pada fraktur segera menstimulasi respons peradangan yang ditandai dengan vasodilatasi,
edema, nyeri, hilangnya fungsi tulang, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel
darah putih. Proses tersebut terjadi sebagai awal dari proses penyembuhan tulang (Black
& Hawks, 2005).
Proses penyembuhan tulang:
Black dan Hawks (2005) menyatakan bahwa terdapat 5 tahap dalam proses
penyembuhan tulang:
I.

Pembentukan hematoma/tahap inflamatori 1-3 hari (72 jam)


Hematom segera terbentuk di lokasi fraktur. Dilatasi vaskular terjadi sebagai respon
terhadap akumulasi sel-sel yang mati dan debris di sekitar area fraktur. Eksudasi
fibrin yang kaya akan plasma mengawali migrasi sel-sel fagosit ke area trauma.
Apabila suplai darah inadekuat maka tahap awal ini akan terganggu

II.

Pembentukan fibrokartilago 3 hari-2 minggu


Sebagai respon terhadap inflamasi akut maka fibroblas, osteoblas, dan kondroblas
bermigrasi ke lokasi fraktur dan membentuk fibrokartilago. Trauma periosteum
mempercepat proliferasi osteoblas. Osteogenesis terjadi secara cepat dan formasi
tulang terjadi dalam waktu beberapa hari di area yang fraktur, di mana area tersebut
sangat membutuhkan suplai darah. Dalam beberapa hari, kombinasi peningkatan
periosteal dan jaringan granulasi membentuk suatu sabuk di sekitar ujung fragmen
tulang yang fraktur, sabuk tersebut berkembang dan menjadi penghubung antara area
fraktur. Proses ini disebut juga sebagai kalus primer.

III.

Pembentukan kalus 2-6 minggu


Terbentuknya kartilago dan matriks tulang yang baru menghilang seiring dengan
terbentuknya kalus dan meningkatnya jumlah kalus sementara. Prokalus berukuran
besar, lebih luas daripada diameter tulang, tidak memiliki massa tulang keras dan
kartilago, dapat melindungi fragmen tulang namun tidak dapat melindunginya.
Prokalus melebar hingga melewati batas fraktur sebaga bentuk perlindungan
sementara. Pada fraktur sederhana, prokalus terbentuk maksimal dalam waktu 14-21
hari setelah injury. Pada fase ini, penting sekali dilakukannya pelurusan tulang secara
tepat.

IV.

Osifikasi 3 minggu-6 bulan


4

Mula-mula osifikasi membentuk kalus eksternal (diantara periosteum dan korteks)


kemudian kalus internal dan akhirnya kalus intermediet (diantara fragmen kortikal).
Selama minggu ketiga sampai kesepuluh, kalus berubah menjadi tulang dan
menyatukan patahan tulang dengan sempurna sehingga tahap ini sering disebut tahap
penyatuan
V.

Konsolidasi dan remodeling 6 minggu-1 tahun


Pada tahap ini osifikasi terus berlanjut dan jarak antara patahan tulang semakin
hilang dan akhirnya menutup. Bersamaan dengan terbentuknya tulang sejati melalui
osifikasi, terjadi remodeling kalus oleh aktivitas osteoblas dan osteoklas. Jaringan
tulang berlebih akan direabsorpsi dari kalus. Jumlah dan jangka waktu remodeling
tulang tergantung pada tekanan yang dialami tulang, beban tulang, dan usia
penderita. Pasien dapat mulai untuk mengangkat beban pada tahap ini

6.

Manifestasi klinik
a.

Deformitas
Posisi tulang abnormal disebabkan oleh gaya penyebab trauma dan spasme otot yang
mendorong patahan tulang (Lemone & Burke, 2008). Posisi tulang abnormal tersebut
bisa diketahui dengan membandingkannya dengan bagian yang sehat/normal
(Smeltzer & Bare, 2001). Apabila tidak diatasi, deformitas dapat menyebabkan
masalah penyatuan tulang dan perbaikan fungsi daerah yang mengalami trauma.

b.

Pembengkakan
Edema yang disebabkan rusaknya jaringan lunak dan perdarahan jaringan sekitar
(Lemone & Burke, 2008). Edema pada tempat tertutup yang tidak terdeteksi dapat
menghambat sirkulasi dan merusak saraf sehingga berisiko terjadi sindrom
kompartemen.

c.

Memar (ekimosis)
Terjadi akibat perdarahan subkutan pada lokasi fraktur (Black & Hawks, 2005).

d.

Spasme otot
Umumnya terjadi pada fraktur dan merupakan suatu respon perlindungan terhadap
cedera dan fraktur (Black & Hawks, 2005).

e.

Nyeri
Timbul karena spasme otot yang diakibatkan oleh refleks involunter otot, trauma
langsung jaringan, peningkatan tekanan saraf sensorik, dan perpindahan daerah yang
5

fraktur. Nyeri yang dialami akan berbeda pada setiap orang, biasanya berlanjut
sampai tulang diimobilisasi (Black & Hawks, 2005).
f.

Kehilangan fungsi
Ketidakstabilan tulang yang patah, nyeri atau spasme otot dapat menyebabkan
kehilangan fungsi. Paralisis juga dapat terjadi akibat kerusakan saraf (Black &
Hawks, 2005)

g.

Krepitus (suara gemeretak)


Dapat terdengar sewaktu tulang digerakkan akibat gesekan ujung-ujung patahan
tulang (Smeltzer & Bare, 2001).

h.

Perubahan neurovaskular
Cedera neurovaskular dapat terjadi akibat terjepitnya saraf karena edema,
perdarahan, atau patahan tulang. Klien dapat mengalami kesemutan, mati rasa, atau
tidak terabanya denyut nadi distal pada lokasi fraktur (Black & Hawks, 2005).

i.

Shock

Laserasi pembuluh darah akibat patahan tulang, perdarahan tulang yang terlihat atau
tersembunyi dapat menyebabkan terjadinya shock (Black & Hawks, 2005).
7.

Komplikasi
a.

Komplikasi awal
Shock
Tulang merupakan organ yang sangat vaskuler sehingga kehilangan darah dalam
jumlah besar dapat menyebabkan terjadinya shock hipovolemik dan kehilangan
cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak.
Sindrom emboli lemak
Awitan gejalanya yang sangat cepat dapat terjadi dalam beberapa sampai satu
minggu setelah cedera. Gejala yang muncul berupa hipoksia, takipnea, takikardia,
dan pireksia.
Sindrom kompartemen
Merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari
kebutuhan jaringan karena edema atau perdarahan. Pasien dapat mengeluh nyeri
dalam, berdenyut dan tidak dapat diatasi dengan opioid. Palpasi pada otot akan
terasa pembengkakan dan keras. Parestesia (mati rasa dan geli) timbul sebelum
terjadi paralisis

Komplikasi lainnya yang mungkin muncul seperti tromboemboli, infeksi, dan


koagulopati intravaskuler diseminata (KID).
b.

Komplikasi lanjut
Malunion
Suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak
seharusnya, membentuk sudut, atau miring.
Delayed union dan nonunion
Delayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Union merupakan kegagalan
fragmen tulang yang patah untuk menyatu kembali. Union dapat terjadi karena
reduksi yang tidak benar, imobilisasi yang kurang tepat, cedera jaringan lunak
yang sangat berat, infeksi (Price & Wilson, 1994).
Nekrosis avaskuler tulang
Terjadi bila tulang kehilangan asupan darah dan mati. Pasien mengalami nyeri
dan keterbatasan gerak. Sinar-x menunjukkan kehilangan kalsium dan kolaps
struktural.
Reaksi terhadap alat fiksasi internal
Nyeri dan penurunan fungsi merupakan indikator utama telah terjadinya masalah
meliputi pemasangan dan stabilitas yang tidak memadai, alat yang cacat atau
rusak, alat berkarat sehingga menyebabkan inflamasi lokal, respon alergi
terhadap campuran logam.
(Smeltzer & Bare, 2001)

8.

Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma.
b. Skan tulang, tomografi, skan CT/MRI: memperlihatkan fraktur;juga dapat digunakan
untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.
e. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
f. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multiple,
atau cidera hati.
7

(Doenges, Moorhouse, & Geissler, 2000)

9.

Penatalaksanaan
Adanya prinsip 4 R :
a.

Rekognisi
Merupakan perkiraan diagnosa dari fraktur pada tempat kejadian dapat dilakukan
sehubungan dengan adanya nyeri, bengkak local, kelainan bentuk, ketidakstabilan.
Selain itu dapat pula digunakan untuk mengetahui riwayat kecelakaan, derajat
keparahan fraktur, jenis kekuatan, deskripsi peristiwa yang terjadi

b.

Reduksi
Merupakan usaha untuk mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan
rotasi anatomis.
1) Reduksi terbuka (open reduction)
Dilakukan pembedahan, termasuk fiksasi interna. Dalam bentuk pin, skrup, plat,
paku. Kerugiannya kemungkinan besar terjadi infeksi dan adanya komplikasi
anastesi
2) Reduksi tertutup (close reduction)
Dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung ujungnya
saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual

c.

Retensi-Reduksi
Merupakan untuk mempertahankan posisi fragmen fraktur sesuai dengan geometri
ekstermitas yang patah biasanya dilakukan pemasangan gips, traksi dan tindakan
pembedahan.
Pada tinjauan pendahuluan ini kita lebih membahahas pada poin pembedahan.
Reposisi terbuka dilakukan melalui pembedahan. Metode perawatan ini disebut
fiksasi interna dan reduksi terbuka (ORIF : Open Reduction Internal Fixation). ORIF
merupakan koreksi patah tulang dengan jalan membuka dan memasang suatu alat
yang dapat membuat fragmen tulang tidak dapat bergerak. ORIF dikombinasikan
dengan fiksasi internal menggunakan wires (kawat), screw, pin, plate atau nail
(paku). ORIF mebutuhkan ambulasi dengan segera yang akan menurunkan resiko
komplikasi yang lama (Lewis, 2007).
8

Indikasi tindakan ORIF

Dilakukan pada fraktur terbuka

Terdapat jaringan lunak diantara fragmen

Terjadinya kerusakan saraf yang cukup luas

Ketika tindakan reduksi tertutup tidak berhasil.

Komplikasi tindakan ORIF

Infeksi yang dikarenakan oleh bahan-bahan material ORIF dan karena


ambulasi yang lambat.

Keuntungan tindakan bedah

Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur

Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf disekitarnya

Stabilisasi fiksasi yang cukupmemadai untuk dicapai

Perawatan RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi

Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta


kekuatan otot selama perawatan fraktur

Kerugian tindakan bedah

Setiap anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan kematian


akibat dari tindakan tersebut.

Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan


pemasangan gips atau traksi

Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu


sendiri.

Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur
yang sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami
kerusakan selama tindakan operasi.

d.

Rehabilitasi
Rencana program rehabilitasi yang paling rasional sudah bias dimuali sejak
permulaan perawatan dirumah sakit dan oleh karena itu bila keadaan memungkinkan
harus segera dimuali melakukan latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan
anggota tubuh dan mobilisasi.
Berbagai program rehabilitasi yang dapat dilakukan; ROM, teknologi intervensi
fisioterapi, dan latihan jalan menggunakan kruk.
9

B.

Tinjauan Keperawatan

1.

Pengkajian (Doenges, Moorhouse, & Geissler, 2000)


Aktivitas/Istirahat
Tanda

: Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin


segera, fraktur itu sendiri, terjadi secara sekunder, dari pembengkakan
jaringan, nyeri)

Sirkulasi
Tanda

: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap


nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)
Takikardia (respon stress, hipovolemia)
Penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang cidera; pengisian
kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena
Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera

Neurosensori
Gejala

: Hilang gerakan/sensasi, spasme otot


Kebas/kesemutan (parestesis)

Tanda

: Deformitas local; angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi, spasme


otot, terlihat kelemahan/ hilang fungsi

Nyeri/kenyamanan
Gejala

: Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera Mungkin terlokalisasi pada area
jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi); tak ada nyeri
akibat kerusakan saraf
Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)

Keamanan
Tanda

: Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna


Pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba)

Penyuluhan/pembelajaran
Gejala

: Lingkungan cedera

10

2.

Masalah keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap trauma tambahan
2. Nyeri (akut)
3. Risiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer
4. Risiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas
5. Kerusakan mobilitas fisik
6. Aktual/Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit
7. Risiko tinggi terhadap infeksi
8. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
(Doenges, Moorhouse, & Geissler, 2000)

11

DAFTAR PUSTAKA
Black, J. M. & Hawks, J. M. (2005). Medical-surgical nursing: clinical management for
positive outcomes. (5th Ed). St. Louis, Missouri: Elsevier Saunders.
Djuwantoro, D. (1997). Fraktur batang femur. Diambil pada tanggal 18 Oktober 2008 dari
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16FrakturBatangFemur120.pdf/16FrakturBatan
gFemur120.html
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., Geissler, A. C. (2000). Nursing care plans, guidelinesfor
planning and documenting patient care. (3rd Ed). (Alih bahasa: Kariasa, I. M. &
Sumarwati, N. M.). Philadelphia: F.A. Davis. (Buku asli diterbitkan tahun 1993).
Lemone, P. & Burke, K. M.(2008). Medical-surgical nursing: critical thinking in client care.
(4th Ed). New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Maher, A. B.,etc.(2002). Orthopaedic nursing. (3rd Ed). Philadelphia: W.B.Saunders.
Price, S & Wilson. (1994). Pathophisiology. Clinical concepts of disease process volume1.
(4th Ed). (Alih bahasa: Anugerah, Peter). Missouri: Mosby. (Buku asli diterbitkan
tahun 1992).
Sjamsuhidayat, R. & Jong, W. (2004). Buku ajar ilmu bedah. (Edisi 2). Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C. & Bare, B. G. (2001). Brunner & suddarths textbook of medical-surgical
nursing. (8th Ed). (Alih bahasa: Kuncara dkk). Philadelphia: Lippincott-Raven
Publishers. (Buku asli diterbitkan Tahun 1996).

12

13