Anda di halaman 1dari 21

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

APPENDIX BAB I
(MATERI TAMBAHAN UNTUK BAB I)
1. Penentuan Jenis Kelamin
Berdasar pada keberadaan sifat jantan dan betina, terdapat dua sifat umum pada
hewan yaitu sifat monocious dan dioecious. Sifat monocious atau yang kemudian sering
dikatakan kondisi hermaprodit terjadi apabila perbedaan sifat jantan dan betina secara
biologi tidak tampak jelas dan gamet jantan dan betina dihasilkan dalam individu yang sama.
Sifat monocious memberi konsekuensi tidak ada perbedaan yang jelas terhadap fungsi
reproduksi jantan dan betina.
Hampir semua tingkatan hewan dari tingkat rendah sampai tinggi memiliki wakilwakil yang bersifat monocious. Peristiwa fertilisasi pada hewan-hewan ini biasanya terjadi
secara silang artinya terdapat dua individu yang saling membuahi dan atau dibuahi. Pada
kondisi fertilisasi silang demikian, proses reproduksi sama dengan hewan dioecious. Ada
juga yang mengalami fertilisasi sendiri walaupun kejadiannya sangat jarang.
Terdapat dua jenis sifat monocious yaitu synchronous hermaphrodite (hermaprodit
sinkroni) dan asynchronous hermaphrodite (hermaprodit asinkroni). Sifat hermaprodit
sinkroni ditunjukkan oleh adanya produksi spermatozoa dan telur dari satu individu
dalam waktu yang bersamaan (kematangan bersamaan) artinya proses pematangan terjadi
dalam waktu yang bersamaan. Sifat hermaprodit asinkroni ditunjukkan oleh adanya
periodisasi proses pematangan spermatozoa dan telur dalam satu individu. Artinya dalam
satu

periode tertentu gonad akan menghasilkan

salah

satu

gamet sedang periode

berikutnya peranannya akan berubah menjadi sebaliknya.


Menarik untuk diketahui pada spesies Sparidae dan

Serranidae, telur dan

spermatozoa dihasilkan pada area yang berbeda dari satu gonad, walaupun hal ini tidak
selalu terjadi, mereka mungkin

melakukan

fertilisasi sendiri.

Pada

ikan Serranelus

subligarius, satu individu menghasilkan spermatozoa dan telur, melakukan fertilisasi


sendiri dan menghasilkan anak yang normal demikian pula pada Rivulus marmoratus dan
Appndx. 15
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Serrannus cabrilla. Selain hewan-hewan tersebut, bekicot juga merupakan salah satu contoh
hewan yang memiliki sifat hermaprodit sinkroni.
Terdapat dua tipe sifat hermaprodit asinkroni yaitu protogynous hermaphrodite
(protogeni) dan protandrous hermaphrodite (protandri). Hermaprodit protandri adalah sifat
yang dicirikan adanya fase perubahan fungsi gonad dari fungsi jantan menjadi betina selama
satu siklus hidup hewan. Artinya saat hewan masih muda, jaringan gonad sebagian besar
berfungsi sebagai penghasil spermatozoa, dengan semakin meningkatnya umur, jaringan
gonad yang menghasilkan spermatozoa akan tereduksi dan tergantikan oleh jaringan yang
akan menghasilkan sel telur. Jadi disini terdapat perubahan sifat, dimana saat masih muda
bersifat jantan dan sesudah berusia lebih tua bersifat betina. Beberapa spesies ikan yang
memiliki sifat ini adalah Sparus auratus, Sargus amularis, Poecilia mormyrus dan
Pagellus centrodontus.
Hermaprodit protogeni memiliki ciri yang berlawanan dengan hermaprodit protandri
yaitu proses diferensiasi fungsi jaringan gonad berjalan dari fase betina ke jantan. Artinya
hewan saat masih muda bersifat betina dan dengan semakin meningkatnya umur akan
beralih sifat menjadi jantan. Di Indonesia spesies yang sudah dikenal termasuk dalam
golongan hermaprodit protogeni adalah belut sawah (Monopterus albus) dan Ikan Kerapu.
Selama siklus hidup hewan protandri maupun protogeni terdapat fase-fase jantan,
transisi dan betina yang lama masing-masing fase tersebut belum banyak diketahui. -Kapan
proses diferensiasi tersebut terjadi ?; Faktor-faktor apa yang berpengaruh didalamnya ?;
Adakah itu terkait dengan kecepatan pertumbuhannya ?- adalah beberapa pertanyaan yang
masih memerlukan jawaban melalui serangkaian penelitian.

Sinkroni
Monocious
Sifat Sexualitas
hewan multiseluler

Protandri
Asinkroni

Appndx. 16
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Protogeni
Dioecious
Gambar #1- 9. Bagan sifat sexualitas hewan multiseluler.
Umumnya hewan vertebrata seperti ikan, kadal, katak, sapi, kerbau, tikus, kuda dan
lain-lain, memiliki sifat dioecious atau dimorphy seks. Artinya perbedaan sifat jantan dan
betina secara biologi tampak jelas. Diocious memberi konsekuensi terhadap perbedaan
fungsi reproduksi jantan dan betina yang terpisah. Kejadian kebuntingan dan kelahiran anak
pada hewan-hewan demikian, dimulai dari peristiwa pertemuan spermatozoa dengan ova
(fertilisasi) melalui perantaraan proses kopulasi.
Dasar penentuan perbedaan jenis kelamin adalah keberadaan kromosom seks pada
setiap hewan. Perbedaan kromosom seks akan sangat menentukan keberadaan struktur
anatomi

reproduksi,

fungsi

reproduksi,

kelakuan (behavior) reproduksi dan fungsi

hormonal dalam pengendalian reproduksi antara hewan jantan dan betina. Pada umumnya
vertebrata baik jantan maupun betina, memiliki sepasang kromosom seks dan kromosom
selebihnya dikenal
hubungan dengan

sebagai kromosom autosom. Kromosom autosom tidak memiliki


penentuan

jenis

kelamin. Pada Tabel #1-1 dapat dilihat

jumlah

kromosom pada berbagai jenis hewan vertebrata.


Pada hewan mamalia dan beberapa spesies klas vertebrata lain, sifat jantan adalah
heterogametic dan betina homogametic. Hal itu berarti bahwa pada jantan memiliki satu
kromosom dari kromosom sex yang berbeda dari pasangan homolognya (biasanya lebih
kecil), sedangkan pada betina, dua kromosom sex identik baik bentuk maupun ukurannya.
Pada hewan-hewan demikian biasanya digunakan simbol-simbol XY untuk jantan dan XX
untuk betina. Pada burung dan beberapa spesies klas vertebrata lain, jantan bersifat
homogametic

dan

betina

heterogametic.

Bagi

spesies-spesies

demikian biasanya

digunakan simbol-simbol ZZ untuk jantan dan ZW untuk betina. Berikut pada Tabel #1-2,
dapat dilihat simbol genotip beberapa vertebrata yang menentukan sifat kelamin.
Appndx. 17
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Tabel #1-1. Jumlah Kromosom Beberapa Spesies Vertebrata


No
Spesies Hewan
1
Tikus (Rattus rattus)
2
Marmot (Cavia cobaya)
3
Kelinci (Oryctolagus cuniculus)
4
Anjing (Canis fumiliaris)
5
Kucing (Felis domestica)
6
Kuda (Equus caballus)
7
Keledai (Equus asinus)
8
Babi (Sus scrofa)
9
Kambing (Capra hircus)
10
Sapi (Bos taurus)
11
Kera (Macaca mullata)
12
Gorilla (Gorilla gorilla)
13
Simpanse (Pan troglodytes)
14
Manusia (Homo sapiens)
15
Domba (Ovis, sp)
*) diambil dari beberapa sumber pustaka.

Jumlah Kromosom
42
64
44
78
38
64
62
40
60
60
42
48
48
46
54

Tabel #1-2. Simbol Genotip Sex Kromosom Pada Vertebrata


No
Spesies Hewan
1
Mamalia
2
Burung
3
Reptilia pada umumnya
4
Rana pipiens
5
Xenopus laevis
6
Ambystoma sp.
7
Oryzias latipes
8
Poecilia reticulate
*) diambil dari beberapa sumber pustaka.

Jantan
XY
ZZ
ZZ
XY
ZZ
ZZ
XY
ZZ

Betina
XX
ZW
ZW
XX
ZW
ZW
XX
ZW

2. Asal-usul (Ontogeny) Gonade


Reproduksi

seksual melibatkan hewan jantan dan betina, sebagai penghasil

spermatozoa dan ova. Pada fase awal kehidupan (embrional) sulit untuk dibedakan antara
kedua jenis kelamin. Fase ini disebut fase indifferent artinya gonad atau organ kelamin
primer belum mengalami diferensiasi menjadi ovarium atau testes.
Pada fase indifferent (anlage) genitalia terdiri dari sepasang gonad yang

belum

berdiferensiasi, dua pasang saluran yaitu ductus Wolfii dan ductus Mulleri serta satu sinus
urogenitalis. Pada perkembangan selanjutnya, gonad nantinya akan menjadi ovarium atau
Appndx. 18
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

testis, ductus Wolfii dan ductus Mulleri menjadi saluran reproduksi sedangkan sinus
urogenitalis akan menjadi organ kelamin luar (lihat Tabel #1-3).
Tabel #1-3. Homologi Antara Sistem Reproduksi Betina dan Jantan (diambil dengan sedikit
modifikasi dari Reproductive Physiology of Mammals and Birds, A.V. Nalbandov.
1976).
FASE

DEWASA

INDIFFERENT

JANTAN

BETINA

Gonad

Testes.
Rete testis

Ovarium
Rete overii**

Tubulus mesonephros

Vas eferen
Paradidimis**
Vas aberans**

Epooforon**
Parooforon**

Ductus Wolfii

Epididimis
Vas defferens
Kelenjar prostata
Kel. Ampula

Ductus Gartner**

Ductus Mulleri

Uterus masculinus
(tak berkembang)

Fimbriae, oviduct, uterus,


vagina

Sinus urogenitalis

Urethra, ductus Cowper, glandpenis, penis, skrotum

Vestibulum, Vulva, Clitoris

**) tak berkembang (rudiment).

Diketahui bahwa asal sel-sel germinal (spermatogonia dan oogonia) tidak dari
gonad sendiri akan tetapi dari tempat lain. Selama proses perkembangan, sel-sel germinal
primordium (calon sel germinal) bermigrasi menuju gonad dan selanjutnya akan berkembang
menjadi spermatozoa dan sel telur tergantung pada jenis kelaminnya. Berikut pada Tabel
#1-4,

tampak beberapa daerah asal sel germinal primordium pada saat awal perkembangan

embrio.
Tabel #1-4. Lokasi Asal Sel-sel Germinal Primordium Pada Beberapa Vertebrata *).
No
1
2
3

Grup Vertebrata
Lampreys
Teleostei
Elasmobranchii

Lokasi Asal
Posterior endoderm.
Posterior endoderm dekat kuntum
ekor.
Bagian lateral disambungan antara
extra embryonic dan endoderm
embryonic.

Appndx. 19
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Anura

5
6

Urodela
Burung

Mammalia

Endoderm
dibawah
rongga
blastocoel.
Medial hypomere mesoderm
Sebelah anterior pada hubungan
antara
extra
embryonic dan
endoderm embryonic.
Posterior pada hubungan antara
extra embryonic dengan endoderm
embryonic.

*) diambil dari beberapa sumber pustaka

3. Organ Reproduksi Jantan


Organ reproduksi pada hewan sangat bervariasi, oleh karenanya setiap upaya untuk
menggeneralisasi dapat menyebabkan kekeliruan. Pada sebagian besar vertebrata, testes
berjumlah sepasang, walaupun ada beberapa spesies seperti misalnya Cyclostome testes kiri
dan kanan menjadi satu dan pada beberapa spesies teleostei hanya ada satu testes

yang

berkembang, misalnya pada Notopterus notopterus. Spermatozoa yang dihasilkan dalam


testes pada sebagian besar vertebrata dikeluarkan melalui sistem saluran, namun

pada

Cyclostome dan Salmonidae, sistem saluran spermatozoa tidak ada.

Gambar #1-10. Bagian lengkap organ reproduksi jantan (pada manusia)


Appndx. 20
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

3.1. Testes
Fungsi utama testes pada mamalia dan umumnya vertebrata yaitu sebagai
kelenjar eksokrin menghasilkan spermatozoa dan sebagai kelenjar endokrin

menghasilkan

hormon-hormon androgen. Proses pembentukan spermatozoa (spermatogenesis) terletak


di dalam tubulus seminiferus, sedangkan fungsi sebagai kelenjar endokrin dilaksanakan
oleh sel-sel interstitial (sel Leydig) yang terletak diantara tubulus spermatikus. Sel Leydig
dikenal menghasilkan hormon androgen (testosteron).
Testes pada hewan Crustacea, tidak memiliki fungsi sebagai kelenjar endokrin. Pada
Crustacea, hormon androgen dihasilkan oleh kelenjar androgen yang terletak di dekat
testes.
Pada hewan besar seperti sapi, kambing, domba, kuda, secara anatomis testes
dibungkus oleh sebuah tunica albuginea yang terdiri atas jaringan ikat dan sel-sel otot polos.
Pada bagian posterior, tunica albuginea mengalami penebalan yang merupakan landasan
bangunan testes sendiri. Bagian penebalan ini disebut mediastinum testes. Mediastinum testes
merupakan tempat berpangkalnya saluran keluar spermatozoa dari testes serta merupakan
akhir dari septula testes. Septula testes akan membagi testes menjadi lobuli-lobuli (jamak dari
lobulus). Di dalam lobuli-lobuli terdapat saluran-saluran kecil bergulung-gulung yang dikenal
sebagai tubuli seminiferi yang merupakan tempat terjadinya proses spermatogenesis (lihat
gambar II-1 : Penampang melintang testes).

Appndx. 21
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Gambar #1-11. Penampang Melintang Testes.


A. tubulus spermatikus, B. Lobus, C. mediastinum testes
D. Septula Testis
Tubulus seminiferus akan bersatu di mediastinum testes dengan membentuk satu
sistem saluran yang disebut rete testes. Rete testes menmbus tunika albuginea di bagian
proximal dan dihubungkan dengan epididimis oleh ductus efferentia. Di dalam lobuli, selain
terdapat tubulus seminiferus, juga terdapat sel-sel interstitial (sel leydig) yang menghasilkan
hormon androgen yaitu testosteron (lihat gambar 3 : Penampang lintang tubulus
seminiferus).

Gambar #1-12. Penampang lintang tubulus spermaticus (seminiferus)


A. sel sertoli, B. Spermatogonium, C.Spermatosit I,
D. Spermatosit II, E. Spermatid. F. Spermatozoa.
3.2. Saluran reproduksi
Sistem saluran reproduksi hewan jantan bervariasi menurut jenis hewannya. Pada
mamalia saluran reproduksi berupa epididimis, vas deferens, urethra termasuk gland penis
dan preputium. sedangkan pada hewan lain mungkin hanya berupa saluran pendek ductus
efferent saja, seperti misalnya pada ikan.
Appndx. 22
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Gambar #1-13. Saluran reproduksi pada individu jantan.

Epididymis (merupakan saluran yang bertaut rapat dengan testis) dibagi menjadi
3 bagian yaitu bagian kepala (caput epididymis), badan (corpus epididymis) dan ekor
(cauda epididymis). Pada bagian caput, terdapat ductus efferents yang menghubungkan
rete

testis

dengan epididymis. Ductus efferents pada Sapi berjumlah 13-15 buah.

Sepanjang lumen epididymis terdapat sel-sel silindrik yang bercilia (stereocilia), sedang
pada bagian lumen ductus efferents, cilia bersifat

motil (kinocilia) yang bergerak

memukul ke arah luar. Secara umum terdapat empat fungsi epididymis yaitu sebagai
tempat transportasi, konsentrasi, pematangan dan penyimpanan (storage) spermatozoa.
Adanya tekanan cairan yang terdapat di dalam testes menyebabkan spermatozoa
bergerak melalui rete testes menuju ductus efferent yang selanjutnya akan menuju pada
epididymis. Di dalam epididymis, spermatozoa akan dialirkan menuju bagian cauda dengan
adanya gerak aktif kinocilia dan kontraksi peristaltik dinding ototnya.
Air merupakan medium spermatozoa, akan diserap oleh sel-sel epitel dinding
epididymis. Ini terjadi terutama di bagian caput epididymis. Sesampainya di bagian cauda
epididymis, konsentrasi semen menjadi sangat tinggi.
Spermatozoa sewaktu meninggalkan tubulus spermaticus, mempunyai butiran-butiran
Appndx. 23
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

sitoplasma di sekitar lehernya (proximal droplet), hal ini merupakan petunjuk bahwa
spermatozoa itu masih belum matang. Selama perjalanannya melalui epididymis, butiran
sitoplasma bermigrasi ke bagian bawah dari badan spermatozoa (distal droplet) atau bahkan
sampai terlepas sama sekali. Maturasi atau kematangan spermatozoa mungkin dicapai atas
pengaruh sekresi dari sel-sel epithel epididymis.
Cauda epididymis merupakan tempat penimbunan spermatozoa yang utama, karena
memiliki kondisi yang sangat cocok untuk kehidupan spermatozoa. Hampir 50 %
spermatozoa tersimpan di dalam cauda epididymis.
Vas deferens merupakan saluran transportasi spermatozoa dari cauda epididymis
menuju urethra. Vas deferens memasuki rongga

abdomen bersama-sama dengan

pembuluh darah, saraf dan lymphe yang ke testes, membentuk satu kesatuan yang disebut
Funiculus spermaticus.
Kedua vas deferens yang terletak sebelah menyebelah di atas vesica urinaria, lambat
laun menebal dan membesar membentuk ampula ductus defferents. Ampula pada anjing
dan kucing tidak ada. Penebalan ampula disebabkan
pada dinding

banyak terdapat sel-sel kelenjar

saluran tersebut. Kelenjar-kelenjar ampula diketahui mensekresikan sekret

yang kaya akan fruktosa dan asam sitrat.


3.3. Scrotum
Kantong testes berfungsi untuk melindungi dan mempertahankan suhu testes
sehingga lebih rendah dari suhu badan. Scrotum terutama dipunyai oleh hewan-hewan yang
letak testesnya diluar rongga perut, misalnya hewan-hewan mamalia. Pengaturan suhu
diperlukan agar spermatogenesis berjalan normal. Perbedaan antara suhu tubuh dan testes
berkisar antara 5-7 Celcius. Fungsi termoregulator dijalankan oleh otot tunika dartos. Otot
ini berkontraksi dan menarik scrotum sehingga testes mendekati tubuh yang hangat bila
keadaan lingkungan dingin. Otot ini akan

mengendor

apabila suhu

lingkungan naik

sehingga mengakibatkan scrotum memanjang dan menjauhkan testes dari kehangatan tubuh
Appndx. 24
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

yang berlebihan.
3.4. Kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap (Glandula accessoria)
1. Vesikulares.
Pada sapi jumlah sepasang dan berlobuli. Sekresi vesikulares merupakan 50 %
dari volume ejakulat normal. Cairannya keruh dan lengket dan banyak mengadung protein,
kalium, asam sitrat dan fruktosa. Sering berwarna kuning karena mengandung flavin, pH
5,7-6,2.
2. Prostata dan Cowper.
Sekresi dari kelenjar prostata dan cowper berfungsi untuk membersihkan dan
menetralisir urethra dari bekas urine dan kotoran-kotoran lain sebelum ejakulasi. pH
cairan sekresi kedua kelenjar tersebut berkisar antara 7,5-8,2.

Gambar #1-14. Penampang menyamping organ reproduksi jantan (pada manusia)


3.5. Penis.
Pada sebagian besar mamalia jantan memiliki penis yang berkembang baik. Penis terdiri
dari jaringan erektil pada bagian tengah yang memanjang dari pangkal hingga dekat ujung
Appndx. 25
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

(glans penis), saluran urethra yang bermuara di ujung penis dan kulit penutup glans penis
yang disebut sebagai prepucae. Menjelang aktivitas seksual, rangsang seksual menyebabkan
jaringan erektil pada penis akan terisi darah hingga penis dalam kondisi ereksi. Saat ejakulasi
terjadi penyaluran sperma melalui saluran urethra menuju ujung penis yang selanjutnya akan
terposisikan di dalam saluran kelamin betina. Glans penis yang berada pada bagian ujung
penis berfungsi untuk menerima sensasi stimulus pada saat aktivitas seksual individu jantan.
4. Organ Reproduksi Betina
Organ reproduksi betina secara umum terdiri dari:
1. Ovarium.
2. Saluran-saluran reproduksi yaitu oviduk, uterus dan vagina.
3. Alat kelamin bagian luar yaitu klitoris dan vulva.
Alat-alat kelamin dalam digantung oleh ligamentum lata (penggantung) yaitu
mesovarium, mesosalphynx dan mesenterium yang masing-masing menggantung ovarium,
oviduk dan uterus.

Gambar #1-15. Penampang menyamping organ reproduksi betina (pada manusia)


Appndx. 26
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

4.1. Ovarium
Fungsi utama dan umum ovarium adalah menghasilkan sel-sel kelamin betina
(ovum). Fungsi kedua adalah sebagai tempat penimbunan kuning telur, juga sebagai
penghasil hormon kelamin betina yaitu estrogen dan progesteron; pada beberapa hewan
juga berfungsi sebagai tempat dan pemberi makan bagi perkembangan awal embryo.

4.2. Tuba Fallopii (Oviduct)


Sepasang, merupakan saluran yang menghubungkan ovarium dengan uterus. Bagian
dari tuba Fallopii adalah infundibulum, ampula dan istmus. Ujung tuba Fallopii membentuk
suatu struktur seperti corong yang disebut infundibulum. Muara infundibulum disebut
ostium abdominale yang

dikelilingi oleh penonjolan-penonjolan iregular pada tepinya.

Penonjolan-penonjolan ini disebut fimbriae. Ampula tuba Fallopii merupakan setengah dari
panjang tuba dan bersambung dengan daerah tuba yang sempit yaitu isthmus. Dinding tuba
Falopii terdiri dari : bagian mucosa (bercilia), musculatur dan serosa.

Appndx. 27
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Gambar #1-16. Irisan Melintang Ovarium Pada Mamalia. 1. epitel kecambah,


2. oogonium, 3. folikel primer, 4. folikel sekunder, 5. folikel De Graaf,
6. korpus luteum, 7. stroma (jaringan ikat)
Secara ringkas fungsi dari tuba Falopii adalah: 1. Menerima ovum yang diovulasikan
ovarium. 2. Sebagai tempat kapasitasi spermatozoa. 3. Tempat terjadinya fertilisasi. 4.
Tempat menyalurkan embryo menuju uterus. 5. Membantu pengangkutan spermatozoa
ketempat fertilisasi

Appndx. 28
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

4.3. Uterus
Bagian-bagian uterus adalah kornua uteri, korpus uteri dan cervik uteri. Pada
hewan berlambung jamak, kornua uteri berkembang baik

karena merupakan tempat

pertumbuhan fetus. Pada kuda perkembangan fetus terjadi di dalam korpus uteri sebagai
akibatnya kornua uteri tidak berkembang dengan baik. Cervik atau leher uterus merupakan
suatu otot sphinxter tubuler yang sangat kuat dan terdapat diantara vagina dan uterus.
Dinding lebih keras, lebih kaku dan lebih tebal dibanding dinding yang lain (uterus dan
vagina). Hal ini lebih jelas pada hewan primipara (belum beranak) daripada hewan pluripara
(sudah sering beranak).

Fungsi cervik adalah mencegah benda asing (mikroorganisme)

memasuki lumen uterus.


Fungsi uterus adalah : 1. Sewaktu perkawinan, kontraksi uterus mempermudah
pengangkutan

spermatozoa ke tuba Fallopii. 2. Sebelum implantasi, cairan uterus menjadi

medium blastocyt. 3. Sesudah implantasi, uterus menjadi tempat pembentukan plasenta dan
perkembangan fetus. 4. Waktu partus, kontraksi uterus berperan besar sekali.

Appndx. 29
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Gambar #1-17. Bentuk Uterus pada Beberapa Hewan (Soebadi Partodihardjo, 1982)

Appndx. 30
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

4.4. Vagina
Merupakan organ kopulatoris (tempat menerima organ kelamin jantan pada saat
aktivitas seksual) dan sebagai saluran bagi fetus sewaktu partus. Vagina terbagi dua bagian
yaitu vestibulum, merupakan bagian sebelah luar yang berhubungan dengan vulva dan
portio vaginalis cervicis merupakan bagian yang berhubungan dengan cervik. Pada hewan
betina muda (dara), ada selaput tipis merupakan sekat antara kedua bagian tersebut yang
disebut hymen.

Gambar #1-18. Organ kelamin betina bagian luar (pada manusia)


4.5. Vulva dan klitoris
Vulva adalah kesatuan fungsional organ kelamin betina baagian luar. Bagian vulva
terdiri dari labia mayora, labia minora, klitoris, lubang saluran urethra, lubang vagina dan
hymen. Klitoris secara embriologik homolog dengan penis, sedang vulva homolog dengan
scrotum. Pada bagian klitoris dan seluruh area vulva mempunyai banyak akhiran ujungAppndx. 31
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

ujung saraf sensorik yang sangat intens. Saraf ini memegang peranan penting di dalam
memberikan sensasi nikmat pada waktu aktivitas seksual; copulatio (pada hewan) dan coitus
(pada manusia). Sensasi ini sangat penting untuk menjaga agar aktivitas reproduksi
senantiasa menarik, sehingga keberlanjutan suatu spesies hewan (atau pun juga pada
manusia) akan terjamin.
5. Mengenal Sel Gamet
Terdapat dua jenis sel gamet yaitu sel gamet betina atau sel telur (ovum atau ova)
dan sel gamet jantan atau spermatozoa. Kedua sel gamet dihasilkan oleh gonad yaitu
ovarium untuk sel telur dan testis untuk spermatozoa. Terdapat beberapa perbedaan
menyolok pada kedua sel gamet antara lain yaitu pada ukuran, bentuk, kemampuan gerak.
5.1. Spermatozoa
Terdapat variasi bentuk atau morfologi spermatozoa diantara spesies hewan yang
berbeda (lihat gambar bentuk-bentuk spermatozoa). Secara garis besar terdapat dua jenis
spermatozoa yaitu yang berflagellum (berekor) dan yang tidak memiliki flagellum (tak
berekor). Spermatozoa yang tidak berekor terdapat pada berbagai jenis invertebrata
seperti Nematoda, Crustacea, Diplopoda. Spermatozoa berekor umum terdapat pada
banyak spesies hewan, umumnya ekor hanya satu walaupun ada juga yang dua misalnya pada
"Toadfish".
Lama spermatogenesis bervariasi pada hewan yang berbeda spesies (lihat pada
Tabel #1-5.). Spermatogenesis baru akan terjadi sesudah hewan jantan mencapai masa
pubertas. Masa tercapainya pubertas bervariasi tergantung pada spesies hewan, genetik
maupun lingkungan.
Tabel #1-5. Lama Proses Spermatogenesis Pada Beberapa Jenis Hewan.
Jenis Hewan
Sapi
Domba
Babi
Tikus (rattus)
Tikus (mouse)

Lama Spermatogenesis (hari)


50 - 62 (rata-rata 56)
46 - 49
35 - 46
Rata-rata 49
Rata-rata 34

Appndx. 32
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

Manusia
Kuda
Kelinci

Rata-rata 74
Rata-rata 34
Rata-rata 44

Proses spermatogenesis secara umum melalui empat fase atau tahap yaitu : (1)
Perbanyakan, (2) Pertumbuhan, (3) Pematangan dan (4)

Perubahan bentuk. Proses

perubahan bentuk dari spermatid ke spermatozoa sering dikenal sebagai metamorfosis.


Spermatozoa secara morfologi umumnya sama pada hewan, yaitu

terdiri atas

bagian

Kepala, Bagian tengah, Bagian ekor dan bagian ujung ekor.


Semua penyimpangan bentuk morfologi normal spermatozoa dari suatu spesies
tertentu, akan menyebabkan gangguan kemampuan untuk membuahi (fertilisasi).

Appndx. 33
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

N
I

Gambar #1-19. Beberapa Bentuk Spermatozoa Pada Hewan. A.Bufo, B.Amphioxus,


C.Ikan (teleost), D. Bulu babi, E.Toad Fish, F.Udang Galah Ayam,
G. Ayam, H.mencit, I. Manusia.
5.2. Sel telur (Ova)
Sel gamet betina sering disebut sel telur (ova) dihasilkan dalam ovarium (gonad
betina). Proses perkembangan sel telur (terutama pada mamalia) terjadi dalam bagian
korteks ovari dan dapat diidentifikasi melalui perkembangan folikelnya. Beberapa tahap
perkembangan folikel yaitu : (1) Folikel primer, (2) Folikel sekunder, (3) Folikel tertier dan
(4) Folikel graff .
Lama proses pembentukan sel telur sangat bervariasi, tergantung pada jenis
hewannya. Dibandingkan dengan proses pembentukan
maka

pembentukan sel telur

(Oogenesis)

jauh

spermatozoa (spermatogenesis),

lebih lama. Proses Oogenesis telah

Appndx. 34
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.

Bagian pertama dari dua bagian : Embriologi Hewan

berlangsung sejak masa-masa embrio.


Di dalam sel telur terkandung kuning telur (yolk) yang banyaknya sangat bervariasi
tergantung pada spesiesnya dan sesuai pula dengan tempat pertumbuhan embrio. Pada
umumnya sel telur hewan ovipar dan ovovivipar mengandung kuning telur yang banyak
sedang sel telur dari hewan vivipar mengandung sedikit kuning telur. Berdasarkan banyak
sedikitnya kuning telur, sel telur dapat diklasifikasi kedalam empat golongan yaitu : (1)
Homolesital atau oligolesital, (2) Mediolesital, (3) Megalesital atau Polilesital.
Berdasarkan pada letak kuning telur dalam plasma sel telur, maka sel telur dapat
digolongkan pada (1) Isolesital, (2) Telolesital, (3) Sentrolesital. Banyak sedikitnya kuning
telur serta letak penyebaran kuning telur sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan tipe
pembelahan awal embrio (Cleavage).

DAFTAR BACAAN
Balinsky. 1976. An Introduction to Embryology. Fourth edition. W.B. Saunders Company.
Philadelphia.
Carlson, Bruce M. 1988. Patten's Foundations
Book Company. New York.

of

Embryology. Fifth edition. Mc Graw Hill

Hafez, E.S.E. 1980. Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger. Philadelphia.
Hoar, W.S. 1984. General and Comparative Physiology. Third edition. Prentice Hall of India. New
Delhi.
Nalbandov, A.V. 1976. Reproductive Physiology of Mammals and Birds.
Partodihardjo, S. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Bandung.
Scott F. Gilbert. 1989. Developmental Biology third edition, Massachusetts, Sinauer Association
Inc.
Tienhoven, Ari Van, 1983. Reproductive Physiology of Vertebrate.
University Press. Ithaca and London.

Second Edition. Cornell

Appndx. 35
Hand-Out Histologi Embriologi Hewan untuk Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009.