Anda di halaman 1dari 2

15.11.

2012 PLESIR NO COMMENTS

Kembali ke Brayut, Banyak Teman Banyak


Rejeki

Menyebut nama Brayut, ingatan saya


melayang ke jagad pewayangan. Mungkin tak banyak yang masih mengenalnya. Brayut adalah
sosok pewayangan yang menjadi simbol kesuburan masyarakat Jawa tempo doeloe.
Tokoh Brayut diwujudkan dalam dua sosok, Kyai Brayut dan Nyai Brayut. Kyai Brayut
digambarkan sebagai seorang petani yang memikul sepasang keranjang berisi anak-anaknya
yang begitu banyak. Serupa tapi tak sama, Nyai Brayut digambarkan sebagai sosok perempuan
menggendong keranjang yang juga penuh berisi anak-anaknya. Dalam tiga hingga empat
dasawarsa terakhir, sosok ini sudah jarang ditemukan dalam kotak wayang kulit, apalagi tampil
di depan kelirnya.
Konon, menghilangnya Brayut dari kelir pewayangan ini karena semboyan yang melekat pada
tokoh ini, yaitu banyak anak banyak rejeki. Di era Orde Baru, ini tentu dianggap bertentangan
dengan program Keluarga Berencana, yang kepada siapa saja rajin membisikkan semboyan
dua anak cukup. Ketika era sudah berganti dan semboyan tak lagi sesakral dulu, tokoh Brayut
ternyata belum juga muncul kembali.
Ketika sekian lama tak berkunjung dan menginjakkan kaki kembali di Desa Wisata Brayut, meski
tak ada riwayat hubungannya, semboyan banyak anak banyak rezeki yang lekat dengan tokoh
Brayut itu muncul begitu saja dalam ingatan, namun dengan versi yang yang sedikit berbeda:
banyak teman banyak rezeki.
Desa Wisata Brayut terletak di Dusun Brayut, Desa Pendowoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Adalah Budi Utomo, pemuda asli Dusun Brayut, yang berkat pergaulannya
yang luas berhasil memprakarsai dan menyulap wajah dusunnya menjadi sebuah desa wisata
yang unik dan menarik dikunjungi wisatawan, lokal maupun mancanegara.
Kisahnya bermula di akhir 1990-an, ketika Budi mengajak sejumlah mahasiswa asing
mengunjungi Dusun Brayut. Mereka datang, tinggal dan bergaul dengan warga dusun sembari
terlibat langsung dalam kegiatan sehari-hari, seperti bercocok tanam, memasak, mengurus
rumah serta menyaksikan seni dan ritual tradisional khas Dusun Brayut.

Respon dari para mahasiswa asing itu cukup baik, sehingga memunculkan inspirasi untuk
mengolah potensi dusun menjadi komoditas pariwisata alternatif. Segala sesuatunya dibicarakan
dan dipersiapkan bersama dengan seluruh warga dusun. Dan pada tanggal 14 Agustus 1999,
dusun ini resmi dicanangkan dan menyandang identitas sebagai tujuan wisata dengan nama
Desa Wisata Brayut. Manajemennya dikelola dikelola dengan semangat gotong royong, namun
profesional dibawah naungan Yayasan Ani-ani.
Daya tarik khas Desa Wisata Brayut adalah sisi budaya dan kearifan lokal yang ada pada
masyarakatnya. Kegiatan budaya yang terjaga lestari dan bisa dilakukan disini diantaranya
adalah karawitan, membatik, seni tari, kreasi kuliner tradisional, permainan rakyat, ataupun
kegiatan konservasi baik budaya ataupun lingkungan.
Arsitektur rumah penduduk di Dusun Brayut juga masih sangat kental dengan nuansa budaya
Jawa, seperti bentuk joglo, limasan, sinom, dan bentuk kampung. Rumah-rumah ini difungsikan
sebagai arena pertunjukkan seni dan berbagai aktifitas budaya. Para wisatawan pun bisa
memilih sendiri pertunjukkan apa yang diminatinya, seperti atraksi jatilan, seni tari, atau pentas
wayang. Rumah-rumah ini juga bisa dipakai sebagai tempat menginap (homestay), sembari
mencoba langsung untuk memasak atau menikmati makanan tradisional khas Dusun Brayut.
Sebagai dusun berbasis pertanian, beragam kegiatan pertanian tradisional bisa dipelajari oleh
para wisatawan, seperti membajak sawah, menanam padi, ndawut (mencabut benih padi),
panen padi (ani-ani), hingga menjemur padi. Permainan tradisional juga menjadi salah satu daya
tarik dusun ini. Dakon atau congklak, theklek, egrang, engklek serta gobak sodor adalah
sebagian dari permainan yang masih lestari dan menjadi hiburan sehari-hari anak-anak di Dusun
Brayut.
Melengkapi keberadaanya sebagai desa wisata, belakangan juga dikembangkan sebuah pusat
kerajinan tradisional yang diberi nama Ani-Ani Jewellery. Semua produk yang dijual disini terbuat
dari bahan alami dan bercorak tradisional, mulai dari gelang, kalung hingga pernak-pernik
asesori lainnya. Galeri Ani-ani Jewellery yang berada di salah satu rumah bergaya tradisional
menampung beragam produk hasil kerajinan tangan masyarakat Dusun Brayut dan sekitarnya.
Kebersamaan masyarakat Brayut dalam mengembangkan dan mengelola dusunnya adalah
sebuah contoh bagaimana gotong royong mampu diandalkan sebagai sarana untuk
meningkatkan kesejahteraan bersama. Keramahan dan terjaganya hubungan baik dengan
begitu banyak wisatawan yang pernah singgah di dusun ini, semakin memperkuat dan
memperluas ketenarannya sebagai desa wisata. Pintu rezeki pun makin terbuka lebar.
Menarik untuk dicatat, Desa Wisata Brayut dengan kekayaan alam, budaya serta keramahan
warganya telah dipilih menjadi tuan rumah even tahunan Ngayogjazz 2012 pertengahan bulan
November 2012 ini. Bisa dibayangkan, bauran nuansa alam desa dengan eksotika budaya jazz
di tengah rakyatnya, akan menghadirkan momen yang apik, menarik dan tak terlupakan. Satu
lagi kesempatan silaturahmi hadir di titik temu lintas budaya. Kesempatan untuk mempererat
pertemanan sekaligus menambah teman, karena bagaimanapun semboyan lama masih berlaku:
Banyak teman banyak rezeki.
Teks: Agus Yuniarso
http://kabaremagazine.com/2012/11/kembali-ke-brayut-banyak-teman-banyakrejeki/