Anda di halaman 1dari 2

KHUTBAH JUM'AT

Menguak Hakikat Hari raya 'Id Al-Fitri


hari raya 'id al-fithri adalah tonggak sejarah awal bagi manusia untuk berjanji di
hadapan Tuhan bahwa dirinya tidak akan lagi mengulangi dosa dan kesalahan
sampai masuk hari raya 'id al-fithri berikutnya. Ucapan takbir, tahmid dan tahlil
yang dikumandangkan pada hari ini tidak lain merupakan pengakuan akan
kebesaran dan kesempurnaan Tuhan.
Selanjutnya hari ini juga ditandai dengan acara saling memaafkan di antara sesama
manusia. Perbuatan ini dilakukan karena munculnya asumsi bahwa pelaksanaan
ibadah puasa Ramadhan dapat menghapuskan dosa-dosa yang berhubungan
dengan Tuhan tapi tidak dengan sesama manusia. Agar diri ini benar-benar bersih
maka dosa-dosa yang bersangkut paut dengan manusia juga harus dikikis habis
sehingga setetespun tidak ada lagi dosa-dosa yang bersarang dalam jiwa.
Prilaku Menyambut 'Id al-Fithri Hari raya 'id al-fithri merupakan terminal baru yang
akan disinggahi oleh orang-orang yang mengerjakan puasa. Terminal ini ternyata
lebih sulit bila dibanding dengan terminal sebelumnya (terminal puasa) karena
terminal puasa hanya dijejali dengan latihan-latihan sesuai dengan namanya syahr
al-riyadhah (bulan latihan). Hasil dari latihan ini akan dipertandingkan dengan
masuknya hari raya 'id al-fithri untuk mengevaluasi sejauhmana kemajuankemajuan yang telah diperoleh sewaktu latihan dan kemudian akan dipertandingkan
dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Rasulullah dalam sebuah haditsnya menyatakan bahwa untuk melihat berhasil
tidaknya puasa yang dilakukan oleh seseorang hanya dapat dipantau bilamana
puasa telah usai. Maksudnya adalah bahwa amal ibadah begitu juga sikap dan
tempramen yang dilakukan pada bulan puasa seharusnya dilanjutkan di luar dari
pada bulan puasa. Oleh karena itu bulan puasa tidak lain kecuali hanya sekadar
latihan yang pertandingannya akan dimulai ketika malam takbiran datang.
Mengingat bahwa hari raya 'id al-fithri merupakan babak awal pertandingan maka
sudah barang tentu peraturan-peraturan yang akan diterapkan sudah diketahui
sebelum pertandingan dimulai karena seorang petanding yang baik apabila
mengetahui dan mentaati aturan-aturan main yang berlaku.
Berdasarkan Q.S. al-Baqarah ayat 195 sebagaimana dikutip di atas menyebutkan
bahwa langkah awal yang harus ditempuh untuk menyikapi hari raya 'id al-fithri
adalah dengan menyempurnakan jumlah hari-hari puasa pada bulan Ramadhan.

Perintah menyempurnakan ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari segi hukum dan
segi moral. Dari segi hukum mengindikasikan bahwa hari raya 'id al-fithri dapat
dilaksanakan bilamana jumlah-jumlah hari pada puasa Ramadhan telah sempurna,
sedangkan dari segi moral mengindikasikan bahwa latihan-latihan yang terdapat
pada bulan Ramadhan seperti sabar, pemaaf dan lain-lain harus dilakukan dengan
baik dan sempurna pula.
Beranjak dari kesempurnaan dua makna ini maka kehadiran hari raya 'id al-fithri
harus diisi dengan satu ketentuan yaitu dengan mengagungkan (membesarkan)
Tuhan. Membesarkan Tuhan berdasarkan informasi ayat ini harus sesuai dengan
petunjuk-petunjuk yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Adanya kata petunjuk ini mengindikasikan bahwa cara-cara untuk membesarkanNya tidak akan pernah diterima kecuali sesuai dengan petunjuk yang sudah
digariskan oleh Tuhan.
Berdasarkan pernyataan maka dalam tataran teologi disebutkan bahwa akal
manusia hanya mampu mengetahui Tuhan dan juga mampu berterima kasih kepada
Tuhan akan tetapi akal tidak lagi memiliki kemampuan bagaimana cara-cara untuk
berterima kasih kepada Tuhan. Menurut Prof. Juhaya bahwa cara-cara berterima
kasih kepada Tuhan adalah dengan cara ibadah yang sudah digariskan.
Akhir ayat dari Q.S. al-Baqarah ayat 185 ini ditutup dengan kata-kata syukur yang
menunjukkan bahwa semua bentuk-bentuk latihan dalam puasa Ramadhan yang
kemudian dijewantahkan pada hari raya 'id al-fithri dan hari-hari sesudahnya tidak
lain agar manusia pandai bersyukur (berterima kasih) kepada Tuhan. Prediket
syukur (dalam istilah Rasulullah disebut dengan 'abdan syakura) ini merupakan
harapan yang akan dicapai ketika mengisi hari-hari pada 'id al-fithri.
Penutup Hari raya 'id al-fithri adalah hari awal perjanjian manusia dengan Tuhan
untuk melanjutkan tradisi-tradisi positif yang telah dibangun ketika puasa
Ramadhan sehingga masuk bulan Ramadhan berikutnya. Tradisi dimaksud adalah
dengan mengaplikasikan amalan-amalan yang dilakukan pada bulan Ramadhan
baik amalan yang berkaitan dengan pisik maupun yang berkaitan dengan mental.
Bila pada bulan puasa Ramadhan manusia diharpkan agar bertaqwa maka pada hari
raya 'id al-fithri manusia diharapkan menjadi orang yang bersyukur. am