Anda di halaman 1dari 9

ANDI MUHAMMAD NOVIAN NURTANIO

A311 11 009
AKUNTANSI UNTUK MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH
MUDHARABAH
Pengertian
Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara shahibul maal (pemilik dana)
dan mudharib (pengelola dan) dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan di muka,
jika usaha mengalami kerugian maka seluruh kerugian ditanggung oleh pemilik dana,
kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan oleh pengelola dana, seperti
penyelewengan, kecurangan dan peyalahgunaan dana.
Jenis Akad Mudharabah
1. Mudharabah Muthalaqah. Mudharabah dimana pemilik dananya memberikan
kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya. Mudharabah
ini disebut juga investasi tidak terikat.
2. Mudharabah Muqayyadah. Mudharabah yang pemilik dananya memberikan
batasan kepada pengelola dana mengenai lokasi, cara dan atau objek investasi
atau sektor usaha. Mudharabah jenis ini disebut juga investasi terikat
3. Mudharabah

Musyarakah.

Mudharabah

yang

pengelola

dananya

turut

menyertakan modal dananya dalam kerja sama investasi.


Rukun mudharabah adalah :
1. Orang yang berakad :
a. Pemilik modal / Shohibul maal atau Rabbul maal
b. Pelaksanaan atau usahawan / Mudharib
2. Objek Mudharabah berupa Modal / maal
3. Ijab Qabul / Serah Terima
4. Nisbah Keutungan
Berakhirnya akad mudharabah
Lamanya kerjasama dalam mudharabah tidak tentu dan tidak terbatas, tetapi
semua pihak berhak untuk menentukan jangka waktu kontrak kerja sama dengan

menberitahukan pihak lainnya. Namun, akad mudharabah dapat berakhir karena hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam hal mudharabah tersebut dibatasi waktunya, maka mudharabah berakhir
pada waktu yang telah ditentukan.
2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri
3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal
4. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha untuk
mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad. Sebagai pihak yang
mengemban amanah ia harus beritikad baik dan hati-hati.
5. Modal sudah tidak ada
Prinsip Pembagian Hasil Usaha (PSAK 105 PAR 11)
Dalam mudharabah istilah profit and loss sharing tidak tepat digunakan karena
yang dibagi hanya keuntungannya saja (profit) tidak termasuk kerugiannya (loss).
Sehingga untuk pembahasan selanjutnya, akan digunakan istilah prinsip bagi hasil
seperti yang digunakan dalam Undang-undang No.10 tahun 1998, karena apabila usaha
tersebut gagal kerugian tidak dibagi di antara pemilik dana dan penglelola dana, tetapi
harus ditanggung sendiri oleh pemilik dana.
Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan pengakuan
penghasilan usaha mudharabah dalam praktik dapat diketahui berdasarkan laporan bagi
hasil atas realisasi penghasilan hasil usaha dari pengelola dana. Tidak diperkenankan
mengakui pendapatan dari proyeksi hasil usaha.
Untuk menghindari perselisihan dalam hal biaya yang dikeluarkan oleh
pengelola dana, dalam akad harus disepakati biaya-biaya apa saja yang dapat
dikurangkan dari pendapatan.
Contoh perhitungan bagi hasil (bank sebagai pemilik dana) :
Penjualan

Rp. 1.000.000

HPP

(Rp

650.000)

Laba kotor

Rp.

350.000

Biaya-biaya

(Rp

250.000)

Laba (rugi) bersih

Rp.

100.000

a) Metode Profit sharing dengan nisbah bank syariah : pengelola = 30 : 70


Bank syariah

30% x Rp. 100.000 = Rp. 30.000

Pengelola

70% x Rp. 100.000 = Rp. 70.000

b) Metode revenue sharing dengan nisbah bank syariah : pengelola = 10 : 90


Bank syariah

10% x Rp. 350.000 = Rp. 35.000

Pengelola

90% x Rp. 350.000 = Rp. 315.000

Jika akad mudharabah melebihi satu periode pelaopran, penghasilan usaha


diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil sesuai nisbah yang disepakati (PSAK
105 Par 20)

MUSYARAKAH
Pengertian
Antonio (2004) mendefinisikan al-musyarakah secara singkat namun jelas, yaitu
akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana masingmasing pihak memberikan kontribusi dana atau keahlian dengan kesepakatan bahwa
keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Dewan Syariah Nasinal MUI dan PSAK 106 mendefinisikan musyarakah
sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana
masing masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa
keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi
kontribusi dana. Istilah lain dari musyarakah adalah sharikah atau syirkah atau
kemitraan.
Karakteristik
Musyarakah sebenarnya hampir sama dengan mudharabah. Musyarakah
merupakan akad kerjasama diantara para pemilik modal yang mencampurkan modal
mereka untuk tujuan mencari keuntungan. Dalam Musyarakah mitra dan bank samasama menyediakan modal untuk membiayai suatu usaha tertentu, baik yang sudah

berjalan maupun yang baru. Selanjutnya, mitra dapat mengembalikan modal tersebut
berikut bagi hasil yang telah disepakati secara bertahap atau sekaligus kepada bank.
Pembiayaan Musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas, atau aktiva non
kas, termasuk aktiva tidak berwujud seperti lisensi dan hak paten.
Musyarakah dapat bersifat musyarakah permanen maupun menurun. Dalam
musyarakah permanen, bagian modal setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya
tetap hingga akhir masa akad, sedangkan dalam musyarakah menurun, bagian modal
bank akan dialihkan secara bertahap kepada mitra, sehingga bagian modal bank akan
menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi pemilik usaha tersebut.
Laba Musyarakah dibagi diantara para mitra, baik secara proporsional sesuai
dengan modal yang disetorkan (baik berupa kas maupun aktiva lainnya) atau sesuai
dengan nisbah yang disepakati oleh semua mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara
proporsional sesuai dengan modal yang disetorkan baik berupa kas maupun aktiva
lainnya.
Sumber Hukum Akad Musyarakah

Al-Quran
Maka mereka berserikat pada sepertiga (QS An Nisa : 12)
Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang orang yang beserikat itu sebagian

mereka berbuat dzalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh (QS Shad : 24)

As-Sunah

Hadits Qudsi dari Abu Hurairah : Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang
yang beserikat sepanjang salah seorang dari keduanya tidak berkhianat terhadap
lainnya. Apabila seseorang berkhianat terhadap lainnya maka Aku keluar dari
keduanya (HR. Abu Dawud dan Al Hakim dari Abu Hurairah).
Dalam Hadits lain, Rasullulah bersabda : Pertolongan Allah tercurah atas dua pihak
yang berserikat sepanjang keduanya tidak saling berkhianat (HR. Muslim).

Fatwa DSN tentang Transaksi Musyarakah

FATWADEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang


PEMBIAYAAN MUSYARAKAH memuat ketentuan antara lain sebagai berikut :
1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk
menunjukkan kehendak
dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan
tujuan kontrak
b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak.
c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan
menggunakan cara-cara komunikasi modern.
2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan memperhatikan
hal-hal berikut:
a

Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan.

Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra
melaksanakan kerja sebagai wakil.

Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses
bisnis normal.

Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola
aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan
aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa
melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja.

Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan


dana untuk kepentingannya sendiri.

3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian)


4. Biaya Operasional dan Persengketaan
a

Biaya operasional dibebankan pada modal bersama.

Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui
Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui

Jenis Akad Musyarakah


Prinsip al-musyarakah (al-musyarakah aqad) menurut Siamat (2004) dapat
dibagi ke dalam beberapa jenis, sebagai berikut:
1. Syirkah alinan
Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing
pihak menyerahkan suatu bagian/porsi modal dan ikut aktif dalam usaha/kerja.
Porsi setoran modal masing-masing dibagi sesuai kesepakatan, dan tidak harus
sama besar. Demikian pula keuntungan atau kerugian yang terjadi jumlahnya
tidak harus sama dan dilakukan berdasarkan kontrak atau perjanjian.
2. Syirkah Mufawadhah
Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana masingmasing pihak menyerahkan bagian modal yang jumlahnya sama besar dan ikut
berpartisipasi dalam pekerjaan. Demikian pula tanggung jawab dan beban utang
dibagi oleh masing-masing pihak.
3. Syirkah Amal (Syirkah Abdan atau Sanaai)
Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih yang memiliki
keahlian atau profesi yang sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dimana
keuntungan dibagi bersama.
4. Syirkah Wujuh
Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih yang masing-masing
memiliki reputasi dan kredibilitas (kepercayaan) dalam melakukan suatu usaha.
Rukun Musyarakah
1. Pelaku terdiri atas mitra
2. Objek Musyarakah berupa Modal / maal dan kerja
3. Ijab Qabul / Serah Terima
4. Nisbah Keuntungan
Berakhirnya akad mudharabah
Akad musyarakah dapat berakhir karena hal-hal sebagai berikut :
1. Salah satu mitra menghentikan akad.
2. Salah satu mitra meninggal dunia atau hilang akal.

3. Modal musyarakah hilang atau habis.


Penetapan Nisbah dalam Akad Musyarakah
Nisbah dapat ditentukan melalui dua cara, yaitu :
1.

Pembagian keuntungan proposional sesuai modal


Dengan cara ini keuntungan harus dibagi di antara para mitra secara
proporsional sesuai modal yang disetorkan.

2.

Pembagian keuntungan tidak proporsional denga modal


Dengan cara ini, dalam penetuan nisbah yang diprtimbangkan bukan
hanyamodal yang disetorkan tapi juga tanggung jawab, pengalaman,
kompetensi atau waktu kerja yang lebih panjang.

Perlakuan Akuntansi (PSAK 106)


Pengakuan dan Pengukuran
Pengukuran investasi musyarakah:
a) dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang disisihkan;
b) dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar dan jika terdapat selisih
antara nilai wajar dan nilai buku aset nonkas, maka selisih tersebut diakui sebagai
selisih penilaian aset musyarakah dalam ekuitas.
Selisih kenaikan aset musyarakah diamortisasi selama masa akad musyarakah.
Aset tetap musyarakah yang telah dinilai sebesar nilai wajar disusutkan dengan jumlah
penyusutan yang mencerminkan:
a) penyusutan yang dihitung dengan historical cost model; ditambah dengan
b) penyusutan atas kenaikan nilai aset karena penilaian kembali saat penyisihan aset
nonkas untuk usaha musyarakah.
Penerimaan dana musyarakah dari mitra pasif (misalnya dari bank syariah)
diakui sebagai investasi musyarakah dan di sisi lain sebagai dana syirkah temporer
sebesar:
a. dana dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang diterima; dan

b. dana dalam bentuk aset nonkas dinilai sebesar nilai wajar dan disusutkan selama
masa akad atau selama umur ekonomis apabila aset tersebut tidak akan
dikembalikan kepada mitra pasif.
Selama Akad
Bagian entitas atas investasi musyarakah dengan pengembalian dana mitra diakhir
akad dinilai sebesar:
1) jumlah kas yang disisihkan untuk usaha musyarakah pada awal akad dikurangi
dengan kerugian (apabila ada); atau
2) nilai

tercatat

aset

musyarakah

nonkas

pada

saat

penyisihan

untuk

usaha musyarakah setelah dikurangi penyusutan dan kerugian (apabila ada).


Bagian entitas atas investasi musyarakah menurun (dengan pengembalian dana
mitra secara bertahap) dinilai sebesar jumlah kas yang disisihkan untuk usaha
musyarakah pada awal akad ditambah dengan jumlah dana syirkah temporer yang telah
dikembalikan kepada mitra pasif dan dikurangi kerugian (apabila ada).
Akhir Akad
Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang belum dibayarkan kepada
mitra pasif diakui sebagai kewajiban.
Pengakuan Hasil Usaha
Pendapatan usaha musyarakah yang menjadi hak mitra aktif

diakui sebesar

haknya sesuai dengan kesepakatan atas pendapatan usaha musyarakah. Sedangkan


pendapatan usaha untuk mitra pasif diakui sebagai hak pihak mitra pasif atas bagi hasil
dan kewajiban.
Kerugian investasi musyarakah diakui sesuai dengan porsi dana masing-masing
mitra dan mengurangi nilai aset musyarakah. Jika kerugian akibat kelalaian atau
kesalahan mitra aktif atau pengelola usaha, maka kerugian tersebut ditanggung oleh
mitra aktif atau pengelola usaha musyarakah. Pengakuan pendapatan usaha musyarakah
dalam praktik dapat diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas realisasi pendapatan

usaha dari catatan akuntansi mitra aktif atau pengelola usaha yang dilakukan secara
terpisah.
Akhir Akad
Pada saat akad diakhiri, investasi musyarakah yang belum dikembalikan oleh
mitra aktif diakui sebagai piutang.
Pengakuan Hasil Usaha
Pendapatan usaha investasi musyarakah diakui sebagai pendapatan sebesar bagian
mitra pasif sesuai kesepakatan. Sedangkan kerugian investasi musyarakah diakui
sesuai dengan porsi dana.
Penyajian
MITRA AKTIF menyajikan hal-hal yang terkait dengan usaha musyarakah dalam
laporan keuangan sebagai berikut:
a) Aset musyarakah untuk kas atau aset nonkas yang disisihkan dan yang diterima
dari mitra pasif;
b) Dana musyarakah yang disajikan sebagai unsur dana syirkah temporer untuk
aset musyarakah yang diterima dari mitra pasif; dan
c) Selisih penilaian aset musyarakah, bila ada, disajikan sebagai unsur ekuitas.