Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

PRAK. TEK. FAR. SEDIAAN STERIL


Obat Tetes Mata Neomisin Sulfat

Disusun oleh:
Kelompok B.2.I

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Indriana Dwi S.
Kartikawati
Kevin Caesar
Likie Jean
Lusiana Bun
Mediana Astika Z.
Mediasti Aditiani

(2010210137)
(2010210147)
(2010210149)
(2010210154)
(2010210160)
(2010210166)
(2010210167)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
28 MARET 2013

I.
II.

JUDUL PRAKTIKUM
Obat tetes mata Neomisin Sulfat
PENDAHULUAN
Obat tetes mata biasanya dipakai pada mata yang ditujukan untuk mendapatkan
efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya.
Obat mata (optalmika) yang akan dibuat pada praktikum kali ini adalah tetes mata
(Oculoguttae). Kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan obat
terbatas sehingga obat mata yang diberikan dalam volume yang kecil.
Obat tetes mata dengan zat aktif Neomisin sulfat berasal dari Streptomyces
Fradie Waksman (familia Streptomycetaceae) yang berkhasiat sebagai antibakteri
sehingga dapat melawan infeksi mata. Dosis yang dipilih 0,35 % karena merupakan
dosis

yang

aman

dalam

memberikan

efek

sebagai

anti

bakteri

dan

mempertahankan potensi yang ada (DI 88). Selain steril preparat tersebut
memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor famasi seperti
kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang
cocok. Benzalkonium klorida digunakan sebagai pegawet untuk mencegah
kontaminasi mikroorganisme selama pemakaian karena merupakan sediaan dosis
ganda dan merupakan salah satu pengawet yang mempunyai aktivitas anti bakteri
dengan spektrum luas. Benzalkonium klorida termasuk ke dalam golongan
surfaktan kationik yang tidak mengiritasi mata. Dosis benzalkonium klorida yang
umum dipakai pada sediaan tetes mata adalah 0,01% (Exipienthal 27-28).
Penggunaan benzalnium klorida sebagai pengawet karena merupakan pengawet
yang dapat dengan sangat mudah larut dalam air. Untuk mengurangi degradasi
neomisin, digunakan Sodium metabisulfit sebagai antioksidan karena neomisin
peka terhadap oksidasi udara. Uji sterilitas sediaan tetes mata nantinya akan
dilakukan menggunakan teknik penyaringan dengan filter membrane karena
sediaan ini mengandung pengawet yang dapat memberikan hasil negatif steril
palsu karena bakteri terhambat pertumbuhannya dengan penambahan pengawet.
NaCl digunakan sebagai pengisotonis untuk meningkatkan kenyamanan
penggunanya. Range tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata 0,62,0% (FI IV), 0,9-1,4% (AOC), 0,5-1,8% (RPS dan RPP), dan 0,7-1,5%

(Codex dan Husa). tapi diusahakan berada pada rentang 0,6-1,5%.


Sterilisasi dilakukan dengan metode sterilisasi akhir karena zat aktif tahan
terhadap pemanasan.
III.

TEORI DASAR
Sediaan untuk mata merupakan produk-produk yang steril, terformulasi secara
tepat dan dikemas sedemikian rupa untuk memudahkan penggunaan, mencegah
maupun mengobati penyakit. Sediaan mata dibagi dua, yaitu sediaan dengan dosis
tunggal atau dosis ganda.
Beberapa syarat sediaan tetes mata, antara lain :
1.
2.
3.
4.

Harus steril
Jernih
Daerah pH = 5,5 11,4
Harus isotonis atau mendekati isotonis

Produk untuk diteteskan ke dalam mata, walaupun menurut definisi bukan


sediaan parenteral, mempunyai karakteristik yang banyak kesamaannya dan
bahkan identik dangan sediian parenteral. Formulasi preparat obat mata dengan
zat aktif yang stabil secara terapetis membutuhkan kemurnian bahan yang tinggi,
juga bebas dari kontaminan kimia, fisika dan mikroba. Preparat preparat biasanya
membutuhkan dapar untuk menstabilkan pH dari produk tersebut, penstabil seperti
antioksidan bila cocok untuk bahan bahan tersebut. Obat mata yang digunakan
dalan jumlah besar seperti obat tetes mata atau dengan alat alat dengan lensa
kontak umumnya adalah larutan larutan yang relatif tidak rumit yang serupa
dengan sediaan parenteral dengan volume besar.
Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu:
1. Steril
Semua larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan dan bila mungkin
ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas selama
pemakaian. Pencemaran oleh mikroorganisme dapat berasal dari bahan obat
dan bahan pembantu, atau akibat prosedur kerja yang tidak aseptik dan
kesalahan pada cara sterilisasi akhir, serta akibat rekontaminasi selama
pemakaian.

2. Jernih
Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari rangsangan akibat bahan
padat. Filtrasi dengan kertas atau kain woll tidak dapat menghasilkan larutan
bebas partikel oleh karena itu sebagai matrial penyaring kita menggunakan
leburan gelas.
3. Sedapat mungkin isotonis
Cairan mata memiliki tekanan osmotik, yang harganya sama dengan darah
dan cairan jaringan. Harganya sebanding dengan larutan natrium klorida 0,9
% dalam air. Mata memiliki daerah toleransi tonisitas yang lebih lebar, yang
tidak atau sangat jarang terjadi pengaruh fisiologis yang merugikan kisaran
0,7- 1,45 % dapat diterima tanpa rasa nyeri dan tidak dapat menyebabkan
keluarnya air mata.
4. Sedapat mungkin isohidris
Pengaruturan larutan pada kondisi isohidris (pH= 7,4) adalah berguna untuk
mencapai rasa bebas nyeri yang sempurna. (Voight hal 522-526)
5. Pengawetan
Bahan pengawet yang digunakan adalah tiomersal 0,002%, garam fenil
merkuri 0,002%, garam Alkonium dan garam benzalkonium 0,002-0,01%
dalam kombinasi dengan natrium edetat 0,1%, lalu yang lain adalah
klorheksidin 0,005-0,01%, klorbutanol 0,5% dan benzil alkohol 0,5-1%.
6. Pendaparan
Harga pH mata sama dengan darah yaitu 7,4 pada pemakaian tetesan biasa,
larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3-9,7.
Namun, daerah pH 5,5-11,4 masih dapat diterima. Pengaturan pH sangat
berguna untuk mencapai rasa bebas nyeri, meskipun kita sangat sulit
merealisasikannya. Jika harga pH yang ditetapkan atas dasar stabilitas
berada di luar daerah yang dapat diterima secara fisiologis, maka kita wajib
menambahkan larutan dapar dan melakukan pengaturan pH melalui
penambahan asam atau basa.

IV.

DATA PREFORMULASI
A. Zat Aktif : Neomisin Sulfat (FI IV hal 606, Martindale 28 hal 1188, DI 2003 hal
2602)
Nama zat
aktif

Sifat fisika kimia

Neomisin
sulfat

Pemerian: Serbuk putih,


sampai agak kuning
atau padatan kering
mirip es; tidak berbau
atau praktis tidak
berbau; higroskopik;
larutannya memutar
bidang polarisasi ke
kanan.
Kelarutan: Mudah larut
dalam air; sangat sukar
larut dalam etanol; tidak
larut dalam aseton,
dalam kloroform, dan
dalam eter.
pH:
pH
larutan
neomisin sulfat dalam
0,9% NaCl adalah 5
7,5. (Drugs Information
88 hal. 63), pH larutan
oral
neomisin
sulfat
adalah 5 - 7,5. (Drugs
Information 2010 hal.
72).
Stabilitas:
Larutan
injeksi neomisin sulfat
dalam 0,9% NaCl harus
disimpan pada suhu 2-

Ekivalensi
NaCl

Cara
sterilisa
si

0,11

Sterilisa
si kering
(oven)
pada
suhu
110oC
selama
10 jam.

(sprowls
hal.188)

Sterilisa
si akhir
pada
suhu
98o100Oc.
Selama
30
menit.

Khasiat /
dosis

Khasiat:
Antibakter
i, anti
infeksi
Dosis:
0,35% (DI
2003 hal
2604) ;
0,5 %
(BNF 54
hal. 558)

Cara
penggunaan
Tetes mata

8oC,
terlindung
dari
cahaya dan digunakan
dalam
1
minggu.
Neomisin dapat diserap
oleh selulosa, tanah
diatom, dan membran
seitz; sejumlah besar
dari obat tersebut dapat
berpindah bila larutan
neomisin sulfat disaring.
(DI 2010 hal. 72).
Neomisin peka terhadap
oksidasi udara. Setelah
penyimpanan selama 24
bulan
tidak
terjadi
kehilangan
potensi
(masih 99% dari potensi
asli). Serbuk neomisin
sulfat stabil selama tidak
kurang dari 3 tahun
pada
suhu
20oC.
Neomisin sulfat dapat
juga dipanaskan pada
suhu 110oC selama 10
jam
(yakni
selama
sterilisasi kering), tanpa
kehilangan potensinya,
meskipun
terjadi
perubahan
warna.
Neomisin cukup stabil
pada kisaran pH 2,0
sampai
9,0.
Menunjukkan
aktivitas
optimumnya pada pH
7,0 (Connors hal.525532).
Inkompatibilitas:
Golongan
anionik,
sodium lauryl sulfat.

Penyimpanan:
Dalam wadah dosis
tunggal atau wadah
dosis ganda, terlindung
cahaya.

B. Zat Aditif
Fungsi Zat
Aditif

Nama
Zat

Antioksidan

Sodium
metabis
ulfit

Sifat Fisika Kimia

Kelarutan : agak
mudah larut dalam
etanol, mudah larut
dalam gliserin dan
(Handbo sangat mudah larut
ok
of dalam air
Pharmac
eutical
pH : 3,5 5,0
Excipient Kurangdari 150
s
hal :
690)
3,5 5,0
titik lebur : kurang
dari 150o C
stabilitas: teroksidasi
secara perlahan dalam
udara panas dan
lembab
OTT :Derivat alkohol,
kloramfenikol, dan fenil
merkuri asetat
:

Ekiv.
NaCl

Cara
Sterili
sasi

0,67 Otokl
(Spro af
wlsh
al
189 )

Alasan
Pemilihan

Konsentr
asi

Sebagai
0,01 1,0
antioksidan %
karena
Neomisin
sulfat peka
terhadap
oksidasi
udara

Agakmudahlarutdalam
etanol,
mudahlarutdalamgliseri
n,
dansangatmudahlarutd
alam air
:
Agakmudahlarutdalam
etanol,
mudahlarutdalamgliseri
n,
dansangatmudahlarutd
alam a
Pelarut

Aquades Cairan jernih, tidak


t
pro berwarna, tidak berbau
injection

Pengawet

Benzalk
onium
Klorida

Serbuk amorf, putih 0,16


atau putih kekuningan,
(spro
higroskopik
wls
Kelarutan:
sangat hal
mudah larut dalam 187)
aseton, etanol 95%,
metanol, dan air.
pH: 5-8 (HOPE 2003 p
45)

Pema
nasan
selam
a 30
menit

Sebagai
pelarut
dalam
sediaan
tetes mata
karena
neomisin
sulfat
mudah larut
dalam air

Otokl
af

Mudah larut
dalam air,
mencegah
kontamina
si
mikroorgan
isme
selama
pemakaian
,
karena
merupakan
sediaan
dosis
ganda.
Dipilih
benzalkoniu

0,01%
0,02% b/v
(Handboo
k
of
Pharmace
utical,
Excipients
edisi hal
27)

mklorida
sebagai
pengawet
karena
benzalkoniu
m
klorida
adalah
salah satu
pengawet
yang
mempunyai
aktivitas
antirmikrob
a
dengan
spektrum
luas
Pengisoton
is

NaCl

Mudah larut dalam air,


sedikit lebih mudah
larut dalam gliserin,
sukar
larut
dalam
etanol

1,00
(spro
wls
hal
188)

Otokl
af

Perhitungan tonisitas
ENaCl Neomisin Sulfat

= 0,11

ENaCl Benzalkonium Klorida = 0,16


ENaCl Sodium metabisulfit

= 0,67

Neomisin Sulfat
Benzalkonium Klorida
Sodium Metabisulfit

= 0,35% x 0,11 = 0,0385 %


= 0,01 % x 0,16 = 0,0016 %
= 0,5% x 0,67 = 0,335%

Jadi NaCl yang dibutuhkan agar isotonis


= 0,9 % (0,0385 + 0,0016 +0,335) %
= 0,5249 %
V.

FORMULA

Sebagai
pengisotoni
s

FORMULA DASAR
(Sterile Dosage Forms hal 385)
Neomisin Sulfat

(Formulasi Nasional)

10 %

Sodium metabisulfit 0,1%


Aqua p.i ad 10 ml

(Martindale)

(Drug Information)

Neomisin sulfat

0,5%

Larutan Benzolkonium chlorid 0,02% v/v;


Disodium edentate

0,05 %;

API hingga 100%

FORMULA RENCANA
Neomisin Sulfat

0,35%

Sodium metabisulfit

0,5 %

Benzalkonium klorida

0,01 %

NaCl

q.s

cari ekuivalensi dengan neomisin

Aqua p.i ad 10 ml

Dasar pemilihan formula:


1. Neomisin sulfat sebagai zat aktif yang berkhasiat sebagai antibiotik untuk
mengobati infeksi pada mata.
2. Dipilih benzalkonium klorida sebagai pengawet karena benzalkonium

klorida

adalah salah satu pengawet yang mempunyai aktivitas antimikroba dengan


spektrum luas dan dengan kelarutan sangat mudah larut dalam air. Selain itu,
benzalkonium klorida merupakan surfaktan kationik yang tidak mengiritasi. Dosis
yang umum dipakai pada sedian tetes mata adalah 0,01 %.

3. NaCl ditambahkan karena formula yang dibuat hipotonis jadi untuk membuat
sediaan isotonis perlu ditambahkan NaCl. Penambahan NaCl ini juga ditujukan
agar pasien merasa nyaman (tidak merasa perih) ketika menggunakan obat
tetes mata.

VI.

ALAT DAN CARA STERILISASI


ALAT YANG
DIGUNAKAN

CARA STERILISASI

Erlenmeyer, beaker glass,

Oven 150C = 1 jam

corong, botol obat mata,


pipet tetes
Gelas ukur, kertas saring

Otoklaf 121C = 15 menit

Batang pengaduk, kaca

Direndam dalam alkohol =

arloji, pinset, spatula,

30 menit

penjepit besi

Tutup botol obat tetes

Direbus pada air yang

Karet pipet tetes

mendidih di atas api


langsung

VII.

ALAT DAN BAHAN


Alat:
-

Autoklaf
Oven
Bak berisi alkohol
Aluminium foil
Botol tetes mata
Beaker gelas
Erlenmeyer
Batang pengaduk

- kaca arloji
- gelas ukur
- pipet tetes
- penjepit besi
- pinset
- kertas saring
- corong gelas
- spatula

Bahan:

VIII.

-Neomisin sulfat
- Benzalkonium klorida
- sodium metabisulfit
- NaCl
- Aqua pro injeksi

PERRHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN


Perhitungan tonisitas
ENaCl Neomisin Sulfat

= 0,11

ENaCl Benzalkonium Klorida = 0,16


ENaCl Sodium metabisulfit

= 0,67

Neomisin Sulfat

= 0,35% x 0,11 = 0,0385 %

Benzalkonium Klorida = 0,01 % x 0,16 = 0,0016 %

Sodium Metabisulfi

= 0,5%

x 0,67 = 0,335%

Jadi NaCl yang dibutuhkan agar isotonis


= 0,9 % (0,0385 + 0,0016 +0,335) %
= 0,5249 %
Volume 1 botol

= l0 ml, dibuat 2 botol = 20 ml

Volume yang diperlukan

= volume + (30% x Volume)


= 10 ml + 3 ml = 13 ml

Untuk 2 botol yang diperlukan

= 2 x 13 ml = 26 ml

Neomycin Sulfat

= 0,35 % x 26 ml = 0,091 g

= 91 mg

Benzalkonium klorida

= 0,01 % x 26 ml = 2,6x10-3 g = 2,6 mg

Sodium Metabisulfit

= 0,5 % x 26 ml = 0,13 g

= 130 mg

NaCl

= 0,5249 % x 26 ml= 0,1365 g = 136,5 mg

Aqua p.i

= 26 ml - (0,091 + 2,6x10-3 + 0,13 + 0,1365) ml


= 25, 6399 ml ~ 25, 64 ml 0,64 ml x 20 tetes
= 12,8 tetes
= 25 ml + 12,8 ml

Volume NaCl = {(0,091x0,11)+(0,0026x0,16)+(0,13x0,67)x111,1


= 10,84 ml
% = 10,84 ml x 0,9%

= 0,38%

26 ml
( 0,9%-0,38% ) x 26 ml = 0, 52%
0,52% x 26 ml

= 0,1352 g

Pengenceran
Benzalkonium klorida: 2,6 mg/10 mg x 5 ml = 1,3 ml = 1 ml + 6 tetes
~ 0, 3 ml x 20 tetes = 6 tetes
Penimbangan
Untuk 2 botol @10 ml
Neomisin sulfat

0,091 g

Benzalkanium klorida 2,6x10-3 g

IX.
1.

Sodium metabisulfit

0,13 g

NaCl

0,1365 g

Aqua p.i ad

26 ml

CARA PEMBUATAN
Cara Sterilisasi
Alat dan bahan
ALAT YANG
DIGUNAKAN

CARA STERILISASI

WAKTU
MULAI

WAKTU
SELESAI

Erlenmeyer, beaker

Oven 150C = 1 jam

9. 10

10. 10

Gelas ukur, kertas

Otoklaf 121 C = 15

9. 33

9. 48

saring

menit

Batang pengaduk,

Direndam dalam

9. 00

9. 30

kaca arloji, pinset,

alkohol = 30 menit

9. 30

10. 00

9. 02

9. 32

11. 00

11.30

glass, corong glass,


botol obat mata, pipet
tetes

spatula, penjepit besi


Aqua pro injeksi

Dididihkan tidak
kurang dari 30 menit
(FI III hal 4) ( menit
pertama dihitung
ketika air mendidih)

Karet pipet tetes


Karet tutup obat tetes
mata
Sterilisasi akhir

Direbus dalam air


mendidih selama 30
menit
Pada suhu 980-1000c
selama 30 menit

2.

Cara Kerja
Prosedur pembuatan menggunakan sterilisasi akhir dengan uap mengalir
980-1000C selama 30 menit
1. Disiapkan alat-alat dan bahan yang diperlukan.
2. Dikalibrasi botol tetes mata 10 ml.
3. Disterilisasi alat.
4. Dibuat aqua p.i:
Dipanaskan aquades sampai mendidih pada erlenmeyer yang
disumbat tutupn ya dengan kapas, kurang lebih selama 30 menit

kemudian di dinginkan. (menit pertama dihitung ketika air sudah mendidih).


5. Dibuat pengenceran Benzalkonium klorida.
Dengan cara timbang benzalkonium klorida 10 mg. Kemudian ditambahkan 5
ml aqua pro injeksi. Kocok ad larut. Setelah itu diambil dari pengenceran
larutan tersebut sebanyak 1, 3 ml.
6. Masing-masing bahan dilarutkan secara terpisah dengan aqua p.i.
7. Dilarutkkan Neomisin sulfat dalam sebagian aqua p.i.
8. Dilarutkan Natrium metabisulfit dalam sedikit aqua pi.
9. Ditambahkan pengenceran larutan Benzalkonium klorida kedalam larutan
Neomisin sulfat, natrium metabisulfit, dan NaCl
10. Dicampurkan ad homogen, tambahkan aqua p.i saat hampir menuju 26 ml
cek pH 5-7,5.
11. Ditambahkan aqua p.i ad 26 ml.
12. Campuran larutan tersebut disaring menggunakan kertas saring.
13. Dimasukkan dalam botol tetes mata yang telah dikalibrasi dan disterilkan ad
tanda, tutup.
14. Dilakukan sterilisasi dalam otoklaf 98-100 C selama 30 menit.
15. Dilakukan evaluasi terhadap sediaan.
16. Dikemas dalam wadah kedap udara dan terlindung dari cahaya, masukkan
dalam dus dan beri etiket.

X.

EVALUASI
In Process Control (Teori dan Praktek Farmasi Industri hal. 1356)

1.
a.

Uji pH
Sebelum di ad-kan larutan sediaan dicek pH nya dengan pH universal.

b.

Uji Kejernihan (Lachman hal 1355)


Pemeriksaan kejernihan dilakukan secara visual di bawah cahaya dengan
menggunakan latar belakang hitam dan putih, harus benar-benar bebas dari
partikel kecil yang dapat dilihat dari mata yakni partikel yang berukuran 30-40
mikron dan lebih dari itu.

c.

Uji Keseragaman Volume (FI IV hal 1044)

i. Pilih satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih. 3 wadah atau
lebih bila volume lebih dari 3 ml dan kurang dari 10 ml
ii. Ambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodemik kering berukuran tidak
lebih dari 3 kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum
suntik nomor 21, panjang tidak kurang dari 2,5 cm
iii. Keluarkan gelembung udara dari dalam jarum dan alat suntik dan
pindahkan isi dalam alat suntik, tanpa mengosongkan bagian jarum, ke
dalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan hingga
volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40 % volume dari
kapasitas tertera (garis-garis petunjuk volume gelas ukur menunjukkan
volume yang ditampung, bukan yang dituang).

2.
a.

b.

Quality Control (QC)


Uji Kejernihan (Lachmanhal 1355)
Pemerikasaan visual terhadap wadah produk dilakukan pemeriksaan wadah
bersih dari luar dibawah penerangan cahaya yang baik, terhalang
refeksi kedalam matanya dan berlatar belakang hitam putih, dengan
rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar
Catatan: partikel yang bergerak lebih mudah dilihat daripada partikel
ya n g d i a m . Tet a p i h a ru s b e rh a t i h a ti u n tu k m e n c e g a h m a su k n ya
gelembung udara yang sulit dibedakan dari partikel debu.
Uji Sterilitas (FI IV 1995 hal 855)
Inokulasi langsung kepada media uji
Volume tertentu spesimen + volume tertentu media uji diinkubasi selama
tidak kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara visual
sesering mungkin, sekurang-kurangnya pada hari ketiga, keempat, kelima,
ketujuh atau kedelapan atau pada hari terakhir pada masa uji.

c.

Uji Keseragaman Volume (FI IV hal 1044)


i. Pilih satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih. 3 wadah atau
lebih bila volume lebih dari 3 ml dan kurang dari 10 ml

ii. Ambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodemik kering berukuran tidak
lebih dari 3 kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum
suntik nomor 21, panjang tidak kurang dari 2,5 cm
iii. Keluarkan gelembung udara dari dalam jarum dan alat suntik dan
pindahkan isi dalam alat suntik, tanpa mengosongkan bagian jarum, ke
dalam gelas ukur kering volume tertentu yang telah dibakukan hingga
volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40 % volume dari
kapasitas tertera (garis-garis petunjuk volume gelas ukur menunjukkan
volume yang ditampung, bukan yang dituang).
d. Uji Penetapan Kadar (FI IV hal 331)
Metode penetapan kadar dengan titrasi bebas air (TBA) menggunakan
asam perklorat 0,1 N L, titik akhir secara potensiometrik.

XI. HASIL PENGAMATAN


1. In Process Control (IPC)
i) Uji pH
ii) Uji Kejernihan
iii) Uji Keseragaman Volume

:6
: Jernih
: Tidak seragam

2. Quality Control (QC)


i. Uji Kejernihan
ii. Uji Sterilitas
iii. Uji Keseragaman Volume
iv. Uji Kadar

: Jernih
:: Tidak seragam
:-

* (-) dispensasi (tidak dilakukan)

XI.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim Farmakope Indonesia Edisi III ; Depkes RI, Jakarta 1979.

Anonim Martindale XXVIII, thaphaemaceutical, Press, London.


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia, edisi IV,
Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; 1995.
Drug Information, American Society of Healthy System Pharmacists, 2003.
Departemen

of

pharmaceutical

science

London,

1994,

Handbook

of

pharmaceutical exicipients, edisi II; Depkes RI, Jakarta 1979.


Sprowls Joseph B, Prescription Pharmacy, edition II, Philadelphia Toronto;1970.
Turco S., Robert E King, steril dosage forms, second edition: Lea & Febiger,
Philadelphia; 1979.
Voigt R., Buku pelajaran teknologi farmasi, edisi V: Gajah Mada University Press;
1994. hal 521-531.