Anda di halaman 1dari 7

DEPRESI

Definisi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam
perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu
makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta
bunuh diri.
Etiologi
1.

Faktor biologi
Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan
epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada pasien
bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi despiran
mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi Selain
itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun.
Disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron
yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi
aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan perubahan pada
amin biogenik sentral. Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis HPA yang
sangat fundamental pada pasien depresi. Hipersekresi yang terjadi diduga akibat
adanya defek pada sistem umpan balik kortisol di sistem limpik atau adanya
kelainan pada sistem monoaminogenik dan neuromodulator yang mengatur CRH.
Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan peningkatan sekresi

CRH.
2. Faktor Genetik
Faktor genetik berperan penting dalam perkembangan depresi mayor (Major
depressive disorder/MDD), seperti yang ditunjukkan dalam studi keluarga dan saudara
kembar. Penelitian pada saudara kembar menunjukan 40-50% heritabilitas, dan penelitian
pada keluarga menunjukan 3 kali lipat peningkatan risiko MDD. Pengaruh genetik
terhadap depresi tidak disebutkan secara khusus, hanya disebutkan bahwa terdapat
penurunan dalam ketahanan dan kemampuan dalam menanggapi stres
Kesulitan dalam mengidentifkasi dan menentukan lokasi gen yang menyebabkan
gangguan mood terdiri dari tidak adanya gen tunggal yang cukup untuk menyebabkan
MDD, masing-masing gen menyebabkan sebagian kecil risiko genetik secara keselurhan,

heterogenitas genetik yang kompleks yang berarti bahwa beberapa jenis gen yang rentan
berinteraksi dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi individu.
Peneliti mengidentifikasi daerah pada lengan pendek kromosom 3 (disebut juga
kromosm 3p25-26) berhubungan dengan keparahan depresi berulang, dan terdapat 214
gen pada kromosom 3 yang teridentifikasi berkaitan dengan depresi. Protein yang
mengkode sejumlah gen tersebut sangat potensial menyebabkan depresi, misalnya
beberapa gen tersebut dapat mengkode beberapa reseptor sinyal kimia di otak.
Dibeberapa daerah lain menunjukan hubungan dengan depresi yang lemah, hanya pada
daerah kromosom 3 yang menunjukan hubungan yang kuat timbulnya depresi.
Berikut adalah hubungan genetik dengan depresi:
a. Penelitian pada keluarga dan interaksi gen dengan lingkungan
Penelitian pada saudara kembar dan keluarga telah terbukti bahwa
mekanisme kompleks genetik berpengaruh besar pada kerentanan terhadap
depresi. Dibandingkan dengan populasi umum, tingkat pertama keluarga memiliki
hampir 3 kali lipat peningkatan risiko depresi. Secara umum, penelitian pada
saudara kembar dewasa menunjukan bahwa genetik dan faktor lingkungan
tertentu sangat penting meskipun tidak signifikan. Depresi terkait faktor genetik
sebagian besar berbuhungan dengan gangguan cemas, sedangkan faktor
lingkungan tampaknya berbeda. Meskipun peristiwa hidup dapat memicu depresi,
namun pengaruh lingkungan tampaknya dipengaruhi oleh faktor genetik. Konsep
mengenai sifat gangguan mendukung hipotesis bahwa kecenderungan genetik
ditambah dengan tekanan kehidupan merupakan awal perkembangan depresi dan
menurunkan ambang batas kerentanan individu pada saat terpapar tekanan.
Sebagian besar penelitian hubungan genetic dengan gangguan mood
berfokus pada polimorfisme fungsional (urutan variasi DNA yang mengubah
ekspresi dan/atau fungsi produk gen) dalam lokus pengkodean transporter
serotonin (SLC6A4), reseptor serotonin (5HTR), tirosin hidroksilase (TH),
triptofan hidroksilase 1(TPH1) dan katekolamin-o-methyltransferase (COMT).
b. Molekul Genetik
Gangguan mood, seperti depresi diyakini berasal dari gen yang heterogen,
dimana antara satu keluarga dengan keluarga yang lain memiliki variasi genetik
yang berbeda. Sebagian besar keluarga dengan warisan monogenik jarang
menyebabkan gangguan depresi. Perbedaan psikopatologis menunjukan gambaran

klinis yang berbeda (misalnya onset dini, reaktivitas stress, bunuh diri) dapat
mengidentifikasi keluarga dengan monogenik.
Pada gangguan bipolar, beberapa keluarga dipengaruhi oleh beberapa gen
dengan lokus yang heterogen bahkan dalam satu keluarga. Dalam penelitian 2
state-of-the-art scan linkage genome-wide ditemukan beberapa lokus kromoson
dapat mempengaruhi perkembangan gangguan depresi berulang. Keberadaan
disposisi lokus seks-spesifik terhadap depresi berada pada kromosom 12q2212q23.3. Namun lokus yang dapat mempengaruhi sifat kepribadian neurotisisme
terdapat pada jenis kromosm 12q23.1.25, dimana salah satu atau lebih dari ketiga
gen tersebut terlibat dalam timbulnya gangguan jiwa.
Gen transporter serotonin dan gen yang terlibat dalam sistem serotonergik
adalah gen kandidat untuk kerentanan terhadap depresi. Beberapa studi telah
menghubungkan gen transporter serotonin (SLC6A4) dengan depresi. Sebuah
polimorfisme 44-bp di daerah promoter dari gen (5-HTTLPR/serotonin
transporter linked polymorphic region) telah menunjukan mempengaruhi ekspresi
transporter serotonin secara in vivo. Polimorfisme ini adalah varian genetik yang
terjadi di daerah gen promotor. Para peneliti umumnya melaporkan dua variasi
pada manusia: A pendek/short ("s") dan panjang/long ("l"). Salah satu penelitian
yang diterbitkan pada tahun 2000 ditemukan 14 varian alel (14-A, 14-B, 14-C,
14-D, 15, 16-A, 16 B-, 16-C, 16-D, 16-E, 16- F, 19, 20 dan 22). Beberapa studi
telah menemukan bahwa alel panjang dengan serotonin transporter mRNA
transkripsi lebih tinggi di jalur sel manusia.
Variasi gen memberi dampak yang signifikan pada fungsi komponen
neurotransmisi otak, seperti serotonin (5-HT). Berdasarkan beberapa bukti bahwa
5-HT dan ekspresi gen serotonergik terlibat dalam berbagai proses selama
perkembangan otak, serta plastisitas sinaptik saat masa dewasa, terkait depresi
dan perilaku yang cenderung temperamental dipengaruhi oleh variabilitas fungsi
genetik 5-HT.
Akibatnya, kontribusi varian genetik dari 5-HT transporter (5-HTT),
sebuah protein penting yang terlibat dalam pengendalian fungsi 5-HT, dengan
risiko gangguan mood termasuk depresi dan gangguan bipolar, telah dieksplorasi
dalam beberapa populasi independen dan penelitian berbasis keluarga. Selain itu,

bukti bahwa polimorfisme didaerah kontrol transkripsi gen 5 HTT (5HTTLPR),


mengakibatkan variasi ekspresi dan fungsi alel dari 5-HTT, terkait dengan ciri-ciri
kepribadian emosional negatif termasuk kecemasan, depresi dan agresivitas
(neurotisisme dan keramahan). Varian pendek dan panjang 5HTTLPR yang
berbeda-beda memodulasi aktivitas transkripsi dari promotor gen 5-HTT,
konsentrasi protein 5-HTT, aktivitas penyerapan 5-HT di sel lymphoblastoid,
konsentrasi mRNA dikompleks raphe dari otak manusia post mortem, penyerapan
dan isi 5-HT trombosit, sistem responsivitas 5-HT dilakukan dengan uji coba
farmakologis, perubahan mood termasuk deplesi tryptophan dikaitkan dengan
ekspresi dan fungsi 5-HTT yang lebih rendah.
c. Sifat-terkait Depresi
Serotonin transporter linked polymorphic region (5-HTTLPR) mungkin
berhubungan dengan ciri-ciri kepribadian. Sebuah efek modulasi variasi fungsi
alel 5-HTT pada korteks memberikan bukti bahwa korelasi genotipe-fenotip dapat
dinilai oleh pencitraan fungsional otak. Penelitian baru-baru ini melaporkan
bahwa individu dengan 1 atau 2 salinan dari aktivitas varian 5HTTLPR yang
rendah memperlihatkan aktivitas neuron di amigdala yang besar, sebagaimana
dinilai oleh pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), dalam menanggapi
rangsangan menakutkan dibandingkan dengan individu homozigot untuk aktifitas
tinggi alel panjang. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa variasi genetik yang
mendorong fungsi serotonergik berkontribusi terhadap respon dari daerah otak
yang mendasari perilaku emosional manusia dan menunjukkan bahwa rangsangan
berbeda

amigdala

terhadap

rangsangan

emosional

dapat

menyebabkan

peningkatan rasa takut dan respon cemas.


Varian yang mengubah struktur protein 5-HTT jarang dan potensi mereka
untuk mengubah aktivitas penyerapan 5-HT tetap menjadi penentu. Sebagian
besar varian ini belum dieksplorasi sehubungan dengan efek fungsional pada
aktivitas transportasi atau hubungan fenotipe dengan perilaku atau gangguan.
Namun demikian, 2 nonsynonymous single nucleotide polimorphisms (SNP) yang
mengubah urutan coding gen 5-HTT ditemukan untuk memisahkan dengan
disfungsi

serotonergik kompleks terkait-fenotipe termasuk obsesif-kompulsif

(OCD) dan gangguan spektrum 5-HT atau dikaitkan dengan depresi berat.

Perkembangan subtitusi Ile-425-Val terletak di transmembran domain 8 (TMD8)


dan dapat mengubah struktur sekunder -heliks protein 5-HTT dan berakibat pada
fungsi transportasi. Studi dari ekspresi mutan 5-HTT cDNA gen dalam sel
manusia menunjukkan keuntungan dari fungsi melalui aktivasi transportasi 5-HT
di jalur nitrat oxide mengakibatkan peningkatan 2 kali lipat penyerapan 5-HT.
Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi mutasi terkait dengan pengkodean urutan
dapat berkontribusi pada gambaran psikopatologi yang terkait dengan disfungsi
serotonergik di beberapa keluarga.
Analog dengan gen 5-HTT dan variasi ekspresi alel, sebuah SNP
fungsional (C-1019G) dibagian kontrol transkripsi gen untuk reseptor 5-HT1A
(HTR1A) dikaitkan dengan kecemasan dan ciri-ciri kepribadian yang terkait
depresi, serta depresi dan bunuh diri. Temuan ini lebih mendukung beberapa bukti
bahwa

reseptor 5-HT1A terlibat dalam patofisiologi kecemasan dan depresi.

Pasien dengan gangguan panik dan depresi memperlihatkan kelemahan dari 5HT1A receptor-mediated hipotermia dan respon neuroendokrin, mencerminkan
disfungsi reseptor 5-HT1A baik presinaptik dan postsinaptik.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2009, penulis menemukan
bahwa individu homozigot untuk alel panjang 5-HTTLPR lebih banyak perhatian
pada afektif positif dan menghindari afektif negatif yang bersamaan dengan
afektif positif dibandingkan dengan heterozigot alel pendek.
Penelitian lain menunjukkan alel pembawa 5-HTTLPR pendek mengalami
kesulitan melepaskan perhatian dari rangsangan emosional dibandingkan
homozigot alel panjang. Studi lain menemukan bahwa 5-HTTLPR pembawa alel
pendek memandang peristiwa positif dan menghindari peristiwa negatif,
sementara homozigot alel panjangmenilai peristiwa dengan emosi dengan cara
yang lebih adil. Penelitian ini menunjukkan bahwa

5-HTTLPR pembawa alel

pendek mungkin emosional lebih sensitif terhadap lingkungan daripada


homozigot alel panjang.

d.

Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF)


Terdapat perkembangan bukti yang menunjukan peran penting dari BrainDerived Neurotrophic Factor terhadap gangguang afektif. Efek neurotoksik
(kemungkinan berhubungan dengan peningkatan aktivias kortikotropin dan/atau

efek inflamasi sitokin) yang merusak atau membunuh sel hipokampus, yang
menyebabkan gejala depresi karena terjadi penurunan peptide neuroprotektif.
Faktor genetik dapat mengubah keseimbangan neurotoksik dan neuroprotektif
saat

terjadi

respon

stress,

sedangkat

antidepresan

meningkatkan

efek

neuroprotektif. Brain-Derived Neurotrophic Factor merupakan salah satu protein


neuroprotektif yang menurun pada gangguan depresi.

e. Tryptophan Hydroxylase
Tryptophan Hydroxylase merupakan enzim yang membatasi sintesis
serotonin di otak. Penemuan dari isoform otak-spesifik baru dari triptofan
hidroksilase (TPH2) memiliki hubungan antara sistem serotonergik dan depresi.
Gen TPH2 terletak pada kromosom 12q. Pada beberapa penlitian dilaporkan
terdapat bukti hubungan variasi gen THP dan depresi mayor. Polimorfisme
fungsional (Arg441His) 80% menyebabkan penurunan fungsi produksi serotonin.

3. Faktor Psikososial
Menurut Freud dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah
kehilangan objek yang dicintai. Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi:
peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan
yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial.
Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode
pertama gangguan mood dari episode selanjutnya, Stressor lingkungan yang paling
berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan. Stressor
psikososial yang bersifat akut, seperti kehilangan orang yang dicintai, atau stressor kronis
misalnya kekurangan finansial yang berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal,
ancaman keamanan dapat menimbulkan depresi.
Faktor kepribadian. Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada
individu, seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko
tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid
(kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko
yang rendah.

Faktor kognitif. Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan


distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif,
pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan
depresi.