Anda di halaman 1dari 22

2.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1Prinsip dasar titrasi
Titrasi merupakan salah satu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara
mereaksikan sejumlah volume larutan tersebut terhadap sejumlah volume larutan lain yang
konsentrasinya sudah diketahui. Larutan yang konsentrasinya sudah diketahui disebut larutan
baku. Titrasi yang melibatkan reaksi asam dan basa disebut titrasi asam-basa (Muchtaridi, 2006).
(m)A+(m)B

Hasil Reaksi

Keterangan:
(m) = jumlah mol
A
= Larutan standar
(Penitrasi)
2.2Pengertian asidi-alkalimetri
B
= Larutan yang
Asidimetri adalah penentuan konsentrasi suatu larutan basa dengan
menggunakan larutan asam sebagai standarnya. Sebaliknya, Alkalimetri
adalah penentuan konsentrasi suatu larutan asam dengan menggunakan
larutan basa sebagai standarnya (Suyatno, 2007).

2.3

Pengertian larutan standar primer dan sekunder

Larutan standar primer adalah larutan yang mengandung senyawa kimia


stabil yang tersedia dalam kemurnian tinggi dan dapat digunakan untuk
menstandarisasi larutan standar yang digunakan di dalam titrasi (Watson,
2005).
Larutan standar sekunder adalah larutan yang telah melalui proses
standarisasi dan memiliki konsentrasi tertentu (Watson, 2005).

2.4

Fungsi bahan dalam praktikum

1. Fungsi asam cuka komersial berfungsi sebagai larutan yang diuji atau penirat.
2. Fungsi NaOH sebagai pemberi suasana basa.

3. Fungsi HCl sebagai larutan sampel keadaan normal.


4. Indikator fenolftalein ( PP ) sebagai penentu titik akhir dalam titrasi yang ditandai jika tidakada
warna menunjukkan netral sedangkan warna merah muda berarti keadaan basa dengan pH 8 10.
5. Indikator metal orange atau jingga sebagai penentu titik akhir dalam titrasi yang ditandai jika warna
kuning berarti keadan netral dengan pH 3,1 - 4,4.
6. Borak berfungsi larutan yang diuji atau penitrat.
7. Asam Oksalat sebagai larutan yang di uji atau penitrat.
8. Aquades berfungsi sebagai pelarut Kristal.
(Widihati, 2008).

2.5

Aplikasi titrasi asam-basa dalam bidang teknologi pertanian

pembuatan pupuk kalium klorida yang dalam pembentukkannya diperlukan


MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan proses titrasi
(Syamsuni, 2006).
Penentuan keasamaan buah yang menggunakan metode titrasi asam basa
dan juga dalam membuat air yang akan di jadikan basa untuk penderita maag
(Wegner, 2008 ).

3. DIAGRAM ALIR
3.1

Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M


HCl Pekat

Dihitung Konsentrasinya
Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml
Ditambahkan Aquades
Dihomogenkan

Hasil

3.2

Standarisasi larutan HCl

Na2 B4 O7 . 10 H 2 O

Ditimbang sebanyak 1,9 gram


Diletakan dalam beaker glass
Ditambahkan aquades secukupnya
Dilarutkan
Dipindahkan ke dalam labu ukur ukuran 100mL

Ditambahkan aquades hingga tanda batas


Dihomogenkan
Diambil 10 ml
Dimasukkan ke dalam erlenmeyer
Indikator metal orange
Ditambahkan 1-2 tetes metal orange

Dititrasi dengan HCl

Diamati hingga perubahan warna


Dilakukan duplo
Dihitung M HCl

Hasil

3.3

Pembuatan larutan standar NaOH 0,1 M

Kristal NaOH

Ditimbang sebanyak 0,4 gram dengan timbangan analitik


Diletakan dalam beaker glass
Ditambahkan aquades secukupnya
Dilarutkan
Dipindahkan ke dalam labu ukur ukuran 100mL

Ditambahkan aquades hingga tanda batas


Dihomogenisasi

Hasil

3.4

Standarisasi larutan NaOH

Asam Oksalat 0,05 M

Diambil 10 ml ke dalam erlenmeyer

Indikator PP

Ditambahkan 1-2 tetes

Ditirsasi dengan NaOH

Diamati hingga terjadi perubahan warna

Dilakukan duplo

Dihitung M NaOH

Hasil

3.5

Penggunaan larutan standar asam dan basa untuk menetapkan

kadar asam asetat pada cuka

Asam Cuka

Diambil sebanyak 1 ml

Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml

Ditambahkan aquades hingga tanda batas


Dihomogenkan

Diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer


Indikator PP
Ditambahkan 2 3 tetes

Dititrasi dengan larutan NaOH dalam buret

Diamati hingga terjadi perubahan warna larutan dalam erlenmeyer

Dihitung kadar asam asetat

Dilakukan duplo

Hasil

DAFTAR PUSTAKA

Muchtaridi, Sandri Justiana. 2006. KIMIA. Jakarta: Yudhistira Ghalia Indonesia.


Pahari, A. K., B. S. Chauhan. 2006. Engineering Chemistry. New Delhi: Laxmi
Publications.
Pratama. Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta : EGC
Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Biosekta. Jakarta : EGC
Suyatno. 2007. KIMIA. Bandung: PT. Grafindo Media
Watson, David G. 2005. Pharmaceutical Analysis, 2e.Oxford: Elsevier Limited
Wegner, Franks. 2008. Encyclopedia Of Chemical Technology. New York : Johr Wiley & Sons
Widihati, I Gede. 2008. Adsorpsi Anion Cr (VI) oleh Batu Pasir Teraktifasi Asam dan
Tersalut. Jakarta : EGC

BAB III
ASIDI-ALKALIMETRI
1. PRE LAB

1. Apa yang dimaksud dengan analisis volumetri?


Analisis volumetri atau volumetri adalah cabang kimia analitik di mana
pengukuran volume adalah operasi utama dan terakhir. Dalam volumetri,
reaktan diambil dalam bentuk larutan dan volume larutan standar (larutan
yang diketahui konsentrasinya) yang diperlukan untuk bereaksi
sepenuhnya, dengan volume larutan yang tidak diketahui (larutan yang
konsentrasinya akan ditentukan). Konsentrasi dapat diketahui dengan
menggunakan rumus Normalitas (Pahari, 2006).

2. Apa yang dimaksud dengan asidi-alkalimetri?


Asidimetri adalah penentuan konsentrasi larutan basa dengan menggunaka
larutan baku asam dan alkalimetri adalah penentuan konsentrasi larutan
asam dengan menggunakan larutan baku basa (Muchtaridi, 2006).

3. Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer?


Larutan standar primer adalah larutan yang mengandung senyawa kimia
stabil yang tersedia dalam kemurnian tinggi dan dapat digunakan untuk
menstandarisasi larutan standar yang digunakan di dalam titrasi (Watson,
2005).

4. Apa yang dimaksud dengan larutan standar sekunder?


Larutan standar sekunder adalah larutan yang telah melalui proses
standarisasi dan memiliki konsentrasi tertentu (Watson, 2005).

5. Apa yang dimaksud dengan standarisasi/pembakuan larutan?


Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya
secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N
(normalitas) atau M (molaritas). Senyawa yang digunakan untuk membuat
larutan baku dinamakan senyawa baku (Rohman, 2007).

6. Apa yang digunakan untuk menstandarisasi larutan NaOH? Tuliskan


persamaan reaksinya!
Pembakuan/standarisasi larutan NaOH dapat menggunakan:
1. Asam Oksalat. Reaksinya:
C2H4.2H2O(aq) + 2NaOH(aq)
Na2C2O4(aq) + 4H2O(l)
2.Asam asetat. Reaksinya:
CH3COOH(aq) + NaOH(aq)
CH3COOH(aq) + H2O(aq)
(Su
mardjo, 2009).
7. Apa yang digunakan untuk menstandarisasi HCl? Tuliskan persamaan
reaksinya!
Untuk menstandarisasi larutan HCl menggunakan boraks (Na2B4O7.10
H2O),
indikator yang digunakan adalah metil orange. Persamaan
reaksinya :
Na2B4O7.10 H2O + 2H2O
4B(OH)3 + 2NaCl + 5H2O
Pembakuan/standarisasi larutan NaOH dapat menggunakan Boraks.
Reaksinya
(Na2B4O710H2O):
Na2B4O710H2O + 2HCl
2NaCl + 4H3BO3 + 5H2O
(Sumardjo, 2009).

8. Jenis asam apa yang dominan ada pada asam cuka perdagangan?
Tuliskan persamaan reaksinya dengan NaOH!
Jenis asam yang paling dominan pada asam cuka adalah asam asetat
( asam etanoat). Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah
senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam

dan aroma dalam makanan


Persamaan reaksi NaOH (aq )+CH 3 COOH (aq) CH 3 COONa(aq) + H 2 0(l)
(Watson 2005)

4. Pembahasan
4.1. ANALISA PROSEDUR
1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M
Pertama yang dilakukan untuk membuat larutan standar HCl 0,1
M adalah menghitung volume HCl pekat yang dibutuhkan dengan
menggunakan rumus pengenceran. Setelah menghitung,
membutuhkan 0,96 mL HCl pekat untuk diencerkan. Mengambil 0,96
ml HCl pekat dengan menggunakan pipet volume dan memasukkan ke
dalam labu ukur 100 mL. Menambahkan aquades hingga mencapai
tanda batas. Menutup labu ukur dengan penutup dan
menghomogenkan larutan HCl 0,1 M. Didapatkan hasil berupa larutan
standar HCl 0,1 M. Memasukkan larutan standar HCl 0,1 M ke dalam
buret
2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na 2B4O7.10H2O)
Mulamula menimbang massa boraks yang akan digunakan untuk
reaksi standarisasi dengan menggunakan rumus Molaritas. Didapatkan
nilai 1,9 gram. Menimbang boraks sebanyak 1,9 gram dengan
menggunakan timbangan analitik. Meletakkan boraks ke dalam gelas

beker dengan cara membilas gelas arloji. Menambahkan aquades


secukupnya. Mengaduk boraks hingga larut ke dalam air. Memasukkan
larutan boraks ke dalam labu ukur 100 mL. Menambahkan aquades
hingga

mencapai

tanda

batas.

Menutup

labu

ukur

dan

menghomogenkan. Mengambil 10 mL larutan boraks dan memasukkan


ke dalam erlenmeyer. Menambahkan indikator metil orange sebanyak
12 tetes. Menitrasi larutan boraks dengan menggunakan HCl 0,1 M
pada percobaan sebelumnya. Mengamati hingga terjadi perubahan
warna dari orange menjadi ungu. Mencatat volume HCl yang digunakan
untuk menitrasi larutan boraks. Melakukan duplo atau percobaan yang
sama sebanyak 2 kali untuk mendapatkan volume ratarata HCl yang
dibutuhkan untuk Menitrasi larutan boraks. Menghitung konsentrasi
HCl. Didapatkan hasil berupa larutan HCl yang telah terstandarisasi.

3. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M


Pertama menghitung berat kristal NaOH yang dibutuhkan untuk
membuat larutan standar NaOH 0,1 M. Menimbang kristal NaOH
sebanyak

0,4

gram

dengan

menggunakan

timbangan

analitik.

Memasukkan kristal NaOH ke dalam gelas beker dengan cara membilas


gelas arloji dan selanjutnya menambahkan aquades secukupnya.
Melarutkan kristal NaOH. Memindahkan larutan NaOH ke dalam labu
ukur 100 mL dan ditambahkan aquades hingga mencapai tanda batas.
Menghomogenkan larutan NaOH dan didapatkan hasil berupa larutan
standar NaOH sebesar 0,1 M. Memasukkan larutan standar NaOH 0,1 M
ke dalam buret yang selanjutnya digunakan untuk menitrasi asam
okasalat.
4. Standarisasi
(H2C2O4.2H2O)

larutan

NaOH

0,1

dengan

asam

oksalat

Mula mula mengambil 10 mL asam oksalat 0,05 M ke dalam


erlenmeyer. Menambahkan indikator pp sebanyak 12 tetes. Menitrasi
asam oksalat dengan menggunakan NaOH. Mengamati hingga terjadi
perubahan warna dari jernih menjadi ungu. Mencatat volume NaOH
yang digunakan untuk menitrasi asam oksalat. Melakukan duplo atau
mengulangi percobaan sebanyak 2 kali untuk mendapatkan volume
ratarata NaOH yang ditambahkan ke dalam asam oksalat. Menghitung
M NaOH. Didapatkan hasil berupa larutan NaOH yang telah di
standarisasi.
5. Penggunaan larutan standar basa untuk menetapkan kadar
asam asetat pada cuka
Pertama mengambil cuka sebanyak 10 mL, lalu memasukkan ke
dalam labu ukur 100 mL, selanjutnya menambahkan aquades hingga
mencapai tanda batas. Menghomogenkan larutan cuka. Mengambil
sebanyak

10 mL larutan cuka

dan memasukkannya

ke dalam

erlenmeyer. Menambahkan indikator pp sebanyak 23 tetes. Menitrasi


larutan cuka dengan menggunakan larutan NaOH yang berada di dalam
buret. Mengamati hingga terjadi perubahan warna larutan dari jernih
menjadi ungu. Mencatat volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi
larutan cuka dan menghitung kadar asam asetat yang terkandung di
dalam cuka. Melakukan duplo.

4.2. Analisa Hasil


Praktikum kali ini adalah untuk membuat larutan standar dengan Asidimetri dan
alkalimetri. Asidimetri dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena
hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar
(asidimetri) dan titrasi basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri)
(Watson, 2010).

Pada percobaan pertama adalah pembuatan larutan standart 0,1 M. Setelah dihitung
volume larutan HCl yang akan diambil(dari rumus molaritas yaitu

M=

10
Mr ) amati

terlebih dahulu keadaan awal HCl yang dipindahkan ke labu ukur. Mula-mula HCl
berwarna bening, kemudian HCl dipindahkan ke dalam labu ukur yang telah terisi
aquades lalu tambahkan aquades hingga batas meniskus bawah atau meniskus cekung.
Kemudian homogenkan sesuai dengan standart laboratorium yaitu 8-12 kali. Setelah
larutan dihomogenkan tetap tidak ada perubahan warna atau wujud pada larutan tersebut
(Underwood, 2013).
Percobaan kedua adalah pembuatan larutan standar HCl 0,1 M dengan menggunakan
boraks (Na2B4O7)karena larutan antara HCl dan boraks akan menjadi reaksi yang
sempurna antara asam kuat dan basa lemah. Pertama, kita harus mencampurkan boraks
dengan aquades terlebih dahulu setelah itu ambil 10 ml larutan boraks. Larutan boraks
ditambah indikator metil-orange 1-2 tetes kemudian di titrasi menggunakan buret dan
erlenmeyer sampai mencapai titik ekivalen dan berubah warna menjadi merah muda atau
kemerahan. Indikator metil-orange dengan skala pH 3.1 sampai 4.4 cocok untuk titik
akhir kedua karena indikator ini cocok untuk titrasi larutan yang digunakan sebagai titran
adalah larutan HCl (Underwood, 2013).
Percobaan ketiga adalah membuat larutan standar NaOH 0,1 M. Sesuai dengan hitungan
pada data hasil praktikum diatas maka ditimbanglah 0,4 gram NaOH kristal. Lalu kristal
NaOH yang bersifat tidak stabil karena mudah bereaksi dengan senyawa lain atau udara,
maka dihomogenkan dengan aquades 100 ml. Setelah itu diaduk secara perlahan agar
tercampur sempurna antara NaOH dengan aquades. Faktor yang mempengaruhi hasil
percobaan ini adalah kebersihan alat dan ketelitian dalam pembuatan larutan maupun
penimbangan bahan yang diperlukan secara seksama, serta faktor NaOH yang tidak stabil
karena mudah menguap dan tercampur dengan udara (Siswantoro, 2010).

Percobaan keempat adalah Standarisasi larutan standar NaOH. Sesuai dengan hitungan
pada data hasil praktikum diatas maka NaOH ditirasi pada asam oksalat. Maka akan
didapat dua volume NaOH setelah melakukan duplo. Setelah itu Hitunglah Molaritas
NaOH menggunakan kedua volume tersebut, maka akan didapat molaritas NaOH sebesar
0,092 dan 0,0769 M. Faktor yang mempengaruhi hasil percobaan ini adalah kebersihan
alat dan ketelitian melakukan titrasi, kita harus melihat perubahan warna pada larutan
asam oksalat dengan teliti (Siswantoro, 2010).

Percobaan kelima adalah menghitung molaritas asam cuka. Sesuai dengan hitungan pada
data hasil praktikum diatas maka didapatkan volume NaOH setelah melakukan duplo
sebesar 2,9 dan 3,7 ml. Setelah dihitung didapati molaritas asam cuka sebesar 0,223 dan
0,2845 M. Setalah dihitung molaritasnya maka kita dapat mengetahui berapa gram asam
cuka dengan menggunakan salah satu nilai molaritas diatas, kita gunakan 0,223 M agar
lebih mudah, maka akan didapati berat asam cuka sebesar 0,1338 gr, setalah didapakan
berat asam cuka, maka kita dapat menghitung kadar asam cuka tersebut yaitu sebesar
1,338 %. Faktor yang mempengaruhi hasil percobaan ini adalah kebersihan alat dan
ketelitian dalam melakukan titrasi secara seksama. (MaHam, 2015).

6. KESIMPULAN
1.
2.
3.
4.

Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu:


Membuat larutan standar HCl 0,1 M.
Membuat larutan standar sekunder NaOH 0,1 M.
Melakukan standarisasi larutan HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M.
Menggunakan larutan standar NaOH 0,1 M untuk menetapkan kadar asam asetat cuta
perdagangan.

Kesimpulan yang dapat diambil setelah melakukan praktikum ini adalah Asidi Alkalimetri
merupakan titrasi asam basa yang melibatkan banyaknya zat terlarut dan volume pelarut masingmasing reaktan. Titrasi membutuhkan larutan standar sekunder (dalam hal ini NaOH) yang harus
distandarisasi terlebih dahulu dan larutan standar primer (asam oksalat) pada penentuan
konsentrasi NaOH didapatkan 0,092 M lalu konsentrasi HCl yang dibutuhkan saat titrasi HCl
sebesar 0,07 M, sedangkan pada penentuan konsentrasi asam asetat dalam cuka sebesar 0,233 M
dan kadar asam asetat pada asam cuka sebesar 1,338 %. Selain itu dalam melakukan percobaan
juga harus diperhatikan faktor-faktor khusus dan langkah kerja

5. DATA HASIL PRAKTIKUM


1. Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M
BJ HCl
Kadar HCl
Volume HCl yang
dibutuhkan
Perhitungan:
M=

x x 10
Mr

36,5
32%
0,96 mL

1,19 x 32 x 10
36,5

= 10,43 M
HCl pekat . VHCl pekat = MHCl . VHCl

10,43 . V = 0,1 . 100


Mengapa

dalam

V = 0,96 mL
pembuatan larutan

standar

HCl,

BJ

HCl

harus

diperhitungkan?
Karena berat jenis HCl dibutuhkan dalam perhitungan untuk menghitung kadar atau molaritas

dari HCl dengan menggunakan rumus

10
Mr sehingga hasil yang didapatkan sesuai

dengan yang diharapkan dan untuk memastikan keakuratan kadar HCl agar bereaksi sempurna
(Underwood, 2013).

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na 2B4O7.10H2O)


Volume HCl

12,25 mL (V1 = 12,2 ml

Molaritas HCl
Berat boraks

12,3 ml)
0,1 M
1,905 gram

V2 =

BM boraks
Molaritas larutan HCl hasil
standarisai
V1 = 13,8 ml ; V2 = 14,2 ml
V HCl rata rata =

3, 81 gr
0,07 M

2 . V Boraks . MBoraks
VHCl

MHCl =

V 1+V 2
2

=
=

2 . 0,05 .10
14

HCl = 0,07 M

13,8+14,2
2
= 14 ml
Mengapa asam boraks digunakan untuk menstandarisasi larutan HCl?

Karena antara HCl dan boraks terjadi reaksi sempurna. HCl ( asam kuat )
akan bereaksi dengan boraks (basa lemah ) membentuk garam yang bersifat
asam.
Reaksi :
Na2B4O7.10H2O + 2HCl ===> 2NaCl + 4H3BO3 +5H2O
Dari reaksi antara asam kuat dan basa lemah itu akan lebih mudah diamati
titik akhir titrasinya.Pada percobaan ini, boraks merupakan larutan standar
primer dan HCl merupakan larutan standar sekunder. Hal ini disebabkan
kerena :
-. Boraks adalah suatu garam yang bersifat basa lemah, sifatnya yang tidak
mudah teroksidasi, boraks cenderung stabil, selain itu juga boraks ditemukan
dalam keadaan murni, tidak korosif. Bobot ekivalen boraks tinggi, yaitu 123
g/aq.
-. HCl merupakan larutan gas Cl dalam air . Hal ini memungkinkan
kelarutannya mudahsekali berubah terhadap perubahan suhu, perubahan
kelarutan tersebut akan mempengaruhi konsentrasinya.
-. HCl yang digunakan yaitu berasal dari hasil pengenceran sehingga
dimungkinkan konsentrasi HCl yang didapat tidak tepat.Indikator yang paling
tepat digunakan untuk titrasi ini adalah indikator MO, range pH 3-4,5, karena
range pH garam ( bersifat asam ) yangdihasilkan mendekati range pH dari
indikator MO, sehingga indikator yang paling tepat digunakan pada reaksi ini
adalah MO (Underwood, 2013).

3. Pembuatan larutan standar NaOH 0,1 M


Berat NaOH
Volume larutan NaOH
Molaritas larutan NaOH
Perhitungan:
NaOH =

gr 1000
x
Mr
V

0,4 gram
100
0,1

MNaOH . Mr . V
1000

gr =

0,1. 40 . 100
1000

= 0,4 gram
Mengapa larutan NaOH harus distandarisasi?
Hal ini dilakukan untuk memastikan keakuratan konsentrasi NaOH yang
nantinya akan digunakan sebagai larutan standar, dan untuk menunjukkan
apakah larutan NaOH ini dapat bereaksi sempurna baik dengan asam lemah
maupun kuat (Underwood, 2013).
4.

Standarisasi

larutan

NaOH

0,1

dengan

asam

(H2C2O4.2H2O)
Berat Na-oksalat
BM Na-oksalat

0,63 gr
g
126 mol

Volume aquades
Volume larutan NaOH

1. 10,8 ml

Molaritas larutan NaOH

2. 13 ml
1. 0,092 M
2. 0,0769 M

M 1 .V 1
M 2 .V 2 =
2. M 2. V 2
V1
MNaOH =

2
1

NaOH =

M 1 .V 1
M 2 .V 2 =
2. M 2. V 2
V1

2
1
=

2 . 0,05 .10
13
=

2 . 0,05 .10
10,8

oksalat

0,0769 M
= 0,092 M
Mengapa standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat?
Karena antara NaOH dan asam oksalat terjadi reaksi sempurna. NaOH ( basa
kuat ) akan bereaksi dengan asam oksalat (asam lemah ) membentuk garam
yang bersifat basa.
Reaksi :
2NaOH + H2C2O4

===>

Na2C2O4 + 2H2O

Dari reaksi antara basa kuat dan asam lemah itu akan lebih mudah diamati
titik akhir titrasinya.Pada percobaan ini, asam oksalat merupakan larutan
standar primer dan NaOH merupakan larutan standar sekunder. Hal ini
disebabkan kerena :
-. Asam oksalat adalah suatu asam lemah, sifatnya yang tidak mudah
menguap, asam oksalat cenderung stabil, selain itu juga asam oksalat
ditemukan dalam keadaan murni. Mr asam oksalat tinggi, yaitu 90
-. NaOH memiliki sifat higroskopis, yaitu mudah menyerap H2O atau CO2
sehingga mudah dilarutkan didalam air dan memiliki kestabilan rendah. Mr
dari NaOH hanya 40
(MaHam, 2015).

Mengapa indikator yang digunakan adalah pp (fenolftalein)?


Indikator yang digunakan adalah indikator pp, sebab range pH indikator ini
8,5-10, mendekati range pH garam basa yang dihasilkan, maka dengan
indikator ini dapat menunjukkan titik akhir titrasi yang terbentuk dan
ditunjukan dengan perubahan warna (Underwood, 2013).
5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka
Volume larutan asam

10 ml

cuka
Volume NaOH (titrasi)

30,65 (V1 = 30,5 ml

V2 = 30,8)

Molaritas NaOH
Persamaan reaksi

0,0769
CH3COOH + NaOH CH3COONa +

Kadar total asam (% b/v)


Perhitungan:

H2O
30,72%

nNaOH = nCH3COOH
MNaOH . VNaOH . Fp = MCH3COOH . VCH3COOH
0,0769 . 2,9 . 10 = M . 10
M = 0,223 M

nNaOH = nCH3COOH
MNaOH . VNaOH . Fp = MCH3COOH . VCH3COOH
0,0769 . 3,7 . 10 = M . 10
M = 0,28453 M

CH3COOH =

0,223 =

gr 1000
x
Mr
V

gr 1000
x
60
10

gr = 0,1338 gram

Kadar total asam =

0,1338
x 100
10

= 1,338%

Apakah prinsip analisis kadar total asam bisa digunakan untuk menentukan
keasaman produk pangan yang lain?Jelaskan contoh aplikasinya!
Ya, Untuk menentukan keasaman produk susu fermentasi/yoghurt
Asam ini merupakan produk utama ciri khas rasa yogurt yangterbentuk dari hasil fermentasi karbohidrat
susu yaitu laktosa oleh bakteri biakan seperti L. bulgaricus dan S. thermophillus di dalam sel menjadi
asam laktat. Bakteri tersebut memanfaatkan laktosa sebagaisumber energi dan sumber karbon selama
masa pertumbuhan. Pemecahan laktosa menjadi piruvatmelalui jalur Embden-Meyerhof kemudian piruvat
diubah menjadi asam laktat melalui fermentasianaerob. Laktosa susu akan dibawa masuk oleh enzim
laktosa fosfotransferase yang berada dimembran sel.Laktosa yang sudah masuk ke dalam sel akan diubah
menjadi D-glukosa dan melalui jalur Embden-Meyerhof akan diubah menjadi piruvat. Piruvat akan
dipecah menjadi asam laktat oleh enzimlaktat dehidrogenase (Tamime dan Robinson 1989). Terbentuknya
asam laktat ini juga digunakansebagai pengawet karena dapat mencegah pertumbuhan beberapa spesies
bakteri yang kurang toleranterhadap asam. Selain itu terbentuknya asam laktat dapat menyebabkan pH

yogurt turun sehingga protein tidak stabil dan susu berubah menjadi suatu padatan. Nilai total asam yang
diperoleh dari produk yogurt yang dianalisis dari dua contoh uji (duplo) adalah 1.109% untuk contoh A
dan 1.053%. Dari hasil pengujian tersebut total kadar asam yang diperoleh dari produk telah memenuhi
persyaratan standar mutu yogurt Indonesia seperti dalam SNI 01-2981-1992 yaitu 0.5-2.0% (b/b).
(Robinson, 2007)

Daftar Pustaka
Tamime ,AY and Robinson ,RK. 2007. Yogurt science and technology. 3rd ed .England: Woodhead
Publishing Ltd, CRC Press, LLC, NW, USA
Underwood, L. 2005. Analisis Kimia Kuantitatif edisi 6. Jakarta; PT. Gelora Aksara Pratama
Watson, David. 2010. Analisis Farmasi. Jakarta: EGC
Siswantoro.dkk.2010.Petunjuk Praktikum Kimia Analisis.Yogyakarta:STTN-BATAN
MaHam, Aihui dan Brayn ,M. Ham. 2015. Analytical Chemistry: A Chemist and Laboratory Technician's
Toolkit. Hoboken: John Wiley & Sons